IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN RUMAH TANGGA PADA PERUMAHAN MENENGAH KEATAS
DI KOTA BANDAR LAMPUNG
(STUDI KASUS DI KECAMATAN SUKABUMI)
Tesis
Oleh
S RENDRA UTAMA R
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
ABSTRAK
IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN RUMAH TANGGA PADA PERUMAHAN MENENGAH KEATAS
DI KOTA BANDAR LAMPUNG (Studi Kasus di Kecamatan Sukabumi)
Oleh
S RENDRA UTAMA R
Peningkatan jumlah sampah berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Guna mengantisipasi lonjakan timbulan sampah perlu upaya serius penanganan sampah yang langsung dari sumbernya yaitu rumah tangga. Penelitian ini adalah deskriptif analisis dengan menggunakan metode analisis SWOT (Strengths, Weakness , Opportunitie, Treaths). Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 37 responden di Perumahan Villa Laposte dan 83 responden di Perumahan Villa Tirtayasa. Selain itu juga data diperoleh melalui wawancara dan pengambilan data sekunder yang terkait penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola persampahan belum ditangani secara baik. Pengetahuan warga tentang pengelolaan persampahan merupakan faktor kekuatan. Sedangkan adanya potensi pemanfaatan sampah organik rumah tangga untuk diubah menjadi pupuk kompos merupakan faktor peluang yang harus dimanfaatkan. Strategi yang tepat memaksimalkan atau mengutamakan unsur kekuatan dengan memanfaatkan sebesar-besarnya peluang yang ada. Pembuatan kompos secara mandiri dari sampah organik rumah tangga dengan menggunakan teknologi tepat guna yg dapat digunakan pada lahan terbatas. Selain itu juga perlu ditumbuh kembangkan kesadaran warga tentang pengelolaan sampah rumah tangga dengan melakukan sosialisasi secara rutin dan berkelanjutan.
ABSTRACT
IDENTIFICATION AND MANAGEMENT OF HOUSEHOLD WASTE IN HOUSING IN THE CITY OF BANDARLAMPUNG
(Case Study in Sub-district of Sukabumi)
By
S RENDRA UTAMA R
IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN RUMAH TANGGA PADA PERUMAHAN MENENGAH KEATAS
DI KOTA BANDAR LAMPUNG
(STUDI KASUS DI KECAMATAN SUKABUMI)
Oleh
S RENDRA UTAMA R
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar MAGISTER SAINS
Pada
Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Program Sarjana Universitas Lampung
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Tesis dengan judul ”IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN
PERSAMPAHAN RUMAH TANGGA PADA PERUMAHAN
MENENGAH KEATAS DI KOTA BANDAR LAMPUNG (STUDI KASUS DI KECAMATAN SUKABUMI)” adalah karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan atas karya penulis lain dengan cara yang tidak sesuai dengan etika ilmiah yang berlaku dalam masyarakat akademik atau yang disebut plagiatisme.
2. Hak intelektual atas karya ini sepenuhnya diserahkan kepada Universitas Lampung
Atas pernyataan ini, apabila dikemudian hari ditemukan ketidakbenaran, saya bersedia menanggung akibat dan sanksi yang diberikan kepada saya.
Bandarlampung, Juni 2108 Pembuat pernyataan
RIWAYAT HIDUP
S RENDRA UTAMA R
Penulis kelahiran Lampung Utara bulan Februari tahun 1974. Tertua dari empat bersaudara. Riwayat pendidikan formal dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dijalani sejak tahun 1980 – 1992. Melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Akademi Akuntansi Yayasan Administrasi Indonesia hingga
SANWACANA
Alhamdulillah...
Terimakasih Ya Allah atas izinMu sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Penelitian ini berawal dari semangat dan keinginan yang kuat ingin mencari solusi penanganan persampahan khususnya bagi penanganan sampah rumah tangga perumahan yang berada di wilayah Kota Bandarlampung. Harapan kedepan pengelolaan persampahan di kota ini akan semakin baik dan lebih baik.
Tentu tiada kesuksesan dan keberhasilan tanpa dukungan dari pihak lain. Untuk itu saya ingin berterimakasih kepada keluarga, ibu, istri dan anak yang telah mendukung dengan penuh cinta dan pengertian. Dosen pembimbing dan penguji yang telah mencurahkan waktu, memberikan nasehat dan bimbingan selama proses penelitian. Pada rekan-rekan satu angkatan 2015 yang telah berkontribusi secara akademis, praktis dan dukungan untuk tesis master ini terimakasih semua. Terakhir terimakasih yang sebesarnya kepada segenap jajaran pimpinan dan staff Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Lampung atas bantuan dan kemudahan yang diberikan selama proses penelitian ini berjalan.
Bandarlampung, Juni 2018 Penulis
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL ABSTRAK PENGESAHAN RIWAYAT HIDUP
SANWACANA ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... B. Rumusan Masalah ... C. Tujuan Penelitian ... D. Ruang Lingkup ... II. TINJAUAN PUSTAKA ...
A. Pengertian Sampah ... B. Pengelolaan Sampah ... C. Pengelolaan Sampah 3R (reduce, reuse,recycle) ... D. Dampak Sampah ... E. Analisis SWOT ... F. Penelitian Terdahulu ...
III. METODE PENELITIAN ... A. Metodologi Penelitian ... B. Tempat dan Waktu Penelitian ... C. Bahan dan Alat Penelitian ... D. Pengumpulan Data ... E. Objek Penelitian, Populasi Dan Sampel Penelitian ... F. Pengolahan dan Analisis Data ...
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... A. Hasil Penelitian ... B. Pembahasan ... V. KESIMPULAN DAN SARAN ... DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN - Kuesioner - Foto-foto
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Spesifikasi Sumber dan Komposisi Sampah ... 14
2 Matrik IFAS ( Internal Factors Analysis Summary)... 53
3 Matrik EFAS ( External Factors Analysis Summary)... 53
4 Luas Wilayah Kota Bandar Lampung menurut Kecamatan Tahun 2016 ... 58
5 Wilayah Administrasi Kota Bandar Lampung ... 59
6 Banyaknya Lingkungan (LK) dan Rukun Tetangga (RT) menurut Kelurahan di Kecamatan Sukabumi, Tahun 2016 ... 61
7 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Warga di Perumahan Villa Tirtayasa Tentang Pengolahan Sampah Rumah Tangga ... 68
8 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Warga di Perumahan Villa Laposte Tentang Pengolahan Sampah Rumah Tangga ... 70
9 Distribusi Frekuensi Peranan Pemerintah Dalam Pengelolaan Sampah di Perumahan Villa Tirtayasa ... 71
10 Distribusi Frekuensi Peranan Pemerintah Dalam Pengelolaan Sampah di Perumahan Villa Laposte ... 73
11 Distribusi Frekuensi Ketersediaan Sarana dan Prasarana Persampahan di Perumahan Villa Tirtayasa ... 75
12 Distribusi Frekuensi Ketersediaan Sarana dan Prasarana Persampahan di Perumahan Villa Laposte ... 76
13 Distribusi Frekuensi Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Tirtayasa ... 77
14 Distribusi Frekuensi Sikap Warga Terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Laposte ... 79
16 Distribusi Frekuensi Keikutsertaan Warga di Perumahan Villa Laposte Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga ...
