ANALISIS PENDAPATAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI PESISIR KOTA AGUNG KABUPATEN TANGGAMUS
(Skripsi)
Oleh
SRI WAHYUNI
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ANALISIS PENDAPATAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI PESISIR KOTA AGUNG KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
SRI WAHYUNI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan rumah tangga nelayan, struktur pendapatan rumah tangga dan menganalisis tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung. Penelitian menggunakan metode survei. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 43 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga nelayan berbeda menurut ukuran armada kapal. Pendapatan rumah tangga nelayan pemilik armada kapal berada pada tingkat sejahtera, sedangkan pendapatan rumah tangga nelayan ABK motor tempel dan jukung berada pada kondisi miskin. Pendapatan rumah tangga nelayan sebagian besar (91,78%) dari usaha penangkapan ikan. Pengeluaran rumah tangga nelayan pemilik berada pada tingkat sejahtera, sedangkan untuk nelayan ABK motor tempel dan jukung berada dibawah garis kemiskinan. Berdasarkan kriteria BPS dan garis kemiskinan, 76,74 persen rumah tangga nelayan masuk golongan sejahtera dan 23,26 persen rumah tangga nelayan berada dalam golongan belum sejahtera.
ABSTRACT
ANALYSIS OF FISHERMAN HOUSEHOLD INCOME IN KOTA AGUNG COASTAL TANGGAMUS REGENCY
By
SRI WAHYUNI
This research aims to find out the income of fisherman household, structure of household income and analyze the welfare level of fishermen household in Kota Agung Coastal. The study using survey method. The sample is taken by purposive sampling method as many as 43 respondent. The result shows that, there is a different of fisherman household income base on fleet sizes. The income of fisherman household fleet owner at prosperous level, while the income of fisherman household crews motor tempel and jukung at the poverty level. The income of fishermen households (91.78%) from fishing businesses. The expenditure of fisherman household fleet owners is at the level of prosperity, whereas for crews motor tempel and jukung are below the poverty line. Therefore, based on BPS and poverty line, 76,74 percent of household fisherman at prosperous level and 23,26 percent of household in the less prosperous.
Oleh SRI WAHYUNI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Jurusan Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Agung pada 22 Desember1993 yang merupakan putri bungsu dari pasangan Bapak Abdul Salam dan Ibu Nurhayati. Penulis adalah anak ke sepuluh dari sepuluh bersaudara. Penulis menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Kuripan Kota Agung tahun 2000-2006, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kota Agung tahun 2006-2009 dan Sekolah
Menengah Atas Negeri 1 Kota Agung tahun 2009-2012. Penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada tahun 2012 melalui jalur PMPAP dan memperoleh beasiswa Bidik Misi pada semester ke 5.
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus
asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf:87)
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm:39)
“Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan”
(Chairul Tanjung)
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama
kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah
engkau berharap” (QS. Al-Insyirah:6-8)
“Tidak sama antara dua buah lautan. Ini tawar, segar dan mudah diminum,
sedangkan yang itu asin lagi pahit. Dan dari masing-masing itu kamu dapat memakan daging yang segar dan mengeluarkan perhiasan untuk kamu pakai serta
PERSEMBAHAN
Ku persembahkan skripsi ini untuk: Ayahanda dan Ibunda tersayang Bapakku Abdul Salam dan Ibuku Nurhayati
Kakakku tercinta
Kang Ilham, Kang Taufik, Teh Piah, Kang Irul, Teh diah, Kang Mancha, Kang Ipul, Kang Izul dan Kang Ahmad Terima kasih atas segala cinta, pengorbanan, kesabaran,
keikhlasan, motivasi dan doa yang tiada henti dalam menanti keberhasilanku
Para pendidik yang telah membimbing, mengajarkan dan mendidik dengan ketulusannya
SANWACANA
Alhamdulillahirobbil’alamiin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pendapatan Rumah Tangga Nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus”. Sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan dalam setiap sisi keidupan manusia, semoga kelak kita semua akan mendapatkan syafaatnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan, nasihat, dorongan semangat, kritik dan saran yang membangun kepada penulis dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada: 1. Pror. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
2. Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si, selaku Ketua Jurusan Agribisnis dan dosen pembimbing kedua atas bimbingan, saran, nasihat, dukungan dan perhatian kepada penulis selama penyelesaian skripsi.
4. Dr. Ir. Fembriarti Erry Prasmatiwi, M.P., selaku Dosen Pembahas atas masukan, arahan dan nasihat yang diberikan sehingga menjadikan skripsi ini lebih baik. 5. Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si., selaku dosen Pembimbing Akademik yang selalu
memberikan arahan terkait proses akademik.
6. Bang Rio Tantalo (BR/mantan WD 3) yang telah memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi.
7. Seluruh Dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung atas ilmu yang diberikan selama penulis menjadi mahasiswa.
8. Seluruh Staf Administrasi dan karyawan Universitas Lampung yang telah membantu dengan baik dalam persoalan administrasi selama proses skripsi. 9. Bapak dan Ibu masyarakat Desa Kelurahan Pasar Madang yang telah membantu
dalam proses penelitian di lapangan.
10.Teristimewa untuk kedua orang tuaku tercinta, Bapak Abdul Salam dan Ibu Nurhayati terima kasih atas keikhlasan, cinta dan kasih sayang, doa, motivasi, dan dukungan moral yang telah diberikan.
11.Keluarga besar Abah Salam dan saudaraku tercinta Kang Ilham, Kang Taufik, Teh Piah, Kang Irul, Teh diah, Kang Mancha, Kang Ipul, Kang Izul dan Kang Ahmad dengan cinta dan kasih sayangnya selalu mendukung dan mendoakan
keberhasilanku.
12.Tanti Meliani, A.Md., terima kasih telah memberikan semangat yang tidak henti-hentinya agar menyelesaikan skripsi ini.
Sunarni,S.Pd., Erni, S.P., Fitri, S.P., Aulia, S.Si., Andi Wirman, A.Md., Faisal, S.I.P., dan Salam atas kebersamaan, ketulusan serta do’a yang kalian berikan semoga ukhuwah ini mempersatukan kita di jannahNya.
14.Temen-teman Agribisnis angkatan 2012 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih telah memberikan semangat, motivasi, kekompakan dalam suka dan duka selama masa kuliah.
15.Keluarga Besar UKM U Birohmah, DPM U, Fosi FP, Himaseperta, IMAMTA.. Suskes dan Jaya selalu.
