EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS
(Skripsi)
Oleh RONA ANISAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS
Oleh
RONA ANISAH
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas model LC 3E pada materi hasil kali kelarutan untuk meningkatkan keterampilan proses sains. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1
Natar semester genap Tahun Pelajaran 2018/2019, dan sampel penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling, didapatkan kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MIA 4 sebagai kelas kontrol. Metode dalam penelitian
ini yaitu kuasi eksperimen dengan desain penelitian Non Equivalence Pretest-Postest Control Group Design. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji
perbedaan dua rata-rata dengan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan n-gain rata-rata keterampilan proses sains (KPS) siswa di kelas eksperimen sebesar 0,66 berkriteria sedang, sedangkan n-gain
Rona Anisah
iii
menunjukkan terdapat perbedaan n-gain rata-rata KPS yang signifikan antara kelas eksperimen yang menggunakan model LC 3E dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil tersebut, dapat
disimpulkan bahwa model LC 3E pada materi hasil kali kelarutan efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains.
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS
Oleh RONA ANISAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2020
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS
Oleh RONA ANISAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2020
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS
Oleh RONA ANISAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
t00
I
E0t66If00lr96tdIN
'Is'tr4tr iu11,tt'su3'rgm
ue{Iplpuod { vdu u€srunf€ruox
'7, t00 z E0l66i IIS0196ldlNslulx
u€ltlplplred :Os0fz0tlEI
: qBsluY Euou : SNIYS StrSOU{ IJY'IIdIAIYUSIfl}INYXIYXSNIN[tr\I
XNINN
i{VINUYTSX ITY}I
TISYtrIUIIYHI
YOYd gETTJTJ
p.NINUVrT ISOOWSYIIAIIYUdg
: sElln)iEj
uEsruni rpnlg ure.r6or4 €1Y\slseqelN{o{od
o\
€lriSIsEtlEIN elrrc\ r00 z t00661,Ir0s96ld-'-
6!}B^a8l!sou BII'ls'I{
:Bro
'I{lJtr-
,gu1.ru,{1ag0r0g lrt?nuEr
0I
:t5dlr{s trBlln
snlnl lBfr;uiri
-
I00 Is06861
-6
'ua'ru'u[uuul
u€lrprpued nrlili uep uenin?
:t
.:t
-t"i'
'lrq'tr{l'uulg"ltpuy
g+lhl 'Erg
:
.:
'' i,
TS'lAl *luguf1o5;1q*?g
:
TS'ru'llu,ttull$og
BII'Er{
: NIT{I{v*SA5NEru
: ffurqrur$uad u€{ng
,/
lftrFue.1
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandarlampung, pada tanggal 20 Agustus 1997, sebagai
anak pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Syamsiardi dan Ibu Yulina Silviana.
Pendidikan formal diawali pada tahun 2002 di TK Al-Hidayah dan diselesaikan
pada tahun 2003. Kemudian melanjutkan pendidikan di SD N 1 Sukarame, dan diselesaikan pada tahun 2009. Pada tahun 2009 melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 5 Bandarlampung, diselesaikan pada tahun 2012. Setelah itu, melanjutkan
pendidikan di SMK SMTI Bandarlampung, dan diselesaikan pada tahun 2015. Pada tahun 2015, diterima dan terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendi-dikan Kimia, Jurusan PendiPendi-dikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu PendiPendi-dikan
Universitas Lampung melalui jalur Ujian Mandiri.
Selama menjadi mahasiswa, pernah aktif di organisasi internal kampus Himasakta Universitas Lampung, dan Fosmaki Universitas Lampung. Pada tahun 2018,
PERSEMBAHAN
MOTTO
Waktumu terbatas
Jangan menyia-nyiakannya dengan menjalani hidup orang lain
(Steven Jobs)
SANWACANA
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat dan
ridho-Nya sehingga dapat diselesaikan skripsi yang berjudul“Efektivitas Model Learning Cycle 3E pada Materi Hasil Kali Kelarutan untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Sains”sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana pendidikan.
Adanya dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini disampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr.Patuan Raja, M. Pd. selaku Dekan FKIP Unila. 2. Bapak Dr. Caswita, M. Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.
3. Ibu Dr. Ratu Betta Rudibyani, M. Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Kimia
4. Ibu Dra. Ila Rosilawati, M.Si., selaku Pembimbing I dan Pembimbing
Akademik yang telah memberikan bimbingan, masukan, arahan, saran dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Dr. M. Setyarini, M.Si., selaku Pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan, arahan, saran, dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini. 6. Ibu Dra. Nina Kadaritna, M.Si., selaku Pembahas yang telah memberikan
xii
7. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan kimia dan Jurusan Pendidikan MIPA yang telah memberikan ilmu selama menjalani perkuliahan.
8. Kepala SMA Negeri 1 Natar dan Ibu Nawariyati, S.Pd. selaku guru mitra
mata pelajaran kimia, yang telah memberikan izin dan bimbingan selama melakukan penelitian di SMA Negeri1 Natar.
9. Rekan-rekan seperjuangan pendidikan kimia 2015, tim skripsi yang selalu memberikan semangat dan berbagi ilmu dalam proses penyusunan skripsi. 10. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan berupa
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.
Bandar Lampung, November 2019 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Learning Cycle 3E ... 9
B. Keterampilan Proses Sains... 12
C. Penelitian yang Relevan... 15
D. Analisis Konsep ... 16
E. Kerangka Pemikiran... 22
F. Anggapan Dasar... 24
G. Hipotesis Penelitian ... 25
xiv
B. Metode dan Desain Penelitian... 27
C. Variabel Penelitian... 27
D. Data Penelitian... 28
E. Instrumen Penelitian dan Validitas Instrumen... 28
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian... 29
G. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis... 31
1. Perhitungan skor pretes rata-rata... 31
2. Perhitungan n-gain KPS setiap siswa ... 31
3. Perhitungan n-gain rata-rata tiap kelas ... 31
4. Uji hipotesis... 32
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 34
1. Skor pretes rata-rata siswa... 34
2. N-gain KPS siswa... 39
B. Pembahasan ... 43
1. Fase eksplorasi (exploration) ... 43
2. Fase penjelasan konsep (explanation)... 48
3. Fase penerapan konsep (elaboration) ... 53
V. SIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA ... 60
LAMPIRAN... 64
1. Silabus ... 64
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 78
3. Soal Pretes dan Postes... 92
4. Rubrikasi Soal Pretes dan Postes ... 93
5. Kisi- kisi Soal Pretes dan Postes ... 100
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Komponen keterampilan proses sains...13
2. Pengelompokan keterampilan proses sains...14
3. Indikator keterampilan proses sains dasar ...15
4. Penelitian yang mendukung ...15
5. Analisis konsep ...18
6. Desain penelitian ...27
7. Klasifikasi n-gain...32
8. Nilai Kolmogorv-Smirnov rata-rata pretes KPS siswa ...37
9. Uji kesamaan dua rata-rata ...39
10. Nilai Kolmogorv-Smirnov n-gain KPS siswa ... 41
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Bagan alir penelitian ...30
2. Skor pretes rata-rata siswa ...37
3. N-gain rata-rata KPS siswa ...40
4. Pengisian tabel hasil percobaan kelarutan oleh siswa ...45
5. Pengisian tabel tetapan Kspgaram basa yang sukar larut...45
6. Pengisian tabel hasil percobaan pengaruh kelarutan terhadap ion senama....46
7. Penemuan konsep larutan jenuh...48
8. Penemuan konsep kelarutan ...49
9. Penemuan konsep pengelompokan garam mudah larut dan sukar larut ...49
10. Penemuan konsep pengaruh suhu terhadap kelarutan...49
11. Penemuan konsep Ksp ...50
12. Penemuan konsep Ksp terhadap kelarutan ...51
13. Penemuan konsep pengaruh ion senama terhadap kelarutan ...52
14. Penerapan konsep LKS 1 ...54
15. Penerapan konsep LKS 2 ...55
16. Penerapan konsep LKS 3 ...55
17. Penerapan konsep LKS 4 ...56
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada abad 21 ini ditandai dengan abad keterbukaan atau abad globalisasi. Era globalisasi ini memberikan dampak yang cukup luas pada kehidupan manusia.
