• No results found

Text ABSTRACT (ABSTRAK) pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRACT (ABSTRAK) pdf"

Copied!
65
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN DISMENORE PRIMER PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

ANGKATAN 2015

Oleh NADA ISMALIA

Skripsi

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN DISMENORE PRIMER PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

ANGKATAN 2015

Oleh NADA ISMALIA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(3)

ABSTRACT

THE CORRELATION BETWEEN LIFE STYLE WITH PRIMARY

DYSMENORRHEA IN MEDICAL FACULTY FEMALE STUDENTS OF LAMPUNG UNIVERSITY CLASS 2015

By

NADA ISMALIA

Background: Primary dysmenorrhea is a menstrual pain without abnormalities in genital organ that can be caused by several factors. The purpose of this study was to determine the correlation between life style (level of physical activity, level of stress, fast food consumption and passive smoker) with primary dysmenorrhea in Medical Faculty Female Students of Lampung University class 2015.

Method: This research was an observational analytic research used cross sectional study with 129 female students. Variable on this research were primary dysmenorrhea, level of physical activity, level of stress, fast food consumption and passive smoker. Data collection through Numeric Rating Scale Questionnaire, Global Physical Activity Questionnaire, Kessler Psychological Distress Scale, Food Frequency Questionnaire and passive smoker questionnaire. Data analysis in univariate and bivariate (chi square).

Result: Respondents who had primary dysmenorrhea were 62%. Respondents with level of mild physical activity were 80.6%. Respondents with level of mild stress were 32.6%. Respondents who usually consumed fast food were 71.4%. Respondents who was not a passive smoker were 82.2%. Statistical test result between primary dysmenorrhea with physical activity (p=0.012, CI=1.257-7.588), level of stress (p=0.347), fast food consumption (p=0.048, OR=2.559, CI=0.988-6.624) and passive smoker (p=0.077).

Conclusion: There were significant correlation between primary dysmenorrhea with level of physical activity and fast food consumption, while there were not significant correlation between primary dysmenorrhea with level of stress and passive smoker.

(4)

ABSTRAK

HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN DISMENORE PRIMER

PADA MAHASISIWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG ANGKATAN 2015

Oleh

NADA ISMALIA

Latar belakang: Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi tanpa adanya kelainan pada alat genital dan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup (tingkat aktivitas fisik, tingkat stres, konsumsi fast food dan perokok pasif) dengan dismenore primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik menggunakan pendekatan potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 129 mahasiswi. Variabel penelitian ini adalah dismenore primer, tingkat aktivitas fisik, tingkat stres, konsumsi fast food, dan perokok pasif. Pengumpulan data melalui kuesioner Numeric Rating Scale, Global Physical Activity Questionnaire, kuesioner Kessler Psychological Distress Scale, Food Frequency Questionnaire dan kuesioner perokok pasif. Analisis data secara univariat dan bivariat (chi square).

Hasil: Responden yang mengalami dismenore primer sebesar 62%. Responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik ringan sebesar 80.6%. Responden yang memiliki tingkat stres ringan sebesar 32.6%. Responden yang sering mengonsumsi fast food sebesar 71.4%. Responden yang bukan perokok pasif sebesar 82.2%. Hasil uji statistik antara dismenore primer dengan tingkat aktivitas fisik (p=0.012 dengan OR=3.088 dan CI=1.257-7.588), tingkat stres (p=0.347) konsumsi fast food (p=0.048 dengan OR=2.559 dan CI=0.988-6.624), dan perokok pasif (p=0.077).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dismenore primer dengan tingkat aktivitas fisik dan konsumsi fast food, sedangkan tidak terdapat hubungan antara dismenore primer dengan tingkat stres dan perokok pasif.

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis berasal dari keluarga sederhana yang dilahirkan di Bandar Lampung

pada tanggal 27 Februari 1996, sebagai anak pertama dari dua bersaudara oleh

Bapak Ismail, S.H., M.M. dan Ibu Lindawati Imron.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) diselesaikan di TK Trisula II Bandar

Lampung pada tahun 2001, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD N 03

Palapa Bandar Lampung pada tahun 2007, Sekolah Menengah Pertama (SMP)

diselesaikan di SMP N 9 Bandar Lampung pada tahun 2010, dan Sekolah

Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMA YP UNILA pada tahun 2013.

Selama menjadi pelajar, penulis mengikuti organisasi English Club (EC) dan

Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) saat berada di bangku SMP dan SMA.

Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

Lampung pada tahun 2013 melalui jalur Seleksi Nasional Mahasiswa

Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Selama menjadi mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung, penulis mengikuti organisasi FSI Ibnu Sina

(9)

HUJAN MENYAPA

JANGAN DICELA

KARENA ITU KARUNIA-NYA

Sebuah persembahan sederhana untuk

Akas, Abi, dan Ummi dari aku si

(10)

SANWACANA

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin. Segala rasa syukur hanya kepada Allah SWT.

Rabb semesta alam, atas segala nikmat, petunjuk dan kasih sayang-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi penulis dengan judul “Hubungan Gaya Hidup dengan Dismenore Primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Angkatan

2015” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak saran, bimbingan,

dukungan dan do’a dari berbagai pihak. Maka dalam kesempatan ini, dengan

segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

- Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. selaku Rektor Universitas Lampung;

- Prof. Dr. Ir. Hi. Sugeng P. Harianto, M.S. selaku mantan Rektor

Universitas Lampung;

- Dr. dr. Muhartono, S.Ked., M.Kes., Sp.PA., selaku Dekan Fakultas

Kedokteran Rektor Universitas Lampung;

- dr. TA Larasati, S.Ked., M.Kes., selaku Pembimbing I atas kesedian

(11)

bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat, motivasi dan bantuan bagi penulis

untuk menyelesaikan skripsi ini;

- Prof. Dr. dr. Efrida Warganegara. S.Ked., M.Kes., Sp.MK., selaku

Pembimbing II atas kesedian dalam meluangkan waktu disela-sela

kesibukan untuk memberikan bimbingan, ilmu, kritik, saran, nasehat,

motivasi dan bantuan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini;

- Dr. Dyah Wulan S.R.Wardani, SKM., M.Kes., selaku Pembahas atas

kesediaan dalam memberikan koreksi, kritik, saran, nasehat, motivasi dan

bantuan untuk perbaikan skripsi penulis;

- dr. M. Yusran, M.Sc., Sp.M., selaku Pembimbing Akademik penulis, atas

kesedian dalam memberikan bimbingan, nasehat, dan motivasi selama ini

dalam bidang akademik penulis;

- Seluruh civitas academica Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

yang turut membantu dalam proses penyusunan skripsi ini.

- Keluarga tercinta, Akas, Ombay, Aki, Nenek, Abi Ismail, Ummi Linda,

Adik serta seluruh keluarga besar yang tiada henti-hentinya mendo’akan,

mendukung, memberi semangat dan motivasi. Semoga Allah senantiasa

memberikan keberkahan usia, kesehatan dan kebahagiaan;

- Shella, Shinta, Tata, yang masih tetap ada di sini dan tidak pernah pergi

dalam keadaan apapun. Tante tersayang Rida Hasyati, Teman SMP (Ita,

Reza, Gustiyan), Teman SMA (Arta, Dini, Dinda, Adel), Teman rumah

(12)

Ayang, Dita, Ajeng, Wanda dan Wage) yang sejak awal kuliah selalu ada

untuk saling membantu dan mendukung;

- Teman sejawat tercinta CERE13ELLUMS (FK Unila 2013) atas

kebersamaannya selama ini dan adik- adik 2014, 2015, 2016, semoga

Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam meraih cita-cita,

Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Bandar Lampung, 10 Januari 2017

Penulis

(13)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas rahmat dan kasih sayang-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat beserta salam tak lupa penulis curahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Skripsi dengan judul “Hubungan Gaya Hidup dengan Dismenore Primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Angkatan 2015” bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan bagi mahasiswa program S1 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu ujian komprehensif skripsi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi perbaikan skripsi ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, 30 Januari 2017 Penulis

