• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
59
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH EKSTRAK DAUN KECUBUNG Datura metel (Linnaeus, 1753) SEBAGAI BAHAN ANESTESI TERHADAP KONDISI HEMATOLOGI DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN NILA Oreochromis niloticus

(Linnaeus, 1758)

SKRIPSI

Oleh

REVITA SYEFTI PALMI

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

THE EFFECTS OF AMETHYST Datura metel (Linnaeus, 1753) LEAVES EXTRACT AS AN ANESTHETIC AGENT ON HAEMATOLOGICAL

CONDITION OF TILAPIA Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) FRY

By

REVITA SYEFTI PALMI

Anesthetic method is an important component to support the activities of transporting live fish from one place to another for a long period of time. Cost efficiency and effectiveness of anesthetic ingredients that not cause residues in fish are factors to be considered as an anesthetic. Aim of this research is to study the effect of subletal concentration of amethyst leaf extract on the hematological conditions of tilapia fry after transporting on wet transportation systems. The research procedure was through the amethyst leaf extract toxicity test series (LC50-96 hours) to determine its sublethal concentration by 20% (0,297 ml/l),

30% (0,445 ml/l) and 40% (0,594 ml/l) of the LC50 value. The measured

parameters are clinical symptoms, period of fainting and conscious recovery, hematological analysis, survival rate and water quality. The results showed the concentration of amethyst leaf extract had an effect (P>0,05) on the period of fainting and the hematological component after transportation simulation. Results of water quality measurement showed the parameters of pH at 6 and ammonia 0,04 mg/l are not at the optimum value when fish transportation occur. The recommended concentration of amethyst leaf extract for use as an anesthetic agent is 0,445 ml/l.

(3)

ABSTRAK

PENGARUH EKSTRAK DAUN KECUBUNG Datura metel (Linnaeus, 1753) SEBAGAI BAHAN ANESTESI TERHADAP KONDISI HEMATOLOGI

BENIH IKAN NILA Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)

Oleh

REVITA SYEFTI PALMI

Anestesi merupakan komponen penting untuk menunjang kegiatan transportasi ikan hidup dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu yang cukup lama. Efisiensi biaya dan efektifitas bahan anestesi yang tidak menimbulkan residu pada ikan adalah faktor yang menjadi pertimbangan pemakaian bahan anestesi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh konsentrasi subletal ekstrak daun kecubung terhadap kondisi hematologi benih ikan nila pasca pengangkutan sistem transportasi basah. Prosedur penelitian melalui rangkaian uji toksisitas ekstrak daun kecubung (LC50-96 jam) untuk menentukan konsentrasi subletal sebesar

20% (0,297 ml/l), 30% (0,445 ml/l) dan 40% (0,594 ml/l) dari nilai LC50.

Parameter yang diukur adalah gejala klinis, lama waktu pingsan dan pulih sadar, analisis hematologi, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi ekstrak daun kecubung berpengaruh (P>0,05) terhadap lama waktu pingsan dan komponen hematologi pasca simulasi transportasi. Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan parameter pH sebesar 6 dan amonia 0,04 mg/l berada pada nilai yang tidak optimal saat transportasi ikan berlangsung. Konsentrasi ekstrak daun kecubung yang disarankan untuk digunakan sebagai bahan anestesi adalah 0,445 ml/l.

(4)

PENGARUH EKSTRAK DAUN KECUBUNG Datura metel (Linnaeus, 1753) SEBAGAI BAHAN ANESTESI TERHADAP KONDISI HEMATOLOGI DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN NILA Oreochromis niloticus

(Linnaeus, 1758)

Oleh

REVITA SYEFTI PALMI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERIKANAN

Pada

Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis yang bernama lengkap Revita Syefti Palmi dilahirkan

di Bandar Lampung pada tanggal 28 September 1996 sebagai

anak ketiga dari empat bersaudara dari Bapak Amirillah dan

Ibu Syafrinayati.

Penulis memulai pendidikan formal dari Taman Kanak-kanak

(TK) Harapan Ibu Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2002,

dilanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Sukarame Bandar Lampung yang

diselesaikan pada tahun 2008, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Negeri 12 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2011,

dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 5 Bandar Lampung yang diselesaikan

pada tahun 2014. Penulis melanjutkan pendidikan jenjang S1 di Program Studi

Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian,

Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Ujian Mandiri (UM) pada tahun 2014

dan menyelesaikan masa studinya pada tahun 2018.

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa

Perikanan dan Kelautan Universitas Lampung (HIMAPIK) sebagai anggota

(9)

Bidang Pengembagan Masyarakat pada tahun 2016/2017. Penulis telah

melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mekar Jaya, Kecamatan

Putra Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah selama 40 hari, yaitu dari bulan

Januari-Februari 2017. Penulis mengikuti Praktik Umum (PU) dengan judul

“Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) di Balai Riset

Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat” pada bulan Juli -

Agustus 2017.

Penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Ekologi Perairan

(2016/2017), Manajemen Kualitas Air (2016/2017 dan 2017/2018). Penulis

melakukan penelitian akhir pada bulan Februari 2018 dengan judul “Pengaruh

Ekstrak Daun Kecubung Datura metel (Linnaeus, 1753) Sebagai Bahan Anestesi

Terhadap Kondisi Hematologi Benih Ikan Nila Oreochromis niloticus (Linnaeus,

(10)

PERSEMBAHAN

Bismillahirrahmannirrahim

Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dengan segala kerendahan hati, kupersembahkan imbuhan kecil di belakang namaku untuk kedua orangtuaku yang paling kucintai di dunia ini.

Ayahku Amirillah dan ibuku Syafrinayati yang selalu siap sedia untuk menemani, membantu, berkorban serta memandu segala hal yang sedang

aku lakukan tanpa lelah, memberikan semangat yang tiada tara di setiap detik kumenjalani hidup.

Kepada kedua kakakku, Reza Palmi dan Regiza Palmi yang selalu melindungiku dan memberi arahan atas setiap apapun yang kujalani, dan

kepada adikku Reihan Berizky Palmi yang selalu menjagaku dan menghiburku.

Kepada sahabat-sahabatku yang telah banyak membantu dan berjuang bersama dalam melalui segala rintangan.

Serta

(11)

MOTTO

„‟Everyone must choose one of two pains; The pain of Discipline, or The pain of Regret‟‟

(Revita Syefti Palmi)

„‟Orang cerdas cukup dinasehati dengan musibah, sedangkan orang bodoh selalu minta dinasehati saat tertimpa musibah‟‟

(Dale Carnegie)

“Jangan mati-matian menghias diri untuk menjadi sesempurna mungkin, padahal yang sesungguhnya harus dijaga dan diperbaiki adalah kualitas diri,

bukanlah kualitas fisik‟‟ (Pak Tedi Trimurjo)

“Don‟t ever tell people your plan, just show them your result” (Awkarin)

“Berbicara dengan baik dan fasih adalah seni yang hebat, tapi mengetahui saat yang tepat untuk berhenti berbicara juga tindakan yang sama-sama

hebat‟‟

(12)

SANWACANA

Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT

yang telah memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Daun Kecubung Datura

metel (Linnaeus, 1753) Sebagai Bahan Anestesi Terhadap Kondisi Hematologi

dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila Oreochromis niloticus (Linnaeus,

1758)”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan di

Universitas Lampung.

Selama proses penyelesaian skripsi ini, penulis telah memperoleh banyak bantuan

dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih

kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian,

Universitas Lampung.

2. Ir. Siti Hudaidah, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan

Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dan Penguji skripsi yang telah

memberikan masukan, kritik, dan saran yang membangun.

3. Limin Santoso, S.Pi., M.Si., selaku Ketua Program Studi Budidaya

(13)

4. Dr. Indra Gumay Yudha, S.Pi., M.Si., selaku Pembimbing Utama yang

telah banyak meluangkan waktunya, membagi ilmu, membimbing dengan

penuh kesabaran, memberikan saran serta motivasi sehingga skripsi ini

dapat terselesaikan.

5. Wardiyanto, S.Pi., M.P., selaku Pembimbing kedua yang telah

memberikan ilmu dan segenap pemikiran dengan kesabarannya,

memberikan bimbingan, nasihat dan motivasi selama penulisan skripsi ini.

6. Herman Yulianto, S.Pi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang

telah meluangkan waktu dan saran, serta senantiasa membimbing penulis

selama ini.

7. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas

Pertanian, Universitas Lampung, atas segala ilmu dan bantuan yang

diberikan.

8. Kedua orangtuaku, Ayah Amirillah dan Ibu Syafrinayati yang selalu

senantiasa memberikan kasih sayang, perhatian, pengorbanan, motivasi,

dukungan, kebahagiaan serta doa yang tiada henti demi kesuksesanku.

