• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
74
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

SIKAP DAN PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP MI INSTAN DI KECAMATAN ABUNG SEMULI KABUPATEN LAMPUNG UTARA

(Skripsi)

Oleh :

PRAMADHANA SELLYNDA

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

SIKAP DAN PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP MI INSTAN DI KECAMATAN ABUNG SEMULI KABUPATEN LAMPUNG UTARA

Oleh

Pramadhana Sellynda

Penelitiaan ini bertujuan untuk mengetahui sikap konsumen rumah tangga terhadap atribut mi instan, permintaan mi instan dan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan pada konsumen rumah tangga di Kecamatan Abung Semuli. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive). Metode sampling yang digunakan dalam penilitian adalah probability sampling dengan metode pemilihan sampel secara acak. Sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah konsumen rumah tangga yang membeli mi instan sebanyak 54 orang. Data penelitian ini dianalisis secara deskriptif, menggunakan model multiatribut Fishbein dan analisis regresi linear berganda. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah sikap konsumen lebih menyukai mi instan kuah goreng. Jumlah permintaan mi instan oleh rumah tangga adalah yang membeli kedua mi instan (kuah dan goreng) sebesar 57,41 persen dengan rata-rata pembelian 894,32 gram per bulan Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan mi instan kuah adalah harga mi instan kuah, harga mi instan goreng dan pendapatan keluarga. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan mi instan goreng adalah harga mi instan kuah, harga mi instan goreng, jarak, dan pekerjaan responden.

(3)

ABSTRACT

HOUSEHOLD ATTITUDE AND REQUEST FOR INSTANT MI IN ABUNG SEMULI DISTRICT, NORTH LAMPUNG REGENCY

Oleh

Pramadhana Sellynda

This research aimed to know consumer behavior to instant noodle attribute, instant noodle demand and some factors that influenced instant noodle demand in Abung Semuli Sub-district. This research was done in Abung Semuli Sub-district North Lampung Province. The location was defined by purposive method. The research was drawn by simple random sampling method. The samples in this research were instant noodle consumer as much as 54 people. The data was analized by descriptive analysis, Fishbein multi attribute model, and multiple linier regression analysis. The result showed that consumer prefer instant soup noodle than instant fried noodle. The consumer mostly (57.41%) bought two types of noodles (soup and fried), in average 894.32 g/month. The factors that influenced to instant soup noodle demand were instant soup noodle price, instant fried noodle price and family income. The factors that influenced to instant fried noodle were instant soup noodle, instant fried noodle price, location, and respondent jobs.

(4)

SIKAP DAN PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP MI INSTAN DI KECAMATAN ABUNG SEMULI KABUPATEN LAMPUNG UTARA

Oleh :

PRAMADHANA SELLYNDA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

Pada

Jurusan Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

Judul Skripsi : SIKAP DAN PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP MI INSTAN DI KECAMATAN ABUNG SEMULI

Nama Mahasiswa :

Pramadhana Sellynda

Nomor Pokok Mahasiswa : 1114131087

Jurusan : Agribisnis

Fakultas : Pertanian

MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yaktiworo Indriani, M.Sc. Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si. NIP 19621022 198503 2 004 NIP 19640825199003 2 002

2. Ketua Jurusan Agribisnis

(6)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Dr. Ir. Yaktiworo Indriani, M.Sc. ___________

Sekretaris : Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si. ___________

Penguji

Bukan Pembimbing : Dr. Ir. Fembriarti Erry Prasmatiwi, M.P. ___________

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. NIP 19611020 198603 1 002

(7)

Penulis dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1993 di

Kotabumi Kabupaten Lampung Utara. Penulis merupakan

anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan suami istri

Bapak H. Agus Saksono, B.Sc dan dan Ibu Hj. Sugiarti

(Almarhum). Penulis menyelesaikan studi tingkat Taman

Kanak-kanak di TK Al Muhajirin Semuli Jaya pada tahun 1998, Sekolah Dasar di

SD N 1 Semuli Jaya pada tahun 2005, tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMP

N 1 Semuli Jaya pada tahun 2008, tingkat Sekolah Menengah Kejuruan di SMK N

1 Kotabumi pada tahun 2011. Kemudian pada tahun yang sama (2011), penulis

terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas

Lampung (Unila).

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Sangga Buana, Kecamatan

Way Seputih, Kabupaten Lampung Tengah pada tahun ajaran 2014/2015 dan

Praktik Umum (PU) di PT Perkebunan Nusantara VII Unit Way Berulu Desa

Kebagusan, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran bulan Juli pada

tahun ajaran 2015/2016. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif sebagai

anggota bidang 2 (Pengkaderan dan Pengabdian Masyarakat) organisasi

(8)

Assalamu‘alaikum Warahmatullah Wabarakatu

Alhamdulillahhirobbil’alamin, segala puji dan syukur hanya kepada Allah SWT yang telahmemberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan dengan judul “Sikap danPermintaan Rumah

Tangga Terhadap Mi Instan di Kecamatan Abung Semuli Kecamatan Lampung

Utara dapat diselesaikan. Penulis menyadari skripsi ini tidak akan terselesaikan

dengan baik tanpa adanya dukungan, bimbingan, dan doa dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih

sebesarbesarnya kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung.

2. Dr. TeguhEndaryanto, S.P., M.Si.selaku Ketua JurusanAgribisnis, yangtelah

memberikan arahan, saran, dannasihat.

3. Dr. Ir. Yaktiworo Indriyani, M.Sc., selaku dosen pembimbing pertama atas

saran, kritik, bimbingan, motivasi, dan waktu yang telah diluangkan. Terima

kasih atas kesabarannya dalam membimbing penulis selama proses

penyelesaian skripsi ini.

4. Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si., selaku dosen pembimbing ke dua. Terima

(9)

bersedia memberikan saran, kritik, arahan dan bantuan yang telah diberikan.

6. Dr. Ir. Raden Hanung Ismono, M.P., selaku dosen pembimbing akademik

yang telah memberikan saran, arahan, nasehat, bantuan yang telah diberikan.

7. Orang tuaku, Bapak H. Agus Saksono, B.Sc. dan ibu Hj.Sugiarti (Almarhum)

atassemua doa, nasihat, dukungan dan kasih sayang yang begitu luar biasa.

Serta terimakasih kepada kakakku Aerobiandini Sagarti, S.T. karena selalu

memberikan perhatian, kasih sayang, dukungandan senantiasa mendoakanku.

8. SuamikuWahyu Abdul Rasyid yang telah memberikan dukungan, motivasi

doa dan kesabaran kepada Penulis.

9. Seluruh Dosen, staf dan Karyawan di Jurusan Agribisnis.

10. Seluruh Teman-teman Agribisnis 2011.

11. Almamater tercinta dan semua pihak yang telah membantu

demiterselesaikannya skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Bandar Lampung,Desember 2018 Penulis,

(10)

ix

Halaman

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang dan Masalah... 1

B. Tujuan Penelitian ... 7

C. Kegunaan Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA... 9

A. Tinjauan Pustaka ... 9

1. Mi Instan... 9

2. Atribut Produk Mi Instan... 10

3. Sikap Konsumen ... 13

4. Teori Perilaku Konsumen... 15

5. Model Prilaku Konsumen... 16

6. Model Multiatribut Fishbein ... 17

7. Teori Permintaan ... 19

8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan ... 23

B. Kajian Penelitian Terdahulu ... 26

C. Kerangka Pemikiran... 30

D. Hipotesis ... 32

III. METODE PENELITIAN ... 33

A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional ... 33

B. Lokasi, Sampel, dan Waktu Penelitian ... 39

C. Metode Pengambilan Data ... 42

D. Metode Analisis Data... 43

1. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 43

2. Analisis Multiatribut Fishbein ... 45

3. Analisis Deskriptif ... 47

4. Analisis Kuantitatif dengan Regresi Linear Berganda... 47

(11)

x

C. Validitas dan Realibilitas ... 62

D. Sikap Konsumen Rumah Tangga Terhadap Atribut Mi Instan ... 64

1. Evaluasi tingkat kepentingan responden (Ei) terhadap atribut mi instan ... 66

2. Kekuatan kepercayaan responden (Bi) terhadap atribut mi instan 67 3. Analisis sikap responden terhadap mi instan kuah dan goreng di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara ... 69

E. Analisis Permintaan Konsumen Rumah Tangga Terhadap Mi Instan. 71 F. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Mi Instan Pada Konsumen Rumah Tangga di Kecamatan Abung Semuli... 75

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 87

DAFTAR PUSTAKA ... 88

(12)

xi

Tabel Halaman

1. Komposisi zat gizi dari mi basah, mi kering dan mi instan per 100 gram

bahan ... 3

2. Penelitian terdahulu ... 27

3. Jumlah penduduk Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara tahun 2015... 40

4. Skor jawaban responden untuk evaluasi terhadap atribut ... 47

5. Skor atribut mi instan dan kekuatan kepercayaan (bi)... 48

6. Administratif batas wilayah Desa Semuli Jaya dan Desa Sidorahayu... 56

7. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara tahun 2015 ... 57

8. Sebaran respondenmenurut pembelian mi instan di Kecamatan Abung Semuli ... 58

9. Sebaraan responden mi instan di Kecamatan Abung Semuli menurut tingkat pendidikan... 59

10. Sebaraan responden mi instan di Kepenelitian menurut tingkat pendapatan keluargaper bulan ... 61

11. Hasil uji validitas dan reliabilitas kepercayaan atribut mi instan kuah di Kecamatan abung Semuli Kabupaten Lampung Utara ... 63