(14)

i DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gaya Hidup ... 8

2.1.1 Aktivitas Fisik ... 9

2.1.2 Stres... 10

2.1.3 Mengonsumsi Makanan Cepat Saji... 13

2.1.4 Perokok Pasif ... 14

2.2 Dismenore... 15

2.2.1 Definisi Dismenore ... 15

2.2.2 Klasifikasi Dismenore ... 15

2.2.3 Etiologi dan Faktor Resiko Dismenore Primer ... 16

(15)

ii

2.2.5 Gejala Klinis Dismenore Primer ... 17

2.2.6 Alat Ukur Nyeri pada Dismenore ... 18

2.3 Hubungan Gaya Hidup dengan Dismenore Primer ... 19

2.4 Kerangka Teori ... 22

2.5 Kerangka Konsep... 23

2.6 Hipotesis Penelitian ... 23

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian... 25

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 25

3.3 Subjek Penelitian... 25

3.4 Variabel Penelitian ... 27

3.5 Definisi Operasional... 28

3.6 Metode Pengumpulan Data ... 29

3.7 Instrumen Penelitian... 29

3.8 Alur Penelitian... 32

3.9 Pengolahan Data... 32

3.10 Analisis Data ... 35

3.11 Etika Penelitian ... 36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian... 37

4.1.1 Analisis Univariat... 37

4.1.1.1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia ... 37

4.1.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Dismenore Primer ... 38

4.1.1.3 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas Fisik... 39

4.1.1.4 Distribusi Responden Berdasarkan Stres... 39

(16)

iii 4.1.1.5 Distribusi Responden Berdasarkan Perokok Pasif ... 41

4.1.2 Analisis Bivariat ... 42 4.1.2.1 Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Dismenore Primer... 42 4.1.2.2 Hubungan antara Tingkat Stres dengan Dismenore Primer ... 43 4.1.2.3 Hubungan antara Konsumsi Fast Food dengan

Dismenore Primer... 44 4.1.2.4 Hubungan antara Perokok Pasif dengan Dismenore Primer .... 45

4.2 Pembahasan ... 46 4.2.1 Analisis Univariat... 46

4.2.1.1 Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian

Dismenore Primer ... 46 4.2.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas

Fisik... 47 4.2.1.3 Distribusi Responden Berdasarkan Stres... 48 4.2.1.4 Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Konsumsi

Fast Food ... 50 4.2.1.5 Distribusi Responden Berdasarkan Perokok Pasif ... 51

4.2.2 Analisis Bivariat ... 52 4.2.2.1 Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Dismenore Primer... 52 4.2.2.2 Hubungan antara Tingkat Stres dengan Dismenore Primer ... 53 4.2.2.3 Hubungan antara Konsumsi Fast Food dengan

Dismenore Primer... 55 4.2.2.4 Hubungan antara Perokok Pasif dengan Dismenore Primer .... 58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(17)

iv DAFTAR PUSTAKA ... 63

(18)

v DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Definisi Operasional Variabel Penelitian...… 28

2. Uji Validitas Kuesioner Perokok Pasif ...… 31

3. Distribusi Responden Berdasarkan Usia... 38

4. Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Dismenore Primer ... 38

5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Nyeri... 39

6. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Aktivitas Fisik ... 39

7. Distribusi Responden Berdasarkan Stres ... 40

8. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Stres... 40

9. Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Fast Food... 41

10. Distribusi Responden Berdasarkan Perokok Pasif ... 41

11. Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Dismenore Primer... 42

12. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Dismenore Primer ... 43

13. Hubungan antara Konsumsi Fast Food dengan Dismenore Primer... 44

(19)

vi DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Teori Tentang Dismenore Primer

dan Faktor Resiko yang Mempengaruhinya... 22

2. Kerangka Konsep Penelitian ... 23

(20)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wanita yang sudah mengalami menstruasi biasanya akan merasakan

keluhan-keluhan yang mengganggu. Salah satunya adalah dismenore. Dismenore berasal

dari bahasa Yunani, yaitu dysmenorrhea, terdiri atas “dys” berarti sulit, “meno” berarti bulan, dan “rrhea” berarti aliran (Madhubala dan Jyoti, 2012). Dismenore

merupakan nyeri di bagian perut bawah selama menstruasi. Dismenore

diklasifikasikan menjadi dismenore primer dan dismenore sekunder.

(Simanjuntak, 2014).

Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi tanpa adanya kelainan pada

alat-alat genital. Nyeri akan dirasakan sebelum atau bersamaan dengan permulaan

menstruasi dan berlangsung untuk beberapa jam. Dismenore sekunder adalah

nyeri saat menstruasi dengan adanya kelainan pada alat-alat genital. Biasanya

terjadi akibat berbagai kondisi patologis seperti endometriosis, salfingitis,

adenomiosis uteri, dan lain-lain (Simanjuntak, 2014).

Prevalensi kejadian dismenore masih tinggi, dimana angka kejadian dismenore di

(21)

2

Serikat menunjukkan bahwa hampir 95% wanita mengalami dismenore (Calis,

2015). Di Indonesia belum ada angka pasti untuk kejadian dismenore, tetapi telah

ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hal tersebut. Pada tahun 2008,

prevalensi dismenore di Indonesia sebesar 64,25% yang terdiri atas 54,89%

dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder (Santoso, 2008). Penelitian

yang dilakukan pada siswi SMA Negeri 2 Medan didapatkan hasil bahwa yang

mengalami dismenore primer sebesar 85,9% (Sirait, 2014). Menurut penelitian

pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung yang mengalami dismenore primer

sebesar 90,6% (Anisa, 2015). Wanita yang mengalami dismenore berat dapat

menyebabkan terganggunya semua aktivitas sehari-hari termasuk kuliah dan

kerja (Calis, 2015). Penurunan pada prestasi akademis dan kegiatan sosial juga

akan terjadi (Singh et al, 2008).

Ada beberapa faktor resiko penyebab terjadinya dismenore primer, antara lain:

riwayat keluarga, usia < 30 tahun, usia menarche dini (< 12 tahun), siklus

menstruasi yang lebih panjang, nulipara, Indeks Massa Tubuh rendah, status

sosial ekonomi yang rendah dan gaya hidup (diet, stres dan merokok) (Latthe et

al, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Bavil et al. pada tahun 2016 Fakultas

Kedokteran Universitas Sari di Iran didapatkan hasil bahwa ada perbedaan antara

gaya hidup wanita muda dengan dan tanpa dismenore primer. Dijelaskan bahwa

gaya hidup berupa jarangnya melakukan aktivitas fisik, stres dan merokok baik

itu sebagai perokok aktif maupun pasif ada pada wanita dengan dismenore

(22)

3

Gaya hidup pertama yang berpengaruh adalah aktivitas fisik. Terdapat hubungan

antara jarang melakukan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore primer. Hal

ini disebabkan karena oksigen tidak dapat disalurkan ke pembuluh-pembuluh

darah organ reproduksi yang saat itu terjadi vasokontriksi sehingga menyebabkan

wanita mengeluhkan dismenore primer (Bavil et al, 2016).

Gaya hidup kedua yang berpengaruh adalah stres. Stres dapat mengganggu kerja

sistem endokrin sehingga menyebabkan menstruasi yang tidak teratur dan rasa

nyeri saat menstruasi (Hawari, 2008). Didapatkan hasil bahwa tingkat stres yang

tinggi lebih berpengaruh kepada orang dengan dismenore primer dibandingkan

dengan yang tidak (Bavil et al, 2016).

Ketiga adalah diet yang berupa mengonsumsi makanan cepat saji (fast food).

Pada era globalisasi seperti sekarang ini sangat mudah untuk mendapatkan

makanan cepat saji. Pramanik dan Dhar (2014) di Bengal Barat, India Timur

melakukan penelitian kepada 130 sampel untuk mengonsumsi fast food sebanyak

7 kali dalam 1 minggu dan didapatkan hasil bahwa 83% diantaranya mengalami

dismenore.

