• No results found

Text (Anyone) 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text (Anyone) 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
56
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN PROSES SAINS

(Skripsi)

Oleh RONA ANISAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN PROSES SAINS

Oleh

RONA ANISAH

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas model LC 3E pada materi hasil kali kelarutan untuk meningkatkan keterampilan proses sains. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1

Natar semester genap Tahun Pelajaran 2018/2019, dan sampel penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling, didapatkan kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MIA 4 sebagai kelas kontrol. Metode dalam penelitian

ini yaitu kuasi eksperimen dengan desain penelitian Non Equivalence Pretest-Postest Control Group Design. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji

perbedaan dua rata-rata dengan uji t.

Hasil penelitian menunjukkan n-gain rata-rata keterampilan proses sains (KPS) siswa di kelas eksperimen sebesar 0,66 berkriteria sedang, sedangkan n-gain

(3)

Rona Anisah

iii

menunjukkan terdapat perbedaan n-gain rata-rata KPS yang signifikan antara kelas eksperimen yang menggunakan model LC 3E dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil tersebut, dapat

disimpulkan bahwa model LC 3E pada materi hasil kali kelarutan efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains.

(4)

EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN PROSES SAINS

Oleh RONA ANISAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2020

EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN PROSES SAINS

Oleh RONA ANISAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2020

EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN PROSES SAINS

Oleh RONA ANISAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

t00

I

E0t66I

f00lr96tdIN

'Is'tr4tr iu11,tt'su3'rg

m

ue{Iplpuod { vdu u€srunf

€ruox

'7, t00 z E0l66i IIS0196ldlN

slulx

u€ltlplplred :

Os0fz0tlEI

: qBsluY Euou : SNIYS StrSOU{ IJY'IIdIAIYUSIfl}I

NYXIYXSNIN[tr\I

XNINN

i{VINUYTSX ITY}I

TISYtr

IUIIYHI

YOYd gE

TTJTJ

p.NINUVrT ISOOW

SYIIAIIYUdg

: sElln)iE

j

uEsruni rpnlg ure.r6or4 €1Y\slseqelN

{o{od

o\

€lriSIsEtlEIN elrrc\ r00 z t00661

,Ir0s96ld-'-

6!}B^a8l!sou BII

'ls'I{

:Bro

'I{lJtr-

,gu1.ru,{1ag

(6)

0r0g lrt?nuEr

0I

:t5dlr{s trBlln

snlnl lBfr;uiri

-

I00 I

s06861

-6

'ua'ru'u[uu

ul

u€lrprpued nrlili uep uenin?

:t

.:t

-t"i'

'lrq'tr{l'uulg"ltpuy

g+lhl 'Erg

:

.:

'' i,

TS'lAl *luguf1o5;1q*?g

:

TS'ru'llu,ttull$og

BII'Er{

: NIT{I{v*SA5NEru

: ffurqrur$uad u€{ng

,/

lftrFue.1

(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandarlampung, pada tanggal 20 Agustus 1997, sebagai

anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Syamsiardi dan Ibu Yulina Silviana.

Pendidikan formal diawali pada tahun 2002 di TK Al-Hidayah dan diselesaikan

pada tahun 2003. Kemudian melanjutkan pendidikan di SD N 1 Sukarame, dan diselesaikan pada tahun 2009. Pada tahun 2009 melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 5 Bandarlampung, diselesaikan pada tahun 2012. Setelah itu, melanjutkan

pendidikan di SMK SMTI Bandarlampung, dan diselesaikan pada tahun 2015. Pada tahun 2015, diterima dan terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendi-dikan Kimia, Jurusan PendiPendi-dikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu PendiPendi-dikan

Universitas Lampung melalui jalur Ujian Mandiri.

Selama menjadi mahasiswa, pernah aktif di organisasi internal kampus Himasakta Universitas Lampung, dan Fosmaki Universitas Lampung. Pada tahun 2018,

(9)

PERSEMBAHAN

(10)

MOTTO

Waktumu terbatas

Jangan menyia-nyiakannya dengan menjalani hidup orang lain

(Steven Jobs)

(11)

SANWACANA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat dan

ridho-Nya sehingga dapat diselesaikan skripsi yang berjudul“Efektivitas Model Learning Cycle 3E pada Materi Hasil Kali Kelarutan untuk Meningkatkan

Keterampilan Proses Sains”sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

sarjana pendidikan.

Adanya dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini disampaikan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr.Patuan Raja, M. Pd. selaku Dekan FKIP Unila. 2. Bapak Dr. Caswita, M. Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Ibu Dr. Ratu Betta Rudibyani, M. Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Kimia

4. Ibu Dra. Ila Rosilawati, M.Si., selaku Pembimbing I dan Pembimbing

Akademik yang telah memberikan bimbingan, masukan, arahan, saran dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini.

5. Ibu Dr. M. Setyarini, M.Si., selaku Pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan, arahan, saran, dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini. 6. Ibu Dra. Nina Kadaritna, M.Si., selaku Pembahas yang telah memberikan

(12)

xii

7. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan kimia dan Jurusan Pendidikan MIPA yang telah memberikan ilmu selama menjalani perkuliahan.

8. Kepala SMA Negeri 1 Natar dan Ibu Nawariyati, S.Pd. selaku guru mitra

mata pelajaran kimia, yang telah memberikan izin dan bimbingan selama melakukan penelitian di SMA Negeri1 Natar.

9. Rekan-rekan seperjuangan pendidikan kimia 2015, tim skripsi yang selalu memberikan semangat dan berbagi ilmu dalam proses penyusunan skripsi. 10. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan berupa

rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.

Bandar Lampung, November 2019 Penulis

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Learning Cycle 3E ... 9

B. Keterampilan Proses Sains... 12

C. Penelitian yang Relevan... 15

D. Analisis Konsep ... 16

E. Kerangka Pemikiran... 22

F. Anggapan Dasar... 24

G. Hipotesis Penelitian ... 25

(14)

xiv

B. Metode dan Desain Penelitian... 27

C. Variabel Penelitian... 27

D. Data Penelitian... 28

E. Instrumen Penelitian dan Validitas Instrumen... 28

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian... 29

G. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis... 31

1. Perhitungan skor pretes rata-rata... 31

2. Perhitungan n-gain KPS setiap siswa ... 31

3. Perhitungan n-gain rata-rata tiap kelas ... 31

4. Uji hipotesis... 32

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 34

1. Skor pretes rata-rata siswa... 34

2. N-gain KPS siswa... 39

B. Pembahasan ... 43

1. Fase eksplorasi (exploration) ... 43

2. Fase penjelasan konsep (explanation)... 48

3. Fase penerapan konsep (elaboration) ... 53

V. SIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA ... 60

LAMPIRAN... 64

1. Silabus ... 64

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 78

3. Soal Pretes dan Postes... 92

4. Rubrikasi Soal Pretes dan Postes ... 93

5. Kisi- kisi Soal Pretes dan Postes ... 100

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Komponen keterampilan proses sains...13

