• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
70
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

APLIKASI KOMPOS TERINDUKSI INOKULUM FUNGI SELULOLITIK (Aspergillus fumigatus) DAN FUNGI LIGNINOLITIK (Geotrichum sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN

VEGETATIF TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

(skripsi)

Oleh: Shinta Wulandari

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

APLIKASI KOMPOS TERINDUKSI INOKULUM FUNGI SELULOLITIK (Aspergillus fumigatus) DAN FUNGI LIGNINOLITIK (Geotrichum sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN

VEGETATIF TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

Oleh

Shinta Wulandari

(3)

ii

yang dikombinasikan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pupuk tunggal dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai.

(4)

APLIKASI KOMPOS TERINDUKSI INOKULUM FUNGI SELULOLITIK (Aspergillus fumigatus) DAN FUNGI LIGNINOLITIK (Geotrichum sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN

VEGETATIF TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merril)

Oleh: Shinta Wulandari

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA SAINS

Pada Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)

Riwayat Hidup

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 5 Mei 1996. Penulis merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dari Ibu Siti Aminah dan Bapak Khairul.

Penulis telah menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-Kanak di TK R.A Yanusa Jakarta pada tahun 2002, kemudianmenyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Suka Negeri yang diselesaikan pada tahun 2008. Pada tahun 2011 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 4 Bukit

Kemuning. Lalu pada tahun 2014 penulis menyelesaikan Sekolah Menengah Akhir di SMAN 1 Bukit Kemuning dan Alhamdulillah pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi asisten praktikum mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian angkatan 2015 dalam mata kuliah Botani Umum, asisten praktikum mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA angkatan 2015 dalam mata kuliah Genetika, asisten praktikum mahasiswa jurusan Biologi FMIPA angkatan 2014 dan 2015 dalam mata kuliah Pengenalan Alat

(8)

Laboratorium (PAL) dan asisten praktikum mahasiswa jurusan Biologi FMIPA angkatan 2015 dalam mata kuliah Ekofisiologi Tumbuhan. Penulis juga aktif di Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) FMIPA pada tahun 2015-2016 sebagai anggota bidang Sains dan Teknologi (Saintek). Selama kuliah, penulis menerima Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi dari Dikti sampai menyelesaikan kuliah selama 8 semester.

(9)

vii

Bismillahirrohmanirrohim

Kupersembahkan Karya Kecilku ini Kepada:

Orang tuaku, untuk Ibuku tercinta yang selalu mendoakan dari kejauhan agar selalu dapat dilindungi oleh Allah SWT dan selalu memberikan kasih sayang yang tak terhingga dan Ayahku tecinta yang selalu memberikan pengorbanan dan kasih sayang selama ini. Kakek yang selama ini membesarkan shinta penuh

dengan kasih sayang hingga bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi serta keluarga besarku yang selalu memberi kasih sayang, nasihat dan motivasi untuk

maju.

Idul dan Dimas adikku tersayang yang selalu mendorong kakak shinta untuk bisa lebih maju dan semoga bisa menyekolahkan kalian kelak. Fitria sahabat perjuangan dari smp sampai perguruan tinggi yang telah memberikan motivasi

maupun pelajaran hidup, merasakan kesulitan maupun kebahagiaan bersama, semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam kesuksesan.

Teman seperjuanganku dibangku kuliah ari alias ayu wulan terima kasih buat kebersamaan, pengertian, keceriaan, dan kasih sayang yang diberikan. Semoga

kita masih bisa bersama dalam ikatan persaudaraan.

Sahabat-sahabatku yang selalu memberi motivasi maupun semangat dalam menjalani setiap kesulitan.

(10)

“A beatiful woman can be man’s biggest weakness. A smart woman can be his greatest ally. Finding a woman who is both

is man’s biggest lucky”.-Unknown-

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Surat Ar-rahman).

Jangan buang waktumu hanya untuk memikirkan hal yang sia-sia. Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikuti, ketika

dirimu hanya mengejar dunia maka ia akan semakin ingin dikejar dan kamu akan melupakan bagaimana pedihnya

(11)

ix

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah nya. Shalawat teriring salam kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Skripsi ini diberi judul “Aplikasi Kompos Terinduksi Inokulum Fungi Selulolitik (Aspergillus

fumigatus) dan Fungi Ligninolitik (Geotrichum sp.) terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril).

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mengalami kesulitan dan cobaan serta menyadari masih banyak kekurangan dalam penyajiannya. Oleh karna nya penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis juga berharap skripsi ini dapat memberikan banyak ilmu yang bermanfaat serta menambah wawasan bagi pembaca. Selama menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan serta dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

(12)

2. Bapak Ir. Zulkifli, M.Sc., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, wawasan, dukungan, arahan, nasihat dan masukan selama menyusun skripsi ini..

3. Ibu Dra. Tundjung T.Handayani, M.S., selaku Pembahas yang telah

meluangkan waktu untuk memberikan saran, kritik, bimbingan, motivasi dan arahan selama menyusun skripsi ini.

4. Bapak Tugiyono, Ph.D., selaku Pembimbing Akademik yang telah

memberikan dukungan, nasihat dan arahan selama penulis menuntut ilmu di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung.

5. Ibu Dr. Nuning Nurcahyani, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung, yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan kepada penulis.

6. Bapak Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D., selaku Dekan Fakuktas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung.

7. Seluruh dosen, laboran, staf dan karyawan FMIPA Universitas Lampung atas bantuannya selama ini.

8. Kedua orang tuaku Bapak Khairul dan Ibu Siti Aminah yang telah

memberikan do’a, dukungan baik secara moril maupun materil, nasihat dan kasih sayang serta keluarga besarku yang telah mendukung dan memberikan motivasi, kasih sayang dan nasihat.

9. Sahabatku Fitria Luziana yang selalu bersama dalam suka dan duka selama ini berjuang bersama untuk menggapai kesuksesan, papaya squad : Dian Meisya Azhari dan Citra Anggraini Putri yang telah menjadi sahabat

(13)

xi

Tia Resti Ayu yang telah memberikan keceriaan dan kebersamaan dari SMA hingga sekarang.

10. Sahabatku atau saudariku Ari alias Ayu Wulan yang berjuang bersama dalam menyelesaikan bangku kuliah dan skripsi ini terima kasih untuk segala hal. 11. Essy Pratiwi, Puput Dian Anggraini, Anindya Rahma, Wahyu Widianto,

Basuki Sugiarto, Putri Wardanis, Rachma Aulia, Nur’isfani, yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada penulis.

12. Teman-teman di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung angkatan 2014.

13. Seluruh mahasiswa Jurusan Biologi “Wadya Balad Himbio” atas semangat dan kebersamannya.

14. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu selama penulis menyelesaikan skripsi.

Semoga Allah SWT senantiasa membalas semua kebaikan atas kerjasama, dukungan dan do’a yang telah kalian berikan. Semoga karya ini dapat membantu dan berguna bagi yang membaca.

