• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
74
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MANUSIA TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL

BELAJAR KOGNITIF PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 1 PUGUNG TANGGAMUS

(Skripsi)

Oleh

WERDA BARIROH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH DISCOVERY LEARNING PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MANUSIA TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN

HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PUGUNG TANGGAMUS

Oleh

WERDA BARIROH

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Discovery Learning terhadap aktivitas dan hasil belajar kognitif peserta didik kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus pada pembelajaran IPA Biologi materi “Sistem Pencernaan Manusia”. Desain yang digunakan yaitu nonequivalent pretes-postes control group design. Sampel penelitian adalah kelas VIII1 dan VIII3 berjumlah 50 peserta didik yang dipilih melalui teknik cluster random sampling.

(3)

dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learning berpengaruh terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar kognitif peserta didik pada materi pokok “Sistem Pencernaan Manusia”.

(4)

PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MANUSIA TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL

BELAJAR KOGNITIF SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 PUGUNG TANGGAMUS

Oleh

WERDA BARIROH

(Skripsi)

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Pada

Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

vii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Gunung Batin Baru pada 06 Januari 1996,

merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak

Darmanto dengan Ibu Siti Jueriah. Penulis beralamat di Jl. Nila

No. 19 Perumahan SITE A , Gunung Madu Plantations,

Lampung Tengah.

Nomor HP 082279765537. Penulis menempuh pendidikan di Taman

Kanak-kanak Satya Dharma Sudjana Gunung Madu (2003-2004), SD Negeri 4 Filial 6

Gunung Madu (2004-2009), SMP Satya Dharma Sudjana Gunung Madu

(2009-2012), SMAS YP Unila Bandar Lampung (2012-2014). Pada tahun 2014, penulis

terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Unila melalui jalur Seleksi

Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis melaksanakan

Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Sekincau dan Kuliah

Kerja Nyata (KKN) di Desa Giham Suka Maju, Kecamatan Sekincau, Kabupaten

Lampung Barat, Liwa(Tahun 2017) dan penelitian pendidikan di SMP Negeri 1

(9)

viii

Motto

“Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allah memberi

kemudahan padanya di dunia dan akhirat. Barang siapa merintis jalan mencari ilmu

maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”

(HR. Muslim)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

(QS.Al-Insyirah: 6)

“Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan , harus menjaga diri agar tidak

tertidur”

(10)

ix

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyanyang

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahi rabbil „alamin, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT karena atas karunia rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

Teriring doa, rasa syukur, dan segala kerendahan hati.

Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya ini untuk orang-orang yang sangat berharga dalam hidupku:

Ayahku (Darmanto) dan Ibuku (Siti Jueriah)

yang senantiasa mencintaiku dan menyayangiku dengan penuh kasih sayang, mendoakanku agar aku menjadi orang yang sukses, mengorbankan segalanya untuk kebahagiaanku dan cita-citaku, menasehatiku agar aku menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan tidak pernah menyerah, kalian merupakan motivasi

terbesarku dan aku berjanji akan membahagiakan kalian.

Adik-adik Perempuanku (Wanda Amalia D dan Wida Nuraini D )

yang ingin aku bahagiakan.Mereka selalu menghiburku dan menyayangiku.

Para Pendidikku (Guru dan Dosen)

yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat, membimbingku tanpa lelah, nasehat-nasehat yang berharga, dan kasih sayang yang tulus.

serta

(11)

x

SANWACANA

Alhamdulillah Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat

dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini

berjudul “Pengaruh Model Discovery Learning pada Materi Sistem Pencernaan

Manusia Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Kognitif Peserta Didik Kelas VIII

di SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus”.

Penulis menyadari dalam menyusun skripsi ini tidak terlepas dari bantuan

berbagai pihak. Oleh karena itu, Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung;

2. Dr. Caswita. M.Si., selaku Ketua Jurursan PMIPA FKIP Universitas

Lampung;

3. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Biologi dan selaku Pembimbing I yang telah dengan sabar membimbing

hingga skripsi ini selesai;

4. Berti Yolida, S.Pd., M.Pd., selaku pembimbing II yang telah memberikan

saran, bimbingan, dan motivasi hingga skripsi ini dapat terselesaikan;

5. Drs. Darlen sikumbang, M.Biomed., selaku pembahas atas kritik dan saran

perbaikan yang sangat berharga;

6. Dr. Neni Hasnunidah.,S.Pd., M.Si., selaku dosen Pembimbing Akadermik;

7. Neni yulianita, S.Si., selaku guru mitra yang telah memberikan izin dan

(12)

xi berlangsung;

9. Temanku tim skripsi Ninda, Cherry,Shella, Lusi, Elan, Nurul, Puput, Nurlida,

atas bantuan, dukungan, motivasi, serta kerjasamanya;

10.Sahabatku Ayu, Diana, Ajeng, Herfita, Rahmalia, Marizha, Adi dan atas doa,

bantuan, dan motivasi dalam menyusun skripsi ini;

11.Sahabatku sejak kecil Anisa dan Mega yang selalu mendengarkan keluh kesah

dan curhatanku selama penyusunan skripsi ini;

12.Teman-teman kosanku Vera, Melda, Adik Ica, dan Adik Diah, atas doa dan

motivasi selama Penulis menyusun skripsi ini.

Bandarlampung, November 2018 Penulis

(13)

xii

Halaman

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Ruang Lingkup Penelitian... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran IPA... 11

B. Discovery Learning... 12

C. Aktivitas Belajar Peserta Didik ... ... 19

D. Hasil Belajar Kognitif... 22

E. Tinjauan Materi Sistem Pencernaan Manusia ... 28

F. Kerangka Pikir ... 36

G. Hipotesis ... 38

III. METODELOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 39

B. Populasi dan Sampel ... 39

C. Desain Penelitian ... 40

D. Prosedur Pelaksanaan Penelitian... 40

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 42

F. Teknik Analisis Data... 44

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 55

B. Pembahasan ... 60

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 66

(14)

xiii LAMPIRAN

1. Silabus ... 71

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 73

3. Lembar Kerja Peserta Didik ... 86

4. Soal Pretes dan Postes Peserta Didik ... 92

5. Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Peserta Didik ... 95

6. Hasil Analisis Perhitungan aktivitas Peserta Didik... 97

7. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Soal Pretes-Postes Peserta Didik ... 99

8. Hasil Uji Independet Sampel T-Test ... 130

(15)

xiv

Tabel Halaman

1. Desain Pretes-Postes Kelompok Non-Ekuivalen ... 40

2. Tabulasi Data Nilai Pretes-Postes dan n-Gain ... 44

3. Tabulasi Perbandingan Nilai Pretes-Postes n-Gain ... 44

4. Hasil Analisis Validitas Instrumen Soal ... 45

5. Indeks Validitas ... 45

6. Kriteria Validitas Instrumen ... 46

7. Indeks Reabilitas... 46

8. Kisi-Kisi Lembar Observasi Aktivitas Peserta Didik ... 49

9. Kategori Penilaian Aktivitas Peserta Didik………... 51

10. Interpretasi n-Gain Aspek Kuantitatif... ... 52

11. Hasil Analisis Angket Aktivitas Belajar ... 55

12. Perbandingan Nilai Pretes, Postes dan n-Gain Kelas... .. 56

(16)

xv

Gambar Halaman

1. Kerangka Pikir Penelitian ... 37

2. Hubungan Antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat ... 37

3. Persentase Aktivitas Belajar Peserta Didik ... 57

4. Rata-rata Nilai Pretes-Postes Peserta Didik... 58

(17)

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia telah dilakukan

dengan berbagai cara, salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan memiliki

peranan yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Dalam dunia

pendidikan terdapat berbagai aspek yang harus diajarkan pada peserta didik,

salah satu yang ingin diwujudkan adalah keterampilan fisikal (hardskill) dan

keterampilan mental (softskill) (Permendikbud No. 22 tahun 2016: 6).

