263251813-Buku-Pintar-Mekanik.pdf

57 

Full text

(1)
(2)

DAFTAR ISI

SPESIFIKASI

Hal

1. Kapasitas Fuel Tank

3

2. Valve Clearance

4

3. Oil Pump

5

4. Oil Front Fork

6

5. Oil Final Reduction

7

6. Radiator Coolant

8

7. CVT Matik

9-12

8. Kebocoran Arus

13

9. Kumparan Pengisian

14

PEMERIKSAAN & PENYETELAN

1. Crankshaft

15

2. Pompa Oli

16

3. Komponen CVT

17

4. Rumus perhitungan SHIM untuk DOHC

18

5. Cara memilih SHIM untuk DOHC

19

6. Volume Silinder dan Perbandingan Kompresi

20

(3)

8. Letak Engine Sound

22

9. Uraian Kondisi Busi

23-24

8. Pemeriksaan Kebocoran Arus

26

9. Pemeriksaan Tegangan Pengisian

27

10. Pemeriksaan Relay

28

11. Pemeriksaan Peak Voltage Adaptor

29-33

12. Idling Stop System

34

13. Remote Alarm PCX

35-36

14. Reset Sistem ABS

37

15. Regulator PMC

38

16. Micro ISO

39

17. Komponen PGM-FI

41

8. Pemeriksaan Fuel Pump

42

9. Reset TP Sensor

43

10. Pemeriksaan Tekanan Bahan Bakar

44

11. Reset ECM /MIL

45

12. Setting Altitude

46-50

13. FISV ( Fast Idle Selenoid Valve )

51

14. Trouble Shooting

53-54

(4)
(5)

Kapasitas Fuel Tank

Type

Kapasitas

VARIO 110

3,6 liter

VARIO 125

5,5 liter

REVO, BLADE, BEAT FI

3,7 liter

BEAT, SCOOPY

3,5 liter

SPACY

5,2 liter

SPACY FI, NF 125 HI

5,6 liter

NMP 150, CB 150R

12 liter

CS1

4,1 liter

CBR 150

13,1 liter

CBR 250

13 liter

VERZA

12,2 liter

PCX 150

5,9 liter

3

(6)

Spesifikasi Valve Clearance

Type

STD

CS 1

IN 0,06 mm / EX 0,27 mm

CBR 250R

IN 0,16 mm / EX 0,27 mm

CBR 150R, VARIO 110, CB 150R

IN 0,16 mm / EX 0,25 mm

NMP 150, VERZA

IN 0,08 mm / EX 0,12 mm

PCX, VARIO 125

IN 0,10 mm / EX 0,24 mm

SPACY FI, BEAT FI

IN 0,16 mm / EX 0,16 mm

TIGER, REVO 110, BLADE

IN 0,10 mm / EX 0,10 mm

BEAT, SCOOPY, SPACY

IN 0,14 mm / EX 0,14 mm

(7)

Type

Bagian

STD

MATIK

JARAK RENGGANG PD UJUNG ROTOR

0,20 mm

JARAK RENGGANG ANTARA ROTOR & RUMAH

0,35 mm

JARAK RENGGANG KE SAMPING ROTOR POMPA

0,12 mm

CUB

JARAK RENGGANG PD UJUNG ROTOR

0,15 mm

JARAK RENGGANG ANTARA ROTOR & RUMAH

0,26 mm

JARAK RENGGANG KE SAMPING ROTOR POMPA

0,15 mm

NMP 150

JARAK RENGGANG PD UJUNG ROTOR

0,20 mm

JARAK RENGGANG ANTARA ROTOR & RUMAH

0,28 mm

JARAK RENGGANG KE SAMPING ROTOR POMPA

0,12 mm

(8)

Type

Spesifikasi

NF 125 71,5 cc SCOOPY 67 cc NMP 150, VERZA 159 cc SPACY 58 cc VARIO 110, BEAT 75 cc VARIO CBS 68 cc PCX 118 cc CS 1 53,5 cc TIGER REVO 133 cc CBR 150R 221 cc CBR 250R 331 cc REVO AT 63,5 cc REVO 110, BLADE 66 cc

REVO FIT, NEW BLADE 62 cc

NF 125 HI 63,5 cc

BEAT FI, SPACY FI 59 cc

CB 150R 177 cc

(9)

