DAFTAR ISI Hal 1. Epilepsi dan Gangguan Kejang
lain ... 9 2. Neurovaskular ... ... 18 3. Neuroinfeksi ... ... 24 4. Neurogeriatri ... ... 51 5. Neuronkologi ... ... 60 6. Nyeri ... ... 63 7. Sefalgia ... ... 73 8. Movement Disorder ... 89 9. Neurotrauma ………..112
10. Saraf Tepi, Otonom dan
Otot ...120 11. Dekompresi ... ...139 12. Intensif / Emergency ...14 2 13. Neuroimunologi ... ...150 14. Neurootologi ... ...157 15. Sleep Disorder ... ...162 16. Neuropediatri/Neurodevelopment ... ...190
EPILEPSI
ICD G40KRITERIA DIAGNOSIS: Klinis:
Suatu keadaan neurologik yang ditandai oleh bangkitan epilepsi yang berulang, yang timbul tanpa provokasi. Sedangkan, bangkitan epilepsy sendiri adalah suatu manifestasi klinik yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang abnormal, berlebih dan sinkron, dari neuron yang (terutama) terletak pada korteks serebri. Aktivitas paroksismal abnormal ini umumnya timbul intermiten dan ‘self-limited’.
Sindroma Epilepsi adalah penyakit epilepsi yang ditandai oleh sekumpulan gejala yang timbul bersamaan ( termasuk tipe bangkitan, etiologi, anatomi, faktor presipitan usia saat awitan, beratnya penyakit, siklus harian dan prognosa)
Klasifikasi Epilepsi: (menurut ILAE tahun 1989) I. Berhubungan dengan lokasi
A. Idiopatik (berhubungan dengan usia awitan)
1. Benign childhood epilepsy with centro-temporal spikes 2. Childhood epilepsy with occipital paroxysmal
3. Primary reading epilepsy
B. Simptomatik (dengan etiologi yang spesifik atau nonspesifik)
1. Chronic progressive epilepsia partialis continua of childhood
(Kojewnikow’s syndrome)
2. Syndromes characterized by seizures with specific modes of
precipitation
3. Epilepsi lobus Temporal/ Frontal/ Parietal/ Ocipital C. Kriptogenik
II. Umum
A. Idiopatik (berhubungan dengan usia awitan) 1. Benign neonatal familial convulsions 2. Benign neonatal convulsions
3. Benign myoclonic epilepsy in infancy 4. Childhood absence epilepsy (pyknolepsy) 5. Juvenile absence epilepsy
6. Juvenile myoclonic epilepsy (impulsive petit mal) 7. Epilepsies with grand mal (GTCS) seizures on awakening 8. Others generalized idiopathic epilepsies not defined above 9. Epilepsies with seizures precipitated by specific modes of
activation
B. Kriptogenik / Simptomatik
1. West syndrome (infantile spasms, blitz Nick-Salaam Krampfe) 2. Lennox-Gastaut syndrome
3. Epilepsy with myoclonic-astatic seizures 4. Epilepsy with myoclonic absence
C. Simptomatik (dengan etiologi yang spesifik atau nonspesifik) 1. Dengan etiologi yang Nonspesifik
a. Early myoclonic encephalopathy
b. Early infantile epileptic encephalopathy with suppression burst c. Other symptomatic generalized epilepsies not defined above 2. Sindroma spesifik
a. Bangkitan epilepsi yang disebabkan oleh penyakit lain III. Tidak dapat ditentukan apakah fokal atau umum
1. Campuran bangkitan umum dan fokal a. Neonatal seizures
b. Severe myoclonic epilepsy in infancy
c. Epilepsy with continuous spike wave during slow-wave sleep d. Acquired epileptic aphasia (Landau-Kleffner syndrome) e. Other undetermined epilepsies
2. Campuran bangkitan umum atau fokal (sama banyak) IV. Sindrom khusus
1. Bangkitan yang berhubungan dengan situasi a. Febrile convulsion
b. Isolated seizures atau isolated status epilepticus
c. Seizures occurring only when there is an acute metabolic or
toxic event, due to factors such as alcohol, drugs, eclampsia, nonketotic hyperglycemia
Klasifikasi Bangkitan Epilepsi: (menurut ILAE tahun 1981) I. Bangkitan Parsial ( fokal)
A. Parsial sederhana
1. Disertai gejala motorik
2. Disertai gejala somato-sensorik 3. Disertai gejala psikis
4. Disertai gejala autonomik B. Parsial kompleks
1. Disertai dengan gangguan kesadaran sejak awitan dengan atau tanpa automatism
2. Parsial sederhana diikuti gangguan kesadaran dengan atau tanpa automatism
C. Parsial sederhana yang berkembang menjadi umum sekunder 1. Parsial sederhana menjadi umum tonik klonik
2. Parsial kompleks menjadi umum tonik klonik
3. Parsial sederhana menjadi parsial kompleks menjadi umum tonik klonik
II. Bangkitan Umum
A. Bangkitan Lena (absence) & atypical absence B. Bangkitan Mioklonik
C. Bangkitan Klonik D. Bangkitan Tonik
E. Bangkitan Tonik-klonik F. Bangkitan Atonik
III. Bangkitan yang tidak terklasifikasikan Laboratorium/ Pemeriksaan Penunjang:
1. EEG
2. Laboratorium: (atas indikasi) A. Untuk penapisan dini metabolik
Perlu selalu diperiksa: 1. Kadar glukosa darah
2. Pemeriksaan elektrolit termasuk kalsium dan magnesium Atas indikasi
1. Penapisan dini racun/toksik 2. Pemeriksaan serologis
3. Kadar vitamin dan nutrient lainnya Perlu diperiksa pada sindroma tertentu
1. Asam Amino 2. Asam Organik 3. NH3 4. Enzim Lysosomal 5. Serum laktat 6. Serum piruvat
B. Pada kecurigaan infeksi SSP akut Lumbal Pungsi
Radiologi
1. Computed Tomography (CT) Scan kepala dengan kontras 2. Magnetic Resonance Imaging kepala (MRI)
3. Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS) : merupakan pilihan utama untuk epilepsi
4. Functional Magnetic Resonance Imaging 5. Positron Emission Tomography (PET)
6. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT) Gold standard
1. EEG iktal dengan subdural atau depth EEG 2. Long term video EEG monitoring
Patologi Anatomi
Hanya khas pada keadaan tertentu seperti hypocampal sclerosis dan mesial
DIAGNOSIS BANDING
1. Bangkitan Psychogenik
2. Gerak Involunter (Tics, head nodding, paroxysmal choreoathethosis/
dystonia, benign sleep myoclonus, paroxysmal torticolis, startle response, jitterness, dll.)
3. Hilangnya tonus atau kesadaran (sinkop, drop attacks, TIA, TGA, narkolepsi, attention deficit)
4. Gangguan respirasi (apnea, breath holding, hiperventilasi)
5. Gangguan perilaku (night terrors, sleepwalking, nightmares, confusion, sindroma psikotik akut)
6. Gangguan persepsi (vertigo, nyeri kepala, nyeri abdomen)
7. Keadaan episodik dari penyakit tertentu (tetralogy speels, hydrocephalic
spells, cardiac arrhythmia, hipoglikemi, hipokalsemi, periodic paralysis,
migren, dll) PENATALAKSANAAN Medikamentosa
Pemilihan obat anti epilepsi (OAE) sangat tergantung pada bentuk bangkitan dan sindroma epilepsi, selain itu juga perlu dipikirkan kemudahan pemakaiannya. Penggunaan terapi tunggal dan dosis tunggal menjadi pilihan utama. Kepatuhan pasien juga ditentukan oleh harga dan efek samping OAE yang timbul
Antikonvulsan Utama
1. Fenobarbital : dosis 2-4 mg/kgBB/hari 2. Phenitoin : 5-8 mg/kgBB/hari
3. Karbamasepin : 20 mg/kgBB/hari 4. Valproate : 30-80 mg/kgBB/hari
Keputusan pemberian pengobatan setelah bangkitan pertama dibagi dalam 3 kategori:
1. Definitely treat (pengobatan perlu dilakukan segera ) Bila terdapat lesi struktural, seperti :
a. Tumor otak b. AVM
c. Infeksi : seperti abses, ensefalitis herpes Tanpa lesi struktural :
a. Terdapatnya riwayat epilepsi pada saudara sekandung (bukan orang tua) b. EEG dengan gambaran epileptik yang jelas
c. Riwayat bangkitan simpomatik
d. Riwayat trauma kepala, stroke, infeksi SSP e. Status epilepstikus pada awitan kejang
2. Possibly treat (kemungkinan harus dilakukan pengobatan)
Pada bangkitan yang tidak dicetuskan (diprovokasi) atau tanpa disertai faktor resiko diatas
3. Probably not treat (walaupun pengobatan jangka pendek mungkin diperlukan)
a. Kecanduan alkohol
c. Bangkitan dengan penyakit akut ( demam tinggi, dehidrasi, hipoglikemia) d. Bangkitan segera setelah benturan di kepala
e. Sindroma epilepsi spesifik yang ringan , seperti kejang demam, BECT f. Bangkitan yang diprovokasi oleh kurang tidur
PEMILIHAN OAE BERDASARKAN TIPE BANGKITAN EPILEPSI
Tipe Bangkitan OAE lini pertama OAE lini kedua Bangkitan parsial
(sederhana atau kompleks)
Bangkitan umum sekunder
Bangkitan umum tonik klonik Bangkitan lena Bangkitan mioklonik Fenitoin, karbamasepin (terutama untuk CPS), asam valproat Karbamasepin, phenitoin, asam valproat Karbamazepin, phenytoin, asam valproat, phenobarbital Asam valproat, ethosuximide ( tidak tersedia di Indonesia) Asam valproat Acetazolamide, clobazam, clonazepam, ethosuximide, felbamate, gabapentin, lamotrigine, levetiracetam, oxcarbazepine, tiagabin, topiramate, vigabatrin, phenobarbital, pirimidone Idem diatas Acetazolamide, clobazam, clonazepam, ethosuximide, felbamate, gabapentin, lamotrigine, levetiracetam, oxcarbazepine, tiagabin, topiramate, vigabatrin, pirimidone Acetazolamide, clobazam, clonazepam, lamotrigine, phenobarbital, pirimidone Clobazam, clonazepam, ethosuximide, lamotrigine, phenobarbital, pirimidone, piracetam
Penghentian OAE: dilakukan secara bertahap setelah 2-5 tahun pasien bebas kejang, tergantung dari bentuk bangkitan dan sindroma epilepsi yang diderita pasien (Dam,1997). Penghentian OAE dilakukan secara perlahan dalam beberapa bulan
STATUS EPILEPTIKUS
(ICD G 41.0)(Epilepsy Foundation of America’s Working Group on Status Epilepticus)
Adalah bangkitan yang berlangsung lebih dari 30 menit atau dua atau lebih bangkitan, dimana diantara dua bangkitan tidak terdapat pemulihan kesadaran. Penanganan kejang harus dimulai dalam 10 menit setelah awitan suatu kejang.
