• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
68
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

HUBUNGAN KEGIATAN BERMAIN PERAN MAKRO DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN ANAK USIA DINI

KELOMPOK B DI TK TUTWURI HANDAYANI BANDAR LAMPUNG

(Skripsi)

Oleh

DINA VERONICA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

THE RELATION OF PLAYING MACRO CHARACTER ACTIVITY WITH CHILDREN’S ORAL COMMUNICATION DEVELOPMENT

GROUP B IN KINDER GARTEN OF BANDAR LAMPUNG By

DINA VERONICA

The problem of the research was the low of children’s oral communication development and the less of playing character activity in learning. The study simed to determine the correlation between the role playing sctivity with children oral communication ability in Tutwuri Handayani. This research was quantitative. The research used correlation method. This study was used spearman rank correlation test. population in this research were 30 childrens. Sample technique was used purposive sampling. Tecnicque collection using check list. The results of the study 30 children the positive collected by observationwith oral communication. The correlation between the role playing with the oral communication ability is 0,94. The result showed that there was positive correlation and very strong between role playing (X) and oral communication (Y). Role playing activity can children oral communication ability.

(3)

ABSTRAK

HUBUNGAN KEGIATAN BERMAIN PERAN MAKRO DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN ANAK KELOMPOK B DI TK

TUTWURI HANDAYANI BANDAR LAMPUNG

Oleh

DINA VERONICA

Masalah dalam penelitian ini adalah rendahknya kemampuan komunikasi lisan anak dan kurangnya kegiatan bermain peran dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kegiatan bermain peran makro dengan kemampuan komunikasi lisan kelompok B TK Tutwuri Handayani. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Tipe penelitian ini adalah korelasional atau penelitian yang melihat hubungan antara dua variabel. Penelitian ini menggunakan uji korelasi spearman rank. Penelitian ini merupakan purposive

sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 anak. Teknik pengambilan data

(4)

KELOMPOK B DI TK TUTWURI HANDAYANI BANDAR LAMPUNG

Oleh

DINA VERONICA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

MOTTO

“dan jika kamu menghitung

-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak

dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha

Pengampun lagi Maha Penyayang

(QS. An Nahl: 18)

“seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh

karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”

(HR. Abu Daud, no.4833 dan Tirmidzi, no. 2378)

“jika kamu mendidik seorang laki

-laki, maka kamu sedang mendidik

satu orang saja, tetapi jika kamu mendidik seorang perempuan maka

(10)

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya sehingga peneliti mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan kegiatan bermain peran makro

dengan kemampuan komunikasi lisan anak usia dini kelompok B di TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung.

Dengan kerendahan hati yang tulus peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung yang selalu mendukung pelaksanaan program di PGPAUD.

2. Ibu Dr. Riswanti Rini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung sekaligus Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan ilmu, saran dan masukan yang baik sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

(11)

meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan ilmu yang dimiliki dengan sabar dan ikhlas memberikan saran serta masukan selama proses pembuatan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.

4. Ibu Lilik Sabdaningtyas, M.Pd., selaku Pembahas yang telah memberikan dukungan, saran, serta masukan yang membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.

5. Ibu Nining Mulyati, S.Pd, M.Pd selaku Kepala TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung, serta Dewan Guru dan Staf Administrasi yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

6. Siswa-siswi TK Tutwuri Handayani yang telah membantu berpartisipasi aktif dan bekerjasama dalam penelitian ini.

7. Seluruh Staf pengajar PG-PAUD FKIP Universitas Lampung yang telah memberi ilmu pengetahuan kepada penulis selama kuliah.

8. Kedua orangtua, adik - adik beserta keluarga besar yang telah memberikan doa, motivasi serta bantuan dalam menyelesaikan studi ini.

9. Sahabatku dibangku kuliah Utari, Evi, Intan, Arini, Tyas, Wiwik dan Syafura serta seluruh sahabat-sahabatku serta rekan-rekan S-1 PG-PAUD angkatan 2012 yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuan, dukungan nasihat, motivasi dan doanya selama ini.

10. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam kelancaran penyusunan skripsi ini.

(12)

terdapat kekurangan, akan tetapi semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Bandar Lampung, 2017 Peneliti

(13)

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ...

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat penelitian ... 6

II. KAJIAN PUSTAKA A. Perkembangan Anak Usia Dini ... 8

1. Pengertian Perkembangan Anak Usia Dini ... 8

2. Lingkup Perkembangan Anak Usia Dini... 10

B. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini ... 11

1. Hakikat Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini ... 11

2. Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini... 14

C. Kemampuan Komunikasi Lisan Anak ... 18

1. Pengertian Kemampuan Komunikasi Lisan Anak ... 19

2. Tujuan Kemampuan Berkomunikasi Lisan Anak ... 20

3. Karakteristik Perkembangan Berkomunikasi Lisan Anak ... 21

D. Bermain Bagi Anak Usia Dini... 22

1. Pengertian Bermain ... 23

2. Manfaat Bermain Bagi Anak Usia Dini ... 24

3. Jenis Bermain ... 24

4. Bermain Peran Makro ... 31

(14)

III. METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian ... 38

B. Prosedur Penelitian ... 38

C. Lokasi Penelitian... 39

D. Populasi... 39

E. Teknik Pengumpulan Data... 40

F. Variabel Penelitian... 41

G. Instrumen Penelitian ... 42

H. Teknik Analisis Data ... 43

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 46

1. Sejarah Singkat TK Tutwuri Handayani ... 46

2. Visi, Misi dan Tujuan ... 47

3. Profil TK Tutwuri Handayani ... 48

B. Hasil Penelitian ... 49

1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 49

2. Data Penelitian ... 52

a. Data Variabel Kegiatan Bermain Peran Makro (X) ... 52

b. Data Variabel Kemampuan Komunikasi Lisan Anak (Y)... 53

C. Analisis Uji Hipotesis ... 54

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 56

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 59

B. Saran ... 59

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Tabel Kisi-kisi Instrumen Bermain Peran Makro ... 42

2. Tabel Kisi-kisi Instrumen Kemampuan Komunikasi Lisan ... 43

3. Tabel Jadwal dan Pokok Bahasan Pelaksanaan Penelitian ... 49

4. Tabel Rekapitulasi Kegiatan Bermain Peran Makro (X) ... 53

(16)

Gambar Halaman 1. Kerangka Pikir Penelitian... 37 2. Rumus Interval44

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian ... 68

2. Rubrik Penilaian Contextual Teaching and Learning (X)... 80

3. Rubrik Penilaian Keterampilan Sosial (Y) ... 82

4. Kisi-kisi Instrumen PenilaianContextual Teaching and Learning (X)... 84

5. Kisi-Kisi Instrumen Penilaian Keterampilan Sosial (Y) ... 85

6. Lembar Observasi Contextual Teaching and Learning (X) ... 86

7. Lembar Observasi Keterampilan Sosial (Y)... 88

8. Permohonan Uji Validitas Instrumen ... 90

9. Data Aktivitas bermain menggunakanCTL (X)... 98

10. Rekapitulsi Penilaian Aktivitas Bermain Menggunakan Pendekatan Contextual Teaching and Learning ... 106

11. Rekapitulasi Penilaian Keterampilan Sosial Anak ... 108

12. Tabel Penolong Untuk Menghitung Koefisien Korelasi Sperman Rank 110 13. Surat Izin Penelitian Pendahuluan ... 111

14. Surat Izin Penelitian... 112

15. Surat Balasan dari TK terkait dengan Izin Penelitian... 113

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kisi–kisi Instrument Bermain Peran Makro (X) ... 44

2. Kisi-kisi Instrument Kemampuan Komunikasi Lisan (Y) ... 45

3. Jadwal dan Pokok Bahasan Pelaksanaan Penelitian... 51

4. Rekapitulasi Data Kegiatan Bermain Peran Makro (X) ... 55

(19)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan modal utama bagi anak dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Melalui pendidikan dapat terwujudnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan sesuai dengan apa yang diperlukan. Untuk mewujudkan hal tersebut, anak harus dididik sejak dini. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam UUD RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 butir 14 tentang sistem pendidikan nasional:

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang ditunjukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan utuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

(20)

(golden age) sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan manusia, yang akan menentukan perkembangan pada anak.