2. Pengelompokan keterampilan proses sains...14

3. Indikator keterampilan proses sains dasar ...15

4. Penelitian yang mendukung ...15

5. Analisis konsep ...18

6. Desain penelitian ...27

7. Klasifikasi n-gain...32

8. Nilai Kolmogorv-Smirnov rata-rata pretes KPS siswa ...37

9. Uji kesamaan dua rata-rata ...39

10. Nilai Kolmogorv-Smirnov n-gain KPS siswa ... 41

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bagan alir penelitian ...30

2. Skor pretes rata-rata siswa ...37

3. N-gain rata-rata KPS siswa ...40

4. Pengisian tabel hasil percobaan kelarutan oleh siswa ...45

5. Pengisian tabel tetapan Kspgaram basa yang sukar larut...45

6. Pengisian tabel hasil percobaan pengaruh kelarutan terhadap ion senama....46

7. Penemuan konsep larutan jenuh...48

8. Penemuan konsep kelarutan ...49

9. Penemuan konsep pengelompokan garam mudah larut dan sukar larut ...49

10. Penemuan konsep pengaruh suhu terhadap kelarutan...49

11. Penemuan konsep Ksp ...50

12. Penemuan konsep Ksp terhadap kelarutan ...51

13. Penemuan konsep pengaruh ion senama terhadap kelarutan ...52

14. Penerapan konsep LKS 1 ...54

15. Penerapan konsep LKS 2 ...55

16. Penerapan konsep LKS 3 ...55

17. Penerapan konsep LKS 4 ...56

(17)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada abad 21 ini ditandai dengan abad keterbukaan atau abad globalisasi. Era globalisasi ini memberikan dampak yang cukup luas pada kehidupan manusia.

Salah satu dampak era globalisasi, diperlukannya sumber daya manusia yang berkualitas (Wijaya, Sudjimat, & Nyoto, 2016). Sumber daya manusia yang

berkualitas adalah sumber daya manusia yang menciptakan bukan hanya nilai komparatif tetapi juga nilai kompetitif, generatif, inovatif (Ndraha,1999). Sumber daya manusia yang berkualitas dihasilkan dari pendidikan yang bermutu. Salah

satu cara yang dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Mutu pendidikan dapat dilihat dari dua hal yaitu, proses pendidikan dan hasil

pendi-dikan. Proses pendidikan yang bermutu apabila seluruh komponen pendidikan dapat terlibat dalam proses pendidikan, sedangkan hasil pendidikan yang bermutu apabila sekolah dapat mencapai prestasi dalam setiap kurun waktu tertentu

(Ismail, 2008).

Upaya peningkatan pendidikan bermutu ini telah diupayakan oleh berbagai pihak. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dengan menerapkan

(18)

2

inovatif, afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, ber-bangsa, bernegara, dan berperadaban dunia (Kemendikbud, 2014). Pembelajaran dengan Kurikulum 2013 ini tidak hanya menekankan pada aspek produk tetapi

juga menekankan pada aspek proses dan sikap (Kurnia, 2013). Hal ini sesuai dengan hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA terbangun atas produk,

pro-ses, sikap, dan aplikasi ilmiah. Hakikat IPA adalah sebagai a way of thinking (sikap), a way of investigating (proses), a body of knowledge (produk), dan inter-aksinya dengan teknologi dan masyarakat. Dari pernyataan tersebut ditekankan

bahwa pembelajaran IPA memiliki hakikat bahwa suatu pembelajaran harus me-libatkan peran aktif peserta didik dengan memunculkan empat unsur IPA yang

meliputi produk, proses, sikap, dan aplikasi. Dengan demikian pembelajaran IPA dilaksanakan dengan suatu cara yang dapat mengasah aspek-aspek dalam hakikat IPA, yang di antaranya adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Sutrisno,

2006).

Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA. Ilmu kimia didasarkan pada fenomena-fenomena yang terdapat di alam, serta mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan materi beserta energi yang menyertai perubahan materi

tersebut (Purba, 2006; Suyanti, 2010; Kemendikbud, 2014). Karakteristik ilmu kimia ada tiga yaitu kimia sebagai produk, kimia sebagai proses, dan kimia

sebagai sikap (Chang & Gilbert, 2009). Ketiga karakteristik tesebut sangat ber-hubungan erat dan saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga pembelajaran kimia tidak hanya memperhatikan kimia sebagai produk saja tetapi juga

(19)

3

melakukan hal tersebut diperlukan suatu keterampilan tertentu yang disebut ke-terampilan proses (Devetak,dkk., 2014). Keke-terampilan dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang terkait dalam sains disebut dengan keterampilan proses

sains (Dewi, 2008; Abungu, Okere, & Wachanga, 2014).

Keterampilan proses sains (KPS) merupakan keseluruhan dari keterampilan il-miah yang terarah (baik kognitif, afektif, dan psikomotor) yang dapat digunakan

untuk menemukan suatu konsep, prinsip, ataupun teori yang berguna untuk me-ngembangkan konsep yang telah ada sebelumnya (Nuh, 2010). KPS pada siswa perlu dilatih karena dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam proses

pembelajar-an, membantu berpikir logis, mengajukan pertanyaan rasional dan mencari jawab-annya serta memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (Fatmawati,

2013).

Faktanya, pada proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah, pembelajaran kimia sebagai produk lebih diutamakan daripada kimia sebagai proses sehingga KPS pada siswa rendah (Fitriyani, Haryani, & Susatyo, 2017). Hal ini sesuai

dengan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan dengan guru mata pelajaran kimia SMA Negeri 1 Natar. Pembelajaran kimia di kelas lebih

di-dominasi guru yang dominan menggunakan metode ceramah, sehingga siswa menjadi kurang aktif dalam proses menemukan konsep, dan KPS siswa kurang terlatih selama pembelajaran. Dengan demikian produk ilmiah yang didapat

(20)

4

Pemilihan model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam pembelajaran (Sani, 2013). Apabila model pembelajaran yang digunakan meli-batkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran maka akan mampu

mening-katkan KPS pada siswa (Rofiah & Azizah, 2014). Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan KPS siswa adalah model Learning Cycle 3E (LC 3E),

karena model pembelajaran ini menggunakan serangkaian proses ilmiah untuk mendapatkan produk kimia. Beberapa penelitian menyatakan bahwa model LC 3E dapat meningkatkan KPS siswa, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh:

(1) Harmoko (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran LC 3E efektif dalam meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan inferensi pada materi

termokimia. (2) Perdana (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran LC 3E pada materi pokok asam-basa efektif dalam meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan penguasaan konsep siswa. (3) Femiceyanti (2013)

menyatakan bahwa pembelajaran LC 3E dapat meningkatkan keterampilan memperoleh dan menyajikan serta menganalisis data.

Salah satu Kompetensi Dasar (KD) kelas XI yang harus dicapai pada Kurikulum 2013 yaitu KD 3.14 memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi

ber-dasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kali kelarutan (Ksp), serta KD 4.14

mengolah dan menganalisis data hasil percobaan untuk memprediksi terbentuknya

endapan. Pada materi hasil kali kelarutan (Ksp), dituntut untuk dapat

(21)

5

Model pembelajaran LC 3E yaitu model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran ini dilaksanakan melalui tiga tahap (fase pembelajaran). Fase-fase pembelajaran model ini meliputi, fase eksplorasi (exploration), fase

penjelasan konsep (explanation), dan fase penerapan konsep (elaboration) (Wena, 2011).

