• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
54
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

EFEK PROMOSI EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT

KELINCI JANTAN

(Skripsi)

Oleh INDAH YUSNI

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

EFEK PROMOSI EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT

KELINCI JANTAN

Oleh

INDAH YUSNI

Saat ini kerontokan rambut menjadi masalah bagi setiap orang dan obat untuk mengatasi hal tersebut belum memuaskan, dimana rambut merupakan mahkota bagi setiap orang dan menunjang penampilan bagi pria atau wanita. Sehingga upaya dalam mengatasai hal tersebut terus dilakukan.Bahan alam yang

diperkirakan dapat digunakan sebagai penyubur rambut adalah daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.), dimana daun ini mengandung sebagian besar senyawa yang diduga memiliki khasiat sebagai penyubur rambut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah daun cocor bebek dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut, dengan parameter panjang dan massa rambut. Dalam penelitian ini menggunakan 4 kelinci dengan masing-masing kelinci dicukur 6 daerah (2cm x 2cm). Daerah K yaitu kontrol normal (diolesi dengan aquadest), K(+) diolesi dengan 0,1 gram minoxidil 2%, dan pada daerah P1, P2, P3, dan P4 berturut-turut diolesi dengan 0,1 gram ekstrak cocor bebek konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% selama 21 hari pada pagi dan sore. Panjang rambut diukur pada hari ke-7, 14, dan 21, sementara massa rambut diukur pada hari ke-22. Hasil analisis statistik dengan menggunakan ANOVA kemudian dilanjutkan dengan BNT (Beda Nyata Terkecil) menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun cocor bebek dapat meningkatkan pertumbuhan rambut dan ekstrak dengan konsetrasi 100% menunjukkan pengaruh terhadap pertumbuhan rambut lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan lain. Hal ini karena ekstrak etanol daun cocor bebek memiliki beberapa senyawa yang dapat mengingkatkan pertumbuhan rambut dan

menghambat 5α-reduktase.

(3)

EFEK PROMOSI EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT

KELINCI JANTAN

Oleh

INDAH YUSNI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA SAINS

Pada

Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)

vi RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara oleh pasangan Bapak Zulkarnain dan Ibu Kasturi yang dilahirkan pada tanggal 30 Juni 1996.

Penulis mengawali pendidikannya dari Taman Kanak-Kanak Aisyah Bustanul Athfal Metro pada tahun 2001-2002. Dilanjutkan dengan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 4 Metro Timur pada tahun 2002–2008. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Metro 2008–2011. Pada tahun 2011-2014 penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Metro.

Penulis terdaftar menjadi mahasiswi jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Lampung di tahun 2014 melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Pergururuan Tinggi Negeri (SBMPTN). Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi

(7)

vii penulis aktif dalam dalam berorganisasi di bidang Pengembangan Sains dan Lingkungan Hidup (PSLH) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA Unila pada tahun 2015-2016, Organisasi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) FMIPA Unila sebagai Bendahara Bidang Kaderisasi dan Kepemimpinan pada tahun 2015-2016, dan sebagai Bendahara Umum HIMBIO FMIPA Unila pada tahun 2016-2017.

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sulusuban ,Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, terhitung sejak bulan Januari hingga Februari 2017. Penulis juga melaksanakan Kerja Praktik di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandar Lampung pada bulan Juli sampai Agustus 2017 dengan judul laporan“Uji Cemaran Mikroba Pada Sampel Pangan Es dan Suplemen Makanan di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandar Lampung”.

Terakhir penulis melaksanakan penelitian akhir dengan judul“Efek Promosi Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.)

(8)

MOTTO

“Bagiku hasil itu penting, namun proses dan ilmu yang didapatkan dengan

kejujuran, jauh lebih penting”.

Semakin banyak yang kamu baca, semakin banyak yang kamu tahu.

Semakin banyak kamu tahu, akan semakin sering kamu belajar”.

“Untuk mencapai kesuksesan, kita jangan hanya bertindak, tapi juga perlu

bermimpi, jangan hanya berencana, tapi juga perlu untuk percaya”.

(Anatole France)

“Tanamlah kebaikan sebanyak mungkin, maka kebaikan akan datang

kepadamu”.

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya

memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat,

maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya

(9)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan

Rahmat, Ridho, dan Karunia-Nya yang tak henti-hentinya Dia berikan,

Kupersembahkan karya kecilku ini sebagai cinta kasihku, tanda bakti, serta rasa

terima kasihku yang terdalam kepada orang-orang yang

telah berjasa dalam hidupku.

Bapak dan Ibuku tercinta yang senantiasa selalu mengucapkan namaku dalam

do’a, memberikan kasih dan saying, dan pengorbanan untuk keberhasilanku.

Adik-adikku yang selalu senantiasa menghibur dan membuat diriku

lebih belajar menjalani hidup.

Bapak dan Ibu dosen yang selalu memberikan ilmu dengan tulus dan ikhlas.

Sahabat-sahabatku yang selalu mendukung dan selalu menemani

di saat susah maupun senang.

(10)

x SANWACANA

Dengan mengucapkan Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan terhadap Allah SWT, kerena berkat rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat menyelesaikan skripsi berjudul“Efek Promosi Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek

(Kalanchoe Pinnata [Lam] Pers.) Terhadap Pertumbuhan Rambut Kelinci Jantan”.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Kedua Orang tuaku Bapak Zulkarnain dan Ibu Kasturi yang tak henti-hentinya

memberikan do’a, kasih sayang, pengorbanan, dan nasihat yang sangat berarti. 2. Adik-adikku tersayang Indra Yunada. Indy Yurika, dan Fitra Ramadhan yang

selalu memberikan semangat, do’a, dan canda tawa.

3. Bapak Drs. M. Kanedi, M. Si., selaku pembimbing I yang telah sabar membimbing, memberikan saran, ilmu, serta nasihat selama perkuliahan maupun penyusunan skripsi.

(11)

xi 5. Ibu Dr. Nuning Nurcahyani, M.Sc., selaku Pembahas, Pembimbing

Akademik, serta Ketua Jurusan Biologi yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis melakukan studi di jurusan Biologi, memberikan kritik dan koreksi yang bermanfaat bagi penulis.

6. Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. selaku Rektor Universitas Lampung. 7. Bapak Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Matematika

dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

8. Bapak Ibu Dosen Jurusan Biologi FMIPA Unila terimakasih atas bimbingan dan ilmu yang sudah diberikan selama penulis melaksanakan studi di Jurusan Biologi.