Type

Spesifikasi

VARIO 110, BEAT, SCOOPY

Periodik 0,10 liter

Overhaul 0,12 liter

PCX

Periodik 0,16 liter

Overhaul 0,18 liter

SPACY, BEAT FI

Periodik 0,14 liter

Overhaul 0,16 liter

VARIO 125

Periodik 0,12 liter

Overhaul 0,14 liter

Spesifikasi Oil Final Reduction

(10)

Type

Bagian

Kapasitas

CBR 150R

Radiator & mesin

0,76 liter

Tangki cadangan

0,24 liter

VARIO 110

Radiator & mesin

0,49 liter

Tangki cadangan

0,20 liter

CS 1

Radiator & mesin

0,77 liter

Tangki cadangan

0,13 liter

PCX

Radiator & mesin

0,70 liter

Tangki cadangan

0,32 liter

VARIO 125

Radiator & mesin

0,51 liter

Tangki cadangan

0,14 liter

CB 150R

Radiator & mesin

0,62 liter

Tangki cadangan

0,16 liter

(11)

Type

Bagian

STD

BEAT

SPACY

SCOOPY

Lebar Drive Belt

17,5 mm

D.D bushing

22,11mm

D.L boss

21,98 mm

D.L weight roller

15,3 mm

Ketebalan kanvas

2,0 mm

D.D clutch outer

112,5 mm

Panjang bebas face spring

121,4 mm

D.L driven face

33,94 mm

D.D movable driven face

34,06 mm

(12)

Type

Bagian

STD

BEAT FI

SPACY FI

Lebar Drive Belt

17,5 mm

D.D bushing

22,11mm

D.L boss

21,98 mm

D.L weight roller

17,3 mm

Ketebalan kanvas

2,0 mm

D.D clutch outer

125,5 mm

Panjang bebas face spring

124,7 mm

D.L driven face

33,94 mm

D.D movable driven face

34,06 mm

(13)

Type

Bagian

STD

REVO AT

Lebar Drive Belt

18,0 mm

D.D bushing

22,11mm

D.L boss

21,98 mm

D.L weight roller

17,5 mm

Ketebalan kanvas

1,5 mm

D.D clutch outer

126,3 mm

Panjang bebas face spring

93,0 mm

D.L driven face

33,94 mm

D.D movable driven face

34,06 mm

(14)

Type

Bagian

STD

PCX

VARIO 125

Lebar Drive Belt

21,0 mm

D.D bushing

24,08 mm

D.L boss

23,93 mm

D.L weight roller

19,5 mm

Ketebalan kanvas

2,0 mm

D.D clutch outer

125,5 mm

Panjang bebas face spring

146,6 mm

D.L driven face

33,94 mm

D.D movable driven face

34,06 mm

(15)

Type

STD

REVO 110, BLADE

20 mA

VARIO, BEAT, SPACY, SCOOPY, NF 125 HI

0,5 mA

REVO AT, NMP 150, CS1, CBR 150

0,1 mA

NF125 / FI, TIGER, PCX

0,1 mA

CBR 250R

0,34 mA

Spesifikasi kebocoran arus

(16)

Type

Pengisian (w+g)

Penerangan (y+g)

VARIO, SPACY

0,2-1,0 Ω

0,1-0,8 Ω

BEAT, SCOOPY

0,2-1,0 Ω

0,2-1,8 Ω

NMP 150

(Y&Y) 0,2-1,0 Ω

-BLADE, REVO 110

0,3-1,0 Ω

0,1-0,8 Ω

CS1

0,2-1,2 Ω

0,5-1,0 Ω

NF 125

0,3-1,1Ω

-NF 125 FI

0,2-1,0 Ω

(17)
(18)

1. Ukur jarak renggang ke samping kepala besar

connecting rod dg feeler gauge.

Batas Servis : 0,60 mm.

2. Letakkan Kruk As pd V-blocks &Ukur jarak

renggang radial kepala besar connecting rod.

Batas Servis : 0,05 mm.

3. Tempatkan Kruk As pd V-blocks & ukur keolengan

(Run Out), keolengan sebenarnya adalah ½ dari

pembacaan total indicator. Batas Servis : 0,10 mm.

(19)

Ukur kelonggaran kesamping dengan menggunakan

feeler gauge.

Ukur celah antara ujung rotor dalam dan rotor luar.

Ukur celah antara rumah pompa oli dan rotor luar.

