• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
14
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

A. Kajian Teori

1. Efektivitas Pembelajaran

Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan

dan sasaran yang diharapkan. Rivai (2008) mengatakan pencapaian tujuan

pem-belajaran berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pengembangan sikap melalui proses pembelajaran yang meliputi beberapa aspek antara lain

peningkatan pengetahuan, keterampilan, integrasi, partisipasi, dan perubahan

sikap kemampuan beradaptasi. Aspek-aspek tersebut merupakan aspek yang

menunjukkan terjadinya pembelajaran efektif.

Hamalik (2004) menyatakan bahwa pembelajaran yang efektif adalah

pem-belajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar karena aktivitas yang terjadi dalam

kegiatan pembelajaran yang akan memberikan pengalaman baru bagi siswa untuk

mendapatkan pengetahuan baru pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Trianto

(2009) bahwa belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat

pada siswa. Penyediaan kesempatan belajar sendiri dan beraktivitas seluas-luanya

diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi yang sedang

(2)

Lebih lanjut Trianto (2009) menyatakan bahwa hasil yang diperoleh setelah

pelaksanaan proses pembelajaran dapat diketahui dengan memberikan tes, sebab

hasil tes dapat dipakai untuk mengevaluasi berbagai aspek proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran adalah tingkat keberhasilan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan

pem-belajaran. Dalam penelitian ini pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran

yang menyediakan kesempatan belajar sendiri kepada siswa dalam kegiatan

pembelajaran yang akan memberikan pengalaman baru dan pengetahuan baru bagi

siswa. Sehingga dapat membantu siswa dalam memahami materi yang sedang

dipelajari sehingga memperoleh hasil yang baik.

2. Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

cooperative

sama-sama dengan saling membantu satu sama-sama lain sebagai satu tim. Jadi, Cooperative

learning menurut Salvin (Isjoni, 2010) merupakan model pembelajaran, di mana

guru mendorong para siswa untuk melakukan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan

tertentu seperti diskusi atau pembelajaran oleh teman sebaya (peer teaching). Dalam melakukan proses pembelajaran guru tidak lagi mendominasi seperti

lazimnya pada saat ini, sehingga siswa dituntut untuk berbagi informasi dengan

siswa yang lainnya dan saling belajar mengajar sesama mereka.

Menurut Johnson & Johnson (dalam Isjoni, 2010) cooperative learning adalah

mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam satu kelompok kecil agar siswa

dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan saling

(3)

Isjoni (2010) ciri-ciri dari cooperative learning adalah; (a) setiap anggota

memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa, (c) setiap

anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman

sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, dan (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat

diperlukan. Nasution (dalam Isjoni, 2010) menyatakan belajar kelompok itu

efektif bila setiap individu merasa bertanggung jawab terhadap kelompok, siswa

turut berpartisipasi dan bekerja sama dengan siswa lain secara efektif,

me-nimbulkan perubahan yang konstruktif pada perilaku seseorang dan setiap anggota

aman dan puas di dalam kelas.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan

adanya kerja sama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan

pem-belajaran. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan

kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan

dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas

pem-belajaran berpusat pada siswa.

Ada berbagai tipe pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah think pair share

(TPS). Think pair share dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari

Universitas Maryland pada tahun 1981. Model ini memberi waktu kepada para

siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Trianto (2009) mengungkapkan bahwa:

(4)

a. Langkah 1 : Berpikir (Thinking)

Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan

pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk

berpikir sendiri jawaban atau masalah. b. Langkah 2 : Berpasangan (Pairing)

Selanjutnya Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa

yang telah mereka peroleh.

c. Langkah 3 : Berbagi (Sharing)

Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan

keseluruhan kel

Ciri utama pada model pembelajaran kooperatif TPS (Fogarty dan Robin, 1996)

adalah tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran yaitu

think (berpikir secara individual), pair (berpasangan dengan teman sebangku), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas).

1. Think (berpikir secara individual)

Pada tahap think, guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang

dikaitkan dengan pelajaran, dan siswa diminta untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pada tahapan ini, siswa

sebaiknya menuliskan jawaban mereka, hal ini karena guru tidak dapat

me-mantau semua jawaban siswa sehingga melalui catatan tersebut guru dapat

mengetahui jawaban yang harus diperbaiki atau diluruskan di akhir

pembelajaran. Dalam menentukan batasan waktu untuk tahap ini, guru harus

mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa untuk menjawab pertanyaan

(5)

think time

memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir mengenai jawaban

mereka sendiri sebelum pertanyaan tersebut dijawab oleh siswa lain. Selain

itu, guru dapat mengurangi masalah dari adanya siswa yang mengobrol, karena tiap siswa memiliki tugas untuk dikerjakan sendiri.

