Text 1 ABSTRAK pdf
Full text
(2) ABSTRAK. PENGARUH PENINGKATAN DOSIS PUPUK ORGANIK DAN PENGGUNAAN PUPUK HAYATI TERHADAP PRODUKSI TANAMAN SELADA ROMAINE (Lactuca sativa L.) ORGANIK. Oleh Tri Budi Santoso. Selada romaine merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk terhadap kebutuhan gizi, menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran selada romaine.. Produksi selada yang kurang baik disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya keadaan tanah yang tidak subur, penggunaan lahan secara terus menerus tanpa adanya pengembalian bahan organik ke dalam tanah, rendahnya kandungan mikroba tanah, dan penggunaan pestisida kimia secara berlebih. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara melakukan pemupukan, baik menggunakan pupuk organik maupun pupuk hayati, sehingga kesuburan tanah dapat dikembalikan, serta melakukan budidaya sayuran selada romaine secara organik..
(3) Tri Budi Santoso. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 sampai dengan November 2016 di Bogor dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan dosis pupuk organik terhadap produksi tanaman selada romaine (Lactuca sativa L.) organik, mengetahui pengaruh penggunaan pupuk hayati (mikroba) terhadap produksi tanaman selada romaine (Lactuca sativa L) organik, dan mengetahui kombinasi terbaik antara dosis pupuk organik dan penggunaan pupuk hayati terhadap produksi tanaman selada romaine (Lactuca sativa L.) organik.. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan faktor pertama dosis pemberian pupuk organik dan faktor kedua konsentrasi pupuk hayati. Faktor pertama terdiri atas lima taraf yaitu A0 = tanpa pupuk organik, A1= 5ton/ha, A2= 10 ton/ha, A3= 15 ton/ha, dan A4= 20 ton/ha. Faktor kedua terdiri atas dua taraf yaitu B0= tanpa pupuk hayati, dan B2= 0,2 ml/liter. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran dianalisis dengan menggunakan uji Bartllet. Data yang telah homogen diuji kembali dengan uji F. Jika hasil sidik ragam menunjukan perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut dengan uji Polinomial Ortogonal.. Kesimpulan yang didapat pada penelitian ini adalah pemberian pupuk organik dengan dosis sampai dengan 20 ton/ha masih dapat meningkatkan produksi tanaman selada romaine, pemberian pupuk hayati dengan konsentrasi 0,2 ml/liter, belum dapat meningkatkan hasil produksi secara nyata pada tanaman selada romaine, dan pemberian dosis pupuk organik dan konsentrasi pupuk hayati tidak dapat memberikan hasil yang nyata terhadap produksi tanaman selada romaine.. Kata Kunci : Pupuk organik, Pupuk hayati, dan Selada romaine..
(4) PENGARUH PENINGKATAN DOSIS PUPUK ORGANIK DAN PENGGUNAAN PUPUK HAYATI TERHADAP PRODUKSI TANAMAN SELADA ROMAINE (Lactuca sativa L.) ORGANIK. Oleh TRI BUDI SANTOSO. Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN Pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung. FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2018.
(5)
(6)
(7)
(8) RIWAYAT HIDUP. Tri Budi Santoso. Penulis dilahirkan di Bandar Jaya pada tanggal 5 April 1993. Penulis adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Mad Said Alm. dan Ibu Tukirah.. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDN 1 Poncowati, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah tahun 2005. Pada tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menegah pertama di MTS N Poncowati, dan menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di MAN Poncowati pada tahun 2011.. Pada tahun 2012 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui Seleksi PMPAP. Pada bulan Juli-Agustus 2015 penulis melaksanakan Praktik Umum (PU) di PT. Gread Gian Pineapple (GGP) Terbanggi Besar, Lampung Tengah, pada bulan Januari-Maret 2016, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Pemancar, Kecamatan Pesisir Utara, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.. Selama masa kuliah, penulis pernah menjadi asisten dosen pada mata kuliah Produksi Tanaman Sayuran, Lansekap Hortikultura, Kewirausahaan, Produksi Tanaman Hortikultura, pada tahun 2014-2016. Selama kuliah penulis pernah mengikuti organisasi di internal dan eksternal kampus..
(9) Organisasi internal kampus seperti Persatuan Mahasiswa Agroteknologi (PERMA-AGT) pada tahun 2013-2014 penulis menjadi Anggota Pengembangan Minat dan Bakat, dan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Forum Studi Islam (UKMF FOSI) pada tahun 2013-2014 penulis menjadi anggota Media Center Fakultas. Pada bulan Mei 2016 – Saat ini Februari 2018 penulis bekerja di kebun CV. Citra Sehat Organik di Bogor, sebagai kepala bagian produksi sayur organik..
(10) “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al Baqarah :153). “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“ (QS Al Baqarah : 286). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS Ar Ra’d : 11).
(11) Dengan mengucap rasa syukur “Alhamdulillah”” Kupersembahkan karya sederhana ini sebagai bakti, hormat, tanggung jawab, dan terima kasihku. Kepada:. Ayahanda Mad Said Alm. dan Ibunda Tukirah. Kakak-kakaku. Natalis Sudarmanto Dwi Ayu Septiana. Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan semangat, dorongan, kekeluargaan serta do’a dalam setiap langkah-langkah Penulis.. Almamaterku tercinta. Universitas Lampung.
