DAMPAK KERUNTUHAN JEMBATAN LEMPUYANG PADA
JALAN LINTAS TIMUR DAN LINTAS PENGHUBUNG
PROVINSI LAMPUNG
(Studi Kasus Ruas 003, 004, 005 Jalan Lintas Timur, Jalan Feeder
Timur
–
Tengah, Jalan Feeder Tengah
–
Metro
–
Sukadana )
(Skripsi)
Oleh
RATIH DIAH PERMANI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
IMPACT OF THE DESTRUCTION OF LEMPUYANG BRIDGE ON THE EASTERN HIGHWAY AND FEEDER IN THE PROVINCE
OF LAMPUNG
By
RATIH DIAH PERMANI
The Indonesian Transportation System, which is still dominated by ground transportation, has made the road have a more dominant role in economic growth. The condition of road facilities and infrastructure also encourages economic growth among regions connected by infrastructure networks, so that it is expected that in various regions there will be equitable growth.
The collapse of the Lempuyang bridge resulted in a change in the volume of traffic flow on the roads that became an alternative road. This volume change can directly affect the condition of the road designated as an alternative road, namely the eastern crossroad (Sukadana - Sp. Bujung Tenuk) and the Tegineneng Feeder - Sukadana road.
The segment most affected by the damage to the Lempuyang bridge is the Central - Metro - Sukadana feeder segment. In the Central - Metro - Sukadana feeder there was an increase in the size of the slightly damaged road in May 2015 from 2014, from 2.52% to 9.03%. The value of severely damaged conditions in the Central - Metro - Sukadana feeder also increased where in 2014 it was worth 0.00% to 5.34% in May 2015.
ABSTRAK
DAMPAK KERUNTUHAN JEMBATAN LEMPUYANG PADA JALAN LINTAS TIMUR DAN LINTAS PENGHUBUNG PROVINSI
LAMPUNG
Oleh
RATIH DIAH PERMANI
Sistem Transportasi Indonesia yang masih didominasi oleh transportasi darat membuat jalan memiliki peran yang lebih dominan dalam pertumbuhan ekonomi. Kondisi sarana dan prasarana jalan juga mendorong pertumbuhan perekonomian antar daerah yang terkoneksi oleh jaringan infrastruktur, sehingga diharapkan di berbagai daerah terjadi pertumbuhan yang merata.
Runtuhnya jembatan Lempuyang mengakibatkan perubahan volume arus lalu lintas di jalan – jalan yang menjadi jalan alternatif. Perubahan volume ini secara langsung dapat berpengaruh pada kondisi jalan yang di tunjuk sebagai jalan alternatif yaitu ruas jalan lintas timur (Sukadana - Sp. Bujung Tenuk) dan ruas jalan Feeder Tegineneng - Sukadana.
Ruas yang paling terpengaruh dengan rusaknya jembatan Lempuyang adalah ruas
feeder Tengah – Metro – Sukadana. Pada feeder Tengah – Metro – Sukadana tejadi peningkatan pada besar kondisi jalan rusak ringan pada bulan Mei 2015 dari tahun 2014 yaitu dari 2,52% menjadi 9,03%. Nilai kondisi rusak berat pada feeder
Tengah – Metro – Sukadana juga meningkat dimana pada tahun 2014 bernilai 0,00% menjadi 5,34% pada Mei 2015.
DAMPAK KERUNTUHAN JEMBATAN LEMPUYANG PADA
JALAN LINTAS TIMUR DAN LINTAS PENGHUBUNG
PROVINSI LAMPUNG
(Studi Kasus Ruas 003, 004, 005 Jalan Lintas Timur, Jalan Feeder
Timur
–
Tengah, Jalan Feeder Tengah
–
Metro
–
Sukadana )
Oleh
RATIH DIAH PERMANI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA TEKNIK
Pada
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Lampung
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMPUNG
viii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 13 Agustus
1995 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Terlahir dari
pasangan Bapak Supriyadi dan Ibu Suprihatin Tri Agustina.
Penulis mengawali jenjang pendidikan di Taman Kanak-Kanak
Busthanul Atfal, Panjang, Bandar Lampung pada tahun 2000. Kemudian
melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri 1 Karang Maritim, Panjang pada tahun
2001, pada tahun 2005 penulis berhasil meraih gelar siswa teladan se-Kota Bandar
Lampung dan lulus dari tingkat sekolah dasar pada tahun 2007. Pada tahun yang
sama penulis melanjutkan studi ke SMP Negeri 2 Bandar Lampung dan lulus
untuk mengikuti program percepatan kelas (Akselarasi) selama dua tahun dan
lulus pada tahun 2009.
Pada tahun 2009 penulis melanjutkan studi ke SMA Negeri 2 Bandar Lampung
mengikuti program percepatan keals yang sama selama dua tahun dan lulus pada
tahun 2011. Penulis melanjutkan jenjang pendidikan dan berhasil masuk ke
Perguruan Tinggi Negeri Universitas Lampung dan terdaftar pada Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Sipil (S1) melalui jalur SNMPTN (Seleksi Masuk Perguruan
Tinggi Negri) undangan dan mendapat bantuan Beasiswa Bidik Misi semasa
ix
Pada tahun 2012-2013 Penulis menjabat sebagai wakil bendahara umum dalam
Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HIMATEKS). Selain itu penulis telah
mengikuti Kerja Praktik pada Proyek Pembangunan Gedung Baru Sekolah
Dharma Bangsa, Bandar Lampung, selama tiga bulan dan Kuliah Kerja Nyata
(KKN) di Dusun Kuala Teladas, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang
MOTTO
“Keraguan adalah pengkhianat yang akan membuatmu kehilangan
keberanian untuk sekadar mencoba.”
(William Shakespear)
“MAN JADDA WA JADDA”
SANWACANA
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah
Subhanahu Wa Ta’ala yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga skripsi dengan judul Dampak Keruntuhan Jembatan Lempuyang
pada Jalan Lintas Timur dan Lintas Penghubung Provinsi Lampung (studi kasus ruas 003, ruas 004, ruas 005, jalan feeder Timur – Tengah, dan jalan feeder Tengah– Metro– Sukadana) dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan
salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik pada program regular Jurusan
Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Lampung.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pada penulisan skripsi ini masih banyak
terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu penulis mohon maaf dan
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucpan terimakasih yang setulusnya
kepada:
1. Prof. Drs. Suharno, M.sc., Ph.D selaku Dekan Fakultas Teknik,
Universitas Lampung.
