• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
54
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN KELOR Moringa oleifera (Lam, 1785) UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS NON SPESIFIK PADA BENIH

IKAN NILA Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila (Chester, 1901)

(Skripsi)

Oleh

NURLIA SUBRYANA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN KELOR Moringa oleifera (Lam, 1785) UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS NON SPESIFIK BENIH IKAN NILA

Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila (Chester, 1901)

Oleh

NURLIA SUBRYANA

Pertahanan non-spesifik adalah pertahanan utama pada benih ikan. Salah satu bahan alami atau tanaman obat sebagai sumber imunostimulan adalah tanaman kelor. Daun kelor mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid dan saponin sebagai agen imunostimulan. Imunostimulan adalah senyawa biologis dan sintetis atau bahan lain yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun kelor dalam meningkatkan imunitas non-spesifik pada benih ikan nila (Oreochromis niloticus) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Dalam pemberian ekstrak daun kelor diberikan injeksi intramuskular 0,1 mL/ikan dengan konsentrasi 50 ppm, 75 ppm dan 100 ppm. Parameter yang diuji adalah leukosit, diferensial leukosit, eritrosit, aktivitas fagositosis dan indeks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kelor dengan cara disuntikkan ke benih ikan nila dapat meningkatkan kekebalan non-spesifik, yaitu total leukosit, total eritrosit, leukosit diferensial, aktivitas dan indeks fagositosis. Ekstrak daun kelor juga dapat mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri A.hydrophila.

(3)

ABSTRACT

THE APLICATION OF MORINGA LEAF EXTRACT Moringa oleifera (Lam, 1785) TO INCREASE NON-SPECIFIC IMMUNITY OF TILAPIA Oreochromis

niloticus (Linnaeus, 1758) INFECTED BY BACTERIA Aeromonas hydrophila (Chester, 1901)

By

NURLIA SUBRYANA

Non-specific defenses are the main defenses in fish seed. One of the natural ingredients or medicinal plants as a source of immunostimulants is Moringa oleifera. Moringa leaves contain of flavonoids, alkaloids, terpenoids and saponins as immunostimulant agents. Immunostimulants are biological and synthetic compounds or other ingredients that can enhance the immune system. The purpose of this study was to determine the effect of Moringa oleifera leaf extract in increasing non-specific immunity in tilapia (Oreochromis niloticus) seeds infected by Aeromonas hydrophila bacteria. In giving Moringa leaf’s extract intramuscular injection is given of 0.1 mL/fish with concentrations of 50 ppm, 75 ppm and 100 ppm. The parameters tested were leukocytes, differential leukocytes, erythrocytes, phagocytic activity and index. The results showed that the administration of Moringa leaf’s extract injected into tilapia seed can increase non-specific immunity, that are total leukocytes, total erythrocytes, differential leukocytes, activity and phagocytosis index. Moringa leaf’s extract can also prevent infections caused by A.hydrophila bacteria.

(4)

PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN KELOR Moringa oleifera (Lam, 1785) UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS NON SPESIFIK PADA BENIH

IKAN NILA Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila (Chester, 1901)

Oleh

NURLIA SUBRYANA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PERIKANAN

Pada

Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

Judul Usul Penelitian : PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN KELOR Moringa oleifera (Lam, 1785) UNTUK

MENINGKATKAN IMUNITAS NON SPESIFIK PADA BENIH IKAN NILA Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila (Chester, 1901)

Nama Mahasiswa : Nurlia Subryana

NPM : 1514111030

Program Studi : Budidaya Perairan

Jurusan : Perikanan dan Kelautan

Fakultas : Pertanian

Menyetujui, 1. Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Wardiyanto, S.Pi., M.P Oktora Susanti, S.Pi., M.Si

NIP. 196907052001121001 NIP. 198810012019032014

2. Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan

(6)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Wardiyanto, S.Pi., M.P. ____________

Sekretaris : Oktora Susanti, S.Pi., M.Si. . ____________

Penguji

Bukan Pembimbing : Esti Harpeni, S.T.,M.App.Sc. ____________

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. NIP. 196110201986031002

(7)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Karya tulis, skripsi/laporan akhir ini adalah asli dan belum pernah diajukan

untuk mendapatkan gelar akademik (Sarjana/Ahli Madya), baik di Universitas

Lampung maupun di perguruan tinggi lain.

2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri tanpa

bantuan pihak lain, kecuali arahan dari Tim Pembimbing.

3. Dalam karya tulis ini, tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis

atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas

dicantumkan sebagai acuan dalamnaskah dengan naskah yang disebutkan

nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila kemudian hari

terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya

bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah

diperoleh karena karya tulis ini, serta sanksi lainnya yang sesuai dengan

norma yang berlaku di Perguruan Tinggi.

Bandar Lampung, Februari 2020 Yang Membuat Pernyataan,

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Metro, 29 Juli 1997 sebagai anak

keempat dari lima bersaudara pasangan Bapak Subri

Haryanto dan Ibu Rismawati. Penulis menempuh pendidikan

formal dari Sekolah Dasar di SDN 5 Metro pada tahun 2003

-2009, dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di SMPN

3 Metro pada tahun 2009-2012, dan pendidikan Sekolah Menengah Atas di

SMAN 4 Metro pada tahun 2012-2015. Penulis kemudian melanjutkan

pendidikan kejenjang Perguruan Tinggi di Jurusan Perikanan dan Kelautan

Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk

Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2015.

Selama menjadi mahasiswa penulis pernah aktif di organisasi Himpunan

Mahasiswa Perikanan dan Kelautan (HIMAPIK) sebagai anggota bidang 6

Kewirausahaan periode 2017 – 2018. Penulis telah melaksanakan kegiatan Praktik

Umum di Balai Riset Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Cijeruk,

Bogor, Jawa Barat. dengan Judul “Pembenihan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)”

pada bulan Juli – Agustus 2018. Penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di

Desa Bumi Nabung, Kecamatan Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara,

(9)

Penulis melakukan penelitian pada bulan September–Oktober 2019 di

Laboratorium Budidaya Perikanan, Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas

Pertanian, Universitas Lampungdengan judul “PENGGUNAAN EKSTRAK

(10)

PERSEMBAHAN

Dengan rasa syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan

dan kemudahan yang selalu mengiringi langkah untuk

semua hambanya. Kupersembahkan karya terbaik dalam

hidupku kepada ayah dan ibu tercinta, yang senantiasa

memberikan kasih sayang, do’a dukungan, motivasi,

pengorbanan dan selalu memberikan yang terbaik.

Kakak-kakakku dan seluruh keluarga besar yang telah

memberikan semangat, do’a dan dukungan selama masa

studi.

Teman-teman angkatan 2015 dan seluruh teman-temanku

yang telah memberikan bantuan dan kebersamaan dari

awal hingga akhir masa studi.

(11)

MOTTO HIDUP

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai

dengan kesanggupannya”.

(Qs. Al-Baqarah : 286)

Salah satu kunci kebahagiaan adalah menggunakan

uangmu untuk pengalaman bukan untuk keinginan

(B.J Habibie)

“Biar salah dulu lalu Belajar lagi. Biar gagal dulu

lalu mencoba lagi. Banyak hal besar lahir dari

percobaan sekian kali. Banyak orang besar hadir

setelah kegagalan berkali-kali”.

(Boy Chandra)

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by it

is ability to climb a tree, it will live it is whole life

believing that it is stupid”.

(Albert Einstein)

“Jangan terlalu lama bersedih. Jangan terlalu lama

menyalahkan diri sendiri tetapi jangan pernah

(12)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas kelimpahan rahmat dan

karunia-Nya yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan

sehingga skripsi dengan judul“PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN KELOR

Moringa oleifera (Lam, 1785) UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS NON SPESIFIK PADA BENIH IKAN NILA Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila (Chester, 1901) dapat terselesaikan.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Perikanan di Jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas Lampung. Selama

proses penyelesaian skripsi, penulis telah memperoleh banyak bantuan dari

berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih

yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas

Pertanian Universitas Lampung.

2. Ibu Ir. Siti Hudaidah, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan

Universitas Lampung.

3. Bapak Wardiyanto, S.Pi., M.P., selaku Pembimbing I, yang telah banyak

memberikan ilmu, arahan, masukan, dan waktunya untuk selalu membimbing

(13)

4. Ibu Oktora Susanti, S.Pi., M.Si., selaku Pembimbing II yang juga telah

memberikan banyak ilmu, arahan, masukan, dan waktunya untuk selalu

membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi.