12. Hasil uji validitas dan reliabilitas kepercayaan atribut mi instan goreng di Kecamaatan Abungn Semuli... 63

13. Hasil rata-rata evaluasi tingkat kepenting (ei) atribut mi instan di Kecamatan Lampung Utara ... 66

(13)

xii 15. Hasil rata-rata evaluasi kepercayaan responden rumah tangga (bi) terhadap

atribut mi instan kuah di Kecamatan abung Semuli Kabupaten Lampung

utara... 68

16. Hasil analisis sikap responden trhadap mi instan kuah dan goreng di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara ... 70

17. Sebaran jumalah pembelian mi instan menurut jenis rasa ... 72

18. Data pola permintaan mi instan oleh responden rumah tangga dalam satu bulan terakhir ... 74

19. Hasil uji multikolinieritas permintaan mi instan kuah dan mi instan goreng 76 20. Hasil uji heterokedasitas permintaan mi instan kuah dan mi instan goreng dengan menggunakan uji White ... 76

21. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan kuah pada konsumen rumah tangga di Kecamatan Abung Semuli ... 77

22. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan goreng pada konsumen rumah tangga di Kecamatan Abung Semuli ... 78

23. Identitas responden mi instan... 93

24. Pembelian responden mi instan ... 96

25. Sebaran responden mi instan menurut umur... 99

26. Sebaran responden mi instan menurut jumlah anggota keluarga... 99

27. Sebaran responden mi instan berdasarkan suku... 99

28. Tingkat kepentingan 30 anggota responden uji validitas dan uji reliabilitas 100 29. Uji validitas dan realibilitas tingkat kepentingan atribut mi instan ... 101

30. Tingkat kepercayaan mi instan kuah30 anggota responden uji validitas dan uji reliabilitas ... 102

31. Uji validitas dan realibilitas tingkat kepercayaan atribut mi instan kuah . 103

(14)

xiii

34. Tingkat kepentingan responden (ei) terhadap mi instan ... 106

35. Tingkat kepercayaan responden (bi) terhadap mi instan kuah... 107

36. Tingkat kepercayaan responden (bi) terhadap mi instan goreng ... 108

37. Evaluasi tingkat kepentingan konsumen (ei) terhadap mi instan kuah dan mi instan goreng... 110

38. Tingkat kepercayaan konsumen (bi) terhadap atribut mi instan kuah ... 111

39. Tingkat kepercayaan (bi) konsumen terhadap atribut mi instan Kuah ... 112

40. Analisis model multiatribut Fishbein mi instan kuah dan mi instan goreng di Kecamatan Abung Semuli ... 113

41. Harga telur ayam ... 114

42. Data pertanyaan tempat pembelian dan cara mengosumsi ... 115

43. Data permintaan ... 116

44. Hasil regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan kuah 119 45. Uji White Heterokedasitas mi instan kuah ... 121

46. Hasil regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan goreng ... 122

(15)

xiv

Gambar Halaman

1. Hubungan Antara Tiga Komponen Sikap ... 15

2. Model PerilakuKonsumen... 17

3. Penurunan Kurva Permintaan dari Kurva Indifference ... 21

4. Kerangkapemikiranpenelitiansikapdan permintaan mi instan pada

(16)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

Makanan adalah pangan yang sudah diolah dan siap untuk dimakan. Pangan

adalah bahan-bahan yang dapat dimakan sehari-hari untuk memenuhi

kebutuhan tubuh, dalam bentuk padat maupun cair. Istilah Pangan digunakan

khusus untuk manusia, adapun untuk hewan disebut sebagai pakan (Indriani,

2015). Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air,

baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan

atau minuman bagi konsumsi manusia (Saparinto dan Hidayati, 2006).

Berkembangnya teknologi dan informasi di bidang makanan menyebabkan

masyarakat atau konsumen lebih sadar terhadap segala perubahan yang ada.

Perubahan ini ternyata secara tidak langsung mengubah selera dan

kebiasaanmasyarakat akan produk makanan yang dikonsumsinya. Masyarakat

yang kebutuhan hidupnya semakin tinggi dan kesibukanyang meningkat

terdorong untuk memilih makanan yang lebih praktis dan mudah dikonsumsi.

Perubahan pola atau gaya hiduptersebut yang menjadi faktor pemicu

terjadinya perubahan pola konsumsi. Menurut Prasetijo dan Ihalauw (2005),

(17)

one lives)”, termasuk bagaimana seseorang menggunakan uangnya,

bagaimana ia mengalokasikan waktunya, dan sebagainya.

Perubahan pola konsumsi pada masyarakat berdampak positif terhadap

industri makanan terutama makanan instan. Makanan instan seperti mi instan

saat ini sudah menjadi makanan praktis yang tersedia dalam pola makan

rumah tangga baik di perkotaan maupun pedesaan. Menurut Permatasari

(2009) mi tergolong sebagai produk pasta yaitu suatu produk bahan makanan

yang dibuat dengan mencampurkan tepung terigu dan air serta berbagai bahan

tambahan seperti garam, telur dan bahan tambahan lainnya. Mi merupakan

salah satu jenis makanan olahan berbahan baku terigu sebagai sumber

karbohidrat. Bahkan tidak heran banyak rumah tangga yang memiliki banyak

persedian mi instan karena mi instan merupakan salah satu inovasi makanan

cepat saji dengan harga yang murah sehingga dapat diterima dengan baik oleh

masyarakat.Hal inilah merupakan salah satu penyebab masyarakat Indonesia

mengkonsumsi makanan cepat saji sebagai salah kebutuhan pangan

sehari-hari.

Mi instan terdiri dari mi goreng dan mi kuahdengan banyaknya beragam jenis

rasa, sehingga dapat memenuhi selera sebagian besar masyarakat baik orang

dewasa maupun anak-anak.Komposisi mi basah, mi kering, dan mi instan per

(18)
[image:18.595.135.513.125.280.2]

Tabel 1. Komposisi zat gizi dari mi basah, mi kering dan mi instan per 100 gram bahan

Zat gizi Mi basah Mi Kering Mi Instan

Energi (kkal) 86 337 450

Protein (g) 0,6 7,9 10–12

Lemak (g) 3,3 11,8 117–20

Karbohidrat (g) 14 50 457–60

Kalsium (mg) 14 49 3–7

Fosfor (mg) 13 47 –

Besi (mg) 0,8 2,8 –

Vitamin A (SI) 0,0 0,0 1.800

Vitamin B1 (mg) 0,0 0,01 0.5–0,7

Air (g) 80 28,6 5–8

Sumber : Suyanti(2008).

Mengonsumsi satu mangkuk mi dengan berat massa 100 g, dapat

menyumbangkan gizi ke dalam tubuh sekitar 10,6 g protein, 60 g karbohidrat,

20 g lemak, serta sejumlah vitamin dan mineral. Total energi yang yang

disumbangkan mi tersebut sekitar 467 kkal. Apabila kebutuhan energi

seseorang dewasa 2.500 kkal per hari, sumbangan energi dari semangkuk mi

sekitar 14 persen dari total energi.Berdasarkan sumbangan energi yang

diberikan,semangkuk mi sudah cukup untuk sarapan pagi, apabila

dikombinasikan dengan bahan makanan lainnya, seperti sayuran dan telur

ayam.

Konsumsi penjualan mi instan dari lima negara yang paling tinggi di dunia

menurut World Instant Noodles Association (WINA) tahun 2014, antara lain

negara China 46,2 miliar, Indonesia 14,9 miliar, Jepang 5,5 milyar, Vietnam

5,2 miliar dan India 4,9 milyar. Indonesia adalah salah satu negara yang

memproduksi banyak kreasi dan variasi rasa mi yang biasa dikonsumsi.

(19)

gulai, rendang, kornet, bulgogi ala Korea, laksa ala Singapura, tom yum ala

Thailand dan variasi rasa lainnya yang merupakan kreasi rasa mi instan dari

hasil rempah-rempah di dunia sehingga masyarakatnya selaku penjual mi

dapat menciptakan mi dengan rasa yang banyak digemari dan sesuai dengan

selera masyarakat serta diikuti dengan harga mi instan yang relatif murah.

Proses pengolahannya, masyarakat Indonesia cukup kreatif,ada

yangmenambahkan protein hewani, sayuran, telur, cabai rawit sampai kornet.

Makanan instan memang praktis dibuat dan mempunyai rasa yang enak dari

berbagai produk mi instan di Indonesia. Hal ini dapat dikatakan sebagai

diversifikasi pangan, yaitu sebagai upaya mengurangi ketergantungan

masyarakat terhadap beras.