Melalui model LC 3E, KPS dapat dilatihkan pada fase eksplorasi (exploration)

dan fase penjelasan konsep (explanation). Pada fase eksplorasi (exploration), siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok tanpa pengajaran langsung dari guru. Siswa diberi permasalahan tentang fenomena dalam

kehidup-an sehari-hari seperti garam NaCl ykehidup-ang dapat larut dalam air sedkehidup-angkkehidup-an garam CaCO3yang terdapat pada cangkang kerang sukar larut dalam air. Kemudian

untuk mengatahui mengapa garam CaCO3ini sukar larut di air sedangkan garam

NaCl mudah larut dalam air, siswa melakukan percobaan tentang kelarutan. Siswa diberikan garam NaCl dan CaCO3yang akan dilarutkan sedikit demi sedikit

ke dalam masing-masing air dan pelarutan dihentikan ketika garam sudah tidak terlarut lagi. Kemudian menimbang sisa garam yang tidak terlarut lagi. pada tahap ini siswa dilatihkan keterampilan pengukuran, dimana siswa dapat

menggu-nakan peralatan secara kuantitatif ukuran suatu benda secara benar. Siswa juga dilatihkan keterampilan observasi, dimana siswa mampu menggunakan indera

untuk memperoleh data hasil percobaan yang selanjutnya dianalisis.

Pada fase penjelasan konsep (explanation), siswa mendiskusikan pertanyaan dengan mengaitkan dengan tabel hasil pengamatan mengenai kelarutan garam

(22)

6

dimana siswa dapat menyimpulkan konsep pengetahuan seperti larutan jenuh, kelarutan, dan pengertian Ksp dengan sendiri yang sesuai dengan fenomena dan dapat menghubungkan fakta dengan teori. Pada fase ini siswa juga dapat

dilatih-kan keterampilan klasifikasi, dimana siswa mampu menentudilatih-kan dasar penggo-longan terhadap suatu objek seperti dapat membedakan jenis garam berdasarkan

kelarutan. Setelah menyimpulkan konsep pengetahuan yang telah didapatkan, perwakilan dari salah satu kelompok menyampaikan apa mereka telah dapatkan dari pembelajaran yang telah dilakukan di depan kelas dan kelompok lainnya

menanggapi. Pada fase ini dilatihkan keterampilan komunikasi.

Pada fase penerapan konsep (elaboration), konsep pengetahuan yang diperoleh siswa diaplikasikan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang berbeda,

seperti menunjukkan apakah akan terbentuk endapan apabila larutan Pb(NO3)2

ditambahkan dengan larutan NaCl. Pada fase ini, dilatihkan keterampilan prediksi, dimana siswa mampu mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada

keadaan yang belum diamati.

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “efektivitas

model Learning Cycle 3E untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa

pada materi hasil kali kelarutan.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah efektivitas model Learning Cycle 3E pada

(23)

7

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas model Learning Cycle

3E pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan untuk meningkatkan

keterampil-an proses sains.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak

yaitu :

1. Bagi siswa

Penerapan model LC 3E pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat memberikan pengalaman kepada siswa untuk melatih KPS.

2. Bagi guru

Penerapan model LC 3E pada mteri kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat

dijadikan alternatif dalam memilih model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kimia untuk meningkatkan KPS siswa.

3. Bagi sekolah

(24)

8

E. Ruang Lingkup

Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap masalah yang akan dibahas, maka diberikan ruang lingkup penelitian sebagai berikut:

1. Model Learning Cycle 3E dikatakan efektif dalam meningkatkan KPS siswa apabila n-gain rata-rata kelas eksperimen berkriteria sedang dan terdapat perbedaan n-gain rata-rata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas

kontrol.

2. Model Learning Cycle 3E dilaksanakan melalui tiga tahap (fase pembela-jaran). Fase-fase pembelajaran model ini meliputi, fase eksplorasi

(explora-tion), fase penjelasan konsep (explana(explora-tion), dan fase penerapan konsep

(elaboration) Karplus dalam (Wena, 2009).

3. Indikator keterampilan proses sains yang digunakan, merujuk pada keteram-pilan proses sains dasar yang meliputi keteramketeram-pilan mengamati, mengklasifi-kasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Learning Cycle 3E

Karplus dalam (Wena, 2009) menyatakan bahwa siklus belajar (Learning Cycle) merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis. Pembelajaran melalui model Learning Cycle (LC) mengharuskan siswa

mem-bangun sendiri pengetahuannya dengan memecahkan permasalahan yang dibim-bing oleh guru. LC merupakan rangkaian dari tahap-tahap kegiatan yang

di-organisasi sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif.

Karplus dan Their mengungkapkan dalam Fajaroh dan Dasna (2007) bahwa: Siklus Belajar (Learning Cycle) atau dalam penulisan ini disingkat LC adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat

menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Learning Cycle3 Phase (LC 3E) terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), penjelasan konsep (concept introduction/ explaination), dan penerapan konsep (elaboration).

Pada fase eksplorasi (exploration), guru menyajikan fakta atau fenomena yang berkaitan dengan konsep yang akan diajarkan. Siswa menyelidiki fenomena

(26)

10

Fase ini menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan pengetahuan awalnya dalam mengobservasi, memahami, serta mengkomunikasikan pada orang lain berdasarkan konsep-konsep yang telah mereka ketahui. Tujuan dari kegiatan

ini adalah untuk melibatkan siswa secara aktif dalam suatu aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar. Di samping itu kegiatan pada

fase ini memungkinkan siswa menyadari konsep yang telah dimilikinya.

Pada fase pengenalan konsep (explanation), siswa mengemukakan gagasan-gagasan kemudian didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fase eksplorasi. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban atau gagasan yang di

ungkapkan siswa. Selain itu, guru mengenalkan istilah-istilah, penjelasan, meng-usulkan alternatif pemecahan, atau memperbaiki miskonsepsi siswa. Siswa

dengan bimbingan guru mengorganisasikan datanya untuk menemukan keteratur-an atau hubungketeratur-an keteratur-antar konsep.

Pada fase aplikasi konsep (elaboration), memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diberikan pada fase pertama dan

kedua untuk menyeleaikan persoalan dalam konteks yang berbeda. Siswa menerapkan konsep yang yang telah mereka dapat pada situasi baru, baik untuk

memahami sifat-sifat konsep lebih jauh atau dalam konteks kehidupan sehari-hari. Guru membantu menginterpretasikan dan menggeneralisasi hasil pengalaman siswa. Siswa memperoleh penguatan dan pengembangan struktur mental yang

(27)

11

LC 3E melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi siswa untuk secara aktif mem-bangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial.

Menurut Hudojo (2001) implementasi LC 3E dalam pembelajaran sesuai dengan

pandangan konstruktivis:

1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa,

2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu,

3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.

Dilihat dari dimensi guru, penerapan strategi ini memperluas wawasan dan me-ningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari dimensi pebelajar, penerapan strategi ini memberi keunggulan sebagai berikut

(Fajaroh, 2007):

1. Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran,

2. Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar,

3. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Lingkungan belajar yang perlu diupayakan agar LC 3E berlangsung secara

konstruktivistik adalah (Fajaroh, 2007):

1. Tersedianya pengalaman belajar yang berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,

2. Tersedianya berbagai alternatif pengalaman belajar jika memungkinkan,

3. Terjadinya transmisi sosial, yakni interaksi dan kerja sama individu dengan lingkungannya,

(28)

12

5. Kaitkan konsep yang dipelajari dengan fenomena sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara emosional dan sosial yang menjadikan pembelajaran berlangsung menarik dan menyenangkan.

Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut (Fajaroh, 2007):

1. Efektivitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran,

2. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran,

3. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi,

B. Keterampilan Proses Sains

Memahami hakikat ilmu sains secara utuh, yaitu sains sebagai proses dan produk, siswa harus memiliki keterampilan proses sains (Hartono, 2007). KPS

didefi-nisikan sebagai adaptasi dari keterampilan yang digunakan oleh ilmuwan untuk memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah dan membuat kesimpulan (Karsli & Sahin, 2009). Keterampilan proses dapat mengembangkan kreativitas

siswa dalam belajar, sehingga secara aktif dapat mengembangkan dan menerap-kan kemampuan-kemampuannya (Semiawan, dkk., 1996).

Menurut Funk (dalam Dimyati & Mudjiono, 2002), jenis-jenis keterampilan

dalam keterampilan proses yaitu:

Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan-keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yakni mengobservasi, mengklasifikasi, mendeskripsi, mengukur, menyimpulkan, dan mengomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi, menyajikan data dalam bentuk grafik, membuat gambar hubungan antar-variabel,

(29)

13

hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan penelitian.

KPS dikategorikan ke dalam dua jenis yaitu keterampilan proses dasar dan

ter-integrasi. Keterampilan proses dasar diantaranya yaitu mengamati, menyimpul-kan, mengukur, berkomunikasi, memprediksi, mengklasifikasi, menggunakan

hubungan ruang dan waktu, serta menggunakan alat. Keterampilan proses terintegrasi mencakup mengendalikan variabel, mendefinisikan secara opera-sional, merumuskan hipotesis, merumuskan model, menafsirkan data dan

[image:29.595.115.513.400.739.2]

bereksperimen (Trianto, 2014). Komponen KPS dan sub-subnya terdapat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Komponen KPS

No. Keterampilan Proses Sains Sub Keterampilan Proses 1 Mengamati (observasi) a. Mengidentifikasi ciri- ciri suatu

benda/peristiwa.

b. Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan berbagai benda/peristiwa. c. Membaca alat-alat ukur.

d. Mencocokan gambar dengan uraian tulisan/benda.

e. Mengurutkan berbagai peristiwa yang yang terjadi secara simultan.

f. Memberikan (memberikan uraian) mengenai suatu benda atau peristiwa. 2 Mengklasifikasikan

(menggolongkan)

a. Mengelompokkan benda/peristiwa (kelompok ditentukan anak).

b. Mengidentifikasi pola dari suatu seri pengamatan.

c. Mengemukakan/ mengetahui alas an pengelompokkan.

3 Meramalkan a. Membuat dugaan berdasarkan pola-pola atau hubungan informasi/ ukuran/hasil observasi.

b. Mengantisipasi suatu peristiwa

(30)

14

Tabel 1. (Lanjutan)

c. Memberikan (memberikan uraian) mengenai suatu benda atau peristiwa. d. Memberikan (memberikan uraian)

mengenai suatu benda atau peristiwa. 4 Mengkomunikasikan a. Mengutarakan suatu gagasan mencatat

kegiatan-kegiatan atau pengamatan yang dilakukan.

b. Menunjukkan hasil kegiatan. c. Mendiskusikan hasil kegiatan. d. Menggunakan berbagai sumber

informasi.

e. Mendengarkan dan menanggapi gagasan-gagasan orang lain. f. Melaporkan suatu peristiwa atau

kegiatan secara sistematis dan jelas. 5 Penggunaan alat dan

Pengukuran

a. Menentukan alat dan pengukuran yang diperlukan dalam suatu penyelidikan atau percobaan.

b. Menunjukkan hal-hal yang berubah atau harus diubah pada suatu pengamatan atau pengukuran. c. Merencanakan bagaimana hasil

pengukuran, perbandingan untuk memecahkan suatu masalah.

d. Menentukan urutan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam suatu percobaan ketelitian dalam penggunaan alat dan pengukuran dalam suatu percobaan.

(Nugraha,2005)

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) pengelompokan KPS ditunjukkan pada

Tabel 2 dan indikator keterampilan proses sains dasar pada Tabel 3.

Tabel 2. Pengelompokan KPS

Keterampilan Proses Dasar Keterampilan Proses Terintegrasi Mengamati (observasi) Mengajukan pertanyaan

Mengelompokkan (klasifikasi) Penyelidikan

Meramalkan (prediksi) Menerapkan konsep

Mengukur Menggunakan alat/bahan

Berkomunikasi Melaksanakan percobaan

[image:30.595.114.519.109.518.2]
(31)
[image:31.595.113.511.119.463.2]

15

Tabel 3. Indikator KPS dasar

Indikator Sub Indikator

Mengamati (observasi)

Mampu menggunakan semua indera untuk mengamati, mengidentifikasi, dan menamai sifat benda dan kejadian secara teliti dan hasil pengamatan

Mengelompokkan (klasifikasi)

Mampu menentukan perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan dan menentukan dasar penggolongan terhadap suatu objek.

Meramalkan (prediksi)

Mampu menggunakan pola-pola hasil pengamatan dan mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati.

Mengukur Mampu memilih dan menggunakan peralatan untuk menentukan secara kuantitatif ukuran suatu benda secara benar yang sesuai untuk panjang, luas, volume, waktu, berat, dan lain-lain, serta mampu mendemonstrasikan perubahan suatu satuan pengukuran ke satuan pengukuran lain.

Berkomunikasi Memberikan/menggambarkan data empiris hasil

percobaan atau pengamatan dengan tabel, menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis, menjelaskan hasil percobaan, membaca tabel, mendiskusikan hasil kegiatan suatu masalah atau suatu peristiwa.

Inferensi Mampu membuat suatu kesimpulan tentang suatu benda atau fenomena setelah mengumpulkan, menginterpretasi data dan informasi.

C. Penelitian yang Mendukung

Beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang model pembelajar-an LC 3E sebagai berikut:

Tabel 4. Penelitian yang mendukung

Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian Harmoko (2013) Efektivitas model

Learning Cycle 3E pada materi termokimia dalam meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan interferensi

[image:31.595.115.508.614.756.2]
(32)

16

Tabel 4. (Lanjutan)

pembelajaran LC 3E dapat meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan inteferensi siswa.

Perdana (2013) Efektivitas model pembelajaran Learning Cycle 3E dalam meningkatkan keterampilan

mengkomunikasikan dan penguasaan konsep siswa pada materi asam basa.

N-gain rata-rata keterampilan mengkomunikasikan untuk kelas kontrol adalah 0,55 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,66; serta n-gain rata-rata penguasaan konsep untuk kelas kontrol adalah 0,53 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,65. Dapat dikatakan bahwa model pem-belajaran LC 3E dapat mening-katkan keterampilan meng-komunikasikan dan penguasaan konsep siswa.

Femiceyanti (2013) Peningkatan

keterampilan mem-peroleh dan menyajikan serta menganalisis data melalui Learning Cycle 3E.

N-gain rata-rata keterampilan memperoleh dan menyajikan data untuk kelas kontrol adalah 0,21 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,43; serta n-gain rata-rata menganalisis data siswa untuk kelas kontrol adalah 0,20 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,47. Dapat dikatakan bahwa model pembelajaran LC 3E dapat meningkatkan kete-rampilan memperoleh dan menyajikan serta menganalisis data.