9. Teman spesial saya Jefry Afriandi A,Md. Pt., terimakasih atasdo’a,dukungan, motivasi, canda tawa, dan kasih sayang kepada penulis.

10. Teman seperjuangan penelitian Titin Aprilia dan Indria Ratna terimakasih atas kerjasama, canda tawa dan suka duka selama penelitian ini.

11. Teman-teman tersayang Sarti, Mitha, Davina, Tara, Fesya, Mia, terimakasih atas canda tawa, kebersamaan, dukungan, kritik, saran, dan sudah memberikan kenangan indah selama perkuliahan.

12. Teman-teman keluarga besar Biologi 2014 terimakasih atas dukungan dan kebersamaannya selama ini.

13. Teman seatap yang senantiasa memberikan semangat, keceriaan, dan mengerti penulis selama penyusunan skripsi ini.

(12)

xii Semoga Allah SWT mambalas kasih sayang kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa masih banyak

kekurangan didalam penulisan skripsi ini dan jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, 20 November 2017 Penulis,

(13)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DEPAN ... i

ABSTRAK ... ii

HALAMAN JUDUL DALAM ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

RIWAYAT HIDUP ... vi

MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

SANWACANA ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ...xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 3

C. Manfaat Penelitian ... 4

D. Kerangka Pemikiran ... 4

E. Hipotesis ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Rambut 1. Definisi Rambut ... 6

2. Anatomi Rambut ... 6

(14)

xiv

4. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Rambut ... 10

5. Abnormalitas pada Pertumbuhan Rambut ... 13

6. Pengobatan Alopesia ... 15

B. Tanaman Cocor Bebek ... 17

1. Klasifikasi Cocor Bebek ... 17

2. Penamaan Cocor Bebek ... 18

3. Morfologi Tanaman Cocok Bebek ... 18

4. Penyebaran Tanaman Cocor Bebek ... 19

5. Kandungan Cocor Bebek ... 19

6. Manfaat Cocor Bebek ... 20

C. Kelinci ... 20

D. Pengertian Ekstraksi ... 22

III. METODE KERJA ... 24

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 24

B. Alat dan Bahan ... 24

1. Alat Penelitian ... 24

2. Bahan Penelitian ... 25

C. Rancangan Penelitian ... 26

D. Pelaksanaan Penelitian ... 29

1. Penyediaan Bahan Uji ... 29

2. Pembuatan Ekstrak Cocor Bebek ... 29

3. Pencukuran Rambut Kelinci Jantan ... 30

4. Pemberian Perlakuan ... 30

E. Parameter Penelitian ... 31

F. Analisis Data ... 31

G. Diagram Alir ... 32

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Hasil Pengamatan ... 33

1. Panjang Rambut ... 33

2. Massa Rambut ... 34

B. Pembahasan ... 34

V. KESIMPULAN ... 44

VI. DAFTAR PUSTAKA ... 45

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Hasil pengukuran panjang rambut kelinci setelah diberi ekstrak etanol daun

cocor bebek ... ... 33

Tabel 2. Hasil pengukuran massa rambut kelinci setelah diberi ekstrak etanol daun cocor bebek... 34

Tabel 3. Hasil Pengukuran panjang rambut kelinci ... 51

Tabel 4. One Way ANOVA rerata panjang rambut kelinci hari ke-7 ... 56

Tabel 5. One Way ANOVA rerata panjang rambut kelinci hari ke-14 ... 60

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Anatomi Rambut ... 7

Gambar 2. Struktur Batang Rambut ... 8

Gambar 3. Sikulus Pertumbuhan Rambut ... 9

Gambar 4. Rumus struktur minoxidil ... 15

Gambar 5. Cocor Bebek ... 19

Gambar 6. Kelinci (Oryctolagus cuniculus) ... 22

Gambar 7. Daerah Pengolesan Ekstrak Cocor Bebek ... 27

Gambar 8. Diagram Alir Penelitian ... 32

Gambar 9. Rata-Rata Panjang Rambut Kelinci Perminggu ... 36

Gambar 10. Rata-Rata Massa Rambut ... 38

Gambar 11. Pencucian Daun Cocor Bebek ... 62

Gambar 12. Pengeringan Daun ... 62

Gambar 13. Penggilingan Daun Cocor Bebek ... 62

Gambar 14. Penyaringan ... 62

Gambar 15. Alat Rotary Evaporator ... 63

Gambar 16. Ekstrak Daun Cocor Bebek ... 63

Gambar 17. Pengukuran Rambut Kelinci ... 63

Gambar 18. Minoxidil ... 63

Gambar 19. Pencukuran Rambut Kelinci ... 64

(17)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini kerontokan rambut menjadi masalah bagi setiap orang dan obat untuk mengatasi hal tersebut belum memuaskan, dimana rambut merupakan

mahkota bagi setiap orang dan menunjang penampilan bagi pria atau wanita. Selain itu rambut memiliki peran penting pada manusia , yaitu memberikan perlindungan dan sebagai proteksi terhadap suhu panas dan dingin. Selain itu, rambut juga berfungsi melindungi kulit terhadap pengaruh-pengaruh buruk, pendorong penguapan keringat, dan sebagai indera peraba yang sensitif, seperti bulu mata untuk melindungi mata dari keringat, dan pengatur suhu (Harahap, 2000).

(18)

2

Berbagai bahan kosmetik telah banyak di pasaran untuk menjaga atau mengatasi rambut rontok bahkan kebotakan pada rambut. Baik yang berasal dari bahan sintetik atau pun nonsintetik. Namun pada penggunaannya dapat menimimbulkan efek samping, sehingga untuk mengatasi hal tersebut bahan alami kembali diminati oleh masyarkat (Harrison dan Bergefeld, 2009). Selain itu penggunaan bahan herbal telah diterima secara luas di Negara maju dan berkembang, tidak hanya pada bahan pengobatan saja, namun juga pada bidang kosmetik. Hal tersebut didukung oleh kekayaan alam Indonesia yang melimpah, terutama dari segi keanekaragaman flora.

Tanaman cocor bebek (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.) merupakan tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia dan dapat tumbuh dengan mudah. Secara tradisional tanaman ini digunakan untuk mengobati wasir, mengurangi

pembengkakan, penurun demam, menghentikan perdarahan, antiradang (Suhono dan tim LIPI, 2010).