Bandar Lampung, Mei 2018

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

PERSEMBAHAN ... vii

MOTTO ... viii

SANWACANA ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xxii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 5

1.3 Manfaat Penelitian ... 5

1.4 Kerangka Pemikiran ... 6

1.5 Hipotesis ... 8

IL. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kompos ... 9

2.2 Pengomposan ... 9

2.3 Manfaat Kompos ... 12

2.4 Biomassa Kompos ... 13

2.5 Fungi ... 15

(15)

xiii

2.7 Pertumbuhan ... 19

2.8 Taksonomi tanaman kedelai ... 20

2.9 Biologi tanaman kedelai ... 20

2.10 Syarat tumbuh tanaman kedelai ... 25

2.11 Tanah ... 26

III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat ... 28

3.2 Alat dan Bahan ... 28

3.3 Rancangan Percobaan ... 29

3.4 Variabel dan Parameter ... 30

3.5 Pelaksanaan ... 30

3.5.1 Persiapan Media tumbuh ... 30

3.5.2 Penanaman benih kedelai ... 31

3.5.3 Penyusunan satuan percobaan ... 32

3.5.4 Perawatan tanaman kedelai ... 33

3.5.5 Pemanenan ... 33

3.5.6 Pengamatan parameter ... 33

3.5.6.1 Tinggi tanaman ... 34

3.5.6.2 Berat segar tanaman ... 34

3.5.6.3 Berat kering tanaman ... 34

3.5.6.4 Kadar air relatif ... 34

3.5.6.5 Rasio tunas akar ... 35

3.5.6.6 Kandungan klorofil (a, b dan total) ... 35

3.5.7 Analisis data ... 36

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 37

4.1.1 Tinggi tanaman ... 37

4.1.2 Berat segar tanaman ... 40

4.1.3 Berat kering tanaman... 43

4.1.4 Kadar air relatif ... 46

(16)

4.1.6 Kandungan klorofil a ... 52

4.1.7 Kandungan klorofil b ... 54

4.1.8 Kandungan klorofil total ... 56

4.2 Pembahasan ... 59

V. KESIMPULAN 5.1 Simpulan ... 67

5.2 Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(17)
[image:17.595.118.507.269.748.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Tanaman Kedelai ... 24

2. Kurva tinggi tanaman kedelai setelah perlakuan ... 39

3. Kurva berat segar tanaman kedelai setelah perlakuan ... 42

4. Kurva berat kering tanaman kedelai setelah perlakuan ... 45

5. Kurva kadar air relatif tanaman kedelai setelah perlakuan ... 48

6. Kurva rasio tunas akar tanaman kedelai setelah perlakuan. ... 50

7. Kurva kandungan klorofil a tanaman kedelai setelah perlakuan. ... 53

8. Kurva kandungan klorofil b kedelai setelah perlakuan ... 55

9. Kurva kandungan klorofil total tanaman kedelai setelah perlakuan. ... 57

10.Persiapan media tanam ... 121

11.Merk insektisida yang dicampurkan ke media tanam ... 121

12.Tanaman kedelai usia 7 HST ... 122

13.Tanaman kedelai usia 10 HST ... 122

14.Pengukuran tinggi tanaman 10 HST ... 122

15.Tanaman kedelai usia 20 HST ... 123

16.Tanaman kedelai usia 30 HST ... 123

17.Bunga pertama muncul ... 123

(18)
(19)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kandungan gizi dalam 100 gram kedelai kering ... 22

2. Notasi perlakuan dan ulangan ... 29

3. Komposisi kompos dan tanah ... 30

4. Tata letak satuan percobaan ... 32

5. Efek pemupukan terhadap tinggi tanaman kedelai ... 37

6. Efek pemupukan terhadap berat segar tanaman kedelai ... 40

7. Efek pemupukan terhadap berat kering tanaman kedelai ... 43

8. Efek pemupukan terhadap kadar air relatif tanaman kedelai ... 46

9. Efek pemupukan terhadap rasio tunas akar tanaman kedelai ... 49

10.Efek pemupukan terhadap kandungan klorofil a tanaman kedelai ... 52

11.Efek pemupukan terhadap kandungan klorofil b tanaman kedelai ... 54

12.Efek pemupukan terhadap kandungan klorofil total tanaman kedelai.. 56

13.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 77

14.Absolute residual value tinggi tanaman kedelai 10 HST ... 77

15.Hasil uji Levene tinggi tanaman kedelai 10 HST ... 77

[image:19.595.114.506.246.736.2]
(20)

17.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 78

18.Absolute residual value tinggi tanaman kedelai 20 HST ... 78

19.Hasil uji Levene tinggi tanaman kedelai 20 HST ... 79

20.Analisis ragam tinggi tanaman kedelai 20 HST ... 79

21.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 80

22.Absolute residual value tinggi tanaman kedelai 30 HST ... 80

23.Hasil uji Levene tinggi tanaman kedelai 30 HST ... 80

24.Analisis ragam tinggi tanaman kedelai 30 HST ... 81

25.Hasil uji BNT tinggi tanaman kedelai 30 HST ... 81

26.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 82

27.Absolute residual value berat segar tanaman kedelai 10 HST ... 82

28.Hasil uji Levene berat segar tanaman kedelai 10 HST ... 82

29.Analisis ragam berat segar tanaman kedelai 10 HST... 83

30.Hasil uji BNT berat segar tanaman kedelai 10 HST ... 83

31.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 84

32.Absolute residual value berat segar tanaman kedelai 20 HST ... 84

33.Hasil uji Levene berat segar tanaman kedelai 20 HST ... 84

34.Analisis ragam berat segar tanaman kedelai 20 HST... 85

(21)

xvii

36.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 86

37.Absolute residual value berat segar tanaman kedelai 30 HST ... 86

38.Hasil uji Levene berat segar tanaman kedelai 30 HST ... 86

39.Analisis ragam berat segar tanaman kedelai 30 HST... 87

40.Hasil uji BNT berat segar tanaman kedelai 30 HST ... 87

41.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 88

42.Absolute residual value berat kering tanaman kedelai 10 HST ... 88

43.Hasil uji Levene berat kering tanaman kedelai 10 HST ... 88

44.Analisis ragam berat kering tanaman kedelai 10 HST ... 89

45.Hasil uji BNT berat kering tanaman kedelai 10 HST ... 89

46.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 90

47.Absolute residual value berat kering tanaman kedelai 20 HST ... 90

48.Hasil uji Levene berat kering tanaman kedelai 20 HST ... 90

49.Analisis ragam berat kering tanaman kedelai 20 HST ... 91

50.Hasil uji BNT berat kering tanaman kedelai 20 HST ... 91

51.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien keragaman ... 92

52.Absolute residual value berat kering tanaman kedelai 30 HST ... 92

53.Hasil uji Levene berat kering tanaman kedelai 30 HST ... 92

54.Analisis ragam berat kering tanaman kedelai 30 HST ... 93

(22)

56.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 94 57.Absolute residual value kadar air relatif tanaman kedelai 10 HST ... 94 58.Hasil uji Levene kadar air relatif tanaman kedelai 10 HST ... 94 59.Analisis ragam kadar air relatif tanaman kedelai 10 HST ... 95 60.Hasil uji BNT kadar air relatif tanaman kedelai 10 HST ... 95 61.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 96 62.Absolute residual value kadar air relatif tanaman kedelai 20 HST ... 96 63.Hasil uji Levene kadar air relatif tanaman kedelai 20 HST ... 96 64.Analisis ragam kadar air relatif tanaman kedelai 20 HST ... 97 65.Hasil uji BNT kadar air relatif tanaman kedelai 20 HST ... 97 66.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 98 67.Absolute residual value kadar air relatif tanaman kedelai 30 HST ... 98 68.Hasil uji Levene kadar air relatif tanaman kedelai 30 HST ... 98 69.Analisis ragam kadar air relatif tanaman kedelai 30 HST ... 99 70.Hasil uji BNT kadar air relatif tanaman kedelai 30 HST ... 99 71.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

(23)

xix

75.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 101 76.Absolute residual value rasio tunas akar tanaman kedelai 20 HST ... 102 77.Hasil uji Levene rasio tunas akar tanaman kedelai 20 HST... 102 78.Analisis ragam rasio tunas akar tanaman kedelai 20 HST ... 102 79.Hasil uji BNT rasio tunas akar tanaman kedelai 20 HST ... 103 80.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 104 81.Absolute residual value rasio tunas akar tanaman kedelai 30 HST ... 104 82.Hasil uji Levene rasio tunas akar tanaman kedelai 30 HST... 104 83.Analisis ragam rasio tunas akar tanaman kedelai 30 HST ... 105 84.Hasil uji BNT rasio tunas akar tanaman kedelai 30 HST ... 105 85.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 106 86.Absolute residual value kandungan klorofil a tanaman kedelai

10 HST ... 106 87.Hasil uji Levene kandungan klorofil a tanaman kedelai 10 HST ... 106 88.Analisis ragam kandungan klorofil a tanaman kedelai 10 HST ... 107 89.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 107 90.Absolute residual value kandungan klorofil a tanaman kedelai

(24)

