TESIS
OLEH
RIFKY FEBRIHANUDDIN
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS LAMPUNG
MANAJEMEN RISIKO KEBIJAKAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
Oleh:
Rifky Febrihanuddin
Percepatan kebijakan pembangunan infrastruktur di Institut Teknologi Sumatera memiliki potensi risiko sehingga diperlukannya manajemen risiko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana manajemen risiko kebijakan pembangunan infrastruktur di Institut Teknologi Sumatera. Metode penelitian yang digunakan adalah eksplanatoris konkruen dengan pendekatan mixed
methods. Teknik pengumpulan data dengan memberikan kuesioner kepada 45
responden dan melakukan wawancara kepada 6 informan. Hasil penelitian ini risiko signifikan berdasarkan aspek technical feasibility yaitu sebuah kebijakan dapat berjalan jika pegawai dapat memahami kebijakan yang sudah disahkan sebesar 56.6% artinya risiko sedang, pimpinan beserta pegawai memiliki banyak metode dalam implementasi kebijakan sebesar 65.5% artinya risiko tinggi, institusi mendapat dukungan dari pihak masyarakat dan civil society sebesar 53.5% artinya risiko sedang. Risiko signifikan berdasarkan aspek political
viability yaitu sebuah kebijakan dapat berjalan jika pegawai dapat memahami
kebijakan yang sudah disahkan sebesar 49.4% artinya risiko sedang, pimpinan beserta pegawai memiliki banyak metode dalam implementasi kebijakan sebesar 46.6% artinya risiko sedang, perselisihan antara institusi dengan kontraktor sebesar 62.7% artinya risiko tinggi, institusi mendapat dukungan dari pihak masyarakat dan civil society sebesar 59.4% artinya risiko sedang. Risiko dapat dimitigasi dengan melakukan sosialisasi, koordinasi dan komunikasi antar pihak.
RISK MANAGEMENT OF INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT POLICY AT THE SUMATRA INSTITUTE OF TECHNOLOGY
By:
Rifky Febrihanuddin
The acceleration of infrastructure development policy at the Sumatra Institute of Technology has the potential for risk so that the need for risk management. The purpose of this study is to find out how the risk management of infrastructure development policies at the Sumatra Institute of Technology. The research method used is concurrent explanatory with mixed methods approach. Data collection techniques gived questionnaires to 45 respondents and conducted interviews with 6 informants. The results of this research are significant risks based on technical feasibility aspects, namely a policy can run if staff can understand the policies that have been passed by 56.6% means medium risk, leaders and employees have many methods in implementing policies of 65.5% meaning high risk, institutions get support from 53.5% of the community and civil society means moderate risk. Significant risk based on political viability is a policy that can run if employees can understand the policy that has been approved by 49.4% means that the risk is moderate, leaders and employees have many methods in implementing the policy of 46.6% means that the risk is moderate, the dispute between the institution and the contractor is 62.7% meaning high risk, the institution has the support of the community and civil society by 59.4% means medium risk. Risks can be mitigation by conducting socialization, coordination and communication between parties.
Oleh
RIFKY FEBRIHANUDDIN
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar MAGISTER SAINS
pada
Magister Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS LAMPUNG
Bismillahirahmanirrahiim
Alhamduillahirabbil’alamiintelah Engkau Ridhai Ya Allah langkah hambaMu, Sehingga Tesis ini pada akhirnya dapat diselesaikan tepat waktu
Teriring Shalawat Serta Salam Kepada Nabi Muhammad SAW Semoga Kelak Tesis ini dapat Memberikan Ilmu yang Bermanfaat
dan
Ku Persembahkan Karya Sederhana Ini Kepada
Ayahanda dan Ibunda sebagai tanda bakti, hormat dan cintaku. Terima kasih atas doa dan restu yang telah kalian berikan.
Terimakasih untuk saudara-saudara seperjuangan di Magister Ilmu Administrasi, semoga amal kebaikan yang telah dilakukan mendapat balasan dari Allah SWT.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S Al Baqarah: 216)
Iqra (bacalah) dengan Menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan Manusia dari Segumpal Darah. Iqra (bacalah), dan
Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, Sang Mengajar (manusia) dengan Perantaraan Kalam.
Dia Mengajarkan Kepada Manusia Apa yang Tidak Diketahuinya. (QS. Al Alaq Ayat 1-5)
Hidup Jangan Pernah untuk Menunda-nunda Pekerjaan, dan Terlebih Lagi Bila Pekerjaan Tersebut Baik Maka Segera Kerjakan.
Segala puji hanyalah bagi Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya, sehingga
penulis dapat menyusun tesis yang berjudul “Manajemen Risiko Kebijakan Pembangunan Infrastruktur di Institut Teknologi Sumatera” sebagai salah
satu syarat untuk mencapai gelar Magister Sains (M.Si). Penulis menyadari bahwa
tesis ini masih jauh dari sempurna sebagai akibat dari keterbatasan yang ada pada
diri penulis.
Pada kesempatan ini, penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah banyak membantu dalam penyusunan tesis ini antara lain, yaitu:
1. Bapak Dr. Bambang Utoyo S, M.Si. selaku Ketua Program Studi Magister
Ilmu Administrasi Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Noverman Duadji, M.Si. selaku Pembimbing Pertama yang
telah membimbing dan memberikan saran demi terciptanya tesis ini.
Terima kasih atas semangat dan motivasi sehingga penulis mampu
menyelesaikan penyusunan tesis ini.
3. Bapak Dr. Suripto, M.A.B. selaku Pembimbing Kedua yang telah
membimbing dan memberikan saran demi terciptanya tesis ini. Terima
kasih atas waktu yang diberikan selama ini sehingga penulis mampu
menyelesaikan penulisan tesis ini.
5. Seluruh Dosen dan Tendik Magister Ilmu Administrasi, terima kasih atas
ilmu dan waktu yang telah diberikan kepada penulis selama di perkuliahan
berlangsung.
6. Angkatan 2018 Publik dan Bisnis terima kasih untuk waktu dan
kebersamaan yang pernah mengisi keseharian penulis, semoga silaturahmi
kita akan terus tetap terjaga.
Semoga Allah SWT membalas amal baik kita semua dan semoga tesis ini
dapat bermanfaat.
