• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
57
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA

MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Skripsi

Oleh

FITRI FEBRIYANTI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

Fitri Febriyanti

ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA

MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Oleh

FITRI FEBRIYANTI

(3)

Fitri Febriyanti

penguasaan konsep siswa. Ukuran pengaruh (effet size) diukur dengan uji-t dan uji effect size terhadap model pembelajaran problem solving dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit. Me-ningkatnya penguasaan konsep siswa ditunjukkan berdasarkan rata-rata nilai n-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran problem solving memiliki kepraktisan dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit. Hal ini dibuktikan dengan keterlaksanaan model pembelajaran problem solvingmemiliki kriteria “sangat baik” dan kemena-rikan model pembelajaran problem solving memiliki respon yang positif dari siswa. Model pembelajaran problem solving juga memiliki keefektivan dalam meningkat-kan penguasaan konsep siswa. Hal ini dibuktimeningkat-kan dengan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dan aktivitas siswa yang relevan selama pembelajaran me-miliki kriteria “sangat baik”,serta penguasaan konsep siswa mengalami peningkat-an dengpeningkat-an kriteria nilai n-gain“sedang”. Model pembelajaran problem solving memiliki ukuran pengaruh yang“besar”dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit.

(4)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA

MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Oleh

FITRI FEBRIYANTI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Bintang pada tanggal 25 Februari 1995 sebagai anak keempat dari lima bersaudara buah hati dari Bapak Samsul Bahri, S.E dan Ibu Asmarani, S.Pd.

Penulis mengawali pendidikan formalnya di TK Tri Dharma pada tahun 1998 diselesaikan tahun 2000. Pada tahun 2000 penulis melanjutkan pendidikannya di SD Negeri 1 Jatibaru kecamatan Tanjung Bintang hingga tahun 2006, kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Tanjung Bintang hingga tahun 2009. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) di MAN 1 Bandarlampung hinggga tahun 2012.

(9)

MOTTO

“Barang siapa yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari

kesusahan-kesusahan di hari kiamat” (H.R Muslim)

“Barang siapa yang memberi kemudahan orang yangkesulitan, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan di akhirat”

(H.R Muslim)

“Jadilah orang yang bermanfaat untuk oranglain, karena orang bermanfaat lebih tinggi derajatnya dari pada orang hebat. Orang bermanfaat pasti hebat, tapi

orang hebat belum tentu bermanfaat” (Fitri Febriyanti)

“Doa mampu membuat sesuatu menjadi mudah, Doa mampu membuat seseorang yang sedih menjadi bahagia, Doa mampu membuat yang jauh terasa dekat, Doa mampu mengakrabkan sesama, dan Doa mampu membuat mimpi menjadi nyata.

(10)

PERSEMBAHAN

Bismillahirrohmannirrohim……

Tiada yang sempurna ku ucapkan selain rasa syukurku, Alhamdulillahirabbil’ alamin, puji syukur kepada ALLAHsubhanahuwata’alayang selalu

memberikan kuasa-Nya dan waktu-waktu indah dalam setiap proses di hidupku.

Diri ini tiada daya tanpa adanya kekuatan dari-Mu Ya Rabb, dengan segala ketulusan hati, kupersembahkan skripsi ini teruntuk orang-orang tercinta

dan tersayang yang selalu setia berada di samping ku.

Ayahanda dan Ibunda tercinta, terimakasih untuk selalu memberikan semangat, dukungan yang tiada hentinya kepada anada, yang selalu berdoa, berjuang

dan mendidik ananda dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk meraih cita-cita.

Keluarga besarku tercinta, terimakasih atas semangat yang kalian tuangkan dalam setiap keletihanku, terima kasih karena selalu memberikan senyum, canda

tawa yang selalu menjadi warna yang ananda rindukan dalam kesendirian saat jauh dari keluarga.

(11)

SANWACANA

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, Rabb semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul“Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Ucapan terimakasih tak lupa penulis haturkan kepada:

1. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Ibu Dr. Ratu Betta Rudibyani, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia dan selaku pembimbing I yang telah memberikan motivasi, saran, kesediaannya, kesabarannya dalam memberikan bimbingan, pengarahan, dan masukan selama proses penyusunan skripsi.

4. Ibu Emmawaty Sofia, S.Si., M.Si., selaku pembimbing II yang telah memberi-kan motivasi, saran, kesediaannya, kesabarannya dalam memberimemberi-kan bimbing-an, pengarahbimbing-an, dan masukan selama proses penyusunan skripsi.

(12)

6. Ibu Dra. Nina kadaritna, M.Si., selaku dosen Pembimbing Akademik (PA), serta Bapak dan Ibu dosen di Program Studi Pendidikan Kimia dan seluruh Staf Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung.

7. Bapak Triyatmo, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 13 Bandarlampung beserta jajaran, serta Ibu Dra. Gusnaili selaku Guru Mitra yang telah banyak membantu dan memberikan banyak informasi.

8. Ayahanda Samsul Bahri, S.E., Ibunda Asmarani, S.Pd., Lia Junitasari, S.Kep., Dina Apriyana, S.Pd., Vivi Oktafiani, Amd.Keb., dan Raffi Septian Ramadhan selaku keluarga yang telah memberikan doa, semangat, dan inspirasi dalam menyelesaikan studi di Pendidikan Kimia.

9. Muhammad Fuaedi Hamami, S.T selaku sahabat terbaik sejak SMA yang telah memberikan inspirasi, saran, dukungan, bantuan dalam penyusunan skripsi. 10. Rekan se-Tim Ekha Oktharia dan Elsie Tiara Pramesti, sahabat-sahabatku

Nisa, Lezy, Novita, Shella, Rahim dan Iqbal, serta rekan-rekan Pendidikan Kimia 2013 yang telah memberikan saran, dukungan, motivasi dan doanya selama proses penyusunan skripsi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, akan tetapi semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi pembaca. Aamiin.

Bandar Lampung, Juni 2017 Penulis,

(13)

xiii

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Belajar Kontruktivisme ... 8

B. Model Pembelajaran Problem Solving ... 9

C. Penguasaan Konsep ... 13

D. Kepraktisan Pembelajaran ... 14

E. Efektivitas Pembelajaran ... 15

F. Analisis Konsep ... 16

G. Kerangka Pemikiran ... 17

H. Anggapan Dasar ... 19

(14)

xiv

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Subyek Penelitian ... 21

B. Metode Penelitian ... 21

C. Instrumen Penelitian ... 22

D. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 24

E. Analisis Data 1. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 27

2. Analisis Data Kepraktisan Model Pembelajaran Problem Solving ... 28

3. Analisis Data Keefektivan Model Pembelajaran Problem Solving .. 31

4. Analisis Ukuran Pengaruh (Effect Size) ... 34

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 35

1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes ... 35

2. Kepraktisan Model Pembelajaran Problem Solving ... 37

3. Keefektivan Model Pembelajaran Problem Solving ... 41

4. Ukuran Pengaruh (Effect Size) ... 47

B. Pembahasan ... 47

C. Kendala-Kendala yang Dihadapi ... 64

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 66

B. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1. Analisis KI-KD ... 73

2. Silabus ... 77

3. RPP Pertemuan 1 ... 79

(15)

xv

5. Analisis Konsep ... 99

6. Hasil Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes ... 103

7. Lembar Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran Problem Solving ... 107

8. Rekapitulasi Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran Problem Solving ... 109

9. Angket Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Problem Solving ... 112

10. Rekapitulasi Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Problem Solving . 114 11. Lembar Observasi Kemampuan Guru ... 116

