POLA KEPEKAAN ISOLAT BAKTERI Salmonella typhi PADA PENDERITA DEMAM TIFOID TERHADAP ANTIBIOTIK DI RSUD ABDOEL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
(Skripsi)
Oleh: JEFRI SANDIKA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
SENSITIVITY PATTERN OF ISOLATE BACTERIA Salmonella thypi TO SEVERAL ANTIBIOTICS AT ABDOEL MOELOEK HOSPITAL
BANDARLAMPUNG
By
Jefri Sandika
Background. Typhoid fever is an enteric fever caused by especially Salmonella typhi.
Various antibiotics used for therapy beside chloramphenicol as drug of choice. Non rational use of antibiotics may result increasing of resistence in bacteria. The aim of the research is to know the sensitivity of Salmonella typhi to some antibiotics. The purpose is to gather information about antibiotics which are still effective for typhoid fever and enteric therapy.
Methods. This research is an observational with cross sectional design research that used Salmonella typhi strain from positive cultures diagnose typhoid fever patients at RSUD Abdoel Moeloek Bandarlampung. The method of resistance is Kirby Bauer's disk diffusion assay with NCCLS standard. The disk antibiotics used are amoxicillin, chloramphenicol, ciprofloxacin, and cotrimoxazole.
Results. Results showed that the antibiotic chloramphenicol Is the most sensitive with percentage of 91.63%. With amoxicillin followed by 83.33%. Which raises the antibiotic co-trimoxazole resistance is 66.64%. That lie ciprofloxacin antibiotic sensitivity pattern intermediates that has 33.32%.
Conclusion. The conclusion of this research is there is the most sensitive antibiotic chloramphenicol and is still followed by amoxicillin. Antibiotics that cause resistance is cotrimoxazole. Other antibiotics are ciprofloxacin had intermediate sensitivity patterns.
ABSTRAK
POLA KEPEKAAN ISOLAT BAKTERI Salmonella thypiPADA PENDERITA DEMAM TIFOIDTERHADAP ANTIBIOTIK DI RSUD DR. H ABDOEL
MOELOEK BANDARLAMPUNG
Oleh
Jefri Sandika
Latar Belakang. Demam tifoid adalah penyakit demam enterik yang disebabkan terutama
Salmonella typhi. Selain menggunakan kloramfenikol sebagai drug of choice , banyak pula antibiotik lain yang digunakan untuk penyembuhannya. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan peningkatan resistensi bakteri. Penelitian ini bermaksud mengetahui sensitivitas Salmonella typhi terhadap beberapa antibiotik pilihan yang banyak digunakan di Indonesia dengan tujuan memberi informasi pola resistensi guna terapi empiris.
Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain
cross sectional menggunakan bakteri Salmonella typhi dan didapat dari darah penderita demam tifoid di RSUD Abdoel Moeloek, dan dilakukan uji resistensi dengan metode difusi cakram menurut Kirby Bauer dengan standar NCCLS. Antibiotik uji terdiri dari amoksisilin, kloramfenikol, siprofloksasin, dan kotrimoksazol.
Hasil Penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kloramfenikol adalah antibiotik yang paling sensitif dengan persentasi 91,63%. Disusul dengan amoksisilin 83,33%. Antibiotik yang menimbulkan resistensi adalah kotrimoksazol 66,64%. Antibiotik lain yaitu siprofloksasin memiliki pola sensitivitas intermediet yaitu 33,32 %.
Simpulan Penelitian. Antibiotik yang paling sensitif adalah kloramfenikol dan disusul oleh amoksisilin. Antibiotik yang menimbulkan resistensi adalah kotrimoksazol. Antibiotik lain yaitu siprofloksasin memiliki pola sensitivitas intermediet.
POLA KEPEKAAN ISOLAT BAKTERI Salmonella thypi TERHADAP BEBERAPA ANTIBIOTIK DI RSUD DR. H ABDOEL MOELOEK BANDAR
LAMPUNG
Oleh
JEFRI SANDIKA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Program Studi Pendidikan Dokter
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Menggala, pada tanggal 06 Januari 1995, anak ketiga dari tiga
bersaudara, dari Bapak Sapuan Syahpirin dan Ibu Darwati. Penulis memiliki kakak laki-laki, yaitu Chandra Pika, dan kakak perempuan, yaitu Sherly Diana.
Penulis menempuh pendidikan Taman Kanak-kanak(TK) di TK Al-Hidayah Menggala dan selesai tahun 2000. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 01 Gunung Sakti dan selesai pada tahun 2007. Selanjutnya penulis melanjutkan
pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 01 Menggala dan selesai pada tahun 2010. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA
Negeri 02 Tulang Bawang dan selesai pada tahun 2013.
Pada tahun 2013, penulis mengikuti jalur undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN) dan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Persembahan
Terima Kasih atas perjuangan, doa yang tak
ada hentinya, semangat, dan kasih sayang
yang begitu luar biasa
Kupersembahkan karya ini terutama untuk:
Keluargaku Tercinta
ii
SANWACANA
Puji dan syukur saya haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat karunia-Nya dan bimbimngan-Nya lah skripsi ini dapat dikerjakan dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Skripsi ini berjudul “Pola Kepekaan Isolat Bakteri Salmonella Typhi Pada Penderita
Demam Tifoid Terhadap Antibiotik Di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M. P., selaku Rektor Universitas
Lampung;
2. Dr. dr. Muhartono, S.Ked, M.Kes, Sp. PA, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung;
3. Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara, S.Ked, M.Kes., Sp.MK, selaku Pembimbing Utama atas kesediaanya untuk meluangkan waktu,
iii 4. dr. Ety Apriliana, S.Ked, M.Biomed, selaku pembimbing kedua yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan kritik, saran dan nasihat dalam
proses penyelesaian skripsi ini;
5. dr. Tri Umiana Soleha, S.Ked, M.Kes, selaku Pembahas pada dalam skripsi ini yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan kritik,
saran dan nasihat dalam proses penyelesaian skripsi ini;
6. Papi tercinta, Bapak Sapuan Syahpirin, terima kasih atas doa, kasih
sayang, nasihat, dukungan, dan bimbingan yang terus menerus diberikan untukku.Semoga Tuhan selalu melindungi, memberikan kesehatan dan umur yang panjang, serta rezeki yang cukup;
7. Mami tersayang, Ibu Darwati, terimakasih untuk selalu mendoakan segala yang terbaik untukku, berjuang dan memberikan semangat, nasihat,
perhatian, dan kasih sayang yang tiada hentinya serta harapan agar kelak anaknya menjadi orang yang berhasil dan menjadi dokter yang berguna
bagi semua orang;
8. Kakak saya, Uda Chandra Pika dan Yunda Sherly Diana, terima kasih atas doa, dukungan, semangat, dan kasih sayangnya;
9. Mbak Romi (laboran mikrobiologi FK Unila), yang telah membantu dan mendukung saya dalam melakukan penelitian ini;
10.Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk mencapai cita-cita;
iv 12.Tim penelitian saya Ega, Dessy, Tobel, Zulfa, terima kasih atas kerjasama
dan bantuannya dalam melakukan penelitian ini;