Gaya hidup keempat yang berpengaruh adalah merokok, baik sebagai perokok

aktif maupun pasif. Asap rokok mengandung zat yang dapat mempengaruhi

metabolisme estrogen yang berperan mengatur proses menstruasi. Kadar estrogen

(23)

4

metabolisme sehingga menyebabkan gangguan pada alat reproduksi termasuk

dismenore (Megawati, 2006).

Sejak tahun 2008, Fakultas Kedokteran Universitas Lampung mulai

melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Metode pembelajaran

meliputi Problem-Based Learning (PBL), Clinical Skill Lab (CSL), tutorial,

perkuliahan, pleno dan praktikum yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung (FKUnila, 2016).

Hasil penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

menunjukkan bahwa stres pada mahasiswa tingkat awal lebih tinggi

dibandingkan dengan mahasiswa tingkat akhir. Hal tersebut dikarenakan adanya

perbedaan dalam metode belajar sehingga mahasiswa tingkat awal sering merasa

tidak mampu atau kesulitan. Mahasiswa tingkat awal yang dimaksud, yaitu telah

melewati ujian-ujian yang ada di akhir semester (Augesti, 2015).

Perbedaan antara sekolah dengan kuliah akan menyebabkan berubahnya gaya

hidup. Pola makan akan terganggu dan sering mengonsumsi makanan cepat saji

karena dinilai lebih praktis apalagi untuk yang tidak tinggal dengan orang tua

(Anisa, 2015). Penelitian mengenai kejadian dismenore primer juga belum

pernah dilakukan pada mahasiswi tingkat awal di Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung sehingga peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara

gaya hidup dengan dismenore primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran

(24)

5

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya

maka dapat dirumuskan sebuah masalah, yaitu:

a. Apakah terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan dismenore

primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan

2015.

b. Apakah terdapat hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer pada

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

c. Apakah terdapat hubungan antara mengonsumsi fast food dengan dismenore

primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan

2015.

d. Apakah terdapat hubungan antara perokok pasif dengan dismenore primer

pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

gaya hidup dengan dismenore primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran

(25)

6

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini, yaitu:

a. Mengetahui gambaran kejadian dismenore primer pada Mahasiswi

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

b. Mengetahui gambaran tingkat aktivitas fisik pada Mahasiswi Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

c. Mengetahui gambaran tingkat stres pada Mahasiswi Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

d. Mengetahui gambaran perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast

food) pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

angkatan 2015.

e. Mengetahui gambaran perokok pasif pada Mahasiswi Fakultas

Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

f. Mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan dismenore

primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

angkatan 2015.

g. Mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan dismenore primer

pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Angkatan

2015.

h. Mengetahui hubungan antara mengonsumsi fast food dengan

dismenore primer pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

(26)

7

i. Mengetahui hubungan antara perokok pasif dengan dismenore primer

pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Angkatan

2015.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti

Diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pengembangan

ilmu kesehatan mengenai hubungan antara aktivitas fisik, stres, diet

(mengonsumsi fast food) dan perokok pasif dengan dismenore primer.

1.4.2 Bagi Ilmu Pengetahuan

Diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah hasil penelitian mengenai

hubungan antara aktivitas fisik, stres, diet (mengonsumsi fast food) dan

perokok pasif dengan dismenore primer.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Diharapkan masyarakat, khususnya wanita dapat mencegah terjadinya

dismenore primer dengan cara melakukan aktivitas fisik, tidak stres, tidak

(27)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gaya Hidup

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam

aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri

seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Kotler dan Gary, 2012).

Gaya hidup termasuk perilaku yang dapat dikontrol dan diubah serta

mempengaruhi kesehatan individu baik secara positif atau negatif (Bavil et al,

2016). Menurut Kemenkes RI (2014) indikator gaya hidup sehat adalah perilaku

tidak merokok, pola makan sehat dan seimbang serta aktivitas fisik yang teratur.

Sedentary life style (gaya hidup menetap) adalah gaya hidup yang kurangnya

aktivitas fisik. Gaya hidup dimana unsur gerakan fisik sangat minimal,

sedangkan beban kerja mental sangat maksimal. Gaya hidup menetap adalah

perilaku santai antara lain duduk, berbaring, dan lain sebagainya dalam

sehari-hari baik di tempat kerja, rumah dan perjalanan. Gaya hidup menetap menjadi

penyebab berkurangnya aktivitas fisik sehingga terjadi penurunan keluaran

(28)

9

Pada kesempatan kali ini gaya hidup yang akan dibahas adalah yang dapat

mempengaruhi kejadian dismenore primer. Gaya hidup tersebut adalah aktivitas

fisik, stres, mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan perokok pasif.

2.1.1 Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran

tenaga/energi dan pembakaran energi. Aktivitas fisik dikategorikan cukup

apabila seseorang melakukan latihan fisik atau olahraga selama 30 menit

setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu (Kemenkes RI, 2013).

Kementerian Kesehatan RI (2013) membagi aktivitas fisik menjadi tiga

yakni berat, sedang dan ringan. Aktivitas berat seperti mengangkat beban

berat, mencangkul dan berolahraga aerobik. Aktivitas sedang adalah

aktivitas yang bisa membuat nafas lebih cepat dari normal seperti

membereskan rumah, sedangkan aktivitas ringan dalam kehidupan seperti

berjalan kaki biasa dan santai.

Pada seorang yang mempunyai kebugaran jantung, paru-paru dan

pembuluh darah yang baik maka berbagai sistem dalam tubuhnya dapat

bekerja secara optimal untuk menghantarkan oksigen dan nutrisi ke organ

dan jaringan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Ketika terjadi dismenore

primer, nyeri akan berkurang karena darah dan oksigen dapat tersalurkan

(29)

10

Aktivitas fisik yang dilakukan dapat diukur dengan menggunakan Global

Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Kuesioner ini terutama ditujukan

pada generasi muda dan dewasa untuk mengukur sejumlah intensitas

kegiatan yang berbeda-beda pada saat bekerja dan pada saat libur. GPAQ

mencakup empat area aktivitas fisik yaitu aktivitas fisik pada hari-hari

kerja, aktivitas fisik di luar pekerjaan dan olahraga, transportasi, pekerjaan

rumah tangga serta merawat anak (WHO, 2016)

Pengukuran dikumpulkan dalam kategori yang terpisah dan dibagi menjadi

tiga bagian. Bagian pertama adalah kegiatan fisik yang berhubungan

dengan pekerjaan dengan menanyakan tentang aktivitas fisik pada hari-hari

kerja. Bagian kedua berupa kegiatan fisik di luar pekerjaan. Bagian ketiga

yaitu, kegiatan fisik yang berhubungan dengan perjalanan, menanyakan

tentang macam-macam transportasi yang digunakan untuk pergi ke suatu

tempat (WHO, 2016).

2.1.2 Stres

A. Definisi Stres

Menurut American Institute of Stress (2016), tidak ada definisi yang

pasti untuk stres karena setiap individu akan memiliki reaksi yang

berbeda terhadap stres yang sama. Menurut pendapat yang lain, stres

merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dari manusia yang

mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

(30)

11

B. Faktor Penyebab Stres

Faktor penyebab dalam perkembangan gangguan stres disebut sebagai

stresor (Pinel, 2009). Stresor dapat berupa biologi, fisiologi, kimia, dan

psikologi lalu stresor tersebut dirasakan dan dipersepsikan oleh individu

sebagai suatu ancaman sehingga menimbulkan kecemasan yang

merupakan tanda umum dan awal dari gangguan kesehatan fisik dan

psikologis (Yuniyanti, 2014).

Stresor biologik berupa mikroba, bakteri, virus, dan mikroorganisme

lainnya serta makhluk hidup yang dapat mempengaruhi kesehatan.