Mi instan kini semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Tanpa melihat

status ekonomi, mi instan dengan cepat meraih pangsa pasar yang besar di

Indonesia. Tingkat pertumbuhan produksi mi instan mencapai angka triliun

rupiah per tahun. Menurut majalah Indonesian Commercial Newsletter

(2009), secara umum kapasitas produksi mi instan di Indonesia dalam periode

lima tahun (2000–2005) mengalami pertumbuhan rata-rata 18,6 persen per

tahun. Kapasitas produksi mengalami peningkatan cukup tinggi yaitu

mencapai 72,6 persen menjadi 1.691.588 ton pada 2005 dari sebelumnya

hanya 979.628 ton. Hal ini dipicu oleh tingginya tingkat permintaan mi

instan dibandingkan tahun sebelumnya yang relatif masih rendah. Kenaikan

kapasitas yang cukup pesat tersebut didukung oleh adanya perluasan

kapasitas dari beberapa pemain yang sudah memiliki pasar cukup baik seperti

(20)

Secara umum peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan jumlah

konsumsi berbagai produk pangan termasuk konsumsi mi instan. Lampung

Utara adalahsalah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam

Provinsi Lampung.Kabupaten Lampung Utara dalam kategori memiliki

masalah kemiskinan dengan tingkat tertinggi di Provinsi Lampung yaitu

sebesar 23,67 persen penduduk. Kabupaten Lampung Utara memiliki luas

wilayah sekitar 2.725,63 km², satu dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten

Lampung Utara adalah Kecamatan Abung Semuli. Kecamatan Abung Semuli

dengan ibu kota di Semuli Jaya memiliki luas 9.688 ha dan jumlah penduduk

24.462 jiwa (BPS,2015).

Corak kehidupan masyarakat dengan latar belakang perilaku, adat, kebiasaan,

agama, dan bahasa, membawa pengaruh besar bagi pola kehidupan

masyarakat. Banyak masyarakat kalangan miskin di Kecamatan Abung

Semuli yang mengambil keputusan untuk mengonsumsi mi instan karena

harga mi instan yang terjangkau. Daya beli dan sikap konsumen rumah

tangga pada suatu produk makanan kemungkinan merupakan faktor-faktor

yang mempengaruhi pembelian makanan tersebut.

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013)sikap menggambarkan pandangan

kognitif dari psikologi sosial, dimana sikap diangap memiliki tiga unsur,

yaitu: (1) kognitif (pengetahuan), (2) afektif (emosi, perasaan), dan (3)

konatif (tindakan). Menurut Sumarwan (2011) sikap konsumen adalah faktor

penting yang akan mempengaruhi keputusan konsumen. Adapun Schiffman

(21)

perasaan yang berasal dari dalam diri individu yang mencerminkan apakah

seseorang senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju terhadap suatu

objek.

Merk merupakan hal penting dalam menentukan pembelian. Suatumerk

konsumen cenderung menyukai atau tidak menyukai merk mi instan.

Terdapat banyak jenis dan merkmi instan, dengan rasa yang berbeda. Ada

beberapa merkmi instan yang beredar di Indonesia, yaitumerkIndomie,

Sedaap, ABC, Supermi, Intermi, Salam Mie, Gaga Mie, Alhami danmerk mi

lainnya. Untuk mengetahui merk mi instan yang beredar di Kecamatan

Abung Semuli, maka dilakukan survai awal kebeberapa minimarket dan

warung-warung di sekitar rumah warga pada bulan Juli tahun 2016. Hasil

prasurvai awalmenunjukkan bahwamerk Indomie dan Sedaap adalah mi

instan yang paling banyak dibeli oleh konsumen.

Pengambilan keputusan mengonsumsi kedua merkmi instan tersebut oleh

konsumen berarti konsumen tersebut telah menentukan sikap terhadap produk

mi instan. Adanya tindakan membeli mi instan menunjukkan bahwa

konsumen tersebut telah memiliki sikap dalam mengonsumsi produk mi

instan antara lain menyukai atau yang tidak menyukai mi instan tersebut.

Sikap konsumen yang membeli mi instan dapat dilihat dari merk mi instan

yang disukai dan tidak disukai. Konsumsi makan dalam rumah tangga atau

kebiasaan makan terhadap mi instan mencerminkan adanya permintaan mi

instan itu sendiri.Pembelian konsumen akan suatu produk dapat berubah-ubah

(22)

atau tingkat ekspetasinya akan berdampak pada konsumen yang

menginginkan kualitas yang lebih dari mi instan.Perusahaan mi instan

diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas produknya

agar permintaan konsumen selalu meningkat.

Untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen rumah tangga pada

produk mi instan, maka peneliti akan meneliti tentang“Sikap danpermintaaan

rumah tangga terhadap mi instan di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten

Lampung Utara”. Pertanyaan penelitian yang dapat diidentifikasi adalah

sebagai berikut:

1. Bagaimanakah sikap konsumen rumah tangga terhadap atribut mi instan di

Kecamatan Abung Semuli?

2. Bagaimana permintaan mi instan di Kecamatan Abung Semuli?

3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan mi instan pada

konsumen rumah tangga di Kecamatan Abung Semuli?

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui sikap konsumen rumah tangga terhadap atribut mi instan di

Kecamatan Abung Semuli

2. Mengetahui permintaan mi instan di Kecamatan Abung Semuli

3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan pada

(23)

C. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Produsen, sebagai pertimbangan dalam perencanaan produk mi instan.

2. Penelitian selanjutnya, sebagai bahan informasi, perbandingan dan sumber

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. TinjaunPustaka

1. Miinstan

Mi merupakan produk pasta yang pertama kali ditemukan oleh bangsa China

yang berbahan baku beras dan tepung kacang-kacangan (Puspasari,

2007).Saat ini, mi telah menjadi salah satu pangan alternatif pengganti nasi.

Hal ini tentu sangat menguntungkan ditinjau dari sudut pandang

penganekaragaman konsumsi pangan. Dengan demikian, kita akan terhindar

dari ketergantungan kepada satu bahan pangan pokok terpopuler saat ini,

yaitu beras (Astawan, 2008).

Mi diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, diantaranya ukuran diameter

produk, bahan baku, cara pengolahan, dan karakterisitik produk akhirnya.

Berdasarkan bahan bakunya, terdapat dua macam mi, yaitu mi yang bahan

bakunya berasal dari tepung terutama tepung terigu dan mi transparan

(transparence noodle) dri bahan baku pati, misalnya soun dan bihun

(Puspasari, 2007).

Menurut Suyanti (2008), mi instan sangat praktis karena cukup diseduh

(25)

Indofood, pertama kali mi instan diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia

pada tahun 1969,meskipun banyak yang meragukan bahwa mi instan dapat

dijadikan sebagai salah satu bahan pangan pokok, karena mie instan sendiri

harganya relatif terjangkau, mudah disajikan dan awet.Produk Indomie

pertama kali diperkenalkan adalah Indomie kuah rasa kaldu ayam yang saat

itu sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia. Indomie berkembang

pesat seiring dengan diterimannya mi instan di Indonesia.

Menurut majalah online dunia industri pada tahun 2015, pada laporan

keuangan PT Indofood CBP Makmur Tbk menunjukkan penjualan segmen

mi instan naik 6,17 persen menjadi 10,93 triliun rupiah dibanding periode

yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan mi instan itu ikut

mendorong penjualan konsolidasi perseroan tumbuh 6,63 persen menjadi

16,55 triliun rupiah pada periode yang sama.

2. AtributProduk Mi Instan

Kepercayaan adalah kekuatan bahwa sesuatu produk memiliki atribut

tertentu. Kepercayaan disebut objek atribut, yaitu kepercayaan konsumen

tentang kemungkinan adanya hubungan antara sebuah objek dengan atribut

yang relavan (Sumarwan, 2004). Mowendan Minor (2002), mendefinisikan

kepercayaan konsumen sebagai semua pengetahuan yang dimiliki oleh

konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat oleh konsumen tentang objek,

atribut, dan manfaatnya. Atribut adalah karakteristik atau fitur yang mungkin

(26)

intrinsik dan atribut ekstrinsik. Atribut intrinsik adalah segala sesuatu yang

berhubungan dengan sifat aktual produk, sedangkan atribut ekstrinsik adalah

segala sesuatu yang diperoleh dari segala aspek eksternal produk, seperti

nama merk, kemasan, dan label.

Menurutteoriatribusi (attribution theory), perlu

ditentukanapakahpenyebabtindakanmerupakansesuatu yang bersifat internal

ataueksternalbagiseseorangatauobyek yang dipertanyakan.

Atributprodukadalahpengembangan suatuprodukataujasa yang

melibatkanpenentuanmanfaat yang akandiberikan (KotlerdanAmstrong,

2003).