INNER ROTOR

OUTER ROTOR

OUTER ROTOR BADAN POMPA

Pemeriksaan Pompa Oli

(20)
(21)

A = (B – C) + D

A : Ketebalan shim baru

B : Hasil ukur valve clearance (hasil ukur dengan feeler gauge)

C : Spesifikasi valve clearance (standart SMH)

D : Ketebalan shim lama (hasil ukur dengan micrometer)

Contoh :

Untuk mengganti Intake valve shim CBR 250 yg tepat, hasil pengukuran feller gauge

= 0,27 mm

.

Clearance standar = 0,16 mm, ukuran shim lama = 2,12 mm

.

Diketahui :

B = 0,27 mm

C = 0,16 mm

D = 2,12 mm

Jawab :

A = (0,27 – 0,16) + 2,12

A = 2,23 mm

Oleh karena itu, shim baru yg akan digunakan untuk penggantian yg tepat adalah 223.

Tetapi, jika ukuran ini tidak tersedia, maka gunakan nilai terdekat, yaitu 222.

(22)

Pastikan untuk memilih

shim baru dengan

menggunakan tabel shim,

untuk memilih ketebalan

yang paling dekat dengan

pengukuran yang

sebenarnya

No. shim

Ketebalan shim

Catatan :

Ada 69 perbedaan ketebalan

shim, yg tersedia dari yg tertipis

1,2 mm sampai ketebalan shim

paling tebal 2,9 mm. Shim dg

penambahan ketebalan

sebesar 0,025 mm.

(23)

Volume cylinder dan perbandingan kompresi

(

) = V

1

+ V

2

V

1

V

2

= 0,785 x d x d x s

S

=

V

2

0,785 x d x d

D

=

V

2

0,785 x s

20

(24)

1. Valve operating system sound

2. Piston system sound

3. Crank system sound

4. Drive line system sound 5. Resonance sound 6. Auxiliary machine sound

Mechanical

sounds

Tappet sound (Valve sound) Cam chain sound

Internal head sound

Piston sound Piston ring sound

Crank rattle sound

Connecting rod rattle sound Balancer sound

Primary drive line sound Clutch rattle sound

Mission gear sound

Crankcase sound Cover sound Fin sound

Water pump sound ACG sound

Starter sound Oil pump sound

(25)

Tappet sound Piston sound

Crank rattle sound

Connecting rod sound

Cam chain sound

Clutch sound

Mission gear sound

Letak engine sound

(26)

NORMAL

Yang Tampak Pada Busi :

Insulator terlihat coklat muda/keabu-abuan, hanya sedikit sisa pembakaran yang menutupi elektrodanya.

CARBON FOULING (Endapan Karbon)

Yang Terlihat Pada Busi :

Insulator dan elektrodanya tertutup oleh lapisan endapan karbon kering berwarna hitam.

Kondisi mesin :

Susah start, Pengapian tidak baik, Akselerasi buruk, Pada kasus berat mesin tidak bisa hidup.

Penyebab :

Campuran bahan bakar terlalu kaya, pengapian terlambat, Pembakaran timah hitam tidak sempurna, Tingkat panas busi terlalu dingin.

OVER HEATING

Yang Tampak :

Insulator berwarna putih pucat dengan inti elektroda rusak meleleh.

Kondisi mesin :

Kekurangan tenaga pd kecepatan tinggi/beban penuh, Terjadi Knocking.

Penyebab :

Pendinginan mesin kurang, waktu pengapian terlalu cepat, Nomor tingkat panas busi tidak sesuai dengan suhu mesin, Detonasi berat.

(27)

OIL FOULING (Endapan Oli)

Yang Terlihat Pada Busi :

Insulator dan elektrodanya tertutup endapan oli basah berwarna hitam.

Kondisi mesin :

Susah hidup, Pengapian tidak baik, akselerasi jelek.

Penyebab :

1. Kerusakan pada Ring piston. 2. Seal klep sudah jelek (bocor).

LEAD FOULING (Endapan Timah Hitam)

Yang Tampak :

Endapan insulator berwarna kuning atau coklat tua.

Kondisi mesin :

Mesin tersendat pada saat akselerasi atau saat kecepatan tinggi.

Penyebab :

Menggunakan bensin dg kandungan timah hitam (oktan) tinggi.

(28)
(29)

1.Kunci kontak posisi “OFF”, dan lepaskan kabel negatif (-) dari baterai.

