(Skripsi)
Oleh SUPADMI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TARI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
TARI NGEJUK NGAKUK DI SMA NEGERI 1 KOTABUMI
Oleh SUPADMI
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses pembentukan karakter dan nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari Ngejuk Ngakuk. Penelitian ini menggunakan Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data meliputi reduksi, penyajian, dan kesimpulan. Sumber data terdiri dari peserta didik dan pelatih ekstrakurikuler tari. Hasil yang diperoleh dari proses pembentukan nilai karakter peserta didik selama 8 kali pertemuan dari pembelajaran tari ngejuk ngakuk yaitu siswa dapat lebih percaya diri, bertanggung jawab, konsentrasi dan cekatan yang didapatkan melalui tes praktik dengan kriteria baik, cukup, kurang.
IN SMA NEGERI 1 KOTABUMI NORTH LAMPUNG By
SUPADMI
The problem in this study is how the process of character formation and character values that appear in Ngejuk Ngakuk dance. This study uses a descriptive qualitative. Type using some steps of method that are observation, interviews, and documentation of data sources for teachers and students. Data analysis includes reduction, presentation and conclusion. Based on the research that has been carried out, the character values that exist in the Ngejuk Ngakuk dance are the value of confidence, the value of responsibility, the value of concentration, and the value of dexterity.character values that arise from student in the second and third meetings are the value of responsibility and dexterity value, the fourth and fifth meetings are the value responsibility, concentration value, and dexterity value. The four values in the dance appear at the seventh and eighth meetings.
Oleh SUPADMI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Tari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal
kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang
beriman.”
(Q.S. Al-Imran: 139)
“Menyerah bukan sebuah pilihan. Jika anda bisa, saya juga bisa”
-Dedy
Corbuezer-“Segala sesuatu yang baik selalu datang di saat terbaiknya. Persis waktunya.
Tidak datang lebih cepat pun tidak lebih lambat. Itulah kenapa rasa sabar harus
disertai keyakinan.”
Liye-i Bismillahirrahmanirrohim
Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya milik Allah SWT, atas rahmat dan nikmat yang tak terhitung. Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Karya ini kupersembahkan sebagai tanda bukti cinta kasihku kepada :
1. Bapakku Suparto (Alm) dan Ibuku Sunarti tercinta yang selalu memberikan semangat, dukungan, doa serta kasih sayang yang luar biasa kepada saya, yang selalu mengajarkan saya untuk menjadi seseorang yang mandiri, kuat dan shalehah. Serta selalu memberikan dorongan semangat, doa, dan materil. Terimakasih karna telah mengantarkanku untuk menggapai cita-citaku.
2. Kakak-kakakku tersayang Suparti dan Sumargono beserta istri Sri hartati yang telah memberikan dukungan serta doa untuk keberhasilanku. Juga kepada keponakanku yang kusayangi Muhammad Shafa Pratama, Muhammad Rafi dan Viola Kalila Nismara.
3. Sanggar Cangget Budaya.
ii Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Nilai Karakter Peserta Didik dalam Pembelajaran Tari Ngejuk Ngakuk diSMA Negeri 1 Kotabumi”
Penulis menyadari bahwa dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini tentunya tidak akan mungkin terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Riyan Hidayatullah, M.Pd., selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, motivasi, nasihat, dan masukan kepada penulis.
2. Dr. I Wayan Mustika, M.Hum., selaku pembimbing II atas bimbingan, kesabaran, nasihat, dan masukan kepada penulis.
3. Hasyimkhan, S.Sn.,M.A., selaku pembahas dan penguji yang telah memberikan saran serta nasihat kepada penulis.
4. Agung Kurniawan, M.Sn, Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Lampung.
iii program Studi Pendidikan Seni Tari.
7. Dra. Nani Rahayu, MM., selaku Ketua Sanggar Cangget Budaya dan juga Narasumber yang memberikan informasi, saran, serta masukan kepada penulis dalam penelitian tari ngejuk ngakuk.
8. Hj. Emirita, S.Pd.Ing., M.M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA N 1 Kotabumi Lampung Utara.
9. Bayu Pramudhita selaku pelatih tari ekstrakurikuler tari SMA N 1 Kotabumi Lampung Utara.
10. Dewan guru, staff dan siswa-siswi SMA N 1 Kotabumi Lampung Utara atas kerjasama yang baik selama penelitian ini berlangsung.
11. Keluarga besar Sanggar Cangget Budaya kak Bila, kak Rizal, mpok Kiki, Mb Ida, Denta, Arya, Azha, Muti, Eka, Meita, Nisa, Syana, Maretha yang telah memberikan semangat kepada penulis serta membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian.