9. Nenekku tercinta, Misnar yang selalu memberikan semangat, falsafah

hidup dan nasihat serta mendengarkan seluruh keluh-kesahku selama ini.

10.Abang-abangku, Reza Palmi dan Regiza Palmi, serta adikku Reihan

Berizky Palmi, yang selalu siap sedia melindungiku, memberiku

(14)

11.Sepupuku, Wulan Rahma Izatti dan Filza Sabadini, serta sahabatku Resy

Yulita Sari yang selalu ada di setiap waktuku membutuhkan pertolongan.

12.Keluarga Putra Rumbia, Pak Kani dan Ibu Maem yang saya cintai, Vita,

Dheka, Fara, Anggit, Gerry, dan kak Binto yang telah banyak membantu

berbagi suka duka, canda tawa, dan kekeluargaan selama KKN.

13.Teman seperjuangan, Dewi, Sagada, Puput, Nunun, Nandya, Licha, Mira,

Ussy, Mewa, Revilarita, dan Citra yang telah menemani masa perkuliahan,

selalu ada saat suka, menghibur saat duka serta atas segala bantuannya.

14. Thanks to Ricky Hadi Pratama who never giving up on me, always

supporting and standing by my side in every moment that we have been

through.

15.Rekan-rekan Budidaya Perairan angkatan 2014 yang tidak dapat

disebutkan satu persatu. Terima kasih atas segala bantuan, motivasi,

solidaritas, kebersamaan dan dukungan selama kita bersama-sama.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Harapan penulis semoga

skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak serta dapat menambah pengetahuan

dan wawasan.

Bandar Lampung, 24 November 2018 Penulis,

(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 3

C. Manfaat Penelitian ... 3

D. Kerangka Pikir... 3

E. Hipotesis ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ikan Nila Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) ... 9

B. Tanaman Kecubung Datura metel (Linnaeus, 1753) ... 11

C. Anestesi pada Transportasi Ikan ... 13

D. Hematologi Ikan ... 15

1. Sel Darah Merah ... 16

2. Sel Darah Putih ... 16

3. Hematokrit ... 17

4. Hemoglobin ... 18

5. Glukosa Darah ... 18

E. Pengaruh Kecubung terhadap Hematologi Ikan ... 19

(16)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat ... 21

B. Alat dan Bahan ... 21

C. Prosedur Penelitian ... 22

D. Metode Pelaksanaan ... 22

1. Pembuatan Ekstrak Daun Kecubung ... 23

2. Uji Pendahuluan... 23

3. Uji Konsentrasi Letal (LC50-96 Jam) ... 24

4. Penentuan Konsentrasi Subletal ... 25

5. Metode Transportasi ... 25

E. Parameter Uji ... 26

1. Uji Hematologi ... 26

a. Koleksi darah ikan ... 26

b. Perhitungan persentase hematokrit ... 27

c. Perhitungan jumlah rata-rata sel darah merah (eritrosit) ... 27

d. Perhitungan jumlah rata-rata sel darah putih (leukosit) ... 28

e. Perhitungan diferensiasi leukosit ... 28

f. Kadar hemoglobin (Hb) ... 29

g. Glukosa darah ... 30

2. Pengamatan Kualitas Air ... 30

3. Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate) ... 30

F. Rancangan Percobaan ... 31

G. Pengumpulan Data ... 31

H. Analisis Data ... 32

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil dan Pembahasan 1. Uji Konsentrasi Letal (LC) ... 33

2. Gejala Klinis, Waktu Pingsandan Pulih Sadar ... 34

3. Analisis Hematologi ... 37

a. Sel darah merah ... 37

b. Sel darah putih ... 39

(17)

d. Hemoglobin ... 42

e. Glukosa darah ... 43

f. Diferensiasi leukosit ... 45

1.) Monosit ... 45

2.) Neutrofil... 47

3.) Limfosit ... 48

4. Gambaran Sel Darah ... 49

5. Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival rate) ... 51

6. Analisis Kualitas Air ... 53

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 55

B. Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 56

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Tahapan anestesi pada ikan ... 14

2. Tahapan pemulihan ... 14

3. Alat-alat penelitian ... 21

4. Bahan-bahan penelitian ... 22

5. Gejala klinis dan waktu pingsan benih ikan nila yang dianestesi dengan ekstrak daun kecubung pada konsentrasi subletal... 34

6. Gejala klinis dan waktu pulih sadar benih ikan nila yang dianestesi dengan ekstrak daun kecubung pada konsentrasi subletal... 35

7. Nilai rata-rata sel darah merah (x 106 sel/mm3) benih ikan nila ... 37

8. Nilai rata-rata sel darah putih (x 104 sel/mm3) benih ikan nila ... 39

9. Nilai rata-rata persentase hematokrit (%) benih ikan nila ... 41

10. Nilai rata-rata konsentrasi hemoglobin (G/%) benih ikan nila ... 42

11. Nilai rata-rata kadar glukosa (mg/dl) benih ikan nila ... 43

12. Nilai rata-rata persentase monosit (%) benih ikan nila ... 46

13. Nilai rata-rata persentase neutrofil (%) benih ikan nila ... 47

14. Nilai rata-rata persentase limfosit (%) benih ikan nila ... 48

15. Nilai rata-rata persentase kelangsungan hidup (%) benih ikan nila ... 51

(19)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka pikir penelitian ... 5

2. Ikan nila Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) ... 9

3. Daun kecubung Datura metel (Linnaeus, 1753) ... 11 4. Mortalitas benih ikan nila yang dipaparkan ekstrak daun kecubung selama

96 jam. ... 33

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Data mortalitas benih ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberikan

ekstrak daun kecubung untuk menentukan nilai LC50 ... 1

2. Analisis SPSS statistics version 22 untuk menentukan nilai LC50 ... 2

3. Kecepatan waktu pingsan dan pulih sadar saat simulasi transportasi ... 3

4. Kelangsungan hidup benih ikan nila setelah transportasi dan setelah

pemeliharaan selama 7 hari ... 4 5. Analisis hematologi benih ikan nila saat sebelum transportasi, setelah

transportasi dan setelah pemeliharaan selama 7 hari ... 6

(21)

2

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu komoditas unggulan sektor

perikanan budidaya air tawar. Peningkatan produksi ikan nila nasional pada tahun

2017 mencapai 1,15 juta ton naik 3,6% dari tahun 2016. Perkembangan nilai

eks-por produk perikanan budidaya tahun 2017 mencapai 1,29 miliar US$ naik 5%

dari tahun 2016, dan nilai impor mencapai 17,06 juta US$ menurun sebesar 14%

dari periode tahun 2016 (Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, 2018).

Peningkatan nilai ekspor produksi ikan nila tidak terlepas dari sarana dan

prasara-na yang mendukung kegiatan budidaya, termasuk pendistribusian benih-benih

ikan nila ke berbagai lokasi pembesaran. Distribusi benih ikan seringkali

meng-alami kendala, antara lain benih ikan mengmeng-alami stres saat transportasi yang

ber-akibat pada kematian ikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi

kondisi tersebut salah satunya adalah dengan anestesi.

Anestesi (pemingsanan) yang efektif, efisien serta aman diperlukan pada kegiatan

pendistribusian benih, induk ataupun ikan konsumsi sebagai upaya peningkatan

produktivitas perikanan. Penggunaan bahan kimia anestetik efektif menurunkan

(22)

2 quinaldine sulfat, dan tricaine (MS-222). Kandungan berbahaya di dalam bahan

kimia sintetis menjadikan penggunaannya dilarang sebab dapat meninggalkan

residu dalam tubuh ikan, sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan

Peri-kanan, Nomor: KEP.20/MEN/2003 tanggal 9 Juni 2003, tentang larangan

peng-gunaan bahan kimia sintetis sebagai bahan anestesi (Grush et al., 2004).

Penggunaan bahan alami sebagai alternatif untuk anestesi ikan tidak membutuh-

kan biaya yang mahal sebab mudah untuk diperoleh. Selain itu, apabila digunakan

dalam dosis yang tepat dapat memingsankan ikan dalam waktu yang relatif lebih

cepat dibandingkan dengan menggunakan suhu rendah (es batu) dan tanpa

me-ninggalkan residu (bahan kimia sintetik). Beberapa tanaman yang dapat berfungsi

sebagai bahan anestesi pada ikan, seperti akar tuba yang mengandung senyawa

rotenone (Gamalael, 2006), daun bandotan yang mengandung minyak atsiri dan

saponin (Pratama, 2016), biji karet yang mengandung sianogenik glukosida atau

linamarin yang tergolong dalam senyawa alkaloid (Sukmiwati dan Sari, 2007),

dan tanaman kecubung yang mengandung senyawa alkaloid tropan berupa

antro-pin, hyosiamin dan skopolamin yang sangat beracun (Katno, 2006).