Salah satu dampak era globalisasi, diperlukannya sumber daya manusia yang berkualitas (Wijaya, Sudjimat, & Nyoto, 2016). Sumber daya manusia yang
berkualitas adalah sumber daya manusia yang menciptakan bukan hanya nilai komparatif tetapi juga nilai kompetitif, generatif, inovatif (Ndraha,1999). Sumber daya manusia yang berkualitas dihasilkan dari pendidikan yang bermutu. Salah
satu cara yang dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Mutu pendidikan dapat dilihat dari dua hal yaitu, proses pendidikan dan hasil
pendi-dikan. Proses pendidikan yang bermutu apabila seluruh komponen pendidikan dapat terlibat dalam proses pendidikan, sedangkan hasil pendidikan yang bermutu apabila sekolah dapat mencapai prestasi dalam setiap kurun waktu tertentu
(Ismail, 2008).
Upaya peningkatan pendidikan bermutu ini telah diupayakan oleh berbagai pihak. Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dengan menerapkan
2
inovatif, afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, ber-bangsa, bernegara, dan berperadaban dunia (Kemendikbud, 2014). Pembelajaran dengan Kurikulum 2013 ini tidak hanya menekankan pada aspek produk tetapi
juga menekankan pada aspek proses dan sikap (Kurnia, 2013). Hal ini sesuai dengan hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). IPA terbangun atas produk,
pro-ses, sikap, dan aplikasi ilmiah. Hakikat IPA adalah sebagai a way of thinking (sikap), a way of investigating (proses), a body of knowledge (produk), dan inter-aksinya dengan teknologi dan masyarakat. Dari pernyataan tersebut ditekankan
bahwa pembelajaran IPA memiliki hakikat bahwa suatu pembelajaran harus me-libatkan peran aktif peserta didik dengan memunculkan empat unsur IPA yang
meliputi produk, proses, sikap, dan aplikasi. Dengan demikian pembelajaran IPA dilaksanakan dengan suatu cara yang dapat mengasah aspek-aspek dalam hakikat IPA, yang di antaranya adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Sutrisno,
2006).
Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA. Ilmu kimia didasarkan pada fenomena-fenomena yang terdapat di alam, serta mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan materi beserta energi yang menyertai perubahan materi
tersebut (Purba, 2006; Suyanti, 2010; Kemendikbud, 2014). Karakteristik ilmu kimia ada tiga yaitu kimia sebagai produk, kimia sebagai proses, dan kimia
sebagai sikap (Chang & Gilbert, 2009). Ketiga karakteristik tesebut sangat ber-hubungan erat dan saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga pembelajaran kimia tidak hanya memperhatikan kimia sebagai produk saja tetapi juga
3
melakukan hal tersebut diperlukan suatu keterampilan tertentu yang disebut ke-terampilan proses (Devetak,dkk., 2014). Keke-terampilan dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang terkait dalam sains disebut dengan keterampilan proses
sains (Dewi, 2008; Abungu, Okere, & Wachanga, 2014).
Keterampilan proses sains (KPS) merupakan keseluruhan dari keterampilan il-miah yang terarah (baik kognitif, afektif, dan psikomotor) yang dapat digunakan
untuk menemukan suatu konsep, prinsip, ataupun teori yang berguna untuk me-ngembangkan konsep yang telah ada sebelumnya (Nuh, 2010). KPS pada siswa perlu dilatih karena dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam proses
pembelajar-an, membantu berpikir logis, mengajukan pertanyaan rasional dan mencari jawab-annya serta memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (Fatmawati,
2013).
Faktanya, pada proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah, pembelajaran kimia sebagai produk lebih diutamakan daripada kimia sebagai proses sehingga KPS pada siswa rendah (Fitriyani, Haryani, & Susatyo, 2017). Hal ini sesuai
dengan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan dengan guru mata pelajaran kimia SMA Negeri 1 Natar. Pembelajaran kimia di kelas lebih
di-dominasi guru yang dominan menggunakan metode ceramah, sehingga siswa menjadi kurang aktif dalam proses menemukan konsep, dan KPS siswa kurang terlatih selama pembelajaran. Dengan demikian produk ilmiah yang didapat
4
Pemilihan model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam pembelajaran (Sani, 2013). Apabila model pembelajaran yang digunakan meli-batkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran maka akan mampu
mening-katkan KPS pada siswa (Rofiah & Azizah, 2014). Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan KPS siswa adalah model Learning Cycle 3E (LC 3E),
karena model pembelajaran ini menggunakan serangkaian proses ilmiah untuk mendapatkan produk kimia. Beberapa penelitian menyatakan bahwa model LC 3E dapat meningkatkan KPS siswa, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh:
(1) Harmoko (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran LC 3E efektif dalam meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan inferensi pada materi
termokimia. (2) Perdana (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran LC 3E pada materi pokok asam-basa efektif dalam meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan penguasaan konsep siswa. (3) Femiceyanti (2013)
menyatakan bahwa pembelajaran LC 3E dapat meningkatkan keterampilan memperoleh dan menyajikan serta menganalisis data.
Salah satu Kompetensi Dasar (KD) kelas XI yang harus dicapai pada Kurikulum 2013 yaitu KD 3.14 memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi
ber-dasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kali kelarutan (Ksp), serta KD 4.14
mengolah dan menganalisis data hasil percobaan untuk memprediksi terbentuknya
endapan. Pada materi hasil kali kelarutan (Ksp), dituntut untuk dapat
5
Model pembelajaran LC 3E yaitu model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran ini dilaksanakan melalui tiga tahap (fase pembelajaran). Fase-fase pembelajaran model ini meliputi, fase eksplorasi (exploration), fase
penjelasan konsep (explanation), dan fase penerapan konsep (elaboration) (Wena, 2011).