Perkembangan anak usia dini dapat terstimulus dengan baik jika disesuaikan dengan tahap usia anak, hal ini penting bagi anak karena dengan mengembangkan kemampuan tersebut akan mempermudah anak untuk melanjutkan ketahap pendidikan selanjutnya. Adapun aspek-aspek perkembangan yang harus dikembangkan meliputi 6 aspek diantaranya agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, seni dan bahasa.

Bahasa merupakan salah satu kemampuan yang harus dikembangkan oleh anak, karena kemampuan berbahasa merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh anak agar dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang lain. Selain itu bahasa merupakan bentuk utama dalam mengekspresikan pikiran dan pengetahuan bila anak menjalin hubungan dengan orang lain. Adapun kemampuan berbahasa anak usia dini 5-6 tahun mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 137 Tahun 2014 tentang standar nasional pendidikan anak usia dini, lingkup perkembangan bahasa mencakup 3 diantaranya memahami bahasa, mengungkap bahasa, dan keaksaraan. Namun perlu adanya stimulus lewat lingkungan sehingga perkembangan pada anak dapat meningkat, salah satunya perkembangan bahasa,

Stimulasi yang paling baik diberikan pada anak adalah melalui kegiatan bermain.

(21)

3

melalui bermain. Hal ini senada dengan pendapat Armstrong (Musfiroh, 2005:58) bermain adalah untuk bersenang-senang, stimulasi kecerdasan tetaplah menjadi efek positif dari kegiatan tersebut. Melalui bermain, anak dapat belajar menggunakan bahasa secara tepat dan belajar mengkomunikasikannya secara efektif dengan orang lain. Melalui bermain pula sebenarnya anak belajar tentang berkomunikasi secara lisan.

Salah satu aktivitas bermain yang dapat mengembangkan kemampuan komunikasi lisan anak adalah dengan bermain peran makro. Bermain peran makro merupakan kegiatan yang dilakukan anak dengan menjadi tokoh dan menggunakan alat berukuran seperti sesungguhnya yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan suatu peran. Maka dari itu perlu adanya stimulus yang tepat dalam mengembangkan kemampuan komunikasi lisan anak agar dapat berkembang secara optimal .

(22)

daripada mengeluarkan pendapatnya, mengakibatkan bahasa dan komunikasi lisan yang dimiliki anak terbatas.dan lebih dari sebagian anak di kelas belum mampu ketika diminta untuk menceritakan kembali sesuatu peristiwa atau kejadian.

Kurangnya kemampuan anak dalam berkomunikasi seperti anak belum lancar berbicara sehingga sebagian besar anak masih terbata-bata ketika menjawab pertanyaan dari guru, sehingga suasana pembelajaran yang nampak menunjukkan kurangnya interaksi dan komunikasi antara anak dengan anak maupun antara anak dengan guru. Sebagai contoh: anak diminta oleh guru untuk bermain peran dokter-dokteran. Dilihat 13 dari 30 anak masih belum dapat menjawab pertanyaan terkait dengan peran yang dimainkan, 17 dari 30 anak masih belum dapat mengajukan pertanyaan kepada anak yang sedang memainkan peran, 20 anak masih sulit mengungkapkan informasi yang berhubungan dengan peran yang dimainkan dan 23 anak masih sulit menceritakan pengalaman atau kejadian yang dialami secara sederhana dan urut.

Permasalahan ini muncul disebabkan beberapa faktor penghambat diantaranya kegiatan pembelajaran yang didominasi oleh guru, APE dan media yang digunakan tidak menarik, serta tidak memberi kesempatan kepada anak untuk dapat berkomunikasi dengan baik.

(23)

5

pembelajaran karena pembelajaran didalam kelas yang dilakukan masih monoton sehingga anak lebih cepat merasa jenuh dan bosan. Faktor lain yang mempengaruhi yaitu kurangnya media pembelajaran yang mendukung kemampuan berkomunikasi lisan, hal ini menyebabkan anak tidak termotivasi untuk belajar secara aktif, kreatif dan dan menyenangkan.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan anak melalui kegiatan bermain peran makro karena dengan penerapan kegiatan bermain peran diharapkan dapat mengoptimalkan kemampuan komunikasi lisan pada anak. Melalui sebuah penelitian ini dapat menjawab beberapa permasalahan yang kerap dihadapi di masyarakat maupun di lembaga anak usia dini terkait dengan stimulasi berkomunikasi lisan bagi anak usia dini.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung maka dapat diperolehlah identifikasi masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Anak belum mau dalam mengutarakan pendapatnya kepada orang lain. 2. Anak belum lancar berbicara serta masih terbata-bata ketika

menjawab pertanyaan dari guru.

3. Masih kurangnya interaksi dan komunikasi antara anak dengan anak maupun antara anak dengan guru

(24)

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah maka perlu adanya pembatasan masalah, maka peneliti membatasi masalah yaitu sebagai berikut:

1. Kemampuan komunikasi lisan pada anak belum berkembang secara optimal

2. Subjek penelitian terfokus pada anak usia 5-6 tahun atau anak dikelompok B

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

“Apakah ada Hubungan Kegiatan Bermain Peran Makro dengan

Kemampuan Komunikasi Lisan Anak Kelompok B di TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kegiatan bermain peran makro dengan kemampuan komunikasi lisan pada anak usia dini kelompok B di TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun penelitian ini memiliki 2 manfaat yaitu manfaat teoritis dan praktis, yaitu :

1. Manfaat Secara Teoritis

(25)

7

pengembangan bahasa terutama pada kemampuan komunikasi lisan pada anak kelompok B.

2. Manfaat Secara Praktis a. Bagi Guru

Dengan kegiatan bermain peran guru diharapkan dapat

menggunakan metode ini sebagai salah satu rujukan untuk proses pembelajaran dikelas.

b. Bagi Sekolah

(26)

II. KAJIAN PUSTAKA

A. Perkembangan Anak Usia Dini

1. Pengertian Perkembangan Anak Usia Dini

Anak usia dini adalah anak yang berusia 0-6 tahun yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Menurut Fadlillah (2012:18) mengemukakan bahwa “Anak usia dini adalah anak

yang masuk dalam rentang usia 0-6 tahun yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dan bersifat unik”.

Senada dengan pendapat di atas menurut Marjory (Isjoni, 2011:19) mengemukakan bahwa ”Anak usia dini adalah anak mulai dari lahir

sampai umur enam tahun yang sedang dalam masa peka”. Sejak dini anak diberikan stimulus/rangsangan guna mengembangkan aspek pertumbuhan dan perkembangan anak baik jasmani maupun rohani.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang usia 0-6 tahun yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat yang merupakan masa peka anak.

(27)

9

(2007:20) mengemukakan pendapatnya bahwa “Perkembangan mengandung pengertian sebagai suatu konsep perubahan manusia yang mengarah pada kualitas substansi perilakunya, akibat proses perubahan fisik maupun proses pembelajaran.”

Perkembangan dalam hal ini dapat dicontohkan seperti halnya tahapan seorang bayi yang awalnya hanya dapat menangis, tidur makan serta minum saja. Setelah berumur satu tahun bayi sudah mampu tengkurep, tersenyum, memegang benda dan sebagainya. Dengan adanya perubahan tersebut menandakan bahwa bayi sudah dapat berkembanga menjadi semakin baik. Perkembangan ini merupakan suatu perubahan yang tidak hanya dilihat dari penambahan ukuran secara kuantitatif tetapi terdapat peningkatan secara kualitatif yang terjadi dalam sturuktur yang sistematis dan berurutan.

Sejalan dengan pendapat di atas menurut Aisyah (2008:2.5) mengemukakan bahwa “Perkembangan adalah suatu proses perubahan

secara berurutan dan progresif yang terjadi akibat kematangan dan pengalaman yang berlangsung sejak terjadinya konsepsi sampai meninggal dunia”.