16.Lingkaran syurgaku yag senantiasa memberikan nasihat kepada penulis. 17.Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang tepat atas segala bantuan yang telah diberikan.. Semoga hasil karya ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang
membutuhkan. Akhir kata penulis meminta maaf dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Bandar Lampung, Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah ... 1
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Tinjauan Pustaka ... 9
1. Agribisnis Perikanan Tangkap ... 9
2. Rumah Tangga Perikanan ... 10
3. Teori Ekonomi Rumah Tangga ... 13
4. Analisis Tingkat Kesejaheteraan ... 17
5. Penanggulangan Kemiskinan Nelayan ... 18
6. Penelitian Terdahulu ... 20
B. Kerangka Pemikiran... 22
III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional ... 25
B. Jenis Data dan Metode Pengambilan Data ... 26
C. Lokasi Penelitian, Responden, dan Waktu Peneltian ... 27
D. Metode Analisis ... 28
1. Analisis Pendapatan ... 29
2. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Nelayan . 30 E. Sistem Bagi Hasil ... 31
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kabupaten Tanggamus ... 33
B. Gambaran Umum Kecamatan Kota Agung ... 34
C. Keadaan Umum Kelurahan Pasar Madang ... 36
1. Geografis ... 36
2. Mata Pencaharian ... 38
3. Kehidupan Sosial Ekonomi ... 38
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Usaha Penangkapan ... 50
B. Karakteristik Nelayan Responden ... 52
1. Umur Nelayan Responden ... 52
2. Tingkat Pendidikan ... 54
3. Pengalaman Bernelayan ... 55
4. Jumlah Tanggungan Keluarga Nelayan Responden ... 56
5. Pekerjaan Sampingan Nelayan Responden ... 57
C. Kondisi Nelayan dan Keluarganya ... 58
D. Biaya Produksi Usaha Penangkapan ... 61
E. Hasil Tangkapan Nelayan ... 64
F. Penerimaan Nelayan dari Usaha Perikanan ... 66
G. Sistem Bagi Hasil ... 67
H. Pendapatan Nelayan dari Usaha Perikanan Tangkap ... 68
I. Pendapatan Rumah Tangga Nelayan ... 70
J. Pengeluaran Rumah Tangga Nelayan... 73
K. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Nelayan ... 76
VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 79
B. Saran ... 80
DAFTAR PUSTAKA ... 81
LAMPIRAN
[image:14.595.111.496.94.439.2]DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Produksi perikanan tangkap menurut Kabupaten/Kota Provinsi
Lampung ... 4
2. Persentase penduduk miskin di Provinsi Lampung menurut Kabupaten tahun 2011-2014 ... 5
3. Produksi perikanan laut di Kabupaten Tanggamus menurut kecamatan tahun 2011-2014 ... 6
4. Jumlah penduduk menurut pekon di Kecamatan Kota Agung ... 36
5. Jumlah penduduk menurut usia di Kelurahan Pasar Madang ... 37
6. Distrubusi penduduk menurut mata pencaharain tahun 2017 ... 38
7. Kinerja penangkapan menurut jenis alat tangkap ... 51
8. Distribusi nelayan responden menurut golongan umur di Desa Pesisir Kelurahan Pasar Madang ... 53
9. Tingkat pendidikan nelayan responden berdasarkan jenis armada nelayan ... 54
10.Sebaran nelayan responden berdasarkan penglaman usaha penangkapan ikan di Kelurahan Pasar Madang ... 55
11.Sebaran nelayan responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Kelurahan Pasar Madang ... 56
12.Sebaran nelayan responden berdasarkan pekerjaan sampingan di Kelurahan Pasar Madang ... 57
15.Hasil tangkapan per trip per musim penangkapan ... 64
16.Rata-rata harga ikan dalam skala musim di Pesisir Kelurahan Pasar Madang ... 65
17.Penerimaan hasil tangkapan nelayan per trip per musim penangkapan ... 66
18.Pola sistem bagi hasil nelayan di Pesisir Kota Agung ... 67
19.Pendapatan nelayan per trip pada setiap musim penangkapan ... 68
20.Pendapatan rumah tangga nelayan per bulan ... 70
21.Struktur pendapatan rumah tangga nelayan ... 72
22.Pengeluaran rumah tangga nelayan armada per bulan ... 75
23.Perbandingan kesejahteraan rumah tangga nelayan berdasarkan garis kemiskinan 2017 ... 77
DAFTAR GAMBAR
Tabel Halaman
1. Kerangka analisis pendapatan rumah tangga nelayan di
Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus ... 24
2. Pola musim ikan di Pesisir Kelurahan Pasar Madang ... 52
3. Peta kelurahan pasar madang ... 166
4. Armada kapal motor ... 166
5. Armada motor tempel ... 167
6. Armada jukung ... 167
7. Alat tangkap jaring ... 168
8. Tempat pelelangan ikan ... 168
9. Pasar ikan pesisir pantai ... 169
10.Depot es ... 169
11. Drainase 1 ... 170
12.Drainase 2... 170
13.Pelelangan lama ... 171
14.Tempat pengasinan ikan ... 171
15.Pemukiman nelayan tampak depan ... 172
[image:17.595.126.494.254.725.2]I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Masalah
Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang
berkesinambungan, meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara untuk mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Isi dari tujuan pembangunan yang termaktub di dalam UUD 1945 salah satunya adalah mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sejahtera, lahiriah maupun batiniah. Pelaksanaan pembangunan mancakup aspek kehidupan bangsa, yaitu aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan secara berencana, menyeluruh, terarah, terpadu, bertahap dan berkelanjutan untuk memacu peningkatan kemampuan nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang lebih maju.
Sektor kelautan mulai diperhatikan oleh pemerintah Indonesia dalam pembangunan sejak PELITA VI rezim orde baru. Upaya Perencanaan Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019 terkait kelautan dan perikanan adalah menjadikan Indonesia sebagai Negara yang memiliki
2
keharmonisan antarkelompok sosial, antarsektor ekonomi, antarwilayah serta menjadikan Indonesia menjadi poros maritim dunia.
Wilayah laut yang luasnya 70% dari luas wilayah Indonesia memiliki potensi lestari sumber daya ikan laut sebesar 6,5 juta ton per tahun tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indoensia (ZEEI) yang terbagi dalam sembilan wilayah peraiaran utama Indonesia. Potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal dilihat dari jumlah tangkapan yang hanya diperbolehkan 5,12 juta ton per tahun. Sumberdaya perikanan tersebut didominasi oleh perikanan skala kecil. Peranan sub sektor perikanan skala kecil cukup penting di Indonesia. Potensi tersebut diharapkan dapat
dimanfaatkan secara optimal dan lestari guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat nelayan. (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014).
Kendala-kendala yang menyebabkan terpeliharanya kemiskinan nelayan atau masyarakat pinggiran pantai, diantaranya kebijakan pemerintah yang tidak memihak masyarakat miskin, banyak kebijakan terkait penanggulangan
kemiskinan bersifat top down dan selalu menjadikan masyarakat sebagai objek, bukan subjek. Kondisi bergantung pada musim sangat berpengaruh pada tingkat kesejahteraan nelayan, terkadang beberapa pekan nelayan tidak melaut
akses permodalan dan pemasaran. Kondisi lain yang turut berkontribusi
memperburuk tingkat kesejahteraan nelayan adalah mengenai kebiasaan atau pola hidup konsumtif, dimana pada saat penghasilan banyak tidak ditabung untuk persiapan paceklik, melainkan dijadikan kesempatan untuk membeli kebutuhan sekunder. Namun ketika paceklik pada akhirnya berhutang termasuk kepada lintah darat yang justru semakin memperberat kondisi.
Rendahnya produktivitas dan berbagai kendala tersebut di atas pada gilirannya akan mempengaruhi tingkat pendapatan per kapita nelayan khususnya buruh nelayan. Faktor lain yang sangat mempengaruhi pendapatan nelayan adalah pola bagi hasil dalam usaha penangkapan ikan. Statuts kepemilikan unit penangkapan ikan dan peranan dalam kegiatan usaha akan menentukan besarnya bagi hasil yang diterima baik oleh nelayan maupun pemilik unit penangkapan ikan (Hermanto, 1986 ).
Sejak krisis mulai merambah keberbagai wilayah pertengahan tahun 1997, Nelayan tradisional boleh dikatakan kelompok masyarakat pesisir paling
menderita dan merupakan korban pertama dari perubahan situasi sosial-ekonomi yang terkesan tiba-tiba namun berkepanjangan. Banyak studi yang telah
membuktikan nelayan tradisional umumnya lebih miskin daripada keluarga petani, pengrajin dan pekerja sektor informal (Kusnadi, 2002).
4
pendapatan guna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menafkahi anggota keluarga. Banyaknya permasalahan kemiskinan yang menimpa nelayan, membuat hidup mereka pasang surut.
Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang memiliki luas laut 1.779,50 km2dan panjang pantai 210 km2 yang tersebar di sembilan ( 9 ) kecamatan pesisir di Kabupaten Tanggamus. Potensi sumberdaya perikanan yang cukup tinggi dan menjanjikan menjadikan Tanggamus sebagai kabupaten
[image:21.595.116.462.417.663.2]penyumbang produksi perikanan terbesar keempat di Provinsi Lampung. Hal ini dapat dilihat dari data produksi perikanan tangkap Provinsi Lampung menurut Kabupaten/Kota Provinsi Lampung tahun 2015 (BPS, 2015).
Tabel 1. Produksi perikanan tangkap menurut Kabupaten/Kota Provinsi Lampung, 2015 (ton)
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, 2015
Dilihat dari potensi laut yang terdapat di Kabupaten Tanggamus, seharusnya pengelola kekayaan laut Tanggamus dari nelayan hingga pedagang eceran ikan
No. Kabupaten/Kota Jumlah Produksi Perikanan Tangkap (ton)
2014
1 Lampung Timur 42.089
2 Lampung Selatan 38.704
3 Bandar Lampung 27.270
4 Tanggamus 15.558
5 Tulang Bawang 12.651
6 Pesisir Barat 12.006
7 Pesawaran 8.141
8 Lampung Tengah 3.475
9 Lampung Utara 1.931
10 Mesuji 1.159
11 Way Kanan 578
12 Tulang Bawang Barat 337
13 Lampung Barat 173
14 Pringsewu 84
15 Metro -
atau produk olahannya memiliki tingkat kesejahteraan yang baik. Kenyataan yang terjadi adalah pada umumnya masyarakat pesisir memiliki kesejahteraan yang rendah. Pendapatan perkapita Kabupaten Tanggamus tercatat sebagai penerima PDRB perkapita terendah kedua setelah Lampung Barat yakni hanya sebesar 19,90 juta berada dibawah PDRB perkapita penduduk lampung yang rata-rata sebesar 31,19 juta serta menempati urutan penduduk miskin keenam se-Provinsi Lampung dengan persentase 15,24% pada tahun 2014 (BPS Lampung 2015).
