• No results found

Text ABSTRAK ABSTRACT pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK ABSTRACT pdf"

Copied!
59
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)PERSEPSI MAHASISWA TENTANG TAHAP PENCAPAIAN PEMBELAJARAN PADA MAHASISWA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG. (Skripsi). Oleh CHINTYA REDINA HABSARI. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2020.

(2) ABSTRACT. STUDENTS‟ PERCEPTIONS OF MILESTONE IN UNDERGRADUATE STUDENTS AT MEDICAL FACULTY OF LAMPUNG UNIVERSITY. By. CHINTYA REDINA HABSARI. Background : Milestone is needed in medical education to guide the implementation of education and assessment, and actively encourage students to achieve competency standards. The purpose of this study was to determine student perceptions of milestone at Medical Faculty, Lampung University. Method : This study used a qualitative research design with phenomenological approach. It used purposive sampling technique. The data was taken from class of 2016 and 2017 students. The method of data collection was through focused group discussion (FGD) and triangulation with the In-Depth Interview technique. Results : Data showed various perceptions of students and lecturers about milestone. Milestone is the stage that students need to reach in achieving a certain level of ability that is useful for forming a systematic mindset to ease the learning process. The process of implementing milestone consists of development and application. Promoting factors include targets, learning patterns, development of knowledge, abilities and attitudes of students. Inhibiting factors are nonoptimal processes of implementation, facilities and human resources. Conclusion : Students already have perceptions of milestone in Medical Faculty in terms of milestone definition, benefits, implementation, promoting and inhibiting factors. . Keyword: Medical education, milestone, perception..

(3) ABSTRAK. PERSEPSI MAHASISWA TENTANG TAHAP PENCAPAIAN PEMBELAJARAN PADA MAHASISWA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG. Oleh. CHINTYA REDINA HABSARI. Latar Belakang : Tahap pencapaian pembelajaran dibutuhkan dalam proses pendidikan kedokteran untuk memandu pelaksanaan pendidikan dan penilaian serta mendorong mahasiswa secara aktif dalam mencapai standar kompetensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa mengenai tahap pencapaian pembelajaran di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling. Data diambil dari informan mahasiswa angkatan 2016 dan 2017. Metode pengumpulan data melalui focused group discussion (FGD) dan triangulasi dengan teknik In-Depth Interview. Hasil : Data penelitian menunjukkan berbagai persepsi mahasiswa dan dosen mengenai tahap pencapaian pembelajaran. Tahap pencapaian pembelajaran adalah tahapan yang perlu dicapai mahasiswa dalam mencapai tingkat kemampuan tertentu yang bermanfaat untuk membentuk pola pikir yang sistematis dengan tujuan untuk mempermudah proses belajar. Proses pelaksanaan tahap pencapaian pembelajaran terdiri dari perkembangan dan penerapan. Faktor pendorong pencapaian antara lain target yang ingin dicapai, pola belajar yang konsisten, perkembangan pengetahuan, kemampuan dan sikap mahasiswa. Faktor yang menghambat pencapaian tahap pencapaian pembelajaran adalah proses pelaksanaan, sarana dan sumber daya manusia yang belum optimal. Kesimpulan : Mahasiswa telah memiliki persepsi mengenai tahap pencapaian pembelajaran di Fakultas Kedokteran antara lain berupa pengertian, tujuan, manfaat, pelaksanaan, faktor pendorong dan faktor penghambat pencapaian. Kata kunci: Pendidikan kedokteran, persepsi, tahap pencapaian pembelajaran..

(4) PERSEPSI MAHASISWA TENTANG TAHAP PENCAPAIAN PEMBELAJARAN PADA MAHASISWA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG Oleh CHINTYA REDINA HABSARI. Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN pada Jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2020.

(5)

(6)

(7)

(8) RIWAYAT HIDUP. Penulis bernama Chintya Redina Habsari, dilahirkan di Desa Tanjung Jaya Kecamatan Bangunrejo Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 22 september 1997 sebagai anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Sukadi.,S.P dan Ibu Sulastri.. Riwayat pendidikan penulis yaitu taman kanak kanak TK Pertiwi Kecamatan Bangunrejo yang diselesaikan pada tahun 2003, pendidikan dasar di SDN 2 Tanjung Jaya yang diselesaikan pada tahun 2009, menengah pertama di SMPN 2 Bangunrejo yang diselesaikan pada tahun 2012, dan menengah atas di SMAN 1 Kalirejo yang diselesaikan pada tahun 2015.. Tahun 2015 penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif mengikuti organisasi Forum Studi Islam Ibnu Sina Fakultas Kedokteran Universitas Lampung sebagai anggota Keputrian pada tahun 2016-2017..

(9) There is always hope. Puji syukur kehadirat Allah SWT Karya sederhana ini dipersembahkan kepada:. Ayah Sukadi dan Ibu Sulastri yang kucintai. Yang menyayangi,mendidik dan mendukung setiap langkah dan selalu mendoakanku sukses. Kakak satu-satunya F e r n a l d i Shidi Hutomo. Yang selalu memberikan canda tawa, mendukung dan memberi semangat. “Work hard, Pray Hard”.

(10) “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu megatakan kepada keduanya perkataan „ah‟ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS Al-Isra‟ ayat 23).. When Allah is our reason to live, we will never have a reason to quit ~Anonim.

(11) SANWACANA. Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Atas berkat limpahan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya. Skripsi dengan judul “Persepsi Mahasiswa Tentang Tahap Pencapaian Pembelajaran Pada Mahasiswa Di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.. Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang baik secara langsung maupun tak langsung berperan dengan memberikan dukungan, bimbingan, kritik, dan saran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, antara lain kepada:. 1. Prof. Dr. Karomani, M.Si, selaku Rektor Universitas Lampung. 2. Dr. Dyah Wulan SRW, S.KM, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan selaku Pembimbing II atas saran, dukungan, ketersediaan waktu, serta bimbingannya selama penyelesaian skripsi ini..

(12) 3. dr. Oktafany, M. Pd. Ked., selaku Pembimbing I atas kesediannya meluangkan waktu, memberikan bimbingan, saran, dan dorongan selama penyelesaian skripsi ini. 4. dr. Dwita Oktaria, M. Pd. Ked., selaku Penguji Utama pada ujian skripsi ini yang telah memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun, sekaligus membimbing selama penyelesaian skripsi ini. 5. dr. Novita Carolia, M.Sc., selaku Pembimbing Akademik selama penulis menjalankan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 6. Seluruh dosen dan staf karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang telah berjasa selama ini. 7. Angkatan 2016 dan angkatan 2017 FK UNILA terimakasih yang telah mendukung serta bersedia menjadi informan dalam skripsi ini. 8. Yang tercinta Bapak Sukadi,S.P dan Ibu Sulastri terimakasih selama ini telah memberikan apapun yang terbaik untuk chintya, memberikan dukungan, nasihat, semangat dan doa untuk penulis yang tak pernah putus. 9. Kakak yang saya sayangi Fernaldi Shidi Hutomo terimakasih selama ini telah memberikan dukungan dan selalu ada disaat chintya membutuhkan bantuan. 10. Sahabat saya yang selalu ada dalam keadaan suka, duka maupun belajar bersama Amelia Rizky KH, Annisa Putri Perdani, Nabila Ulfiani, Meiwa Rizki ABP terima kasih atas doa, pengalaman, dan dukungan yang sangat berharga selama ini hingga ke depan menjadi teman sejawat (Long Life Learning)..