Menurut Devbhulti, Gupta, Bose, (2008); Pal, Sen, Nag, (1999) daun cocor bebek mengandung senyawa alkaloid, fenol, flavonoid, asam askorbat, tanin, anthocyanin, triterpen glikosida, bufadienolides, saponin, isoflavon, steroid,β -sitosterol, kalium oksalat, asam malat, oleana, zat besi, seng, kumarin,

sitosterols, quinines, karotenoid, tokoferol, lektin, dan vitamin C.

(19)

3

kaya akan flavonoid, alkaloid, steroid, polifenol, glikosida, steroid, triterpen, dan tannin (Khandare, Raygude, Bodhankar, 2012; Bhaskar, Nithya, Vidya, 2011).

Di antara tanaman yang mengandung flavonoid, isoflavonoid, steroid,

triterpen,glikosakarida, β-sitosterol, steroid dan saponin yang belum diteliti untuk pertumbuhan rambut diantaranya adalah cocor bebek. Cocor bebek diketahui mengandung bahan -bahan yang menurut (Semwal, Agrawal,Singh, Sharma, 2011) dapat dikategorikan sebagai pemicu pertumbuhan rambut, sehingga diduga ekstrak daun cocor bebek berpengaruh terhadap pertumbuhan rambut.

B. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Membuktikan pengaruh ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe

pinnata [Lam] Pers.) terhadap pertumbuhan rambut pada kelinci jantan.

b. Membuktikan pemberian ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe

pinnata [Lam] Pers.) dari konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100% yang paling

(20)

4

C. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai salah satu bahan alami yang terbuat dari ekstrak daun cocor bebek (Kalanchoe

pinnata [Lam] Pers.) untuk mengatasi pertumbuhan rambut.

D. Kerangka Pemikiran

Berbagai penelitian sebelumnya mengenai cocor bebek telah banyak

dilakukan, namun pengaruh cocor bebek terhadap pertumbuhan rambut belum di teliti sehingga perlu dilakukannya penelitian, karena daun cocor bebek mengandung senyawa alkaloid, fitoserol, fenol, flavonoid, asam askorbat, tanin, anthocyanin, glikosida, bufadienolides, saponin, isoflavonoid, steroid,

β-sitosterol, kalium oksalat, asam malat, oleana, zat besi, kumarin, sitosterols, quinines, karotenoid, tokoferol dan lektin ( Devbhulti, Gupta, Bose, 2008 ; Pal, Sen, Nag, 1999).

Mengingat bahwa senyawa isoflavon merupakan salah satu senyawa yang dapat menurunkan enzim 5-α reductase dan dari senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun cocor bebek terdapat sebagian besar senyawa yang dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut.

(21)

5

sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan rambut . Kandungan isoflavon, steroid memiliki aktivitas seperti estrogen dan dapat menurunkan kadar testoteron (Grant dan Sahmin, 2012). Sehingga cocor bebek layak untuk dibuktikan, karena kerontokan adalah masalah kontemporer bagi setiap orang dan obatnya banyak yg belum memuaskan terutama bahan alami yang aman.

E. Hipotesis

(22)

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Rambut

1. Definisi Rambut

Rambut merupakan keratin yang mengeras yang tumbuh hampir di seluruh permukaan kulit yangg kecepatan tumbuhnya berbeda beda pada setiap orang dan dibagian tubuh yang berlainan (Corwin, 2000). Menurut Tranggono dan Fatma (2007) rambut yang tumbuh di kepala dan tubuh kita jelas berbeda, sehingga terdapat beberapa jenis rambut:

a. Rambut yang panjang dan kasar di kepala.

b. Rambut yang kasar tetapi pendek berupa alis di mata.

c. Rambut yang agak kasar tapi tidak sepanjang rambut di kepala, yaitu pada ketiak dan sekeliling alat kelamin pada orang yang sudah balig. d. Rambut yang halus pada pipi, dahi, lengan, punggung, dan betis.

2. Anatomi Rambut

(23)

7

[image:23.595.154.431.143.363.2]

terdiri dari dua bagian yaitu batang rambut dan akar rambut, terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Anatomi Rambut (Mitsui, 1992).

a. Batang Rambut

Batang Rambut merupakan bagian rambut yang tertanam di dermis yang dan berada di atas permukaan kulit. Jika batang rambut

dipotong melintang maka akan terlihat tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu (Tranggono dan Latifah, 2007):

1. Kutikula rambut, terdiri dari keratin yang pipih dan saling bertumpuk seperti sisik ikan. Lapisan ini keras dan berfungsi melindungi rambut dari kekeringan.

2. Korteks rambut merupakan lapisan yang terdiri dari pigmen dan rongga rambut. Lapisan ini berada diantara kutikula dan medulla. 3. Medula rambut, terdiri dari tiga atau empat lapis sel berbentuk

(24)
[image:24.595.187.364.86.305.2]

8

Gambar 2. Struktur batang rambut ((Mitsui, 1992).

b. Akar Rambut

Akar rambut adalah bagian yang berada di bawah lapisan dermis hingga lapisan subkutan. Akar rambut dikelilingi oleh pembuluh darah dimana memberikan makanan. Akar rambut terdiri dari dua bagian, yaitu (Tranggono dan Latifah, 2007):

1. Umbi rambut merupakan bagian rambut yang akan terbawa jika rambut dicabut.

(25)

9

3. Siklus Rambut

[image:25.595.152.498.280.436.2]

Setiap helai rambut memiliki fase pertumbuhan yang berbeda terlihat pada Gambar 3. Lama fase pertumbuhan rambut juga bergantung pada usia dan tempat tumbuhnya rambut.Siklus ini terbagi menjadi tiga fase yaitu fase anagen (periode pertumbuhan), fase katagen ( periode terhentinya pertumbuhan), dan fase telogen (periode istirahat) (Mitsui, 1992).

Gambar 3. Siklus pertumbuhan rambut (Mitsui, 1992)

a. Fase Anagen

Merupakan Fase pertumbuhan aktif rambut, dimana papila dermal meluas dan membelah secara aktif sehingga rambut akan memanjang dan mencapai sub dermal. Fase anagen berlangsung antar 2 sampai 6 tahun dengan laju pertumbuhan antara 0,03 mm sampai 0,045 mm perhari (Mitsui, 1992).

b. Fase Katagen

(26)

10

rambut berkurang dan terhenti. Kemudian makrofag yang mengelilingi memakan bagian utama folikel, sehingga akar rambut menyusut kearah otak penegak rambut. Lama fase ini yaitu berkisar 2 sampai 3 minggu (Mitsui, 1992).

c. Fase Telogen

Faes telogen merupakan fase dimana papila dermal membentuk sepeti bola dan berada di dekat ujung folikel rambut. Selanjutnya mulai tumbuh rambut pengganti yang secara alami mendorong rambut yang lebih tua, sehingga disebut kerontokan rambut. Durasi fase ini berlangsung singkat atau lama tergantung dari kondisi kesehatan seseorang (Mitsui, 1992).

4. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Rambut

a. Faktor intrinsik

Faktor intrinsik meliputi sirkulasi darah ke folikel dan hormon, dimana rambut tidak akan tumbuh tanpa adanya suplai darah yang cukup untuk mengisi folikel rambut dengan metabolit yang diperlukan. Menurut (Rook and Dawber, 1991) hormon yang berperat dalam pertumbuhan rambut adalah hormon androgen, estrogen, dan tirosin.

Hormon estrogen memperpanjang durasi fase anagen, namun memperlambat pertumbuhan rambut ketika fase anagen. Hormon tirosin dapat mempercepat fase anagen dan kortison justru

(27)

11

Hormon androgen merupakan hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan rambut dan diameter rambut. Namun androgen juga dapat menurunkan pertumbuhan rambut pada penderita alopesia andogenik (Rook and Dawber, 1991).

Perubahan pada hormon testosetron menjadi 5α-dihidrotestosteron (DHT) pada folikel rambut bergantung pada keberadaan enzim5α -reduktase. Testosteron dapat menurunkan pertumbuhan rambut. Hal ini disebabkan karena meningkatnya hormon testosteron (Rook and Dawber, 1991).

b. Faktor Ekstrinsik

Faktor ini meliputi kondisi lingkungan , yaitu perubahan cuaca, paparan sinar UV, sinar-X, radioaktif, dan iritasi zat kimia, penutup atau penekan rambut. Sehingga jika terjadi terus-menerus akan menyebabkan kulit mengalami degenerasi kronik pada sel-sel epidermis yang menyebabkan kulit kepala menjadi kasar, terjadi depigmentasi, gangguan kretanisasi, dan kerontokan rambut (Ditjen POM, 1985).

(28)

12

1. Protein

Protein merupakan zat dasar pembangun rambut, karena rambut mengandung sekitar 98% protein, namun kelebihan protein juga dapat menyebabkan rambut tidak sehat.

2. Vitamin

Pertumbuhan rambut juga dipengaruhi oleh vitamin antara lain vitamin A, B kompleks, C, dan E.

 Vitamin A pada rambut berfungsi untuk menjaga kulit kepala

agar tetap sehat dan rambut menjadi lembut. Vitamin A di dalam tubuh berasal dari makanan dari hewan melalui retinol dan berasal dari tumbuhan melalui beta karoten .

 Vitamin B kompleks penting untuk mempertahankan sirkulasi

di dalam kulit kepala dan memproduksi melanin sehingga dapat mempertahankan warna rambut.

 Vitamin C berguna untuk kelenturan, kekuatan rambut, dan

menjaga rambut agar tidak rusak dan tidak bercabang.  Vitamin E diperlukan untuk menjaga kesehatan rambut dan

(29)

13

3. Mineral

Zat besi (Fe), yodium, tembaga (Cu), seng (Zn), selenium, dan silika merupakan mineral penting untuk menjaga kesehatan rambut.

 Yodium menjaga agar rambut tidak rusak.

 Seng penting untuk pembentukan protein di dalam rambut.

 Silikia dapat mempertahankan struktur rambut dan apabila

terjadi defisiensi akan menyebabkan kerontokan rambut.  Zat besi dan tembaga memudahkan darah dalam mengangkut

oksigen dan zat makanan ke seluruh jaringan termasuk rambut dan kulit kepala.

5. Abnormalitas pada Pertumbuhan Rambut

Kerontokan pada rambut merupakan salah satu masalah pada rambut. Kerontokan pada rambut sekitar 50-100 helai perhari dapat dikatakan normal. Namun jika kerontokan terjadi terus menerus dapat menyebabkan kebotakan atau alopesia. Menurut Martodiharjo (1991) terdapat 3 jenis alopesia diantaraya adalah sebagai berikut:

a. Alopesia areata

(30)

14

kepala. Alopesia totali merupakan gangguan perumbuhan rambut yang menyebabkan kebotakan pada seluruh kulih kepala. Alopesia universal merupakan kebotakan pada pertumbuhan rambut secara menyeluruh dengan tiba-tiba.

b. Alopesia androgenik (AGA)

Alopesia androgenik merupakan kebotakan yang disebabkan karena pemendekan fase anagen dan meningkatnya pergantian rambut ke fase telogen. Gejala ini terjadi pada umur tiga puluhan dengan kehilangan rambut secara terus menerus, terutama pada bagian korteks dan frontal. Folikel rambut membentuk rambut yang pendek, semakin halus dan berwarna pucat. Hal tersebut dapat disebabkan karena peningkatan usia, genetik, stres emosional, dan faktor hormonal.

Kerontokan rambut secara AGA disebabkan karena adanya enzim 5α -reductase yang mengubah testoseteron menjadi DHT

(dihydroxytestosteron). Enzim 5α-reductase terdiri dari dua tipe yaitu tipe I yang terdapat di new scalp, kulit, dan hati. Sedangkan tipe II terdapat di kulit kelamin, hati, dan prospat. DHT

(dihydroxytestosteron) terbentuk dari berikatannya enzim 5α-reductase dengan reseptor di folikel rambut sehingga menyebabkan kerontokan rambut dan pada akhirnya dapat terjadi kebotakan (Prager, 2002).

c. Effluvium Telogen

(31)

15

selama 2-4 bulan secara berangsur dan bersifat sementara dan tidak parah. Menurut Ernawati (1986); Embing (1972) faktor yang dapat menyebabkan effluvium telogen adalah demam tinggi, defisiensi vitamin dan protein, stres, trauma pasca operasi, pasca melahirkan, dan malaria.

