• No results found

Jurding Forensik-4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Share "Jurding Forensik-4"

Copied!
38
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

 J

 J OUR

OURN

NA

AL R

L RE

E A

AD

DII NG

NG

Or

Ortho

thop

pa

anto

ntom

mo

oggrra

ap

phi

hic E

c E va

valuat

luatiio

on o

n of

f C

Ca

ani

nine

ne a

and

nd F

F iirrst Pr

st Pre

em

mo

olar

lar

Using Demirjian’s Stages in

Using Demirjian’s Stages in Central India:

Central India:

N

Ne

ew App

w Apprro

oa

ach t

ch to F

o Fo

orre

ensi

nsic A

c Agge

e E

E st

stiim

ma

attiio

on

n

DOSEN

DOSEN PENGUJI PENGUJI ::Dr. Julia Ike Haryanto, Sp.KFDr. Julia Ike Haryanto, Sp.KF

RESIDEN

RESIDEN PEMBIMBING PEMBIMBING ::Dr. Marlis TarmiziDr. Marlis Tarmizi

PENULIS: PENULIS:

Natal

Natal Tandi Tandi Kendenan Kendenan Rassat Rassat 20152015

 – 

 – 

 061 061

 – 

 – 

125 125 FK FK UAJUAJ Johannes

Johannes Paulus Paulus Fernandez Fernandez 20152015

 – 

 – 

 061 061

 – 

 – 

166 166 FK FK UAJUAJ Emerita

Emerita Yeni Yeni Dwi Dwi Astuti Astuti 20162016

 – 

 – 

 061 061

 – 

 – 

007 007 FK FK UAJUAJ Alfonso

Alfonso Haris Haris Setia Setia Santoso Santoso 20162016

 – 

 – 

 061 061

 – 

 – 

008 008 FK FK UAJUAJ

Veranita 2016

Veranita 2016

 – 

 – 

 061 061

 – 

 – 

015 015 FK FK UAJUAJ Ninta

Ninta Karina Karina Astila Astila Sembiring Sembiring 20162016

 – 

 – 

 061 061

 – 

 – 

091 091 FK FK UAJUAJ Arninda

Arninda Fergian Fergian Saputri Saputri H2A013031 H2A013031 FK FK UNIMUSUNIMUS

KEPANITERAAN KLINIK

KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. KARIADI SEMARANG

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. KARIADI SEMARANG

(2)

1 1

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan bimbingan sehingga Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan bimbingan sehingga  penulis

 penulis dapat dapat menyelesaikan menyelesaikan tugastugas journal reading  journal reading  ini. Tugas ini. Tugas  journal  journal reading reading  yang berjudul yang berjudul ““Orthopantomographic Evaluation of Canine and First Premolar Using DemirjOrthopantomographic Evaluation of Canine and First Premolar Using Demirjian’s Stages inian’s Stages in Central India: New Approach to Forensic Age Estimation

Central India: New Approach to Forensic Age Estimation” ini disusun sebagai salah satu” ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

syarat menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Penulis sadar tugas

Penulis sadar tugas  journal  journal reading reading   ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pada  ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung dengan segala cara dalam penyelesaian tugas

semua pihak yang telah mendukung dengan segala cara dalam penyelesaian tugas  journal journal reading 

reading  ini, terutama kepada: ini, terutama kepada: 1.

1. Dr. Julia Ike Haryanto, Sp.KF selaku dosen penguji;Dr. Julia Ike Haryanto, Sp.KF selaku dosen penguji; 2.

2. Dr. Marlis Tarmizi selaku residen pembimbing;Dr. Marlis Tarmizi selaku residen pembimbing; 3.

3. Orang tua dan teman-teman penulis yang memberikan dukungan moral dan spiritual;Orang tua dan teman-teman penulis yang memberikan dukungan moral dan spiritual; 4.

4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penyusunanSemua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penyusunan tugas

tugas journal reading  journal reading  ini. ini. Penulis berharap agar tugas

Penulis berharap agar tugas  journal  journal reading reading   ini dapat bermanfaat dalam memberikan  ini dapat bermanfaat dalam memberikan  pengetahuan tambahan

 pengetahuan tambahan bagi mereka bagi mereka yang membacanya, yang membacanya, karena identifikasi karena identifikasi struktur gigi dapatstruktur gigi dapat membantu proses identifikasi dan penentuan usia jenazah.

membantu proses identifikasi dan penentuan usia jenazah. Penulis menyadari bahwa tugas

Penulis menyadari bahwa tugas  journal  journal reading reading   ini masih jauh dari sempurna. Oleh  ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan tugas

kekurangan tugas journal  journal reading reading  ini. Penulis juga memohon maaf jika ada kata-kata penulis ini. Penulis juga memohon maaf jika ada kata-kata penulis yang kurang berkenan. Atas perhatian yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih. yang kurang berkenan. Atas perhatian yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih.

Semarang, Agustus 2017 Semarang, Agustus 2017

Penulis Penulis

(3)

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan bimbingan sehingga Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan bimbingan sehingga  penulis

 penulis dapat dapat menyelesaikan menyelesaikan tugastugas journal reading  journal reading  ini. Tugas ini. Tugas  journal  journal reading reading  yang berjudul yang berjudul ““Orthopantomographic Evaluation of Canine and First Premolar Using DemirjOrthopantomographic Evaluation of Canine and First Premolar Using Demirjian’s Stages inian’s Stages in Central India: New Approach to Forensic Age Estimation

Central India: New Approach to Forensic Age Estimation” ini disusun sebagai salah satu” ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

syarat menyelesaikan kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Penulis sadar tugas

Penulis sadar tugas  journal  journal reading reading   ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pada  ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung dengan segala cara dalam penyelesaian tugas

semua pihak yang telah mendukung dengan segala cara dalam penyelesaian tugas  journal journal reading 

reading  ini, terutama kepada: ini, terutama kepada: 1.