MenurutSangadji dan Sopiah (2013), menjelaskanempatunsur yang

menentukanperhatiankonsumen yang diharapkanpadasebuahatributadalah:

a. Karakteristikpenerimaanpesan

Karakteristik penerimaan pesan yang mempengaruhi adalah kebutuhan

nilai-nilai konsumen dan konsep diri konsumen

b. Karakteristik pesan

Karakteristikpesan dapat menarik perhatian konsumen terhadap atribut

dan menyebabkan alokasi kapasitas konsep kognitif pada atribut tersebut.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhipeluangtanggapanpeneriman

Faktor-faktor ini menentukan seberapa luas seseorang harus memperoses

informasi tentang sebuah atribut. Peluang tanggapan akan meningkat

apabila informasi tentang atribut diulang dan konsumen tidak dikacaukan

(27)

d. Karakteristikproduk

Karakteristik produk adalah kualitas yang dirasakan dampak

penaambahan fitur bahwa atribut baru akan meningkatkan nilai yang

dirasakan dengan kebenaran yang lebih besar untuk merk berkualitas

rendah dari pada yang berkualitas tinggi.

Menurut Simamora (2002), atribut merupakan karakteristik yang

membedakan suatu merk atau produk dari yang lain. Atribut meliputi

dimensi-dimensi yang terkait dengan produk atau merk, seperti performance,

conformance, daya tahan, keandalan, desain, gaya, reputasi dan lain-lain.

Hargamerupakansalahsatuatribut paling penting yang

dievaluasiolehkonsumen,

danmanajerperlubenar-benarmenyadariperantersebutdalampembentukansikapkonsumen (Sangadji

dan Sopiah, 2013).

Konsumen akan melihat suatu produk berdasarkan karakteristik atribut

produk tersebut. Menurut Diana (2003) dalam penelitiannya

tentangkebiasaan makan mie instan pada mahasiswa IPB, ditemukan bahwa

sikap terhadap produk mi instan yang paling positf adalah pada merk Indomie

kemudian Sarimi dan ABC. Rasa yang enak dan nilai gizi dievaluasi sebagai

karakteristik mi instan paling diinginkan. Atribut yang ada pada mi instan

adalah harga, merk, berat, promosi, kemudahan memperoleh produk,

(28)

3. SikapKonsumen

Sikapadalahpolaperasaan, keyakinandankecenderunganperilakuterhadap

orang, ide, atauobjek yang tetapdalamjangkawaktu yang lama (Lefton,

1982).SchiffmandanKanuk (2000), mengatakanbahwasikapadalahpredisposisi

yang dipelajaridalammeresponsecarakonsistensesuatuobjek,

dalambentuksukaatautidaksuka.

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013) sikap adalah inti dari perasaan suka atau

tidak suka seseorang terhadap suatu objek tertentu. Fungsi dari sikap adalah

membantu menyimpan memori jangka panjang sehingga orang bisa dengan

mudah mengingat kembali suatu hal pada saat yang tepat ketika sedang

menghadapi isu atau masalah pada produk, merk, dan jasa dalam rangka

membuat pernyataan tentang diri merka. Definisi tersebut menggambarkan

pandangan kognitif dari psikologi sosial, di mana sikap dianggap memiliki

tiga unsur, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (emosi, perasaan), dan konatif

(tindakan).

Sikapadalahperasaanpositifataunegatifterhadapsesuatu.Sikapdibedakanantaras

ikapterhadapobjek, sikapterhadapperilakudansikapterhadaptindakan yang

menggabungkansikapterhadapperilakudengannorma-norma

subjektif(PrasetijodanIhalau, 2005). Katz (2004), mengidentifikasi ada empat

fungsi sikap yaitu sebagai berikut.

(29)

Seorang konsumen menyatakan sikapnya terhadap produk jika mereka

mendapat kepuasan dari produk tersebut dan memperoleh manfaat. Sikap

positif dirasakan apabila suatu produk memberikan kepuasan kepada

konsumen, sebaliknya sikap negatif dirasakan apabila suatu produk

memberikan kekecewaan kepada konsumen.

b. Fungsi Ekspresi Nilai

Konsumen mengekspresikan sebuah nilai melalui produk yang mereka

gunakan. Hal tersebut menggambarkan identitas sosial, gaya hidup serta

kepribadian konsumen.

c. Fungsi Mempertahankan Ego

Sikap bertujuan melindungi konsumen dari tantangan eksternal maupun

perasaan internal yang dirasakan sehingga dapat menimbulkan

kepercayaan diri seorang konsumen jika memakai produk tersebut.

d. Fungsi Pengetahuan

Konsumen yang ingin membeli suatu produk perlu mengetahui informasi

tentang produk tersebut. Pengetahuan akan produk akan membentuk

sikap konsumen untuk menyukai atau tidak menyukai produk.

Menurut Saladin dan Oesman (2002), tiga komponen dalam pembentukan

sikap adalah sebagai berikut.

a. Komponen Kognitif

komponen kepercayaan yang didasari oleh pengetahuan, persepsi, dan

pengalaman seseorang, mengenai suatu objek sepeti kepercayaan terhadap

merk.

(30)

Emosi atau perasaan yang ada pada diri seseorang dalam kaitannya dengan

suatu objek atau merk tertentu.

c. Komponen Konatif atau kecendrungan bertindak

Kesiapan untuk berperilaku tertentu yang didasari oleh suatu sikap tertentu

[image:30.595.220.393.234.409.2]

atau maksud untuk membeli.

Gambar 1. Hubungan antara tiga komponen sikap, (Setiadi, 2003).

4. TeoriPerilakuKonsumen

Perilaku konsumen menurut Engelet al. (1994) adalah tindakan yang

langsung terlibat dalam mendapatkan, mengonsumsi, dan

menghabiskanproduk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului

dan menyusuli tindakan tersebut.Menurut Mowen (2002) perilakukonsumen

(consumer behavior) didefinisikansebagaistuditentang unit pembelian (buying

units) dan proses pertukaran yang melibatkanperolehan,

konsumsidanpembuatan barang, jasa, pengalaman, serta ide-ide. Definisi

yang sederhanainimengandungsejumlahkonseppenting. Komponen Kognitif

Kepercayaan terhadap Merk

Komponen Afektif EvaluasiMerk

(31)

SchiffmandanKanuk (2000)mengatakanbahwaperilakukonsumenadalah

proses yang dilaluiolehseseorangdalammencari, membeli, menggunakan,

mengevaluasidanbertindakpascakonsumsiproduk, jasamaupun ide-ide yang

diharapkanbisamemenuhikebutuhannya.Jadidapatbisadikatakanbahwaperilaku

konsumenmerupakanstuditentangbagaimanapembuatkeputusan (decision

units), baikindividu, kelompok, ataupunorganisasi,

membuatkeputusan-keputusanbeliataumelakukantransakasipembeliansuatuprodukdanmengonsum

sinya.

Menurut PrasetijodanIhalauw (2005) perilakukonsumen diartikansebagai

proses yang dilaluiolehseseorangdalammencari, membeli, menggunkanan,

mengevaluasi, danbertindakanpascakonsumsiproduk,jasamaupun ide yang

diharapkanbisamemenuhikebutuhan. Sementara menurut Griffin (2005)

perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologi

yang mendorong tindakan tersebut pada saat membeli, ketika membeli,

menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di

atas atau, kegiatan mengevaluasi.

5. Model PerilakuKonsumen

Setiapharikonsumenmenentukanberbagaipilihanpembelian.Kebanyakanperusa

haanbesarmenyelidikikeputusanpembeliankonsumenbegiturincinyauntukmen

emukanapa yang dibelikonsumen, dimanamerkamembeli,

bagaimanadanberapabanyakmerkabeli, kapanmerkabeli,

(32)

Gambar2. Model PerilakuKonsumen, (PrasetijodanIhalauw,2005).

6. Model multiatribut Fishbein Pengaruh Internal : 1. Kebutuhan dan motivasi 2. Kepribadian 3. Psikografik 4. Persepsi 5. Pembelajaran 6. Sikap Konsumen  Kebutuhan o Pilihan atribut produk  Sikap  Persepsi

 Gaya hidup

Pengaruh Eksternal :

1. Keluar 2. Kelas sosial 3. Budaya dan sub budaya 4. Komunikasi pemasaran Mencari dan mengevaluasi Menentukan alternative-alternatif

Menentukan pilihan dan memutuskan membeli

Membeli

Perilaku pasca beli Puas/ tidak

puas Desonansi

(33)

Menurut Saladin dan Oesman (2002), model multiatribut Fishbein

merupakan teknik yang digunakan untuk mengukur sikap atau kesukaan atas

suatu objek (merk). Ada tiga tipe model multiatribut Fishbein, yaitu model

sikap terhadap objek, model sikap terhadap perilaku dan model teori tindakan

beralasan (Sangadji dan Sopiah, 2013).

Berdasarkan penelitian Sudiyarto (2012), model analisis multi atribut

Fishbein menjelaskan bahwa sikap konsumen terhadap suatu objek sikap

(produk atau merek) sangat ditentukan oleh atribut yang dievaluasi. Alasan

penggunaan model analisis Fishbein adalah :

a. Model dapat mengungkap evaluasi konsumen terhadap atribut-atribut

yang melekat pada produk berdasarkan evaluasi mereka terhadap banyak

atribut yang dimiliki oleh objek tersebut.

b. Model selanjutnya juga dapat mendeskripsikan nilai sikap konsumen

terhadap multiatribut tersebut.

c. Hasil dari masing-masing merek atau asal produk juga dapat

dibandingkan, sehingga dapat dilihatproduk mana yang lebih diminati oleh konsumen.