Bandar Lampung, 14 Februari 2020
Halaman
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL ...iv
DAFTAR GAMBAR...v
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah ...10
C. Tujuan Penelitian ...10
D. Manfaat Penelitian ...10
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Dinamika Kebijakan Publik ...12
1. Kebijakan Publik...13
2. Tahap-tahap Kebijakan Publik...14
B. Pelaksanaan Manajemen Risiko...18
1. Proses Manajemen Risiko ...18
2. Prinsip Pencegahan Risiko...21
3. Strategi Manajemen Risiko ...22
4. Pemetaan Risiko...22
C. Percepatan Pembangunan Infrastruktur ...23
D. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008...24
E. Kerangka Pikir Penelitian ...25
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ...27
B. Definisi Konseptual...28
C. Definisi Operasional...29
D. Lokasi dan Waktu Penelitian ...31
E. Metode Pengukuran Manajemen Risiko ...31
F. Informan ...33
G. Jenis Data ...34
H. Populasi dan Sampel ...34
1. Populasi ...34
2. Teknik Sampling ...35
3. Sampel...35
I. Teknik Pengumpulan Data...36
2. Kuesioner ...40
J. Teknik Analisis Data Kuantitatif ...42
1. Editing ...42
2. Koding...43
3. Tabulasi ...43
4. Interpretasi...43
K. Teknik Analisis Kualitatif ...44
1. Reduksi Data ...44
2. Penyajian Data ...45
3. Verifikasi Data ...45
L. Teknik Keabsahan Data ...46
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Rencana Strategis Institut Teknologi Sumatera ...48
B. Visi dan Misi Institut Teknologi Sumatera ...53
C. Struktur Organisasi Institut Teknologi Sumatera...55
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...58
1. Identifikasi Risiko ...58
2. Analisis Risiko ...63
B. Pembahasan Penelitian...139
1. Faktor Risiko...139
2. Respon Risiko ...161
VI. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ...163
B. Saran...164
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Pikir ... 26
2. Peta Risiko ... 29
3. Matriks Probabilitas dan Dampak... 32
4. Fasilitas Gedung... 53
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Jumlah Mahasiswa ITERA Tahun Akademik 2019/2020 ... 5
2. Jumlah Gedung ... 6
3. Kuadran Risiko ... 23
4. Definisi Operasional Variabel... 30
5. Informan Penelitian... 34
6. Rincian Populasi ... 35
7. Uji Validitas ... 40
8. Uji Realiabilitas ... 42
9. Jumlah Pegawai ... 55
10. Triangulasi Data Penelitian ... 57
11. Probabilitas berdasarkan Indikator Technical Feasibility... 59
12. Probabilitas berdasarkan Indikator Economic and Financial Possibility 60 13. Probabilitas berdasarkan Indikator Political Viability ... 61
14. Probabilitas berdasarkan Indikator Administrative Operability... 62
15. Probabilitas ... 94
16. Penilaian Dampak Risiko terhadap Aspek Technical Feasibility……..113
17. Penilaian Dampak Risiko terhadap Aspek Political Viability ...132
18. Probabilitas x Impact terhadap Aspek Technical Feasibility ...134
19. Probabilitas x Impact terhadap Aspek Political Viability...136
20. Risiko yang Signifikan terhadap Aspek Technical Feasibility...138
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan hingga hari ini menjadi sesuatu hal yang sangat menarik
untuk diperdebatkan. Pembangunan sebagai suatu upaya yang
terkoordinasi untuk menciptakan alternatif yang lebih banyak kepada
setiap warga negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang
paling manusiawi. Dapat diartikan secara singkat bahwa pembangunan
hendaknya berorientasi kepada keberagaman dalam seluruh aspek
kehidupan di masyarakat. Mekanismenya menuntut kepada terciptanya
kelembagaan hukum yang terpercaya sehingga mampu berperan secara
adil. Pembangunan juga berorientasi kepada pemecahan sebuah masalah
pembinaan nilai moral dan etika.
Pembangunan dimulai dari proses perubahan di strata sosial masyarakat
yang besar dan secara menerus. Perubahan strata sosial dimulai dari proses
ingin berubah lebih maju atau dapat dimulai dari proses kemandirian.
Masyarakat secara pribadi yang harus berani mengambil sebuah keputusan
di dalam pembangunan. Terutama mendapatkan bantuan dari pihak
terpercaya dalam menyelenggarakan pembangunan yang berada di
masyarakat, mereka yang memiliki kemampuan layak untuk mengambil
langsung seseorang atau masyarakat. Pembangunan yang terdapat di
masyarakat harus direncanakan secara detil.
Peran serta masyarakat pada proses pembangunan akan menciptakan suatu
perubahan sosial yang berkembang secara dinamis. Faktor dominan di
dalam masyarakat harus diperhitungkan secara bertanggung jawab. Jika
dievaluasi secara keseluruhan yang berkaitan dengan proses pembangunan
dapat disimpulkan karena kekuatan pembaharuan dalam masyarakat hari
ini masih lemah, hal ini dapat terjadi karena tingkatan pendidikan di
masyarakat masih kurang merata. Persebaran akses masyarakat terhadap
pendidikan yang tinggi masih sangat rentang. Selanjutnya seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan saintek dan ilmu sosial, para ahli
dibidang pembangunan terus berupaya untuk menggali metode
pembangunan secara ilmiah.
Secara sederhana pembangunan sering diartikan sebagai salah satu upaya
untuk menuju ke arah perubahan yang lebih baik, karena perubahan yang
dimaksud adalah menuju arah peningkatan dari keadaan semula, tidak
jarang pula ada yang mengartikan bahwa pembangunan juga merupakan
pertumbuhan. Seiring dengan perkembangannya hingga saat ini masih
belum ditemukan adanya suatu kesepakatan yang dapat menolak asumsi
tersebut, sebaiknya keduanya dapat dibedakan tanpa harus dipisahkan
Pembangunan sebagai suatu perubahan untuk mewujudkan suatu kondisi
kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi
sekarang, sedangkan pembangunan sebagai suatu pertumbuhan
menunjukkan kemampuan suatu kelompok untuk terus berkembang, baik
secara kualitatif maupun kuantitatif yang merupakan sesuatu yang harus
terjadi dalam pembangunan, hal ini dapat dikatakan bahwa pada dasarnya
pembangunan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, dalam artian
bahwa pembangunan akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan
pertumbuhan akan terjadi sebagai dampak adanya pembangunan.
Pertumbuhan dapat berupa pengembangan yang dilakukan oleh suatu
komunitas tertentu di masyarakat. Masyarakat sebagai orang yang
menempati suatu wilayah dan merupakan aset pembangunan dapat disebut
sebagai Sumber Daya Manusia (SDM). Pertumbuhan penduduk yang pesat
menyebabkan tingkat kepadatan penduduk menjadi tinggi. Sehubungan
dengan jumlah pertumbuhan penduduk yang tinggi maka hal inilah yang
menjadi masalah pada kehidupan manusia seperti kepadatan penduduk.
Kepadatan penduduk menyebabkan muncul beberapa dampak. Salah
satunya yaitu peningkatan kebutuhan pemerataan akses di bidang
pendidikan. Masalah inilah yang disiasati oleh pemerintah untuk terus
berupaya membangun pendidikan khususnya penyebaran pendidikan
tinggi yang merata di seluruh Indonesia. Pendidikan tinggi yang awal
akan memfokuskan pembangunan pendidikan tinggi di luar Pulau Jawa
salah satunya adalah Sumatera.
Selama puluhan tahun, di Indonesia hanya ada dua institut teknologi, yaitu
Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi 10 November
Surabaya (ITS). Di sisi lain, pertumbuhan industri di Indonesia terkait
dengan ketersediaan sumberdaya alam tumbuh dengan cepat di luar Pulau
Jawa, yang mana pertumbuhan industri ini memerlukan dukungan institut
teknologi. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tmenetapkan
pembentukan dua institut teknologi, yaitu Institut Teknologi Sumatera
(ITERA) dan Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Institut Teknologi Sumatera memiliki lahan sangat luas yaitu sekitar 275
hektar dalam satu kesatuan kepemilikan oleh Kementerian Riset Teknologi
dan Pendidikan Tinggi yang berstatus clean and clear. Ketersediaan lahan
yang siap bangun dan sangat luas tersebut ditargetkan mampu menampung
sebanyak 64.000 mahasiswa untuk 20 tahun yang akan datang. Rencana
pembangunan Pusat Riset Unggulan (PRU) akan menjadi andalan Institut
Teknologi Sumatera dalam melaksanakan dan mengembangkan kegiatan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Spesifikasi PRU ditetapkan
berdasarkan pada potensi dan isu strategis Pulau Sumatera.
Terdapat 3 (tiga) pusat riset unggulan Institut Teknologi Sumatera yang
akan dikembangkan adalah renewable energy research center, green
research center. Pembangunan Institut Teknologi Sumatera juga dikaitkan
dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI). Dokumen tersebut menyebutkan bahwa salah satu
prinsip dasar bagi keberhasilan pembangunan adalah produktivitas,
inovasi, dan kreatifitas didorong oleh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
dan ini dipandang sebagai salah satu pilar perubahan.