2.Posiskan AVOmeter pada selektor Amperemeter/mA, hubungkan jack positif (+)

AVOmeter dengan kabel (-)

3. Hubungkan jack negatif (-) AVOmeter dengan terminal negatif (-) baterai.

4. Ukur kebocoran arus listrik (lihat gambar).

(30)

1. Ukur Voltase Baterai : Muatan Penuh > 12,4 V-13,3 V, Muatan Kurang < 12,3 V 2. Panaskan mesin sampai suhu normal.

3. Matikan mesin, posisikan AVOmeter pada selektor DCV, hubungkan AVOmeter (lihat gambar).

4. Hubungkan unit dengan Tachometer.

5. Hidupkan mesin dan nyalakan lampu besar pada posisi lampu jauh (HI). 6. Ukur Voltase ketika mesin berputar pada putaran mesin 5.000 Rpm.

7. VOLTASE STD : Voltase baterai awal yg diukur < Voltase pengisian yg diukur < 15,5 V

(31)

1. Lepaskan relay stater dari motor.

2. Hubungkan kabel positif batere 12V yang bermuatan penuh pada relay switch

terminal A dan kabel negatif pada terminal B.

3. Periksa terhadap kontinuitas pada terminal C dan D sewaktu batere dihubungkan,

dan tidak boleh ada kontinuitas sewaktu batere dilepaskan.

(32)

1. Letakkan AVOmeter pada daerah jangkauan voltase AC & ukur voltase jaringan

Listrik lokal (PLN).

Hasil ukur : 219 ACV

(33)

2. Hubungkan Peak Voltage Adaptor (PVA) dg AVOmeter, ukur voltase AC yang sama

dengan daerah jangkauan voltase DC & bandingkan dg voltase AC yg telah diukur

sebelumnya.

* PVA normal jika voltase DC yg diukur melalui PVA adalah 1,4 kali voltase AC.

Hasil ukur : 219 x 1.4 = +/- 306 DCV *

Catatan : * Pengukuran menggunakan AVOmeter Digital Constant 90

(34)

3. Pastikan semua socket (sistem pengapian), busi telah terpasang dg baik & benar.

4. Lepas Cop Busi dari kabel busi (jika tidak ada busi baru), jika ada busi baru pasang

busi dan hubungkan ke massa pada cylinder head.

5. Hub. kabel PVA min (-) ke kabel primer koil b/y (kabel primer koil tetap dalam kondisi

terpasang), sedangkan kabel PVA plus (+) dihubungkan dengan massa (lihat gbr).

Pemeriksaan Ignition Coil Primary Peak Voltage

(35)

6. Kunci kontak “ON”, putar mesin dg elektrik starter & ukur Ignition Coil primary

peak voltage.

Hasil Ukur dg AVOmeter Digital Constant 90 :

Peak Voltage : minimum 100 V

7.

Kunci kontak posisi “OFF”, dan lepaskan konektor ICM / CDI.

8. Hub. kabel PVA (+) dg kabel bu/y pd konektor CDI, kabelPVA (-) dihub. dg massa.

Pemeriksaan Pulse Generator Peak Voltage

(36)

9. Kunci kontak “ON”, putar mesin dg elektrik starter & ukur pulse generator

peak voltage.

Hasil ukur dg AVOmeter Digital Constant :

Peak Voltage : minimum 0,7 V

(37)

Idling Stop System berfungsi mengurangi konsumsi pemakaian bbm yang tidak perlu & menurunkan emisi gas buang dengan cara mematikan mesin saat pengendara menunggu traffic light di jalan raya atau saat pengendara berhenti dalam waktu yang singkat.

Idling stop switch

Seat switch ECT sensor VS sensor TP sensor Stand-by indicator ECM

Kondisi operasional idling stop system:

1. Saklar idling stop pd posisi IDLING STOP

2. Temp. mesin > 60°C & cukup panas utk dihidupkan 3. Pengendara duduk diatas kursi / jok pengemudi 4. Motor telah mencapai kecepatan > 10 km/jam 5. Throttle dalam posisi tertutup penuh

6. Motor dalam kondisi berhenti setidaknya 3 detik

(38)

1. Siapkan remote control baru.

2. Lepaskan panel meter depan, penutup konektor 2P (warna merah), Hubungkan Test

harness adaptor dan Inspection adaptor untuk Re-set.