Pada abad 21 ini, masalah-masalah sosial ilmiah terus berkembang dalam

lingkungan masyarakat melalui media cetak dan media lainnya seperti

rekayasa genetika, teknologi reproduksi, keamanan pangan, pemanfaatan

nuklir, bayi tabung dan lain sebagainya. Masalah–masalah seperti ini

menuntut siswa untuk dapat membuat keputusan pribadi dan memberikan

argumentasinya agar tidak terjebak dalam isu–isu negatif yang menyebar

dimasyarakat. Menurut Silviana (2015: 547), siswa sebagai generasi masa

depan, dipersiapkan untuk terampil mengambil peran dalam masalah yang

terkait sosial-ilmiah. Maka dari itu, pembelajaran sains sudah seharusnya

(18)

Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumber daya

manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib

dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman.

Masalah peningkatan mutu pendidikan sangat berhubungan dengan masalah

proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang sementara ini dilakukan di

lembaga-lembaga pendidikan masih banyak yang mengandalkan cara-cara

lama dalam penyampaian materinya. Di masa sekarang banyak orang

mengukur keberhasilan suatu pendidikan hanya dilihatdari segi hasil.

Pembelajaran yang baik adalah bersifat menyeluruh dalam melaksanakannya,

baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran

tingkat keberhasilannya selama dilihat dari segi kuantitas juga dari kualitas

yang telah dilakukan di sekolah-sekolah (Depdiknas, 2006: 1).

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) diharapkan dapat meningkatkan

kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mampu

mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan.

Harapan yang utama dalam pembelajaran IPA agar peserta didik aktif

dalam membangun pengetahuannya sendiri, serta mampu menggunakan

penalarannya dalam memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi

(Kemendikbud, 2013: 1). Namun berdasarkan hasil survei yang dilakukan

oleh PISA (Programme for International Student Assessment)

menyatakan bahwa prestasi peserta didik di Indonesia pada bidang studi

IPA menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara peserta pada tahun 2012.

(19)

sains peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah, kemampuan

literasi sains peserta didik tersebut diantaranya adalah cara peserta didik

mengidentifikasi masalah ilmiah, menggunakan fakta ilmiah, memahami

sistem kehidupan dan memahami penggunaan peralatan sains (PISA,

2011: 11). Sedangkan hasil studi yang telah dilakukan TIMSS (Trends In

Mathematics and Science Study) menunjukkan bahwa prestasi peserta

didik Indonesia menduduki peringkat ke-40 dari 42 negara peserta pada

tahun 2011 (TIMSS, 2011: 32). Hasil ini menggambarkan bahwa

rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia salah satunya terjadi

akibat adanya kelemahan dalam pembelajaran IPA.

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilaksanakan, aktivitas belajar di

SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus masih tergolong rendah. Hal ini

dikarenakan kurangnya interaksi antara peserta didik dengan pendidik maupun

sesama peserta didik dalam pembelajaran IPA Terpadu. Hal ini ditandai

dengan jarangnya peserta didik bertanya ataupun menyanggah pertanyaan

yang diajukan, pada saat pendidik menerangkan materi, peserta didik tidak

aktif dalam menanyakan materi yang belum jelas sehingga peserta didik

mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut. Hal ini akan

mengakibatkan suasana kelas menjadi pasif.

Aktivitas yang timbul dari peserta didik akan mengakibatkan pula

terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada

peningkatan hasil belajar di sekolah. Aktivitas belajar erat kaitannya dengan

(20)

Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas peserta didik dalam proses belajar,

mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis. Kegiatan fisik berupa

keterampilan-keterampilan dasar sedangkan kegiatan psikis berupa

keterampilan terintegrasi yaitu mengobservasi mengklasifikasi, memprediksi,

mengukur, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Aktivitas belajar yang

tinggi seorang peserta didik akan sungguh-sungguh aktif dalam hal belajar

mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam hal belajar.

Peran pendidik yang sangat dominan, tidak memberikan kesempatan

peserta didik untuk mengembangkan segala kemampuannya dalam

menemukan pengetahuan melalui proses pengamatan, pemecahan

masalah, dan keterampilan tentang mengati lingkungan alam. IPA

merupakan ilmu yang mempelajari, menelaah, menganalisis tentang

keadaan alam padahal yang terjadi disekitar kita, sehingga keterlibatan

peserta didik secara aktif untuk mencari tahu dan menemukan merupakan

hal yang penting dalam kegiatan pembelajaran dengan menyesuaikan

model pembelajaran yang tepat.

Berdasarkan wawancara kepada pendidik mata pelajaran IPA yang

dilakukan di SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus, diperoleh informasi

bahwa nilai mata pelajaran IPA masih sangat rendah dibawah Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 65, hanya sekitar

45% peserta didik yang memperoleh nilai mata pelajaran IPA di atas

KKM atau > 65. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran masih

(21)

terpacu untuk menemukan sendiri atau mencari informasi-informasi

mengenai materi kajian pelajaran yang sedang dipelajari yang dapat lebih

meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Hal ini sesuai dengan Djamarah (2010: 97) menyatakan tingkat

keberhasilan hasil belajar peserta didik sebagai berikut: (1)

Istimewa/Maksimal, apabila seluruh bahan pelajaran dapat dikuasai oleh

anak didik; (2) Baik sekali/Optimal, apabila sebagian besar (76% sampai

dengan 99%) bahan pelajaran dapat dikuasai oleh anak didik; (3)

Baik/Minimal, apabila bahan pelajaran dikuasai anak didik hanya 60%

sampai dengan 75 % saja; dan (4) Kurang, apabila bahan pelajaran

dikuasai kurang dari 60%.

Model pembelajaran alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi

masalah tersebut adalah model pembelajaran discovery learning.

Pembelajaran dengan penemuan peserta didik didorong untuk belajar

sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan

konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan pendidik mendorong peserta didik untuk

memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan

mereka menemukanp rinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri (Slavin,

2005: 256) yang dalam hal ini digunakan dua kelas yaitu kelas

eksperimen dengan perlakuan discovery learning serta kelas kontrol

(22)

Discovery learning adalah salah satu model pembelajaran berbasis

pendekatan saintifik. Pembelajaran berbasis discovery learning ditandai

dengan kegiatan peserta didik yang belajar untuk mengenali masalah,

solusi, mencari informasi yang relevan, mengembangkan strategi solusi,

dan melaksanakan strategi yang dipilih (Borthick dan Jones, 2010: 112).

Dalam kolaborasi pembelajaran penemuan, peserta didik diharapkan

mampu dalam komunitas praktik, memecahkan masalah bersama-sama.