93.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 109 94.Absolute residual value kandungan klorofil a tanaman kedelai

30 HST ... 109 95.Hasil uji Levene kandungan klorofil a tanaman kedelai 30 HST ... 109 96.Analisis ragam kandungan klorofil a tanaman kedelai 30 HST ... 110 97.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 110 98.Absolute residual value kandungan klorofil b tanaman kedelai

10 HST ... 111 99.Hasil uji Levene kandungan klorofil b tanaman kedelai 10 HST ... 111 100.Analisis ragam kandungan klorofil b tanaman kedelai 10 HST ... 111 101.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 112 102.Absolute residual value kandungan klorofil b tanaman kedelai

20 HST ... 112 103.Hasil uji Levene kandungan klorofil b tanaman kedelai 20 HST ... 112 104.Analisis ragam kandungan klorofil b tanaman kedelai 20 HST ... 113 105.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 114 106.Absolute residual value kandungan klorofil b tanaman kedelai

(25)

xxi

109.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 115 110.Absolute residual value kandungan klorofil total tanaman kedelai

10 HST ... 115 111.Hasil uji Levene kandungan klorofil total tanaman kedelai

10 HST ... 116 112.Analisis ragam kandungan klorofil total tanaman kedelai 10 HST ... 116 113.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 117 114.Absolute residual value kandungan klorofil total tanaman kedelai

20 HST ... 117 115.Hasil uji Levene kandungan klorofil total tanaman kedelai

20 HST ... 117 116.Analisis ragam kandungan klorofil total tanaman kedelai 20 HST ... 118 117.Rata-rata, standar deviasi, ragam, standar error dan koefisien

keragaman ... 119 118.Absolute residual value kandungan klorofil total tanaman kedelai

(26)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan pada tanaman tentunya membutuhkan nutrien yang mencukupi, nutrien yang tidak mencukupi akan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terganggu. Ketidakcukupan nutrien disebabkan karena kondisi tanah yang semakin berkurang unsur hara dan kesuburannya, ini disebabkan oleh perubahan iklim global dan produksi pertanian yang terjadi secara terus-menerus. Kondisi tanah yang kekurangan unsur hara membutuhkan sumber hara lain berupa pupuk, salah satu pupuk yang perlu dipertimbangkan adalah pupuk kompos yang berasal dari serasah tanah pekarangan. Pentingnyapenggunaanpupukorganik seperti kompos dalam suatu budidaya tanaman sangat diperlukan karena dapat

mengembalikan kualitas tanah. Menurut Adiningsih (2005), salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerusakan tanah adalah dengan cara

membatasi penggunaan pupuk kimia dan meningkatkan penggunaan pupuk organik seperti kompos.

(27)

carang-2

carang, serasah serta kotoran hewan yang telah mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai seperti mikrofungi saprotrof tanah dan bakteri sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat dan struktur tanah. Kompos mengandung hara-hara mineral esensial yang bermanfaat bagi tanaman (Setyorini et al., 2006).

Banyak manfaat serta keunggulan yang diperoleh dari penggunaan kompos. Menurut Murbandono (1994), Selain dapat memperkaya cadangan makanan yang terdapat pada tanaman, kompos juga memiliki peran yang besar dalam

memperbaiki struktur dan sifat-sifat tanah seperti memperbesar daya ikat tanah yang berpasir, mempertinggi daya ikat tanah terhadap unsur hara, memperbaiki drainase dan sirkulasi udara dalam tanah, menjaga suhu tanah tetap stabil serta dapat meningkatkan pengaruh pemupukan dari pupuk-pupuk sintetik.

Penggunaan pupuk kompos diharapkan mampu meningkatkan produksi tanaman budidaya, salah satu tanaman budidaya yang menarik untuk dikembangkan adalah tanaman kedelai.

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) termasuk tanaman pokok ketiga terpenting di Indonesia setelah padi dan jagung. Kedelai dapat menghasilkan beberapa produk olahan yang dapat dijadikan sumber protein dalam kehidupan sehari-hari

(28)

bahwa dengan mengkonsumsi produk olahan yang berasal dari kedelai dapat menurunkan resiko terkena penyakit degeneratif yang disebabkan adanya zat isoflavon dalam kedelai (Koswara, 2006 dalam Handayani 2012).

Produksi kedelai nasional pada tahun 2017 (ARAM I) diperkirakan mencapai 675.161 ribu ton biji kering mengalami penurunan sebesar184.492 ribu ton dibandingkan tahun 2016. Penurunan produksi kedelai tahun 2017 diperkirakan terjadi di pulau Jawa sebesar 90.275 ribu ton dan di luar pulau Jawa sebesar 94.217 ribu ton. Penurunan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena turunnya luas panen yaitu dari 614.095 ha pada tahun 2015 menurun menjadi 446.003 ha (ARAM I) pada tahun 2017 (BPS, 2017).

(29)

4

Di dalam pupuk yang diberi inokulum, terdapat mikroorganisme yang dapat mengakibatkan nutrien unsur hara yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi mudah diserap tanaman, sehingga dapat memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain dapat meningkatkan produksi tanaman, beberapa pemberian inokulum pada pupuk dapat meningkatkan penyerapan oksigen serta dapat menurunkan produksi gas yang berbau pada proses pengomposan (Xi et al.,2005 dalam Irawan 2014). Inokulasi pengomposan dengan mikroorganisme yang tepat dapat menyebabkan peningkatanlaju dekomposisi, memperpendek usia

kematangan kompos serta meningkatkan kualitas kompos (Wei et al., 2007 dalam Irawan 2014). Sehingga pemanfaatan mikroorganisme sangat diperlukan dalam proses dekomposisi. Salah satu mikroorganisme yang tepat sebagai inokulum pengomposan yaitu fungi saprotrof.

Fungi saprotrof sangat efektif untuk dikembangkan menjadi inokulum, dengan menginduksi kompos yang berasal dari seresah. Fungi merupakan salah satu agen utama dalam proses dekomposisi bahan organik seperti seresah daun. Selain itu, fungi juga berperan dalam mendekomposisi matriks lignoselulose yang terdapat pada seresah. Di alam, bahan ini sulit dan lambat terdekomposisi serta hanya ada sedikit organisme lain yang mampu mendekomposisinya (Cooke & Rayner, 1984).

(30)

sehingga inokulum fungi yang digunakan yaitu Aspergillus fumigatus dan Geotrichum sp. Fungi tersebut mampu mendegradasi bahan lignin maupun selulosa yang terdapat dalam seresah menjadi kompos. Pada proses

pengomposan terjadi proses dekomposisi inokulumbahan lignin dan selulosa oleh fungi yang menyebabkan terjadinya pemecahan polimer yang kompleks menjadi monomer glukosa dan unsur-unsur yang lebih kecil dan sederhana. Unsur-unsur ini akan dilepaskan sebagai nutrien pada tanah, sehingga tanah menjadi subur dan pertumbuhan tanaman menjadi optimal. Kompos inilah yang diaplikasikan terhadap pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril).

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi kompos yang terinduksi inokulum fungi selulolitik (Aspergillus fumigatus) dan fungi ligninolitik (Geotrichum sp.) terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) yang meliputi tinggi tanaman, berat segar tanaman, berat kering tanaman, kadar air relatif, rasio tunas akar dan kandungan klorofil a, b dan total.

1.3 Manfaat Penelitian

(31)

6

pertumbuhan tanaman, serta dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetik demi meningkatkan produktivitas tanaman dan kualitas tanah.

1.4 Kerangka Pemikiran

Pupuk kompos atau pupuk organik memiliki keunggulan yaitu dapat

memperbaiki sifat-sifat tanah seperti sifat fisika, kimia dan biologi serta dapat memperbaiki dan mengembalikan struktur tanah. Penggunaan substrat kompos yang berasal dari serasah vegetasi tanaman pekarangan memberikan keuntungan yaitu tidak menghasilkan residu obat-obat atau pupuk sintetik seperti yang telah diterapkan pada lahan pertanian, sehingga kompos yang dihasilkan terbebas dari residu. Pemberian pupuk kompos dapat meningkatkan daya larut unsur P, K, Ca dan Mg, meningkatkan C organik, kapasitas tukar kation serta kapasitas tanah memegang air.