Melihat dari proses sejarah pendirian Institut Teknologi Sumatera di atas,
maka Institut Teknologi Sumatera diharapkan menjadi institusi pendidikan
tinggi yang strategis siap mengemban misi nasional untuk memenuhi
kebutuhan sumber daya insinyur di Indonesia. Institut Teknologi Sumatera
merupakan pusat pendidikan yang dapat meningkatkan daya saing Pulau
Sumatera melalui pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia, khususnya
insinyur teknik yang unggul berdasarkan kebutuhan pengembangan di
Sumatera. Saat ini jumlah mahasiswa Institut Teknologi Sumatera terus
meningkat berikut adalah data sebaran mahasiswa berdasarkan fakultas
[image:21.595.149.505.561.683.2]adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah Mahasiswa ITERA Tahun Akademik 2019/2020
No Fakultas Jumlah Mahasiswa
1 Sains 1484
2 Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan 3388
3 Teknologi Produksi, Industri dan Informasi 4175
Total Mahasiswa 9047
Berdasarkan jumlah sebaran mahasiswa yang seiring waktu bertambah
maka Institut Teknologi Sumatera butuh memerlukan fasilitas sarana
prasarana yang cukup serta layak baik itu gedung pusat administrasi,
gedung kelas, gedung laboratorium, asrama, wisma dan kantin. Berikut
[image:22.595.144.493.254.613.2]adalah jumlah sarana prasarana gedung di Institut Teknologi Sumatera:
Tabel 2. Jumlah Gedung
No Gedung Sumber Dana
1 Gedung A DIPA ITB
2 Gedung B DIPA ITB
3 Gedung C Kemenristekdikti
4 Gedung D Kemenristekdikti
5 Gedung E APBD Kota Bandar Lampung
6 Gedung F APBD Kota Bandar Lampung
7 Gedung Kuliah Umum 1 SBSN
8 Labtek 1 SBSN
9 Labtek 2 PT. Waskita Karya (Persero)
10 Labtek 3 PT. Hutama Karya (Persero)
11 Asrama 1 dan 2 Kemenristekdikti
12 Asrama 3 dan 4 Kementerian PUPR
13 Asrama 5 dan 6 PT. Wijaya Karya (Persero)
14 Wisma Kementerian PUPR
Sumber: Diolah Peneliti 2019
Institut Teknologi Sumatera memiliki beberapa potensi besar dalam
pembangunannya, salah satunya adalah ITERA merupakan satu-satunya
institut teknologi yang berstatus negeri di Sumatera, dan masuk ke dalam
yang unggul, berkualitas, menguasai IPTEK, disamping memiliki karakter
kewirausahaan yang baik merupakan suatu komponen yang sangat
penting. Untuk menuju SDM yang kompetitif, unggul dan berkualitas
adalah dengan melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas
pendidikan dan kesehatan (http//kemenkeu.go.id diakses pada 10
September 2019). Oleh karena itu, pentingnya sebuah proyeksi untuk
memanajemen risiko segala hal yang akan terjadi dalam proses
pembangunan di Institut Teknologi Sumatera.
Terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan
peneliti lakukan, pada penelitian terdahulu untuk lebih jelasnya akan
peneliti sajikan dalam bentuk narasi sebagai berikut: Penelitian oleh
Romanescu Marcel Laurentiu (2016) yang berjudul The Analysis of Risk
Management Process Within Management menyimpulkan bahwa analisis
risiko dalam manajemen secara praktis mengintegrasikan manajemen
risiko dalam proses terkemuka yang ada. Selanjutnya, dicontohkan cara
mengelola risiko secara efektif, yang memberikan banyak keuntungan bagi
instansi, termasuk meningkatkan proses pengambilan keputusan.
Selanjutnya penelitian oleh Eka Sari Dewi (2011) yang berjudul Analisa
Risiko Pada Pelaksanaan Proyek Pembangunan Box Culvert di Surabaya
menyimpulkan bahwa Ditemukan empat macam risiko yang signifikan
terhadap biaya yaitu banjir, kesalahan estimasi biaya, kemacetan, dan
kesalahan menentukan elevasi dan sepuluh risiko yang signifikan terhadap
menentu, kesalahan estimasi biaya, kesalahan estimasi waktu, rendahnya
kualitas pengawasan, kekurangan tempat penimbunan material,
kemacetan, kebanjiran yang terjadi di sekitar proyek, kesalahan dalam
menentukan elevasi.
Selanjutnya penelitian oleh Rahul Dandage dkk (2018) yang berjudul
Strategy Development for International Project Risk Management Based on Prioritization of Risk Categories yang menyimpulkan proyek
internasional biasanya mengalami kegagalan karena berbagai faktor
ditingkat global. Terutama, proyek-proyek besar ditingkat internasional
hampir tidak memiliki peluang untuk memenuhi ruang lingkup, waktu,
biaya dan kualitas. Manajemen risiko yang efektif memainkan peran
penting dalam mencegah proyek dari kegagalan dengan menerapkan
strategi respon risiko yang tepat. Keberhasilan manajemen risiko akan
didasarkan pada pemahaman berbagai kategori risiko yang secara khusus
mempengaruhi proyek internasional.
Selain itu terdapat penelitian oleh Lazuardi Gagah Mulyarko (2015) yang
berjudul Pengaruh Risiko Pada Kontrak Kerja Konstruksi Terhadap Biaya
Pekerjaan Jalan Tol Bogor Ring Road II yang menyimpulkan ada 4
variabel risiko yang signifikan yaitu Kontraktor mendapatkan informasi
yang jelas mengenai kondisi lapangan pada saat kunjungan lapangan,
Metode pengukuran kuantitas pekerjaan dijelaskan secara jelas dan
lengkap didalam spesifikasi, Kuantitas pekerjaan yang terdapat dalam
Selanjutnya penelitian dari Young H. Park (2010) yang berjudul A Study of
Risk Management and Performance Measures on New Product Development yang menyimpulkan bahwa untuk menganalisis proses
manajemen mempertimbangkan risiko dan kinerja dalam mengembangkan
produk baru. Selain itu, membahas risiko dan proses manajemen kinerja
selama periode pengembangan produk. Beberapa metode untuk
manajemen risiko dan ukuran kinerja yang efektif dilaporkan. Manajemen
risiko dan kinerja penting untuk tingkat dampak kinerja.
Selanjutnya penelitian dari Yan, Y. dan Nettayanun, S. 2019. Strategic
Risk Management in the Chinese Property and Casualty Insurance Industry yang menyimpulkan secara kuat menyelidiki manajemen risiko
strategis secara terpisah oleh krisis keuangan. Struktur modal
menunjukkan hubungan negatif yang signifikan dengan tingkat likuiditas
nilai. Kelompok kepentingan memiliki hubungan negatif dengan
pembelian reasuransi. Aset menunjukkan hubungan negatif dengan tingkat
lindung nilai. Tingkat likuiditas nilai memiliki hubungan negatif dengan
tingkat likuiditas nilai individu. Penanggung memiliki lebih sedikit
insentif untuk melakukan lindung nilai karena menyediakan lebih sedikit
sumber daya.
Berdasarkan narasi penelitian diatas maka perbedaan penelitian terdahulu
dengan penelitian yang akan peneliti kaji adalah terdapat perbedaan
perbandingan fokus analisa dan metodennya. Peneliti menggunakan
sederhana. Selain itu untuk menganalisa suatu penelitian peneliti saat ini
mengkombinasikan konsep risiko dari Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun 2008 tentang Sistem Pengawasan Intern Pemerintah (identifikasi
risiko, analisis risiko dan respon risiko) serta konsep kebijakan dari
Eugene Bardach yakni (technical feasibility, economic and financial
possibility, political viability dan administrative operability).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka yang akan menjadi
permasalahan yang diangkat adalah;
1. Bagaimana manajemen risiko kebijakan pembangunan infrastruktur di
Institut Teknologi Sumatera ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka penelitian
ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana manajemen risiko kebijakan
pembangunan infrastruktur di Institut Teknologi Sumatera
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka manfaat penelitian ini adalah
1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi khususnya
mengenai faktor-faktor risiko yang muncul pada pembangunan
infrastruktur di Institut Teknologi Sumatera.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman untuk
menilai risiko yang terjadi dan juga dapat menjadi referensi untuk
A. Dinamika Kebijakan Publik
Memahami dinamika kebijakan publik berarti memahami segala bentuk
proses hingga pelaksanaan perubahannya. Fokus tersebut terletak pada
perumusan kebijakan dan proses implementasi kebijakan, tidak semua
sistem itu berjalan dinamis, akan tetapi dinamika-lah yang dapat terjadi
dan mempengaruhi suatu sistem. Berkaitan dengan dinamika, terdapat
sistem yang terbuka dan sistem yang tertutup. Sistem yang tertutup yakni
sistem yang responsif terhadap perubahan yang diawali dari dalam sistem
tersebut.