1. Dr. Julia Ike Haryanto, Sp.KF selaku dosen penguji;Dr. Julia Ike Haryanto, Sp.KF selaku dosen penguji; 2.

2. Dr. Marlis Tarmizi selaku residen pembimbing;Dr. Marlis Tarmizi selaku residen pembimbing; 3.

3. Orang tua dan teman-teman penulis yang memberikan dukungan moral dan spiritual;Orang tua dan teman-teman penulis yang memberikan dukungan moral dan spiritual; 4.

4. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penyusunanSemua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penyusunan tugas

tugas journal reading  journal reading  ini. ini. Penulis berharap agar tugas

Penulis berharap agar tugas  journal  journal reading reading   ini dapat bermanfaat dalam memberikan  ini dapat bermanfaat dalam memberikan  pengetahuan tambahan

 pengetahuan tambahan bagi mereka bagi mereka yang membacanya, yang membacanya, karena identifikasi karena identifikasi struktur gigi dapatstruktur gigi dapat membantu proses identifikasi dan penentuan usia jenazah.

membantu proses identifikasi dan penentuan usia jenazah. Penulis menyadari bahwa tugas

Penulis menyadari bahwa tugas  journal  journal reading reading   ini masih jauh dari sempurna. Oleh  ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan tugas

kekurangan tugas journal  journal reading reading  ini. Penulis juga memohon maaf jika ada kata-kata penulis ini. Penulis juga memohon maaf jika ada kata-kata penulis yang kurang berkenan. Atas perhatian yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih. yang kurang berkenan. Atas perhatian yang diberikan, penulis mengucapkan terima kasih.

Semarang, Agustus 2017 Semarang, Agustus 2017

(4)

2 2

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1 DAFTAR ISI ... ... 3 DAFTAR TABEL ... ... 5 DAFTAR GAMBAR ... ... 6 BAB I PENDAHULUAN ... 7 I. LATAR BELAKANG ... ... 7

II. PERUMUSAN MASALAH ... 7

III. TUJUAN MASALAH ... ... 7

IV. MANFAAT ... ... 8

BAB II  JOURNAL READING ... 9

I. JURNAL BAHASA INGGRIS... ... 9

II. JURNAL BAHASA INDONESIA ... 13

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ... ... 23

I. ANATOMI GIGI ... ... 23

A. Bagian Gigi ... ... 24

B. Jenis Gigi ... ... 25

C. Permukaan Gigi ... 25

II. PERUBAHAN PADA GIGI SEIRING BERJALANNYA USIA... 26

A. Atrisi Gigi ... ... 27

III. IDENTIFIKASI GIGI DALAM KEDOKTERAN FORENSIK ... ... 27

A. Metode Demirjian ... ... 28

(6)

4

II. JURNAL PEMBANDING II ... 31

III. PERBEDAAN JURNAL UTAMA DAN JURNAL PEMBANDING ... 33

BAB V KESIMPULAN ... ... 35

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Statistik Deskriptif (dalam Tahun) Tahapan Individual pada Gigi Kaninus

Permanen Mandibula ... ... 14

Tabel 2 Statistik Deskriptif (dalam Tahun) Tahapan Individual pada Gigi Premolar Pertama Permanen Mandibula ... ... 15

Tabel 3 Tabel Two-way ANOVA untuk Gigi Kaninus... ... 16

Tabel 4 Tabel Two-way ANOVA untuk Gigi Premolar Pertama ... 16

Tabel 5 Rerata Usia dan Standar Deviasi (dalam Tahun) untuk Perkembangan Tahapan Gigi Kaninus dari Penelitian Ini dan dan Literatur yang Dipelajari ... 16

Tabel 6 Rerata Usia dan Standar Deviasi (dalam Tahun) untuk Perkembangan Tahapan Gigi Premolar Pertama dari Penelitian Ini dan dan Literatur yang Dipelajari ... 17

Tabel 7 Koreksi Bonferroni setelah One-way ANOVA ... ... 17

Tabel 8 Akurasi Estimasi Usia Menggunakan Gigi Kaninus ... 17

(8)

6

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gambaran Gigi Tetap (Gambaran Langsung dan Radiologis) ... 21

Gambar 2 Jaringan Gigi dan Gambaran Radiologisnya ... 22

Gambar 3 Permukaan Gigi ... 24

Gambar 4 Gambaran Gigi Susu dan Gigi Permanen ... ... 24

Gambar 5 Usia Erupsi dan Tanggal Gigi Susu dan Gigi Permanen ... 25

Gambar 6 Gambaran Gigi Susu dan Gigi Permanen menurut Usia ... 25

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Estimasi usia memiliki peranan penting tidak hanya dalam kedokteran forensik, melainkan juga pada kedokteran gigi, kedokteran anak, ortopedi, antropologi dan arkeologi. Dari perspektif forensik, dibutuhkan indikator-indikator yang dapat diandalkan untuk menentukan usia seseorang secara tepat. Terdapat peningkatan permintaan dari  pengadilan untuk estimasi usia dari seseorang yang masih hidup, seseorang yang terlibat dalam aksi kriminal tetapi tidak memiliki dokumentasi usia, adopsi, pencari suaka,  pengungsi dan imigran.1,2

Banyak metode yang telah d

igunakan untuk menentukan usia kronologis dari anak-anak: metode tulang dan  perkembangan gigi. Pada metode tulang yang menilai maturitas tulang, berdasarkan temuan radiografi pada strutktur tertentu, seperti fusi epifisis-diafisis pada tulang panjang, ekstremitas medial dari klavikula dan puncak epifisis dari tulang rusuk pertama dan fusi tulang sfenoid dan bagian basilar dari tulang oksipital. Tetapi, karena terdapat variabilitas  pada maturasi tulang, metode ini tidak baik untuk digunakan dan dikatakan dipengaruhi

oleh faktor lingkungan. Parameter perkembangan gigi di sisi lain, lebih cocok dalam menentukan usia pada anak-anak, karena variabilitasnya yang rendah, laju kalsifikasi lebih dikontrol oleh gen dibandingkan faktor lingkungan.1,2

II. PERUMUSAN MASALAH

Bagaimana cara mengidentifikasi usia seseorang berdasarkan struktur gigi dan  perubahannya?