13.Terima kasih kepada sahabat dan saudara saya Azzaky dan Ani;
14.Sahabat yang selalu membuat semangat (Benny BPP, Anam, Gilang, Arif Satria, Restu, Nando, Benyog, Fedelis, Billy); para pejuang Asdos
Fisiologi 2015-2016 (Aulian, Ega, Novy, Astri, Ayu, Hanum, Nurul), teman-teman dari BEM FK Unila, dan Teman-teman sejawat, FK Unila
2013 yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Akan tetapi, sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin
Bandar Lampung, Januari 2017
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 6
1.3.Tujuan Penelitian ... 6
1.4.Manfaat Penelitian ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1.Penyakit Demam Tifoid ... 8
2.2.Karakteristik Salmonella typhi sebagai Penyebab Demam Tifoid .... ……….. 9
2.3.Patogenensis Demam Tifoid ... ... 10
2.4.Antibiotik ... 12
2.4.1. Klasifikasi... 12
2.4.2. Penggunaan Antibiotik ... . 15
2.4.3. Antibiotik yang digunakan di RSUD Abdoel moeloek ... 16
2.5.Resistensi Mikroba Terhadap Obat Antimikroba ... 19
2.6.Kerangka Teori ... 24
2.7.Kerangka Konsep ... 25
III. METODE PENELITIAN ... 26
3.1.Desain Penelitian ... 26
3.2.Waktu dan Tempat Penelitian ... 26
3.3.Subjek Penelitian ... 26
3.3.1. Populasi dan Sampel Penelitian ... 26
3.3.2. Perkiraan besar sampel ... 27
3.3.3. Teknik Sampling ... 28
3.4.Alat dan Bahan ... 28
3.5. Prosedur Penelitian ... 29
3.5.1. Prosedur Pembenihan ... 29
3.5.2. Pengambilan Spesimen Darah dan Feses ... 29
3.5.3. Identifikasi Mikroorganisme Penyebab Demam Tifoid ... 30
3.6. Alur Penelitian ... 34
3.7. Definisi Operasional ... 36
3.8. Etik Penelitian ... 36
iii
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1.Hasil Penelitian. ... 38
4.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian ... 38
4.1.2. Hasil Isolasi dan Pewarnaan Gram ... 39
4.1.3. Hasil Uji Biokimiawi Bakteri Uji ... 39
4.1.4. Uji Sensitivitas Antibiotik ……... 40
4.2.Pembahasan... 41
V. SIMPULAN DAN SARAN ... …………. 45
5.1.Simpulan... .... 45
5.2.Saran... .... 45
iv
DAFTAR TABEL
Tabel ... Halaman
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Mikroskopis Salmonella typhi... 10
2. Kerangka Teori... 24
3. Kerangka Konsep... 25
4. Alur Penelitian... 34
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain disebabkan oleh virus, bakteri juga tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan penyakit
infeksi (Mulholland, 2005). Penyakit infeksi bakteri yang sering menyebabkan penyakit pada manusia adalah penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Salmonella typhi seperti penyakit demam tifoid, enterokolitis dan dapat terjadi bekteremia dengan lesi fokal (Jawetz et
al., 2008).
Penyakit demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik dan salah
satu dari foodborne disease yang banyak ditemukan di semua negara (WHO, 2003). Demam tifoid juga dikenali sebagai Typhus abdominalis,
Typhoid fever dan Enteric Fever (Herawati, 2007). Di Indonesia,
penyakit infeksi ini tergolong penyakit endemik yang didapat sepanjang tahun (Rohman, 2010). Tercatat angka insidensi mencapai
2
600.000 dan 1,5 juta kasus per tahun dengan angka kematian kasus sebesar 1,6-3% (Parry et al., 2009; Ochiai et al., 2008). Bandar
Lampung merupakan salah satu daerah endemis demam tifoid walaupun dalam Riskesdas tahun 2007 bukan termasuk kota dengan prevalensi demam tifoid tertinggi (Riskesdas, 2007).
Angka kesakitan demam tifoid yang tertinggi terdapat pada golongan umur 3-19 tahun, suatu golongan masyarakat yang terdiri dari
anak-anak usia sekolah. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi prestasi belajar, karena apabila seorang anak menderita penyakit tersebut akan kehilangan kurang lebih 2-4 minggu. Sebagian besar
pasien demam tifoid dapat diobati di rumah dengan tirah baring, pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi, pemberian antibiotik, antipiretik
dan steroid. Sedangkan untuk kasus berat harus di rawat di rumah sakit agar pemenuhan cairan, elektrolit serta nutrisi disamping obsevasi kemungkinan timbul penyulit dapat dilakukan dengan seksama (Indra,
2010).
Pada kasus demam tifoid terapi yang biasanya di berikan berupa antibiotik. Idealnya antibiotik yang dipakai sebagai pengobatan
demam tifoid harus memiliki sifat yaitu, dapat ditoleransi oleh pasien, dapat mencapai kadar tinggi pada usus, dan memiliki spektrum yang terbatas untuk beberapa mikrobakeri (Kurnia, 2012).
3
Antibiotik yang saat ini yang masih banyak digunakan dalam
pengobatan demam tifoid adalah kloramfenikol, amoksisilin,
siprofloksasin, dan kotrimoksazol (Marhamah, 2009).
Kloramfenikol masih merupakan pilihan utama untuk pengobatan demam tifoid karena efektif, murah, mudah didapat, dan dapat
diberikan secara oral. Selain itu kandungan kloramfenikol dapat menghambat sintesis protein kuman pada enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman (Rampengan, 2013). Selain
kloramfenikol obat amoksisilin, siprofloksasin, dan kotrimoksazol sangat dianjurkan untuk demam tifoid karena relatif murah, lebih
toleran dan lebih cepat menimbulkan efek yang baik pada pasien demam tifoid (Marhamah, 2009).
Karena sifat kerja amoksisilin adalah mencegah pembentukan membran sel bakteri sehingga semua materi genetik yang ada di
dalamnya terurai keluar dan menyebabkan bakteri mati (Ika, 2013), Siprofloksasin juga dapat bekerja sinergis dengan β-laktam seperti
4
Penggunaan antibiotika secara benar dan rasional memang harus diberikan. Rasional di sini maksudnya adalah harus sesuai dengan
indikasi penyakitnya, sesuai dosisnya, sesuai cara pemberiannya dan tetap memperhatikan efek sampingnya. Sehingga diharapkan masyarakat menjadi rasional dan tidak berlebihan dalam menggunakan
antibiotika sesuai dengan badan kesehatan dunia (WHO) (Anonim, 2009).
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional menyebabkan peningkatan bakteri yang resisten terhadap antibiotik seperti kloramfenikol,
amoksisilin, siprofloksasin, dan kotrimoksazol.Resistensi pada bakteri Salmonella typhi untuk kloramfenikol dilaporkan pertama kali terjadi di
Inggris tahun 1950 dan di India tahun 1972 (Chowta dan Chowta, 2005).
Resistensi tersebut ternyata diikuti oleh antibiotik yang lain, Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin dilaporkan pertama kali di
Meksiko tahun 1973. Pada perkembangan selanjutnya, beberapa negara melaporkan adanya strain Salmonella typhi yang telah resisten terhadap
dua atau lebih golongan antibiotik yang lazim digunakan yaitu ampisilin, kloramfenikol, dan kotrimoksazol dinamai strain multi drug resistance (MDR) Salmonella typhi. Thailand (1984) merupakan negara
5
India tahun 2001 pada pasien demam tifoid, ditemukan adanya resistensi Salmonella typhi pada amoksisilin, kloramfenikol, ampisilin
dan kotrimoksazol (Chowta dan Chowta, 2005).