(12) SANWACANA. Puji syukur Alhamdulillahirobbil’alamin penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, rezeki dan segala nikmat yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan kali ini dengan segenap rasa hormat penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada 1.. Bapak Ir. Kus Hendarto, M.S., selaku Pembimbing Utama, atas bimbingan, ilmu, kesabaran, nasihat, dan motivasi yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan penulisan skripsi ini.. 2.. Bapak Ir. Yohannes C. Ginting, M.S., selaku Pembimbing Kedua, atas bimbingan, ilmu, nasihat, kesabaran dan motivasi serta bantuan materil selama Penulis menjalankan penelitian hingga selesai penulisan skripsi ini.. 3.. Ibu Ir. Tri Dewi Andalasari, M.Si., selaku Pembahas yang telah memberikan motivasi, arahan serta nasihat dalam penulisan skripsi ini.. 4.. Ibu Ir. Ardian, M.Agr., selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama masa kuliah.. 5.. Ibu Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung.. 6.. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung..
(13) 7.. Kedua orang tuaku Ibu Tukirah dan Bapak Mad Said Alm. yang telah mencurahkan segala cinta, kasih sayang, perhatian, do’a yang tulus, pengalaman hidup dan segalanya yang sangat berarti untuk penulis sepanjang hidup penulis.. 8.. Kedua kakakku Natalis Sudarmanto dan Dwi Ayu Septiana yang telah memberikan motivasi, perhatian, kasih sayang, do’a yang tulus dan pengorbanan material.. 9.. Teman-teman yang telah membantu penelitianku Deden dan Suryono.. 10. Para sahabatku Tri Saloka, Raditiya Juniarto, Tegar Rafshodi Awang, Lela Komalasari, Ahmad Satrio, Yuana Ariyanti, Jamaludin, Kiki Ariska, Gede Adi Rinata, Ende, Deni Saputra, Jaylani dan yang lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. 11. Almamaterku tercinta Universitas Lampung.. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, dan Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat. Aamin.. Bandar Lampung, Penulis. Tri Budi Santoso.
(14) i. DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR ISI................................................................................................ i. DAFTAR TABEL........................................................................................ iii. DAFTAR GAMBAR ................................................................................... iv. I. PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5. Latar Belakang dan masalah ........................................................... Rumusan Masalah ........................................................................... Tujuan Penelitian............................................................................. Kerangka Pemikiran ........................................................................ Hipotesis........................................................................................... 1 3 3 4 6. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Selada ............................................................................ 2.2 Pertanian Organik ......................................................................... 2.2.1 Deskripsi Pertanian Organik ................................................ 2.2.1 Kelebihan dan Kekurangan Pertanian Organik.................... 2.2 Bahan Organik .............................................................................. 2.2.1 Deskripsi Pupuk Organik .................................................... 2.2.2 Fungsi Pupuk Organik......................................................... 2.3 Pupuk Hayati.................................................................................. 2.3.1 Deskripsi Pupuk Hayati....................................................... 2.3.2 Bio Max Grow..................................................................... 2.3.3 Kelebihan Penggunaan Pupuk Organik................................ 7 8 8 9 9 9 11 11 11 12 13. III. BAHAN DAN METODE 3.1 3.2 3.3 3.4. Tempat dan Waktu Penelitian....................................................... Bahan dan Alat.............................................................................. Metode Penelitian ......................................................................... Pelaksanaan Penelitian.................................................................. 3.4.1 Bahan Tanam....................................................................... 3.4.2 Persiapan Lahan Penelitian.................................................. 3.4.3 Aplikasi Pupuk Organik dan Pupuk Hayati......................... 3.4.4 Penanaman........................................................................... 3.4.5 Penyulaman ......................................................................... 3.4.6 Pemeliharaan ........................................................................ 14 14 15 17 17 17 17 18 18 18.
(15) ii 3.4.7 Panen ................................................................................... 3.5 Variabel Pengamatan ..................................................................... 19 19. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.2 Hasil .............................................................................................. 4.1.1 Analisis Data Polinomial Ortogonal Terhadap Variabel Pengamatan .......................................................................... 4.1.2 Jumlah Daun ........................................................................ 4.1.3 Lebar Daun........................................................................... 4.1.4 Kanopi Daun ........................................................................ 4.1.5 Bobot Tanaman.................................................................... 4.1.6 Bobot Akar .......................................................................... 4.2 Pembahasan.................................................................................... 20 20 20 22 22 23 24 25. V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ....................................................................................... 5.2 Saran .............................................................................................. 29 29. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 30. LAMPIRAN................................................................................................. 33. Tabel 5-29 ............................................................................................ Gambar 7-14 ......................................................................................... 34 54.
(16) iii. DAFTAR TABEL. Tabel. Halaman. 1.. Parameter pupuk organik MPS (Multidaya Putra Sejahtera)..................... 14. 2.. Kandungan pupuk hayati BMG (Bio Max Grow) ..................................... 15. 3.. Perlakuan dalam penelitian ........................................................................ 16. 4.. Data polinomial ortogonal ......................................................................... 21. 5.. Rata-rata jumlah daun ................................................................................ 34. 6.. Uji bartlett jumlah daun ............................................................................. 34. 7.. Nilai x jumlah daun.................................................................................... 35. 8.. Analisis ragam jumlah daun....................................................................... 36. 9.. Uji polinomial ortogonal jumlah daun ....................................................... 37. 10. Rata-rata lebar daun ................................................................................... 38. 11. Uji bartlett lebar daun ................................................................................ 38. 12. Nilai x lebar daun....................................................................................... 39. 13. Analisis ragam lebar daun.......................................................................... 40. 14. Uji polinomial ortogonal lebar daun .......................................................... 41. 15. Rata-rata kanopi tanaman........................................................................... 42. 16. Uji bartlett kanopi tanaman........................................................................ 42. 17. Nilai x kanopi tanaman .............................................................................. 43. 18. Analisis ragam kanopi tanaman ................................................................. 44.