82
17 Karakteristik Responden Perumahan Villa Tirtayasa dan Villa Laposte ... 85
18 Matriks SWOT Strategi Pengelolaan Sampah Perumahan Kelas Menengah Keatas di Kota Bandarlampung ... 92 19 Matrik Urgensi Faktor Internal ... 93
20 Matrik Urgensi Faktor Eksternal ... 94
21 Matrik Hasil IFAS ( Internal Factors Analysis Summary)... 95
22 Matrik Hasil EFAS ( External Factors Analysis Summary)... 96
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1 Paradigma Pengelolaan Sampah ... 9
2 Kegiatan Pengelolaan Sampah ... 10
3 Diagram Alir Penelitian ... 44
4 Kuadran Strategi Analisis SWOT ... 56
5 Kota Bandarlampung, Kecamatan dan Kelurahan ... 59
6 Bagan Alir Pengelolaan Sampah Perumahan Villa Tirtayasa ... 62
7 Bagan Alir Pengelolaan Sampah Perumahan Villa Laposte ... 63
8 Lokasi TPS Perumahan Villa Laposte ... 64
9 Grafik Tingkat Pendidikan Warga PerumahanVilla Tirtayasa ... 65
10 Grafik Tingkat Pendidikan Warga Perumahan Villa Laposte ... 66
11 Grafik Pekerjaan Responden Warga Perumahan Villa Tirtayasa ... 66
12 Grafik Pekerjaan Responden Warga Perumahan Villa Laposte ... 67
13 Grafik Status Kepemilikan Rumah Warga Perumahan Villa Tirtayasa ... 67
14 Grafik Status Kepemilikan Rumah Warga Perumahan Villa Laposte... 68
15 Grafik Pengetahuan Warga Villa Tirtayasa Tentang Pengolahan Sampah ... 69
[image:13.595.99.527.224.755.2]17 Grafik Peranan Pemerintah Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Tirtayasa ... 72
18 Grafik Peranan Pemerintah Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Laposte ... 74
19 Grafik Ketersediaan Sarana dan Prasarana Persampahan di Perumahan Villa Tirtayasa ... 75
20 Grafik Ketersediaan Sarana dan Prasarana Persampahan di Perumahan Villa Laposte ... 76
21 Grafik Sikap Warga Terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Tirtayasa ... 78
22 Grafik Sikap Warga Terhadap Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Laposte ... 80
23 Grafik Keikutsertaan Warga Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Tirtayasa ... 82
24 Grafik Keikutsertaan Warga Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Perumahan Villa Laposte ... 84
25 Kuadran Strategi Perencanaan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di
Perumahan Kelas Menengah Keatas ... 98
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengelolaan persampahan sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kota, sehingga membutuhkan penanganan yang tepat. Keberadaan jumlah sampah yang semakin hari semakin bertambah seiring pertambahan jumlah penduduk akan menjadi masalah apabila tidak ditangani dengan baik. Keberadaan sampah dapat mencemari lingkungan tanah, air, dan udara udara. Selain itu kehadiran sampah dapat mengurangi nilai estetika serta mengganggu kesehatan.
Jumlah sampah semakin hari semakin meningkat dari tahun ke tahun. Di Kota Bandar Lampung, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Kota Bandar Lampungsebesar 1,94% pertahun (Sumber: Proyeksi Penduduk Provinsi Lampung 2010–2035, BPS Provinsi Lampung) . Apabila, diasumsikan setiap penduduk menghasilkan 0,16 ton sampah setiap tahun atau 0,43 kg perhari, maka sesuai dengan persamaan yang didapatkan dari IPCC (2012). Jumlah timbulan sampah pada Tahun 2025 dapat mencapai 38.046,2 ton.
2 atau Kebijakan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga No 97 Tahun 2017. Dalam Jakranas tersebut tertuang kebijakan yang berisi antara lain target pengurangan sampah dan penanganan timbulan sampah.
Sampai saat ini, sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih sebatas cara membuang bukan mengolah. Biasanya, sampah hanya dibuang langsung kesuatu lahan kosong, dan apabila lahan tersebut sudah penuh dan dianggap tidak layak, maka masyarakat kemudian akan berpindah lagi mencari lahan yang lain. Penanganan sampah dengan cara seperti ini, tentu saja membutuhkan biaya operasional yang sangat besar dan hanya efektif dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang sangat tidak efisien dan kurang aman karena adanya keterbatasan daya dukung lahan dan lingkungan yang semakin lama semakin sedikit.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah tanpa menggunakan biaya yang besar adalah dengan pengelolaan sampah berbasis komunitas dimana sampah dikelola secara kawasan dengan peran serta dari masyarakat. Peran serta tersebut antara lain adalah melakukan pemilahan sampah, mendirikan usaha pengelolaan sampah (UPS) dan membayar iuran retribusi kebersihan.
3 dilakukan di tempat pemrosesan akhir, karena sampah yang sudah terlanjur bercampur akan memerlukan sarana dan prasarana yang mahal untuk dipilah.
Timbulan sampah bersumber dari perumahan dan pemukiman yang belum teratasi dengan baik, akan menjadi penyebab memburuknya kondisi lingkungan dan berdampak negatif terhadap masyarakat. Melihat permasalahan tersebut, perlu adanya pengelolaan sampah terpadu yang sifatnya meminimalkan jumlah sampah yang dihasilkan. Upaya yang dapat dilakukan yang melibatkan partisipasi masyarakat antara lain melalui program 3R, yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) No.03-1733-2004 dinyatakan bahwa lingkungan perumahan harus dilengkapi dengan tempat penampungan sementara sampah (TPS). TPS ini berfungsi sebagai tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah. Namun, pada kenyataannya dari 2 kawasan perumahan kelas menengah yang ada di Kota Bandar Lampung pengelolaan persampahannya belum ditangani dengan baik dan belum sesuai dengan standar tersebut.
Dari fakta yang ditemukan di lapangan, maka dipandang perlu untuk mengangkat permasalahan seperti dijabarkan di atas untuk menetapkan strategi pengelolaan sampah yang sesuai bagi masyarakat yang ada di perumahan yang terdapat di Kota Bandar Lampung. Sebelum menetapkan strategi pengelolaan sampah, maka perlu dilaksanakan survei awal untuk mengetahui gambaran awal kondisi dan jenis perumahan yang ada di Kota Bandar Lampung.
4 perumahan. Kawasan perumahan tersebut tersebar di lima kelurahan dari tujuh kelurahan yang ada di Kecamatan Sukabumi yaitu Kelurahan Sukabumi Indah, Kelurahan Sukabumi, Kelurahan Nusantara Permai, Kelurahan Campang Raya, dan Kelurahan Campang Jaya. Kelurahan dengan jumlah kawasan perumahan terbanyak terdapat di dua kelurahan yaitu Kelurahan Sukabumi dan Sukabumi Indah. 10 perumahan, sisanya tersebar di tiga kelurahan yang lain.
Dari survey awal yang telah dilakukan, didapat informasi bahwa di lingkungan perumahan kelas menengah ke keatas belum memiliki fasilitas TPS permanen, baik TPS yang dibangun oleh pihak pengembang maupun TPS yang disediakan oleh pemerintah Kota Bandar Lampung. Contohnya, perumahan kelas menengah yang ada di dua kelurahan tersebut yaitu Perumahan Villa Tirtayasa dan Perumahan Villa Laposte. Kedua perumahan kelas menengah tersebut tidak terdapat aktivitas pengelolaan sampah yang seharusnya dilakukan sebagaimana yang telah disarankan menurut Undang - undang No.18 Tahun 2018.