Penelitian RS. Immanuel Bandung tahun 2004-2007 menunjukkan
golongan penisilin yaitu amoksisilin-asam klavulanat memberikan
sensitivitas yang masih tinggi 99,36-99,68%, tapi ditemukan tiga
golongan sampel (0,32-0,64%) yang resisten. Kloramfenikol yang
selama ini masih dipertahankan sebagai drug of choice masih sensitif
99,05%, walaupun ternyata ada tiga sampel (0,95%) resisten. Golongan
kuinolon yang digunakan sebagai antibiotik uji yaitu siprofloksasin
menunjukkan sensitivitas 95,89% dan ditemukan 13 sampel (4,11%)
yang resisten. Golongan sefalosporin dipilih seftriakson sebagai
antibiotic uji memperlihatkan sensitivitas 98,11% dan resisten 1,89%.
Golongan sulfa yang masih sering digunakan sebagai pilihan terapi
demam tifoid,trimetoprim dan gabungan trimetoprim dengan
sulfametoksazol memberikan sensitivitas yang paling rendah
dibandingkan dengan antibiotic lainnya yaitu 93,05 dan 92,11%, serta
22–25 sampel (6,95–7,89%) resisten (Yanti mulya, 2010).
Seberapa jauh peningkatan resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik yang sering digunakan di Indonesia perlu menjadi perhatian para klinisi untuk mencegah peningkatan resistensi bakteri dan pelaksanaan
6
Berdasarkan pembahasan diatas maka perlu untuk dilakukan penelitian terhadap pola sensitivitas bakteri salmonella typhi. penyebab demam
tifoid terhadap beberapa antibiotik yaitu, kloramfenikol, amoksisilin,
siprofloksasin, dan kotrimoksazol. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui sensitivitas Salmonella typhi terhadap beberapa
antibiotik yang digunakan di RSUD Abdoel Moeloek.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan pada pernyataan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut;
1. Bagaimana pola kepekaan bakteri Salmonella thypi pada penderita demam tifoid terhadap antibiotik di RSUD Abdoel Moeloek?
1.3Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
7
1.4Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan bisa didapatkan melalui penelitian ini adalah;
a. Bagi peneliti
1. Peneliti dapat mengetahui sensitivitas kuman terhadap
kloramfenikol, amoksisilin, siprofloksasin, dan kotrimoksazol pada
demam tifoid di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung.
2. Dapat mengetahui antibiotik mana yang lebih efektif pada penyakit
demam tifoid. b. Bagi instansi terkait
1. Memberikan informasi terkait pola kuman berdasarkan spesimen dan
sensitivitas kuman terhadap kloramfenikol, amoksisilin,
siprofloksasin, dan kotrimoksazol pada penderita demam tifoid
Abdoel Moeloek Bandar Lampung.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan masukan untuk
pengendalian dan pencegahan resistensi mikroorganisme dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan pola kuman yang ditemukan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyakit Demam Tifoid
Demam tifoid merupakan suatu infeksi tropis yang masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara – negara berkembang. Di Indonesia demam
tifoid dapat ditemukan setiap tahunnya. Data WHO memperkirakan demam tifoid menyerang 17 juta manusia dan menyebabkan 600 ribu kematian per
tahun (Geneva, 2008). Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2010 demam tifoid atau paratifoid menempati urutan ke- 3 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit tahun 2010 yaitu sebanyak 41.081 kasus,
dengan data kematian 274 orang dengan case fatality rate sebesar 0,67 (Depkes, 2010).
Penularan demam tifoid dapat melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi dari kotoran atau tinja penderita demam tifoid. Penyebaran bakteri ini dapat melalui tangan penderita, lalat dan serangga lain (Musnelina, 2004; Darmawati dan Haribi, 2005; Maarisit, 2014).Penyakit ini menunjukkan gejala
9
cerna, lemah, sakit kepala, nafsu makan berkurang serta gejala lainnya (Wardhani, 2005; Darmawati dan Haribi, 2005; Amarantini, 2009; Pramitasari,
2013).
2.2 Karakteristik Salmonella typhi sebagai penyebab demam tifoid
Salmonella typhi merupakan bakteri batang gram negatif dan tidak membentuk
spora, serta memiliki kapsul. Bakteri ini juga bersifat fakultatif, dan sering disebut sebagai facultative intra-cellular parasites. Dinding selnya terdiri atas
murein, lipoprotein, fosfolipid, protein, dan lipopolisakarida (LPS) dan tersusun sebagai lapisan-lapisan (Dzen, 2008). Ukuran panjangnya bervariasi, dan sebagian besar memiliki peritrichous flagella sehingga bersifat motil. Salmonella typhi membentuk asam dan gas dari glukosa dan mannosa. Organisme ini juga
menghasilkan gas H2S, namun hanya sedikit (Winn, 2006).
Salmonella typhi merupakan bakteri mesofilik, dengan suhu pertumbuhan
optimum antara 35 - 37°C, tetap dapat tumbuh pada range 5 - 46°C, Salmonella
sensitif pada pH rendah (lebih kecil atau sama dengan 4,5) dan tidak berbiak pada Aw 0,94 khususnya jika dikombinasikan dengan pH 5,5 atau kurang. Salmonella dapat bertahan pada pembekuan dan bentuk kering dalam waktu yang lama.
Salmonella typhi mampu berbiak pada berbagai makanan tanpa mempengaruhi
10
Gambar 1. Mikroskopis Salmonella typhi
2.3 Patogenesis Demam tifoid
Salmonella typhi masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan yang
terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas
humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel dan selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya
melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa.
11
sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya (Sudoyo A.W., 2010).
Kemampuan suatu bakteri patogen untuk menyebabkan infeksi dipengaruhi oleh faktor virulensi yang dimilikinya. Faktor virulensi yang terlibat dalam
patogenisitas Salmonella typhi meliputi lipopolisakarida (LPS) dan pili (Cogan dan Humphrey, 2008). Salmonella mengandung kompleks lipopolisakarida (LPS)
yang berfungsi sebagai endotoksin dan terletak pada lapisan luar dari tubuh bakteri Salmonella thypi. Antigen ini bersifat hidofilik, tahan terhadap pemanasan suhu 100°C selama 2-5 jam dan tahan alkohol 96 % dan etanol 96% selama 4 jam
pada suhu 37°C tetapi tidak tahan terhadap formaldehid. Endotoksin dapat merangsang pelepasan zat pirogen dari sel-sel makrofag dan sel-sel
polimorfonunuklear (PMN) sehingga mengakibatkan demam (Edwards et al., 2007).
Salmonella typhi di dalam tubuh inang akan menginvasi mukosa usus halus,
berbiak di sel epitel, dan menghasilkan toksin yang akan menyebabkan reaksi
radang dan akumulasi cairan di dalam usus. Salmonella typhi yang ada di dalam sel epitel akan memperbanyak diri dan menghasilkan termolabil enterotoksin
12
2.4 Antibiotik
Pengobatan yang digunakan untuk menanggulangi demam tifoid biasanya adalah
antibiotik. Antibiotik disebut juga sebagai antimikroba merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi dan jamur, yang dapat membasmi jenis mikroba seperti Salmonella thypi. Zat ini bisa diperoleh secara alamiah,
kecuali ada beberapa jenis yang disebut semi sintesis dan sintesis (Pelczar, 2008).
1. Klasifikasi Antibiotik
Ada tiga cara mengklasifikasikan antibiotik, yaitu berdasarkan sifat antibiotik,
mekanisme kerja antibiotik pada bakteri dan struktur kimia antibiotik.
a. Berdasarkan sifat antibiotik tersebut berupa bakteriostatik dan bakterisida
Bakteriostatik adalah sifat antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri, bersifat sementara (reversible), sedangkan bakterisida adalah sifat
antibiotik yang dapat membunuh bakteri, bersifat menetap (Setiabudi, 2007).