Sistem yang terbuka merupakan sistem yang tidak hanya reponsif dari
dalam, tetapi juga dari lingkungan di sekitarnya. Struktur suatu sistem
terdiri atas konstituennya, peraturan yang mengatur masukan tertentu ke
dalam sistem, dan informasi yang dibutuhkan sistem untuk menerapkan
peraturan. Penyelenggaraan sistem menciptakan feedback yang mengubah
struktur pada sistem tersebut. Kebijakan sebagai pernyataan kehendak atas
pilihan alternatif yang dikehendaki untuk dilakukan dan yang dibangun
atas dasar pengaturan kehendak, kemudian aktualisasinya dirumuskan
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa dinamika kebijakan
publik berhubungan dengan bidang-bidang yang didesain sebagai bidang
publik yakni ruang atau domain, serta yang berbeda dengan daftar yang
dapat dinamakan sebagai bidang privat. Ide kebijakan publik mengandung
anggapan bahwa ada suatu ruang atau domain dalam kehidupan yang
bukan privat atau murni milik individual, tetapi milik bersama atau umum
(Parsons, 2014:3).
1. Kebijakan Publik
Kebijakan (policy) umumnya dipahami sebagai keputusan yang
diambil untuk menangani hal-hal tertentu. Namun kebijakan bukanlah
sekedar suatu keputusan yang ditetapkan. (Rose dalam Hamdi,
2014:36). Kebijakan publik dipahami sebagai akibat dari apa yang
ditimbulkan oleh masyarakat, sehingga kebijakan publik itu
merupakan kumpulan dari gagasan masyarakat yang memberikan
bentuk ruang publik yang sangat erat hubungannya dengan aktor
masyarakat yang mempengaruhi dan menginformasikannya (Dinham,
2009:50). Kebijakan publik pada akhirnya menyangkut pencapaian
tujuan publik. Artinya, kebijakan publik adalah seperangkat tindakan
pemerintah yang didesain untuk mencapai hasil-hasil tertentu yang
diharapkan oleh publik sebagai konsistuen pemerintah. (Suharto,
2008:5).
Dalam pemaknaannya yang mengkaitkan dengan keputusan pemerintah
(Young dan Quinn dalam Suharto, 2008:43). Pelaksanaan kebijakan
publik di Indonesia pada saat ini melibatkan banyak ahli kebijakan
hanya berkenaan dengan birokrasi dan administrasi publik. Kebijakan
tidak hanya melibatkan keputusan untuk memenuhi beberapa masalah
tertentu, tetapi juga meliputi keputusan yang berkenaan dengan
penyelenggaraan dan impelmentasinya.
Secara konsep teoritis kebijakan publik merupakan serangkaian
keputusan yang diambil oleh pemerintah dan tindakan yang
dilaksanakan atau tidak dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan
masalah yang terjadi ranah publik.
2. Tahap-tahap Kebijakan Publik
Proses pembuatan kebijakan publik selalu diawali oleh serangkaian
kegiatan yang saling bertautan dan berhubungan antara satu dengan
yang lain. Proses tersebut terdiri dari kegiatan penyusunan agenda
kebijakan, adopsi kebijakan implementasi dan evaluasi atau penilaian
sebuah kegiatan kebijakan publik (Dunn dalam Madani, 2011:21).
Tahap-tahapan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:
a. Tahap Penyusunan Agenda
Kebijakan publik merupakan produk pemerintah untuk mengatasi
segala problema yang terjadi di kehidupan masyarakat, oleh
karenanya dalam membuat suatu kebijakan pemerintah tidak
pemaknaannya kebijakan harus direncanakan agar sebuah
kebijakan tersebut tidak merugikan banyak masalah. Dalam bahasa
kebijakan tahap proses penetapan biasa disebut dengan agenda
setting.
“Agenda setting adalah proses dimana persaingan kelompok
elit untuk mengatur agenda sebuah masalah dan untuk mencari solusi alternatif. Perselisihan antar elit dapat terjadi jika tidak adanya masyarakat atau lembaga politik yang memiliki kapasitas untuk mengatasi semua agenda tersebut yang dapat menimbulkan masalah” (Hilgartner dan Bosk dalam Fischer, 2007:63).
b. Tahap Formulasi Kebijakan
Formulasi kebijakan adalah obyek eksplisit penyelidikan dalam
studi desain kebijakan dan perangkat kebijakan, namun juga
memperhatikan formulasi kebijakan yang tertanam dalam pekerjaan
subsistem, koalisi advokasi, jaringan dan kebijakan masyarakat
(Fischer, 2007:80). Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan
kemudian dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah
tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah
terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif
yang ada.
Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk ke
dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan
masing-masing alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai
c. Tahap Penetapan Kebijakan
Penetapan kebijakan pada dasarnya adalah pengambilan keputusan
terhadap alternatif kebijakan yang tersedia. Penetapan kebijakan
(policy legitimation) merupakan mobilisasi dari dukungan politik
dan penegasan (enactment) kebijakan secara formal termasuk
justifikasi untuk tindakan kebijakan (Kraft dan Furlong dalam
Hamdi, 2014:94). Oleh karena itu sering kali terlihat setiap ada
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pasti pemerintah tidak
serta merta menetapkan dan mengesahkan kebijakan secara
individu melainkan butuh dukungan legitimasi dari setiap elemen
seperti akademisi, civil society dan elit politik.
d. Tahap Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan publik secara konvensional dilakukan oleh
negara melalui badan-badan pemerintah yang memang memiliki
kewenangan dalam melaksanakannya. Implementasi kebijakan
pubilik merupakan upaya pemerintah untuk melaksanakan salah
satu tugas pokoknya, yakni memberikan pelayanan publik
(Suharno, 2013:138). Namun, pada kenyataannya implementasi
kebijakan publik yang beraneka ragam, baik dalam hal bidang,
sasaran dan bahkan kepentingan memaksa pemerintah
menggunakan wewenang dikresi untuk menentukan apa yang
Oleh karena itu program kebijakan yang telah diambil sebagai
alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yakni
dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun
lembaga-lembaga pemerintah di tingkat bawah. Kebijakan yang telah
diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang
memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia.
e. Tahap Penilaian Kebijakan
Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau
dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah
mampu memecahkan masalah, kebijakan publik pada dasarnya
dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan. Dalam hal ini,
memperbaiki masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu,
ditentukanlah ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang menjadi
dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meraih dampak
yang diinginkan.
Menilai suatu kebijakan publik diperlukan adanya suatu kriteria
untuk mengukur keberhasilan program atau kebijakan publik
tersebut. Mengenai kinerja kebijakan dalam menghasilkan
informasi terdapat kriteria penilaian kebijakan menurut Eugene
Bardach yakni technical feasibility, economic and financial
B. Pelaksanaan Manajemen Risiko
Risiko merupakan suatu ketidakpastian yang dapat terukur dan dapat
diperhitungkan. Manajemen risiko dalam kebijakan publik berkenaan
dengan tiga hal. Pertama, mengenali risiko kebijakan. Kedua, menilai
seberapa besar risiko tersebut dapat ditoleransi sehingga kebijakan tidak
gagal. Ketiga, mengembangkan manajemen untuk mengatasi risiko
tersebut yang akan muncul baik pada saat perumusan, implementasi,
maupun evaluasi. Kebijakan publik sangat erat berkait dengan manajemen
risiko, sehingga setiap pembuatan kebijakan publik harus memasukkan
proses analisis dengan tujuan menilai risiko yang akan terjadi jika
kebijakan tersebut ditetapkan kemudia dilaksanakan
Manajemen risiko merupakan pendekatan sistematis untuk menemukan
risiko yang potensial sehingga dapat mengurangi kasus diluar dugaan.
Manajemen risiko harus dilakukan preventif dengan didukung informasi
yang akurat. Prosesnya merupakan tindakan preventif dimana kondisi
usaha sesungguhnya dapat menjadi jelas sebelum terlambat dan dapat
terhindar dari kegagalan yang lebih besar (Kerzner, 2001:224).