Menurut Nasution (2014), pengelolaan sampah di Kota Bandar Lampung masih terkendala terbatasnya sarana dan prasarana kebersihan, termasuk jumlah armada angkutan sampah. Pekerja kebersihan masih relatif sedikit dibandingkan dengan beban kerja yang harus ditanggung khususnya pengumpulan dan pengangkutan, serta kurang aktifnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah.
5 spesifik untuk pengelolaan sampah disuatu tempat tertentu seperti pengelolaan sampah di Kota Depok dibutuhkan informasi tentang faktor eksternal-internal. Menggunakan pendekatan post positivis kualitatif, dan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Treath). Analisis SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi.
B. Rumusan Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, muncul pertanyaan penelitian sebagai rumusan masalah (research question) yaitu ; :
1) Bagaimana proses perencanaan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat yang telah berjalan di perumahan menengah di Kota Bandar Lampung?.
2) Apa tantangan dan peluang dalam pengelolaan sampah rumah tangga yang berbasis masyarakat yang telah berjalan di perumahan yang ada di Kota Bandar Lampung?
3) Bagaimana strategis pengelolaan persampahan yang tepat untuk diterapkannya pada perumahan menengah keatas di Kota Bandar Lampung?
6 C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian (research question) yaitu:
A. Mengidentifikasi pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat yang telah dijalankan di perumahan menengah keatas yang terdapat di Kota Bandar Lampung.
B. Menginventarisasi tantangan, peluang, ancaman, serta hambatan dalam pengelolaan sampah rumah tangga yang terdapat di perumahan kelas menengah keatas.
C. Menentukan strategi pengelolaan sampah yang tepat untuk diterapkan pada perumahan menengah keatas agar dapat mengurangi jumlah timbulan sampah pada skala rumah tangga.
D. Ruang Lingkup
Untuk menentukan strategi pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakteristik pada penelitian ini, metode yang akan digunakan adalah analisis SWOT (Strengths, Weakness , Opportunities, Treaths). Analisis SWOT merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunitie), dan ancaman (treaths) suatu organisasi sehingga dapat memperkirakan cara terbaik untuk menemukan strategi yang tepat atas permasalahan yang sedang dihadapi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Sampah
Menurut Undang-undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah bab pertama bagian kesatu pasal 1 ayat 1 yang dimaksud dengan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pada bab pertama ketentuan umum pasal 1 dalam Peraturan Menteri PU No.03/PRT/M/2013 definisi sampah terbagi menjadi dua yaitu:
1. Sampah Rumah Tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
2. Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.
Menurut Suwerda (2012) sumber sampah terdiri dari: 1. Sampah dari rumah tangga
Sampah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga antara lain berupa sisa hasil pengolahan makanan, barang bekas dari perlengkapan rumah tangga, kertas, kardus, gelas, kain, tas bekas, dan lain - lain.
2. Sampah dari pertanian
8 lainnya adalah plastik yang digunakan sebagai penutup tempat tumbuh – tumbuhan yang berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambatan pertumbuhan gulma, seperti pada penanaman cabai.
3. Sampah sisa bangunan
Pembangunan gedung -gedung yang dilakukan selama ini akan menghasilkan sampah seperti potongan kayu, triplek, dan bambu. Kegiatan pembangunan juga menghasilkan sampah seperti semen bekas, pasir, batu bata, pecahan ubin/keramik, potongan besi, pecahan kaca, kaleng bekas.
4. Sampah dari perdagangan dan perkantoran
Kegiatan pusat tradisional, warung, supermarket, toko, pasar swalayan, dan mall menghasilkan jenis sampah yang beragam. Sampah dari perdagangan banyak menghasilkan sampah yang mudah membusuk, seperti sisa makanan, dedaunan, dan menghasilkan sampah tidak membusuk seperti kertas, kardus, plastik, kaleng, dan lain – lain. Kegiatan perkantoran termasuk fasilitas pendidikan menghasilkan sampah seperti kertas bekas, alat tulis, toner fotocopy, pita printer, dan lain – lain.
5. Sampah dari industri
9 B. Pengelolaan Sampah
Saat ini pengelolaan sampah telah mengalami perubahan paradigma, dari orientasi kumpul, angkut dan buang menjadi lebih berorientasi kepada pengurangan sampah semaksimal mungkin di sumber sebelum diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), seperti disajikan pada Gambar 1 terlihat bahwa rangkaian pengelolaan tidak hanya bertumpu pada proses di TPA tetapi banyak menekankan pengelolaan dari sumber sampah. Dengan harapan telah terjadi pemilahan sampah dari awal, kemudian dilanjutkan dengan proses daur ulang menjadi barang yang bermanfaat, dan akhirnya hanya residu atau sisa sampah saja yang diangkut ke TPA
[image:23.595.144.476.363.546.2]Konsep pengelolaan sampah yang diatur pada pada UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah BAB I Bagian Kesatu pasal 1ayat 5 menjelaskan bahwa pengelolaan sampah didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan sampah dan penanganan sampah.
10 Secara umum pengelolaan sampah dapat disajikan pada Gambar 2 berikut ini:
Kegiatan pengurangan sampah meliputi: a. Pembatasan timbulan sampah; b. Pendauran ulang sampah; c. Pemanfaatan kembali sampah.
Sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi:
a. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
[image:24.595.141.482.150.335.2]b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;
11 c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau
dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;
d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau
e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Guna menjalankan Undang undang No.18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, pemerintah mengeluarkan Peraturan pemerintah. No.81 Tahun 2012 yang menjelaskan tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pada BAB III Bagian Kesatu Pasal 10 ayat 2 dikatakan bahwa setiap orang wajib melakukan pengurangan sampah dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Menurut PP tersebut proses pengelolaan sampah dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Penanganan Setempat
12 2. Pengelolaan Terpusat
Pengelolaan persampahan secara terpusat adalah suatu proses atau kegiatan penanganan sampah yang terkoordinir untuk melayani suatu wilayah / kota. Pengelolaan sampah secara terpusat mempunyai kompleksitas yang besar karena cakupan berbagai aspek yang terkait. Aspek – aspek tersebut dikelompokkan dalam 5 aspek utama, yakni aspek institusi, hukum, teknis operasional, pembiayaan dan retribusi serta aspek peranserta masyarakat
Menurut Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (2011) aspek pengelolaan sampah perkotaan terdiri atas 5 aspek yaitu:
1. Aspek teknis operasional 2. Aspek kelembagaan 3. Aspek hukum 4. Aspek pembiayaan
5. Aspek peranserta masyarakat
Aspek Teknis Operasional 1) Komposisi Sampah
13 masyarakat serta kondisi ekonomi yang berbeda dan proses penanganan sampah di sumber sampah seperti yang disajikan pada Tabel 1 berikut ini;
Tabel 1. Spesifikasi Sumber dan Komposisi Sampah
No Sumber Sampah Komposisi Sampah
1 Kantor Kertas karton plastik cartridge printer bekas sampah makanan.
2 Rumah Sakit Kertas, plastik (pembungkus spuit, spuit bekas), kaca (botol obat, pecahan kaca) logam (jarum spuit), potongan jaringan tubuh, sampah makanan, kapas bekas.