TOOLS:

Test harness adaptor 070MZ-MEC0100

Inspection adaptor 07XMZ-MBW0101

3. Putar kunci kontak posisi ON, Hubungkan inspeksi adaptor klip warna merah ke terminal positif (+) & klip warna hijau/hitam ke terminal negatif (-) ke Battery 12V.

4. Lepaskan inspeksi adaptor klip warna merah dari terminal positif (+) battery selama 2 detik atau lebih kemudian sambungkan lagi, Indikator akan menyala selama 2 menit

• Sistem alarm anti maling memasuki mode Re-set

• Semua riwayat remote yg terdaftar sebelumnya akan dihapus.

(39)

5. Tekan remote control yang baru 2x, buzzer akan berbunyi 1x saat remote

control terdaftar & indikator akan berkedip saat remote terdaftar dengan sukses.

6. Remote control cadangan harus terdaftar lagi, buat prosedur pendaftaran dalam

waktu 2 menit sebelum pendaftaran selesai, tekan remote control tambahan 2x.

(jangan gunakan remote control yg sdh terdaftar dilangkah-langkah sebelumnya.),

Buzzer akan berbunyi 2x saat remote transmiter kedua terdaftar dg sukses. Pada

saat yg bersamaan jika kita menekan remote control, indikator akan berkedip

secara bersamaan.

7. Ulangi langkah 6 saat anda akan mendaftarkan lagi remote control baru yg lainnya.

Speedometer dapat menyimpan pendaftaran hingga 4 remote control.

8. Putar kunci kontak ke off dan lepaskan adaptor inspeksi / test harness adaptor.

• Sistem alarm anti maling kembali normal.

9. Periksa anti-theft alarm system, dapat digunakan dg remote yang telah didaftarkan.

(40)

1. Lepaskan jok, konektor 3P ABS service check [1] dari konektor dummy [2]. 2. Hubungkan singkat terminal-terminal kabel dari konektor 3P ABS service

check dengan sebuah jumper wire [3] dengan kunci kontak diputar ke OFF

dengan cara yang sama seperti pada waktu pengeluaran.

Hubungan: Abu-abu/merah– Hijau

3. Putar ignition switch ke ON &engine stop switch keΩ sementara tekan handel rem. ABS indicator harus menyala selama 2 detik lalu mati. 4. Lepaskan handel rem dengan segera setelah ABS indicator mati. ABS

indicator harus menyala.

5. Tekan handel rem segera setelah ABS indicator menyala. ABS indicator

harus mati.

6. Lepaskan handel rem segera setelah ABS indicator mati. Setelah

penghapusan kode selesai, ABS indicator akan berkedip 2x & menyala terus.

Jika ABS indicator tidak berkedip 2x data belum terhapus, jadi cobalah sekali lagi.

Jika ABS indicator berkedip 2x lalu berkedip terus, berarti sistem ABS tidak bekerja dengan baik, bacalah troubleshooting ABS.

7. Putar ignition switch ke OFF dan lepaskan jumper wire.

Hubungkan konektor 3P ABS service check ke konektor dummy.

(41)

REGULATOR PMC

(Power Management Controller)

Dengan kata lain, PMC dapat mendeteksi tegangan input regulator untuk mengatur output kapan waktu nyala

headlight, sehingga akan memudahkan starting PMC mendeteksi bahwa tegangan input masih

rendah, sehingga mengatur output headlight  OFF. PMC mendeteksi bahwa tegangan input ketika

berada di sekitar 900 rpm telah melewati ambang

LDV (Low Voltage Detection ) sehingga akan

mengatur control output headlight untuk On.

• Pada sepedamotor yang sudah aplikasi AHO, maka tidak terdapat saklar untuk mematikan/menyalakan headlight, regulator dengan PMC, menggantikan fungsi saklar tersebut ketika pertama kali starting.

• Pada saat starting baik dengan kick starter maupun electric starter, headlight tidak akan langsung menyala sebelum engine benar-benar menyala.

• Dengan meng-OFF-kan beban pada saat starting akan mengurangi friksi magnetis pada ACG, yang membuat beban crankshaft berputar menjadi berkurang.

• Pengurangan friksi tersebut akan meringankan/memudahkan starting engine

(42)

Kesimpulan :

semua beban ( AC maupun DC ) dalam unit motor dilindungi dua komponen tersebut.

Supaya semua komponen cenderung lebih awet/long life ( lampu2,motor starter dll ).

