• No results found

Jurnal Biatch

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Share "Jurnal Biatch"

Copied!
13
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA PANTAI TORONIPA

STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA PANTAI TORONIPA

Toronipa’s Beach Ecotourism Development Strategy Toronipa’s Beach Ecotourism Development Strategy 1

1

Muhammad Zulkarnain Muin,

Muhammad Zulkarnain Muin,

22

Djohan Bana,

Djohan Bana,

33

La Ode Syamsul Barani

La Ode Syamsul Barani

1

1

Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universtias Halu Oleo

Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Universtias Halu Oleo

2,3

2,3

Staf Pengajar Ilmu Ekonomi Universtias Halu Oleo

Staf Pengajar Ilmu Ekonomi Universtias Halu Oleo

*) e-mail :

*) e-mail : [email protected]

[email protected]

ABSTRACT

ABSTRACT

In South East Sulawesi, many resort can be found however still need a lot of improvement. This In South East Sulawesi, many resort can be found however still need a lot of improvement. This research aims to determine potential in one of resort in South East Sulawesi, which is Toronipa Beach. research aims to determine potential in one of resort in South East Sulawesi, which is Toronipa Beach. Using ecotourism concept where a resort able to give multiplier effect for society and environment in resort Using ecotourism concept where a resort able to give multiplier effect for society and environment in resort habitant.This research use observation technique and interview through visitors, officer and stakeholder. habitant.This research use observation technique and interview through visitors, officer and stakeholder. Based on research and observation, local community has high level participating in resort development. Based on research and observation, local community has high level participating in resort development. Most of facilities owners and officers in Toronipa Beach are owned by local people that lived inside Most of facilities owners and officers in Toronipa Beach are owned by local people that lived inside Toronipa Beach location. Based on obtained, processed and analysed data resulting potential development Toronipa Beach location. Based on obtained, processed and analysed data resulting potential development in Toronipa beach.

in Toronipa beach. Keywords

Keywords : Ekotourism, , Resort Development : Ekotourism, , Resort Development ABSTRAK

ABSTRAK

Di Sulawesi Tenggara sendiri terdapat banyak objek wisata, namun masih butuh banyak Di Sulawesi Tenggara sendiri terdapat banyak objek wisata, namun masih butuh banyak  pengemba

 pengembangan. ngan. PenelitiaPenelitian n ini ini bertujuan untuk bertujuan untuk mengetahumengetahui i potensi potensi pengempengembangan bangan salah salah satu satu dari dari objekobjek wisata di Sulawesi Tenggara, yaitu Pantai Toronipa. Dengan menggunakan konsep ekowisata dimana wisata di Sulawesi Tenggara, yaitu Pantai Toronipa. Dengan menggunakan konsep ekowisata dimana  pengemba

 pengembangan suatu objek dapat memngan suatu objek dapat memberi efekberi efek multipliermultiplier kepada masyarakat dan kelestarian lingkungankepada masyarakat dan kelestarian lingkungan objek wisata. Penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara kepada pengunjung, pengelola objek wisata. Penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara kepada pengunjung, pengelola dan pemilik lahan, Berdasarkan hasil penelitian dan observasi, tingkat partisipasi masyarakat sangat tinggi dan pemilik lahan, Berdasarkan hasil penelitian dan observasi, tingkat partisipasi masyarakat sangat tinggi dalam pengembangan objek wisata. Hampir seluruh fasilitas dan pengelola pantai merupakan milik dalam pengembangan objek wisata. Hampir seluruh fasilitas dan pengelola pantai merupakan milik masyarakat pemilik lahan yang tinggal di wilayah obyek wisata. Dari data yang diperoleh dikelola dan masyarakat pemilik lahan yang tinggal di wilayah obyek wisata. Dari data yang diperoleh dikelola dan dianalisis menggunakan metode SWOT yang menghasilkan beberapa potensi pengembangan ekowisata di dianalisis menggunakan metode SWOT yang menghasilkan beberapa potensi pengembangan ekowisata di Pantai Toronipa.

Pantai Toronipa. Kata Kunci

Kata Kunci : Ekowisata, Pengembangan Objek Wisata : Ekowisata, Pengembangan Objek Wisata PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Pariwisata adalah salah satu dari industry gaya baru, yang mampu menyediakan pertumbuhan Pariwisata adalah salah satu dari industry gaya baru, yang mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor  produksi

 produksi lain lain di di dalam negara dalam negara penerima wisatawan penerima wisatawan ( ( Wahab, 2003 Wahab, 2003 : : 5) 5) Indonesia sebagai Indonesia sebagai negara negara yangyang sedang berkembang dalam tahap pembangunannya, berusaha membangun industri pariwisata sebagai salah sedang berkembang dalam tahap pembangunannya, berusaha membangun industri pariwisata sebagai salah satu cara untuk mencapai neraca perdagangan luar negeri yang berimbang. Melalui industri ini diharapkan satu cara untuk mencapai neraca perdagangan luar negeri yang berimbang. Melalui industri ini diharapkan  pemasuka