5. Ibu Esti Harpeni, S. T., M.App.Sc., selaku Penguji yang telah meluangkan

waktu, membimbing, memberikan kritik, saran, dan masukan dalam

penyelesaian skripsi.

6. Ir. Suparmono, M.T.A., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah

banyak memberikan bimbingan mulai dari mahasiswa baru sampai bisa

menempuh gelar sarjana.

7. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Perikanan dan Kelautan yang penuh dedikasi

dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis, serta segala bantuan

yang diberikan selama penulis menyelesaikan studi.

8. Seluruh keluarga besar terutama kedua orangtuaku tercinta Papa Subri

Haryanto dan Mama Rismawati, kakak-kakakku (Taufan Juliari, Bherta

Anjaya, Rahma Kemala Dewi) dan adikku (Nayla Okta Sabrina) serta

saudara-saudaraku semuanya yang selalu memberikan semangat, dukungan, doa,

motivasi, kesabaran selama ini.

9. Ade, Sakinah, Dwi, Merlinda, Nadila, Vitri, Endayani, Eka, Puspa, Yuke,

Novi, klara, Bela, Riyanti, Triga, Asep, Agung H, Mba Dwi, Kak Finta dan

Kak Danang yang telah membantu penulis selama penelitian dan

menyelesaikan skripsi serta memberikan semangat, doa dan bantuan selama

ini.

10. Teman-teman seperjuangan angkatan 2015 yang telah memberikan semangat,

(14)

11. Nelak, Rindot, Elvira, Sasha, Dara, Anjani, Safitri, Tika, Pangestu, Ebi yang

telah memberikan semangat, doa dan bantuan selama ini.

12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah banyak

membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih atas bantuan dan

dukungannya.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan

kepada penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak sekali

kekurangan, akan tetapi penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang

membaca maupun bagi penulis untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu

yang telah diperoleh.

Bandar Lampung, Februari 2020 Penulis,

(15)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Penelitian... 3

C. Manfaat Penelitian... 3

D. Kerangka Pikir... 3

E. Hipotesis... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA... 7

A. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ... 7

1. Klasifikasi Ikan Nila ... 7

2. Morfologi Ikan Nila... 8

3. Habitat dan Kebiasaan Makan Ikan Nila ... 8

B. Hematologi Ikan ... 9

1. Sel Darah Merah (Eritrosit) ... 9

2. Sel Darah Putih (Leukosit) ... 10

C. Sistem Pertahanan Tubuh Ikan... 11

D. Imunostimulan... 12

E. Aeromonas hydrophila ... 12

F. Daun Kelor ... 14

G. Ekstraksi ... 15

III. METODE PENELITIAN ... 18

A. Waktu dan Tempat ... 18

B. Alat dan Bahan ... 18

1. Ekstraksi Bahan ... 18

2. Uji In Vitro ... 18

3. Uji Fitokimia ... 19

4. Uji In Vivo ... 19

5. Kualitas Air ... 19

C. Prosedur Penelitian... 19

1. Rancangan Penelitian ... 19

2. Parameter yang Diamati ... 20

(16)

1. Tahap Persiapan... 20

a. Pembuatan Ekstrak Daun Kelor... 20

b. Sterilisasi Alat dan Bahan... 21

2. Tahap Pelaksanaan ... 21

a. Uji In Vitro... 21

b. Uji Fitokimia... 22

c. Uji In Vivo... 23

3. Parameter Penelitian ... 24

a. Pengamatan Hematologi ... 24

b. Survival Rate (SR) ... 26

c. Relative Percent Survival (RPS)... 27

d. Gejala Klinis ... 27

e. Kualitas Air... 27

E. Analisis Data ... 28

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29

A. Hasil Tahap Pelaksanaan... 29

1. Ekstraksi Daun Kelor ... 29

2. Zona Hambat ... 29

3. Uji Fitokimia ... 31

B. Hasil Parameter Penelitian ... 32

1. Pengamatan Hematologi... 32

a. Total Eritrosit ... 32

b. Total Leukosit ... 34

c. Diferensial Leukosit... 36

2. Aktivitas dan Indeks Fagositosis ... 41

3. Survival Rate (SR) dan Relative Percent Survival (RPS)... 44

4. Gejala Klinis ... 46

5. Kualitas Air ... 48

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

A. Kesimpulan... 49

B. Saran... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Metode Uji Fitokimia... 22

2. Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Daun Kelor... 31

3. Hasil Gejala Klinis Ikan Uji Pasca Infeksi Bakteri A.hyrophila... 47

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Pemikiran Penelitian... 5

2. Ikan nila Oreochromis niloticus... 7

3. Daun Moringa oleifera... 14

4. Desain Penempatan Akuarium... 20

5. Alur Perlakuan ... 24

6. Diameter Uji Zona Hambat Ekstrak Daun Kelor ... 30

7. Nilai rata-rata sel darah putih (x104sel/mm3) benih ikan nila ... 34

8. Nilai rata-rata sel darah merah (x106 sel/mm3) benih ikan nila ... 33

9. Nilai rata-rata persentase limfosit (%) benih nila ... 36

10. Nilai rata-rata persentase neutrofil (%) benih nila ... 38

11. Nilai rata-rata persentase monosit (%) benih nila ... 40

12. Nilai rata-rata aktivitas fagositosis (%) benih nila ... 42

13. Nilai rata-rata indeks fagositosis (%) benih nila ... 42

14. Nilai rata-rata kelangsungan hidup (%) benih ikan nila... 44

15. Nilai rata-rata Relative Percent Survival (%) benih ikan nila... 45

(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas unggulan di

Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mendukung

ketahanan pangan nasional maupun ketahanan ekonomi serta peningkatan

kesejahteraan masyarakat. Dalam melakukan usaha budidaya masalah yang sering

terjadi biasanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Serangan dari penyakit ini

dapat mengakibatkan penurunan mutu dan kualitas ikan. Penyakit pada ikan nila

ini dapat juga disebabkan oleh bakteri yang bersifat patogen seperti bakteri

Aeromonas hydrophila. Bakteri ini banyak terdapat di kolam air tempat

pemeliharaan ikan. Penyakit ini dapat menular melalui air dan kontak badan

ditandai dengan peradangan di area sekitar insang, mata menonjol, perut

kembung, ginjal membengkak dan usus berisi mucus berwarna kekuningan

(Cipriano & Bullock, 2001).

Untuk mempertahankan diri terhadap serangan berbagai patogen tersebut ikan nila

memiliki berbagai respon pertahanan tubuh yang tersusun dalam suatu sistem

pertahanan yang komplek dan disebut sebagai sistem imun (Almendras & Catap,

2002). Berdasarkan sifat responnya dalam menghadapi agen patogen penyerang,

sistem imun terbagi atas sistem pertahanan alamiah (innate immnity) yang bersifat

(20)

2 (Almendras & Catap, 2002). Dalam berbagai upaya dapat dikembangkan dengan

meningkatkan sistem kekebalan tubuh ikan non spesifik melalui imunostimulan.

Pertahanan non spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh yang sangat penting

pada sistem kekebalan tubuh ikan. Pada ikan, respon imun baru terbentuk secara

sempurna setelah ikan dewasa. Ikan-ikan muda tidak mempunyai respon imun

spesifik yang sempurna dan bergantung pada respon selular non spesifik untuk

bertahan dari serangan infeksi mikroba. Pertahanan non spesifik merupakan

pertahanan utama pada ikan stadia benih (Vadstein, 1997). Sistem imun non

spesifik ikan antara lain terdiri dari penghalang fisik terhadap infeksi, pertahanan

seluler dan sel-sel fagositik, leukosit, granulosit dan agranulosit.

Upaya pencegahan penyakit dalam usaha budidaya salah satunya dapat dilakukan

dengan menggunakan bahan-bahan alami atau dengan tanaman obat sebagai

sumber imunostimulan. Imunostimulan adalah bahan alami berupa zat kimia atau

obat-obatan yang dapat meningkatkan respon imun non spesifik atau bawaan

(innate immune) yang berinteraksi secara langsung dengan sel dari sistem yang

mengaktifkan respon imun bawaan tersebut (Wayuningsih, 2001). Mekanisme

kerja imunostimulan menurut Raa et al. (1992) yaitu apabila imunostimulan

tersebut masuk ke dalam tubuh ikan, akan merangsang makrofag untuk

memproduksi interleukin yang akan membuat sel limfosit membelah menjadi

limfosit-T dan limfosit-B serta membuat limfosit B menjadi lebih aktif dalam

memproduksi antibodi. Beberapa keuntungan menggunakan bahan alami atau

tanaman obat antara lain relatif lebih aman, mudah diperoleh, murah, tidak

menimbulkan resistensi dan tidak berbahaya terhadap lingkungan di sekitarnya.