(32)

berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah. Di dalam tanah yang subur mengandung unsur hara yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan tanaman. Kebutuhan tanaman yang terpenuhi menyebabkan pertumbuhan tanaman dapat berjalan dengan optimal. Pertumbuhan tanaman pada penelitian kali ini diindikasikan parameternya meliputi tinggi tanaman, berat kering, berat segar, kadar air relatif, rasio tunas akar dan kandungan klorofil a, b dan total.

Pada penelitian ini, kompos diinduksi oleh inokulum fungi selulolitik dan fungi ligninolitik yang berperan sebagai agen penginduksi dekomposisi dalam

membantu dan mempercepat proses pengomposan. Pada proses pengomposan terjadi proses dekomposisi bahan lignin dan selulosa oleh fungi yang

(33)

8

kedelai merupakan salah satu komoditas pokok Provinsi Lampung dalam memenuhi tingkat konsumsi kedelai dalam negeri.

1.5 Hipotesis

(34)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kompos

Kompos adalah hasil perombakan campuran bahan organik segar yang berasal dari tanaman atau dedaunan yang dibuat maupun yang berasal dari tumpukan limbah organik di tempat pembuangan akhir, yang telah berwarna hitam dan tidak dapat dilihat lagi serat aslinya serta tidak panas lagi karena telah melalui proses fermentasi (Supari, 1999). Sedangkan menurut Murbandono (1994), kompos merupakan bahan organik yang telah terdekomposisi yang dibantu oleh mikroorganisme tanah misalnya seperti serasah, sisa dedaunan, kotoran hewan dan rerumputan.

2.2 Pengomposan

(35)

10

limbah, karena tidak hanya dapat memberikan solusi dalam mengolah sampah

namun dapat juga menjadi agen dekomposisi. Produk akhir ini berupa kompos

yang bisa digunakan baik untuk keperluan pertanian maupun untuk perbaikan

kualitas tanah dari zona kering. Sehingga mampu meningkatkan kesuburan

(Haug, 1993; Tang et al., 2003; Tremier et al., 2005).

Dalam proses pengomposan menurut Djuarnani et al. (2005), terdapat dua mekanisme berdasarkan ketersediaan oksigen bebas, yaitu pengomposan secara aerobik dan anaerobik :

a. Pengomposan secara aerobik

(36)

Gula (CH2O)6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi Protein (N-organik) NH4+ + NO2- + NO3-+ Energi Sulfur organik (S) + O2 SO2- + Energi

Fosfor organik H3PO4- Ca(H3PO4-)2

Keseluruhan reaksi:

Aktifitas mikroorganisme

Bahan organik CO2 +H2O Nutrisi + Humus + E

b. Pengomposan secara anaerobik

(37)

12

Bakteri penghasil asam

(CH2O)6 3CH3COOH

Methamonas

CH3COOH CH4 + CO2

N-organik NH3

Cahaya

2 H2S + CO2 (CH2O) + S + H2O

2.3Manfaat Kompos

Menurut (Isroi, 2006), Kompos merupakan salah satu multivitamin bagi tanah. Kompos memiliki manfaat yaitu dapat meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang pertumbuhan akar yang sehat, memperbaiki struktur tanah,

meningkatkan kandungan bahan organik dan meningkatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan kandungan air tanah. Peranan mikroorganisme dapat membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan membantu pertumbuhan tanaman tanaman dengan optimal serta menjaga tanaman dari serangan penyakit.

(38)

Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek: Aspek Ekonomi :

1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah 2. Mengurangi volume/ukuran limbah

3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya Aspek Lingkungan :

1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah 2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan Aspek bagi tanah/tanaman:

1. Meningkatkan kesuburan tanah

2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah 3. Meningkatkan kapasitas serap air tanah 4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah

5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen) 6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman

7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman 8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah

2.4Biomassa Kompos

(39)

14

selulolitik dan ligninolitik memiliki peran penting dalam perombakan bahan-bahan organik, khususnya lignin dan selulosa pada proses pengomposan (Larasati et al., 2014).

Aspergillus fumigatus termasuk saprofit yang hidup bebas di alam dengan memanfaatkan bahan organik dari organisme yang telah mati atau membusuk. Dapat tumbuh optimal pada suhu 37oC dan dan dapat bertahan hidup pada pH rendah seperti 5,0. Sporanya dapat bertahan dengan baik pada suhu 50 oC. Aspergillus fumigatus dapat hidup hampir pada semua bahan, terutama dengan kelembapan yang tinggi. Aspergillus fumigatus menghasilkan enzim selulase untuk mendegradasi selulosa yang ada pada tumbuhan. Selulosa merupakan senyawa organik yang paling banyak ditemukan pada tanaman, sehingga mampu mempercepat proses pengomposan (Gadd et al., 2007). Penambahan

mikroorganisme seperti fungi dari kelompok Aspergillus dapat mempercepat proses pengomposan limbah organik (Hamdani, 2015).

Komponen utama penyusun lignin yaitu suatu gabungan beberapa senyawa dengan ikatan yang kuat mengandung karbon, hidrogen dan oksigen (Anggorodi, 1990). Susunan lignin yang kompleks menyebabkan degradasinya hanya dapat dilakukan oleh enzim ekstraseluler (Lankinen, 2004).

(40)

nonhydrolysable (Knabner, 2002). Pada penelitian Irawan et al., (2014) proses penguraian bahan lignin oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan melibatkan fungi saprofit yang memiliki sifat lignoselulolitik yaitu fungi Geotrichum sp.

2.5 Fungi

Fungi merupakan agen utama dalam proses dekomposisi. Di dalam tanah, fungi berperan menguraikan kembali senyawa-senyawa organik sederhana yang telah terbuang melalui matinya organ misalnya rontoknya daun, buah dan bunga dari suatu tanaman ataupun bangkai berbagai binatang (Suberkropp, 1997 dalam Irawan 2004). Tubuh fungi terdiri dari jaringan filamen kecil seperti benang-benang yang disebut hifa. Hifa tersusun dari dinding sel yang berbentuk tabung yang mengelilingi membran plasma dan sitoplasma sel dan terkandung zat kitin di dalamnya (Campbell et al., 2008).

Fungi termasuk heterotrof, mereka tidak dapat berfotosintesis atau membuat makanannya sendiri seperti tumbuhan maupun alga. Tidak juga seperti hewan, fungi memperoleh nutrisi dengan tidak menelan (memakan) makanannya namun dengan mengabsorpsi nutrien dari lingkungan luar tubuhnya, hal ini tentu

(41)

16

sel tumbuhan, sehingga nutrien yang berasal dari sel tumbuhan dapat terserap oleh tubuh fungi (Campbell et al., 2008).

2.6Fungi sebagai Dekomposer

Dekomposisi merupakan proses perubahan bahan organik kompleks menjadi bahan organik sederhana yang melibatkan mikroorganisme pengurai atau dekomposer. Mikroorganisme yang berperan dalam peroses dekomposisi meliputi bakteri, fungi dan aktinometes. Salah satu mikroorganisme pengurai bahan organik yang lebih efektif adalah fungi dibandingkan bakteri yang dapat bertahan pada kondisi pH rendah (Suriadikarta et al., 2004).