 pemasukan n devisa dapat devisa dapat bertambabertambah h (Pendit, 2002). (Pendit, 2002). Selain itu, Selain itu, dalam pembangunan nasional, pariwisatadalam pembangunan nasional, pariwisata merupakan salah satu bidang yang banyak memberikan sumbangan devisa negara untuk sektor nonmigas. merupakan salah satu bidang yang banyak memberikan sumbangan devisa negara untuk sektor nonmigas. Pembagunan pariwisata yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat lokal berperan dalam perluasan Pembagunan pariwisata yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat lokal berperan dalam perluasan lapangan kerja, mendorong serta memeratakan pembangunan daerah, meningkatkan kesejahteraan dan lapangan kerja, mendorong serta memeratakan pembangunan daerah, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Pari

kemakmuran masyarakat. Pariwisata bukan saja sebagai sumber devisa, tetapi juga merupakan faktor dalamwisata bukan saja sebagai sumber devisa, tetapi juga merupakan faktor dalam menentukan lokasi industri dalam perkembangan daerah-daerah yang miskin sumber-sumber alam menentukan lokasi industri dalam perkembangan daerah-daerah yang miskin sumber-sumber alam sehingga perkembangan pariwisata adalah salah satu cara untuk memajukan ekonomi di daerah-daerah sehingga perkembangan pariwisata adalah salah satu cara untuk memajukan ekonomi di daerah-daerah yang kurang berkembang tersebut sebagai akibat kurangnya sumber-sumber alam (Yoeti, 1997).

(2)

Pembangunan ekonomi daerah yang kuat dan berkelanjutan merupakan sebuah kolaborasi yang efektif antara pemanfaatan sumberdaya yang ada, masyarakat dan pemerintah. Dalam konteks ini,  pemerintah sebagai regulator berperan strategis dalam mengupayakan kesempatan yang luas bagi

masyarakat lokal untuk berpartisipasi penuh dalam setiap aktivitas ekonomi. Salah satu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan mengembangkan parwisata dengan konsep Ekowisata. Dalam konteks ini wisata yang dilakukan memiliki bagian yang tidak terpisahkan dengan upaya-upaya konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal dan mendorong respek yang lebih tinggi terhadap perbedaan kultur atau budaya. Perencanaan pariwisata haruslah di dasarkan pada kondisi dan daya dukung dengan maksud menciptakan interaksi jangka panjang yang saling menguntungkan diantara pencapaian tujuan  pembangunan pariwisata, peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, dan berkelanjutan daya dukung

lingkungan di masa mendatang (Fandeli,1995).

Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesi a memiliki potensi budaya, potensi wilayah wisata alam, potensi wisata bahari, dimana hal tersebut merupakan daya tarik tersendiri yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini untuk mempengaruhi calon-calon wisatawan  berkunjung ke daerah wisata di Sulawesi Tenggara. Di Sulawesi Tenggara sendiri banyak terdapat pantai yang potensi wisatanya besar, khususnya di Kabupaten Konawe, Pantai Toronipa terletak 20 Km dari Ibu Kota Sulawesi Tenggara ini telah menjadi salah satu objek wisata pemberi retribusi terbesar bagi Kabupaten Konawe selama belasan tahun. Untuk itu, diperlukan strategi dalam pengembangan yang baik sehingga tidak hanya mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata di Kabupaten Konawe dan menjadi sumber PAD bagi daerah tetapi juga dapat melestarikan lingkungan sekitar daerah pariwisata baik dari segi sosial, ekonomi dan keberlangsungan hayati dan budayanya yang dilakukan dengan memberdayakan masyarakat lokal.

2. Kajian Literatur

Perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai : Suatu proses perumusan

alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta-fakta yang akan

digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/aktivitas kemasyarakatan,

 baik yang bersifat fisik (material) maupun nonfisik (mental dan spiritual) dalam rangka mencapai

tujuan yang lebih baik (Riyadi dan Bratakusumah 2004 : 7). Tidak hanya itu, pembangunan

memiliki artis yang luas, pembangunan juga diartikan oleh beberapa ahli yaitu : pembangunan

menurut Rogers (Rochajat,dkk: 2011:3) adalah perubahan yang berguna menuju sustu sistem

sosial dan ekonomi yang diputuskan sebagai kehendak suatu bangsa. Selanjutnya menurut W.W

Rostow (Abdul: 2004:89) pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis

lurus, yakni dari masyarakat terbelakang ke masyarakat negara yang maju. Menurut Conyers &