MAIN RELAY (Microiso Relay)

Fungsi Main Relay ( microiso relay ) sama fungsinya dengan PMC Regulator namun perbedaanya PMC melindungi beban AC sedangkan Main relay/microiso

relay/DC load cut relay melindungi beban DC, secara prinsip kerja hampir sama. ->

memudahkan starter

Microiso Relay sebagai switch/relay pada saat kondisi baterai Drop/jelek dan tidak bisa distart. Sehingga diharuskan dikick starter

Microiso Relay memutus tegangan ke semua beban DC sebelum motor benar-benar hidup, Sedangkan PMC Regulator memutus tegangan ke beban AC dalam hal ini Head Light.

(43)

40

(44)

Komponen PGM-FI yang digaransi 5 tahun

Supra X125 HI FI

Spacy FI

Vario 125

BODY SET (TP SENSOR) INJECTOR ASSY., FUEL PGM-FI UNIT (ECM) PUMP ASSY., FUEL THERMOSTAT OILSENSOR ASSY., SENSOR, OXYGEN 16410-KYZ-711 16450-KVB-S51 38770-KYZ-711 16700-KYZ-711 37750-KPH-701 36532-KWW-641

BODY SET (TP SENSOR) INJECTOR ASSY., FUEL PGM-FI UNIT PUMP UNIT, FUEL THERMOSTAT OIL SENSOR ASSY., SENSOR, OXYGEN SOLENOID (FISV)

16410-KZL-C31 16450-KVB-S51 16700-KZL-931 16480-KVB-S51

37750-KPH-701 36532-KZL-931 38770-KZL-C31

BODY SET (TP SENSOR) INJECTOR ASSY., FUEL CONTROL UNIT, ENGINE PUMP UNIT, FUEL SENSOR ASSY., WATER TEMP. SENSOR, OXYGEN SOLENOID (FISV) 16410-KZR-601 16450-KZR-601 30400-KZR-601 16700-KZR-601 37870-KZR-601 36532-KZR-601 16480-KVB-S51

Note :

• Nama Part dan Nomor Part diambil dari Parts Catalog masing – masing model/type.

• CKP Sensor secara fisik = Pulser, yg merupakan salah satu komponen utama engine, shg tidak termasuk dalam garansi 5 tahun.

1 2 3 4 5 6

1 2 3 4 5 6 7

1 2 3 4 5 6 7

(45)

Pemeriksaan fuel pump (PGM-FI)

1. Kunci kontak

“on”, pastikan fuel pump beroperasi selama beberapa detik (bunyi).

2. Jika fuel pump tidak bekerja, lakukan langkah berikut :

3. Lepaskan konektor 5P fuel pump.

4. Putar kunci kontak “on” dan ukur voltase antara terminal-terminal :

Hubungkan

: Hitam/Biru (+) – Coklat (-).

STD

: Voltase Baterai – 1,1 V minimum.

(46)

Reset TP sensor

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Pastikan ECM tidak menyimpan kode kerusakan & posisi throttle tertutup sepenuhnya.

2. Jika kode kerusakan tersimpan dalam ECM, maka proses reset sensor TP/ECM tidak dapat dilakukan.

3. Lakukan reset sensor TP/ECM bila salah satu dari part yg berhub. dg sistem bahan bakar diganti dg yg baru :

Throttle body/pipa intake, Idle air screw, Fuel pump / saringan bahan bakar, Injector, Sensor O2

4. Lakukan reset sensor TP/ECM bila salah satu dari part mesin diganti dg yg baru/saat overhaul, diantaranya :

Cylinder head/valve/valve guide/valve seat, Cylinder/piston/ring piston. Prosedur reset TP sensor

1. Putar kunci kontak OFF.

2. Lepaskan cover di data link connector (DLC). 3. Hubungkan DLC short connector.

4. Lepaskan konektor sensor EOT/ECT & hub. kabel jumper line. 5. Putar kunci kontak ON.

6. Dalam waktu 10 detik, lepaskan kabel jumper line.

(47)

Pemeriksaan Tekanan bahan bakar

* Sebelum melepas fuel pump/fuel feed hose, lepas soket power fuel pump terlebih dahulu. * Hidupkan motor sampai mesin mati.

* Lepas selang bensin, pasang fuel pressure gauge dan socket power, hidupkan mesin & pastikan tekanan bahan bakar 294 Kpa/ (3.0kgf/ Cm², 43 psi).

[1]

[2]

[3]

(48)

1) Putar Kunci kontak ke posisi "OFF".