12. Rekapitulasi Observasi Kemampuan Guru ... 119

13. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa ... 124

14. Rekapitulasi Pengamatan Aktivitas Siswa ... 126

15. Lembar Penilaian Sikap ... 129

16. Rekapitulasi Penilaian Sikap ... 135

17. Lembar Penilaian Keterampilan ... 136

18. Rekapitulasi Penilaian Keterampilan ... 144

19. Hasil Perhitungan n-gain ... 146

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Desain Penelitian ... 22

2. Tafsiran skor (persentase) ... 29

3. Pengolahan Jumlah Skor pada Skala Sikap ... 30

4. Kriteria Penilaian ... 33

5. Hasil Uji Validitas ... 36

6. Hasil Perhitungan Lembar Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran Problem Solving ... 38

7. Hasil Perhitungan Angket Respon Siswa Terhadap Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving ... 40

8. Hasil Perhitungan Lembar Observasi Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran Dengan Model Pembelajaran Problem Solving ... 42

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bagan Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 26 2. Hasil Analisis Keterlaksanaan RPP Model Pembelajaran Problem Solving ... 38 3. Hasil analisis kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran ... 42 4. Hasil analisis aktivitas siswa selama pembelajaran menggunakan model

(18)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang alam semesta

dan segala isinya (Tim Penyusun, 2006). IPA bukan hanya sebagai penguasaan

kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga

merupakan suatu proses penemuan. IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi

peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek

pe-ngembangan lebih lanjut agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari

(Trianto, 2010).

Kimia merupakan salah satu bagian dari IPA yang mempelajari struktur, susunan,

sifat dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi yang

me-libatkan keterampilan dan penalaran siswa. Salah satu cabang IPA yaitu ilmu

kimia. Ilmu kimia mempelajari struktur, susunan, sifat dan perubahan materi, serta

energi yang menyertai perubahan materi yang melibatkan keterampilan dan

penalaran siswa (Silberberg, 2009). Ilmu kimia harus memperhatikan karakteristik

kimia sebagai sikap, proses, dan produk. Ilmu kimia sebagai proses meliputi cara

berpikir, sikap, dan langkah-langkah kegiatan ilmiah untuk memperoleh produk

kimia berupa fakta, teori, hukum, dan prinsip atau konsep kimia (Tim Penyusun,

(19)

2

pembelajaran kimia. Dimana kurikulum 2013 dikembangkan dengan

penyem-purnaan pola pikir siswa yaitu 1) pola pembelajaran yang semula berpusat pada

guru disempurnakan menjadi pembelajaran berpusat pada siswa; 2) pola

pembel-ajaran yang semula siswa pasif menjadi pembelpembel-ajaran siswa aktif, kritis dan kreatif

(Tim penyusun, 2006).

Faktanya, pembelajaran sains di sekolah, khususnya pada pembelajaran kimia

masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dengan metode

ceramah. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa

untuk menghafal dan menimbun informasi, tanpa dituntut untuk memahami dan

menghubungkan informasi dengan kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2006).

Akibat-nya pembelajaran kimia menjadi kehilangan daya tarikAkibat-nya dan lepas relevansiAkibat-nya

dengan dunia nyata yang seharusnya menjadi objek ilmu pengetahuan itu sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru kimia di SMA Negeri 13

Bandarlampung, bahwa pembelajaran kimia di kelas X SMA tersebut sudah

meng-gunakan kurikulum 2013 namun pada proses pembelajarannya masih mengmeng-gunakan

metode ceramah. Proses pembelajarannya masih mengacu pada teacher centered

sebagai sumber utama pengetahuan, seperti guru meminta siswa untuk mendengar

dan mencatat materi yang disampaikan, lalu siswa diminta untuk mengerjakan

Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS yang digunakan guru hanya berisi rangkuman

materi dan latihan soal saja, sehingga belum dapat membimbing siswa untuk

nemukan konsep. Siswa kurang terlatih dalam memecahkan masalah ilmiah,

me-ngemukakan hipotesis, merencanakan suatu eksperimen untuk menguji hipotesis

(20)

3

pelajaran kimia tersebut. Kegiatan pembelajaran ini membuat siswa cenderung

pasif, memiliki keterampilan berpikir yang rendah, materi yang diperoleh siswa

bersifat instan dan siswa kurang memahami konsep yang diajarkan (Kosasih, 2014).

Menurut Hamalik (2005) bahwa proses pembelajaran akan memberikan hasil yang

optimal jika guru mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang tepat.

Model pembelajaran yang diharapkan adalah model pembelajaran inovatif yaitu

model pembelajaran yang dasar filosofinya adalah konstruktivisme (Rusmiati dan

Yulianto, 2009). Maka, sudah seharusnya seorang guru perlu memperbaiki model

dan proses pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam memecahkan

masalah serta memperbaiki pola pembelajaran yang semula dari metode teacher

centered menjadi metode student centered. Salah satu model pembelajaran yang

mengarah kepada proses penemuan konsep dan pemecahan masalah adalah model

pembelajaran problem solving dimana pada proses pembelajarannya digunakan

LKS dan instrumen asesmen pembetahuan berbasis problem solving.

Menurut Arifin (2005) pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah

pem-belajaran yang digunakan oleh guru untuk mengembangkan proses berpikir siswa

melalui pemberian masalah yang akan dianalisis secara individu maupun kelompok

guna menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Model pembelajaran problem

solving memiliki langkah-langkah yaitu (1) Ada masalah yang jelas untuk

dipecah-kan; (2) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan

masalah; (3) Menetapkan jawaban sementara dari masalah; (4) Menguji kebenaran

jawaban sementara; (5) Menarik kesimpulan (Djamarah dan Zain, 2010).

(21)

4

hasil penelitian dari Lambertus (2014) bahwa terdapat peningkatan kemampuan

belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah

di-bandingkan dengan pembelajaran konvensional, dan dapat meningkatkan keaktifan

siswa mencapai persentase rata-rata 82,32%. Selain itu hasil penelitian Lidiawati

(2011) yang dilakukan pada siswa SMA Negeri 1 Abung kelas XI, menunjukkkan

bahwa pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran problem solving

mem-berikan kesempatan siswa untuk meningkatkan kemampuan mengkomunikasikan

dan penguasaan konsep pada materi koloid. Safitri et. al. (2013) menyimpulkan

bahwa model problem solving efektif dalam meningkatkan keterampilan

meng-klasifikasi dan penguasaan konsep siswa pada materi hidrolisis garam.

Berdasarkan uraian di atas, dalam upaya meningkatkan penguasaan konsep siswa

khususnya pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit, maka dilakukan

pe-nelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk

Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Larutan Elektrolit dan Non

Elektrolit”. Penerapan ini menggunakan LKS dan instrumen asesmen pengetahuan

berbasis problem solving hasil pengembangan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah kepraktisan model pembelajaran problem solving dalam

me-ningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non

elektrolit?

(22)

5

meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non

elektrolit?

3. Bagaimanakah ukuran pengaruh model pembelajaran problem solving dalam

meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non

elektrolit?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk :

1. Mendeskripsikan kepraktisan model pembelajaran problem solving dalam

meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non

elektrolit.

2. Mendeskripsikan keefektivan model pembelajaran problem solving dalam

meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non

elektrolit.

3. Mendeskripsikan ukuran pengaruh model pembelajaran problem solving dalam

meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non

elektrolit.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak antara lain bagi :

1. Siswa

Melalui penerapan model pembelajaran problem solving diharapkan dapat

(23)

6

bagi siswa dalam memecahkan masalah kimia. Siswa dapat lebih memahami

materi kimia bukan hanya konsep dan hukumnya saja namun siswa juga dapat

memahami proses penemuannya.

2. Guru dan Calon Guru

Model Pembelajaran problem solving dapat menjadi salah satu alternatif model

pembelajaran yang dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.

3. Sekolah

Model Pembelajaran problem solving dapat menjadi alternatif atau bahan

referensi untuk meningkatkan mutu pembelajaran kimia di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Model pembelajaran problem solving dalam penelitian ini merupakan model

pembelajaran yang melatih siswa untuk memecahkan suatu masalah.