III. TUJUAN MASALAH

 Mengetahui anatomi gigi.

 Mengetahui perubahan pada gigi seiring berjalannya usia.  Mengetahui identifikasi gigi dalam kedokteran forensik.

(10)

8

IV. MANFAAT

 Menjadi tambahan bagi perkembangan ilmu kedokteran forensik dan

medikolegal.

(11)

BAB II

 J OUR NA L RE ADI NG

(12)
(13)
(14)
(15)

II. JURNAL BAHASA INDONESIA

EVALUASI ORTOPANTOMOGRAFI

PADA KANINUS DAN PREMOLAR PERTAMA

MENGGUNAKAN TINGKATAN DEMIRJIAN DI INDIA TENGAH:

PENDEKATAN BARU UNTUK MENENTUKAN USIA FORENSIK

ABSTRAK

Perkembangan gigi sudah umum digunakan untuk penentuan umur pada ilmu forensik. Tujuan dari studi ini adalah sebagai berikut: pertama, untuk menentukan penggunaan data  perkembangan gigi kaninus dan premolar dari orang India dalam memperkirakan usia dan kedua, untuk meneliti perbedaan populasi dalam perkembangan gigi. Ortopantomogram dari 340 anak-anak India antara usia 5 dan 14 tahun dianalisa. Tingkatan Demirjian dicatat untuk evaluasi perkembangan dari kaninus dan premolar pertama dan untuk analisa statisik deskriptif lebih jauh. Two-way ANOVA digunakan untuk menguji signifikansi dari perbedaan dalam perkembangan gigi berdasarkan jenis kelamin dan tingkatan. One-way ANOVA digunakan untuk meneliti perbedaan populasi dalam perkembangan gigi. Hasil statistik menunjukkan hasil yang signifikan pada perkembangan gigi berdasarkan jenis kelamin dan tingkatan. Perkembangan gigi terjadi lebih dulu pada perempuan. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada tingkatan Demirjian pada populasi yang berbeda. Dalam kesimpulan, temuan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk penentuan usia pada anak-anak di India.

Pendahuluan

Perkiraan usia memiliki peran yang penting tidak hanya di bidang forensik, namun juga  pada bidang kedokteran gigi dan arkeologi. Dari sisi forensik, penentuan usia yang akurat sangat diperlukan. Permintaan untuk penentuan usia yang tepat dari pengadilan terus meningkat pada individu yang hidup, seseorang yang diduga masih di bawah umur karena tidak adanya dokumen yang dapat menunjukkan umurnya, adopsi, pengungsi dan imigran. Bermacam-macam metode telah digunakan untuk menentukan umur dalam bidang medikolegal, namun pemeriksaan radiologi dari umur gigi merupakan metode yang paling

(16)

14

 berdasarkan sistem skoring, di antaranya adalah metode skoring Demirjian yang telah digunakan secara umum. Metode ini memiliki keterbatasan yaitu evaluasi yang selalu dilakukan pada tujuh gigi mandibula kiri. Oleh karena itu, metode ini tidak dapat digunakan  pada anak-anak yang giginya tidak lengkap atau gambar radiografinya tidak jelas. Kendala ini dapat diatasi dengan menghitung usia rata-rata dari usia pencapaian untuk setiap tahap  pertumbuhan gigi individu. Selain itu, gigi yang dipilih dengan baik memberikan penilaian usia yang lebih akurat dibandingkan dengan penggunaan semua gigi yang sedang tumbuh. Oleh karena itu, dalam banyak penelitian, titik berat yang dikhususkan pada salah satu gigi untuk penentuan usia. Mempertimbangkan fakta tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan gigi kaninus permanen dan premolar pertama khususnya  pada setiap jenis kelamin untuk penentuan umur di bidang forensik pada anak-anak di India

menggunakan kriteria Demirjian. Selain itu, penulis juga menguji kemungkinan perbedaan  populasi dalam menentukan waktu dari tingkatan formasi Demirjian dengan membandingkan

hasil usia rata-rata dari penelitian ini dengan hasil penelitian sebelumnya.

Sampel dan Metode

Sampel yang digunakan adalah hasil 340 ortopantomogram dari anak-anak di India (175 laki-laki dan 165 perempuan) dari daerah di India Tengah, berusia antara 5 dan 14 tahun. Ortopantomogram tersebut diambil pada periode Maret 2008 hingga Mei 2009, ketika anak-anak tersebut sedang melakukan kontrol gigi secara rutin. Sampel yang digunakan hanya anak-anak dengan gizi cukup yang tergabung dalam kelompok sosioekonomi menengah yang tidak memiliki riwayat penyakit kronik. Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah gambaran deformitas yang mengganggu visualisasi dari kaninus dan premolar pertama mandibular atau adanya gambaran patologi yang mengenai kedua gigi tersebut. Prosedur penelitian ini telah disetujui oleh institusi komite etik.