2) Lepaskan penutup konektor dari DLC (Data Link Connector), kemudian hub. DLC Short Connector ke DLC (Data Link Connector).

3) Putar Kunci kontak ke posisi "ON".

4) Lepaskan DLC short connector dari DLC (Data Link Connector).

5) Sambungkan DLC short connector ke DLC (Data Link Connector) kembali sementara MIL menyala dalam 5 detik.

6) Lihat MIL, jika MIL berkedip maka reset berhasil.

7) Jika MIL menyala terus maka reset gagal, ulangi langkah pertama.

MIL ON

OFF

Failure pattern Reset receiving pattern

Successful pattern Within 5sec. 2-3sec

(49)

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1.Pastikan ECM tidak menyimpan kode kerusakan.

2.Jika kode kerusakan tersimpan dlm ECM, maka proses setting ketinggian tdk dpt dilakukan. 3.Setting ketinggian akan gagal jika proses setting ketinggian mesin dalam keadaan hidup. Pilih MODE yg cocok dengan sesuai dengan ketinggian daearh setempat, sebagai contoh :

MODE 1 :Dari titik mula Altitude tinggi (ketinggian diatas permukaan laut > 2000 m) ke

Altitude rendah (ketinggian diatas permukaan laut < dari 2000 m).

MODE 2 :Ketinggian 2.000 – 2.500 m diatas permukaan laut. MODE 3 :Ketinggian 2.500 – 3.500 m diatas permukaan laut.

MODE 4 :Ketinggian 3.500 m atau lebih tinggi di atas permukaan laut.

Catatan : Setting dari pabrik adalah Mode 1

Setting Ketinggian

Langkah proses setting MODE 1 :

1. Putar kunci kontak ke OFF. 2. Lepaskan cover body tengah.

3. Lepas DLC [1] dari rangka [2] & lepas konektor dummy [3] dari DLC.

ke OFF

(50)

MIL seharusnya menyala dan kemudian mulai berkedip dengan cepat. 6. Dalam waktu 5 detik setelah kedipan cepat dimulai, tutup handle gas dan

tahan selama lebih dari 3 detik.

4. Buka handle gas sepenuhnya dan tahan. 5. Putar kunci kontak ke ON

Buka dan tahan Putar ke On

(51)

Catatan :

• Jika MIL tidak mulai berkedip dengan cepat, putar kunci kontak ke OFF dan coba lagi. • Jika anda tdk dpt melakukan setting ketinggian, periksa ulang apakah kode kerusakan

benar benar tidak tersimpan di ECM.

• Jika kode kerusakan tidak tersimpan akan tetapi anda masih tidak dapat melakukan

setting ketinggian, ganti ECM yang masih dalam keadaan baik dan coba lagi.

7. Jika proses setting ketinggian MODE 1 berhasil maka MIL akan berkedip-kedip dengan kedipan pendek berulang. Kemudian putar kunci kontak ke OFF

ke OFF

Pola berhasil

(satu kedipan pendek berulang)

8. Putar Idle air screw ke arah membuka sesuai spesifikasi dan periksa putaran stasioner mesin.

Putaran stasioner mesin : 1.400 + 100 (rpm)

(52)

Buka dan tahan Putar ke On

MIL seharusnya menyala dan kemudian mulai berkedip dengan cepat.

MIL On Berkedip cepat

1. Hubungkan special tool pada DLC .

2. Buka handel gas sepenuhnya dan tahan. 3. Putar kunci kontak ke ON.

4. MIL seharusnya menyala dan kemudian mulai berkedip dengan cepat.

5. Dalam waktu 5 dtk setelah kedipan cepat dimulai, hentakkan handel gas dg cepat (tutup selama 0,5 dtk/buka selama 0,5 dtk) sejumlah yg ditentukan,kemudian tutup & tahan selama lebih dari 3 detik.

MODE 2 : Hentakkan handel gas 1 kali MODE 3 : Hentakkan handel gas 2 kali MODE 4 : Hentakkan handel gas 3 kali

0,5 detik

0,5 detik

(53)

Catatan :

• Jika MIL tidak mulai berkedip dg cepat putar kunci kontak ke OFF dan coba lagi.

• Jika anda tdk dpt melakukan setting ketinggian periksa ulang apakah kode kerusakan benar-benar tdk tersimpan di ECM. Jika kode kerusakan tdk tersimpan akan tetapi anda msh tdk dpt melakukan setting ketinggian, ganti ECM yg msh dlm kondisi baik & coba lagi.