Menurut Simamora (2002) model Multiatribut Fishbeindapat dirumuskan

sebagai berikut:

n

Ao =

bi . ei ... ( 1 ) i=1

Keterangan:

(34)

bi = Kekuatan kepercayaan bahwa objek tersebut memiliki atribut I ei = Evaluasi terhadap atribut I

n = Jumlah atribut yang dimiliki objek i = Atribut ke-I (1,2,3,…,n)

Komponen ei menggambarkan evaluasi atribut produk, diukur secara khusus

pada skala evaluasi 5 angka (skala likert) mulai dari sangat penting (2),

penting (1), cukup penting (0), tidak penting 1), dan sangat tidak penting

(-2). Komponen bi menggambarkan seberapa kuat konsumen percaya terhadap

atribut produk dari merk produk. Kepercayaan biasanya diukur pada skala

likert dengan 5 angka dari kemungkinan yangdimulai dari sangat baik (2),

baik (1), cukup baik (0), tidak baik (-1), dan sangat tidak baik (-2).

7. Teori Permintaan

Pada dasarnya pemintaan (demand) dalam ekonomi manajerial dapat

didefinisikan sebagai kuantitas barang atau jasa yang rela dan mampu dibeli

oleh konsumen dalam periode waktu tertentu berdasarkan kondisi–kondisi

tertentu (Gaspers,1996). Permintaan (demand) adalah jumlah barang-barang

yang dibeli oleh pembeli pada tingkat harga yang berlaku pada suatu pasar

tertentu dan dalam waktu tertentu pula (Rosyidi, 1996). Teori permintaan

menerangkan sifat dari permintaan pembelian pada suatu komoditas (barang

atau jasa) dan juga menerangkan hubungan antara jumlah yang diminta dan

harga serta pembentukan kurva permintaan (Sugiarto dkk, 2002).Menurut

Rahardja dan Mandala (2008) permintaan adalah keinginan konsumen

membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode

(35)

Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang dibeli dalam berbagai situasi

dan tingkat harga. Semakin tinggi (mahal) harga, maka semakin sedikit

permintaan terhadap suatu barang dan jasa. Sebaliknya semakin rendah

harga, maka semakin banyak permintaan terhadap barang dan jasa (Ritonga,

2003).Menurut Daniel (2004) hukum permintaan pada hakikatnya adalah

makinrendah harga suatu barang, makin banyak permintaan atas barang

tersebut, sebaliknya makin tinggi harga suatu barang, makin sedikit

permintaan atas barang tersebut. Jumlah barang yang diminta akan naik

apabila harga barang yang diminta turun dengan catatan bahwa hal-hal lain

adalah tetap.

Kurva permintaan dari suatu barang menghubungkan keseimbangan jumlah

barang yang dibeli konsumen dan tingkat harga pasar, dimana penghasilan

konsumen dan harga nominal barang lain tidak berubah (Sudarman, 2004).

Kurva permintaan diturunkan dari kurva indiferen. Kurva indiferen

menunjukkan berbagai kombinasi dari komoditi X dan komoditi Y yang

menghasilkan utilitas atau kepuasan yang sama kepada konsumen (Salvatore,

2006).

Menurut Boediono (1982) perilaku konsumen dapat diterangkan dengan

pendekatan kurva indifference dengan anggapan bahwa (1) konsumen

mempunyai pola preferensi akan barang-barang konsumsi (misalnya X1 dan

X2) yang bisa dinyatakan dalam bentuk indifference map, (2) konsumen

mempunyai sejumlah uang tertentu, dan (3) konsumen selalu berusaha

(36)
[image:36.595.176.457.152.554.2]

Gambar 3. Penurunan Kurva permintaan dari kurva indifference Boediono (1982).

Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa dengan sejumlah uang

tertentu(M) konsumen bisa membeli barang X sebanyak M/Px dan barang Y

sebanyak M/Py atau konsumen bisa membelanjakan jumlah uang M tersebut

untuk berbagai kemungkinan kombinasi X dan Y seperti garis yang M/Py

I1

M/Px I2

M/Px’ X1 0

Y1

X1

Px

X1 0

P1

P2

X1 X2

A B

(37)

ditunjukan oleh garis lurus yang menghubungkan M/Px dan M/Py. Garis

tersebut disebut garis budget atau budget line. Tingkat kepuasan maksimum

yang dicapai bila konsumen membelanjakan uang sejumlah M untuk membeli

barang OY1 barang Y dan OX1 barang X, yaitu pada posisi persinggungan

antara budget line dengan kurva indifference yang terletak pada titik A.

Posisi ini menunjukkan posisi kepuasan yang maksimum atau posisi

equilibrium konsumen karena I1 adalah kurva indifference tertinggi yang bisa

dicapai oleh budget linetersebut. Jika harga X turun dari Px menjadi Px’ dan

harga Y tetap, maka budget line akan bergeser ke kanan menjadi garis M/Py

dan M/Px’ sehingga posisiequilibrium yang baru adalah pada titik B. Jadi,

dengan adanya penurunan harga barang X, maka jumlah barang X yang

diminta naik dari OX1 menjadi OX2. Perilaku konsumen menurut Hukum

Permintaan terbukti.

Pada dasarnya kebutuhan manusia mempunyai sifat yang tidak

terbatas,sedangkan alat pemuas kebutuhan itu sifatnya terbatas sehingga tidak

semua kebutuhan akan terpenuhi. Kebutuhan seseorang akan dapat terpenuhi

apabila ia dapat mengkonsumsi barang/jasa yang ia butuhkan dan mencapai

kepuasan maksimum. Perolehan kepuasan merupakan nilai daya guna yang

diberikan oleh suatu barang atau jasa yang dikonsumsi. Namun demikian,

konsumen dibatasi oleh pendapatan yang digunakan dalam

membelanjakanuangnya dan memenuhi kebutuhan konsumen. Permintaan

adalah jumlahbarang yang diminta konsumen pada suatu waktu yang

(38)

dalam membeli sejumlah barang yang diinginkan, yang biasanya dinyatakan

dalam bentukuang.

8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah barang yang diminta

olehkonsumen adalah harga komoditi atau barang itu sendiri, harga komoditi

lain, pendapatan, rata-rata penghasilan rumah tangga (distribusi pendapatan),

selera, dan besarnya populasi atau jumlah penduduk (Lipsey dkk, 1995).

Secara matematis variabel-variabel tersebut dapat dibentukdalam fungsi:

Qdx = f (Px, Py, I, Di, T, N) ... ( 2 )

Keterangan:

Qdx = Jumlah barang x yang diminta Px = Harga barang x

Py = Harga barang y I = Pendapatan

Di = Distribusi pendapatan T = Selera

N = Populasi

Menurut Sukirno(2005) hukum permintaan hanya menekankan perhatiannya

kepada pengaruh suatu harga barang terhadap jumlah barang yang diminta,

sedangkan pada kenyataannya permintaan suatu barang juga dipengaruhi oleh

faktor-faktor lain, yaitu harga barang lain, pendapatan para pembeli, distribusi

pendapatan, selera, jumlah penduduk, dan ekspektasi. Barang-barang yang

harganya mempengaruhi jumlah permintaan suatu barang adalah:

(39)

Semakin rendahnya harga suatu barang atau komoditi, semakin

banyakjumlah yang akan diminta, faktor lain dianggap tetap, sebaliknya

naiknya harga suatu barang menyebabkan permintaan terhadap suatu

barang tersebut turun.

Harga komoditas yang dibahas dalam penelitian ini adalah harga dari mi

instan yang dibeli oleh konsumen rumah tangga. Sesuai dengan teori

tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila harga dari mi instan menurun

maka permintaan akan mi instan oleh konsumen rumah tangga akan

meningkat. Penurunan harga mi instan tersebut menyebabkan pendapatan

riil konsumen meningkat yang mendorong konsumen tersebut membeli

lagi mi instan dalam jumlah yang lebih banyak. Apabila harga mi instan

tersebut naik, maka konsumen akan mencari komoditas lain seperti telur

ayam ras yang dapat digunakan sebagai pengganti atas mi instan tersebut.

Kenaikan harga mi instan juga menyebabkan pendapatan riil konsumen

rumah tangga berkurang yang memaksa konsumen mengurangi

pembelian mi instan.

b. Harga barang lain

Harga barang lain sangat memiliki hubungan erat dengan barang yang

ditawarkan. Hubungan antara suatu barang dengan jenis barang lain dapat

digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu:

1) Barang substitusi (pengganti)

Barang pengganti adalah apabila barang tersebut dapat menggantikan

(40)

pengganti murah maka permintaan terhadap barang yang digantikan

akan turun.

2) Barang komplementer (pelengkap)

Barang pelengkap adalah apabila suatu barnang selalu digunakan

bersama-sama dengan barang-barang yang lain. Apabila harga barang

pelengkap tinggi maka permintaan terhadap suatu barang akan turun.

