• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
61
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN REPRESENTASI

MATEMATIS SISWA

( Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 9 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)

(Skripsi)

Oleh

ALYA NANDA EFENDI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN REPRESENTASI

MATEMATIS SISWA

( Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 9 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)

Oleh:

ALYA NANDA EFENDI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap kemampuan representasi matematis siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Bandarlampung semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 yang terdistribusi dalam sembilan kelas. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII I dan VIII H yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pretest-posttest control group design. Data penelitian ini berupa skor kemampuan representasi matematis siswa yang diperoleh melalui tes berupa soal uraian dengan materi sistem persamaan linear dua variabel. Dengan menggunakan analisis uji t diperoleh kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think pair share berpengaruh terhadap kemampuan representasi matematis siswa.

(3)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN REPRESENTASI

MATEMATIS SISWA

( Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 9 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)

Oleh:

ALYA NANDA EFENDI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Matematika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, Kota Bandarlampung, pada 09 Agustus 1997. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Helmi Efendi dan Ibu Irwindri Maria, S.Pd, M.Pd. Penulis memiliki dua orang adik bernama Ahmad Al Fakhri Dwi Akram dan Ahmad Rafa Al Syafiq.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 3 Kuripan pada tahun 2009, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Kotaagung pada tahun 2012, pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Kotaagung pada tahun 2015. Pada tahun 2015, penulis diterima sebagai mahasiswa di Universitas Lampung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan MIPA Program Studi Pendidikan Matematika melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

(8)
(9)

`ÉààÉ

(10)

Efendi-i

cxÜáxÅut{tÇ

Alhamdulillahorobbil’alamiin

Segala puji bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna

Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Uswatun Hasanah Rasulullah

Muhammad SAW

Ku persembahkan karya ini sebagai tanda cinta dan kasih sayangku kepada:

Ayahku tercinta (Helmi Efendi) dan Ibuku tercinta (Irwindri Maria), yang telah

membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang serta selalu mendoakan dan

melakukan semua yang terbaik untuk keberhasilanku juga kebahagiaanku,

Adikku yang kusayangi Ahmad Al Fakhri Dwi Akram dan Ahmad Rafa Al Syafiq

yang telah memberikan dukungan dan semangat padaku,

Seluruh keluarga besar yang telah memberikan do’a dan dukungannya,

Para pendidik yang telah mengajar dan mendidik dengan penuh kesabaran,

Semua temanku yang sabar menghadapiku, menerima semua kekuranganku, dan

sepenuh hati mendukungku. Terima kasih karena kalian mengajarkanku arti

pertemanan yang sesungguhnya,

(11)

ii

SANWACANA

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah atas manusia yang akhlaknya paling mulia, yang telah membawa perubahan luar biasa, menjadi uswatun hasanah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share Terhadap Kemampuan Representasi Matematis Siswa (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 9 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)” disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada:

(12)

iii

semangat selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. Bapak Drs. Pentatito Gunowibowo, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II, sekaligus Dosen Pembimbing Akademik, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dengan penuh kesabaran, memberikan kritik, saran, perhatian, motivasi, dan semangat selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd., selaku Dosen Pembahas yang telah memberi kritik dan saran sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

4. Bapak Najamuddin Assri Aswan, S.Pd., selaku guru mitra, seluruh siswa kelas VIII I dan VIII H SMP Negeri 9 Bandarlampung semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020, dan seluruh perangkat sekolah serta staff SMP Negeri 9 Bandarlampung yang telah memberikan kemudahan selama penelitian.

5. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung beserta jajaran dan stafnya yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

6. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung yang telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

7. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lampung yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

(13)

iv

dan penuh kesabaran, bimbingan dan nasihat, semangat, doa, serta kerja keras yang tak kenal lelah demi keberhasilan penulis.

9. Teman-teman terbaikku sejak masa putih biru “POR-C”: Nisya Lutfi Miftahul Aziza, Yuniza Dian Sari dan Utari Nur ‘Aisyah yang selalu menemani sejak SMP hingga akhir kuliah, memberi semangat dan dukungan.

10.Teman-teman terbaikku sejak masa putih abu-abu “FC Squad”: Sumi, Icul, Estu, Lisa, Ocha, Tebe, Ngah Diyan, Ayin, Eci, Cece Welly, dan Wo Icha yang selalu menemani sejak SMA hingga akhir kuliah, membuat masa-masa SMA ku lebih berwarna karena kasih sayang, kekonyolan, dan kebersamaan kalian.

11.Sahabat-sahabatku “Ranting”: Miranda Abung, Windi Samsidar, Aghnesia Rahmy, dan Zakiya Afriyanti yang selalu memberikan semangat, bantuan, dan berbagi pendapat mengenai segala hal serta mengajarkanku dan menyadarkanku untuk selalu memperbaiki diri.

12.Sahabat-sahabatku “Sahabat Bacot”: Ocha Fitria, Bagus Lujeng Pangestu, Wahyudha Makhuta yang selalu mendukung, memberi semangat dan menemani perjalanan kehidupanku selama 8 tahun terakhir.

13.Mentor Bisnis, Guru Kehidupan sekaligus abangku Bang Thomas yang selalu mendukung, memberi semangat, dan mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan jadi lebih bermakna.

(14)

v

15.Keluargaku di Komunitas Dare2Dream Tiens: Nursabila (bilski), Kak Tiak, Mega, para Mastermind serta upline dan downline yang telah menemaniku dan mendukung perkembangan bisnis.

16.Rekan seperjuangan KKN-KT Unila Desa Waspada Kabupaten Sekincau Lampung Barat (Farhan, Amirah, Erna, Dina, Justika, Yulina, Dewi, Yani dan Wulan) serta rekan seperjuangan KKN-KT se-Kecamatan Sekincau yang tidak bisa disebutkan satu persatu namanya untuk kebersamaan dan bantuan selama ini.

17.Keluarga baruku “Boedjang Pasar”: Andre, Cecep, Bang Jay, Jodi, Fatur, Sule, Deny, Gilang, Rama, Herlando, Erwin, Pringgo dan Pipi yang telah memberi warna di 55 hariku selama KKN berlangsung sampai sekarang, juga menyadarkan saya makna kekeluargaan, ketulusan, dan kesederhanaan.

18.Teman-teman seperjuangan, seluruh angkatan 2015 kelas A dan B di Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lampung atas semua bantuan yang telah diberikan. Semoga kebersamaan kita selalu menjadi kenangan yang terindah.

19.Kakak-kakakku seperjuangan Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lampung angkatan 2013 dan 2014 serta adik-adikku angkatan 2016, 2017, dan 2018 yang telah memberikan dukungan, motivasi, dan kebersamaannya. 20.Keluarga besar Medfu FKIP Unila dan Himasakta FKIP Unila yang telah

memberikan pengalaman berorganisasi selama ini.

21.Pak Liyanto dan Pak Mariman yang telah memberikan bantuan dan perhatiannya selama ini.

(15)

vi

23.Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Aamiin Ya Robbal’Alamiin.

