ESTIMASI NILAI RIPITABILITAS DAN NILAI MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY BOBOT LAHIR SAPI PERANAKAN ONGOLE
DI DESA WAWASAN KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
(Skripsi)
Oleh
EDE SUTISNA
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
ESTIMASI NILAI RIPITABILITAS DAN NILAI MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY BOBOT LAHIR SAPI PERANAKAN ONGOLE
DI DESA WAWASAN KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
oleh Ede Sutisna
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ripitabilitas dan nilai Most Probable Producing Ability (MPPA) bobot lahir induk-induk sapi PO. Penelitian dengan metode survey dilaksanakan pada Februari—April 2019 di Desa
Wawasan, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi
Lampung. Materi yang digunakan adalah 61 ekor sapi PO betina yang melahirkan dua kali pada tahun 2015 sampai dengan 2019 dan memiliki catatan bobot lahir anaknya. Peubah yang diamati adalah recording bobot lahir dan jenis kelamin anak sapi PO dari induk-induk pada paritas pertama dan paritas kedua. Data bobot lahir dikoreksi terhadap jenis kelamin untuk menghitung estimasi nilai ripitabilitas dengan metode korelasi antarkelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir terkoreksi 25,21±1,67 kg dengan nilai ripitabilitas 0,24 dan rata-rata nilai MPPA 25,21±0,65 kg. Sebanyak 32 ekor induk (52,46 %) dapat dipilih sebagai tetua betina dalam wilayah pembiakan. Disimpulkan bahwa peningkatan mutu genetik sapi PO di Desa Wawasan, Kecamatan Tanjungsari dapat dilakukan melalui seleksi induk berdasarkan nilai MPPA bobot lahir.
ABSTRACT
ESTIMATION OF RIPITABILITY AND MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY BIRTH WEIGHT OF ONGOLE GRADE CATTLE (PO) IN WAWASAN VILAGE TANJUNGSARI DISTRICT
SOUTH LAMPUNG REGENCY by
Ede Sutisna
This study aimed to determine the value of repeatability and the value of Most Probable Producing Ability (MPPA) of birth weights of Ongole grade cattle (PO). The survey research was conducted in February—April 2019 in Wawasan
Village, Tanjungsari District, South Lampung Regency, Lampung Province. The material used was 61 female PO cattle that gave birth twice from 2015 to 2019 and had a birth weight record for their offspring. Variables observed were
recording of birth weight and sex of PO calves from the mothers in the first parity and second parity. Birth weight data were corrected for sex to calculate the estimated repeatability using interclass correlation method. The results showed that the average of corrected birth weight was 25.21 ± 1.67 kg with repeatability value of 0.24 and the average MPPA value of 25.21 ± 0.65 kg. A total of 32 dams (52.46%) can be selected as female parents in the breeding area. It was concluded that improving the genetic quality of PO cattle in Wawasan Village, Tajungsari District can be done through parent selection based on the MPPA value of birth weight.
ESTIMASI NILAI RIPITABILITAS DAN NILAI MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY BOBOT LAHIR SAPI PERANAKAN ONGOLE
DI DESA WAWASAN KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
oleh
EDE SUTISNA Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PETERNAKAN
pada
Jurusan Peternakan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Ede Sutisna lahir di Bandar Lampung pada tanggal 16 Maret 1996. Penulis merupakan putra kedelapan dari pasangan Bapak Jaya Sumpena dan Ibu Tuti Junha. Penulis menyelesaikan pendidikan SDN 1 Way Halim Permai Bandar Lampung pada 2008, SMPN 12 Bandar Lampung pada 2011, SMAN 12 Bandar Lampung pada 2014. Selanjutnya, pada 2014 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
PERSEMBAHAN
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, serta dengan kerendahan hati dan ketulusan jiwa, kupersembahkan skripsi ini kepada orang-orang yang kucintai, yang senantiasa mengisi hari-hariku saat
aku rapuh, menjagaku saat aku lemah, dan mengingatkanku saat aku terlena
Teruntuk :
Kedua orangtuaku Bapak Jaya Sumpena, Mamaku Tuti Junha, Kakak Perempuanku, Kakak Laki-lakiku, dan Keluarga Besarku serta
almamater tercinta
Terimakasih atas semua dukungannya selama ini Aku sangat menyayangi kalian semua
MOTTO
Saat anak Adam meninggal, terputus semua amalannya kecuali tiga perkara. Sedekah jariyyah, anak yang shaleh, dan ilmu yang bermanfaat.