PENANGANAN STATUS EPILEPTIKUS
Stadium Penatalaksanaan Stadium I (0-10 menit) Stadium II (0-60 menit) Stadium III (0-60 – 90 menit) Stadium IV (30-90 menit)
Memperbaiki fungsi kardio-respiratorik
Memperbaiki jalan nafas, pemberian oksigen, resusitasi
Memasang infus pada pembuluh darah besar
Mengambil 50-100 cc darah untuk pemeriksaan lab Pemberian OAE emergensi : Diazepam 10-20 mg iv (kecepatan pemberian < 2-5 mg/menit atau rectal dapat diulang 15 menit kemudian .
Memasukan 50 cc glukosa 40% dengan atau tanpa thiamin 250 mg intravena
Menangani asidosis Menentukan etiologi
Bila kejang berlangsung terus 30 menit setelah pemberian diazepam pertama, beri phenytoin iv 15-18 mg/kgBB dengan kecepatan 50 mg/menit Memulai terapi dengan vasopresor bila diperlukan Mengoreksi komplikasi
Bila kejang tetap tidak teratasi selama 30-60 menit, transfer pasien ke ICU, beri Propofol
(2mg/kgBB bolus iv, diulang bila perlu) atau Thiopentone (100-250 mg bolus iv pemberian dalam 20 menit , dilanjutkan dengan bolus 50 mg setiap 2-3 menit), dilanjutkan sampai 12-24 jam setelah bangkitan klinis atau bangkitan EEG terakhir, lalu dilakukan tapering off.
Memonitor bangkitan dan EEG, tekanan intracranial, memulai pemberian OAE dosis maintenance
Tindakan: 1. Operasi
Indikasi operasi :
a. Fokal epilesi yang intraktabel terhadap obat obatan b. Sindroma Epilepsi fokal dan simptomatik
Kontraindikasi:
Kontraindikasi absolut
a. Penyakit neurologik yang progresif (baik metabolik maupun degeneratif) b. Sindroma epilepsi yang benigna, dimana diharapkan terjadi remisi
dikemudian hari Kontraindikasi relatif:
a. Ketidak patuhan terhadap pengobatan b. Psikosis interiktal
c. Mental retardasi Jenis jenis operasi:
a. Operasi reseksi; pada mesial temporal lobe, neokortikal b. Diskoneksi : korpus kalosotomi, multiple supial transection c. Hemispherektomi
2. Stimulasi Nervus vagus
PENYULIT
Prognosis pengobatan pada kasus kasus baru pada umumnya baik, pada 70–80% kasus bangkitan kejang akan berhenti dalam beberapa tahun pertama. Setelah bangkitan epilepsi berhenti, kemungkinan rekurensinya rendah, dan pasien dapat menghentikan OAE.
Prognosis epilepsi akan menjadi lebih buruk bila terdapat hal-hal sebagai berikut:
a. Terdapat lesi struktural otak b. Bangkitan epilepsi parsial c. Sindroma epilepsi berat
d. Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
e. Frekuensi bangkitan tonik-klonik yang tinggi sebelum dimulainya pengobatan
KONSULTASI
Konsultasi: (atas indikasi) 1. Bagian Psikiatri
2. Bagian Interna 3. Bagian Anak
4. Bagian Bedah Saraf
5. Bagian Anestesi ( bila pasien masuk ICU) JENIS PELAYANAN 1. Rawat jalan 2. Rawat inap Indikasi rawat : 1. Status Epileptikus 2. Bangkitan berulang 3. Kasus Bangkitan Pertama 4. Epilepsi intraktabel TENAGA: 1. Spesialis saraf 2. Epileptologist 3. Electro encephalographer 4. Psychologist 5. Teknisi EEG LAMA PERAWATAN
1. Pada kasus bukan status epileptikus: pasien dirawat sampai diagnosis dapat ditegakkan
2. Pada status epileptikus: pasien dirawat sampai kejang dapat diatasi dan pasien kembali ke keadaan sebelum status
S T R O K E
Definisi :
Stroke adalah suatu keadaan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi neurologis (defisit neurologik fokal atau global) yang terjadi secara mendadak, berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan kematian, yang semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak karena berkurangnya suplai darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah secara spontan (stroke perdarahan).
Pembagian Stroke 1. Etiologis :
1.1. Infark : aterotrombotik, kardioembolik, lakunar
1.2. Perdarahan : Perdarahan Intra Serebral, Perdarahan Subarahnoid, Perdarahan Intrakranial et causa AVM
2. Lokasi :
2.1. Sistem Karotis
2.2. Sistem Vertebrobasiler
Dasar Diagnosis :
1. Anamnesa dari pasien, keluarga atau pembawa pasien. 2. Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum, kesadaran (Glasgow Coma Scale/kwantitas/kwalitas ), tanda vital, status generalis, status neurologis.
3. Alat Bantu scoring (skala) :
Siriraj Stroke Score ( SSS ), Algoritme Stroke Gajah Mada ( ASGM ). 4. Pemeriksaan penunjang :
Pungsi lumbal (bila neuroimejing tidak tersedia). Neuroimejing : CT Scan, MRI, MRA, Angiografi, DSA.
KRITERIA DIAGNOSIS Klinis :
Anamnesis:
Defisit neurologis yang terjadi secara tiba-tiba, saat aktifitas/istirahat, kesadaran baik/terganggu, nyeri kepala/tidak, muntah/tidak, riwayat hipertensi (faktor risiko strok lainnya), lamanya (onset),serangan pertama/ulang.
Pemeriksaan Fisik (Neurologis dan Umum) :
Ada defisit neurologis, hipertensi/hipotensi/normotensi. Pemeriksaan penunjang
Tergantung gejala dan tanda, usia, kondisi pre dan paska stroke, resiko pemeriksaan, biaya, kenyamanan pemeriksaan penunjang.
Tujuan : Membantu menentukan diagnosa, diagnosa banding, faktor risiko, komplikasi, prognosa dan pengobatan.
Laboratorium
Dilakukan pemeriksaan Darah Perifer Lengkap (DPL), Gula Darah Sewaktu (GDS), Fungsi Ginjal (Ureum, Kreatinin dan Asam Urat), Fungsi Hati (SGOT dan SGPT),Protein darah (Albumin, Globulin), Hemostasis, Profil Lipid (Kolesterol, Trigliserida, HDL, LDL), Homosistein, Analisa Gas Darah dan Elektrolit. Jika perlu pemeriksaan cairan serebrospinal.
Radiologis
Pemeriksaan Rontgen dada untuk melihat ada tidaknya infeksi paru maupun kelainan jantung
Brain CT-Scan tanpa kontras (Golden Standard)
MRI kepala
Pemeriksaan Penunjang Lain :
EKG
Echocardiography (TTE dan atau TEE)
Carotid Doppler (USG Carotis)
Transcranial Doppler (TCD) Golden Standard / Baku Emas CT-Scan kepala tanpa kontras
DIAGNOSIS BANDING
1. Ensefalopati toksik atau metabolik
2. Kelainan non neurologis / fungsional ( contoh : kelainan jiwa ) 3. Bangkitan epilepsi yang disertai paresis Todd’s
4. Migren hemiplegik.
5. Lesi struktural intrakranial ( hematoma subdural, tumor otak, AVM ). 6. Infeksi ensefalitis, abses otak.
7. Trauma kepala. 8. Ensefalopati hipertensif. 9. Sklerosis multipel PENATALAKSANAAN / TERAPI Penatalaksanaan Umum 1. Umum :
Ditujukan terhadap fungsi vital: paru-paru, jantung, ginjal, keseimbangan elektrolit dan cairan, gizi, higiene.