3) Barang netral

Barang netral adalah apabila barang tersebut tidak mempunyai

keterkaitan yang erat dengan barang lain.

c. Jumlah Penduduk

Permintaan suatu barang berhubungan positif dengan jumlah penduduk.

Semakin banyak jumlah penduduk, maka semakin banyak pula

permintaan barang untuk dikonsumsi.

d. Pendapatan

Tingkat pendapatan dapat mencerminkan daya beli dari seorang

konsumen. Semakin tinggi pendapatan konsumen, maka daya beli

semakin kuat, sehingga permintaan terhadap suatu barang akan

mengalami peningkatan.

e. Selera

Selera konsumen dapat disebabkan oleh perubahan umur, perubahan

pendapatan, perubahan lingkungan, dan sebagainya. Ketika selera

masyarakat akan suatu barang semakin tinggi maka permintaan akan

(41)

masyarakat akan suatu barang semakin rendah maka permintaann akan

semakin rendah.

f. Perkiraan Harga di Masa Mendatang

Perkiraan atau ramalan mengenai keadaan di waktu yang akan datang

Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang dapat

mempengaruhi jumlah permintaan. Apabila seseorang meperkirakan suatu

barang di masa yang akan datang mengalami kenaikan harga, maka akan

mendorong orang tersebut untuk membeli barang lebih banyak di masa

sekarang. Hal ini tentunya akan meningkatkan permintaan di masa yang

sekarang.

B. Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian ini mengacu pada hasil penelitian terdahulu yang terkait

denganpenelitian yang dilakukan. Kajian penelitian terdahulu diperlukan

sebagai bahan referensi bagi peneliti untuk menjadi pembanding antara

penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya. Kajian penelitian

(42)
[image:42.842.81.759.142.479.2]

Tabel 2. Penelitian Terdahulu

No Nama Penelitian/ Tahun

Judul Prnelitian Metode Analisis Hasil Penelitan

1 Juwita, Sayekti dan Indriyani

Tahun : 2015

Sikap dan pembelian bumbu instan kemasan oleh

konsumen rumah tangga di Bandar Lampung

Metode analisis deskrptif kuantitatif, Metode analisis multiatribut Fishbein dan Analisis Komponen Utama.

Analisis sikap menunjukkan bumbu instan yang paling disukai dan dipercayai oleh konsumen adalah bumbu instan merek Indofood. Atribut yang paling disukaidan dipercayai oleh konsumen adalah kemudahan memperoleh produk, informasi kadaluarsa dan pengaruh rasa. Berdasarkan skor sikap atribut bumbu instan merek Indofood

kemudahanmemperoleh produk mendapatkan nilai tertinggi kemudian atribut informasi kadaluarsa dan pengaruh rasa. 2 Novalita,

Prasmatiwi, dan Adawiyah.

Tahun : 2016

Pola konsumsi dan tingkat kepuasan konsumen rumah tangga terhadap mi instan di Kota Bandar Lampung

Metode Analisis deskriptif dan Metode Custumer

Satisfactions Index (CSI)

Jumlah konsumsi mi instan per rumah tangga sebesar 1.300,5 gram. Rata-rata responden mengonsumsi kedua jenis mi instan yaitu mi goreng dan mi rebus untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari. Tingkat kepuasan mi instan berdasarkan jenis mi goreng dan mi instan rebus berada pada tingkat sanggat puas sebesar 82,91 persen dan 82,30 persen.

3 Parastry, Lestari, dan Prasmatiwi.

Tahun : 2017

Pengambilan keputusan dan sikap konsumen rumah tangga dalam membeli beras Siger Toga Sari dan Mekar Sari

Metode analisis deskrptif kuantitatif, dan Metode analisis multiatribut Fishbein

Sikap konsumenrumah tangga terhadap beras siger Toga Sari menunjukkan sikap sangat puas dan sangat suka sedangkan sikap konsumen terhadap beras siger Mekar Sari menunjukkan sikap puas dan suka.

4 Sianturi, Ibrahim, dan Situmorang

Sikap dan pengambilan keputusan konsumen dalam

Metode analisis deskriptif kualitatif, analisis sikap

(43)

Tahun : 2016 membeli ayam potong di Kota Bandar Lampung

konsumen dengan model Multiatribut Fishbein dan analisis regresi ordinal Logit.

dibandingkan dengan daging ayam kampung khususnya dalam hal harga daging dan bobot daging.

5 Nasir (2004) Analisis permintaan mie instan indomie komoditas terkait di Kota Kecamatan Kabupaten Sukoharjo

Metode analisis deskriptif dan model permintaan statik.

Permintaan mie instan indofood dipengaruhi oleh harga mie ABC, harga kecap dan pendapatan.

6 Vidyaningrum, Sayekti dan Adawiyah

Tahun : 2016

Preferensi dan permintaan konsumen rumah tangga terhadap bihun tapioka di Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur.

Metode analisis deskrptif kuantitatif, Analisis Regresi Linier Berganda, Preferensi dan Permintaan.

Permintaan bihun tapioka oleh konsumen rumah tangga di Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur dipengaruhi oleh harga bihun tapioka, harga mi,

pendapatan, jumlah anggota keluarga, suku, pendidikan SD dan pendidikan SMA.

7 Gultom, Sayekti dan Kasymir.

Tahun : 2017

Analisis permintaan tepung terigu oleh pedagang gorengan di Bandar Lampung

Metode analisis statistik deskriptif, metode statistik inferensi dan analisis regresi berganda.

Jumlah rata-rata pembelian tepung terigu oleh pedagang dalam seminggu sebesar 68,27 kg. Faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap permintaan tepung terigu adalah harga kol, jumlah pembelian dan omzet dan faktor-faktor yang berpengaruh negatif terhadap permintaan tepung terigu adalah harga tepung terigu dan harga minyak goreng.

8 Putri, Prasmatiwi, dan Adawiyah

Permintaan dan kepuasan konsumen rumahtangga dalam mengonsumsi susu bubuk di Bandar Lampung

Analisis

deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif, Metode analisis fungsi eksponensial

(44)

Tahun : 2015 (tipe fungsi Cobb Douglass)

Sebanyak 28,75 persen konsumen susu bubuk full cream dan 21,25 persen konsumen susu bubuk instant sama-sama memilihsusu bubuk merek Dancow untuk dikonsumsi.

9 Ariesman, Prasmatiwi dan Indriani

Tahun : 2015

Permintaan dan Kepuasan Konsumen Rumah Tangga dalam Mengonsumsi Kecap Di Bandar Lampung

Metode analisis deskriptif kuantitatif dan verifikatif, analisis Fungsi Cobb Douglas, analisis tingkat kepuasan konsumen (Costumer Satisfaction Index), Analisis the logit model.

(45)

C. KerangkaPemikiran

Pangan atau makanan adalah bahan yang berasal dari hewan atau tumbuhan,

yang dimakan oleh makhluk hidup untuk mendapatkan tenaga dan nutrisi.

Makanan Makanan cepat saji adalah makanan yang disajikan dalam waktu

cepat dan siap disantap. Makanan cepat saji yang dimaksud adalah jenis

makanan yang dikemas, mudah disajikan, praktis, atau diolah dengan cara

sederhana. Makanan tersebut umumnya diproduksi oleh industri pengolahan

pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif untuk

mengawetkan dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut. Makanan

cepat saji seperti mi instan banyak diolah didalam rumah tangga, jenis

makanan ini dikonsumsi oleh rumah tangga karena penyajiannya yang cepat

dan praktis, sehingga memudahkan konsumen untuk mengolahnya. Mi instan

terdiri dari dua jenis mi, yaitu mi kuah dan mi goreng. Mi instan memiliki

jenis varians rasa yang beragam sehingga konsumen dapat mengonsumsi

sesuai selera.

Perilakukonsumendariwaktukewaktuselalumemilikiperbedaan,

dimanaperilakukonsumen selalumemilikiselera yang

yangberbedasetiapmembelidanmengonsumsi, ini merupakan hal yang

menarik untuk diteliti.Perilakukonsumenyang meliputi sikapkonsumen dalam

melakukandanmemutuskanpembeliansuatuprodukakandipengaruhiolehatribut

-atribut yang adapadaproduk mi instan. Atribut-atributyang diteliti, yaitu

(46)

kandungan gizi, jenis mi (kuah/goreng), tekstur, label halal dan Informasi

Kadaluarsa.

Perilaku konsumen mi instan merupakan perilaku yang dilakukan oleh

konsumen dalam mengkonsumsi mi instan. Permintaan dipengaruhi oleh

harga barang itu sendiri, harga barang lain, tingkat pendapatan, distribusi

penduduk dan selera. Harga barang lain yaitu meliputi harga barang

pengganti maupun harga barang pelengkapnya (Lipsey dkk, 1995). Faktor

yang mempengaruhi permintaan mi instan adalah Harga mi instan kuah (X1),

harga mi instan goreng (X2), harga telur ayam ras (X3), pendapatan keluarga

(X4), pendidikan responden (X5), jumlah anggota keluarga (X6), umur

responden (X7), suku (D1), jarak lokasi (D2), pekerjaan responden (D3) dan

(Y) permintaan mi instan.