(28)

masa keemasan (golden age) dimana pada masa ini pula segala bentuk perkembangan dapat distimulasi dengan mudah.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan perkembangan anak usia dini adalah tahapan perubahan yang terjadi secara pesat, baik secara kualitatif ataupun kuantitatif yang bersifat mendasar, yang terjadi akibat kematangan dan pengalaman pada anak usia 0-6 tahun.

2. Lingkup Perkembangan Anak Usia Dini

Usia dini merupakan masa perkembangan paling peka yang terjadi sepanjang kehidupan manusia maka dari itu masa usia dini kerap disebut sebagi masa peka. Pada masa peka ini individu berada dalam kondisi yang paling mudah untuk distimulasi,sehingga stimulasi yang sesuai akan membuat anak mampu mencapai perkembangan pada semua lingkup secara optimal. Lingkup perkembangan tersebut saling berkaitan satu sama lain dan dikembangkan secara terpadu serta berkesinambungan melalui program pengembangan anak usia dini. Adapun struktur Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini sebagaimana yang tercantum dalam Permendiknas No. 146 tahun 2014 memuat program pengembangan yang mencakup:

1 ) Pengembangan nilai agama dan moral, 2 ) Pengembangan fisik-motorik

3 ) Pengembangan kognitif 4 ) Pengembangan bahasa

5 ) Pengembangan sosial-emosional serta 6 ) Pengembangan seni

(29)

11

akan berkembang jika lingkungan disekitar anak dapat menyediakan suasana yang mendorong anak untuk aktif menggunakan berbagai kemampuan berbahasanya. Konteks bermain yang dimaksu disini berupa kegiatan bermain peran berkelompok, dimana dalam kegiatan bermain ini interaksi dan percakapan antar anak mendominasi jalannya permainan.

Keenam program pengembangan diatas secara alamiah telah ada dalam diri anak usia dini. Keenam hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan membentuk suatu hubungan koheren yang utuh dalam diri anak dan dikembangkan secara seimbang melalui kegiatan dalam konteks bermain yang sesuai. Dengan demikian akan mendukung terwujudnya tujuan pendidikan anak usia dini yang mampu `mengoptimalkan perkembangannya.

B. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

1. Hakikat Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Salah satu bidang pengembangan dalam pertumbuhan kemampuan dasar di taman kanak-kanak adalah pengembangan bahasa. Bahasa sebagai fungsi dari komunikasi memungkinkan dua individu atau lebih mengekspresikan berbagai ide, arti, perasaan dan pengalaman. Adapun pengertian bahasa menurut Badudu (Nurbiana, 2009:1.11) menyatakan bahwa “Bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antar anggota

masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginannya”.

(30)

tertulis atau tanda, yang didasarkan pada sistem simbol”. Bahasa yang

dimiliki oleh anak adalah bahasa yang telah dimiliki dari hasil pengolahan dan telah berkembang. Anak telah banyak memperoleh masukan dan pengetahuan tentang bahasa dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, juga lingkungan pergaulan teman sebaya, yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa ibu.

Kemampuan bahasa dipelajari dan diperoleh anak usia dini secara alamiah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Sebagai alat sosialisasi, bahasa merupakan suatu cara untuk merespon orang lain.

Bahasa ada yang bersifat reseptif dan ekspresif, reseptif adalah dimengerti dan diterima sedangkan ekspresif maksudnya ialah dinyatakan. Hal ini dinyatakan menurut Bromley (Nurbiana, 2009:1.19) “Bahasa bersifat reseptif (dimengerti, diterima) maupun

ekspresif (dinyatakan)”. Contoh bahasa reseptif adalah mendengarkan

dan membaca suatu informasi, sedangkan contoh ekspresif adalah berbicara dan menuliskan informasi untuk dikomunikasikan kepada orang lain”. Sementara itu, mengacu pada Undang-Undang No. 137 tahun 2014 bahasa dibagi dalam berbagai kemampuan yang terdiri dari: memahami bahasa reseptif, mengekspresikan bahasa dan keaksaraan.

(31)

13

visual dan verbal. Ketika anak memahami cerita perintah, aturan, menyenangi dan menghargai bacaan, mereka mahami bahasa berdasarkan konsep pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya.

Mengekspresikan bahasa, mencakup kemampuan bertanya, menjawab pertanyaan, berkomunikasi secara lisan, menceritakan kembali yang diketahui, belajar bahasa pragmatik, mengekspresikan perasaan, ide, dan keinginan dalam bentuk coretan. Anak ketika mengekspresikan bahasa melibatkan perpindahan arti kata berupa simbol visual atau verbal yang diproses maupun diekspresikan dengan cara menyusun bahasa dan mengonsepkan arti agar sesuai dengan maksud dan tujuannya.

Keaksaraan, mencakup pemahaman terhadap hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dalam cerita. Pemahaman ini didapat melalui kegitan pengenalan simbol-simbol huruf sebagai persiapan menulis dan membaca permulaan bagi anak.

(32)

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi baik itu lisan maupun tulisan yang menyatakan suatu pikiran, perasaan serta keinginannya. Adapun bahasa bersifat reseptif dan ekspresif, reseptif adalah mendengarkan dan membaca suatu informasi, sedangkan bahasa ekspresif adalah dinyatakan yaitu dengan berbicara dan menuliskan informasi untuk dikomunikasikan kepada orang lain.

b. Tahapan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Perkembangan bahasa merupakan suatu proses perubahan yang terjadi dalam suatu sistem yang tersusun dan teratur. Untuk itu perkembangan bahasa terdiri dari tahapan-tahapan tertentu. Santrock (2007: 356) membagi tahapan perkembangan bahasa anak usia dini menjadi dua tahapan yang terdiri dari : a. Masa bayi (0-24 bulan) b.Masa kanak-kanak awal (2-6 tahun).

Tahapan masa bayi (0-24 Bulan) menunjukkan perkembangan bahasa dengan pola-pola yang hampir sama pada semua bayi di dunia. Pola-pola perkembangan tersebut terdiri dari : (1) celoteh dan vokalisasi (2) mengenali bunyi-bunyi bahasa (3) kata-kata pertama (4) ucapan-ucapan dua kata.

(33)

15

Celoteh dan vokalisasi itu terjadi dalam rangkaian sebagai berikut : menangis,cooing (mendekut),celoteh dan gerakan.

Mengenali bunyi-bunyi bahasa mulai bayi lakukan sejak kelahiran hingga usia 6 bulan pertama,awalnya mereka hanya mampu mengenali perubahan bunyi suku kata saja,namun setelah enam bulan bayi akan menjadi semakin peka dalam merasakan perubahan bunyi dari bahasa mereka sendiri dan bahasa yang diucapkan oleh orang tuanya.

Kata-kata pertama pada bayi muncul pada usia 8-12 bulan. Hal ini terjadi karena bayi sudah mulai mengindikasikan pemahaman kata-kata mereka yang pertama. Kata-kata-kata pertama yang biasa muncul meliputi kata-kata penting disekitar anak,seperti pa-pa,ma-ma,cu-cu dan lain-lain.

Ucapan-ucapan dua kata mulai lazim muncul pada saat anak berusia 18-24 bulan. Untuk menyampaikan makna dengan hanya dua kata,anak sangat bergantung pada gerak tubuh,nada dan konteks. Pola yang terjadi pada tahapan ini memiliki kesamaan dengan pembicaraan telegrafis yaitu penggunaan kata-kata pendek dan singkat untuk menyampaikan suatu makna tanpa tanda-tanda gramatikal seperti kata kerja bantu dan kata-kata penghubung lain.