2. Pair (berpasangan dengan teman sebangku)

Langkah kedua adalah guru meminta para siswa untuk berpasangan dan

men-diskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini

dapat menghasilkan jawaban bersama. Biasanya guru mengizinkan tidak

lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. Setiap pasangan siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil akhir

yang didapat menjadi lebih baik, karena siswa mendapat tambahan informasi

dan pemecahan masalah yang lain.

3. Share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas)

Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk

berbagi hasil pemikiran mereka dengan pasangan lain atau dengan seluruh

kelas. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh dari

pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.

Langkah ini merupakan penyempurnaan dari langkah sebelumnya, dalam arti

bahwa langkah ini menolong agar semua kelompok menjadi lebih memahami

mengenai pemecahan masalah yang diberikan berdasarkan penjelasan

kelompok yang lain. Hal ini juga agar siswa benar-benar mengerti ketika

(6)

Kagan (dalam Widiarti, 2007) menyatakan manfaat TPS sebagai berikut:

1. Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan

tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka terlibat

dalam kegiatan TPS lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin

mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas

jawaban mungkin menjadi lebih baik.

2. Para guru juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika

menggunakan TPS. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban

siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.

Fogarty dan Robin (1996) menyatakan bahwa teknik pembelajaran TPS

mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut: 1. Mudah dilaksanakan dalam kelas yang besar,

2. Memberikan waktu kepada siswa untuk merefleksikan isi materi pelajaran,

3. Memberikan waktu kepada siswa untuk melatih mengeluarkan pendapat

sebelum berbagi dengan kelompok kecil atau kelas secara keseluruhan.

Dengan teknik pembelajaran TPS yang disebutkan Fogarty dan Robin siswa

dilatih untuk banyak berfikir dan saling tukar pendapat baik dengan teman sebangku ataupun dengan teman sekelas, sehingga dapat meningkatkan hasil

belajar ranah kognitif siswa karena siswa dituntut untuk mengikuti proses

pembelajaran agar dapat menjawab setiap pertanyaan dan berdiskusi.

Dari uraian tersebut, model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah

pembelajaran yang terdiri dari tiga tahap kegiatan pembelajaran yaitu berpikir

(7)

meng-utamakan adanya kerja sama antar siswa yang berpasangan untuk mencapai tujuan

pembelajaran.

4. Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran konvensional yang dimaksud disini adalah suatu pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru di kelas, yaitu pembelajaran dengan menggunakan

metode ceramah. Seperti halnya yang dikemukakan Sinarno Surakhmad M. Ed

(dalam Suryosubroto, 2009), yang dimaksud dengan metode ceramah adalah

pe-nerangan atau penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya. Selama proses

pembelajaran peranan murid adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat

yang pokok-pokok yang dikemukakan oleh guru.

Institute of Computer Technology (dalam Sunartombs; 2009) menyebutnya

. Dijelaskannya bahwa pembelajaran

tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pembelajaran yang paling

umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Pengajaran model ini

dipandang efektif, terutama untuk:

a. Berbagai informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

b. Menyampaikan informasi dengan cepat. c. Membangkitkan minat akan informasi.

d. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan.

Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa

kelemahan sebagai berikut:

a. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.

(8)

c. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.

d. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama

dan tidak bersifat pribadi.

Burrowes (dalam Juliantara, 2009) menyampaikan bahwa pembelajaran konvensional menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang

cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang telah dipresentasikan,

kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau

meng-aplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata.

Pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran berpusat

pada guru, (2) terjadi passive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4)

tidak ada kelompok-kelompok kooperatif.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional adalah

pembelajaran yang menggunakan metode ceramah atau memberi penjelasan

materi secara lisan kepada siswa, dan pembelajaran ini adalah pembelajaran yang

berpusat pada guru. Dalam penelitian ini pembelajaran konvensional yang

di-maksud adalah pembelajaran melalui ceramah atau memberikan langsung

penjelasan materi kepada siswa, memberikan beberapa pertanyaan, latihan soal serta pemberian tugas.

5. Pemahaman Konsep Matematika

Pemahaman konsep adalah kemampuan dalam memahami konsep yang dipelajari.

Pemahaman konsep merupakan salah satu aspek dalam ranah kognitif dari tujuan

pembelajaran. Ranah kognitif ini meliputi berbagai tingkah laku dari tingkatan

(9)

sintesis, dan penilaian (evaluasi). Pemahaman konsep akan memberikan suatu

pemahaman dan kemampuan untuk mengaplikasikan konsep yang telah dikuasai.

Matematika merupakan disiplin ilmu yang meliputi fakta, konsep, operasi atau

relasi dan prinsip. Menurut pendapat Soedjadi (2000) terdapat beberapa definisi matematika yaitu:

1. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik.