Stresor fisik dapat berupa perubahan iklim, suhu, cuaca, geografi dan

lain sebagainya. Stresor kimia yang berasal dari dalam tubuh dapat

berupa serum darah dan glukosa, sedangkan dari luar tubuh dapat

berupa obat, alkohol, nikotin, kafein, polusi udara, gas beracun,

indektisida, dan lain-lain. Stresor psikologi, yaitu labelling (penamaan)

dan prasangka, ketidakpuasan terhadap diri sendiri, kekejaman (aniaya,

perkosaan) percaya diri yang rendah, perubahan ekonomi, tuntutan

pekerjaan atau perkuliahan dalin masih banyak lagi (Rasmun, 2009).

C. Klasifikasi Stres

Stres terbagi atas dua tipe, yaitu eustress dan distress (Pinel, 2009).

Eustress merupakan hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat,

positif, dan menguntungkan bagi tubuh. Bentuk stres yang mendorong

(31)

12

beradaptasi. Ketika tubuh mampu menggunakan stres yang dialami

untuk membantu melewati sebuah hambatan dan meningkatkan

performa, stres tersebut bersifat positif, sehat, dan menantang.

Distress adalah hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat

dan negatif bagi tubuh kita. Distress merupakan semua bentuk stres

yang melebihi kemampuan untuk mengatasinya, membebani tubuh, dan

menyebabkan masalah fisik atau psikologis. Ketika seseorang

mengalami distress, orang tersebut akan cenderung bereaksi secara

berlebihan, bingung, dan tidak dapat berperforma secara maksimal

(Pinel, 2009).

D. Alat Ukur Stres

Alat ukur tingkat stres adalah kuesioner dengan sistem skoring yang

akan diisi oleh responden dalam suatu penelitian, yaitu Kessler

Psychological Distress Scale. Kessler Psychological Distress Scale

(KPDS) terdiri dari 10 pertanyaan yang diajukan kepada responden

dengan skor 1 untuk jawaban dimana responden tidak pernah

mengalami stres, 2 untuk jawaban dimana responden jarang mengalami

stres, 3 untuk jawaban dimana responden kadang-kadang mengalami

stres, 4 untuk jawaban dimana responden sering mengalami stres dan 5

untuk jawaban dimana responden selalu mengalami stres dalam 30 hari

(32)

13

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal. Tingkat stres

dikategorikan sebagai berikut:

1) Skor di bawah 20 : tidak mengalami stres

2) Skor 20-24 : stres ringan

3) Skor 25-29 : stres sedang

4) Skor≥ 30 : stres berat (Carolin, 2010).

2.1.3 Mengonsumsi Makanan Cepat Saji (Fast Food)

Makanan cepat saji (fast food) dapat diartikan sebagai makanan yang dapat

disiapkan dan disajikan dengan cepat. Makanan cepat saji ditandai dengan

biaya rendah, porsi ukuran yang besar dan mengandung tinggi kalori dan

lemak (Alamsyah, 2009).

Produk fast food dapat dibedakan menjadi dua, yaitu produk fast food yang

berasal dari barat dan lokal. Fast food yang berasal dari barat sering juga

disebut fast food modern. Makanan yang disajikan pada umumnya berupa

fried chicken, hamburger, pizza dan sejenisnya. Fast food lokal sering juga

disebut dengan istilah fast food tradisional seperti warung tegal, restoran

padang, warung sunda (Gustimigo, 2015).

Kehadiran fast food di Indonesia sangat mempengaruhi pola makan semua

umur. Tidak bisa dipungkiri dengan gaya hidup kota yang serba praktis

sulit menghindar dari fast food (Kristianti dkk., 2009). Mengonsumsi fast

(33)

14

itu, makanan cepat saji diketahui rendah serat dan tinggi sodium (Imtihani

dan Noer, 2013).

Salah satu teknik memasak yang digunakan pada pembuatan fast food

adalah deep-frying. Proses deep-frying menghangatkan makanan dengan

cepat dan membuat renyah serta memberikan warna emas kecoklatan pada

penampilan luar makanan (Smith, 2012). Makanan yang diolah dengan

proses deep frying mengandung banyak asam lemak trans (Schmidt, 2007).

2.1.4 Perokok Pasif

Perokok pasif adalah orang yang menghirup asap rokok karena berada di

sekitar perokok aktif. Perokok pasif tiga kali lebih berbahaya dari perokok

aktif karena jumlah senyawa berbahaya dalam tubuh perokok pasif lebih

besar. Racun dari asap rokok yang terhisap tidak disaring dan aliran asap

yang dihirup oleh perokok pasif adalah hasil dari pembakaran dengan suhu

rendah, kondisi ini membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan

memproduksi bahan kimia berlebih (Syahdrajat, 2007).

Di dalam tubuh, nikotin adalah vasokonstriktor yang dapat mengakibatkan

berkurangnya endometrium darah mengalir 30% sampai 40%

Vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan iskemia yang dapat

merangsang pengeluaran prostaglandin untuk mempertahankan

homeostasis lokal. Terjadinya peningkatan pengeluaran prostaglandin F2-α

(34)

15

2.2 Dismenore

2.2.1 Definisi Dismenore

Dismenore berasal dari bahasa Yunani, yaitu dysmenorrhea, terdiri atas

dys” berarti sulit, “meno” berarti bulan, dan “rrhea” berarti aliran sehingga dismenore dapat diartikan sebagai gangguan aliran darah

menstruasi (Madhubala dan Jyoti, 2012). Dismenore merupakan keadaan

dimana timbul rasa nyeri yang hebat pada saat mentruasi (Kusmiran, 2013).

Wanita usia reproduktif akan sering mengeluhkan dismenore yang

mengakibatkan penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau

kegiatan sehari-hari dalam beberapa jam atau beberapa hari

(Winknjosastro, 2014). Dismenore merupakan penyebab paling utama

ketidakhadiran berulang di sekolah. Beberapa penelitian di Amerika

Serikat telah menunjukkan bahwa, remaja dengan dismenore mengalami

penurunan pada prestasi akademis, sosial dan kegiatan olahraga (Singh et

al, 2008).

2.2.2 Klasifikasi Dismenore

Berdasarkan ada tidaknya kelainan ginekologik, dismenore diklasifikasikan

menjadi dua, yaitu:

a. Dismenore Primer

Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi dengan anatomi

(35)

16

Rasa nyeri akan dirasakan sebelum atau bersamaan dengan permulaan

menstruasi dan berlangsung untuk beberapa jam (Simanjuntak, 2014).

b. Dismenore Sekunder

Dismenore sekunder merupakan nyeri mesntruasi yang ditandai

dengan adanya kelainan panggul yang nyata. Terjadi akibat berbagai

kondisi patologis seperti endometriosis, salfingitis, adenomiosis uteri,

stenosis serviks, kista ovarium, mioma uteri dan lain-lain (Unsal et al,

2010). Sering terjadi pada usia lebih dari 30 tahun dimana semakin

bertambahnya umur rasa nyeri akan semakin buruk.

2.2.3 Etiologi dan Faktor Resiko Dismenore Primer

Penyebab dari dismenore primer adalah karena terjadinya peningkatan atau

produksi yang tidak seimbang dari prostaglandin endometrium selama

menstruasi. Prostaglandin akan meningkatkan tonus uteri dan kontraksi

sehingga timbul rasa sakit (Bavil et al, 2016).

Ada beberapa faktor resiko penyebab dismenore primer, yaitu: usia < 30

tahun, usia menarche dini (< 12 tahun), Indeks Massa Tubuh yang rendah,

status sosial ekonomi yang rendah, riwayat penyakit keluarga, siklus

menstruasi yang lebih panjang, nulipara, sindrom premenstrual, jarang

melakukan aktivitas fisik, stres, diet dan merokok. Bila dilihat secara klinis

faktornya ada penyakit radang panggul, sterilisasi, dan riwayat kekerasan

(36)

17

2.2.4 Patofisiologi Dismenore Primer

Sebagai respon terhadap produksi progesteron, asam lemak di dalam

fosfolipid membran sel bertambah setelah selesai masa ovulasi. Asam

arakidonat dilepaskan dan kaskade prostaglandin dalam uterus akan

dimulai (Hillard, 2006). Prostaglandin F2α merupakan suatu perangsang

kuat kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi pembuluh darah

uterus yang dapat memperparah hipoksia uterus yang normal terjadi pada

saat mentsruasi, sehingga menyebabkan rasa nyeri hebat (Corwin, 2009).