Sehingga model pembelajaran penemuan atau discovery learning

memerlukan adanya kerjasama antara beberapa peserta didik untuk saling

membantu, sehingga lebih mudah dalam menemukan penyelesaian

masalah (Suparno, 2007: 75).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model discovery learning dapat

berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif peserta didik SMP. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2015: 23) dengan judul

pengaruh penerapan model pembelajaran discovery learning terhadap

hasil belajar biologi peserta didik kelas XI SMAN 2 Bayang Kabupaten

Pesisir Selatan. Penelitiannya menujukkan bahwa discovery learning

dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik kelas XI SMAN 2

Bayang. Penelitian lainnya dilakukan oleh Sakaloat (2016: 34) yang

menyimpulkan bahwa penerapan model discovery learning berpengaruh

terhadap hasil belajar Biologi peserta didik kelas VII SMPN 31 Padang

(23)

Peserta didik diharapkandapat menemukan fenomena yang terjadi di

lingkungan sekitar dan masyarakat secara langsung, maka peserta didik perlu

mengamati dan menemukan secara langsung yang ada di lingkungan

sekitarnya. Proses penemuan dapat dilakukan dengan praktikum atau

observasi. Hal itu akan memberikan pengalaman pengalaman belajar kepada

para peserta didik memperoleh kemampuan dasar dalam mentransfer

konsep-konsep pengetahuan, sehingga dikemudian hari para peserta didik memiliki

kemampuan untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut. Dalam proses

pembelajaran ini, pendidik hanya bertindak sebagai pembimbing dan

fasilitator yang mengarahkan peserta didik untuk menemukan konsep atau

prinsip. Materi sistem pencernaan membahas tentang struktur dan fungsi

organ sistem pencernaan manusia dan kelainan atau penyakit pada organ

sistem pencernaan manusia serta upaya untuk menjaga kesehatan sistem

pencernaan.

Peserta didik juga tidak cukup hanya dengan menghafal teori-teori pada

materi ini saja, namun perlu melalui proses penemuan fakta secara langsung.

Proses penemuan bisa dilakukan dengan cara percobaan/eksperimen

sederhana, observasi atau wawancara, pengumpulan data-data pendukung,

hingga akhirnya dapat mengkomunikasikannya, sehingga diharapkan dapat

menjadi pengalaman nyata dalam pembelajaran. Berangkat dari hal tersebut,

peneliti melihat peluang untuk menerapkan pembelajaran yang bermakna dan

berkesan karena merupakan proses dari penemuan. Hal ini yang menjadi

(24)

Discovery Learning pada Pembelajaran Sistem Pencernaan pada Manusia

Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Kognitif Peserta didik SMP Negeri 1

Pugung Tanggamus”.

B.Rumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah ada pengaruh signifikan model discovery learning terhadap

aktivitas belajar peserta didik SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus kelas VIII

pada materi Sistem Pencernaan pada Manusia?

2. Apakah ada pengaruh signifikan model discovery learning terhadap hasil

belajar kognitif SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus kelas VIII pada materi

Sistem Pencernaan pada Manusia?

C.Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui signifikansi model Discovery Learning terhadap hasil

belajar kognitif peserta didik SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus kelas VIII

pada materi Sistem Pencernaan Pada Manusia.

2. Untuk mengetahui signifikansi model Discovery Learning terhadap

aktivitas belajar SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus kelas VIII pada materi

(25)

D. Manfaat

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.Bagi Pendidik, menjadi salah satu model pembelajaran yang inovasi dalam

meningkatkan keterampilan metakognisi peserta didik melalui model

discovery learning.

2.Bagi Peserta didik, melatih peserta didik agar lebih aktif dalam belajar,

antusias, dan mampu menghubungkan antar konsep dalam menyelesaikan

permasalahan, dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2.Bagi peneliti, memberikan pengalaman dan menambah pengetahuan

sebagai calon pendidik IPA dalam pembelajaran dengan menggunakan

model discovery learning.

3.Peneliti lain, Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai

bahan referensi untuk mempermudah penelitian selanjutnya terkait dengan

model pembelajaran discovery learning.

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah:

1.Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau

benda) yang ikut membentuk watak kepercayaan dan perbuatan sesorang

(Depdikbud, 2001: 845).

2. Discovery learning merupakan strategi yang digunakan untuk

mengarahkan peserta didik agar memecahkan masalah secara aktif

menemukan pengetahuan sendiri dibawah pengawasan pendidik

(26)

stimulation (pemberian rangsangan), Problem statement ( identifikasi

maslah), data collection (pengumpulan data), data processing (

pemrosesan data), verification (pembuktian), generalizaztion (menarik

kesimpulan).

3.Materi pada penelitian ini adalah materi “Sistem Pencernaan” SMP kelas

VIII semester ganjil dengan KD 3.5. Menganalisis sistem pencernaan pada

manusia dan memahami gangguan yang berhubungan dengan sistem

pencernaan, serta upaya menjaga kesehatan sistem pencernaan.

4.Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP

Negeri 1 Pugung Tanggamus pada semester ganjil tahun pelajaran

2018/2019 yang terdiri atas 5 kelas dan berjumlah 140 peserta didik.

Sampel pada penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII3 (kelas

eksperimen) dan kelas VIII1 (kelas kontrol) yang tiap kelas berjumlah 25

peserta didik.

5.Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas peserta didik dalam proses

belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis.

6. Hasil belajar kognitif adalah sesuatu yang dicapai setelah mengikuti

kegiatan belajar-mengajar ditunjukkan dengan nilai yang diperoleh dari

hasil evaluasi/tes pada setiap akhir siklus. Indikator soal dikembangkan

berdasarkan Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson dan

Karthwohl (2001: 66-88) yaitu mengingat (C1), memahami (C2),

(27)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran IPA

Seperti halnya setiap ilmu pengetahuan, IPA mempunyai objek dan

permasalahan jelasya itu berobjek benda-benda alam dan mengungkapkan

misteri (gejala-gejala) alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan

pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia.Hal ini

sebagaimana diungkapkan oleh (Usman, 2006: 97),IPA merupakan ilmu yang

berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang

tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil

observasi dan eksperimen. Komponen penting dalam IPA yaitu ada tiga,

komponen tersebut yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan,

komponen tersebut yaitu produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah

(Sanjaya, 2009: 204).

IPA juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta

serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan pembelajaran

IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Hal ini menunjukkan bahwa,

hakikat IPA sebagai proses diperlukan untuk menciptakan pembelajaran IPA

yang empirik dan faktual. Hakikat IPA sebagai proses diwujudkan dengan

melaksanakan pembelajaran yang melatih keterampilan proses bagaimana cara

(28)

meliputi keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Kedua

keterampilan ini dapat melatih siswa untuk menemukan dan menyelesaikan

masalah secara ilmiah untuk menghasilkan produk-produk IPAyaitu fakta,

konsep,generalisasi, hukum dan teori-teori baru.Sehingga perlu diciptakan

kondisi pembelajaran IPA yang dapat mendorong siswa untuk aktif dan ingin

tahu (Depdiknas, 2006: 1).

Menurut Carin dan Sund (Puskur, 2007: 1) bahwa IPA sebagai pengetahuan

yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan

berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Merujuk pada

pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi

empat unsur utama yaitu :

1. Sikap :rasa ingin tahu tentang benda,fenomena alam, makhluk hidup,

serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang

dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar, IPA bersifat terbuka.

2. Proses : prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah meliputi

penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen dan percobaan,

evaluasi, pengukuran dan penarikan kesimpulan.

3. Produk: berupa fakta, prinsip, teori dan hukum.

4. Aplikasi : penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan

sehari- hari.

B. Discovery Learning

Metode discovery diartikan sebagai prosedur mengajar yang mementingkan

(29)

generalisasi. Sedangkan Bruner menyatakan bahwa anak harus berperan aktif

di dalam belajar. Lebih lanjut dinyatakan, aktivitas itu perlu dilaksanakan

melalui suatu cara yang disebut discovery. Discovery yang dilaksanakan siswa

dalam proses belajarnya, diarahkan untuk menemukan suatu konsep atau

prinsip dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan

melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan

prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri (Johnson, 2007: 187).