6. Pengobatan Alopesia

Beberapa obat untuk alopesia tersedia dalam bentuk tropikal dan sebagian dapat dikonsumsi secara oral.

a. Minoxidil

Gambar 4. Rumus struktur minoxidil (Sumber: Galichet, 2007)

Minoxidil adalah derivat piperidinopirimidin yang merupakan

vasodilator untuk pengobatan hipertensi. Minoxidil digunakan secara tropikal untuk mengembalikan pertumbuhan rambut pada alopesia areta, alopesia androgenik, alopesia totalis, dan alopesia universal. Diduga dapat memperbaiki diameter dan proliferasi rambut,

(32)

16

pertumbuhan rambut dapat kembali normal. Dosis yang digunakan adalah 5% atau 2% setiap hari selama dua sampai empat bulan. Dimana jika penggunaannya dihentikan, maka rambut baru yang tumbuh akan gugur kembali. Selain itu efek samping dari minoxidil secara tropikal adalah alergi pada kulit, vertigo, edema, dan lemas (McEvoy, 1999).

b. Finasterid

Finasterid digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan rambut pada pria yang mengalami alopesia androgenetik. Penggunaannya dilakukan secara oral. Mekanisme kerjanya dengan menekan kerja

enzim 5α-reduktase tipe II yang mengubah testosteron menjadi bentuk aktifnya dihidrotestosteron (DHT). Produksi DHT yang berlebihan dapat menyebabkan kebotakan. Dosis oral yang digunakan adalah 1 mg/hari selama 3 bulan. Finasterid tidak boleh digunakan pada anak-anak, karena dapat menyebabkan keracunan dan pada wanita hamil dapat menyebabkan abnormalitas pada organ genital (McEvoy, 1999).

c. Ditranol

Ditranol adalah senyawa iritan yang telah diuji secara klinis untuk pengobatan AA. Ditranol merupakan senyawa antron yang memiliki efek terhadap psoriasis. Mekanisme kerja ditranol terhadap

(33)

17

d. Kortikosteroid

Merupakan obat imunosupresor dengan mekanisme kerja menghambat produksi interleukin 1, interleukin 2, interferon tipe gamma. Terdapat tiga jenis kortikosteroid untuk pengobatan AA yaitu kortikosteroid sistemik, tropikal, dan intra-lesional. Kortikosteroid sistemik akan mengembalikan pertumbuhhan rambut secara normal. Biasanya dalam penggunaannya digunakan kombinasi dengan kortikosteroid tropikal dan intra-lesional. Kortikosteroid tropikal yang digunakan adalah flusinolon dan halsinonid. Kortikosteroid intra-lesional telah terbukti lebih efektif meningkatkan pertumbuhan rambut pada penderita AA (Rook and Dawber, 1991).

B. Tanaman Cocor Bebek

1. Klaisifikasi Cocor Bebek

Klasifikasi ilmiah menurut Steenis (1997) yaitu : Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Rosales

Suku : Crassulaceae Marga : Kalanchoe

(34)

18

2. Penamaan Cocor Bebek

Indonesia merupakan negara yang luas dengan beragam bahasa dan budaya, sehingga di setiap daerah memiliki penamaan cocor bebek yang berbeda-beda. Adapun perbedaan nama daerah untuk tanaman cocor bebek yaitu: yaitu sosor bebek (Jawa Tengah), daun ancar bebek (Madura), mamala (Halmahera), buntiris (sunda), daun sejuk (Melayu), didingin banen (Aceh), rau kufri (Ternate), kabi-kabi (Tidore) (Efrizal, 2007). Menurut Efrizal (2007) Kalanchoe pinnata memiliki nama sinonim

Brophyllum pinnatum, Brophyllum calycinum, B.Germinans, Cotyledon calycina, C. Calculata, C.pinnata, Crassula pinnata,Crassuvia floripedia, Verea pinnata, Sedum madagascariense.

3. Morfologi Tanaman Cocok Bebek

Kalanchoe pinnata merupakan tanaman herba yang berasal dari

Madagaskar. Tanaman ini memiliki batang yang lunak dan beruas,daun tebal berdaging dan banyak mengandung air. Daunnya berwarna hijau, bunga majemuk, buah kotak, dan akar tunggang berwarna kuning keputih-putihan. Selain itu tanaman ini memiliki tinggi sekitar 1 meter (Bangun, 2012).

(35)

19

[image:35.595.152.353.142.340.2]

ujung daun tumpul. Bagian pinggir daunnya beringgit sesuai dengan Gambar 5.

Gambar 5. Cocor bebek (Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.) (Dokumentasi pribadi, 2017)

4. Penyebaran Tanaman Cocor Bebek

Cocor bebek banyak tumbuh di daerah tropis. Tumbuh liar di pinggir jalan, di pekarangan rumah, di kebun, di tanah berbatu, di daerah panas dan kering. Tanaman ini tersebar luas karena dijadikan tanaman hias (Bangun, 2012).

5. Kandungan Cocor Bebek

(36)

20

vitamin C, kaemferol-3-glucoside, quercitin-3-diarabinoside (Haryanto, 2009).

6. Manfaat Cocor Bebek

Menurut Afzal, Kazmi, Khan, Singh, Cauchan, Brisht (2012) Daun cocor bebek memiliki aktifitas sebagai analgesik, proteksi jantung,

anti-hipertensi, antimikroba, anti-inflamasi, anti-fungi, anti-diabetik,anti-oksidan, anti-asma. Secara tradisional tanaman ini digunakan untuk mengobati wasir, mengurangi pembengkakan, penurun demam, menghentikan perdarahan, antiradang (Suhono dan tim LIPI, 2010).

C. Kelinci (Oryctolagus cuniculus)

Klasifikasi ilmiah menurut (Lebas, Couder, Rouvier, DeRochambeau. 1986) :

Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Bangsa : Lagomorpha Suku : Leporidae Marga : Oryctolagus

(37)

21

Kelinci merupakan salah satu hewan yang sering digunakan dalam berbagai penelitian biologi dan medis, hal ini dikarenakan kelinci memiliki gen yang relatif mirip dengan manusia, dan mudah dipelihara di berbagai iklim ( Jack, 2015). Pada percobaan ini digunakan kelinci sebagai hewan percobaan,karena kelinci merupakan hewan mamalia yang memiliki pertumbuhan rambutnya yang tepat.

Kelinci yang saat ini banyak diternakkan, dahulu berasal dari kelinci liar yang telah mengalami proses domestikasi. Jenis kelinci ini sangat mudah

ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kelinci lokal merupakan kelinci untuk produksi daging komersial. Kelinci ini memiliki pertumbuhan yang cepat, karena itu cocok untuk diternakkan sebagai penghasil daging komersial dan kelinci percobaan di laboratorium (Sarwono, 2007).