D. Analisis Konsep Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan

Markle dan Tieman (Fadiawati, 2011) mendefinisikan konsep sebagai sesuatu yang benar-benar ada. Namun, mungkin tidak ada satupun definisi yang dapat

mengungkapkan arti dari konsep, sehingga perlu suatu analisis konsep yang memungkinkan kita dapat mendefinisikan konsep, sekaligus menghubungkan

[image:32.595.113.503.109.545.2]
(33)

17

Penguasaan konsep merupakan dasar dari penguasaan prinsip-prinsip teori, artinya untuk dapat menguasai prinsip dan teori harus dikuasai terlebih dahulu konsep-konsep yang menyusun prinsip dan teori yang bersangkutan. Herron,dkk., dalam

Fadiawati (2011) mengemukakan bahwa analisis konsep merupakan suatu pro-sedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan

urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Prosedur ini telah digunakan secara luas oleh Markle dan Tieman serta Klausemer dkk. Analisis konsep dilakukan melalui tujuh langkah, yaitu menentukan nama atau label konsep, definisi konsep,

jenis konsep, atribut kritis, atribut variabel, posisi konsep, contoh dan non contoh. Label konsep adalah nama konsep yang dianalisis.

Label konsep didefinisikan sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang

di-harapkan. Untuk suatu label konsep yang sama, konsep dapat didefinisikan ber-beda sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dikuasai siswa dan tingkat perkembangan kognitif siswa. Atribut kritis merupakan ciri-ciri utama

konsep yang merupakan penjabaran definisi konsep. Atribut variabel menunjukan ciri-ciri konsep yang nilainya dapat berubah, namun besaran dan satuannya tetap. Posisi konsep menyatakan hubungan suatu konsep dengan konsep lain

berdasar-kan tingkatannya, yaitu: a. konsep superordinat (konsep yang tingkatannya lebih tinggi); b. konsep ordinat (konsep yang setara); dan c. konsep subordinat (konsep

(34)
[image:34.792.90.720.150.515.2]

18

Tabel 5. Analisis konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan

Label konsep Definisi konsep Jenis konsep

Atribut konsep Posisi konsep

Contoh Noncontoh

Kritis Variabel Super

ordinat Koordinat

Sub ordinat

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Kesetim-bangan kimia

Keadaan yang terjadi saat laju reaksi maju sama dengan laju reaksi balik, dapat berupa reaksi homogen yang memiliki suatu tetapan (harga K) dan dapat mengalami pergeseran. Konsep abstrak  Kesetim-bangan kimia

 Laju reaksi

maju sama dengan laju reaksi balik  Dapat mengalami pergeseran

 Fase zat

 Harga K

Reaksi kimia Reaksi ireversibel Reaksi reversibel  Kesetim-bangan statis  Kesetim-bangan dinamis

N2(g) +

3H2(g)

⇄2NH3(g)

CH4(g) +

2O2(g)

CO2(g) +

2H2O(g)

Kesetim-bangan dinamis

Kesetimbang-an kimia yKesetimbang-ang secara makro-skopis tidak terjadi perubahan (reaksi tetap), tetapi secara miroskopis reaksi berlangsung Konsep abstrak  Kesetim-bangan dinamis Secara makro-skopis tidak terjadi perubahan (reaksi tetap)

Fase zat

Harga K

Kese-timbang an kimia  Kesetim-bangan statis Dalam ruang tertutup,

gas N2O2

yang tidak berwarna bila dipa-naskan akan Kristal

CuSO4.5H2O

(35)

19

Tabel 5. (Lanjutan)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

terus menerus

Mikro-skopis reaksi berlang-sung terus menerus terurai menjadi

gas NO2

berwarna coklat. Sebaliknya bila gas NO2 didingin-kan warna coklat yang terbentuk akan me-mudar. Dalam keadaan setimbang secara mikro-skopis reaksi ini berlang-sung terus menerus putih dengan melepaskan air dalam bentuk uap air. Sebalik-nya bila kristal putih

CuSO4hasil

pemanasan ditetesi air maka akan berubah menjadi kristal

CuSO4.5H2O

Kesetim-bangan kelarutan Pada kese-timbangan kelarutan terjadi kese-timbangan Konsep yang menyata kan proses  Kesetim-bangan kelarutan  Kesetim-bangan Jenis elektrolit Kesetim bangan kimia Kesetimbang an homogen dan heterogen  Kelarutan

 Ksp

CH3COOH

(s)

H+(aq) +

CH3COO

-(aq)

CH3COOH

(aq)

H+(aq) +

CH3COO

[image:35.792.92.719.127.527.2]
(36)

20

Tabel 5. (Lanjutan)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

dinamis antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larujan jenuh dinamis antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larutan jenuh. Tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) Ksp menyata-kan ukuran terjadinya kesetimbangan antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya dalam larutan jenuh Ksp dihitung dari hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut dipangkatkan koefisien Konsep berda-sarkan prinsip Ksp ukuran terjadinya kesetimbang an antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya dalam kelarutan jenuh. Ksp dihitung dari hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut dipangkatkan koefisien  Jenis elektrolit  Konsen-trasi ion-ion  Koefisien reaksi Kese- timba-ngan kelaru-tan

kelarutan KspAgCl =

[image:36.792.86.719.120.523.2]
(37)

21

Tabel 5. (Lanjutan)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

reaksi pada keasaan larutan jenuh reaksi pada keadaan larutan jenuh.

Kelarutan Jumlah

mak-simum zat terlarut yang dapat larut pada zat pela-rut tertentu pada suhu tertentu.

konkrit  Hasil kali

kelarutan

 Garam

 Ion

senama

 Jenis zat

terlarut

 Jenis zat

pelarut

Kese- timba-ngan kimia

Ksp Ag2CrO4=

8,4 x 10-5

mol/L

KspAg2CrO4

[image:37.792.85.717.121.449.2]
(38)

22

E. Kerangka Berpikir

Pada kurikulum 2013, salah satu kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa di kelas XI SMA/MA pada mata pelajaran kimia adalah KD 3.14 yaitu memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip

kelarut-an dkelarut-an data hasil kali kelarutkelarut-an (Ksp). KD 4.14 yaitu mengolah dan menganalisis

data hasil percobaan untuk memprediksi terbentuknya endapan. Sebagian besar

siswa SMA/MA merasa kesulitan dalam mempelajari Kimia. Hal ini dikarenakan materi kimia terdiri dari konsep-konsep yang kompleks serta fenomena-fenomena yang abstrak dan tidak teramati serta pembelajaran kimia masih menggunakan

metode ceramah dan pembelajarannya belum merepresentasikan materi kimia yang bersifat abstrak dalam bentuk submikroskopis. Selama proses pembelajaran

kimia di kelas seharusnya siswa terlibat secara aktif dengan lingkungannya melalui ekperimen atau percobaan. Dengan melakukan eksperimen atau percoba-an ini siswa dapat mengembpercoba-angkpercoba-an keterampilpercoba-an proses sainsnya seperti

meng-amati, mengukur dan mengkomunikasikan hasil eksperimen baik secara lisan maupun tertulis.