(17) iv 19. Uji polinomial ortogonal kanopi tanaman ................................................. 45. 20. Rata-rata bobot tanaman ............................................................................ 46. 21. Uji bartlett bobot tanaman ......................................................................... 46. 22. Nilai x bobot tanaman ................................................................................ 47. 23. Analisis ragam bobot tanaman................................................................... 48. 24. Uji polinomial ortogonal bobot tanaman ................................................... 49. 25. Rata-rata bobot akar ................................................................................... 50. 26. Uji bartlett bobot akar ................................................................................ 50. 27. Nilai x bobot akar....................................................................................... 51. 28. Analisis ragam bobot akar.......................................................................... 52. 29. Uji polinomial ortogonal bobot akar.......................................................... 53.
(18) v. DAFTAR GAMBAR. Gambar. Halaman. 1.. Denah percobaan........................................................................................ 16. 2.. Pengaruh peningkatan dosis pupuk organik tanpa pupuk hayati terhadap jumlah daun tanaman selada romaine ........................................................ 21. 3.. Pengaruh peningkatan dosis pupuk organik tanpa pupuk hayati dan dengan pupuk hayati terhadap jumlah daun tanaman selada romaine................... 22. 4.. Pengaruh peningkatan dosis pupuk organik tanpa pupuk hayati terhadap kanopi tanaman selada romaine ................................................................. 23. Pengaruh peningkatan dosis pupuk organik tanpa pupuk hayati terhadap bobot tanaman selada romaine................................................................... 24. Pengaruh peningkatan dosis pupuk organik tanpa pupuk hayati terhadap bobot akar tanaman selada romaine ........................................................... 25. 7.. Lebar daun perlakuan pupuk organik tanpa pupuk hayati ......................... 54. 8.. Lebar daun perlakuan pupuk organik dengan pupuk hayati ...................... 54. 9.. Kanopi tanaman perlakuan pupuk organik tanpa pupuk hayati ................. 54. 10. Kanopi tanaman perlakuan pupuk organik dengan pupuk hayati .............. 54. 11. Bobot tanaman perlakuan pupuk organik tanpa pupuk hayati................... 55. 12. Bobot tanaman perlakuan pupuk organik dengan pupuk hayati ................ 55. 13. Bobot akar perlakuan pupuk organik tanpa pupuk hayati.......................... 55. 14. Bobot akar perlakuan pupuk organik dengan pupuk hayati....................... 55. 5.. 6..
(19) 1. I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia serta meningkatnya kesejahteraan dan kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan gizi, menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran.. Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, ekonomis, dan bisnis, selada layak diusahakan untuk memenuhi permintaan konsumen yang cukup tinggi, baik lokal maupun ekspor (Haryanto dkk., 2003). Permintaan akan kebutuhan sayuran selada romaine yang semakin meningkat di pasaran merupakan salah satu peluang bisnis yang menguntungkan. Selada romaine biasanya dipanen dalam bentuk segar dan digunakan dalam pembuatan salad dan dikonsumsi mentah. Namun budidaya yang kurang baik menyebabkan kendala dalam produksi dan kesehatan.. Produksi selada yang kurang baik disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, keadaan tanah yang tidak subur sebagai akibat dari penggunaan lahan secara terus menerus tanpa adanya pengembalian bahan organik ke dalam tanah, kandungan mikroba tanah yang semakin sedikit akibat penggunaan pestisida kimia secara berlebih..
(20) 2. Menurut Nazarudin (2000) kandungan tanah yang masam dapat menyebabkan daun selada menjadi kuning dan pertumbuhan terganggu. Penambahan pupuk organik merupakan salah satu kunci dalam meningkatkan kesuburan tanah termasuk meningkatkan pH tanah.. Selain bahan organik yang cukup, tanah juga membutuhkan mikroba tanah yang berguna untuk meningkatkan penyerapan unsur hara di dalam tanah yang terjerap oleh koloid-koloid tanah. Pupuk hayati merupakan pupuk yang mengandung mikroorganisme yang dapat mempercepat laju dekomposisi bahan-bahan organik agar cepat terurai. Mikroba yang terdapat di dalam pupuk hayati selain mempercepat laju dekomposer juga dapat menambat unsur hara N, dan pelarut unsur hara P dan K di dalam tanah. Kelompok mikroorganisme tersebut antara lain seperti Rhizobium sp, Azospirilium sp, Azotobacter sp, Aspergillus sp, Pseudomonas sp, dan Lactobacillus sp. (Andriawan, 2010). Selain itu mikroba yang terdapat di dalam pupuk hayati juga dapat menekan penyebaran penyakit yang ada di dalam tanah. Pemberian pupuk hayati di dalam tanah dapat menambahkan kandungan hara di dalam tanah, sehingga dengan mekanisme tertentu tanaman akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, serta produksi akan maksimal.. Selada romaine merupakan salah satu sayuran yang dikonsumsi dalam bentuk segar, penggunaan pestisida yang berlebih dapat menyebabkan masalah yang serius bagi kesehatan. Menurut Almatsier (2014) bahwa sayuran dapat menimbulkan penyakit apabila tercemar oleh logam berat. Pencemaran logam berat pada sayuran berasal dari penggunaan pupuk, pestisida, serta polusi udara.
(21) 3. yang dapat menurunkan kandungan vitamin dan unsur mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Budidaya selada romaine secara organik merupakan salah satu solusi untuk menghasilkan produk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian yang berkaitan tentang pengaruh peningkatan pupuk organik dan penggunaan pupuk hayati terhadap produksi selada romaine organik.. 1.2 Rumusan Masalah. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah yang dirumuskan sebagai berikut: 1. Apakah terdapat pengaruh dari peningkatan dosis pupuk organik terhadap produksi tanaman selada romaine organik? 2. Apakah terdapat pengaruh dari penggunaan pupuk hayati terhadap produksi tanaman selada romaine organik? 3. Apakah terdapat interaksi peningkatan dosis pupuk organik dan pengguanaan pupuk hayati terhadap produksi tanaman selada romaine organik?. 1.3 Tujuan Penelitian. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : 1. Mengetahui pengaruh peningkatan dosis pupuk organik terhadap produksi tanaman selada romaine organik..