2. Gatot Eko Susilo, S.T., M.Sc., Ph.D selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik, Universitas Lampung.
3. Ir. Yohannes Martono Hadi, M.T. selaku Dosen Pembimbing I skripsi.
5. Ir. Dwi Herianto, M.T. selaku Dosen Penguji skripsi.
6. Rahayu Sulistyorini, S.T., M.T selaku Dosen Pembimbing Akademis
7. Seluruh Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
Lampung.
8. Kedua orang tua penulis (Supriyadi dan Suprihatin Tri Agustina) yang
telah memberikan restu dan doanya serta kesabaran yang luas untuk
penulis, Adik – adikku tersayang (Sekar Diah Ayunani dan Damar Permadi Aditya)
9. Teman seperjuangan skripsi (Tuti Alawiya, S.T. dan Agung Satria
Kurniawan, S.T.).
10. Untuk Mega Astriyan, S.T., Kiki Lolita Sari, S.T., Astika Murni Lubis
S.T., dan Esty Handayani S.T., yang telah menjadi support system terbaik
tanpa pamrih membantu hingga skripsi terselesaikan.
11. Seluruh keluarga besar Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
Lampung khususnya angkatan 2011.
Serta semua pihak yang tidak bias disebutkan satu persatu yang telah
membantu dan memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis
sangat berharap karya kecil ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi
penulis sendiri.
Bandar Lampung, Agustus 2018
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Batasan Masalah ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gambaran Umum Wilayah Study ... 6
B. Jalan ... 9
C. Evaluasi Jalan ... 15
D. IRMS (Integrated Road’s Management System)... 17
E. RCI (Road Condition Index) ... 19
F. IRI (International Roughness Index) ... 22
G. Tingkat Pelayanan Jalan ... 23
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ... 24
B. Peralatan Penelitian ... 24
C. Tahapan Penelitian ... 24
D. Tahapan Persiapan ... 25
E. Survey Lampagan ... 25
F. Pengumpulan Data ... 26
G. Analisa Data dan Hasil ... 26
iii
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Rekapitulasi Data ... 28 B. Hasil Pengolahan Data ... 30 1. IRMS ... 31 a. Nilai Kondisi Ruas 003 Jalan Lintas Timur Sumatera 32
b. Nilai Kondisi Ruas 004 Jalan Lintas Timur Sumatera 37
c. Nilai Kondisi Ruas 005 Jalan Lintas Timur Sumatera 42
d. Nilai Kondisi Feeder Timur - Tengah ... 45 e. Nilai Kondisi Feeder Tengah - Metro - Sukadana ... 49 f. Rekapitulasi Grafik... 53
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 57 B. Saran ... 59
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Ruas Jalan Di Lokasi Survei Lapangan ... 6
Tabel 2. Kondisi permukaan jalan secara visual berdasarkan nilai RCI... 20
Tabel 3. Nilai Panjang Kondisi Ruas 003 Jalan Lintas Timur Sumatera... 32
Tabel 4. Nilai Kondisi Ruas 003 Jalan Lintas Timur Sumatera... 33
Tabel 5. Nilai Kondisi Ruas 004 Jalan Lintas Timur Sumatera... 37
Tabel 6. Nilai Kondisi Ruas 005 Jalan Lintas Timur Sumatera... 41
Tabel 7. Nilai Kondisi Feeder Timur - Tengah ... 45
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Peta Jaringan Jalan Nasional Provinsi Lampung ... 7
Gambar 2. Sketsa Lokasi Survei ... 8
Gambar 3. Peta Jaringan Jalan Nasional Provinsi Lampung ... 28
Gambar 4. Sketsa Jaringan Jalan Nasional Provinsi Lampung ... 29
Gambar 5. Ruas 003 Lintas Timur TA 2012 ... 33
Gambar 6. Ruas 003 Lintas Timur TA 2013 ... 34
Gambar 7. Ruas 003 Lintas Timur TA 2014 ... 34
Gambar 8. Ruas 003 Lintas Timur TA Mei 2015 ... 34
Gambar 9. Ruas 003 Lintas Timur TA November 2015... 35
Gambar 10. Kondisi Per Tahun Ruas 003 Lintas Timur... 35
Gambar 11. Ruas 004 Lintas Timur TA 2012... 37
Gambar 12. Ruas 004 Lintas Timur TA 2013... 38
Gambar 13. Ruas 004 Lintas Timur TA 2014... 38
Gambar 14. Ruas 004 Lintas Timur TA Mei 2015 ... 38
Gambar 15. Ruas 004 Lintas Timur TA November 2015... 39
Gambar 16. Kondisi Per Tahun Ruas 004 Lintas Timur... 39
Gambar 17. Ruas 005 Lintas Timur TA 2012... 42
vi
Gambar 19. Ruas 005 Lintas Timur TA 2014... 42
Gambar 20. Ruas 005 Lintas Timur TA Mei 2015 ... 43
Gambar 21. Ruas 005 Lintas Timur TA November 2015... 43
Gambar 22. Kondisi Per Tahun Ruas 005 Lintas Timur... 43
Gambar 23. Feeder Timur - Tengah TA 2012 ... 45
Gambar 24. Feeder Timur - Tengah TA 2013... 46
Gambar 25. Feeder Timur - Tengah TA 2014... 46
Gambar 26. Feeder Timur - Tengah Mei 2015... 46
Gambar 27. Feeder Timur - Tengah TA November 2015 ... 47
Gambar 28. Kondisi Per Tahun Feeder Timur - Tengah ... 47
Gambar 29. Feeder Tengah–Metro–Sukadana TA 2012... 49
Gambar 30. Feeder Feeder Tengah–Metro–Sukadana TA 2013... 50
Gambar 31. Feeder Feeder Tengah–Metro–Sukadana TA 2014... 50
Gambar 32. Feeder Feeder Tengah–Metro–Sukadana Mei 2015 ... 50
Gambar 33. Feeder Feeder Tengah–Metro–Sukadana November 2015 ... 51
Gambar 34. Kondisi Per Tahun Feeder Tengah–Metro–Sukadana ... 51
Gambar 35. Kondisi Per Tahun Ruas 003 Lintas Timur... 53
Gambar 36. Kondisi Per Tahun Ruas 004 Lintas Timur... 53
Gambar 37. Kondisi Per Tahun Ruas 005 Lintas Timur... 54
Gambar 38. Kondisi Per Tahun Feeder Timur–Tengah ... 54
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang perekonomian di suatu
Negara khususnya Indonesia. Sistem transportasi membantu meningkatkan
pelayanan mobilisasi masyarakat, baik untuk kebutuhan barang maupun jasa.