Hills (1994) mendefinisikan “perencanaan” sebagai ”suatu proses yang bersinambungan”, yang

mencakup “keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan berbagai aiternatif penggunaan sumber daya

untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa yang akan datang.“ Proses perencanaan

merupakan suatu prosedur dan tahapan dari perencanaan itu dilaksanakan .Secara hierarki,

 prosedur perencanaan itu dilakukan atas dasar prinsip Top-Down Planning, yaitu proses

 perencanaan yang dilakukan oleh pemimpin tertinggi suatu organisasi kemudian atas dasar

keputusan tersebut dibuat suatu perencanaan di tingkat yang lebih rendah.Prinsip lainnya adalah

lawan dari prinsip di atas yaitu Bottom-Up Planning yang merupakan perencanaan yang awalnya

dilakukan di tingkat yang paling rendah dan selanjutnya disusun rencana organisasi di atasnya

sampai dengan tingkat pusat atas dasar rencana dari bawah.

Ekowisata lebih populer dan banyak dipergunakan dibanding dengan terjemahan yang

seharusnya dari istilah ecotourism, yaitu ekoturisme. Terjemahan yang seharusnya dari ecotourism

adalah wisata ekologis. Yayasan Alam Mitra Indonesia (1995) membuat terjemahan ecotourism

(3)

dengan ekoturisme. Di dalam tulisan ini dipergunakan istilah ekowisata yang banyak digunakan

oleh para rimbawan. Hal ini diambil misalnya dalam salah satu seminar dalam Reuni Fakultas

Kehutanan Universitas Gadjah Mada (Fandeli,1998). Kemudian Nasikun (1999), mempergunakan

istilah ekowisata untuk menggambarkan adanya bentuk wisata yang baru muncul pada dekade

delapan puluhan.Pengertian tentang ekowisata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

 Namun, pada hakekatnva, pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang

 bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural aren), memberi manfaat

secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budava bagi masyarakat setempat. Atas dasar

 pengertian ini, bentuk ekowisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan konservasi yang

dilakukan oleh penduduk dunia. Eco-traveler ini pada hakekatnya konservasionis.

Definisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society

(1990) sebagai berikut: Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang

dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan

kesejahteraan penduduk setempat. Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam

yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan

kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga.Namun dalam perkembangannya ternyata bentuk

ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan. Ekowisata merupakan

 bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi. Apabila ekowisata pengelolaan alam

dan budaya masyarakat yang menjamin kelestarian dan kesejahteraan, sementara konservasi

merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam untuk waktu kini dan

masa mendatang. Hal ini sesuai dengan definisi yang dibuat oleh The International Union for

Conservntion of Nature and Natural Resources (1980), bahwa konservasi adalah usaha manusia

untuk memanfaatkan biosphere dengan berusaha memberikan hasil yang besar dan lestari untuk

generasi kini dan mendatang.

Sementara itu destinasi yang diminati wisatawan ecotour adalah daerah alami. Kawasan

konservasi sebagai obyek daya tarik wisata dapat berupa Taman Nasional, Taman Hutan Raya,

Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata dan Taman Buru. Tetapi ka wasan hutan yang lain

seperti hutan lindung dan hutan produksi bila memiliki obyek alam sebagai daya tarik ekowisata

dapat dipergunakan pula untuk pengembangan ekowisata.

METODE PENELITIAN

Data yang di peroleh dalam penelitian ini selanjutnya di analisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif kemudian akan dilanjutkan dengan menggunakan analisis SWOT, Menurut Rangkuti (2002 :31), dengan analisis SWOT dapat melihat factor internal dan eksternal pariwisata dalam melihat

kekuatan dan kelemahan yang di miliki, dan dalam waktu bersamaan melihat peluang dan ancaman yang akan dihadapi. Analisis SWOT merupakan suatu teknik perencanaan strategi yang bermanfaat untuk mengevaluasi Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) dalam suatu proyek, baik proyek yang sedang berlangsung maupun dalam perencanaan proyek  baru.

(4)

Dalam penelitian ini di gunakan teknik pengumpulan data dengan cara sebagai berikut :

a. Studi Kepustakaan (Library Research) Dalam studi kepustakaan ini Penulis berusaha menelaah  berbagai bahan bacaan/pustaka berupa buku-buku, majalah, surat kabar, undang-undang, peraturan  perundang-undangan serta dokumen-dokumen lainnya yang mempunyai relevasi dengan masalah yang

diteliti.

 b. Studi Lapangan ( Field Research) Studi lapangan ini dimaksudkan untuk melakukan penelitian pada lokasi atau objek yang telah di tentukan secara langsung, studi lapangan di tempuh dengan cara observasi dan wawancara

Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi utama di wilayah pantai Toronipa, desa Toronipa Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui potensi-potensi yang dapat dikembangkan di pantai Toronipa dengan pengunjung pantai serta pengelola dan pedagang yang ada di wilayah pantai. Dengan kelompok narasumber terbagi menjadi pengunjung dan pengelola. Wawancara lainnya dilakukan di dinas terkait sesuai dengan data yang dibutuhkan. Waktu penelitian ini ditargetkan  pada hari-hari libur saat kunjungan wisatawan meningkat, khususnya di akhir minggu

HASIL PENELITIAN

Gambaran Umum Lokasi Pantai Toronipa

Pantai Toronipa adalah salah satu objek wisata yang berada di Sulawesi Tenggara, tepatnya desa

 blablabla Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Objek wisata pantai Toronipa telah lama berdiri dan dikelola oleh pemerintah dan masyarakat setempat sejak tahun 2009.

Adapun informasi umum mengenai informasi umum lokasi pantai adalah sebagai berikut : Informasi Jarak dan Luas Pantai Toronipa

Jarak Pantai Toronipa dan Kota Kendari ±34 Km

Jarak Pantai Toronipa ke Pulau Bokori ±4 Km

Jarak Pantai Toronipa Ke Pulau Saponda ±15 Km

Panjang pantai Toronipa ±2 Km

Lebar pantai ±350 m

Sumber : Pengelola Pantai Toronipa dan Google Map

Dengan sepanjang pantai dapat ditemukan rumah pantai dari kayu dan atap rumbia disertai warung-warung yang menjual makanan ringan dan minuman dilengkapi dengan kamar mandi dengan jarak ±10 meter antar warung. Sejauh mata memandang, pantai toronipa berupa pantai pasir putih ditanami pohon kelapa dan pelindung angin.

Sarana dan Prasarana

Lokasi objek wisata Pantai Toronipa berada pada ujung desa Toronipa.Dengan memiliki gerbang setinggi 3,5 Meter sebagai pintu masuk. Yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Konawe. Gerbang ini

kemudian dijaga oleh petugas yang berjumlah 12 orang merupakan masyarakat Toronipa yang memiliki lahan di wilayah Pantai Toronipa yang di koordinir oleh petugas dari Kecamatan.

(5)

Jenis dan Jumlah Sarana Pantai Toronipa

Sarana Jumlah

Gerbang Utama 1

Warung 12

Kamar Mandi umum 11

Penginapan 1

Penyewaan Ban (Pelampung) 8

Gazebo (Rumah Pantai) 145

Rumah Makan 10

Banana Boat 3

Donut Boat 1

Jetski 1

TOTAL 184

Sumber : Data Primer hasil observasi Karakteristik Responden

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Karakteristik Responden berdasarkan pekerjaan dibedakan berdasarkan pekerjaan yang dimiliki  pengunjung. Pengunjung pantai memiliki pekerjaan yang beragam, tetapi dominan bekerja sebagai

mahasiswa dan pekerja swasta

Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

 No Pekerjaan Jumlah

1 PNS 9

2 Pegagawai Swasta 8

3 Pelajar / Mahasiswa 12

4 Wiraswasta 2

5 Ibu rumah tangga 4

Sumber : Data Primer yang telah diolah 2017

Yang berkunjung ke Pantai Toronipa sebagian besar adalah pegawai yang terdiri dari PNS sebanyak 9 orang dan pegawai swasta sebanyak 8 orang. Hal ini dikarenakan para pekerja menghabiskan waktu liburan mereka di pantai Toronipa terutama di akhir minggu. Mahasiswa menjadi pengunjung kedua terbanyak dengan jumlah 12 orang, hal ini disebabkan kemudahan akses dan tarif murah di pantai

(6)

Toronipa. Ibu rumah tangga dengan jumlah 4 orang melakukan kunjungan dengan keluarga mereka. Selain itu beberapa kelompok mahasiswa dan PNS sedang melakukan liburan kantor dan kampus. 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Tinggal

Karakteristik respinden beradasrkan tempat tinggal dibedakan menjadi 2 kategori. Hal ini karena dari seluruh responden hanya ada 2 yang berasal selain Kota Kendari, yaitu berasal dari Kabupaten Konawe

Karakteristik Responden Berdasarkan Daerah Asal

 No Asal Daerah Jumlah

1 Kendari 34

2 Konawe 1

Sumber : Data Primer yang telah diolah 2017

Hanya terdapat 1 responden yang berasal dari wilayah luar Kota Kendari, yakni Kabupaten Konawe. Sebagian sisanya berasal dari wilayah Kendari. Meskipun Toronipa berada di Kabupaten Konawe tetapi  pengunjungnya sebagian besar berasal dari Kota Kendari. Ini dikarenakan jarak yang dekat dengan Kota

Kendari dibandingkan Unaaha.