Antibiotik yang termasuk bakteriostatik adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, asam Paraminosalisilat
dan lain-lain, sedangkan antibiotik yang termasuk golongan bakterisida adalah penisilin, sefalosporin, kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid,
aminoglikosida dan lain-lain. Dalam penggunaan antibiotik yang bersifat bakteriostatik lebih berhasil dalam pengobatan karena bersifat menghambat peningkatan jumlah bakteri dalam populasi sehingga mekanisme pertahanan
13
gangguan sistem imun, antibiotik yang bersifat bakterisid lebih banyak dipilih karena kemampuannya dalam membunuh bakteri (Isiantoro, 2007).
b. Berdasarkan mekanisme kerjanya antibiotik dapat dibagi dalam 5 kategori yaitu :
1. Antibiotik yang menghambat metabolisme sel mikroba, termasuk dalam golongan ini adalah kotrimoksazol, sulfonamida, trimetropim,
asam paraaminosilat (PAS) dan sulfon.
2. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel mikroba, termasuk dalam kelompok ini adalah penisilin, sefalosporin, basitrasin,
vankomisin, dan sikloserin.
3. Antibiotik yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba, termasuk
dalam kelompok ini adalah polimiksin, golongan polien.
4. Antibiotik yang menghambat sintesis protein sel mikroba, termasuk
dalam kelompok ini adalah golongan aminoglikosida, makrolida, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.
5. Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba,
termasuk dalam kelompok ini adalah rifampisin, dan golongan kuinolon (Setiawati et al., 2007).
c. Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dikelompokan sebagai berikut : 1. Golongan aminoglikosida
14
2. Golongan β-laktam
Yang termasuk golongan beta-laktam diantaranya : golongan karbapenem
(meropenem, ertapenem, imipenem), golongan sefalosporin (sefasolin, sefaleksim, sefuroksim, sefadroksil, seftazidin, sefotaksim, sefotriakson, sefiksim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisillin
(penisilin, amoksilin, ampisillin). 3. Golongan glikopeptida
Yang termasuk golongan glikopeptida diantaranya: vankomisin, telkoplanin, amoplanin, dan dekaplanin.
4. Golongan poliketida
Yang termasuk golongan poliketida diantaranya golonga makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritomisin, roksitromisin), golongan ketolida
(telitromisin), golongan tetrsiklin (doksisikli, oksitetrasiklin, tetrasiklin). 5. Golongan kuinolon
Yang termasuk golongan kuinolon diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.
6. Golongan sulfonamida
15
7. Golongan kloramfenikol
Obat ini terikat pada ribosom subunit dan menghambat enzim peptidil
transferase sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman (Stringer, 2006; Harvey RA, 2013; Pratama, 2014).
2. Penggunaan Antibiotik
Penggunaan antibiotik di klinik bertujuan membasmi mikroba penyebab
infeksi. Penggunaan antibiotik ditentukan berdasarkan indikasi dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut :
a. Gambaran klinis penyakit infeksi, yaitu efek yang ditimbulkan oleh
adanya bakteri dalam tubuh hospes.
b. Efek terapi antimikroba pada penyakit infeksi diperoleh hanya sebagai
akibat kerja antibiotik terhadap biomekanisme bakteri dan tidak terhadap biomekanisme tubuh hospes.
c. Antibiotik dapat dikatakan bukan penyembuh penyakit infeksi dalam arti sebenarnya, tetapi hanya memperpendek waktu yang diperlukan oleh tubuh hospes untuk sembuh dari penyakit infeksi (Brunton et al, 2008;
Handayani et al, 2015).
Untuk memutuskan perlu tidaknya pemberian antimikroba pada suatu penyakit infeksi, perlu diperhatikan gejala klinik, jenis dan patogenitas bakterinya, serta kesanggupan mekanisme daya tahan tubuh. Penyakit infeksi dengan gejala
16
tubuh, tetapi penyakit infeksi dengan gejala yang berat, walaupun belum membahayakan, apalagi bila telah berlangsung untuk beberapa waktu lamanya,
dengan sendirinya memerlukan terapi antimikroba (Setiawati et al., 2007).
3. Antibiotik yang digunakan di RSUD Abdul Moeloek
Antibiotik yang banyak digunakan di RSUD Abdul Moeleok adalah
a. Golongan β-Lactam (Penisilin, Sefalosporin, Amoksisilin).
Semua Penisilin memiliki struktur dasar yang sama , terdapat cincin tiazolidin yang melekat pada cincin β-lactam, yang membawa gugus
amino sekunder. Interaksi struktur inti asam 6-aminopenisilat penting untuk aktivitas biologik molekul. Penicilin menghambat G pembentukan
mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba (Chaudhary and Aggarwal, 2004). Penisilin G (benzil penicillin) adalah
terapi utama terhadap infeksi yang disebabkan oleh sejumlah coccus Gram positif dan negatif, basil Gram positif, dan spirokaeta (Katzung, 2004).
Sefalosporin aktif terhadap bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Struktur mirip dengan penisillin yaitu adanya cincin β-lactam tetapi
dilekati cincin dihydrithiazide dan terdapat gugusan R1 dan R2 yang memungkinkan untuk dibuat turunan sepalosporin dengan aktivitas yang lebih tinggi dan toksisitas yang lebih rendah. Seftazidim, seftriakson,
17
Providencia yang dapat mencapai susunan saraf pusat melintasi sawar
darah otak. Seperti halnya sefalosporin generasi kedua, sefalosporin
generasi ketiga juga dapat dihidrolisasi oleh beta-laktamase kromosomal yang diproduksi oleh bakteri yang memproduksi sefalosporinase (Katzung, 2004).
Amoksisilin adalah turunan penisilin semi sintetik dan stabil dalam suasana
asam lambung. Amoksisilin diabsorpsi dengan cepat dan baik pada saluran pencernaan makanan, tidak tergantung adanya makanan. Amoksisilin terutama diekskresikan dalam bentuk tidak berubah di dalam urin. Ekskresi
dihambat saat pemberian bersamaan dengan Probenesid, sehingga memperpanjang efek terapi. Amoksisilin aktif terhadap organisme
gram-positif dan gram-negatif. Mekanisme kerja dari amoxicillin adalah mencegah pembentukan membran sel bakteri sehingga semua materi
genetik yang ada di dalamnya terurai keluar dan menyebabkan bakteri mati (Ika, 2013).
Antibiotik golongan β-laktam merupakan penghambat selektif dari sintesis
dinding sel bakteri, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri saat bakteri melakukan pembelahan. Mekanisme kerja antibiotik β-laktam dapat
diringkas sebagai berikut : (1) pengikatan obat pada Penicillin-binding proteins, PBPs, (2) penghambatan sintesis dinding sel bakteri karena reaksi
18
2.7 Golongan Aminoglikosida (Gentamisin, Amikasin)
Obat-obat golongan aminoglikosida seperti gentamisin dan amikasin efektif terhadap bakteri Gram negatif misalnya Pseudomonas aeruginosa, Proteus, Enterobacter, dan Klebsiella. Kerja anti bakteri aminoglikosida begitu
memasuki sel akan mengikat protein ribosom subunit 30s yang spesifik. Penggunaan kombinasi gentamisin dengan karbenisilin atau tikarsilin (golongan β-laktam) dapat menyebabkan peningkatan sinergisme dan
aktivitas bakterisid (Katzung, 2004).
2.8 Golongan Floroquinolon (Siprofloksasin)
Siprofloksasin adalah golongan florokuinolon yang paling poten.
siprofloksasin terutama berguna dalam mengobati infeksi-infeksi yang disebabkan oleh enterobactericeae dan basil Gram negatif lainnya.
siprofloksasin merupakan alternatif terhadap obat-obatan yang lebih toksik seperti aminoglikosida. Siprofloksasin juga dapat bekerja sinergis dengan β-laktam (Katzung, 2004).