Langkah-langkah model pembelajaran problem solving (Djamarah dan Zain, 2010) yaitu

(1) Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan; (2) Mencari data atau

keterang-an yketerang-ang dapat digunakketerang-an untuk memecahkketerang-an masalah tersebut; (3) Menetapkketerang-an

jawaban sementara dari masalah tersebut; (4) Menguji kebenaran jawaban

se-mentara tersebut; (5) Menarik kesimpulan.

2. Dahar (1989) menyatakan konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu

kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, hubungan-hubungan

yang mempunyai atribut yang sama. Penguasaan konsep adalah kemampuan

siswa dalam memahami konsep-konsep setelah kegiatan pembelajaran.

(24)

7

Peningkatan penguasaan konsep ditunjukkan melalui perolehan skor gain,

yaitu selisih antara skor postes dan skor pretes (Sunyono, 2012) namun, untuk

menghindari pembiasan pada skor gain, maka dilakukan normalisasi skor gain

tersebut dengan mengacu pada rumus Hake (2002) sehinga diperoleh nilai

n-gain.

3. Materi yang dibahas dalam penelitian ini adalah materi larutan elektrolit dan

non elektrolit.

4. Kepraktisan suatu model pembelajaran problem solving pada materi larutan

elektrolit dan non elektrolit ini dapat diukur berdasarkan keterlaksanaan model

pembelajaran problem solving (dilihat dari lembar observasi keterlaksanaan

model pembelajaran) dan kemenarikan model pembelajaran problem solving

(dilihat dari angket respon siswa).

5. Keefektivan model pembelajaran problem solving pada penelitian ini diukur

berdasarkan lembar observasi kemampuan guru dalam mengelola

pembelajar-an, lembar observasi aktivitas siswa selama pembelajarpembelajar-an, lembar penilaian

sikap dan keterampilan sebagai data pendukung aktivitas siswa pada saat

praktikum serta hasil peningkatan penguasaan konsep siswa.

6. Ukuran pengaruh (effect size) berkenaan dengan tingkat keberhasilan suatu

perlakuan yang diterapkan dalam suatu pembelajaran (Jahjouh, 2014). Ukuran

pengaruh dapat ditentukan dengan uji-t dan uji effect size terhadap model

pem-belajaran problem solving dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa pada

(25)

8

II.TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme dikembangkan oleh Piaget pada pertengahan abad 20.

Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki

kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang

di-konstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang

ber-makna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses

pemberitahu-an tidak akpemberitahu-an menjadi pengetahupemberitahu-an ypemberitahu-ang bermakna. Pengetahupemberitahu-an tersebut hpemberitahu-anya

untuk diingat sementara setelah itu dilupakan (Sanjaya, 2006).

Sebuah jurnal mengatakan bahwa pembelajaran sains akan menjadi penuh makna

jika kemampuan atau pengetahuan tersebut diperoleh dari pendekatan

konstruk-tivisme, belajar mengenai lingkungan akan direncanakan sehingga pengetahuan dan

kemahiran dapat dicapai. Artinya, bahwa memang pembelajaran konstruktivisme

cocok digunakan dalam pembelajaran sains.

Learning science is seen by many as meaningful if skills or knowledge is acquired in a constructivist approach, learning environment should be planned so that the learning and acquisition can be achieved (Raufl et. al., 2013).

Konstruktivisme menurut Von Glasersfeld (dalam Taufiq, 2012), Agar siswa

mampu mengkonstruksi pengetahuan, maka diperlukan:

(26)

9

pengalaman, karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi individu siswa dengan pengalaman-pengalaman tersebut.

2. Kemampuan siswa untuk membandingkan, dan mengambil keputusan me-ngenai persamaan dan perbedaan suatu hal, agar siswa mampu menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus serta melihat kesamaan dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkonstruksi pengetahuannya.

3. Kemampuan siswa untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari yang lain (selective conscience). Melalui “suka dan tidak suka” inilah muncul penilaian siswa terhadap pengalaman, dan menjadi landasan bagi pem-bentukan pengetahuannya.

Prinsip-prinsip konstruktivisme menurut Suparno (1997), antara lain:

(1) pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif; (2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa; (3) mengajar adalah membantu siswa belajar; (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir; (5) kurikulum menekankan partisipasi siswa; dan (6) guru adalah fasilitator.

B. Model Pembelajaran Problem Solving

Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran

yang berlandaskan teori konstruktivisme. Model pembelajaran problem solving

adalah sistem pembelajaran yang menuntut siswa belajar untuk memecahkan

masalah baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu dalam

pembel-ajaran, siswa harus aktif agar dapat memecahkan masalah yang ditemukan oleh

siswa sendiri berdasarkan fenomena atau fakta yang diberikan oleh guru (Lidiawati,

2011).

Menurut Sriyono (1992), model pembelajaran problem solving adalah suatu cara

mengajar dengan menghadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau

diselesaikan. Model pembelajaran ini menuntut kemampuan untuk melihat sebab

akibat, mengobservasi masalah, mencari hubungan antara berbagai data yang

(27)

10

Masalah pada hakikatnya merupakan bagian dalam kehidupan manusia. Masalah

yang sederhana dapat dijawab melalui proses berpikir yang sederhana, sedangkan

masalah yang rumit memerlukan langkah-langkah pemecahan yang rumit pula.

Menurut Sukarno (1981) dengan menggunakan model pembelajaran problem

solving, anak dapat dilatih untuk memecahkan masalah secara ilmiah, melatih

me-ngemukakan hipotesis, melatih merencanakan suatu eksperimen untuk menguji

hipotesis itu, melatih mengambil suatu kesimpulan dari sekumpulan data yang

di-peroleh anak-anak dari pelajaran sains itu, juga segi-segi lainnya yang terdapat pada

sains.

Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif

dalam mempelajari, mencari, dan menemukan sendiri informasi untuk diolah

men-jadi konsep, prinsip, teori, atau kesimpulan. Dengan kata lain, pemecahan

me-nuntut kemampuan memproses informasi untuk membuat keputusan tertentu

(Nessinta, 2010).

John Dewey (dalam Sanjaya, 2006) mengemukakan bahwa langkah-langkah

problem solving dalam proses pembelajaran yaitu :

1. siswa menghadapi masalah, artinya dia menyadari adanya suatu masalah tertentu

2. siswa merumuskan masalah, artinya menjabarkan masalah dengan jelas dan spesifik

3. siswa merumuskan hipotesis, artinya merumuskan kemungkinan-kemung-kinan jawaban atas masalah tersebut yang masih perlu diuji kebenarannya 4. siswa mengumpulkan dan mengolah data/informasi

5. siswa menguji hipotesis berdasarkan data/informasi yang telah dikumpulkan dan diolah

6. menarik kesimpulan berdasarkan pengujian hipotesis dan jika ujinya salah maka kembali ke langkah 3 dan 4 dan seterusnya

(28)

11

Langkah-langkah model problem solving Depdiknas dalam Nessinta (2010) yaitu

meliputi :

1. Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.

2. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya dan lain-lain.

3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada tahap kedua di atas.

4. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam tahap ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban sementara atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan model-model lainnya seperti demonstrasi, tugas, diskusi, dan lain-lain.

5. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan ter-akhir tentang jawaban dari masalah tadi.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Lambertus (2014) menyimpulkan bahwa problem

solving melatih siswa untuk mencari informasi sendiri dan lebih banyak

ber-interaksi dengan siswa yang lain. Hal inilah yang menyebabkan pembelajaran

problem solving lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Langkah-langkah dalam penggunaan model problem solving yaitu sebagai berikut

1. Ada masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.

2. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya dan lain-lain.

3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada langkah kedua di atas.

(29)

12

5. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi (Djamarah dan Zain, 2010).