12. Terimakasih kepada sahabat-sahabatku yang selalu memotivasi dan mendukung dalam segala hal Mardiah, Mely, Arfiati, Nur Amalia, Suciathi, Rosa, Dinda, Cecen, dan Ifan.
13. Terimakasih kepada teman-teman KKN KT Desa Watu Agung Yusi, Yuly, Farah, Liah, Wily, Rais, Bari, Aday, Tika yang selalu memberikan motivasi agar penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
iv 15. Terimakasih atas bantuan dan semangat teman-teman seperjuangan
Ashari, Ardelia, Rian Febrianto, Kadek Dwi, Anggun Suri, Risma, Inka. 16. Kepada kakak-kakak dan adik-adik Seni Tari Unila angkatan
2008,2009,2010,2011,2012,2014,2015,2016,2017.
17. Seluruh staff dan Dosen Kampus Program Studi Seni Tari FKIP Universitas Lampung.
18. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusun skripi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima Kasih.
Bandar Lampung, November 2018 Penulis,
Supadmi
v Halaman
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.5 Ruang Lingkup Penelitian... 9
1. Objek Penelitian ... 9
2. Subjek Penelitian... 10
3. Tempat Penelitian... 10
4. Waktu Penelitian ... 10
II. TINJUAN PUSTAKA 2.1 Nilai... 11
2.2 Karakter... 15
2.3 Nilai Karakter... 19
2.4 Ekstrakurikuler ... 20
2.5 Tari Ngejuk Ngakuk... 22
2.6 Kerangka Pikir ... 43
III. METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian... 45
3.2 Sumber Data... 47
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 48
3.3.1 Observasi Berperan Serta ... 48
3.3.2 Wawancara... 49
3.3.3 Dokumentasi ... 49
3.3.4 Tes Praktik ... 50
3.4. Teknik Analisis Data... 52
vi
4.2.4 Pertemuan Keempat ... 72
4.2.5 Pertemuan Kelima ... 76
4.2.6 Pertemuan Keenam ... 81
4.2.7 Pertemuan Ketujuh... 86
4.2.8 Pertemuan Kedelapan... 89
4.3 Temuan... 95
V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 96
5.2 Saran... 99 DAFTAR PUSTAKA
vii
Tabel 1.1 Waktu Penelitian ... 10
Tabel 2.1 Ragam Gerak Wanita ... 26
Tabel 2.2 Ragam gerak Pria ... 29
Tabel 2.3 Ragam Gerak Tambahan ... 32
Tabel 2.4 Busana Penari Wanita ... 34
Tabel 2.5 Busana Penari Pria ... 39
viii
Gambar 2.1 Kerangka Pikir... 44
Gambar 4.1 SMA Negeri 1 Kotabumi Lampung Utara ... 54
Gambar 4.2 Peserta didik melakukan gerak secara kelompok ... 57
Gambar 4.3 Peserta didik menghafal gerak tanpa panduan pelatih ... 61
Gambar 4.4 Peserta didik melakukan gerak samber melayang ... 68
Gambar 4.5 Peserta didik melakukan gerak panggow ... 73
Gambar 4.6 Peserta didik sedang melakukan latihan dengan musik ... 77
Gambar 4.7 Peserta didik melakukan latihan menggunakan musik ... 78
Gambar 4.8 Peserta didik melakukan gerak panggow ... 83
Gambar 4.9 Peserta didik sedang melakukan gerak ending... 87
1.1 Latar Belakang
Provinsi Lampung memiliki budaya dan adat istiadat yang beragam dalam setiap kelompok masyarakat. Secara garis besar masyarakat Lampung terbagi menjadi 2 adat yaitu pepadun dan sai batin. Masyarakat adat pepadun adalah mereka yang menempati daerah dataran di Lampung, sedangkan masyarakat adat sai batin adalah yang menempati daerah pesisir pantai. Perbedaan dari dua adat ini telihat jelas dari masyarakat adat sai batin yang tidak memiliki kesempatan untuk berkedudukan sebagai raja atau dalam bahasa Lampung disebut Sutan, melainkan dari anak keturunannya. Namun sebaliknya bagi masyarakat beradat pepadun berkemungkinan mendapatkan gelar Sutan apabila ia mampu untuk menyelenggarakan seluruh rangkayan upacara adat dengan berbagai macam persyaratan yang ada.