Bandar Lampung, Januari 2020 Penulis,

(16)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A.Kajian Teori ... 9

1. Kemampuan Representasi Matematis ... 9

2. Pembelajaran Kooperatif ... 11

3. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share ... 14

4. Pembelajaran Konvensional ... 16

B.Kerangka Pikir... 17

C.Anggapan Dasar... 19

D.Hipotesis Penelitian ... ... 19

1. Hipotesis Umum... 19

(17)

viii

III. METODE PENELITIAN ... 20

A. Populasi dan Sampel ... 20

B. Desain Penelitian ... 21

... 21

2. Tahap Pelaksanaan ... 22

3. Tahap Akhir ... 22

F. Instrumen Penelitian ... 23

G. Teknik Analisis Data ... 28

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Hasil Penelitian ... 38

B. Pembahasan ... 44

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 49

A. Simpulan ... 49

B. Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

LAMPIRAN ... 53

C. Prosedur Penelitian 1. Tahap Persiapan ... 22

D. Teknik Pengumpulan Data .... E. Data Penelitian... 23

(18)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1 Bentuk-Bentuk Indikator Repesentasi Matematis ... 10

3.1 Distribusi Guru Matematika Kelas VIII di SMP Negeri 9 Bandar Lampung ... 20

3.2 Desain Penelitian ... 21

3.3 Kriteria Koefisien Reliabilitas ... 25

3.4 Interpretasi Daya Pembeda ... 26

3.5 Interpretasi Tingkat Kesukaran... 27

3.6 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Representasi Matematis Awal Siswa ... 30

3.7 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Data Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis Siswa ... 34

4.1 Analisis Data Kemampuan Representasi Matematis Awal ... 38

4.2 Analisis Data Kemampuan Representasi Matematis Akhir... 39

4.3 Pencapaian Indikator Kemampuan Representasi Matematis. ... 40

(19)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

A. PERANGKAT PEMBELAJARAN

A.1 Silabus Eksperimen... ... 53

A.2 Silabus Kontrol... ... 62

A.3 RPP Eksperimen ... 66

A.4 RPP Kontrol ... 86

A.5 Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ... 106

B. INSTRUMEN TES B.1 Kisi-Kisi Soal Tes Kemampuan Represntasi Matematis ... 133

B.2 Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis... 135

B.3 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 137

B.4 Pedoman Jawab Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 138

B.5 Form Penilaian Validitas Isi ... 145

C. ANALISIS DATA C.1 Analisis Reliabilitas Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 147

C.2 Analisis Daya Pembeda Butir Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 151

C.3 Analisis Tingkat Kesukaran Butir Soal Tes Kemampuan Representasi Matematis ... 155

(20)

xi

C.5 Data Kemampuan Representasi Matematis Awal Kelas

Kontrol ... 159 C.6 Uji Normalitas Data Kemampuan Representasi Matematis

Awal Siswa Kelas Eksperimen ... 161 C.7 Uji Normalitas Data Kemampuan Representasi Matematis

Awal Siswa Kelas Kontrol ... 163 C.8 Uji Homogenitas Data Kemampuan Representasi Matematis

Awal ... 165 C.9 Uji Hipotesis Data Kemampuan Representasi Matematis

Awal ... 167 C.10 Perhitungan Skor Peningkatan Kemampuan Representasi

Matematis Siswa ... 170 C.11 Uji Normalitas Data Gain Kemampuan Representasi Matematis

Siswa Kelas Eksperimen ... 172 C.12 Uji Normalitas Data Gain Kemampuan Representasi Matematis

Siswa Kelas Kontrol ... 175 C.13 Uji Homogenitas Data Gain Kemampuan Representasi

Matematis ... 178 C.14 Uji Hipotesis Data Gain Kemampuan Representasi Matematis ... 180 C.15 Pencapaian Indikator Kemampuan Representasi Matematis

Awal ... 182 C.16 Pencapaian Indikator Kemampuan Representasi Matematis

Akhir ... 187

D. TABEL-TABEL STATISTIK

(21)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan

manusia. Pendidikan dapat membantu manusia mengembangkan potensi diri

untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik untuk kedepannya. Dalam

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1

dan 2, yaitu (1) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, (2) pendidikan nasional

adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan

nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Secara umum jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal dan pendidikan non

formal. Pendidikan non formal dapat di jumpai dimana saja, seperti rumah, les

privat dan sebagainya. Sedangkan pendidikan formal merupakan pendidikan yang

dilaksakan di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti

syarat-syarat yang jelas. Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, terdapat

(22)

2

matematika. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang menyatakan

bahwa terdapat muatan wajib di sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama

(SMP), maupun sekolah menegah atas (SMA) salah satunya yaitu matematika.

Suherman, dkk (2003:60) mengungkapkan bahwa siswa memerlukan matematika

untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan dapat berpikir logis,

kritis, dan praktis, serta bersikap kreatif. Selain itu, menurut Herman (2006:1)

tujuan pembelajaran matematika adalah: (1) melatih cara berpikir dan bernalar

dalam menarik kesimpulan, (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan

imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,

serta mencoba-coba, (3) mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, dan

(4) mengembangkan kemampuan menyapaikan informasi dan mengomunikasikan

gagasan. Melihat pentingnya peranan matematika dalam menyeleaikan

permasalahan di kehidupan sehari-hari, maka matematika wajib dipelajari sejak

pendidikan sekolah dasar.

Berdasarkan Permendikbud Nomor 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Mata

Pelajaran Matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah

adalah agar siswa mampu: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan

keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara

luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) menggunakan

penalaran dalam pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam

membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan

matematika, (3) memecahkan masalah yang memiliki kemampuan memahami

(23)

3

solusi yang diperoleh, (4) mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel,

diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan (5)

memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa

ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet

dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Sejalan dengan Standar Isi pada

Permendikbud Nomor 24 tahun 2016, National Council of Teachers of

Mathematics (NCTM, 2000:67) menetapkan bahwa terdapat lima standar kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa, yaitu pemecahan masalah

matematis (mathematical problem solving), komunikasi matematis (mathematical

communication), penalaran matematis (mathematical reasoning), koneksi matematis (mathematical connection), dan representasi matematis (mathematical

representation). NCTM juga menyatakan bahwa kelima kemampuan tersebut termasuk dalam kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi.

Kemampuan representasi matematis merupakan hal penting yang seharusnya

dimiliki oleh setiap siswa dalam pembelajaran matematika. Hal ini cukup

beralasan karena untuk berpikir dan mengkomunikasikan ide-ide matematika,

seseorang perlu merepresentasikannya dalam berbagai cara. Komunikasi dalam

matematika memerlukan representasi eksternal yang dapat berupa: simbol tertulis,

gambar ataupun obyek fisik. Sejalan dengan NCTM (Ramziah, 2016: 139),

kemampuan representasi menjadi salah satu kemampuan penting dalam

pembelajaran matematika yang harus dimiliki siswa sebagai kemampuan dasar

matematis. Kemampuan representasi yang digunakan dalam belajar matematika

seperti objek fisik, menggambar, grafik, dan simbol akan membantu komunikasi

(24)

4

Representasi juga menduduki peran yang penting dalam pembelajaran matematika

karena siswa dapat mengembangkan dan memperdalam pemahaman akan konsep

dan keterkaitan antar konsep matematika yang mereka miliki melalui membuat,

membandingkan, dan menggunakan representasi. Pernyataan ini diperkuat oleh

Jones (Pratiwi, 2013) bahwa terdapat beberapa alasan perlunya representasi, yaitu

memberi kelancaran siswa dalam membangun suatu konsep dan berpikir

matematis serta untuk memiliki kemampuan pemahaman konsep yang kuat dan

fleksibel yang dibangun oleh guru melalui representasi matematis. Setiap ide-ide

matematika, juga dapat direpresentasikan secara eksternal yang terkadang terbatas

pada satu atau dua jenis representasi, namun ada kalanya ide matematika tersebut

dapat diungkapkan dalam berbagai representasi (Sabirin, 2014). Siswa yang

memiliki kemampuan representasi matematis yang baik dapat dengan mudah

menyelesaikan masalah yang ada. Lebih lanjut, menurut Dahlan (Fitrianna, 2018:

46), kemampuan representasi adalah kemampuan dasar yang memungkinkan

siswa untuk mengerti dan menggunakan ide matematis dengan semestinya.