Keterampilan proses sains ini sangat penting dimiliki oleh siswa dan juga perlu

untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran sebab siswa dapat berlatih untuk menginferensi suatu konsep, mengklasifikasi, dan mengkomunikasikan hasil belajar. Berdasarkan uraian di atas, maka dibutuhkan suatu model

pembela-jaran yang akan mampu meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

(39)

23

Curriculum Improvement Study, Learning Cycle merupakan pengorganisasian

yang memberikan kemudahan untuk penguasaan konsep-konsep baru dan menata ulang pengetahuan siswa. Learning Cycle 3E ini terdiri dari tiga fase, yaitu fase

eksplorasi (exploration), fase penjelasan konsep (explanation), dan fase penerapan konsep (elaboration).

Pada fase eksplorasi (exploration), siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama

dalam kelompok tanpa pengajaran langsung dari guru. Siswa diberi permasalahan tentang fenomena dalam kehidupan sehari-hari seperti garam NaCl yang dapat larut dalam air sedangkan garam CaCO3yang terdapat pada cangkang kerang

sukar larut dalam air. Kemudian untuk mengatahui mengapa garam CaCO3ini

sukar larut di air sedangkan garam NaCl mudah larut dalam air, siswa melakukan

percobaan tentang kelarutan. Siswa diberikan garam NaCl dan CaCO3yang akan

dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam masing-masing air dan pelarutan dihenti-kan ketika garam sudah tidak terlarut lagi. Kemudian menimbang sisa garam

yang tidak terlarut lagi. Pada tahap ini siswa dilatihkan keterampilan pengukuran, dimana siswa dapat menggunakan peralatan secara kuantitatif ukuran suatu benda secara benar. Siswa juga dilatihkan keterampilan observasi, dimana siswa mampu

menggunakan indera untuk memperoleh data hasil percobaan yang selanjutnya dianalisis.

Pada fase penjelasan konsep (explanation), siswa mendiskusikan pertanyaan

dengan mengaitkan dengan tabel hasil pengamatan mengenai kelarutan garam yang telah dilakukan. Pada fase ini dapat dilatihkan keterampilan inferensi,

(40)

24

kelarutan, dan pengertian Kspdengan sendiri yang sesuai dengan fenomena dan

dapat menghubungkan fakta dengan teori. Pada fase ini siswa juga dapat dilatih-kan keterampilan klasifikasi, dimana siswa mampu menentudilatih-kan dasar

penggo-longan terhadap suatu objek seperti dapat membedakan jenis garam berdasarkan kelarutan. Setelah menyimpulkan konsep pengetahuan yang telah didapatkan,

perwakilan dari salah satu kelompok menyampaikan apa mereka telah dapatkan dari pembelajaran yang telah dilakukan di depan kelas dan kelompok lainnya menanggapi. Pada fase ini dilatihkan keterampilan komunikasi.

Pada fase penerapan konsep (elaboration), konsep pengetahuan yang diperoleh

siswa diaplikasikan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang berbeda, seperti menunjukkan apakah akan terbentuk endapan apabila larutan Pb(NO3)2

ditambahkan dengan larutan NaCl. Pada fase ini, dilatihkan keterampilan prediksi, dimana siswa mampu mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati.

Berdasarkan uraian dan langkah-langkah di atas, pada pembelajaran kimia

di-gunakan model LC 3E diyakini dapat meningkatkan KPS siswa pada materi hasil kali kelarutan,

F. Anggapan Dasar

Beberapa hal yang menjadi anggapan dasar pada penelitian ini adalah sebagai

(41)

25

1. Siswa kelas XI MIA 1 dan XI MIA 4 SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2018/2019 yang menjadi subjek penelitian, mempunyai pengetahuan awal yang sama.

2. Perbedaan n-gain KPS pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terjadi karena adanya perlakuan yang diberikan dalam proses pembelajaran

G. Hipotesis Penelitian

(42)

III. METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2018/2019 yang berjumlah 288 siswa, tersebar dalam 8 kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas dari delapan kelas tersebut.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada informasi tentang keadaan populasi sebelumnya, dimana peneliti

berasumsi bahwa ahli dapat menggunakan pengetahuan mereka tentang keadaan sampel dan populasi untuk mengetahui apakah sampel yang diambil itu represen-tatif atau tidak (Fraenkel, Walls, & Hyun., 2012). Pengambilan sampel dalam

penelitian ini dilakukan dengan cara meminta bantuan guru bidang studi kimia di sekolah tersebut, untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik siswa

sehingga dapat ditentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu kelas X sehingga didapatkan kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperimen yang menggu-nakan model pembelajaran Learning Cycle 3E dan kelas XI MIA 4 sebagai kelas

(43)

27

B. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain Non Equivalence Pretest-Postest Control Group Design (Fraenkel, Walls, & Hyun., 2012). Dalam metode ini diberlakukan penempatan dua kelompok

subjek secara acak, yaitu dengan cara memberi perlakuan yang berbeda. Kedua kelompok tersebut adalah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kepada

kedua kelompok dilakukan pelaksanaan pretes untuk mengetahui kemampuan awal dan postest untuk mengetahui kemampuan akhir. Perlakuan (pembelajaran dengan model LC 3E) hanya diberikan kelas eksperimen Desain penelitian ini

[image:43.595.117.437.457.543.2]

menggunakan Non Equivalence Pretest-Postest Control Group Design dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Desain penelitian

Kelas Pretes Perlakuan Postes

Kelas Eksperimen O1 X O2

Kelas Kontrol O1 C O2

Keterangan:

O1 : Pretes (sebelum perlakuan)

X : Pembelajaran menggunakan model LC 3E. C : Pembelajaran konvensional.

O2 : Postes (sesudah perlakuan)

C. Variabel Penelitian

(44)

28

kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol. Variabel bebas adalah penggunaan model pembelajaran LC 3E pada kelas eksperimen dan tanpa

penggunaan model LC 3E (pembelajaran konvensional) pada kelas kontrol. Variabel terikat adalah KPS siswa. Variabel kontrol adalah materi hasil kali

kelarutan

D. Data Penelitian

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data utama dan data pen-dukung. Data utama pada penelitian ini berupa data hasil pretes dan postes

tentang kemampuan proses sains, sedangkan data pendukung penelitian berupa data aktivitas siswa pembelajaran. Sumber data berasal dari seluruh kelas eksperi-men dan kelas kontrol.

E. Instrumen Penelitian dan Validitas Instrumen

Instrumen adalah alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data

litian (Fraenkel, Walls, & Hyun, 2012). Instrumen yang digunakan pada pene-litian ini adalah perangkat pembelajaran, yang meliputi

1. Soal pretes dan postes yang terdiri 5 soal uraian untuk mengukur KPS siswa pada materi hasil kali kelarutan dilengkapin dengan rubrik penelitian

2. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang menggunakan model pembelajaran LC 3E

yang terdiri dari 5 LKS yaitu, LKS 1 membahas pengertian larutan jenuh, kelarutan, pengaruh suhu terhadap kelarutan dan pengertian hasil kali

(45)

kelarut-29

an untuk senyawa elektrolit biner (n = 2), terner (n= 3) dan elektrolit n > 3 dan menghitung nilai kelarutan garam dan basa kurang larut. LKS 3 membahas pengaruh ion senama terhadap kelarutan. LKS 4 membahas mengenai

peng-aruh pH terhadap kelaruta, dan LKS 5 membahas hubungan Qc dengan Ksp.