Terjadi penurunan prostasiklin yang merupakan vasodilator dan relaksan

uterus pada dismenore primer. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan

aktivitas uterus dan vasokonstriksi karena kurang dihambatnya

prostaglandin. (Dawood, 2006).

2.2.5 Gejala Klinis Dismenore Primer

Dismenore primer ditandai dengan kram pada panggul, nyeri biasanya

datang sesaat sebelum atau pada awal menstruasi yang akan berlangsung

1-3 hari (Unsal et al, 2010). Nyeri juga dirasakan pada garis tengah abdomen

bagian bawah (Hillard, 2006). Selain dirasakan pada suprapubik, nyeri juga

dapat menjalar ke permukaan dalam paha dan dirasakan paling berat pada

hari pertama atau kedua bersamaan dengan waktu pelepasan maksimal

prostaglandin ke dalam cairan menstruasi (Dawood, 2006). Ada juga

(37)

18

nyeri kaki bagian belakang, diare, konstipasi, dan pingsan (Novia dan

Puspitasari, 2008).

2.2.6 Alat Ukur Nyeri pada Dismenore

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat nyeri

pada dismenore, salah satunya adalah Numeric Rating Scale (NRS). Pada

NRS responden diminta untuk menyatakan intensitas nyeri yang

dirasakannya pada skala antara angka 0 sampai 10 (Douglas, 2012).

Angka 0 berarti tidak ada keluhan nyeri menstruasi atau kram pada perut

bagian bawah. Angka 1-3 berarti nyeri ringan (terasa kram pada perut

bagian bawah tetapi masih dapat ditahan dan beraktivitas serta

berkonsentrasi belajar). Angka 4-6 berarti nyeri sedang (terasa kram pada

perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kurang nafsu makan,

aktivitas terganggu dan sulit berkonsentrasi saat belajar).

Angka 7-9 berarti nyeri hebat (terasa kram pada perut bagian bawah, nyeri

menyebar ke pinggang, paha atau punggung, tidak ada nafsu makan, mual,

badan lemas, tidak kuat beraktivitas dan tidak dapat konsentrasi saat

belajar). Angka 10 berarti nyeri sangat berat (terasa kram yang sangat berat

pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kaki, punggung,

tidak ada nasfu makan, mual, muntah, sakit kepala, lemas, tidak dapat

berdiri atau bangun dari tempat tidur, tidak dapat beraktivitas, terkadang

(38)

19

2.3 Hubungan Gaya Hidup dengan Dismenore Primer

Faktor penyebab dismenore primer salah satunya adalah gaya hidup yang terdiri

atas aktivitas fisik, stres, mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan

perokok pasif. Sudah ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan

faktor tersebut terhadap kejadian dismenore primer. Hubungan

faktor-faktor tersebut dengan dismenore primer akan dijelaskan di bawah ini.

Gaya hidup pertama yang akan dijelaskan adalah aktivitas fisik. Kejadian

dismenore akan meningkat pada wanita yang kurang melakukan aktivitas fisik,

sehingga ketika wanita mengalami dismenore, oksigen tidak dapat disalurkan ke

pembuluh-pembuluh darah organ reproduksi yang saat itu terjadi vasokontriksi.

Bila wanita teratur melakukan aktivitas fisik, maka wanita tersebut dapat

menyediakan oksigen hampir 2 kali lipat per menit sehingga oksigen terpenuhi

ke pembuluh darah yang mengalami vasokontriksi (Bavil et al, 2016).

Gaya hidup kedua yang mempengaruhi dismenore primer adalah stres. Saat

seseorang mengalami stres terjadi respon neuroendokrin sehingga menyebabkan

Corticotrophin Releasing Hormone (CRH) yang merupakan regulator

hipotalamaus utama menstimulasi sekresi Adrenocorticotrophic Hormone

(ACTH). ACTH akan meningkatkan sekresi kortisol adrenal.

Hormon-hormon tersebut menyebabkan sekresi Follicle Stimulating Hormone

(FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) terhambat sehingga perkembangan

(39)

20

terganggu. Kadar progesteron yang rendah meningkatkan sintesis prostaglandin

F2α dan E2 yang menyebabkan timbul rasa nyeri saat menstruasi (Sherwood, 2014).

Gaya hidup ketiga yang mempengaruhi dismenore primer, yaitu mengonsumsi

makanan cepat saji (fast food). Fast food mengandung asam lemak jenuh dan

asam lemak tak jenuh omega-6 yang tinggi, kandungan asam lemak omega-3

yang rendah, banyak kandungan garam dan banyak gula yang dimurnikan

(Myles, 2014). Hussein (2013) menjelaskan bahwa asupan asam lemak tak jenuh

dalam diet merupakan awal dari kaskade pelepasan prostaglandin yang akan

menyebakan dismenore.

Fast food juga mengandung asam lemak trans yang merupakan salah satu sumber

radikal bebas Salah satu efek dari radikal bebas adalah kerusakan membran sel

(Messier, 2009). Membran sel memiliki beberapa komponen, salah satunya

adalah fosfolipid (Campbell dan Reece, 2008). Salah satu fungsi fosfolipid

adalah sebagai penyedia asam arakidonat yang akan disintesis menjadi

prostaglandin (Satyanarayana, 2014).

Jika tubuh semakin banyak mengonsumsi makanan cepat saji (fast food), maka

akan semakin banyak prostaglandin dalam tubuh yang akan menyebabkan

terjadinya dismenore. Pada penelitian Pramanik dan Dhar (2014) yang dilakukan

(40)

21

hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi fast food dengan

dismenore, dengan nilai p< 0,001.

Gaya hidup selanjutnya adalah perokok pasif. Menurut Megawati (2006)

merokok dapat menyebabkan dismenore dikarenakan rokok mengandung zat

yang dapat mempengaruhi metabolisme estrogen, sedangkan estrogen berperan

mengatur proses menstruasi dan kadar estrogen harus cukup di dalam tubuh.

Estrogen apabila kadarnya kurang maka akan mengganggu metabolisme

sehingga akan menyebabkan gangguan pada alat reproduksi termasuk

dismenore. Menurut Corwin (2009) kram akibat haid yang kuat dapat

menyebabkan terjadinya endometriosis (pertumbuhan jaringan uterus di luar

uterus yang menyebabkan nyeri), keluhan dismenore harus selalu dianggap serius

(41)

22

[image:41.612.114.528.85.635.2]

2.4 Kerangka Teori

Gambar 1. Kerangka Teori Tentang Faktor Resiko yang Mempengaruhi Dismenore Primer (Sumber : Dawood, 2006; Latthe,2006; Bavil et al, 2016).

Keterangan: Dibagi menjadi Menyebabkan

Gaya Hidup

Kurangnya Aktivitas fisik

Perokok pasif

Stres Konsumsi fast

food Aktivasi Corticotropin realizing hormonedi hipotalamus Oksigen tidak dapat disalurkan ke pembuluh darah organ reproduksi yang mengalami vasokontriksi Tingginya asam lemak jenuh omega-6 dan asam lemak trans Kerusakan membrane sel Tingginya nikotin dalam darah sebagai vasokontriktor Asam arakidonat akan disintesis Dismenore Primer Iskemia Kurangnya pembuluh darah pada endometrium yang mengalir Aktivasi Kortisol adrenal Aktivasiadreno corticotropic hormonedi hipofisis Folicle Stimulating Hormonedan Luteinzing Hormon terhambat

(42)

23

2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi konsep-konsep serta

variabel-variabel yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2012). Kerangka konsep

penelitian yang akan dilakukan terdapat pada gambar berikut.

[image:42.612.109.486.221.419.2]

Variabel Bebas Variabel Terikat

Gambar 2. Kerangka konsep penelitian

2.6 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian adalah sebagai berikut.

1. H0 : Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan dismenore

primer pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung.