(13) 11. Teman seperbimbingan Ghina Rizky J, Devi Mutiara J, Thoriq Aziz, Refi Fandana, Atica terima kasih atas kesabaran, semangat, ketekunan, yang terus berbagi ilmu selama berlangsungnya penelitian dan penyusunan skripsi ini. 12. Teman-teman sepermainan saya Chika Tania, Darnalis Serlina, Helen Kusuma W, Ina Karina terima kasih selama ini meluangkan waktu walau hanya sebentar cuma untuk bertemu atau menginap bersama untuk menjaga silaturahmi agar tetap mempunyai quality time bersama. 13. Teman-teman seperjuangan perskripsian Ayu Agustira, Adela, Arini Meronica, Ghalib Abdul Nasser terima kasih selama ini memberikan semangat, dukungan, nasihat untuk segera menyelesaikan skripsi ini. 14. Keluarga kedua saya selama di perumahan Lidia Astuti, Novita Safitri, Rizka Damayanti, Syafinda Noprita Z, Aulia Irmiza P yang selama ini menghibur dan menyemangati penulis. 15. Teman-teman seperjuangan ketika saya bersekolah di Bangunrejo Dika Arlita D, Citra Dewi A, Radha Maulidina, Roni Erlando, Soni Putra, Ardi Bangun P, Yeni Febriyanti terima kasih atas dukungan, doa dan semangatnya selama ini. 16. Teman teman seperjuangan ketika saya bersekolah di Kalirejo Via Andriyani, Intan Ratna S, Sri Ria A, Aulia Isma D, Amalia Putri AW, Afrizal Sofyan A, Tami Alviko yang selama ini memberikan dukungan untuk penulis menyelesaikan skripsi ini 17. Teman-teman sejawat angkatan 2015 (ENDOM15IUM) terima kasih atas kebersamaannya selama 3,5 tahun ini..

(14) 18. Semua pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini.. Penulis berharap semoga jasa pihak-pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis selama ini akan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam skripsi ini, akan tetapi penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.. Bandarlampung, 02 Februari 2020 Penulis,. Chintya Redina Habsari.

(15) i. DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR ISI ........................................................................................................... i DAFTAR GAMBAR .............................................................................................iii DAFTAR TABEL ................................................................................................. iv BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 3 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 3 1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................................... 3 1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................................ 3 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 3 1.4.1 Bagi Peneliti ............................................................................................ 3 1.4.2 Bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran .................................................... 4 1.4.3 Bagi Institusi ........................................................................................... 4 1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya ........................................................................ 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 5 2.1 Pendidikan Kedokteran ..................................................................................... 5 2.2 Kurikulum Berbasis Kompetensi ...................................................................... 6 2.3 Kompetensi ....................................................................................................... 8 2.4 Milestone (tahap pencapaian pembelajaran) ................................................... 13 2.5 Tahap pencapaian pembelajaran dalam pendidikan kedokteran..................... 14 2.6 Peneliti yang terkait ........................................................................................ 19 BAB III. METODE PENELITIAN ...................................................................... 21 3.1 Rancangan Penelitian...................................................................................... 21 3.2 Waktu dan Lokasi penelitian .......................................................................... 21 3.2.1 Waktu Penelitian ................................................................................... 21 3.2.2 Lokasi Penelitian ................................................................................... 21 3.3 Populasi dan Subjek Penelitian ....................................................................... 22 3.3.1 Populasi ................................................................................................. 22 3.3.2 Informan ................................................................................................ 22 3.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................................. 24.

(16) ii. 3.4.1 Jenis dan Sumber Data .......................................................................... 24 3.4.2 Instrumen Penelitian.............................................................................. 25 3.4.3 Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 25 3.4.3.1 Focus Group Discussion ......................................................... 25 3.4.3.2 In-Depth Interview ................................................................... 26 3.5 Pengolahan dan Analisis Data ........................................................................ 27 3.6 Uji Keabsahan Data ........................................................................................ 28 3.6.1 Uji Kredibilitas ...................................................................................... 29 3.6.2 Uji Transferabilitas................................................................................ 29 3.6.1 Uji Dependabilitas ................................................................................. 30 3.6.1 Uji Konfirmabilitas ............................................................................... 30 3.7 Alur Penelitian ................................................................................................ 32 3.8 Etika Penelitian ............................................................................................... 33 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 34 4.1 Hasil Penelitian ............................................................................................... 34 4.1.1 Gambaran Umum .................................................................................. 34 4.1.2 Hasil Analisis Tematik .......................................................................... 37 4.1.2.1 Pengertian, Tujuan dan Manfaat Tahap Pencapaian Pembelajaran ......................................................................................... 38 4.1.2.2 Proses Pelaksanaan Tahap Pencapaian Pembelajaran............... 40 4.1.2.3 Faktor yang Mendorong Pencapaian Tahap Pencapaian Pembelajaran ......................................................................................... 44 4.1.2.4 Faktor yang Menghambat Pencapaian Tahap Pencapaian Pembelajaran ......................................................................................... 47 4.2 Pembahasan .................................................................................................... 51 4.2.1 Persepsi Pengertian, Tujuan dan Manfaat Tahap Pencapaian Pembelajaran .................................................................................................. 51 4.2.2 Persepsi Proses Pelaksanaan Tahap Pencapaian Pembelajaran ............ 53 4.2.3 Persepsi Faktor yang Mendorong Pencapaian Tahap Pencapaian Pembelajaran .................................................................................................. 55 4.2.4 Persepsi Faktor yang Menghambat Pencapaian Tahap Pencapaian Pembelajaran .................................................................................................. 57 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 64 5.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 64 5.2 Saran.... ........................................................................................................... 65 5.2.1 Bagi Institusi ......................................................................................... 65 5.2.2 Bagi Dosen ............................................................................................ 66 5.2.3 Bagi Mahasiswa .................................................................................... 66 5.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya ...................................................................... 66 DAFTAR PUSTAKA.

(17) iii. DAFTAR GAMBAR. Halaman Gambar 1. Lima Level dalam Model Perkembangan Dreyfus ............................. 14 Gambar 2. Hubungan antara EPA, kompetensi dan tahap pencapaian pembelajaran ...................................................................................... 18 Gambar 3. Hubungan EPA dan kompetensi dengan tahap pencapaian pembelajaran dan tingkat supervisi .................................................... 19 Gambar 4. Bagan Alur Penelitian ......................................................................... 32 Gambar 5. Hubungan Tema Utama ...................................................................... 35.

(18) iv. DAFTAR TABEL. Halaman Tabel 1. Kriteria Informan Mahasiswa............................................................... 36 Tabel 2. Kriteria Informan Dosen........................................................................ 36 Tabel 3. Persepsi Mahasiswa Mengenai Tahap Pencapaian Pembelajaran .......... 37 Tabel 4. Persepsi Dosen Mengenai Tahap Pencapaian Pembelajaran .................. 37.

(19) BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2018, standar kompetensi merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan pendidikan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018). Dalam mencapai kompetensi yang diharapkan, dibutuhkan suatu alat sebagai pemandu perkembangan titik kompetensi yang telah dicapai bagi mahasiswa, yaitu milestone (tahap pencapaian pembelajaran). Milestone adalah hasil perkembangan berbasis kompetensi yang digunakan sebagai kerangka kerja untuk memandu pelaksanaan pendidikan dan penilaian, serta mendorong mahasiswa untuk aktif dalam mencapai kompetensi yang diharapkan (Holmboe et al., 2016a; 2016b).. Tahap pencapaian pembelajaran sangat penting dalam proses pembelajaran yang berbasis kompetensi seperti pendidikan kedokteran. Saat ini pendidikan kedokteran di Indonesia mengacu kepada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) dan diselenggarakan dengan menggunakan kurikulum berbasis.