(21)

3 yaitu tanaman daun kelor (Moringa oleifera). Tumbuhan daun kelor ini

mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, fenol dan saponin (Arora et al., 2013).

Flavonoid memiliki peran sebagai antioksidan dan mampu menghentikan reaksi

berantai radikal bebas, sedangkan saponin berfungsi sebagai agen imunostimulan

(Bamishaiye et al., 2011). Hasil penelitian lain menunjukkan ekstrak daun kelor

memiliki peran sebagai imunostimulan karena dapat meningkatkan aktivitas

makrofag (Biswas et al., 2012).

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kelor

(Moringa oleifera) dalam meningkatkan imunitas non spesifik pada benih ikan

nila (Oreochromis niloticus) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pengaruh mengenai ekstrak daun kelor

(Moringa oleifera) untuk meningkatkan imunitas non spesifik pada benih ikan

nila (Oreochromis niloticus) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

D. Kerangka Pikir

Ikan nila memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan permintaan pasar yang terus

meningkat sehingga mengakibatkan tingginya nilai produksi budidaya ikan nila.

Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan nila, sering terjangkit adanya

penyakit yang dapat mengakibatkan kematian massal pada ikan yang

dibudidayakan (gagal panen) sehingga dapat merugikan pembudidaya.

Penyakit ikan disebabkan adanya interaksi antara lingkungan, organisme patogen

(22)

4 Penyakit ikan juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor fisik dan biologis (Feliatra

et al., 2004). Penyakit yang diakibatkan oleh faktor fisik yaitu tidak menular

(non-infeksi) misalnya penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan nutrisi, genetik, dan

faktor lingkungan, sedangkan penyakit yang ditimbulkan oleh penyebab biologis

kebanyakan menular (infeksi) seperti penyakit akibat infeksi parasit, bakteri, virus

dan jamur. Pada umumnya penyakit yang sering ditimbulkan pada ikan nila yang

bersifat menular salah satunya yaitu penyakit yang disebabkan oleh bakteri

Aeromonas hydrophilla. Bakteri ini umumnya hidup di air tawar dan biasanya

menyerang pada saat kondisi lingkungan yang buruk. Menurut Saragih et al.

(2015) serangan bakteri ini tidak memperlihatkan gejala penyakit meskipun telah

dijumpai pada tubuh ikan. Serangan bakteri ini baru akan terlihat apabila sistem

imun ikan menurun akibat ikan stres yang disebabkan oleh penurunan kualitas air.

Bakteri ini ditemukan pada ikan nila yang menunjukkan gejala klinis antara lain

terdapat luka pada kulit.

Untuk menghindari kegagalan dalam usaha budidaya dan meluasnya serangan

penyakit maka sangat diperlukan langkah-langkah penanganan dengan

pencegahan melalui bahan imunostimulan sebagai tanaman obat atau bahan-bahan

alami yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh non spesifik pada ikan

(23)
[image:23.595.126.506.76.711.2]

5 Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Budidaya ikan nila

Produksi ikan nila menurun

Upaya pencegahan penyakit

Pemberian ekstrak daun kelor

Respon imun ikan nila diamati melalui parameter hematologi, AF dan IF Ikan sering mengalami setres akibat terserangnya penyakit seperti Aeromonas

hydrophila

Pencarian bahan imunostimulan yang mengandung senyawa bioaktif

Lingkungan Patogen Inang

Dilakukan uji in vivo dengan menggunakan ekstrak daun kelor menggunakan metode injeksi yang merupakan salah satu cara untuk

meningkatkan imunitas non spesifik

(24)

6 E. Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

H0: Tidak adanya pengaruh mengenai pemberian ekstrak daun kelor (Moringa

oleifera) untuk meningkatkan imunitas non spesifik pada benih ikan nila

(Oreochromis niloticus) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

H1: adanya pengaruh mengenai pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera)

untuk meningkatkan imunitas non spesifik pada benih ikan nila (Oreochromis

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) 1. Klasifikasi Ikan Nila

Klasifikasi ikan nila menurut Trewavas (1991) adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Osteichthyes

Sub Class : Acanthoptherigii

Ordo : Percomorphi

Sub Order : Percoidea

Family : Cichlidae

Genus : Oreochromis

[image:25.595.195.428.567.715.2]

Species : Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758).

(26)

8 2. Morfologi Ikan Nila

Morfologi ikan nila memiliki tubuh ditutupi sisik berukuran besar dan kasar

dengan linea litelaris yang terputus menjadi dua bagian. Bagian pertama terletak

dari atas sirip dada hingga hingga tubuh, dan bagian kedua terletak dari tubuh

hingga ekor. Jenis sisik yang dimiliki spesies tersebut adalah ctenoid (Cholik,

2005). Sirip punggung memiliki 16–18 jari-jari keras dan 11–15 jari-jari lemah.

Pada sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 9–11 jari-jari lemah. Jumlah tulang

belakang ikan nila berkisar antara 30–32 buah dan sirip ekor berbentuk agak

membulat. Bagian luar sirip punggung berwarna abu atau hitam. Rahang dari ikan

jantan dewasa agak membesar (panjang dari rahang bawah berkisar antara 29–

37% dari panjang kepala). Sedangkan pada betina berbentuk agak meruncing

(Gustiano & Arifin, 2006).

3. Habitat dan Kebiasaan Makan Ikan Nila

Ikan nila hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, waduk dan rawa, tetapi

karena toleransinya yang luas terhadap salinitas sehingga ikan ini dapat pula hidup

dan berkembang biak di perairan payau dan air laut. Ikan nila memiliki respon

yang luas terhadap pakan dan memiliki sifat omnivora sehingga bisa

mengkonsumsi makanan berupa hewan dan tumbuhan (Kordi, 2004).

Ikan nila mempunyai kemampuan tumbuh secara normal pada kisaran suhu

14-38°C dengan suhu optimum bagi pertumbuhan dan perkembangannya yaitu

25-30°C. Kandungan oksigen yang baik bagi pertumbuhan ikan nila minimal 4mg/L,

kandungan karbondioksida kurang dari 5mg/L dengan derajat keasaman (pH)

berkisar 5-9 (Amri, 2003). Menurut Santoso (1996), pH optimum bagi

(27)

9 lingkungan hidupnya. Bila dibudidayakan di jaring terapung (perairan dalam)

warna ikan lebih hitam atau gelap dibandingkan dengan ikan yang dibudidayakan

di kolam (perairan dangkal).

B. Hematologi Ikan

Untuk mengetahui sistem pertahanan non spesifik pada ikan yang perlu diamati

adalah kondisi hematologi dari ikan tersebut. Menurut Scaperclaus (1992),

hematologi merupakan pengamatan terhadap kondisi sel-sel darah di dalam darah.

Dalam darah ikan tersusun sel-sel darah yang tersuspensi dalam plasma dan

diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi tertutup. Sel darah ikan

tersusun dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) serta cairan

darah yang mengandung nutrien dan sisa metabolisme. Hematologi ini biasanya

dilakukan dengan mengamati preparat usap serta pengamatan dengan cara

biokimia (Amlacher, 1991).

1. Sel Darah Merah (Eritrosit)

Sel darah merah ikan pada umumnya mempunyai inti dengan bentuk oval hingga

bundar, inti sel kecil dengan sitoplasma, berwarna merah kekuningan, dan

berukuran 10-13 µm dengan diameter inti4-5 µm. Jumlah sel darah merah pada

ikan nila normal, yaitu berkisar 1,43-3,18 x 106sel/mm3(Hartika et al., 2014). Sel

darah merah berfungsi sebagai transporter oksigen. Rendahnya jumlah eritrosit

menandakan ikan menderita anemia dan kerusakan organ ginjal, sedangkan

tingginya jumlah eritrosit menandakan ikan dalam keadaan stres. Faktor-faktor

yang mempengaruhi jumlah sel darah merah adalah spesies, perbedaan induk

(28)

10 2. Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel darah putih pada ikan merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh yang

bersifat nonspesik. Sel-sel ini berfungsi untuk memangsa patogen yang masuk

kedalam tubuh. Pada jumlah sel darah putih lebih sedikit dibandingkan dengan

jumlah sel darah merah. Secara normal pada individu yang sehat jumlah sel darah

putih di dalam darah adalah 1% dari total jumlah darah. Sel darah putih tidak

berwarna, jumlahnya setiap mm3pada ikan nila normal berkisar 32.000–146.000

sel/mm3(Hartika et al., 2014). Peningkatan sel darah putih dapat disebabkan oleh

penyakit, infeksi, parasit, stres akibat penanganan dan pengaruh lingkungan

(Guyton & Hall, 2014).