Mikroorganisme yang terdapat didalam tumpukan bahan organik tidak dapat secara langsung melakukan aktivitas seperti memetabolisme partikel bahan organik tidak larut. Mikroorganisme menghasilkan dua sistem enzim

ekstraselular; sistem hidrolitik, yang memproduksi hidrolase dan berfungsi untuk mendegradasi selulosa dan hemiselulosa dan sistem oksidatif, yang bersifat ligninolitik dan berfungsi mendepolimerasi lignin. Mikroorganisme

(42)

lipase, protease, dan amilase meningkat dan menurun selama tahapan

pengomposan. Aktivitas semua enzim tersebut menurun tajam selama tahapan termofilik, yang kemungkinan disebabkan oleh inaktivasi panas. Denaturasi enzim sering dikorelasikan dengan kematian mikroba. Hal ini menunjukkan bahwa adanya mikroba dan aktivitas enzim dalam tumpukan kompos setelah tahapan termofilik disebabkan oleh introduksi ulang, pembalikan, ketahanan hidup mikroba di bagian luar, bagian dingin dari tumpukan kompos. Dari hal tersebut tampak pentingnya proses mikrobial dalam proses pengomposan, dan kecepatannya dapat diatur oleh berbagai faktor yang mempengaruhi keterlibatan mikroba dalam proses. Ketidakcocokan substrat, kelembapan, atau suhu kompos di luar rata-rata, dan problem difusi oksigen ke dalam kompos merupakan faktor pembatas dalam proses pengomposan.

Enzim selulase sangat aktif memutuskan turunan selulosa yang dapat larut (selulosa amorf) seperti CMC menghasilkan selodekstrin (6 C), selobiosa (4 C) dan glukosa (2 C). CMC-ase merupakan salah satu komponen kompleks enzim selulase yang menyerang secara acak bagian dalam struktur selulosa. Aktivitas CMC-ase koloni fungi selulolitik pada media CMC-agar membentuk zona bening di bawah dan sekitar koloni. Koloni fungi yang menunjukkan aktivitas degradasi lignin membentuk zona berwarna merah di bawah dan sekitar koloni karena adanya quinon yang merupakan produk oksidasi guaicol akibat aktivitas lakase atau peroksidase (LiP, MnP) (Thorn et al., 1996). Aktivitas enzim secara

(43)

18

diameter zona bening atau zona merah terhadap diameter koloni fungi uji dibandingkan fungi reference.

Dekomposer merupakan organisme yang berperan penting dalam proses

dekomposisi. Fungi merupakan heterotrof yang merombak senyawa organik pada substrat dengan mengeluarkan enzim ekstraseluler lalu mengubahnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Beberapa enzim yang ikut serta dalam proses perombakan bahan organik antara lain adalah β-glukosidase, lignin peroksidase (LiP), manganese peroksidase (MnP), dan lakase, selain kelompok enzim

reduktase yang merupakan penggabungan dari LiP dan MnP yaitu enzim versatile peroksidase. Enzim-enzim ini dihasilkan oleh Pleurotus eryngii, P. ostreatus dan Bjekandera adusta (Lankinen, 2004).

Fungi melakukan penyerapan (absorbsi) pada sebagian hasil perombakan lalu melepaskan lagi senyawa sederhana tersebut untuk dapat digunakan kembali oleh tanaman sebagai sumber nutrisinya (Susanti, 2008).

(44)

dan memiliki fungsi utama dalam menguraikan bahan organik dan menghasilkan bahan yang kaya akan humus didalam tanah, meliputi Aspergillus niger,

Trichoderma viridae dan Chaetomium sp.

2.7Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran baik berupa panjang maupun massa, yang diukur secara kuantitatif dan dihasilkan melalui pertumbuhan jumlah sel yang bersifat irreversibel. Pertumbuhan yang terjadi selama kehidupan tumbuhan merupakan hasil dari pembelahan sel dan ekspansi sel. Pembelahan sel dan ekspansi sel merupakan penentu utama dalam tahap pertumbuhan dan pembentukan tubuh tumbuhan (Campbell et al., 2008).

Pertumbuhan vegetatif dan generatif merupakan proses penting dalam siklus hidup tumbuhan. Pertumbuhan vegetatif adalah pertambahan jumlah, bentuk, ukuran dan volume pada organ-organ vegetatif seperti bentuk daun, batang, dan akar yang diawali dengan munculnya tanaman ke atas permukaan tanah sampai munculnya bunga pertama. Pada saat perkecambahan dicirikan dengan adanya kotiledon. Stadia vegetatif dihitung dari jumlah buku yang terbentuk pada batang utama, umumnya dimulai pada buku/ruas yang ketiga pada batang utama.

(45)

20

fase pertumbuhan ini sangat ditentukan oleh faktor lingkungan dan bawaan (Humphries dan Wheeler, 1963 dalam Gardner, et al., 1985).

2.8Taksonomi Tanaman Kedelai

Pada awalnya, kedelai di kenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja max, namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merril. Menurut Cronquist (1981) dan APG II (2003) klasifikasi tanaman kedelai sebagai berikut: Kerajaan : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida

Bangsa : Fabales

Suku : Fabaceae

Marga : Glycine

Jenis : Glycine max (L.) Merril.

2.9 Biologi Tanaman Kedelai

(46)

akan tumbuh bintil-bintil akar yang berisi Rhizobium japonicum yang dapat mengikat nitrogen dari atmosfer. Jumlah polong kedelai biasanya mencapai 1-5 biji, di Indonesia umumnya berbiji 2 per polong. Tanaman ini merupakan tanaman berumur pendek dengan umur 90 hari (Ketaren, 1986).

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) bukan merupakan tanaman asli Indonesia, tanaman ini berasal dari kedelai liar China, Manchuria dan Korea. Rhumphius melaporkan bahwa pada tahun 1750 kedelai penyebarannya sudah mulai memasuki wilayah Indonesia dan dikenal sebagai bahan makanan dan pupuk hijau (Suprapto, 1993).

Masyarakat pada umumnya lebih mengenal tanaman kedelai melalui beberapa bentuk olahan pangan seperti tempe, tauco, kecap dan susu kedelai yang merupakan sumber protein utama bagi kebutuhan hidup sehari-hari.

(47)

22

[image:47.612.130.462.172.706.2]

Menurut Mateos-Aparicio et al., (2008), kandungan gizi kedelai dalam 100 g kedelai kering dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan gizi dalam 100 gram kedelai kering

Zat gizi Jumlah

Karbohidrat kompleks (g) 21

Karbohidrat sederhana (g) 9

Stakiosa (mg) 3300

Rafinosa (mg) 1600

Protein (g) 36

Lemak total (g) 19

Lemak jenuh (g) 2,8

Monounsaturated (g) 4,4

Polyunsaturated (g) 11,2

Serat tidak larut (g) 10

Serat larut (g) 7

Kalsium (mg) 276

(48)

Kalium (mg) 1,797

Fe (mg) 16

Zn (mg) 4,8

Struktur akar tanaman kedelai terdiri dari akar tunggang, akar lembaga dan akar cabang berupa akar rambut. Kedalaman yang dapat ditembus oleh akar pada tanaman kedelai bisa mencapai 150 cm. Akar tanaman kedelai memiliki

kemampuan membentuk bintil-bintil akar yang merupakan kumpulan dari bakteri Rhizobium japonicum. Bakteri ini berfungsi untuk menambat nitrogen bebas yang terdapat diudara yang dapat digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman kedelai. Dari proses tersebut Rhizobium japonicum mendapatkan makanan dari tanaman kedelai sehingga terjalin simbiosis yang saling

menguntungkan antara Rhizobium dan akar tanaman kedelai (Rukmana, 1996).

(49)
[image:49.612.282.516.82.263.2]

24

Gambar 1. Tanaman Kedelai (Dokumentasi Pribadi, 2017)

Bunga pada tanaman kedelai umumnya mulai tumbuh pada usia 30-35 hari setelah tanam. Faktor yang mempengaruhi usia munculnya bunga pada tanaman kedelai yaitu tergantung pada varietas kedelai, pengaruh suhu dan penyinaran. Penyinaran yang optimum pada tanaman kedelai tidak lebih dari 12 jam per hari. Buah kedelai biasa disebut buah polong sama halnya dengan kacang-kacangan jenis lainnya yang tersusun dalam rangkaian buah. Jika buah polong telah matang dan tua maka akan berwarna coklat tua, coklat muda atau kehitam-hitaman. Tiap buah polong berisi 1-5 biji namun jika ditanam pada tanah yang subur maka akan menghasilkan antara 100-200 polong per pohon (Suhaeni, 2007).