Sistem Transportasi Indonesia yang masih didominasi oleh transportasi darat
membuat jalan memiliki peran yang lebih dominan dalam pertumbuhan
ekonomi. Kondisi sarana dan prasarana jalan juga mendorong pertumbuhan
perekonomian antar daerah yang terkoneksi oleh jaringan infrastruktur,
sehingga diharapkan di berbagai daerah terjadi pertumbuhan yang merata.
Undang-Undang nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan menjelaskan bahwa
ruas jalan nasional sebagai bagian dari sistem transportasi nasional yang
mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung bidang ekonomi,
sosial, budaya dan lingkungan. Kebutuhan jalan berkaitan erat dengan
pertumbuhan pembangunan di berbagai sendi kehidupan manusia karena
jalan merupakan fasilitas yang sangat penting dalam mendukung pergerakan
2
Jaringan jalan nasional di Provinsi Lampung merupakan jalan pintu gerbang
daratan Sumatera dari pulau jawa menuju ke Provinsi - provinsi yang ada di
pulau Sumatera, maupun sebaliknya sehingga beban lalu lintas pada jaringan
jalan/jembatan nasional propinsi lampung mengalami peningkatan
Kebutuhan akan permukaan jalan dengan kondisi yang baik sangat
berpengaruh terhadap waktu tempuh yang dibutuhkan oleh pengguna jalan,
khususnya ruas jalan nasional sebagai penghubung dari suatu wilayah ke
wilayah lain dituntut kecepatan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.
Namun permukaan jalan yang baik belum tentu akan mempercepat
pergerakan lalulintas, masih banyak faktor-faktor lain yang mengakibatkan
kecepatan kendaraan menjadi terbatasi diantaranya keberadaan kondisi
jembatan, penyempitan jalan, hambatan samping, kelandaian/kecuraman jalan
dan lain lain.
Dengan tingginya volume arus lalu lintas di ruas jalan Terbanggi - Bujung
Tenuk dikarenakan pengguna jalan menggunakan jalan tersebut sebagai jalan
alternatif untuk menuju wilayah palembang mengakibatkan runtuhnya
jembatan yang ada di ruas jalan Feeder Terbanggi - Bujung Tenuk yaitu
jembatan Lempuyang. Runtuhnya jembatan Lempuyang tersebut
mengakibatkan para pengguna jalan memilih menggunakan jalan alternatif
yang lain yaitu ruas jalan lintas timur (Sukadana - Sp. Bujung Tenuk) dan
ruas jalan Feeder Tegineneng - Sukadana.
Pengalihan jalur alternatif ini juga menyebabkan perubahan volume arus lalu
lintas di jalan – jalan yang menjadi jalan alternatif. Perubahan volume ini
3
jalan alternatif yaitu ruas jalan lintas timur (Sukadana - Sp. Bujung Tenuk)
dan ruas jalan Feeder Tegineneng - Sukadana.
Road Condition Index (RCI) atau indeks kondisi jalan adalah salah satu
kinerja fungsional perkerasan yang dikembangkan oleh American
Association of State Highway Officials (AASHO) pada tahun 1960an.
Indeks kondisi jalan dapat digunakan sebagai indikator tingkat kenyamanan
dari suatu ruas jalan yang dapat diestimasi dari ketidakrataan perumkaan
jalan. Indeks kondisi jalan dapat juga ditentukan dengan pengamatan
langsung secara visual di lapangan.
IRMS merupakan suatu alat pengambil kebijakan didalam pengelolaan
jaringan jalan nasional yang merupakan alat evaluasi kondisi jalan
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk menganalisis kondisi dari jalan
yang di tunjuk sebagai jalan alternatif yaitu ruas jalan lintas timur (Sukadana
- Sp. Bujung Tenuk) dan ruas jalan Feeder Tegineneng – Sukadana menggunakan hasil analisis data RCI serta perbandingannya dengan data
IRMS yang ada sebagai bagian dari dampak runtuhnya jembatan Lempuyang
di ruas jalan Feeder Terbanggi - Bujung Tenuk.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diuraikan beberapa
permasalahan, yaitu :
1. Provinsi Lampung merupakan jalan pintu gerbang daratan Sumatera dari
4
maupun sebaliknya sehingga beban lalu lintas pada jaringan
jalan/jembatan nasional propinsi lampung mengalami peningkatan
2. Rusaknya jembatan Lempuyang yang berada di ruas jalan no. 036
Terbanggi – Bujung Tenuk mengakibatkan para pengguna jalan menggunkan ruas jalan Lintas timur (Sukadana–Sp. Bujung Tenuk) dan
Feeder Tegineneng – Sukadana sebagai jalan alternatif ke wilayah palembang.
3. Perubahan volume arus lalu lintas pada jalur alternatif ruas jalan lintas
timur (Sukadana - Sp. Bujung Tenuk) dan ruas jalan Feeder Tegineneng
–Sukadana.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan yang
terjadi pada jalur alternatif ruas jalan lintas timur (Sukadana - Sp. Bujung
Tenuk) dan ruas jalan Feeder Tegineneng – Sukadana pasca runtuhnya jembatan Lempuyang di ruas jalan Feeder Terbanggi - Bujung Tenuk.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu
1. Bagi Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga,
khususnya Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional III Palembang
(BBPJN), diharapkan dengan menganalisis dampak dari runtuhnya
jembatan Lempuyang di ruas jalan Feeder Terbanggi– Bujung Tenuk ini
5
keputusan agar terlaksananya pembangunan dan pemeliharaan ruas jalan
dan jembatan yang ada di Provinsi Lampung
2. Dapat digunakan sebagai bahan kajian studi tentang kondisi jalan dan
jembatan oleh peneliti lainnya.
E. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Pada penelitian ini hanya akan membahas tentang kondisi jalan yang
digunakan sebagai jalan alternatif menggunakan data hasil analisis RCI
di ruas jalan tersebut yang diambil pada bulan November tahun 2015.