Leukosit terdiri dari dua golongan, yaitu granular dan agranular. Leukosit granular

dibedakan menjadi neutrofil, basofil dan eosinofil, sedangkan leukosit agranular

dibedakan menjadi monosit dan limfosit (Chinabut et al., 1991). Johnny et al.

(2003), leukosit yang biasa ditemukan pada ikan adalah limfosit, monosit,

neutrofil, dan trombosit. Menurut Bastiawan et al., (2001) monosit berfungsi

sebagai fagosit terhadap benda-benda asing yang berperan sebagai agen penyakit.

Limfosit berfungsi sebagai penghasil antibodi untuk kekebalan tubuh dari

gangguan penyakit dan neutrofil berperan dalam respon kekebalan terhadap

serangan organisme patogen dan mempunyai sifat fagositik. Sel fagosit ini

berfungsi untuk melakukan fagositosis terhadap benda asing yang masuk ke

(29)

11 C. Sistem Pertahanan Tubuh Ikan

Sistem pertahanan pada ikan diperlukan untuk melindungi tubuh terhadap

serangan patogen seperti virus, bakteri, cendawan dan parasit lainnya (Irianto,

2005). Sistem pertahanan tersebut terdiri dari sistem pertahanan spesifik dan non

spesifik (Supriyadi 2000).

1. Sistem Pertahanan Spesifik

Sistem pertahanan spesifik terdiri atas dua faktor yaitu antibodi (humoral

immunity) dan selluler (cell mediated immunity). Sistem pertahanan spesifik

berfungsi melawan penyakit yang memerlukan rangsangan terlebih dahulu (Ellis,

1988). Sifat yang membedakan sistem pertahan spesifik dengan sistem pertahanan

lainnya adalah kespesifikan dan kemampuan untuk mengingat suatu penyebab

infeksi tertentu, sehingga dapat memberikan resistensi yang serupa pada individu

yang telah sembuh dari infeksi (Nabib dan Pasaribu, 1989).

2. Sistem Pertahanan Non Spesifik

Sistem pertahan non spesifik menggunakan mekanisme efektor seluler berupa

aktivitas fagositosis yang melibatkan sel-sel organ dan sel-sel motil. Sel-sel organ

meliputi jaringan penghubung (fibroblast), jaringan lymphoid dari saluran

pencernaan, sel reticuloendothelial, sel dinding kapiler dan jaringan monosit

sedangkan sel motil terdiri dari makrofag, leukosit non granular (monosit dan

limfosit) dan leukosit granular (neutrofil, eosinofil, dan basofil) (Mulia, 2012).

Respon imun non spesifik merupakan imunitas bawaan (innate immunity) yang

memberikan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan berbagai organisme

(30)

12 non spesifik berfungsi untuk melawan segala jenis patogen yang menyerang pada

tubuh ikan. Salah satu upaya pencegahan infeksi bakteri ini adalah dengan cara

meningkatkan respon imun non spesifik makhluk hidup tersebut dengan

menggunakan imunostimulan (Johnny et al., 2005).

D. Imunostimulan

Imunostimulan adalah bahan alami berupa zat kimia atau obat-obatan yang dapat

meningkatkan respon imun non-spesifik atau bawaan (innate immune) yang

berinteraksi secara langsung dengan sel dari sistem yang mengaktifkan respon

imun bawaan tersebut (Wayuningsih, 2001). Fungsi imunostimulan dalam tubuh

adalah untuk mengaktivasi sel darah putih sehingga daya tahan tubuh terhadap

serangan patogen meningkat (Mudjiutami et al., 2007).

Mekanisme kerja imunostimulan menurut Raa et al. (1992) yaitu apabila

imunostimulan tersebut masuk ke dalam tubuh ikan, akan merangsang makrofag

untuk memproduksi interleukin yang akan membuat sel limfosit membelah

menjadi limfosit-T dan limfosit-B serta membuat limfosit B menjadi lebih aktif

dalam memproduksi antibodi. Cara penggunaan imunostimulan memiliki

pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh, yaitu dengan merangsang makrofag

untuk mencegah masuknya benda asing yang akan menyerang tubuh ikan

(Wahyuningsih, 2001).

E. Aeromonas hydrophila

Klasifikasi A. hydrophila menurut Holt et al. (1994) sebagai berikut :

Phylum : Protophyta

(31)

13 Ordo : Pseudanonadeles

Family : Vibrionaceae

Ganus : Aeromonas

Spesies : Aeromonas hydrophila

Ciri utama bakteri A. hydrophila adalah berbentuk batang, berdiameter 0,3-1,0 µm

dan panjang 1,0-3,5 µm bersifat gram negatif, fakultatif aerobik (dapat hidup

tanpa oksigen), tidak berspora, dan bersifat motil (bergerak aktif) karena memiliki

satu flagel (monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya (Ghufran

& Kordi, 2004). Bakteri ini dapat hidup di pH antara 5-5,9 dan suhu antara

15-30oC. Menurut Dianti, et al. (2013), menyatakan bahwa A. hydrophila merupakan

bakteri yang sering menyerang ikan air tawar. Serangan dari bakteri ini dapat

menyebabkan kematian pada ikan dalam waktu yang singkat.

Menurut Lubis, et al (2014), sampel ikan yang terserang bakteri A. hydrophila

memiliki gejala klinis berupa luka, warna tubuh pucat, geripis pada sirip-siripnya

dan bergerak lambat. Selain itu, ciri-ciri ikan yang terserang bakteri ini biasanya

warna tubuh gelap, mata rusak, bernafas diatas permukaan air, insang rusak

berwarna merah keputihan, sehingga kesulitan bernafas. Serangan bakteri ini pada

kulit menyebabkan kulit menjadi kesat, timbul pendarahan yang selanjutnya

diikuti dengan luka-luka borok, perut kembung serta terjadi pendarahan pada hati,

(32)
[image:32.595.192.432.111.296.2]

14 F. Daun Kelor

Gambar 3. Daun Moringa oleifera

Klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera) menurut Syamsu (1991) adalah

sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angeospermae

Klas : Dicotyledoneae

Ordo : Brassicales

Famili : Moringaceae

Genus : Moringa

Spesies : Moringa oleifera (Lam, 1785)

Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis

yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor

merupakantanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai

(33)

15 tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah dan tahan

terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan

(Mendieta at al., 2013). Daun kelor berbentuk bulat telur dengan tepi daun rata

dan ukurannya kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai (Tilong, 2012).

Daun kelor merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah banyak

diteliti kandungan gizi dan kegunaannya. Daun kelor sangat kaya akan nutrisi,

diantaranya kalsium, besi, protein, vitamin A, vitamin B dan vitamin C (Mishra et

al., 2014). Daun kelor juga dapat dijadikan antibakteri alami sebagai alternatif

pengganti bahan sintesis dalam mencegah infeksi bakteri. Daun kelor dikenal

mempunyai berbagai senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Daun kelor diketahui mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, dan tanin

yang berperan sebagai antibakteri (Busani et al., 2012).

G. Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan

menggunakan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi

yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Secara garis besar, proses

pemisahan secara ekstraksi terdiri dari tiga langkah dasar yaitu, penambahan

sejumlah massa pelarut untuk dikontakkan dengan sampel, biasanya melalui

proses difusi, zat terlarut akan terpisah dari sampel dan larut oleh pelarut

membentuk fase ekstrak dan pemisahan fase ekstrak dengan sampel (Wilson &

Walker, 2000).

Faktor-faktor yang mempengaruhi ekstraksi antara lain yaitu ukuran bahan baku,

(34)

16 yang kecil akan menghasilkam hasil yang rendah. Pemilihan pelarut dapat

mempengaruhi suhu ekstraksi dan waktu proses ekstraksi. Jika suhu tinggi, maka

akan menghasilkan sisa pelarut yang tinggi pula (Anam, 2010).

Pembagian metode ekstraksi menurut Dirjen POM (2000) yaitu :

a. Penyulingan dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang

mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih yang tinggi pada

tekanan udara normal.

b. Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Metode

ini dilakukan dengan cara merendam bahan-bahan tumbuhan yang telah

dihaluskan atau digiling dalam pelarut terpilih, kemudian disimpan untuk jangka

waktu tertentu.

c. Perkolasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang

selalu baru sampai prosesnya sempurna dan umumnya dilakukan pada suhu

ruangan. Prosedur metode ini yaitu bahan direndam dengan pelarut, kemudian

pelarut baru dialirkan secara terus menerus sampai warna pelarut tidak berwarna

atau tetap bening.

d. Soxhlet yaitu suatu metode atau proses pemisahan suatu komponen yang

terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang-ulang dengan

menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan

terisolasi.

Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas

yang menghasilkan sebuah larutan. Pada umumnya ekstraksi dilakukan dengan

menggunakan pelarut yang didasarkan pada kelarutan komponen terhadap

(35)

17 akan diekstrak berupa bahan kering yang telah dihancurkan, dan berbentuk bubuk

atau simplisia (Sembiring, 2007). Proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut

didasarkan pada sifat kepolarannya. Senyawa polar akan larut pada pelarut polar

(air, etanol, metanol, dan butanol), senyawa non-polar akan larut pada pelarut

non-polar (n-heksan, eter, kloroform) (Kasminah, 2016). Menurut Depkes (1986)

jenis pelarut yang aman digunakan adalah air, etanol, methanol, etanol-air atau

eter .

Dalam pemilihan pelarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses

ekstraksi. Menurut (Martunus & Helwani, 2004) pelarut yang baik untuk

digunakan dalam proses ekstraksi yaitu memiliki kemampuan tinggi dalam

melarutkan komponen zat terlarut di dalam campuran, memiliki kemampuan

tinggi untuk diambil kembali, pelarut tidak menyebabkan perubahan secara kimia

pada komponen bahan ekstraksi, tidak mudah bereaksi dengan zat yang akan

diekstraksi, tidak merusak alat secara korosi, tidak mudah terbakar, dan tidak

(36)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian iniakan dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober

tahun 2019 bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan Jurusan Perikanan dan

Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

B. Alat dan Bahan 1. Ekstraksi Bahan

Alat yang digunakan antara lain yaitu oven, blender, timbangan digital, tabung

erlenmayer, dan rotary evaporator. Sedangkan bahan yang akan digunakan yaitu

etanol 96%, akuades dan daun kelor yang diperoleh sekitar lampung.

2. Uji In Vitro

Alat yang digunakan antara lain yaitu hot plate, cawan petri, tabung reaksi,

autoklaf, inkubator, jarum ose, colony counter, spreader, bunsen,

spektrofotometer, dan jangka sorong. Sedangkan bahan yang akan digunakan

yaitu antibiotik chloramfenikol, media TSA (Trypticase Soy Agar), media TSB

(Trypticase Soy Broth), larutan etanol, ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dan

isolat murni bakteri A. hydrophila yang diperoleh dari Balai Karantina Ikan

(37)

19 3. Uji Fitokimia

Alat yang digunakan antara lain, yaitu corong, gelas ukur, kertas saring, pipet

tetes, tabung reaksi dan timbangan digital. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu

ekstrak daun kelor, akuades, asam asetat glacial, H2SO4, larutan FeCl310%,

Kloroform, Kl, HgCl2, serbuk Mg, dan HCl pekat.

4. Uji In Vivo

Alat yang digunakan antara lain yaitu akuarium 50x40x40 cm3, aerasi, alat bedah,

squit, tabung EDTA, kaca preparat, haemocytometer, sentrifuge, mikroskop, hand

counter, kassa, spuit. Sedangkan bahan yang akan digunakan yaitu methanol,

larutan EDTA, ekstrak daun kelor, akuades, benih ikan nila (Oreochromis

niloticus), larutan Turk’s, larutan Hayem, dan larutan Giemsa.

5. Kualitas Air

Alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air yaitu thermometer, pH meter

dan DO meter.

C. Prosedur Penelitian 1. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)

dengan empat perlakuan yang masing-masing mempunyai tiga ulangan. Perlakuan

yang digunakan adalah sebagaiberikut:

A : Benih Ikan nila tanpa pemberian ekstrak daun kelor + Uji tantang

A.hydrophila.

B : Benih Ikan nila dengan ekstrak daun kelor 50 ppm + Uji tantang

(38)

20 C : Benih Ikan nila dengan ekstrak daun kelor 75 ppm + Uji tantang

A.hydrophila.

D : Benih Ikan nila dengan ekstrak daun kelor 100 ppm + Uji tantang

A.hydrophila.

Penempatan setiap percobaan yang dilakukan secara acak. Desain penempatan

[image:38.595.181.448.275.423.2]

penelitian masing-masing perlakuan pada Gambar 4.

Gambar 4. Desain Penempatan Akuarium

2. Parameter yang Diamati

Parameter yang akan diamati pada penelitian ini yaitu Total Leukosit, Total

Eritrosit, Diferensial Leukosit, Aktivitas Fagositosis dan Indeks Fagositosis

Survival Rate (SR), Relative Percent Survival (RPS ), kualitas air dan gejala

klinis.

D. Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Persiapan

a. Pembuatan Ekstrak Daun Kelor

Daun kelor dieskstrak menggunakan metode maserasi. Sebanyak 620 gram daun

kelor yang sudah dikering haluskan hingga berbentuk bubuk, kemudian dilakukan

C3

D1

B2

B3

B1

C1

D2

D3

(39)

21 maserasi menggunakan larutan etanol 96%. Ekstrak hasil maserasi kemudian

disaring dan di evaporator menggunakan alat rotary evaporator pada suhu 50oC

dengan 163 putaran/menit hingga ekstrak yang dihasilkan berupa pasta sebanyak

24.3582 gram.

b. Sterilisasi Alat dan Bahan

Sterilisasi bertujuan untuk membebaskan alat dan bahan dari mikroorganisme

kontaminan. Sterilisasi wadah pemeliharaan dilakukan dengan menggunakan

alkohol 70% pada dinding bagian dalam, sedangkan untuk sterilisasi alat

dilakukan dengan pencucian menggunakan air bersih dan dibungkus dengan

kertas setelah itu dimasukkan ke dalam autoklaf dengan tekanan 1 atm pada suhu

121oC selama 15 sampai 20 menit.

2. Tahap Pelaksanaan a. Uji In Vitro

Pada uji in vitro tahap yang digunakan yaitu uji zona hambat. Uji zona hambat

dilakukan dengan menggunakan metode difusi. Sebanyak 20 μl isolat cair bakteri

A. hydrophila dengan kepadatan 107cfu/ml diteteskan pada media TSA lalu

diratakan dengan spreader. Kertas cakram dengan diameter 6 mm yang telah

diberikan ekstrak daun kelor pada konsentrasi 75, 125, 175 ppm kemudian

ditempelkan pada media TSA. Kontrol positif dilakukan dengan memberikan

kertas cakram yang diberikan antibiotik chloramfenikol, sedangkan kontrol negatif

dilakukan dengan memberikan kertas cakram yang diberikan pelarut etanol.

Setelah diinkubasi selama 48 jam, diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar

(40)

22 b. Uji Fitokimia

Uji fitokimia merupakan uji untuk menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek

racun atau efek yang bermanfaat yang ditunjukkan oleh efek kasar bila diuji

dengan sistem biologis (Wardana, 2016). Hasil analisis fitokimia dapat

memberikan petunjuk tentang keberadaan komponen senyawa kimia jenis

golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan triterpinoid pada

tumbuhan (Hidajati et al.,2016). Cara melakukan identifikasi senyawa kimia

kimia jenis golongan alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan triterpinoid yaitu,

[image:40.595.113.500.368.657.2]

sebagai berikut :

Tabel 1. Metode Uji Fitokimia

No Jenis Uji Perlakuan

1. Saponin 0,5 ml sampel + 5 ml aquades kemudian dikocok selama 30 detik

2. Steroid 0,5 ml sampel + 5 ml asam asetat glacial + 0,5 ml H2SO4

3. Terpenoid 0,5 ml sampel + 5 ml asam asetat glacial + 0,5 ml H2SO4

4. Tanin 1 ml sampel + 3 tetes larutan FeCl310%

5. Alkaloid

0,5 ml sampel + 5 tetes kloroform + 5 tetes pereaksi Mayer (1 gr Kl dilarutkan dalam 20 ml aquades, ditambahkan 0,271 gr HgCl2 hingga larut)

(41)

23 c. Uji In Vivo

1) Persiapan Wadah dan Ikan Uji

Persiapan wadah dimulai dari menyiapkan akuarium berukuran 50x40x40 cm3

sejumlah 12 buah dengan volume air 40 L, setelah itu akuarium disterilkan dengan

dibersihkan menggunakan air tawar yang bersih dan dikeringkan dibawah sinar

matahari, akuarium yang sudah kering dijemur diisi dengan air yang telah

diendapkan dan diberikan aerasi pada setiap akuarium yang digunakan sebagai

wadah uji. Benih ikan nila yang akan digunakan berukuran 8-10 cm.