Tabel 2. Persentase penduduk miskin di Provinsi Lampung menurut kabupaten, tahun 2011-2014
No. Kabupaten/Kota Tahun
2011 2012 2013 2014
1 Lampung Utara 28,96 28,19 25,16 23,67
2 Lampung Selatan 20,61 19,23 18,19 17,09
3 Lampung Timur 21,06 19,66 18,56 17,83
4 Pesawaran 20,48 19,06 18,01 17,86
5 Way Kanan 18,81 17,63 16,54 15,36
6 Tanggamus 18,30 17,06 16,10 15,24
7 Lampung Barat 17,12 15,99 15,33 13,96
8 Lampung Tengah 16,88 15,76 14,96 13,37
9 Bandar Lampung 14,58 13,61 12,65 10,85
10 Metro 13,77 12,90 12,09 11,08
11 Pringsewu 12,45 11,62 11,01 9,81
12 Tulang Bawang 10,80 10,11 9,43 8,04
13 Mesuji 8,65 8,07 7,69 5,81
14 Pesisir Barat
15 Tulang Bawang Barat 7,63 7,11 6,37 6,31
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011-2014
6
Tabel 3. Produksi perikanan laut di Kabupaten Tanggamus menurut kecamatan tahun 2011-2014
Kecamatan Produksi(ton)
2011 2012 2013 2014
Wonosobo 1.733,83 278,14 297,86 274,93
Kota Agung 4.623,55 10.868,65 11.401,78 10.453,74
Pematang Sawa 2.697,07 3.615,35 3.799,27 3.542,84
Kota Agung Barat 1.483,39 970,35 1.128,35 951,04
Kota Agung Timur 1.926,48 479,35 500,41 434,76
Cukuh Balak 1.464,12 1.801,40 1.881,89 1.556,79
Kelumbayan 2.735,60 6.811,75 7.164,57 6.346,73
Limau 2.600,75 2.116,82 2.213,29 1.987,81
Jumlah 19.264,79 26.941,81 28.387,42 25.548,64
Sumber : DKP Kabupaten Tanggamus, 2015
Ironisnya Kecamatan Kota Agung sebagai salah satu wilayah pesisir yang menjadi sentra perikanan sekaligus Ibukota Kabupaten Tanggamus yang juga memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang baik dan didukung dengan adanya sekolah usaha perikanan, balai budidaya ikan, TPI, koperasi, terminal, akses pasar dekat, transportasi yang baik seharusnya dapat meningkatkan pendapatan nelayannya namun pada kenyataanya masih terdapat rumah tangga nelayan di pesisir Kota Agung yang miskin dan anggota keluarganya yang putus sekolah. Rendahnya pendidikan kepala rumah tangga nelayan menjadi faktor utama yang berakibat pada rendahnya produtivitas hasil tangkapan sehingga berdampak pada
pendapatan dan kesejahteraan yang rendah.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pendapatan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus?
2. Bagaimana struktur pendapatan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus?
3. Bagaimana tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus
B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini antara lain adalah:
1. Mengetahui besarnya pendapatan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus
2. Mengetahui struktur pendapatan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus
3. Menganalisis tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut di atas maka penelitian ini diharapkan dapat menjadi:
1. Sebagai salah satu media latih untuk meningkatkan kemampuan dan
8
2. Sebagai bahan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan serta meningkatkan pembinaan kepada nelayan dan pengusaha dalam upaya meningkatkan
pendapatan nelayan dan peningkatan produksi perikanan.
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Agribisnis Perikanan Tangkap
Perikanan tangkap menurut Direktorat Jenderal Perikanan (2003) adalah
kegiatan dalam bidang penangkapan atau pengumpulan hewan atau tanaman air yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan bahwa semua kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari pra produksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran dilaksanakan dalam suatu bisnis perikanan. Usaha perikanan dapat dipandang sebagai suatu perpaduan faktor produksi atau suatu barang antara yang dihasilkan faktor-faktor produksi klasik tenaga kerja dan barang-barang modal atau apapun yang dianggap sejenisnya (Walangadi, 2003).
Menurut Ditjen Perikanan (1994), secara konseptual sistem agribisnis perikanan terdiri dari beberapa sub sistem, yaitu:
1) Sub sistem penyediaan sarana dan prasarana produksi, teknologi dan pengembangan sumberdaya
2) Sub sistem usaha perikanan(usaha penangkapan ikan) 3) Sub sistem pengolahan
10
5) Sub sistem prasarana (pelabuhan) 6) Sub sistem pembinaan (kelembagaan)
Agribisnis perikanan sering dihadapkan pada masalah resiko dan ketidakpastian usaha yang tinggi, yang biasanya hal ini bersifat eksternalitas yaitu di luar jangkauan nelayan. Resiko produksi misalnya selalu dihadapi oleh para nelayan karena produksi ikan di laut tunduk pada milik umum (property rights), di mana biasanya mereka yang kuat selalu memenangkan peroleh ikan di laut.
2. Rumah Tangga Perikanan
Menurut Ditjen Perikanan (2000 dalam Ulfa), nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air
lainnya/tanaman air. Sedangkan menurut Sujarno (2008), nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Sedangkan rumah tangga perikanan adalah rumah tangga yang melakukan kegiatan penangkapan, budidaya
ikan/binatang air lainnya/tanaman laut dengan tujuan sebagian/seluruh hasilnya untuk dijual. Di Indonesia nelayan biasa bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir laut. Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata
pencaharian hasil laut dan tinggal di desa- desa pantai atau pesisir (Sastrawidjaya 2002 dalam Sujarno 2008).
Ciri Komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai segi, sebagai berikut: a) Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah orang- orang yang segala
b) Dari segi cara hidup, komunitas nelayan adalah komonitas gotong royong. Kebutuhan gotong royong dan tolong menolong terasa sangat penting pada saat untuk mengatasi keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan pengarahan tenaga yang banyak, seperti saat berlayar, membangun rumah atau tanggul penahan gelombang disekitar desa.
c) Dari segi keterampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan berat namun pada umumya nelayan hanya memiliki keterampilan sederhana.
Menurut Hermanto (1986) terdapat tiga klasifikasi nelayan dilihat dari segi kepemilikan alat tangkap yaitu nelayan buruh, nelayan juragan dan nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain. Nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain, sedangkan nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri, dalam mengoperasikannya tidak melibatkan orang lain.
Menurut Ditjen Perikanan (2000 dalam Ulfah, 2011), nelayan berdasarkan kapasitas teknologi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Nelayan tradisional: nelayan yang belum menggunakan teknologi penangkapan ikan dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri b. Nelayan semi modern: nelayan yang menggunakan teknologi penangkapan
ikan (motor tempel atau kapal motor)
c. Nelayan komersil: nelayan yang berorientasi pada peningkatan keuntungan.
12
a. Alat tangkap yang terbuat dari jarring
b. Alat tangkap yang terdiri atas tali dan pancing c. Alat tangkap yang terbuat dari bahan lainnya.
Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2009), kegiatan penangkapan ikan dilaut dapat diklasifikasikan menurut jenis armada, yaitu:
a. Perahu tanpa motor
1. Jukung: Sampan atau perahu dengan bentuk yang sederhana 2. Perahu papan
a) Kecil (panjangnya < 7m) b) Sedang (panjangnya 7-10m) c) Besar (panjangnya > 10m) b. Perahu motor tempel
3. Teori Ekonomi Rumah Tangga
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendapatan adalah hasil kerja (usaha atau sebagainya). Pendapatan seseorang juga dapat didefinisikan sebagai banyaknya penerimaan yang dinilai dengan satuan mata uang yang dapat dihasilkan
seseorang atau suatu bangsa dalam periode tertentu.
Seperti halnya yang dikemukakan oleh Toweulu bahwa “Untuk memperbesar
pendapatan, seseorang anggota keluarga dapat mencari pendapatan dari sumber lain atau membantu pekerjaan kepala keluarga sehingga pendapatannya
bertambah”. Sedangkan menurut Boediono pendapatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dipengaruhi:
1) Jumlah faktor-faktor produksi yang dimiliki yang bersumber pada hasil-hasil tabungan tahun ini dan warisan atau pemberian.
2) Harga per unit dari masing-masing faktor produksi, harga ini ditentukan oleh penawaran dan permintaan di pasar faktor produksi.
3) Hasil kegiatan anggota keluarga sebagai pekerjaan sampingan.
14
usahatani adalah pendapatan yang diperoleh sebagai akibat melakukan kegiatan diluar usahatani seperti berdagang, mengojek, dll.