Prosesi ngejuk ngakuk sendiri dilaksanakan pada sebelum prosesi pernikahan dilakukan ketika keluarga mempelai wanita menyerahkan anak gadisnya (ngejuk) kepada pihak mempelai pria, sebaliknya pihak keluarga mempelai pria mengambil gadis tersebut (ngakuk). Biasanya kebudayaan adat istiadat seperti di atas dapat dijadikan sumber acuan atau dasar dalam pengembangan kebudayaan, begitu juga dalam hal ini di bidang seni tari. Tari tradisi Lampung yang ada memiliki ciri khas yang berbeda sesuai dengan adat yang berlaku di daerah setempat.
Hal di atas juga menjadi acuan Rahayu selaku penata tari dengan mengemas adat ngejuk ngakuk menjadi sebuah tari kreasi yang berakar dari sebuah tradisi adat
pepadun masyarakat abung Lampung Utara. Tari kreasi yang mengambil dasar
dari kebudayaan asli daerah itu berjudul ngejuk ngakuk. Setiap gerak tari yang dituangkan adalah sebagai bentuk pelestarian budaya yang secara keseluruhannya mengambarkan nilai yang ada dalam prosesi adat masyarakat abung. Tari ngejuk ngakuk dibuat guna melakukan sebuah pementasan pada tahun 2003 di panggung
utama lapangan saburai dalam acara festival krakatau. Tarian ini mendapat juara 2 dalam kategori penata tari terbaik dan juara 1 kategori penata musik terbaik.
tertanam dalam masyarakat tersebut akhirnya menimbulkan kebiasaan yang akan membentuk karakter dari masyarakat.
Pembentukan karakter dapat diajarkan melalui pendidikan di sekolah. Pendidikan karakter adalah sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi atau kelompok sebagai seorang warga negara (Pemerintah Republik Indonesia, 2010:29). Pendidikan karakter sebenarnya bukanlah hal baru, Dewantara (1977) mengatakan bahwa yang dinamakan budipekerti atau watak atau dalam bahasa asingnya disebut karakter yaitu
bulatnya jiwa manusia sebagai jiwa yang berasas hukum kebatinan. Orang-orang
yang memiliki kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya orang dapat kita kenal dengan pasti; yaitu karena watak atau budipekerti itu bersifat tetap dan pasti. Berdasarkan uraian tersebut, karakter yang oleh Dewantara (1977) disebut budipekerti diharapkan dapat membentuk watak yang dimiliki oleh setiap manusia dan bersifat tetap. Oleh karena itu, pendidikan karakter atau budipekerti menjadi sangat penting dalam pembangunan bangsa.
dari tindak kriminal ini sebagian besar adalah remaja usia sekolah mengah pertama sampai usia sekolah mengengah atas (liputan6.com//kriminalitasremaja, diakses pada 11 Mei 2017).
Poppy Iriani, Bidang Advokasi Lembaga Pendidikan Anak (LPA) Lampung, mengungkapkan, kekerasan seksual terhadap anak baik yang dilakukan sendiri-sendiri maupun bergerombol memang sudah menjadi momok dimasyarakat (Tribun, 2017). Beberapa kasus lain yang ada misalnya kasus pembunuhan, pencurian, dan tindakan asusila yang kerap dilakukan oleh anak yang masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah pertama (SMP) bahkan ada pula yang berasal dari anak Sekolah Dasar (SD). Salah satu Contoh nyata di SMA Negeri 1 kotabumi siswa siswinya pada tahun 2012 tertangkap melakukan tindakan pelecehan seksual.
Pembentukan karakter pada peserta didik saat ini juga dapat dilakukan dengan mempelajari nilai budaya yang ada dalam masyarakat. Pusat Kurikulum Banlitbang Kemendiknas bahwa nilai-nilai karakter berdasarkan budaya bangsa yang diharapkan hadir pada peserta didik dan seluruh masyarakat Indonesia adalah 1) religius, 2) jujur, 3) toleransi , 4) disiplin, 5) kerja keras, 6) kreatif, 7) mandiri, 8) demokratis, 9) rasa ingin tahu, 10) semangat kebangsaan, 11) cinta tanah air, 12) menghargai prestasi, 13)bersahabat/komunikatif, 14) cinta damai, 15) gemar membaca, 16) peduli lingkungan, 17) peduli sosial, 18) tanggung jawab.
Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut penting untuk diwujudkan dalam setiap jenjang pendidikan di sekolah sebagai pembentukan karakter peserta didik. Shihab mengatakan bahwa “Jati diri manusia sebagai makhluk sempurna terletak pada
pembentukan karakternya berdasarkan keseimbangannya antara unsur-unsur kejadiannya, yang tercapai melalui pengembangan daya-daya yang dianugrahkan Tuhan (2009). Saat ini pendidikan karakter sudah menjadi tugas semua mata pelajaran dalam setiap proses pembelajarannya, termasuk dalam pembelajaran seni. Read (1974) dalam (Nabilla, 2:2017)mengatakan bahwa ‘Art should be the basic of Education’ dalam buku Education through Art yang berarti bahwa sudah seharusnya dasar dari pendidikan adalah jiwa yang memahami rasa dari seni itu sendiri untuk diterapkan dalam ilmu lainnya.Pemahaman seni untuk pendidikan ini oleh sekelompok penganut kepercayaan ‘seni sebagai media pendidikan’ yang
mampu membentuk rasa, apalagi jika dilihat bahwa Indonesia merupakan negara dengan beribu suku bangsa yang tentunya memiliki beragam budaya dan kesenian.
Penelitian ini ingin melihat bagaimana pendidikan seni khususnya tari berpengaruh dalam membentuk karakter peserta didik, yang mana peserta didik dalam hal ini merupakan remaja yang berusia produktif akan sangat dengan mudah terpengaruh terhadap hal baru baik yang bersifat positif maupun negatif. Kegiatan yang positif akan memperkecil peserta didik terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif seperti contoh di atas. Hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam memperbaiki karakter dan moral anak bangsa. Selain itu pengawasan dari orang tua di rumah serta pengawasan dari guru di sekolah juga sangat berpengaruh penting terhadap perkembangan karakter anak. Maka dari itu akan lebih baik jika waktu luang peserta didik diisi dengan hal-hal postif misalnya saja mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
dengan demikian peserta didik dapat lebih mudah menerima suatu pembelajaran positif dari pembelajaran gerak tari ngejuk ngakuk.
Penelitian ini akan mencoba melihat apakah dalam proses pembelajaran gerak tari akan terjadi perubahan karakter dengan mempelajari dan menghayati nilai budaya yang ada dalam sebuah kesenian, khususnya di Ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi akan dilihat dengan mempelajari gerak dari tari ngejuk ngakuk yang setiap geraknya memiliki makna serta nilai karakter. Kegiatan tersebut tidak menjadi jaminan seluruh siswa untuk tidak melakukan hal-hal negatif namun dapat mengurangi hal-hal negatif yang ada. Kegiatan ekstrakurikuler yang lain juga ikut berperan serta dalam pembentukan karakter siswa.
Alasan lain penelitian ini di SMA Negeri 1 Kotabumi sebagai subjek penelitian karena pembelajaran tari ngejuk ngakuk bertujuan untuk memberikan pengenalan, pengetahuan, pemahaman, apresiasi serta pelestarian budaya yang ada pada tari ngejuk ngakuk masyarakat Abung Kotabumi Lampung Utara. Penelitian ini
dikhususkan di Kotabumi karena penduduk asli kotabumi adalah masyarakat Abung. Penelitian ini juga dilakukakan agar generasi muda dapat melestarikan
Pemaparan di atas menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan karena untuk melihat nilai apa saja yang ada dalam gerak tari ngejuk ngakuk serta bagaimana pengaruh nilai karakter yang akan terjadi pada proses pembelajaran gerak serta nilai dari tari ngejuk ngakuk dalam kegiatan ektrakurikuler tari. Uraian di atas juga menjelaskan bahwa Lampung khususnya Lampung Utara memiliki sebuah tarian yang di dalamnya terdapat nilai budaya di mana nilai tersebut yang penting untuk diajarkan sebagai pembentukan karakter peserta didik. Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperoleh judul “Nilai Pendidikan Karakter Peserta Didik dalam Pembelajaran Tari Ngejuk Ngakuk di SMA Negeri1 Kotabumi”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pembentukan karakter peserta didik dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi?
2. Nilai karakter apa saja yang muncul dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan proses pembentukan karakter peserta didik dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi.
Manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Menambah referensi di bidang seni tari dan sebagai pengetahuan tambahan dalam bidang pembelajaran seni tari.
2. Untuk menambah pengetahuan dan kecintaan siswa terhadap tari kreasi yang berakar dari adat Lampung sekaligus memperkenalkan tarian yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
3. Sebagai bahan masukan bagi guru dan sekolah agar dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menanamkan nilai karakter siswa dalam proses pembelajaran tari ngejuk ngakuk di SMA Negeri 1 Kotabumi.