Melalui model LC 3E, KPS dapat dilatihkan pada fase eksplorasi (exploration)
dan fase penjelasan konsep (explanation). Pada fase eksplorasi (exploration), siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok tanpa pengajaran langsung dari guru. Siswa diberi permasalahan tentang fenomena dalam
kehidup-an sehari-hari seperti garam NaCl ykehidup-ang dapat larut dalam air sedkehidup-angkkehidup-an garam CaCO3yang terdapat pada cangkang kerang sukar larut dalam air. Kemudian
untuk mengatahui mengapa garam CaCO3ini sukar larut di air sedangkan garam
NaCl mudah larut dalam air, siswa melakukan percobaan tentang kelarutan. Siswa diberikan garam NaCl dan CaCO3yang akan dilarutkan sedikit demi sedikit
ke dalam masing-masing air dan pelarutan dihentikan ketika garam sudah tidak terlarut lagi. Kemudian menimbang sisa garam yang tidak terlarut lagi. pada tahap ini siswa dilatihkan keterampilan pengukuran, dimana siswa dapat
menggu-nakan peralatan secara kuantitatif ukuran suatu benda secara benar. Siswa juga dilatihkan keterampilan observasi, dimana siswa mampu menggunakan indera
untuk memperoleh data hasil percobaan yang selanjutnya dianalisis.
Pada fase penjelasan konsep (explanation), siswa mendiskusikan pertanyaan dengan mengaitkan dengan tabel hasil pengamatan mengenai kelarutan garam
6
dimana siswa dapat menyimpulkan konsep pengetahuan seperti larutan jenuh, kelarutan, dan pengertian Ksp dengan sendiri yang sesuai dengan fenomena dan dapat menghubungkan fakta dengan teori. Pada fase ini siswa juga dapat
dilatih-kan keterampilan klasifikasi, dimana siswa mampu menentudilatih-kan dasar penggo-longan terhadap suatu objek seperti dapat membedakan jenis garam berdasarkan
kelarutan. Setelah menyimpulkan konsep pengetahuan yang telah didapatkan, perwakilan dari salah satu kelompok menyampaikan apa mereka telah dapatkan dari pembelajaran yang telah dilakukan di depan kelas dan kelompok lainnya
menanggapi. Pada fase ini dilatihkan keterampilan komunikasi.
Pada fase penerapan konsep (elaboration), konsep pengetahuan yang diperoleh siswa diaplikasikan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang berbeda,
seperti menunjukkan apakah akan terbentuk endapan apabila larutan Pb(NO3)2
ditambahkan dengan larutan NaCl. Pada fase ini, dilatihkan keterampilan prediksi, dimana siswa mampu mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada
keadaan yang belum diamati.
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul “efektivitas
model Learning Cycle 3E untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa
pada materi hasil kali kelarutan.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah efektivitas model Learning Cycle 3E pada
7
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas model Learning Cycle
3E pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan untuk meningkatkan
keterampil-an proses sains.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak
yaitu :
1. Bagi siswa
Penerapan model LC 3E pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat memberikan pengalaman kepada siswa untuk melatih KPS.
2. Bagi guru
Penerapan model LC 3E pada mteri kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat
dijadikan alternatif dalam memilih model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kimia untuk meningkatkan KPS siswa.
3. Bagi sekolah
8
E. Ruang Lingkup
Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap masalah yang akan dibahas, maka diberikan ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Model Learning Cycle 3E dikatakan efektif dalam meningkatkan KPS siswa apabila n-gain rata-rata kelas eksperimen berkriteria sedang dan terdapat perbedaan n-gain rata-rata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol.
2. Model Learning Cycle 3E dilaksanakan melalui tiga tahap (fase pembela-jaran). Fase-fase pembelajaran model ini meliputi, fase eksplorasi
(explora-tion), fase penjelasan konsep (explana(explora-tion), dan fase penerapan konsep
(elaboration) Karplus dalam (Wena, 2009).
3. Indikator keterampilan proses sains yang digunakan, merujuk pada keteram-pilan proses sains dasar yang meliputi keteramketeram-pilan mengamati, mengklasifi-kasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Model Learning Cycle 3E
Karplus dalam (Wena, 2009) menyatakan bahwa siklus belajar (Learning Cycle) merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis. Pembelajaran melalui model Learning Cycle (LC) mengharuskan siswa
mem-bangun sendiri pengetahuannya dengan memecahkan permasalahan yang dibim-bing oleh guru. LC merupakan rangkaian dari tahap-tahap kegiatan yang
di-organisasi sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif.
Karplus dan Their mengungkapkan dalam Fajaroh dan Dasna (2007) bahwa: Siklus Belajar (Learning Cycle) atau dalam penulisan ini disingkat LC adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat
menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Learning Cycle3 Phase (LC 3E) terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), penjelasan konsep (concept introduction/ explaination), dan penerapan konsep (elaboration).
Pada fase eksplorasi (exploration), guru menyajikan fakta atau fenomena yang berkaitan dengan konsep yang akan diajarkan. Siswa menyelidiki fenomena
10
Fase ini menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan pengetahuan awalnya dalam mengobservasi, memahami, serta mengkomunikasikan pada orang lain berdasarkan konsep-konsep yang telah mereka ketahui. Tujuan dari kegiatan
ini adalah untuk melibatkan siswa secara aktif dalam suatu aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar. Di samping itu kegiatan pada
fase ini memungkinkan siswa menyadari konsep yang telah dimilikinya.
Pada fase pengenalan konsep (explanation), siswa mengemukakan gagasan-gagasan kemudian didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fase eksplorasi. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban atau gagasan yang di
ungkapkan siswa. Selain itu, guru mengenalkan istilah-istilah, penjelasan, meng-usulkan alternatif pemecahan, atau memperbaiki miskonsepsi siswa. Siswa
dengan bimbingan guru mengorganisasikan datanya untuk menemukan keteratur-an atau hubungketeratur-an keteratur-antar konsep.
Pada fase aplikasi konsep (elaboration), memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diberikan pada fase pertama dan
kedua untuk menyeleaikan persoalan dalam konteks yang berbeda. Siswa menerapkan konsep yang yang telah mereka dapat pada situasi baru, baik untuk
memahami sifat-sifat konsep lebih jauh atau dalam konteks kehidupan sehari-hari. Guru membantu menginterpretasikan dan menggeneralisasi hasil pengalaman siswa. Siswa memperoleh penguatan dan pengembangan struktur mental yang
11
LC 3E melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi siswa untuk secara aktif mem-bangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial.
Menurut Hudojo (2001) implementasi LC 3E dalam pembelajaran sesuai dengan
pandangan konstruktivis:
1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa,
2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu,
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah.
Dilihat dari dimensi guru, penerapan strategi ini memperluas wawasan dan me-ningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari dimensi pebelajar, penerapan strategi ini memberi keunggulan sebagai berikut
(Fajaroh, 2007):
1. Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran,
2. Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar,
3. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Lingkungan belajar yang perlu diupayakan agar LC 3E berlangsung secara
konstruktivistik adalah (Fajaroh, 2007):
1. Tersedianya pengalaman belajar yang berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,
2. Tersedianya berbagai alternatif pengalaman belajar jika memungkinkan,
3. Terjadinya transmisi sosial, yakni interaksi dan kerja sama individu dengan lingkungannya,
12
5. Kaitkan konsep yang dipelajari dengan fenomena sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara emosional dan sosial yang menjadikan pembelajaran berlangsung menarik dan menyenangkan.
Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut (Fajaroh, 2007):
1. Efektivitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran,
2. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran,
3. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi,
B. Keterampilan Proses Sains
Memahami hakikat ilmu sains secara utuh, yaitu sains sebagai proses dan produk, siswa harus memiliki keterampilan proses sains (Hartono, 2007). KPS
didefi-nisikan sebagai adaptasi dari keterampilan yang digunakan oleh ilmuwan untuk memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah dan membuat kesimpulan (Karsli & Sahin, 2009). Keterampilan proses dapat mengembangkan kreativitas
siswa dalam belajar, sehingga secara aktif dapat mengembangkan dan menerap-kan kemampuan-kemampuannya (Semiawan, dkk., 1996).
Menurut Funk (dalam Dimyati & Mudjiono, 2002), jenis-jenis keterampilan
dalam keterampilan proses yaitu:
Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan-keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yakni mengobservasi, mengklasifikasi, mendeskripsi, mengukur, menyimpulkan, dan mengomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi, menyajikan data dalam bentuk grafik, membuat gambar hubungan antar-variabel,
13
hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan penelitian.
KPS dikategorikan ke dalam dua jenis yaitu keterampilan proses dasar dan
ter-integrasi. Keterampilan proses dasar diantaranya yaitu mengamati, menyimpul-kan, mengukur, berkomunikasi, memprediksi, mengklasifikasi, menggunakan
hubungan ruang dan waktu, serta menggunakan alat. Keterampilan proses terintegrasi mencakup mengendalikan variabel, mendefinisikan secara opera-sional, merumuskan hipotesis, merumuskan model, menafsirkan data dan
[image:29.595.115.513.400.739.2]bereksperimen (Trianto, 2014). Komponen KPS dan sub-subnya terdapat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Komponen KPS
No. Keterampilan Proses Sains Sub Keterampilan Proses 1 Mengamati (observasi) a. Mengidentifikasi ciri- ciri suatu
benda/peristiwa.
b. Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan berbagai benda/peristiwa. c. Membaca alat-alat ukur.
d. Mencocokan gambar dengan uraian tulisan/benda.
e. Mengurutkan berbagai peristiwa yang yang terjadi secara simultan.
f. Memberikan (memberikan uraian) mengenai suatu benda atau peristiwa. 2 Mengklasifikasikan
(menggolongkan)
a. Mengelompokkan benda/peristiwa (kelompok ditentukan anak).
b. Mengidentifikasi pola dari suatu seri pengamatan.
c. Mengemukakan/ mengetahui alas an pengelompokkan.
3 Meramalkan a. Membuat dugaan berdasarkan pola-pola atau hubungan informasi/ ukuran/hasil observasi.
b. Mengantisipasi suatu peristiwa
14
Tabel 1. (Lanjutan)
c. Memberikan (memberikan uraian) mengenai suatu benda atau peristiwa. d. Memberikan (memberikan uraian)
mengenai suatu benda atau peristiwa. 4 Mengkomunikasikan a. Mengutarakan suatu gagasan mencatat
kegiatan-kegiatan atau pengamatan yang dilakukan.
b. Menunjukkan hasil kegiatan. c. Mendiskusikan hasil kegiatan. d. Menggunakan berbagai sumber
informasi.
e. Mendengarkan dan menanggapi gagasan-gagasan orang lain. f. Melaporkan suatu peristiwa atau
kegiatan secara sistematis dan jelas. 5 Penggunaan alat dan
Pengukuran
a. Menentukan alat dan pengukuran yang diperlukan dalam suatu penyelidikan atau percobaan.
b. Menunjukkan hal-hal yang berubah atau harus diubah pada suatu pengamatan atau pengukuran. c. Merencanakan bagaimana hasil
pengukuran, perbandingan untuk memecahkan suatu masalah.
d. Menentukan urutan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam suatu percobaan ketelitian dalam penggunaan alat dan pengukuran dalam suatu percobaan.
(Nugraha,2005)
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) pengelompokan KPS ditunjukkan pada
Tabel 2 dan indikator keterampilan proses sains dasar pada Tabel 3.
Tabel 2. Pengelompokan KPS
Keterampilan Proses Dasar Keterampilan Proses Terintegrasi Mengamati (observasi) Mengajukan pertanyaan
Mengelompokkan (klasifikasi) Penyelidikan
Meramalkan (prediksi) Menerapkan konsep
Mengukur Menggunakan alat/bahan
Berkomunikasi Melaksanakan percobaan
[image:30.595.114.519.109.518.2]15
Tabel 3. Indikator KPS dasar
Indikator Sub Indikator
Mengamati (observasi)
Mampu menggunakan semua indera untuk mengamati, mengidentifikasi, dan menamai sifat benda dan kejadian secara teliti dan hasil pengamatan
Mengelompokkan (klasifikasi)
Mampu menentukan perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan dan menentukan dasar penggolongan terhadap suatu objek.
Meramalkan (prediksi)
Mampu menggunakan pola-pola hasil pengamatan dan mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati.
Mengukur Mampu memilih dan menggunakan peralatan untuk menentukan secara kuantitatif ukuran suatu benda secara benar yang sesuai untuk panjang, luas, volume, waktu, berat, dan lain-lain, serta mampu mendemonstrasikan perubahan suatu satuan pengukuran ke satuan pengukuran lain.
Berkomunikasi Memberikan/menggambarkan data empiris hasil
percobaan atau pengamatan dengan tabel, menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis, menjelaskan hasil percobaan, membaca tabel, mendiskusikan hasil kegiatan suatu masalah atau suatu peristiwa.
Inferensi Mampu membuat suatu kesimpulan tentang suatu benda atau fenomena setelah mengumpulkan, menginterpretasi data dan informasi.
C. Penelitian yang Mendukung
Beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang model pembelajar-an LC 3E sebagai berikut:
Tabel 4. Penelitian yang mendukung
Peneliti Judul penelitian Hasil penelitian Harmoko (2013) Efektivitas model
Learning Cycle 3E pada materi termokimia dalam meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan interferensi
[image:31.595.115.508.614.756.2]16
Tabel 4. (Lanjutan)
pembelajaran LC 3E dapat meningkatkan keterampilan mengkomunikasikan dan inteferensi siswa.
Perdana (2013) Efektivitas model pembelajaran Learning Cycle 3E dalam meningkatkan keterampilan
mengkomunikasikan dan penguasaan konsep siswa pada materi asam basa.
N-gain rata-rata keterampilan mengkomunikasikan untuk kelas kontrol adalah 0,55 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,66; serta n-gain rata-rata penguasaan konsep untuk kelas kontrol adalah 0,53 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,65. Dapat dikatakan bahwa model pem-belajaran LC 3E dapat mening-katkan keterampilan meng-komunikasikan dan penguasaan konsep siswa.