Metode discovery diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang

mementingkan pengajaran, perseorangan, manipulasi objek dan lain-lain

percobaan, sebelum sampai pada generalisasi. Sebelum siswa sadar akan

pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata. Penggunaan metode

discovery dalam proses belajar mengajar, memperkenankan siswa-siswanya

menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau

diceramahkan saja (Suryosubroto, 2009: 122).

Ditinjau dari katanya, discover menurut Ilahi (2012: 29) berarti menemukan,

sedangkan discovery adalah penemuan. Dalam kaitannya dengan pendidikan,

discovery adalah proses pembelajaran yang menitik beratkan pada mental

intelektual para anak didik dalam memecahkan berbagai persoalan yang

dihadapi, sehingga menemukan suatu konsep atau generalisasi yang dapat

diterapkan di lapangan. Dengan kata lain kemampuan intelektual.

Menurut Wilcox (Slavin, 1977: 11) dalam buku Hosnan (2014: 280)

penemuan(discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang

(30)

menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap

suatu disiplin ilmu melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses

pembelajaran.

Menurut Nur dalam Suprihatiningrum (2016: 241) pembelajaran dengan

penemuan merupakan suatu komponen penting dalam konstruktivis yang telah

memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan.Ide pembelajaran penemuan

(discovery learning) muncul dari keinginan untuk memberi rasa senang

kepada siswa dalam “menemukan” sesuatu oleh mereka sendiri, dengan

mengikuti jejak para ilmuwan.Menurut Budiningsih (2012: 43) model

Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui

proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan.

a) Tujuan Discovery Learning

Tujuan Pembelajaran discovery learning yang dikemukakan oleh

Kemendikbud No. 58 (2014) yaitu untuk meningkatkan keterampilan

berpikir kritis siswa. Berpikir kritis ini dengan cara melatih siswa untuk

mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan melalui

sintaksnya seperti pada tahap stimulation (stimulasi) siswa diajak untuk

mengamati dan menanya, tahap problem statement (perumusan masalah)

siswa diajak untuk menanya dan mengumpulkan informasi, tahap data

collection (pengumpulan data) siswa diajak untuk mencoba dan

mengamati, tahap data processing (pengolahan data) siswa diajak untuk

menalar dan menanya dan tahap terakhir verification (verifikasi) siswa

(31)

Bell (1978) dalam buku Hosnan (2014: 284) mengemukakan beberapa

tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai

berikut:

a) Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara

aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukkan bahwa partisipasi

banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan

digunakan.

b) Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan

pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak

meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.

c) Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu

dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang

bermanfaat dalam menemukan.

d) Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara

kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta

mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.

e) Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa

keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari

melalui penemuan lebih bermakna. Keterampilan yang dipelajari

dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah

ditransfer untuk aktivitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar

(32)

b) Karakteristik Discovery Learning

Tiga ciri utama belajar menemukan menurut Herdian dalam Hosnan,

(2014: 284) yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk

menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2)

berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru

dan pengetahuan yang sudah ada. Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran

konstruktivisme tersebut, penerapannya di dalam kelas menurut Hosnan

(2014: 287) adalah sebagai berikut:

1)Mendorong kemandirian dan inisiatif siswa dalam belajar.

2)Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan

beberapa waktu kepada siswa untuk merespon.

3)Mendorong siswa berpikir kritis.

4)Siswa terlibat aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru atau siswa

lainnya.

5)Siswa terlibat dalam pengetahuan yang mendorong dan menantang

terjadinya diskusi.

6)Guru menggunakan data mentah, sumber-sumber utama, dan

materi-materi interaktif.

Dari teori belajar kongnitif serta ciri dan penerapan teori konstruktivisme

tersebut dapat melahirkan strategi discovery learning.

c) Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning

Menurut Marzano (1992: 280) dalam Hosnan (2014: 287) selain kelebihan

yang diuraikan di atas, masih ditemukan beberapa kelebihan dari model

(33)

a) Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yangdisajikan.

b) Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-

temukan).

c) Mendukung kemampuan problem solving (pemecahan masalah) siswa.

d) Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru.

Dengan demikian siswa juga terlatih menggunakan bahasa Indonesia

yang baik dan benar.

e) Siswa belajar sebagaimana belajar.

f)Belajar menghargai diri sendiri.

g) Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer.

h) Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.

i)Hasil belajar discovery learning mempunyai efek lebih baik karena

materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi

dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses

penemuan.

j) Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir bebas.

k) Melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan

dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Menurut Hamalik dalam Hosnan (2014: 286) kekurangan dari model

pembelajaran Discovery Learning yaitu:

1) Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar

yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator,

motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru

(34)

yang banyak.Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak

banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik.

2) Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan karena bagi siswa

yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir

atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis

atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi. Di

pihak lain justru menyebabkan akan timbulnya kegiatan diskusi.

3) Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman,

sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi

secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.

4) Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk

mengukur gagasan yang dikemukakan oleh para siswa.

5) Tidak menyediakan kesempatan - kesempatan bagi berpikir yang akan

ditemukan oleh siswa telah dipilih lebih dahulu oleh guru, dan proses

penemuannya adalah dengan bimbingan guru

d)Langkah-langkah Discovery Learning

Permendikbud No.59 Kurikulum 2013 mengemukakan bahwa untuk

mengubah kondisi pembelajaran yang pasif menjadi efektif dan kreatif

pembelajaran yang awalnya teacher oriented to student oriented (guru

berorientasi pada orientasi siswa), serta siswa dapat menemukan informasi

sendiri, maka diperlukan langkah-langkah pengaplikasian model discovery

learning yang dilakukan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran.

Langkah awal dimulai dari perencanaan, dilanjutkan dengan persiapan,

(35)

Adapun langkah-langkah persiapan discovery learning menurut Hosnan

(2014:289) adalah sebagai berikut:

1)Menentukan tujuan pembelajaran.

2)Melaksanakan identifikasi karakter peserta didik (kemampuan awal,

minat, gaya belajar, dan sebagainya).

3)Memilih materi pelajaran yang akan dipelajari.

4)Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara

induktif.

5)Mengembangkan bahan ajar yang berupa contoh - contoh, ilustrasi,

tugas, dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik.

6)Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari

yang kongkrit ke abstrak.

7)Melakukan penilaian proses dari hasil belajar peserta didik.

Berdasarkan beberapa teori metode discovery learning dapat disintesakan

bahwa metode discovery learning merupakan suatu metode penemuan

untuk mengembangkan kinerja siswa dalam belajar dengan menggunakan

metode ini siswa diharapkan mampu dalam mengeksplorasi pengetahuan

siswa dalam belajar.

C. Aktivitas Belajar Siswa

Menurut (Hamalik, 2001: 171) Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas

siswa dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan

psikis. Kegiatan fisik berupa keterampilan-keterampilan dasar sedangkan

(36)

mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan

dan mengkomunikasikan. Keterampilan terintegrasi terdiri dari

mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam

bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan

dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusunhipotesis,

mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan

melaksanakan eksperimen. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak

adabelajar jika tidak ada aktivitas. Itulah mengapa aktivitas merupakan

prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar (Sardiman,

2001: 93).