Kelinci lokal (Oryctolagus cuniculus) seperti pada Gambar 6, memiliki tubuh yang di kelilingi oleh bulu yang lembut dan lebat, biasanya berwarna tubuh yang bervariasi mulai dari putih, hitam, abu-abu, dan kuning kecoklatan. Bobot badan kelinci ini dapat mencapai 4,5-5,5 kg. Ciri-ciri menonjol dari

Oryctolagus cuniculus terletak pada warnanya yang putih bersih, dengan mata

(38)

22

[image:38.595.134.335.140.325.2]

dan tumbuh di sekitar bagian hidung kelinci, yaitu pada bagian kanan dan kiri hidungnya. Kelinci memiliki ekor yang pendek 2-4 cm (Brown, 1978).

Gambar 6. Kelinci Oryctolagus cuniculus (Dokumentasi pribadi, 2017)

D. Pengertian Ekstraksi

Menurut Ditjen POM (2000) ekstrak adalah sediaan sediaan yang diperoleh dengan mengekstrak senyawa kimia dari simplisa nabati dan hewani

menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut disiapkan.

(39)

23

susunan kimia senyawa-senyawa di dalamnya karena pemanasan (Pertiwi, 2009).

(40)

24

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi FMIPA Universitas Lampung, Laboratorium Kimia Analitik dan Instrumental Jurusan Kimia FMIPA Universitas Lampung, dan Perumahan Palem Permai Gedong Meneng Bandar Lampung pada bulan Juli sampai Oktober 2017.

B. Alat dan Bahan

1. Alat Penelitian

a. Kandang kelinci digunakan sebagai tempat tinggal kelinci jantan. b. Wadah pakan dan minum kelinci digunakan untuk meletakkan pellet

dan minum kelinci.

c. Jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang rambut pada kelinci.

d. Neraca analitik digunakan untuk menimbang daun cocor bebek dan bahan lainnya.

e. Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume.

(41)

25

g. Beaker glass digunakan untuk maserasi ekstrak.

h. Corong pisah digunakan untuk menyaring ekstrak dan memindahkan filtrate.

i. Cawan petri digunakan untuk mencampurkan ekstrak dengan CMC. j. Wadah gel digunakan untuk meenyimpan ekstrak jadi.

k. Batang pengaduk untuk mengaduk gel. l. Spatula digunakan untuk mengaduk ekstrak.

m. Rotary evaporator digunakan untuk menguapkan pelarut.

n. Mesin penggiling digunakan untuk menggiling daun cocor bebek. o. Sarung tangan dan masker digunakan saat penelitian agar steril. p. Pisau cukur digunakan untuk mencukur rambut.

q. Tisu dan kapas digunakan untuk membersihkan daerah pengolesan pada kelinci.

r. Almunium foil digunakan untuk menutup beaker glass dan erlenmayer. s. Kertas saring

t. Karton digunakan untuk menempelkan bulu kelinci saat pengukuran. u. Spidol digunakan untuk memberi tanda ppada punggung kelinci. v. Kamera untuk dokumentasi.

2. Bahan Penelitian

a. Daun cocor bebek digunakan sebagai bahan ekstrak diambil dari desa.Banjar Rejo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur. b. Kelinci jantan umur 4-5 bulan dengan berat 1,5 - 2 kg dibeli dari

(42)

26

c. Minoxidil 2% yang digunakan merupakan produk dari Regrou Forte, for men (PT. Surya Dermato Medica Laboratories, Surabaya,

Indonesia.

d. CMC (Carboxy Methyl Cellulose) dibeli dari apotik enggal, Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung.

e. Alkohol 96% digunakan sebagai pelarut pada proses maserasi. f. Air sumur digunakan sebagai minum kelinci jantan.

g. Aquades digunakan untuk mencuci daun cocor bebek.

h. Kloroform digunakan untuk membius kelinci saat mencukur rambut. i. Bandotan, kangkung, sawi, wortel digunakan sebagai pakan kelinci

jantan.

C. Rancangan Penelitian

(43)

27

Kelinci 1 Kelinci 2

[image:43.595.158.494.80.709.2]

Kelinci 3 Kelinci 4

Gambar 7. Daerah pengolesan ekstrak cocor bebek (K.pinnata [Lam]Pers.) pada punggung kelinci jantan.

(44)

28

Keterangan:

K = Kontrol normal, bagian rambut punggung kelinci yang sudah dicukur diolesi dengan aquades.

K(+) = Kontrol positif, perlakuan yang diolesi dengan minoxidil 2%. P 1 = Perlakuan 1, bagian rambut punggung kelinci yang sudah

dicukur diolesi dengan ekstrak daun cocor bebek (K. pinnata [Lam.] Pers.) dengan konsetrasi 25%.

P 2 = Perlakuan 2, bagian rambut punggung kelinci yang sudah dicukur diolesi dengan ekstrak daun cocor bebek (K. pinnata [Lam.] Pers.) dengan konsetrasi 50%.

P 3 = Perlakuan 3, bagian rambut punggung kelinci yang sudah dicukur diolesi dengan ekstrak daun cocor bebek (K. pinnata [Lam.] Pers.) dengan konsetrasi 75%.

P 4 = Perlakuan 4, bagian rambut punggung kelinci yang sudah dicukur diolesi dengan ekstrak daun cocor bebek (K. pinnata [Lam.] Pers.) dengan konsetrasi 100%.

Jumlah kelinci jantan yang dibutuhkan dalam penelitian ini ditentukan

menggunakan rumus empiris Federer: (n-1) (t-1)≥ 15, dimana t menunjukkan

(45)

29

D. Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Hewan Uji

Penelitian ini menggunakan 4 ekor kelinci jantan sehat berusia 4-5 bulan dengan berat berkisar antara 1,5-2 kg. Hewan uji didapatkan dari

peternakan kelinci di desa Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Sebelum dilakukan perlakuan, kelinci diaklimatisasi terlebih dahulu selama 7 hari di dalam kandang ukuran 100 cm x 150 cm di tempat berlangsungnya penelitian, yaitu Perumahan Palem Permai Gedong Meneng, Bandar Lampung. Pada satu kandang tersebut terdapat 2 kelinci jantan. Selama aklimatisasi kelinci diberi pakan berupa sayuran, pur, dan rumput-rumputan, serta minum..