Namun pada kenyataannya, kemampuan representasi matematis siswa di

Indonesia masih belum berkembang secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil

Trends in International Matematical and Science Study (TIMSS) pada tahun 2011, Indonesia hanya berada diurutan 38 dari 42 negara yang mengikuti dengan

rata-rata skor di Indonesia untuk kelas VIII adalah 386 (TIMSS, 2011). Salah satu

faktor yang membuat Indonesia berada di urutan bawah karena siswa kesulitan

dalam menjawab soal yang berkaitan dengan kemampuan representasi. Sejalan

dengan Hudiono (Pratiwi, 2013) yang menyatakan bahwa hanya sebagian kecil

(25)

5

dengan kemampuan representasi, sedangkan sebagian besar lainnya lemah dalam

memanfaatkan kemampuan representasi yang dimilikinya, khususnya representasi

visual. Kemampuan representasi matematis yang rendah dapat disebabkan oleh

beberapa faktor, misalnya, tidak diberikannya kesempatan kepada siswa dalam

mengonstruksi dan menemukan sendiri pengetahuannya, selain itu, pada saat

pembelajaran guru langsung menjelaskan topik yang akan dipelajari kemudian

dilanjutkan dengan pemberian contoh dan soal untuk latihan sehingga

menyebabkan kurang berkembangnya kemampuan siswa dalam melakukan

representasi matematis baik secara visual, persamaan atau ekspresi matematis,

maupun teks tertulis.

Permasalahan rendahnya kemampuan representasi matematis siswa juga terjadi

pada SMP Negeri 9 Bandarlampung. Berdasarkan penelitian pendahuluan dengan

cara mengamati proses pembelajaran, pembelajaran berlangsung dimulai dengan

guru memberikan apersepsi berupa penyampaian tujuan pembelajaran dengan

memberikan penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi pada hari itu.

Selanjutnya, guru memberikan definisi, prinsip, dan konsep materi pelajaran

kepada siswa dengan metode ekspositori dan siswa mencatat materi yang

disampaikan guru. Setelah itu, guru memberi latihan soal dari buku yang

dikerjakan langsung oleh siswa. Melalui latihan siswa mengembangkan

pengetahuan yang telah disampaikan guru. Guru mempersilahkan beberapa siswa

untuk ke depan kelas mengerjakan latihan yang diberikan dan membahasnya

bersama seluruh siswa. Saat siswa menuliskan jawabannya di papan tulis,

(26)

6

mengerjakan yang runtun. Setelah semua latihan soal dibahas, guru bertanya

kepada seluruh siswa mengenai materi yang belum dimengerti dan menjelaskan

ulang mengenai materi yang ditanyakan siswa. Pada akhir pembelajaran, guru

memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.

Dari hasil pengamatan, pembelajaran yang berlangsung didominasi oleh guru,

sementara siswa bersikap sebagai penerima ilmu. Siswa masih banyak mengalami

kesulitan untuk merepresentasikan konsep matematika yang telah diajarkan oleh

guru di kelas. Hal tersebut mengakibatkan siswa kesulitan dalam menyelesaikan

model dari masalah atau informasi yang diberikan ke dalam persamaan

matematis, kesulitan dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan

persamaan matematika, kesulitan dalam menyajikan kembali data atau informasi

dari suatu grafik garis pada koordinat kartesius, serta kesulitan dalam membuat

dan menjawab pertanyaan dengan menggunakan kata-kata atau teks tertulis.

Menyikapi masalah-masalah tersebut, diperlukan upaya untuk memperbaiki dan

mengasah kemampuan representasi matematis matematis siswa. Salah satu

caranya yaitu menerapkan proses pembelajaran yang dapat membuat siswa

berpikir dan mengomunikasikan gagasan-gagasan melalui interaksi sosial.

Interaksi sosial yang terjadi tidak hanya antara siswa dengan guru saja melainkan

perlu memunculkan interaksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.

Dengan adanya interaksi tersebut diharapkan setiap siswa aktif dan mampu

mengeluarkan ide ataupun gagasan yang ia miliki sehingga akan meningkatkan

keterampilan berpikir siswa yang berakibat pada kemampuan representasi menjadi

(27)

7

pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri

ide atau gagasan yang dimiliki melalui interaksi siswa di dalam kelompok, dan

melibatkan siswa dalam pengambilan kesimpulan. Salah satu model pembelajaran

yang sesuai adalah Think Pair Share (TPS).

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah model pembelajaran yang

dibangun melalui kegiatan berpikir (think), berpasangan (pair) dan berbagi

(share) yang melibatkan pemecahan masalah dalam kelompok kecil.

Pembelajaran kooperatif tipe TPS juga memberi kesempatan kepada siswa untuk

mengasah kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Menurut Lie (2008:

56), TPS memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta berkerjasama

de-ngan orang lain. Keunggulan dari model TPS adalah mengoptimalisasi partisipasi

siswa. Pada proses pembelajaran, TPS memberikan kesempatan kepada

perwaki-lan kelompok maju dan menyampaikan hasil diskusinya kepada seluruh siswa di

dalam kelas. Model pembelajaran tipe TPS ini memberikan kesempatan lebih

ba-nyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi kepada orang lain.

Dengan diterapkannya model pembelajaran ini, siswa dapat memiliki kemampuan

untuk menyajikan kembali notasi, simbol, tabel, gambar, grafik, diagram,

persamaan atau ekspresi matematis lainnya ke dalam bentuk lain yang merupakan

kemampuan dasar dari representasi matematis. Dari penjelasan di atas, perlu

(28)

8

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah model pembelajaran think pair

share berpengaruh terhadap kemampuan representasi matematis siswa?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran Think Pair

Share terhadap kemampuan representasi matematis siswa.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi dalam

pendidikan matematika berkaitan dengan model pembelajaran koope-ratif tipe

TPS dan kemampuan representasi matematis siswa.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat menjadi pertimbangan bagi para guru dalam memilih

model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan

representasi matematis siswa, serta dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai

(29)

9

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Kemampuan Representasi Matematis

Kemampuan representasi matematis adalah salah satu kemampuan yang harus

dimiliki siswa saat mempelajari matematika. Effendi (2012: 2) mengungkapkan

bahwa kemampuan representasi matematis adalah kemampuan untuk menemukan

dan membuat suatu alat atau cara berpikir dalam mengomunikasikan gagasan

matematis dari yang sifatnya abstrak menuju konkret, sehingga lebih mudah untuk

dipahami. Selanjutnya Hutagaol (2013: 87) mengungkapkan bahwa kemampuan

representasi matematis adalah kemampuan untuk mengomunikasikan ide/gagasan

matematika yang dipelajari dengan cara tertentu.