Buah/Polong

(50)

Biji kedelai biasanya berbentuk bulat atau bulat pipih hingga bulat lonjong. Warna kulit pada tanaman kedelai bermacam-macam misalnya kuning, hijau, coklat dan hitam. Ukuran biji berkisar antara 6-30 gram/100 biji. Biji kedelai dapat dijadikan sebagai alat perbanyakan tanaman secara generatif (Cahyono, 2007).

2.10 Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai

Tanaman kedelai termasuk tanaman C3 yang mempunyai tingkat kejenuhan cahaya lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman C4. Tanaman ini dapat dikembangkan walaupun pada keadaan intensitas cahaya yang rendah seperti tumpangsari, baik dengan tanaman pangan seperti ubi kayu, jagung maupun dengan tanaman perkebunan terutama dibawah tanaman perkebunan yang masih muda. Lahan perkebunan juga dapat dimanfaatkan sebagai lahan pangan, sebelum tanaman berproduksi yaitu tidak lebih dari 3 tahun (Sundari et al., 2005).

Tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 50 hingga 150 m di atas permukaan laut. Tanaman kedelai dapat tumbuh pada kisaran pH 5,5 sampai 6 (Sumarno dan Harnoto, 1993). Pada umumnya, suhu yang paling cocok bagi tanaman kedelai adalah daerah yang memiliki suhu sekitar 250C-280C,

(51)

26

Ketersediaan air selama masa pertumbuhan sangat menentukan hasil produksi kedelai. Jika terjadi cekaman kekeringan selama periode pembungaan dan pengisian polong, hasil produksi kedelai akan mengalami penurunan (Jackson, 2000).

Curah hujan juga mempengaruhi dalam menjaga kondisi yang seimbang antara suhu udara dengan kelembapan pada tanaman kedelai. Tanaman kedelai

memerlukan suhu udara dan kelembapan yang rendah, namun apabila suhu udara rendah dan kelembapan yang berlebihan makan akan menyebabkan kualitas kedelai menurun (Suprapti, 2005).

Pada saat usia tanaman kedelai masih muda iklim yang sesuai adalah iklim basah, ketika memasuki usia mencapai panen iklim yang diperlukan adalah iklim kering. Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik, tanaman kedelai

memerlukan suhu yang panas. Jika iklim terlalu basah, kedelai akan tumbuh subur tetapi hasil produksi bijinya akan berkurang (Suhaeni, 2007).

2.11Tanah

(52)

dalam sistem perakaran serta memiliki fungsi sebagai reservoir udara, air dan nutrien yang juga penting bagi pertumbuhan tanaman (Rao, 1994 dalam Kurniawan 2009).

Tanaman kedelai memiliki daya beradaptasi yang luas terhadap beragam jenis tanah. Tanaman kedelai dapat tumbuh pada beragam jenis tanah pada drainase dan aerasi tanah yang cukup baik. Jika diterapkan di lahan yang sering

(53)

28

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2017 di green house Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan

Alat- alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, sekop, penggaris, oven, spektrofotometer, timbangan digital, timbangan duduk, ayakan, mortar dan penggerus, tabung reaksi dan rak tabung reaksi, gelas ukur, corong, pipet tetes, cutter dan kamera.

(54)

furadan 3 GR dengan bahan aktif karbofuran 3%, label, karung, tisu, karet, plastik dan kertas saring.

3.3 RancanganPercobaan

Penelitian ini dilaksanakan dalam Rancangan Acak Lengkap. Faktor utama adalah pemupukan dengan 9 taraf dosis :

1. Kontrol 7.Selulolitik10%Ligninolitik20%

2. Selulolitik10% 8. Selulolitik20%Ligninolitik10% 3. Selulolitik20% 9.Seluloltik20%Ligninolitik20% 4. Ligninolitik10%

5. Ligninolitik20%

6. Selulolitik10%Ligninolitik10%

Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga jumlah satuan percobaannya adalah 27 kali. Notasi perlakuan dan ulangan ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Notasi perlakuan dan ulangan

Perlakuan

K S1 S2 L1 L2 S1L1 S1L2 S2L1 S2L2

u1 u1 u1 u1 u1 u1 u1 u1 u1

u2 u2 u2 u2 u2 u2 u2 u2 u2

u3 u3 u3 u3 u3 u3 u3 u3 u3

Keterangan :

(55)

30

3.4 Variabel dan Parameter

Variabel dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman, berat kering, berat segar, kadar air relatif, rasio tunas akar dan kandungan klorofil a, b dan total.

Parameter dalam penelitian ini adalah nilai tengah (µ) semua variabel.

3.5 Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian meliputi beberapa langkah sebagai berikut : 3.5.1 Persiapan Media Tumbuh

Tanah yang telah dipilih sebagai media tumbuh dibersihkan dan diayak sampai halus. Tanah yang telah diayak tadi kemudian dicampur dengan furadan sebanyak 216 gr/lubang (dosis sesuai dengan yang tertera

[image:55.612.165.463.568.674.2]

dikemasan) lalu ditimbang dan ditambahkan kompos sesuai dengan dosis pemupukan. Selanjutnya tanah dan kompos dicampur hingga merata. Campuran tanah dan kompos sebanyak 1 kg dimasukkan pada setiap polybag. Komposisi pupuk dan tanah dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Komposisi pupuk dan tanah

∑ P. Selulolitik

(gram)

∑ P. Ligninolitik

(gram)

∑ Tanah

(gram)

(56)

0 100 900

0 200 800

100 0 900

100 100 800

100 200 700

200 0 800

200 100 700

200 200 600

3.5.2 Penanaman Benih Kedelai

(57)

32

3.5.3 Penyusunan Satuan Percobaan

[image:57.612.103.536.625.707.2]

Berdasarkan satuan percobaan maka jumlah polybag yang digunakan sebagai wadah untuk pertumbuhan tanaman kedelai adalah sebanyak 27 buah atau 1 plot. Pada penelitian ini dibuat 4 plot percobaan dimana 1 plot tanaman kedelai digunakan untuk menghitung tinggi tanaman yang diukur setiap 10, 20, dan 30 HST sedangkan 3 plot tanaman kedelai dicabut setiap 10, 20, 30 HST untuk menghitung berat kering, berat segar, kadar air relatif, rasio tunas akar dan kandungan klorofil a, b dan total. Sehingga jumlah keseluruhan polybag yaitu 108 buah. Polybag diberi label dengan notasi dan ulangan. Setiap polybag diisi dengan tanah dan kompos yang telah tercampur rata dengan dosis yang telah ditentukan sebanyak 1 kg. Kemudian benih tanaman kedelai dimasukkan kedalam polybag dengan kedalaman lubang sekitar 2-3 cm sebanyak 2 butir untuk setiap lubang. Setelah itu, lubang ditutup kembali dengan menggunakan tanah. Proses penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari saat usia tanaman belum mencapai 10 hari, setelah berusia 10 hari penyiraman dilakukan setiap 2 hari sekali yaitu pada pagi hari saja. Tata letak persatuan percobaan setelah pengacakan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4. Tata letak satuan percobaan

(58)

3.5.4 Perawatan Tanaman Kedelai

Perawatan yang dilakukan meliputi : penyiraman rutin dengan air secukupnya, penyiangan terhadap rumput maupun gulma yang dapat tumbuh didalam petak percobaan dengan cara mencabut, pengendalian hama apabila terdapat hama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

3.5.5 Pemanenan

Pemanenan tanaman kedelai pertama dilakukan setelah lebih kurang 10 HST (Hidayati, 2012). Pemanenan dilakukan setiap 10, 20, 30 HST atau sampai pertumbuhan vegetatif saja untuk mengukur berat segar tanaman, berat segar tanaman, kadar air relatif, rasio tunas akar dan kandungan klorofil a, b dan total (hanya 3 plot saja). Untuk tinggi tanaman tidak dilakukan pemanenan atau pencabutan (1 plot yang tersisa). Biasanya bunga pada tanaman kedelai muncul saat usia 30 -35 HST.