2. Pembuatan Ekstrak Cocor Bebek

Daun cocor bebek ( Kalanchoe pinnata [Lam] Pers.) didapatkan dari desa Banjar Rejo, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur. Daun cocor bebek yang digunakan adalah 800 gram.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maserasi basah. Dimana daun yang diperoleh dicuci bersih menggunakan air, mengalir agar bersih dari kotoran yang terdapat pada daun. Kemudian dicuci kembali menggunakan aquades. Selanjutnya daun dikering

(46)

30

kemudian dilanjutkan tahap evaporasi menggunakan rotary evaporator dengan suhu 50oC hingga didapatkan ekstrak kental. Selanjutnya untuk mengetahui massa (mg) dalam 1 ml ekstrak cocor bebek, ekstrak dijemur di bawah cahaya matahari dengan wadah cawan peteri dan ditutup dengan kain hitam agar terhindar dari kotoran, hingga diproleh ekstrak dalam bentuk pasta. Ekstrak tersebut dicampurkan dengan aquades, dan 2 gr CMC setiap konsentrasi hingga homogen.

3. Pencukuran Rambut Kelinci Jantan

Rambut pada bagian punggung kelinci dicukur bersih menggunakan pisau cukur. Kemudian punggung kelinci yang sudah dicukur, diberi tanda dengan membuat kotak dengan ukuran (2cm x 2cm) menggunakan sepidol. Pada satu kelinci jantan dibuat 6 kotak dengan jarak masing masing kotak 2cm.

4. Pemberian Perlakuan

(47)

31

ekstrak cocor bebek, 12,5 ml aquadest, dan 2 gram CMC. Pada bagian P4 diolesi 0,1 gram ekstrak dengan konsentrasi 100% yang telah dicampurkan dengan 50 ml ekstrak cocor bebek dan 2 gram CMC.

E. Parameter Penelitian

Parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu: 1. Rerata panjang rambut kelinci

Pengukuran dilakukan dengan mengambil 10 helai rambut kelinci dari setiap perlakuan pada hari ke-7, 14, dan 21. Kemudian diukur

menggunakan jangka sorong. 2. Rerata masa rambut kelinci

Pengukuran massa rambut kelinci dilakukan dengan mencukur rambut setiap kotak perlakuan pada hari ke-21. Kemudian ditimbang

menggunakan neraca analitik.

F. Analisis Data

(48)

32

G. Diagram Alir

[image:48.595.133.502.184.606.2]

Untuk lebih memudahkan dalam pelaksanaan penelitian maka dibuat alur penelitian yang ditunjukkan pada Gambar 8.

Gambar 8. Diagram alir penelitian

4 ekor kelinci diaklimatisasi selama 7 hari dan diberi pakan dan minum

Proses ekstraksi daun cocor bebek hingga berbentuk gel

K(0) K(+) P1 P2 P3 P4

Pengamatan panjang sampel 10 bulu pada hari 7, 14 dan ke-21, serta pencukuran dan penimbangan massa bulu setelah 21 hari

perlakuan

Analisis Data

Pencukuran bagian punggung kelinci 2cm x 2cm setiap kotak sebanyak 6 kotak

(49)

V. KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Ekstrak etanol daun cocor bebek memiliki pengaruh terhadap

pertumbuhan panjang rambut dan massa rambut, dimana peningkatan aktivitas pertumbuhan rambut terjadi seiring dengan meningkatnya konsentrasi pada ekstrak.

2. Ekstrak cocor bebek dengan konsentrasi 100% memiliki aktivitas terhadap pertumbuhan rambut lebih besar dibandingkan dengan K(+) minoxidil.

B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan konsentrasi yang berbeda agar dapat dibandingkan hasilnya.

(50)

45

DAFTAR PUSTAKA

Afzal, M., Kazmi, I., Khan, R., Singh, R., Chauchan, M., Brisht, T. 2012. Brophyllum pinnatum : A Review, Internasional Journal of Research in

Biological Sciences, 2 (4): 143-149.

Atun, S. 2009. Potensi Senyawa Isoflavon Dan Derivatnya Dari Kedelai (Glycine Max. L) Serta Manfaatnya Untuk Kesehatan. Prosiding Seminar Nasional

Penelitian (Hlm. 33-41). 16 Mei 2009. UNY. Yogyakarta

Bangun, A. 2012. Ensiklopedia Tanaman Obat Indonesia. Indonesia Publishing House. Bandung. Hlm 394-395.

Bhaskar, A., Nithya, V., Vidhya, V. 2011. Phytochemical screening and in vitro antioxidant activities of the ethanolic extract of Hibiscus rosa sinensis L.

Annals of Biological Res, 2(5): 653-661.

Brown, M. 1978. Exhibition and Pet Rabbits. Spur Publications, London.

Candra, F. 2013. Pengaruh Lama Pengeringan Terhadap Mutu Teh Herbal Dari Daun Sukun (Artocarpus altilis) yang dihasilkan. (Skripsi) Universitas Andalas. Teknologi Pertanian. Sumatera Barat.

Corwin, E.J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. (Skripsi). EEG. Jakarta.

Dalimartha dan Seodibyo. 1998. Perawatan Rambut Dengan Tumbuhan Obat dan Diet Suplemen (Skripsi). PT Penebar Swadaya. Bogor.

Devbhuti, D., Gupta, J.K., and Bose, A. 2008. Phytochemical and acute toxicity study on Bryophyllum calycinum SALISB. Acta Poloniae

(51)

46

Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 34-35.

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama.(Skripsi). Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Hlm 3-5, 10-11.

Efrizal. 2007. Isolasi dan Penentuan Struktur Senyawa Penghambat Enzim α -Glukosidase dari Daun Kalanchoe pinnata Pers. Secara In Vitro dan In

Vivo.(Tesis). Universitas Indonesia. Depok.

Embing, F.J.G. 1972.Textbook of Dermatology Second Ed. Black well Scientific

Publication, vol.2: 16-19

Ernawati, K. 1986. Kelainan pada rambut. Simposium Kesehatan Kulit dan

Kelamin; 17-20. Yogyakarta

Galichet, L. C. 2004.Clarke’s Analysis of Drugs andPoisons. Pharmaceutical

Press. London.

Gembong, T. 2000. Taksonomi Tumbuhan. UGM Press.Yogyakarta.

Glover, A., and Assinder, S.J. 2006. Acute exposure of adult male rats to dietary phytoestrogen reduces fecundity and alters epididymal steroid hormon receptor expression (Journal). Jour. Endoc. 189: 565-573.