MODE 4 MODE 3

MODE 2 ke OFF

7. MIL akan mengulang kedipan-kedipan pendek sejumlah MODE yang dipilih.

Sebagai contoh: jika MODE 2 yg dipilih maka MIL akan berkedip-kedip dg dua kedipan pendek berulang. Kemudian putar kunci kontak ke OFF.

8. Putar Idle air screw ke arah membuka sesuai spesifikasi & periksa putaran stasioner mesin :

1.400 + 100 (rpm) Catatan :

• Jika MIL mulai berkedip dengan perlahan selama proses reset setting ketinggian belum berhasil, putar kunci kontak ke OFF dan coba lagi.

• Jika jumlah kedipan MIL dan angka MODE yang diinginkan berbeda, putar kunci kontak ke OFF dan coba lagi.

(54)

Selenoid valve pd throtle body berfungsi sebagai Auto Choke (karburator) utk memperkaya

campuran saat kondisi motor dingin. Selenoid valve akan membatasi putaran idle pd 1700-2000 rpm berdasarkan input dari sensor temperatur dan bersinergi dengan ECM agar campuran tidak terlalu kaya yang dikhawatirkan akan membuat RPM idle lebih tinggi yang dapat mengakibatkan Spin pada roda belakang.

Pemasangan komponen ini ada hubungannya dg faktor safety dimana motor matik

membutuhkan fitur safety yang lebih dari pada tipe cub walaupun sama-sama FI. Dimana pada motor matic saat starter diusahakan semudah mungkin motor dapat langsung hidup tanpa harus memainkan throtle gas karena sangat berbahaya utk tipe matik (spin roda belakang) maka

dibutuhkan DC load cut relay yang berfungsi memutus semua beban DC sehingga kerja motor starter jauh lebih ringan sehingga motor lebih mudah hidup.

(55)

52

(56)

TROUBLE SHOOTING

Tidak ada sistem pengapian

a. Buka busi, cek

nyala api pada busi

Tidak ada nyala api

b. Buka cop busi, cek

nyala api pada busi

Tidak ada nyala api

ada

Ada, nyala api menyebar

Busi rusak

Cop busi rusak

c. Cek nyala api dari

kabel coil

ada

Busi mati

Tidak ada nyala api

d. Cek nyala api dari

generator

Tidak ada nyala api

Spul rusak

ada

e. Cek kunci kontak,

cek api dari coil

ada

Tidak ada nyala api

f. Cek CDI dan coil

Kunci kontak

rusak

(57)

GEJALA ANALISA JUGA PERIKSA

1. Inisialisasi / reset ECM / reset TP sensor * Tidak adanya bensin ke Injektor

2. Cek Busi - Filter bensin tersumbat

3. Cek Sistem Pengapian - Tutup tangki

4. Cek Kompresi - Fuel Feed Hose terjepit / tersumbat

5. Cek Idle Air Screw - Fuel Pump rusak

6. Cek FISV (utk tipe matik) - Rangkaian fuel pump rusak 7. Cek Fuel Line & Fuel Pump * Kebocoran udara intake

* Bensin terkontaminasi / buruk * Injektor rusak

* Sistem pengapian rusak Mesin berputar tetapi tidak mau hidup 1. Rangkaian daya/massa ECM tidak berfungsi

(Tidak ada suara fuel pump saat kontak on) 2. periksa fuel line & fuel pump

* Fuse 25 A rusak (VARIO 125)

* Fuse 10 A rusak (IGN,INJ,Fuel Pump) Mesin mati sendiri, sulit dihidupkan, rpm 1. Inisialisasi / reset ECM / reset TP sensor * Kebocoran udara intake

kasar 2. Setting altitude (PGM-FI step 4) * Bensin terkontaminasi / buruk

3. Cek RPM mesin * Injektor rusak

4. Cek Idle Air Screw * Sistem pengapian rusak

5. Cek FISV * Pernapasan tutup tangki tersumbat

6. Cek Fuel Line & Fuel Pump 7. Cek Sistem Pengisian 8. Cek Sistem Pengapian Mesin berputar tetapi tidak mau hidup

(Tidak ada kedipan DTC atau MIL)

* Rangkaian terbuka pd kabel input daya dan/atau massa dari ECM

Figure

Updating...

References

Updating...

Related subjects :