3 Pasar Sampah organik mudah membusukplastik kertas / karton, karet, kain, kayu pengemas.
4 Rumah Makan Sampah makanan kertas pembungkus plastik pembungkus.
5 Lapangan Olahraga Kertas plastik sampah makanan potongan rumput.
6 Lapangan Terbuka ranting/daun kering potongan rumput
7 Jalan dan Lapangan Kertas plastik daun kering
8 Rumah Tangga sampah makanan, kertas / karton, plastik, kain, daun, ranting, logam.
9 Pembangunan Gedung
pecahan bata, pecahan beton, pecahan genting, kayu, kertas, Plastik
Sumber : Dirjen Cipta Karya, 2011
Komposisi sampah akan berbeda untuk setiap kota atau negara, tergantung kondisi ekonomi suatu kota atau negara yang bersangkutan. Pada umumnya makin tinggi tingkat perekonomian suatu kota atau negara, komposisi organik akan makin menurun dan komposisi non organik (kertas, plastik) akan meningkat (Dirjen Cipta Karya, 2011)
14 lebih mudah jika dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik serta adanya proses pengomposan yang sederhana.
2) Karakteristik Sampah
Karakteristik sampah secara umum dibedakan atas : 1. Karakteristik fisik
- Kandungan kadar air
- Spesific Weight/Berat Jenis (berat/volume; kg/liter, lb/ft3) - Ukuran partikel dan distribusi partikel
- Field Capacity, didefinisikan sebagai jumlah total air yang dapat ditahan oleh sampah secara gravitasi
- Permeabilitas sampah, sangat penting untuk mengetahui pergerakan cairan dan gas dalam landfill.
2. Karakteristik kimiawi
- Proximate Analysis: Analisis terhadap kelembaban sampah, kandungan volatile di dalam sampah, fixed carbon, dan ash di dalam sampah
- Fusing point of ash: Temperatur dimana bisa terbakar sebagai abu
(klinker) suhu diatas 1000oC
- Ultimate Analysis: Analisis terhadap unsur-unsur kimia penyusun sampah. Sampah mengandung komponen karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, dan ash. Analisis ini sangat menentukan sistem pengolahan sampah yang efektif digunakan untuk memusnahkan sampah.
15 Sampah mengandung unsur karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Beberapa jenis sampah yang mempunyai nilai kalor tinggi seperti kayu, serbuk gergaji dan lainnya dapat digunakan sebagai sumber energi. Bomb calorimeter dapat digunakan untuk menentukan nilai kalor dari masing-masing komponen sampah.
3. Karakteristik biologi
Biodegradability adalah kemampuan sampah untuk diuraikan dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Produksi bau pada proses penguraian sampah oleh mikroorganisme. Bau timbul akibat pembentukan asam-asam organik rantai pendek, merkaptan, dan H2S. (Dirjen Cipta Karya, 2011)
3) Sumber Sampah
Sumber sampah sebagaimana dijelaskan dalam UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah terdiri atas:
a. Sampah rumah tangga: sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik
b. Sampah sejenis sampah rumah tangga: sampah yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum dan/atau fasilitas lainnya.
16 Ada beberapa sumber penghasil sampah, yaitu perumahan, sekolah, kantor, puskesmas, rumah sakit, pasar, terminal dan tempat-tempat dimana manusia beraktivitas . Dari berbagai sumber sampah tersebut, sampah perumahan yang diproduksi oleh rumahtangga merupakan penyumbang terbesar limbah padat. Menurut Suwerda (2012) sumber sampah terdiri dari:
1. Sampah dari rumah tangga
Sampah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga antara lain berupa sisa hasil pegolahan makanan, barang bekas dari perlengkapan rumah tangga, kertas, kardus, gelas, kain, tas bekas, dan lain - lain.
2. Sampah dari pertanian
Sampah yang berasal dari kegiatan pertanian pada umumnya berupa sampah yang mudah membusuk, seperti rerumputan dan jerami. Sampah pertanian lainnya adalah plastik yang digunakan sebagai penutup tempat tumbuh – tumbuhan yang berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambatan pertumbuhan gulma, seperti pada penanaman cabai.
3. Sampah sisa bangunan
Pembangunan gedung -gedung yang dilakukan selama ini akan mengahasilkan sampah seperti potongan kayu, triplek, dan bambu. Kegiatan pembangunan juga menghasilkan sampah seperti semen bekas, pasir, spesi, batu bata, pecahan ubin/keramik, potongan besi, pecahan kaca, kaleng bekas. 4. Sampah dari perdagangan dan perkantoran
17 dedaunan, dan menghasilkan sampah tidak membusuk seperti kertas, kardus, plastik, kaleng, dan lain – lain. Kegiatan perkantoran termasuk fasilitas pendidikan menghasilkan sampah seperti kertas bekas, alat tulis, toner fotocopy, pita printer, dan lain – lain.
5. Sampah dari industri
Kegiatan di industri menghasilkan jenis sampah yang beragam, tergantung dari bahan baku yang digunakan, proses produksi, dan out produk yang dihasilkan.
Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai acuan klasifikasi sumber sampah, yaitu:
1. Sumber sampah yang berasal dari daerah perumahan yang terbagi atas:
a. Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income)
b. Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income)
c. Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah / daerah kumuh
(Low income / slum area)
2. Daerah komersial
Daerah komersial umumnya didominasi oleh kawasan perniagaan, hiburan dan lain-lain. Yang termasuk kategori komersial adalah pasar pertokoan hotel restauran bioskop salon kecantikan, industri dan lain-lain.
3. Fasilitas umum
18 4. Fasilitas sosial
Fasilitas sosial merupakan sarana prasarana perkotaan yang digunakan untuk kepentingan sosial atau bersifat sosial. Fasilitas sosial ini meliputi panti-panti sosial (rumah jompo, panti asuhan) dan tempat-tempat ibadah (masjid, gereja pura, dan lain-lain).
5. Sumber lain
Dari klasifikasi sumber-sumber sampah yang ada, dapat dikembangkan lagi jenis sumber-sumber sampah yang lain sesuai dengan kondisi kotanya atau peruntukan tata guna lahannya. Sebagai contoh sampah yang berasal dari tempat pemotongan hewan atau limbah pertanian ataupun buangan dari instalasi pengolahan air limbah (sludge), dengan catatan bahwa sampah atau limbah tersebut adalah bersifat padat dan bukan kategori sampah B3.
Klasifikasi kategori sumber sampah pada dasarnya juga dapat menggambarkan klasifikasi tingkat perekonomian yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kemampuan masyarakat dalam membayar retribusi sampah dan menentukan pola subsidi silang.
Aspek Kelembagaan Pengelolaan Sampah
19 organisasi atau kelompok masyarakat untuk membantu anggotanya agar dapat berinteraksi satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Dirjen Cipta Karya (2011), beberapa kondisi pengelolaan sampah perkotaan yang berkaitan dengan aspek institusi atau kelembagaan adalah sebagai berikut: 1. Sebagian besar institusi pengelola adalah berbentuk dinas, suku dinas,
seksi, sub seksi dimana belum ada pemisahan antara operator dan regulator 2. Struktur organisasi yang ada belum ditunjang dengan kapasitas (jumlah dan
kualitas SDM) yang memadai sesuai dengan kewenangannya
3. Tata laksana kerja belum jelas antara bagian administrasi dan pelaksana teknis lapangan, termasuk kewenangan penarikan retribusi serta pengalokasian anggaran untuk pendanaan investasi
4. Kurangnya koordinasi dan kerjasama antara instansi terkait yang ada di lapangan
Kelembagaan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah kelembagaan yang sesuai dengan amanat PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, PP 41/2007 tentang Pemerintahan Daerah. PP 23/2004 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, serta Permendagri 61/2009 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Perangkat peraturan tersebut di atas digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kelembagaan pengelolaan sampah, antara lain:
20 2 . Peningkatan kualitas SDM melalui training dan rekruitmen SDM untuk jangka panjang sesuai dengan kualifikasi bidang keahlian persampahan/manajemen karena struktur organisasi mencerminkan tugas dan tanggungjawab yang jelas dalam kegiatan-kegiatan penanganan sampaj yang harus senantiasa ditunjang dengan kapasitas serta kualitas SDM yang memadai. (Dirjen Cipta Karya, 2011).