Senyawa alkaloid pada tanaman kecubung terdapat di semua bagian dari akar,

ba-tang, daun, buah, bunga, dan biji. Isolasi senyawa alkaloid menghasilkan

kompo-nen kristal metil yang mengakibatkan relaksasi pada otot lurik (Aminah et al.,

1999). Menurut Herubawono (2001), anestesi ikan mas koki dengan dosis efektif

0,7% ekstrak daun kecubung pada transportasi ikan memberikan hasil laju

(23)

3

ikan lele dumbo lebih baik dibandingkan dengan menggunakan ekstrak daun

kecubung terhadap waktu pingsan dan pulih sadar (Adha, 2013).

Proses anestesi bereaksi dengan berpindahnya bahan anestesi dari lingkungan ke

organ pernapasan melalui proses difusi yang menyebabkan terjadinya penyerapan

bahan anestesi ke dalam darah dan bersirkulasi hingga kemudian menyebar ke

seluruh tubuh (Anderson, 2009). Analisis tentang kondisi hematologi pada benih

ikan nila yang dianestesi menggunakan ekstrak daun kecubung diperlukan untuk

menentukan konsentrasi optimal sebagai bahan anestesi alternatif yang efektif,

ekonomis dan efisien digunakan dalam keperluan transportasi ikan.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas ekstrak daun kecubung

Datura metel (Linnaeus, 1753) sebagai bahan anestesi serta pengaruhnya terhadap

kondisi hematologi dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila Oreochromis

niloticus (Linnaeus, 1758).

C. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi ilmiah tentang pemanfaatan

ekstrak daun kecubung sebagai bahan anestesi alternatif untuk transportasi ikan.

D. Kerangka Pikir

Transportasi dalam pembenihan ikan nila merupakan proses pendistribusian benih

dari panti benih ke sentra-sentra pembesaran. Semakin jauh jarak yang ditempuh,

semakin dituntut suatu teknik yang mampu mempertahankan ikan agar tetap hidup

(24)

Ken-4

dala yang dihadapi dalam kegiatan transportasi ikan adalah stres dan tingkat

ke-matian yang tinggi sehingga perlu penanganan yang lebih baik agar ikan tetap

hidup dan sehat ketika sampai pada pembudidaya. Upaya yang digunakan adalah

melalui teknik anestesi selama proses transportasi berlangsung. Bahan anestesi

dapat berasal dari bahan kimia sintetis atau bahan alami yang lebih aman. Salah

satu bahan alami yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan anestesi adalah

ekstrak daun kecubung.

Tanaman kecubung memiliki kandungan senyawa alkaloid yang terdiri dari

an-tropin, hiosiamin, dan skopolamin. Kandungan alkaloid tanaman kecubung

ber-variasi pada masing-masing organ, seperti pada akar dan biji antara 0,4-0,9%,

daun muda 0,813%, daun tua 0,038 % dan bunga 0,2-0,3% (Sastrapradja, 1978).

Menurut Harahap (2014), perbedaan letak daun pada tanaman kecubung sebagai

bahan anestesi dalam kegiatan transportasi ikan memiliki pengaruh yang signi-

fikan terhadap kecepatan waktu pingsan dan pulih sadar, serta tingkat

(25)

5 Pemulihan pascatransportasi

Ya

[image:25.595.68.539.67.720.2]

Tidak

Gambar 1. Kerangka pikir penelitian.

Daun kecubung (mengandung senyawa alkaloida antropin)

Penentuan konsentrasi subletal

Pembiusan pada benih ikan nila Konsentrasi letal(LC50- 96 jam)

0% dari LC50 20% dari LC50

Simulasi transportasi selama 4 jam

Pemeliharaan ikan selama 7 hari 30% dari LC50

1. Hematologi - ∑ Eritrosit - ∑ Leukosit - Kadar glukosa - Hematokrit - Hemoglobin

2. Tingkat kelangsungan hidup (SR) Simulasi transportasi selama 4 jam

40% dari LC50 Uji toksisitas terhadap benih ikan nila

Pemeliharaan ikan selama 7 hari

Pemulihan dari efek pembiusan selama 24 jam Diekstrak dengan metode maserasi

Uji signifikan

Tidak dapat digunakan sebagai anestesi

Dapat digunakan sebagai anestesi

Berbeda nyata

Ekstrak daun kecubung

(26)

6 E. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

a. Pengaruh perlakuan konsentrasi subletal terhadap jumlah sel darah merah

pa-da benih ikan nila:

H0 : μi = 0 Tidak ada pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%, 20%,

30%, 40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terhadap

jumlah sel darah merah benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah

pada tingkat kepercayaan 95%.

H1 : μi ≠ 0 Minimal ada satu pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%,

20%, 30%, 40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata

terha-dap jumlah sel darah merah benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah

pada tingkat kepercayaan 95%.

b. Pengaruh perlakuan konsentrasi subletal terhadap jumlah sel darah putih pada

benih ikan nila:

H0 :μi = 0 Tidak ada pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%, 20%, 30%,

40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terhadap jumlah

sel darah putih benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada tingkat

kepercayaan 95%.

H1 : μi ≠ 0 Minimal ada satu pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%,

20%, 30%, 40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata

terha-dap jumlah sel darah putih benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah

(27)

7

c. Pengaruh perlakuan konsentrasi subletal terhadap kadar hematokrit pada

benih ikan nila:

H0 :μi = 0 Tidak ada pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%, 20%, 30%,

40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terhadap kadar

hematokrit benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada tingkat

kepercayaan 95%.

H1 : μi ≠ 0 Minimal ada satu pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%,

20%, 30%, 40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terha-

dap kadar hematokrit benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada

tingkat kepercayaan 95%.

d. Pengaruh perlakuan konsentrasi subletal terhadap kadar hemoglobin pada

benih ikan nila:

H0 :μi = 0 Tidak ada pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%, 20%, 30%,

40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terhadap kadar

hemoglobin benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada tingkat

kepercayaan 95%.

H1 : μi ≠ 0 Minimal ada satu pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%,

20%, 30%, 40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata

terha-dap kadar hemoglobin benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada

(28)

8

e. Pengaruh perlakuan konsentrasi subletal terhadap kadar glukosa pada benih

ikan nila:

H0 :μi = 0 Tidak ada pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%, 20%, 30%,

40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terhadap kadar

glukosa benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada tingkat

keper-cayaan 95%.

H1 : μi ≠ 0 Minimal ada satu pengaruh perlakuan konsentrasi subletal (0%,

20%, 30%, 40% dari LC50) ekstrak daun kecubung yang berbeda nyata terha-

dap kadar glukosa benih ikan nila dalam kegiatan transportasi basah pada

(29)

8 II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ikan Nila Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)

Klasifikasi ikan nila menurut Trewavas (1991) adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Osteichthyes

Sub Class : Acanthoptherigii

Ordo : Percomorphi

Sub Order : Percoidea

Family : Cichlidae

Genus : Oreochromis

[image:29.595.113.443.282.622.2]

Species : Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758).

Gambar 2. Ikan nila Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)

Ikan nila Oreochromis niloticus (Linnaeus,1758) merupakan ikan air tawar yang

berasal dari Afrika Timur (Trewavas, 1991). Ikan nila memiliki ciri morfologis,

yaitu bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (compress), sirip perut torasik,

(30)

10

atas memanjang mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai

pangkal sirip ekor, ukuran kepala relatif kecil dengan mulut berada di ujung

kepa-la, mata yang besar menonjol dengan tepi berwarna putih, sisik berukuran besar

dan kasar berjumlah 34 buah pada gurat sisi. Ikan nila memiliki lima sirip, yaitu

sirip punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral fin), sirip

anus (anal fin), dan sirip ekor (caudal fin) dengan rumus jari-jari sirip D.XVII.13;

V.15; P.15; A.III.10; C.18, sirip punggung memanjang, dari bagian atas tutup

in-sang hingga bagian atas sirip ekor. Terdapat sepain-sang sirip dada dan sirip perut

yang berukuran kecil, sirip anus hanya satu dan berbentuk agak panjang, dan sirip

ekor berbentuk bulat berjumlah satu (Mahyuddin, 2008).

Ikan nila termasuk golongan ikan omnivore yang cenderung herbivora sehingga

lebih mudah beradaptasi dengan berbagai jenis pakan, seperti zooplankton,

fito-plankton, dan lumut, serta efisien dalam mencerna makanan. Pertumbuhan,

per-kembangbiakan, dan kelangsungan hidup ikan nila memerlukan pakan yang cukup

dari segi kualitas dan kuantitas (Kottelat et al., 1993).

Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan

hidupnya, sehingga dapat dibudidayakan di dataran rendah yang memiliki jenis air

payau, maupun dataran tinggi dengan suhu yang rendah. Ikan nila mampu hidup

pada rentang suhu 14-38oC dengan suhu optimal 25-30oC dan dengan nilai pH air

6-8,5 (Kottelat et al., 1993).

Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sangat potensial untuk

dibudidayakan secara intensif. Pengembangan budidaya ikan nila di perairan

(31)

11

ke Indonesia adalah nila hitam asal Taiwan. Ikan nila banyak dibudidayakan

kare-na dagingnya serupa dengan daging ikan kakap dan mempunyai daging sisi badan

yang cukup tebal. Ikan nila memiliki keunggulan yang komparatif yaitu

pembudi-dayaannya yang relatif cepat dibandingkan dengan jenis ikan lain. Hal ini

disebab-kan sifat idisebab-kan nila yang mudah berkembang biak dan pertumbuhan yang cepat

(Santoso, 2006).

B. Tanaman Kecubung Datura metel (Linnaeus, 1753)

Menurut Tjitrosoepomo (1994), klasifikasi tanaman kecubung adalah:

Kingdom : Plantae

Filum : Magnoliophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Solanales

Familia : Solanaceae

Genus : Datura

Spesies : Datura metel (Linnaeus, 1753)

Gambar 3. Daun kecubung Datura metel (Linnaeus, 1753).

Kecubung (Datura metel) ditemukan oleh ahli botani bernama Charles Linnaeus

pada tahun 1753. Kecubung merupakan tumbuhan tropis yang dapat ditemukan di

Asia Selatan dan Tenggara, termasuk India, Sri Lanka, Indonesia dan Benua

(32)

12

memiliki bentuk buah bulat berduri. Daunnya berukuran 15 cm berbentuk bulat

telur dengan bagian tepi yang berlekuk tajam dan bunganya berbentuk terompet

merunduk berwarna ungu atau putih, namun hibridanya dapat ditemukan dalam

beraneka ragam warna (Kuganathan dan Ganeshalingam, 2011).

Bagian-bagian tanaman (daun, biji atau bunga) sering digunakan dalam bidang

kedokteran (Kuganathan dan Ganeshalingam, 2011). Tanaman ini sudah

diguna-kan sebagai obat sejak abad kesepuluh, seperti untuk antibakteri, antiseptik,

nar-kotika dan obat penenang (Ganesh et al., 2015). Manfaat lainnya dari tanaman

family Solanaceae ini sebagai tanaman obat yang sering digunakan masyarakat,

yaitu untuk mengobati asma, kejang otot, batuk rejan, ulkus pada kulit, dan

lain-lain (Priya et al., 2002).

Aktivitas antikolinergik pada bagian daun, bunga dan biji Datura metel

menye-babkan beberapa kasus keracunan dengan gejala, seperti mengigau, mengantuk,

halusinasi, ataksia, kejang, koma, dilatasi pupil, mulut kering, kulit kering,

hiper-termia, sinus takikardia, kelainan konduksi jantung, disritmia, retensi urin hingga

kelumpuhan (Phua et al., 2008). Senyawa alkaloid dalam tanaman kecubung

ber-fungsi untuk mempertahankan diri terhadap hewan herbivora dan makhluk

pato-gen lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan secara luas sebagai obat-obatan,

stimu-lan, narkotika, dan racun karena aktivitas biologisnya (Rozalina, 2017). Menurut

data BNN (2014), kecubung sering disalahgunakan sebagai bahan narkotika dan

penggunaannya tercatat mencapai 3% dari kelompok halusinogen lainnya. Efek

yang dihasilkan dari konsumsi kecubung serupa dengan penggunaan LCD, magic

(33)

13 C. Anestesi dalam Transportasi Ikan

Anestesi secara umum didefinisikan sebagai suatu keadaan yang disebabkan oleh

aplikasi agen eksternal yang menyebabkan hilangnya reflektivitas tubuh melalui

depresi pada sistem saraf. Anestesi dapat berupa anestesi lokal atau umum

bergan-tung pada aplikasi anestesi tersebut (Ackerman et al., 2009).

Camporesi et al. (1994) menjelaskan bahwa anestesi adalah pengupayaan suatu

keadaan yang dapat membuat objek tidak sadar dalam jangka waktu tertentu,

un-tuk mengusahakan relaksasi otot dan mengurangi atau menghentikan refleks

oto-nom dengan masih mempertahankan fungsi respirasi dan kardiovaskular. Dalam

kegiatan anastesi pada ikan, maka secara berturut-turut ikan akan mengalami

per-lambatan pergerakan dan perper-lambatan reaksi terhadap stimuli yang diberikan,

ya-itu lambatnya laju respirasi, kehilangan kontrol keseimbangan hingga pada

akhir-nya ikan tidak dapat merespon stimuli dari luar (Davis, 2000).

Transportasi ikan hidup dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk

memindah-kan imemindah-kan dalam keadaan hidup dengan memberimemindah-kan perlakuan tertentu. Untuk

menjaga agar kelangsungan hidup ikan tetap tinggi setelah sampai di tempat

tu-juan, maka diperlukan perlakuan-perlakuan tertentu yang diharapkan mampu

mempertahankan ikan agar tetap hidup dalam jangka waktu yang lama (Jangkaru,

(34)
[image:34.595.104.523.91.558.2]

14

Tabel 1. Tahapan anestesi pada ikan Tahapan

Anestesi

Deskripsi Karakteristik

- Normal Reaktif terhadap stimuli eksternal, laju bukaan

operkulum dan detak jantung normal,

I Light sedation (Pingsan ringan)

Secara perlahan-lahan kehilangan reaktivitas terhadap stimuli, secara perlahan-lahan laju bukaan operkulum menurun namun keseim-bangan masih terjaga,

II Deep sedation (Pingsan berat)

Reaktivitas terhadap semua stimuli hilang secara total, namun demikian masih reaktif terhadap stimuli yang keras,

III Kehilangan keseimbangan parsial

Elastisitas otot hilang secara sebagian, perge-rakan ikan tidak teratur, peningkatan laju bukaan operkulum hanya reaktif ketika ikan disentuh dengan keras,

IV Kehilangan

keseimbangan secara total

Elastisitas otot dan kesimbangan hilang secara total, laju bukaan operkulum menjadi rendah, kehilangan refleksi spinal,

V Kehilangan

reaktifitas refleks

Reaktivitas hilang secara total, pergerakan operkulum menjadi lambat dan tidak teratur, denyut jantung menjadi lamban, kehilangan semua bentuk refleks,

VI Medullary collapse (Kelumpuhan total)

Tidak ada pergerakan operkulum yang diikuti oleh berhentinya detak jantung.

Sumber: Cooke et al. (2004)

Tabel 2. Tahapan pemulihan Tahapan

pemulihan

Deskripsi Tingkah laku

1 Mulai pulih Keseimbangan pulih secara menyeluruh dan

permanen, pergerakan operkulum normal,

2 Pulih total Responsif terhadap stimuli visual, dapat be-renang untuk menghindar.

Sumber:Mylonas et al. (2005)

Dalam perkembangannya, saat ini terdapat dua metode transportasi ikan hidup,

(35)

15

biasa digunakan untuk jarak jauh dalam waktu lebih dari 3 jam dengan

mengguna-kan media air hingga 2-3 kali berat imengguna-kan. Metode transportasi kering, yaitu

peng-angkutan ikan hidup tanpa media air, lebih efisien dalam pemanfaatan ruang,

na-mun resiko kematian dan kecacatan fisik pada ikan lebih tinggi (Junianto, 2003).

Penggunaan metode anestesi banyak digunakan pada transportasi basah untuk

mempertahankan tingkat kelangsungan hidup melalui perlambatan metabolisme

tubuh sehingga dapat meningkatkan jangkauan distribusi. Biasanya transportasi

basah digunakan untuk mengangkut ikan hidup dari penangkapan di tambak atau

kolam menuju ke lokasi lainnya (Habibie, 2006).

Golongan alkaloid dan senyawa aromatik sering digunakan sebagai bahan

aneste-si. Penggunaan bahan anestesi terlebih dari bahan alami hingga kini masih

terba-tas. Adapun bahan anestesi alami yang telah diaplikasikan, antara lain biji karet,

minyak cengkeh dan ekstrak ubi kayu (Habibie, 2006). Menurut Harahap (2014),

bahwa bahan anestesi ekstrak daun kecubung yang berasal dari daun bagian pucuk

lebih baik daripada daun bagian bawah terhadap kecepatan waktu pingsan, waktu

pulih sadar, dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan mas. Hal ini disebabkan

kandungan alkaloida pada bagian pucuk daun kecubung lebih banyak

dibanding-kan dengan daun yang tua (Harahap, 2014).