2.9 Golongan Sulfonamida (kotrimoksazol)
Antimikroba yang digunakan secara sistemik maupun topical untuk mengobati dan mencegah beberapa penyakit infeksi. Senyawa yang memperlihatkan efek sinergi paling kuat bila digunakan bersama
19
mereduksi dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat, pemberiaan sulfonamida bersama trimetroprim menyebabkan hambatan berangkai dalam reaksi
pembentukan tetrahidrofolat dari molekul-molekul asalnya. Kombinasi trimetropim dan sulfametoksazole meningkatkan kembali penggunaan sulfonamide untuk pengobatan infeksi tertentu (Ganiswara, 2009).
e. Golongan Kloramfenikol
Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesa protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom subunit dan menghambat enzim peptidil transferase sehingga ikatan peptida tidak terbentuk pada proses sintesis
protein kuman. Efek toksis kloramfenikol pada sistem hemopoetik sel mamalia diduga berhubungan dengan mekanisme kerja obat ini.
Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman
tertentu (Ganiswara, 2009).
2.5 Resistensi Mikroba Terhadap Obat Antimikroba
Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan mikroba oleh antimikroba. Sifat ini dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk
bertahan hidup. Berkembangnya resistensi terhadap obat-obatan hanyalah salah satu contoh proses alamiah yang tak pernah ada akhirnya yang dilakukan organisme untuk mengembangkan toleransi terhadap lingkungannya yang baru.
20
menyebabkan bakteri sejak awal resisten terhadap suatu antimikroba (resistensi alamiah), contohnya bakteri Gram negatif yang resisten terhadap penisillin G
(Pelzar et al., 2008; Setiawati et al., 2007).
Bakteri yang semula peka terhadap suatu antimikroba, dapat berubah sifat
genetiknya. Hal ini terjadi karena bakteri memperoleh elemen genetik yang membawa sifat resistensi, keadaan ini dikenal sebagai resistensi yang didapat
(aquired resistance). Elemen resistensi ini dapat diperoleh dari luar dan disebut resistensi yang dipindahkan (transfered resistance), dapat pula karena adanya mutasi genetik spontan atau akibat rangsangan antimikroba (induced resistance)
(Setiawati et al., 2007). Ada tiga pola resistensi dan sensitivitas mikroba terhadap antimikroba yaitu (1) belum pernah terjadi resistensi bermakna yang
menimbulkan kesulitan di klinik, (2) pergeseran dari sifat peka menjadi kurang peka, tetapi tidak sampai terjadi resistensi sepenuhnya, (3) sifat resistensi pada
tingkat yang cukup tinggi, sehingga menimbulkan masalah di klinik (Setiabudi, 2007).
Bakteri dapat bersifat resisten terhadap antibiotik karena adanya mutasi kromosom ataupun karena pertukaran material genetik melalui transformasi,
transduksi dan konjugasi melalui plasmid. Peningkatan atau kesalahan penggunaan antibiotik dalam bidang klinik, penggunaan antibiotik dalam bidang molekular, dan penambahan antibiotik pada pakan ternak juga dapat
21
Penelitian Kusumaningrum et al., (2012), menyatakan empat serotipe Salmonella yaitu: S. Weltevreden, S. Kenthucky, S. Typhimurium dan S. Paratyphi C yang
diisolasi dari produk segar di Indonesia resisten terhadap antibiotik chloramphenicol, erythromycin, tetracyclin, sulfamethoxazole dan streptomycin. Penelitian Tjaniadi et al., (2003), menyatakan Salmonella typhi yang diisolasi
dari diare di Indonesia resisten terhadap antibiotik. Salmonella typhi resisten terhadap trimetroprim, sulfametoksazol, kloramfenikol, streptomicin dan
tetrasiklin.
Penelitian terakhir menjelaskan bahwa transmisi horisontal ini berperan terhadap
berkembangnya resistensi bakteri terhadap antibiotika. Berkembangnya resistensi antibiotik di klinik menurut Gunawan (2009) disebabkan beberapa faktor, antara
lain :
1. Penggunaan antimikroba yang sering. Terlepas dari penggunaannya rasional
atau tidak, antibiotik yang sering digunakan biasanya akan berkurang aktivitasnya.
2. Penggunaan antimikroba yang irrasional. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan antimikroba yang irrasional, terutama di rumah sakit, merupakan faktor penting yang memudahkan berkembangnya resisitensi
kuman.
3. Penggunaan antimikroba baru yang berlebihan. Beberapa contoh antimikroba yang relatif cepat hilang efektifitasnya setelah dipanaskan karena masalah
22
4. Penggunaan antimikroba untuk jangka waktu lama. Pemberian antimikroba dalam waktu lama memberi kesempatan bertumbuhnya kuman yang lebih
resisten.
5. Penggunaan antimikroba untuk ternak. Kadar antibiotik yang rendah pada ternak memudahkan tumbuhnya kuman-kuman yang resisten.
Bakteri yang resisten terhadap antibiotik menjadi masalah kesehatan yang penting,
terutama di rumah sakit dan sarana kesehatan. Bakteri yang resisten terhadap antibiotik dapat menyebakan penyakit yang serius, mengancam jiwa dan sulit untuk diatasi karena terbatasnya pilihan terapi. Mikroorganisme dapat
memperlihatkan resistensi terhadap obat-obatan melalui berbagai mekanisme. Menurut Dantas dan Sommer (2014) dan Nugroho (2012) suatu bakteri dapat
menjadi resisten terhadap suatu antibiotik diakibatkan : a. Produksi enzim yang dapat menginaktivasi obat.
Strain resisten dari bakteri gram positif maupun gram negatif menghasilkan kloramfenikolasetil-transferase yang menginaktivasi kloramfenikol (Nugroho, 2012). Ampisilin dan Amoxisilin merupakan antibiotik golongan Penisilin
yang sering digunakan. Resistensi bakteri terhadap golongan Penisilin dikarenakan beberapa bakteri mampu memproduksi enzim ß laktamase. Enzim
ini berfungsi menghidrolisis cicin ß laktam dari Penisilin sehingga dapat menghancurkan aktifitas antibiotiknya (Brook et al., 2005).
b. Perubahan area target yang menurunkan daya ikat antibiotik.
23
RNA polimerase akibat mutasi kromosomal mengakibatkan resistensi terhadap rifampisin (Nugroho, 2012).
c. Menurunkan akumulasi antibiotik intraseluler dengan cara menurunkan permaebilitas dan atau meningkatkan efluks aktif antibiotik. Gen resisten dalam plasmid yang mengkode protein yang dapat terinduksi dalam membran
bakteri, mengakibatkan proses efluks yang tergantung energi terhadap tetrasiklin (Nugroho, 2012).
d. Mengembangkan jalur lain menghindari reaksi yang dihambat oleh antibiotik. Contohnya adalah kasus resistensi bakteri terhadap trimetropim. Produksi dihidrofolat reduktase oleh plasmid yang tidak mempunyai afinitas terhadap
24
[image:40.595.132.543.117.669.2]2.6Kerangka Teori
Gambar 2. Kerangka Teori
Suspek Demam tifoid Penularan
1. Makanan dan
minuman yang terkontaminasi tinja penderita demam tifoid. 2. Kontak langsung
dan vektor.