(34)

luas dari lingkungan keluarga. pola-pola perkembangan yang terjadi pada masa kanak-kanak awal meliputi : (1) pemahaman fonologi dan monologi (2) memahami sintaksis (3) kemajuaan-kemajuan dalam semantik (4) kemajuan-kemajuan dalam pragmatik

Pemahaman fonologi dan monologi ini ditunjukkan anak-anak melalui kesensitivitasan yang lebih tinggi terhadap kata-kata yang diucapkan. Hal ini dibuktikan dengan pemahaman anak tentang aturan-aturan morfologi misalnya mulai menggunakan awalan untuk kata kerja “mem” pada kata “membantu”

Memahami sintaksis merupakan perkembangan pada masa kanak-kanak awal yang ditunjukkan melalaui kemampuan anak dalam membedakan penggunaan kata pada kalimat tertentu misalnya pada kata tanya mereka memhami bebrapa kata dan dengan kalimat apa kata-kata tersebut dikombinasikan seperti kata “dimana dan kemana”.

Kemajuaan-kemajuan dalam semantik mulai terjadi pada usia 1 hingga mencapai 6 tahun,anak menunjukkan peningkatan yang terus menerus tentang pemahaman kata-kata. Rata-rata anak berusia 6 tahun mempelajari 22 kata baru per hari.

(35)

17

kemampuan berbicara mereka melalui imajinasi yang dikenal sebagai pemindahan (displacement).

Selain pembagian tahapan perkembangan bahasa diatas, Ramsey (dalam Beaty,2013: 315) membagi perkembangan bahasa anak prasekolah yang terdiri dari 4 tahapan sebagai berikut :

a. Praproduksi

Saat pertama kali memasuki lingkungan bahasa baru yang asing,mereka sering kali merespon dengan terdiam. Anak-anak yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua sering kali berkonsentrasi pada apa yang sedang dikatakan ketimbang berusaha mengatakan sesuatu.

b. Transisi ke Produksi

Saat anak-anak sudah makin nyaman mereka sering kali mulai berbicara dengan memberikan jawaban satu kata atas pertanyaan

c. Produksi Awal

Anak-anak mungkin akan merespon pertanyaan dan kegiatan dalam frasa singkat. Mereka mungkin bisa terlibat dalam percakapan sederhana bahkan melalui menggumam dan bernyanyi

d. Perluasan Produksi

Anak-anak berbicara dalam kalimat panjang,mengajukan pertanyaan,mengisahkan suatu cerita,melakukan permainan peran dan melakukan percakapan panjang.

(36)

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahasa anak usia dini berkembang seiring dengan bertambahnya uisa anak. Tahap perkembangan masa bayi dan kanak-kanak awal memilki pola perkembangan yang khas dalam setiap tahapannya. Sementara tahap perkembangan pada usia prasekolah menitik beratkan lingkungan baru sebagai sumber belajar yang mendukung perkembangan bahasa anak.

C. Kemampuan Komunikasi Lisan Anak Usia Dini

Kemampuan bahasa khususnya ranah mengungkapkan bahasa merupakan suatu aspek terpenting karena dengan mengungkapkan bahasa anak dapat mengekspresikan ide, pendapat dan gagasannya kepada orang lain. Anak sebagai individu yang aktif tentu harus memiliki modal kemampuan yang mendukung agar anak dapat mengungkapkan bahasa sesuai dengan maksud dan tujuannya. Kemampuan pendukung tersebut ialah kemampuan berkomunikasi lisan.

1. Pengertian Berkomunikasi Lisan Anak

Dhieni dkk (2009:1,9) menjelaskan berkomunikasi adalah “perpindahan suatu makna dari si pemberi pesan kepada si penerima

melalui suara, tanda dan bahasa tubuh. Sementara lisan sesuatu yang bersumber dari ucapan atau verbal”.

(37)

19

Bicara merupakan alat berkomunikasi, sejak usia awal anak telah mengetahui bahwa bicara merupakan alat yang lebih baik untuk berkomunikasi dibandingkan tangisan, isyarat dan bentuk prabicara lainnya sehingga muncul motivasi yang kuat untuk belajar berkomunikasi melalui bicara.

Berdasarkan uraian diatas maka bicara merupakan alat komunikasi yang telah disadari oleh anak sejak dini sebagai alat efektif untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya. Mulyasa (2012: 27) juga menjelaskan bahwa:

(38)

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa berkomunikasi lisan ialah suatu kemampuan berbahasa melalui berbicara untuk mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Kemampuan ini dikembangkan melalui situasi yang disukai anak yakni melalui kegiatan bermain yang menyenangkan.

2. Tujuan Kemampuan Berkomunikasi Lisan Anak

Kemampuan berkomunikasi lisan bagi anak memiliki tujuan secara umum yaitu, agar anak mampu berargumentasi meyakinkan orang lain melalui kata–kata yang diucapkan, memberikan ide dan gagasan yang dimiliki, dapat mengungkapkan perasaan yang dirasakan, bercerita mengenai pengalaman yang pernah dialami serta bertanya ataupun menjawab pertanyaan orang lain.

Tujuan pengembangan kemampuan berkomunikasi lisan menurut Campbell (sujiono 2013:57) adalah :

a. Agar anak mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan dengan baik

b. Memiliki kemampuan bahasa untuk meyakinkan orang lain c. Mampu mengingat dan menghafal informasi

d. Mampu memberikan penjelasan

e. Mampu untuk memnbahas bahasa itu sendiri

Sedangkan menurut Hartono (Suhartono 2005:123) tujuan umum dalam pengembangankemampuan komunikasi anak, yaitu :

a. Memiliki perbendaharaan kata yang cukup yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari–hari

b. Mampu mendengarkan dan memahami kata–kata serta kalimat c. Mampu mengungkapkan pendapat dan sikap dengan lafal yang

tepat

d. Berminat menggunakan bahasa yang baik

e. Berminat untuk menghubungkan antara lisan dan tulisan

(39)

21

seyogyanyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan.

Kesimpulan dari pendapat yang telah dipaparkan bahwa tujuan kemampuan berkomunikasi lisan dalam penelitian ini adalah membantu anak memiliki perbendaharaan kata untuk berkomunikasi dalam berinteraksi dengan teman sebaya, guru maupun orang lain, mampu mengungkapkan pendapat yang dimiliki dengan lafal yang tepat, berani bercerita mengenai pengalaman yang pernah dialami baik kepada guru, teman sebaya ataupun orang lain.

3. Karakteristik Kemampuan Berkomunikasi Lisan Anak

Kemampuan berkomunikasi lisan sangat penting untuk dikembangkan karena hal ini akan mendukung keterampilan anak untuk berbicara aktif mengekspresikan ide, gagasan dan perasaannya. Seiring dengan berkomunikasi lisan yang meningkat, komunikasi anak yang diawali dengan mengekspresikan suara saja meningkat menjadi komunikasi yang diekspresikan melalui ujaran yang jelas dan tepat. Menurut Suharto (dalam Choiriyah, 2014: 10) pengembangan bicara sebagai alat berkomunikasi memiliki tujuan umum, yaitu :

a. Anak dapat melafalkan bunyi bahasa yang digunakan secara tepat

b. Anak mempunyai perbendaharaan kata yang memadai untuk keperluan berkomunikasi

c. Dan anak mampu menggunakan kalimat secara baik.

(40)

dari 4-5 kata (b) mampu melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan (c) senang mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urut dan mudah dipahami (d) dapat mengajukan pertanyaan dengan kata apa, siapa dan mengapa (e) mengerti bentuk pertanyaan dengan kata apa, siapa dan mengapa (f) dapat mengulang dan menyanyikan lagu anak-anak sederhana (g) dapat menjawab telepon dan menyampaikan pesan sederhana (h) dapat berpesan serta dalam percakapan dan tidak mendominasi untuk selalu didengar.

Selain itu (Dhieni dkk, 2009: 3.7) menjelaskan Karakteristik komunikasi lisan meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, membandingkan dua hal, memahami konsep timbal balik, menyusun kalimat, mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana

Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan kemampuan berkomunikasi lisan anak usia dini dapat diidentifikasi melalui karakteristik sebagai berikut : (a) menjawab pertanyaan (b) mengajukan pertanyaan (c) melakukan kegiatan sesuai perintah lisan (d) menceritakan pengalaman atau kejadian secara sederhana dan urut.