D. Hematologi Ikan

Sel darah tersusun dari sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit).

Kedua tipe sel ini terbentuk pada jaringan hematopoetik ginjal. Volume darah

pa-da ikan lebih sedikit dibandingkan dengan vertebrata lainnya, yaitu sekitar 3%

(36)

menge-16

darkan nutrien ke seluruh sel-sel tubuh, membawa oksigen ke seluruh jaringan

tubuh, membawa hormon dan enzim ke organ yang memerlukannya, menjaga

ke-seimbangan tubuh, dan untuk mengangkut hasil buangan metabolisme, seperti

karbondioksida dan asam laktat. Darah juga membawa materi ion anorganik Na+,

Mg2+, Cl-, dan senyawa organik, seperti hormon, vitamin, dan beberapa protein

plasma (Anderson, 2017).

Pemeriksaan darah sangat penting dilakukan untuk mendiagnosa suatu penyakit

dan kondisi ikan. Penyimpangan fisiologi ikan menyebabkan terjadinya

perubah-an pada komponen-komponen darah ikperubah-an. Perubahperubah-an gambarperubah-an darah dapat

me-nentukan kondisi atau status kesehatan ikan (Wedemeyer dan Yasutake, 1997).

1. Sel darah merah

Sel darah merah ikan pada umumnya mempunyai inti dengan bentuk oval hingga

bundar, inti sel kecil dengan sitoplasma, berwarna merah kekuningan, dan

beru-kuran 10-13 μm dengan diameter inti 4-5 μm. Jumlah sel darah merah pada ikan

nila normal, yaitu berkisar 1,43-3,18 x 106 sel/mm3 (Hartika et al., 2014). Sel

da-rah meda-rah berfungsi sebagai transporter oksigen. Rendahnya jumlah eritrosit

me-nandakan ikan menderita anemia dan kerusakan organ ginjal, sedangkan

tinggi-nya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stres. Faktor-faktor yang

mempengaruhi jumlah sel darah merah adalah spesies, perbedaan induk

(gene-tik), kondisi nutrisi, aktifitas fisik, dan umur (Dallman dan Brown,1989).

2. Sel darah putih

Jumlah sel darah putih lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah sel darah

(37)

17

penting untuk evaluasi keberadaan penyakit (Dallman dan Brown, 1989). Sel

da-rah putih dibedakan menjadi dua golongan berdasarkan ada tidaknya butir-butir

(granula) dalam sel, yaitu agranulosit dan granulosit. Agranulosit dibagi menjadi

limfosit, trombosit, dan monosit, sedangkan granulosit berupa neutrofil (Lagler et

al., 1977).

Secara normal pada individu yang sehat jumlah sel darah putih di dalam darah

adalah 1% dari total jumlah darah. Sel darah putih tidak berwarna, jumlahnya

se-tiap mm3 pada ikan nila normal berkisar 32.000 – 146.000 sel/mm3 (Hartika et al.,

2014). Peningkatan sel darah putih dapat disebabkan oleh penyakit, infeksi,

para-sit, stres akibat penanganan dan pengaruh lingkungan (Guyton dan Hall, 2014).

3. Hematokrit

Hematokrit merupakan persentase volume eritrosit (sel darah merah) berupa zat

padat terhadap cairan darah dalam tubuh ikan. Jika hematokrit 40%, menunjukkan

darah terdiri dari 40% sel darah merah, dan 60% merupakan plasma darah dan sel

darah putih. Hasil pemeriksaan terhadap hematokrit dapat dijadikan sebagai salah

satu indikator untuk menentukan keadaan kesehatan ikan, nilai hematokrit kurang

dari 22% menunjukkan terjadinya anemia. Kadar hematokrit ini bervariasi

bergan-tung pada faktor nutrisi, umur ikan, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan masa

pemi-jahan (Kuswardani, 2006).

Dengan demikian, apabila terjadi perembesan cairan darah keluar dari pembuluh

darah, sementara bagian padatnya tetap di dalam pembuluh darah, maka akan

membuat persentase zat padat darah terhadap cairannya naik sehingga kadar

(38)

18 4. Hemoglobin

Hemoglobin adalah protein dalam eritrosit yang tersusun dari protein globin tidak

berwarna dan pigmen heme yang dihasilkan oleh eritrosit (Blaxhall dan Daisley,

1973). Menurut Anderson (2017), kadar hemoglobin yang rendah menunjukkan

indikator terjadinya anemia, dan peningkatan kadar hemoglobin menunjukkan

ikan dalam kondisi stres. Menurut Siakpere et al. (2005), secara fisiologis

hemo-globin menentukan tingkat ketahanan tubuh ikan sebab hubungannya yang

sa-ngat erat dengan daya ikat oksigen oleh darah. Kemampuan darah untuk

meng-angkut oksigen bergantung pada kadar Hb dalam darah (Lagler et al., 1977).

Me-nurut Wells et al. (2005), satu gram hemoglobin dapat mengikat kira-kira 1,34 ml

oksigen.

5. Glukosa

Tingkat glukosa darah merupakan indikator terjadinya stres awal pada ikan sebab

tingkat sangat sensitif terhadap hormon yang mengatur stres (Mazeud, 1981).

Stres dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan kualitas air atau

penanganan yang salah saat transportasi, sehingga dapat menyebabkan ikan

me-ngalami hiperglisemia dan mempengaruhi kesehatan, pertumbuhan, dan

kelang-sungan hidup ikan (Barton dan Iwama, 1991). Mekanisme terjadinya

hiperglise-mia (tingkat glukosa darah tinggi) akibat stres adalah melalui proses pemecahan

glikogen otot oleh hati (glikogenolisis) yang akan menghasilkan glukosa

(Mazeud, 1981).

Keberadaan glukosa darah ditentukan oleh pakan, waktu akhir makan, status

(39)

19

mengalami penurunan dari tingkat normal, maka hormon insulin, tiroid,

gluka-gon, epinefrin, dan steroid dengan segera akan berfungsi untuk meningkatkan

glukosa darah ke tingkat normal melalui pemecahan glikogen, deaminasi asam

amino, dan konversi dari gliserol yang merupakan bagian dari molekul lemak.

Jika jumlah glukosa darah meningkat di atas nilai normal, maka hanya hormon

insulin yang dapat berperan untuk menurunkan glukosa ke level normal melalui

transpor aktif glukosa dalam darah untuk masuk ke dalam seluruh sel tubuh

(Mazeud, 1981).

E. Pengaruh Kecubung terhadap Hematologi Ikan

Kecubung sangat terkenal sebagai obat untuk berbagai macam penyakit. Hampir

semua bagian tanaman kecubung dapat dimanfaatkan untuk obat, tetapi yang

ba-nyak digunakan adalah daunnya (Widayati, 1992). Berdasarkan Gibbs (2000),

daun kecubung mengandung alkaloida antropin yang dapat digunakan dalam

pengobatan dengan memanfaatkan senyawa alkaloida antropin yang memiliki

berbagai aktivitas biologis yang menarik dan di antaranya dapat digunakan

seba-gai antiasmatik.

Alkaloid merupakan senyawa terbanyak yang terkandung dalam ekstrak daun

ke-cubung. Alkaloid adalah senyawa yang bersifat basa dan mengandung satu atau

lebih atom hidrogen. Sebagian besar alkaloid merupakan kristal putih yang mudah

larut dalam alkohol dan sedikit larut dalam air atau garam. Alkaloid dalam

tum-buhan kecubung memiliki aplikasi farmakologis sebagai anestesi dan stimulan

sistem saraf pusat (Madziga et al., 2010). Kecubung merupakan sumber alkaloid

(40)

hyo-20

siamin, skopolamin, dan atropin (Ganesh et al., 2015). Hiosiamin dan skopolamin

bekerja sebagai senyawa anti muskarinik pada sistem saraf pusat dan sistem saraf

perifer sehingga menghalangi neuron kolinergik parasimpatis. Dalam dosis rendah

dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular yang menyebabkan bradikardia.

Sko-polamin digunakan sebagai depresan SSP dalam dosis kecil untuk mengobati

ma-buk perjalanan (Maheshwari et al., 2013). Alkaloid dalam jumlah berlebihan

da-pat menjadi racun (Kuganathan dan Ganeshalingam, 2011).

Aplikasi kecubung tidak hanya digunakan sebagai obat, namun juga sebagai

ba-han anestesi untuk memingsankan ikan guna keperluan transportasi ataupun

relak-sasi ketika pengobatan. Adapun respon yang ditimbulkan akibat pemberian

kecu-bung paling tinggi yaitu pada perubahan kondisi fisiologis. Pemberian dengan

do-sis yang berlebih dapat menyebabkan overdodo-sis dan kematian pada organisme

yang dipaparkan (Arliansyah, 2009).