Hudiono (2005: 19) menyatakan bahwa kemampuan representasi mendukung

siswa memahami konsep matematika yang dipelajarinya dan keterkaitannya,

mengkomunikasikan ide-ide matematika, mengenal koneksi diantara konsep

matematika, dan menerapkan matematika pada permasalahan matematika realistik

melalui pemodelan. Kemampuan representasi matematis juga merupakan cara

berpikir siswa dalam mengomunikasikan jawaban matematis dari yang sifatnya

abstrak menuju konkret, agar siswa lebih mudah dalam menyelesaikan masalah

(30)

10

mempermudah peserta didik dalam menyelesaikan masalah matematika yang

bersifat abstrak menjadi lebih konkrit pada peserta didik.

Mudzakir (2006: 21) mengelompokkan representasi matematis ke dalam tiga

ra-gam representasi yang utama, yaitu (1) representasi visual berupa ra-gambar, grafik

atau tabel, dan gambar, (2) persamaan atau ekspresi matematika, dan (3) kata-kata

atau teks tertulis. Mudzakir (2006: 47) menyusun indikator kemampuan

representasi matematis seperti pada Tabel 2.2.

Tabel 2.1 Bentuk-Bentuk Indikator Representasi Matematis

Representasi Bentuk-Bentuk Indikator

[image:30.595.110.513.324.728.2]

Representasi visual; diagram, table atau grafik, dan gambar

a. Menyajikan kembali data atau informasi dari suatu

representasi kerepresentasi diagram, grafik atau tabel.

b. Menggunakan representasi visual untuk

menyelesaikan masalah.

c. Membua gambar pola-pola geometri.

d. Membuat gambar bangun geometri untuk memperjelas

masalah dan mengfasilitasi penyelesaiannya.

Persamaan atau ekspresi matematis

a. Membuat persamaan atau ekspresi matematis dari

representasi lain yang diberikan.

b. Membuat konjektur dari suatu pola bilangan.

c. Penyelesaian masalah dari suatu ekspresi matematis.

Kata-kata atau teks tertulis

a. Membuat situasi masalah berdasarkan data atau

representasi yang diberikan.

b. Menuliskan interpretasi dari suatu representasi.

c. Menyusun cerita yang sesuai dengan suatu

representasi yang disajikan.

d. Menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah

dengan kata-kata atau teks tertulis.

e. Membuat dan menjawab pertanyaan dengan

menggunakan kata-kata atau teks tertulis.

(31)

11

Adapun dalam penelitian ini, indikator kemampuan representasi matematis yang

diamati yaitu :

a. Menyajikan kembali data/informasi dari suatu representasi ke representasi

diagram.

b. Menyelesaikan masalah dengan melibatkan ekspresi matematik

c. Menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah dengan kata-kata.

Dari uraian mengenai kemampuan representasi matematis, dapat disimpulkan

bahwa kemampuan representasi matematis adalah kemampuan untuk menemukan

dan membuat suatu alat atau cara berpikir dalam mengomunikasikan gagasan atau

ide matematis dari yang sifatnya abstrak menuju konkret. Ide atau gagasan

matematika dapat di representasikan dalam beberapa variasi cara, yaitu dalam

bentuk gambar, tabel, grafik, dan lain sebagainya. Dengan demikian, ide atau

gagasan matematika yang diperoleh akan lebih mudah untuk dipahami dan

dikomunikasikan.

2. Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif pada dasarnya adalah model pembelajaran yang

menggunakan kelompok sebagai media dalam pembelajaran. Menurut Sugiyanto

(2010: 37), konsep pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus

pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk mencapai tujuan proses

pemebelajaran. Senada dengan Sugiyanto, Suherman, dkk (2003: 260)

mengung-kapkan bahwa pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa

yang bekerja sama sebagai sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama. Dengan

(32)

12

adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk

bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi proses pembelajaran. Perbedaan

pendapat antara Slavin dan Sugiyanto terletak pada penggunaan model

pembelajaran kooperatif. Jika Slavin mengungungkapan penggunaan model

tersebut untuk memaksimalkan kondisi proses pemebelajaran, maka Sugiyanto

mengungkapkan untuk mencapai tujuan proses pemebelajaran. Pada dasarnya

model pembelajaran ini menganggap kelas sebagai kelompok besar yang terdiri

atas kelompok-kelompok kecil. Jika kelompok-kelompok kecil tersebut dapat

memaksimalkan dan mencapai tujuan pembelajaran, maka kelas sebagai

kelompok besar berhasil memaksimalkan dan mecepai tujuan pembelajaran.

Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan proses pembelajaran kooperatif jika

dapat memenuhi beberapa karakterisktik. Sanjaya (2014: 244) menyatakan bahwa

terdapat 4 (empat) karakteristik pemebelajaran kooperatif, yaitu (1) pembelajaran

tim, (2) didasarkan pada manajemen kooperatif, (3) kemauan untuk bekerja sama,

dan (4) keterampilan bekerja sama. Sejalan dengan itu, Suherman, dkk (2003:

260) menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam

pemebelajaran kooperatif, yaitu (1) para siswa yang tergabung dalam suatu

kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan

mempunya tujuan yang harus dicapai, (2) para siswa yang tergabung dalam

sebuah kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah

masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi

tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu, (3) untuk mencapai

hasil tujuan yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu

(33)

13

Penggunaan model pembelajaran think pair share tentunya memiliki banyak

keuntungan. Sugiyanto (2010: 43) menyatakan ada beberapa keunggunalan

penerapan pembe-lajaran kooperatif, yaitu (1) memudahkan siswa melakukan

penyesuaian sosial, (2) memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap,

keterampilan, informasi perilaku sosial dan pandangan-pandangan, (3)

memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen, (4)

menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois, (5) meningkatkan

kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasa lebih baik, (6) meningkatkan

kemampuan memandang masalah (7) meningkatkan rasa saling percaya (8)

membangun persahabatan.

Selain itu, masih terdapat keuntungan lain dalam penggunaan pembelajaran

kooperatif. Huda (2011: 59) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif

dipercaya sebagai (1) pembelajaran yang efektif untuk semua siswa, (2)

pembelajaran yang menjadi bagian integratif bagi perubahan paradigma sekolah

saat ini, dan (3) pembelajaran yang mendorong terwujudnya interaksi dan kerja

sama yang sehat diantara siswa yang terbiasa bekerja secara terpisah dengan orang

lain.

Berdasarkan uraian pembelajaran kooperatif yang telah dijelaskan, dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang

mefokuskan pembelajaran dalam kelompok kecil untuk memaksimalkan kondisi

proses pembelajaran sehingga mampu mencapai tujuan dari proses pembelajaran.

(34)

14

3. Pembelajaran Kooperatiftipe ThinkPair Share

Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah Think Pair Share (TPS).

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan salah satu model

pembelajaran kooperatif yang cukup efektif untuk mengganti pola diskusi di

kelas. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat dikatakan efektif

dikarenakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS relatif lebih sederhana dan

dalam mengelompokan siswa hanya membutuhkan waktu yang relatif tidak lama.

Hal ini sesuai dengan Huda (2011: 132) yang menyatakan bahwa TPS merupakan

model pembelajaran yang sederhana, namun sangat bermanfaat.