Aspek Pembiayaan
Menurut Dirjen Cipta Karya (2011), beberapa kondisi yang berkaitan dengan aspek pembiayaan pengelolaan sampah perkotaan adalah sebagai berikut:
1. Keterbatasan biaya, termasuk sumber pendanaan untuk investasi dan operasi atau pemeliharaan mengakibatkan pelayanan pengelolaan sampah yang tidak optimal
2. Belum adanya paradigma pemda bahwa pengelolaan sampah adalah suatu sumberdaya
3. Belum terciptanya iklim yang kondusif untuk kerja sama dengan swasta (berdasarkan Perpres No.13 Tahun 2010 tentang Kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur).
21 Pembiayaan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:
1. Investasi yang lebih memadai yang didasarkan pada kebutuhan dan peningkatan sarana prasarana, kapasitas SDM serta kampanye dan edukasi bidang persampahan
2. Biaya operasi dan pemeliharaan yang mencukupi untuk kebutuhan pengoperasian sarana prasarana persampahan yang penghitungannya didasarkan pada kebutuhan alternatif pengoperasian seluruh kegiatan penanganan sampah dari sumber sampai TPA untuk jangka panjang
3. Tarif/retribusi yang disusun berdasarkan struktur/klasifikasi wajib retribusi (cross subsidi), kemampuan daerah, kemampuan masyarakat yang dapat mencukupi kebutuhan operasional pengelolaan sampah (mengarah pada pola cost recovery)
4. Penerapan pola insentif dan disinsentif bagi para pelaku yang terlibat dalam pengelolaan persampahan.
5. Pendapatan dari penarikan tarif retribusi harus terkoordinasi dan tercatat baik dan transparan serta diinvestasikan kembali untuk kepentingan pengelolaan sampah (Dirjen Cipta Karya, 2011)
Aspek Peraturan Pengelolaan Sampah
Beberapa kondisi yang terkait dengan aspek peraturan pengelolaan sampah perkotaan adalah sebagai berikut:
22 2. Kurangnya sosialisasi dan penyuluhan mengenai perda persampahan
3. Belum adanya penerapan sanksi atas pelanggaran bidang persampahan
Hukum dan peraturan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah daerah memiliki perda yang terdiri dari perda pembentukan institusi, perda ketentuan penanganan persampahan dan perda retribusi, dimana substansi materi perda harus cukup menyeluruh, tegas dan dapat diimplementasikan untuk jangka panjang (20 tahun)
2. Penerapan perda tersebut perlu didahului dengan sosialisasi, uji coba di kawasan tertentu dan penerapan secara menyeluruh. Selain itu juga diperlukan kesiapan aparat dari mulai kepolisian, kejaksaan dan kehakiman untuk penerapan sanksi atas pelanggaran yang terjadi
Indonesia memiliki undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri sebagai regulasi di tingkat nasional yang kemudian dirinci lagi dalam rangka implementasi di masing-masing daerah dan diatur dalam peraturan daerah. Berikut adalah beberapa regulasi terkait dengan pengelolaan sampah:
1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang-undang ini mengatur tentang tugas dan wewenang pemerintah mulai dari tingkat pusat hingga daerah, hak dan kewajiban masyarakat, perizinan dan penyelenggaraan pengelolaan sampah, pembiayaan dan kompensasi, kerjasama dan kemitraan, serta peran serta masyarakat terhadap pengelolaan persampahan.
23 3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 03/PRT/M/2013 Tentang Penyelenggaraan Prasarana Dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Menteri. Peraturan ini dimaksudkan sebagai acuan bagi pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota dan orang yang berkepentingan dalam penyelenggaraan prasaran dan sarana persampahan. 4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2010 tentang
Pedoman Pengelolaan Sampah. Peraturan Menteri Dalam Negeri ini mengatur tentang implementasi pengelolaan sampah, retribusi, kompensasi, peran masyarakat, pengawasan dan pembinaan, pelaporan, serta pembiayaan pengelolaan sampah.
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan. Peraturan ini membahas tentang isu, permasalahan serta tantangan pengelolaan persampahan dan mengatur strategi serta kebijakan dalam mengelola sampah.
6. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No.05 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Sampah. Peraturan ini berisi tentang tata kelola persampahan di Kota Bandar Lampung
24 8. SNI 3242-2008 tentang Pengelolaan Sampah di Pemukiman. Standar ini mengatur tentang pengelolaan sampah di pemukiman dangan perubahan sebagian pada penerapan 3R mulai dari sumber sampai TPS.
Aspek Peran serta Masyarakat
Menurut Mikkelsen, beberapa pengertian partisipasi diatas kadangkala lebih merupakan kata-kata popular yang sering digunakan dan belum bermakna sebagai partisipasi yang sesungguhnya. Partisipasi yang sesungguhnya menurut Mikkelsen (dalam Adi, 2007:108) “berasal dari masyarakat dan dikelola oleh masyarakat itu sendiri, ia adalah tujuan dari suatu proses demokrasi (genuine participation, initiated and managed by people themselves, is a good in the democratic process)”. Kemudian Midgley (1986), partisipasi masyarakat berarti adanya keterlibatan secara langsung masyarakat biasa dalam urusan-urusan setempat
Menurut Conyers (1991), ada beberapa tujuan pelibatan masyarakat dalam pembangunan yaitu :
(a) Partisipasi masyarakat dalam pembangunan merupakan alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat, serta sikap masyarakat terhadap pembangunan. Tanpa informasi tersebut, program-program dan proyek-proyek pembangunan akan gagal;
25 mereka akan lebih mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut;
(c) Merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan yang menjadikan mereka obyek pembangunan. Dengan melibatkan mereka dalam pembangunan, berarti mereka bukan hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga sebagai subyek pembangunan.
Lebih lanjut dikatakan oleh Suparjan,dkk (2003), partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan sebuah program pembangunan mutlak diperlukan karena masyarakatlah yang pada akhirnya akan melaksanakan program tersebut. Adanya pelibatan masyarakat memungkinkan mereka mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap keberlanjutan suatu program kegiatan. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan partisipasi, potensi dan kreativitas masyarakat dapat lebih tergali. Cohen dan Uphoff (1977) membagi partisipasi dalam empat jenis partisipasi yaitu:
1. Participation in decision making atau partisipasi dalam pengambilan keputusan.Partisipasi ini terutama berkaitan dengan penentuan alternatif dengan masyarakat berkaitan dengan gagasan atau ide yang menyangkut kepentingan bersama. Wujud partisipasi dalam pengambilan keputusan ini antara lain seperti ikut menyumbangkan gagasan atau pemikiran, kehadiran dalam rapat, diskusi dan tanggapan atau penolakan terhadap program yang ditawarkan.