(Hadis Riwayat Muslim)
“Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
“Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah tenang dan sabar” (Umar bin Khattab)
Dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun teruslah berbuat baik, jangan pernah
berfikir bahwa dengan berbuat baik akan membuatmu rugi, justru dengan itu
kamu akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa, Allah SWT akan selalu
membalas kebaikan yang dilakukan seseorang, untuk itu teruslah bekerja keras
dan berlomba-lombalah pada kebaikan
SANWACANA
Puji syukur berkat rahmat Allah SWT karena nikmat dan hidayah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas atas bantuan,
bimbingan, dan saran dari berbagai pihak sehingga dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si—selaku Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung;
2. Dr. Ir. Arif Qisthon, M.Si.—selaku Ketua Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung—atas persetujuan, bimbingan, dan ilmu yang diberikan kepada penulis;
3. Dr. Ir. Sulastri, M.P.—selaku dosen pembimbing akademik dan selaku Pembimbing skripsi—atas ketersediaan waktu, bimbingan, arahan, saran, kritik, dan ilmu yang diberikan kepada penulis selama masa studi;
4. M. Dima Iqbal Hamdani, S.Pt., M.P.—selaku dosen pembimbing anggota– atas ketersediaan waktu, arahan, bimbingan, saran, nasehat, dan ilmu yang diberikan kepada penulis selama ini;
6. Bapak dan ibu dosen serta staf Jurusan Peternakan, Universitas Lampung— atas ilmu yang diberikan kepada penulis yang akan menjadi bekal dan pengalaman berharga bagi penulis;
7. Bapak Suhadi, selaku ketua SPR Maju Sejahtera—atas persetujuan, fasilitas, bimbingan diberikan kepada penulis selama melaksanakan penelitian;
8. Bapak, ibu dan keluarga tercinta yang dengan sepenuh hati memberikan cinta, arahan, doa yang tak henti, motivasi baik moril maupun materil, semangat, kesabaran, perhatian, dan nasehat yang sangat berharga bagi penulis; 9. Pius Agustian sahabat perjuangan selama penelitian—atas kerja sama,
motivasi, semangat, kesabaran, persaudaraan, dan bantuan yang diberikan; 10. Sahabat-sahabat Sekret—Linda, Suci, Ncik, Revina, Irna, Ujo, Fakhri, Danu,
Yogi, Abdilah, Wayan, Rico, Rahmat dan Keluarga BesarPtk’14, Ptk’13, Ptk’15, ataskebersamaan, canda tawa, persaudaraan, saran, motivasi, kebahagiaan, dan bantuan yang diberikan selama ini.
11. Ristama Damayanti, S.Pd—sepenuh hati memberikan cinta, arahan, doa yang tak henti, motivasi baik moril maupun materil, semangat, kesabaran,
perhatian, dan nasehat yang sangat berharga bagi penulis;
Semoga pahala dari Allah SWT selalu mengiringi kebaikan-kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan banyak pihak.
Bandar Lampung, Januari 2020 Penulis
i DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL ... iii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang dan Masalah ... 1
B. Tujuan Penelitian ... 3
C. Manfaat Penelitian ... 3
D. Kerangka Pemikiran ... 3
E. Hipotesis ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Sentra Peternakan Rakyat (SPR) ... 6
B. Sapi Peranakan Ongole... 7
C. Bobot Lahir... 9
D. Nilai Ripitabilitas... 11
E. Nilai MPPA... 12
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN ... 14
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 14
B. Materi Penelitian... 14
C. Metode Penelitian ... 14
ii
E. Pengolahan Data ... 15
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 18
A. Keadaan Peternakan di Desa Wawasan... 18
B. Keadaan Umum Wilayah Sentra Peternakan Rakyat Maju Sejahtera 20 C. Bobot Lahir Sapi PO Terkoreksi di Desa Wawasan... 22
D. Nilai Ripitabilitas Bobot Lahir Sapi PO di Desa Wawasan ... 24
E. Nilai MPPA Bobot Lahir Sapi PO di Desa Wawasan ... 26
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 28
A. Kesimpulan... 28
B. Saran ... 28
DAFTAR PUSTAKA ... 29
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Hasil bobot lahir terkoreksi pedet sapi PO di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan... 22 2. Hasil nilai MPPA bobot lahir sapi PO di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Lampung Selatan... 26 3. Peringkat 5 ekor induk sapi PO betina dengan nilai MPPA Tertinggi .. 27 4. Data awal rekording sapi PO di Desa Wawasan, Kecamatan
Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan ... 33 5. Data Faktor Koreksi Jenis Kelamin sapi PO di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan ... 41 6. Bobot lahir terkoreksi pedet sapi PO di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan ... 49 7. Uji T bobot lahir terkoreksi sapi PO di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan ... 53 8. Nilai ripitabilitas bobot lahir sapi PO di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan ... 57 9. Nilai MPPA bobot lahir masing-masing sapi PO betina di
Desa Wawasan, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten
Lampung Selatan ... 61 10. Rangking MPPA bobot lahir masing-masing sapi PO betina di
Desa Wawasan, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desa Wawasan, Kecamatan Tanjungsari, Kebupaten Lampung Selatan merupakan lokasi pembibitan sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi tersebut memiliki berbagai keunggulan antara lain daya adaptasinya yang tinggi terhadap iklim tropis, tahan terhadap cuaca panas, tahan terhadap gangguan parasit seperti ganguan nyamuk dan caplak, toleran terhadap pakan yang mengandung serat kasar tinggi (Astuti, 2004). Berdasarkan keunggulan tersebut maka sapi PO perlu dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan program pemuliaan.