Mesin X-ray yang digunakan adalah Planmeca PM 2001 EC Proline Panoramic X-ray Unit (Helsinki, Finlandia). Film radiografi yang digunakan adalah Kodak T-Mat G film  berukuran 6¢¢ · 12¢¢ (Carestream Health, Inc., Rochester, New York). Untuk menentukan

tingkatan perkembangan dari gigi kaninus permanen kiri dan premolar pertama, digunakan klasifikasi Demirjian dkk. Sistem ini membagi proses perkembangan gigi menjadi delapan tingkatan, dari A sampai H. Gigi pada mandibula sisi kiri dipilih karena memiliki gambaran

(17)

yang lebih jelas pada ortopantomogram dan telah digunakan secara luas dalam penentuan derajat kalsifikasi. Semua pemeriksaan ini dilakukan dalam ruang gelap dengan menggunakan illuminator radiografi untuk menjamin ketajaman kontras dari gambaran gigi. Usia kronologis untuk setiap sampel dihitung dengan cara mengurangi tanggal lahir dari tanggal ketika  pengambilan foto. Kemudian usia kronologis tersebut dikonversi menjadi usia dalam desimal.

Analisis deskriptif dilakukan untuk mengevaluasi tingkatan gigi kaninus dan premolar  pertama pada kedua jenis kelamin. Tingkatan H (puncak dewasa) dieksklusikan dari hasil

analisis karena hal ini akan merepresentasikan distribusi usia dan bukan merupakan parameter dari pertumbuhan. Untuk menguji signifikansi statistic dalam usia rata-rata menurut usia dan tingkatan, digunakan analisis two-way ANOVA. Dalam analisa ini, interaksi antara jenis kelamin dan tingkatan juga diuji. Signifikansi statistik dari perbedaan populasi dalam usia rata-rata dari tingkatan Demirjian dalam studi ini dan literatur sebelumnya diuji statistik dengan menggunakan one-way  ANOVA yang diikuti dengan koreksi Bonferroni untuk  pembandingan berulang. Semua analisa statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak

statistic, STATA, versi 10.1, 2008 ((StataCorp LP, College Station, Tex as).

Hasil

Tahap perkembangan kaninus dan premolar pertama dianalisis pada kedua jenis kelamin. Penilaian deskriptif (rentang usia, rata-rata umur, standar deviasi, kesalahan standar rata-rata, dan confidence interval 95%) untuk tahapan Demirjian yang dievaluasi ditunjukkan di Tabel 1

(18)

16

Tabel 2. Statistik Deskriptif (dalam Tahun) Tahapan Individual pada Gigi Premolar Pertama Permanen Mandibula

Rata-rata usia untuk tahap perkembangan kaninus dan premolar pertama diamati lebih awal  pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Perbedaan jenis kelamin pada tahap awal

mewakili perkembangan mahkota kecil, sedangkan perbedaan jenis kelamin lebih besar di tahap-tahap selanjutnya mewakili perkembangan akar. Untuk kaninus, masing-masing  perbedaan jenis kelamin dalam usia rata-rata untuk tahap '' D, '' '' E, '' '' F, '' dan '' G '' adalah 0,02, 0,71, 1,17 dan 1,32 tahun. Untuk premolar pertama, perbedaan jenis kelamin dalam usia rata-rata untuk tahap '' C, '' '' D, '' '' E, '' '' F, '' dan '' G '' adalah 0,07, 0,46, 0,78, 0,56 dan 1,1 tahun. Two-way ANOVA mengungkapkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada usia rata-rata untuk tahap perkembangan kaninus (Tabel 3) dan premolar pertama (Tabel 4) dengan  jenis kelamin dan tahap. Selain itu, Two-way ANOVA  mengungkapkan interaksi tahap seks yang signifikan untuk kaninus dan premolar pertama. Model kaninus menjelaskan 90% varian total ( R-squared   = 0,90), sedangkan model untuk premolar pertama menjelaskan 91% dari total varians ( R-squared = 0,91).

(19)

Tabel 3. Tabel Two-way ANOVA untuk Gigi Kaninus

(20)

18

 penelitian ini dan yang dicatat dari literatur yang telah diulas dan dirangkum pada Tabel 5 dan 6 untuk menguji kemungkinan perbedaan populasi dalam waktu penentuan tahapan Demirjian. One-way ANOVA diikuti oleh koreksi Bonferroni untuk perbandingan multipel tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam waktu penentuan tahapan pembentukan gigi Demirjian di antara populasi yang berbeda (Tabel 7).

Tabel 6. Rerata Usia dan Standar Deviasi (dalam Tahun) untuk Perkembangan Tahapan Gigi Premolar Pertama dari Penelitian Ini dan Literatur yang Dipelajari

Penelitian lebih lanjut meliputi penentuan keakuratan umur perkiraan berdasarkan  penelitian ini dengan menghitung perbedaannya antara perkiraan usia dan usia sebenarnya (Tabel 8 dan 9). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkiraan usia di dalam ±1,0 tahun usia sebenarnya di 79,88% dari laki-laki dan 86,8% anak perempuan untuk kaninus (Tabel 8). Untuk premolar pertama (Tabel 9), ketepatannya ada di dalamnya ±1,0 tahun dari usia sebenarnya pada 86,39% anak laki-laki dan 84,67% anak perempuan.