Secara matematis untuk menghitung pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut :
π
= Y. Py – Σ Xi.Pxi - BTTKeterangan :
π = Pendapatan (Rp)
Y = Hasil produksi (Kg) Py = Harga hasil produksi (Rp) Xi = Faktor produksi (i = 1,2,3,….,n) Pxi = Harga faktor produksi ke-i (Rp) BTT= Biaya tetap total (Rp)
Menurut Mosher (1985), tolok ukur yang sangat penting untuk melihat
kesejahteraan petani adalah pandapatan rumah tangga, sebab beberapa aspek dari kesejahteraan tergantung pada tingkat pendapatan petani. Besarnya pendapatan petani itu sendiri akan mempengaruhi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu, pangan, sandang, papan, kesehatan dan lapangan kerja.
a) Pendapatan Nelayan
sarana-sarana produksi. Sampai saat ini nelayan di Indonesia tergolong sebagai kelompok masyarakat yang tingkat pendidikan terendah.
Peningkatan pendidikan berkelanjutan sangat di perlukan dalam penyerapan teknologi, baik teknologi penangkapan maupun teknologi budidaya.
Hal ini dijelaskan pula oleh Smith dalam Rahmawati(1990) dalam Zubair dan Yasin (2011) , bahwa kemampuan nelayan untuk memaksimumkan hasil tangkapan ikan ditentukan oleh berbagai faktor anatara lain:
1. Modal kerja atau investasi yaitu perahu/motor dan jenis alat tangkap 2. Potensi Sumberdaya Perikanan/daerah operasi penangkapan ikan di laut 3. Hari kerja Efektif melaut (HKE)
4. Kemudahan untuk memasarkan hasil tangkapan dengan harga yang wajar 5. Biaya operasional/produksi antara lain: bahan bakar, perawatan alat
tangkap dan biaya konsumsi waktu melaut.
Menurut Walangadi (2003) bahwa berpengaruhnya pengalaman nelayan terhadap pendapatan berhubungan dengan lamanya nelayan tersebut dalam usaha penangkapan ikan di laut dengan demikian penguasaan terhadap jenis alat tangkap maupun daerah operasi akan menyebabkan semakin tingginya produktivitas hail tangkapan ikan di laut. Tingkat produksi hasil tangkapan nelayan mempengaruhi total penerimaannya. Hal ini dapat dihitung dengan perkalian antara produksi dengan harga jual berbagai jenis ikan yang
dihasilkan. Jadi:
16
Di mana:
TR = Total Penerimaan
Y = Produksi hasil tangkapan nelayan Py = Harga (Soekartawi, 1986).
b) Pendapatan Rumah Tangga Nelayan
Untuk memaksimalkan pendapatan, maka nelayan tidak hanya
menggantungkan pendapatan dari perikanan saja. Oleh karena itu, menurut Diah Pitaloka (2006) diperlukan sumber pendapatan yang lain, yaitu: 1) Pendapatan perikanan selain menjadi buruh atau pemilik
Pendapatan ini berasal dari usaha lain nelayan di luar pendapatannya menjadi nelayan buruh atau nelayan juragan, seperti berdagang ikan, menjual olahan ikan dan pengrajin ikan asin. Pendapatan ini akan masuk ke dalam pendapatan perikanan.
2) Pendapatan sampingan (non perikanan)
Pendapatan sampingan dapat berasal dari luar perikanan( contoh: ojek, tukang cuci, dll).
Dari uraian pendapatan di atas maka pendapatan rumah tangga nelayan merupakan jumlah keseluruhan dari pendapatan dalam kegiatan perikanan, pendapatan kegiatan sampingan dan pendapatan dari anggota keluarga satu rumah yang lain yang juga bekerja, secara sistematis dirumuskan sebagai berikut:
Di mana:
Y = jumlah pendapatan rumah tangga nelayan y1 = jumlah pendapatan dari kegiatan perikanan y2 = jumlah pendapatan dari kegiatan sampingan y3 = jumlah pendapatan anggota keluarga
4. Analisis Tingkat Kesejahteraan
Pola pengeluaran rumah tangga dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, umur dan jenis kelamin. Masyarakat yang tergolong
berpenghasilan rendah pada umumnya proporsi pengeluaran terbesar digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan. Pola pengeluaran terkait dengan tingkat kesejahteraan. Kesejahteraan masyarakat merupakan suatu hal yang bersifat subjektif yang artinya setiap orang mempunyai pedoman hidup, tujuan hidup dan cara-cara hidup yang berbeda dengan demikian memberikan nilai-nilai yang berbeda terhadap faktor-faktor yang menentukan tingkat kesejahteraan mereka (Sukirno, 1985).
Kesejahteraan merupakan sejumlah kepuasaan yang diperoleh seseorang dari hasil mengkonsumsi pendapatan yang diterima. Keterkaitan antara konsep kesejahteraan dan konsep kebutuhan adalah dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, maka seseorang dikatakan sejahtera apabila tingkat
18
kemudian data yang diperoleh akan dibandingkan dengan UMR Kabupaten Tanggamus sebagai acuan tingkat kesejahteraan nelayan di Kecamatan Kota Agung.
Menurut kategori Badan Pusat Statistik (BPS) suatu penduduk dikategorikan miskin atau tidak miskin berdasarkan Garis Kemiskinan (GK). GK merupakan jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan dan bukan makanan. Penduduk dikategorikan miskin apabila memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu, nilai GK berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin pada suatu waktu. Selama periode 2013-2017, garis kemiskinan Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun, pada tahun 2013 Rp 271.626,- menjadi Rp 373.559,- pada bulan maret 2017. Jika ditinjau dari segi daerah tempat tinggal, garis kemiskinan di daerah perkotaan lebih besar dari perdesaan dengan selisih sekitar 6,21 persen di tahun 2017, selisih ini lebih kecil jika dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 6,23 persen. Kabupaten Tanggamus memiliki garis kemiskinan pada tahun 2017 sebesar Rp 332.502,- naik dari tahun sebelumnya Rp 309.569,- pada tahun 2016.
5. Penanggulangan Kemiskinan Nelayan
Pengentasan kemiskinan nelayan tradisional harus dengan pendekatan terpadu
rumit diatasi karena fenomena alam (musim, angin, siklus ikan), dan nilai-nilai sosial budaya yang menyertai struktur masyarakat pantai. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah kebijakan sosial yang berisikan keterpaduan penanganan
kemiskinan nelayan sebagaimana yang mereka butuhkan, kebijakan tersebut juga harus didukung oleh kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah kabupaten atau kota dimana terdapat masyarakat miskin khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan keegoan dari masing-masing pemangku kepentingan. Keterpaduan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Keterpaduan sektor dalam tanggung jawab dan kebijakan. Keputusan
penanganan kemiskinan nelayan harus diambil melalui proses koordinasi di-internal pemerintah, yang perlu digaris bawahi adalah kemiskinan nelayan tidak akan mampu ditangani secara kelembagaan oleh sektor kelautan dan perikanan, melainkan seluruh pihak terkait.
2) Keterpaduan keahlian dan pengetahuan, untuk merumuskan berbagai kebijakan, strategi, dan program harus didukung berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan keahlian, tujuannya adalah agar perencanaan yang disusun betul-betul sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat nelayan.
3) Keterpaduan masalah dan pemecahan masalah sangat diperlukan untuk mengetahui akar permasalahan yang sesungguhnya, sehingga kebijakan yang dibuat bersifat komprehensif, dan tidak parsial.
20
5) Pendampingan, monitoring dan evaluasi. Pendampingan harus dilakukan awal kegiatan dilaksanakan, sampai pasca kegiatan, sehingga akan menjadi bahan evaluasi, apakah kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
6. Penelitian Terdahulu
Pebyanggi (2014), dalam penelitiannya tentang analisis pendapatan nelayan tradisional dibandingkan dengan upah minimum regional di Kecamatan
Meulaboh Kabupaten Aceh Barat menyatakan bahwa tingkat pendapatan nelayan tradisional di daerah penelitian adalah tinggi. Faktor pengalaman melaut dan biaya produksi berpengaruh nyata terhadap variabel pendapatan, sedangkan variael umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dan biaya investasi tidak berpengaruh nyata secara parsial terhadap variabel pendapatan. Pendapatan nelayan sampel di daerah penelitian berada diatas upah minimum regional provinsi NAD, di mana rata-rata pendapatan nelayan sampel sebesar Rp 3.911.1000,-.
Himpon Doli (1996), dalam penelitiannya tentang analisis pendapatan dan pola pengeluaran rumah tangga nelayan gillnet (nylon dan sirang) di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat menyatakan bahwa
buruh. Perbedaan tingkat pendapatan nyata terlihat pada rumah tangga yang memiliki kegiatan non perikanan sebagai kegiatan sampingan dengan rumah tangga yang hanya mengandalkan kegiatan perikanan saja sebagai sumber pendapatannya.