1. Proses Manajemen Risiko
Manajemen Risiko terlibat secara efektif dalam menghadapi
ketidakpastian dengan risiko dan peluang yang berhubungan dan
Proses manajemen risiko dapat dibagi ke dalam 8 (delapan) komponen
COSO Enterprise Risk Management, adalah sebagai berikut:
a. Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan komponen instansi Pemerintah
berada dan beroperasi. Cakupannya adalah kultur manajemen
risiko, integritas, perspektif terhadap risiko, penerimaan terhadap
risiko, nilai moral, struktur dan pendelegasian wewenang (Moeller,
2011:56).
b. Penentuan Tujuan
Manajemen harus menentukan objektif dari organisasi agar dapat
mengidentifikasi mengakses dan mengelola risiko. Objektif dapat
diklasifikasikan menjadi strategic objective di instansi Pemerintah
berhubungan dengan pencapaian dan peningkatan kinerja instansi
dalam jangka menengah dan panjang (Moeller, 2011:62).
c. Identifikasi Risiko
Mengidentifikasi kejadian yang berpotensial baik di lingkungan
internal maupun ekternal organisasi yang mempengaruhi strategi
atau pencapaian tujuan dari organisasi. Terdapat 4 model
identifikasi risiko yaitu expoure analysis, environtmental analysis,
d. Penilaian Risiko
Sejauh mana dampak kejadian yang dapat mengganggu pencapaian
dari objektif. Penilaian risiko dapat menggunakan dua teknik,
yaitu: qualitative techniques menggunakan self-assessment questionnaires dan internal audit reviews (Moeller, 2011:71).
e. Sikap atas Risiko
Organisasi harus menentukan sikap atas hasil penilaian risiko yang
meliputi; Avoidance, yaitu dihentikannya aktivitas atau pelayanan
yang menyebabkan risiko. Reduction, yaitu mengambil
langkah-langkah mengurangi dampak dari risiko. Sharing, yaitu
mengalihkan atau menanggung bersama risiko dengan pihak lain.
Acceptance, yaitu menerima risiko yang terjadi dan tidak ada upaya
khusus yang dilakukan (Moeller, 2011:74).
f. Aktifitas-aktifitas Pengendalian
Penyusunan kebijakan dan prosedur untuk menjamin respon risiko
terlaksana dengan efektif. Aktifitas pengendalian memerlukan
lingkungan pengendalian yang meliputi; integritas dan nilai etika,
kompetensi, kebijakan dan praktik-praktik SDM, budaya
organisasi, filosofi dan gaya kepemimpinan manajemen, struktur
organisasis serta wewenang dan tanggung jawab (Moeller,
g. Informasi dan Komunikasi
Fokus dari komponen ini adalah menyampaikan informasi yang
relevan kepada pihak terkait melalui media komunikasi yang
sesuai. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyampaian
informasi dan komunikasi adalah kualitas informasi, arah
komunikasi dan alat komunikasi (Moeller, 2011:81).
h. Monitoring
Monitoring dapat dilaksanakan baik secara terus menerus maupun
terpisah. Aktifitas monitoring ongoing tercermin pada aktifitas
supervisi, rekonsiliasi dan aktifitas rutin lainnya (Moeller,
2011:84).
2. Prinsip Pencegahan Risiko
Teknik dalam prinsip pencegahan risiko sejatinya terdapat dalam
konsep analisis kebijakan yang dapat dikemukakan sebagai berikut:
3. Strategi Manajemen Risiko
Manajemen risiko dalam kebijakan publik untuk mengantisipasi dan
mengatasi risiko yang akan muncul baik pada saat perumusan,
implementasi maupun evaluasi. Strategi manajemen ini termasuk
strategi untuk melakukan distribusi sumber daya kebijakan, terdapat
dua model dalam strategi manajemen risiko adalah sebagai berikut:
a. Regulatory Impact Assessment
RIA berperan memastikan secara sistematis dalam menentukan pilihan kebijakan yang paling efisien dan efektif. RIA dapat memberikan alasan perlunya intervensi pemerintah memberikan alasan bahwa regulasi adalah alternatif yang terbaik, memberikan alasan bahwa regulasi memberikan manfaat yang lebih besar dari biayanya. Review regulasi bertujuan menilai efektifitas kebijakan, memastikan bahwa perumusan kebijakan telah mempertimbangkan semua alternatif tindakan, meneliti berbagai manfaat dan biaya dan menilai secara strategis implementasinya (Nugroho,2017:625).
b. Cost Benefit Analysis
CBA atau anlisis biaya dan manfaat mengedepankan pemahaman bahwa setiap keputusan harus didasarkan kepada analisis apakah menghasilkan manfaat lebih banyak daripada biaya yang dikeluarkan. metode ini mengedepankan dalam kebijakan publik karena apapun kebijakannya. Cost Benefit Analysis lebih banyak digunakan untuk kepentingan proyek, terutama proyek infrastruktur (Nugroho,2017:625).
4. Pemetaan Risiko
Konsep pemetaan risiko merupakan kemampuan melihat sumber
risiko berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal yang dibagi
Tabel 3. Tabel Kuadran Risiko
Pada gambar diatas menunjukan bahwa Kuadran I harus mendapatkan
perhatian serius agar meminimalkan probabilitas dan dampak yang
akan terjadi. Kuadran II membutuhkan rencana teruji untuk menjawab
situasi risiko yang terjadi. Kuadran III memerlukan pengawasan intern
untuk menjaga tingkat probabilitas dan dampak terjadinya risiko.
Kuadran IV membutuhkan informasi teratur terhadap risiko yang
terjadi.
C. Percepatan Pembangunan Infrastruktur
Pada hakikatnya sebuah percepatan pembangunan secara umum adalah
proses perubahan yang terus menerus untuk menuju keadaan yang lebih
baik sesuai dengan norma-norma tertentu. Mengenai pengertian
pembangunan, para ahli memberikan definisi yang bermacam–macam seperti halnya perencanaan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan
berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan
daerah lainnya, Negara satu dengan Negara lain. Pembangunan itu sendiri
menyeluruh baik berupa pertumbuhan ekonomi maupun perubahan sosial
demi terwujdnya masyarakat yang lebih makmur.
Pembangunan menurut Soekanto (2006:382), disamping memiliki
tujuan-tujuan yang diinginkan tidak mustahil pembangunan mengakibatkan
terjadinya dampak pada sub sistem kemasyarakatan. Dampak tersebut
akan timbul apabila terjadi gejala-gejala, antara lain :
a. Perubahan yang cepat;
b. Perubahan sosial, ekonomi dan politik yang simultan;
c. Pencarian faktor kesalahan karena ketidakmampuan membawa perubahan yang cepat.
Dalam pengertian disiplin ekonomi, pembangunan adalah suatu usaha
proses yang menyebabkan pendapatan perkapita masyarakat meningkat
dalam jangka panjang (Sukirno, 2007:13). Dengan demikian, proses
pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi,
sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro dan mikro.
Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan,
pertumbuhan dan diversivikasi. Sebagaimana dikemukakan oleh para ahli
di atas, pembangunan adalah semua proses perubahan yang terstrukur
yang dilakukan melalui upaya-upaya yang sadar dan direncanakan.
D. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah merupakan suatu peraturan perundang-undangan di
Indonesia yang melaksanakan pengendalian internal pemerintah yang
diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. Pengawasan Intern merupakan seluruh proses kegiatan
audit, reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan lain terhadap
penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan
keyakinan memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan
tolak ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk
mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik.
Secara khusus Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 ini
menjelaskan pengertian risiko, serta tujuan risiko, manfaat risiko dan
proses penilaian risiko. Metode peniliaian risiko dapat dilingkup melalui
identifikasi risiko, tujuan dan proses identifikasi serta cara menyusun
daftar risiko. Melakukan penilaian risiko dapat dilakukan dengan tahapan
identifikasi risiko, analisis risiko dan respon risiko.
E. Kerangka Pikir Penelitian
Perencanaan yang sukses dalam setiap kebijakan harus dipikirkan dan
dipertimbangkan secara matang, artinya pemerintah harus memikirkan
bagaimana memetakan suatu risiko yang akan terjadi dari pembangunan
tersebut tidak menimbulkan konflik dan berhasil memenuhi kebutuhan.