D. Bermain Bagi Anak Usia Dini

(41)

23

menjadi kesenangan tetapi juga suatu kebutuhan yang mau tidak mau harus terpenuhi. Jika tidak tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik yang nantinya akan terlihat ketika anak sudah menjadi remaja.

1. Pengertian Bermain

Menurut Hurlock (Musfiroh, 2005:2) menjelaskan bahwa “Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan demi kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir”. Kegiatan tersebut dilakukan secara

sukarela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar. Tokoh lain dikemukakan Brooks (Latif, 2014:77), bahwa “Bermain (play) merupakan

istilah yang digunakan secara bebas sehingga arti utamanya hilang”.

Sejalan dengan pendapat di atas menurut Dworetsky (Moeslichatoen, 2004:24) mengungkapkan bahwa“Bermain merupakan kegiatan yang

memberikan kesenangan dan dilaksanakan untuk kegiatan itu sendiri, yang lebih ditekankan pada caranya daripada hasil yang diperoleh dari kegiatan itu”.

Berdasarkan hal tersebut maka disimpulkan, bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan tidak ada unsur paksaan dan merupakan faktor paling penting yang berpengaruh dalam periode perkembangan diri anak.

2. Manfaat Bermain bagi Anak Usia Dini

(42)

1. Bermain memengaruhi perkembangan fisik anak. 2. Bermain dapat digunakan sebagai terapi.

3. Bermain meningkatkan pengetahuan anak.

4. Bermain melatih penglihatan dan pendengaran anak. 5. Bermain memengaruhi perkembangan kreativitas anak. 6. Bermain mengembangkan tingkah laku sosial anak. 7. Bermain memengaruhi nilai moral anak

Adapun manfaat bermain menurut Moeslichatoen (2004:32), diantaranya: 1. Melalui kegiatan bermain anak dapat melakukan koordinasi

otot kasar.

2. Melalui kegiatan bermain anak dapat berlatih menggunakan kemampuan kognitif.

3. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreativitas.

4. Melalui kegiatan bermain anak juga mampu melatih kemampuan bahasa.

5. Melalui bermain anak dapat meningkatkan kepekaan emosi. 6. Melalui bermain anak dapat mengembangkan kemampuan

sosial.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukainya, adapun manfaat bermain bagi anak usia dini yakni dapat mempengaruhi perkembangan fisik yang ditandai dengan anak mampu melakukan koordinasi otot kasar, manfaat selanjutnya dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas anak, serta dapat mengembangkan prilaku sosial anak. Secara umum manfaat bermain dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan yang ada dalam diri anak dan sebagai kesiapan untuk melangkah ketahap perkembangan selanjutnya.

3. Jenis Bermain

a. Jenis Bermain Pada Anak Usia Dini

(43)

25

pembelajaran anak usia dini. Bahkan segala hal yang menarik bagi anak dapat digunakan sebagai cara bermain. Dari sekian bermain yang ada, Menurut Asmawati,dkk (2010:8) jenis bermain digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:

1. Main Sensorimotor atau Fungsional

Main sensorimotor pada anak usia dini merupakan rangsangan untuk mendukung proses kerja otak dalam mengelola informasi yang didapatkan anak dari lingkungan saat bermain, baik dengan tubuhnya sendiri maupun dengan berbagai benda disekitarnya.

2. Main Peran

Main peran kadang disebut juga main simbolik, main pura-pura, fantasi, imajinasi atau main drama.

3. Main Pembangunan

Main pembangunan anak dimulai dari bermain dengan benda yang bersifat cair (air, cat, pasir) sampai bahan yang sangat terstruktur.

Bermain merupakan kegiatan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Bermain harus dilakukan atas inisiatif anak dan atas keputusan anak sendiri. Bermain harus dilakukan dengan rasa senang sehingga semua kegiatan bermain yang menyenangkan akan menghasilakan proses belajar pada anak. Senada dengan pendapat di atas menurut Latif, dkk (2014:202) menyatakan bahawa “Dalam

kegiatan bermain hendaklah mendukung, diantaranya tiga jenis main, yaitu: sensorimotor, peran, dan pembangunan”.

(44)

merupakan permainan yang imajinatif atau berpura-pura saat memainkannya.

b. Pengertian Bermain Peran

Hakikat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan

emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan para peserta didik dapat mengeksplorasikan perasaannya, memperoleh wawasan tentang sikap, nilai, dan persepsinya, mengembangkan ketrampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi, dan mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.

Bermain peran merupakan bentuk pembelajaran, dimana peserta didik ikut terlibat aktif memainkan peran-peran tertentu. Anak berperan sesungguhnya menjadi seseorang atau sesuatu. Anak yang terlibat dalam main peran dapat menggunakan kesadarannya, kesadaran ini masih berbentuk imajinasi yang masih belum dapat ditangkap secara tepat oleh anak. Menurut Moeslichatoen (2004:38) bermain peran adalah:

Bermain yang menggunakan daya khayal yaitu dengan memakai bahasa atau berpura-pura bertingkah laku seperti benda tertentu, situasi tertentu, atau orang tertentu, dan binatang tertentu, yang dalam dunia nyata tidak dilakukan.

(45)

27

dengan karakter objek tertentu. Menurut Kamtini dan Husni (2005:60) “Bermain peran yaitu anak bermain dengan memerankan sebagai

guru, bapak, ibu, anak manja, anak yang nakal, kakek, nenek, tamu dan sebagainya”.

Senada dengan teori diatas Menurut Stasen Berger dan Garvey (Mayke, 2001:35) mengungkapkan bahwa “Bermain peran yaitu

kegiatan bermain khayal atau pura-pura yang melibatkan unsur imajinasi dan peniruan terhadap prilaku orang dewasa”.

Bermain peran juga melakukan uji coba melalui kegiatan bermain. Kegiatan bermain peran, anak membuat keadaan yang ia ciptakan sendiri sambil memperbaiki kesalahan-kesalahan dan memperkuat harapan-harapannya. Misalnya, anak yang awalnya takut jika bertemu seorang dokter, melalui peran main dokter-dokteran perlahan-lahan dia belajar bahwa ketakutannya tidak perlu terjadi karena dokter bukan orang jahat tapi justru ingin membantu mengobati penyakit.

Beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa bermain peran adalah bermain yang menggunakan daya khayal atau imajinasi dalam memerankan suatu peran untuk menirukan suatu prilaku ataupun profesi yang biasa dilakukan orang lain.

c.

Jenis Bermain Peran

Dilihat dari jenisnya bermain peran terbagi menjadi 2 jenis diantaranya bermain peran makro dan mikro. Menurut Erikson (dalam Latif, 2014:207) menyebutkan bahwa:

(46)

memainkan peran melalui alat bermain atau benda yang berukuran kecil. (2) bermain peran makro yaitu anak bermain menjadi tokoh menggunakan alat berukuran seperti sesungguhnya yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran-peran.

Senada dengan pendapat di atas, Vygotsky (dalam Mutiah, 2012:115) menjelaskan bahwa:

Bermain peran dibagi menjadi dua jenis yaitu bermain peran makro dan bermain peran peran mikro. Bermain peran makro yakni anak berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu, sedangkan bermain peran mikro di mana anak menggerak-gerakan benda berukuran kecil untuk menyusun adegan, saat anak bermain peran mikro anak belajar untuk menghubungkan dan mengambil sudut pandang dari orang lain.

Pendapat lain yang dikemukan oleh Papalia Olds, et al (2009:398) menyebutkan bahwa anak seringkali bermain peran dengan menggunakan boneka-boneka atau property lainnya (mikro), akan tetapi anak juga terkadang bermain menjadi dokter yang sedang memeriksa pasiennya (makro).

Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa jenis bermain peran terdiri dari mikro dan makro. Bermain peran mikro merupakan permainan yang menggunakan mainan ukuran kecil, sedangkan peran makro menggunakan ukuran yang mirip dengan aslinya.