Pembelajaran kooperatif tipe TPS juga memberi kesempatan kepada siswa untuk

mengasah kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Menurut Lie (2008:

56), TPS memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta berkerjasama

de-ngan orang lain. Keunggulan dari model TPS adalah mengoptimalisasi partisipasi

siswa. Pada proses pembelajaran, TPS memberikan kesempatan kepada

perwaki-lan kelompok maju dan menyampaikan hasil diskusinya kepada seluruh siswa di

dalam kelas. Model pembelajaran tipe TPS ini memberikan kesempatan lebih

ba-nyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi kepada orang lain.

Untuk tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, Huda

(2011: 132) mengungkapan tahap pelaksanaan model pembelajaran kooperatif

tipe TPS adalah pertama-tama siswa diminta duduk berpasangan. Kemudian,

guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada mereka. Setiap siswa diminta

untuk berpikir sendiri-sendiri terlebih dahulu tentang jawaban atas pertanyaan itu

(35)

15

memperoleh konsesus yang sekiranya dapat mewakili jawaban mereka berdua

(pair). Setelah itu, guru meminta setiap pasangan untuk berbagi, menjelaskan,

atau menjabarkan hasil konsesus atau jawaban yang telah mereka sepakati pada

siswa-siswa yang lain di ruang kelas (share). Sejalan dengan Huda, Trianto (2009:

81) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam penerapan TPS dimulai dengan

proses berpikir (think) yaitu guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang

dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa untuk beripikir sendiri mencari

solusi dari masalah yang diberikan dalam waktu beberapa menit. Kemudian siswa

berpasangan (pair) yaitu guru meminta siswa berpasangan dan mendiskusikan apa

yang telah mereka peroleh pada tahap berpikir (think). Kegiatan terakhir adalah

berbagi (share) yaitu guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan

seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan.

Menurut Ibrahim (2000:26-27), ada tiga tahapan dalam model pembelajaran

kooperatif tipe Think Pair Share, sebagai berikut:

1. Berpikir (Think)

Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran.

Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara

mandiri beberapa saat.

2. Berpasangan (Pair)

Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa

yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota

pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan

mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau

(36)

16

3. Berbagi (Share)

Pada tahap terakhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan

seluruh kelas tantang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi

dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara

sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran

pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat

kesempatan untuk melaporkan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

kooperatif tipe Think Pair Share yang melibatkan siswa pada kegiatan berpikir

(thinking), berpasangan (pairing), dan berbagi (sharing). Adapun tahapannya

yaitu pertama thinking, dimana siswa diberi kesempatan untuk berpikir sendiri

menyelesaikan suatu masalah yang diberikan guru. Selanjutnya tahap pairing,

dimana siswa diminta berpasangan untuk mendiskusikan hasil pemikiran mereka

masing-masing mengenai penyelesaian masalah sebelumnya dan menuliskan hasil

jawaban mereka. Terakhir tahap sharing, dimana siswa diberi kesempatan untuk

membagikan hasil diskusi mereka kepada seluruh teman sekelasnya.

4. Pembelajaran Konvensional

Menurut Depdiknas (2008: 807), konvensional berasal dari kata konvensi yang

berarti kesepakatan. Pembelajaran konvensional diartikan sebagai pembelajaran

yang disepakati secara nasional. Konvensional yang dimaksud merupakan

pembelajaran pada Kurikulum 2013 karena saat ini kurikulum yang berlaku di

sekolah adalah Kurikulum 2013. Kegiatan pembelajaran pada Kurikulum 2013

(37)

17

yang tercantum pada Permendikbud Nomor 81 A tahun 2013 tentang

implementasu kurikulum, yaitu (1) berpusat pada siswa, (2) mengembangkan

kreativitas siswa, (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, (4)

bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan (5) menyediakan

pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan model

pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.

Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: (1)

mengamati, (2) menanya, (3) mengumpulkan informasi, (4) mengkomunikasikan,

dan (5) mengasosiasi.

Pada penelitian ini, pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah proses

pembelajaran yang telah menggunakan pendekatan saintifik dengan langkah-

langkah yang ada di buku guru meliputi lima pengalaman belajar yaitu: (1)

mengamati, (2) menanya, (3) mengumpulkan informasi, (4) mengasosiasi, dan (5)

mengkomunikasikan.

B. Kerangka Pikir

Penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

(TPS) terhadap kemampuan representasi matematis siswa terdiri dari satu variabel

bebas dan satu variabel terikat. Dalam penelitian ini, akan diterapkan model

pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) dan kemampuan

representasi matematis siswa.

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah model pembelajaran yang

(38)

18

sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran ini

memadukan belajar mandiri dan belajar secara berkelompok. Model

pembelajaran kooperatif tipe TPS terdiri dari tiga tahap, yaitu think, pair, dan

share.

Pada tahap berpikir (think), diawali dengan siswa dituntut untuk berpikir

mengenai penyelesaian dari permasalahan dalam LKPD yang dibagikan oleh

guru. Dalam aktivitas tersebut, siswa diminta untuk mengamati dan

menyelesaikan masalah yang terdapat pada LKPD secara mandiri. Pada tahap ini

siswa berusaha menggali kemampuannya serta memahami konsep dan melatih

siswa untuk menyatakan ide-ide matematika ke dalam gambar, diagram, grafik

atau tabel.

Tahap selanjutnya adalah tahap berpasangan (pair). Pada tahap ini, siswa akan

berkelompok dimana setiap kelompok beranggotakan empat sampai lima orang.

Pada kelompok tersebut, siswa akan berdiskusi tentang hal, ide atau gagasan yang

diperoleh saat tahap think. Dengan berdiskusi, siswa diharapkan mampu lebih

memahami materi dan mampu mengkomunikasikan gagasan dalam bentuk

kata-kata. Dengan demikian, kegiatan ini akan membangun keterampilan siswa dalam

merepresentasikan gagasan mereka ke dalam bentuk kata-kata untuk memberikan

solusi dari permasalahan yang di berikan.

Pada tahap berbagi (share), setiap kelompok diminta untuk berbagi dengan

seluruh kelas tentang apa yang telah mereka dapatkan di tahap think dan pair.

Dengan demikian, siswa akan memiliki kemampuan untuk menyampaikan

(39)

19

Berdasarkan penjabaran di atas, pembelajaran matematika yang menggunakan

pembelajaran kooperatif tipe TPS akan menghasilkan kemampuan representasi

matematis siswa yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran matematika yang

menggunakan model pembelajaran konvensional, sehingga pembelajaran

kooperatif tipe TPS (Think Pair Share) berpengaruh terhadap kemampuan

representasi matematis siswa.

C. Anggapan Dasar

Penelitian ini memiliki anggapan dasar bahwa semua siswa kelas VIII (delapan)

SMP Negeri 9 Bandarlampung memperoleh materi pelajaran yang sama dan

sesuai dengan kurikulum yang berlaku, yaitu Kurikulum 2013.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pikir, hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Hipotesis Umum

Pembelajaran kooperatif tipe TPS berpengaruh terhadap kemampuan

representasi matematis siswa.