Zalmi (2015), dalam penelitiannya tentang analisis pendapatan dan pola pengeluaran rumah tangga nelayan di wilayah Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat menyatakan bahwa tingkat pendapatan rata-rata nelayan dari hasil melaut adalah sebesar Rp 1.200.000 per bulan, sebesar 71% didistribusikan dari keseluruhan total pendapatan untuk pengeluaran rumah tangga dimana pengeluaran pangan76% dan non pangan 24%.
22
B. Kerangka Pemikiran
Tujuan pembangunan nasional salah satunya adalah mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sejahtera lahiriah maupun batiniah sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Sebagai poros maritim dunia, dengan memiliki laut yang luas dengan segala potensi perikanan yang melimpah seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggi. Namun sayang semuanya hanya teori yang terbalut dalam mimpi indah yang berbingkaikan harapan yang tak tahu kapan kan terwujud. Berbagai program pembangunan kelautan dan perikanan sejak PELITA VI rezim orde baru masih belum memberikan manfaat yang maksimal untuk mensejahterkan masyarakat, khusunya masyarakat nelayan. Potensi wilayah laut yang luasnya 70% dari luas wilayah Indonesia belum termanfaatkan secara optimal serta masih
banyaknya kapal asing yang dengan leluasa masuk ke perairan Indonesia. Pemerintah masih terus berpaku pada pertanian, industri, dan usaha berbasis pembangunan darat untuk meningkatkan kesejahteraan negara, padahal potensi perikanan Indonesia masih sangat besar untuk dimanfaatkan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Masyarakat pesisir masih disibukkan dengan persoalan kemiskinan, padahal menjadi nelayan adalah salah satu mata pencaharian utama guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menafkahi anggota keluarganya. Kompleksitas persoalan berdampak pada perekonomian mereka yang semakin menurun. Oleh karena itu, untuk
Upaya untuk meningkatkan pendapatan nelayan dari hasil melaut melibatkan beberapa faktor diantaranya meliputi umur, pendidikan, pengalaman, frekuensi melaut, jumlah anggota keluarga, kepemilikan kapal, peralatan dan biaya
24
Gambar 1. Kerangka Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Nelayan di Pesisir Kota Agung Kabupaten Tanggamus Potensi perikanan
Usaha non penangkapan ikan ( usaha sampingan) Usaha Perikanan :
Usaha penangkapan -buruh
-pemilik
Sumberdaya Alam Kota Agung
Potensi non perikanan
Pendapatan usaha non penangkapan Pendapatan usaha
penangkapan ikan
Pendapatan rumah tangga nelayan
Tingkat kesejahteraan
Pangan Pola pengeluaran
tangga ne layan
Non pangan
Garis Kemiskinan
III. METODE PENELITIAN
A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional
Konsep dasar dan batasan operasional yang mencakup semua pengertian
dipergunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian.
Pendapatan rumah tangga merupakan pendapatan segenap anggota keluarga yang dapat berasal dari kegiatan penangkapan ikan dan non penangkapan ikan dalam Rp/tahun.
Pengeluaran rumah tangga adalah jumlah pengeluaran semua anggota rumah tangga untuk keperluan konsumsi pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, pendidikan, rekreasi/liburan atau sosialisasi yang dinyatakan dalam Rp/tahun.
26
Nelayan pemilik adalah orang atau badan hukum yang dengan hak ataupun berkuasa atas sesuatu kapal atau perahu yang dipergunakan dalam usaha penagkapan ikan dan alat-alat penangkapan ikan.
Nelayan buruh/penggarap adalah semua orang yang sebagai satu kesatuan dengan menyediakan tenaganya turut serta dalam usaha penangkapan ikan laut.
Perahu motor tempel adalah perahu yang menggunakan mesin (motor tempel) sebagai alat penggerak dan motonya diletakkan di luar baik di buritan maupun sisi perahu. Motor tempel ini dapat dipasang pada jukung ataupun perahu papan.
Usaha penangkapan ikan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat, cara atau apapun termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, mengolah atau mengawetkannya.
Pendapatan usaha penangkapan ikan nelayan juragan adalah pendapatan yang diperoleh dengan menghitung selisih total penerimaan dan pengeluaran usaha penangkapan ikan tersebut sedangkan bagi nelayan buruh pendapatan dari usaha penangkapan ikan tersebut diperoleh melalui bagi hasil.
Usaha non penangkapan adalah kegiatan usaha yang dilakukan selain dari kegiatan melaut misalnya berdagang, menjadi buruh bangunan, buruh cuci, ojek dan lainnya.
B. Jenis Data dan Metode Pengambilan Data
diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) dan data sekunder diperoleh dari lembaga atau intansi terkait dengan penelitian ini.
C. Lokasi Penelitian, Responden dan Waktu Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di Pesisir Kota Agung Kecamatan Kota Agung Kabupaten Tanggamus yang memiliki potensi perikanan yang melimpah dan luas serta menjadi sentra perikanan dari Kabupaten Tanggamus dengan beberapa daerah pesisirnya salah satunya yaitu Kelurahan Pasar Madang dari 16 kelurahan/pekon yang ada di Kecamatan Kota Agung. Pengambilan data ini dilakukan mulai bulan Februari-April 2017. Responden dalam penelitian ini adalah nelayan yang berstatus sebagai pemilik/juragan laut dan ABK nelayan yang tinggal di Pesisir Pantai Kelurahan Pasar Madang yaitu Dusun Kapuran dan Dusun Pantai Laut yang menggunakan alat tangkap jaring dari jenis armada kapal motor <5GT, motor tempel dan jukung. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan sampel sebagai berikut :
1. Mayoritas rumah tangga nelayan tinggal di bibir pantai Kelurahan Pasar Madang tepatnya di Dusun Kapuran dan Pantai Laut
2. Mayoritas rumah tangga nelayan yang tinggal di daerah penelitian menggunakan beragam armada kapal (kapal motor, motor tempel dan jukung)
3. Rumah tangga nelayan yang tinggal pada daerah penelitian terdiri dari pemilik armada maupun ABK (anak buah kapal)
Penentuan jumlah sampel mengacu pada rumus slovin dengan rumus sebagai berikut
28
n = N 1 + Ne2 Di mana:
n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi
e = Kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir (15%)
Dengan jumlah populasi sebesar 1.358 rumah tangga nelayan dan standard error sebesar 0,15 (15%) maka jumlah sampel minimal adalah :
n = 1.358 1 + 1.358 (0,15)2
= 43,03 = 43 sampel
Dengan demikian jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 43 responden yang dilihat berdasarkan jenis armada (kapal motor, motor tempel, jukung) serta status kepemikannya (pemilik dan anak buah kapal).
D. Metode Analisis
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang berdasarkan atas analisis tabel frekuensi dan rata-rata dan diharapkan dapat diperoleh gambaran umum tentang pola pendapatan pada daerah penelitian.
Metode pengolahan data dilakukan dengan menghitung penerimaan, pengeluaran, dan pendapatan usaha perikanan tangkap serta menganalisis kesejahteraan rumah tangga nelayan berdasarkan kriteria BPS yang dilihat dari nilai garis kemiskinan serta membandingkan pendapatan rumah tangga dengan UMR Kabupaten
diperoleh akan disederhanakan dalam bentuk tabulasi yang selanjutnya diolah secara komputerisasi. Analisis tersebut digunakan untuk mengetahui tingkat pendapatan rumah tangga nelayan, struktur pendapatan rumah tangga, pola pengeluaran dan tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan.