26 merupakan kelanjutan dalam rencana yang telah digagas sebelumnya baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan maupun tujuan. 3. Participation in benefits atau partisipasi dalam pengambilan
manfaat. Partisipasi dalam pengambilan manfaat tidak lepas dari hasil pelaksanaan yang telah dicapai baik yang berkaitan dengan kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas dapat dilihat dari output, sedangkan dari segi kuantitas dapat dilihat dari presentase keberhasilan program. 4. Participation in evaluation atau partisipasi dalam evaluasi. Partisipasi
dalam evaluasi ini berkaitan dengan pelaksanaan pogram yang sudah direncanakan sebelumnya. Partisipasi dalam evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang sudah direncanakan sebelumnya.
Menurut Dirjen Cipta Karya (2011), beberapa kondisi yang berkaitan dengan aspek peranserta masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah:
1. Kesadaran masyarakat terhadap penanganan sampah masih rendah
2. Masyarakat belum terinformasikan dengan baik tentang berbagai peraturan, pedoman, SOP yang ada dalam pengelolaan sampah
3. Kurang mengikutsertakan masyarakat dalam proses pengelolaan sampah 4. Masyarakat belum menganggap sampah sebagai suatu sumberdaya
27 tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang diselenggarakan oleh pemerintah dan atau pemerintah daerah.
Peranserta masyarakat yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:
1. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah melalui kampanye, sosialisasi dan edukasi bidang persampahan
2. Mensosialisasikan dan menyebarluaskan NSPK (Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria) persampahan yang ada
3. Perlu dibentuk forum komunikasi sebagai media antara masyarakat dan pemerintah daerah.
C. Pengelolaan Sampah 3R (Reuse, Reduce, Recycle)
Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah. Pengurangan sampah dilakukan meliputi beberapa kegiatan:
1) Pembatasan timbulan sampah; 2) Pendauran ulang sampah; dan/atau 3) Pemanfaatan kembali sampah.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan sebagai berikut:
1) Menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu;
28 4) Memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang; dan
5) Memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang.
Sedangkan beberapa kegiatan dalam penanganan sampah meliputi:
1) Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
2) Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu
3) Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;
4) Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau
5) Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
29 Dengan visi tercapainya permukiman sehat yarg bersih dari sampah, maka misi pengembangan KSN-PSPP adalah :
1) Mengurangi timbulan sampah dalam rangka pengelolaan percampahan yang berkelanjutan.
2) Meningkatkan jangkauan dan realitas pelayanan sistem pengelolaan persampahan.
3) Memberdapkan maslarakat dan meningkatkan peran aktif dunia usaha/swasta.
4) Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan dalam sistem pengelolaan persampahan sesuaidengan prinsip good corporate governance. 5) Memobilisasi dana dari berbagai sumber untuk pengembangan sistem
pengelolaan persampahan.
6) Menegakkan hukum dan melsrgkapi peraturan perundangan untuk meningkatkan sistem pengelolaan persampahan.
(Menteri Pekerjaan Umum 2006)
Permen PU No: 21/PRT/M/2006 menjelaskan Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSN-SPP) salah satu strategi dalam upaya pengurangan sampah adalah meningkatkan pemahaman masyarakat akan upaya 3R (Reduce-Reuse-Recycle) dan pengamanan sampah B3 (Bahan Buangan Berbahaya) rumah tangga.
30 “nilai” pengurangan sampah di sumber dan dampaknya bagi kualitas kesehatan
dan lingkungan maupun kampanye yang terus menerus untuk membangun suatu komitmen sosial.
Dalam Kebijakan Strategi Nasional (Jakranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga No 97 Tahun 2017., tersebut tertuang kebijakan yang berisi antara lain target pengurangan sampah dan penanganan timbulan sampah. Target pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebesar 30% (tiga puluh persen), sedangkan target penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebesar 70% (tujuh puluh persen) dari angka timbulan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebelum diberlakukannya Jakranas hingga tahun 2025.
Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan melalui beberapa tindakan, yaitu:
a. Pemilahan; tindakan pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
b. Pengumpulan; tindakan pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;
c. Pengangkutan; tindakan dengan membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;
31 e. Pemrosesan akhir; tindakan untuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil
pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman
Pengurangan sampah di sumber ini dilakukan melalui mekanisme 3R (reduce , reuse, recycle). Reduce adalah upaya yang lebih menitikberatkan pada pengurangan pola hidup konsumtif serta senantiasa menggunakan bahan "tidak sekali pakai" yang ramah lingkungan. Reuse adalah upaya memanfaatkan bahan sampah melalui penggunaan yang berulang agar tidak langsung menjadi sampah. Recycle adalah setelah sampah harus keluar dari lingkungan rumah, perlu dilakukan pemilahan dan pemanfaatan/pengolahan secara setempat.
Secara teori, teknik pengolahan sampah dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
a. Pengomposan (composting) Adalah suatu pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan aktifitas bakteri untuk mengubah sampah menjadi kompos (proses pematangan).
32 c. Recycling. Merupakan salah satu teknik pengolahan sampah, dimana dilakukan pemisahan atas benda-benda bernilai ekonomi seperti: kertas, plastik, karet, dan lain-lain dari sampah yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga dapat digunakan kembali baik dalam bentuk yang sama atau berbeda dari bentuk semula.
d. Reuse. Merupakan teknik pengolahan sampah yang hampir sama dengan recycling bedanya reuse langsung digunakan tanpa ada pengolahan terlebih dahulu.
e. Reduce. Adalah usaha untuk mengurangi potensi timbulan sampah, misalnya tidak menggunakan bungkus kantong plastik yang berlebihan.
f. Replace (mengganti). Mengganti barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Misalnya, mengganti kantong plastic dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan menggunakan sterofom karena dua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.
Masalah sampah di berbagai kota besar di Indonesia Sebetulnya dapat dipecahkan dengan baik sebagaimana yang berhasil dilakukan di negara maju apabila peran aktif masyarakat meningkat. Pada umumnya proses pengelolaan sampah dengan basis partisipasi aktif masyarakat terdiri dari beberapa tahapan proses, antara lain :
33 b. Pada fase awal di tingkat rumah tangga setidaknya diupayakan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dan sampah non organik dipilah serta mengumpulkan menurut jenisnya sehingga memungkinkan untuk didaur ulang. Sampah organik sebenarnya dapat diproses menjadi kompos di setiap rumah tangga pada tong-tong sampah khusus kompos yang mampu memproses sampah menjadi kompos untuk periode tampung antara 18 hingga 28 hari dengan bantuan mikroba pengurai. Bila proses pengomposan di tiap rumah tangga belum mungkin dilakukan, selanjutnya petugas sampah mengangkut sampah yang telah terpilah ke tempat pembuangan sampah sementara untuk diproses.
c. Pewadahan dan pengumpulan dari wadah tempat timbulan sampah sisa yang sudah dipilah ke tempat pemindahan sementara. Pada tahapan ini beban kerja petugas pembuangan sampah menjadi lebih ringan.
d. Pengangkutan ke tempat pembuangan atau ke tempat pengolahan sampah terpadu. Pada tahapan ini diperlukan kotak penampungan sampah dan gerobak pengangkut sampah yang sudah dipilah.