2. Hipotesis Khusus

Peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang mengikuti

pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih tinggi daripada peningkatan

kemampuan representasi matematis siswa yang mengikuti pembelajaran

(40)

20

III. METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 9 Bandarlampung yang terletak di

Jalan Amir Hamzah, Gotong Royong, Kec. Tanjung Karang Pusat, Kota

Bandarlampung. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII semester

ganjil SMP Negeri 9 Bandarlampung tahun ajaran 2019-2020 yang terdistribusi

dalam sembilan kelas. Berikut adalah distribusi guru kelas VIII yang mengajar di

[image:40.595.118.509.485.530.2]

SMP Negeri 9 Bandarlampung berdasarkan Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Distribusi Guru Matematika Kelas VIII di SMP Negeri 9 Bandarlampung

No. Nama Guru Kelas yang Diajar

1. Suharsih S.Pd. VIII A–VIII F 2. Najamuddin AA, S.Pd. VIII G–VIII I

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Dari sembilan

kelas VIII yang ada di SMP Negeri 9 Bandarlampung dipilih dua kelas sebagai

sampel dengan pertimbangan memiliki pengalaman belajar yang sama maka

sampel yang dipilih adalah kelas yang diajar oleh guru yang sama. Kemudian,

terpilihlah dua kelas yaitu kelas VIII I dan VIII H sebagai sampel kelas. Kelas

(41)

21

TPS dan kelas VIII H berjumlah 30 siswa sebagai kelas kontrol yang mengikuti

pembelajaran konvensional.

B. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment).

Penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu pembelajaran dengan model

kooperatif tipe Think Pair Share dan pembelajaran dengan model konvensional,

sedangkan variabel terikat yaitu kemampuan representasi matematis. Desain yang

akan digunakan adalah pretest-posttest control group design, sesuai dengan yang

[image:41.595.109.514.404.472.2]

dikemukakan Fraenkel, Wallen, dan Hyun (1993:248) yang tertera pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Desain Penelitian

Kelompok Perlakuan

Pretest Pembelajaran Posttest

Kelas eksperimen (R) O1 X O2

Kelas kontrol (R) O1 C O2

Fraenkel dan Wallen (2009: 269)

Keterangan:

R = Penentuan kelas eksperimen dan kelas kontrol secara acak (random) X = Pembelajaran Model Kooperatif tipeTPS

C = Pembelajaran Model Konvensional

O1 = Pretest kemampuan representasi matematis siswa

O2 = Posttest kemampuan representasi matematis siswa

C. Prosedur Penelitian

Prosedur dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap

pelaksanaan, dan tahap pengolahan data. Adapun uraian lengkap mengenai

(42)

22

1. Tahap Persiapan

Adapun persiapan yang direncanakan sebelum penelitian ini dilaksanakan,

yaitu:

a. Melakukan observasi untuk melihat karakteristik populasi yang ada.

b. Menentukan sampel penelitian.

c. Menetapkan materi yang digunakan dalam penelitian.

d. Menyusun proposal.

e. Menyusun perangkat pembelajaran yang digunakan saat penelitian.

f. Membuat instrumen penelitian berupa tes.

g. Konsultasi kepada dosen pembimbing dan guru mitra tentang proposal dan

instrumen penelitian.

h. Melakukan uji coba instrumen tes.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Mengadakan pretest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

b. Melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share

pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

c. Mengadakan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

a. Mengumpulkan data hasil tes kemampuan representasi matematis siswa dari

kelas eksperimen dan kelas kontrol.

b. Mengolah dan menganalisis data yang diperoleh dari masing-masing kelas

serta menyimpulkannya.

(43)

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes.

Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan representasi

matematis melalui pretest dan posttest yang diberikan kepada kelas eksperimen

dan kelas kontrol.

Data penelitian ini berupa (1) data kemampuan representasi matematis awal yang

dicerminkan oleh skor pretest, (2) data kemampuan representasi matematis akhir

dicerminkan oleh skor posttest, dan (3) data peningkatan skor (gain) pada kelas

eksperimen dan kelas kontrol. Semua data tersebut merupakan data kuantitatif.

F. Instrumen Penelitian

Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes. Perangkat tes

terdiri dari beberapa soal uraian. Setiap soal memiliki satu atau lebih indikator

kemampuan representasi matematis. Penggunaan soal uraian karena dengan soal

uraian, langkah-langkah penyelesaian siswa yang mengandung indikator

kemampuan representasi matematis dapat terlihat jelas. Tes ini diberikan kepada

siswa secara individual, pemberiannya bertujuan untuk mengukur peningkatan

kemampuan representasi matematis. Adapun pedoman penskoran tes kemampuan

representasi matematis soal uraian dapat dilihat pada Lampiran B.3 halaman 137.

Untuk memperoleh data yang akurat, diperlukan instrumen yang memenuhi

kriteria tes yang baik, yaitu memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Sejalan 23

D. Teknik Pengumpulan Data

(44)

24

dengan pendapat Arikunto (2013: 72) bahwa suatu tes dikatakan baik apabila

memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas dan reliabilitas. Selain itu,

diukur juga daya pembeda dan tingkat kesukaran butir soal dari instrumen tes

kemampuan representasi matematis.

1. Validitas Tes

Validitas instrumen dalam penelitian ini didasarkan pada validitas isi. Validitas isi

dari tes kemampuan representasi matematis diketahui dengan cara menilai

kesesuaian isi yang terkandung dalam tes kemampuan representasi matematis

dengan indikator kemampuan representasi matematis yang telah ditentukan.

Suatu tes dikategorikan valid jika butir-butir soal tes sesuai dengan kompetensi

dasar dan indikator pembelajaran yang diukur. Penilaian terhadap kesesuaian isi

tes dengan kisi-kisi tes dan kesesuaian bahasa yang digunakan dengan

kemampuan bahasa siswa dilakukan dengan menggunakan daftar checklist oleh

guru mitra.

Hasil penilaian terhadap tes kemampuan representasi matematis menunjukkan

bahwa tes yang digunakan telah memenuhi validitas isi. Form penilaian validitas

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B.5 halaman 145. Setelah instrumen tes

dinyatakan valid, maka dilakukan uji coba soal pada siswa di luar sampel yaitu

pada kelas IX I dan IX H. Data yang diperoleh dari hasil uji coba kemudian

diolah dengan bantuan Software Microsoft Excel 2010 untuk mengetahui

(45)

25

2. Reliabilitas

Reliabilitas tes diukur berdasarkan koefisien reliabilitas dan digunakan untuk

mengetahui tingkat ketetapan atau kekonsistenan suatu tes. Menurut Sudijono

(2013: 208), untuk menghitung koefisien reliabilitas tes, menggunakan rumus

alpha, yaitu:

= − 1 1 −

Keterangan:

r 11 = Koefisien reliabilitas instrumen tes

n = Banyaknya butir soal

∑ = Jumlah varians skor dari tiap-tiap butir soal = Varians skor total

Koefisien reliabilitas instrumen tes diinterpretasikan dalam Sudijono (2013: 209)

[image:45.595.111.513.537.609.2]

disajikan dalam Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Kriteria Koefisien Reliabilitas

Koefisien Relibilitas (r11) Kriteria

r11 ≥ 0,70 Reliabel

r11 < 0,70 Tidak Reliabel

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh koefisien reliabilitas untuk soal pretest

sebesar 0,75 dan untuk soal postest sebesar 0,73. Hasil perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada Lampiran C.1 halaman 147. Berdasarkan hasil tersebut, tes

(46)