(20) 2. kompetensi (KBK). Standar Kompetensi Dokter Indonesia terdiri dari tujuh area kompetensi yang berasal dari gambaran tugas, peran dan fungsi dokter sebagai pemberi layanan primer. Tujuh area kompetensi tersebut antara lain profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, komunikasi efektif, pengelolaan informasi, landasan ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan klinis dan pengelolaan masalah kesehatan (Konsil Kedokteran Indonesia, 2013).. Penilaian sistem pendidikan berbasis kompetensi tidak hanya berguna untuk menjamin pencapaian kompetensi minimal, namun juga mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai domain kemampuan. Penilaian ini dapat menggunakan tahap pencapaian pembelajaran (Lomis et al., 2017). Yudaristy dkk. (2014) menyebutkan hingga kini belum ada standar dalam pemberian materi kedokteran dasar dan klinis pada KBK. Penilaian terhadap KBK dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang, salah satunya adalah mengetahui persepsi mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan KBK. Di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, diketahui bahwa mahasiswa dan dosen cukup puas dengan materi ilmu yang diberikan dalam kuliah terintegrasi dan tutorial namun belum puas dengan ketercapaian kompetensi mahasiswa. Dengan alasan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul persepsi mahasiswa tentang tahap pencapaian pembelajaran pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung..

(21) 3. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, didapatkan rumusan masalah yaitu bagaimana persepsi mahasiswa tentang tahap pencapaian pembelajaran pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengeksplorasi secara mendalam persepsi mahasiswa tentang tahap pencapaian pembelajaran pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 1.3.2 Tujuan Khusus Mengetahui persepsi mahasiswa tentang tahap pencapaian pembelajaran pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat bagi Peneliti Mengembangkan kemampuan meneliti dan meningkatkan pengetahuan dan wawasan serta dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat dalam menerapkan ilmu yang didapat selama perkuliahan. 1.4.2 Manfaat bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Menambah pengetahuan dan sebagai referensi mahasiswa mengenai tahap pencapaian pembelajaran di pendidikan dokter..

(22) 4. 1.4.3 Manfaat bagi Institusi Sebagai sumber informasi mengenai tahap pencapaian pembelajaran serta untuk perbaikan kurikulum pembelajaran di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya Sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya mengenai persepsi mahasiswa tentang tahap pencapaian pembelajaran pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan bahan kajian lebih lanjut dalam topik yang sama..

(23) 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pendidikan Kedokteran Sistem pendidikan kedokteran di Indonesia terdiri dari dua jenjang pendidikan, yaitu jenjang akademik dan profesi. Materi yang diberikan dalam pendidikan kedokteran kini telah mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), yang merupakan standar kompetensi minimal yang harus dimiliki seorang lulusan pendidikan dokter (Konsil Kedokteran Indonesia, 2013).. Tujuan pendidikan kedokteran adalah agar mahasiswa mampu atau berkompeten melakukan praktik kedokteran secara mandiri pada akhir pendidikan. Dosen membutuhkan instrumen untuk menilai kompetensi yang harus dan telah dicapai oleh mahasiswa. Penekanan pada kompetensi ini karena penggunaan kurikulum pendidikan saat ini, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (Santen et al., 2014). Pada tahun 2012, Accreditation Council for Graduate Medical Education (ACGME) membuat implementasi tahap pencapaian pembelajaran yang spesifik untuk mengembangkan penilaian berbasis kompetensi, yang terbagi dalam lima level, mulai dari level 1 yang menunjukkan kompetensi yang diharapkan dari lulusan pendidikan kedokteran, hingga level 5 yang diharapkan mampu dicapai.

(24) 6. setelah bertahun-tahun menjalani praktik klinis (ACGME, 2012; Santen et al., 2014).. 2.2 Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan signifikan dalam rangka peningkatan kualitas lulusan dokter. Awalnya, kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia menggunakan kurikulum dari Belanda, kemudian berganti menjadi Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia I (KIPDI I) selama tahun 1984 – 1995. Selanjutnya, KIPDI I diubah menjadi KIPDI II pada tahun 1995 dan terus digunakan hingga tahun 2006. Kurikulum yang terakhir dan digunakan sampai saat ini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Berdasarkan SK Mendiknas RI No.045/SK/2000 tentang KBK serta SK Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 1386/D/T/2004 tentang paradigma baru pendidikan kedokteran di Indonesia yaitu pendidikan dokter berbasis kompetensi dengan pendekatan terintegrasi, maka kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia mengalami perubahan dari KIPDI II ke KBK. Dalam KBK, terdapat suatu perubahan paradigma pendidikan yang signifikan dari kurikulum sebelumnya yang bersifat teacher oriented menjadi student oriented yang menuntut keaktifan mahasiswa (Rahardjo, 2017). Kurikulum ini sekarang digunakan secara luas di fakultas kedokteran seluruh Indonesia, termasuk di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang telah menerapkan KBK sejak tahun 2008..

(25) 7. Pendidikan kedokteran berbasis kompetensi didefinisikan sebagai pendekatan berbasis hasil terhadap desain, implementasi, asesmen dan evaluasi program pendidikan kedokteran, dengan menggunakan kerangka kompetensi yang terorganisir (Frank et al., 2010). Keluaran atau hasil dari pendidikan kedokteran dengan KBK adalah lulusan dokter kompeten yang mampu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan efektif, yang memenuhi kebutuhan sistem pelayanan kesehatan yang terus berkembang dan kompleks (Iobst dan Caverzagie, 2013). Target kurikulum berbasis kompetensi adalah tingkat keahlian terstandar untuk menjamin bahwa semua mahasiswa memiliki tingkat keahlian yang memadai pada akhir pendidikan (Ten Cate, 2013).. Model pembelajaran yang digunakan dalam KBK adalah problem based learning (PBL). Dalam PBL, pembelajaran berfokus pada mahasiswa (Student centered), proses pembelajaran menggunakan diskusi dalam kelompok kecil (Community based oriented), dosen berperan sebagai fasilitator selama diskusi, masalah digunakan sebagai media untuk memicu belajar dan mengembangkan keterampilan dalam pemecahan masalah (Problem based) (Emilia dkk., 2006). PBL tidak hanya berfokus pada proses pemecahan masalah, namun menggunakan masalah tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa (Wood, 2003; Mediansyah, 2017). Kegiatan pembelajaran PBL berupa diskusi tutorial, clinical skills lab, kuliah pakar, dan praktikum penunjang (Malik, 2015)..

(26) 8. 2.3 Kompetensi Kompetensi adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan sukses dan efisien (Soanes dan Stevenson, 2005). Kompetensi juga didefinisikan sebagai kemampuan tenaga kesehatan profesional yang dapat diobservasi, yang mengintegrasikan beberapa komponen seperti pengetahuan, kemampuan (skill), nilai-nilai dan sikap (attitude) (Frank et al., 2010). Kompetensi haruslah bersifat spesifik, komprehensif (meliputi pengetahuan, attitude dan kemampuan), durable (tahan lama), trainable (dapat dilatih), dapat diukur, berkaitan dengan aktivitas profesional dan terhubung dengan kompetensi lainnya (Ten Cate, 2005).. Karena kompetensi dapat diobservasi, maka kompetensi dapat diukur dan dinilai untuk menjamin kesetaraannya. Individu yang mampu melakukan kompetensi disebut kompeten (Frank et al., 2010). Agar dapat disebut kompeten, mahasiswa harus mampu melakukan kompetensi sesuai dengan tahun pendidikannya. Misalnya, mahasiswa tahun pertama harus mampu melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik sederhana seperti tanda vital, berat badan dan tinggi badan (Iobst dan Caverzagie, 2013). Kompetensi dicapai secara bertahap, langkah demi langkah. Langkah-langkah ini didesain sebagai tahap pencapaian pembelajaran (Shah et al., 2016).. Kompetensi dalam pendidikan kedokteran berlandaskan ilmu kedokteran yang terbagi dua, yaitu ilmu kedokteran dasar atau pre-klinis dan ilmu kedokteran klinis. Keduanya saling berkaitan satu sama lain. Ilmu kedokteran dasar mencakup prinsip yang mendasari ilmu kedokteran dan keterampilan praktis yang.