Kelebihan dan kekurangan pembelajaran problem solving menurut Djamarah dan

Zain (2010) adalah sebagai berikut:

1. Kelebihan pembelajaran problem solving

a. Pembelajaran ini dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan.

b. Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil. c. Pembelajaran ini merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa

secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya, siswa banyak melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahannya.

2. Kekurangan pembelajaran problem solving

a. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pe-ngalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru

b. Proses belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran ini sering me-merlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran lain

c. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berfikir memecahkan permasalah sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan ber-bagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.

3. Cara-Cara Mengatasi Kelemahan-Kelemahan Metode Problem Solving

a. Masalah yang diajukan untuk diselesaikan, carilah masalah yang aktual, sering terjadi. Untuk itu juga perlu kiranya memperoleh input dari peserta diklat terlebih dahulu. Bagaimana menurut pendapat mereka tentang masalah itu. Apakah kemampuan dan pengetahuan peserta diklat diperkirakan masih sanggup untuk menyelesaikannya.

b. Diusahakan agar melihat sesuatu masalah dari sudut lain, dalam arti masalah itu harus diolah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prior knowledge dan kemampuan peserta diklat.

c. Uraikanlah suatu masalah menjadi unsur-unsur sebab akibat, dan pilihlah mana yang betul-betul relevan serta cocok dengan keadaan peserta diklat. Jangan sampai terjadi kekaburan bagi peserta diklat tentang dari mana mereka harus memulai tugasnya.

(30)

13

model pohon masalah, atau memetakan masalah (problem mapping) dan masing-masing dicarikan alternatif penyelesaiannya.

C. Penguasaan Konsep

Dahar (1989) menyatakan konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatukelas

objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, hubungan-hubungan yang

mem-punyai atribut yang sama. Konsep merupakan pokok utama yang mendasari

ke-seluruhan sebagai hasil berpikir abstrak manusia terhadap benda peristiwa, fakta

yang menerangkan banyak pengalaman. Menurut Herman Hudojo (dalam

Rokhayati, 2011) konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan kita

meng-klasifikasikan objek-objek dan peristiwa-peristiwa itu termasuk atau tidak ke dalam

ide abstrak tersebut.

Menurut Rokhayati (2011) sendiri menyatakan bahwa konsep merupakan suatu

pengertian yang dapat digunakan atau memungkinkan sseorang untuk

mengelom-pokkan atau menggolongkan suatu objek atau peristiwa termasuk atau tidak

ter-masuk dalam pengertian tersebut. Untuk membangun konsep, siswa melakukan

dengan cara pengamatan atau membayangkan sesuatu yang konkret terlebih dahulu.

Siswa tersebut dikatakan dapat membangun konsep jika dia dapat membedakan

mana yang termasuk contoh dan bukan contoh dari suatu ide abstrak.

Santrock (2009) mengemukakan bahwa konsep adalah kategori yang

mengelom-pokkan objek, kejadian dan karakteristik berdasarkan bentuk-bentuk yang sama

sehingga dapat dibayangkan jika siswa tidak memiliki konsep maka siswa akan

memperoleh masalah, walaupun masalah itu dipandang sepele menjadi masalah

(31)

14

menyatakan bahwa penguasaan konsep adalah usaha yang harus dilakukan oleh

siswa dalam merekam dan mentransfer kembali sejumlah informasi dari suatu

materi pelajaran tertentu. Lebih ringkasnya penguasaan konsep adalah hasil dari

kegiatan intelektual. Selain siswa mampu menguasai suatu konsep, kreativitas juga

sangat diperlukan dalam memecahkan masalah. Seyogyanya penguasaan konsep

tidak lepas dari proses belajar pengetahuan seperti yang diungkapkan oleh Piaget

(dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002) bahwa belajar pengetahuan meliputi tiga fase.

Fase-fase itu adalah fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep.

Dalam fase eksplorasi, siswa mempelajari gejala dengan bimbingan. Dalam fase

pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala.

Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain

lebih lanjut.

D. Kepraktisan Pembelajaran

Nieveen (Sunyono, 2012) menyatakan bahwa kepraktisan suatu model

pembelajar-an merupakpembelajar-an salah satu kriteria kualitas model ypembelajar-ang ditinjau dari hasil penelitipembelajar-an

pengamat berdasarkan pengamatannya selama pelaksanaan pembelajaran

ber-langsung. Kepraktisan mengacu pada sejauh mana bahwa pengguna (atau ahli lain)

mempertimbangkan interverensi yang dikembangkan dapat digunakan dan disukai

dalam kondisi normal, aspek kepraktisan dipenuhi jika (1) ahli dan praktisi

nyatakan bahwa apa yang dikembangkan dapat diterapkan, dan (2) kenyataan

me-nunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan. Sunyono dan

Yulianti (2014) menyatakan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan

(32)

15

dapat diterapkan di lapangan dan tingkat keterlaksanaannya termasuk kriteria

“tinggi/baik ”, serta siswa memberikan respon yang positif.

E. Efektivitas Pembelajaran

Nieveen (Sunyono, 2012) menyatakan bahwa keefektifan model pembelajaran

sangat terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pembelajaran

dikata-kan efektif bila proses pembelajaran melibatdikata-kan siswa secara aktif dalam

mengor-ganisasi dan menemukan hubungan dan informasi–informasi yang diberikan, dan

tidak hanya secara pasif menerima pengetahuan dari guru atau dosen. Indikator

ke-efektivan meliputi:

1. Pencapaian tujuan pembelajaran dan ketuntasan belajar pembelajar.

2. Pencapaian aktivitas pembelajar dan guru atau dosen.

3. Pencapaian kemampuan dosen dalam mengelola pembelajaran.

4. Pembelajar memberi respon positif dan minat yang tinggi terhadap

pembelajaran yang dilaksanakan.

Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan

tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Kriteria keefektifan menurut

Wicaksono (2008) mengacu pada:

1. Ketuntasan belajar, pembelajaran, dapat dikatakan tuntas apabila sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa telah memperoleh nilai = 60 dalam pe-ningkatan hasil belajar.

2. Model pembelajaran dikatakan efektif meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan pemahaman setelah pembelajaran (gain yang signifikan).

(33)

16

Eggen dan Kauchak (dalam Warsita, 2008) menyatakan bahwa suatu pembelajaran

akan efektif bila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan 19

penemuan informasi (pengetahuan). Hasil pembelajaran tidak saja meningkatkan

pengetahuan, melainkan meningkatkan keterampilan berpikir. Oleh karena itu,

dalam pembelajaran perlu diperhatikan aktivitas siswa selama mengikuti proses

pembelajaran. Semakin siswa aktif, pembelajaran akan semakin efektif. Minat juga

akan mempengaruhi proses belajar mengajar. Jika tidak berminat untuk

mempel-ajari sesuatu maka tidak dapat diharapkan siswa akan belajar dengan baik dalam

mempelajari hal tersebut. Jika siswa belajar sesuatu dengan minatnya maka dapat

diharapkan hasilnya akan lebih baik. Ada beberapa ciri pembelajaran efektif yang

dirumuskan oleh Eggen dan Kauchak (dalam Warsita, 2008) adalah:

1. Peserta didik menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui me-ngobservasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbeda-an-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan.

2. Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam Pelajaran.

3. Aktivitas-aktivitas peserta didik sepenuhnya didasarkan pada pengkajian. 4. Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada peserta

didik dalam menganalisis informasi.

5. Orientasi pembelajaran penguasaan isi pelajaran dan pengembangan ke-terampilan berpikir.

6. Guru menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan gaya pembelajaran guru.

F. Analisis Konsep

Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong

guru dalam merencanakan urutan pengajaran bagi pencapaian konsep, suatu analisis

konsep yang memungkinkan kita dapat mendefinisikan konsep, sekaligus

(34)

17

Markle dan Tiemann (1970) mendefinisikan konsep sebagai sesuatu yang

sungguh-sungguh ada. Mungkin tidak ada satupun definisi yang dapat mengungkapkan arti

dari konsep tersebut. Untuk dapat mendefinisikan konsep, maka diperlukan suatu

analisis konsep yang dapat menghubungkan antara satu konsep dengan konsep yang

lainnya.