2. Khusus
Pencegahan dan pengobatan komplikasi Rehabilitasi
Penatalaksanaan khusus 1. Stroke iskemik / infark :
- Anti agregasi platelet : Aspirin, tiklopidin, klopidogrel, dipiridamol - Trombolitik : rt-PA (harus memenuhi kriteria inklusi)
- Antikoagulan : heparin, LMWH, heparinoid (untuk stroke emboli) (Guidelines stroke 2004) - Neuroprotektan 2. Perdarahan subarakhnoid : - Antivasospasme : Nimodipin - Neuroprotektan 3. Perdarahan intraserebral: Konservatif:
- Memperbaiki faal hemostasis (bila ada gangguan faal hemostasis) - Mencegah/mengatasi vasospasme otak akibat perdarahan : Nimodipine - Neuroprotektan
Operatif: Dilakukan pada kasus yang indikatif/memungkinkan:
- Volume perdarahan lebih dari 30 cc atau diameter > 3 cm pada fossa posterior.
- Letak lobar dan kortikal dengan tanda-tanda peninggian TIK akut dan ancaman herniasi otak
- Perdarahan serebellum
- Hidrosefalus akibat perdarahan intraventrikel atau serebellum - GCS > 7
Terapi komplikasi :
- Antiedema : larutan Manitol 20%
- Antibiotika, Antidepresan, Antikonvulsan : atas indikasi - Anti trombosis vena dalam dan emboli paru.
Penatalaksanaan faktor risiko :
- Antihipertensi : fase akut stroke dengan persyaratan tertentu (Guidelines stroke 2004)
- Antidiabetika : fase akut stroke dengan persyaratan tertentu (Guidelines stroke 2004)
- Antidislipidemia : atas indikasi Terapi Nonfarmaka
- Operatif - Phlebotomi
- Neurorestorasi (dalam fase akut) dan Rehabilitasi medik - Edukasi
KOMPLIKASI / PENYULIT Fase akut : - Neurologis : Stroke susulan Edema otak Infark berdarah Hidrosefalus - Non Neurologis :
Hipertensi / hiperglikemia reaktif Edema paru
Gangguan jantung Infeksi
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Fase lanjut :
- Neurologis : gangguan fungsi luhur - Non Neurologis : Kontraktur Dekubitus Infeksi Depresi KONSULTASI
- Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Ginjal/Hipertensi, Endokrin), Kardiologi bila ada kelainan organ terkait.
- Dokter Spesialis Bedah Saraf untuk kasus hemorhagis yang perlu dioperasi (aneurisma, SVM, evakuasi hematom)
- Gizi
- Rehabilitasi medik (setelah dilakukan prosedur Neurorestorasi dalam 3 bulan pertama pasca onset)
JENIS PELAYANAN
Rawat inap : Stroke Corner, Stroke Unit atau Neurologic High Care Unit pada fase akut
Rawat jalan pasca fase akut TENAGA STANDAR
Dokter Spesialis Saraf, Dokter Umum, Perawat, Terapis LAMA PERAWATAN
Stroke perdarahan: rata-rata 3–4 minggu (tergantung keadaan umum penderita)
PROGNOSIS Ad vitam
Tergantung berat stroke dan komplikasi yang timbul. Ad Functionam
Penilaian dengan parameter :
- Activity Daily Living ( Barthel Index ) - NIH Stroke Scale ( NIHSS )
SEREBRITIS & ABSES OTAK
ICD G 06.0DEFINISI/ETIOLOGI
Penumpukan material piogenik yang terlokalisir di dalam / di antara parenkim otak.
Etiologi:
Bakteri (yang sering) : Staphylococcus aureus,
streptococcus anaerob, S.beta hemolitikus, S. alfa hemolitikus, E. coli, Bacteroides.
Jamur : N. asteroids, spesies candida, aspergillus. Parasit (jarang) : E. Histolitika, cystecircosis,
schistosomiasis.
Patogenesis
Mikroorganisme (MO mencapai parenkim otak melalui:
- Hematogen : dari suatu tempat infeksi yang jauh
- Perluasan di sekitar otak : sinusitis frontalis, otitis media. - Trauma tembus kepala/operasi otak.
- Komplikasi dari kardiopulmoner, meningitis piogenik. - 20% kasus tak diketahui sumber infeksinya.
Lokasi :
- Hematogen paling sering pada substansia alba dan grisea. - Perkontinutatum : daerah yang dekat dengan permukaan otak. Sifat :
- Dapat soliter atau multiple. Yang multiple sering pada jantung bawaan sianotik karena ada shunt kanan ke kiri.
Tahap-tahap :
- Awal : Reaksi radang yang difus pada jaringan otak (infiltrat leukosit, edema, perlunakan dan kongesti) kadang disertai bintik-bintik perdarahan.
- Beberapa hari-minggu : Nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk rongga abses. Astroglia, fibroblas, makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik sehingga terbentuk abses yang tidak berbatas tegas.
- Tahap lanjut: fibrosis yang progresif sehingga terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris.
Stadium:
- Serebritis dini (hari I – III) - Serebritis lanjut (hari IV – IX) - Serebritis kapsul dini (hari X – XIII) - Serebritis kapsul lanjut (> XIV hari) KRITERIA DIAGNOSIS
Gambaran kliniknya tidak khas, kriteria terdapat tanda infeksi + TIK
Darah rutin : 50 – 60 % didapati leukositosis 10.000-20.000 / cm2
70 – 95 % LED meningkat.
LP : bila tak ada kontraindikasi untuk kultur
Radiologi : Foto polos kepala biasanya normal.
CT-Scan kepala tanpa kontras dan pakai kontras bila abses berdiameter > 10 mm.
Angiografi
Pemeriksaan Penunjang
Darah rutin (leukosit, LED)
LP : bila tak ada kontraindikasi untuk kultur dan tes sensitifitas.
Rontgen : Foto polos kepala, CT-Scan kepala tanpa kontras dan pakai kontras, atau angiografi.
DIAGNOSIS BANDING
Space occupying lesion lainnya (metastase tumor, glioblastoma)
Meningitis
TATALAKSANA
Prinsipnya menghilangkan fokus infeksi dan efek massa. Kausal :
Ampisillin 2 gr/6 jam iv (200-400 mg/kgBB/hari selama 2 minggu).
Kloramfenikol 1 gr/6jam iv selama 2 minggu.
Metronidazole 500 mg/8 jam iv selama 2 minggu. Antiedema : dexamethason/manitol.
Operasi bila tindakan konservatif gagal atau abses berdiameter 2 cm. PENYULIT Herniasi Hidrosefalus obstruktif Koma KONSULTASI Bedah Saraf TEMPAT PELAYANAN Perawatan di RS A atau B TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf LAMA PERAWATAN
Minimal 6 minggu PROGNOSIS
Sembuh, sembuh + cacat, atau meninggal
MENINGITIS TUBERKULOSA
ICD A 17.0DEFINISI ETIOLOGI
Meningitis tuberkulosa adalah reaksi peradangan yang mengenai selaput otak yang disebabkan oleh kuman tuberkulosa.
KRITERIA DIAGNOSIS Anamnesis
Didahului oleh gejala prodromal berupa nyeri kepala, anoreksia, mual/muntah, demam subfebris, disertai dengan perubahan tingkah laku dan penurunan kesadaran, onset subakut, riwayat penderita TB atau adanya fokus infeksi sangat mendukung.
Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda rangsangan meningeal berupa kaku kuduk dan tanda lasegue
dan kernig.
Kelumpuhan saraf otak dapat sering dijumpai Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : pemeriksaan LCS (bila tidak ada tanda-tanda
peninggian tekanan intrakranial), pemeriksaan darah rutin, kimia, elektrolit Pemeriksaan sputum BTA (+)
Pemeriksan Radiologik
Foto polos paru
CT-Scan kepala atau MRI dibuat sebelum dilakukan pungsi lumbal bila dijumpai peninggian tekanan intrakranial.
Pemeriksaan penunjang lain:
IgG anti TB (Untuk mendapatkan
antigen bakteri diperiksa counter-immunoelectrophoresis,
radioimmunoassay atau teknik ELISA).
PCR
Pada Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan LCS (bila tidak ada tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial)
Pelikel (+) / Cobweb Appearance (+)
Pleiositosis 50-500/mm3, dominan sel mononuklear, protein meningkat
100-200 mg%, glukosa menurun <50%-60% dari GDS, kadar laktat, kadar asam amino, bakteriologis Ziehl Nielsen (+), kultur BTA (+).
Pemeriksaan penunjang lain seperti IgG anti-TB atau PCR DIAGNOSIS BANDING
Meningoensefalitis karena virus
Meningitis oleh karena infeksi jamur/parasit (Cryptococcus
neoformans atau Toxoplasma gondii), Sarkoid meningitis.
Tekanan selaput yang difus oleh sel ganas, termasuk karsinoma, limfoma, leukemia, glioma, melanoma, dan meduloblastoma.
TATALAKSANA
Umum
Terapi kausal: Kombinasi Obat Anti Tuberkulosa (OAT).
INH Pyrazinamida Rifampisin Etambutol Kortikosteroid PENYULIT/KOMPLIKASI Hidrosefalus
Kelumpuhan saraf kranial
Iskemi dan infark pada otak dan mielum
Epilepsi
SIADH
Retardasi mental
Atrofi nervus optikus
KONSULTASI Bedah Saraf JENIS PELAYANAN Rawat Inap TENAGA STANDAR
Dokter spesialis saraf, dokter umum, perawat LAMA PERAWATAN
Minimal 3 minggu, tergantung respon pengobatan. PROGNOSIS
Meningitis tuberkulosis sembuh lambat dan umumnya meninggalkan sekuele neurologis.