Masing-masing akuarium diisi benih ikan nila dengan padat tebar 1 ekor/2 L jadi setiap

akuarium dimasukkan ikan uji dengan kepadatan 12 ekor (Warasto et al., 2013).

2) Persiapan Pakan

Jenis pakan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pakan berbentuk pelet.

Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari pada pagi hari pukul 08.00

WIB, siang hari pukul 13.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB.

3) Metode Pemberian Ekstrak Daun Kelor dan Uji tantang

Ikan diaklimatisasi selama 7 hari, kemudian ikan uji yang telah diaklimatisasi

diberikan ekstrak daun kelor melalui injeksi intramuscular sebanyak 0,1 mL/ikan

dengan konsentrasi 50 ppm, 75 ppm, dan 100 ppm. Pemberian ekstrak daun kelor

pada ikan uji dilakukan pada hari ke-2 setelah aklimatisasi. Ikan uji yang telah

diberi ekstrak daun kelor tersebut dipelihara dengan memberikan pakan pellet

sebanyak 3 kali sehari. Setelah ikan diberi ekstrak daun kelor, pada hari ke-15

ikan uji diuji tantang dengan bakteri A. hydrophilla secara intraperitoneal dengan

kepadatan 107CFU/mL sebanyak 0,1 ml/ekor (Wibowo, 2010). Pengambilan

(42)

24 aklimatisasi, setelah diberi ekstrak daun kelor pada hari ke-8, dan setelah uji

[image:42.595.129.505.149.313.2]

tantang pada hari ke-22.

Gambar 5. Alur Perlakuan

3. Parameter Penelitian a. Pengamatan Hematologi 1) Pengambilan Darah

Pengambilan darah dilakukan melalui vena caudalis. Spuit dan tabung mikrotube

dibilas dengan larutan EDTA 10% terlebih dahulu untuk mencegah pembekuan

darah. Darah disimpan dalam mikrotube ukuran 1,5 ml. Pengambilan dan

penyimpanan darah ke dalam tabung dilakukan secara perlahan-lahan untuk

mengurangi resiko kerusakan sel darah (Svobodova et al., 1991).

a) Total Leukosit

Perhitungan total leukosit dalam penelitian ini dilakukan yaitu, darah sampel

dihisap dengan pipet yang berisi bulir pengaduk sampai skala 0,5 kemudian

ditambahkan Larutan Turk‟s sampai skala 11. Setelah itu, diaduk dengan cara

menggoyangkan pipet membentuk angka delapan selama 3-5 menit hingga

homogen. Empat tetes pertama larutan darah dalam pipet tersebut dibuang, Aklimatisasi Pengambilan darah ke-1 Pemberian Ekstrak Daun Kelor Pengambilan darah ke-2 Pengambilan darah ke-3 Uji Tantang

0 7 1

(43)

25 selanjutnya larutan darah tersebut diteteskan di atas haemocytometer yang telah

diletakkan cover glass di atasnya dan dibiarkan selama 3 menit agar leukosit

mengendap, kemudian diamati di bawah mikroskop. Perhitungan total leukosit

dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Bijanti (2005) yaitu:

∑Leukosit = n × 10 /

Keterangan:

n : Jumlah sel leukosit yang ada pada 4 kotak besar kamar hitung 104 : Faktor pengenceran

b) Total Eritrosit

Darah dihisap dengan pipet berskala sampai skala 0.5 dan ditambah larutan

Hayem sampai skala 101. Setelah itu, dihomogenkan dengan menggoyangkan

pipet membentuk angka delapan dan empat tetes pertama larutan darah dibuang.

Kemudian larutan darah diteteskan ke dalam hemocytometer dan ditutup dengan

cover glass. Perhitungan total eritrosit dihitung menggunakan rumus Bijanti

(2005):

∑Eritrosit = × 10 ⁄

Keterangan:

n : Jumlah sel eritrosit yang ada pada 5 kotak kecil kamar hitung 106 : Faktor pengenceran

c) Diferensial Leukosit

Perhitungan diferensial leukosit (monosit, limfosit, dan neutrofil) dilakukan

dengan cara Amlacher (1970) yaitu pembuatan preparat ulas dengan kaca preparat

dibersihkan dengan etanol kemudian diletakkan setetes darah ikan uji. Kaca

pemulas disentuhkan pada tetesan darah kemudian digeser ke arah kanan sehingga

(44)

26 kemudian dikeringkan, setelah kering preparat ulas darah diwarnai dengan larutan

giemsa. Perhitungan diferensial leukosit yaitu, sebagai berikut :

Limfosit = 100 × 100%L

Monosit = 100 × 100%L

Neutrofil = 100 × 100%N

d) Aktivitas Fagositosis

Pengamatan aktivitas fagositosis menurut Anderson & Siwicki (1993) yaitu,

preparat ulas darah dari sampel darah 50µl dicampur dengan 50 µl bakteri

Aeromonas hydrophila ditambahkan PBS. Kemudian, suspensi tersebut

dihomogenkan menggunakan vortex dan diinkubasi selama 20 menit. Preparat

ulas dikeringkan kemudian diwarnai dengan larutan giemsa selama 20 menit dan

diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x. Persentase sel-sel

fagositik dapat dihitung dengan cara mengamati jumlah sel-sel yang memfagosit

bakteri hingga berjumlah 100 sel. Perhitungan aktivitas fagositosis yaitu, sebagai

berikut :

AF = × 100%

IF = ℎ

b. Survival Rate (SR)

Kelangsungan hidup (Survival Rate) adalah tingkat perbandingan ketahanan tubuh

dengan perhitungan jumlah ikan yang hidup dari awal hingga akhir penelitian.

(45)

27

SR= ( )

( ) 100%

Keterangan :

SR : Tingkat kelangsungan hidup (%)

Nt : Jumlah ikan yang hidup pada akhir pemeliharaan (ekor) No : Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)

c. Relative Percent Survival (RPS)

Relative Percent Survival (RPS) merupakan pengamatan persentase kematian ikan

pada setiap perlakuan. RPS dihitung menggunakan rumus menurut Effendi et al.,

(2006) :

RPS= 1 − 100%

Keterangan :

RPS: Relative percent survival (%) Mn : Mortalitas pada perlakuan N (%)

Mk : Mortalitas pada perlakuan kontrol positif (%)

d. Gejala Klinis

Gejala klinis yang akan diamati pada penelitian ini yaitu tingkah laku ikan pada

saat berenang dan tubuh ikan dengan menggunakan skoring kriteria, sebagai

berikut: Skor 1 (kurang nafsu makan), skor 2 (bercak merah, renang lambat), skor

3 (sisik melupas, sirp menggeripis, tubuh menjadi gelap), dan skor 4 (ikan

mengalami kematian).

e. Kualitas Air

Parameter kualitas air yang akan diukur adalah parameter DO, suhu, dan pH.

Pengukuran kualitas air akan dilakukan pada awal pemeliharaan, dan akhir

(46)

28 E. Analisis Data

Data yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk nilai rata-rata ± Stdv (standar

deviasi). Setelah itu data zona hambat, hematologi ikan (total leukosit, total

eritrosit, diferensial leukosit dan aktivitas fagositosis), Relative Percent Survival,

dan Survival Rate dianalisis uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan dan

uji repetead measures ANOVA untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan.

Sedangkan pada kualitas air dianalisis secara deskriptif dan gejala klinis dianalisis

(47)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pemberian ekstrak daun kelor

secara injeksi pada benih ikan nila dapat meningkatkan imun non spesifik yaitu

total leukosit, total eritrosit, diferensial leukosit, aktivitas dan indeks fagositosis.

Dan dapat mencegah terjadinya infeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah perlu dilakukannya

penelitian lanjut tentang pengobatan pada benih ikan nila dengan menggunakan

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Almendras, J.M.E., & Catap, E. S. 2002. Immunity and biological methods of

Disease Prevention and Control. SEAFDEC/AQD. Tighbauan Iloilo

Philiphine, 30 hlm.

Amlacher, E. 1970. Text book of Fish Disease. D.A.T.F.H. Publication. New York, 302 hlm.

Amri, K. 2003. Budidaya ikan nila secara intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta, 214 hlm.