26

3. Daya Pembeda

Daya beda butir soal tes adalah kemampuan suatu butir soal untuk membedakan

antara siswa yang berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. Daya beda

butir soal dihitung dengan terlebih dahulu mengurutkan data siswa yang

memperoleh nilai tertinggi sampai terendah, kemudian diambil 27% siswa yang

memperoleh skor tertinggi sebagai kelompok atas dan 27% siswa yang

memperoleh skor terendah sebagai kelompok bawah. Menurut Arikunto (2013:

213), rumus yang digunakan untuk daya pembeda butir soal uraian adalah:

= −

Keterangan:

= Indeks daya pembeda satu butir soal tertentu

= Rata-rata skor kelompok atas pada butir soal yang diolah = Skor maksimal butir soal yang diolah

= Rata-rata skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah

Kriteria tolak ukur daya pembeda butir soal yang digunakan menurut Arikunto

[image:46.595.113.513.558.649.2]

(2013: 218), selengkapnya ditunjukkan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Interpretasi Indeks Daya Pembeda

Indeks Daya Pembeda Kriteria

-0,10 ≤ DP ≤ 0,00 Sangat Buruk

0,01 ≤ DP ≤ 0,20 Buruk

0,21 ≤ DP ≤ 0,30 Cukup

0,31 ≤ DP ≤ 0,70 Baik

0,71 ≤ DP ≤ 1,00 Sangat Baik

Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan daya pembeda untuk soal pretest

nomor satu sampai tiga berturut-turut adalah 0,41, 0,44, 0,58 dengan interpretasi

(47)

27

adalah 0,35, 0,50, 0,23 dengan interpretasi cukup dan baik. Hal ini sesuai dengan

ketentuan bahwa soal akan digunakan apabila terinterpretasi sangat baik, baik,

atau cukup . Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.2

halaman 152 dan 154.

4. Tingkat Kesukaran.

Tingkat kesukaran digunakan untuk menentukan derajat kesukaran suatu butir

soal. Bermutu atau tidaknya butir-butir soal pertama-tama dapat diketahui dari

derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing butir soal

tersebut. Menurut Sudijono (2013: 372), tingkat kesukaran butir soal dapat

dihitung dengan menggunakan rumus berikut.

=

Keterangan:

P = tingkat kesukaran suatu butir soal

NP = jumlah skor yang diperoleh siswa pada suatu butir soal

N = jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh siswa pada suatu butir soal.

Untuk menginterpretasi tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan kriteria

tingkat kesukaran menurut Thorndike dan Hagen (Sudijono 2013: 372) yang

[image:47.595.113.512.636.696.2]

tertera dalam Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Interpretasi Tingkat Kesukaran

Tingkat Kesukaran Interpretasi

P < 0,30 Terlalu Sukar 0,30 ≤ P ≤ 0,70 Cukup (Sedang)

(48)

28

Setelah dilakukan perhitungan tingkat kesukaran untuk setiap nomor, diperoleh

bahwa pada soal pretest nomor satu sampai tiga berturut-turut diperoleh 0,56,

0,64, dan 0,60 yang berarti soal nomor satu sampai tiga terinterpretasi sedang,

sedangkan untuk tingkat kesukaran soal posttest nomor satu sampai tiga secara

berturut-turut adalah 0,50, 0,60 dan 0,67 yang berarti bahwa soal nomor satu

sampai tiga memiliki tingkat kesukaran terinterpretasi sedang. Hal ini sesuai

dengan kriteria minimal yang digunakan yaitu sedang. Hasil perhitungan tingkat

kesukaran dapat dilihat pada Lampiran C.3 halaman 155.

Setelah dilakukan analisis validitas isi, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat

kesukaran pada soal tes kemampuan representasi matematis siswa didapatkan

bahwa instrumen tes ini telah memenuhi kriteria valid, reliabel, serta setiap butir

soal sudah memenuhi daya pembeda dan tingkat kesukaran yang telah ditentukan,

sehingga soal layak untuk digunakan.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data bertujuan untuk menguji kebenaran suatu hipotesis. Data yang

diperoleh adalah data kemampuan representasi matematis yang dicerminkan oleh

skor awal, skor akhir, dan skor gain.

1. Analisis Data Kemampuan Representasi Matematis Awal

Sebelum dilakukan uji hipotesis penelitian, dilakukan analisis terlebih dahulu

terhadap data kemampuan representasi matematis awal siswa pada kedua sampel.

Data kemampuan representasi matematis awal selengkapnya dapat dilihat pada

(49)

29

kemampuan representasi matematis awal siswa pada kedua sampel adalah untuk

mengetahui apakah data kemampuan representasi matematis awal siswa pada

kedua sampel sama atau tidak. Sebelum melakukan uji perbedaan, dilakukan uji

normalitas dan homogenitas data.

a. Uji Normalitas Data Kemampuan Representasi Matematis Awal

Uji normalitas data dilakukan untuk melihat apakah data kemampuan representasi

matematis awal siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov dengan hipotesis uji sebagai berikut.

H0 : Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

H1 : Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Menurut Sheskin (2000), prosedur pengujian menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut.

a. Mengurutkan data dari data terkecil ke data terbesar

b. Mengubah data awal menjadi bilangan baku menggunakan rumus = ̅ c. Menghitung peluang F ! = P ≤ !

d. Menghitung proporsi x1, x2, x3, ..., xn yang lebih kecil atau sama dengan xi. Jika

proporsi ini dinyatakan oleh S !, maka

S ! =banyaknya , , +, …, - yang ≤

(50)

30

f. Memilih nilai yang paling besar diantara nilai- nilai mutlak selisih tersebut.

Nilai terbesar dilambangkan D012345.

Menurut Sheskin (2000), kriteria uji adalah tolak H0 jika D012345 > D2789:. Nilai

D2789: dapat dilihat pada tabel nilai Kolmogorov-Smirnov dengan taraf nyata α =

0,05. Hasil uji normalitas data kemampuan representasi matematis awal siswa

yang mengikuti pembelajaran Think Pair Share dan konvensional disajikan dalam

Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Representasi Matematis Awal Siswa

Kelas Dhitung Dtabel Keputusan Uji Keterangan Think Pair Share 0,142 0,254 H< Diterima Berdistribusi Normal Konvensional 0,179 0,242 H< Diterima Berdistribusi Normal Berdasarkan Tabel 3.6, diketahui bahwa Dhitung < Dtabel baik pada kelas Think

Pair Share dan konvensional H0 diterima. Dengan demikian, data kemampuan

representasi matematis awal siswa yang mengikuti pembelajaran Think Pair Share

dan konvensional berasal dari populasi berdistribusi normal. Hasil perhitungan

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.6 halaman 161 dan Lampiran C.7

halaman 163.

b. Uji Homogenitas Data Kemampuan Representasi Matematis Awal

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua data kemampuan

representasi matematis awal siswa yang mengikuti pembelajaran Think Pair Share

(51)

31

masing-masing data dilakukan dengan uji kesamaan dua varians dengan hipotesis

sebagai berikut.

H<: variansi kedua populasi bersifat homogen.

H : variansi kedua populasi bersifat tidak homogen.

Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis menurut Sudjana (2005: 249)

adalah:

=> ?@-A = BCCC

Keterangan:

D = varians terbesar

D = varians terkecil

Pada penelitian ini, taraf signifikan yang digunakan adalah E = 0,05. Kriteria pengujian adalah terima H0 jika Fhitung < =?HIJK dimana =?HIJK adalah

=B

CL -B ,-C !dengan =M N,-! didapat dari daftar distribusi F dengan peluang O, dk pembilang = n1-1 dan dk penyebut = n2-1, dalam hal lainnya H0 ditolak.