Bervariasi dari sembuh sempurna, sembuh
RABIES
ICD A 82DEFINISI/ETIOLOGI:
Rabies adalah penyakit peradangan akut SSP oleh virus rabies, bermanifestasi sebagai kelainan neurologi yang umumnya berakhir dengan kematian.
KRITERIA DIAGNOSIS Anamnesis
Penderita mempunyai riwayat tergigit, tercakar atau kontak dengan anjing, kucing atau binatang lainnya yang :
- Positif rabies (hasil pemeriksaan otak hewan tersangka) - Mati dalam waktu 10 hari sejak menggigit (bukan dibunuh)
- Tak dapat diobservasi setelah menggigit (dibunuh, lari, dan sebagainya)
- Tersangka rabies (hewan berubah sifat, malas makan dll). Gambaran Klinik
Stadium prodromal (2–10 hari)
Sakit dan rasa kesemutan di sekitar luka gigitan (tanda awal rabies), sakit kepala, lemah, anoreksia, demam, rasa takut, cemas, agitasi.
Stadium kelainan neurologis (2–7 hari)
Bentuk spastik: Peka terhadap rangsangan ringan, kontraksi otot farings dan esofagus, kejang, aerofobia, hidrofobia, kaku kuduk, delirium, semikoma, meninggal setelah 3–5 hari.
Bentuk demensia
Kepekaan terhadap rangsangan bertambah, gila mendadak, dapat melakukan tindakan kekerasan, koma, mati.
Bentuk paralitik (7–10 hari)
Gejala tidak khas, penderita meninggal sebelum diagnosis tegak, terdapat monoplegi atau paraplegi flaksid, gejala bulbar, kematian karena kelumpuhan otot napas.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium: Lekosit, hematokrit, Hb, Albumin urine, dan Lekosit urine, Likuor Serebrospinal bila perlu.
Pemeriksaan radiologik: Dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala untuk menyingkirkan kausa lain.
Pemeriksaan penunjang lain: tidak ada Menunjang diagnosis bila ditemukan:
Darah:
Lekosit : 8.000--13.000/mm3 Hematokrit : berkurang Hb : berkurang
Urine: Albuminuria Sedikit lekosit
CSF: Protein dan sel normal atau sedikit meninggi. DIAGNOSIS BANDING Intoksikasi obat-obatan Ensefalitis Tetanus Histerikal pseudorabies Poliomielitis TERAPI
Bila sudah timbul gejala prodromal
prognosis infaust dalam 3 hari.
Terapi hanya bersifat simptomatis dan
supportif (Infus Dextrose, antikejang).
Vaksin antirabies/serum antirabies: tidak
diperlukan.
PENYULIT
Dehidrasi, gagal napas KONSULTASI
Anestesi
JENIS PELAYANAN
Perawatan RS diperlukan untuk menenangkan pasien TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf LAMA PERAWATAN
Dirawat di kamar isolasi 1–10 hari (umumnya penderita meninggal dalam 1–2 hari perawatan)
PROGNOSIS
Lampiran 1.
PENATALAKSANAAN PENDERITA TERGIGIT ANJING ATAU HEWAN TERSANGKA DAN POSITIF RABIES:
KRITERIA TERSANGKA RABIES SEBAGAI BERIKUT :
1. Anjing/hewan yang menggigit terbukti secara laboratorium adalah positif rabies.
2. Anjing atau hewan yang menggigit mati dalam waktu 5 - 10 hari 3. Anjing atau hewan yang menggigit menghilang atau terbunuh 4. Anjing atau hewan yang menggigit dengan gejala rabies. Catatan :
1. Penyuntikan dilakukan secara lengkap bila :
a. hewan atau anjing yang menggigit positif rabies.
b. hewan atau anjing liar atau gila yang tidak dapat diobservasi atau hewan tersebut dibunuh.
2. Penyuntikan VAR tidak dilanjutkan apabila hewan atau anjing yang menggigit penderita tetap sehat selama observasi sampai dengan 10 hari. 3. Petugas (tenaga medis atau Perawat) harus memakai sarung tangan, pakaian
dan masker.
4. Dokter/Perawat harus terlebih dahulu memberikan penjelasan secukupnya tentang jumlah kali pemberian vaksin anti rabies (VAR)/serum anti rabies (SAR), termasuk manfaat maupun efek samping yang mungkin timbul. 5. Sebelum dilakukan vaksinasi dengan VAR/pemberian serum anti rabies
(SAR) terhadap penderita terlebih dahulu dimintai persetujuan dari penderita ataupun keluarga terdekat penderita atas pemberian vaksinasi/serum tersebut. Dalam hal ini penderita atau keluarga terdekat penderita harus menandatangani surat persetujuan (informed consent) disaksikan oleh dua orang saksi termasuk dokter/Perawat.
PENATALAKSANAAN PENDERITA TERGIGIT ANJING ATAU HEWAN TERSANGKA DAN POSITIF RABIES
No I N D I K A S I T I N D A K A N Jenis VAR+Dosis Boster Keterangan 1. Luka Gigitan 1. Dicuci dengan
air sabun (detergen) 5-10 menit kemudian dibilas dengan air bersih.
2. Alkohol 40-70% 3. Berikan yodium,
betadin solusio atau senyawa amonium kuartener 0.1% 4. Penyuntikan SAR secara infiltrasi sekeliling luka ---- --- menunda penjahitan luka, jika penjahitan diperlukan gunakan anti serum lokal. bila diindikasikan dapat diberikan Toxoid Tetanus, antibiotik, anti inflamasi dan analgetik 2. Kontak, tetapi tanpa lesi, kontak tak langsung, tak ada kontak. --- ---- ----
---3. Menjilat kulit, garukan atau abrasi kulit, gigitan kecil (daerah tertutup), lengan, badan dan tungkai. Berikan VAR hari 0: 2 x suntikan intramuskuler hari 7: 1 x suntikan intra muskuler hari 21: 1 x suntik-an intra muskuler Imovax atau verorab 0,5 ml deltoideus kiri dan 0.5 ml deltoideus kanan 0.5 ml deltoideus kiri atau kanan 0.5 ml deltoideus kiri atau kanan
--- Dosis untuk semua umur sama 4. Menjilat mukosa, luka gigitan besar atau dalam, multipel, luka pada muka, kepala, leher, jari tangan dan jari kaki.
A. Serum anti rabies (SAR)
½ dosis disuntikkan secara infiltrasi disekitar luka ½ dosis yang sisa
disuntikkan intramuskuler diregio glutea. B. Vaksin anti rabies
(VAR)
Sesuai poin 3A &B
Imovag rabies 20 IU/kg BB
Imovag, verorab hari 90: 0.5ml im pada deltoid kiri atau kanan 5. Kasus gigitan ulang A. kurang dari 1 tahun B. lebih dari 1 tahun
Berikan VAR hari 0
Berikan SAR + VAR secara lengkap Imovag, verorab SMBV Imovax, verorab, SMBV, Imogan rabies ---- 0.5 ml IM deltoideus umur < 3th 0.1 ml IC flexor lengan bawah umur > 3 th 0,25 ml IC flexor lengan bawah. Sesuai poin 1,3,4,5 6. Bila ada reaksi
penyuntikan : reaksi lokal kemerahan, gatal,
pembengkakan
Berikan anti histamin sistemik atau lokal Tidak boleh diberikan kortikosteroid.
7. Bisa timbul efek samping pemberian VAR berupa meningoensefalitis Th/ - Kortikosteroid dosis tinggi
ENSEFALITIS VIRAL
ICD G 05DEFINISI/ETIOLOGI
Suatu penyakit demam akut dengan kerusakan jaringan parenkim sistem saraf pusat yang menimbulkan kejang, kesadaran menurun, atau tanda-tanda neurologis fokal.
Etiologi: Virus DNA
- Poxviridae : Poxvirus
- Herpetoviridae : Virus Herpes simpleks, Varicella Zoster, virus
sitomegalik
Virus RNA
- Paramiksoviridae : Virus Parotitis, Virus morbili (Rubeola) - Picornaviridae : Enterovirus, Virus Poliomielitis, Echovirus - Rhabdoviridae : Virus Rabies
- Togaviridae : Virus ensefalitis alpha, Flavivirus ensefalitis jepang B, Virus demam kuning, Virus Rubi
- Bunyaviridae : Virus ensefalitis California - Arenaviridae : Khoriomeningitis Limfositaria - Retroviridae : Virus HIV
KRITERIA DIAGNOSIS
Bentuk asimtomatik :
Gejala ringan, kadang ada nyeri kepala ringan atau demam tanpa diketahui penyebabnya. Diplopia, vertigo, parestesi berlangsung sepintas. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinal
Bentuk abortif :
Nyeri kepala, demam yang tidak tinggi, kaku kuduk ringan. Umumnya terdapat infeksi saluran napas bagian atas atau gastrointestinal.
Bentuk fulminan :
Berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari yang berakhir dengan kematian. Pada stadium akut demam tinggi, nyeri kepala difus yang hebat, apatis, kaku kuduk, disorientasi, sangat gelisah dan dalam waktu singkat masuk ke dalam koma dalam. Kematian biasanya terjadi dalam 2-4 hari akibat kelainan bulbar atau jantung.