Tabel 8. Akurasi Estimasi Usia Menggunakan Gigi Kaninus Tabel 9. Akurasi Estimasi Usia Menggunakan Gigi Premolar Pertama

(21)
(22)

20

Diskusi

Estimasi usia subdewasa untuk tujuan medikolegal adalah isu yang penting, dan beberapa metode telah ditetapkan untuk kedokteran forensik ini. Biasanya indikator yang paling umum digunakan untuk estimasi umur di subdewasa meliputi usia gigi (perkembangan gigi dan erupsi), umur tulang, fitur morfologi dan perkembangan seksual. Di antaranya, perkiraan usia dengan evaluasi perkembangan gigi secara radiologi telah dianggap lebih akurat dibandingkan dengan indikator kematangan lainnya. Hal ini karena perkembangan gigi diketahui dikendalikan oleh gen dan tampaknya tidak tergantung pada faktor-faktor seperti kekurangan gizi dan status endokrin dibandingkan dengan indikator kematangan lainnya. Selanjutnya,  perkembangan gigi dikaitkan dengan variabilitas yang minimal dalam kaitannya dengan usia kronologis dibandingkan dengan indikator kematangan lainnya. Terakhir, indikator  perkembangan gigi dianggap lebih baik dibanding indikator erupsi gigi, karena erupsi adalah  periode yang singkat yang ditentukan pada saat munculnya gigi di mulut. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lokal seperti kurangnya ruang di lengkung gigi, ekstraksi dari gigi susu, gigi yang terkena dampak dan infeksi. Selain itu, faktor-faktor seperti status nutrisi dan lingkungan sosial ekonomi juga berpengaruh pada erupsi gigi. Poster dkk. dalam penelitian mereka menyimpulkan bahwa malnutrisi secara signifikan terkait dengan keterlambatan  pengelupasan kulit gigi tiruan primer dan erupsi dalam gigi permanen. Mengenai dampak latar  belakang sosioekonomi pada erupsi gigi, Clements dkk. menemukan bahwa anak-anak dari

kelompok sosioekonomi lebih tinggi menunjukkan erupsi gigi lebih awal dari pada anak-anak kelompok sosial ekonomi rendah.

Di antara metode penentuan umur berdasarkan perkembangan gigi, metode Demirjian lebih disukai daripada metode yang lain seperti Moorrees dkk., Nolla, Liliequist dan Lundberg, Nielsen dan Ravn, Nicodemo dkk. (dikutip dari Matuda dkk.) dan Hotz dkk. (dikutip dalam Koupis dkk.). Keuntungan metode Demirjian adalah sistem tahapan yang terdiri dari hanya delapan tahapan perkembangan gigi dan mudah dimengerti karena diagram garis kriteria deskriptif yang jelas dan ilustrasi radiografi untuk setiap tahap perkembangan gigi. Bahkan, tahap Demirjian hanya membutuhkan pengukuran relatif. Untuk alasannya, digunakan secara luas oleh dokter dan praktisi forensik, terutama odontologi forensik di seluruh dunia untuk penentuan usia pada anak-anak.

(23)

Dalam penelitian ini, gigi kaninus mandibula permanen dan gigi premolar pertama yang dipilih untuk estimasi usia. Pada anak-anak kecil terutama di daerah insisivus, lapisan tomografi jarang ideal dan perkembangan gigi mungkin tidak sesuai dengan bidang tomografi. Bayangan tulang belakang servikal mengganggu dengan penentuan tahapan gigi insisivus dan gambaran gigi insisivus lateral sering terganggu yang dapat mempengaruhi penentuan tahapan. Gigi premolar kedua dan insisivus lateral merupakan gigi yang paling sering hilang secara kongenital dengan mengeksklusi gigi molar ketiga. Gigi molar pertama mandibula merupakan gigi yang paling sering diekstraksi karena penyakit seperti karies gigi. Dalam kasus gigi molar mandibula berakar dua, fusi akar bisa terjadi dengan munculnya penampakan satu akar, yang menimbulkan kesulitan saat menafsirkan usia dari tahap perkembangan dari gigi molar kedua. Gigi molar ketiga dieksklusi dari penelitian ini, karena tidak ditemukan pada sampel pada penelitian. Karena itu, gigi kaninus dan premolar pertama dipilih untuk  penentuan usia pada anak-anak pada penelitian ini.

Temuan yang paling penting dari penelitian ini adalah kurangnya perbedaan populasi yang signifikan dalam waktu penentuan tahapan Demirjian pada pembentukan gigi, seperti yang didapatkan dari one-way  ANOVA yang diikuti oleh koreksi Bonferroni. Populasi yang diteliti adalah populasi India pada penelitian ini dan populasi dari literatur yang telah dipelajari seperti populasi Finlandia dari Nystrom dkk., populasi Korea dari Lee dkk, dan data gabungan delapan negara yang dirangkum oleh Liversidge dkk.. Temuan terpenting dari  penelitian ini konsisten dengan temuan pada penelitian oleh Liversidge dkk. Liversidge dkk. Meneliti mengenai kemungkinan adanya perbedaan dalam populasi pada waktu penentuan tahapan Demirjian pada anak-anak di delapan negara yaitu Australia, Belgia, Kanada, Inggris, Finlandia, Prancis, Korea Selatan dan Swedia. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam populasi pada waktu penentuan tahapan Demirjian pada anak-anak tersebut.

Dalam penelitian ini, didapatkan bahwa anak perempuan lebih dahulu dibanding anak laki-laki pada semua tahapan dari evaluasi gigi kaninus dan premolar pertama. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Nystrom dkk., Liversidge dkk., Demirjian dan Levesque, Lee dkk., Gam dkk. dan Liversidge dan Speechly. Sebagai tambahan,

(24)

22

 berkontribusi secara langsung pada perbedaan waktu dari sekresi hormon seksual. Temuan ini sesuai dengan temuan pada penelitian yang dilakukan oleh Garn dkk..