Djamarah (2002 : 30) mengatakan bahwa belajar sambil melakukan

aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik, sebab kesan

yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama di dalam benak anak

didik. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas

belajar adalah merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses

interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas

yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan

adanya aktivitas siswa dalamproses pembelajaran terciptalah situasi belajar

aktif, seperti yang dikemukakan oleh Natawijaya dalam Depdiknas

(2005:31), belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang

menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional

guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek koqnitif,

(37)

Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu

indikator. Menurut Suwarsi dalam Sudarsono (2000:62) menyatakan

bahwa “dalam proses belajar dibutuhkan suatu keaktifan belajar karena

dapat menyebabkan terjadinya suatu kegiatan yang membawa perubahan

ke arah yang lebih baik bagi diri siswa. Hal ini akan mengakibatkan

suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa

dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin.

Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya

pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan

prestasi. Banyak aktivitas belajar yang dapat dilakukan anak- anak di

kelas, tidak hanya mendengarkan atau mencatat. Paul D. Diedrich dalam

Nasution (2000:9), Membuat bentuk-bentuk dari aktivitas belajar ini

kedalam golongan-golonganyaitu antara lain:

a. Kegiatan-kegiatan visual (Visual activities) Seperti membaca, melihat

gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan

mengamati orang lain bekerja atau bermain.

b. Kegiatan-kegiatan lisan (Oral activities) Seperti mengemukakan suatu

fakta atau prinsip atas suatu materi pelajaran, menghubungkan suatu

kejadian, mengajukan pertanyaan, memberikan saran, mengemukakan

pendapat, wawancara dan diskusi.

c. Kegiatan-kegiatan mendengarkan (Listening Activities) Seperti

mendengarkan penyajian bahan, medengarkan percakapan atau

diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarakan

(38)

d. Kegiatan-kegiatan menulis (Writing activities) Seperti menulis cerita,

membuat laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, dan

mengisi angket.

e. Kegiatan-kegiatan menggambar (Drawing activities) Seperti

menggambar, membuat grafik, membuat peta diagram, membuat pola

dan sebagainya.

f. Kegiatan-kegiatan metrik (Motor activities) Seperti melakukan

percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain,

berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya.

g. Kegiatan-kegiatan mental (Mental activities)

D.Hasil Belajar Kognitif

Penilaian yang dilakukan oleh guru dikelas terkait dengan kegiatan belajar

mengajar menurut Sani (2015: 201) merupakan sebuah proses

menghimpun fakta dan dokumen belajar siswa untuk melakukan perbaikan

program pembelajaran. Oleh sebab itu, kegiatan penilaian proses dan hasil

belajar membutuhkan informasi yang bervariasi dari setiap siswa atau

kelompok siswa. Guru dapat melakukan penilaian dengan mengumpulkan

catatan pertemuan, observasi, portofolio, catatan harian, produk, ujian,

data hasil interview, survei dan lain sebagaianya. Penilaian yang tepat

dapat memberikan cerminan atau refleksi peristiwa pembelajaran yang

dialami siswa.

Hasil belajar kognitif merupakan bagian terpenting dalam

(39)

hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam

pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan

psikomotorik.Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil

belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak

mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi

hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya

pengajaran dari puncak proses belajar.

Secara teoritis menurut taksonomi Bloom tujuan pendidikan yang harus

dicapai dalam hasil belajar dibagi menjadi tiga domain, yaitu:

a. Kognitif (proses berfikir)

Ranah kognitif merupakan bagian yang paling banyak dinilai oleh pendidik

karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasai

pembelajaran. Menurut Suryanto (2009:260-261) pengklasifikasian ranah

kognitif oleh Bloom yang direvisi oleh Krathwoll terbagi menjadi enam

yaitu:

1) Pengetahuan (C1)

Merupakan jenjang proses berpikir yang paling sederhana. Butir soal

akan dikatakan mengukur kemampuan proses berpikir ingatan jika

butir soal tersebut hanya meminta pada peserta didik untuk

mengingat kembali tentang segala sesuatu yang telah diberikan

dalam proses pembelajaran seperti mengingat nama, istilah, rumus,

gejala, dan sebagainya tanpa menuntut kemampuan untuk memahami

(40)

2) Pemahaman (C2)

Merupakan jenjang proses berpikir yang setingkat lebih tinggi dari

pengetahuan. Butir soal dikatakan mengukur kemampuan proses

berpikir pemahaman jika butir soal tersebut tidak hanya meminta

pada peserta didik untuk mengingat kembali segala sesuatu selama

proses pembelajaran tetapi peserta didik tersebut harus mengerti,

dapat menangkap arti dari materi serta dapat melihatnya dari

beberapa segi.

3) Penerapan (C3)

Merupakan jenjang proses berpikir yang setingkat lebih tinggi dari

pemahaman. Butir soal dikatakan mengukur kemampuan proses

berpikir penerapan jika butir soal jika butir soal tersebut meminta

pada peserta didik untuk memilih menggunakan, atau menggunakan

dengan tepat suatu rumus, metode, konsep, prinsip, hukum, teori,

atau dalil jika dihadapkan pada situasi baru.

4) Analisis (C4)

Jenjang proses berpikir yang setingkat lebih tinggi dari penrapan.

Butir soal dikatakan mengukur kemampuan proses berpikir analisis

jika butir soal tersebut meminta pada peserta didik untuk merinci

atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian

yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan antar bagian pada

(41)

5) Evaluasi (C5)

Merupakan jenjang proses berfikir yang lebih kompleks darianalisis.

Butir soal dikatakan mengukur kemampuan proses berpikir evaluasi

jika butir soal tersebut meminta peserta didik untuk membuat

pertimbangan atau menilai terhadap sesuatu berdasarkan

kriteria-kriteria yang ada.

6) Kreasi (C6)

Merupakan jenjang proses berpikir yang paling kompleks. Proses

berpikir ini menghendaki peserta didik untuk menghasilkan suatu

produk yang baru sebagai hasil kreasinya.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti hanya akan fokus pada tingkat kognitif

C1, C2,C3 dan C4 sesuai dengan langkah-langkah model pembalajaran

discovery learning yang akan diterapkan dalam penelitian ini.

1)Ranah Afektif

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah

afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi,

dan nilai. Menurut Kurniawan (2014: 11-12) hasil belajar ranah afektif

yaitu merujuk pada hasil belajar yang berupa kepekaan rasa atau emosi.

Jenis hasil belajar ranah ini terdiri dari lima jenis tahapan pula. Kelima

jenis ranah afektif itu meliputi:

1) Penerimaan

Kemampuan menjadi peka tentang sesuatu dan menerima

(42)

2) Partisipasi

Kerelaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

3) Penilaian dan Penentuan Hidup

Kemampuan memberikan nilai dan menemukan sikap

4) Organisasi

Kemampuan membentuk sistem nilai sebagai pedoman hidup.

5) Pembentukan Pola Hidup

Kemampuan menghayati nilai sehingga menjadi pegangan hidup.

2) Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor adalah kemampuan yang dihasilkan oleh fungsi

motorik manusia yaitu berupa keterampilan untuk melakukan sesuatu.

Menurut Simpson (2011: 56) menyatakan bahwa hasil belajar

psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan

kemampuan bertindak individu. Ranah psikomotorik tersebut adalah:

1)Persepsi (Perseption)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu

gerakan.Persepsi ini mencakup kemampuan untuk mengadakan

diskriminasi yang tepat antara dua perangsang ayau lebih.,

berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada

masing-masing rangsangan.

2)Kesiapan (Set)

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukangerakan.

Kesiapan mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya

(43)

gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan

jasmani dan rohani.