(27) 9. mendasari keterampilan klinis. Dalam ilmu kedokteran klinis tercakup cara penghentian sumber penyakit, efek yang ditimbulkan penyakit, risiko spesifik secara efektif, kemungkinan pilihan terapi atau pencegahan yang mungkin dilakukan dalam tatalaksana pasien serta keterampilan medis (Yudaristy dkk., 2014).. Menurut SKDI, terdapat tujuh area kompetensi dokter, yaitu antara lain (Konsil Kedokteran Indonesia, 2013a): 1. Area profesionalitas yang luhur Dalam melakukan praktik kedokteran, lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu: a. Bersikap dan berperilaku sesuai dengan prinsip ke-Tuhan-an b. Bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar nilai moral luhur, prinsip dasar etika kedokteran dan kode etik kedokteran Indonesia c. Mengidentifikasi. masalah. hukum. dalam. pelayanan. kedokteran,. menyadari tanggung jawab dokter dalam hukum, taat hukum serta membantu penegakkan hukum d. Mengenali dan menghargai perbedaan sosial budaya serta menghargai upaya kesehatan komplementer dan alternatif dalam masyarakat e. Bekerja secara profesional, mengutamakan keselamatan pasien, mampu bekerja sama intra dan interprofesional dalam tim pelayanan kesehatan.

(28) 10. 2. Area mawas diri dan pengembangan diri Lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu: a. Menyadari dan mengatasi keterbatasan baik fisik, psikis, sosial maupun budaya b. Mengembangkan diri (menerima dan merespon positif umpan balik dari pihak lain, menyadari kinerja profesionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajar untuk mengatasi kelemahan) c. Mengembangkan ilmu kedokteran (melakukan penelitian ilmiah). 3. Area komunikasi efektif Lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu: a. Berkomunikasi, membangun hubungan dan berempati dengan pasien dan keluarganya baik secara verbal dan nonverbal b. Berkomunikasi kepada mitra kerja (teman sejawat dan profesi lain), melakukan tatalaksana konsultasi dan rujukan yang baik dan benar, memberikan informasi yang sebenarnya dan relevan kepada pihak lain c. Berkomunikasi dengan masyarakat untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dana advokasi kepada pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan dalam masyarakat 4. Area pengelolaan informasi Lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu: a. Bemanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan untuk belajar sepanjang hayat dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan..

(29) 11. b. Mendiseminasikan. informasi. kesehatan. untuk. peningkatan. mutu. pelayanan kesehatan 5. Area landasan ilmiah ilmu kedokteran Lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu: a. Menerapkan landasan ilmiah ilmu kedokteran dalam mengelola masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif b. Mempertimbangkan kemampuan dan keinginan pasien, bukti ilmiah kedokteran dan keterbatasan sumber daya untuk mengambil keputusan terbaik dalam pelayanan kesehatan. 6. Area keterampilan klinis Lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu: a. Melakukan prosedur diagnosis (melakukan dan menginterpretasikan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dasar serta mengusulkan pemeriksaan penunjang lainnya yang rasional) b. Melakukan prosedur tatalaksana masalah kesehatan secara holistik dan komprehensif (edukasi, konseling, promosi kesehatan, tindakan preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan menerapkan prinsip keselamatan pasien, diri sendiri dan orang lain. 7. Area pengelolaan masalah kesehatan Area kompetensi ini mencakup pengelolaan masalah kesehatan baik individu, keluarga dan masyarakat secara holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan dalam konteks pelayanan kesehatan primer. Lulusan pendidikan dokter diharapkan mampu:.

(30) 12. a. Melakukan promosi kesehatan (mengidentifikasi kebutuhan perubahan pola pikir, sikap dan perilaku, serta modifikasi gaya hidup pada berbagai kelompok. dalam. masyarakat;. merencanakan. dan. melaksanakan. pendidikan kesehatan) b. Melakukan pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan (penapisan faktor risiko penyakit untuk mencegah dan memperlambat timbulnya penyakit, pencegahan untuk memperlambat progresivitas penyakit dan timbulnya komplikasi) c. Melakukan. tatalaksana. masalah. kesehatan. (menginterpretasi. data. kesehatan dalam rangka mengidentifikasi dan merumuskan diagnosis, mengelola masalah kesehatan secara mandiri secara mandiri dan bertanggung jawab, konusltasi/merujuk sesuai standar pelayanan medis, membuat instruksi medis tertulis dan resep obat secara jelas, lengkap, tepat, dan dapat dibaca, membuat surat keterangan medis, melakukan tatalaksana pada keadaan wabah dan bencana. d. Mengelola sumber daya manusia, keuangan, sarana dan prasarana secara efektif dan efisien e. Memberdayakan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam rangka mengidentifikasi masalah kesehatan dan menemukan pemecahan masalah f. Mengakses, menganalisis dan menerapkan kebijakan kesehatan dalam pelayanan kesehatan.

(31) 13. 2.4 Milestone (tahap pencapaian pembelajaran) Milestone (tahap pencapaian pembelajaran) merupakan bagian dari model pengembangan kualitas yang kontinyu dari pendidikan dan akreditasi dalam program residensi dan magang. Secara singkat tahap pencapaian pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu titik pencapaian dalam perkembangan. Tahap pencapaian pembelajaran menjabarkan tingkatan kemampuan mahasiswa yang diharapkan mampu dilakukan (dalam hal keterampilan, pengetahuan dan sikap). Tahap pencapaian pembelajaran dapat memacu pelajar dan programnya menentukan. jalur. pengembangan. profesional. individu. dalam. mencapai. kompetensi dalam pendidikan kedokteran. Selain itu, mahasiswa dapat memahami tujuan program, memandu mereka membuat rencana belajar, dan sebagai self-assessment atas kompetensi yang telah mereka capai (Holmboe et al., 2016a; 2016b).. Model Dreyfus mengaplikasikan tahap pencapaian pembelajaran. dalam. pendidikan dalam lima level, yaitu novice, advanced beginner, competent, proficient dan expert. Mahasiswa pada level pertama hanya melakukan observasi. Pada level 2 dan 3, mahasiswa masing-masing melakukan di bawah supervisi langsung dan supervisi tak langsung. Pada level 4, mahasiswa siap untuk melakukan praktik mandiri, tanpa supervisi. Pada level 5, mahasiswa mampu membantu mahasiswa lain untuk melakukan kemampuan yang dipelajari (Shah et al., 2016; Ten Cate, 2017)..

(32) 14. Gambar 1. Lima Level dalam Model Perkembangan Dreyfus (ACGME, 2014).. 2.5 Tahap pencapaian pembelajaran dalam Pendidikan Kedokteran Proses pengembangan tahap pencapaian pembelajaran berbeda untuk setiap spesialisasi. Awal perkembangan tahap pencapaian pembelajaran dimulai oleh American Board of Internal Medicine pada tahun 2007. Selanjutnya, tahun 2009 ACGME mendorong spesialisasi lain untuk memulai proses dan menentukan perkembangan tahap pencapaian pembelajaran masing-masing spesialisasi. Tahun 2011 terbentuklah Kelompok Kerja untuk setiap spesialisasi dan penetapan lima level atau tingkatan dalam tahap pencapaian pembelajaran (Holmboe et al., 2016b).. Tahap pencapaian pembelajaran menunjukkan titik awal dari proses pengukuran objektif dari validitas dan utilitas untuk menjamin tujuan pendidikan mahasiswa kedokteran yang diharapkan berkompeten dalam praktik klinis. Menggunakan.