Ha : Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan dismenore primer

pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas

Lampung. Gaya

Hidup

Aktivitas Fisik

Stres

Konsumsi Fastfood

Perokok Pasif

(43)

24

2. H0 : Tidak terdapat hubungan antara stres dengan dismenore primer pada

mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Ha : Terdapat hubungan antara stres dengan dismenore primer pada

mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

3. H0 : Tidak terdapat hubungan antara konsumsi fast food dengan dismenore

primer pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung.

Ha : Terdapat hubungan antara diet (mengonsumsi fast food) dengan

dismenore primer pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung

4. H0 : Tidak terdapat hubungan antara perokok pasif dengan dismenore

primer pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung.

Ha : Terdapat hubungan antara perokok pasif dengan dismenore primer

pada mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas

(44)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan

potong lintang (cross sectional) dimana data yang berkaitan dengan variabel

bebas dan variabel terikat dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan

(Notoatmodjo, 2012).

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2016 yang

bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

3.3 Subjek Penelitian 3.3.1 Populasi

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek penelitian yang akan diteliti

(Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Lampung yang

(45)

26

3.3.2 Sampel

Pada penelitian ini, jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin sebagai

berikut (Notoadmodjo, 2012).

n =

( )

Keterangan:

n = jumlah sampel

N = jumlah populasi

d = batas toleransi kesalahan (error tolerance)

Perhitungan jumlah sampel pada penelitian ini adalah:

n =

( , )

n =

103,15

Hasil yang didapatkan di atas dibulatkan menjadi 103. Artinya bahwa

jumlah sampel minimal yang akan diteliti sebesar 103 dan untuk mencegah

terjadinya drop out, maka dilakukan penambahan sampel sebanyak 10%

artinya penelitian ini memiliki peluang drop out sebanyak 10,3 atau 10

sampel. Jadi, jumlah sampel minimal yang dipilih sebanyak 113 sampel.

(46)

27

3.3.3 Kriteria Inklusi

a. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015.

b. Mahasiswi yang bersedia menjadi responden penelitian.

c. Mahasiswi yang sudah menstruasi.

3.3.4 Kriteria Eksklusi

a. Mahasiswi yang sedang hamil.

b. Mahasiswi yang mempunyai kelainan ginekologik.

3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variable terikat. Dalam

penelitian ini, variabel bebasnya adalah gaya hidup yang terdiri atas:

a. Tingkat aktivitas Fisik

b. Tingkat stres

c. Diet (Konsumsi fast food)

d. Perokok pasif

3.4.2 Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel

bebas, dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah kejadian dismenore

(47)

28

3.5 Definisi Operasional

Definisi operasional variabel bebas dan variabel terikat yang digunakan

[image:47.612.88.544.178.693.2]

dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Definisi operasional variabel penelitian Nama

Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Dismenore primer

Nyeri yang dirasakan ketika menstruasi tanpa ada kelainan pada alat genital. Responden mengisi kuesioner Kuesioner Numeric Rating Scale (NRS) 0. Ya (NRS > 0) 1. Tidak (NRS = 0)

Nominal

Aktivitas fisik

Setiap gerakan

tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga/energi dalam seminggu. Responden mengisi kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) 1. Ringan (0-599) 2. Sedang (600-1499) 3. Berat (≥1500) Dalam MET-menit/minggu. Ordinal

Stres Tingkat stres yang dirasakan dalam satu bulan terakhir.

Responden mengisi kuesioner

Kessler Psychological

Distress Scale (KPDS)

1. Stres berat (≥ 30) 2. Stres sedang (25-29) 3. Stres ringan (20-24) 4. Tidak stres (< 20) Ordinal Konsumsi Fast food Frekuensi mengonsumsi fast food dalam satu bulan terakhir. Responden mengisi kuesioner Food frequency questionnai re (FFQ) 0. Sering

(≥ 3x/minggu)

1. Jarang (< 3x/minggu) Ordinal Perokok pasif Orang yang

terpapar asap rokok lingkungan dalam satu bulan terakhir

(48)

29

3.6 Metode Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.

1. Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti langsung dari sumber pertama.

Data primer diperoleh dengan pengukuran variabel-variabel bebas dan terikat

dengan cara sebagai berikut:

a. Mengetahui derajat dismenore dengan menggunakan kuesioner skala nyeri

Numeric Rating Scale (NRS).

b. Mengetahui aktivitas fisik dengan menggunakan Physical Activity

Questionnaire (GPAQ).

c. Mengetahui tingkat stres dengan menggunakan kuesioner Kessler

Psychological Distress Scale (KPDS).

d. Mengetahui perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food)

menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) Fast Food

e. Mengetahui sampel sebagai perokok pasif menggunakan kuesioner

perokok pasif.

2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari

berbagai sumber yang telah ada. Data sekunder yang didapatkan berupa

jumlah dan nama mahasiswi angkatan 2015 Fakultas Kedokteran Universitas

Lampung.

3.7 Instrumen Penelitian

(49)

30

sebagai berikut:

1. Lembar informasi untuk responden dan informed consent

2. Form identitas dan karakteristik responden

3. Kuesioner Numeric Rating Scale (NRS)

4. Kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ)

5. Kuesioner Kessler Psychological Distress Scale (KPDS)

6. Kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) Fast Food

7. Kuesioner Perokok Pasif

8. Alat tulis

3.7.1 Uji Instrumen Penelitian

3.7.1.1 Uji Validitas Kuesioner Perokok Pasif

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat

kesahihan suatu instrumen. Uji validitas dilakukan untuk

mengukur pernyataan yang ada dalam kuesioner agar

mengetahui valid atau tidaknya butir-butir soal yang ada

(Arikunto, 2013). Uji validitas yang dilakukan oleh penulis

adalah dengan mengujicobakan kuesioner penelitian kepada 30

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan

2014. Langkah pengujian validitas tersebut harus dibandingkan

dengan r tabel, dapat diketahui bahwa r tabel untuk 30 responden

(50)

31

dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. Hasil uji validitas

variabel perokok pasif menggunakan korelasi Product Moment

dari Pearson dengan software pengolahan data selengkapnya

[image:50.612.209.526.235.294.2]

dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 2 . Uji Validitas Kuesioner Perokok Pasif

Nomor Pertanyaan

r hitung r tabel Status

2 0,935 0,361 Valid

3 0,963 0,361 Valid

3.7.1.2 Uji ReliabilitasKuesioner Perokok Pasif

Reliabilitas adalah suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk

digunakan karena instrumen tersebut sudah baik. Uji reliabilitas

digunakan untuk melihat konsistensi dari instrumen. Teknik uji

reliabilitas yang digunakan adalah Alpha Cronbach. Standar

yang digunakan adalah 0,41< r ≤ 0,60 (Arikunto, 2013). Uji reliabilitas untuk kuesioner perokok pasif didapatkan nilai

reliabilitasnya sebesar 0,655 yang berarti bahwa kuesioner ini

(51)

32

3.8 Alur Penelitian

[image:51.612.197.449.130.407.2]

Alur penelitian untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 3. Diagram alur penelitian

3.9 Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diolah dengan cara

yang berbeda tergantung dengan kuesioner yang dipakai.

1.9.1 Data Tingkat Aktivitas Fisik

Diperoleh dengan menggunakan Global Physical Activity Questionnaire

(GPAQ) dari World Health Organization yang terdiri atas 16 pertanyaan

dengan menggunakan kode P1-P16. Pertanyaan P1-P6 mengenai aktivitas

saat belajar/bekerja, pertanyaan P7-P9 mengenai perjalanan dari satu

tempat ke tempat lain, pertanyaan P10-P15 mengenai aktivitas rekreasi, Pengisian lembar persetujuan oleh responden.

Pembagian dan pengisian kuesioner.

Melakukan pengolahan dan analisis data.

Hasil dan Kesimpulan. Seminar proposal penelitian.

Pengkajian Etik Penelitian Kesehatan

(52)

33

dan pertanyaan P16 mengenai aktivitas menetap. Cara mengolah data ini

dengan menggunakan rumus total aktivitas dalam MET menit/minggu.