Ananda, N. L. (2019). Pengaruh pemberian vaksin bivalen Vibrio

parahaemolyticus dan Vibrio vulnificus untuk pengendalian vibriosis pada bawal bintang (Trachinotus blochii lacepede, 1801) dengan metode injeksi. Skripsi. Universitas Lampung, 75 hlm.

Anam, C. 2010. Ekstraksi oleoresin jahe Zingiber officinale kajian dari ukuran bahan pelarut waktu dan suhu. Jurnal Pertanian MAPETA. 8(2): 1411-2817.

Anderson, D.P & Siwicki, A.K. 1993. Basic hematology and serology for fish health programs. Paper presented in second symposium on diseases in Asian Aquaculture. Aquatic Animal Health and the Environment. Phuket Thailand, 185-202 hlm.

Arora, S.D., Onsare, G.J. & Kaur, H. 2013. Bioprospecting of moringa (Moringaceae). Journal of Pharmacognosy and Phytocemistry, 1(16): 190-193.

Bamishaiye, E.I., Olayemi, F.F., Awagu, E.F., Bamshaiye, O.M. 2011. Proximate and phytochemical composition of Moringa oleifera leaves at three stages of maturation. Advance Journal of Food Science and Technology, 3(4): 233-237.

Baratawidjaja, K.G. 2002. Immunologi dasar. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 571 hlm.

(49)

51 Bijanti, R. 2005. Hematologi ikan. Buku Ajar Bagian Ilmu Kedokteran Dasar

Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya, 22 hlm.

Biswas, S.K., Chowdhury, A., Joysre, D., Ajoy, R., Zahid, H. 2012. Pharmacological potentials of Moringa oliefera Lam. A Review.

International Journal Pharmaceutical Sciences and Research, 2(3):

305-310.

Brown, E.M. 1989. Textbook of veterinary histology 3rd edition. Lea & Febiger, Philadelphia. 308 hlm.

Busani, M., Julius, P.M., & Voster, M. 2012. Antimikrobial activities of Moringa

oleifera Lam leaf extract. African Journal of Biotechnology, 11(11):

2797-2802.

Chinabut, S., Chanratchakool, P., & Primpol, M.1991. Histopathological studies

of infected walking catfish (Clarias macrocephalus). Department of

Fisheries, Bangkok. 330-340 hlm.

Cipriano, R. C., & Bullock, G. L. 2001. Furunculosis and other disease caused By

Aeromonas salmonicida. Fish Disease Leaflet, 66 hlm.

Dallman, H.D., & Brown, E.M. 1989. Buku teks histologi veteriner. Universitas Indonesia. Jakarta, 279 hlm.

Dangeubun, J. L., & Metungun, C. 2017. Hematology of Vibrio alginolyticus infected humpback grouper Cromileptes altivelis, Under Treatment of

Alstonia acuminata Shoot Extract. AACL Bioflux, 10(2): 274-284.

Dianti, L., Prayitno S. B., & Ariyati, R. W. 2013. Ketahanan non spesifik ikan mas (Cyprinus carpio) yang direndam ekstrak daun jeruju (Acanthus

illicifolius) terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Journal of Aquaculture Management and Technology, 2(4): 63-71.

Depkes. 1986. Cara pembuatan simplisia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta, 17 hlm.

Dirjen POM. (2000). Parameter standar umum ekstrak tumbuhan obat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta, 10-11 hlm.

Effendi, I., Bugri N.J., Wirdani. 2006. Pengaruh pada penebaran terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gurami Osphronemus

guramy Ukuran 2 cm. Jurnal Akuakultur Indonesia, 5(2): 127-135.

(50)

52 Erika, Y. 2008. Gambaran diferensiasi leukosit pada ikan mujair (Oreochromis

mossambicus) di daerah Ciampea Bogor. Skripsi. Fakultas Kedokteran

Hewan Institut Pertanian Bogor

,

36 hlm.

Feliatra, Efendi I., & Suryadi E. 2004. Isolasi dan identifikasi bakteri probiotik dari ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscogatus) dalam upaya efisiensi pakan. Jurnal Natur Indonesia, 6(2): 75–80.

Gudkovs, N. 1988. Fish immunology. Fish Disease Veterinarians, 531-544 hlm.

Gustiano, R., & Arifin, O.Z. 2006. Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus). Bogor, 169 hlm.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. (1997). Buku ajar fisiologi kedokteran. Penerbit buku kedokteran. Jakarta, 27-38 hlm.

Guyton, A. C., Hall, J. E., 2014. Buku ajar fisiologi kedokteran. EGC. Jakarta, 1022 hlm.

Harborne, J.B. 1987. Metode fitokimia edisi ke dua. ITB. Bandung, 123-129 hlm.

Hardi, E.H., Sukenda, Harris, E., & Lusiastuti, A.M. 2014. Karakteristik dan patogenitas streptococcus agalactiae tipe ß-hemolitik dan non-hemolitik pada ikan nila. Jurnal Veteriner, 12(2): 152-164.

Hargono, D. 1996. Sekelumit mengenai obat nabati dan sistim imunitas. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta, 108 hlm.

Harikrishnan, R., M. N. Rani & C. Balasundaram, 2010. Haematological and biochemical parameters incommon carp Cyprinus carpio following herbal treatment for Aeromonas hydrophilla infection. Aquaculture, 1(4): 41-50.

Hartika, R., Mustahal., & Putra, A. N. 2014. Gambaran darah ikan nila

(Oreochromis niloticus) dengan penambahan dosis prebiotik yang berbeda dalam pakan. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 4(4): 259-240.

Hidajati, Nurul., et al. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. FMIPA UNESA. Surabaya, 24-150 hlm.

Holt, J.G., Krieg, N.R., Sneath, P.H.A., Staley, J.T., Williams, S.T. 1994. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Baltimore. Maryland, 787 hlm.

Huys, G., Kampfer, P., Albert, M.J., khun, I., Denys R. & Swings. J. 2002. Aeromonas hydrophila subsp Isolated from Children with Diaerrhoea in Bangladesh. International Journal of Systematics and Evolutionary

(51)

53 Ilmayati, M. 2015. Differentiation of leukocytes of nila tilapia (Oreochromis

niloticus) with feed consist of noni fruit flour (Morinda citrifolia L).

Faculty of Fisheries and Marine Science University of Riau Pekanbaru, 12 hlm.

Irianto. 2005. Patologi ikan teleostei. Gadjah Mada University. Yoyakarta, 125 hlm.

Janin, N., C. 1993. Essentials of veterinary hematology. Lea and Febiger Publishing. Philadelphia, 417 hlm.

Johnny, F., Roza, D., & Mastuti, I. 2010. Aplikasi imunostimulan untuk meningkatkan imunitas non-spesifik ikan kerapu macan (Epinephelus

fuscoguttatus) terhadap penyakit infeksi di hatcheri. Porsiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur, 945-949 hlm.

Kasminah. 2016. Aktivitas antioksidan rumput laut Halymenia durvillae dengan pelarut non polar, semi polar dan polar. Skripsi. Universitas Airlangga Surabaya, 63 hlm.

Khairuman, H., & Amri, K. 2012. Pembesaran nila di kolam air deras. PT Agro Media Pustaka. Jakarta, 13–25 hlm.

Kordi, K., & Ghufran, M. 2004. Penanggulangan hama dan penyakit ikan. Cetakan Pertama. PT Rineka Cipta. Jakarta, 190 hlm.

Lubis, Y. P., Yunasfi, P., & Leidonald, R. 2014. Jenis-jenis bakteri padaluka ikan patin. Jurnal Aquacostamarine, 2(1): 66-77.

Lukistyowati, I., & Kurniasih. 2011. Kelangsungan hidup ikan mas (Cyprinus

carpio L) yang diberi pakan ekstrak bawang putih (Allium sativum) dan

diinfeksi Aeromonas hydrophilla. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 16 (1): 144–160.

Martunus., & Helwani, Z. 2004. Ekstraksi senyawa aromatis dari Heavy Gas Oil (HGO) dengan pelarut Dietilen Glikol (DEG). Jurnal Sains dan Teknologi, 3(2): 46-50.

Mendieta, A.B., Spörndly E., Reyes, S.N., Salmerón, M.F., Halling M. 2013.

Biomass production and chemical composition of Moringa oleifera under different planting densities and levels of nitrogen fertilization. Agroforest

Syst. 81-92 hlm.

Mishra, S.P., Pankaj, S., & Sanjay, S. 2014. Processing of Moringao leifera

leaves for human consumption. Bull. Environment. Pharmacol. Life

Sciences, 2(1): 28-31.