(33) 15. konstruksi untuk penilaian validitas dari instrumen psikometrik yang diajukan Cook dan Beckman, yang melingkupi dimensi berikut (Cook dan Beckman, 2006; Korf et al., 2014): a. Validitas konten: tahap pencapaian pembelajaran diformulasikan melalui konsensus di antara praktisi dalam disiplin ilmu terkait. Penilaian selanjutnya dari ruang lingkup praktik didasarkan pada survey dan analisis lapangan dari praktik nyata dapat mengembangkan relevansi tahap pencapaian pembelajaran terhadap praktik di dunia nyata. b. Proses respon: ketua program pendidikan harus familiar dengan tahap pencapaian pembelajaran dan mampu menggunakannya secara konsisten, serta disesuaikan dengan praktik di lapangan. c. Struktur internal: Komite kompetensi memiliki kesempatan untuk melihat meta-data dari program yang telah dijalankan untuk mengembangkan dan menyesuaikan tahap pencapaian pembelajaran yang dibutuhkan. d. Hubungan dengan variabel: Bandingkan tahap pencapaian pembelajaran dengan penilaian yang sudah ada (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter). e. Konsekuensi: Penting untuk memonitor hasil dari mahasiswa yang tidak mencapai tahap pencapaian pembelajaran (misalnya, apakah remedi telah diambil), dan juga untuk program yang tidak konsisten menggunakan tahap pencapaian pembelajaran, untuk menjamin bahwa data tidak salah dalam proses akreditasi institusi..

(34) 16. Keuntungan implementasi tahap pencapaian pembelajaran dalam pendidikan kedokteran antara lain (Holmboe et al., 2016a): a. Tahap pencapaian pembelajaran dan institusi pendidikan dapat memberikan umpan balik yang lebih berkualitas untuk mahasiswa b. Tahap. pencapaian. pembelajaran. berguna. sebagai. media. penilaian. (assessment) dan umpan balik yang baik c. Tahap pencapaian pembelajaran membantu fakultas untuk mengembangkan pemahaman dari kompetensi dalam pendidikan kedokteran d. Tahap pencapaian pembelajaran dapat membantu mengidentifikasi celah dalam kurikulum (curricula gaps) e. Tahap pencapaian pembelajaran dapat membantu mengidentifikasi kesulitan mahasiswa f. Tahap pencapaian pembelajaran memfasilitasi perkembangan fakultas kedokteran yang lebih baik. Pada tahun 2012-2013, Medical University of South Carolina (MUSC) dan Ohio State University College of Medicine (OSUCOM) mengimplementasikan tahap pencapaian pembelajaran pada mahasiswa magang ilmu penyakit dalam untuk mengembangkan pembelajaran dan mengukur perkembangan mahasiswa selama masa. magang.. Mahasiswa. merasakan. manfaat. dari. tahap. pencapaian. pembelajaran tersebut, seperti proses magang terorganisir dengan baik, tujuan pembelajaran jelas dan dapat dinilai, serta mampu mengembangkan kemampuan.

(35) 17. klinis sesuai panduan pencapaian pembelajaran. Meski memiliki keunggulan, terdapat suatu tantangan yang perlu dihadapi institusi pendidikan untuk mengimplementasikan. tahap. pencapaian. pembelajaran.. Transisi. menjadi. kurikulum berbasis milestone membutuhkan waktu tambahan untuk menghadiri sesi perkembangan fakultas (identifikasi kegiatan belajar mengajar penilaian yang efektif, keterampilan mengajar dosen, objektivitas penilaian), untuk melakukan obervasi. langsung,. memberikan. umpan. balik. ke. mahasiswa. dan. mendokumentasikan penilaian formatif (DeWaay et al., 2017).. Tahap pencapaian pembelajaran berkaitan erat dengan EPA (entrustable professional activity), suatu aktivitas kerja profesional dalam praktik kedokteran yang membutuhkan keterampilan dan pengetahuan spesifik, serta mencakup beberapa kompetensi. Istilah EPA pertama kali dijelaskan ten Cate pada tahun 2005. Entrustable professional activity adalah suatu metode penilaian dimana supervisor dapat mengobservasi performa mahasiswa di lapangan, untuk melakukan kemampuan profesional. Supervisor akan mengobservasi bagaimana mahasiswa melakukan tugas yang diberikan dan menentukan apakah mereka percaya dengan mahasiswa untuk melakukan EPA tersebut dengan level supervisi tertentu di masa depan (mengurangi supervisi dan meningkatkan kemandirian mahasiswa) (Ten Cate, 2005; Ten Cate, 2006)..

(36) 18. Gambar 2. Hubungan antara EPA, kompetensi dan tahap pencapaian pembelajaran (ACGME, 2014).. EPA berbeda dengan kompetensi, namun EPA menerjemahkan kompetensi ke dalam praktik klinik. EPA menjelaskan pekerjaan/profesi dan tidak tergantung terhadap individu (misalnya, melakukan anamnesis), sedangkan kompetensi menjelaskan kemampuan individu (misalnya, pengetahuan, sikap profesional, keterampilan komunikasi). EPA menghubungkan kompetensi dasar dengan praktik klinis sehari-hari (Ten Cate et al., 2015; Ten Cate, 2017). Karakteristik EPA antara lain (Ten Cate, 2005): a. Merupakan bagian dari kerja profesional esensial dalam konteks tertentu b. Membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang adekuat, secara umum dicapai melalui pendidikan c. Harus mengarah pada hasil tenaga kerja profesional yang telah diketahui (must lead to recognized output of professional labour) d. Biasanya dibatasi pada personel yang berkualifikasi e. Harus dapat dilakukan secara mandiri f. Harus dapat dilakukan dalam waktu tertentu.

(37) 19. g. Harus dapat diobservasi dan diukur dalam proses dan hasilnya, mengarah pada suatu kesimpulan (dilakukan dengan baik atau tidak baik) h. Harus mencerminkan satu atau lebih kompetensi yang ingin dicapai.. Gambar 3. Hubungan EPA dan kompetensi dengan tahap pencapaian pembelajaran dan tingkat supervisi. Milestone di samping domain kompetensi berwarna abu-abu, menjelaskan perkembangan yang harus dicapai (semakin gelap warna menunjukkan mahasiswa semakin mandiri). Tanda panah menunjukkan bagaimana mahasiswa harus mencapai kompetensi sesuai tingkat supervisi (Ten Cate et al., 2015)..

(38) 20. 2.6 Penelitian Terkait Hingga proposal penelitian ini dibuat, belum ditemukan publikasi ilmiah mengenai tahap pencapaian pembelajaran dalam pendidikan kedokteran di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan penelitian pertama mengenai tahap pencapaian pembelajaran dalam pendidikan kedokteran di Indonesia..

(39) 21. BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data berupa kata-kata, narasi atau kalimat dari hasil pengumpulan data atau melalui studi pustaka dan studi lapangan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah metode yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui fenomena yang terjadi secara alamiah. Metode fenomenologi menekankan pada pengalaman manusia dan bagaimana manusia menginterpretasikan pengalamannya (Sarwono, 2006).. 3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2.1 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, pada bulan Oktober sampai dengan November 2019.. 3.2.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung..

(40) 22. 3.3 Populasi dan Subjek Penelitian 3.3.1 Populasi Populasi penelitian adalah wilayah umum yang terdiri dari objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016). Populasi dalam penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2016 dan 2017.. 3.3.2 Informan Informan adalah objek yang diteliti dan mewakili seluruh populasi (Notoatmojo, 2010). Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Adapun kriteria informan: a. Mahasiswa Kedokteran 1. Mahasiswa kedokteran Universitas Lampung 2. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan 3. Angkatan 2016 dan 2017 4. Bersedia menjadi informan penelitian b. Dosen 1. Merupakan dosen tetap Fakultas Kedokteran Universitas Lampung 2. Masa kerja sebagai dosen lebih dari lima tahun 3. Sebagai dosen pembimbing akademik 4. Memiliki kedokteran. wawasan. dan. berpengalaman. mengenai. pendidikan.