Oleh karena itu diperlukan suatu analisis konsep yang memungkinkan kita dapat

mendefinisikan konsep dan menghubungkanya dengan konsep-konsep lain yang

berhubungan. Herron dalam Fadiawati (2011) mengemukakan bahwa analisis

konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam

merencanakan urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Analisis konsep

dilakukan melalui tujuh langkah, yaitu menentukan nama atau label konsep, definisi

konsep, jenis konsep, atribut kritis, atribut variable, posisi konsep, contoh, dan non

contoh. Markle dan Tiemann (1970) menyatakan bahwa tujuan dari analisis konsep

adalah untuk memilih seperangkat contoh dan noncontoh yang digunakan dalam

pembelajaran dan penilaian pemahaman materi. Analisis konsep pada materi

larutan elektrolit dan non elektrolit dapat dilihat pada lampiran 5.

G. Kerangka Pemikiran

Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem solving seperti

yang telah dijelaskan merupakan pembelajaran berupa langkah-langkah dalam

memecahkan suatu masalah. Langkah-langkah tersebut meliputi orientasi masalah,

pengumpulan informasi, hipotesis masalah, pengujian hipotesis, dan menarik

(35)

18

model pembelajaran problem solving ini adalah materi larutan elektrolit dan non

elektrolit pada kelas X MIPA semester genap dengan kompetensi dasar dari

penge-tahuan yaitu menganalisis sifat larutan berdasarkan daya hantar listriknya,

sedang-kan kompetensi dasar dari keterampilannya yaitu membedasedang-kan daya hantar listrik

berbagai larutan melalui perancangan dan pelaksanaan percobaan.

Langkah awal pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem solving

yaitu orientasi masalah. Dalam kegiatan orientasi masalah ini terdapat masalah

yang jelas untuk dipecahkan. Guru memberikan suatu abstraksi/fenomena/fakta

berupa gambar, grafik, ataupun tabel mengenai larutan elektrolit dan non elektrolit

dalam kehidupan sehari-hari. Guru memberi kesempatan bagi siswa untuk

mene-mukan masalah berdasarkan fenomena yang diberikan. Guru meminta siswa untuk

merumuskan masalah yang ada dalam fenomena tersebut menggunakan 3 (tiga)

kata kunci yang disediakan. Pada tahap ini terlebih dahulu siswa akan mengamati

uraian permasalahan yang diberikan guru, dan setelah itu siswa dapat merumuskan

masalah.

Tahap kedua dari model pembelajaran problem solving adalah pengumpulan

informasi. Pada tahap ini, siswa diminta untuk mencari data atau keterangan yang

dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang telah ditemukan. Siswa juga

dituntut untuk berperan aktif dalam mencari informasi sebanyak-banyaknya baik

dari membaca buku, berdiskusi dengan teman ataupun browsing di internet atau

berbagai sumber yang relevan untuk mendapat jawaban dari masalah yang telah

ditemukan.

(36)

19

yang telah ditemukan. Dimana dugaan sementara ini diperoleh siswa setelah

men-dapatkan data atau informasi pada tahap kedua diatas, kemudian siswa akan

meng-hubungkan hasil temuannya dengan masalah yang ditemukan. Maka siswa akan

memperoleh jawaban sementara atas masalah tersebut.

Tahap selanjutnya adalah siswa menguji kebenaran dari jawaban sementara atau

hipotesis yang telah dibuat. Pada tahap ini siswa akan melakukan eksperimen

atau-pun mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam LKS dalam rangka

untuk memecahkan masalah berdasarkan hasil eksperimen serta membuktikan

ke-benaran hipotesis yang telah dibuat sebelumnya.

Tahap terakhir adalah menarik kesimpulan. Pada tahap ini siswa akan

menyimpul-kan hasil eksperimen serta hasil diskusi dalam kelompok sebagai jawaban dari

pemecahan masalah yang telah ditemukan. Ketika siswa telah mendapatkan

ke-simpulan dari masalah tersebut, diharapkan siswa dapat mempresentasikan hasilnya

dan memberikan penjelasan dari data yang didapat untuk menyelesaikan masalah.

Peran guru dalam hal ini adalah membimbing siswa dalam menemukan jawaban

dan menarik kesimpulan. Berdasarkan uraian dan langkah-langkah di atas, dengan

diterapkannya model pembelajaran problem solving, akan dapat meningkatkan

penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit

H.Anggapan Dasar

Beberapa hal yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

(37)

20

materi larutan elektrolit dan non elektrolit akan menghasilkan tingkat

penguasaan konsep yang lebih baik daripada sebelum dilakukan penelitian.

2. Faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi peningkatan penguasaan konsep

pada materi elektrolit dan non elektrolit siswa kelas X MIPA 2 semester genap

SMA Negeri 13 Bandarlampung tahun pelajaran 2016/2017 diupayakan sekecil

mungkin sehingga dapat diabaikan.

I. Hipotesis Penelitian

Hipotesis umum dalam penelitian ini adalah :

1. Model pembelajaran Problem Solving praktis dalam meningkatkan penguasaan

konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit.

2. Model pembelajaran Problem Solving efektif dalam meningkatkan penguasaan

konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit.

3. Model pembelajaran Problem Solving memiliki ukuran pengaruh yang besar

dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit

(38)

21

III.METODOLOGI PENELITIAN

A. Subyek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIPA yang ada di SMA

Negeri 13 Bandarlampung tahun pelajaran 2016/2017 yang tersebar dalam lima

kelas yaitu kelas X MIPA 1, X MIPA 2, X MIPA 3, X MIPA 4, dan X MIPA 5.

Dari seluruh populasi yang ada pada kelas X tersebut diambil satu kelas untuk

di-jadikan sampel penelitian. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan

secara acak dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Berdasarkan

teknik pengambilan sampel, maka diperoleh satu kelas sebagai sampel penelitian

yaitu kelas X MIPA 2 dengan jumlah siswa yaitu 31 siswa yang terdiri dari 7 siswa

laki-laki dan 24 siswa perempuan.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest

Posttest Design (Fraenkel, 2012). Pada desain penelitian ini melihat perbedaan

nilai pretes maupun postes pada kelas yang diteliti. Penelitian ini dilakukan dengan

memberi suatu perlakuan pada subyek penelitian dari satu kelas kemudian

(39)
[image:39.595.119.511.113.156.2]

22

Tabel 1. Desain Penelitian

Kelas Pretes Perlakuan Postes

X MIA 2 O1 X O2

Keterangan:

O1 : Kelas perlakuan diberi pretes

X : Pembelajaran kimia dengan menggunakan model pembelajaran problem

solving

O2 : Kelas perlakuan diberi postes

Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif.

Menurut Sugiyono (2012), analisis deskriptif adalah analisis yang digunakan untuk

menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang

telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang

berlaku untuk umum atau generalisasi.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat yang berfungsi mempermudah pelaksanaan sesuatu.

Instru-men pengumpulan data merupakan alat yang digunakan oleh pengumpul data untuk

melaksanakan tugasnya mengumpulkan data (Arikunto, 2006). Instrumen yang

di-gunakan pada penelitian ini adalah :

1. Silabus

2. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

3. Lembar kerja siswa (LKS)

(40)

23

elektrolit dan non elektrolit dari hasil pengembangan Elsie Tiara Pramesti.

4. Tes penguasaan konsep yang terdiri dari soal pretes dan postes. Soal pretes

dan postes pada penelitian ini mengenai materi larutan elektrolit dan non

elektrolit dari hasil pengembangan instrumen asesmen pengetahuan berbasis

problem solving yang dibuat oleh Ekha Oktharia.