Keberhasilan sebuah manajemen risiko tergantung pada efektivitas
kerangka kerja yang digunakan untuk memberikan dasar-dasar dan
pengaturan dalam organisasi di semua tingkatan. Kerangka kerja tersebut
dapat membantu kita dalam mengelola risiko secara efektif melalui
Jika dilihat berdasarkan uraian di atas maka seharusnya pihak Institut
Teknologi Sumatera menciptakan lingkup yang bersinergi antara pihak
internal dengan eksternal sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengetahui bagaimana analisis
manajemen risiko oleh pihak Institut Teknologi Sumatera dalam
pembangunan infrastruktur dengan menggunakan tiga komponen proses
risiko berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 yaitu
identifikasi risiko, analisa risiko dan respon risiko.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah konsep kebijakan untuk menilai risiko
terkait dengan memperhatikan aspek technical feasibility, economic &
financial possibility, political viability dan administrative operability yang
dikemukakan oleh Eugene Bardach. Berdasarkan uraian di atas, maka
[image:42.595.111.496.483.627.2]untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 1. Kerangka Pikir Target Percepatan Pembangunan
Kebijakan Pembangunan Infrastruktur
Penilaian Manajemen Risiko
A. Tipe Penelitian
Untuk mengetahui manajemen risiko pembangunan infrastruktur maka
dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatoris konkruen
dengan pendekatan mixed methods. Penelitian campuran merupakan
penelitian yang mengkombinasikan antara penelitian kualitatif dan
kuantitatif (Creswell, 2010:5). Tujuan menggunakan metode penelitian
campuran adalah penggunaan antara metode kuantitatif dan kualitatif
untuk digunakan secara bersama dalam sebuah penelitian sehingga
menghasilkan data yang lebih komprehensif, reliabel, obyektif dan valid.
Dalam proses penelitian peneliti menggunakan strategi secara
eksplanatoris konkuren yaitu mengumpulkan dan menganalisis data
kuantitatif serta kualitatif secara serentak (simultan) karena menurut
peneliti cara ini dinilai efektif lebih cepat dan dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dalam penelitian campuran
dapat memahami realitas sosial sesungguhnya adalah bersifat aktual
bergantung pada makna dan interpretasi yang diberikan oleh manusia
yang memandangnya. Oleh karenanya, melalui desain yang sedemikian
B. Definisi Konseptual
Definsini konseptual adalah batasan terhadap variabel yang dijadikan
pedoman dalam penelitian sehingga tujuan dan arahnya tidak
menyimpang. Penelitian memberikan definisi konseptual agar
mempermudah penelitian yang akan diteliti. Definisi konseptual dalam
penelitian ini akan ditinjau sebagai berikut :
1. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko merupakan tahapan awal dalam penilaian
manajemen risiko untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang akan
muncul. Secara umum tahap identifikasi adalah merinci risiko yang
ada sampai detil setelah itu menentukan potensinya dan
penyebabnya.
2. Analisis Risiko
Analisis risiko dapat dikategorikan menjadi kualitatif dan kuantitatif.
Risiko kualitatif peneliti melakukan wawancara dengan mengacu
pada faktor-faktor risiko. Sedangkan analisis risiko kuantitatif
dilakukan dengan mengidentifikasi risiko melalui observasi dengan
menyebarkan kuisioner survei pada responden yang terpilih. Analisis
risiko kebijakan yang peneliti gunakan menggunakan teori dari
3. Respon Risiko
Setelah mengetahui tingkat risiko, dilakukan wawancara respon risiko
pada responden terpilih bagaimana menangani risiko yang muncul
seperti menahan risiko, mengurangi risiko, mengalihkan risiko dan
menghindari risiko. Untuk menangani risiko-risiko yang terjadi, dapat
[image:45.595.245.417.269.410.2]digunakan pemetaan risiko berdasarkan gambar di bawah ini:
Gambar 2. Peta Risiko
Pada gambar diatas menunjukan bahwa Kuadran I harus mendapatkan
perhatian serius agar meminimalkan probabilitas dan dampak yang
akan terjadi. Kuadran II membutuhkan rencana teruji untuk menjawab
situasi risiko yang terjadi. Kuadran III memerlukan pengawasan intern
untuk menjaga tingkat probabilitas dan dampak terjadinya risiko.
Kuadran IV membutuhkan informasi teratur terhadap risiko yang
terjadi.
C. Definisi Operasional
Definisi operasional digunakan untuk mengetahui bagaimana variabel
sebuah penelitian maka seseorang mengetahui indikator varibael pada
[image:46.595.146.506.175.726.2]penelitian tersebut.
Tabel 4. Definisi Operasional Variabel
No Variabel Definisi Indikator Skala
1 Technical Feasibility
Prosedur teknis yang harus dipenuhi dari suatu program yang dinilai. Menyangkut penyediaan informasi yang diperlukan untuk menilai keberhasilan program sehingga dapat diramalkan tentang kemungkinan pencapaian tujuannya. • Keberhasilan dalam implementasi kebijakan • Ketepatan penyusunan kebijakan • Penjadwalan berkala dalam evaluasi kebijakan Likert 2 Economic and Financial Possibility
Perkiraan biaya atau usaha yang harus dikeluarkan oleh setiap kebijakan dan apakah nantinya dihasilkan dapat disebut dengan kemanfaatan yang ditinjau dari aspek pengukuranya terletak pada biaya atau usaha untuk melaksanakan program
•Waktu dalam penyusunan
kebijakan •Kemampuan
anggaran dalam melaksanakan kebijakan
Likert
3 Political Viability
Suatu kebijakan tidak merusak atau bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah ada dalam masyarakat. Serta suatu kebijakan dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan adil di dalam kelompok sasaran dan masyarakat
•Kesesuaian
peraturan dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan
•Keadilan serta manfaat bagi masyarakat
Likert
4 Administra tive Operability
Seberapa besar dukungan dalam penerapan secara nyata dari kebijakan atau program yang diusulkan dalam konteks politik dan yang terpenting adalah permasalahan konteks administrasi baik itu wewenang, komitmen kelembagaan dan organisasional
•Komitmen Kelembagaan •Wewenang
pimpinan dalam melaksanakan •Dukungan
Organisasional
Likert
D. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ditentukan secara purposive yang bermakna lokasi
penelitian yang ditentukan berdasarkan sebuah pertimbangan tertentu
berdasarkan tujuan penelitian. Cara yang terbaik yang perlu ditempuh
dalam penentuan lokasi adalah dengan mempertimbangkan teori
substantif (Baswori dan Suwandi, 2008:285). Peneliti memilih lokasi di
Institut Teknologi Sumatera karena kemudahan peneliti untuk
mendapatkan data dan informasi yang akurat. Selain hal tersebut,
pertimbangan yang ideal menjadi lokasi penelitian. Waktu estimasi
penelitian pada 1 Desember 2019 sampai 30 Januari 2020.
E. Metode Pengukuran Manajemen Risiko
Analisis risiko dapat dikategorikan menjadi kualitatif dan kuantitatif.
Risiko kualitatif peneliti melakukan wawancara dengan mengacu pada
faktor-faktor risiko seperti pada tabel diatas. Sedangkan analisis risiko
kuantitatif dilakukan dengan mengidentifikasi risiko melalui observasi
dengan menyebarkan kuisioner survei pada responden yang terpilih.