2. Lokasi penelitian ini di ruas jalan Lintas Timur (Sukadana –Sp. Bujung Tenuk) dan Feeder Tegineneng-Sukadana dan jembatan lempuyang
(Feeder Terbanggi–Bujung Tenuk).
3. Data yang akan didapatkan adalah :
a. Data primer berupa dokumentasi, vidio, dan formulir standar
permukaan jalan pada bulan November tahun 2015.
b. Data sekunder berupa data IRMS tahun 2012, 2013, 2014, dan Mei
2015.
4. Sebagian besar penyusunan penelitian ini menggunakan survei lapangan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Gambaran Umum Wilayah Study
Menurut Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Tahun 2015, jaringan
jalan nasional di provinsi Lampung yang terdiri dari Jalan Lintas Timur, Jalan
Lintas Tengah, Jalan Lintas Barat dengan total panjang 1.292,21 Km. Untuk
lebih jelas peta jaringan jalan dapat di lihat pada Gambar 1.
Adapun lokasi survey penelitian berada di Jalan Lintas Timur Sumatera,
Lintas Feeder Timur – Tengah serta Lintas Feeder Tengah – Metro –
[image:23.595.110.540.493.737.2]Sukadana yang terbagi menjadi beberapa ruas sebagai berikut.
Tabel 1. Ruas Jalan di Lokasi Survei Lapangan
NO NOMOR RUAS NAMA RUAS PANJANG
(KM)
1 003 SP. BUJUNG TENUK - BTS. KAB. LAMTENG/KAB. TL. BAWANG
18,96
2 004 BTS KAB. LAMTENG/KAB. TL. BAWANG - BTS. KAB. LAMTENG/KAB. LAMTIM
45,43
3 005 BTS. KAB. LAMTENG/KAB. LAMTIM–WAY JEPARA 51,81
4 035 SP. BUJUNG TENUK–BUJUNG TENUK 1,69
5 036 BUJUNG TENUK–TERBANGGI BESAR 48,08
6 040 TEGINENENG–BATAS KOTA METRO 13,57
7 040 11 K JLN SUDIRMAN (METRO) 5,53
8 041 BTS. KOTA METRO - GEDONG DALAM 11,23
9 041 11 K JLN. A.H. NASUTION (METRO) 4,46
10 042 GEDONG DALAM - BTS. KOTA SUKADANA 8,20
11 042 11 K JLN. SUKARNO-HATTA (SUKADANA) 4,54
Jembatan lempuyang
9
B. Jalan
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 dan
Undang – Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, jalan umum dapat diklasifikasikan dalam sistem jaringan jalan, fungsi jalan, status jalan, dan
kelas jalan. Adapun uraiannya sebagai berikut :
1. Klasifikasi menurut fungsi pada sistem jaringan jalan
Klasifikasi jalan berdasarkan fungsi pada sistem jaringan jalan adalah
sebagai berikut:
a. Sistem jaringan jalan primer
Sistem jaringan jalan primer terdiri dari jalan arteri primer, jalan
kolektor primer, jalan lokal primer, dan jalan lingkungan primer,
dimana disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di
tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi
yang berwujud pusat-pusat kegiatan sebagai berikut:
1) Menghubungkan secara menerus pusat kegiatan nasional, pusat
kegiatan wilayah, pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan
lingkungan
2) Menghubungkan antarpusat kegiatan Nasional
Sistem jaringan primer disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata
ruang dan struktur pengembangan wilayah tingkat Nasional yang
10
1) Jalan arteri primer
Jalan ini menghubungkan secara berdaya guna antarpusat kegiatan
nasional atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat
kegiatan wilayah, dengan persyaratan teknis sebagaimana diatur
dalam PP No. 34 tahun 2006, sebagai berikut:
a) Didesain paling rendah dengan kecepatan 60 km/jam
b) Lebar badan jalan paling sedikit 11 meter
c) Kapasitas lebih besar daripada volume lalu lintas rata-rata
d) Lalu-lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas
ulang-alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal
e) Jumlah jalan masuk, ke jalan arteri primer, dibatasi secara
effisien sehingga kecepatan 60 km/jam dan kapasitas besar
tetap terpenuhi
f) Jalan arteri primer yang memasuki kawasan perkotaan
dan/atau kawasan pengembangan perkotaan tidak boleh
terputus
2) Jalan kolektor primer
Merupakan jalan yang menghubungkan secara berdaya guna
antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal,
antarpusat kegiatan wilayah, atau antara pusat kegiatan wilayah
dengan pusat kegiatan lokal. Adapun persyaratan teknis dari jalan
ini, sebagai berikut:
a) Didesain paling rendah dengan kecepatan 40 km/jam
11
c) Kapasitas lebih besar dari volume lalu-lintas rata-rata
d) Jumlah jalan masuk dibatasi, dan direncanakan sehingga dapat
dipenuhi kecepatan paling rendah 40 km/jam
e) Jalan kolektor primer yang memasuki kawasan perkotaan tidak
boleh terputus
3) Jalan lokal primer
Merupakan jalan yang menghubungkan secara berdaya guna pusat
kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan, pusat
kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lingkungan, antarpusat
kegiatan lokal, atau pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan
lingkungan, serta antarpusat kegiatan lingkungan. Adapun
persyaratan teknis dari jalan ini, sebagai berikut:
a) Didesain paling rendah dengan kecepatan 20 km/jam
b) Lebar badan jalan paling sedikit 7,5 meter
c) Jalan lokal primer yang memasuki kawasan pedesaan tidak
boleh terputus.