Grant, P., Shamin, R. 2012. An Update on Plant Derived Anti-Androgens,

International jurnal of Endocrinology Metabolism, 10(2):497-502.

Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit I. Hipokrates. Jakarta.

Harrison, S., Bergfeld, W. 2009. Diffuse Hair Loss: Its Triggers and Management.

Ceveland Clinic Journal of Medicine, 76(6):361-367.

(52)

47

Jack, C. 2015. Kelinci. https://id.wikipedia.org/wiki/Kelinci. Diakses pada tanggal 22 Juni 2017 pukul 19.58 WIB.

Jain, R., Neetesh, K.J., Namrata, S., Gnanachandran, A.K., Gokulan, P.D. 2011. Development and Evaluation Of Polyherbal Ointment For Hair Growth Activity. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical, 3 (2): 180-182.

Khandare, A.D., Raygude, K.S., Bodhankar, S. 2012. Effect of hydroalcoholic extract of Hibiscus rosa sinensis Linn. leaves in experimental colitis in rats. Asian Pac J Trop Biomed, 2(5): 337-344.

Koswara S. 2006. Isoflavon, senyawa multi manfaat dalam kedelai.

http://www.ebookpangan.com/artikel/isoflavon,zatmultiman faatdalamkedelai. Diakses pada 30 September, pukul 21:07 WIB.

Lebas, F., P. Couder, R. Rouvier, & H. DeRochambeau. 1986. The Rabbit

Husban- dry, Health and Production. Food and Agri- culture Organisation

of the United Nations. Rome.

Lund, T.D., Munson, D.J., Haldy, M.E., Setchell, K.D.R., Lephart, E.D., Handa, R.J. 2004. Equol is a novel anti-androgen that inhibits prostate growth and hormone feedback. Biol Reprod, 70:1188-1195.

Marchaban, J. C., Soegiharto, dan F.E. Kumarawati. 2007. Uji Aktifitas Daun Randu (Ceiba pentandra Gaertn.) Sebagai Penumbuh Rambut. UGM. Yogyakarta

Martodiharjo, S.1991. Pengobatan kerontokan rambut. Majalah Ilmu penyakit

kulit dan kelamin. (Skripsi).11-25

McEvoy, G.K. 1999. AHFS Drug Information 1999. American Society of Health-System Pharmacits. Bethesda.

Messenger, A., dan Rundegren, J. 2004. Minoxidil Mechanisms Of Action On Hair Growth. British Journal of Dermatology. 186-194.

(53)

48

Naim, M. 1973. A new isoflavone from soybeans. Phytochemistry.Jakarta. 12 : 169-171.

Ohnemus, U., Uenalan M. 2006. The Hair Follicle as an Estrogen Target and Source. The Endrocrine Sociaty. 27(6):677-706.

Okwu, D.E., and Nnamdi, F.U. 2012. Two novel flavonoids from Bryophyllum pinnatum and their antimicrobial Activity. Pharmceutical Chemistry

Journal. 3(2):1-10.

Pal, S., Sen, T., and Nag Chaudhari, A.K. 1999. Neuro psycho pharmacological profile of the methanolic fraction of Bryophyllum Pinnatum leaf extract.

Journal of Pharmacy and Pharmacology; 51:313-318.

Parmadi, A dan F. Ubaidillah. 2016. Uji Efek Tonikum Variasi Dosis Ekstrak Etanol Buah Pare (Momordica charantia L.) Pada Mencit Jantan (Mus

musculus L.). Jurnal Kesehatan Samodra Ilmu, 7(1): 4

Pertiwi, I. 2009.“Uji Antibakteri Ekstrak Kasar Daun Acalypha indica terhadap

Bakteri Salmonella choleraesuis dan Salmonella typhimurium”. (Skripsi)

Jurusan Biologi FMIPA UNS. Surakarta.

Prastisto, A. 2009. Statistik Menjadi Mudah dengan SPSS 17. Pt. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Prager, N., Bickett, K., Frensh, N., and Marcovici, G. 2002. A randomized Double-Blind, Placebo-Controlled Trial To Determine The Effectiveness of Boanically Derived Inhibitor of 5-Alpha-Redustase In The Treatment of Androgenetic Alopecia. J Alt Compl Med. 8: 143-152.

Robinson, T. 1995, Kandungan Organik Tumbuhan tinggi. ITB Press. Bandung.

Rook, A dan R. Dawber. 1991. Disease of The Hair and Scalp (2nded) (Skripsi). Blackwell Scientific Pub. London.

(54)

49

Semwal, S.M., Agrawal, K.K., Singh, K., Tandon, S., dan Sharma, S. 2011. Alopecia: Beralih ke Pengobatan Herbal. Jurnal Penelitian Farmasi Dan

Opini, 1 (4): 101-104.

Suhono, B. dan tim LIPI. 2010. Ensiklopedia Flora.(Skripsi). PT Kharisma Ilmu. Bogor. Hal. 123-115.

Steenis,V. 1997. Flora. Cetakan ke-2. Jakarta. Pradnya Paramita.

Figure

Gambar 1.Gambar 1. Anatomi Rambut (Mitsui, 1992).
Gambar 2. Struktur batang rambut ((Mitsui, 1992).
Gambar 3. Siklus pertumbuhan rambut (Mitsui, 1992)
Gambar 5.
+4

References

Related documents

Further, although the participants in our study had low- to-moderate levels of childhood adversity, our results are in line with several previous studies focusing on adults with

In a recent experiment, the dielectric function tensor components of single crystal monoclinic β-Ga 2 O 3 were measured by generalized ellipsometry in the long wave- length

Students need to engage in learning opportunities where they discuss, revise, and defend their mathematical understanding (Millard, Oaks, & Sanders, 2002; Baxter, Woodward,

According to Jones Lang LaSalle’s 2011 Cross Border Retail report, London ranks number one in Europe, boasting the largest number of international brands when compared to 55

Perbezaan min tersebut menunjukkan bahawa kumpulan guru yang berpengalaman mengajar antara 10 hingga 20 tahun mempunyai pengurusan bilik darjah yang lebih tinggi

A partner who is liable for the payment of partnership debts to the extent of his separate property after the partnership assets are exhausted is calledc. Silent

Survey of Staff and Organization of Private Secondary School Survey of Staff and Organization of Private Secondary School Libraries in Ondo West Local Government Area of Ondo State

As problem-focused strategies address the stressor directly, and are related to psychological and physical health outcomes (29, 30), it is expected that proactive behavior