Bentuk khas ensefalitis :
Gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gejala infeksi saluran napas bagian atas atau gastrointestinal selama beberapa hari. Kaku kuduk, tanda Kernig positif, gelisah, lemah, dan sukar tidur. Defisit neurologis yang timbul tergantung tempat kerusakan. Selanjutnya kesadaran menurun sampai koma, kejang fokal atau umum, hemiparesis, gangguan koordinasi, kelainan kepribadian, disorientasi, gangguan bicara, dan gangguan mental.
Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan laboratorium
Pungsi lumbal (bila tak ada kontra indikasi)
- Cairan serebrospinal jernih dan tekanannya dapat normal atau meningkat
- Fase dini dapat dijumpai peningkatan sel PMN diikuti pleositosis limfositik, umumnya kurang dari 1000/ul
- Glukosa dan Klorida normal
- Protein normal atau sedikit meninggi (80–200 mg/dl) Pemeriksaan darah
- Lekosit : Normal atau lekopeni atau lekositosis ringan - Amilase serum sering meningkat pada parotitis
- Fungsi hati abnormal dijumpai pada hepatitis virus dan mononukleosis infeksiosa
- Pemeriksaan antibodi-antigen spesifik untuk HSV, cytomegalovirus, dan HIV
Pemeriksaan Radiologik - Foto Thoraks
- CT scan - MRI
Pemeriksaan penunjang lain
Bila tersedia fasilitas virus dapat dibiakkan dari cairan serebrospinal, tinja, urin, apusan nasofaring, atau darah.
DIAGNOSIS BANDING
Infeksi bakteri, mikobakteri, jamur, protozoa
Meningitis tuberkulosa, meningitis karena jamur
Abses otak
Lues serebral
Intoksikasi timah hitam
Infiltrasi neoplasma (Lekemia, Limfoma, Karsinoma) TERAPI
Perawatan Umum
Anti udema serebri : Deksamethason dan Manitol 20%
Atasi kejang : Diazepam 10-20 mg iv perlahan-lahan dapat diulang sampai 3 kali dengan interval 15-30 menit. Bila masih kejang berikan fenitoin 100-200 mg/ 12 jam/hari dilarutkan dalam NaCl dengan kecepatan maksimal 50 mg/menit.
Terapi kausal: Untuk HSV: Acyclovir PENYULIT/KOMPLIKASI
Defisit neurologis sebagai gejala sisa
Hidrosefalus
Gangguan mental
Epilepsi
KONSULTASI -JENIS PELAYANAN Rawat Inap, segera TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf LAMA PERAWATAN
Satu bulan bila tidak ada sequale neurologis
Minimal 1 (satu) Minggu PROGNOSIS
MENINGITIS BAKTERIAL
ICD G 00DEFINISI/ETIOLOGI
Meningitis bakterial (disebut juga meningitis piogenik akut atau meningitis purulenta) adalah suatu infeksi cairan likuor serebrospinalis dengan proses peradangan yang melibatkan piamater, arakhnoid, ruangan subarakhnoid dan dapat meluas ke permukaan otak dan medula spinalis.
Etiologi: Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, H. Influenzae,
Staphylococci, Listeria monocytogenes, basil gram negatif.
KRITERIA DIAGNOSIS Anamnesis
Gejala timbul dalam 24 jam setelah onset, dapat juga subakut antara 1-7 hari. Gejala berupa demam tinggi, menggigil, sakit kepala, fotofobia, mialgia, mual, muntah, kejang, perubahan status mental sampai penurunan kesadaran.
Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda rangsang meningeal
Papil edema biasanya tampak beberapa jam setelah onset
Gejala neurologis fokal berupa gangguan saraf kranialis
Gejala lain: infeksi ekstrakranial misalnya sinusitis, otitis media, mastoiditis, pneumonia, infeksi saluran kemih, arthritis (N. Meningitidis). Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Lumbal pungsi
Pemeriksaan Likuor
Pemeriksaan kultur likuor dan darah Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan kimia darah (gula darah, fungsi ginjal, fungsi hati) dan elektrolit darah
Radiologis
Foto polos paru
CT-Scan kepala
Pemeriksaan penunjang lain: Pemeriksaan antigen bakteri spesifik seperti C Reactive Protein atau PCR (Polymerase Chain Reaction). Pemeriksaan Laboratorium diperoleh :
Lumbal pungsi: Mutlak dilakukan bila tidak ada kontraindikasi.
Pemeriksaan Likuor : Tekanan meningkat>180 mmH2O,Pleiositosis lebih dari 1.000/mm3 dapat sampai 10.000/mm3 terutama PMN, Protein meningkat lebih dari 150 mg/dL dapat>1.000 mg/dL, Glukosa menurun < 40% dari GDS. Dapat ditemukan mikroorganisme dengan pengecatan gram.
Pemeriksaan penunjang lain
Bila hasil analisis likuor serebrospinalis
mendukung, tetapi pada pengecatan gram negatif maka untuk menentukan bakteri penyebab dapat dipertimbangakn pemeriksaan antigen bakteri spesifik seperti C Reactive Protein atau PCR (Polymerase Chain Reaction). DIAGNOSIS BANDING
Meningitis virus, Perdarahan Subarakhnoid, Meningitis khemikal, Meningitis TB, Meningitis Leptospira, Meningoensefalitis fungal.
TATALAKSANA
Perawatan umum
Kausal: Lama Pemberian 10–14 hari
Usia Bakteri Penyebab Antibiotika < 50 tahun S. Pneumoniae
N. Meningitidis L. Monocytogenes
Cefotaxime 2 g/6 jam max. 12 g/hari atau Ceftriaxone 2 g/12 jam +
Ampicillin 2 g/4 jam/IV (200 mg/kg BB/IV/hari)
Chloramphenicol 1 g/6 jam + Trimetoprim/sulfametoxazole 20 mg/kg BB/hari.
Bila prevalensi S. Pneumoniae Resisten Cephalosporin > 2% diberikan :
Cefotaxime / Ceftriaxone+Vancomycin 1 g / 12 jam / IV (max. 3 g/hari) > 50 tahun S. Pneumoniae
H. Influenzae Species Listeria
Pseudomonas aeroginosa N. Meningitidis
Cefotaxime 2 g/6 jam max. 12 g/hari atau ceftriaxone 2 g/12 jam +
ampicillin 2 g/4 jam/IV (200 mg/kg BB/IV/hari)
Bila prevalensi S. Pneumoniae Resisten Cephalosporin > 2% diberikan :
Cefotaxime / Ceftriaxone+Vancomycin 1 g/12 jam/IV (max. 3 g/hari)
Ceftadizime 2 g/8 jam/IV
Bila bakteri penyebab tidak dapat diketahui, maka terapi antibiotik empiris sesuai dengan kelompok umur, harus segera dimulai
Terapi tambahan : Dianjurkan hanya pada penderita risiko tinggi, penderita dengan status mental sangat terganggu, edema otak atau TIK meninggi yaitu dengan Deksametason 0,15 mg/kgBB/6 jam/ IV selama 4 hari dan diberikan 20 menit sebelum pemberian antibiotik.
Penanganan peningkatan TIK:
- Meninggikan letak kepala 30o dari tempat tidur - Cairan hiperosmoler : manitol atau gliserol
PENYULIT Gangguan serebrovaskuler Edema otak Hidrosefalus Perdarahan otak Shock sepsis
ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)
Disseminated Intravascular Coagulation Efusi subdural
SIADH KONSULTASI
Konsultasi dengan bagian lain sesuai sumber infeksi. JENIS PELAYANAN
Perawatan RS diperlukan segera TENAGA STANDAR
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf LAMA PERAWATAN
1–2 bulan di ruang perawatan intermediet PROGNOSIS
TETANUS
ICD X : A 35 DEFINISIPenyakit sistem saraf yang perlangsungannya akut dengan karakteristik spasme tonik persisten dan eksaserbasi singkat.
KRITERIA DIAGNOSIS
Hipertoni dan spasme otot
Trismus, risus sardonikus, otot leher kaku dan nyeri, opistotonus, dinding perut tegang, anggota gerak spastik.
Lain-lain: Kesukaran menelan, asfiksia dan sianosis, nyeri pada otot-otot di sekitar luka
Kejang tonik dengan kesadaran tidak terganggu
Umumnya ada luka/riwayat luka
Retensi urine dan hiperpireksia
Tetanus lokal
Pemeriksaan Penunjang
Bila memungkinkan, periksa bakteriologik untuk menemukan C. tetani. EKG bila ada tanda-tanda gangguan jantung.
Foto toraks bila ada tanda-tanda komplikasi paru-paru. DIAGNOSIS BANDING
Kejang karena hipokalsemia Reaksi distonia
Rabies
Meningitis
Abses retrofaringeal, abses gigi, subluksasi mandibula Sindrom hiperventilasi/reaksi histeri
Epilepsi/kejang tonik klonik umum TATALAKSANA
IVFD dekstrose 5% : RL = 1 : 1 / 6 jam
Kausal :
Antitoksin tetanus:
a. Serum antitetanus (ATS) diberikan dengan dosis 20.000 IU/hari/i.m. selama 3 – 5 hari. TES KULIT SEBELUMNYA. ATAU
b. Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG). Dosis 500-3.000 IU/I.M. tergantung beratnya penyakit. Diberikan SINGLE DOSE.