(41) 23. 5. Bersedia menjadi informan penelitian. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dimana peneliti menetapkan kriteria dan jumlah informan sesuai tujuan penelitian (Sastroasmoro dan Ismael, 2011). Teknik pengambilan informan dengan maximal variation sampling yaitu pengambilan informan yang memiliki perbedaan karakteristik satu sama lain sehingga sesuai tujuan penelitian, dapat menemukan beragam perspektif dari masing-masing karakteristik tersebut (Creswell, 2012). Banyaknya informan mahasiswa adalah 24 orang yang dibagi ke dalam 4 kelompok masing-masing 6 orang mahasiswa berdasarkan kriteria gender (laki-laki dan perempuan) dan Indeks Prestasi Kumulatif yaitu IPK <2,75 (Rendah), 2,75-3,5 (Sedang), dan IPK >3,5 (Tinggi). Jumlah informan dapat bertambah sampai didapatkan data jenuh. Data jenuh artinya adalah kapanpun dan dimanapun pertanyaan diajukan kepada informan, maka jawabannya tetap konsisten (Idrus, 2009). Informan dosen untuk In-Depth Interview berjumlah 2 orang dosen berdasarkan bidang pendidikan kedokteran dan observasi pada salah satu dosen dengan bidang lain. Total informan dalam penelitian ini adalah 26 orang..

(42) 24. 3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Jenis dan Sumber Data Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:. 1. Data Primer Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian. Dalam penelitian ini data dapat didapat melalui FGD dan wawancara mendalam antara peneliti dengan informan.. 2. Data Sekunder Data mahasiswa dan dosen yang berkaitan dengan penelitian. Untuk data mahasiswa peneliti mengambil data Indeks prestasi kumulatif dari laman siakad Universitas Lampung.. Pertanyaan-pertanyaan dalam pedoman wawancara difokuskan pada tahap pencapaian pembelajaran dalam pendidikan kedokteran pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Wawancara direkam dengan tape recorder dan kamera dengan izin informan sebelumnya, dan transkrip verbatim dibuat untuk analisis dan akhirnya dapat menghasilkan tema-tema terkait dengan judul peneliti (Emzir, 2008)..

(43) 25. 3.4.2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitan yang digunakan adalah peneliti sendiri. Peneliti adalah mahasiswa aktif semester 9 yang sudah lulus dari blok medical research di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Pada pengambilan data menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) pada mahasiswa dan In-Depth Interview dengan dosen. Peneliti berperan sebagai moderator atau interviewer. Peneliti menggunakan perekam suara, kamera, buku catatan serta inform consent sebagai alat bukti pengumpulan data. Instrumen pertanyaan yang akan diajukan dalam kegiatan Focus Group Discussion mahasiswa dan wawancara dengan dosen disusun berdasarkan hasil diskusi dengan dosen pembimbing penelitian.. 3.4.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data untuk metode kualitatif menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam atau In-Depth Interview. 3.4.3.1 Focus Group Discussion Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus merupakan salah satu metode pengambilan data dalam bentuk wawancara. Peneliti mengadakan pertemuan dan bertatap muka langsung dengan partisipan (Creswell, 2012). FGD umumnya terdiri dari 6-8 informan, tetapi bisa antara 5-10 tergantung pada tujuan penelitian (Hennik, 2014)..

(44) 26. Terdapat beberapa proses yang dilakukan selama FGD, antara lain memformulasikan pertanyaan penelitian, menentukan metode penelitian, mengumpulkan partisipan, menyelenggarakan acara FGD, memfasilitasi kelompok diskusi, mengumpulkan data, analisis data dan pelaporan hasil penelitian (Wong, 2008). Kelompok FGD dipandu oleh moderator yaitu peneliti sendiri dan mengarahkan diskusi dengan cara memberikan pertanyaanpertanyaan yang sudah dirancang sebelumnya (Sarwono, 2006). Dalam pelaksanaannya, moderator dibantu seorang juru tulis yang mengambil catatan terkait hal-hal yang menjadi fokus penelitian juga dinamika kelompok serta interaksi yang terjadi selama diskusi (Creswell, 2012).. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan sebanyak empat kali secara terpisah dengan durasi 30-60 menit setiap diskusi. Banyaknya pertemuan diskusi dapat berubah sesuai kebutuhan penelitian sampai variasi jawaban yang didapat mencapai titik jenuh. Titik jenuh merupakan variasi jawaban atau pendapat baru dari diskusi yang sudah dilakukan (Creswell, 2012).. 3.4.3.2 In-Depth Interview In-Depth. Interview. mencakup. bila. terdapat. seseorang. pewawancara dan satu atau lebih informan. Tujuan dari In-Depth.

(45) 27. Interview adalah untuk menyelidiki ide dari informan tentang fenomena sesuai dengan kepentingan peneliti. In-Depth interview dilakukan kepada dua orang dosen sebagai triangulasi data.. 3.5 Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan dan analisis data pada penelitian ini mencakup enam langkah yaitu menyiapkan dan menyusun data untuk analisis, menjelajah dan mengkoding data, koding untuk membentuk gambaran dan tema, menggambarkan dan melaporkan hasil kualitatif, interpretasi hasil, validasi keakuratan hasil (Creswell, 2012). a. Menyiapkan dan menyusun data untuk analisis Dalam studi kualitatif, mengatur data awal terdiri dari penyusunan data, transkrip wawancara dan mengetik catatan lapangan serta membuat keputusan untuk analisis data secara manual atau dengan computer. b. Menjelajah dan mengkoding data Peneliti kualitatif melakukan sebuah pre-analisis data dengan membacanya untuk mendapatkan rasa data secara umum. Analisis utama data kualitatif terdiri dari mengkoding data. Proses koding salah satunya adalah mengurangi teks atau gambar untuk menggambarkan dan tema seseorang, tempat atau kejadian. Termasuk memeriksa teks dari baris ke baris, bertanya apa yang informan katakan dan kemudian menempelkan label kode pada segmen kata..

(46) 28. c. Koding untuk membentuk gambaran dan tema Hasil koding digunakan untuk membentuk deskripsi orang atau tempat. Mereka juga digunakan untuk membentuk tema yang mewakili abstrak lebih luas daripada kode. Tema dapat dilapisi atau disusun untuk menceritakan sebuah cerita, atau juga dapat digunakan sebagai penghubung untuk menggambarkan seberapa kompleks dari suatu fenomena. d. Menggambarkan dan melaporkan hasil kualitatif Peneliti kualitatif menggambarkan hasil mereka dalam bentuk visual maupun dalam bentuk naratif. e. Interpretasi hasil Pelaporan dan menggambarkan hasil, peneliti kualitatif. membuat. interpretasi dari arti penelitian. Interpretasi mencakup melihat pendapat individu, membandingkan hasil dengan literature dan menyarankan batasan dan penelitian kedepannya. f. Validasi keakuratan hasil Pemeriksaan keakuratan penelitian, peneliti kualitatif sering melakukan prosedur validasi sebagai bukti validasi dari informasi dalam laporan kualitatif.. 3.6 Uji Keabsahan Data Setelah data yang didapat dianalisa, dilakukan uji keabsahan data. Uji keabsahan data paling sering berpusat pada uji validitas dan reliabilitas suatu data. Pada penelitian kualitatif istilah yang digunakan untuk menyatakan uji validitas dan.

(47) 29. reabilitas data berbeda dari penelitian kuantitatif. Adapun uji keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Sugiyono, 2016):. 3.6.1 Uji Kredibilitas Kredibilitas meliputi hasil penelitian kualitatif dapat dipercaya atau dipercaya dari sudut pandang informan dalam penelitian. Dari perspektif ini, tujuan penelitian kualitatif adalah menggambarkan atau memahami fenomena minat dari sudut pandang informan (Trochim dan Donnelly, 2006).. Uji kredibilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi data. Triangulasi data adalah pencarian bukti sekaligus membandingkan data dari berbagai sumber untuk menunjukkan keakuratan data. Dalam penelitian ini triangulasi data dilakukan pada sumber yaitu mahasiswa dan dosen, dan triangulasi teknik pengumpulan data yaitu Focus Group Discussion dan In-Depth Interview. Uji lain yang juga dilakukan adalah member checking. Uji ini dilakukan dengan verifikasi hasil yang didapatkan peneliti kepada informan yang memberikan data (Sugiyono, 2016).. 3.6.2 Uji Transferabilitas Uji keabsahan ini menyangkut derajat ketepatan suatu hasil penelitian bila diterapkan ke populasi penelitian atau situasi lain, sehingga.