Selanjutnya melakukan analisis risiko dengan melakukan menggunakan
metode assessment tingkat risiko terhadap probabilitas risiko yang terjadi
dan dampak yang ditimbulkan dari risiko tersebut. Setelah melakukan
penilaian risiko selanjutnya dilakukan penggambaran atau pemetaan hasil
dari penilaian risiko kedalam diagram matriks berdasarkan frekuensi
Keterangan : R = tingkat risiko
P = kemungkinan (Probability) risiko yang terjadi I = tingkat dampak (Impact) risiko yang terjadi
Skala yang digunakan dalam mengukur potensi risiko terhadap
frekuensi dan dampak risiko adalah skala Likert dengan
menggunakan rentang angka 1 sampai dengan 5, yaitu:
Pengukuran probabilitas risiko (P):
1 = sangat jarang 2 = jarang 3 = cukup 4 = sering 5 = sangat sering
Pengukuran dampak risiko (I): 1 = sangat kecil
[image:48.595.166.501.168.678.2]2 = kecil 3 = sedang 4 = besar 5 = sangat besar
Analisis risiko berikutnya adalah dengan menggunakan metode
Severity Index (SI) untuk menghitung tingkat risiko dengan rumus:
SI = ∑
∑ (100%)
Keterangan:
ai= konstanta penilaian xi= frekuensi responden i = 0, 1, 2, 3, 4,...., n
x0,x1, x2, x3, x4adalah respon frekuensi responden a0= 0, a1= 1, a2= 2, a3= 3, a4= 4
x0= frekuensi responden “sangat rendah”, maka a0= 0 x1= frekuensi responden “rendah”, maka a1= 1
x2= frekuensi responden “cukup tinggi”, maka a2= 2 x3= frekuensi responden “tinggi”, maka a3= 3
x4= frekuensi responden “sangat tinggi”, maka a4= 4
Klasifikasi skala penilaian pada probabilitas dan dampak adalah
sebagai berikut:
Sangat Rendah/Kecil (SR/SK) : 0.0≤ SI < 12.5
Rendah/Kecil (R/K) : 12.5≤ SI < 37.5
Cukup/Sedang (C) : 37.5≤ SI < 62.5
Tinggi/Besar (T/B) : 62.5≤ SI < 87.5
Sangat Tinggi/Besar(ST/SB) :87.5≤ SI < 100
F. Informan
Informan yang ditentukan dalam penelitian ini ditentukan dengan
purposive sampling. Alasan peneliti menggunakan penentuan informan
secara purposive sampling karena peneliti meyakini bahwa informan
yang dipilih adalah sebagai kelompok yang mengalami secara langsung
terhadap permasalahan terkait. Sehingga menurut peneliti teknik
mengenai manajemen risiko kebijakan pembangunan infratruktur di
Institut Teknologi Sumatera. Peneliti menetapkan informan penelitian
sebagai berikut :
Tabel 5. Informan Penelitian
No Jenis Informan
1 Pihak Internal
2 Pihak Eksternal
Sumber: Diolah Peneliti 2020
G. Jenis Data
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan
gambar-gambar yang didapatkan dari dokumen-dokumen, pengamatan
dan tulisan-tulisan, gambar-gambar atau foto (Neuman, 2014:477).
Sumber data dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni sumber data
primer dan sumber data sekunder (Morse dalam Flick, 2014:166).
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data sedangkan sumber data sekunder merupakan
sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul
data. Data sekunder pada penelitian ini adalah dokumen berupa
pemberitaan media online, media cetak dan foto-foto di lapangan.
H. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek maupun
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan
(Sugiyono, 2014:115). Dalam penelitian ini populasinya adalah
Peneliti memfokuskan informan pada pihak internal (Mahasiswa dan
Pegawai) dan pihak eksternal (LSM dan Kontraktor) adalah 9598
[image:51.595.169.408.245.395.2]orang dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 6. Rincian Populasi
No Responden Jumlah Responden
1 Mahasiswa 9047
2 Pegawai 548
3 Kontraktor 2
4 LSM 1
Jumlah Total 9598
Sumber: Diolah Peneliti 2019
2. Teknik Sampling
Populasi dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling
yang artinya setiap sampel memiliki kesempatan atau peluang yang
sama untuk terpilih. Responden yang termasuk dalam random
sampling adalah mahasiswa, pegawai, LSM dan kontraktor.
3. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan dilibatkan dalam
penelitian dan merupakan bagian representatif dari masing-masing
karakter dari populasi. Dalam menentukan banyaknya sampel
penelitian terhadap populasi maka peneliti menggunakan rumus Taro
= .
Keterangan:
n = banyaknya sampel N = banyaknya populasi d2= taraf nyata 15% 1 = bilangan konstanta
Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah populasi berdasarkan
jumlah mahasiswa, pegawai, LSM dan kontraktor sebanyak 9598 orang
dan berikut adalah perhitungan sampel
=9598. 0.15 + 19598
=216,9559598
n = 44,2395 dibulatkan menjadi 45
I. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh berbagai data tersebut, maka dibutuhkan suatu teknik
dalam mengumpulkannya. Pengumpulan data merupakan salah satu
tahapan yang penting dalam penelitian, namun dalam sebuah penelitian
tidaklah cukup hanya sekedar mengumpulkan data, tetapi juga harus
menganalisanya. Dalam pendekatan mixed methods dengan teknik
eksplanatoris konkruen yakni mengumpulkan data kuantitatif dan
kualitatif secara serentak. Adapun teknik pengumpulan data yang akan
1. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan
pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada informan, kemudian
pewawancara mencatat atau merekam jawaban-jawaban yang
dikemukakan oleh informan (Bryman, 2012:469). Peneliti menyusun
panduan wawancara berdasarkan fokus masalah penelitian untuk
dijadikan materi dalam wawancara agar menjadi terarah dan tidak
menyimpang. Ada dua jenis wawancara dalam penelitian kualitatif,
yaitu wawancara terstruktur dan semi-terstruktur (Halperin dan
Heath, 2012:253-254).
Peneliti menyusun panduan wawancara berdasarkan fokus masalah
penelitian untuk dijadikan materi dalam wawancara agar menjadi
terarah dan tidak menyimpang. Peneliti menggunakan wawancara
semi terstruktur, artinya proses wawancara lebih terbuka dengan
meminta pendapat atau gagasan narasumber terkait permasalahan
manajemen risiko kebijakan pembangunan infrastruktur di Insititut
Teknologi Sumatera sehingga peneliti dapat menemukan data yang
lebih mendalam dengan mencatat dan mendengarkan keterangan dari
informan. Berikut ini adalah ringkasan hasil wawancara bersama
informan:
a. Pihak Internal (7 Januari 2020 Pukul 14.30 WIB).
Kebijakan insfrastruktur merupakan sebagian kecil dari kebijakan
Pembangunan infrastruktur yang cepat sudah kita perhitungkan
risiko serta peluang dalam menjalankannya. Kaidah-kaidah teknis
kebijakan yang meliputi penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi
sudah dilakukan dengan baik. Dari segi kekuatan anggaran dan
dukungan dari berbagai pihak merupakan salah satu keberhasilan
sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh
kalangan.
b. Pihak Eksternal (3 Januari 2020 Pukul 15.00 WIB).
Kebijakan pembangunan infrastruktur di Institut Teknologi
Sumatera terbilang sangat cepat perkembangannya, oleh karena
itu kami selaku LSM meminta kepada pihak pemangku kebijakan
lebih memperhatikan aspek manajemen risiko di dalam
pelaksanaan kebijakan sehingga proses pelaksanaan tidak akan
mendapat penolakan dari pihak eskternal. Misalkan dalam kasus
pemilihan kontraktor sebaiknya pihak kampus lebih transparansi
dan akuntabel dalam pelaksaanan seleksi lelang.
c. Pihak Internal (3 Januari 2020 Pukul 09.30 WIB).
Kebijakan insfrastruktur merupakan fokus utama pimpinan dalam
Rencana Strategis 2019-2024. Pembangunan infrastruktur yang
cepat sudah diperhitungkan dari segi risiko serta peluang. Dalam
menjalankan kebijakan terdapat aspek teknis, aspek hukum, aspek
sehingga keberhasilan dan manfaat pembangunan insfrastruktur
dapat dirasakan oleh civitas akademika dan masyarakat sekitar.
d. Pihak Internal (4 Januari 2020 Pukul 16.00 WIB).
Pembangunan baik itu dibidang SDM dan Infrastruktur Institut
Teknologi Sumatera terbilang cepat perkembangannya, oleh
karena itu kami sebagai mahasiswa meminta kepada pihak
pemangku kebijakan dapat ikut sertakan perwakilan mahasiswa
dalam teknis aspirasi dalam penyusunan setiap kebijakan
sehingga manfaat keberlanjutan yang akan dirasakan oleh
mahasiswa akan terasa karena pihak mahasiswa yang secara
langsung.
e. Pihak Eksternal (10 Januari 2020 Pukul 09.00 WIB).