5. Lembar observasi keterlakasanaan penerapan model pembelajaran problem

solving. Lembar observasi ini bertujuan untuk mengukur tingkat

keterlaksana-an model pembelajarketerlaksana-an problem solving pada materi pokok larutketerlaksana-an elektrolit

dan non elektrolit. Lembar observasi ini disusun dengan memodifikasi

instrumen yang dikembangkan oleh Putri (2016).

6. Angket respon siswa yang bertujuan untuk mengumpulkan data respon siswa

terhadap kemenarikan model pembelajaran problem solving (kegiatan dan

komponen pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran kimia). Angket

ter-sebut disusun dengan memodifikasi instrumen yang dikembangkan oleh Putri

(2016)

7. Lembar observasi penilaian kemampuan guru yang bertujuan untuk mengukur

kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran kimia di kelas dengan

meng-gunakan model pembelajaran problem solving. Melalui lembar observasi ini,

peneliti akan mendapatkan informasi tambahan tentang

kekurangan-kekurang-an apa saja ykekurangan-kekurang-ang telah dilakukkekurangan-kekurang-an oleh peneliti selama proses pembelajarkekurangan-kekurang-an

dengan model pembelajaran Problem Solving. Pengamatan terhadap aktivitas

guru dilakukan oleh observer teman sejawat dari peneliti. Lembar observer ini

di susun dengan memodifikasi instrumen yang dikembangkan oleh Putri (2016)

(41)

24

siswa dalam kelompok selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Lembar

observasi ini disusun dengan memodifikasi instrumen yang dikembangkan oleh

Putri (2016).

9. Lembar penilaian sikap dan keterampilan yang bertujuan untuk mengamati

sikap dan keterampilan siswa selama melakukan praktikum percobaan daya

hantar listrik pada pertemuan pertama. Pengamatan dilakukan oleh observer

teman sejawat dari peneliti.

D. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi pendahuluan

Adapun prosedur observasi pendahuluan sebagai berikut :

a. Membuat surat izin penelitian ke sekolah

b. Meminta izin kepada wakil kepala SMA Negeri 13 Bandarlampung untuk

melakukan penelitian dan memberikan surat izin penelitian.

c. Mengadakan observasi ke sekolah tempat penelitian untuk mendapatkan

informasi mengenai keadaan sekolah, data siswa, karakteristik siswa, data

nilai, jadwal, dan sarana-prasarana yang ada di sekolah yang dapat

diguna-kan sebagai pendukung pelaksanaan penelitian.

d. Menentukan kelas yang akan dijadikan sampel penelitian.

2. Pelaksanaan penelitian

Adapun prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari beberapa tahap yaitu :

a. Tahap persiapan

(42)

25

(RPP), mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang disesuaikan dengan

tahap-tahap model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan

pe-nguasaan konsep siswa, mempersiapkan soal pretes-postes, membuat lembar

observasi keterlaksanaan penerapan model pembelajaran problem solving,

membuat angket respon siswa, membuat lembar observasi penilaian

kemam-puan guru dalam mengelola pembelajaran, membuat lembar pengamatan

aktivitas siswa, membuat lembar penilaian asesmen sikap serta keterampilan,

dan selanjutnya validasi seluruh instrumen penelitian.

b. Tahap penelitian

Pada tahap ini, penelitian dilakukan pada satu kelas sebagai sampel yang

diambil secara acak. Pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan model

pembelajaran problem solving. Adapun prosedur pada tahap penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Melakukan pretes

2. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada materi larutan elektrolit

dan non elektrolit dengan model pembelajaran problem solving.

3. Melakukan postes

c. Tahap Akhir

Tahap akhir dalam penelitian ini adalah menganalisis data, menulis

(43)

26

Secara umum alur penelitian prosedur pelaksanaan penelitian dapat digambarkan

[image:43.595.117.501.146.672.2]

melalui bagan di bawah ini :

Gambar 1 Bagan prosedur pelaksanaan penelitian. Pembuatan surat izin penelitian

Pelaksanaan observasi kesekolah

Penentuan kelas sebagai sampel penelitian

Pembuatan instrumen

Validasi instrumen

Pretes

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit dengan

model pembelajaran problem solving

Postes

Analisis data

Pembahasan terhadap analisis data

Kesimpulan

Observasi Pendahuluan

Tahap Persiapan

Tahap Penelitian

(44)

27

E. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis validitas dan

reliabilitas instrumen, analisis data kepraktisan, keefektivan serta ukuran pengaruh.

1. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Teknik analisis data validitas dan reliabilitas instrumen tes penguasaan konsep

siswa dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen tes yang digunakan telah

memenuhi syarat dan layak digunakan sebagai pengumpul data. Hal ini sesuai

dengan pernyataan (Arikunto, 2006) yang menyatakan bahwa instrumen yang baik

harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Berdasarkan

pernyataan tersebut maka dilakukan analisis validitas dan reliabilitas instrumen tes

penguasaan konsep siswa.

a. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau

kesahihan suatu instrumen tes (Arikunto, 2006). Sebuah instrumen dikatakan

valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Uji validitas yang

pertama dilakukan adalah uji validitas ahli dengan seorang validator,

selanjut-nya uji validitas dilakukan dengan menggunakan rumus product moment

pearson correlation dengan angka kasar yang dikemukakan oleh Pearson,

dalam hal ini analisis dilakukan dengan menggunakan SPSS statistic 17.0 untuk

soal penguasaan konsep. Soal akan dikatakan valid apabila nilai dari rhitung yang

diperoleh lebih besar dari rtabel (rhitung> rtabel) dengan taraf signifikan sebesar 5%.

b. Reliabilitas

(45)

28

instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat pengumpul data. Suatu alat

evaluasi disebut reliabel jika alat tersebut mampu memberikan hasil yang dapat

dipercaya dan konsisten. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus

Alpha Cronbach yang kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan derajat

reliabilitas alat evaluasi menurut Guilford (Suherman, 2003), dalam hal ini

analisis dilakukan dengan menggunakan SPSS statistic 17.0. Kriteria derajat

reliabilitas (r11) alat evaluasi menurut Guilford:

0,80< r11≤ 1,00; derajat reliabilitas sangat tinggi

0,60< r11≤ 0,80; derajat reliabilitas tinggi

0,40< r11≤ 0,60; derajat reliabilitas sedang

0,20< r11≤ 0,40; derajat reliabilitas rendah

0,00< r11≤ 0,20; tidak reliabel

2. Analisis Data Kepraktisan Model Pembelajaran Problem Solving

Analisis data kepraktisan model pembelajaran problem solving ditentukan dari

keterlaksanaan model pembelajaran problem solving dan kemenarikan model

pem-belajaran problem solving.

a. Analisis data keterlaksanaan model pembelajaran problem solving.

Keterlaksanaan model pembelajaran diukur melalui penilaian terhadap

keter-laksanaan RPP yang memuat unsur-unsur dalam metode pembelajaran, meliputi

sintak pembelajaran, sistem sosial, dan perilaku guru. Langkah-langkah dalam

menganalisis data keterlaksanaan model pembelajaran problem solving, yaitu

sebagai berikut:

(46)

29

pengamatan, kemudian dihitung persentase ketercapaian dengan rumus:

Ji= ∑Ji

N x 100 (Sudjana, 2005)

Keterangan :

%Ji = Persentase dari skor ideal untuk setiap aspek pengamatan pada

per-temuan ke-i

∑Ji = Jumlah skor setiap aspek pengamatan yang diberikan oleh pengamat

pada pertemuan ke-i

N = Skor maksimal (skor ideal)

2. Menghitung rata-rata persentase ketercapaian untuk setiap aspek pengamatan

dari dua orang pengamat.

3. Menafsirkan data dengan tafsiran harga persentase ketercapaian secara

[image:46.595.147.368.465.538.2]

keseluruhan dengan menggunakan tafsiran.