Upaya untuk meningkatkan produktivitas sapi potong di Desa Wawasan,
Kecamatan Tanjungsari ditempuh melalui seleksi. Kriteria seleksi yang digunakan adalah bobot lahir. Bobot lahir pedet memengaruhi performa pedet dan menjadi informasi pertama terhadap potensi perkembangan sapi (Oluwumi dan Saloko, 2010). Seleksi merupakan tindakan memilih ternak jantan atau betina yang
2
Pemilihan calon induk sapi potong dapat dilakukan berdasarkan nilai MPPA pada sifat pertumbuhan, salah satunya bobot lahir. Bobot lahir tersebut merupakan bobot lahir anak dari induk tersebut pada paritas pertama dan kedua atau paritas pertama dan paritas berikutnya. Seleksi dengan kriteria bobot lahir diharapkan memperoleh generasi keturunan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi daripada tetuanya. Bobot lahir tersebut berkorelasi secara genetik dan fenotipik dengan bobot sapih dan bobot umur satu tahun. Nilai korelasi genetik tersebut positif dan tinggi. Calon induk dengan nilai MPPA yang tinggi diharapkan menghasilkan keturunan dengan mutu genetik yang tinggi dalam sifat pertumbuhan.
Pendugaan mutu genetik calon induk berdasarkan nilai MPPA pada bobot lahir membutuhkan informasi berupa ripitabilitas bobot lahir, frekuensi beranak (paritas), rata-rata bobot lahir anak per induk dan rata-rata bobot lahir populasi. Nilai MPPA bobot lahir yang dicapai individu menunjukkan kemampuan ternak betina dalam menampilkan dan mengulang performanya serta mewariskan keunggulannya pada keturunannya (Hardjosubroto, 1994).
Pemilihan calon induk di wilayah pembibitan sapi PO di Desa Wawasan Kecamatan Tanjungsari selama ini dilakukan melalui uji performa. Pada uji performa tersebut, calon induk dipilih hanya berdasarkan catatan pertumbuhannya dan tidak melibatkan potensi genetiknya. Seleksi yang tidak didasarkan pada nilai yang melibatkan parameter genetik menghasilkan tetua yang belum tentu
3
bobot lahir. Seleksi berdasarkan nilai MPPA melibatkan parameter genetik berupa ripitabiltas.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai ripitabilitas dan nilai MPPA bobot lahir induk-induk sapi PO di Desa Wawasan, Kecamatan
Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan.
C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi dasar bagi peternak, peneliti, dan khalayak luas tentang sistem pemuliabiakan yang tepat dalam meningkatkan bobot lahir sapi PO berdasarkan nilai MPPA.
D. Kerangka Pemikiran
4
Peningkatan performa generasi keturunan sapi PO dapat dilakukan melalui seleksi pada performa kuantitatif, antara lain bobot badan pada umur tertentu. Bobot lahir merupakan salah satu performa kuantitatif yang memiliki korelasi genetik positif dengan bobot sapih. Berdasarkan adanya korelasi genetik tersebut, seleksi seringkali dilakukan menggunakan kriteria bobot lahir. Seleksi dengan kriteria bobot lahir diharapkan dapat meningkatkan pula bobot sapih generasi
keturunannya.