Perubahan kondisi hematologi ikan dapat berupa perbedaan kuantitas volume dari

beberapa komponen darah. Menurut Herubawono (2001), anestesi ikan mas koki

dengan dosis efektif daun kecubung saat transportasi memberikan hasil laju

sinta-san ikan yang lebih baik dibandingkan ikan yang tanpa dianestesi, pada perlakuan

ikan kontrol yang tidak diberi bahan anestesi mengalami kematian disebabkan

stres selama proses transportasi. Stres yang disebabkan oleh transportasi dapat

merangsang sekresi kortisol sehingga menyebabkan penurunan limfosit dan

(41)

21 III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei – Juni 2018 di Laboratorium Budidaya

Perikanan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas

Lampung.

B. Alat dan Bahan

[image:41.595.115.514.425.752.2]

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ditampilkan pada Tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Alat-alat penelitian

No. Nama Alat Jumlah Fungsi

1. 2. 3.

Akuarium Kotak styrofoam Plastik polyetilen

12 unit 4 unit 12 buah

Sebagai media pengujian, Sebagai media saat transportasi, Sebagai media packing transportasi, 4. Gelas ukur 1 buah Untuk menakar konsentrasi ekstrak, 5. Jarum suntik (spuit

1 ml)

20 buah Untuk mengambil sampel darah ikan uji,

6. Tabung eppendorf 12 buah Sebagai media untuk menampung sampel darah,

7. Mikroskop 1 unit Untuk mengamati gambaran darah,

8. Hemocytometer 1 unit Untuk mengukur jumlah eritrosit dan leukosit,

9. Pipet sahli dan tabung Hb

1 unit Untuk menghitung kadar hemoglobin pada darah,

10. Tabung mikro hematokrit

1 unit Untuk mengukur kadar hematokrit,

11. Sentrifuge 1 unit Untuk memisahkan antar komponen darah, 12. Glukose meter 1 unit Untuk menghitung kadar glukosa darah

dengan glokosa kit,

13. Termometer 1 buah Untuk mengukur suhu air,

14. DO-meter 1 unit Untuk mengukur kadar oksigen dalam air,

15. pH-meter 1 unit Untuk mengukur tingkat keasaman/ basa

(42)
[image:42.595.110.505.93.325.2]

22

Tabel 4. Bahan-bahan penelitian

No. Nama Bahan Jumlah Fungsi

1. Benih ikan nila ukuran 8-10 cm

120 ekor Sebagai objek pengujian pada pe-nelitian,

2. Daun kecubung 4.200 gram Sebagai bahan baku anestesi,

3. Es batu 3 kg Sebagai stabilitor suhu saat

trans-portasi,

4. Etanol 96% 6.500 ml Sebagai pelarut untuk membuat

ekstrak,

5. Larutan hayem 50 ml Sebagai pelarut untuk menghitung

sel darah merah,

6. Larutan turk 50 ml Sebagai pelarut untuk menghitung

sel darah putih,

7. HCl 0,1 N 10 ml Sebagai pelarut untuk menghitung

hemoglobin,

8. Larutan EDTA 50 ml Untuk mencegah penggumpalan

dan lisis pada darah.

C. Prodesur Penelitian

Prosedur penelitian terdiri dari rangkaian uji toksistas sebelum dilakukan simulasi

transportasi. Uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui nilai konsentrasi

am-bang atas dan amam-bang bawah, dilanjutkan uji toksisitas berupa LC50 (lethal

con-centration) selama 96 jam untuk mengetahui konsentrasi yang mematikan 50%

ikan uji (Finney, 1971), untuk menentukan konsentrasi subletal melalui analisis

probit yang didapatkan dari hasil uji LC50-96 jam dan digunakan sebagai

konsen-trasi pada transportasi benih ikan nila.

D. Metode Pelaksanaan

Penelitian ini memiliki beberapa tahapan yaitu pembuatan ekstrak daun kecubung,

uji toksisitas, simulasi transportasi, dan pemeliharaan benih ikan nila selama 7

ha-ri setelah ditransportasikan. Pengamatan hematologi darah dan pemeliharaan ikan

dilakukan di Laboratorium Budidaya Perikanan, Jurusan Perikanan dan Kelautan,

(43)

23 1. Pembuatan ekstrak daun kecubung

Daun kecubung diekstrak menggunakan metode maserasi. Sebanyak 4.200 gram

daun kecubung basah dikeringanginkan. Sesudah kering dihaluskan hingga

ber-bentuk bubuk, kemudian dimasukkan ke dalam maserator untuk dilakukan

mase-rasi menggunakan larutan etanol 96% sebanyak 6,5 liter selama 72 jam hingga

terbentuk supernatan. Perbandingan antara daun kecubung dengan pelarut adalah

1:4, kemudian direndam dan air rendaman yang telah berwarna hijau kecokelatan

disaring menggunakan kertas saring, selanjutnya hasil saringan yang diperoleh

di-sebut sebagai ekstrak dasar (master solution) yang kemudian dipekatkan

menggu-nakan vakum rotary evaporator pada suhu 40oC dengan kecepatan 120 putaran/

menit. Ekstrak yang dihasilkan berupa larutan yang lebih kental sebanyak 142 ml

dan siap diuji tingkat efektivitasnya.

2. Uji pendahuluan

Akuarium berukuran 40 x 30 x 30 cm3 dicuci dengan air bersih lalu dikeringkan,

kemudian diisi air sebanyak 4 liter (3/4 dari tinggi akuarium), dan diberi aerasi

se-lama 24 jam untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air. Ikan diaklimatisasi dan

dipuasakan selama 24 jam agar tidak stres. Uji pendahuluan menggunakan 5

kon-sentrasi dan 3 ulangan. Konkon-sentrasi yang digunakan untuk masing-masing

perla-kuan menggunakan rumus logaritmik yaitu 100, 10, 1, 0,1 dan 0,01 ppm.

Parame-ter yang diamati yaitu tingkat mortalitas ikan yang mengalami kematian 100% dan

0% berdasarkan konsentrasi yang diberikan. Pengujian dilakukan sela-ma 48 jam

(44)

24 3. Uji konsentrasi letal (LC50-96 jam)

Uji konsentrasi letal menggunakan perhitungan kisaran konsentrasi berdasarkan

nilai hasil uji pendahuluan menggunakan rumus Steel et al. (1997), sebagai

beri-kut:

( )

Keterangan :

N : Konsentrasi ambang atas n : Konsentrasi ambang bawah

K : Jumlah konsentrasi yang diuji (misal. 5; a, b, c, d, e) a : Konsentrasi yang paling kecil dari deret yang ditentukan

Berdasarkan perhitungan tersebut, kemudian ditetapkan 5 konsentrasi untuk uji

LC50. Pengujian dilakukan selama 96 jam dengan selang waktu 3, 6, 12, 24, 48,

72, dan 96 jam. Parameter yang diamati yaitu mortalitas ikan yang mengalami

ke-matian 50% dari total ikan uji. Perhitungan nilai LC50-96 jam selanjutnya dihitung

dengan menggunakan analisis probit yang diperoleh dari hubungan nilai logaritma

konsentrasi bahan uji dan nilai probit dari persentase mortalitas hewan uji yang

merupakan fungsi linier dengan persamaan menurut Steel et al. (1997), sebagai

berikut:

Y = a + bx

Keterangan :

Y: Nilai probit mortalitas a: Konstanta

b: Slope/ kemiringan

x: Logaritma konsentrasi bahan uji

LC50-96 jam diperoleh dari anti log m, dimana m merupakan logaritma

konsen-trasi bahan toksik pada Y=5, yaitu nilai probit 50% hewan uji, sehingga

(45)

25

Dengan nilai a dan b diperoleh berdasarkan persamaan menurut Steel et al.

(1997), sebagai berikut:

∑ ∑ ∑

a = ∑ ∑

Keterangan :

n: banyaknya perlakuan M: nilai X pada Y = 5

4. Penentuan konsentrasi subletal

Setelah dilakukan uji LC50-96 jam dan didapatkan konsentrasi yang tidak

memati-kan imemati-kan 50% dari populasi total, selanjutnya ditentumemati-kan konsentrasi subletal

de-ngan pembagian konsentrasi sebesar 20%, 30%, dan 40% dari nilai LC50-96 untuk

kemudian dijadikan sebagai konsentrasi pada simulasi transportasi benih ikan nila.

5. Metode transportasi

Benih ikan nila yang telah dipuasakan selama 24 jam kemudian diberikan ekstrak

daun kecubung dengan konsentrasi subletal. Kecepatan waktu ikan pingsan (onset

time) selama dianestesi dihitung saat sebelum transportasi, kemudian ikan

dike-mas menggunakan kantung plastik polyetilen dengan ketebalan 0,03 mm.