Tabel 2 Tafsiran skor (persentase)

Persentase Kriteria

75,1% - 100,0% 50,1% - 75,0% 25,1% - 50,0% 0,0% - 25,0%

Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik

b. Analisis data kemenarikan model pembelajaran problem solving

Kemenarikan model pembelajaran ditinjau dari angket respon siswa terhadap

penerapan model pembelajaran problem solving. Analisis data tersebut

dilaku-kan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengolah jumlah skor jawaban responden dengan model skala sikap. Skala

(47)

30

dan 13 pernyataan negatif. Komponen sikap dalam pernyataan ini

men-cangkup kognisi (berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek

atau stimulus yang dihadapinya), afeksi (berkenaan dengan perasaan dalam

menanggapi objek tersebut), dan konasi (berkenaan dengan kecenderungan

berbuat terhadap objek tersebut). Pernyataan yang terdapat diangket tersebut

mencangkup segala kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran

berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran problem solving,

hubungan kimia dalam kehidupan sehari-hari, isi dari LKS problem solving,

evaluasi pembelajaran berupa instrumen asesmen pengetahuan, cara guru

me-ngajar, serta cara guru merespon jawaban dan pertanyaan dari siswa.

Pengolahan jumlah skor (∑S) dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3. Pengolahan jumlah skor pada skala sikap

Respon Skala Pernyataan Positif Skor Pernyataan Negatif

Setuju (S) Tidak Setuju (TS)

4 x jumlah responden 2 x jumlah responden

2 x jumlah responden 4x jumlah responden

2. Menghitung persentase jawaban angket pada setiap pernyataan dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

%xin = ∑S

Smaks x 100% (Sudjana, 2005)

Keterangan :

%Xin = Persentase jawaban respon siswa pada kemenarikan model

pem-belajaran problem solving

∑S = Jumlah skor jawaban

(48)

31

3. Analisis Data Keefektivan Model Pembelajaran Problem Solving

Ukuran keefektivan model pembelajaran dalam penelitian ini ditentukan dari

ke-mampuan guru dalam mengelola pembelajaran, aktivitas siswa selama

pembel-ajaran berlangsung serta ketercapaian dalam meningkatkan penguasaan konsep

siswa.

a. Analisis data kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran

Untuk analisis data kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran problem solving, dilakukan langkah-langkah

sebagai berikut :

1. Menghitung jumlah skor yang diberikan oleh pengamat untuk setiap aspek

pengamatan, kemudian dihitung persentase kemampuan guru dengan rumus:

Ji=(∑Ji

N) x 100 (Sudjana, 2005)

Keterangan :

%Ji = Persentase dari skor ideal untuk setiap aspek pengamatan pada

per-temuan ke-i

∑Ji = Jumlah skor setiap aspek pengamatan yang diberikan oleh pengamat

pada pertemuan ke-i

N = Skor maksimal (skor ideal)

2. Menghitung rata-rata persentase kemampuan guru untuk setiap aspek

pe-ngamatan dari dua orang pengamat.

3. Menafsirkan data dengan tafsiran harga persentase kemampuan guru

se-bagaimana pada Tabel 2

b. Analisis data aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung

(49)

32

lembar observasi oleh dua orang pengamat. Analisis deskriptif terhadap

aktivitas siswa dalam pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

1. Menghitung persentase aktivitas siswa untuk setiap pertemuan dengan

rumus:

% Pa = b a x 100% (Sunyono, 2014)

Keterangan:

Pa = Persentase aktivitas siswa dalam belajar di kelas.

Fa = Frekuensi total aktivitas siswa yang muncul disetiap aspek.

Fb = Frekuensi total maksimum aktivitas siswa disetiap aspek.

2. Menghitung jumlah persentase aktivitas siswa yang relevan dan yang tidak

relevan dengan pembelajaran untuk setiap pertemuan dan menghitung

rata-ratanya, kemudian menafsirkan data dengan menggunakan tafsiran harga

persentase sebagaimana pada Tabel 2

3. Mengurutkan aktivitas siswa yang dominan dalam pembelajaran

berdasar-kan persentase setiap aspek aktivitas yang diamati.

Aktivitas siswa juga dinilai melalui penilaian sikap dan keterampilan pada saat

melakukan praktikum percobaan daya hantar listrik di pertemuan pertama

dengan menggunakan lembar penilaian sikap dan keterampilan praktikum yang

dinilai oleh observer teman sejawat. Penilaian ini dilakukan karena materi

larutan elektrolit dan non elektrolit menggunakan metode praktikum untuk

membangun konsep awal, sehingga penilaian ini berfungsi sebagai data

pendukung untuk mengetahui keefektivan model pembelajaran problem

(50)

33

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

[image:50.595.136.460.175.271.2]

Nilai = Skor yang diperolehSkor maksimum x 100

Tabel 4. Kriteria Penilaian:

Nilai Kriteria

66,7 – 100 Baik

33,3 – 66,7 Cukup Baik

0 – 33,3 Kurang Baik

(Zamroni, 2004)

c. Analisis data penguasaan konsep siswa

Penguasaan konsep kimia merupakan kemampuan siswa dalam menggunakan

konsep, prinsip, teori, dan hukum-hukum kimia ke dalam situasi yang konkrit

pada pemecahan masalah dan ditunjukkan oleh skor yang diperoleh siswa

dalam tes penguasaan konsep (pretes dan postes). Selanjutnya peningkatan

penguasaan konsep ditunjukkan melalui perolehan skor gain, yaitu selisih

antara skor postes dan skor pretes (Sunyono, 2012). Namun untuk

meng-hindari pembiasan pada skor gain, maka dilakukan normalisasi skor gain

tersebut dengan mengacu pada rumus yang dikemukakan oleh Hake (2002).

n-gain = postes- pretes

100- pretes

Kriterianya adalah (1) pembelajaran dengan n-gain “tinggi”, jika n-gain>0,7 ;

(2) pembelajaran dengan n-gain “sedang”, jika n-gain terletak antara 0,3

(51)

34

4. Analisis Ukuran Pengaruh (Effect Size)

Analisis terhadap ukuran pengaruh pembelajaran dengan model problem solving

terhadap peningkatan penguasaan konsep siswa dilakukan dengan menggunakan

uji-t dan uji effect size. Uji-t dilakukan terhadap perbedaan rerata n-gain

pengu-asaan konsep antara postes dan pretes. Taraf kepercayaan yang digunakan adalah

α = 0,05. Rumus yang digunakan dalam uji-t adalah:

t =

√((n ) (n)

n1 n 2 ) (

1 n

1 n)

Keterangan: t = nilai uji-t

x = nilai rerata hasil pretes x = nilai rerata hasil postes

= varians pretes

= varians postes

n = jumlah sampel pretes

n = jumlah sampel postes (Sudjana, 2005)

Berdasarkan uji-t terhadap nilai n-gain, selanjutnya dilakukan perhitungan untuk menentukan ukuran pengaruh dengan rumus:

Keterangan : µ = effect size

t = t hitung dari uji-t

df = derajat kebebasan (Jahjouh, 2014)

Kriteria:

µ ≤ 0,15; efek diabaikan (sangat kecil) 0,15 < µ ≤ 0,40; efek kecil

0,40 < µ ≤ 0,75; efek sedang 0,75 < µ ≤ 1,10; efek besar

(52)

66

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan mengenai penerapan model

pem-belajaran problem solving untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa pada

materi larutan elektrolit dan non elektrolit, maka diperoleh simpulan sebagai

berikut :

1. Penerapan model pembelajaran problem solving praktis dalam meningkatkan

penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit. Hal

ini dibuktikan dengan keterlaksanaan model pembelajaran problem solving

memiliki kriteria “sangat baik” dan kemenarikan model pembelajaran problem

solving memiliki respon yang positif dari siswa.