Kesimpulannya, waktu dari tahapan Demirjian untuk gigi kaninus dan premolar pertama dari penelitian ini dapat digunakan untuk estimasi usia anak-anak di India, terutama pada kasus dimana jika ada gigi hilang atau gambaran radiografi tidak jelas. Akurasi yang dibutuhkan dalam penentuan usia untuk kepentingan forensik bisa dilihat dari hasil penelitian ini. Selain itu, penelitian ini menunjukkan perbedaan jenis kelamin berpengaruh signifkan  pada waktu penentuan tahapan dan indikator-indikator jenis kelamin harus digunakan dalam

menentukan estimasi usia dari perkembangan gigi pada anak-anak. Akhirnya, penelitian ini  juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam populasi pada waktu  penentuan tahapan Demirjian.

(25)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI GIGI

Gigi terletak dalam soket gigi dan digunakan untuk proses mengunyah, membantu artikulasi berbicara dan memiliki fungsi estetika seseorang. Sebuah gigi diidentifikasi dan dideskripsikan berdasarkan gigi susu (gigi desidua/primer) atau gigi tetap (gigi  permanen/sekunder), tipe gigi, dan berdasarkan posisi kedekatan gigi dengan garis tengah

mulut atau depan mulut (misalnya gigi seri bagian tengah dan pinggir; gigi geraham  pertama berada di depan gigi geraham kedua).3

Anak-anak biasanya memiliki 20 buah gigi susu sedangkan orang dewasa normalnya memiliki 32 buah gigi permanen. Sebelum mengalami erupsi, gigi yang sedang tumbuh  berada di dalam lengkung alveolar sebagai kuncup gigi (tooth buds).3

(26)

24 A. Bagian Gigi

Gigi terdiri dari beberapa bagian yaitu sebagai berikut:4 1. Mahkota gigi merupakan bagian yang dapat dilihat;

2. Bagian akar gigi merupakan bagian dari gigi yang tertanam didalam tulang rahang dikelilingi (dilindungi) oleh jaringan periodontal:

a. Email/Enamel

Enamel merupakan bahan yang tidak ada selnya dan juga merupakan satu-satunya komponen dalam tubuh manusia yang tidak mempunyai kekuatan reparatif karena itu regenerasi enamel tidak mungkin terjadi. Struktur enamel gigi merupakan susunan kimia kompleks, sebagian besar terdiri dari 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat dan flour), air 1% dan bahan organik 2%.  b. Dentin

Dentin terdiri dari kalsium dan fosfor tetapi dengan proporsi proten yang lebih tinggi (terutama kolagen). Dentin adalah suatu jaringan vital yang tubulus dentinnya berisi perpanjangan sitoplasma odontoblas.

c. Sementum

Sementum adalah penutup luar tipis pada akar yang mirip strukturnya dengan tulang.

d. Pulpa

Pulpa terdapat dalam gigi dan terbentuk dari jaringan ikat yang berisikan saraf dan pembuluh darah yang mensuplai dentin. Saraf ini mengirimkan rangsangan seperti, panas dan dingin dari gigi ke otak, dimana hal ini

(27)

dialami sebagai rasa sakit.

Gambar 2. Jaringan Gigi dan Gambaran Radiologisnya3

B. Jenis Gigi

Gigi terdiri dari beberapa jenis yaitu sebagai berikut:3,4 1. Gigi Seri (Insisivus)

Berbentuk seperti sekop dengan bagian tepi yang lebar yang berfungsi untuk mengigit dan hanya memiliki satu akar. Gigi seri rahang atas berukuran lebih  besar daripada gigi seri rahang bawah.

2. Gigi Taring (Kaninus)

Memiliki ukuran yang sama pada rahang atas dan bawah. Gigi ini juga merupakan gigi yang kuat dan menonjol di sudut mulut dan hanya memiliki satu akar.

3. Gigi Premolar

Memiliki mahkota gigi yang bulat memiliki bentuk seperti kaleng tipis dengan dua tonjolan, satu berada di sebelah pipi dan satu di sebelah lidah. Kebanyakan gigi premolar hanya memilki satu akar namun beberapa gigi premolar memiliki dua akar.

4. Gigi Geraham (Molar)

Merupakan gigi besar yang berada di sebelah belakang dalam mulut yang digunakan untuk mengunyah makanan. Gigi molar memiliki mahkota gigi  berbentuk persegi. Gigi geraham pada rahang atas memiliki tiga akar gigi

sedangkan gigi geraham pada rahang bawah memiliki dua akar gigi.

C. Permukaan Gigi

Gigi memiliki beberapa permukaan yaitu sebagai berikut:4 1. Permukaan Labial/Vestibular

Permukaan yang paling dekat dengan bibir dan pipi. 2. Permukaan Lingual/Palatal

Permukaan gigi yang paling dekat dengan lidah di rahang bawah adalah  permukaan lingual dan permukaan yang berada paling dekat dengan lidah di

(28)

26 3. Permukaan Mesial

Permukaan gigi yang terletak paling dekat dengan garis tengah tubuh. 4. Permukaan Distal

Permukaan gigi yang berada paling jauh dari garis tengah tubuh. 5. Permukaan Oklusal

Bagian permukaan yang digunakan sebagai pengunyahan gigi molar dan gigi  premolar.