(22) 4. 2. Mengetahui pengaruh penggunaan pupuk hayati terhadap produksi tanaman selada romaine organik. 3. Mengetahui kombinasi terbaik antara dosis pupuk organik dan penggunaan pupuk hayati terhadap produksi tanaman selada romaine organik.. 1.4 Kerangka Pemikiran. Semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat menyebabkan permintaan akan sayuran sehat semakin bertambah, salah satunya adalah tanaman selada romaine. Salah satu penyebab meningkatnya permintaan sayuran selada romaine di pasar, karena semakin banyak masyarakat yang memahami akan pentingnya kesehatan. Menurut Supriati dan Herliana (2014) selada memiliki banyak manfaat antara lain dapat memperbaiki organ dalam, mencegah panas dalam, melancarkan metabolisme, membantu menjaga kesehatan rambut, mencegah kulit menjadi kering, dan dapat mengobati insomia. Kandungan gizi yang terdapat pada selada adalah serat, provitamin A (karotenoid), kalium dan kalsium.. Selada romaine merupakan salah satu sayuran yang dikonsumsi dalam bentuk segar, sehingga tampilan fisik dan kesehatan produk merupakan hal yang sangat penting dalam produksi. Budidaya sayuran selada romaine yang kurang baik menyebabkan kendala dalam produksi. Selada romaine merupakan tanaman sayuran yang memiliki umur yang pendek, selain memiliki umur yang pendek selada romaine juga memiliki akar yang dangkal dan lemah. Hal ini menyebabkan sulitnya tanaman untuk menyerap nutrisi yang ada di dalam tanah, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman selada romaine menjadi terganggu..
(23) 5. Penyebab lain dari produksi yang kurang optimal adalah buruknya kualitas tanah. Salah satu penyebab buruknya kualitas tanah adalah minimnya kandungan bahan organik dan mikroba yang ada di dalam tanah. Bahan organik merupakan salah satu faktor yang sering terlupakan dalam kegiatan budidaya, sehingga menyebabkan produksi sayuran selada menjadi kurang baik. Menurut Rosmarkam dan Nasih (2002) bahwa bahan organik memperbaiki kehidupan biologi tanah (baik hewan tingkat tinggi ataupun tingkat rendah) menjadi lebih baik karena ketersediaan makan lebih terjamin. Menurut Tian (1997) Bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan cara pemupukan. Pupuk yang baik untuk memperbaiki sifat fisik, sifat biologi, dan sifat kimia tanah adalah pupuk organik. Pupuk organik merupakan hasil akhir dari perubahan atau peruraian bagian dan sisa-sisa tanaman dan hewan. Selain penggunaan pupuk organik, tanah juga memerlukan mikroba tanah sebagai pendekomposer sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati. Mikroba tanah dapat ditambah melalui aplikasi pupuk hayati. Mikroba terpilih dalam pupuk hayati dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap tanaman.. Selain itu penyebab lain dari produksi yang kurang baik adalah penggunaan pestisida secara berlebih, penggunaan pestisida secara berlebih dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan. Selada romaine merupakan sayuran yang.
(24) 6. dikonsumsi dalam bentuk segar, sehingga kesehatan produk merupakan hal yang penting dalam produksi. Budidaya secara organik merupakan salah satu cara yang baik untuk menghasilkan produksi sayuran yang sehat.. Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk hayati dengan budidaya secara organik, diharapkan mampu mengembalikan kesuburan tanah dan kesehatan sayuran yang dihasilkan, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi dan keamanan produk tanaman selada romaine yang dihasilkan.. 1.5 Hipotesis. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dalam kerangka pemikiran, maka disusun hipotesis sebagai berikut : 1. Peningkatan dosis pupuk organik dapat meningkatkan produksi tanaman selada romaine organik. 2. Penggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan produksi tanaman selada romaine organik. 3. Terdapat interaksi antara peningkatan dosis pupuk organik dengan penggunaan pupuk hayati dalam meningkatkan produksi tanaman selada romaine organik..
(25) 7. II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Tanaman Selada. Selada merupakan tumbuhan sayur yang biasa ditanam di daerah yang beriklim sedang maupun yang beriklim tropis yang diduga berasal dari Asia Barat atau Amerika (Haryanto, 2003). Dataran tinggi yang beriklim lembab menyebabkan produktivitas selada cukup baik, di daerah pegunungan tanaman selada dapat membentuk bulatan krop yang besar, sedangkan pada daerah dataran rendah daun selada berbentuk krop kecil dan dan lebih cepat berbunga (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).. Menurut Cahyono (2014) selada yang dibudidayakan dan dikembangkan saat ini memiliki banyak varietas salah satunya yaitu selada rapuh (Cos lettuce dan Romaine lettuce) selada yang memiliki ciri-ciri membentuk krop seperti tipe selada kepala. Tetapi krop pada tipe selada rapuh berbentuk lonjong dengan pertumbuhan meninggi, daunnya lebih tegak, dan kropnya berukuran besar dan kurang padat.. Selada memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar serabut menempel pada batang dan tumbuh menyebar ke semua arah pada kedalaman 20-50 cm atau lebih (Saparinto, 2013). Umur panen selada berbeda-beda menurut kultivar dan.