1. Analisis Pendapatan
a. Analisis Pendapatan Usaha Perikanan
Untuk menjawab tujuan pertama yakni menganalisis besarnya pendapatan nelayan dari usahaa perikanan, maka menghitung selisih antara penerimaan yang diterima oleh nelayan dengan biaya produksi yang di keluarkan dalam satu tahun dengan rumus sebagai berikut (Suratiyah, 2009) :
π = TR – TC dimana TR = P.Q dan TC = TFC+TVC ……….(1)
Keterangan :
Π = pendapatan (Rp/tahun)
TR = total penerimaan (Rp/tahun) TC = total biaya (Rp/tahun) P = harga produk (Rp/kg) Q = jumlah produksi (kg/tahun) TFC = total biaya tetap (Rp/tahun) TVC = total biaya variabel (Rp/tahun)
b. Analisis Pendapatan Rumah Tangga Nelayan
Untuk menghitung pendapatan rumah tangga nelayan digunakan rumus sebagai berikut :
30
Di mana :
Pn = pendapatan rumah tangga nelayan (Rp/tahun) P1 = pendapatan usaha perikanan (Rp/tahun) P2 = pendapatan usaha non perikanan (Rp/tahun). P3 = pendapatan anggota rumah tang (Rp/tahan)
2. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Nelayan a. Analisis Pengeluaran Rumah Tangga
Analisis pengeluaran rumah tangga adalah total pengeluaran rumah tangga baik pengeluaran untuk kebutuhan makanan dan non makanan. Menurut BPS (2009), analisi pengeluaran rumah tangga dirumuskan dengan :
Ct = C1 + C2……… (3) Keterangan :
Ct = Total pengeluaran rumah tangga nelayan (Rp/tahun) C1 = Pengeluaran untuk kebutuhan pangan (Rp/tahun) C2 = Pengeluaran untuk kebutuhan non pangan (Rp/tahun)
Tingkat pengeluaran per tahun rumah tangga nelayan adalah total pengeluaran rumah tangga nelayan baik pengeluaran makanan dan non makanan dalam satu tahun dibagi jumlah tanggungan rumah tangga digunakan untuk mengetahui tingkat pengeluaran per kapita per tahun. Secara matematis tingkat pengeluaran per kapita per tahun tiap keluarga dapat dirumuskan sebagai berikut :
C / kapita / th (Rp) = C
b. Analisis Badan Pusat Statistik (2017)
Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat kemiskinan rumah tangga nelayan di Pesisir Kota Agung adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kriteria kemiskinan BPS (2017). Pengukuran tingkat kesejahteraan rumah tangga dapat dilakukan dengan pendekatan objektif, menggunakan garis kemiskinan atau standar hidup minimum suatu masyarakat sebagai pembanding yang dikenal dengan garis kemiskinan. Garis kemiskinan dihitung melalui penjumlahan rupiah minimum yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan dan bukan makanan. Penduduk dikatakan miskin apabila memiliki rata-rata pengeluran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan Kabupaten Tanggamus 2017 yaitu sebesar Rp 332.502 per bulan.
Indikator lainnya dalam menentukan tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan adalah membandingkan pendapatan rumah tangga nelayan dengan UMR
Kabupaten Tanggamus sebagai acuan tingkat kesejahteraan nelayan di Kecamatan Kota Agung pada tahun 2017 yaitu sebesar Rp 1.908.447,50.
E. Sistem Bagi Hasil
32
nelayan di Pesisir Kota Agung Tanggamus, peneliti menggunakan teknik
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. Gambaran Umum Kabupaten Tanggamus
Kabupaten Tanggamus terbentuk atas dasar Undang-undang Nomor 2 pada tanggal 21 Maret 1997 resmi menjadi salah satu dari 11 kabupaten di Provinsi Lampung. Kabupaten Tanggamus terdiri dari wilayah daratan dan wilayah laut dengan luas masing-masing 2.855,46 km² dan 1.799,50 km² dengan garis pantai sepanjang 210 km di sekitar Teluk Semangka yang terbagi dalam 302
desa/kelurahan dan 20 kecamatan dengan jumlah penduduk sebanyak 580.383 jiwa yang terdiri atas 302.474 jiwa penduduk laki-laki dan 277.909 jiwa penduduk perempuan dengan kepadatan penduduk 201 jiwa/km2. Topografi wilayah darat merupakan daerah berbukit sampai bergunung, sekitar 40% dari keseluruhan wilayah tersebut memiliki ketinggian dari permukaan laut hingga 2.115 mdpl sedangkan secara geografis, letak Kabupaten Tanggamus berada pada 104°18’ hingga 105°12’ BT dan 5°05’ hingga 5°56’ LS. Secara administratif,
Kabupaten Tanggamus dibatasi oleh tiga wilayah daratan dan satu wilayah laut : 1. Sebelah barat dengan Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat
2. Sebelah timur dengan Kabupaten Pringsewu
34
Potensi sumberdaya alam yang dimiliki Kabupaten Tanggamus sebagian besar dimanfaatkan untuk perikanan dan pertanian. Selain itu masih terdapat beberapa potensi sumber daya alam lain yang potensial untuk dikembangkan antara lain pertambangan emas, granit, batu pualam atau marmer. Di samping itu terdapat pula sumber air panas dan panas bumi serta terdapat bendungan terbesar di Asia yakni bendungan batutegi yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi pembangkit energi listrik alternatif. Komoditi uggulan Kabupaten Tanggamus yaitu sektor perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan jasa.
Berdasarkan data BPS 2017 Kabupaten Tanggamus memiliki rasio jenis kelamin sebesar 109. Penggunaan lahan di Kabupaten Tanggamus tahun 2017 yang mencapai 67,65% dari total luas wilayah kabupaten ini digunakan sebagai lahan pertanian, baik lahan sawah maupun lahan bukan sawah.
Kabupaten Tanggamus merupakan daerah tropis dengan curah hujan rata-rata 161,7 mm/bulan dan rata-rata jumlah hari hujan 15 hari/bulan. Temperaturnya berselang antara 21,3°C sampai 33,0°C, selang kelembapan relatif di
KabupatenTanggamus adalah 39% sampai dengan 100% sedangkan rata-rata tekanan udara minimal dan maksimal di Kabupaten Tanggamus adalah 1.007,4 Nbs dan 1.013,7Nbs.
B. Gambaran Umum Kecamatan Kota Agung
bawah kaki Gunung Tanggamus dan di sisi pantai Teluk Semaka. Kecamatan ini terletak 100 km di barat ibukota Provinsi Lampung. Kecamatan Kota Agung terbagi atas tiga kelurahan (Kelurahan Baros, Kelurahan Pasar Madang dan Kelurahan Kuripan), sepuluh pekon (Pekon Kedamaian, Pekon Kelungu, Pekon Kotaagung, Pekon Kusa, Pekon Negri Ratu, Pekon Penanggungan, Pekon Pardasuka, Pekon Teratas, Pekon Terbaya dan Pekon Terdana) dengan luas wilayah 10.130 Ha atau 76,93 km2. Secara geografis Kecamatan Kota Agung terletak pada posisi 104o18'-105o12' Bujur Timur dan 5o05'-5o56' Lintang Selatan.
Kecamatan Kota Agung memiliki batas wilayah sebagai berikut: 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Gunung Tanggamus
2. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Wonosobo 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Gisting 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Semaka (Pemerintah Kabupaten Tanggamus, 2015).
Penduduk Kecamatan Kota Agung terdiri dari penduduk asli (lampung) dan penduduk pendatang dari luar daerah seperti Sunda, Jawa, Bali, Madura, Palembang dan Bengkulu dengan jumlah penduduk sebanyak 42.339 jiwa ( Kota Agung dalam Angka, 2017).
36
Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Pekon di Kecamatan Kota Agung
No Desa/Kelurahan Laki-laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Jumlah (jiwa) 1. Negeri Ratu 1.476 1.407 2.883
2. Penanggungan 727 686 1.413
3. Terdana 376 338 714
4. Baros 2.205 2.203 4.408
5. Pasar Madang 3.640 3.423 7.063
6. Kuripan 4.926 4.769 9.695
7. Kelungu 357 323 680
8. Pardasuka 318 283 601
9. Teratas 791 729 1520
10. Kusa 1.709 1.591 3.300
11. Terbaya 1.090 1.060 2.150
12. Kedamaian 976 951 1927
13. Kota Agung 1.518 1.465 2.983
14. Kota Batu 636 610 1.246
15. Camping Tiga 358 332 690
16. Benteng Jaya 563 503 1.066
Jumlah 21.666 20.673 42.339
Sumber : Kecamatan Kota Agung dalam Angka, 2017
C. Keadaan Umum Kelurahan Pasar Madang 1. Geografis
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pasar Madang yang merupakan salah satu daerah pesisir di Kecamatan Kota Agung yang menjadi pusat
perekonomian pesisir tepatnya berada di Dusun Kapuran dan Pantai Laut. Kelurahan Pasar Madang berada pada ketinggian 20 m diatas permukaan laut dengan luas wilayah seluas 46 ha.