(52)

54 California, Davis. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey. 309–310 hlm.

Mudjiutami, E., Ciptoroso, Zainun, Z., Sumarjo & Rahmat (2007) Pemanfaatan imunostimulan untuk pengendalian penyakit pada ikan mas. Jurnal

Budidaya Air Tawar, 1(4): 1-9.

Nabib, R., Pasaribu, F.H. 1989. Patologi dan penyakit ikan. Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Bogor, 158 hlm.

Nur, S., & Dana, D. 2014. Ketahanan benih ikan nila gift (Oreochromis niloticus

Linn) dari hasil induk yang diberi vaksin terhadap infeksi buatan Streptococus iniae. Jurnal Akuakultur Indonesia , 3(1): 37-43.

Nuryati, S., Maswan, N. A., Alimuddin, Sukenda, Sumantadinata, K., Pasaribu, F. H., Soejoedono, R. D., & Santika, A. 2008. Gambaran darah ikan mas setelah divaksinasi dengan vaksin DNA dan diuji tantang dengan koi herpes virus. Jurnal Akuakultur Indonesi, 9 (1): 9-15.

Paul, M., R. Gupta., S. Khushawha., & Thakur. R. 2015. Kocuria rosea: An emerging pathogen in acute bacterial meningitis case report. Journal of

Microbiology and Antimicrobial Agents, 1(1): 4-7.

Putra, I., Mulyadi, N. A. Pamukas., & Rusliadi. 2013. Peningkatan kapasitas produksi akuakultur pada pemeliharaan ikan selais (Ompok sp.) sistem aquaponik. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 1(18): 1-10.

Qomariyah, N., Suprapto, H., & Sudarno. 2017. Pemberian vaksin formalin killed cell (FKC) Vibrio alginolitycus untuk meningkatkan survival rate (SR), titer antibodi dan fagositosis leukosit pada kerapu cantang (Epinephelus sp.) setelah uji tantang bakteri Vibrio alginolitycus. Jurnal Ilmiah

Perikanan dan Kelautan, 9(1): 15-24.

Raa‚ J.‚ Roestad, G.‚ Engstad, R., & Robertsen, B. 1992. The use of

immunostimulant to increase resistance of aquatic organisms to microbial ifections. Disease in Asian Aquaculture 1. Fish Health Sect. Asian Fish Soc. Manila, 12 hlm.

Rahma, F.W. 2015. Pengaruh pemberian ekstrak Sargassum sp. dengan pelarut metanol pada pakan terhadap jumlah eritrosit dan diferensial leukosit ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 7(2): 1-6.

Riyanto, A., & Budiman. 2013. Kapita selekta kuisioner pengetahuan dan sikap

dalam penelitian kesehatan. Salemba Medika. Jakarta, 66-69 hlm.

(53)

55

hydrophila Pada ikan gurame (osphronemus gouramy Lacepede). Jurnal Akuatika, 3(1): 1-9.

Rustikawati, I. 2011. Efektifitas ekstrak Sargassum sp. dalam meningkatkan imunitas ikan nila (Oreochromis niloticus) terhadap serangan

Streptocciasis. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran

Bandung, 84 hlm.

Rustikawati, I. 2012. Efektivitas Ekstrak Sargassum sp. terhadap Diferensiasi Leukosit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Diinfeksi Streptococcus

iniae. Jurnal Akuatika, 3(2): 125–134.

Santoso, B. (1996). Budidaya ikan nila. Penerbit Kanisius. Yogyakarta, 11-15 hlm.

Saragih, A.A., Syawal, H., Lukistyowati, I. 2015. Identifikasi bakteri patogen pada ikan selais (Ompok hypoptalmus) yang tertangkap di Sungai Kampar Desa Teratak Buluh Provinsi Riau. Jurnal Online Mahasiswa (JOM)

Bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan, 2(2): 1-13.

Sembiring, B. 2007. Teknologi penyiapan simplisia terstandar tanaman obat.

Jurnal Balai Penelitian Tanaman Obat Balitro. Bogor, 13(2): 1-8.

Septiarini., Esti, H., & Wardiyanto. 2012. Pengaruh waktu pemberian probiotik yang berbeda terhadap respon imun non-spesifik ikan mas (cyprinus

carpio l.) yang diuji tantang dengan bakteri Aeromonas salmonicida. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan, 1(1): 1-8.

Siniwoko, E.D. 2013. Budidaya dan bisnis ikan nila. PT Gramedia Pustaka. Jakarta, 62 hlm.

Stout, R.T., & Davis, W.W., 1971. Disc plate method of microbiological

antibiotic assay. Applied microbiology, p. 666-670 vol. 22, no.4 The Lily

Research Laboratories, Eli Lilly and Co., Indianapolis, Indiana. 22(4):

659-665 hlm.

Suhermanto, A., Andayani, S., & Maftuch. 2013. Pemberian total fenol teripang pasir (Holothuria scabra) untuk meningkatkan leukosit dan diferensial leukosit ikan mas (Cyprinus carpio) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Kelautan, 4(2): 49-56.

Svobodova, Z., & Vykusova, B. 1991. Diagnostics, prevention and therapy of fish

diseases and intoxications. Manual. Research Inst. of Fish Culture and

Hydrobiology, 19-34 hlm.

Syamsu Hidayat. 1991. Inventarisasi tanaman obat Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta, 616 hlm.

(54)

56 Tizard, I. R. 1988. Pengantar imunologi veteriner. Universitas Air Langga.

Surabaya, 497 hlm.

Trewavas, E. 1991. Tilapias: taxonomi and speciation. London, UK. British Mus. Nat. History, 583 hlm.

Utami, D. T., Prayitno, S. B., Hastuti, S., & Santika, A. 2013. Gambaran

parameter hematologis pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberi vaksin DNA Streptococcus iniae dengan dosis yang berbeda. Journal of

Aquaculture Management And Technology, 2(4): 7-20.

Vadstein, O. 1997. Application of immunostimulation in larviculture: possibilities

and challenges. Aquaculture, 155: 401-417.

Wahyuningsih, S. P. A. 2001. Pengaruh imunostimulan b-glukan terhadap jumlah total leukosit pada ikan nila merah (Oreochromis sp.). Jurnal Penelitian

Medika Eksakta, 2(1) : 66–66.

Warasto., Yulisman., Mirna F. 2013. Tepung kiambang (Salvinia molesta) terfermentasi sebagai bahan pakan ikan nila (Oreochromis niloticus).

Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 1(2):173-183.

Wardana, Andika. 2016. Elusidasi struktur senyawa hasil isolasi dari ekstrak kloroform kulit batang tumbuhan gowok (Syzygius polycephalum) dan uji aktivitas antioksidan. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, 154 hlm.

Wibowo, M. 2010. Uji patogenisitas dan virulensi Aeromonas hydrophila stainer pada ikan nila (Oreochromis niloticus Lin) melalui postulat koch. Jurnal

Riset Akuakultur, 5(2):245-255.

Wilson, K., & Walker, J. 2000. Principles and techniques of practical

biochemistry fifth edition. Cambridge University Press. United Kingdom,

784 hlm.

Yulianto, R., Y.T. Adiputra & Agus Setyawan. 2013. Perubahan jaringan organ ikan komet (Carrasius auratus) yang diinfeksi dengan Aeromonas

hydrophila. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan, 2(1):

Figure

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Gambar 2. Ikan nila Oreochromis niloticus
Gambar 3. Daun Moringa oleifera
Gambar 4. Desain Penempatan Akuarium
+3

References

Related documents

It is essential to use a consistent sample since non-reporting is likely to be correlated with income, and thus, con- structing P RODY for di¤erent countries during di¤erent years

Although consideration of the compositional process at the meta level is essential for intra-phase traceability, these approaches only model certain NFRs (e.g. response

In Figure 9, the true-Gray residuals is plotted against the estimated survival rate based on Gray’s time-varying coefficients model at each 9 time point to assess goodness-of-fit

The international surveys of institutional capacity for effective performance of the ITA coordination functions – Paris Declaration (2005) and Accra Agenda for Action (2008)

Our aims are to capture the physical experience of movement and to extend the particular sense of time from the original site to a new venue, either a physical space or online..

Th e waves of Jewish immigration to Palestine during the 19th and 20th Centuries, creation of the State of Israel in 1948, occupation of Arab land in 1967 and 1982, reoccupation

• Academic  evaluator  of  the  External  Assessment  Commission.  Evaluation  of  the  “Degree  in  Business  Administration  and  Management”.  Centre 

What applies to stocks also applies to any pool of stocks that is managing d by non Muslims (a Muslim mutual fund must not accept investing in any Haram stock such as casinos