Antibiotik :
a. Metronidazole 500 mg/8 jam drips i.v.
b. Ampisilin dengan dosis 1 gr/8 jam i.v. (TES KULIT SEBELUMNYA). Bila alergi terhadap Penilisin dapat diberikan:
- Eritromisin 500 mg/6 jam/oral. ATAU - Tetrasiklin 500mg/6 jam/oral.
Penanganan luka :
Dilakukan cross incision dan irigasi menggunakan H2O2.
Simtomatis dan supportif
Diazepam
- Setelah masuk rumah sakit, segera diberikan diazepam dengan dosis 10 mg i.v. perlahan 2–3 menit. Dapat diulangi bila diperlukan.
Dosis maintenance : 10 ampul = 100 mg/500 ml cairan infus (10—12 mg/KgBB/hari) diberikan secara drips (syringe pump).
Untuk mencegah terbentuknya kristalisasi, cairan dikocok setiap 30 menit.
- Setiap kejang diberikan bolus diazepam 1 ampul / IV perlahan selama 3– 5 menit, dapat diulangi setiap 15 menit sampai maksimal 3 kali. Bila tak teratasi segera rawat di ICU.
- Bila penderita telah bebas kejang selama + 48 jam maka dosis diazepam diturunkan secara bertahap + 10% setiap 1 – 3 hari (tergantung keadaan). Segera setelah intake peroral memungkinkan maka diazepam diberikan peroral dengan frekuensi pemberian setiap 3 jam.
Oksigen, diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoksia, distres pernapasan, sianosis.
Nutrisi
Diberikan TKTP dalam bentuk lunak, saring, atau cair. Bila perlu, diberikan melalui pipa nasogastrik.
Menghindari tindakan/perbuatan yang bersifat merangsang, termasuk rangsangan suara dan cahaya yang intensitasnya bersifat intermitten.
Mempertahankan/membebaskan jalan nafas: pengisapan lendir oro/nasofaring secara berkala.
Posisi/letak penderita diubah-ubah secara periodik. Pemasangan kateter bila terjadi retensi urin.
PENYULIT
Asfiksia akibat depresi pernapasan, spasme jalan napas
Pneumonia aspirasi
Kardiomiopati
Fraktur kompresi KONSULTASI
Dokter Gigi
Dokter Ahli Bedah
Dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan
Dokter Ahli THT
Dokter Ahli Anestesi
JENIS PELAYANAN
Rawat segera, bila diperlukan, rawat di ICU TENAGA STANDAR
LAMA PERAWATAN 2 minggu – 1 bulan. PROGNOSIS / LUARAN
Angka kematian tinggi bila :
Usia tua
Masa inkubasi singkat
Onset periode yang singkat
Demam tinggi
Spasme yang tidak cepat diatasi
Sebelum KRS : Tetanus Toksoid (TT1) 0,5 ml IM.
TT2 dan TT3 : diberikan masing-masing dengan interval waktu 4 – 6 minggu
MALARIA SEREBRAL
KRITERIA DIAGNOSIS
Merupakan komplikasi dari malaria. Paling sering disebabkan oleh P.
falciparum. Diagnosis ditegakkan pada penderita malaria (terbukti dari
pemeriksaan apus darah) yang mengalami penurunan kesadaran (GCS <7) disertai gejala lain gangguan serebral (ensefalopati)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan apus darah tebal : ditemukan parasit malaria DIAGNOSIS BANDING
Penurunan kesadaran sebab lain :
Hipoglikemi, asidosis berat, syok karena hipotensi.
TERAPI
Antimalaria : Kinin dihidroklorida IV Terapi suportif : antikonvulsan
antipirektika
penanganan hipoglikemia
menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
Pencegahan : Anti malaria oral sejak dua minggu sebelum perjalanan ke daerah endemis
PENYULIT
Hipoglikemia, Asidosis, Edema paru, Syok hemodinamik, Gagal ginjal
KONSULTASI
Bag. Ilmu Penyakit Dalam JENIS PELAYANAN
Rawat inap TENAGA
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf LAMA RAWAT
Tergantung klinis PROGNOSIS
SINUS TROMBOFLEBITIS
KRITERIA DIAGNOSIS.
Definisi : adalah infeksi sinus venosus intrakranial yang disebabkan berbagai bakteria. Biasanya berasal dari penjalaran infeksi sekitar wajah atas (furunkel) dan kepala ( luka, mastoiditis dll). Gejala tergantung sinus venosus mana yang terkena. Pada trombosis sinus cavernosus, bisa didapat oftalmoplegi dan khemosis. Pada sinus sagitalis trombosis bisa didapat paraplegi.
Pemeriksaan Penunjang
Darah rutin : gambaran infeksi umum dan leukositosis.
Pemeriksaan penunjang lain : cari sumber infeksi wajah atau kepala DIAGNOSIS BANDING
Pseudotumor serebri TATALAKSANA
Terapi farmaka : Antibiotika seperti meningitis purulenta KOMPLIKASI / PENYULIT Meningitis purulenta Abses otak KONSULTASI : -JENIS PELAYANAN Rawat inap TENAGA
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf PROGNOSIS
MENINGITIS KRIPTOKOKKUS / JAMUR
KRITERIA DIAGNOSIS
Definisi : adalah meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokokus. Diagnosis pasti : pemeriksaan sediaan langsung dan kultur dari CSS.
Predisposisi : gangguan imunitas berat (AIDS, penerima transplantasi jaringan atau sedang dalam terapi keganasan)
Pemeriksaan Penunjang
- Pungsi Lumbal : - Profil LCS menyerupai MTB.
- Pengecatan Tinta India / Gram terhadap CSS - Pemeriksaan serologis.
- Kultur Sabauraud. DIAGNOSIS BANDING
Meningitis serosa sebab lain TATALAKSANA
- Terapi kausal : Amfoterisin B dan 5 Floro-sitosin IV ( 2 minggu ) dilanjutkan Flukonazol 200 mg/hari
- Terapi simtomatik /suportif : Disesuaikan keadaan pasien.
PENYULIT Herniasi KONSULTASI
Atas indikasi ke Bag Ilmu Penyakit Dalam & Bag. Bedah Saraf JENIS PELAYANAN
Rawat inap di ruang perawatan khusus TENAGA
Perawat, dokter umum, dokter spesialis saraf PROGNOSIS
Nama Penyakit /Diagnosis
HIV-AIDS Susunan Saraf Pusat
DEFINISI/ ETIOLOGI
Definisi WHO untuk AIDS di Asia Tenggara adalah pasien yang memenuhi kriteria A dan B dibawah ini :
A. Hasil positif untuk antibodi HIV dari dua kali test yang menggunakan dua antigen yang berbeda.
B. Salah satu dari kriteria yang dibawah ini :
1.- Berat badan menurun 10% atau lebih yang tidak diketahui sebabnya . - Diare kronik selama 2 bulan terus menerus atau periodik.
2. Tuberkulosis milier atau menyebar.
3. Kandidiasis esofagus yang dapat didiagnosis dengan adanya kandidiasis mulut yang disertai disfagia / odinofagia.
4. Gangguan neurologis disertai gangguan aktifitas sehari-hari, yang tidak diketahui sebabnya.
5. Sarkoma kaposi.
Infeksi HIV akan menimbulkan penyakit yang kronik dan progresif sehingga setelah bertahun-tahun tampaknya mengancam jiwa. Pengobatan yang tersedia sekarang dapat memperpanjang masa hidup dan kualitas hidup dengan cara memperlambat penurunan sistim imun dan mencegah infeksi oportunistik. Terdapat variasi yang luas dari respon imun terhadap efek patologik HIV. Karena itu mungkin saja sebagian dari mereka tetap hidup dan sehat dalam jangka panjang sedangkan sekitar 40-50% dari mereka menjadi AIDS dalam waktu 10 tahun.
Etiologi : Virus RNA (Retrovirus) Patofisiologi infeksi HIV
HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan non seksual. Didalam tubuh HIV akan menginfeksi sel yang mempunyai reseptor CD4 seperti sel limfosit, monosit dan makrofag dan beberapa sel tertentu lain, walaupun tidak mempunyai reseptor CD4 misalnya sel-sel glia dan sel langerhans. Secara umum ada dua kelas sel dimana HIV ber-replikasi yaitu didalam sel T limfosit dan didalam sel makrofag, karena itu disebut T-tropik atau syncytium inducing
isolates dan Makrofag-tropik atau non-syncytium inducing isolates. Isolat
M-tropik lebih sering tertular, tetapi isolat T-M-tropik terlihat pada 50% dari infeksi HIV stadium lanjut dan menimbulkan progresivitas penyakit yang sangat cepat. Bahkan diketahui bahwa yang menimbulkan perbedaan tropisme adalah kadar ko-reseptor yang penting yaitu CXCR4 dan CCR5.
Sebagai akibatnya akan terjadi dua kelompok gejala utama yaitu :
1. Akibat penekanan pada sistim kekebalan tubuh, sehingga mudah terjadi infeksi, kanyeri kepalaer yang spesifik dan penurunan berat badan yang drastis.