4) Jalan lingkungan primer
Merupakan jalan yang menghubungkan antarpusat kegiatan di
dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan
perdesaan. Adapun persyaratan teknis dari jalan ini, sebagai
berikut:
a) Didesain paling rendah dengan kecepatan 15 km/jam
12
c) Jalan lingkungan primer yang tidak diperuntukkan bagi
kendaraan
d) bermotor beroda tiga atau lebih harus memiliki lebar badan
jalan paling sedikit 3,5 meter
b. Sistem jaringan jalan sekunder
Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata ruang
wilayah kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa
untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang menghubungkan
secara menerus kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi
sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan
seterusnya sampai ke persil. Fungsi jalan pada sistem jaringan jalan
sekunder terdiri dari:
1) Jalan Arteri Sekunder
Jalan ini menghubungkan menghubungkan kawasan primer
dengan kawasan sekunder kesatu, kawasan sekunder kesatu
dengan kawasan sekunder kesatu, atau kawasan sekunder kesatu
dengan kawasan sekunder kedua. Adapun persyaratan teknisnya,
sebagai berikut:
a) Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 30 km/jam;
b) Kapasitas sama atau lebih besar dari volume lalu lintas
rata-rata;
c) Lebar badan jalan paling sedikit 11 meter;
d) Pada jalan arteri sekunder, lalu-lintas cepat tidak boleh
13
e) Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu harus
memenuhi kecepatan tidak kurang dari 30 km/jam
2) Jalan kolektor sekunder
Jalan ini menghubungkan menghubungkan kawasan sekunder
kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder
kedua dengan kawasan sekunder ketiga. Adapun persyaratan
teknisnya, sebagai berikut:
a) Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 20 km/jam;
b) Lebar badan jalan paling sedikit 9 meter;
c) Memiliki kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas
rata-rata;
d) Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat;
e) Persimpangan sebidang dengan pengaturan tertentu harus
memenuhi kecepatan tidak kurang dari 20 km/jam
3) Jalan lokal sekunder
Jalan ini menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan
perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan, kawasan
sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. Adapun
persyaratan teknisnya, sebagai berikut:
a) Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 km/jam
b) Lebar badan jalan tidak kurang dari 7,5 meter
4) Jalan lingkungan sekunder
Jalan ini menghubungkan antar persil dalam kawasan perkotaan.
14
a) Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 km/jam,
diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda tiga atau lebih
b) Lebar badan jalan tidak kurang dari 6,5 meter
c) Jalan yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor
beroda tiga atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan
paling sedikit 3,5 meter
2. Klasifikasi menurut status jalan
Berdasarkan PP No. 34 tahun 2006 Pasal 25 sampai 30, jaringan jalan
yang diklasifikasikan menurut statusnya dibedakan menjadi 5 (lima) jenis,
yaitu sebagai berikut:
a. Jalan Nasional
Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan nasional adalah jalan arteri
primer; jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota
provinsi; jalan tol; serta jalan strategis Nasional.
b. Jalan Provinsi
Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan provinsi adalah jalan kolektor
primer yang menghubungkan ibukota Provinsi dengan ibukota
Kabupaten/Kota, jalan kolektor primer yang menghubungkan antar
ibukota Kabupaten/Kota, jalan strategis provinsi, serta jalan di Daerah
Khusus Ibukota Jakarta, kecuali jalan sebagaimana dimaksud dalam
Jalan Nasional.
c. Jalan Kabupaten
Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan kabupaten adalah jalan
15
kelompok jalan provinsi, jalan lokal primer yang menghubungkan
ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, ibukota kabupaten
dengan pusat desa, antar ibukota kecamatan, ibukota kecamatan
dengan desa, dan antar desa; jalan sekunder lain, selain sebagaimana
dimaksud sebagai jalan nasional, dan jalan provinsi; serta jalan yang
mempunyai nilai strategis terhadap kepentingan Kabupaten.
d. Jalan Kota
Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan provinsi kota adalah jaringan
jalan sekunder di dalam kota
e. Jalan Desa
Jalan yang diklasifikasikan dalam jalan desa adalah jalan lingkungan
primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk jalan kabupaten di
dalam kawasan pedesaan, dan merupakan jalan umum yang
menghubungkan kawasan dan/atau antar pemukiman di dalam desa.
C. Evaluasi Jalan
Evaluasi perkerasan jalan harus dilakukan secara teratur untuk mengetahui
kinerja sebuah perkerasan pada titik tertentu dan pada masa yang akan
datang. Evaluasi ini akan menentukan kemampuan sebuah perkerasan jalan
dalam memenuhi tiga fungsi dasar perkerasan jalan (keamanan, kenyamanan,
16
1. Jenis Evaluasi Jalan
Evaluasi jalan ini akan mencatat karakteristik – karakteristik yang mampu menggambarkan kinerja perkerasan melalui beberapa indeks.
Berdasarkan pada karakteristik yang disurvei, evaluasi jalan dapat
diklasifikasikan menjadi evaluasi fungsional dan evaluasi struktural
(Christopher Bennet, 2007).
a. Evaluasi fungsional, yaitu evaluasi berupa informasi tentang
karakteristik perkerasan jalan yang secara langsung memenuhi
keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan serta pelayanan
jalan. Karakteristik utama yang disurvei pada evaluasi fungsional
ini adalah dalam hal keamanan berupa kekesatan permukaan jalan
(skid resistance) dan tekstur permukaan jalan (surface texture),
serta ketidakrataan jalan (road roughness), dalam hal pelayanan
(serviceability).
b. Evaluasi structural, yaitu evaluasi berupa informasi tentang kinerja
struktur perkerasan terhadap beban lalul lintas dan kondisi
lingkungan. Kerusakan perkerasan secara tidak langsung akan
mempengaruhi masalah fungsional jalan seperti kegemukan pada
jalan (pavement bleeding) akan mempengaruhi kekesatan
permukaan jalan (skid resistace), dan retak pada sambungan jalan
17
D. IRMS (IntegratedRoad’sManagement System)
Integrated Road’s Management System atau disingkat IRMS adalah suatu
sistem perangkat lunak terpadu yang digunakan untuk membantu pengambil
kebijakan jalan dalam menghimpun data dan merencanakan program
pemeliharaan jalan Nasional dan Provinsi. Selain menjadi alat perencanaan
program, perangkat lunak ini juga dirancang untuk menjadi alat pemantau
kondisi jalan yang dapat digunakan baik ditingkat pusat maupun di tingkat
daerah.
Latar belakang program IRMS ini dibuat sebagai berikut :
Asset jaringan jalan yang ada harus dapat terus dipelihara. Pemeliharaan asset
jalan memerlukan dana yang cukup dan bersifat kontinu. Dana yang
dialokasikan tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan
penanganan jalan yang diperlukan dan harus didistribusikan secara
proporsional. Pengambilan keputusan (manajemen) memerlukan alat bantu
untuk melaksanakan manajemen jalan secara optimal berdasarkan kaidah
teknis dan ekonomi.