Femiceyanti (2013) Peningkatan
keterampilan mem-peroleh dan menyajikan serta menganalisis data melalui Learning Cycle 3E.
N-gain rata-rata keterampilan memperoleh dan menyajikan data untuk kelas kontrol adalah 0,21 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,43; serta n-gain rata-rata menganalisis data siswa untuk kelas kontrol adalah 0,20 dan untuk kelas eksperimen adalah 0,47. Dapat dikatakan bahwa model pembelajaran LC 3E dapat meningkatkan kete-rampilan memperoleh dan menyajikan serta menganalisis data.
D. Analisis Konsep Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Markle dan Tieman (Fadiawati, 2011) mendefinisikan konsep sebagai sesuatu yang benar-benar ada. Namun, mungkin tidak ada satupun definisi yang dapat
mengungkapkan arti dari konsep, sehingga perlu suatu analisis konsep yang memungkinkan kita dapat mendefinisikan konsep, sekaligus menghubungkan
[image:32.595.113.503.109.545.2]17
Penguasaan konsep merupakan dasar dari penguasaan prinsip-prinsip teori, artinya untuk dapat menguasai prinsip dan teori harus dikuasai terlebih dahulu konsep-konsep yang menyusun prinsip dan teori yang bersangkutan. Herron,dkk., dalam
Fadiawati (2011) mengemukakan bahwa analisis konsep merupakan suatu pro-sedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam merencanakan
urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Prosedur ini telah digunakan secara luas oleh Markle dan Tieman serta Klausemer dkk. Analisis konsep dilakukan melalui tujuh langkah, yaitu menentukan nama atau label konsep, definisi konsep,
jenis konsep, atribut kritis, atribut variabel, posisi konsep, contoh dan non contoh. Label konsep adalah nama konsep yang dianalisis.
Label konsep didefinisikan sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang
di-harapkan. Untuk suatu label konsep yang sama, konsep dapat didefinisikan ber-beda sesuai dengan tingkat pencapaian konsep yang diharapkan dikuasai siswa dan tingkat perkembangan kognitif siswa. Atribut kritis merupakan ciri-ciri utama
konsep yang merupakan penjabaran definisi konsep. Atribut variabel menunjukan ciri-ciri konsep yang nilainya dapat berubah, namun besaran dan satuannya tetap. Posisi konsep menyatakan hubungan suatu konsep dengan konsep lain
berdasar-kan tingkatannya, yaitu: a. konsep superordinat (konsep yang tingkatannya lebih tinggi); b. konsep ordinat (konsep yang setara); dan c. konsep subordinat (konsep
18
Tabel 5. Analisis konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan
Label konsep Definisi konsep Jenis konsep
Atribut konsep Posisi konsep
Contoh Noncontoh
Kritis Variabel Super
ordinat Koordinat
Sub ordinat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kesetim-bangan kimia
Keadaan yang terjadi saat laju reaksi maju sama dengan laju reaksi balik, dapat berupa reaksi homogen yang memiliki suatu tetapan (harga K) dan dapat mengalami pergeseran. Konsep abstrak Kesetim-bangan kimia
Laju reaksi
maju sama dengan laju reaksi balik Dapat mengalami pergeseran
Fase zat
Harga K
Reaksi kimia Reaksi ireversibel Reaksi reversibel Kesetim-bangan statis Kesetim-bangan dinamis
N2(g) +
3H2(g)
⇄2NH3(g)
CH4(g) +
2O2(g)⟶
CO2(g) +
2H2O(g)
Kesetim-bangan dinamis
Kesetimbang-an kimia yKesetimbang-ang secara makro-skopis tidak terjadi perubahan (reaksi tetap), tetapi secara miroskopis reaksi berlangsung Konsep abstrak Kesetim-bangan dinamis Secara makro-skopis tidak terjadi perubahan (reaksi tetap)
Fase zat
Harga K
Kese-timbang an kimia Kesetim-bangan statis Dalam ruang tertutup,
gas N2O2
yang tidak berwarna bila dipa-naskan akan Kristal
CuSO4.5H2O
19
Tabel 5. (Lanjutan)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
terus menerus
Mikro-skopis reaksi berlang-sung terus menerus terurai menjadi
gas NO2
berwarna coklat. Sebaliknya bila gas NO2 didingin-kan warna coklat yang terbentuk akan me-mudar. Dalam keadaan setimbang secara mikro-skopis reaksi ini berlang-sung terus menerus putih dengan melepaskan air dalam bentuk uap air. Sebalik-nya bila kristal putih
CuSO4hasil
pemanasan ditetesi air maka akan berubah menjadi kristal
CuSO4.5H2O
Kesetim-bangan kelarutan Pada kese-timbangan kelarutan terjadi kese-timbangan Konsep yang menyata kan proses Kesetim-bangan kelarutan Kesetim-bangan Jenis elektrolit Kesetim bangan kimia Kesetimbang an homogen dan heterogen Kelarutan
Ksp
CH3COOH
(s)⇄
H+(aq) +
CH3COO
-(aq)
CH3COOH
(aq)⇄
H+(aq) +
CH3COO
[image:35.792.92.719.127.527.2]
20
Tabel 5. (Lanjutan)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
dinamis antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larujan jenuh dinamis antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larutan jenuh. Tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) Ksp menyata-kan ukuran terjadinya kesetimbangan antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya dalam larutan jenuh Ksp dihitung dari hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut dipangkatkan koefisien Konsep berda-sarkan prinsip Ksp ukuran terjadinya kesetimbang an antara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya dalam kelarutan jenuh. Ksp dihitung dari hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut dipangkatkan koefisien Jenis elektrolit Konsen-trasi ion-ion Koefisien reaksi Kese- timba-ngan kelaru-tan
kelarutan KspAgCl =
[image:36.792.86.719.120.523.2]21
Tabel 5. (Lanjutan)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
reaksi pada keasaan larutan jenuh reaksi pada keadaan larutan jenuh.
Kelarutan Jumlah
mak-simum zat terlarut yang dapat larut pada zat pela-rut tertentu pada suhu tertentu.
konkrit Hasil kali
kelarutan
Garam
Ion
senama
Jenis zat
terlarut
Jenis zat
pelarut
Kese- timba-ngan kimia
Ksp Ag2CrO4=
8,4 x 10-5
mol/L
KspAg2CrO4
[image:37.792.85.717.121.449.2]22
E. Kerangka Berpikir
Pada kurikulum 2013, salah satu kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa di kelas XI SMA/MA pada mata pelajaran kimia adalah KD 3.14 yaitu memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip
kelarut-an dkelarut-an data hasil kali kelarutkelarut-an (Ksp). KD 4.14 yaitu mengolah dan menganalisis
data hasil percobaan untuk memprediksi terbentuknya endapan. Sebagian besar
siswa SMA/MA merasa kesulitan dalam mempelajari Kimia. Hal ini dikarenakan materi kimia terdiri dari konsep-konsep yang kompleks serta fenomena-fenomena yang abstrak dan tidak teramati serta pembelajaran kimia masih menggunakan
metode ceramah dan pembelajarannya belum merepresentasikan materi kimia yang bersifat abstrak dalam bentuk submikroskopis. Selama proses pembelajaran
kimia di kelas seharusnya siswa terlibat secara aktif dengan lingkungannya melalui ekperimen atau percobaan. Dengan melakukan eksperimen atau percoba-an ini siswa dapat mengembpercoba-angkpercoba-an keterampilpercoba-an proses sainsnya seperti
meng-amati, mengukur dan mengkomunikasikan hasil eksperimen baik secara lisan maupun tertulis.