(26) 8. musim, umurnya berkisar 30-85 hari setelah pindah tanam (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).. Syarat tumbuh tanaman, selada dapat tumbuh di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi (pegunungan). Pada daerah pegunungan, daun dapat membentuk krop yang besar sedangkan didataran rendah daun dapat membentuk krop yang kecil, tetapi cepat berbunga. Selada dapat tumbuh pada jenis tanah lempung berdebu, berpasir dan tanah yang masih mengandung humus. Meskipun demikian, selada masih toleran terhadap tanah-tanah yang miskin hara dan ber pH netral. Jika tanah asam, daun selada akan menjadi berwarna kuning. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pengapuran terlebih dahulu sebelum penanaman (Nazaruddin, 2000). Syarat penting agar selada dapat tumbuh dengan baik yaitu memiliki derajat keasaman tanah pH 5-6.5 (Sunarjono, 2014).. 2.2 Pertanian Organik. 2.2.1 Deskripsi Pertanian Organik. Pertanian organik merupakan suatu sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur ulang hara secara hayati. Daur ulang hara dapat melalui sarana limbah tanaman dan ternak serta limbah lainnya yang mampu memperbaiki status kesuburan tanah dan struktur tanah (Sutanto, 2002). Menurut AOI (2009), Pertanian Organik merupakan pertanian yang selaras dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam yang telah menghidupi segala makhluk hidup berjuta-juta tahun lamanya..
(27) 9. 2.2.2 Kelebihan dan Kekurangan Pertanian Organik. Menurut Pracaya (2004) dalam Fardiaz (2008), sistem pertanian organik mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan sistem pertanian non organik. Kelebihan dari digunakannya sistem pertanian organik antara lain : 1. Tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah, air, maupun udara, serta produknya tidak mengandung racun 2. Produk tanaman organik lebih mahal.. Sistem pertanian organik juga mempunyai faktor kekurangan atau kelemahan, yaitu sebagai berikut : 1. Kebutuhan tenaga kerja lebih banyak, terutama untuk pengendalian hama dan penyakit. Umumnya, pengendalian hama dan penyakit masih dilakukan secara manual. Apabila menggunakan pestisida alami, perlu dibuat sendiri karena pestisida ini belum ada di pasaran. 2. Penampilan fisik tanaman organik kurang bagus (misalnya berukuran lebih kecil dan daun berlubang-lubang) dibandingkan dengan tanaman yang dipelihara secara non-organik.. 2.3 Bahan Organik. 2.3.1 Deskripsi Pupuk Organik. Pupuk organik merupakan kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi.
(28) 10. (Hanafiah, 2014). Bahan organik tanah terbentuk dari jasad hidup tanah yang terdiri atas flora dan fauna, perakaran tanaman yang hidup dan yang mati, yang terdekomposisi dan mengalami modifikasi serta hasil sintesis baru yang berasal dari tanaman dan hewan (Sutanto, 2005). Sumber utama bahan organik bagi tanah berasal dari jaringan tanaman, baik berupa sampah-sampah tanaman ataupun sisa-sisa tanaman yang telah mati. Bahan-bahan organik yang berasal dari serasah, sisa-sisa tanaman yang telah mati, limbah atau kotoran hewan, di dalam tanah akan diaduk-aduk dan dipindah-pindahkan oleh jasad renik. Selanjutnya dengan kegiatan berbagai jasad renik (terutama jasad renik tanah) bahan organik itu melalui berbagai proses yang rumit dirombak menjadi bahan organik tanah yang siap dipakai oleh tanaman (Sutedjo, 1999).. Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah serta sebagai sumber nutrisi tanaman. Secara umum kandungan nutrisi hara dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun anaerob. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti sisa-sisa tanaman (jerami, batang, dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak (sapi, kambing, ayam), arang sekam, dan abu dapur (Deptan, 2006)..
(29) 11. 2.3.2 Fungsi Pupuk Organik. Banyak sifat baik pupuk organik terhadap kesuburan tanah antara lain sebagai berikut : a. Bahan organik dalam proses mineralisasi akan melepaskan hara tanaman yang lengkap (N, P, K, Ca, Mg, S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak terlalu banyak dan relatif kecil. b. Bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah, dan mudah ditembus akar. c. Bahan organik dapat mempermudah pengolahan tanah-tanah yang berat. d. Bahan organik meningkatkan daya menahan air, sehingga kemampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak. e. Bahan organik meningkatkan KTK (kapasitas tukar kation) sehingga kemampuan mengikat kation menjadi lebih tinggi. f. Bahan organik memperbaiki kehidupan biologi tanah (baik hewan tingkat tinggi ataupun tingkat rendah) menjadi lebih baik karena ketersediaan makan lebih terjamin (Rosmarkam dan Nasih, 2002).. 2.4 Pupuk Hayati. 2.4.1 Deskripsi Pupuk Hayati. Pupuk hayati (biofertilizer) adalah suatu bahan yang berasal dari jasad hidup, khususnya mikrobia, yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi suatu tanaman. Dalam hal ini yang dimaksud dengan berasal dari jasad hidup adalah mengacu pada hasil proses mikrobiologis (Suba Rao, 1994)..