IRMS sendiri terdiri dari sistem pangkalan data, sistem perencanaan
pemeliharaan jalan, sistem pemrograman pemeliharaan jalan, dan sistem
penganggaran pemeliharaan jalan.
Sistem IRMS menerapkan fungsi, yang berguna untuk proses validasi
otomatis sehingga dapat menjamin akurasi data, keamanan data didalamnya,
dan memudahkan pemeliharaan database.
IRMS menyediakan fasilitas berupa hak pengguna sistem yang dapat dibagi
18
IRMS menerapkan fasilitas sistem yang berkemampuan menjaga keutuhan
database utama berupa daftar ruas jalan yang telah disesuaikan dengan
ketetapan ruas jalan sesuai Kepmen PU.
Data – data utama yang dipakai dalam pemrograman IRMS, adalah sebagai berikut :
1. Data Titik Referensi (STR/DRP)
Survei data titik referensi disingkat STR (Data Reference Point Survei,
DRP) dimaksudkan untuk menentukan titik–titik referensi pada satu ruas
jalan yang akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan survey
jalan lainnya.
2. Data Inventarisasi Jalan (RNI)
Survei Inventaris Jalan disiingkat SIJ (Road Network Inventory, RNI)
dimaksudkan untuk menginventarisasi atau mencatat keadaan jalan saat ini
dan juga saat yang lampau sebagai data sejarah perkembangan jalan
tersebut dalam bentuk table/tekstur. Periode survey adalah 5 tahun sekali
dan apabila ruas jalan yang ada penanganannya maka harus disurvei
kembali, mengingat badan jalan ketika ada penanganan akan mengalami
perubahan.
3. Data Kondisi Jalan (RCS)
Maksud dan tujuan survey kondisi jalan disingkat SKJ (Road Condition
Survey, RCS) adalah untuk mendapatkan data kondisi dan bagian–bagian
jalan yang mudah berubah baik untuk jalan aspal, maupun jalan
tanah/kerikil sesuai kebutuhan untuk penyusunan rencana dan program
19
4. Dokumentasi (Foto dan Video)
Pembuatan foto dokumen jalan dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan
bagi petugas survei jalan dalam pembuatan foto – foto dokumen jalan
dengan kamera digital agar terdapat keseragaman dalam pelaksanaannya.
Data – data yang diperoleh dari survei – survei diatas menjadi masukan
dalam sistem perencanaan teknisjalan dan program pembinaan jaringan
jalan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa hasil keluaran perangkat
lunak IRMS ini merupakan pedoman awal pada perencanaan penanganan
jalan, sedangkan pemrograman penanganan jalan ditetapkan berdasarkan
pengamatan kondisi lapangan yang mutahir. Survei IRMS dilakukan oleh
tim dari P2JN (Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional) di masing –
masing provinsi sebanyak dua kali setahun. Dta hasil IRMS masing –
masing provinsi kemudian dilaporkan ke Balai Pelaksanaan Jalan Nasional
yang menaungi provinsi tersebut untuk diverifikasi. Lalu dari Balai
Pelaksanaan, data dari masing – masing provinsi akan dikirim kepusat untuk digunakan sebagai dasar perencanaan penanganan jalan nasional ke
depan.
E. Road Condition Index (RCI)
Road Condition Index (RCI) atau indeks kondisi jalan adalah salah satu
kinerja fungsional perkerasan yang dikembangkan oleh American Assosiation
of State Highway Officials (AASHO) pada tahun 1960an. Indeks kondisi jalan
dapat digunakan sebagai indicator tingkat kenyamanan dari suatu ruas jalan
20
dapat juga ditentukan dengan pengamatan langsung secara visual di lapangan
oleh beberapa orang ahli. Indeks kondisi jalan (Road Condition Index = RCI)
adalah skala dari tingkat kenyamanan atau kinerja dari jalan, dapat diperoleh
dari pengukuran dengan alat roughometer ataupun secara visual. Skala angka
[image:37.595.126.517.249.628.2]RCI bervariasi dari nilai 2-10, yang dapat dilihat pada Tabel 2. dibawah ini :
Tabel 2. kondisi permukaan jalan secara visual berdasarkan nilai RCI
RCI IRI Kondisi Visual dari
Permukaan Perkerasan
Jenis Tipikal Permukaan
8–10 0 -3 Sangat mulus dan
terus
Campuran panas yang baru digelar
7–8 3–4 Sangat baik,
umumnya mulus
Campuran Panas setelah beberapa tahun layanan
6–7 4–6 Baik Lapisan Tipis yang
lama dari campuran panas, NACAS yang
baru, LABUSTAG
5–6 6–8 Cukup, Sangat sedikit
atau tidak ada lubang tetapi permukaan
tidak teratur
Lapen yang baru, NACAS yang baru, LASBUTAG setelah
2 tahun layanan, NACAS
4 - 5 8–10 Jelek, sesekali
berlubang, permukaan tidak
teratur
Lapen setelah dua tahun layanan, NACAS yang lama
3 - 4 10–12 Pecah,
Bergelombang, Banyak Lubang
Lapen yang lama, NACAS yang lama,
jalan krikil yang kurang terpelihara
2–3 12–16 Sangat pecah–
pecah, banyak lubang dan total bidang perkerasan hancur
Semua jenis perkerasan dianggap
diabaikan
2 >16 Tidak dapat dilalui,
kecuali 4WD
Semua jenis perkerasan dianggap
diabaikan
Sumber. Binamarga I
Dalam penentuan jenis pemeliharaan, yang dilakukan adalah mengidentifikasi
jenis juga besar atau kerusakan yang terjadi, adapun skala kerusakan dari tiap
21
1. Keretakan (Cracking), jenis keretakan yang ditinjau adalah retak kulit,
acak, melintang, memanjang (dengan skala kerusakan 5, 4, 3, 1), dengan
ketentuan lebar retakan 2 mm, 1–2 mm, < 1 mm (dengan skala kerusakan
3, 2, 1), serta luasan kerusakan > 30%, 10–30 %, < 10 % (dengan skala kerusakan 3, 2, 1). Masing–masing keadaan skala menunjukan kondisi
mulai dari rusak berat sampai ringan.
2. Alur (Rutting), diukur berdasarkan kedalaman kerusakan mulai dari skala
> 20 mm, 11–20 mm, 6–10 mm, 0–5 mm (dengan skala kerusakan 7,
5, 3, 1). Masing–masing keadaan skala menunjukan kondisi mulai dari rusak berat sampai ringan.