Hasil uji homogenitas data kemampuan representasi matematis awal didapat

=> ?@-A = 1,011 dan =?HIJK = 2,131 dan kriteria uji terima H0 jika Fhitung < =?HIJK

maka berdasarkan kriteria uji H0 diterima karena => ?@-A < =?HIJK. Dengan

demikian, data kemampuan representasi matematis awal siswa yang mengikuti

pembelajaran Think Pair Share dan konvensional memiliki varians yang sama.

(52)

32

c. Uji Perbedaan Data Kemampuan Representasi Matematis Awal

Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas data kemampuan representasi

matematis awal, diketahui bahwa data kemampuan representasi matematis awal

siswa yang mengikuti pembelajaran Think Pair Share dan konvensional

berdistribusi normal dan memiliki varians yang sama, maka analisis berikutnya

adalah menguji perbedaan data kemampuan representasi matematis awal siswa

dengan menggunakan uji-P. a) Hipotesis:

H0 : Kemampuan representasi matematis awal siswa yang mengikuti

pembelajaran Think Pair Share sama dengan kemampuan representasi

matematis awal siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

H1 : Kemampuan representasi matematis awal siswa yang mengikuti

pembelajaran Think Pair Share lebih tinggi daripada kemampuan

representasi matematis awal siswa yang mengikuti pembelajaran

konvensional.

b) Taraf signifikansi

Taraf signifikansi yang digunakan adalah α = 0,05.

c) Statistik uji

Dalam Sudjana (2005: 243), statistik yang digunakan untuk uji-P adalah

P> ?@-A = ̅B ̅C

QRBBSRCB dengan D =

-B ! BCS -C ! CC

(53)

33

Keterangan:

̅ = rata-rata data kemampuan representasi matematis awal siswa kelas eksperimen

̅ = rata-rata data kemampuan representasi matematis awal siswa kelas kontrol

= banyaknya subyek kelas eksperimen = banyaknya subyek kelas kontrol

D = varians kelompok eksperimen

D = varians kelompok kontrol

D = varians gabungan

Untuk kriteria uji-t adalah tolak T< jika diperoleh P> ?@-A > P?HIJK dengan

P?HIJK = P L! -BS-C !

Dengan menggunakan program Microsoft Excel, pada taraf signifikan α = 0,05

diperoleh nilai Phitung = 0,785 dan Ptabel = 1,673 maka berdasarkan kriteria

pengujian H0 diterima karena Phitung < Ptabel. Hal ini berarti kemampuan

representasi matematis awal siswa yang mengikuti pembelajaran TPS sama

dengan kemampuan representasi matematis awal siswa yang mengikuti

pembelajaran konvensional. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada

Lampiran C.9 halaman 167.

Analisis data kemampuan representasi matematis awal siswa menunjukkan bahwa

kemampuan representasi matematis awal siswa kelas Think Pair Share sama

dengan kemampuan representasi matematis awal siswa kelas konvensional.

Dengan demikian, data yang digunakan untuk analisis hipotesis adalah data gain

(54)

34

2. Analisis Data Gain Kemampuan Representasi Matematis

Setelah kedua sampel diberi perlakuan, data yang diperoleh dari hasil tes

dianalisis untuk mendapatkan skor peningkatan atau gain. Menurut Hake (1998)

besarnya peningkatan dapat dihitung dengan rumus gain ternormalisasi sebagai

berikut.

U =Z[ \Z]Z VWDD\^_X DYW X − V XPXDP DYW XVWDPPXDP DYW X − V XPXDP DYW X

Analisis data dilakukan menggunakan Software Microsoft Excel 2010. Hasil

perhitungan gain kemampuan representasi matematis dari kedua sampel

selengkapnya terdapat pada Lampiran C.10 halaman 170. Sebelum melakukan uji

perbedaan data gain, dilakukan uji normalitas dan homogenitas data.

a. Uji Normalitas Data Gain Kemampuan Representasi Matematis

Prosedur uji normalitas data gain kemampuan representasi matematis siswa sama

dengan prosedur uji normalitas yang telah dilakukan pada data awal kemampuan

representasi matematis. Hasil uji normalitas data peningkatan kemampuan

representasi matematis siswa yang mengikuti pembelajaran Think Pair Share

dan pembelajaran konvensional disajikan dalam Tabel 3.8.

Tabel 3.7 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Data Peningkatan Kemampuan representasi Matematis Siswa

(55)

35

Berdasarkan Tabel 3.7, diketahui bahwa Dhitung < Dtabel baik pada kelas Think Pair Share maupun konvensional maka H0 diterima. Dengan demikian, data

peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang mengikuti

pembelajaran Think Pair Share dan konvensional berasal dari populasi yang

berdistribusi normal. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran

C.11 halaman 172 dan Lampiran C.12 halaman 175.

b. Uji Homogenitas Data Gain Kemampuan Representasi Matematis

Prosedur uji homogenitas data gain kemampuan representasi matematis siswa

sama dengan prosedur uji homogenitas yang telah dilakukan pada data

kemampuan representasi matematis awal.

Hasil uji homogenitas data peningkatan kemampuan representasi matematis

didapat => ?@-A = 1,820 dan =?HIJK = 2,165 dan kriteria uji terima H0 jika Fhitung <

=?HIJK maka berdasarkan kriteria uji H0 diterima karena => ?@-A < =?HIJK. Dengan

demikian, data peningkatan kemampuan representasi matematis siswa yang

mengikuti pembelajaran Think Pair Share dan konvensional memiliki varians

yang sama. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.13

halaman 178.

c. Uji Hipotesis

Data gain kemampuan representasi matematis siswa yang mengikuti pembelajaran

Think Pair Share dan konvensional berdistribusi normal dan bersifat homogen,

Figure

table atau grafik,
Tabel 3.1 Distribusi Guru Matematika Kelas VIII di SMP Negeri 9
Tabel 3.2 Desain Penelitian
Tabel 3.3 Kriteria Koefisien Reliabilitas
+3

References

Related documents

The present studies were undertaken to relate two previ- ous sets of observations: (a) that rat parathyroid glands in organ culture could secrete biologically active hor- mone into

From March to May 2006, type 1 circulating vaccine-derived poliovirus (cVDPV) was isolated from one case patient with acute flaccid paralysis (AFP) and six unimmunized healthy

To conclude, we described a novel phenotypic heterogeneity within TNBC, and the SRR2 reporter responsiveness is a useful marker for identifying a highly tumorigenic cell subset

To further investigate the effect of PA-MSHA on CD 163+ macrophages, the cytology and expression of M1- and M2-realated cytokines of CD163+ TAMs before and after treatment

We found that previous use of fluoroquinolones was significantly correlated with LVX resistance and the pres- ence of amino acid mutations and demonstrated a significant

The first case of superinfection was documented in female_C1, who was infected in 2002 with a viral population that grouped with subtype D in the p24 region and with sub- types D and

Serum B12 levels were determined in 20 patients with megaloblastic anemia, 3 patients with chronic myelogenous leukemia, 4 patients with liver dis- ease, and 35 normal control

Altered lymphocyte potassium channel inhibitory patterns, regulators of calcium influx kinetics, might contribute to the development of age-related changes of T cell