Penilaian Pengunjung Terhadap Sarana dan Prasarana

Masyarakat memberikan tanggapan positif terhadap pantai Toronipa, dengan fasilitas yang

lengkap dengan harga terjangkau membuat banyak pengunjung menjadikan Pantai Toronipa

sebagai tujuan wisata utama mereka. fasilitas yang nyaman tetapi tidak terlalu mewah membuat

masyarakat senang karena dapat menikmati suasana pantai tanpa perlu biaya yang terlalu mahal.

Hal ini juga berlaku untuk tiket masuk yang dianggap murah dibandingkan pantai lain yang

menerapkan tarif paten yang dianggap memberatkan.

(7)

Penilaian Pengunjung Terhadap Sarana dan Prasarana Pantai Toronipa

Tanggapan Masyarakat

Jumlah

Sangat Menyukai

6 orang

Menyukai

10 orang

Sedang

8 orang

Tidak Menyukai

4 Orang

Sangat Tidak Menyukai

2 orang

Total Responden

30 orang

Sumber : Data Primer hasil wawancara

Dengan kualitas sarana dan prasarana pantai yang sama baiknya, pengunjung dapat

menikmatinya dengan harga yang relatif lebih murah. Ditambah lagi fasilitas jalanan ke pantai

Toronipa yang baik membuat pengunjung menjadikan Toronipa sebagai salah satu pilihan utama.

Jarak Dekat 35% Harga Murah 27% Suasana Nyaman 18% Acara Kantor/Diajak Teman 14% Tanpa rencana 6%

MOTIVASI KUNJUNGAN

(8)

Grafik 4.2 Keluhan Wisatawan Terhadap Pantai Toronipa

Analisis SWOT

a.

Analisis

 Stength

(Kekuatan)

Analisis Strength (Kekuatan) merupakan analisis faktor-faktor internal dan eksternal dari pantai Toronipa, faktor internal yang dimiliki oleh pantai Toronipa adalah keterlibatan masyarakat yang tinggi baik dalam  pengelolaan dan pengembangan pantai Toronipa. Faktor eksternal dari pantai Toronipa datang dari letak geografisnya yang sangat dekat dengan Ibukota Provinsi menjadikan Toronipa selalu menjadi salah satu  pilihan teratas untuk menghabiskan akhir pekan turis lokal.

b.

Analisis

 Weakness

(Kelemahan)

Analisis Weakness (Kelemahan) dari pantai Toronipa juga berasal dari faktor internal, yakni komposisi flora dan fauna pantai yang sangat sedikit. Meski memiliki garis pantai yang panjang, kurangnya flora dan fauna yang dapat menarik wisatawan menjadi kelemahan utama pantai Toronipa. Pantai Toronipa tidak memiliki terumbu karang, sehingga tidak mendukung adanya kehidupan laut sepanjang wilayah wisata. Selain itu, fasilitas yang tersedia kurang berkembang dan dan tidak bervariasi. Menyebabkan pantai Toronipa kurang menarik dibandingkan dengan pantai lainnya.

c.

Analisis

 Oppportunity

(Peluang)

Salah satu peluang yang dimiliki oleh Pantai Toronipa. Pantai Toronipa memiliki luas pantai yang sangat besar, dikarenakan garis pantainya yang panjang hingga mencapai 2 Km. Menjadikan pantai ini memiliki potensi yang sangat besar dalam perencanaan pengembangan sarana dan prasarananya.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Sumber : Hasil Wawancara

Keluhan Wisatawan

Terhadap Pantai Toronipa

(9)

Dengan garis pantai panjang ini Toronipa memiliki banyak fasilitas pantai yang tersedia dan masih dapat dikembangkan lagi.

d.

Analisis

 Threat 

 (Ancaman)

Ancaman yang dimiliki oleh Pantai Toronipa adalah faktor eksternal dimana sudah mulai

ditemukan banyak tempat-tempat wisata yang memiliki jarak yang tidak jauh dari pantai Toronipa. Pulau Bokori, Pulau Saponda dan Bintang Samudera dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam. Dengan keunikan masing-masing, tempat wisata tersebut dapat menjadi ancaman besar seiring dengan

 perkembangannya. Terlebih lagi pulau Bokori yang pembangunannya dipercepat oleh pemerintah,  pembangunan besar-besaran oleh pemerintah Provinsi baik dari segi fasilitas dan pemasaran dengan

mengadakan beberapa kegiatan seperti tahun baru di Pulau Bokori menjadi ancaman besar bagi pantai Toronipa. Ttidak kalah Bintang Samudera untuk keperluan snorkeling yang telah mendapat investasi  besar dalam pembangunan fasilitasnya dan Pulau Saponda.