(30) 12. 2.4.2 Bio Max Grow. Pupuk hayati yang digunakan dalam penelitian pada kali ini adalah Bio Max Grow (BMG), yang mengandung bakteri Azospirillum sp., Azotobacter sp., Lactobacillus sp., Pseudomonas sp., mikroba pelarut fosfatase, mikroba selulolitik, hormon indole acetic acid, enzim alkaline fosfatase, enzim acid fosfatase (PT Unggul Niaga Selaras, 2015).. a. Azospirillum sp. Azospirillum merupakan salah satu bakteri penambat nitrogen yang hidup bebas dan dapat berasosiasi dengan rumput. Azospirillum sp. juga mampu menghasilkan zat pengatur tumbuh seperti IAA, giberelin, auksin, serta senyawa yang menyerupai sitokinin (Venkateswarlu dan Rao, 1983). b. Azotobacter sp. Azotobacter sp. adalah bakteri penambat nitrogen aerobik yang mampu menambat nitrogen dalam jumlah yang cukup tinggi antara 2-15 mg nitrogen/gram (Subba Rao, 1994). c. Lactobacillus sp. Lactobacillus sp. berfungsi untuk menghambat mikroorganisme lain yang tidak dikehendaki (Utama, dkk., 2013). d. Pseudomonas sp.dan Mikroba Pelarut Fosfat Mikroba pelarut fosfat seperti Bacillus sp. dan Peseudomonas sp. merupakan mikroba tanah yang mempunyai kemampuan melarutkan P tidak tersedia menjadi tersedia. Hal ini terjadi karena bakteri tersebut mampu mensekresi asam-asam organik yang dapat membentuk kompleks stabil dengan kation-kation pengikat P.
(31) 13. di dalam tanah dan asam-asam organik tersebut akan menurunkan pH dan memecahkan ikatan pada beberapa bentuk senyawa fosfat sehingga akan meningkatkan ketersediaan fosfat dalam larutan tanah (Subba Rao, 1994). e. Mikroba Selulolitik Bakteri selulolitik adalah bakteri yang mampu mendegradasi dan memanfaatkan selulosa sebagai sumber karbon dan energinya. Energi yang dihasilkan, digunakan untuk sintesis makromolekul seperti asam nukleat, lipid dan polisakarida untuk pertumbuhan dan perkembangan sel (Lynd dkk., 2012). f. Hormon Indole Acetic Acid Indole Acetic Acid (IAA) merupakan salah satu jenis hormon yang dapat memacu proses terbentuknya akar, merangsang pembentukan bunga dan buah, mencegah dormansi pucuk apikal (Widiastoety, D., 2014).. 2.4.2 Kelebihan Penggunaan Pupuk Hayati. Pupuk hayati berperan dalam mempengaruhi ketersediaan unsur hara makro dan mikro, efisiensi hara, kinerja sistem enzim, meningkatkan metabolisme, pertumbuhan, dan hasil tanaman (Agung dan Rahayu, 2004). Pupuk hayati bermanfaat untuk mengaktifkan serapan hara oleh tanaman, menekan soil borne disease, mempercepat proses pengomposan, memperbaiki struktur tanah, dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Bakteri Azotobacter sp. dan Azospirillum sp. termasuk bakteri aerob yang berasosiasi bebas dan berfungsi sebagai penambat nitrogen di dalam tanah (Simanungkalit, 2001)..
(32) 14. III. METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di lahan kebun CV. Citra Sehat Organik di Desa Suka Galih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan bulan Oktober 2016 sampai dengan November 2016.. 3.2 Alat dan Bahan. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cangkul, gelas ukur, kertas label, meteran, gembor, alat tulis, timbangan elektrik, plastik mulsa, dan bambu.. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain pupuk organik dengan merek dagang MPS (Multidaya Putra Sejahtera) (Tabel 1.), pupuk hayati dengan merek dagang BMG (Bio Max Grow) (Tabel 2.), serta benih selada romaine dengan merek dagang Know You Seed. Tabel 1. Parameter Pupuk Organik MPS (Multidaya Putra Sejahtera) No. 1. 2. 3. 4.. Parameter C Organik C/N Ratio pH Mikroba. Jumlah ≥ 12% 15-25 6-9. (PT. Multidaya Putra Sejahtera, 2009).
(33) 15. Tabel 2. Kandungan Pupuk Hayati BMG (Bio Max Grow No. 1 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.. Kandungan Azospirillum sp. Azotobacter sp. Lactobacillus sp. Mikroba Pelarut Fosfat Mikroba Selulolitik Peseudomonas sp. Hormon Indole Acetic Acid Enzim Alkaline Fosfatase Enzim Acid Fosfatase. Jumlah 0,4 x 106 Cfu/ml 8,5 x 106 Cfu/ml 12 x 106 Cfu/ml 7,2 x 106 Cfu/ml 5,3 x 106 Cfu/ml 5,9 x 106 Cfu/ml. (PT Unggul Niaga Selaras, 2015). 3.3 Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan faktor pertama dosis pemberian pupuk organik dan faktor kedua penggunaan pupuk hayati. Faktor pertama terdiri atas lima taraf yaitu A0 = tanpa pupuk organik, A1= 5 ton/ha, A2= 10 ton/ha, A3= 15 ton/ha, dan A4= 20 ton/ha. Faktor kedua terdiri atas dua taraf yaitu B0= tanpa pupuk hayati, dan B1= 0,2 ml/liter (Tabel 3). Seluruh perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan jumlah petak percobaan sebanyak 30 petak (Gambar 1). Setiap petak perlakuan ditanam 16 tanaman dengan jarak tanam antar tanaman 25 cm x 25 cm, sehingga populasi tanaman selada keseluruhan berjumlah 480 tanaman.. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran dianalisis dengan menggunakan uji Bartllet. Data yang telah homogen diuji kembali dengan uji F. Jika hasil analisis ragam menunjukan perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut dengan uji Polinomial Ortogonal..
(34) 16. Tabel 3. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian. P. Hayati P. Organik A0 (0 ton/ha) A1 (5 ton/ha) A2 (10 ton/ha) A3 (15 ton/ha) A4 (20 ton/ha). B0 (0 ml/liter) A0 B0 A1 B0 A2 B0 A3 B0 A4 B0. A4B0. A3B0. A2B0. A2B1. A4B1. A4B0. A1B1. A0B1. A4B1. A1B0. A2B1. A0B1. B1 (0,2 ml/liter) A0 B1 A1 B1 A2 B1 A3 B1 A4 B1. Keterangan : A0 = Tanpa Pupuk Organik A1 = Pupuk organik5 ton/ha A2 = Pupuk organik10 ton/ha A3 = Pupuk organik15 ton/ha A4 = Pupuk organik20 ton/ha B0 = Tanpa Pupuk Hayati. A4B1. A1B1. A3B1. A3B1. A0B0. A1B0. A2B0. A4B0. A1B1. A3B0. A3B1. A2B1. A0B0. A2B0. A3B0. A0B1. A1B0. A0B0. Gambar 1. Denah Percobaan. B1 = P. Hayati 0,2 ml/l.