Kelurahan Pasar Madang 2017, Kelurahan Pasar Madang terdiri dari 17 RT dan 12 dusun. jumlah penduduk di Kelurahan Pasar Madang sebesar 5.641 jiwa dengan 1.624 kepala keluarga yang terdiri dari 2.767 jiwa penduduk laki-laki dan 2.874 jiwa penduduk perempuan. Jumlah penduduk menurut usia di Kelurahan Pasar Madang dijelaskan pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah penduduk menurut usia di Kelurahan Pasar Madang Kabupaten Tanggamus
No Usia
(tahun)
Jumlah (jiwa)
1 0-14 325
2 15-50 2.807
3 >51 2.509
Total 5.641
Sumber : Profil Kelurahan Pasar Madang, 2017
Penggunaan lahan di Kelurahan Pasar Madang meliputi pemukiman,
perindustrian, perkantoran, pasar, terminal dan lain-lain. Penggunaan lahan di Kelurahan Pasar Madang tersebut disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Penggunaan lahan di Kelurahan Pasar Madang tahun 2017 No Penggunaan Lahan Kelurahan Pasar Madang
Luas (ha) Persentase (%)
1. Sawah - -
2 Perkebunan - -
3. Pemukiman 41 89,13
4. Rawa - -
5. Perkantoran 1,20 2,61
6. Industri 0,70 1,52
7. Pasar 2,67 5,80
8. Terminal 0,43 0,94
Jumlah 46 100
[image:54.612.150.529.537.701.2]38
2. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain keadaan fisik alam, letak wilayah daerah tersebut dengan daerah lain dan pola hidup masyarkatnya. Topografi Kelurahan Pasar Madang yang berada di pesisir pantai yang umumnya akan mendorong penduduknya untuk bermatapencaharian sebagai nelayan. Dari tabel 7 dapat kita lihat bahwa penduduk bekerja sebagai nelayan, swasta, pegawai kantor dan lainnya. Persentase jumlah nelayan terbilang besar 36,98% di Kelurahan Pasar
[image:55.612.152.520.422.581.2]Madang. Jumlah penduduk menurut mata pencahariannya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Distribusi penduduk menurut mata pencaharian tahun 2017
No Jenis Pekerjaan Kelurahan Pasar Madang Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Petani - -
2. Nelayan 894 36,98
3. PNS 573 23,70
4. Karyawan 384 15,89
5. Wiraswasta/pedagang 73 3,02
6. Sektor Jasa 275 11,39
7. Buruh 218 9,02
Jumlah 2.417 100,00
Sumber : Profil Kelurahan Pasar Madang, 2017
3. Kehidupan Sosial Ekonomi
langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Hampir seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pantai berprofesi sebagai nelayan. Nelayan di daerah tersebut terdiri dari nelayan pemilik dan buruh nelayan dengan variasi penggunaan armada jukung, motor tempel dan kapal motor<5GT. Selain nelayan, ada beberapa kelompok masyarakat di
Kelurahan Pasar Madang yang juga menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut seperti pembudidayaan ikan dan organisme laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, dan supplier faktor sarana produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan masyarakat di daerah tersebut terdiri dari buruh di pelabuhan, penjual jasa transportasi, buruh bangunan, pedagang skala kecil dan pegawai.
Sebagian besar masyarakat pesisir masih menempati rumah-rumah yang sederhana dengan kondisi drainase yang sangat tidak layak dan kumuh, hanya ada beberapa rumah yang cukup baik. Rumah-rumah yang sederhana di permukaan sepanjang pantai adalah rumah yang dimiliki oleh anak buah kapal ataupun pengolah ikan dan buruh perikanan. Sedangkan rumah-rumah yang permanen dengan jumlah relatife sedikit adalah rumah milik juragan. Secara sekilas terdapat perbedaan yang mencolok bila di bandingkan antara
40
keduanya . Sedangkan untuk rumah juragan dapat dikatakan cukup baik, sarana MCK yang memadai, lantai keramik dan cukup luas.
Perbedaan keadaan yang mencolok ini tidak terlepas dari keadaan ekonomi rumah tangga nelayan yang cukup sulit. Hal ini berbeda dengan juragan yang memiliki banyak sumber penghasilan seperti usaha skala menengah di bidang pertanian, toko-toko dan lainnya. Bagi anak buah kapal, hasil yang didapat dari melaut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari jadi cukup sulit untuk memperbaiki rumah dan sebagainya. Bahkan masih ada nelayan anak buah kapal yang masih menyewa tanah untuk mendirikan tempat tinggalnya. Berbeda dengan juragan darat maupun laut yang penghasilannya lebih dari cukup, sehingga memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumah, biaya pendidikan dan sebagainya. Tetapi dianatara keduanya sama-sama mendapatkan pengahasilan yang tidak menentu dari hasil melaut. Meskipun begitu, sebagai juragan pasti akan lebih
menguntungkan daripada anak buah kapal.
4. Sarana dan Prasarana
ini berupa balai pekon sebanyak 22 kantor, kantor kelurahan sebanyak tiga kantor dan satu kantor kecamatan.
Prasarana pemasaran di Kecamatan Kota Agung berupa pasar yang terletak di pusat kecamatan. Prasarana sosial kecamatan berupa 30 masjid, 27 mushola, 1 kantor pos, 1 puskesmas, 1 poliklinik/balai pengobatan, 1 kantor polisi, 1 kantor Telkom, 1 kantor PLN, 2 bank (Bank BRI dan Bank Lampung). Sedangkan sarana pendidikan yang dimiliki adalah 8 TK, 25 SDN, 4
Madrasah, 2 SD swasta, 4 SD swasta Islam, 6 SLTPN, 3 SLTP swasta umum, 3 SLTP swasta islam, 3 SMUN, 1 MAN, 1 SMU swasta umum, dan dua SMK (Kecamatan Kota Agung dalam Angka, 2017).
Karena letaknya yang tidak jauh dari ibukota kabupaten, daerah pesisir kelurahan ini dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat sekitar maupun pengunjung yang sekedar ingin menawar ikan di tempat pelelangan ataupun sekedar berekreasi di pantai baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
5. Potensi Perikanan
42
Pasifik atau sebaliknya. Ikan-ikan pelagis besar ini merupakan sasaran
penangkapan utama bukan hanya bagi para nelayan di Kabupaten Tanggamus, tetapi juga bagi nelayan dari perairan Teluk Lampung, bahkan dari provinsi lain yang melakukan penangkapan ikan di perairan Kabupaten Tanggamus.
Beberapa jenis-jenis ikan hias air laut ini sangat potensial untuk
dikembangkan masyarakat sebagai komoditas baru di bidang penangkapan ikan dan jenis-jenis lainnya merupakan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran internasional. Kabupaten Tanggamus mempunyai cukup banyak pulau-pulau kecil dan semuanya mempunyai potensi sebagai daerah ekowisata bahari , salah satunya adalah Teluk Kiluan yang berada di
Kecamatan Kelumbayan. Keberadaan lumba-lumba di sekitar Teluk Kiluan menjadi daya tarik utama kunjungan wisatawan ke kawasan ini. Peran pemerintah sangat penting sebagai fasilitator dan akselerator pembangunan suatu wilayah dengan berprinsip pembangunan setara terpadu dan
berwawasan lingkungan, transparan dan akuntabel untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tanggamus (Dinas Perikanan dan Kelautan, 2015).
6. Karakteristik kebudayaan
Berdasarkan latar belakang etnis, mayoritas penduduk kelurahan Pasar Madang adalah Suku Jawa, Suku Sunda (dalam istilah lokal disebut Jaseng), Bugis dan minoritas penduduk merupakan Suku Lampung, Padang, Batak dan Tionghoa. Keberagaman suku ini tidak menjadi penghalang terjalinnya
perkawinan antar suku. Lokasi penelitian ini berada pada daerah pesisir Kelurahan Pasar Madang tepatnya di Dusun Kapuran berada di RT 10, RT 14, dan RT 16 dan Dusun Pantai Laut
Dusun Kapuran dan Dusun Pantai Laut merupakan dua dusun pemukiman nelayan terbesar di Kelurahan Pasar Madang. Mayoritas suku di dusun ini ialah pendatang yang berasal dari berbagai daerah di Jawa dan Sulawesi. Para pendatang ini umumnya sudah tiga generasi tinggal di dusun ini. Dusun Kapuran dan Dusun Pantai Laut tepatnya berada di salah satu gang dekat pantai dan komplek Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Kota Agung. Gang ini tampak kurang teratur dan rapi. Gang ini merupakan lokasi perumahan nelayan yang mayoritas penduduknya merupakan nelayan dan pengolah ikan. Bangunan rumah saling berhimpitan dan gang-gang yang ada sebenarnya merupakan halaman rumah warga yang dijadikan gang. Oleh karena itu, lebar gang hanya sekitar 1,5 meter dan hanya cukup di lalui oleh 1 mobil saja. Gang di Dusun Kapuran dan Dusun Pantai Laut ini sudah di semen dengan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Tanggamus.
44
sampah di sungai ini. Sebagai suatu kelompok sosial, masyarakat nelayan memiliki pola-pola perilaku budaya atau karakteristik budaya yang berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain,. Perbedaan budaya ini terjadi karena kehidupan nelayan lingkungan yang khas, seperti karakteristik pekerjaan mereka, yakni menangkap ikan.