(47)

29

dalam hal ini peneliti hanya ingin membahas tentang kegiatan bermain peran makro.

d. Manfaat Bermain Peran

Bermain peran bermanfaat untuk mendorong anak agar turut aktif dalam pemecahan sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, peserta didik juga dapat mengeksplorasi perasaannya, memperoleh wawasan tentang sikap, nilai dan persepsinya mengenai suatu hal, mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Hal ini selaras degan pendapat Surya (2006:47) manfaat bermain peran yaitu:

1. Mengajarkan pada anak bagaimana memahami dan mengerti perasaan orang lain

2. Mengerjakan pembagian pertanggungjawaban dan melaksanakannnya

3. Mengerjakan cara mengargai pendapat orang lain

4. Mengajarkan cara mengambil keputusan dalam kelompok

Selain itu menurut Mayke (2001:58) “Bermain peran bermanfaat untuk membantu penyesuaian diri anak. Dengan memerankan tokoh-tokoh tertentu ia belajar tentang aturan-aturan atau perilaku apa yang bisa diterima oleh orang lain, baik dalam berperan sebagai ibu, ayah, guru, murid dan seterusnya”. Anak juga belajar untuk memandang

(48)

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bermain peran dapat membantu anak dalam pengambilan keputusan dan memahami aturan-aturan. Bermain peran juga dapat melatih anak memecahkan masalah sederhana yang terjadi pada dirinya.

e. Langkah-langkah bermain peran

Sebelum melakukan kegiatan bermain peran, maka terlebih dahulu perlu diketahui langkah-langkah dalam bermain agar kegiatan bermain yang dilakukan menjadi lebih terarah. Menurut Moeslichatoen (2004:63) langkah-langkah kegiatan bermain melalui urutan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu (1) Kegiatan pra bermain (2) Kegiatan bermain (3) Kegiatan penutup.

Secara rinci langkah-langkah bermain peran menurut Nuraini (2010:82) adalah sebagai berikut:

1. Guru mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pengarahan dan aturan serta tata tertib dalam bermain.

2. Guru membicarakan alat-alat yang akan digunakan oleh anak untuk bermain.

3. Guru memberikan pengarahan sebelum bermain dan mengabsen anak serta menghitung jumlah anak bersama-sama.

4. Guru membagikan tugas kepada anak-anak sebelum bermain menurut kelompoknya agar anak tidak mengenai alat-alat bermain yang sudah disediakan.

5. Guru sudah menyiapkan anak-anak permainan yang akan digunakan sebelum mulai bermain.

6. Anak bermain sesuai dengan perannya.

7. Guru hanya mengawasi anak. Mendampingi anak dalam bermain apabila dibutuhkan anak guna membantunya.

8. Setelah waktu bermain hamper habis, guru dapat menyiapkan berbagai macam buku cerita. Sementara guru merapikan permainan dengan dibantu oleh beberapa anak.

(49)

31

(2) penentuan anggota pemeran, (3) mempersiapkan peranan, (4) latihan singkat dialog, (5) pelaksanaan permainan peran.

Berdasarkan pendapat di atas, maka langkah-langkah dalam bermain perlu untuk diketahui dan dipahami oleh para pendidik agar proses bermain yang dilakukan oleh anak dapat berjalan dengan kondusif sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai sesuai dengan standar yang diharapkan.

4. Bermain Peran Makro

a. Pengertian Bermain Peran Makro

Bermain peran makro merupakan permainan yang memerankan suatu peran dengan menggunakan bahan yang berukuran mirip dengan aslinya. Bermain peran makro memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak saat pembelajaran karena anak terlibat langsung dalam kegiatan. Menurut Erikson (Asmawati, 2010:8) bermain peran makro adalah “Bermain peran dengan alat-alat berukuran sesungguhnya yang dapat digunakan anak untuk memainkan peran yang dipilihnya”.

Sejalan dengan pendapat di atas menurut Latif (2013:130) mengemukakan bahwa :

Bermain peran makro merupakan kegiatan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan pengertian mereka tentang dunia sekitarnya, kemampuan berbahasa, keterampilan mengambil sudut pandang dan empati melalui peran yang mengalirkan knowledge pada anak.

(50)

alat berukuran seperti sesungguhnya yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran—peran. Lebih lanjut, mutiah (2012:115) berpendapat bahwa bermain peran makro adalah bermain yang sifatnya kerjasama dua orang atau lebih khususnya untuk usia taman kanak-kanak.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bermain peran makro merupakan suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan cara memerankan tokoh-tokoh tertenntu dan anak berperan langsung sebagai pemainnya.

b. Bentuk Bermain Peran Makro

Bermain peran memiliki banyak bentuk permainan yang di sesuaikan dengan tema dan keadaan di lingkungan anak. Menurut Stasen Berger dan Garvey (Mayke, 2001:35) mengatakan bahwa “Bentuk bermain

peran diantaranya: dokter-dokteran, ibu-ibuan, masak-masakan, sekolah-sekolahan, polisi-polisian dan lain-lainnya”.

Sejalan dengan pendapat di atas menurut Erikson (Asmawati, 2010:8) “Kegiatan bermain peran makro dapat dilakukan dengan kegiatan

diantaranya: bermain rumah sakit (dokter, perawat, pengunjung, apoteker), kantor polisi (polisi, penjahat), kantor pos (pengantar surat, pegawai kantor pos), kantor (direktur, sekertaris, pegawai)”. Permainan ini dilakukan dengan meniru aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang lain.

(51)

33

diantaranya dokter-dokteran, polisi-polisian, masak-masakan, ibu-ibuan dan lainnya. Kegiatan ini dilakukan dengan meniru suatu aktivitas yang biasa dilakukan oleh orang lain.

c. Langkah-langkah Bermain Peran Makro

Sebelum melakukan kegiatan bermain peran, perlu mengetahui langkah-langkah dalam bermain peran agar pembelajaran dalam bermain peran dapat berjalan secara efektif dan efesien. Menurut Djamarah (2005:238) mengatakan bahwa “Terdapat lima langkah

dalam bermain peran yaitu: (1) penentuan topik, (2) penentuan anggota pemeran, (3) memepersiapkan peran, (4) latihan singkat dialog, (5) pelaksanaan bermain peran”. Dapat juga diuraikan sebagai berikut:

1. Guru menata lingkungan yang akan digunakan untuk bermain. 2. Guru menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk

bermain.

3. Guru mengumpulkan anak-anak kemudian untuk diberi penjelasan mengenai aturan main.

4. Guru menawarkan kepada anak untuk memilih peran yang akan mereka mainkan.

5. Anak bermain sesuai dengan perannya. 6. Guru mengawasi kegiatan bermain anak.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka langkah-langkah bermain peran perlu diketahui oleh para pendidik agar pelaksanaan pembelajaran pada saat bermain peran dapat berjalan secara efektif dan efisiensi sehingga tujuan pembelajaranpun dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

5. Bermain dalam Upaya Mengembangkan Bahasa (Kemampuan Komunikasi Lisan) Anak Usia Dini

(52)

Carton dan Allen (dalam Musfiroh,2005: 94) bahwa. Melalui bermain anak dapat menggunakan bahasa secara tepat dan belajar mengkomunikasikannya secara efektif dengan orang lain.Melalui bermain pula,sebenarnya anak belajar tentang daya bahasanya.

Dalam hal ini kegiatan bermain yang dipilih juga melibatkan teman-taman sebaya untuk berkomunikasi secara aktif sehingga anak akan mempelajari kata-kata baru, model kegiatan bermain yang aktif akan memberikan rasa aman pada anak dan menciptakan lingkungan yang meningkatkan motivasi untuk terus belajar.

Dengan demikian. dalam penelitian ini kegiatan bermain yang dapat dipergunakan dalam upaya mengembangkan kemampuan berbahasa khususnya dalam kemampuan komunikasi lisan yakni melalui kegiatan bermain peran.