Rumusnya adalah sebagai berikut.

Total Aktivitas Fisik =

(METmenit/minggu)

Setelah mendapatkan nilai total aktivitas fisik dalam satuan MET

menit/minggu, responden dikategorikan ke dalam 3 level aktiivtas fisik,

yaitu ringan, sedang dan berat.

1.9.2 Data Tingkat Stres

Diperoleh dengan menggunakan kuesioner Kessler Psychological

Distress Scale yang terdiri atas 10 pertanyaan untuk menghitung tingkat

stres dalam satu bulan terakhir. Skor 1 untuk jawaban tidak pernah. Skor

2 untuk jawaban pernah. Skor 3 untuk jawaban kadang-kadang. Skor 4

untuk jawaban sering. Skor 5 untuk jawaban sangat sering. Setelah

dilakukan perhitungan responden dikategorikan ke dalam 4 level stres,

yaitu tidak stres, ringan, sedang, berat.

1.9.3 Data Frekuensi Konsumsi Fast Food

Diperoleh dengan menggunakan Food Frequency Questionnaire Fast

Food yang terdiri atas 15 jenis fast food baik lokal maupun barat.

Dikategorikan sering apabila responden mengonsumsi fast food

{ (P2 x P3 x 8) + (P5 x P6 x 4) + (P8 x P9 x 4) +

(53)

34

3x/minggu dan jarang apabila responden mengonsumsi fast food kurang

dari 3x/minggu dalam satu bulan terakhir.

1.9.4 Data Perokok Pasif

Diperoleh dengan menggunakan kuesioner perokok pasif terdiri atas tiga

pertanyaan. Dikatakan perokok pasif apabila responden menghirup asap

rokok lingkungan selama 15-60 menit dalam sehari, sedangkan bukan

perokok pasif apabila responden menghirup asap rokok lingkungan <15

menit dalam sehari.

Data yang telah dilakukan perhitungan akan diolah menggunakan program

analisis statistik. Proses pengolahan data tersebut terdiri dari beberapa langkah

berikut.

1. Editing

Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan

penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah

merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau

kuesioner tersebut.

2. Coding

Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan

pengkodean atau coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf

(54)

35

3. Memasukkan data (data entry) atau processing

Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer yang

selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan program komputer.

4. Pembersihan data (data cleaning)

Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan- kemungkinan

adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya,

kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

3.10 Analisis Data

Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diolah

menggunakan program analisis statistik, kemudian dianalisis sebagai berikut: 1.Analisis Univariat

Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan variabel bebas dan terikat

yang bertujuan untuk melihat variasi masing-masing variabel tersebut.

Keseluruhan data yang ada dalam kuesioner diolah dan disajikan dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi.

2. Analisis Bivariat

Analisis ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara

variabel bebas dan variabel terikat. Variabel yang digunakan dalam

penelitian ini adalah variabel kategorik tidak berpasangan, sehingga

(55)

36

statistik chi-square. Syarat uji chi-square adalah sel yang mempunyai nilai

expected kurang dari lima, maksimal 20% dari jumlah sel.

Jika syarat uji chi-square tidak terpenuhi maka gunakan uji alternatifnya.

Tabel 2x2 alternatifnya adalah uji fisher, tabel 2xK alternatifnya uji

Mann-Whitney atau penggabungan sel, dan tabel (>2)x(>2) adalah Kruskal-Wallis

atau penggabungan sel. Hasil uji dikatakan ada hubungan yang bermakna

bila nilai ρ value = α (ρ value = 0,05). Hasil uji dikatakan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik apabila nilai ρ value > a (ρ value >

0,05) (Dahlan, 2013).

3.11 Etika Penelitian

Penelitian ini telah mendapatkan surat keterangan lolos kaji etik dari Komisi

Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dengan

nomor 457/UN26.8/DL/2017. Pada saat pengambilan data penelitian,

responden terlebih dahulu diberi informasi tentang kegiatan penelitian dan

kemudian diminta kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan

(56)

60

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan pada 129 mahasiswi

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2015 adalah sebagai berikut.

1. Kejadian dismenore primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Lampung angkatan 2015 sebesar 62%.

2. Tingkat aktivitas fisik pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

Lampung angkatan 2015, yaitu sebagian besar memiliki tingkat aktivitas fisik

ringan (80,6%), diikuti dengan yang memiliki tingkat aktivitas fisik berat

(10,1%) dan aktivitas fisik sedang (9,3%).

3. Tingkat stres pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

angkatan 2015 adalah responden dengan tingkat stres ringan (32,6%), diikuti

dengan tingkat stres sedang (27,1%), tidak stres (20,9%) serta tingkat stres

berat (19,4%).

4. Frekuensi konsumsi fast food pada mahasiswi Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung angkatan 2015 yang sering sebesar (59,7%).

5. Status perokok pasif pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas

(57)

61

6. Terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan dismenore

primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan

2015.

7. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan dismenore

primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan

2015.

8. Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi fast food dengan

dismenore primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

angkatan 2015.

9. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perokok pasif dengan

dismenore primer pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

angkatan 2015.

5.2 Saran

5.2.1 Untuk Masyarakat

Disarankan kepada para mahasiswi untuk meningkatkan aktivitas fisik dan

menghindari gaya hidup menetap serta mengurangi konsumsi fast food agar

dapat menurunkan resiko terjadinya dismenore primer.

5.2.2 Untuk Peneliti Lain

Dapat melakukan penelitian lebih lanjut untuk stres dan perokok pasif

(58)

62

yang dapat mempengaruhi dismenore primer, seperti genetik, status sosial

(59)

63

DAFTAR PUSTAKA

Achroza, Faela Hanik. 2013. Hubungan antara komunikasi interpersonal dosen pembimbing mahasiswa dan problem focused coping dengan stress dalam menyusun skripsi pada mahasiswa FKIP Bimbingan dan Konseling Universitas Muria Kudus [skripsi]. Kudus: Universitas Muria Kudus.

Alamsyah, Y. 2009. Antisipasi krisis global bisnis fast food ãla Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. hlmn. 2-4.

American Institute of Stress. 2016. What is stress?.[diunduh 8 Juni 2016]. Tersedia dari:www.stress.org.

Anisa, Vivi Magista. 2015. Hubungan status gizi, menarche dini, dan perilaku mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore primer pada siswi SMAN 13 Bandar Lampung [skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Augesti, Gita. 2015. Perbedaan tingkat stres antara mahasiswa tingkat awal dan tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Lampung [skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

(60)

64

Bavil, Dina Abadi., Dolatian, Mahrokh., Mahmoodi, Zohreh., Baghban, Alireza Akbarzadeh 2016. Comparison of lifestyles of young women with and without primary dysmenorrhea. Elecetronic Journal Physician. 8(3):2107-14.

Calis, Karim Anton. 2015. Dysmenorrhea. [diunduh 15 Mei 2016]. Tersedia dari: http://emedicine.medscape.com/article/253812-overview.

Campbell, N.A. dan Reece, J.B. 2010. Biologi. Jakarta : Erlangga. hlmn : 82.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC. hlmn 34-38

Carolin. 2010. Gambaran Tingkat Stres pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara [skripsi]. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dahlan, M.S. 2013. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan : deskriptif, bivariat, dan multivariat dilengkapi aplikasi dengan menggunakan SPSS. Edisi 5. Jakarta : Salemba Medika, hlmn: 19.

Daley AJ. 2008. Exercise and primary dysmenorrhoea: acomprehensive and critical review of the literature.Sport Medicine: Adis Data Internasional. 38(8): 659-70.

Dawood, M.Y. 2006. Primary dysmenorrhea advances in pathogenesis and management. The American College of Obstetricians and Gynecologists.108(2): 428-41.

Douglas, C., Rebeiro, G., Crisp, J., dan Taylor, C. 2012. Potter & perry’s Fundamental of nursing–australian version. Australia: Elsevier.

(61)

65

Febriati, Listia Dewi. 2016. Factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dismenore pada mahasiswi prodi D III Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta Tahun 2015. Jurnal Medika Respati. 11(2):12-20.