(35) 17. 3.4 Pelaksanaan Penelitian. 3.4.1 Bahan Tanam. Bahan tanam yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari benih selada romaine dengan merek dagang know you seed. Benih selada romaine ini kemudian disemaikan di dalam wadah semai dengan media pupuk kandang sapi dan tanah dengan perbandingan 1:1, selama kurang lebih 2 minggu. Bibit yang sudah siap tanam ditandai dengan ciri-ciri daun sejati sudah muncul minimal 3-4 daun.. 3.4.2 Persiapan Lahan Penelitian. Media yang digunakan sebagai tempat menanam adalah hamparan lahan yang terlebih dahulu dibersihkan dari sampah dan gulma. Setelah itu dibuat petak percobaan dengan ukuran 1 m x 1 m dan dilakukan pengolahan tanah.. 3.4.3 Aplikasi Perlakuan Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Aplikasi pupuk organik yaitu perlakuan A0, A1, A2, A3, A4 diaplikasikan pada saat pengolahan tanah dicampurkan dengan pupuk organik sesuai dengan perlakuan (A0= tanpa pupuk organik, A1= 0,5 kg/petak, A2= 1 kg/petak, A3= 1,5 kg/petak, A4= 2 kg/petak). Pupuk hayati yaitu perlakuan B0, B1, diaplikasikan mulai dari satu minggu setelah tanam dilakukan dan dilakukan setiap satu minggu sekali selama 4 minggu, dengan cara disiramkan pada permukaan tanah..
(36) 18. 3.4.4 Penanaman. Penanaman dilakukan setelah bibit tanaman selada romaine sudah siap ditanam dari tempat persemaian, dengan ciri-ciri bibit yang sudah siap dipindah tanam adalah jumlah daun sudah 3-4 daun, dengan cara menanam satu tanaman per satu lubang tanam dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm antar tanaman.. 3.4.5 Penyulaman Penyulaman tanaman dilakukan 3 hari setelah pindah tanam, jika tanaman ada yang menunjukan kematian dapat dilakukan penyulaman tanaman dengan benih tanaman selada romaine sisa dari penanaman yang ada dipersemaian.. 3.4.6 Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman selada romaine meliputi: 1. Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap hari tergantung dari kelembaban media tanam. Apabila media kering, maka dilakukan penyiraman tetapi jika media masih basah tidak perlu dilakukan penyiraman. 2. Penyiangan Gulma Penyiangan gulma dilakukan apabila gulma di media tanam atau sekitar lahan sudah tumbuh yaitu dengan cara mencabutnya secara manual. 3. Pengendalian hama dan penyakit Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan pestisida nabati pada tanaman selada romaine dan sekitar area penanaman..
(37) 19. 3.4.7 Panen. Pemanenan tanaman selada romaine dilakukan setelah selada berumur 5 minggu setelah pindah tanam, dengan cara mencabut tanaman selada romaine beserta akarnya. 3.5 Variabel Pengamatan. Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan setelah panen, adapun variabel yang diamati meliputi : 1.. Jumlah Daun Jumlah daun dihitung dengan cara menghitung semua daun yang tua hingga daun termuda.. 2.. Lebar Daun Pengukuran lebar daun dilakukan dengan cara mengambil daun ketiga dari daun yang tertua, dan diukur lebar daun pada bagian tengah daun menggunakan meteran jahit.. 3.. Kanopi Tanaman Pengukuran kanopi tanaman dilakukan dengan cara mengukur bagian keliling crop daun pada bagian tengah daun dengan menggunakan meteran jahit.. 4.. Bobot Tanaman Bobot tanaman diukur dengan cara menimbang bobot segar sampel tanaman beserta akar dengan menggunakan timbangan elektrik.. 5.. Bobot Akar Bobot akar diukur dengan cara memotong pangkal akar dan menimbangnya menggunakan timbangan elektrik..
(38) V. SIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Simpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Peningkatan dosis pupuk organik hingga 20 ton/ha meningkatkan hasil produksi secara linier pada tanaman selada romaine. 2. Penggunaan pupuk hayati 0,2 ml/l tidak memberikan pengaruh terhadap hasil produksi tanaman selada romaine. 3. Pengaruh peningkatan dosis pupuk organik terhadap produksi tanaman selada romaine tidak dipengaruhi oleh penggunaan pupuk hayati.. 5.2 Saran. Melalui hasil penelitian ini disarankan untuk melanjutkan penelitian dengan penambahan dosis pupuk organik dan penggunaan pupuk hayati yang lebih tinggi, sehingga efektifitas pemupukan dan peran mikroba menjadi lebih tinggi. Dengan demikian diharapkan hasil produksi tanaman menjadi lebih tinggi..