Analisis Swot Strategi Pengembangan Ekowisata Pantai Toronipa Strength (Kekuatan)

Memiliki jarak yang dekat dengan Ibu Kota Sulawesi Tenggara ±20 Km dari pusat Kota Kendari

Weakness (Kelemahan) Tak memiliki daya tarik yang khusus dibandingkan dengan wisata lainnya

Opportunities (Peluang) Garis Pantai Toronipa yang mencapai ±2 Km terhitung dari gerbang utama hingga ujung pantai

Strategy SO (Strength + Opportunity)

Mengadakan festival dan acara tahunan untuk menarik  pengunjung

Strategy WO

(Weakness + Opportunity) Menambah varian fasilitas

Rumah Makan dan

(10)

Threats (Ancaman) Memiliki jarak yang dekat dengan objek wisata lainnya seperti Pulau Bokori dan Pulau Saponda

Strategy ST (Strength + Threats)

Melakukan promosi dan kerjasama perjalanan wisata dengan sekolah, kantor, dan organisasi masyarakat

Strategy WT

(Weakness + Threats)

Mempromosikan Pantai Toronipa dalam paket  perjalanan wisata yang melibatkan objek wisata yang  berdekatan

Strategi Pengembagan Ekowisata

 Strengths-Opportunities

(S-O)

Jarak Pantai Toronipa sangat dekat dengan Kota Kendari hanya dengan perjalanan ± 30 menit sudah dapat ditempuh. Ditambah lagi mayoritas pengunjung Pantai Toronipa adalah masyarakat Kota Kendari. Memungkinkan Pantai Toronipa untuk melakukan promosi wisata di Kota Kendari dengan mudah.

Berdasarkan informasi dari pengelola pantai dan pedagang, bahwa Pantai Toronipa memiliki tingkat kunjungan yang tinggi pada hari libur, terutama saat tahun baru. Antrian masuk pantai sangat  panjang sehingga pengelola harus bekerja penuh. Namun, pada bulan-bulan tertentu, pantai terasa

menjadi kurang ramai bahkan pada akhir minggu. Berdasarkan data kunjungan setoran PAD Pantai Toronipa, awal tahun merupakan jangka waktu kunjungan wisatawan menurun, yakni pada bulan Januari hingga Maret. Pada bulan-bulan ini pengurus pantai dapat mengadakan kegiatan yang menarik

 pengunjung untuk berdatangan seperti konser musik, penampilan budaya, maupun pengenalan budaya lokal yang target pengunjungnya adalah masyarakat wilayah Kendari. Periklanan dan promosi kegiatan dapat difokuskan di Kota Kendari, melalui flyer dan brosur serta spanduk disepanjang jalan kota. Dengan memfokuskan promosi kegiatan di Kota Kendari, akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi biaya  periklanan.

Kegiatan ini perlu dilakukan dalam kawasan Pantai Toronipa, agar pengunjung dapat dikenakan tiket masuk, dan harga tiket masuk selama festival dapat dinaikkan untuk menutupi biaya untuk

menjalankan festival ini. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan pihak kelurahan Toronipa dan Kecamatan Soropia dalam penyelenggaraannya, agar lebih banyak masyarakat yang terlibat dan juga mendapatkan efek multiplier 

Strategi Pengembagan Ekowisata

Weaknesses-Opportunities

(W-O)

Pantai Toronipa ramai dikunjungi wisatawan, dengan berbagai alasan. Mulai dari jarak yang dekat, suasananya yang nyaman hingga biayanya yang murah. Seiring dengan naiknya wisatawan yang  berkunjung, panta Toronipa perlu meningkatkan fasilitas. Untuk meningkatkan pelayanan dan kepuasan  pegunjung, serta menarik wisatawan.

Pedagang dan pengurus pantai melihat bahwa perlu adanya penginapan di Pantai Toronipa, hal ini disebabkan banyak pengunjung yang berwisata di Toronipa menghabiskan malam di gazebo yang ada,  bahkan beberapa pedagang mulai menyewakan kamar mereka untuk wisatawan yang bermalam di pantai.

Kegiatan pengunjung di pantai Toronipa yang merupakan acara kantor, kampus dan kelompok tertentu mengharuskan mereka untuk menghabiskan malam di wilayah pantai. Salah satu pedagang yang telah membangun penginapan juga menyatakan bahwa pada waktu tahun baru dan hari-hari tertentu

 penginapannya selalu penuh. Laporan dari berbagai pengurus pantai juga mengatakan bahwa ada  beberapa pengunjung yang menginap di Pantai dengan menggunakan tenda tiap minggunya.

Selain itu rumah makan dianggap perlu, karena adanya beberapa wisatawan yang datang tanpa  persiapan matang, sehingga kekurangan bahan makanan. Rumah makan adalah alternatif bagi beberapa

kelompok wisatawan yang tidak sempat membeli bahan makanan sebelum berangkat ke Toronipa. Beberapa pedagang menjelaskan bahwa pada waktu-waktu tertentu tempat makan mereka sering ramai sehingga, banyak yang berencana untuk mendirikan rumah makan yang menyediakan menu yang lebih  bervarian.