Faktor yang mempengaruhi
1. Umur
2. Jenis kelamin 3. Pendidikan 4. Pengetahuan 5. Higiene perorangan 6. Kebersihan makanan 7. Sanitasi lingkungan
Pemeriksaan darah Pemeriksaan feses
Bakteri Salmonella typhi
Uji kepekaan terhadap antibiotik Diagnosis melalui:
Resisten Sensitif
Ket :
= Yang akan diteliti Intermediet
25
2.7 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel dependen
Gambar 3. Kerangka Konsep Isolat Bakteri
Salmonella typhi
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian Observasional dengan desain cross sectional.
3.2Waktu dan Tempat Penelitian
Pengambilan sampel dilakukan di ruang rawat inap Anyelir dan Nuri RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Pemeriksaan serta analisis sampel dilakukan
di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2016.
3.3Subjek Penelitian
3.3.1 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang dirawat di ruang rawat inap Anyelir dan Nuri RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Sampel penelitian adalah pasien yang suspek demam tifoid yang ada di ruang
27
a. Kriteria inklusi
1. Pasien yang di ruang rawat inap Anyelir dan Nuri RSUD Dr. H.
Abdul Moeloek Bandar Lampung dengan suspek demam tifoid berdasarkan hasil dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium.
2. Dirawat di rumah sakit lebih dari 1x24 jam
3. Pasien bersedia dilakukan pengambilan darah.
b. Kriteria eksklusi
1. Kegagalan dalam pengambilan sampel darah di rumah sakit.
2. Pasien yang tidak bersedia dilakukan pengambilan darah.
3.3.2 Besar sampel
Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus Lameshow, yaitu:
Keterangan :
n = jumlah sample minimal yang diinginkan
Zα = Derivat baku alpa (90%),derajad kepercayaan yang diinginkan
P = proporsi katagori yang diteliti berdasarkan sumber 50% q = 1-p
d = persisi (15%), derajat penyimpanan yang diinginkan
n = 𝑍𝛼 2.𝑝.𝑞
𝑑2
n = 1.64 2.0,5.0,5
0,152
28
Jadi sampel yang diguanakan dalam penelitian ini adalah 25 0rang
(Notoatmojo, 2010).
3.3.3 Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang di gunakan dalam penelitian ini
adalah teknik consecutive sampling, yaitu semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan ke dalam penelitian sampai
jumlah minimal terpenuhi (Notoatmojo, 2010).
3.4Alat dan Bahan
Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cawan petri, tabung reaksi, rak tabung reaksi, tabung erlenmeyer, ose bulat dan ose jarum, spuit 3 ml, gelas kimia, lampu bunsen, pipet tetes, autoklaf, kaca objek, kaca penutup/cover glass dan, mikropipet, mikroskop, inkubator, dan alat-alat lain yang lazim digunakan di laboratorium mikrobiologi.
Bahan yang dipakai dalam penelitian ini antara lain:
a. Isolat bakteri aerob dari darah pasien suspek demam tifoid di ruang
rawat inap Anyelir dan Nuri RSUD Dr. H. Abdul Moeloek.
b. Isolat bakteri aerob dari darah pasien karena bakteri Salmonella thypi masuk ke saluran cerna yaitu usus halus dan mengikuti aliran darah ke
29
c. Disk/cakram antibiotik, yaitu Kloramfenikol, Amoksisilin,
Siprofloksasin, dan Kotrimoksazol
d. Media yang digunakan adalah nutrient agar miring, agar darah, agar Mac Conkey, TSIA, agar SIM, Simmon citrate agar, media BHI yang
digunakan untuk pembuatan suspensi bakteri dan agar Muller Hinton yang digunakan dalam uji sensitivitas isolat bakteri terhadap antibiotik.
e. Larutan Standar Mac Farland, aquades, larutan pewarnaan gram, dan larutan glukosa.
3.5Prosedur Penelitian
3.5.1 Prosedur Pembenihan
Untuk pengambilan sample dilakukan dengan pengambilan darah
pasien yang suspek demam tifoid di ruang Anyelir dan Nuri RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Kemudian lempeng agar nutrien digunakan sebagai media perbenihan untuk pertumbuhan
bakteri Salmonella typhi. Setelah diketahui sifat bakteri dengan pewarnaan Gram, maka untuk pembiakan Gram negatif digunakan
agar Mac Conkey.
3.5.2 Pengambilan Spesimen darah dan feses
a. Pengambilan darah
30
2. Spuit 3 ml disposible, kapas alkohol, dan sarung tangan disiapkan
untuk pengambilan darah pada pasien suspek demam tifoid. 3. Pengambilan darah dilakukan dengan cara Intervena (IV).
4. Selanjutnya peneliti memasukkan darah pada tabung steril yang
telah disiapkan.
5. Spesimen segera dikirim ke laboratorium dalam waktu 15-20 menit (Indryan, 2010).
b. Pengambilan feses
1. Dilakukan pada pasien minggu ke-2 dan minggu ke-3 karena pada
minggu selanjutnya hasil kultur darah menurun, tetapi kultur feses meningkat yaitu 85% dan 25% berturut-turut positip pada minggu ke-3 dan ke-4 dan masih didapatkan pada minggu ke-12 (Arief,
2009).
2. Feses diambil dari pasien suspek demam tifoid dan dimasukkan pada tempat yang telah disediakan.
3. Spesimen segera dikirim ke laboratorium dalam waktu 15-20
menit (Indryan, 2010).
3.5.3 Prosedur Penelitian
a. Identifikasi Mikroorganisme Penyebab Demam tifoid
31
perwarnaan Gram diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui
sifat bakteri merupakan Gram negatif. Setelah diketahui sifat bakteri, dilakukan penanaman bakteri dan dilanjutkan dengan inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Bakteri Gram positif ditanam pada media
selektif agar darah dan Gram negatif pada agar Mac Conkey. Setelah ditemukan koloni tertentu dari media selektif, dilakukan uji biokimia
(Steven, et al., 2006).
Uji biokimia bakteri Gram negatif adalah sebagai berikut:
1. Uji Triple Sugar Iron Agar (TSIA)
Uji TSIA bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam melakukan fermentasi glukosa, laktosa dan sukrosa. Hasil positif jika
terbentuk yang ditandai dengan perubahan warna agar dari orange menjadi hitam pada bagian miring dan bagian dasar. Kemampuan
bakteri dalam desulfurasi asam amino dan metion akan menghasilkan H2S yang bereaksi terhadap Fe2+ sehingga terbentuk endapan hitam. (Steven, et al., 2006)
2. Uji Sulfur Indole Motility (SIM)
Uji menggunakan media SIM dilakukan untuk mengetahui adanya
hidrogen sulfida, timbulnya indol karena aktivitas enzim triptopanase. Hasil positif jika larutan kovac berubah menjadi merah serta terdapat motilitas atau pergerakan bakteri (Steven, et al., 2006).
3. Uji Sitrat
32
bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menggunakan
natrium sitrat sebagai sumber utama metabolisme dan pertumbuhan yang ditandai dengan perubahan warna akibat suasana asam. Hasil positif jika terjadi perubahan warna dari hijau menjadi biru (Steven,
et al., 2006).
b. Pembuatan Larutan Mc Farland
Larutan Mc Farland dibuat dengan mencampurkan 0,5 ml 1,175% BaCl2 2 H2O dengan 99,5 ml larutan H2SO4 1% sehingga volume
akhir menjadi 100ml, kemudian kocok sampai homogen (Maliku, 2010).
c. Pembuatan Suspensi Bakteri
Setelah identifikasi bakteri, bakteri ditanam pada media BHI. Kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 4-6 jam atau
kekeruhannya sama dengan standar kekeruhan Mac Farland 0,5.
d. Pengukuran sensitivitas antibiotik dengan metode difusi Kirby-Bauer 1. Suspensi bakteri yang telah disesuaikan dengan standar kekeruhan
MacFarland 0,5 diambil 100 μl dengan mikropipet kemudian
dipulaskan ke seluruh permukaan media agar Muller Hinton secara
merata dengan hockey stick L dan didiamkan selama 5 menit agar bakteri meresap ke dalam media (Bonang et al., 2007).