KRITERIA DIAGNOSIS
Fase I - Infeksi HIV primer (infeksi HIV akut)
Fase II - Penurunan imunitas dini (sel CD4 > 500 / µl)
Fase III – Penurunan imunitas sedang (sel CD4 500 – 200 / µl)
Fase IV – Penurunan imunitas berat (sel CD4 < 200 / µl) Kriteria diagnosis presumtif untuk indikator AIDS :
a. Kandidiiasis Esofagus: nyeri retrosternal saat menelan dan bercak putih diatas dasar kemerahan.
b. Retinitis virus sitomegalo c. Mikobakteriosis
d. Sarkoma kaposi: bercak merah atau ungu pada kulit atau selaput mukosa. e. Pnemonia Pnemosistis karini: Riwayat sesak nafas/batuk nonproduktif dalam
3 bulan terakhir. f. Toksoplasmosis otak Pemeriksaan Penunjang:
Enzym-linked immunosorbent assay (Eliza) dan aglutinasi partikel. Western Blot Analysis, indirect immunofluorescence assays (IFA)
dan radioimmunoprecipitation assays (RIPA) Biakan darah, urin dan sifilis
Antigen/ antibody HIV
Lymphosit cell CD 4 dan CD 8 Viral load
Serologi sifilis, antigen kriptokokus Lumbal Pungsi
Pemeriksaan tinta India cairan serebrospinal. Brain CT scan , MRI
Electromyography (EMG) Memory test
Roentgen thorax
Mikroskopis dan biakan dahak. DIAGNOSIS BANDING
Massa intrakranial TBC
Polineuropathy kerena penyebab lain Demensia karena penyebab lain
TATALAKSANA
Dosis Anti retroviral untuk ODHA dewasa (Pedoman Nasional 2004)
Gol / Nama obat Dosis
Nucleoside RTI
Abacavir (ABC) 300 mg setiap 12 jam
Didanoside (ddI) 400 mg sekali sehari
250mg@12jam (BB < 60kg)
Atau 250 mg sekali sehari bila diberi bersama TDF
Lamivudine (3TC) 150 mg setiap 12 jam atau 300 mg sekali sehari
Stavudine (d4T) 30mg@12jam (BB < 60 kg) Zidovudine (ZDV atau AZT) 300 mg@ 12jam
Nucleotide RTI
Tenofovir (TDF) 300mg sekali sehari
Non-nucleoside RTIs
Efavirenz (EFV) 600mg sekali sehari
Nevirapine (NVP) 200mg sekali sehari (14 hari) kemudian 200 mg @12jam Protease Inhibitors
Indinavir/Ritonavir (IDV/r) 800mg/100mg @ 12jam Lopinavir/Ritonavir (LPV/r) 400mg/100mg @ 12jam
Nelfinavir (NFV) 1250mg @12 jam
Squinavir/Ritonavir (SQV/r) 1000mg/100mg@12jam atau 1600mg/200mg sekali sehari
Ritonavir (RTV/r) capsule 100mg,
larutan oral 400mg/5ml Infeksi Opportunistik
1. Sitomegalovirus pada HIV : Pada funduskopi = Retinitis sitomegalovirus Gansiklovir 5 mg/KgBB dua kali sehari parenteral selama 14-21 hari.
Selanjutnya 5 mg/KgBB sekali sehari dianjurkan sampai CD4 lebih dari 100 sel/ml.
2. Ensefalitis Toksoplasma
Pirimetamin 50-75 mg perhari dengan Sulfadiazin 100 mg/KgBB/hari Asam Folat 10-20 mg perhari
Atau :
Fansidar 2-3 tablet per hari dan Klindamisin 4 x 600 mg perhari Disertai leukovorin 10 mg perhari.
(Fansidar mengandung: Pirimetamine 25mg +Sulfadoksin 500mg) Untuk mencegah kekambuhan : Kotrimoksazol 2 tab perhari 3. Meningitis Cryptoccocus
Terapi primer fase akut : Amfoterisin B 0,7 mg/kgBB/hari iv – 2 minggu. Selanjutnya Fluconazole 400 mg per hari peroral selama 8-10 minggu Terapi pencegahan kekambuhan :
Fluconazole 100 mg perhari seterusnya selama jumlah sel CD 4 masih dibawah 300 sel/mL
Antiretroviral rekomendasi WHO 2004 ARV first line:
d4T/3TC/NVP (Stavudin/Lamifudin/Nevirapin) d4T/3TC/EFV (Stavudin/Lamifudin/Efavirens) AZT/3TC/NVP (Zidovudin/Lamifudin/Nevirapin) AZT/3TC/EFV (Zidovudin/Lamifudin/Efavirens) PENYULIT / KOMPLIKASI 1. Drug toxicity 2. AIDP 3. CIDP 4. Mononeuropathy 5. Focal brain lesions
6. Distal Symmetric Polineuropathy
7. Inflammatory demyelinating polyneuropathy 8. Progressive polyradiculopathy
9. Mononeuritis multiplex
10. Spinal cord syndrome / vacuolar myelopathy
KONSULTASI:
Pokja HIV-AIDS RS Setempat , VCT Clinic JENIS PELAYANAN
Rawat Inap dan Rawat Jalan TENAGA STANDAR:
Spesialis Saraf, Spesialis Penyakit Dalam, Perawat terlatih PROGNOSIS
Angka kekambuhan tinggi Angka kematian tinggi
Gambar 1 : Algoritme penatalaksanaan keluhan intraserebral pada penderita HIV/AIDS
Keluhan Intraserebral
MRI
CT Scan
Normal Atrofi Meningeal
enhanceme nt
Hidrosefalus Lesi desak ruang Evaluasi CSF Shunt (kalau perlu) Positif Negatif Terapi sesuai etiologi Observasi
Efek massa (-) Lesi massa
Gambar 2 :
Algoritme penatalaksanaan lesi massa intrakranial pada penderita HIV/AIDS
Lesi Masa Intrakranial
Alert-lethargic Stabil Stupor-coma Perburukan cepat Massa besar dengan resiko herniasi Steroid ?
Lesi multipel Lesi tunggal
Serologi Toksoplasma + -Obat antitoksoplasma Perbaikan ya tidak Biopsi stereotaktik Ancaman Herniasi Obat Antitoksoplasma seumur hidup Terapi sesuai
DEMENSIA ALZHEIMER
ICD F.00DEFINISI DEMENSIA:
Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
KRITERIA DIAGNOSIS
Probable Demensia Alzheimer
Demensia ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinik dan tes neuropsikologi (algoritma penanganan demensia, MMSE, CDT, ADL, IADL, FAQ, CDR, NPI, Skala Depresi Geriatrik, Trial Making test A dan B terlampir)
Defisit meliputi dua atau lebih area kognisi terutama perburukan memori yang disertai gangguan kognisi lain yang progresif
Tidak terdapat gangguan kesadaran
Awitan (onset) antara usia 40-90 tahun, sering setelah usia 65 tahun
Tidak ditemukan gangguan sistemik atau penyakit otak sebagai penyebab gangguan memori dan fungsi kognisi yang progresif tersebut
Possible Demensia Alzheimer
Penyandang sindroma demensia tanpa gangguan neurologis, psikiatris dan gangguan sistemik lain yang dapat menyebabkan demensia
Awitan, presentasi atau perjalanan penyakit yang bervariasi dibanding demensia Alzheimer klasik
Pasien demensia dengan komorbiditas (gangguan sistemik/gangguan otak sekunder) tetapi bukan sebagai penyebab demensia
Dapat dipergunakan untuk keperluan penelitian bila terdapat suatu defisit kognisi berat, progresif bertahap tanpa penyebab lain yang teridentifikasi.
KLINIS
Awitan penyakit perlahan-lahan
Perburukan progresif memori (jangka pendek) disertai gangguan fungsi berbahasa (afasia), ketrampilan motorik (apraksia), dan persepsi (agnosia) dan perubahan perilaku penderita yang mengakibatkan gangguan aktivitas hidup sehari-hari (ADL)
Bisa didapatkan riwayat keluarga dengan penyakit yang serupa
Kelainan neurologis lain pada tahap lanjut berupa gangguan motorik seperti hipertonus, mioklonus, gangguan lenggang jalan (gait), atau bangkitan (seizure)
Gejala penyerta lain berupa depresi, insomnia, inkontinensia, delusi, ilusi, halusinasi, pembicaraan katastrofik, gejolak emosional atau fisikal, gangguan seksual, dan penurunan berat badan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG Radioimaging:
CT sken: atrofi serebri terutama daerah temporal dan parietal
MRI : Atrofi serebri dan atrofi hipokampus
SPECT: penurunan serebral blood flow terutama di kedua kortek temporoparietal
PET: penurunan tingkat metabolisme kedua kortek temporoparietal
Laboratorium: Urinalisis Elektrolit serum Kalsium BUN Fungsi hati Hormon tiroid
Kadar asam Folat dan Vitamin B 12
Absorpsi antibodi treponemal flouresen neurosifilis dan pemeriksaan HIV pada pasien resiko tinggi
Pemeriksaan cairan otak untuk biomarker EEG
Stadium awal: gambaran EEG normal atau aspesifik
Stadium lanjut: dapat ditemukan perlambatan difus dan kompleks periodik
BAKU EMAS (PEMERIKSAAN PATOLOGI ANATOMI):
Ditemukan neurofibrillary tangles dan senile plaque DIAGNOSA BANDING
Demensia Vaskuler
Demensia Lewi body
Demensia lobus frontal
Pseudodemensia (depresi) PENATALAKSANAAN
Farmakologi
Simptomatik :
o Penyekat Asetilkolinesterasa:
Donepezil HCl tablet 5mg, 1x1 tablet/hari
Rivastigmin tablet, interval titrasi 1 bulan, mulai dari 2x1,5 mg sampai maksimal 2x 6 mg
Galantamin tablet, interval titrasi 1 bulan mulai dari 2x 4mg sampai maksimal 2x16 mg
Gangguan perilaku:
Depresi:
Antidepresan golongan SSRI (pilihan utama): Sertraline tablet 1x 50mg , Flouxetine tablet 1x 20mg
Golongan Monoamine Oxidase (MAO) Inhibitors: Reversible MAO-A
inhibitor (RIMA): Moclobemide Delusi/halusinasi/agitasi
Neuroleptik atipikal
Risperidon tablet 1x 0,5 mg – 2 mg / hari
Olanzapin
Quetiapin tablet: 2x25mg-100mg
Neuroleptik tipikal
Haloperidol tablet: 1x 0,5mg -2mg/hari Non farmakologis
Untuk mempertahankan fungsi kognisi
Program adaptif dan restoratif yang dirancang individual :
Orientasi realitas
Stimulasi kognisi : memory enhancement program
Reminiscence
Olah raga Gerak Latih Otak Edukasi pengasuh
Training dan konseling Intervensi lingkungan
Keamanan dan keselamatan lingkungan rumah
Fasilitasi aktivitas
Terapi cahaya
Terapi musik
Pet therapy
Penanganan gangguan perilaku
Mendorong untuk melakukan aktivitas keluarga (menyanyi, ibadah, rekreasi dll)
Menghindari tugas yang kompleks.