Bobot lahir anak sapi dari seekor induk sapi dapat diukur dari beberapa paritas (kelahiran). Berdasarkan beberapa kali pengukuran dapat diestimasi nilai ripitabilitas bobot lahir. Nilai ripitabilitas dan bobot lahir anak per induk dapat digunakan untuk menghitung nilai most probable producing ability (MPPA).
Bobot lahir sapi PO Kebumen jantan di Kebumen, Jawa Tengah paling banyak diatas 31 kg (52,55%), diikuti bobot lahir antara 26–30 kg yang mencapai 43,53%. Bobot pedet jantan kurang dari 25 kg hanya 3,92%. Bobot lahir pedet betina paling banyak (45,31 %) berkisar antara 26 dan 30 kg, diikuti bobot lahir lebih dari 31 kg (43,69 %), dan paling sedikit bobot lahir kurang dari 25 kg (11,00%). Bobot lahir sapi PO jantan 23,28 kg, dan pedet betina 19,68 kg (Subiharta dan Sudrajad, 2013).
5
Nilai ripitabilitas dapat menggambarkan proporsi keunggulan suatu sifat dari ternak sapi PO yang penting untuk diteliti sebagai upaya untuk menyeleksi sapi betina yang unggul. Keunggulan dari masing-masing ternak dapat tercermin dari nilai MPPA yang diperoleh dari nilai ripitabilitas. Nilai ripitabilitas bobot lahir sapi potong 0,20-0,30 (Hardjosubroto, 1994).
Seleksi pada sapi PO di Desa Wawasan Kecamatan Tanjungsari selama ini hanya berdasarkan uji performa dan tidak mempertimbangkan parameter genetik
sehingga keragaman genetik sapi-sapi di lokasi tersebut masih tinggi. Keragaman yang tinggi diduga menyebabkan parameter genetik performa pertumbuhan sapi PO juga masih tinggi.
E. Hipotesis
Berdasarkan uraian pada kerangka pemikiran dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Sentra Peternakan Rakyat
Sentra Peternakan Rakyat (SPR) adalah pusat pertumbuhan komoditas peternakan dalam suatu kawasan peternakan sebagai media pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Wilayah SPR menghimpun ternak milik sebagian besar peternak yang bermukim di satu desa atau lebih dan memiliki sumber daya alam berupa air dan pakan untuk mencukupi kebutuhan hidup ternak. Proses pembelajaran secara
aplikatif, partisipatif, sistematis, dan terstruktur sebagai sekolah peternakan rakyat terdapat dalam wilayah SPR. Sekolah peternakan rakyat mengajarkan pada peternak tentang cara pemberian akses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, serta
penguatan kendali produksi dan pasca produksi ternak (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2015).
7
Pihak akademisi, badan penelitian dan pengembangan, badan pengembangan sumberdaya manusia memberikan pengawalan dan pendampingan.
Pihak kementerian/lembaga terkait berupa layanan ekonomi. Pihak swasta berupa asuransi, kemitraan dan investasi (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2015).
Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu lokasi SPR untuk pengembangan sapi potong. Wilayah Tanjungsari terdiri dari delapan desa yaitu Desa Bangun Sari, Purwodadi Dalam, Sidomukti, Wawasan, Mulyosari,
Wonodadi, Kertosari, dan Malang Sari. Kecamatan Tanjungsari ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit/kawasan pusat pelestarian dan pengembangan sapi PO di Kabupaten Lampung Selatan baerdasarkan Surat Keputusan Bupati Lampung Selatan Nomor : B/54/III.10/HK/2011 tanggal 18 Februari 2011. Desa Wawasan merupakan salah satu desa yang dijadikan sentra pembibitan sapi PO di Kecamatan Tanjungsari.
B. Sapi Peranakan Ongole
Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan sapi hasil persilangan secara grading up antara sapi Ongole jantan dan sapi Jawa betina yang dibentuk pada tahun 1930. Ciri-ciri umum sapi PO menyerupai sapi Ongole tetapi postur dan produktivitasnya lebih rendah dibandingkan sapi Ongole (Hardjosubroto, 1994).
8
kekhawatiran terhadap penyakit rinderpest. Pemasukan sapi Ongole dari India dimulai lagi pada 1905. Sapi-sapi tersebut ditempatkan (dikarantina) di Pulau Sumba. Sapi Ongole ternyata dapat berkembang dengan baik di pulau tersebut sehingga Pulau Sumba menjadi wilayah sumber bibit sapi Ongole.