33
satu dengan cakram yang lain kurang lebih 3cm dan 2cm dari
pinggir sehingga didapatkan kontak yang baik antara cakram obat dengan bakteri, kemudian diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam (Bonang et al., 2007).
3. Setelah diinkubasi, diameter daerah hambatan yang ditandai dengan zona hambat disekitar cakram diukur menggunakan
penggaris dengan satuan mm, kemudian dibandingkan dengan diameter zona hambat berdasarkan berdasarkan Clinical
34
[image:50.595.169.514.118.711.2]3.6Alur Penelitian
Gambar 4. Alur Penelitian (Ayni, 2009 ; Anonim, 2013) Penderita Suspek Demam tifoid
Ambil darah
Hasil darah dalam Tabung Steril
Tanam pada Nutrient Agar Miring
Inkubasi pada suhu 370C, 24 jam
Kultur Positif pada Nutrient Agar Miring
Pewarnaan Gram
Bakteri Gram Negatif
Tanam pada Agar Mac Conckey
Inkubasi pada suhu 370C, 24 jam
Koloni Positif
Uji Biokimia 1. Uji TSIA 2. Uji SIM 3. Uji Sitrat
35
Gambar 5. Alur Penelitian Uji Kepekaan Bakteri Terhadap Antibiotik (Vandepitte et al.,
2010; Goldman & Green, 2009)
Membuat Larutan Mc Farland
Resisten Intemediet
Sensitif
Inkubasi 370C, 24 jam Koloni Bakteri pada Media Muller Hinton
Didiamkan 5 menit
Bakteri Dipulaskan ke Media Muller
Hilton
Inkubasi 370C, 4-6 jam atau Kekeruhan sama dengan Mc Farland
(0,5-10)
Koloni Bakteri Ditanam pada Media BHI Koloni Bakteri Gram Negatif Salmonella Thypi
Uji Kepekaan dengan Meletakkan Disk/Cakram Antibiotik pada Media
Muller Hinton
Terdapat Zona Hambat Antibiotik
Mengukur Diameter Zona Hambat Antibiotik
36
[image:52.595.89.494.142.589.2]3.7 Definisi Operasional
Tabel 1. Definisi Operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala Bakteri
Salmonella thypi
(Variabel Independent)
Menemukan bakteri
Salmonella thypi di dalam darah pasien dengan diagnose suspek demam tifoid Media kultur Pewarnaan gram Uji biokimia Jenis bakteri (Salmonella thypi)
Kategorik Bakteri Salmonella thypi Sensitifitas, intermediet, resisten terhadap antibiotik (Variable Dependent)
Daya hambat antibiotik terhadap bakteri Salmonella thypi Penggaris/ Mistar, Jangka Sorong Sensitif (S):
Zona hambat antibiotik pada media Muller Hilton menunjukkan bakteri dapat dibunuh dengan antibiotik Intermediet (I):
Zona hambat antibiotik pada media Muller Hilton menunjukkan bakteri dapat dihambat pertumbuhannya dengan antibiotik Resisten (R):
Zona hambat antibiotik pada media Muller Hilton menunjukkan bakteri tidak dapat dihambat
pertumbuhannya dengan antibiotik atau pertumbuhan bakteri tidak terpengaruh dengan adanya antibiotik
Kategorik
Sumber: Brooks, Carroll, Butel, Morse, & Mietzner, 2010; Katzung, 2010; Sjamsuhidajat, Karnadihardja, Prasetyono, & Rudiman, 2010
3.8 Etik Penelitian
37
3. 9.Pengolahan danAnalisisData
3. 9. 1 Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan untuk mengubah data yang masih mentah (raw data) sehingga menjadi informasi yang akhirnya dapat digunakan
untuk menjawab tujuan penelitian. Adapun data diolah dengan empat tahapan yaitu:
1. Editing
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian data dan memastikan apakah data sudah lengkap atau belum.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan merubah atau mengklasifikasikan
data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/ bilangan.
3. Processing
Pemrosesan data dapat dilakukan dengan cara memasukan data ke
dalam perangkat lunak computer.
4. Cleaning
Merupakan pembersihan data atau pemeriksaan kembali data yang
sudah diproses untuk menghindari kesalahan.
3. 9. 2 Analisis Data
Data yang sudah dikode, dimasukan secara lengkap ke dalam komputer, kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan perangkat lunak
38
univariat. Analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Pola kepekaan isolat Salmonella thypi penyebab demam tifoid yang diidentifikasi dari
darah pasien demam tifoid di ruang penyakit dalam Anyelir dan Nuri lebih sensitif
terhadap kloramfenikol dan amoksisilin. Antibiotik yang menimbulkan resistensi
adalah kotrimoksazol. Antibiotik lain yaitu siprofloksasin memiliki pola sensitivitas
intermediet.
5. 2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan:
a. Untuk Pihak Rumah Sakit
1. Melakukan uji kepekaan antibiotik sebelum memberikan terapi.
2. Menggunakan antibiotic secara rasional.
b. Untuk Peneliti Selanjutnya
1. Perlu melakukan penelitian sedini mungkin dan memerlukan periode waktu lebih
46
2. Penggunaan jumlah antibiotik yang lebih banyak sehingga semakin banyak
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Typhoid Fever (Enteric Fever), www.whoindia.org.pdf/, 30 September 2016.
Amarantini, L. Sembiring, H. Kushadiwijaya, & W. Asmara. 2009. Isolasi, Karakterisasi dan Pengelompokan Strain-strain Anggota Salmonella typhi Asal Wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur Berdasarkan Sifat Fenotip. Seminar Nasional Biologi XX dan Kongres PBI XIV UIN Maliki Malang. 24-25 juli 2009, Malang, Indonesia. hlm. 141-147.
Arief Rakhman. 2009. Faktor– Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Demam Tifoid Pada Orang Dewasa. Berita Kedokteran Masyarakat, Vol.25, N0.4. Desember 2009, hlm.167-175.
Arifanto. 2008. Menghitung Mikroba Pada Bahan Makanan. Farmasi FMIPA. ITB. Bandung.
Azhali MS. 2009. Pengelolaan demam tifoid. Dalam: Naskah lengkap simposium Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak X. KONIKA Bukit Tinggi. hlm. 75-84.
Batchoun, Swedan, & Shurman. 2009. ESBL among Gram-Negative Bacterial Isolates from Clinical Specimens in Three Major Hospitals in Northern Jordan. International Journal of Microbiology. 1(8):75-80.
Brunton L, Goodman LS, Parker K, Buxton BD, et al. 2008. Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and Therapeutics Internatio. New York: McGraw-Hill.
Brooks, Butel, Morse. 2008. Jawetz, Melnick and Adelberg’s Medical Microbiology. Edisi 20. The Mc Graw-Hill Companies, inc. United States. hlm. 528.
Bonang, Enggar, Koeswardono. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Laboratorium dan Klinik. Jakarta : Gramedia. Hlm. 105-109.
47
Cogan TA, Humphrey TJ. 2008. The rise and fall of Salmonella Enteritidis in the UK. J. Appl. Microbiol. 94: 114-119.
Chaudhary, Aggarwal. 2009. Extended spectrum -lactamases (ESBL) - An emerging threat to clinical therapeutics. Indian Journal of medical microbiology. 22(2):75-80.