Bersosialisasi TINDAKAN
Tidak ada tindakan spesifik PENYULIT
Infeksi saluran kemih dan pernafasan
Gangguan gerak dan jatuh pada tahap lanjut KONSULTASI
Bila diagnosa demensia belum tegak/ragu-ragu seperti presentasi klinik spesifik atau terdapat progresitas yang tidak khas.
Bila tidak ada perbaikan dengan terapi farmokologi spesifik JENIS PELAYANAN
Poliklinik konsultatif TENAGA
Dokter spesialis Ilmu Penyakit Saraf LAMA PERAWATAN
DEMENSIA VASKULER
ICD F.01DEFINISI:
Demensia Vaskuler (VaD) meliputi semua kasus demensia yang disebabkan oleh gangguan serebrovaskuler dengan penurunan kognisi mulai dari yang ringan sampai paling berat dan meliputi semua domain, tidak harus prominen gangguan memori.
Dalam pembagian klinis dibedakan atas: I. VaD pasca stroke / Post stroke demensia
Demensia infark strategi k
MID (Multiple infark dementia)
Perdarahan intraserebral II. VaD subkortikal
Lesi iskemik substansia alba
Infark lakuner subkortikal
Infark non lakuner subkortikal III. AD + CVD (VaD tipe campuran)
KRITERIA DIAGNOSIS VAD PROBABLE VAD PASCA STROKE
1. Adanya demensia secara klinis dan test neuropsikologis (sesuai dengan demensia Alzheimer)
2. Adanya penyakit serebrovaskuler (CVD) yang ditandai dengan :
Defisit neurologik fokal pada pemeriksaan fisik sesuai gejala stroke (dengan atau tanpa riwayat stroke)
CT sken atau MRI adanya tanda-tanda gangguan serebrovaskuler
3. Terdapat hubungan antara kedua gangguan diatas (1 atau lebih keadaan dibawah ini)
Awitan demensia berada dalam kurun waktu 3 bulan pasca stroke
Deteriorasi fungsi kognisi yang mendadak atau berfluktuasi, defisit kognisi yang progresif dan bersifat stepwise.
PROBABLE VAD SUBKORTIKAL 1. Sindroma kognisi meliputi:
Sindroma Diseksekusi: Gangguan formulasi tujuan, inisiasi, perencanaan, pengorganisasian, sekuensial, eksekusi, set-shifting, mempertahankan kegiatan dan abstraksi
Deteriorasi fungsi memori sehingga terjadi gangguan fungsi okupasi kompleks dan sosial yang bukan disebabkan oleh gangguan fisik karena stroke
CVD yang dibuktikan dengan neuroimaging
Rriwayat defisit neurologi sebagai bagian dari CVD: hemiparese, parese otot wajah, tanda Babinski, gangguan sensorik, disartri, gangguan berjalan, gangguan ekstrapiramidal yang berhubungan dengan lesi subkortikal otak
KLINIS:
a. Episode gangguan lesi UMN ringan seperti drifting, refleks asimetri, dan inkoordinasi
b. Gangguan berjalan pada tahap dini demensia
c. Riwayat gangguan keseimbangan, sering jatuh tanpa sebab
d. Urgensi miksi yang dini yang tidak berhubungan dengan kelainan urologi e. Disartri, disfagi dan gejala ekstrapiramidal
f. Gangguan perilaku dan psikis seperti depresi, perubahan kepribadian, emosi labil, dan retardasi psikomotor
PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium
Darah: hematologi faktor resiko stroke Radiologis:
Foto thorak
Radioimaging Computed Tomography
VaD pasca stroke
o Infark (kortikal dan/atau subkortikal) o Perdarahan Intraserebral
o Perdarahan subarachnoid
VaD subkortikal
o Lesi periventrikuler dan substansia alba luas
o Tidak ditemukan adanya: infark di kortikal dan kortiko-subkortikal dan infark watershed; perdarahan pembuluh darah besar; hidrosefalus tekanan normal (NPH) dan penyebab spesifik substansia alba (multiple sklerosis, sarkoidosis, radiasi otak).
Magnetic Resonance Imaging VaD subkortikal
a. Lesi luas periventrikuler dan substansia alba atau multipel lakuner (>5) di substansia gresia dalam dan paling sedikit ditemukan lesi substansia alba moderat
b. Tidak ditemukan infark di teritori non lakuner, kortiko-subkortikal dan infark watershed, perdarahan, tanda-tanda hidrosefalus tekanan normal dan penyebab spesifik lesi substansia alba (mis. multiple sklerosis, sarkoidosis, radiasi otak).
DIAGNOSA BANDING
Demensia Alzheimer (dengan menggunakan Hachinski score/ terlampir) PENATALAKSANAAN
Farmakologi
Terapi simptomatik terhadap gangguan kognisi simptomatik :
Penyekat Asetilkolinesterase:
i. Donepezil Hcl tablet 5mg, 1x1 tablet/hari
ii. Rivastigmin tablet, interval titrasi 1 bulan, mulai dari 2x1,5 mg sampai maksimal 2x 6 mg
iii. Galantamin tablet, interval titrasi 1 bulan mulai dari 2x 4mg sampai maksimal 2x16 mg
Gangguan perilaku:
Depresi:
Antidepresan golongan SSRI (pilihan utama): Sertraline tablet 1x 50mg , Flouxetine tablet 1x 20mg
Golongan Monoamine Oxidase (MAO) Inhibitors: Reversible
MAO-A inhibitor (RIMA): Moclobemide Delusi/halusinasi/agitasi
Neuroleptik atipikal
Risperidon tablet 1x 0,5 mg – 2 mg / hari
Olanzapin
Quetiapin tablet: 2x25mg-100mg
Neuroleptik tipikal
Haloperidol tablet: 1x 0,5mg -2mg/hari Non farmakologis
Untuk mempertahankan fungsi kognisi
Program adaptif dan restoratif yang dirancang individual :
Orientasi realitas
Stimulasi kognisi : memory enhancement program
Reminiscence
Olah raga Gerak Latih Otak Edukasi pengasuh
Training dan konseling Intervensi lingkungan
Keamanan dan keselamatan lingkungan rumah
Fasilitasi aktivitas
Terapi cahaya
Terapi musik
Pet therapy
TINDAKAN
Tidak ada tindakan spesifik PENYULIT
Infeksi saluran kemih dan pernafasan
Gangguan gerak dan jatuh pada tahap lanjut KONSULTASI
Bila diagnosa demensia belum tegak/ragu-ragu seperti presentasi klinik spesifik atau terdapat progresitas yang tidak khas.
Bila keluarga membutuhkan pendapat kedua
Bila tidak ada perbaikan dengan terapi farmokologi spesifik RUJUKAN
JENIS PELAYANAN :
Poliklinik konsultatif TENAGA :
Dokter spesialis Ilmu Penyakit Saraf LAMA PERAWATAN :
TUMOR INTRAKRANIAL
ICD C 71DEFINISI
Massa intrakranial--baik primer maupun sekunder--yang memberikan gambaran klinis proses desak ruang dan atau gejala fokal neurologis.
KRITERIA DIAGNOSIS
Gejala tekanan intrakranial yang meningkat:
Sakit kepala kronik, tidak berkurang dengan obat analgesik Muntah tanpa penyebab gastrointestinal
Papil edema (sembab papil = choked disc) Kesadaran menurun/berubah
Gejala fokal:
true location sign
false location sign Neighbouring sign
Tidak ada tanda-tanda radang sebelumnya.
Pemeriksaan neuroimaging terdapat kelainan yang menunjukkan adanya massa (SOL)
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos tengkorak
Neurofisiologi: EEG, BAEP
CT Scanning / MRI kepala + kontras DIAGNOSIS BANDING Abses serebri Subdural hematom Tuberkuloma Pseudotumor serebri. TATALAKSANA Kausal Operatif Radioterapi Kemoterapi
Obat-obat dan tindakan untuk menurunkan tekanan intrakranial
Deksamethason
Manitol
Posisi kepala ditinggikan 20 - 300
Simptomatik (bila diperlukan dapat dibicarakan): Antikonvulsan
Analgetik/antiperetik Sedativa
Antidepresan bila perlu