Sapi Ongole mulai disebarkan ke Pulau Jawa antara tahun 1915 sampai 1929 yang dikenal dengan proses“Ongolisasi”melaluiprogram “Kontrak Sumba”. Dampak negatif dari program tersebut adalah punahnya sapi Jawa dari wilayah asalnya. Hasil yang diperoleh dari program “Kontrak Sumba” adalah terbentuknya sapi PO.
Beberapa bangsa sapi lokal yang terdapat di Indonesia, antara lain sapi Bali, sapi Madura, sapi Sumba Ongole (SO), dan sapi PO. Beberapa bangsa sapi asli Indonesia yang berkembang pesat dan tetap lestari antara lain sapi Bali dan sapi Madura.
Sapi-sapi PO mewarisi performa sapi Ongole dan sapi Jawa. Postur tubuh maupun bobot badan sapi PO lebih kecil daripada sapi Ongole, punuk dan gelambirnya kecil atau tidak ada sama sekali. Warna bulu sapi PO pada umumnya berwarna putih atau putih keabu-abuan (Siregar, 2002).
Menurut Sosroamidjojo dan Soeradji (1990), karakteristik sapi PO sebagai berikut: tubuhnya berwarna putih, perawakannya besar, terdapat gumba pada pundaknya dan gelambir yang menjulur sepanjang garis bawah leher, dada sampai ke pusar. Sapi PO secara komersial dimanfaatkan sebagai ternak pedaging karena memiliki laju
9
yang baik karena tenaganya kuat, tahan lapar dan haus, tenang, dan mudah
beradaptasi dengan jenis bahan pakan yang sederhana. Priyanto (2011) menambahkan bahwa untuk mendukung swasembada daging sapi, beberapa kegiatan telah
direkomendasikan yaitu penyelamatan sapi betina produktif, tunda potong untuk mengoptimalkan bobot potong, memperpendek jarak beranak (calving interval), dan menerapkan teknologi IB.
C. Bobot Lahir
Bobot lahir merupakan hasil penimbangan ternak yang baru saja lahir sampai berumur 24 jam. Bobot lahir merupakan salah satu performa yang penting dalam pemuliaan sapi potong karena performa tersebut berkorelasi genetik secara positif dengan bobot sapih dan ukuran-ukuran tubuh saat sapih (Bakir et al., 2004). Bobot lahir pedet memengaruhi performa pedet dan menjadi informasi pertama terhadap potensi perkembangan sapi (Oluwumi dan Saloko, 2010).
Seleksi dengan kriteria pada bobot lahir diharapkan menghasilkan peningkatan pada performa pertumbuhan terutama pertumbuhan saat sapih. Bobot lahir pedet menjadi sifat yang utama karena berhubungan dengan distokia (Nelsen et al., 1986),
10
Bobot lahir, pertumbuhan prasapih, dan bobot sapih dipengaruhi oleh faktor genetik dengan nilai heritabilitas secara berurutan sebesar 0,40;0,30; dan 0,30. Faktor non genetik yang memengaruhi performa pertumbuhan prasapih antara lain mothering
ability, produksi susu induk, iklim (musim), dan manajemen pemeliharaan yaitu
masing masing sebesar 0,60; 0,70; dan 0,70 (Barker et al.,1975). Frame size atau ukuran tubuh sapi dan bobot badan mempunyai pengaruh yang nyata pada bobot lahir pedet sapi pada paritas pertama (Wyatt et al., 2004).
Beberapa peneliti memiliki pendapat yang berbeda tentang hubungan antara bobot badan induk dengan bobot lahir anak. Bobot badan induk dan bobot lahir pedet tidak selalu berhubungan signifikan. Bobot badan induk yang tinggi tidak selalu
11
mencapai 50%. Rendahnya jumlah pedet yang dihasilkan disebabkan jumlah pedet yang mampu bertahan hidup rendah sehubungan dengan rendahnya bobot lahir pedet.