Chowta, NK. & Chowta, MN., 2005, Study Of Clinical Profile And Antibiotic Response In Typoid Fever, Indian Journal of Medical Microbiology, 23(2), 125-127
Crump JA, Luby SP, Mintz ED. The global burden of typhoid fever. Bull World Health Organ 2009. hlm. 346-53.
Dantas G, Sommer. 2014. How to fight back againt antibiotic resistance, American Scientist, Volume 102. hlm. 42-51.
Darmawati, Haribi. 2005. Analisis Protein Pilli Salmonella typhi isolate RS. Kariadi Semarang dengan Elektroforesis SDS-PAGE. Jurnal Litbang Universitas Muhammadiyah Semarang. hlm. 1-4.
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Kotrimoksazol. Diakses dari
http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/299 kotrimoksazol.html pada tanggal 6 Januari 2017
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Amoksisilin. Diakses dari
http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/211-amoksisilin.html pada tanggal 6 Januari 2017
Desselberger U. 1998. Resistance to antibiotics and other antimicrobial agents. Soc Gen Microbiol Q 25:94-95.
Depkes RI. 2010. Pedoman Penanggulangan Demam Tifoid, Depkes RI, 1-41
Edwards. 2007. Clinical Pharmacy and Therapeutics, 3rd Edition, Churchill Livingstone, London.
48
Ganiswara dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. hlm. 504.
Gunawan, Setiabudy, Nafrialdi & Elysabeth. 2009. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Departemen Farmakologi dan terapeutik FKUI. Percetakan Gaya Baru. Jakarta. hlm. 926.
Hadinegoro, S.R. 1999. Masalah Multi Drug Resistance pada Demam Tifoid Anak, Cermin Dunia Kedokteran. 124. 5-8.
Hadisaputro. 2010. Beberapa Faktor Yang Memberi Pengaruh Terhadap Kejadian Perdarahan dan atau Perforasi Usus Pada Demam Tifoid. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Penelitian pada Masyarakat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Harvey RA. Champe PC. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar 4th Ed. Jakarta: EGC. hlm. 413-443.
Herawati, Ghani, L. 2007. Hubungan Faktor Determinan dengan Kejadian Demam Tifoid di Indonesia tahun 2007. [Accessed 2 Juni 2016]. Available from: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/19409165173.pdf
Ika. 2013. Higiene dan Sanitasi Pemeriksaan Kandungan Bakteri Escherichia coli pada es krim yang dijajakan di kecamatan Medan Petisah Kota Medan. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.
Istiantoro, H. S. Vincent. 2007. Penisilin, Sefalosporin dan Antibiotik Betalaktam lainnya. Dalam: Ganiswara, Sulistia G, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hlm. 664- 693.
Jawetz, Melnick, & Adelberg. 2008. Mikrobiologi kedokteran. Jakarta: EGC. hlm.199-200 : 233.
Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 4. Alih bahasa : Staf Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jakarta : EGC. hlm. 709-719.
49
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia [Online] 2011.
[cited 2 Juli 2016].Available from
http://www.depkes.go.id//downloads/PROFIL_KESEHATAN_INDONESI A_2010.PDF
Levinson, E. Jawetz. 2008. Medical Microbiology and Imunology Examination and Board Review. Edisi 7. Mc Graw Hill Companies. Singapore.
Lesmana, Indra. 2010. Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kamboja (Plumiera rubra) pada Konsentrasi yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Aeromonas hydrophila secara In Vitro. Program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Lodish dkk. 2010. Molecular cell Biology. Wh Freeman Company.
Maarisit, Sarimin & A. Babakal. 2014. Hubungan Orang Tua Tentang Demam Tifoid Dengan Kebiasaan Jajan Pada Anak Di Wilayah Kerja RSUD Mala Kecamatan Melonguane Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal Keperawatan. hlm. 1-8.
Marhamah, 2009, Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Pambalah Batung Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan tahun 2009, Skripsi , Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Mirza SH. The prevalence and clinical features of multidrug resistant Salmonella typhi infections in Baluchistan, Pakistan. Ann of Trop Med and Parasitol 2010. hlm. 513.
Mulholland A. 2005. Bacterial infection – A major cause of death among children in Africa. New EnglJ Med. hlm. 75-77.
Musnelina, L. 2009. Pola Pemberian Antibiotika Pengobatan Demam Tifoid Anak di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Tahun 2001-2002. Makara Kesehatan 8. Volume 1. hlm. 27-31.
50
Typhoid fever, profil, diagnosis and treatment in the 2005’s. The first ISAC International Symposium. Sanur Bali;2005. hlm. 194-205.
Nugroho, A. E. 2012. Farmokologi Obat-obat Penting dalam pembelajaran Ilmu Farmasi dan Dunia Kesehatan. Pustaka Pelajar. Jogjakarta. hlm. 225.
Notoatmojo S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rinea Cipta.
Parry, CM., 2009. Typhoid Fever. N Engl J Med.2002.347 (1770-1782). Available from URL: www.nejm.com , diakses tanggal 2 Oktober 2011.
Pramitasari, O. P. 2013. Faktor Risiko Kejadian Penyakit Demam Tifoid Pada Penderita yang Dirawat Di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran. Jurnal Kesehatan Masyarakat 2. Volume 1. hlm. 1-10.
Pratama MA. 2014. Tingkat Pengetahuan Masyarakat terhadap Penggunaan Antibiotik di Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Medan Johor, Kotamadya Medan.
Pelczar & Chan.. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jilid 2. Edisi Terjemahan. UI Press. Jakarta.
Rakhman, Arief & RH, Dibyo Pramono. 2009. Faktor –Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Demam Tifoid Pada Orang Dewasa. Desember 2009. Yogyakarta: Program Pendidikan Kedokteran Komunitas (PPKK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Rampengan, N.H. Antibiotik Terapi Demam Tifoid Tanpa Komplikasi pada Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/RSU Prof.Dr.R.D. Kandou,Manado. Sari Pediatri. 2013. Volume 5. hlm. 271-6.
Riset Kesehatan Dasar. 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan. Jakarta. Republik Indonesia
Rohman, 2010. Distribusi Penderita Demam Tifoid Mengikut Umur dan Gejala. Available from:
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/51/25 [Accessed 7 september 2016]
51
Setiabudi, R. 2007. Pengantar Antimikroba. Dalam: Ganiswara, Sulistia G, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. hlm. 585-595.
Setiawati, Suryatna & G. Sulistia. 2007. Pengantar Farmakologi dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi 5, Gunawan, Sulistia Gan (editor).,
Departemen Farmakologik dan Terapeutik Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia, Jakarta.
Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S., 2009, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 5, Jilid III, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta, 398 : 1791-1794.
Stringer JL. 2006. Basic Concepts in Pharmacology: a Student’s Survival Guide 3rd Ed. dr. H. Hartanto ed. Jakarta: EGC.
Todar, K, 2011. Fermentation of food by lactic acid bacteria.Todars Online Textbook of Bacteriology.
Utami, R.A. 2011. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Alkaloid Ageratum conyzoides L. Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Skripsi S1. UPI: tidak diterbitkan.
Wardhani, P, Prihatini & Probohoesodo. 2005. Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory 12(1):31-37.
Winn. 2006. Koneman's Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. Lippincott Williams and Wilkins.
WHO. 2003. The diagnosis, treatment and prevention of typhoid fever: WHO position paper recommendations. Typhoid. Available from:
http://whqlibdoc.who.int/hq/2003 /WHO_V&B_03.07.pdf [Acessed 20 september 2016].
52
World Health Organization(WHO). 2005. Drug Resistant Salmonella. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs139/en/ [Accessed 20 september 2016]