3.5.6 Pengamatan Parameter

(59)

34

dengan mengambil/mencabut satu tanaman dari setiap satuan percobaan termasuk kontrol. Adapun parameter yang diamati meliputi :

3.5.6.1 Tinggi Tanaman

Menurut Suryanegara (2010), pengukuran tinggi tanaman

dilakukan dari permukaan tanah yaitu dari pangkal batang sampai ujung tanaman dengan menggunakan penggaris (cm).

3.5.6.2 Berat Segar Tanaman

Menurut Sitompul dan Guritno (1995), pengukuran berat segar dilakukan dengan mencabut seluruh bagian tanaman meliputi akar, batang dan daun. Lalu dibersihkan dari tanah dan ditimbang dengan neraca digital yang dinyatakan dalam gram (gr).

3.5.6.3 Berat Kering Tanaman

Pengukuran berat kering dilakukan dengan dikeringkan menggunakan oven pada temperatur 105-110oC selama 2 jam untuk menghilangkan kadar air dalam tanaman dan ditimbang dalam satuan gram (gr).

3.5.6.4 Kadar Air Relatif

(60)

kadar air relatif × 100%

Keterangan :

M1 = Berat segar tanaman M2 = Berat kering tanaman

3.5.6.5 Rasio Tunas Akar

Rasio tunas akar (Yuliana et al., 2013) ditentukan dengan membagi berat tunas dengan berat akar dan dinyatakan dalam bentuk gram (gr).

Rasio tunas akar = Berat tunas

Berat akar

3.5.6.6 Kandungan Klorofil (a, b dan total)

Menurut Miazek (2002), 1 gram daun kedelai digerus sampai halus dengan mortar, kemudian ditambahkan 5 ml etanol 96%. Ekstrak disaring lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi. Ekstrak klorofil diukur absorbansinya pada panjang gelombang 649 dan 665 nm. Kandungan klorofil dinyatakan dalam miligram per gram jaringan (mg/gr jaringan) dan dihitung dalam persamaan berikut : Chla = 13.36 A665 – 5.19 A649( )

(61)

36

Chltotal =22.24 A649 – 5.24 A665( )

Keterangan :

Chla = Klorofil a Chlb = Klorofil b Chltotal = Klorofil total

A649 = Absorbansi pada panjang gelombang 649 nm A665 = Absorbansi pada panjang gelombang 665 nm V = Volume etanol

W = Berat daun

3.5.7 Analisis Data

(62)

V. KESIMPULAN

5.1SIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian kompos terinduksi inokulum fungi selulolitik (Aspergillus fumigatus) dan fungi ligninolitik (Geotrichum sp.) dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) yang meliputi tinggi tanaman, berat segar tanaman, berat kering tanaman, kadar air relatif dan rasio tunas akar kecuali untuk kandungan klorofil a, b dan total yang memberikan pengaruh namun tidak nyata.

5.2 SARAN

(63)

68

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, J.S. 2005.Peranan bahan organik dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas lahan pertanian. Dalam materi workshop dan kongres nasional II maporina. Sekretariat Maporina, Jakarta (Tidak dipublikasikan).

Anggorodi, R.1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta. A.P.G. (Angiosperm Phylogeny Group). 2003. An Update of The Angiospermae

Phylogeny Group Classification of The Others and Families of Flowering Plants : APG II. Botanical Journal of The Linnean Society. 141:399-436 hlm. Badan Pusat Statistik Tanaman Pangan. 2017. www.bps.go.id. Diakses pada 18

September 2017.

Barea, J.M., Pozo M.J., Azcon R., Azcon-Aguilar C. 2005. Mikroba Kerjasama di Rhizosfer. J. Botani Eksperimental. 56:1761-1778 hlm.

Bertham, R.Y.H. 2007. Dampak Inokulasi Ganda Fungi Mikoriza Arbuskular dan Rhizobium Indigenous pada Tiga Genotipe Kedelai di Tanah Ultisol. J. Akta Agrosia. 2:189-198 hlm.

Cahyono, B. 2007.Kedelai, Teknik Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Aneka Ilmu. Semarang.

Campbell, N.A., & Jane B.R. 2008.BIOLOGI.Jilid 2. Edisi Kedelapan. Alih bahasa : Damaring Tyas Wulandari. Erlangga. Jakarta.

(64)

Crawford, J. H. 1984.Composting of Agricultural Wastes.Di dalam. Cheremisinoff, P. N. dan R. P. Oulette (ed). 1984. Biotechnology: Application and Research. Technomic Publishing Co. Inc. USA.

Cronquist, A. 1981.An Integrated System of Clasification of Flowering Plants. Colombia University Press. New York.

Djuarnani, N., Kristiani, dan B.S. Setiawan. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia. Jakarta. 232 hlm.

Dewi dan Nanik. 2012. Pengaruh Pemberian Mikoriza Terhadap Pemberian Mikoriza. Bogor. IPB.

Firmanto, B.H. 2011.Praktis Bercocok Tanam Kedelai Secara Intensif. Penerbit Angkasa. Bandung.

Gadd, Geoffrey Michael., S.C. Walkinson dan P. Dyer. 2007. Fungi in the Environment.Cambridge University Press. New York.

Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell. 1985. Physiology of Crop Plants. Lowa State University Press. Iowa. 271-318 hlm.

Gaur, A.C. 1983.A manual of Rural Composting. Food Agriculture Organization of United Nations. Rome.

Hamdani, Ahmad. 2015. Uji Kemampuan Campuran Trichoderma sp dan Aspergillus sp Sebagai Biodekomposer Terhadap Laju Pengomposan Limbah Jerami Padi. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Handayani, A.T. 2012. Produksi Kedelai Organik berdasarkan Perbedaan Dosis Pupuk dan Fungi Mikoriza Arbuskula.Skripsi.FP. Institut Pertanian Bogor.

(65)

70

Hidayati, N. 2012. Karakteristik Morfologi Tanaman Pakan Indigofera zollingeriana pada Berbagai Taraf Stres Kekeringan dan Interval Pemangkasan. JTV. 17(4):276-283 hlm.

Humphries, E.C. and A.W. Whheeler. 1963. Ann. Rev. Plants Physiol. 14:385- 410 hlm.

Indriani, Y. H. 2002. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta. Irawan, B. & Wigianti, R. 2004.Pengujian Daya Dekomposisi Beberapa Isolat

Mikrofungi Tanah dari Perkebunan Kelapa Sawit, Natar, Lampung Selatan.J. Sains Tek. 10(3):151-156 hlm.

Irawan, B. 2014.Dekomposisi Bahan Organik oleh Fungi Saprotrof dan Preparasi Konsorsium Fungi sebagai Inokulum Perombakan Seresah. Disertasi.Fakultas biologi.UGM.

Irawan, Bambang., R.S. Kasiamdari., B.H. Sunarminto dan E. Sutariningsih. 2014. Preparation Of Fungal Inoculum For Leaf Litter Composting From

Selected Fungi.Journal of Agricultural and Biological Science. Vol 9 (3): 89-94 hlm.

Isroi, 2006.Pengomposan Limbah Padat Organik. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bogor.

Isroi. 2009. Pemanfaatan Jerami Padi sebagai Pupuk Organik In Situ untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia dan Subsidi Pupuk dalam Makalah.Fakultas Pertanian : UGM. Yogyakarta.

Iwan, S. 2015. Penambahan Inokulan Mikroba Selulolitik pada Pengomposan Jerami Padi untuk Media Tanam Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). J. Biologi Indonesia. 11 (2): 187-193 hlm.

Jackson, I. J. 2000. Climate, Water and Agriculture in the tropics.Longman. London.

(66)

Kasno, A, Trustinah, J. Purnomo dan N. Nugraheni. 2006. Seleksi Simultan Beberapa Karakter Pada Populasi Galur Homosigot Kacang Tanah. Dalam Prosiding Peningkataan Produksi Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian Mendukung Kemandirian Pangan.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Knabner, Ingrid K. 2002. The Macromoleculer Organic Composition Of Plant and Microbial Residues as Inputs to Soil Organic Mater.Journal of Soil

Biology & Biochemistry. 34:139-162 hlm.