E. Kajian Penelitian Yang Relevan

Bahasan hasil penelitian yang relevan terkait dengan kemampuan komunikasi lisan anak dan bermain peran makro, diantaranya :

1. Hasil penelitian yang relevan dengan peneliti yaitu penelitian yang dilakukan oleh Ufik Aksioma (2012)dengan judul penelitian yaitu “Upaya Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Secara Lisan Melalui Metode Sosiodrama di Kelompok B Taman Kanak-kanak Aisyiyah Taruban Tahun Ajaran 2011-2012”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan metode sosiodrama dapat meningkatkan kemampuan komunikasi lisan pada anak. 2. Hasil penelitian yang relevan dengan peneliti yaitu penelitian yang

(53)

35

Bermain Peran Pada Anak Kelompok B di TKIT Nur Hidayah Surakarta”

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa melalui penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan komunikasi lisan pada anak kelompok B.

3. Hasil penelitian yang relevan dengan peneliti yaitu penelitian yang dilakukan oleh Suminarti (2014) dengan judul penelitian yaitu “Peningkatan Kemampuan Berkomunikasi Lisan Anak Melalui Metode

Sosiodrama di Taman Kanak-kanak Permata Bunda Agam” Hasil penelitian menyimpulkan bahwa melalui penggunaan metode sosiodrama dapat meningkatkan kemampuan komunikasi lisan pada anak.

F. Kerangka Pikir

Kemampuan bahasa khususnya ranah mengungkapkan bahasa merupakan suatu aspek terpenting karena dengan mengungkapkan bahasa anak dapat mengekspresikan ide, pendapat dan gagasannya kepada orang lain. Anak sebagai individu yang aktif tentu harus memiliki modal kemampuan yang mendukung agar anak dapat mengungkapkan bahasa sesuai dengan maksud dan tujuannya.Kemampuan pendukung tersebut ialah kemampuan berkomunikasi lisan.

(54)

dari guru.Sehingga kemampuan komunikasi lisan anak belum berkembang secara optimal.

Sedangkan Kemampuan berkomunikasi lisan sangat penting untuk dikembangkan karena hal ini akan mendukung keterampilan anak untuk berbicara aktif mengekspresikan ide, gagasan dan perasaannya. Seiring dengan kemampuan berkomunikasi lisan yang meningkat, komunikasi anak yang diawali dengan mengekspresikan suara saja meningkat menjadi komunikasi yang diekspresikan melalui ujaran yang jelas dan tepat. Komunikasi lisan akan berkembang secara optimal, jika distimulus melalui kegiatan bermain.

Bermain merupakan kegiatan yang memberikan kepuasan bagi diri sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, melalui bermain anak akan memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangannya. Bagi anak bermain bukan hanya menjadi kesenangan tetapi juga suatu kebutuhan yang mau tidak mau harus terpenuhi. Jika tidak tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik yang nantinya akan terlihat ketika anak sudah menjadi remaja. Adapun jenis permainan terbagi menjadi tiga, salah satu diantaranya yaitu bermain peran.

Bermain peran adalah bermain yang menggunakan daya khayal atau imajinasi dalam memerankan suatu peran untuk menirukan suatu prilaku ataupun profesi yang biasa dilakukan orang lain. Adapun bermain peran terbagi menjadi dua jenis yakni peran mikro dan makro

(55)

37

[image:55.595.125.501.194.262.2]

makro dapat mengembangkan kemampuan komunikasi lisan pada anak usia 5-6 tahun sesuai dengan standar Pendidikan Anak Usia Dini. Oleh sebab itu peneliti menggunakan kemampuan komunikasi lisan melalui kegiatan bermain peran makro.

Gambar 1. Kerangka Pikir

G. Hipotesis

Berdasarkan kajian pustaka diatas, maka hipotesis penelitian dalam penelitian ini adalah :

Terdapat hubungan dalam kegiatan bermain peran makro dengan Kemampuan komunikasi lisan pada anak usia dini kelompok B.

Kegiatan Bermain

Peran Makro

(56)

III. METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara atau teknik utama yang digunakan dalam melakukan suatu penelitian dengan melalui metode-metode ilmiah. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, yang bersifat non eksperimental dengan metode korelasional. Penelitian ditujukan untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel lainnya (Nana Syaodih, 2007:56). Hubungan antara satu dengan variabel lain dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi secara statistik. Adanya korelasi antara dua variabel atau lebih, tidak berarti adanya pengaruh atau hubungan sebab akibat dari suatu variabel terhadap variabel lainnya.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian terdiri dari dua tahapan, yaitu prapenelitian dan tahap pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari setiap penelitian tersebut, adalah :

1. Penelitian Pendahuluan

a. Membuat surat izin penelitian ke sekolah tempat dilakukannya penelitian.

(57)

39

2. Tahap Perencanaan

a. Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Kegiatan Harian (RKH)

b. Membuat instrument evaluasi yaitu berupa lembar observasi. 3. Tahap Pelaksanaan

a. Melaksanakan penelitian sesuai dengan Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang telah disusun.

b. Mengevaluasi menggunakan lembar observasi. c. Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data. d. Membuat laporan hasil penelitian.

C. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada anak kelompok B di TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006:130) Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak kelompok B TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung yang berjumlah 60 anak.

2. Sampel Penelitian

(58)

sampel dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan diperboleh dari hasil penentuan banyaknya jumlah anak yang memiliki kemampuan komunikasi lisan paling rendah dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini.

Penelitian ini, peneliti memutuskan untuk mengambil sampel anak usia dini di kelompok B berjumlah 30 anak TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam suatu penelitian dan akan mendukung suatu penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi (Sugiyono, 2010:203-204) “merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedangberlangsung”.

(59)

41

Observasi yang peneliti lakukan di Kelompok B TK Tutwuri Handayani Bandar Lampung kegiatan bermain peran makro untuk mengetahui kemampuan komunikasi lisan anak.

F. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas (independen) dilambangkan dengan (X) dan variabel terikat (dependen) dilambangkan dengan (Y). Dimana variabel bebas (X) yaitu kegiatan bermain peran makro dan variabel terikat (Y) yaitu kemampuan komunikasi lisan.

1. Definisi Konseptual Variabel

a. Definisi konseptual variabel (X) bermain peran makro

Menurut Moeslichatoen (2004:38) bermain peran adalah bermain menggunakan daya khayal yaitu dengan memakai bahasa atau berpura-pura bertingkah laku seperti benda tertentu, situasi tertentu, atau orang tertentu, dan binatang tertentu, yang dalam dunia nyata tidak dilakukan.

b. Definisi konseptual variabel (Y) perkembangan komunikasi lisan anak yaitu anak dapat menyampaikan maksud (ide, pikiran dan gagasan) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga lawan bicara dapat mengerti apa yang disampaikan oleh anak.

2. Definisi Operasional Variabel

(60)

2). Memilih media untuk peran yang dimainkan 3). Mengikuti aturan dalam permainan hingga selesai 4). Memperagakan peran yang dimainkan

5). Mengespresikan sesuai dengan peran yang dimainkan

b. Definisi operasional variabel (Y) kemampuan komunikasi lisan, sebagai berikut :

1). Menjawab nama peran yang dimainkan

2). Menjawab pertanyaan tentang media yang digunakan saat bermain

3). Bertanya kepada teman tentang peran yang dimainkan oleh teman

4). Menceritakan tentang peran yang telah dimainkan 5). Menceritakan /mengungkapkan perasaan saat bermain

G. Istrumen Penelitian

[image:60.595.124.501.443.686.2]

Istrumen penelitian yang peneliti buat berupa indikator-indikator yang diturunkan berdasarkan variabel-variabel penelitian. Adapun kisi-kisi instrumen sebagai berikut :

Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Bermain Peran Makro (X)

Variabel Indikator Kategori Penilaian BSB 4 BSH 3 MB 2 BB 1 Bermain Peran Makro

(61)
[image:61.595.121.510.97.453.2]

43

Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Komunikasi Lisan (Y)

Keterangan :