Penge-masan dilakukan dengan memasukkan ikan ke dalam kantung plastik yang telah

berisi air lalu diikat rapat dengan karet. Setelah ikan dikemas dalam plastik berisi

oksigen kemudian dimasukkan ke dalam kotak styrofoam untuk mengurangi

kon-tak yang terjadi antara air di dalam kantong dengan suhu lingkungan luar dan di

setiap bagian sudut kotak diberi bongkahan es batu sebagai stabilitor suhu.

(46)

26

pengadaptasian selama 24 jam dan dihitung waktu pemulihan ikan (recovery time)

selama masa pemulihan di wadah pemeliharaan yang dilengkapi dengan aerasi

tinggi dengan tujuan ikan tidak stres dan sehat sebelum diamati (Ismail et al.,

1992).

E. Parameter Uji

Parameter uji yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kondisi hematologi ikan

yang meliputi perhitungan jumlah rata-rata leukosit, persentase diferensiasi

leuko-sit, jumlah rata-rata eritroleuko-sit, persentase hematokrit, kadar haemoglobin, glukosa

darah, gambaran sel darah, pengamatan parameter kualitas air, dan tingkat

kelang-sungan hidup (survival rate) ikan.

1. Uji hematologi

Pengukuran hematologi dilakukan pada ikan normal (stock) sebelum transportasi,

ikan setelah simulasi transportasi selama masa pemulihan, dan setelah 7 hari

pe-meliharaan. Uji hematologi ikan berdasarkan modifikasi metode Biyanti (2005).

Data yang diambil untuk hematologi ikan adalah sebagai berikut:

a. Koleksi darah ikan

Ikan yang telah pulih sadar diambil darahnya menggunakan jarum suntik yang

se-belumnya sudah diberi larutan antikoagulan (EDTA) yang berfungsi untuk

men-cegah penggumpalan pada darah atau lisis saat pengambilan sampel darah.

Sam-pel darah diambil dari bagian arteri caudalis kemudian darah disimpan di tabung

(47)

27

b. Perhitungan persentase hematokrit

Pengamatan hematokrit dilakukan dengan memasukan darah yang telah disimpan

di tabung eppendorf ke dalam kapiler hematokrit yang diberi penutup lilin

(plas-tisin). Darah pada kapiler hematokrit tersebut selanjutnya disentrifus dengan

kece-patan 4.000 rpm selama 15 menit. Panjang endapan eritrosit pada kapiler diukur

dengan penggaris dan dihitung presentase volumenya. Perhitungan nilai

hemato-krit menggunakan rumus menurut Anderson (2017):

.

c. Perhitungan jumlah rata-rata sel darah merah (eritrosit)

Perhitungan sel darah merah yaitu dilakukan dengan cara sampel darah diambil

dengan menggunakan alat hisap eritrosit berupa kapiler yang di dalamnya terdapat

batu kecil berwarna merah hingga garis menunjukkan 0,5 ml, selanjutnya

ditam-bahkan larutan hayem hingga larutan mencapai skala 101, kemudian larutan

diho-mogenkan dengan cara digoyangkan membentuk angka delapan selama 3-5 menit.

Darah dibuang dua tetes untuk membuang gelembung udara, lalu diteteskan pada

kamar hitung yang ditutup dengan cover glass, selanjutnya diamati dengan

mikro-skop pada pembesaran 100 kali dengan 5 lapang pandang pada kotak kecil, yaitu

di sudut kiri atas, sudut kanan atas, sudut kiri bawah, sudut kanan bawah, dan pada

bagian tengah pada kamar hitung hemacytometer, kemudian dilakukan

perhitung-an menggunakperhitung-an rumus menurut Anderson (2017):

Jumlah eritrosit = n x 106 sel/mm3

Keterangan:

(48)

28

d. Perhitungan jumlah rata-rata sel darah putih (leukosit)

Perhitungan sel darah putih yaitu dilakukan dengan cara sampel darah diambil

de-ngan menggunakan alat hisap leukosit berupa kapiler yang di dalamnya terdapat

batu kecil berwarna putih hingga garis menunjukkan 0,5 ml, selanjutnya

ditam-bahkan larutan turk hingga larutan mencapai skala 11, kemudian larutan

dihomo-genkan dengan cara digoyangkan membentuk angka delapan selama 3-5 menit.

Darah dibuang dua tetes untuk membuang gelembung udara, lalu diteteskan pada

kamar hitung yang ditutup dengan cover glass, selanjutnya diamati dengan

mikro-skop pada pembesaran 400 kali dengan 4 lapang pandang pada kotak besar, yaitu

di sudut kanan atas, sudut kanan bawah, sudut kiri atas, dan sudut kiri bawah pada

kamar hitung hemacytometer. Perhitungan jumlah leukosit dilakukan

mengguna-kan rumus menurut Anderson (2017):

Jumlah Leukosit = n x 500 sel/mm3

Keterangan:

n = jumlah sel eritrosit yang ada pada 4 kotak besar kamar hitung 500 = faktor pengenceran

e. Perhitungan diferensiasi leukosit

Prosedur perhitungan differensiasi leukosit menurut Amlacher (1970), adalah

me-megang gelas obyek dengan telunjuk dan ibu jari, kemudian diteteskan satu tetes

darah pada gelas obyek bersih bagian kanan, kemudian gelas obyek lain

diletak-kan di bagian kiri tetesan darah membentuk sudut 300. Tarik gelas obyek ke kanan

sampai menyentuh darah tersebut. Setelah darah menyebar sepanjang tepi gelas

objek kedua, dorong gelas obyek kedua tersebut ke kiri dengan tetap membentuk

(49)

29

kemudian ulasan dikeringkan pada suhu ruang dan untuk memudahkan

pengamat-an maka darah diwarnai dengpengamat-an pewarna giemsa.

Prosedur pewarnaan darah dengan giemsa yaitu darah yang baru diulas di gelas

obyek dikeringkan pada suhu ruang (fiksasi udara), kemudian fiksasi dalam

larut-an metlarut-anol selama 5 menit, dlarut-an merendam preparat ulas dalam larutlarut-an giemsa

yang diencerkan (1:20) selama 15 menit, selanjutnya dibilas dengan akuades, lalu

dikeringkan pada suhu ruang.

Preparat yang telah siap kemudian ditempatkan di bawah mikroskop dan diamati

dengan perbesaran 400 kali. Persentase sel-sel leukosit dihitung dengan cara

di-amati sebanyak 10 lapang pandang dengan masing-masing jenis diferensiasi

leu-kosit yang terhitung dikelompokkan menurut jenisnya (limfosit, monosit,

neut-rofil). Adapun perhitungan persentase sel limfosit, neutrofil, monosit menurut

Anderson (2017), sebagai berikut :

Keterangan:

L = jumlah rata-rata sel limfosit dalam 10 lapang pandang M = jumlah rata-rata sel monosit dalam 10 lapang pandang N = jumlah rata-rata sel neutrofil dalam 10 lapang pandang

f. Kadar hemoglobin (Hb)

Pengukuran kadar hemoglobin pada prinsipnya adalah mengkonversikan

hemo-globin dalam darah ke dalam bentuk asam hematin oleh asam klorida dan

dinya-takan dalam persen (% Hb) (Anderson, 2017). Prosedur pengukuran kadar

(50)

kemu-30

dian dipindahkan ke dalam tabung Hb yang berisi HCl 0,1 N sampai skala 10

(ku-ning). Darah yang telah dimasukkan ke dalam tabung Hb kemudian didiamkan

se-lama 3-5 menit agar Hb bereaksi dengan HCl membentuk asam hematin,

kemudi-an diaduk dkemudi-an ditambahkkemudi-an akuades sedikit demi sedikit hingga warnkemudi-anya sama

dengan larutan standar. Pembacaan skala dilakukan dengan melihat tinggi

permu-kaan larutan yang dihomogenkan dengan skala lajur g/% yang menunjukkan

ba-nyaknya Hb dalam gram setiap 100 ml darah dan dinyatakan dalam persentase (%

Hb).

g. Glukosa darah

Pengukuran glukosa dilakukan untuk mengevaluasi tingkat stres pada ikan.

Pro-sedur pengukuran glukosa darah ikan, yaitu dengan mengambil darah ikan yang

sebelumnya telah dipuasakan selama 24 jam. Pengukuran kadar glukosa darah

dilakukan menggunakan alat tes stripe

glukosa darah. Darah yang terambil di

masukkan ke dalam tabung eppendorf, kemudian merangkai strip-test pada slot

yang tersedia pada alat, selanjutnya darah diteteskan di atas strips hingga darah

me-resap dan hasil pengukuran akan otomatis terbaca setelah 10 detik.