D. Nilai Ripitabilitas
Ripitabilitas (angka pengulangan) didefinisikan sebagai korelasi fenotip antara performa sekarang dengan performa-performa di masa mendatang pada suatu individu (Hardjosubroto, 1994). Konsep angka pengulangan ini berguna untuk sifat-sifat yang muncul beberapa kali dalam kehidupan ternak seperti produksi susu, bobot lahir, produksi wol, jumlah anak sekelahiran, dan bobot sapih. Ripitabilitas
merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang diulang setiap kali pada ternak tersebut selama hidupnya. Ripitabilitas suatu sifat berguna dalam memperkirakan
produktivitas pada masa mendatang dari ternak yang telah mempunyai satu atau lebih catatan produksinya (Warwick et al., 1990). Demikian pula nilai ripitabilitas bobot lahir, bobot sapih, dan bobot 1 tahun sapi Bali di BPTU HPT Denpasar berturut-turut yaitu 0,99±0,001; 0,98±0,006 dan 0,97±0,009 (Setiyabudi et al., 2016). Kress dan Bufening (1972) melaporkan nilai ripitabilitas sapi Hereford yaitu 0,27±0,02 termasuk dalam kategori sedang.
12
sama dengan lingkungan pada pengamatan berikutnya. Sulastri dan Dakhlan (2002) berpendapat bahwa nilai ripitabilitas juga berguna untuk meramal performa individu yang akan datang berdasarkan produksi sekarang.
Nilai ripitabilitas dapat diestimasi dengan menggunakan dua metode. Metode korelasi antarkelas (interclass correlation) digunakan apabila terdapat dua catatan pada setiap individu. Metode korelasi dalam kelas (intraclass correlation) digunakan apabila terdapat lebih dari dua pengukuran (catatan) tiap individu. Korelasi dalam kelas merupakan ukuran korelasi keseluruhan antara semua pasangan yang
dimungkinkan dan merupakan rata-rata kemungkinan korelasi antarkelas (Warwick
et al., 1990).
Sulastri dan Dakhlan (2002) dan Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa nilai ripitabilitas dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu rendah apabila nilainya 0,0—0,2; sedang apabila nilainya 0,2—0,4; dan tinggi apabila nilainya lebih dari 0,4. Besarnya nilai ripitabilitas dari populasi ke populasi atau dari waktu ke waktu tidak tetap dan dapat bervariasi. Lee et al. (2015) menyatakan bahwa nilai ripitabilitas yang bervariasi dapat disebabkan oleh lama studi, jumlah data yang dianalisis, dan model yang digunakan. Menurut Bourdon (2000), nilai ripitabilitas mendekati 1
13
E. Nilai MPPA ( Most Probable Producing Ability )
Nilai MPPA ( Most Probable Producing Ability ) adalah suatu pendugaan secara maksimum dari kemampuan berproduksi seekor hewan betina, yang diperhitungkan atau diduga atas dasar catatan performa yang sudah ada. Berdasarkan nilai MPPA dapat dipilih betina yang produktivitasnya tinggi untuk menghasilkan keturunan yang berpotensi tinggi dalam produksi (Hardjosubroto, 1994). Menurut Warwick et al. (1990), individu dengan nilai MPPA yang tinggi menunjukkan bahwa individu tersebut pada masa yang akan datang juga berproduksi tinggi.
14
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada mulai Februari sampai dengan April 2019 di Desa
Wawasan, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
B. Materi Penelitian
Materi penelitian yang digunakan terdiri dari 61 ekor sapi, rekording kelahiran, umur
induk pada waktu melahirkan, bobot lahir, dan jenis kelamin pedet.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei. Metode sensus dilakukan dalam
penentuan sampel pengamatan yaitu dengan mengamati seluruh sapi yang memenuhi
kriteria. Batasan yang digunakan dalam penentuan sampel yaitu:
1. Lokasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu Desa Wawasan, Kecamatan
Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan;
2. Sapi yang digunakan yaitu sapi PO betina;
15
4. Sapi betina induk PO yang digunakan memiliki data rekording dan telah
melahirkan minimal dua kali;
5. Pedet yang digunakan memiliki data rekording kelahiran.
Penelitian dilakukan melalui prosedur sebagai berikut :
1. Melakukan prasurvei ke Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan;
2. Menentukan sampel sapi PO yang akan diamati;
3. Melakukan pengambilan data;
4. Melakukan tabulasi dan pengolahan data;
5. Melakukan analisis data.
D. Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati sebagai berikut:
1. Bobot lahir pedet
Bobot lahir (kg) diperoleh dari catatan hasil penimbangan pedet setelah dilahirkan.
2. Jenis kelamin pedet
Jenis kelamin pedet jantan dan betina digunakan sebagai faktor koreksi jenis
kelamin untuk penyesuaian data bobot lahir.