(11)

Strategi Pengembagan Ekowisata

 Strengths-Threats

(S-T)

Pantai Toronipa memiliki pantai yang luas dan suasana yang nyaman. Menjadikan tempat ini sebagai salah satu pilihan utama berbaga kelompok untuk rekreasi bersama. Beberapa responden juga mengungkanpan bahwa alasan utama mereka ke pantai adalah karena adanya acara kantor atau

kelompoknya. Alasan mereka memilih pantai Toronipa dikarenakan pantainya yang luas sehingga cocok untuk kegiatan kelompok.

Dengan memanfaatkan jarak Pantai Toronipa yang tidak terlalu jauh dari Ibukota Provinsi, masyarakat maupun pengurus pantai dapat bekerjasama dengan sekolah dan instansi-instansi yang terletak di Kota Kendari dan organisasi maysarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Pantai Toronipa. Kota Kendari merupakan ibukota Provinsi sehingga instansi pemerintah dan sekolah

tersentralisasi di Kota Kendari. Kota Kendari juga merupakan tempat transit dan persinggahan turis-turis yang akan melakukan perjalanan wisata ke daerah Sulawesi Tenggara. Beberapa hal ini memudahkan  pengelola pantai untuk mengadakan periklanan dan hubungan kerjasama.

Strategi Pengembagan Ekowisata

Weakness-Threats

(W-T)

Ancaman terbesar pantai Toronipa adalah dikelilingi oleh banyak tempat wisata dengan tema wisata yang sama dan jarak yang sangat dekat. Hal ini tentu saja dapat mengancam kunjungan wisatawan ke pantai Toronipa. Terlebih lagi pantai Toronipa tak memiliki daya tarik yang kuat dan khusus.

Ancaman ini dapat dimanfaatkan oleh pihak pengelola untuk digunakan sebagai peluang yang  baik dalam mempromosikan pantai Toronipa. Dengan menjadikan paket perjalanan wisata yang

melibatkan pantai Toronipa, Pulau Bokori, Pulau Saponda dan Bintang Samudera. Pengelola dapat meminimalisir ancaman yang mungkin terjadi dan menjadikannya sebagai peluang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Pengelola dapat menjadikan pantai Toronipa sebagai pusat perjalanan wisata karena berada dalam daerah pemukiman warga, sehingga para wisatawan dapat menginap di Toronipa selama perjalanan wisata. Perjalanan wisata ini dapat dilaksanakan saat akhir pekan, dengan jarak yang sangat dekat dengan tempat wisata lain sehingga dapat diselesaikan dalam waktu 2 hari. Perikalanan  perjalanan paket wisata ini dapat dilakukan di hotel-hotel yang berada di Kendari serta flyer-flyer yang

dapat dibagikan di daerah-daerah perkantoran baik pemerintah dan swasta di Kota Kendari.

KESIMPULAN

Usaha peningkatan kunjungan pantai Toronipa dapat ditingkatkan dengan menerapkan 4 strategi

utama, yaitu Strategi SO (Strength-Opportunity) yakni mengadakan kegiatan dipantai Toronipa di

 bulan-bulan dimana kunjungan wisatawan lebih rendah. Kedua Strategi WO

(Weakness-Opportunities) yaitu menambah beberapa fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung,

yaitu rumah makan dan penginapan. Ketiga adalah strategi ST (Strengths-Threats) yaitu

melakukan promosi dan kerjasama perjalanan dengan ho tel, sekolah dan instansi pemerintah untuk

 perjalanan wisata. Strategi ke empat adalah WT (Weaknesses-Threats) adalah melakukan promosi

 paket perjalanan wisata yang melibatkan objek wisata yang jaraknya dekat dengan pantai

Toronipa.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Suryono. 2004. Pengantar Teori Pembangunan, Universitas Negeri Malang, UM Press.

A. Hari Karyono. 1997. Kepariwisataan. Jakarta : Grasindo.

A. Yoeti. Oka. 1995. Pengantar Ilmu Kepariwisataan (Edisi 1). Yogyakarta : ERLANGGA

Blair, John P. 1995. Local Economic Development Analysis and Practice, Sage Publication Inc.

California

(12)

Blakely, Edward J, 1994, “Planning Local Economics development: Theory and Practice”, Sage

 Publication, California, USA

Blakely, Edward J. and Bradshaw, Ted K. Planning Local Economic Development.2002. Third

Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publications,

Chafid Fandeli. 1995. Dasar-Dasar Manajemen Kepariwisataan Alam. Liberty: Yogyakarta.