(48) 30. membutuhkan pemaparan laporan hasil yang rinci, jelas dan sistematis. Penelitian ini diterapkan pada mahasiswa kedokteran di Universitas Lampung, sehingga uji transferabilitas berupa pemaparan hasil penelitian secara rinci, jelas dan sistematis sehingga dapat menunjukkan bahwa hasil penelitian ini juga mampu diterapkan pada populasi dimana sampel itu diambil atau populasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung secara umum (Sugiyono, 2016).. 3.6.3 Uji Dependabilitas Pada penelitian kualitatif, suatu realitas bersifat majemuk, dinamis dan dapat berulang kembali, sehingga untuk membuat suatu hasil yang dapat diandalkan, dosen pembimbing dalam penelitian ini akan mengaudit seluruh aktivitas peneliti selama proses penelitian (Sugiyono, 2016). Selama bertindak sebagai auditor, dosen pembimbing akan mendampingi setiap proses penelitian, mempelajari dan menilai akurasi hasil dan proses penelitian yang dilakukan (Cresswell, 2012).. 3.6.4 Uji Konfirmabilitas Konfirmabilitas mengacu pada sejauh mana sebuah hasil dapat dikonfirmasi atau dikuatkan oleh lainnya (Trochim dan Donnelly, 2006). Penelitian kualitatif memiliki data yang sangat subjektif, sehingga untuk menyatakan objektivitas datanya diperlukan kesepakatan dari banyak orang selain peneliti. Pada penelitian ini yang mengonfirmasi hasil.

(49) 31. penelitian beserta proses yang dikerjakan adalah dosen pembimbing (Sugiyono, 2016)..

(50) 32. 3.7 Alur Penelitian Adapun alur penelitian adalah sebagai berikut Penyusunan Proposal Penelitian. Seminar Proposal. Revisi Proposal. Pengajuan Ethical Clearance. Pelaksanaan FGD dan Wawancara. Pengolahan dan Analisa Data. Penyusunan Hasil Penelitian Gambar 4. Bagan Alur Penelitian.

(51) 33. 3.8 Etika Penelitian Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti meminta izin mengenai etika penelitian. dan. mendapatkan. ethical. 2741/UN.26.18/PP.05.02.00/2019 dari. clearance. dengan. nomor. surat. Komite Etika Penelitian Fakultas. Kedokteran Universitas Lampung. Selain itu dalam pengambilan data penelitian, responden terlebih dahulu diberi penjelasan dan diminta untuk menandatangani lembar persetujuan (informed concent) menjadi responden penelitian ini..

(52) 64. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan Dalam penelitian ini telah diperoleh persepsi mahasiswa dan dosen tentang tahap pencapaian pembelajaran pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Berdasarkan hasil penelitian dengan metode FGD dan In-Depth Interview didapatkan kesimpulan antara lain: a. Persepsi mahasiswa tentang pengertian tahap pencapaian pembelajaran pendidikan dokter adalah tahapan yang perlu dicapai oleh mahasiswa secara berjenjang agar dapat mencapai suatu tingkat kemampuan tertentu selama proses pembelajaran di Fakultas Kedokteran. b. Persepsi mahasiswa tentang tujuan tahap pencapaian pembelajaran pendidikan dokter adalah untuk mempermudah proses pembelajaran selama di Fakultas Kedokteran. c. Persepsi mahasiswa tentang manfaat tahap pencapaian pembelajaran pendidikan dokter adalah untuk membuat pola pemikiran yang terstruktur dan sistematis serta sebagai dasar untuk mempelajari materi yang lebih kompleks..

(53) 65. d. Persepsi. mahasiswa. tentang. proses. pelaksanaan. tahap. pencapaian. pembelajaran pendidikan dokter terdiri dari perkembangan dan penerapan. e. Persepsi mahasiswa tentang faktor yang mendorong pencapaian tahap pencapaian pembelajaran adalah: -. proses pelaksanaan yang sesuai dengan kemampuan mahasiswa. -. target yang ingin dicapai. -. pola belajar yang konsisten. -. perkembangan pengetahuan, kemampuan dan sikap mahasiswa seiring pertambahan semester.. f. Persepsi mahasiswa tentang faktor yang menghambat pencapaian tahap pencapaian pembelajaran adalah proses pelaksanaan, sarana dan sumber daya manusia yang belum optimal.. 5.2 Saran 5.2.1. Bagi Institusi a. Institusi. memberikan. sosialisasi. mengenai. tahap. pencapaian. pembelajaran pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung kepada seluruh mahasiswa dan dosen. b. Institusi melakukan evaluasi rutin terhadap tahap pencapaian pembelajaran yang sudah ada dan menyesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang harus dipenuhi mahasiswa..

(54) 66. c. Institusi melakukan perbaikan pada faktor penghambat dalam mencapai tahap pencapaian pembelajaran seperti perbaikan sarana dan jumlah SDM yang dibutuhkan. 5.2.2. Bagi Dosen a. Dosen lebih memperhatikan dan memberikan solusi atas faktor-faktor penghambat dalam pencapaian tahap pencapaian pembelajaran yang dihadapi oleh mahasiswa seperti mengubah cara penyampaian materi kuliah. b. Menjadi panutan dan memberikan dukungan bagi mahasiswa dalam proses pendidikan.. 5.2.3. Bagi Mahasiswa Mahasiswa perlu mengevaluasi diri untuk menentukan tahap pencapaian pembelajaran yang telah dicapai dan berupaya untuk mencapai tahap pencapaian pembelajaran yang telah ditetapkan.. 5.2.4. Bagi Peneliti Selanjutnya a. Adanya. penelitian. lebih. lanjut. mengenai. tahap. pencapaian. pembelajaran pada tahap pendidikan dokter dan tahap profesi dokter. b. Adanya. penelitian. lebih. lanjut. mengenai. tahap. pencapaian. pembelajaran dengan menggunakan perbedaan hambatan berdasarkan nilai IPK dan angkatan mahasiswa..

(55) 67. DAFTAR PUSTAKA. Accreditation council for graduate medical education (ACGME). 2014. Competencybased medical education (CBME) and transformation. Future directions of credentialing research in nursing: A Workshop. Ahmadi. 1991. Pengolahan pengajaran. Cetakan Ketiga. Jakarta: Rineka Cipta. Anjarsari TGS. 2017. Faktor-Faktor yang mempengaruhi prestasi akademik pada siswi fatherless yang berprestasi. [Skripsi]. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Cook DA, Beckman TJ. 2006. Current concepts in validity and reliability for psychometric instruments: theory and application. Am J Med. 119(2): 166.e7– 16. Creswell JC. 2012. Education research, planning, conducting and evaluating quantitative and qualitative research. 4th edition. Boston: Pearson. DeWaay DJ, Duckett AA, Friesinger MK, Ledford CH, Walsh KJ. 2017. Competencies, milestones and observable activities: Practical implications for an undergraduate medical education program. J Community Med Health Educ. 7: 524-30. Djaali. 2008. Psikologi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Dreyfus SE. 2004. The five-stage model of adult skill acquisition. Bull Sci Technol Soc. 24:177–81. Emilia O, Tridjoko H, Suryadi E. 2006. Penerapan metode PBL (problem based learning) pada pembelajaran mata kuliah KB-kesehatan reproduksi di Akademi Kebidanan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia. 1 (4): 114-18. Emzir. 2008. Metodologi penelitian pendidikan kuantitatif dan kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada..