3)Respon Terpimpin (Guided Response)

Tahap awal mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk

di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

4)Mekanisme (Mechanism)

Membiasakan gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil

dengan meyakinkan dan cakap. Ini mencakup kemampuan untuk

melakukan suatu rangkaian gerakan dengan lancar karena sudah

dilatih secukupnya tanpa memperhatikan contoh yang diberikan.

5)Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri

daripola-pola gerakan yang kompleks. Gerakan kompleks mencakup

kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri

atas beberapa komponen, dengan lancar,tepat, dan efisien. Adanya

kemampuan ini dinyatakan dalam suatu rangkaian perbuatan yang

berurutan dan menggabungkan beberapa sub keterampilan

menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur.

6)Penyesuaian (Adaptation)

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan

dalam berbagai situasi.Adaptasi ini mencakup kemampuan untuk

mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik

dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan taraf

(44)

7)Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau

permasalahan tertentu.Penciptaan atau kreativitas adalah mencakup

kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak-gerik yang baru,

seluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri.Dari tiga domain

di atas, peneliti hanya akan meneliti domain kognitif yaitu C1,C2,C3

dan C4. Keterbatasan waktu merupakan salah satu alasan peneliti

tidak dapat meneliti ketiga nya.

E.Tinjauan Materi Sistem Pencernaan Manusia

Salah satu kompetensi dasar mata pelajaran IPA SMP adalah memahami

sistem pencernaan pada manusia dan memahami gangguan yang

berhubungan dengan sistem pencernaan, serta upaya menjaga kesehatan

sistem pencernaan. Untuk mencapai KD tersebut, pembelajaran IPA

diarahkan pada materi pokok sistem pencernaan yaitu terdiri dari zat

makanan, organ pencernaan, enzim pencernaan, kelainan atau penyakit

pada sistem pencernaan, serta upaya menjaga kesehatan sistem

pencernaan.

Makanan yang masuk di dalam tubuh akan melalui serangkaian proses

yang sebelum akhirnya diserap oleh sel-sel tubuh. Oleh karena itu,

makanan harus diubah terlebih dahulu menjadi bentuk yang dapat diserap

(45)

dilakukan oleh sekumpulan organ pencernaan yang ada di dalam tubuh

(Pujiyanto, 2014: 143).

Sistem perncernaan adalah proses menghancurkan makanan menjadi

zat-zat sederhana sehingga dapat diserap dan digunakan oleh sel jaringan

tubuh tubuh secara fisika maupun secara kimia (Pearce, 2006: 176). Sistem

pencernaan makan manusia digambarkan secara lengkap seperti berikut :

1) Zat - Zat Makanan yang Diperlukan Tubuh

Menurut Pujiyanto (2014: 144) makanan dikatakan bergizi jika

mengandung nutrisi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup.

Setidaknya makanan mengandung nutrisi berupa karbohidrat, protein,

lemak, vitamin, dan mineral. Berikut ini adalah pembahasannya.

a) Karbohidrat

Karbohidrat merupakan suatu molekul yang tersusun atas rangkaian

atom-atom C (karbon), H (hidrogen), dan O (oksigen) dengan rumus

molekul 𝐶O). Karbohidrat yang terkandung dalam berbagai jenis

bahan makanan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok,yaitu:

monosakarida, disakarida, dan polisakarida (Kemendikbud, 2014:

140).

b) Protein

Protein merupakan senyawa kimia yang tersusun atas

unsur-unsurhidrokarbon, yaitu C (karbon), H (hidrogen), dan O (oksigen),

serta N (nitrogen) dan membentuk rangkaian yang disebut asam

amino/peptide. Dua kelompok asam amino penyusun protein, yaitu

(46)

menghasilkan jaringan baru, sumber energi, dan pembentuk antibodi

(Irnaningtyas, 2013: 242-244).

c) Lemak

Lemak merupakan rangkaian hidrokarbon yang mengandung P

(fosfat). Setiap molekul lemak tersusun atas asam lemak dan gliserol.

Sumber lemak dapat berasal dari hewan dan disebut dengan lemak

hewani, misalnya lemak daging, mentega, susu, ikan basah, telur dan

minyak ikan. Sumber lemak yang bersal dari tumbuhan disebut lemak

nabati. Contohnya adalah kelapa, kemiri, kacang-kacangan, dan

alpukat. Lemak berfungsi sebagai cadangan energi dan pelarut

vitamin A, D, E, dan K (Kemendikbud, 2014: 141).

d) Vitamin

Vitamin dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi harus ada di dalam

tubuh. Vitamin berfungsi sebagai koenzim dan biokatalisator yang

mengatur proses metabolisme tubuh (Irnaningtyas, 2013: 246).

e) Mineral

Seperti halnya vitamin, mineral juga sangat dibutuhkan oleh tubuh

walaupun dalam jumlah relative kecil. Mineral berfungsi untuk proses

pembangunan sel, membantu reaksi kimia tubuh, mengangkut oksigen

ke seluruh tubuh, serta pembentukan dan pemeliharaan tulang

(Kemendikbud, 2014: 148).

f) Sistem Pencernaan pada Manusia

Proses pencernaan makanan berlangsung secara mekanik dan kimiawi.

(47)

pencernaan secara kimia melibatkan enzim-enzim pencernaan yang

berasal dari kelenjar pencernaan (Pujiyanto, 2014: 158). Sistem

pencernaan pada manusia meliputi saluran pencernaan dan kelenjar

pencernaan. Saluran pencernaan terdiri atas mulut, kerongkongan,

lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus. Kelenjar pencernaan

terdapat pada ludah, lambung, pankreas, dan hati (Irnaningtyas, 2013:

265). Berikut ini penjelasan singkat mengenai organ saluran pencernaan

dan kelenjar pencernaan.

a) Saluran Pencernaan

1. Mulut

Di dalam rongga mulut, terdapat gigi, lidah, dan kelenjar air liur

(saliva). Air liur mengandung mukosa (lendir), senyawa antibakteri

dan enzim amilase. Pencernaan makanan di rongga mulut terjadi

secara mekanik dan kimiawi (Kemendikbud, 2014: 150-151).

2. Kerongkongan

Kerongkongan merupakan gelang-gelang tulang rawan yang

digerakkan oleh otot lurik dan otot polos, yang bekerja secara

bergantian meremas dan mendorong yang disebut gerakperistaltik,

sehingga bolus makanan masuk ke dalam lambung (Campbell, 2012:

40).

3. Lambung

Setelah dari esophagus, makanan masuk ke lambung. Di dalam

lambung terjadi pencernaan mekanik dan kimia.Secara mekanik otot

(48)

tercampur dengan getah lambung yang mengandung HCl, enzim pepsin,

dan renin. Setelah melalui proses pencernaan selama 2-4 jam bolus

menjadi bahan berwarna kekuningan yang disebut kimus (bubur usus).

Kimus akan masuk sedikit demi sedikit ke dalam usus halus

(Kemendikbud, 2014: 152).

4. Usus halus

Usus halus merupakan kompartemen kanal alimentaris terpanjang

dengan panjang 6 mm. Bagian 25 cm pertama atau lebih dari usus halus

membentuk duodenum, persilangan jalur utama digesti. Disinilah kimus

dari lambung bercampur dengan getah – getah pencernaan dari

pankreas, hati, kantung empedu, serta sel kelenjar dari usus halus

sendiri (Campbell, 2012: 42).