Keterampilan proses sains ini sangat penting dimiliki oleh siswa dan juga perlu
untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran sebab siswa dapat berlatih untuk menginferensi suatu konsep, mengklasifikasi, dan mengkomunikasikan hasil belajar. Berdasarkan uraian di atas, maka dibutuhkan suatu model
pembela-jaran yang akan mampu meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
23
Curriculum Improvement Study, Learning Cycle merupakan pengorganisasian
yang memberikan kemudahan untuk penguasaan konsep-konsep baru dan menata ulang pengetahuan siswa. Learning Cycle 3E ini terdiri dari tiga fase, yaitu fase
eksplorasi (exploration), fase penjelasan konsep (explanation), dan fase penerapan konsep (elaboration).
Pada fase eksplorasi (exploration), siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama
dalam kelompok tanpa pengajaran langsung dari guru. Siswa diberi permasalahan tentang fenomena dalam kehidupan sehari-hari seperti garam NaCl yang dapat larut dalam air sedangkan garam CaCO3yang terdapat pada cangkang kerang
sukar larut dalam air. Kemudian untuk mengatahui mengapa garam CaCO3ini
sukar larut di air sedangkan garam NaCl mudah larut dalam air, siswa melakukan
percobaan tentang kelarutan. Siswa diberikan garam NaCl dan CaCO3yang akan
dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam masing-masing air dan pelarutan dihenti-kan ketika garam sudah tidak terlarut lagi. Kemudian menimbang sisa garam
yang tidak terlarut lagi. Pada tahap ini siswa dilatihkan keterampilan pengukuran, dimana siswa dapat menggunakan peralatan secara kuantitatif ukuran suatu benda secara benar. Siswa juga dilatihkan keterampilan observasi, dimana siswa mampu
menggunakan indera untuk memperoleh data hasil percobaan yang selanjutnya dianalisis.
Pada fase penjelasan konsep (explanation), siswa mendiskusikan pertanyaan
dengan mengaitkan dengan tabel hasil pengamatan mengenai kelarutan garam yang telah dilakukan. Pada fase ini dapat dilatihkan keterampilan inferensi,
24
kelarutan, dan pengertian Kspdengan sendiri yang sesuai dengan fenomena dan
dapat menghubungkan fakta dengan teori. Pada fase ini siswa juga dapat dilatih-kan keterampilan klasifikasi, dimana siswa mampu menentudilatih-kan dasar
penggo-longan terhadap suatu objek seperti dapat membedakan jenis garam berdasarkan kelarutan. Setelah menyimpulkan konsep pengetahuan yang telah didapatkan,
perwakilan dari salah satu kelompok menyampaikan apa mereka telah dapatkan dari pembelajaran yang telah dilakukan di depan kelas dan kelompok lainnya menanggapi. Pada fase ini dilatihkan keterampilan komunikasi.
Pada fase penerapan konsep (elaboration), konsep pengetahuan yang diperoleh
siswa diaplikasikan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang berbeda, seperti menunjukkan apakah akan terbentuk endapan apabila larutan Pb(NO3)2
ditambahkan dengan larutan NaCl. Pada fase ini, dilatihkan keterampilan prediksi, dimana siswa mampu mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati.
Berdasarkan uraian dan langkah-langkah di atas, pada pembelajaran kimia
di-gunakan model LC 3E diyakini dapat meningkatkan KPS siswa pada materi hasil kali kelarutan,
F. Anggapan Dasar
Beberapa hal yang menjadi anggapan dasar pada penelitian ini adalah sebagai
25
1. Siswa kelas XI MIA 1 dan XI MIA 4 SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2018/2019 yang menjadi subjek penelitian, mempunyai pengetahuan awal yang sama.
2. Perbedaan n-gain KPS pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terjadi karena adanya perlakuan yang diberikan dalam proses pembelajaran
G. Hipotesis Penelitian
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2018/2019 yang berjumlah 288 siswa, tersebar dalam 8 kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas dari delapan kelas tersebut.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada informasi tentang keadaan populasi sebelumnya, dimana peneliti
berasumsi bahwa ahli dapat menggunakan pengetahuan mereka tentang keadaan sampel dan populasi untuk mengetahui apakah sampel yang diambil itu represen-tatif atau tidak (Fraenkel, Walls, & Hyun., 2012). Pengambilan sampel dalam
penelitian ini dilakukan dengan cara meminta bantuan guru bidang studi kimia di sekolah tersebut, untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik siswa
sehingga dapat ditentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu kelas X sehingga didapatkan kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperimen yang menggu-nakan model pembelajaran Learning Cycle 3E dan kelas XI MIA 4 sebagai kelas
27
B. Metode dan Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain Non Equivalence Pretest-Postest Control Group Design (Fraenkel, Walls, & Hyun., 2012). Dalam metode ini diberlakukan penempatan dua kelompok
subjek secara acak, yaitu dengan cara memberi perlakuan yang berbeda. Kedua kelompok tersebut adalah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kepada
kedua kelompok dilakukan pelaksanaan pretes untuk mengetahui kemampuan awal dan postest untuk mengetahui kemampuan akhir. Perlakuan (pembelajaran dengan model LC 3E) hanya diberikan kelas eksperimen Desain penelitian ini
[image:43.595.117.437.457.543.2]menggunakan Non Equivalence Pretest-Postest Control Group Design dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Desain penelitian
Kelas Pretes Perlakuan Postes
Kelas Eksperimen O1 X O2
Kelas Kontrol O1 C O2
Keterangan:
O1 : Pretes (sebelum perlakuan)
X : Pembelajaran menggunakan model LC 3E. C : Pembelajaran konvensional.
O2 : Postes (sesudah perlakuan)
C. Variabel Penelitian
28
kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol. Variabel bebas adalah penggunaan model pembelajaran LC 3E pada kelas eksperimen dan tanpa
penggunaan model LC 3E (pembelajaran konvensional) pada kelas kontrol. Variabel terikat adalah KPS siswa. Variabel kontrol adalah materi hasil kali
kelarutan
D. Data Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data utama dan data pen-dukung. Data utama pada penelitian ini berupa data hasil pretes dan postes
tentang kemampuan proses sains, sedangkan data pendukung penelitian berupa data aktivitas siswa pembelajaran. Sumber data berasal dari seluruh kelas eksperi-men dan kelas kontrol.