Proses pembangunan khususnya dibidang infrastruktur di Institut
Teknologi Sumatera sangat cepat perkembangannya. Banyaknya
pihak eksternal yang masuk turut andil dalam pembangunan ini.
Salah satunya adalah Dana SBSN (Surat Berharga Syariah
Negara) yang telah berhasil dikelola dengan baik sehingga
menghasilkan 2 (dua) buah gedung dapat digunakan dengan baik
serta berkelanjutan untuk semua civitas akademika, walaupun
terdapat penolakan dari beberapa LSM akan tetapi keberhasilan
2. Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efesien apabila
peneliti tahu dengan siapa variabel akan diukur dan tahu apa yang
bisa diharapkan dari responden (Sugiyono, 2014:142). Setelah
melakukan wawancara, peneliti menggunakan kuisioner untuk
mengukur risiko yang terjadi karena peneliti ingin melihat risiko
dalam persentase atau bentuk angka. Kuesioner yang terdiri dari 30
pertanyaan yang terdiri dari 4 variabel dan akan dijawab oleh 45
orang responden. Sebelum diberikan kepada responden, kuesioner
diuji terlebih dahulu melalui uji validitas dan uji reliabilitas.
Berikut merupakan hasil uji validitas dan uji reliabilitas penelitian
[image:56.595.169.506.464.752.2]adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Uji Validitas
Pertanyaan Koefisien r Hitung Koefisien r Tabel Simpulan
Pertanyaan 1 0.682 0.294 Valid
Pertanyaan 2 0.352 0.294 Valid
Pertanyaan 3 0.770 0.294 Valid
Pertanyaan 4 0.800 0.294 Valid
Pertanyaan 5 0.682 0.294 Valid
Pertanyaan 6 0.803 0.294 Valid
Pertanyaan 7 0.682 0.294 Valid
Pertanyaan 8 0.815 0.294 Valid
Pertanyaan 9 0.815 0.294 Valid
Pertanyaan 10 0.355 0.294 Valid
Pertanyaan 12 0.682 0.294 Valid
Pertanyaan 13 0.815 0.294 Valid
Pertanyaan 14 0.355 0.294 Valid
Pertanyaan 15 0.803 0.294 Valid
Pertanyaan 16 0.682 0.294 Valid
Pertanyaan 17 0.815 0.294 Valid
Pertanyaan 18 0.034 0.294 Tidak
Pertanyaan 19 0.782 0.294 Valid
Pertanyaan 20 0.669 0.294 Valid
Pertanyaan 21 0.816 0.294 Valid
Pertanyaan 22 0.353 0.294 Valid
Pertanyaan 23 0.804 0.294 Valid
Pertanyaan 24 0.816 0.294 Valid
Pertanyaan 25 0.380 0.294 Valid
Pertanyaan 26 0.785 0.294 Valid
Pertanyaan 27 0.136 0.294 Tidak
Pertanyaan 28 0.767 0.294 Valid
Pertanyaan 29 0.034 0.294 Tidak
Pertanyaan 30 0.779 0.294 Valid
Sumber: Diolah Peneliti 2020
Berdasarkan tabel diatas serta merujuk pada pengujian instrumen
dengan ketentuan jika r Hitung > r Tabel maka instrumen tersebut
dinyatakan valid. Maka dapat disimpulkan dari 30 (tiga puluh)
pernyataan terdapat 27 (dua puluh tujuh) pernyataan valid dan 3
(tiga) pernyataan yang tidak valid. Selanjutnya dibawah ini
Tabel 8. Uji Reliabilitas
Cronbach’s Alpha N of Items
.929 30
Sumber: Diolah Peneliti 2020
Berdasarkan tabel diatas nilai koefisien alfa lebih besar dibandingkan
dengan angka kritik tabel korelasi nilai r maka pernyataan tersebut
dinyatakan reliabel. Maka dapat disimpulkan instrumen penelitian
yang digunakan memiliki tingkat reliabel tinggi sehingga dinyatakan
layak untuk digunakan dalam proses pengumpulan data.
J. Teknik Analisis Data Kuantitatif
Peneliti telah memperoleh sejumlah data dari lapangan, sehingga peneliti
dituntut untuk melakukan pengolahan data yang telah terkumpul tersebut.
Adapun kegiatan pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Editing Data
Editing data merupakan sebuah proses yang bertujuan agar data yang
dikumpulkan dapat memberikan kejelasan, mudah dibaca, konsisten
dan lengkap. Dalam tahap ini, data yang dianggap tidak bernilai
ataupun tidak relevan harus disingkirkan. Hasil kuesioner yang tidak
relevan dengan data yang dinginkan peneliti harus dibuang. Peneliti
melakukan kegiatan memilih hasil kuesioner yang relevan dengan
kembali semua data untuk meminimalisir data yang tidak sesuai serta
mengecek kembali apakah terdapat kesalahan dari responden dalam
pengisian.
2. Koding
Koding merupakan sebuah tahap dimana jawaban dari responden
yaitu civitas akademika, LSM dan kontraktor yang mana jawaban
tersebut diklasifikasikan menurut jenis pertanyaan dengan
memberikan nomor setiap kuesioner yang dimasukan untuk
memudahkan peneliti dalam mengolah pada proses selanjutnya.
3. Tabulasi
Tabulasi merupakan tahap mengelompokan jawaban-jawaban yang
serupa secara terstruktur dan sistematis. Pada tahap ini dilakukan
dengan mengelompokan jawaban serupa dari responden. Dengan
tabulasi pembaca awam akan mudah dalam melihat dan memahami
hasil penelitian.
4. Interpretasi
Interpretasi digunakan untuk mencari makna dan hasil penelitian
dengan jalan tidak hanya menjelaskan atau menganalisis data yang
diperoleh, tetapi data diinterprestasikan untuk kemudian
mendapatkan kesimpulan sebagai hasil penelitian. Peneliti
proses editing sesuai dengan fokus penelitian. Pelaksanaan
interpretasi dilakukan dengan memberikan penjelasan berupa kalimat
bersifat narasi dan deskriptif. Data yang telah memiliki makna akan
dilakukan kegiatan analisis data berdasarkan hasil wawancara dan
kuesioner.
K. Teknik Analisis Data Kualitatif
Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya
ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar (Neuman,
2014:328). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model
interaktif yang terdiri dari beberapa langkah yaitu: reduksi data,
penyajian data, verifikasi data dan skala likert. Data kualitatif yang
berupa data dalam bentuk foto, kata-kata, tindakan peneliti dan peristiwa
di kehidupan sosial.
1. Reduksi Data
Reduksi data dilakukan dengan memfokuskan hasil penelitian pada
hal yang dianggap penting oleh peneliti. Reduksi data bertujuan
untuk mempermudah pemahaman terhadap data yang telah terkumpul
dari hasil catatan lapangan dengan cara merangkum dan
mengklasifikasikan sesuai masalah dan aspek-aspek permasalahan
yang diteliti. Peneliti mewawancarai informan dengan menggunakan
yang sesuai dengan apa yang diteliti. Peneliti membuang jawaban
yang tidak sesuai dengan fokus penelitian.
2. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang akan memberikan
gambaran penelitian secara menyeluruh. Penyajian data yang
disusun secara singkat, jelas, terperinci, dan menyeluruh akan lebih
memudahkan dalam memahami gambaran terhadap aspek-aspek
yang diteliti baik secara keseluruhan maupun secara parsial. Hasil
reduksi data disusun dan disajikan dalam bentuk teks narasi
deskriptif. Peneliti melakukan pengumpulan data yang telah melalui
reduksi untuk menggambar kejadian yang terjadi pada saat di
lapangan.
Catatan-catatan penting di lapangan, kemudian disajikan dalam
bentuk teks deskriptif untuk mempermudah pembaca memahami
secara praktis. Kegiatan lanjutan peneliti pada penyajian data adalah
data yang didapat disajikan dalam bentuk tabel dengan tujuan untuk
menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu.
3. Verifikasi Data
Verifikasi merupakan tahap terakhir dalam menganalisis data. Data
diuji keabsahannya melalui validitas internal yaitu aspek kebenaran,
validitas eksternal yaitu penerapan, reliabilitas yaitu konsistensi dan