(39) 30. DAFTAR PUSTAKA. Aliansi Organik Indonesia. 2009. Statistik Pertanian Organik Indonesia 2009. Bogor. AOI. Agung, T. dan Rahayu, A.Y. 2004. Analisis efisiensi serapan N, pertumbuhan, dan hasil beberapa kultivar kedelai unggul baru dengan cekaman kekeringan dan pemberian pupuk hayati. Jurnal Agrisains. 6(2): 70-74 Almatsier, S. 2014. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. Gramedia Pustaka. Andriawan, I. 2010. Efektivitas Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.). Skripsi. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Bhon, H.L., Mcneal dan Oconnor, G.A. 1985. Soil Chemistry. New York. Chicester, Brisbane, Toronto. Cahyono, B. 2014. Teknik Budidaya Daya dan Analisis Usaha Tani Selada. Semarang. Aneka Ilmu. Departemen Pertanian. 2006. Teknik Pembuatan Kompos. http://deptan.go.id. Diakses 7 Mei 2016. Ebet, S.R.S., Jonatan, G., Sabrina, T. 2015. Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati Cair dan Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre Nursery. Jurnal Agroteknologi. 9(3) : 223-236 Fardiaz, Mendez. 2008. Pengaruh Karakteristik Pertanian Terhadap Tingkat Pengambilan Keputusan Inovasi Dalam Usaha Sayur Organik (Kasus Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor). Skripsi. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Hanafia, K.A. 2014. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta. Rajawali Pers. Hartatik, W. dan Widiowati L.R. 2010. Pupuk Kandang. http://www.balittanahlitbang. deptan.go.id. Diakses tanggal 27 Februari 2018. Haryanto, B., Suhartini, T., Rahayu, E., dan Sunarjo. 2003. Sawi dan Selada. Jakarta. Penebar Swadaya..
(40) 31. Khairunisa. 2015. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik, Anorganik dan Kombinasinya Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Hijau (Brassica juncea L. Var Kumala). Skripsi. Malang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Lakitan, B. 1996. Fisiologi Tumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Jakarta. Raja Gfrafindo. Lynd, L.R., Weimer, P.J., Van, Z., dan Pretorius, I.S. 2012. Microbial Cellulose Utilization, Fundamentals and Biotechnology. Microbiology and Molecular Biology Reviews. 66 (3): 506-577. Nazaruddin. 2000. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Jakarta. Penebar Swadaya. Noegraha, A. 2015. Penggunaan Pupuk Hayati untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. 82 hlm, PT. Multidaya Putra Sejahtera. 2009. Pupuk Organik. Gersik. Brosus Produk. PT. Unggul Niaga Selaras. 2015. Pupuk Hayati Bio Max Grow. Brosus Produk. Putri, S.L. 2016. Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk NPK dan Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sedap Malam. Skripsi. Universitas Lampung. 76 hlm. Rosmarkam, A., dan Yuwono, N.W. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta. Kanisius. Rubatzky, V.E. dan Yamaguchi, M. 1998. Sayuran Dunia 2, Prinsip, Produksi dan Gizi, Edisi Kedua. Bandung. ITB Ganesha. Saparinto, C. 2013. Gown Your Own Vegetables-Paduan Praktis Menenam Sayuran Konsumsi Populer di Pekaranagan. Yogyakarta. Lily Publisher. Simanungkalit, R.D.M. 2001. Aplikasi Pupuk Hayati dan Pupuk Kimia. Buletin Agrobiol (4) :56-61 Subba, Rao. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman, Edisi 2 (Terjemahan). Jakarta. Universitas Indonesia Press. Sunarjono, H. 2014. Bertanam 36 Jenis Sayuran. Jakarta. Penebar Swadaya. Supriati, Y. dan Herliana, E. 2014. Sayuran Organik Dalam Pot. Jakarta. Penebar Swadaya. Sutanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta. Kanisius..
(41) 32. Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta. Kanisius. Sutedjo, M.M dan Karta Sapoetra. 1999. Pengantar Ilmu Tanah. Jakarta. Rineka Cipta. Suwahyono, U. 2011. Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik Secara Efektif dan Efisien. Jakarta. Penebar Swadaya. Tian, G.L., Brussard, B.T., Kang dan M.J. Swift. 1997. Soil fauna-mediated decomposition of plant residues under contreined environmental and residue quality condition. In Driven by Nature Plant Litter Quality and Decomposition. Department of 30 Biological Sciences. University of London. Utama, C.S., Sulistiyanto, B., dan Setiani, B.E. 2013. Profil Mikrobiologis Pollard yang Difermentasi dengan Ekstrak Limbah Pasar Sayur pada Lama Peram yang Berbeda. Jurnal Agripet. 13(2) : 26-30. Venkatesswarlu, K. dan Rao A.V. 1983. Response of Pearl Millet to Inoculation With Different Straints of Azopirillum Brasilense. Plant Soil, (74) : 379387. Wachjar A. dan Supijatno. 2006. Pengaruh Beberapa Jenis Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan Dua Klon Tanaman Teh (Camellia sinesis L.) Belum Menghasilkan. Buletin Aronomi. (3) : 160-164. Widiastoety, D. 2014. Pengaruh Auksin dan Sitokinin Terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Mokara. Jurnal Horti, (3) : 230-238..
(42)
Figure
Related documents
The most comprehensive study in this context utilised a validated untargeted analysis using LC–MS with approximately 100 patients in each subject group (Kenny et al. 2010 ): It was
Frino et al (2003) and Gregoriou (2008) find that the asymmetric price impact of block purchases and sales is diminished in the DJIA and the LSE respectively, when price impacts
The Alcatel-Lucent Enterprise unified access solution includes network services that manage applications with state-of-the-art techniques, which identify applications and
The international surveys of institutional capacity for effective performance of the ITA coordination functions – Paris Declaration (2005) and Accra Agenda for Action (2008)
In developing the evaluation methodology, the expert panel focused on four geographic profiling software applications: CrimeStat, Dragnet, Predator, and Rigel Analyst.. Each of
It can be seen from Figure 5 that, for the inbank flow case, the surface velocities increase with the water levels for the winter month cases as expected from an open channel
Before discussing the results obtained using the system optimization method proposed in this paper, it is important to briefly discuss one of the salient features of