E.Pengolahan Data
1. Faktor Koreksi Jenis Kelamin (FKJK)
Data yang diperoleh dilakukan penyesuaian (koreksi) terhadap faktor koreksi jenis
16 betina X jantan X FKJK Keterangan: jantan
X = Rata-rata bobot lahir pedet jantan,
betina
X = Rata-rata bobot lahir pedet betina
Nilai FKJK untuk individu betina bervariasi sedangkan pada individu jantan sebesar
1,00 karena penyesuaian dilakukan terhadap ternak jantan.
2. Ripitabilitas
Ripitabilitas dihitung dengan rumus sesuai rekomendasi Hardjosubroto (1994)
) n ) Y ( Y )( n ) X ( X ( n Y) )( X ( XY y x xy 2 2 2 2 2 2 r Keterangan:r = nilai ripitabilitas
X = bobot lahir pedet kelahiran I Y = bobot lahir pedet kelahiran II n = jumlah induk
3. Bobot Lahir Terkoreksi
Bobot lahir yang diperoleh terlebih dahulu dikoreksi. Menurut Hardjosubroto (1994),
17
BLT = BLN x FKJK
Keterangan:
BLT = bobot lahir terkoreksi;
BLN = bobot lahir hasil penimbangan FKJK = faktor koreksi jenis kelamin
4. MPPA
Nilai MPPA bobot sapih dihitung dengan rumus sesuai rekomendasi Hardjosubroto
(1994) sebagai berikut:
MPPA=
( - ) +
Keterangan:
MPPA = nilai pemuliaan bobot lahir n = frekuensi melahirkan r = ripitabilitas bobot lahir
= rata-rata bobot lahir pedet per induk (kg)
= rata-rata bobot lahir populasi pedet (kg).
Nilai MPPA bobot lahir yang diperoleh selanjutnya dihitung rata-ratanya.
Induk-induk dengan nilai MPPA bobot lahir lebih tinggi dari pada rata-rata dihitung dalam
persen, demikian pula induk-induk dengan nilai MPPA bobot lahir lebih rendah dari
pada rata-rata dihitung. Induk-induk dengan nilai MPPA bobot lahir lebih tinggi dari
pada rata-rata dinyatakan sebagai induk yang layak dipertahankan sebagai tetua
dalam populasi. Induk-induk yang memiliki nilai MPPA bobot lahir di bawah
28
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diperoleh kesimpulkan sebagai berikut :
1. Nilai ripitabilitas yang diperoleh tergolong dalam kategori sedang yaitu sebesar 0,24.
2. Nilai rata-rata MPPA yang diperoleh 25,21±0,65 dengan rincian sebesar 52,46% di atas rata-rata dan 47,54% di bawah rata-rata.
B. Saran
29
DAFTAR PUSTAKA
Adinata, Y. 2013. Estimasi Nilai Pemuliaan Bobot Lahir Sapi Peranakan Ongole pada Unit Pengelolaan Bibit Sumber di Loka Penelitian Sapi Potong. Prosiding. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Lampung.
Astuti, J.M. 2004. Potensi dan Keragaman Sumberdaya Genetik Sapi Peranakan Ongole (PO). Yogyakarta: Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada.
Bakir, G., A. H. Kaygisiz., and Ulker. 2004. Estimates of genetic and phenotypic parameters for birth weight in Holstein Friesian Cattle Pakistan. J. Biol.
Sci. (7): 1221—1224.
Barker, J. S. P., D. J. Brett, D.F. Frederick and L.J.L Ambourn.1975. A Course Manual in Tropical Beff Cattle Production. A.A.U.S.S.
Bellows. R. A, Genho. P.C, Moore. S.A, and Chase Jr. C.C. 1996. Factors affecting dystocia in brahman-cross heifers in subtropical southeastern united states. J. Anim. Sci. (74): 1451—1456.
Bourdon, R.M. 2000. Understanding Animal Breeding. Prentice Hall. Inc. New Jersey.
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Kebumen. 2010. Laporan Tahunan. Dinas Peperla Kabupaten Kebumen.
Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015. Pedoman Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Jakarta.
Guiturres, J.P., F. Goyache, I. Fernández , I.Alvarez and L.J. Royo. 2007. Genetic relationship among calving ease, calving interval, birth weight, and weaning weight in the asturiana de los valles beef cattle breed. J. Anim.