3. Data observasi aktivitas siswa.

Pengujian instrumen penelitian ini menggunakan validitas isi. Pengujian ini

dila-kukan dengan cara judgement dengan menelaah kisi-kisi, terutama kesesuaian antara tujuan penelitian, tujuan pengukuran, indikator keterampilan dan butir-butir pertanyaannya. Bila antara unsur-unsur tersebut terdapat kesesuaian, maka

instru-men dianggap valid untuk digunakan dalam pengumpulan data sesuai kepentingan peneliti. Dalam melakukan judgement dilakukan oleh dosen pembimbing.

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Berikut ini adalah beberapa tahapan yang dilakukan pada saat pelaksanaan

peneli-tian yang ditunjukkan pada Gambar 1:

1. Melakukan observasi lapangan yang akan menghasilkan informasi untuk me-nentukan populasi penelitian.

2. Melakukan studi literatur yang sesuai dengan hasil observasi lapangan. 3. Menyusun perangkat pembelajaran, yaitu silabus, RPP dan LKS.

4. Menyusun instrumen penelitian, yaitu soal pretes-postes KPS, dan lembar observasi aktivitas siswa.

5. Menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen yang akan diberikan soal

(46)
[image:46.595.117.527.90.575.2]

30

Gambar 1. Bagan Alir Penelitian

6. Menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen yang akan diberikan soal pretes untuk mengetahui KPS awal siswa.

7. Memberikan perlakuan pada kelas eksperimen dengan model pembelajaran LC 3E, sedangkan pada kelas kontrol tidak diberi perlakuan (pembelajaran

menggunakan metode konvensional). Lembar observasi aktivitas

siswa

Lembar observasi aktivitas siswa

1. Melakukan observasi lapangan

2. Melakukan studi literatur

3. Menyusun instrumen penelitian

4. Validasi instrumen

1. Memperoleh data mengenai siswa, metode yang digunakan guru dan sarana dan prasarana 2. Instrumen penelitian (LKS, soal KPS,dan lembar aktivitas siswa) Persiapan

Kelas eksperimen Kelas kontrol

Pretes Hasil awal

Kelas eksperimen menggunakan model LC 3E

Kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional

postes Hasil akhir

Analisis data Keterangan Perlakuan

= Hasil

(47)

31

8. Setelah pembelajaran berakhir, diberikan soal postes dengan soal-soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sehingga diperoleh hasil akhir

KPS.

9. Data hasil postes pada kedua sampel dianalisis, kemudian dapat diambil suatu kesimpulan pada penelitian ini.

G. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

1. Perhitungan skor pretes rata-rata

Skor pretes yang diperoleh, dihitung rata-rata dengan menggunakan rumus

sebagai berikut :

Skor pretes rata − rata = Jumlah Skor seluruh siswa Jumlah siswa

2. Perhitungan n-gain KPS setiap siswa

Data yang diperoleh kemudian dihiitung dengan rumus menurut (Hake, 1998)

− = Skor maksimum − %Skor pretes%Skor postes − %Skor pretes

3. Perhitungan n-gain rata-rata tiap kelas

Setelah diperoleh n-gain dari tiap siswa kemudian dihitung rata-ratanya dari tiap kelas. Besarnya n-gain rata-rata siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol

dihitung dengan rumus berikut.

(48)

32

[image:48.595.114.322.223.284.2]

Hasil perhitungan n-gain rata-rata kemudian diinterpretasikan dengan mengguna-kan kriteria dari Hake (1998). Kriteria pengklasifikasian n-gain menurut Hake dapat dilihat seperti pada Tabel 7 .

Tabel 7. Klasifikasi n-gain

Besarnya<g> Interpretasi <g>≥0,7 Tinggi 0,3≤<g>< 0,7 Sedang <g><0,3 Rendah

4. Uji hipotesis

Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji kesamaan dua

rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata. Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan pada kemampuan awal (pretes), sedangkan uji perbedaan dua rata-rata dilakukan

pada n-gain.

Sebelum menguji kesamaan dua rata-rata dan perbedaan dua rata-rata, dilakukan uji prasyarat terlebih dahulu. Adapun uji prasyarat yang dilakukan adalah uji nor-malitas dan homogenitas terhadap nilai pretes siswa di kelas eksperimen dan kelas

kontrol untuk menguji kesamaan dua rata-rata, serta n-gain siswa di kelas ekspe-rimen dan kelas kontrol untuk menguji perbedaan dua rata-rata.

a. Uji normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel berasal

(49)

33

parametrik. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan SPSS 23.0. dengan uji Kolmogorov-Smirnov.

Hipotesis untuk uji normalitas :

H0: kedua sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1: kedua sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Kriteria pengujian, terima H0jika nilai sig dari Kolmogorov-Smirnov > 0,05, dan

tolak H0untuk harga lainnya.

b. Uji homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah variansi populasi bersifat seragam atau tidak berdasarkan data sampel yang diperoleh (Arikunto,2006).

Selanjutnya untuk menentukan uji yang akan digunakan dalam pengujian hipo-tesis. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mem-punyai varians yang sama (populasi dengan varians yang homogen) atau

sebaliknya. Uji homogenitas dilakukan menggunakan SPSS versi 23.0 dan meng-gunakan uji Levene statistics test. Rumusan hipotesis pada uji ini adalah sebagai berikut:

H0: = (kedua kelas memiliki varians yang homogen)

H1: ≠ (kedua kelas memiliki varians yang tidak homogen)

Keterangan:

= varians skor kelompok eksperimen

(50)

34

Keriteria pengujian, terima H0jika Fhitung> Ftabel, dengan taraf nyata α 0.05, dalam

hal lain tolak H0. Data dikatakan memenuhi asumsi homogen jika nilai sig. (p)

dari levene Statistics > 0,05.

c. Uji kesamaan dua rata-rata

Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah KPS awal siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki keterampilan awal yang sama secara signifikan atau tidak.

Hipotesis untuk uji kesamaan dua rata-rata adalah:

H0: = (kedua kelas memiliki skor pretes rata-rata KPS yang sama)

H1: ≠ (kedua kelas memiliki skor pretes rata-rata KPS yang tidak sama)

Keterangan:

= Skor pretes rata-rata KPS kelas eksperimen

= Skor pretes rata-rata KPS kelas kontrol

Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1) dengan kriteria terima H1jika nilai sig. <0,05

dan sebaliknya.

Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan, didapat-kan bahwa skor pretes KPS siswa dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol

memenuhi kriteria data berdistribusi tidak normal dan homogen maka uji kesama-an dua rata-rata dilakukkesama-an dengkesama-an menggunakkesama-an uji non-parametrik, yaitu dengkesama-an

(51)

35

d. Uji perbedaan dua rata-rata

Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui keefektifan perlakuan terhadap sampel dengan melihat n-gain KPS siswa yang berbeda secara signifikan

antara pembelajaran menggunakan model pembelajaran LC 3E dengan pembela-jaran konvensional.

Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah:

Hipotesis untuk uji perbedaan dua rata-rata adalah:

H0: ≤ (salah satu kelas memiliki n-gain rata-rata KPS lebih rendah atau

sama dengan)

H1: > (salah satu kelas memiliki n-gain rata-rata KPS lebih tinggi)

Keterangan:

= n-gain rata-rata KPS kelas eksperimen

= n-gain rata-rata KPS KPS kelas kontrol

Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol

(H0) dan hipotesis alternatif (H1) dengan kriteria terima H1jika nilai sig. <0,05

dan sebaliknya.

Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan, didapat-kan bahwa nilai pretes KPS siswa dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol

memenuhi kriteria data berdistribusi normal dan homogen maka uji perbedaan dua rata-rata dilakukan dengan menggunakan uji statistik parametrik yaitu uji-t

(52)

V. SIMPULAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan dalam

penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. N-gain rata-rata KPS siswa kelas eksperimen yang diterapkan model LC 3E

berbeda secara signifikan dengan n-gain rata-rata KPS siswa kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.

2. Model pembelajaran LC 3E pada materi hasil kali kelarutan efektif untuk

meningkatkan KPS.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada materi kelarutan dan hasil kali

kelarutan, maka disarankan untuk :

1. Model pembelajaran LC 3E sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran kimia,

terutama pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan karena terbukti efektif untuk meningkatkan KPS siswa.

2. Bagi calon peneliti yang akan melakukan penelitian dengan menggunakan

(53)

DAFTAR PUSTAKA

Abungu, H,E., Okere, M.I.O., & Wachanga, S.M. (2014). The Effect of Science

Process Skills Teaching Approach on Secondary School Students’

Achievement in Chemistry in Nyando District, Kenya. Journal of Educational and Social Research. 4(6): 359-372.

Carin, A.A., (1993). Teaching Modern Science. Six Edition. New York: Macmillan Publishing Company.

Chang, M. & Gilbert, J.K. (2009). Towards a Better Utilization of Diagram in Research Into the Us of Representative Levels in Chemical Education. Model and Modeling in Science Education., Multiple Representations in Chemical Educations. Springer Science Business Media B. V. (4)55-73.

Devetak, I., Erna, D.L., Mojca, J., & Sasa, A. G. (2014). Comparing Slovenian

Year 8 and Year 9 Elementary School Pupil ’ Knowladge of Elektrolyte

Chemistry and Their Instrisic Motivation. Chemical Education Research Practice, 10, 281-290.

Dewi, S. (2008). Keterampilan Proses Sains. Bandung: Tinta Emas Publishing.

Dimyati & Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta,

Fadiawati, N. (2011). Perkembangan Konsepsi Pembelajaran tentang Struktur Atom dari SMA Hingga Perguruan Tinggi. Disertasi. SPs-UPI. Bandung

Fajaroh, F & Dasna, I.W. (2007). Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (learning cycle). Universitas Negeri malang. Malang.

Famiceyanti, I. (2013). Peningkatan Keterampilan Memperoleh Dan Menyajikan Serta Menganalisis Data Melalui Learning Cycle 3. Skripsi . Universitas Lampung, Bandar Lampung.

(54)

61

Fitriyani, R., Haryani, S., & Susatyo, E. B. (2017). Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Keterampilan Proses Sains pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia. 11(2): 1957-1970.

Fraenkel, J.R., Wallw N.E., & Hyun, H.H. (2012). How To Design and Evaluate Research In Education Eighth Edition. The McGraw-Hill Companies, New York.

Hake, R. R. (1998). Interactive-Engagement Versus Traditional Methods: A Six Thousand-Student Survey of Mechanics Test Data For Introductory Physics Courses. American Journal of Physics. 66(1): 64-74.

Harmoko, A. (2013). Efektivitas Model Learning Cycle 3e Pada Materi

Termokimia Dalam Meningkatkan Keterampilan Mengkomunikasikan Dan Inferensi. Skripsi. Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Hartono. (2007). Profil Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Program

Pendidikan Jarak Jauh SI PGSD Universitas Sriwijaya. Seminar Proceeding of The International Seminar of Science Education, 27 Oktober 2007. Bandung

Hudojo, H. (2001). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Universitas Negeri Malang Press. Malang

Ismail, F. (2008). Manajemen berbasis sekolah: solusi peningkatan kualitas pendidikan.Jurnal IQRA’ STAIN Manado. 5, 1-13

Karsli, F.,& Sahin, C. (2009). Developing Worksheet based on Science Process Skill : Factor affecting solubility. The oline journal of asia pacific on science learning and teaching. 10(1): 1-12

Kemendikbud. 2014. Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Kemendikbud. Jakarta.

Kemendikbud. (2014). Permendikbud No.59 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Kemendikbud. Jakarta..

(55)

62

Mudalara, I.P. (2012). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Gianyar Ditinjau dari Sikap Ilmiah. Skripsi. Universitas Pendidikan Ganesha

Ndraha, T. (1999). Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Nugraha, A. (2005). Pengembangan Pembelajaran Sains Anak Usia Dini. Depertemen Pendidikan. Jakarta

Nuh, U. (2010). Fisika Online: Keterampilan Proses Sains. Artikel Pendidikan. Diakses pada tanggal 12 April 2019 dari

http://fisikasmaonline.blogspot.com/keterampilan-proses-sains.html.

Perdana, R. (2013). Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 3E Dalam Meningkatkan Keterampilan Mengkomunikasikan Dan Penguasaan Konsep Siswa Pada Materi Asam Basa. Skripsi. Universitas Lampung, Bandar Lampung

Purba, M. (2006). Kimia Untuk SMA Kelas X. Erlangga, Jakarta.

Rofiah, F. & Azizah. (2014). Pengembangan LKS Berorientasi Learning Cycle 7E pada materi pokok Laju Reaksi untuk Melatihkan KPS. Journal of Chemical Education 3(2):99-105.

Sani, R. A. (2013). Inovasi Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta.

Semiawan, C., Tangyong, A.F., Belen, S., Matahelemual, Y., & Suseloardjo. 1996. Pendekatan Ketrampilan Proses. PT. Gramedia Pustaka, Jakarta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Alfabeta. Bandung.

Sutrisno. (2006). Fisika dan Pembelajarannya. Bandung: UPI

Suyanti, R. D. (2010). Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wena, M. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatf Kontemporer; Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara

(56)

63

Figure

Tabel 1.  Komponen KPS
Tabel 1. (Lanjutan)
Tabel 4.  Penelitian yang mendukung
Tabel 4.  (Lanjutan)
+7

References

Related documents

This work shows, that variability-aware interpretation can speedup software product- line testing in comparison to brute-force analysis by applying the principles of variability-

Unless the ratio of unit cost of electricity savings to the price of electricity is sufficiently low (or IRR of the DSM programs is sufficiently high, greater than 23% in the case

Factors influencing career choice among undergraduate students in public university in Kenya – A case of compassion international sponsored students (Unpublished

Other Wastes:  Autoclave Wastes  Biohazard Wastes  Sharps  Broken Glass  Special Wastes  Drain Disposal  General refuse Clearly label all wastes!... Autoclave

John Cook School of Business | Graduate Business Programs | Saint Louis University. January 5 Part-time (evening) graduate business spring

Plasma transport of free fatty acids (FFA) and triglyceride fatty acids (TGFA) was studied in seven subjects with normal lipid metabolism, one case of total lipodystrophy, and one

Sixty-seven peritoneal washing were performed in 67 patients who underwent surgery for colon and intraperitoneal rectal cancer. The first 10 lavages were needed to set

We have demonstrated that methotrexate uptake in neuroblastoma cells is mediated principally by the reduced folate carrier (RFC; SLC19A1 ), that SLC19A1 and MYCN expression