Analisis sikap digunakan untuk mengetahui sikap konsumen (rumah tangga)

terhadap produk mi instan, suka atau tidak sukanya terhadap produk tersebut.

Untuk menganalisa sikap konsumen mengunakan metode multiatribut

fishbein. Model ini dapat memberikan gambaran serta atribut yang dianggap

penting atau tidak oleh konsumen dan sikap konsumen terhadap suatu produk

yang diteliti.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap konsumen terhadap

atribut mi instan, permintaan mi instan dan untuk mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi permintaan mi instan. Konsumen mi instan yang diteliti

(47)

Semuli. Pada Gambar 4 dapat dilihat kerangkapemikiranpenelitiansikapdan

permintaan mi instan pada rumah tangga di Kecamatan Abung Semuli.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran dan masalah yang ada maka dalam

penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :

1. Diduga permintaan konsumen dalam pembelian mi instan di Kecamatan

Abung Semuli di pengaruhi oleh harga mi instan kuah, harga mi instan

goreng, harga telur ayam, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan,

jumlah anggota keluarga, umur, suku, jarak dan pekerjaan.

Atribut mie instan: 1. Harga

2. Merk 3. Berat 4. Promosi

5. Kemudahan memperoleh produk 6. Kandungan gizi

7. Jenis mi (kuah/goreng) 8. Tekstur

9. Label halal

10. Informasi Kadaluarsa

Mi Instan

Faktor yang mempengaruhi permintaan mi instan:

1. Harga mi instan kuah (X1) 2. Harga mi instan goreng (X2) 3. Harga telur ayam ras (X3) 4. Pendapatan responden (X4) 5. Pendidikan responden (X5) 6. Jumlah anggota responden (X6) 7. Umur responden (X7)

8. Suku (D1) 9. Jarak lokasi (D2)

10. Pekerjaan responden (D3)

Pangan (Makanan cepat saji)

Perilaku Konsumen

Konsumen ibu rumah tangga mi instan

Sikap Konsumen Permintaan Mi

(48)
(49)

III. METODE PENELITIAN

A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional

Konsep dasar dan definisi operasional mencakup semua pengertian yang digunakan untuk memperoleh data yang akan dianalisis yang sesuai dan berhubungan dengan tujuan penelitian.

Mi adalah adalah produk makanan yang dibuat dari tepung gandum atau tepung terigu. Ada tiga jenis mi, yaitu mi basah, mi kering dan mi instan.

Mi instan merupakan makanan cepat saji dengan penyajian yang praktis menjadi makanan favorit di Indonesia yang mudah dihidangkan. Mi instan adalah mi yang sudah dimasak terlebih dahulu dan dicampur dengan

minyak, dan bisa dipersiapkan untuk konsumsi hanya dengan menambahkan air panas dan bumbu-bumbu yang sudah ada dalam paketnya. Mi instan juga merupakan makanan yang digunakan sebagai salah satu pangan alternatif pengganti nasi. Mi instan terdiri dari dua jenis mi kuah dan mi goreng. Mi instan kuah merupakan mi yang sudah dimasak terlebih dahulu dan dicampur dengan minyak serta bumbu pelengkap, dan disajikan dengan

air rebusan kuah mi instan, sedangkan mi instan goreng merupakan mi yang

(50)

pelengkap, dan disajikan tanpa kuah atau air rebusan dari mi instan. Jenis

merk mi instan yang di jumpai di lokasi penelitian adalah merl Sedaap.

Responden mi instan merupakan ibu rumah tangga yang membeli mi instan, baik jenis mi kuah maupun jenis mi goreng untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Perilaku responden mi instan adalah kegiatan individu yang secara langsung terlibat untuk mendapatkan dan mengonsumsi produk mi instan, termasuk di dalamnya sikap konsumen dalam membeli mi instan.

Pola konsumsi mi instan adalah susunan makanan yang dikonsumsi oleh seseorang dan dicerminkan dalam jumlah, frekuensi mengonsumsi, cara mengonsumsi, dan tempat pembelian. Jumlah diukur dalam satuan gram, frekuensi dinyatakan dalam kali per satu bulan, cara mengonsumsi terdiri sebagai lauk, pengangganti nasi dan pelengkap makanan pokok, sedangkan tempat pembelian dilakukan di toko pasar, minimarket (Alfamart/Indomart) dan warung dekat rumah.

(51)

Atribut mi instan adalah ciri-ciri yang ada pada mi instan yang dapat mewakili dimensi mi instan kuah dan mi instan goreng dan berfungsi sebagai atribut evaluatif selama pengambilan keputusan. Atribut-atribut mi instan yaitu harga, merk, berat, promosi, kemudahan memperoleh produk, kandungan gizi, jenis mi, tekstur, label halal dan informasi kadaluarsa.

Tingkat kepentingan atribut adalah penilaian terhadap kepentingan atribut yang diperhatikan oleh responden. Tingkat kepentingan dihitung dengan Melihat penilaian konsumen terhadap indikator harga, merk, berat, promosi, kemudahan memperoleh produk, kandungan gizi, jenis mi, tekstur, label halal dan informasi kadaluarsa. Skor 2 untuk “sangat penting”, skor 1 “penting”, skor 0 “cukup penting”, skor -1 “kurang penting”, dan skor -2 “tidak penting”.

Sikap responden terhadap atribut harga adalah tingkat harga yang terdapat pada mi instan mulai dari sangat murah sampai mahal. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat murah (2), murah (1), cukup (0), mahal (-1), dan sangat mahal (-2).

Sikap responden terhadap atribut merk adalah nama atau simbol yang terdapat pada mi instan mulai dari sangat terkenal sampai tidak terkenal. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat terkenal (2), terkenal (1), cukup (0), tidak terkenal (-1), dan sangat tidak terkenal (-2).

(52)

Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat banyak (2), banyak (1), cukup (0), sedikit (-1), dan sangat sedikit (-2).

Sikap responden terhadap atribut promosi adalah upaya untuk

memberitahukan atau menawarkan produk dengan tujuan menarik yang

terdapat pada mi instan mulai dari sangat menarik sampai sangat tidak menarik. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat menarik (2), menarik (1), cukup (0), kurang menarik (-1), dan tidak menarik (-2).

Sikap responden terhadap atribut kemudahan memperoleh produk adalah penilaian responden terhadap tingkat kesulitan untuk memperoleh mi instan yang terdapat pada mi instan mulai dari sangat mudah sampai sangat tidak mudah. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat mudah (2), mudah(1), cukup (0), tidak mudah (-1), dan sangat tidak mudah (-2).

Sikap responden terhadap atribut kandungan gizi adalah nilai gizi yang terkandung dalam produk yang terdapat pada mi instan mulai dari sangat baik sampai tidak baik. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat baik (2), baik (1), cukup (0), kurang baik (-1), dan tidak baik (-2).

Sikap responden terhadap atribut jenis mi adalah sensasi yang diterima oleh indra pengecap dalam mengonsumsi mi instan. Pengukurannya

menggunakan skala likert yaitu : sangat enak (2), enak (1), cukup (0), kurang enak (-1), dan tidak enak (-2).

(53)

instan. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat kenyal (2), kenyal (1), cukup (0), kurang kenyal (-1), dan tidak kenyal (-2).

Sikap responden terhadap atribut label halal adalah kejelasan tentang label jaminan halal yang terdapat pada mi instan mulai dari sangat jelas sampai tidak jelas. Pengukurannya menggunakan skala likert yaitu : sangat jelas (2), jelas (1), cukup (0), kurang jelas (-1), dan tidak jelas (-2).

Sikap responden terhadap atribut informasi kadaluarsa adalah penilaian responden terhadap pencantuman tanggal produksi dalam kemasan pada mi instan mulai dari sangat jelas sampai tidak jelas. Pengukurannya

menggunakan skala likert yaitu : sangat jelas (2), jelas (1), cukup (0), kurang jelas (-1), dan tidak jelas (-2).

Permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode tertentu.

Permintaan mi instan adalah jumlah mi instan yang dibeli oleh konsumen dalam kurun waktu satu bulan yang diukur dalam satuan bungkus per bulan (bungkus/bulan) yang kemudian dikonversi menjadi gram per bulan

(gram/bulan).

Permintaan mi instan kuah (Y1) jumlah mi instan kuah yang dibeli oleh

(54)

Permintaan mi instan goreng (Y2) jumlah mi instan goreng yang dibeli oleh

konsumen dalam kurun waktu satu bulan yang diukur dalam satuan bungkus per bulan (bungkus/bulan) yang kemudian dikonversi menjadi gram per bulan (gram/bulan).

Harga mi instan kuah (X1) adalah adalah jumlah uang yang dikeluarkan responden dalam melakukan pembelian mi instan jenis kuah yang diukur dalam satuan rupiah per gram (Rp/100 gram).

Harga mi instan goreng (X2) adalah jumlah uang yang dikeluarkan

responden dalam melakukan pembelian mi instan goreng yang diukur dalam satuan rupiah per gram (Rp/100 gram).

Harga telur ayam ras (X3) adalah jumlah uang yang dikeluarkan responden dalam melakukan pembelian telur ayam ras yang diukur dalam satuan rupiah per gram (Rp/100 gram).