2. Matematika adalah pengetahun tentang bilangan dan kalkulasi.

3. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubung-an dengberhubung-an bilberhubung-angberhubung-an.

4. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

5. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik. 6. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

Matematika memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan disiplin ilmu

yang lain. Soedjadi (2000) mengemukakan karakteristik matematika, yakni:

1. Memiliki objek kajian abstrak. 2. Bertumpu pada kesepakatan. 3. Berpola pikir deduktif.

4. Memiliki simbol yang kosong dari arti. 5. Memperhatikan semesta pembicaraan. 6. Konsisten dalam sistemnya.

Pemahaman akan karakteristik-karakteristik matematika dapat membantu siswa

dalam mempelajari matematika yang sedang dipelajari. Pemahaman ini di-maksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan.

Pembentukan konsep menurut Gagne (dalam Suherman, 2003) disebut juga tipe

belajar mengelompokan, yaitu belajar melihat sifat bersama benda-benda konkrit

atau peristiwa untuk dijadikan suatu kelompok. Tipe belajar ini mengharapkan

siswa untuk mampu memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan.

(10)

di-pahami dengan baik. Pemahaman konsep berpengaruh terhadap tercapainya hasil

belajar. Berkenaan dengan hal tersebut, Keller (dalam Hamalik, 2004)

menyata-sedangkan usaha adalah perbuatan yang terarah pada penyelesaian tugas-tugas Ini berarti bahwa besarnya usaha adalah indikator dari adanya motivasi,

sedangkan hasil belajar dipengaruhi oleh besarnya usaha yang dilakukan oleh

anak.

Menurut Depdiknas (dalam Jannah , 2007) Untuk menilai pemahaman konsep

matematika dapat dilakukan dengan memperhatikan indikator-indikator dari

pemahaman konsep matematika. Indikator tersebut adalah sebagai berikut: a. Menyatakan ulang suatu konsep.

b. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu. c. Memberi contoh dan non-contoh dari konsep.

d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika. e. Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep.

f. Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

g. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep merupakan

kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran yang terlihat dari hasil

belajar. Dalam penelitian ini, hasil belajar tersebut berupa nilai yang diperoleh siswa berdasarkan hasil tes berbentuk uraian yang dibuat sesuai indikator

pemahaman konsep yang diteliti yaitu menyatakan ulang konsep, menggunakan,

memanfaatkan atau memilih prosedur operasi tertentu dan mengaplikasikan

[image:10.595.105.502.681.752.2]

konsep. Kriteria penilaian pemahaman konsep, disajikan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Skoring Tes Pemahaman Konsep

No. Indikator Jawaban Skor

1. Menyatakan ulang suatu konsep

Tidak menjawab 0

Menyatakan ulang suatu konsep tetapi salah 1 Menyatakan ulang suatu konsep dengan benar 2

(11)

objek-objek menurut sifat-sifat tertentu.

Mengklarifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu tetapi salah.

1

Mengklarifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu dengan benar.

2

3. Memberi contoh dan non-contoh dari konsep.

Tidak menjawab. 0

Memberi contoh dan non-contoh dari konsep tetapi salah.

1

Memberi contoh dan non-contoh dari konsep dengan benar.

2

4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika.

Tidak menjawab 0

Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika tetapi salah.

1

Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika dengan benar.

2

5. Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep.

Tidak menjawab. 0

Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep tetapi salah.

1

Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep dengan benar.

2 6. Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

Tidak menjawab. 0

Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu tetapi salah.

1

Menggunakan, memanfaatkan dan memilih Prosedur atau operasi tertentu dengan benr.

2

7. Mengaplikasikan konsep atau pemecahan masalah.

Tidak menjawab. 0

Mengaplikasikan konsep atau pemecahan masalah tetapi salah.

1

Mengaplikasikan konsep atau pemecahan masalah dengan benar.

2

(Noer, 2010)

B. Penelitian Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah :

1. Hasil penelitian Septriana (2006) diketahui bahwa penerapan pembelajaran

kooperatif tipe TPS pada MA Negeri 1 Malang dapat meningkatkan

prestasi belajar siswa. Hal ini disebabkan TPS dapat meningkatkan

partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya informasi yang dapat

di-ingat oleh siswa. Sebab siswa saling belajar satu sama lain dan berupaya bertukar ide dengan pasangannya sebelum mengemukakan idenya ke

kelompok yang lebih besar. Serta meningkatkan rasa percaya diri siswa

(12)

2. Hasil penelitian Dewi (2011) diketahui bahwa pembelajaran kooperatif

tipe TPS efektif diterapkan pada siswa kelas XI IPA semester genap SMA

Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2010/2011. Hal ini

disebab-kan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS menciptadisebab-kan suasana belajar yang menyenangkan, karena setiap siswa dapat berdiskusi dan

saling berbagi ide dengan pasangannya untuk mendapatkan jawaban yang

tepat sehingga model pembelajaran ini efektif diterapkan pada

pembelajar-an matematika.