Gambar 3. Permukaan Gigi3

II. PERUBAHAN PADA GIGI SEIRING BERJALANNYA USIA

Pada bayi usia 4 sampai 7 bulan, pertumbuhan gigi sudah dapat terlihat. Biasanya gigi seri rahang bawah muncul lebih dulu diikuti oleh dua gigi seri rahang atas. Pada usia 3 tahun, seorang anak akan memiliki gigi susu yang lengkap sejumlah 20 buah.5

Pada anak usia 6 tahun, gigi susu anak akan mulai tanggal. Terdapat juga perubahan struktur rahang sebagai upaya akomodasi pertumbuhan gigi permanen. Ketika mencapai usia 12 tahun, seluruh gigi susu anak sudah digantikan dengan gigi permanen.5

Pada usia 13 sampai 25 tahun gigi geraham belakang ketiga akan mulai muncul. Pada sebagian orang, jika gigi geraham belakang ketiga belum muncul disebut dengan

(29)

impaksi.5

Gambar 4. Gambaran Gigi Susu dan Gigi Permanen3

Gambar 5. Usia Erupsi dan Tanggal pada Gigi Susu dan Gigi Permanen4

Gambar 6. Gambaran Gigi Susu dan Gigi Permanen menurut Usia3

A. Atrisi Gigi

Keausan yang disebabkan oleh kontaknya gigi disebut atrisi. Atrisi gigi adalah keadaan dimana hilangnya suatu substansi gigi secara bertahap pada permukaan oklusal dan proksimal gigi karena proses mekanis yang terjadi secara fisiologis akibat  pengunyahan. Ciri khas atrisi adalah perkembangan dari suatu sisi yang mana adalah  permukaan yang datar. Atrisi juga meningkat seiring pertambahan usia karena

kontak terus menerus.6,7

III. IDENTIFIKASI GIGI DALAM KEDOKTERAN FORENSIK

Gigi memiliki peran di bidang kedokteran forensik, yaitu dalam proses identifikasi individu. Gigi dapat digunakan untuk menentukan identitas seseorang yang meninggal karena kecelakaan, kejahatan, ataupun karena bencana alam, karena gigi merupakan

(30)

28

Aspek penting untuk mendapatkan perkiraan usia gigi yang tepat salah satu caranya dengan menggunakan suatu metode, melakukan pengukuran, dan kalkulasi berulang-ulang.7

A. Metode Demirjian

Metode ini digunakan untuk estimasi usia dengan melihat proses pertumbuhan dan perkembangan gigi dengan menggunakan foto panoramik yaitu ortopantomografi (OPG) merupakan suatu prosedur yang dilakukan untuk melihat gambaran gigi dan rahang menggunakan modalitas X-ray. Metode ini didasarkan pada tahapan  perkembangan 7 gigi permanen rahang bawah kiri (kecuali molar 3), didasarkan pada

kriteria bentuk dan nilai relatif, dan bukan pada panjang mutlak gigi.8

Metode ini menggunakan delapan tahapan dan memberi skor mulai dari “A” hingga “H”. Delapan tahapan tersebut mewakili kalsifikasi masing-masing gigi. Pemberian skor setiap gigi dan setiap tahap perkembangan berdasarkan metode Tanner yang menggambarkan maturasi tulang. Permberian skor terbatas pada tujuh gigi permanen (gigi insisivus 1 dan 2, kaninus, premolar 1 dan 2 dan molar 1 dan 2)  pertama kuadran kiri bawah dan dibandingkan dengan representasi grafis tahap  perkembangan. Setiap tahap perkembangan memiliki kriteria khusus dan satu, dua atau tiga kriteria tertulis. Jika hanya terdapat satu kriteria, harus dipenuhi untuk mencapai tahap tertentu; jika terdapat dua kriteria, maka dianggap terpenuhi jika yang  pertama telah ditemukan, jika terdapat tiga kriteria maka dua yang pertama harus ditemukan agar dianggap terpenuhi. Analisis statistik skor maturasi digunakan untuk masing-masing gigi dari tujuh gigi dari tiap-tiap tahap dari delapan tahap  perkembangan. Standar penghitungan anak laki-laki dan perempuan dipisah.8

Demirjian menggunakan penilaian gigi yang diubah kedalam skor dengan menggunakan tabel untuk anak laki-laki dan perempuan secara sendiri-sendiri. Semua skor untuk masing-masing gigi dijumlah dan skor maturasi dihitung. Skor maturasi kemudian dikonversi langsung ke dalam usia gigi dengan menggunakan tabel konversi. Metode ini dapat menentukan usia antara 3 sampai 16 tahun. Masalah yang sering menjadi kendala dari metode Demirjian adalah subjektifitas interpretasi gambaran rontgen dan penggunaannya di populasi berbeda.8

(31)

Gambar 7. Tahapan Demirjian (Gambaran Radiologi dan Sketsa)9

B. Metode Gustafson

Metode Gustafson merupakan metode penentuan usia berdasarkan perubahan makrostruktural gigi geligi. Skala nilai adalah nol, satu, dua, tiga. Gustafson membagi menjadi 6 tahapan yaitu derajat atrisi, jumlah dentin sekunder, posisi perlekatan gingiva, derajat resobpsi akar, transparansi dentin akar dan ketebal an sementum. Nilai masing-masing perubahan dijumlah (x) dan kemudian dihitung dengan rumus y : 3,52 x + 8,88. Sampel yang digunakan adalah gigi insisivus. Metode ini sering digunakan untuk penentuan usia individu dewasa dengan melihat perubahan struktur gigi.8,10

(32)

30

BAB IV

JURNAL PEMBANDING

(33)
(34)
(35)

III. PERBEDAAN JURNAL UTAMA DAN JURNAL PEMBANDING

No. Jurnal Pembanding Persamaan Perbedaan 1. Jurnal:

 Age estimation and dental maturity for Sudanese children using Demirjian’s  system2 Disetujui: Maret 2013 Lokasi: Sudan Topik Penelitian: Memperkirakan usia kronologis dan kematangan gigi menggunakan metode Demirjian Desain Penelitian: Penelitian cross-sectional Jumlah Sampel: 1153 anak-anak Darforian (353 anak perempuan dan 800 anak laki-laki)

Hasil Penelitian:

Hasil penelitian

menunjukkan hasil di bawah usia rata-rata anak-anak Darforian baik pria maupun wanita yang diteliti

menggunakan metode Demirjian dan dibutuhkan standar baru untuk populasi tersebut. Juga, faktor-faktor yang mungkin

mempengaruhi temuan ini harus diselidiki dalam studi selanjutnya. 2. Jurnal:  Dental Age  Assessment Using  Demirjian’s Method –   A Radiographic Study11 Disetujui: Topik Penelitian: Membandingkan usia kronologis dan usia gigi dengan menggunakan metode Demirjian

dari anak-anak Rumania Tengah

Jumlah Sampel:

285 anak Rumania Tengah dari usia 6-13 tahun.

Hasil Penelitian:

Usia gigi lebih maju dibandingkan usia

(36)

34

Lokasi:

Rumania Desain Penelitian:

Penelitian cross-sectional

keterbatasan untuk populasi Rumania. Standar ini hanya  berlaku untuk kelompok usia

tertentu. Penelitian lebih lanjut membutuhkan sampel yang lebih besar.

(37)

BAB V

KESIMPULAN

Perkiraan usia memiliki peran yang penting tidak hanya di bidang forensik, namun  juga pada bidang kedokteran gigi dan arkeologi. Dari sisi forensik, penentuan usia yang akurat diperlukan untuk kepentingan pengadilan, terutama apabila kasus yang dihadapi berkaitan dengan anak di bawah umur tanpa dokumen yang lengkap. Kasus semacam ini umumnya ditemukan pada kasus-kasus adopsi, pengungsi, dan imigran.

Untuk menentukan estimasi usia pada anak-anak, umumnya digunakan indikator  perkembangan gigi maupun erupsi gigi yang dianggap lebih akurat dibanding indikator kematangan tubuh lainnya seperti tulang, morfologi, maupun tanda perkembangan seksual. Penentuan perkiraan usia gigi yang tepat memang sebaiknya menggunakan lebih dari satu metode perkiraan usia gigi dan melakukan pengukuran serta kalkulasi berulang-ulang. Metode Demirjian, Nolla, dan Gustafson adalah metode penentuan usia melalui gigi yang sering digunakan, masing-masing memiliki keunggulan dan keterbatasan.

Keuntungan metode Demirjian adalah sistem tahapan yang terdiri dari hanya delapan tahapan perkembangan gigi dan mudah dimengerti karena diagram garis kriteria deskriptif yang jelas dan ilustrasi radiografi untuk setiap tahap perkembangan gigi. Bahkan, tahap Demirjian hanya membutuhkan pengukuran relatif. Namun, terdapat masalah yang sering menjadi kendala dari metode Demirjian yaitu subjektifitas interpretasi gambaran rontgen dan evaluasi yang selalu dilakukan pada tujuh gigi mandibula kiri. Hal ini menjadikan metode ini tidak dapat digunakan pada anak-anak yang giginya tidak lengkap serta pada gambaran radiologi yang tidak jelas. Metode ini akan memberikan penilaian yang lebih akurat jika menggunakan gigi yang baik dibandingkan menggunakan gigi yang sedang tumbuh.

Jurnal ini menerangkan bahwa tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada tingkatan Demirjian pada populasi yang berbeda dan memberikan kesimpulan akhir bahwa  penelitian ini dapat digunakan untuk menentukan usia pada anak-anak di India. Namun, kedua  jurnal pembanding memberikan dua kesimpulan berbeda, dimana yang satu menyimpulkan  bahwa usia yang didapatkan dari hasil penelitian berada di bawah usia rata-rata sementara yang lain menyimpulkan bahwa usia yang didapatkan dari hasil pemeriksaan gigi lebih maju

(38)

36

Meskipun demikian, Metode Demirjian tetap digunakan secara luas oleh dokter dan  praktisi forensik, terutama odontologi forensik di seluruh dunia untuk penentuan usia pada anak-anak dan tampaknya juga dapat digunakan di Indonesia sebagai sesama orang Asia seperti halnya India.

References

Related documents

Cooperative and Exercise) untuk melatihkan kemampuan berpikir kreatif siswa ini masih jauh dari kata sempurna terutama pada aspek pembagian waktu dalam proses

Halaman menu utama dari game berbasis pertualangan sebagai pendukung pembelajaran pengenalan kata Bahasa Inggris untuk anak usia dini, berupa tombol start, help,

3) Memotivasi anak untuk rajin belajar. Setiap orang tua ingin anaknya berprestasi terutama di bidang pendidikan. Namun untuk mencapai prestasi tersebut, tentunya anak harus

Untuk meningkatkan proses belajar mengajar dimasa mendatang maka penulis memberikan saran untuk meningkatkan minat belajar mengajar kepada anak usia dini,

Tujuan dari penelitia adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi zat gizi (energi, karbohidrat, protein, lemak dan kolesterol) pada anak usia 4-6 tahun dengan berat

Tujuan dari penelitian ini diketahui bahwa untuk mengetahui proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) bagan Manunggal melihat dari

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesehatan gigi dan mulut, lama merokok, jumlah rokok, waktu menggosok gigi, metode menggosok gigi dan

Pada waktu usia dini atau pada masa golden ege, rasa ingin tahu anak sangat tinggi, dengan pengembangan kreativitas melalui eksperimen anak bisa menemukan dan