Sci. (85): 67—75.
30
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT Gramedia Widiasarana. Jakarta.
______________ 2004. Alternatif Kebijakan Pengelolaan Berkelanjutan
Sumberdaya Genetik Sapi Potong Lokal dalam Sistem Perbibitan Ternak Nasional. Jakarta.
Hartati dan D. M. Dikman. 2007. Performans Pedet Sapi Peranakan Ongole (PO) pada Kondisi Pakan Low External Input. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Grati Pasuruan, Loka Penelitian Sapi Potong. Kress, D. D. and P. J. Bufening. 1972. Weaning weight related to subsequent most
probable producing ability in herford cows. J. Anim. Sci. (35): 327—335. Lee J.H., Song K.D., Lee H.K., Cho K.H., Park H.C., and Park K.D. 2015.
Genetic parameters of reproductive and meat quality traits in korean berkshire pigs Asianaustralasian. J. Anim. Sci. 28(10): 1393.
Nelson, T.C., R.C. Short., J.J. Urick., and W.L. Reynolds. 1986. Heritabilities and genetic correlation of growth and reproductive measurenment in hereford bulls. J. Anim. Sci. (63): 409—417.
Neser, F. W. C., J. B. van Wyk, M. D. Fair, P. Lubout., and B. J. Crook. 2012. Estimation of genetic parameters for growth traits in brangus cattle. J.
Anim. Sci. (42): 469—473.
Oluwumi, S. O. dan A. E. Saloko. 2010. Genetic Parameters and Factors Affecting Reproductive Performans of White Fulani Cattle in South Western Nigeria. Global Veterinaria.
Pattie, W.A dan J.W. James. 1985. Principles of Applied Animal Breeding. Departemen of Animal Production University of Queensland. Australia. Prihandini, P.W., L. Hakim., V.M.A. Nurgiartiningsih. 2011. Seleksi pejantan
berdasarkan nilai pemuliaan pada sapi PO di Loka Penelitian Sapi Potong. Jurnal Ternak Tropika (13): 9—18.
Priyanto, D. 2011. Strategi pengembangan usaha ternak sapi potong dalam mendukung program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014.
Jurnal Litbang Pertanian 30 (3): 108—116.
Putra, W. P. B., Sumadi dan T. Hartatik. 2015. Seleksi Induk sapi aceh dengan metode indeks seleksi (is) dan ilmu pemuliaan (ip). Jurnal Peterrnakan
Sriwijaya 4(1): 1—10.
Setiyabudi, R.J.W., Muladno dan R. Priyanto. 2016. Pendugaan parameter genetik sifat pertumbuhan sapi bali di BPTU HPT Denpasar. Jurnal Ilmu
31
Siregar SB,. 1999. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta. _________. 2002. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sosroamidjojo, M. S. dan Soeradji. 1990. Peternakan Umum Cetakan ke-10. CV. Yasaguna. Jakarta.
Subiharta dan P. Sudrajad. 2013. Keragaan Bobot Lahir Pedet Sapi (Peranakan Ongole/PO) Kebumen dan Potensinya sebagai Sumber Bibit Sapi PO yang Berkualitas. Prosiding. Seminar Nasional Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo, Madura.
Suhada, H., Sumadi, dan N. Ngadiyono. 2009. Estimasi Parameter Genetik Sifat Produksi Sapi Simmental di Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Potong Padang Mengatas, Sumatera Barat. Buletin Peternakan.
Sulastri dan A. Dakhlan. 2002. Dasar Pemuliaan Ternak. Buku Ajar. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Wahyudi, L., T. Susilawati, dan S. Wahyuningsih. 2013. Tampilan produksi sapi perah pada berbagai paritas di Desa Kemiri Kecamatan Jabung
Kabupaten Malang. Jurnal Ternak Tropika 14(2): 13—22.
Wardoyo dan A. Risdianto. 2011. Studi manajemen pembibitan dan pakan sapi peranakan ongole Loka Penelitian Sapi Potong Grati Pasuruan. Jurnal
Ternak 02(01): 2086—5201.
Warwick, E. J., M. Astuti., dan W. Hardjosubroto. 1990. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wijono, D.B., Hartatik, dan E. Mariyono. 2006. Korelasi Bobot Sapih terhadap Bobot Sapih dan Bobot Hidup 365 Hari pada Sapi Peranakan Ongole. Prosiding. Seminar Nasional Teknologi dan Veteriner.