SM = Sangat Mampu

M = Mampu

CM = Cukup Mampu

CB = Belum Mampu

Panduan observasi yang digunakan dalam penelitian berupa skala rating. Skala rating merupakan skala yang menggambarkan satu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan. Variabel y yaitu kemampuan komunikasi lisan digolongkan menjadi 4 kategori dengan rentang skor 1-4 yang diperoleh dari setiap kegiatan pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atas menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Data yang diperoleh dibuat menjadi 4 kategori untuk penerapan metode bermain peran makro dan 4

Variabel Indikator Kategori Penilaian SM 4 M 3 CM 2 BM 1 Kemampuan Komunikasi Lisan Anak Usia 5-6 tahun

Menjawab nama peran yang dimainkan Menjawab pertanyaan tentang media yang digunakan saat bermain Bertanya kepada teman tentang peran yang dimainkan oleh teman Menceritakan tentang peran yang telah dimainkan

(62)

kategori untuk kemampuan komunikasi lisan. Selanjutnya dari hasil yang diperoleh tersebut menurut Sudjana (2006:69) dianalisis secara kuantitatif dengan proses sebagai berikut :

a. Skor yang diperoleh dari masing-masing anak adalah jumlah skor dari setiap indikator

b. Nilai yang diperoleh dengan rumus :

Nilai =

×

100%

Keterangan :

Skor = Jumlah skor atau nilai yang diperoleh anak Skor Maksimal = Jumlah aktifitas/ Kriteria

Data yang diperoleh disajikan secara singkat maka perlu menentukan interval, rumus interval sebagai berikut :

Gambar 2. Rumus interval sumber : Hadi (2006:178) Keterangan:

I = Interval

NT = Nilai Tertinggi NR = Nilai Terendah

K = Kategori

1. Analisis Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan untuk menguji asosiatif (hubungan) diuji dengan menggunakan Korelasi

Spearman Rank. Untuk menguji hipotesis yang sudah dirumuskan

sebelumnya. Teknik tersebut di gunakan untuk mrenguji variabel X

(63)

45

[image:63.595.188.441.392.429.2]

kegiatan bermain peran makro dengan variabel Y kemampuan komunikasi lisan, dengan rumus sebagai berikut :

Gambar 3. Rumus Korelasi Spearman Rank

Sumber : Sugiyono (2011:245)

Keterangan :

=

Koefisien Spearman Rank

bi

= Selisih peringkat setiap data

n

= Jumlah data atau sampel

Setelah nilai diperoleh lalu mencari nilai Koefisien Determinasi yang didapat dari kuadrat koefisien.

Setelah nilai koefisien determinasi diperoleh, maka dapat dilihat seberapa besar hubungan antara dua variabel tersebut.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan Korelasi Spearman Rank, maka dapat diketahui apakah hipotesis yang diajukan dapat diterima atau tidak.

Ho : µ = 0 Ha : µ ≠ 0

(64)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara bermain peran makro dengan perkembangan komunikasi lisan anak usia dini di TK Tutwuri Handayani. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis korelasi spearman rank yang menunjukkan ada hubungan antara antara bermain peran makro dengan kemampuan komunikasi lisan anak usia dini dengan rho sebesar 0,94.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis mengemukakan saran sebagai berikut :

1. Kepada Guru

a. Diharapkan guru dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak khususnya kemampuan komunikasi lisan dengan menggunakan media dan metode yang menarik.

b. Guru sebaiknya dapat lebih aktif, kreatif, dan inovativ sehingga anak akan lebih termotivasi dalam proses belajar mengajar.

(65)

60

2. Kepada Kepala Sekolah

Penelitian ini juga diharapkan dapat membuka wawasan bagi kepala sekolah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi lisan anak melalui kegiatan bermain, maka pembelajaran di sekolah hendaknya jangan mengutamakan kegiatan yang hanya membaca, menulis, dan berhitung. 3. Kepada Peneliti Lain

(66)

Aisyah, Siti dkk. 2008. Pembelajaran Terpadu. Universitas Terbuka: Jakarta. Aksioma,Ufik.2012.Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Secara

Lisan Melalui Metode Sosiodrama Pada Anak Kelompok B di TK Aisyiyah Taruban Tahun Ajaran 2011-2012.http://download.portalgaruda.orgl

volum2, No,1. (diakses pada 11 Februari 2016)

Arikunto,S.2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta :Jakarta

Asmawati, Luluk dkk. 2010. Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia

Dini. Universitas Terbuka: Jakarta.

Choiriyah,Siti.2014.Upaya Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Lisan

Melalui Metode Bermain Peran Pada Anak Kelompok B TKIT Nur Hidayah

Surakarta Tahun Ajaran 2013/2014.

http://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/37504/pdf (diakses pada 11 Februari 2016)

Dapertemen Pendidikan Nasional..2014. Pedoman Penilian Pembelajaran

PAUD.Balai Pustaka : Jakarta

Dhieni,Nurbiana.2009.Metode Pengembangan Bahasa.Universitas Terbuka: Jakarta

Dimyati, Johni. 2013. Metodelogi Penelitian Pendidikan dan Aplikasinya Pada

Pendidikan Anak Usia Dini. KencanaPrenada.:Jakarta

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Rineka Cipta: Jakarta.

Hadi, Sutrisno. 2006. Metodelogi Penelitian. Ansi Ofset. Yogyakarta.

Hurlock,Elizabeth.1998.Perkembangan Anak. Diterjemahkan oleh Meitasari Tjandara. .Erlangga : Jakarta.

(67)

Latif, Mukhtar dkk. 2014. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Prenada Media Group: Jakarta.

, . 2013 . Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini

Teori dan Aplikasi. Kencan: Jakarta.

Mayke S, Tedjasaputra. 2001. Bermain, Main, dan Permainan. Gramedia: Jakarta.

Moeslichatoen.2004.Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak.Rineka Cipta: Jakarta

Mulyasa.2012.Manajemen PAUD.PT Remaja Rosdakarya : Bandung

Musfiroh,T.2005.Bermain Sambil Belajar Dan Mengasuh Kecerdasan. Depdiknas : Jakarta.

Mutiah, Diana. 2012. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Nurbiana,dkk.2009.Metode Pengembangan Bahasa.Universitas Terbuka :Jakarta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 137 Tahun 2014 tentang Kurikulum

2013 Pendidikan Anak Usia Dini.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.

Sudjana,Nana.2006.Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar.Remaja Rosda Karya : Bandung

Sugiyono.2010.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif,

dan R&D.Alfabet : Bandung

.2011.Statistika Untuk Penelitian.Alfabet : Bandung

Sujiono,Yuliani Nurani.2013.Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.PT.Indeks:Jakarta

Suhartono.2005.Pengembangan Keterampilan Bicara Anak Usia Dini.Jakarta:Depdiknas

Surya, Hendra. 2006. Kiat Anak Senang Berkawan. Gramedia: Jakarta.

(68)

Triharso,Agung.2013.Permainan Kreatif & Edukatif untuk Anak Usia Dini.Andi Publisher : Bandung

Figure

Gambar 1. Kerangka Pikir
Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Bermain Peran Makro (X)
Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Komunikasi Lisan (Y)
Gambar 3. Rumus Korelasi Spearman RankSumber : Sugiyono (2011:245)

References

Related documents

Brer Rabbit oftentimes uses fear either to escape from his predators (Brer Wolf, Brer Fox, etc.) or simply to entertain himself, as is the case of “Brer Rabbit’s Money Mint.”

First, relying on Ottaviano and Van Ypersele’s (2005) foot- loose capital model of tax competition, we illustrate that trade integration reduces the importance of relative

Forest plots showing hazard ratios (HRs) obtained by univariate Cox analysis for (A) overall survival (OS) and (B) progression-free survival (PFS) according to the presence of

— Explore, analyse and discuss conceptual and empirical work around international business topics, and extend towards political economy perspectives, economic development, global

participation for community members who seek to be involved in rulemaking. Providing support and adequate access to important information or tools that help communities

In this study, pectin-like polysaccharides were extracted from CPH with cellulase and hemicellulase enzymes, varying amount of enzymes and temperatures in the water and acid

Since the triangle CAB in the layout of Žiča is related to the width of the exterior nave, geomet- ric scheme becomes more regular, considering double mirroring of the