3. Hasil penelitian Wenangsari (2011) menunjukkan bahwa penerapan

pem-belajaran kooperatif model think pair share dapat meningkatkan hasil

belajar siswa SMAN 1 Lawang. Hal ini terlihat dari meningkatnya hasil belajar jika dan hanya jika siswa memberikan respon yang positif.

C. Kerangka Pikir

Pemahaman konsep siswa yang rendah disebabkan oleh ketidaksesuaian dalam

menggunakan model pembelajaran. Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan

salah satu model pembelajaran yang sesuai untuk membantu siswa dalam

memahami konsep materi pembelajaran. Pembelajaran kooperatif tipe TPS mem-punyai tiga tahap kegiatan pembelajaran, yaitu thinking, pairing, dan sharing.

Pada tahap thinking guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir

secara aktif dan mandiri dalam mencari pengalaman belajar dan memperoleh

pengetahuan baru, sehingga konsep yang ditemukan oleh siswa dapat bertahan

lebih lama pada diri siswa. Kemudian pairing yaitu siswa berpasangan kemudian

(13)

permasalahan yang diberikan oleh guru. Pada tahap ini siswa akan saling bekerja

sama, menjelaskan satu sama lain dalam memahami materi sehingga lebih mudah

memahami konsep dari materi yang diberikan. Selanjutnya yaitu tahap sharing,

pada tahap ini siswa berbagi hasil diskusi dengan pasangannya kepada kelompok lain.

Pada saat berdiskusi, berbagi informasi, bertanya, atau mengungkapkan pendapat

akan melatih siswa berkomunikasi di depan kelas. Dalam perkembangannya guru

hanya bertindak sebagai pengarah dan pembimbing, sedangkan siswa dituntut

untuk lebih mandiri dalam proses pembelajaran. Siswa aktif selama proses

pem-belajaran dalam mencari pengalaman dan pengetahuan sendiri sehingga mem-permudah siswa dalam memahami konsep materi yang dipelajari dan pemahaman

konsep matematika yang dimiliki oleh siswa akan semakin membaik.

Berbeda dengan pembelajaran konvensional, karena pembelajaran konvensional

adalah pembelajaran yang berpusat pada guru. Pada pembelajaran ini guru

mem-berikan penjelasan materi langsung kepada siswa secara lisan dan memmem-berikan

beberapa pertanyaan, latihan soal kemudian pemberian tugas. Selama proses pembelajaran sebagian besar siswa hanya memperhatikan, menjawab,

men-dengarkan penjelasan guru dan mencatat materi bila ada yang perlu dicatat. Hal

ini mengakibatkan siswa menjadi pasif dan mengalami kesulitan dalam

me-mahami konsep dari materi yang dipelajari, karena siswa tidak secara aktif dan

mandiri dalam menemukan konsep dari materi pembelajaran melainkan

me-nerimanya langsung dari guru. Sehingga pemahaman konsep matematika yang

(14)

Dari uraian di atas terilihat bahwa pemahaman konsep matematika siswa dengan

menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS akan lebih baik dari pemahaman

konsep matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional.

Pemahaman konsep matematika siswa dapat dilihat dari hasil tes yang diperoleh siswa di akhir pembelajaran.

D. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran kooperatif tipe

TPS lebih efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa daripada

Figure

Tabel 2.1 Skoring Tes Pemahaman Konsep

References

Related documents

http://www.bdsknowledge.org/dyn/ bds/bdssearch.globalDCDocs?p_doc_ type=DCGUIDES&p_lang=en; and Alexandra Overy Miehlbradt and Mary McVay, “SEMINAR READER—Developing

erode market signals around marketing services; (2) organizations offering marketing services, as opposed to those running a marketing business, have a more difficult time

In this paper we aim to generate such textual information automatically by utilizing multi-document summarization techniques, where documents to be summarized are web documents

Samsung Electronics (Korea) Process Control Seoul National University Hospital (Korea) Patient Management. Hyundai Heavy Industries (Korea) Process Control Public Procurement

Main e Figure 5: Common zoning o Today, mosque architectural elem great challenge in the context of modern which is generally characterized by simp which decoration elements

In the current work we demonstrate that CD22, a sialic acid-binding lectin previously exclusively described in B cells, is expressed in malignant T cell lines derived from

MicroStrategy, MicroStrategy 6, MicroStrategy 7, MicroStrategy 7i, MicroStrategy 7i Evaluation Edition, MicroStrategy 7i Olap Services, MicroStrategy 8, MicroStrategy 9,

• Technical session on Cloud Computing Framework and Demo of the university's applications running on Public and Private Cloud : Mr MM Harris, CIS.. • Demo showcase of