3. Lubang (Potholes) dan tambalan (Patching), ukuran berdasarkan luasan
kerusakan yang terjadi yang dimulai dari skala > 30 %, 20 – 30%, 10 –
20%, < 10 % (dengan skala kerusakan 3, 2, 1, 0). Masing – masing
keadaan skala menunjukan kondisi mulai dari rusak berat sampai ringan.
4. Kekasaran permukaan, jenis kerusakan yang ditinjau adalah pengelupasan
(Desintegration), pelepasan butiran (raveling), kekurusan (hungry),
kegemukan (fatty/bleeding), dan permukaan rapat (close texture). Dengan
skala kerusakan 4, 3, 2, 1, 0.
5. Amblas (Depression), diukur berdasarkan kedalaman kerusakan yang
terjadi dimulai dari skala >5/100 m, 2–5/100 m, 0–2/100 m (dengan skala kerusakan 4, 2, 1). Masing–masing keadaan skala menunjukan
kondisi mulai dari kerusakan berat sampai ringan.
6. Dari hasil pengamatan tersebut, maka didapat nilai dari tiap jenis
22
kondisi jalan didapat dengan cara menjumlahkan seluruh nilai kerusakan
perkerassan yang terjadi, dapat diketahui bahwa semakin besar angka
kerusakan komulatif maka akan semakin besar pula nilai kondisi jalan,
yang berarti bahwa jalan tersebut memiliki kondisi yang buruk sehingga
membutuhkan pemeliharaan yang lebih baik.
F. International Roughness Index (IRI)
International Roughness Index (IRI) dikembangkan oleh Bank Dunia pada
tahun 1980. IRI digunakan untuk menentukan karakteristik profil memanjang
dari jalur yang dilewati roda kendaraan untukmenentukan suatu pengukuran
tingkat kekasaran permukaan yang standar. Satuan yang biasanya digunakan
adalah meter per kilometer (m/km) atau millimeter per meter (mm/m).
pengukuran IRI didasarkan pada perbandingan akumulasi pergerakan
suspense kendaraan standar (dalam mm, inchi, dll) dengan jarak yang
ditempuh oleh kendaraan selama pengukuran berlangsung (dalam m, km, dll).
IRI adalah parameter ketidakrataan yang dihitung dari jumlah komulatif naik
turunnya permukaan arah profil memanjang diibagi dengan jarak/panjang
permukaan yang diukur. Sayer et al (1986) telah mengembangkan nilai IRI
untuk berbagai umur perkersasan dan kecepatan. Untuk ketidak rataan
permukaan jalan baru nilai IRI < 4 m/km yang dapat ditempuh pada kecepatan
100 km/jam dan untuk jalan lama nilai IRI < 6 m/km dengan kecepatan sekitar
80 km/jam. Keluar dari hasil survei ini adalah kondisi jalan yang dibagi
menjadi 4 tipe yaitu, baik, sedang, rusak ringan, dan rusak berat, dengan
23
G. Tingkat Pelayanan Jalan
Perkerasan jalan harus mampu memberikan kenyamanan, keamanan,
pelayanan yang efisien kepada pengguna jalan, dan memiliki struktural yang
mampu mendukung berbagai beban lalu lintas diatasnya, tingkat pelayanan
selalu berkorelasi dengan waktu tempuh mengemudi. Semakin cepat waktu
yang ditempuh maka kinerja suatu perkerasan jalan semakin baik. Perkerasan
dapat memberikan pelayanan yang diberikan kepada pengguna selama kurun
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini berada pada beberapa ruas jalan di Jalan Lintas
Timur Sumatera (Sp. Bujung Tenuk –Bts. Kab. Lamteng/ Kab. Tl. Bawang, Bts Kab Lamteng/Kab. Tl. Bawang– Bts. Kab. Lamteng’Kab. Lamtim, Bts
Kab. Lamteng/Kab. Lamtim–Way Jepara), Feeder Tengah–Timur, dan
Feeder Tengah–Metro–Timur.
B. Peralatan Penelitian
Adapun peralatan yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut :
1. Kamera dan Video Recorder
2. GPS
3. Form Survei Standar Kondisi Jalan
C. Tahapan Penelitian
Secara umum tahapan penelitian dilakukan dalam 4 (empat) tahan yaitu :
1. Tahapan persiapan
2. Tahapan survei lapangan
25
4. Tahapan analisa data dan hasil
D. Tahapan Persiapan
Sebelum melakukan semua kegiatan pelaksanaan penelitian, maka perlu
dilakukan pekerjaan persiapan. Adapun hal-hal yang perlu dipersiapkan antara
lain :
1. Mencari dan mengumpulkan informasi yang berkaitan tentang topik
penelitian sebanyak mungkin untuk memudahkan pekerjaan analisis
selanjutnya, seperti : artikel, karya ilmiah, dan lain–lain.
2. Mengumpulkan literatur pendukung yang akan digunakan dalam proses
analisis baik secara manual maupun menggunakan sistem komputerisasi,
seperti : buku dan lain–lain.
3. Mempersiapkan Peta jaringan jalan nasional provinsi lampung yang
terbaru (tahun 2015).
E. Survey Lapangan
Survey lapangan dilakukan guna mendapatkan informasi mengenai kondisi
aktual di lapangan. Pada survey ini di lakukan dokumentasi, video dan
menggunakan formulir standar pemakaian jalan untuk melihat kondisi jalan
yang sebenarnya di ruas jalan yang akan diteliti.
Survei dilakukan dengan menggunakan kamera yang diletakkan di depan
mobil untuk merekam kondisi jalan dengan interval jarak pada setiap 100 m,
dilakukan pencatatan dan pengisian Form.
Selain itu, perekaman perjalanan juga dilakukan dengan menggunakan GPS,
26
F. Pengumpulan Data
Data yang diambil berupa ;
a. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi pemerintah antara
lain data IRMS < tahun 2015.
b. Data primer berupa dokumentasi, video, formulir standar kondisi jalan
aspal.