Pendapatan keluarga (X4) adalah penghasilan yang didapat oleh semua anggota rumah tangga per bulan, diukur dalam satuan rupiah per bulan (Rp/bulan).

(55)

Jumlah anggota rumah tangga (X6) adalah sejumlah orang yang tinggal bersama dalam satu rumah dengan pengelolaan keuangan dilakukan secara bersama-sama.

Umur responden (X7) adalah usia responden atau konsumen yang diukur dalam satuan tahun.

Suku (D1) adalah kesatuan sosial yang disatukan oleh identitas kebudayaan, khususnya dari identitas bahasa. Dalam penelitian ini suku diukur dengan variabel dummy yaitu D = 1 apabila suku Jawa, dan D = 0 apabila bukan suku Jawa.

Jarak lokasi pembelian (D2) adalah jauh atau dekatnya tempat yang menghubungkan dua lokasi atau tempat akan yang dituju dari rumah responden ke tempat pembelian melalui ukuran waktu ataupun ukuran satuan meter, kilometer dan sebagainya. Dalam penelitian ini jarak diukur dengan variabel dummy yaitu D = 1 apabila jarak dekat, dan D = 0 apabila jarak tidak dekat

Pekerjaan responden (D3) adalah suatu kegiatan yang dikerjakan oleh seseorang dan mendapatkan penghasilan per bulan. Dalam penelitian ini pekerjaan diukur dengan variabel dummy yaitu D = 1 apabila responden bekerja, dan D = 0 apabila responden tidak bekerja.

B. Lokasi, Sampel dan Waktu Penelitian

(56)

Utara. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara merupakan penduduk dengan tingkat kemiskinan tertinggi serta banyak konsumen rumah tangga yang mengonsumsi mi instan. Waktu pengumpulan data dilakukan pada bulan Agustus 2016.

[image:56.595.135.507.429.572.2]

Metode sampling yang digunakan dalam penilitian adalah Probability Sampling dengan metode pemilihan sampel Simple Random Sampling. Sampel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah konsumen rumah tangga yang membeli mi instan. Jumlah penduduk di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara tahun 2015 dapat dilihat Pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah penduduk Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara tahun 2015

No Nama Desa Jumlah KK (N)

Jumlah Penduduk

Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Sukamaju 1.119 2.310 2.152 4.462

2 Semuli Jaya 1.206 2.137 2.066 4.203

3 Semuli Raya 1.716 3.346 3.108 6.454

4 Papan Asri 710 1.299 1.139 2.438

5 Sidorahayu 1.203 1.355 2.237 3.592

6 Gunung Kramat 403 862 807 1.669

7 Gunung Sari 633 1.172 1.109 2.281

Jumlah 6.990 12.481 12.618 25.099

Sumber: Penduduk Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara, 2015.

(57)

sentral sebanyak 1.206 KK dan kelurahan Sidorahayu yang jauh (lebih dari 10 km) dari sentral sebanyak 1.203 KK.

Jumlah populasi dari dua kelurahan adalah 2.409 kepala keluarga (Semuli Jaya dan Sidorahayu). Perhitungan penentuan jumlah sampel mengacu pada teori Sugiarto (2001), yaitu :

n

=

... (3)

keterangan :

n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi

S² = Variasi sampel (5%) = 0,05

Z = Tingkat Kepercayaan (90%) = 1,645 d = Derajat Penyimpangan (5%) = 0,05

Dari rumus tersebut, jumlah sampel yang akan diambil adalah:

n

=

( ) ( )

( ) ( ) ( )... (4)

n = 52,99 n = 53

Perincian jumlah responden masing-masing wilayah (ni) dan digunakan alokasi proposional dengan rumus (Nasir, 1988), yaitu :

ni =

... (5)

dimana :

(58)

Pemilihan dusun pada masing-masing kelurahan dilakukan dengan

menggunakan cara pengundian, masing-masing dusun diambil satu dusun, yaitu dusun Cendrawasih dan dusun Tritunggal. Setelah didapat dua dusun yang terpilih, maka selanjutnya menentukan 54 sampel dari masing-masing dusun. Masing-masing dusun dari dua kelurahan memperoleh 27 orang yang akan dijadikan sebagai sampel sebagai berikut.

Dengan menggunakan persamaan (2), maka sampel di :

Kelurahan Semuli Jaya : (1.206/2.409) x 53 = 26,53 = 27 Kelurahan Sidorahayu : (1.203/2.409) x 53 = 26,46 = 27

Jumlah sampel ini dapat dianggap sudah mewakili seluruh konsumen rumah tangga yang mengkonsumsi mi instan di Kecamatan Abung Semuli

Kabupen Lampung Utara dengan pertimbangan semakin banyak sampel maka data yang diteliti semakin baik.

C. Metode Pengambilan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survai. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada konsumen rumah tangga yang membeli mi instan dengan

(59)

D. Metode Analisis Data

Metode analisis data merupakan bagian yang penting dalam karya ilmiah, metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

deskriptif, model multiatribut Fishbein dan analisis regresi linear berganda. Pengolahan data menggunakan software Microsoft Office Excel 2010, Eviews 8 dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS 24).

Untuk mengetahui klasifikasi rata-rata pembelian mi instan kuah dan mi instan goreng di Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara, digunakan dasar klasifikasi variable bebas (X) dan variable terikat (Y) mengacu pada rumus Sturges (dalam Dajan, 1986) sebagai berikut:

Lebar Interval

=

Penentuan klasifikasi dalam penelitian ini meggunakan rata-rata. Rata-rata digunakan untuk melihat suatu angka di sekitar mana nilai-nilai dalam suatu distribusi memusat. Setelah rata-rata pembelian mi instan kuah dan mi instan goreng maka selanjutnya membandingkan penelitian mi instan kuah dan mi instan goreng yang lebih banyak dibeli oleh rumah tangga.

1. Uji validitas dan reliabilitas

(60)

a. Uji validitas

Uji validitas dilakukan untuk menguji ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga benar-benar mengukur apa yang

seharusnya diukur. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat dari keandalan suatu alat ukur. Secara keseluruhan alat ukur digunakan dengan cara mengkorelasikan skor total. Sugiyono (2009) menyatakan bahwa uji validitas digunakan untuk mengukur

pernyataan yang ada dalam kuesioner, dari hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi. Rumus yang digunakan untuk uji validitas yaitu:

r

hitung

=

( ) ( ) ( )

√{( ) ( ) } {( ) ( ) }

... (6)

Keterangan :

Rxy = r hitung = koefisien korelasi X = skor pada subjek item n Y = skor total subjek

XY = skor pada subjek item n dikalikan skor total n = banyaknya responden

di mana:

a. Jika r hasil positif dan r hasil > r tabel, maka variabel tersebut valid

b. Jika r hasil negatif dan r hasil < r tabel, maka variabel tersebut tidak valid

(61)

b. Uji reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mendapatkan tingkat ketepatan alat pengumpulan data yang digunakan. Reliabilitas merupakan suatu nilai yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Uji reliabilitas dapat melihat tingkat reliable kuesioner dengan memperlihatkan jawaban yang telah terisi di kuesioner. Uji reliabilitas dapat menunjukkan keandalan dari suatu alat ukur. Uji reliabilitas dapat dilakukan menggunakan rumus sebagai berikut (Sufren dan Natanael, 2013):

[

] [

] ... (7)

Keterangan:

Α = Koefisien Reliabilitas Alpha K = Jumlah Item

= Jumlah Varians Skor Total Σi = Varians Responden Untuk Item

2. Analisis Multiatribut Fishbein

Figure

Tabel 1. Komposisi zat gizi dari mi basah, mi kering dan mi instan per 100gram bahan
Gambar 1. Hubungan antara tiga komponen sikap, (Setiadi, 2003).
Gambar 3. Penurunan Kurva permintaan dari kurva indifferenceBoediono (1982).
Tabel 2. Penelitian Terdahulu
+4

References

Related documents

Besides standards and regulations and appropriate treatment, other aspects which need consideration in planning reclaimed wastewater use for various applications include:

Powered TM Analytics Assessment (DPAA) , a quantitative tool to measure how effectively healthcare provider organizations use analytics, intelligence applications and data to

Conclusions: Relative to non-Hispanic White women, Black women were more likely to die of cervical cancer while Hispanic women were less likely to die; these survival differences

Multi- junction cells with a single layer of GaSb/GaAs interfacial misfit arrays could achieve higher efficiency than state-of-the-art inverted metamorphic multi-junction cells

We found that, despite more imprecise predictions of tactile- spatial changes, there were no group differences in model error variances (“irreducible uncertainty” (de

(2) In a case to which regulation 81 applies (rent free periods), any amount ineligible to be met by housing benefit which is specified in this Schedule as a weekly amount shall,

I’d also like to recognize the team at the Direct Marketing Association, including Paul McDonnough, Lori An Pope, Ken Ebeling, Julie Hogan, and Ramnath Lakshmi- Raton, who have

The file can be conveniently created using the Matlab editor which can be invoked from the command line by typing edit... 1.5