E. Instrumen Penelitian dan Validitas Instrumen
Instrumen adalah alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data
litian (Fraenkel, Walls, & Hyun, 2012). Instrumen yang digunakan pada pene-litian ini adalah perangkat pembelajaran, yang meliputi
1. Soal pretes dan postes yang terdiri 5 soal uraian untuk mengukur KPS siswa pada materi hasil kali kelarutan dilengkapin dengan rubrik penelitian
2. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang menggunakan model pembelajaran LC 3E
yang terdiri dari 5 LKS yaitu, LKS 1 membahas pengertian larutan jenuh, kelarutan, pengaruh suhu terhadap kelarutan dan pengertian hasil kali
kelarut-29
an untuk senyawa elektrolit biner (n = 2), terner (n= 3) dan elektrolit n > 3 dan menghitung nilai kelarutan garam dan basa kurang larut. LKS 3 membahas pengaruh ion senama terhadap kelarutan. LKS 4 membahas mengenai
peng-aruh pH terhadap kelaruta, dan LKS 5 membahas hubungan Qc dengan Ksp.
3. Data observasi aktivitas siswa.
Pengujian instrumen penelitian ini menggunakan validitas isi. Pengujian ini
dila-kukan dengan cara judgement dengan menelaah kisi-kisi, terutama kesesuaian antara tujuan penelitian, tujuan pengukuran, indikator keterampilan dan butir-butir pertanyaannya. Bila antara unsur-unsur tersebut terdapat kesesuaian, maka
instru-men dianggap valid untuk digunakan dalam pengumpulan data sesuai kepentingan peneliti. Dalam melakukan judgement dilakukan oleh dosen pembimbing.
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Berikut ini adalah beberapa tahapan yang dilakukan pada saat pelaksanaan
peneli-tian yang ditunjukkan pada Gambar 1:
1. Melakukan observasi lapangan yang akan menghasilkan informasi untuk me-nentukan populasi penelitian.
2. Melakukan studi literatur yang sesuai dengan hasil observasi lapangan. 3. Menyusun perangkat pembelajaran, yaitu silabus, RPP dan LKS.
4. Menyusun instrumen penelitian, yaitu soal pretes-postes KPS, dan lembar observasi aktivitas siswa.
5. Menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen yang akan diberikan soal
30
Gambar 1. Bagan Alir Penelitian
6. Menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen yang akan diberikan soal pretes untuk mengetahui KPS awal siswa.
7. Memberikan perlakuan pada kelas eksperimen dengan model pembelajaran LC 3E, sedangkan pada kelas kontrol tidak diberi perlakuan (pembelajaran
menggunakan metode konvensional). Lembar observasi aktivitas
siswa
Lembar observasi aktivitas siswa
1. Melakukan observasi lapangan
2. Melakukan studi literatur
3. Menyusun instrumen penelitian
4. Validasi instrumen
1. Memperoleh data mengenai siswa, metode yang digunakan guru dan sarana dan prasarana 2. Instrumen penelitian (LKS, soal KPS,dan lembar aktivitas siswa) Persiapan
Kelas eksperimen Kelas kontrol
Pretes Hasil awal
Kelas eksperimen menggunakan model LC 3E
Kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional
postes Hasil akhir
Analisis data Keterangan Perlakuan
= Hasil
31
8. Setelah pembelajaran berakhir, diberikan soal postes dengan soal-soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sehingga diperoleh hasil akhir
KPS.
9. Data hasil postes pada kedua sampel dianalisis, kemudian dapat diambil suatu kesimpulan pada penelitian ini.
G. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
1. Perhitungan skor pretes rata-rata
Skor pretes yang diperoleh, dihitung rata-rata dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Skor pretes rata − rata = Jumlah Skor seluruh siswa Jumlah siswa
2. Perhitungan n-gain KPS setiap siswa
Data yang diperoleh kemudian dihiitung dengan rumus menurut (Hake, 1998)
− = Skor maksimum − %Skor pretes%Skor postes − %Skor pretes
3. Perhitungan n-gain rata-rata tiap kelas
Setelah diperoleh n-gain dari tiap siswa kemudian dihitung rata-ratanya dari tiap kelas. Besarnya n-gain rata-rata siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol
dihitung dengan rumus berikut.
32
[image:48.595.114.322.223.284.2]Hasil perhitungan n-gain rata-rata kemudian diinterpretasikan dengan mengguna-kan kriteria dari Hake (1998). Kriteria pengklasifikasian n-gain menurut Hake dapat dilihat seperti pada Tabel 7 .
Tabel 7. Klasifikasi n-gain
Besarnya<g> Interpretasi <g>≥0,7 Tinggi 0,3≤<g>< 0,7 Sedang <g><0,3 Rendah
4. Uji hipotesis
Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji kesamaan dua
rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata. Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan pada kemampuan awal (pretes), sedangkan uji perbedaan dua rata-rata dilakukan
pada n-gain.
Sebelum menguji kesamaan dua rata-rata dan perbedaan dua rata-rata, dilakukan uji prasyarat terlebih dahulu. Adapun uji prasyarat yang dilakukan adalah uji nor-malitas dan homogenitas terhadap nilai pretes siswa di kelas eksperimen dan kelas
kontrol untuk menguji kesamaan dua rata-rata, serta n-gain siswa di kelas ekspe-rimen dan kelas kontrol untuk menguji perbedaan dua rata-rata.
a. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel berasal
33
parametrik. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan SPSS 23.0. dengan uji Kolmogorov-Smirnov.
Hipotesis untuk uji normalitas :
H0: kedua sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
H1: kedua sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
Kriteria pengujian, terima H0jika nilai sig dari Kolmogorov-Smirnov > 0,05, dan
tolak H0untuk harga lainnya.
b. Uji homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah variansi populasi bersifat seragam atau tidak berdasarkan data sampel yang diperoleh (Arikunto,2006).
Selanjutnya untuk menentukan uji yang akan digunakan dalam pengujian hipo-tesis. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mem-punyai varians yang sama (populasi dengan varians yang homogen) atau
sebaliknya. Uji homogenitas dilakukan menggunakan SPSS versi 23.0 dan meng-gunakan uji Levene statistics test. Rumusan hipotesis pada uji ini adalah sebagai berikut:
H0: = (kedua kelas memiliki varians yang homogen)
H1: ≠ (kedua kelas memiliki varians yang tidak homogen)
Keterangan:
= varians skor kelompok eksperimen
34
Keriteria pengujian, terima H0jika Fhitung> Ftabel, dengan taraf nyata α 0.05, dalam
hal lain tolak H0. Data dikatakan memenuhi asumsi homogen jika nilai sig. (p)
dari levene Statistics > 0,05.
c. Uji kesamaan dua rata-rata
Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah KPS awal siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki keterampilan awal yang sama secara signifikan atau tidak.
Hipotesis untuk uji kesamaan dua rata-rata adalah:
H0: = (kedua kelas memiliki skor pretes rata-rata KPS yang sama)
H1: ≠ (kedua kelas memiliki skor pretes rata-rata KPS yang tidak sama)
Keterangan:
= Skor pretes rata-rata KPS kelas eksperimen
= Skor pretes rata-rata KPS kelas kontrol
Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1) dengan kriteria terima H1jika nilai sig. <0,05
dan sebaliknya.
Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan, didapat-kan bahwa skor pretes KPS siswa dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol
memenuhi kriteria data berdistribusi tidak normal dan homogen maka uji kesama-an dua rata-rata dilakukkesama-an dengkesama-an menggunakkesama-an uji non-parametrik, yaitu dengkesama-an
35
d. Uji perbedaan dua rata-rata
Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui keefektifan perlakuan terhadap sampel dengan melihat n-gain KPS siswa yang berbeda secara signifikan
antara pembelajaran menggunakan model pembelajaran LC 3E dengan pembela-jaran konvensional.
Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah:
Hipotesis untuk uji perbedaan dua rata-rata adalah:
H0: ≤ (salah satu kelas memiliki n-gain rata-rata KPS lebih rendah atau
sama dengan)
H1: > (salah satu kelas memiliki n-gain rata-rata KPS lebih tinggi)
Keterangan:
= n-gain rata-rata KPS kelas eksperimen
= n-gain rata-rata KPS KPS kelas kontrol
Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol
(H0) dan hipotesis alternatif (H1) dengan kriteria terima H1jika nilai sig. <0,05
dan sebaliknya.
Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas yang telah dilakukan, didapat-kan bahwa nilai pretes KPS siswa dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol
memenuhi kriteria data berdistribusi normal dan homogen maka uji perbedaan dua rata-rata dilakukan dengan menggunakan uji statistik parametrik yaitu uji-t
V. SIMPULAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan dalam
penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. N-gain rata-rata KPS siswa kelas eksperimen yang diterapkan model LC 3E
berbeda secara signifikan dengan n-gain rata-rata KPS siswa kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
2. Model pembelajaran LC 3E pada materi hasil kali kelarutan efektif untuk
meningkatkan KPS.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada materi kelarutan dan hasil kali
kelarutan, maka disarankan untuk :
1. Model pembelajaran LC 3E sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran kimia,
terutama pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan karena terbukti efektif untuk meningkatkan KPS siswa.
2. Bagi calon peneliti yang akan melakukan penelitian dengan menggunakan
DAFTAR PUSTAKA
Abungu, H,E., Okere, M.I.O., & Wachanga, S.M. (2014). The Effect of Science
Process Skills Teaching Approach on Secondary School Students’
Achievement in Chemistry in Nyando District, Kenya. Journal of Educational and Social Research. 4(6): 359-372.
Carin, A.A., (1993). Teaching Modern Science. Six Edition. New York: Macmillan Publishing Company.
Chang, M. & Gilbert, J.K. (2009). Towards a Better Utilization of Diagram in Research Into the Us of Representative Levels in Chemical Education. Model and Modeling in Science Education., Multiple Representations in Chemical Educations. Springer Science Business Media B. V. (4)55-73.
Devetak, I., Erna, D.L., Mojca, J., & Sasa, A. G. (2014). Comparing Slovenian
Year 8 and Year 9 Elementary School Pupil ’ Knowladge of Elektrolyte
Chemistry and Their Instrisic Motivation. Chemical Education Research Practice, 10, 281-290.
Dewi, S. (2008). Keterampilan Proses Sains. Bandung: Tinta Emas Publishing.
Dimyati & Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta,
Fadiawati, N. (2011). Perkembangan Konsepsi Pembelajaran tentang Struktur Atom dari SMA Hingga Perguruan Tinggi. Disertasi. SPs-UPI. Bandung
Fajaroh, F & Dasna, I.W. (2007). Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (learning cycle). Universitas Negeri malang. Malang.
Famiceyanti, I. (2013). Peningkatan Keterampilan Memperoleh Dan Menyajikan Serta Menganalisis Data Melalui Learning Cycle 3. Skripsi . Universitas Lampung, Bandar Lampung.
61
Fitriyani, R., Haryani, S., & Susatyo, E. B. (2017). Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Keterampilan Proses Sains pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia. 11(2): 1957-1970.
Fraenkel, J.R., Wallw N.E., & Hyun, H.H. (2012). How To Design and Evaluate Research In Education Eighth Edition. The McGraw-Hill Companies, New York.
Hake, R. R. (1998). Interactive-Engagement Versus Traditional Methods: A Six Thousand-Student Survey of Mechanics Test Data For Introductory Physics Courses. American Journal of Physics. 66(1): 64-74.
Harmoko, A. (2013). Efektivitas Model Learning Cycle 3e Pada Materi
Termokimia Dalam Meningkatkan Keterampilan Mengkomunikasikan Dan Inferensi. Skripsi. Universitas Lampung, Bandar Lampung.
Hartono. (2007). Profil Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Program
Pendidikan Jarak Jauh SI PGSD Universitas Sriwijaya. Seminar Proceeding of The International Seminar of Science Education, 27 Oktober 2007. Bandung
Hudojo, H. (2001). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Universitas Negeri Malang Press. Malang
Ismail, F. (2008). Manajemen berbasis sekolah: solusi peningkatan kualitas pendidikan.Jurnal IQRA’ STAIN Manado. 5, 1-13
Karsli, F.,& Sahin, C. (2009). Developing Worksheet based on Science Process Skill : Factor affecting solubility. The oline journal of asia pacific on science learning and teaching. 10(1): 1-12
Kemendikbud. 2014. Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Kemendikbud. Jakarta.
Kemendikbud. (2014). Permendikbud No.59 tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Kemendikbud. Jakarta..
62
Mudalara, I.P. (2012). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Gianyar Ditinjau dari Sikap Ilmiah. Skripsi. Universitas Pendidikan Ganesha
Ndraha, T. (1999). Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugraha, A. (2005). Pengembangan Pembelajaran Sains Anak Usia Dini. Depertemen Pendidikan. Jakarta
Nuh, U. (2010). Fisika Online: Keterampilan Proses Sains. Artikel Pendidikan. Diakses pada tanggal 12 April 2019 dari
http://fisikasmaonline.blogspot.com/keterampilan-proses-sains.html.
Perdana, R. (2013). Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 3E Dalam Meningkatkan Keterampilan Mengkomunikasikan Dan Penguasaan Konsep Siswa Pada Materi Asam Basa. Skripsi. Universitas Lampung, Bandar Lampung
Purba, M. (2006). Kimia Untuk SMA Kelas X. Erlangga, Jakarta.
Rofiah, F. & Azizah. (2014). Pengembangan LKS Berorientasi Learning Cycle 7E pada materi pokok Laju Reaksi untuk Melatihkan KPS. Journal of Chemical Education 3(2):99-105.
Sani, R. A. (2013). Inovasi Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta.
Semiawan, C., Tangyong, A.F., Belen, S., Matahelemual, Y., & Suseloardjo. 1996. Pendekatan Ketrampilan Proses. PT. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Alfabeta. Bandung.
Sutrisno. (2006). Fisika dan Pembelajarannya. Bandung: UPI
Suyanti, R. D. (2010). Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wena, M. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatf Kontemporer; Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara
63