D. Conyers and Hill. 1984. Konsep Perencanaan Pembangunan.

Damanik, Janianton dan Weber, Helmut. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke Aplikasi.

Yogyakarta: PUSPAR UGM dan Andi.

Eplerwood, M., 1999, Succesfull Ecotourism Bussiness, The Right Approach, Kota Kinibalu Sabah

: World Ecotourism and Conference

Fandeli, Chafid. 2001. Dasar-dasar Manajemen Kepariwisataan Alam. Liberty. Yogyakarta

Glasson, John, Pengantar Perencanaan Regional, Edisi Terjemahan Paul Sihotang, LPFE UI,

Jakarta, 1977.

Ilyas, Muhammad. 2009. Strategi Pengembangan Pariwisata Kepulauan Togean di Kabupaten

Tojo Una-Una. Tesis. Makassar: Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah.

Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin

Kadariah. 1985.Ekonomi Perencanaan, LPFE UI. Jakarta

Kadariah. 1985. Ekonomi Perencanaan. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas

Indonesia

Ma’rif, Samsul, Ekonomi Wilayah dan Kota, Ekonomika dalam Perencanaan Identifikasi Sektor

Strategis, Diktat Kuliah PWK UNDIP Semarang, 2002.

 Nawanir, Hanif 2003, Studi Pengembangan Ekonomi dan Keruangan Kota Sawahlunto

Pascatambang, Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro (2003)

 Nurzaman, Siti Sutriah. 2002.  Perencanaan Wilayah di Indonesia Pada Masa Sekitar Kritis.

Penerbit ITB. Bandung

 Nyoman S. Pendit. 2002.  Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: PT. Pradnya

Paramita.

Parr, John B, Growth Pole Strategies in Regional Economic Planning : A Retrospective View,

Carfax Publishing 1999.

Pendit, I Nyoman, S. 1994.  Ilmu Pariwisata Sebubah Pengantar Perdana. Jakarta : Pradnya

Paramita.

Pitana, I Gde. Dan Surya Diarta, I Ketut. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit

Andi

Rankuti, Freddy. 2011. SWOT Balanced Scorecard. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Umum

Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah. 2005. Perencanaan Pembangunan Daerah. Jakarta :

PT Gramedia Pustaka Utama

(13)

Saparin, Sumber. (1979). Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa. Bandung:

Ghalia Indonesia.

Sastrayuda, G.S 2010. Konsep Pengembangan Kawasan Ekowisata.

Setiawati, I dan Nasikun. (1991). The Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta : Aditya Media.

Siagian P, Sondang. 2005. Fungsi-Fungsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara.

Shaffer, Ron; Deller, Steve; and Marcouiller, Dave. 2004.Community Economics: Linking Theory

and Practice. Ames: Blackwell Publishing.

Sjafrizal, 2008. Ekonomi Regional,Teori dan Aplikasi. Baduose Media, Cetakan Pertama, Padang

Sumihardjo.T. 2008. Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Melalui Pengembangan Daya Saing

 Berbasis Potensi Daerah. Penerbit Fokusmedia

Suparmoko, M. 2002.  Ekonomi Publik, Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah, Andi,

Yogyakarta

Suwantoro, G. 1997. Dasar-dasar Pariwisata. Penerbit Andi. Yogyakarta

Wahab, Salah. 2003. Manajemen Keparwisataan. Jakarta : Pradnya Paramitha.

Wardiyanta. 2006. Metode Penelitian Pariwisata. Andi. Yogyakarta

Widjaja, A.W. 2003. Otonomi Desa Merupakan Otonomi Bulat, dan Utuh.  Jakarta: PT

RajaGrafindo Persada.

[IUCN] International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. 1994. Guidelines

 for protected area management Categories. Gland: IUCN

References

Related documents

FICO is the borrower’s credit quality score at application; LTV is the loan- to-value ratio at application; OPTION is the value of the borrower’s prepayment option reflecting

operator splitting finite differences in time, the main computational kernels at each time step require: (a) the solution of a non-linear system deriving from the discretization of

In this section, we apply the results of the previous section to the case of linear forms and we establish a Gauss-Bonnet type formula for the real Milnor fibre.. We will first

Furthermore, K-12 online courses are offered in all 50 states; however, less than 2% of responding programs in teacher education address this need for online

Based on the findings and conclusion, it was recommended that the public need more education on the duties and responsibilities of the auditor, the standard

Children go from house to house in Halloween costumes and say: “Trick or Treat!” People usually give them some sweets.. K Z $ e n Please come to my

Food and Drug Administration, and 86 percent indicated that they welcomed an oral formulation as an alternative to the injectable immunomodulators (Fig- ure 1, page 22). The majority

For web solutions providers, visitor engagement becomes the first and foremost priority for surviving and succeeding in the highly competitive online B2B market!. When does a B2B