Gustimigo, Zelta Pratiwi. 2015. Factor-faktor yang berhubungan dengan perilaku konsumsi makanan siap saji pada mahasiswa fakultas ekonomi dan bisinis Universitas Lampung [skripsi]. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Hawari, Dadang. 2008. Manajaemen stres, cemas dan depresi. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

Heriyanto, Mira Hapsari. 2012. Hubungan asupan gizi dan factor lain dengan persen lemak tubuh pada mahasiswi prodi gizi dan ilmu komunikasi UI angkatan 2009 [skripsi]. Depok: Universitas Indonesia.

Hillard PJA. 2006. Dysmenorrhea. Pediatric in Review. 27(2):64-71.

Holder, Andre. 2011. Dysmenorrhea in Emergency Medicine Clinical. [diunduh 15 Mei 2016]. Tersedia dari: http://emedicine.medscape.com/article/795677-clinical.

Hussein, J.S. 2013. Review article : cell membrane fatty acids and health.

International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.5(Suppl 3): 38-46.

Imtihani, T.R., Noer, E.R. 2013. Hubungan pengetahuan, uang saku, dan peer group dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji pada remaja putri. Journal of nutrition college.2(1): 162-69.

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset kesehatan dasar: pengetahuan, sikap dan perilaku. Jakarta. hlmn 177-9.

(62)

66

Kholidah, Enik Nur. 2012. Berpikir positif untuk menurunkan stress psikologis. Jurnal Psikologi. 39(1):67-75.

Kotler, Philip and Gary, Armstrong. 2012. Prinsip prinsip pemasaran. Edisi 13. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Kusmiran, E. 2013. Kesehatan reproduksi remaja dan wanita. Jakarta : Salemba Medika, Hlmn: 19, 112-13.

Kristianti, N., Sarbini, D., dan Mutalazimah. 2009. Hubungan pengetahuan gizi dan frekuensi konsumsi fast food dengan status gizi siswa SMA negeri 4 Surakarta. Jurnal kesehatan.2(1): 39-47.

Latthe, P., Mignini, L., Gray, R. Hills, R., dan Khan, K. 2006. Factor predisposing women to chronic pelvic pain : systematic review.

Madhubala, C dan Jyoti, K. 2012. Relation between dysmenorrhea and body mass index in adolescents with rural versus urban variation. The Journal of Obstetrics and Gynecolog of India. 62(4):442-445.

Megawati, Ginna. 2006. Remaja Merokok Karena Meniru. [Diakses pada 2 Juni 2016]. Tersedia dari: http:// pikiranrakyat.com/cetak/2006/032006/05/hikmah/

Messier, L.G. 2009. Free radicals : the silent killers of the human race. Pennyslavania: Red Lead Press, Hlmn: 12

Myles, I.A. 2014. Fast food fever : reviewing the impacts of the western diet on immunity. Nutrition journal. Dapat diakses dari : http://www.nutritionj.com. Diakses pada 26 September 2014.

(63)

67

Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, hlmn: 22, 164-68.

Novia I dan Puspitasari N. 2008. Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian dismenore. The Indonesian Journal of Public Health. 4(2):96-104.

Patterson E, Wall R, Fitzgerald GF, Ros RP, Stanton C. 2012. Health implications of high dietary omega-6 polyunsaturated fatty acids. Journal of nutrition and metabolism. [diakses 31 Desember 2016]. Tersedia dari: http//www.ncbi.nih.gov/pubmed/22570770.

Pinel, J. P. J. 2009. Biopsikologi. Edisi. 7. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Hlmn. 557-565

Pramanik, P. dan Dhar, A. 2014. Impact of fast food on menstrual health of school going adolescent girls in west bengal, eastern india. Global Journal of Biology, Agriculture, & Health Science.3(1): 61-66.

Proctor, Michelle dan Farquhar, Cynthia. 2006. Diagnosis and management of dysmenorrheal. BMJ. 332(2):1134-8.

Rasmun, 2009. Pengertian Stres, Sumber Stress dan Sifat Stresor. Dalam: Stres, Koping, dan Adaptasi Edisi ke-1. Jakarta: Sagung Seto. Hlmn 9-26.

Santoso. 2008. Angka Kejadian Nyeri Haid pada Remaja Indonesia. Journal of Obstretics & Gynecology.

Sari D, Nurdin AE, Defrin. 2015. Hubungan stress dengan kejadian dismenore primer pada mahasiswi pendidikan dokter fakultas kedokteran universitas andalas. Jurnal Kesehatan Andalas. 4(2):567-69.

Satyanarayana, U. 2014. Biochemistry. New Delhi : Elsevier, hlmn: 303.

Schmidt, M.A. 2007. Brain-building nutrition : how dietary fats and oils affect

(64)

68

Sherwood, Lauralee. 2014. Kelenjar endokrin perifer. Dalam: Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-7. Jakarta: EGC. hlmn 773-6.

Smith, F.A. 2012. Fast food & junk food an encyclopedia of what we love to eat. California : ABC-CLIO, LLC, hlmn: 188.

Simanjuntak, Pandapotan. 2014. Gangguan Haid dan Siklusnya. Dalam: Prawirohardjo, Sarwono, Wiknjosastro, Hanifa. Ilmu Kandungan. Edisi ketiga. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. hlm. 229-232.

Sirait, Deby Shinta. 2014. Faktor–faktor yang berhubungan dengan kejadian dismenore pada siswi SMAN 2 Medan Tahun 2014 [skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Singh, A., Kiran, D., Singh, H., Nel, B., Singh, P., dan Tiwari, P. 2008. Prevalence and severity of dysmenorrhea: a problem related to menstruation, among first and second year female medical student. Indian J Physiol Pharmacol.52(4): 389-397.

Sundari, Luh Putu Ratna. 2011. Pemberian kapsul zink per oral selama empat hari sebelum haid menurunkan kadar prostaglandin dan nyeri haid pada penderita nyeri haid primer [tesis]. Bali: Universitas Udayana.

Syahdrajat, T (2007). Merokok dan Masalahnya. Dexa Media. 20(4) hlm:184-7.

Unsal, A., Ayranci, U., Tozun, M., Arslan, G., dan Calik, E. 2010. Prevalence of dysmenorrhea and its effect on quality of life among a group of female university students. Upsala Journal of Medical Science.115: 138-45.

Winkjosastro, H., Saifuddin, A.B., dan Rachimdhahi, T. 2009. Ilmu kandungan. Edisi kedua. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, hlmn: 103,127,203,229,230.

Figure

Gambar 1. Kerangka Teori Tentang Faktor Resiko yang Mempengaruhi DismenorePrimer (Sumber : Dawood, 2006; Latthe,2006; Bavil et al, 2016).
Gambar 2. Kerangka konsep penelitian
Tabel 1. Definisi operasional variabel penelitianNama
Tabel 2 . Uji Validitas Kuesioner Perokok Pasif
+2

References

Related documents

Sleep spindle parameters within the Nap group were negatively associated with off-line changes in performance: slow spindle density and fast spindle amplitude showed

Models dealing with the e ff ects of masting Individual based gap model (FORMIND) E ff ect of masting on forest structure Broadleaf/Tropical Köhler and Huth (2004) Yes: Masting a ff

The Trip Building component is used to build timed trips for public schedules based on the patterns built in Route Definition. The Trips tab is used to create all trips for

From the perspectives of organic place-making and social capital, this research examines the on-going transformation of cultural creative urban villages in the largest city

The growth and popularity of the internet (or world wide web) suggests that this could be a useful medium for support provision, and this has been reflected in recent policy.

 Certificate: United States Treasury Department, Federal Law Enforcement Training Center, Computer Investigative Specialist, Seized Computer Evidence Recovery Training

1, but for the timing of the peak increase in graupel mass (Panel A), 10 m s −1 updraft volume (Panel B) and maximum updraft updraft speed (Panel C) minus the time of flash

Its functions are to identify assets gained through illegal activity, such as drug trafficking and serious and organised crime, and to make these assets available to the courts