G. Analisa Data dan Hasil
Pada tahap ini data yang telah didapat selanjutnya akan dianalisa. Dalam
menganalisis data ini bisa di lihat kondisi Ruas jalan meliputi :
1. Kondisi ruas jalan :
a. Kondisi Baik
b. Kondisi Sedang
c. Kondisi Rusak ringan
d. Kondisi Rusak berat
Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui perkembangan Jalan yang di survei
27
[image:44.595.130.529.99.663.2]H. Diagram Alir Metode Penelitian
Gambar 3. Bagan alir metode penelitian MULAI
PERSIAPAN PENELITIAN
1. Menetapkan lokasi studi
2. Mengumpulkan informasi awal mengenai denah studi
3. Studi kepustakaan
SURVEY LAPANGAN
DATA SEKUNDER
Data IRMS < tahun 2015 dan Hasil Penelitian Terdahulu
PENGOLAHAN DATA
ANALISIS
KESIMPULAN dan SARAN
SELESAI
DATA PRIMER
Dokumentasi, video dan formulir standar kondisi jalan
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Perubahan Pada Jalur Alternatif Ruas Jalan Lintas Timur (Sukadan–Sp.
Bujung Tenuk) dan Feeder Tegineneng–Sukadana)
Perubahan nilai kondisi jalan akibat keruntuhan jembatan Lempuyang
tidak terlalu terlihat pada ruas jalan lintas timur namun cukup berdampak
pada ruas feeder yang menajadi lokasi survei yaitu Feeder Timur –
Tengah dan Feeder Tengah – Metro – Sukadana dilihat dari grafik kondisi ruas jalan yang berubah setelah runtuhnya jembatan Lempuyang.
2. Nilai Kondisi Ruas Jalan Alternatif
a. Nilai kondisi jalan pada ruas 003 Jalan Lintas Timur Sumatera
Nilai kondisi baik pada bulan Mei 2015 sebesar 81,54% dan 62,96%
pada November 2015 dari keseluruhan jalan 18,958 km. Nilai
Kondisi Sedang sebesar 18,46% pada Mei 2015 dan 37,04% pada
November 2015. Nilai Kondisi Rusak Ringan dan Rusak Berat tetap
57
b. Nilai kondisi jalan pada ruas 004 Jalan Lintas Timur Sumatera
Nilai kondisi baik pada bulan Mei 2015 sebesar 88,77% dan 79,07%
pada November 2015 dari keseluruhan jalan 45,426 km. Nilai
Kondisi Sedang sebesar 10,13% pada Mei 2015 dan 20,70% pada
November 2015. Nilai Kondisi Rusak Ringan tetap 0,00% pada Mei
2015 dan November 2015. Nilai Kondisi Rusak Berat 1,10% pada
Mei 2015 dan 0,22% pada November 2015.
c. Nilai kondisi jalan pada ruas 005 Jalan Lintas Timur Sumatera
Nilai kondisi baik pada bulan Mei 2015 sebesar 94,98% dan 98,46%
pada November 2015 dari 20,875 km jalan yang di survei. Nilai
Kondisi Sedang sebesar 4,25% pada Mei 2015 dan 1,54% pada
November 2015. Nilai Kondisi Rusak Ringan tetap 0,00% pada Mei
2015 dan November 2015. Nilai Kondisi Rusak Berat 0,77% pada
Mei 2015 dan 0,00% pada November 2015.
d. Nilai kondisi jalan pada Feeder Timur–Tengah
Nilai kondisi baik pada bulan Mei 2015 sebesar 20,70% dan 13,05%
pada November 2015 dari keseluruhan jalan 49,77 km. Nilai Kondisi
Sedang sebesar 67,85% pada Mei 2015 dan 65,86% pada November
2015. Nilai Kondisi Rusak Ringan tetap 10,65% pada Mei 2015 dan
16,06% pada November 2015. Nilai Kondisi Rusak Berat 0,80% pada
Mei 2015 dan 5,02% pada November 2015.
e. Nilai kondisi jalan pada Feeder Tengah–Metro–Sukadana
Nilai kondisi baik pada bulan Mei 2015 sebesar 42,22% dan 51,89%
58
Sedang sebesar 43,42% pada Mei 2015 dan 41,32% pada November
2015. Nilai Kondisi Rusak Ringan tetap 9,03% pada Mei 2015 dan
4,83% pada November 2015. Nilai Kondisi Rusak Berat 5,34% pada
Mei 2015 dan 1,97% pada November 2015.
3. Ruas yang paling terpengaruh dengan rusaknya jembatan Lempuyang
adalah ruas feeder Tengah – Metro – Sukadana. Pada feeder Tengah –
Metro – Sukadana tejadi peningkatan pada besar kondisi jalan rusak ringan pada bulan Mei 2015 dari tahun 2014 yaitu dari 2,52% menjadi
9,03%. Nilai kondisi rusak berat pada feeder Tengah–Metro–Sukadana juga meningkat dimana pada tahun 2014 bernilai 0,00% menjadi 5,34%
pada Mei 2015. Hal ini terjadi akibat pengaruh perbedaan kelas jalan
yang dialihkan dimana Jalan Lintas Timur merupakan Jalan Nasional
sedangkan jalan alternatifnya adalah jalan penghubung yang merupakan
Jalan Provinsi.
B. SARAN
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penyebab dan karakteristik
kerusakan jalan untuk mengetahui perilaku yang tepat untuk menangani
dan meminimalisir kerusakan yang terjadi pada jalan.
2. Pengalihan jalan seharusnya dilakukan pada jalan yang memiliki nilai
kelas yang sama seperti pada kasus ini pengalihan Jalan Lintas Timur
yang merupakan Jalan Nasional seharusnya mencari jalan alternatif lain
yang juga merupakan Jalan Nasional sehingga tidak terjadi kerusakan
59
3. Evaluasi kinerja/tingkat pelayanan ruas jalan disarankan untuk
melibatkan Akademis, dimana sumber daya teknologi maupun sumber
daya manusia cukup sekaligus sebagai bahan pembelajaran bagi
mahasiswa dalam memahami pengelolaan jaringan jalan secara
DAFTAR PUSTAKA
Martono,H.Y. dan Marsudi. 2014. Korelasi IRMS dan BMS Terhadap Tingkat
Pelayanan Ruas Jalan Nasional Di Provinsi Lampung, Universitas
Lampung.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan.
Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Undang-undang Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan
Universitas Lampung. 2012. Format Penulisan Karya Ilmiah Universitas
Lampung. Unila Offset. Bandar Lampung.