2. Penerapan model pembelajaran problem solving efektif dalam meningkatkan

penguasaan konsep siswa pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit. Hal

ini dibuktikan dengan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran,

aktivitas siswa yang relevan selama pembelajaran yang memiliki kriteria

“sangat baik”, serta nilai pretes dan postes penguasaan konsep mengalami

peningkatan dengan rerata nilai n-gain sebesar 0,51237 dengan kriteria

“sedang”.

3. Penerapan model pembelajaran problem solving memiliki ukuran pengaruh

(53)

67

larutan elektrolit dan non elektrolit.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disarankan:

Kepada guru-guru kimia untuk mengimplementasikan model pembelajaran problem

solving di kelas, khususnya pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit dengan

menggunakan LKS dan asesmen pengetahuan berbasis problem solving. Hal ini

dikarenakan model pembelajaran problem solving terbukti praktis, efektif dan

(54)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M., et.al. 2005. Strategi Belajar Mengajar Kimia (1sted.). Universitas Negeri Malang: Malang.

Arikunto S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Dahar, R. W 1989. Teori-teori Belajar. Erlangga: Jakarta.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta: Jakarta. Dincer, S. 2015. Effect of Computer Assisted Learning on Students’ Achievment In

Turkey : a Meta- Analysis. Journal of Turkish Science Education, 12 (1) : 99-118.

Djamarah, S.B dan A. Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta: Jakarta.

Fadiawati, N. 2011. Perkembangan Konsepsi Pembelajaran Tentang Struktur Atom Dari SMA Hingga Perguruan Tinggi ( Suatu Studi deskriptif-Cross Sectional). Disertasi Program doktor Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak

diterbitkan.

Fitriani, R. D., dan B. Sugiarto. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Untuk Melatihkan Keterampilan Proses Pada Materi Larutan

Elektrolit Dan Non Elektrolit (Implementation Of Problem Based Instruction To Exercised Of Science Process Skill On Electrolyte And Non

Electrolyte). Jurnal Mahasiswa Teknologi Pendidikan, 2 (3).

Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., dan H. H. Hyun. 2012. How to design and evaluate research in education 8th edition. McGraw-Hill, A Business Unit Of The McGraw-Hill Companies, Inc., 1221 Avenue of The Americas, New York, NY 10020.

Hake, R. R. 2002. Relationship of individual Student Normalized Learning Gains in Mathematics with Gender,High School, Physics, and Pre Test Scores in

(55)

Hamalik, O. 2005. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara: Jakarta. Herman, T. 2007. Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan

Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Pendidikan Matematika, 1 (1): 47-56.

Herron, J. D., L. Luis, Cantu, R. Ward, & V. Srinivasan. 1977. Problems

Associated with Concept Analysis. Journal Science Education, 61 (2): 185-199.

Izzati, S. 2015. Penerapan Model Pembelajaran SiMayang Tipe II Berbasis Multiple Representasi Dalam Meningkatkan Efikasi Diri Dan Penguasaan Konsep Asam Basa. Skripsi. FKIP Unila. Bandarlampung: Tidak diterbitkan. Jahjouh, A. Y. M. 2014. The Effectiveness of Blended E-Learning Forum in

Planning for Science Instruction. Journal of Turkish Science Education, 11(4): 3-16.

Kosasih, E. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran. Yrama Widya: Bandung. Lambertus., Bey, A., Anggo, M., Fahinu., Sudia, M., dan Kadir. 2014. Developing

Skills Resolution Mathematical Primary School Students. International Journal of Education and Research, 2(10): 601- 614.

Lidiawati. 2011. Penerapan Pembelajaran Problem Solving Pada Materi Pokok Sistem Koloid Dalam Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa dan Keterampilan Mengkomunikasikan. Skripsi. Universitas Lampung. Bandarlampung: Tidak diterbitkan

Markle, S.M., and Tiemann, P.W. 1970. Really Understanding Concepts: Or in Frumious Pursuit of the Jabberwoch. Stipes.Champaign, Illionis.

Nessinta, N. 2010. Penerapan Metode Problem Solving Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Asam Basa (PTK Kelas XI IPA 4 SMA Negeri 10 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2009-2010). Skripsi. FKIP Universitas Lampung. Bandarlampung: Tidak diterbitkan.

Putri, D. E. N. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Keterampilan Inferensi dan Mengkomunikasikan Siswa pada Materi Larutan Penyangga. Skripsi. Universitas Lampung. Bandarlampung: Tidak diterbitkan

Raufl, R. A. A., Rasul, M. S., Mansor, A. N., Othman, Z., dan Lyndon, N. 2013. Inculcation of Science Process Skill in a Science Classroom. Journal of Science and Education, 9(8):55.

(56)

Pembelajaran Guided Discovery-Inquiry Pada Siswa Kelas VII SMP N 1 Sleman .Doctoral dissertation. UNY. Yogyakarta.

Rusmiyati, A. dan Yulianto, A. 2009. Peningkatan Keterampilan Proses Sains dengan Menerapkan Model Problem Based-Instruction. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 4 (5): 75-78.

Safitri, E. I., I. Rosilawati dan T. Efkar. 2013. Efektivitas Model Pembelajaran Problem Solving pada Materi Hidrolisis Garam dalam Meningkatkan

Keterampilan Mengklasifikasi dan Penguasaan Konsep. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia, 1 (1).

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pembel-ajaran. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Santrock, J. W. 2009. Psikologi Pendidikan (Educational Psychology) Edisi 3 buku 2. Jakarta : Salemba Humanika

Silberberg. 2009. Principal of General Chemistry Second Edition. International Edition. New York: Mc. Graw Hill.

Sriyono. 1992. Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Rineka Cipta: Jakarta. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Tarsito: Bandung.

Sugiyono, 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R& D. Alfabeta: Bandung.

Suherman, E. 2003. Evaluasi Pembelajaran Matematika. JICA UPI: Bandung. Sukarno. 1981. Dasar-dasar Pendidikan Sains. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Sunyono. 2012. Buku Model Pembelajaran Berbasis Multipel Representasi (Model SiMaYang). Aura Printing & Publishing: Bandarlampung.

Sunyono. 2014. Model Pembelajaran Berbasis Multipel Representasi dalam Menumbuhkan Model Mental dan Meningkatkan Penguasaan Konsep Kimia Dasar Mahasiswa. Disertasi. Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya: Tidak diterbitkan.

Sunyono dan D. Yulianti. 2014. Pengembangan Model Pembelajaran Kimia SMA Berbasis Multipel Representasi dalam Menumbuhkan Model Mental dan Meningkatkan Penguasaan Konsep Kimia Siswa Kelas X. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahun I. Lembaga Penelitian Universitas Lampung.

Figure

Tabel 1. Desain Penelitian
Gambar 1 Bagan prosedur pelaksanaan penelitian.
Tabel 2 Tafsiran skor (persentase)
Tabel 4. Kriteria Penilaian:

References

Related documents

For horizontal radar re flectivity distributions, the Goddard 2-ice and 3-ice graupel schemes produce a continuous uniform structure for the stratiform region, while the Goddard

year (Bryn Mawr College of Social Work/Social Research, Chestnut Hill College, Immaculata University, La Salle. University, St.

 Observation- The observation role is defined as the student who is in the operating room performing roles that do not meet the criteria for the first or second scrub

[r]

∗ When a user process asks for memory, it does not get additional page frames; instead it gets the right to use a new range of linear addresses which become part of its address

This short course was offered also for students, geologists, mining and geologist engineers, and all people related to the mining industry. It was an enriching

More recently, media reporting following G4S’s June 2014 AGM indicated that contracts referred to in the complaint were expected to end between 2014 and 2017 (advice to the NCP

This paper describes the PACERS study protocol, which aims to assess the feasibility and acceptability of implementing an activity monitor within the existing Welsh National