Koswara, S. 2006. Isoflavon, senyawa Multi-Manfaat dalam Kedelai. http://ebookpangan.com. [ 19 September 2017].

Kurniawan. 2009. Studi Aplikasi Biomassa Fungi (Kompos) terhadap

Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung(Zea mays L.).Skripsi.FMIPA. Universitas lampung.

Lankinen, P. 2004. Ligninolytic Enzymes of The Basidiomycetous Fungi Agaricus bisporus and Phlebia radiata on Lignocellulose-Containing Media.Dissertation.University of Helsinki. Finland.

Larasati, K., Rodesia Mustika Roza, Atria Martina. 2014. Analisis Fisiologi Jamur Ligninolitik dan Selulolitik Asal Tanah Gambut Desa Rimbo Panjang Kabupaten Kampar Sebagai Agen Biokompos. JOM FMIPA. 1(2).590-598 hlm.

Mateo-Aparicio, I.,Cuenca, A.R., Villanueva-Suarez, M.J., & Zapata-Revilla, M.A. 2008.Soybean, a Promising Health Source. J. Nutr. Hosp. 23(4) : 305-312 hlm.

Miazek, Mgr in. Krystian.Chlorophyll extraction from harvested plant material. Supervisor : Prof. Dr hab. In. Stanislaw Ledakowicz.

(67)

72

Nio Song Ai dan Yunia Banyo. 2014. Konsentrasi Klorofil Daun Sebagai Indikator Kekurangan Air Pada Tanaman. Universitas Sam Ratulangi. Manado.

Nyak pa, M.Y., Lubis, A.M., Pulung, M.A., Amran, A.G., Munawar, A ., Go, Ban Hong dan Hakim, N. 1998.Kesuburan tanah. (University of Kentucky) WUAE Project. Bandar Lampung.735 hlm.

Oktaviani, D., Yaya Hasanah, Asil Barus. 2014. Pertumbuhan Kedelai (Glycine max L.) dengan Aplikas Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dan

Konsorsium Mikroba. J. Online Agroteknologi. 2(2) : 905-918 hlm. Penning de Vries, F.W.T., D.M. Jansen, H.F.M ten Berge, and A.Bokema. 1989.

Simulation of ecophysiological processes ofgrowth in several annual crops. Pudoc.Wageningen.theNetherland. 1-29 hlm.

Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi Kedua.Universitas Indonesia Press. Jakarta. 167 hlm.

Rohmah, E.A., dan T. B. Saputro. 2016. Analisis Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max L.) Varietas Grobogan Pada Kondisi Cekaman Genangan. J. Sains dan Seni. 5(2) : 2337-3520 hlm.

Rukmana, S. K. dan Y. Yuniarsih. 1996. Kedelai, Budidaya Pasca Panen. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.92 hlm.

Setyorini, D., Saraswati, R., Anwar, Ea Kosman. 2006. Kompos dalam Pupuk Organik dan Hayati.BBSDLP-Badan Litbang Pertanian.

Shaukat, K., Affrasayah S., Hasnain S. 2006. Growth responses ofHellianthus annuus to plant growth promoting rhizobacteria used asbiofertilizer. J Agric Res. 1(6): 573-581 hlm.

Sitompul, S.M., dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah mada Univesity Press. Yogyakarta.

Suberkropp, K. 1997. Annual production of leaf-decaying fungi in a woodland stream. Freshwater biology.38:169 – 178 hlm.

(68)

Sumardi. 1992. Pupuk dan pemupukan. Metro Putra. Jakarta. 96 hlm.

Sumarno dan Harnoto. 1993. Pedoman Bercocok Tanam Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Sundari. 2005. Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merril)). Nuansa. Bandung.

Supari, D. 1999. Tuntunan Membangun Agribisnis Edisi pertama. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Suprapti, M. 2005. Kedelai Tradisional.Kanisius. Jogjakarta. Suprapto, H.S. 1993. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suprianto, E. 1998.Evaluasi beberapa varietas dan galur padi pada kondisi kekeringan. Skripsi.IPB.Bogor.

Suryanegara. 2010. Pengaruh Pengaturan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Panjang (Vigna sinesis). Jurusan Pendidikan Biologi.Universitas Pendidikan ganesha.Singaraja.

Susanti, Evi. 2008. Studi Aplikasi Inokulum Spora Isolat Fungi Pada Media Tanah Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Cabai (Capsicum annuumL.).Skripsi.Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Sutanto, R. 2005. Penerapan Pertanian Organik. Penebar Swadaya. Jakarta. Suwahyono. 2003. Trichoderma harzianum Indigeneous Untuk Pengendalian

Hayati.Studi Dasar Menuju Komersialissi dalam Panduan Seminar Biologi. Fakultas Biologi : UGM. Yogyakarta.

Tang, J.C., Inoue, Y., Yasuta, T., Yoshida, S., Katayama, A. 2003.Chemical and microbial properties of various compost products.Soil Sci. Plant Nutr. 49. 273–280 hlm.

(69)

74

Basidiomisetes from soil.Applied and Enviromental Microbiology 62: 4288-4292 hlm.

Tremier, A., de Guardia, A., Massiani, C., Paul, E., Martel, J.L. 2005.A respirometric method for characterising the organic composition and

biodegradation kinetics and the temperature influence on the biodegradation kinetics, for a mixture of sludge and bulking agent to be

cocomposted.Bioresour.Technol. 96.169–180 hlm.

Wei, Z., Xi, B., Zhao, Y., Wang, S., Liu, H. and Jiang, Y. 2007. Effect of inoculating microbes in municipal solid waste composting on characteristics of humic acid. Chemosph.68(2): 368-374 hlm.

Winarsi, H. 2010. Protein Kedelai dan KecambahManfaatnya bagi Kesehatan. Kanisius.Yogyakarta.

Xi, B. D., Zhang, G. J., & Liu, H. L.2005. Process Kinetics of Inoculation

Composting of Municipal Solid Waste.J. Hazardous Materials 124(1-3): 165-172 hlm.

Yamasaki, S., and Dillenburg, L.R. 1999. Measurement Of Leaf Relative Water Content In Angusitifolia Revista Brarileira de Fisiologis Fegetal. 11(2).69-75 hlm.

Yasyifun, Ngama. 2008. Respon Pertumbuhan, Serapan Hara dan Efisiensi Penggunaan Hara Tanaman Kedelai (Glycine max) dan Jagung (Zea mays L.) Terhadap Kompos Yang Di Perkaya Mikrob Aktivator.Skripsi.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yuleli. 2009. Penggunaan Beberapa Jenis Fungi untuk Meningkatkan

Pertumbuhan Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) di Tanah Gambut.Tesis. Universitas Sumatera Utara. Medan.

(70)

Figure

Gambar     Halaman
Tabel
Tabel 1. Kandungan gizi dalam 100 gram kedelai kering
Gambar 1. Tanaman Kedelai
+3

References

Related documents

Net Operating Costs per Unlinked passenger trip by mode compared to other peer transit agencies 10.. Fare and Revenue

Where The Contractor wishes to suspend the provision of services to ECDC because it has no services available for reasons of annual leave, the gap in service provision must be

FIGURE 2—Diesel engines like this one power an incredibly wide range of vehicles including large trucks, construction equipment, ships, and some pickup trucks.. FIGURE 3—Heavy

transportation as a result of the state illegally depriving the individual of the privilege to drive. The officer’s improper imposition of an ALS could result in a stay or perhaps

Price graduated as high school valedictorian at age 14 and left Little Rock in 1904 to attend the New England Conservatory and, after following her mother’s advice to present

The investigation of investor overconfidence in real estate markets can be conducted in four areas: aggregate overconfidence effect, the relationship between overconfidence

The present study assessed the interest of dual mobility cups in revision THA in a continuous retrospective series of uni- or bipolar revision, focusing on postoperative

With on-chip power-on reset, voltage supply monitor, watchdog timer, and clock oscillator, the EFM8BB2 devices are truly standalone system-on-a-chip solutions.. The flash memory is