5. Usus besar

Kanal alimentaris berakhir di usus besar, yang mencakup kolon, sekum,

dan rektum. Usus halus bersambung dengan usus besar pada

sambungan berbentuk T, tempat sebuah sfingter mengontrol pergerakan

material. Salah satu lengan T merupakan kolon sepanjang 1,5 meter

yang mengarah ke rektum dan anus fungsinya untuk memulihkan air

yang telah memasuki kanal alimentaris sebagai getah-getah pencernaan.

Lengan lain membentuk kantong yang disebut sekum yang berfungsi

untuk memfermentasi material yang teringesti. Umbai cacing,

penjuluran serupa jari dari sekum manusia, memiliki peranan kecil dan

(49)

6. Anus

Rektum merupakan bagian akhir dari usus besar. Rektum merupakan

tempat penampungan sementara sisa – sisa pencernaan sebelum

dikeluarkan melalui lubang pengeluaran yang disebut anus (Pujiyanto,

2014: 163).

b) Kelenjar Pencernaan

Kelenjar pencernaan berperan untuk menghasilkan enzim-enzim

dalam membantu pencernaan makanan secara kimiawi. Menurut

Irnaningtyas (2013: 267-270) kelenjar pencernaan terdiri dari :

1. Kelenjar saliva

Di dalam mulut terdapat tiga pasang kelenjar saliva, yaitu

kelenjar parotid, submandibula, dan sublingual. Fungsi kelenjar

saliva yaitu melarutkan makanan untuk pengecapan rasa,

melumasi makanan agar mudah ditelan, dan menguraikan

amilum menjadi maltosa.

2. Pankreas

Pankreas terletak secara horizontal di bagian belakang bawah

lambung. Enzim-enzim yang terdapat di pankreas yaitu

tripsinogen, kimotripsin, lipase, amilase, karboksipeptidase,

aminopeptidase, dipeptidase.

3. Hati

Hati berfungsi untuk menyekresikan empedu untuk

(50)

homeositas gula darah, menyimpan gula dalam bentuk

glukagon, dan menyintesis lemak dari karbohidrat dan protein.

4. Empedu

Empedu berupa kantong berbentuk sperti terong, berukuran 8-10

cm, berwarna hijau, dan terdapat pada lekukakan di bawah lobus

kanan hati. Empedu berfungsi menyimpan cairan empedu yang

disekresikan oleh sel-sel hati.

g) Gangguan pada Sistem Pencernaan dan Upaya Pencegahannya

Gangguan sistem pencernaan makanan dapat disebabkan oleh beberapa

faktor, antara lain pola makan yang salah,program diet yang ekstrim,

bulimia, gaya hidup, makanan yang tidak sehat, atau proses pemasakan

atau penyimpanan makanan yang salah (Irnaningtyas, 2013: 273).

Menurut Kemendikbud (2017: 193-196) gangguan sistem pencernaan

dan upaya pencegahannya antara lain sebagai berikut.

a) Obesitas

Obesitas adalah salah satu kondisi tubuh memiliki kandungan lemak

berlebih, sehingga dapat menimbulkan efek negatif pada kesehatan.

Obesitas umumnya disebabkan karena konsumsi makanan yang

berlebih dan kurangnya aktivitas tubuh. Upaya untuk mencegah atau

menangani obesitas adalah dengan berolahraga dan mengatur pola

makan.

b)Karies gigi

Karies gigi atau gigi berlubang merupakan kerusakan akibat infeksi

(51)

umumnya hal ini disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan

mulut. Oleh karenanya, upaya pencegahannya dengan memperhatikan

kebersihan mulut caranya minimal menyikat gigi 2 kali sehari dan

berkumur dengan obat kumur.

c) Maag (Gastritis)

Sakit Mag merupakan penyakit yang menyebabkan terjadinya

peradangan atau iritasi pada lapisan lambung. Maag dapat diakibatkan

peningkatan asam lambung, stres, makan tidak teratur, mengkonsumsi

makanan yang terlalu pedas atau asam, dan infeksi bakteri

Helicobacter pylori. Mag dapat dicegah dengan cara makan teratur,

makan secukupnya, cuci tangan sebelum makan, menghindari

makanan yang memicum produksi asam lambung berlebih seperti

makanan asam, pedas, dan kopi.

d) Hepatitis

Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada hati. Virus hepatitis B

merupakan penyebab utama, selain itu disebabkan juga oleh bakteri,

jamur, protozoa, dan penggunaan obat secar terus menerus.

e) Diare

Diarea dalah penyakit pada saluran usus besar yang disebabkan oleh

infeksi bakteri dan protozoa, seperti Entamoeba coli. Upaya

pencegahan diare dengan menjaga kebersihan makanan, cuci tangan

sebelum makan, minum air yang dimasak atau air kemasan yang

(52)

f)Kontipasi

Konstipasi merupakan kondisi feses keras atau kering sehingga sulit

dikeluarkan. Penyebabnya adalah kurangnya asupan makanan berserat

atau kurang minum. Upaya pencegahannya adalah tidak sering

menahan buang air besar, makan makanan yang berserat, dan minum

cukup banyak air.

F. Kerangka Pikir

Berdasarkan masalah yang terjadi dalam penerapan kurikulum 2013, terdapat

beberapa metode yang harus diterapkan oleh guru, salah satunya adalah

metode discovery learning atau metode menemukan suatu konsep pada proses

pembelajaran. Masalah yang terjadi pada lokasi yang akan diteliti yakni di

SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus yaitu guru Biologi di sekolah tersebut

masih menggunakan metode konvensional, belum menerapkan model

discovery learning dengan kemungkinan yang menyebabkan aktivitas siswa di

dalam kelas masih tergolong pasif, sehingga hasil belajar pun dapat dikatakan

tergolong rendah jika dilihat dari nilai ulangan harian siswa. Oleh sebab itu,

berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas peneliti akan mengkaji

mengenai “Pengaruh Model Discovery Learning Pada Materi Sistem

Pencernaan Manusiaterhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar Kognitif Peserta

(53)
[image:53.595.217.413.101.344.2]

Kerangka penelitian disajikan pada Gambar di bawah ini:

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan model pembelajaran yang diharapkan mampu

meningkatkan hasil belajarkognitif siswa. Variabel yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu variabel bebas dan terikat.Variabel bebas ditunjukkan dengan

penggunaan model pembelajaran discovery learning, sedangkan variabel terikat

ditunjukkan hasil belajar Kognitif siswa.

Hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat ditunjukkan pada gambar

di bawah ini:

Gambar 2. Hubungan Antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat

Keterangan : X : Discovery Learning Y1 :Aktivitas belajar

Y2 : Hasil Belajar Siswa

Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Siswa

Model Discovery Learning Tuntutan Global

Diimbangi Pendidikan yang berkualitas

X

[image:53.595.179.367.569.638.2]
(54)

G.Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan Model Discovery Learning

terhadap aktivitas belajar.

H1 : Ada pengaruh signifikan Model Discovery Learningterhadap

aktivitas belajar.

2. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan Model Discovery Learning

terhadap hasil belajar kognitif siswa.

H1 : Ada pengaruh signifikan Model Discovery Learning terhadap

(55)

BAB III. METODE PENELITIAN

A.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pugung Tanggamus kelas VIII

yang beralamatkan di Jalan Raya Rantau Tijang Kecamatan Pugung

Tanggamuspada bulan Oktober 2018.