Masyarakat nelayan di dusun ini memiliki etos kerja yang mengharuskan nelayan bekerja keras untuk memperoleh tangkapan yang banyak. Kerja keras yang dilakukan nelayan bisa dilihat berdasarkan aktivitas yang dilakukan nelayan yang berkaitan dengan kenelayanan. Nelayan dalam melakukan aktivitasnya tidak memandang usia, karena aktivitas melaut hanya
mengandalkan kekuatan fisik saja dan tidak ditentukan berdasarkan usia agar bisa ikut melaut, hanya disyaratkan kepada laki-laki yang sudah mahir
berenang. Apabila sudah mahir berenang maka seorang anak berusia 10 tahun pun bisa ikut serta melakukan aktivitas melaut bersama orang tuanya. Dalam melakukan aktivitas melaut, nelayan melakukannya dengan cara berkelompok dalam satu kelompok biasanya ada sekitar 5 sampai 7 orang untuk kapal motor berukuran kurang dari 5GT.
Kapal yang melaut dengan berkelompok ialah kapal bagan dan kapal payang, dalam satu kelompok terdiri dari nahkoda, tukang lelang, juru mesin,
kapasitas muatannya besar sedangkan untuk motor tempel biasa di isi dengan 4-5 orang dan jukung 2-3 orang. Sebelum berangkat melaut, nelayan
mempersiapkan peralatan melaut bersama dengan para anak buah kapal lainnya. Adapun peralatan yang disiapkan diantaranya ialah jaring (peralatan utama yang dibutuhkan nelayan untuk menjaring ikan di laut), pancing, umpan, batu (untuk pemberat jaring), pelampung, bambu, fiber untuk tempat menyimpan ikan, keranjang atau bakul, es balok, golok, solar, lampu, bontot, peralatan makan. Ketika di laut, untuk menentukan lokasi menebar jaring, nelayan terutama nahkoda melihat keadaan angin dan tanda-tanda alam lainnya.
Adapun tanda-tandanya ialah pada saat musim ikan yang terjadi pada bulan Februari-Juni, nelayan bisa menghabiskan waktu di laut selama 8-15 jam dan hanya melaut sekitar 5-8 jam saat musim sepi ikan, nelayan banyak yang cepat pulang ke rumah apabila tidak terlihat tanda-tanda ikan di air atas permukaan laut, seperti ada buih-buih atau gelembung udara dipermukaan air, warna air akan telihat lebih gelap dibandingkan dengan warna air disekitarnya karena banyak ikan yang bergerombol, adanya burung yang berkeliaran di atas permukaan laut. Akan tetapi ada juga nelayan yang hanya menggunakan
46
Gelombang besar di laut dapat terjadi kapan saja baik pada saat musim ikan maupun saat musim sepi ikan.
Menangkap ikan dilakukan dengan mengunakan jaring yang cukup lebar. Untuk menyebut ukuran, nelayan mengenal istilah depa. Saat melaut membawa jaring berukuran 37x25 depa atau sama dengan 66,6 x 45 meter. Ikan dikepung kemudian dikurung saat jaring ditebar keliling. Setelah ikan berhasil dijaring, jaring diangkat dan ikan yang tersangkut kemudian
dipindahkan ke dalam keranjang atau bakul yang yang diberi es batu agar ikan tetap segar sampai dibawa kembali ke darat. Saat di darat, ikan biasanya diangkut oleh buruh angkut tempat pelelangan ikan (TPI) untuk di bawa dan di lelang. Terlihat juga anak-anak kecil yang memungut ikan yang terjatuh di badan kapal atau dijalan dermaga, lalu ikan yang berhasil dikumpulkan ada yang dijual ada juga yang dijadikan lauk makan dirumah sendiri.
Solidaritas sosial dan integrasi sosial masyarakat nelayan di keempat dusun ini memiliki solidaritas sosial dan integrasi sosial yang kuat antar sesama nelayan. Hal ini terjadi dikarenakan nelayan menyadari bahwa sebagai bagian dari masyarakat harus mempunyai rasa solidaritas antar sesama. Rasa
solidaritas tidak hanya terjalin ketika di laut saja, akan tetapi di darat juga. Di darat, solidaritas sosial ini dikokohkan lagi dengan hubungan-hubungan kekerabatan, ketetanggaan dan pertemanan untuk menghadapi berbagai masalah sosial ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi perilaku sosial terlihat dari pola perilaku sosial masyarakat nelayan, dimana ada hubungan emosional dalam aktivitas kehidupan berkelompok sebagai nelayan. Salah satu pengaruhnya adalah secara bersama-sama menggunakan kapal dalam aktivitas menangkap ikan, membagi hasil tangkapan berdasarkan kesepakatan.
Ikatan kekeluargaan masyarakat nelayan masih terjaga, hal ini terlihat dari kegiatan gotong royong dan tolong menolong diantara warga masyarakatnya dalam menjalani kehidupan bersama seperti ketika ada yang mengadakan hajatan atau tertimpa musibah. Masih ada rasa senasib sepenanggungan dan rasa kepedulian terhadap sesama nelayan. Dalam kegiatan kenelayanan, nelayan dibagi menjadi tiga status berdasarkan atas peran dan tanggung jawab masing-masing nelayan, yaitu juragan, nahkoda dan anak buah kapal (ABK).
48
tergantung besarnya hasil yang didapat sebab dari hasil tersebut akan dibagi sesuai dengan perjanjian antara anak buah kapal atau ABK dengan pemilik perahu yang ditetapkan sebelumnya, cara penghitunganya adalah dari hasil penangkapan ikan sebagian disisihkan untuk biaya operasional, perbekalan, pemeliharaan serta perbaikan alat dan biaya lain yang berhubungan dalam penangkapan ikan. Sehingga tinggal hasil bersih dan hasil bersih itu dibagi berdasarkan banyaknya anak buah kapal dengan pembagian yang ditentukan berdasarkan posisi masing-masing dan berdasarkan kesepakatan.
Sistem bagi hasil yang berlaku pada masyarakat nelayan di Dusun Kapuran, Pantai Laut Kelurahan Pasar Madang dan Kecamatan Kota Agung Kabupaten Tanggamus ialah dengan cara hasil dari penjualan ikan dikurangi biaya operasional setelah itu sisanya dibagi menjadi 50% untuk pemilik kapal (juragan), 50% untuk ABK. Misalnya dalam sekali melaut total
penghasilannya tersisa 10 juta setelah dikurangi biaya operasional, maka 5 juta untuk pemilik kapal (juragan) dan sisanya 5 juta dibagi rata sesuai jumlah anak buah kapal dan nahkoda yang ikut melaut.
masuk sekolah siang. Kegiatan anak-anak yang sekolah berbeda dengan kegiatan anak-anak yang tidak sekolah atau putus sekolah. Anak-anak laki-laki yang putus sekolah berusaha mencari kegiatan untuk mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kenelayanan seperti membersihkan kapal dan tidak jarang mereka juga mengambil ikan-ikan yang tersisa di kapal untuk dijual kembali. Ada juga yang ikut pergi melaut
bersama orang tuanya. Anak-anak perempuan yang putus sekolah membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh adik. Ada juga yang bekerja
79
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pendapatan rumah tangga nelayan responden di daerah penelitian sebagian besar berada pada tingkatan sejahtera, hanya responden nelayan anak buah kapal (ABK) dari armada motor tempel dan jukung yang masih tergolong rendah berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Tanggamus.
2. Struktur pendapatan dari usaha penangkapan ikan memberikan kontribusi sebesar 91,78% dari total pendapatan rumah tangga, pekerjaan sampingan nelayan memberikan kontribusi sebesar 6,35% dan kontribusi pendapatan dari anggota keluarga hanya 1,87%.
terbesar dari total pengeluaran rumah tangga anak buah kapal nelayan yaitu sebesar 81,50% dan non pangan sebesar 18,50%.
B. SARAN
Adapun saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Perlu adanya pembekalan rutin terkait penyuluhan perikanan serta bantuan armada kapal dan alat tangkap bagi nelayan yang kurang mampu serta perlu adanya penjaminan stabilitas harga ikan ditingkat produsen, karena pada saat musim panen kecenderungan harga ikan akan menjadi murah.. 2. Perlu adanya pendampingan yang intensif dari tenaga pendamping
keluarga harapan dalam memandirikan masyarakat nelayan dalam hal menambah nilai produksi perikanan melalui peningkatan nilai tambah produk perikanan yang dihasilkan.
3. Pada kondisi panen raya sebaiknya pendapatan yang diperoleh disisihkan atau disimpan dalam bentuk tabungan, emas maupun barang lainnya yang bisa diuangkan ketika musim paceklik.
4. Perlu adanya alternatif mata pencaharian disektor non perikanan untuk dapat meningkatkan pendapatn rumah tangga, sehingga nelayan tidak sepenuhnya tergantung pada pekerjaannya menangkap ikan yang bersifat musiman..