2. Pengukuran Kualitas Air

Pengukuran kualitas air pada penelitian ini meliputi suhu, DO, pH dan amonia

terhadap air pada media ikan stock, air saat transportasi, dan air pada media

peme-liharaan.

3. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate)

Survival Rate merupakan jumlah ikan yang dapat bertahan hidup selama

(51)

31 survival rate didapatkan setelah transportasi dan pada akhir pemeliharaan dengan

dihitung menggunakan rumus menurut Effendie (1979), sebagai berikut:

Keterangan:

SR : Survival rate

Nt : Jumlah individu pada akhir perlakuan (hari ke-t) No : Jumlah individu pada awal perlakuan (hari ke-0)

F. Rancangan Percobaan

Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Rancangan yang

diguna-kan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan model rancangan menurut

Steel et al. (1997), sebagai berikut:

Yij = µ + τi + έij

Keterangan:

Yij = data pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = nilai tengah data

τi = pengaruh perlakuan ke-i

έij = kesalahan percobaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Rancangan perlakuan pada penelitian ini, adalah sebagai berikut:

K = Tanpa ekstrak daun kecubung

P1 = Konsentrasi ekstrak daun kecubung 20% dari LC50-96 (ml/l)

P2 = Konsentrasi ekstrak daun kecubung 30% dari LC50-96 (ml/l)

P3 = Konsentrasi ekstrak daun kecubung 40% dari LC50-96 (ml/l)

G. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan adalah data jumlah komponen hematologi ikan,

kemati-an ikkemati-an, amonia, suhu, pH, dkemati-an oksigen terlarut. Data tersebut digunakkemati-an untuk

menghitung nilai parameter penelitian, yaitu kadar hematologi darah ikan, tingkat

kelangsungan hidup, dan kualitas air. Gambaran darah digunakan untuk

(52)

32 H. Analisis Data

Data berupa jumlah sel darah merah, sel darah putih, hemoglobin, hematokrit,

glukosa darah, diferensiasi leukosit dan kelangsungan hidup dianalisis dengan

menggunakan analisis ragam (anova) pada tingkat kepercayaan 95% untuk

me-nentukan apakah perlakuan berpengaruh nyata pada objek uji. Jika perlakuan

ber-pengaruh nyata, maka untuk melihat perbedaan antar perlakuan diuji lanjut

de-ngan menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ). Data kualitas air dianalisis secara

deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabulasi data. Analisis probit menggunakan

program SPSS ver.22 dan pendataan dalam bentuk tabel dan grafik menggunakan

(53)

55 V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Ekstrak daun kecubung dapat digunakan sebagai bahan anestesi untuk transportasi

ikan. Konsentrasi subletal 0,297 – 0,594 ml/l ekstrak daun kecubung tidak

menye-babkan abnormalitas terhadap kondisi hematologis benih ikan nila dan tidak

mem-berikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup benih

ikan nila setelah transportasi dan setelah masa pemeliharaan selama 7 hari.

B. Saran

Konsentrasi ekstrak daun kecubung yang disarankan untuk digunakan sebagai

ba-han anestesi untuk benih ikan nila adalah 0,445 ml/l berdasarkan tingkat

(54)

56 DAFTAR PUSTAKA

Adha, Y. 2013. Pengaruh konsentrasi ekstrak daun dan biji kecubung (Datura metel,L) terhadap proses pembiusan induk ikan lele dumbo (Clarias

gariepinus,B). Jurnal Budidaya Perairan Universitas Bung Hatta, 3(1): 4-6.

Anderson, D.P dan Siwick A. 2017. Basic Hematology and Serology for Fish Health Programs. Manila: Asia Fisheries Society. 96 pp.

Ariens. 2014. Prinsip Umum Toksikologi Perairan. Unhas Press. 87 hlm.

Arindra, D. 2007. Penggunaan Daun Bandotan (Ageratum conyzoides) sebagai Bahan Antimetabolik Alami untuk Menekan Konsumsi Oksigen Ikan Mas (Cyprinus carpio) selama Transportasi. [Skripsi]. Surabaya: Universitas Airlangga. 93 hlm.

Barton, B.A dan Iwama, G.K. 1991. Physiological changes in fish from stress in aquaculture with emphasison the response and effects of corticosteroids. Ann. Rev. Fish Dis, 2(1):3-26.

Biyanti, R. 2005. Hematologi Ikan: Teknik Pengambilan Darah dan Pemeriksaan Hematologi ikan. Surabaya: Universitas Airlangga. 143 hlm.

Budiyanti. 2010. Respon Fisiologis Benih Ikan Kerapu Macan Epinephelus Fuscoguttatus Akibat Penggunaan Minyak Sereh dalam Transportasi Tertutup Berkepadatan Tinggi. [Tesis]. Program Studi Ilmu Akuakultur Institut Pertanian Bogor. 92 hlm.

Boyd, E. C, dan F. Lichkoppler. 1979. Water Quality Management in Pond Fish Culture / Pengelolaan Kualitas Air Kolam. Alih Bahasa : Artati, F. Cholik, dan R. Arifudin. 1986. Jakarta: Dirjen Perikanan. 213 hlm.

BNN. 2014. Jurnal Data Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) 24 Tahun 2013 Edisi Tahun 2014. Jakarta: BPS. 71 hlm.

(55)

57

Blaxhall & Daisley KW. 1973. Routine haematological methods for use with fish blood. Journal Fish Biology, 1(5): 577-581.

Cooke, S.J, Suski, C.D, Ostrand, K.G, Tufts, B.L dan Wahl, D.H. 2004.

Behavioural and physiological assessment of low concentrations of clove oil anaesthetic for handling and transporting largemouth bass (Micropterus salmoides). Aquaculture Journal, 2(4): 509-529.

Dellman, H.D dan Brown, E.M. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 279 hlm.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2018. Laporan Kinerja, Bulan Maret, Direktorat Pembenihan. (http://www.djbp.go.id/ Diakses 4 Oktober 2018).

Evans, J.J., P.J. Klesius, P.M. Gilbert, C.A. Shoemaker, Al Sarawi MA, J. Landsberg, R. Duremdez, Al Marzouk, A dan Al Zenki S, 2004.

Characterization of betahaemolytic group B Streptococcus agalactiae in cultured seabream, Sparus auratus L., & Wild Mullet, Liza Klunzingeri (day), in Kuwait. Journal Fish Disease, 2(5): 505-513.

Finney. 1971. Probit Analysis. Cambridge.The University Press. 343 pp.

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Sebagai Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Jakarta. PT Rineka Cipta. 330 hlm.

Gamalael, G,C. 2006. Pengaruh Penggunaan Anestesi Ekstrak Akar Tuba (Derris elliptica) dengan Dosis Berbeda dalam Sistem Transportasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.).[Skripsi]. Surabaya. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. 68 hlm.

Ganesh, S, Radha, R, dan Jayshree, N. 2015. A review on phytochemical and pharmacological status of Datura fastuosa Linn. International Journal of Multidisciplinary Research and Development, 2(4): 602-605.

Garbrards, V.S. 1965. Transport of juvenile trout in sealed containers. The Progressive Culturist, 27(1):1-6.

Ganong, W. F. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Press. 576 hlm.

Gbore, F.A., Oginni, O., Adewole A.M., dan Aladetan, J.O. 2006. The effect of transportation and handling stress on haematology and plasma biochemistry in fingerlings of Clarias gariepinus and Tilapia zilii. Word Journal of Agriculture Sciences, 2(2): 208-212.

Figure

Gambar 1. Kerangka pikir penelitian.
Gambar 2. Ikan nila Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)
Tabel 1. Tahapan anestesi pada ikan Tahapan Deskripsi Karakteristik
Tabel 3. Alat-alat penelitian No. Nama Alat Jumlah
+2

References

Related documents

¤   Send in a laser beam and watch for first photon with just the right. polarization: it visited

This thesis proposes a unique approach to capture security requirements within an agile software development process by utilizing part of speech (POS) tagging, analysis

This study cannot make claims of certainty on whether or not a content creator is a white supremacist—only if the content being analyzed contains white supremacist themes

[Internet]. Mental Health, New Understanding, New Hope. World Health Report. Canadian Community Health Survey CCHS [Internet]. Kates N, Mazowita G, Lemire F, Jayabarathan A, Bland

Th e waves of Jewish immigration to Palestine during the 19th and 20th Centuries, creation of the State of Israel in 1948, occupation of Arab land in 1967 and 1982, reoccupation

Multibeam sonar can provide continuous coverage of an area of the seafloor, while towed underwater video can provide continuous imagery along transects within the mapped area.

Our aims are to capture the physical experience of movement and to extend the particular sense of time from the original site to a new venue, either a physical space or online..

Next, I analyse women’s networking practices in film and television work, how they conceptualised these relationships, and argue that my participants’ networking practices