B.Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VIII di SMP

Negeri 1 Pugung Tanggamus yang berjumlah 145 orang yang terbagi dalam

5 kelas. Dua kelompok sampel yang ditetapkan sebagai sampel, yaitu kelas

VIII1 dan VIII3 Adapun jumlah sampel sebanyak 50 peserta didik. Teknik

pengambilan sampel dengan cluster random sampling, yang peneliti gunakan

yaitu dengan cara mengacak kelas dari populasi peserta didik kelas VIII SMP

Negeri 1 Pugung Tanggamus yang terbagi dalam 5 kelas. Teknik pengambilan

sampel ini dilakukan dengan cara undian dalam penentuan sampel kelas yang

digunakan. Menurut Sugiyono (2010: 120) Cluster sampling adalah cara

penentuan sampel dengan unit populasi yang akan diacak bukan individu-

individu dari anggota populasi melainkan rumpun populasi sebagai unit

(56)

C.Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan desain yang digunakan

pretes-postes kelompok non equivalen (Riyanto, 2001: 42). Dalam penelitian

ini terdapat dua kelas yang menjadi sampel yaitu kelas kontrol dan kelas

eksperimen yang homogen. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan

menggunakan model discovery learning, sedangkan pada kelas kontrol dengan

model konvensional. Kedua kelompok diberikan perlakuan pretes dan postes.

Pretes dilakukan sebelum perlakuan untuk mengetahui keadaan kelompok

sebelum diberi perlakuaan dan postes dilakukan setelah perlakuan. Hasil pretes

dan postespada kedua kelompok subjek kemudian dibandingkan. Desain ini

[image:56.595.125.513.395.455.2]

dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 1. Desain Pretes-Postes Kelompok Non-ekuivalen

Kelompok Pretes Variabel Bebas Posttes

Eksperimen Y1 X Y2

Kontrol Y3 - Y4

Diadaptasi dari Sugiyono (2010: 112)

Keterangan

X = Perlakuan dikelas eksperimen menggunakan model Discovery learning Y1 =Pretes pada kelas eksperimen

Y2 = Postes pada kelas eksperimen Y3 = Pretes pada kelas kontrol Y4 = Postes pada kelas kontrol

D.Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri atas tiga tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan

penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut :

1. Prapenelitian

(57)

a. Membuat surat izin penelitian pendahuluan (observasi) ke sekolah

tempat diadakannya penelitian.

b. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk

mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang diteliti.

c. Membuat dan menyusun instrumen penelitian.

d. Membuat perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), Silabus, Lembar Kerja Peserta didik (LKS).

e. Membuat instrumen berupa lembar aktivitas belajar.

f. Membuat soal pretes dan postes.

g. Melakukan uji validasiinstrumen oleh pembimbing.

h. Melakukan uji coba instrumen penelitian.

i. Menganalisis hasil uji validitas dan uji coba instrumen penelitian.

j. Melakukan revisi instrumen penelitian.

k. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas yang diteliti.

2. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan meliputi:

a. Peserta didik mengerjakan soal prestes yang telah diberikan pada saat

proses pembelajaran.

b. Memberikan perlakuan yaitu dengan cara menerapkan model

discovery learning pada pembelajaran serta mengobservasi jalannya

pembelajaran dengan bantuan observer.

c. Memberikan angket aktivitas belajar untuk diisi oleh peserta didik

sebelum pembelajaran

(58)

perlakuan

e. Memberikan tes akhir (postes) untuk mengukur peningkatan

keterampilan argumentasi peserta didik setelah diberi perlakuan

(treatment).

f. Memberikan angket aktivitas belajar untuk diisi oleh peserta didik

sesudah pembelajaran.

3. Tahap Akhir

Pada tahapan ini kegiatan yang akan dilakukan antara lain:

a. Mengolah data hasil tes awal (pretes)dan tes akhir (postes) dan

instrumen pendukung penelitian lainnya.

b. Membandingkan hasil analisis data tes antara sebelum perlakuan dan

setelah diberi perlakuan untuk menentukan apakah terdapat pengaruh

signifikan antara pembelajaran dengan model discovery learning

dengan tanpa model discovery learning.

c. Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil yang diperoleh dari

langkah-langkah menganalisis data.

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

1. Jenis Data

a. Data Kuantitatif

Data kuantitatif pada penelitian ini berupa data hasil belajar peserta

didik yang didapat dari pretes dan postes pada materi perubahan

lingkungan. Kemudian dihitung selisih antara nilai pretes dan postes

(59)

b. Data kualitatif

Data kualitatif pada penelitian ini berupa data angket aktivitas belajar.

2. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Teknik Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Tes tertulis

pada penelitian ini digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta

didik melalui soal pretes dan pretes dalam bentuk soal pilihan ganda.

Pada penelitian ini dilakukan dua kali tes untuk mengetahui hasil

belajar peserta didik yaitu pretes dan pretes yang diberikan kepada kelas

eksperimen dan kelas kontrol. Data berupa nilai pretesyang diambil

pada pertemuan awal dan nilai pretespada pertemuan kedua. Nilai

pretes diambil sebelum pembelajaran, sedangkan nilai postesdiambil

setelah pembelajaran baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.

soal yang diberikan adalah berupa soal pilihan jamak.

Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu :

S= R x 100 N

Keterangan :

S = Nilai yang diharapkan (dicari).

R = Jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar. N = Jumlah skor maksimum dari tes tersebut.

(60)
[image:60.595.141.485.95.204.2]

Tabel 2.Tabulasi Data Nilai Pretes, Postes, dan n-Gain Kelas No. Nama Peserta

Didik

Nilai Pretes

Nilai

Postes Rata-rata n-Gain 1.

2. dst.

X Sd

Ket: = Rata-rata; Sd = Standar deviasi

Perhitungan rata-rata nilai akhir hasil belajar menggunakan rumus:

Rata-rata nilai pretes peserta didik =

Rata-rata nilai pretes peserta didik =

Rata-rata N-gain peserta peserta didik =

Tabel 3. Tabulasi Perbandingan Nilai Pretes, Postes, dan n-Gain

No. Kelas Pertemuan I XSd n-Gain Intrepetasin-Gain (Pretes) Pertemuan II Pretes)

1. Kontrol

2. Eksperimen

Ket: = Rata-rata; Sd = Standar deviasi

F. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Uji Instrumen Tes

Adapun uji instrumen tes pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.Uji Validitas

[image:60.595.134.507.392.512.2]

Figure

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian
Tabel 1. Desain Pretes-Postes Kelompok Non-ekuivalen
Tabel 3. Tabulasi Perbandingan Nilai Pretes, Postes, dan n-Gain
Tabel 4.  Hasil Analisis Validitas Instrumen Soal
+7

References

Related documents

The effect on transcription was observed in human tongue squamous carcinoma cells Cal27 in which de novo expression of integrin subunit β 3, that led to de novo expression of

While the category of snacks covers the largest proportion of species used, a substantial addition to food rations was provided by bread ingredients (used predominantly in

If each additional G allele increases odds of disease by 1.2, and 1618 cases and 3413 controls are genotyped, what is the power (chance) of detecting an association with

That’s the last thing he remembers until he woke up in the intensive care unit at U-M’s University Hospital two days later. In between, Doyen had been flown

to be non-Hispanic black; less likely to be currently smoking; had lower levels of physical activity, total serum cholesterol, systolic blood pressure, HEI, American Heart

Addition of reduced, aggregated av-globulin to fresh normal human serum produced no conversion of C'3, but when incubated with serum containing a high titer of rheumatoid factor,

The mechanism of Cl- reabsorption in the distal tubule was examined by determining the relation- ship between the distal transtubular potential dif- ference (ET) and the ratio

When we compared assay results, the medians of the viral load by assay were within a range of 0.25 to 1.08 log copies/ml, with the lowest median values being consistently reported