(56) 68. Erwanto H. 2013. Studi tentang prestasi belajar ditinjau dari fasilitas belajar dan motivasi belajar terhadap mata kuliah dasar akuntansi keuangan i pada mahasiswa program studi pendidikan akuntansi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta Angkatan 2011/2012. [Naskah Publikasi]. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 2020. Dosen dan karyawan. [Internet]. Tersedia dari http://fk.unila.ac.id/id/dosendankaryawan Firmansyah MA. 2017. Analisis hambatan belajar mahasiswa pada mata kuliah statistika. JPPM. 10(2): 115-27. Frank JR, Snell LS, Cate OT, Holmboe ES, Carraccio C, Swing SR, et al. 2010. Competency-based medical education: theory to practice. Medical Teacher. 32: 638–645. Hawadi RA. 2001. Psikologi perkembangan anak: Mengenal sifat, bakat, dan kemampuan anak. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Hennik M. 2014. Focus group discussion. United State of America. Oxford: University Press. Holmboe ES, Call S, Ficalora RD. 2016a. Milestones and competency-based medical education in internal medicine.) JAMA Internal Medicine. 176(11):1601-2. Holmboe ES, Edgar L, Hamstra S. 2016b. The milestones guidebook. Version 2016. Idrus M. 2009. Metode Penelitian ilmu sosial, pendekatan kualitatif dan kuantitatif, Jakarta: Erlangga. Iobst WF, Caverzagie KJ. 2013. Milestones and competency-based medical education. Gastroenterology. 145:921–4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 tahun 2018. [Internet]. Tersedia dari https://www.kemkes.go.id Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016. [Internet]. Tersedia dari https://forlap.ristekdikti.go.id Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. 2018. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik.

(57) 69. Indonesia Nomor 18 https://jdih.ristekdikti.go.id. Tahun. 2018.. [Internet].. Tersedia. dari. Konsil Kedokteran Indonesia. 2013a. Standar kompetensi dokter Indonesia. [Internet]. Tersedia dari http://www.kki.go.id Konsil Kedokteran Indonesia. 2013b. Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia. [Internet]. Tersedia dari http://www.kki.go.id Korf BR, Biggio J, Demmer LA, Edgar L, Irons M, McCandless S, et al. 2014. The medical genetics residency milestones. J of Grad Med Educ. 6(1 Suppl 1): 8790. Kuniya K. 2018. Hubungan gaya belajar dan pendekatan belajar terhadap hasil ujian praktikum anatomi pada mahasiswa kedokteran angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. [Skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung. Lomis KD, Russell RG, Davidson MA. 2017. Competency milestones for medical students: design, implementation, and analysis at one medical school. Medical Teacher. 39(5):494-504. Malik MM. 2015. Hubungan antara learning approach terhadap hasil belajar mahasiswa tahun pertama pada blok learning skill and basic professionalism di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. [Skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung. Mediansyah A. 2017. Hubungan antara persepsi mahasiswa tentang proses ProblemBased Learning (PBL) terhadap motivasi belajar pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. [Skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung. Nanda SV. 2017. Hubungan kebiasaan belajar dan keaktifan berorganisasi terhadap prestasi belajar mahasiswa tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. [Skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung. Nasca TJ, Philibert I, Brigham T, Flynn TC. 2012. The next GME accreditation system-rationale and benefits. N Engl J Med. 366:1051–6. Notoatmojo S. 2010. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Puspita SAL, Rustika IM. 2018. Peran self regulated learning dan konsep diri terhadap prestasi akademik mahasiswa remaja akhir Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang pernah menjadi finalis Bali Pageants. Jurnal Psikologi Udayana. 5(1):1-11..

(58) 70. Rahardjo CO. 2017. Faktor yang mempengaruhi tingkat stres pada mahasiswa fakultas kedokteran dengan kurikulum berbasis kompetensi. Semarang: Universitas Diponegoro. Ramli N, Muljono P, Afendi FM. 2018. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap self directed learning readiness dan prestasi akademik. Jurnal Kependidikan. 2(1):153-66. Santen SA, Peterson WJ, Khandelwal S, House JB, Manthey DE, Sozener CB. 2014. Medical student milestones in emergency medicine. Academic Emergency Medicine. 21:905–11. Sari MI, Lisiswanti R, Oktafany. 2017. Manajemen waktu pada mahasiswa: studi kualitatif pada mahasiswa kedokteran Universitas Lampung. Juke. 1(3): 5259. Sarwono SW. 2006. Psikologi remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Sastroasmoro S, Ismael S. 2011. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi ke-4. Jakarta: Sagung Seto. Shah N, Desai C, Jorwekar G, Badyal D, Singh T. 2016. Competency-based medical education: An overview and application in pharmacology. Indian J Pharmacol. 48(Suppl 1):S5–9. Soanes C, Stevenson A. 2005. The oxford dictionary of english. Revised Edition. Oxford: Oxford University Press. Sugiyono. 2016. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R.D. Bandung: Alfabeta. Susetyo YF, Kumara A. 2012. Orientasi tujuan, atribusi penyebab, dan belajar berdasar regulasi diri. Jurnal Psikologi. 39(1):95-111. Susilowati T. 2008. Peran dosen pembimbing akademik (PA) terhadap prestasi belajar mahasiswa. MIIPS. 8(2):57-65. Suwarni E. 2012. Hubungan gaya mengajar dosen dalam proses pembelajaran dengan motivasi belajar mahasiswa Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al Azhar Indonesia. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora. 1(4):246-56. Ten Cate O. 2005. Entrustability of professional activities and competency-based training. Medical Education. 39:1176-7..

(59) 71. Ten Cate O. 2006. Trust, competence and the supervisor’s role in postgraduate training. BMJ. 333:748–51. Ten Cate O. 2013. Nuts and bolts of entrustable professional activities. J of Grad Med Educ. 5(1): 157–8. Ten Cate O, Chen HJ, Hoff RG, Petrers H, Bok H, van der Schaaf M. 2015. Curriculum development for the workplace using entrustable professional activities (EPAs): AMEE Guide No. 99. Medical Teacher. 37(11): 983-1002. Ten Cate O. 2017. A primer on entrustable professional activities. FEM. 20(3): 95102. Trochim WMK, Donnelly JP. 2006. What is the research methods knowledge base. Cincinatti: Atomic Dog Publishing. Wong LP. 2008. Focus group discussion: a tool for health and medical research. Singapore Med J. 49(3) : 256-60. Wood D. 2003. ABC of learning and teaching in medicine: Problem based learning. BMJ. 326(7384): 328–30. Yudaristy H, Irfanuddin, Azhar MB. 2014. Persepsi mahasiswa dan dosen tentang ketercapaian kompetensi dasar dan klinis pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan. 1(1): 25-33..

(60)

Figure

Gambar 1. Lima Level dalam Model Perkembangan Dreyfus (ACGME, 2014).
Gambar 2.  Hubungan antara EPA, kompetensi dan tahap pencapaian pembelajaran (ACGME, 2014)
Gambar 3.  Hubungan EPA dan kompetensi dengan tahap pencapaian pembelajaran dan tingkat supervisi
Gambar 4. Bagan Alur Penelitian

References

Related documents

In this paper, I contrast “Traditional” 2 and Agile testing, describing how independent testers can contribute effectively on Agile projects by shedding some practices that no

Therefore, cell-phone addiction due to higher usage of social networks is effective on sleep quality and quantity in medical students.. However, the

The purpose of this study in progress was to investigate how novice and experienced e-learning course designers and developers both learn to use, and then select the

accomplishing some of the company’s missions, visions, and objectives. However, along the developments of businesses is associated with threats from the external environments

All students will review all of the Current Event/Topic Blogs posted by their colleague. Over the course of the semester each student will be required to post a comment on

I, The educational level of the instructors: This refers that the instructors holds either MA/MSC, under MA/ MSC degree or above MA/MSC. This is expected to affect the,

They try to solve a locally or nationally bounded problem, their content inspired by some ideology (of a better and smaller government, as in the case of NPM), an opportu- nity

The normal ranges for CASA and FC parameters will be established for samples of fresh extended semen, collected as part of an on-farm bull breeding soundness evaluation. the