D. Dampak Sampah
Pengelolaan sampah yang tidak baik dapat mengakibatkan dampak sebagai berikut (Dirjen Cipta Karya, 2011):
a) Perkembangan Vektor Penyakit
34 tikus. Hal ini disebabkan dalam wadah sampah tersedia sisa makanan dalam jumlah yang besar. Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di lokasi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah.
b) Pencemaran Udara
Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan sumber bau tidak sedap yang memberikan efek buruk bagi daerah sensitif sekitarnya seperti permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi pada sumber dan lokasi pengumpulan terutama bila terjadi penundaan proses pengangkutan sehingga menyebabkan kapasitas tempat terlampaui.
c) Pencemaran Air
Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial menghasilkan lindi terutama pada saat turun hujan. Aliran lindi ke saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi lindi yang dihasilkan di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran air dan tanah di sekitarnya.
d) Pencemaran Tanah
35 larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. e) Gangguan Estetika
Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya.
f) Kemacetan Lalu lintas
Lokasi penempatan sarana / prasarana pengumpulan sampah yang biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar, pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas.
g) Gangguan Kebisingan
Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat / truk timbul dari mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan lain-lain yang dapat mengganggu daerah-daerah sensitif di sekitarnya. Di instalasi pengolahan sampah, kebisingan timbul akibat lalu lintas kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan.
h) Dampak Sosial
36 pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga sangat penting mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya.
E. Analisis SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunities, Threats).
Metode analisis diperlukan guna mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan dan masalah yang timbul dalam pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat dan mendapatkan langkah atau strategi pengelolaan sampah pada perumahan menengah di Kota Bandarlampung. Metode analisis yang akan digunakan adalah metode analisis SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunities, Threats).
Analisis SWOT merupakan cara atau metode yang akan memberikan gambaran secara keseluruhan tentang diagnostik internal dan eksternal dari suatu institusi/lembaga atau perusahaan, agar dapat diantisipasi secara dini terhadap kendala-kendala baik internal maupun eksternal yang sedang dihadapi.
Faktor-faktor yang akan dianalisis yang merupakan analisis diagnostik internal meliputi faktor kekuatan (Strenghts) dan kelemahan (Weakness) sedangkan faktor peluang (Opportunities) dan tantangan (Threats) merupakan analisis diagnostik eksternal.
Perkembangan dan kekuatan eksternal menggambarkan berbagai ancaman dan peluang bagi kelangsungan dan keberhasilan lembaga pengelola sampah. Analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dimaksudkan untuk mengidentifikasi berbagai kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang yang ada dan yang sedang dihadapi lembaga pengelola sektor persampahan.
37 sesuai dengan target yang harus dicapai untuk meningkatkan pengembangan pengelola.
Menurut Bergeron (2016) menganalisa situasi melalui analisis SWOT merupakan pendekatan yang relevan untuk menilai praktik pengelolaan sampah secara kualitatif dan usaha untuk memperbaikinya. Berikut adalah beberapa kutipan yang berkaitan penggunaan analisis SWOT untuk menentukan strategi yang akan diterapkan berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ditemukan.
Penggunaan teknik analisis SWOT (kekuatan & kelemahan dan peluang & ancaman) untuk pemilihan teknologi pengolahan dan pembuangan sampah kota akan membantu mengurangi ketidakpastian dan meminimalkan risiko bisnis /proyek (Ghosh; 2015)
Menurut Yuan (2013) dalam jurnalnya yang berjudul “A SWOT analysis of successful construction waste management “ prinsip dasar merancang strategi pengelolaan limbah rumah tangga adalah memaksimalkan kekuatan dan peluang, mengubah kelemahan menjadi kekuatan, dan meminimalkan ancaman. Strategi yang diterapkan ini masuk dalam Strategi WO (weakness oportunitie) atau masuk dalam Kuadran III.
SWOT meliputi input,process,dan output dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Input merupakan strategi organisasi saat ini, beserta faktor internal (strength, weakness) faktor eksternal (opportunity, threat) yang mempengaruhinya.
2. Process merupakan beberapa langkah analisis SWOT
38 Operasional Analisis SWOT
Operasional analisis SWOT dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Operasional sebuah analisis SWOT diawali dengan mengidentifikasi faktor internal yaitu, strength dan weakness serta faktor eksternal yaitu opportunity dan threats suatu organisasi.
2. Melakukan pembobotan dan ranking dari beberapa variabel yang mempengaruhi, kemudian merubahnya kedalam bentuk matrik sehingga bisa menentukan posisi suatu organisasi atau organisasi tersebut berada di kuadran mana.
3. Membuat kesimpulan dan pilihan yang tepat yang sesuai dengan capabilities dan environment. Agar suatu organisasi atau organisasi tersebut mampu bersaing dengan kompetitior yang lainnya.
4. Pengambilan keputusan strategi yang akan diambil oleh suatu organisasi Analisis SWOT membantu untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari organisasi, sebelum menetapkan tujuan dan tindakan yang logis atas analisis tersebut (Fatimah, 2016)
Identifikasi SWOT
39 Kondisi internal menggambarkan kekuatan (Strenghts) dan kelemahan (Weakness) dari Sistem Pengelolaan Sampah di perumahan kelas menengah keatas, baik dari aspek teknis seperti, sarana dan prasarana, aspek biaya/keuangan seperti bidang pemasaran dan keuangan, maupun aspek administrasi / organisasi / kelembagaan seperti sumber daya manusia ( SDM ), hukum serta aspek peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sektor persampahan.
Kondisi eksternal diluar pengelolaan sektor persampahan yaitu faktor peluang (Opportunities) dan tantangan (Threats ) yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi operasional pengelola dan pada akhirnya akan ikut menentukan keberhasilan pengelola dalam mencapai tujuan yang direncanakan.
Internal Factors Analysis Summary (IFAS) adalah suatu metode analisis yang menyajikan analisis yang sistematis yang diperuntukkan bagi analisis kondisi lingkungan internal untuk menentukan faktor-faktor keunggulan strategi yang dimiliki oleh perusahaan. Analisis strategi internal ini merupakan ringkasan atau rumusan faktor-faktor strategis internal dalam kerangka kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness).
40 Menurut David (2002) dalam Revmon (2011) terdapat empat strategi yang didapat dari matrik SWOT, yaitu sebagai berikut:
1. Startegi SO (strategi kekuatan-peluang ) menggunakan kekuatan internal organisasi untuk memanfaatkan peluang eksternal.
2. Strategi WO (strategi kelemahan-peluang) bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal organisasi dengan memanfaatkan peluang eksternal.
3. Strategi ST (strategi kekuatan-ancaman) menggunakan kekuatan internal organisasi untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. 4. Strategi WT (strategi kelemahan-ancaman) merupakan strategi defensif yang
diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal organisasi dan menghindari ancaman dari lingkungan eksternal.
Manfaat Analisis SWOT
Berikut merupakan penjabaran beberapa manfaat menggunakan metode analisis SWOT (Nur’aini, 2016) :
1. Analisi SWOT dapat membantu melihat suatu persoalan dari empat sisi sekaligus yang menjadi dasar sebuah analisis persoalan, yaitu kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman.
2. Analisis SWOT mampu memberikan hasil berupa analisis yang cukup tajam sehingga mampu memberikan arahan ataupun rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan sekaligus menambah keuntungan berdasarkan sisi peluang yang ada, sambil mengurangi kekurangan dan juga menghindari ancaman.
41 analisis ini kita dapat menemukan sisi-sisi yang terkadang terlupakan atau tidak terlihat selama ini.
4. Analisis SWOT daapat menjadi instrumen yang cukup ampuh dalam melakukan analisis strategi, sehingga dapat menemukan langkah yang tepat dan terbaik sesuai dengan situasi pada saat itu.
5. Analisis SWOT dapat digunakan untuk membantu organisasi meminimalisasi kelemahan yang ada serta menekan munculnya dampak ancaman yang mungkin akan timbul.
F. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun hasil-hasil penelitian yang dijadikan perbandingan tidak terlepas dari topik penelitian yaitu mengenai sistem pengelolaan sampah. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian terdahulu sebagai tolak ukur dan acuan untuk menyelesaikannya.
Penelitian terdahulu ini memudahkan penulis dalam menentukan langkah-langkah yang sistematis untuk penyusunan penelitian dari segi teori maupun konsep. Berikut ini adalah beberapa hasil dari penelitian terdahulu. Peneliti menganggap bahwa penjelasan dari hasil penelitian terdahulu memiliki keterkaitan atau relevansi dengan penelitian yang sedang di teliti oleh peneliti. Sihombing, 2015
42 efektivitas pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.
Penelitian dilaksanakan dengan metode survey dan wawancara dengan melibatkan perangkat pengelolaan sampah yang terdiri dari Lurah Kelurahan Binjai, Mandor Petugas Kebersihan, Petugas Kebersihan, Kepala Lingkungan, Pengelola Bank Sampah dan Masyarakat.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa program pengelolaan sampah rumah tangga yang dilaksanakan di Kelurahan Binjai terbukti belum efektif dikarenakan kurangnya peran serta masyarakat dalam ikut melaksanakan program kebersihan di Kelurahan Binjai.
Saran yang diberikan adalah upaya sosialisasi kepada masyarakat meliputi kampanye massal melalui penyebaran poster, iklan media cetak, kampanye di sekolah agar jumlah masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam mengelola sampah rumah tangganya semakin meningkat dan masyarakat memahami cara memperlakukan sampah dengan baik dan benar.
Novany dkk, 2014.
43 Hasil penelitian menunjukan bahwa kebersihan lingkungan permukiman tergantung pada keberadaan kondisi infrastruktur dan status sosial ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan persampahan yang berbeda sesuai karakteristik lingkungan permukiman.
Di tiap lokasi permukiman memiliki fasilitas/sarana persampahan yang sangat terbatas khususnya dilingkungan permukiman perbukitan yang kondisi lingkungannya sulit untuk dilalui alat pengumpul sampah. Saran yang diberikan adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan di masing-masing permukiman.
Ulfaridha, 2017
Ulfaridha (2017), melakukan penelitian tentang “Implementasi Program 3R (Reduce, Reuse & Recycle) Melalui Bank Sampah Dalam Upaya Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Kota Bandar Lampung”. Penelitian ini fokus pada rendahnya partisipasi masyarakat menjadi nasabah Bank Sampah di Kota Bandarlampung. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey dan wawancara dengan informan yang dianggap berhubungan dengan permasalahan yang ditemukan.
III. METODE PENELITIAN
A. Metodologi Penelitian
Desain penelitian ini disajikan pada diagram alir seperti Gambar 3 berikut ini:
Identifikasi dan pengelolaan persampahan rumah tangga pada
perumahan kelas menengah keatas di Kota Bandar Lampung (Studi Kasus Kecamatan Sukabumi)
Data Primer 1. Karakteristik Warga
Perumahan
2. Tingkat Pengetahuan Warga 3. Peran Serta warga
4. Peran Serta Pemerintah 5. Kondisi Sarana Persampahan
Data Skunder 1. Profil Kecamatan 2. Profil Kelurahan 3. Undang-Undang 4. Peraturan Daerah
Pengolahan Data
Kesimpulan dan Saran
[image:58.595.141.502.270.744.2]Menentukan Strategi Pengelolaan Sampah di Perumahan Menengah Keatas Dengan Analisis SWOT
45 Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dan menggambarkan keadaan pengelolaan sampah pemukiman menengah keatas dan menganalisa kondisi permasalahan yang ada menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Treath) guna dicari solusi pemecahan masalahnya.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian
Lokasi penelitian ini pada perumahan kelas menengah keatas di Kecamataan Sukabumi Kota Bandar Lampung. Kecamatan Sukabumi merupakan kecamatan dengan jumlah perumahan terbanyak yaitu 40 perumahan (BPS, 2016).
Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini, adalah pada bulan September sampai dengan bulan Desember 2017
C. Bahan dan Alat Penelitian
46 D. Pengumpulan Data
Data Primer
Data primer adalah data yang langsung diambil di lapangan, seperti karakteristik warga perumahan, tingkat pengetahuan warga, peran serta masyarakat, peran serta pemerintah dan sarana prasarana persampahan.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diproleh secara tidak langsung, seperti Profil Kecamatan, Profil Kelurahan, Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data dengan menyebarkan kuestioner kepada warga perumahan dan melakukan wawancara dengan aparat pemerintahan serta pihak terkait.
E. Objek Penelitian, Populasi Dan Sampel Penelitian
1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah perumahan yang berada di wilayah Kecamatan Sukabumi Kota Bandar Lampung sebanyak 40 perumahan yang tersebar di 5 kelurahan dari 7 kelurahan yang terdapat di Kecamatan Sukabumi. Perumahan-perumahan tersebut berdasarkan hasil survey adalah sebagai berikut :
1. 2. 3. 4.
Kelurahan Sukabumi Kelurahan Sukabumi Indah Kelurahan Campang Raya Kelurahan Nusantara Permai
: : : :
47 5.
6. 7.
Kelurahan Campang Jaya Kelurahan Way Gubak Kelurahan Way Laga
: : :
10 Perumahan 0 Perumahan 0 Perumahan Populasi
Populasi penelitian ini adalah perumahan kelas menengah keatas. Berdasarkan SNI 3242 : 2008 Tentang Pengelolaan Sampah di Permukiman, dijelaskan bahwa kriteria perumahan menengah keatas atau perumahan sedang/menengah keatas setara dengan type rumah berukuran 45m2 keatas.
Berdasarkan survey lokasi dan hasil wawancara dengan Lurah Sukabumi dan Sukabumi Indah, serta juga dikuatkan oleh Ketua RT dan Ketua Lingkungan, didapat informasi bahwa Perumahan Villa Laposte dan Villa Tirtayasa adalah perumahan yang memiliki type rumah kelas menengah keatas dengan rata-rata luas bangunan 45m2 keatas. Jadi populasi pada penelitian ini adalah jumlah rumah atau kepala keluarga di Perumahan Villa Laposte dan Villa Tirtayasa indah dengan rincian sebagai berikut:
Populasi rumah di Villa Laposte : 58 rumah Populasi rumah di Villa Tirtayasa : 493 rumah
2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah sebagian perumahan atau kepala keluarga yang terdapat di Perumahan Villa Laposte dan Villa Tirtayasa.
Menurut Notoatmodjo, (2010:92), penentuan jumlah sampel rumah menggunakan persamaan sebagai berikut :
N
1 + N (d)
248 Keterangan
n : sampel
N : jumlah populasi
d : tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan 90% (0,1)
Jumlah sampel rumah di Perumahan Villa Laposte 58
1 + 58 (0,1)2
Jumlah sampel rumah di Perumahan Villa Tirtayasa 493
1 + 493 (0,1)2
Total sampel adalah = 37 + 83 = 120 rumah
3. Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sistematik random sampling, yaitu dengan membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan. Hasilnya adalah interval sampel.
Sampel diambil berdasarkan urutan nomor anggota populasi antara 1 sampai n. Untuk pilihan anggota pertama ditentukan secara random, yaitu jatuh pada nomor 7. Maka pilihan selanjutnya secara teratur dijatuhkan pada nomor-nomor dengan interval tertentu.
Villa Laposte
58
Interval = = 1,6 dibulatkan 2 37
= 37 rumah