4. Untuk menambah dan memberikan pengetahuan kepada peneliti dan pembaca bahwa pembelajaran ini adalah sebagai salah satu pelestarian budaya di mana di dalamnya terdapat nilai yang dapat di jadikan sebagai pembentukan karakter.
Ruang lingkup penelitian ini meliputi : 1. Objek Penelitian
Objek (masalah) dalam penelitian ini adalah nilai karakter yang terbentuk pada pembelajaran tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi.
1.4Manfaat Penelitian
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah pelatih tari dalam kegiatan ektrakurikuler dan siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Kotabumi.
3. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan di gedung SMA Negeri 1 Kotabumi.
4. Waktu Penelitian
[image:27.595.121.468.374.632.2]Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap bulan Januari- Februari tahun ajaran 2017/2018
Tabel 1.1 Waktu Pertemuan Penelitian
No PERTEMUAN Hari/Tanggal
1 I Kamis/11 Januri 2018
2 II Jum’at/12 Januari 2018
3 III Kamis/18 Januari 2018
4 IV Jum’at/19 Januari 2018
5 V Kamis/25 Januari 2018
6 VI Jum’at/ 26 Januari 2018
7 VII Kamis/1 Februari 2018
2.1 Nilai
Nilai atau value berasal dari bahasa Latin, valare, atau bahasa Perancis kuno, valoir, yang artinya nilai. Kata valare,valoir, atau nilai dapat dimaknai sebagai
harga. Hal ini selaras dengan definisi nilai menurut pengertian dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008 dalam Alfan, 2013:53) sebagai taksiran harga.
Akan tetapi, secara lebih luas apabila kata “harga” di hubungkan dengan objek tertentu atau di persepsi dari sudut pandang tertentu pula, mengandung arti berbeda. Menurut (Rokeach dalam merdapi, 2008:106) nilai merupakan suatu keyakinan dalam perbuatan, tindakan, atau prilaku yang dianggap baik dan dianggap buruk. Oleh karena itu, nilai mengandung tafsiran yang bermacam-macam, tergantung pada sudut pandang yang memberi penilaian atau objek yang di nilai.
yang objektif tentang ke ‘ada’ an sesuatu yang akan dinilai dan yang kedua
memandang nilai sebagai suatu yang subjektif, artinya nilai sangat bergantung pada subjek yang menilainya. Hal ini sejalan dengan pendapat mengenai nilai jika dipandang dari sudut sosiologi oleh Mudhofir (2014:353) nilai diartikan sebagai objek dari cita atau tujuan yang disetujui masyarakat bersama atau sebagai kemapuan mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat.
Nilai-nilai juga terdapat di dalam seni. Menurut (Sumardjo, 2000:140) nilai dasar dalam seni dapat disimak sebagai berikut : nilai pertama yakni nilai penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni yang terdiri dari nilai
bentuk dan nilai struktur, nilai kedua adalah nilai isi (content) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi, dsb. Nilai ketiga adalah nilai pengungkapan (presentation) yang dapat mewujudkan adanya nilai bakat pribadi seseorang, nilai keterampilan, dan nilai medium yang dipakainya. Seni bukan sebatas benda seni, tetapi nilai-nilai sebagai respons estetik dari publik melalui proses pengalaman seni.
Sudah lazim kita ketahui bahwa faktor sosial budaya pada setiap masyarakat memiliki sistem nilai tertentu yang menjadi pegangan bagi anggota masyarakat, baik bangsa maupun negara. Nilai budaya akan selalu mengalami perubahan budaya akibat terjadinya transformasi budaya akibat kontak budaya. Nilai budaya yang di pertahankan adalah nilai pokok yang menjadi identitas budaya suatu masyarakat serta menjadi kebanggaan masyarakat penduduknya. Begitu pula dalam hal penelitian ini masyarakat Lampung yang memiliki nilai-nilai pokok yang menjadi identitas budayanya.
Masyarakat Lampung di dalam kesehariannya memiliki nilai yang harus mereka jalankan. Mereka harus memiliki piil dan mampu menjaga liyom. Piil adalah nilai rasa harga diri sedangkan liyom adalah rasa malu. Bagi orang Lampung tolak ukur kesalahan adalah rasa malu (liyom), sedangkan tolak ukur keberhasilan adalah harga diri (piil). (Martiara,2012:81). Harga diri (pi’il) adalah milik laki -laki, yang diwujudkan dalam sikap ‘kejantanan’. Rasa malu (liyom) adalah milik perempuan, sesuatu yang harus dijaga baik pada sikap maupun prilaku. Nilai harga diri yang didalamnya terangkai prinsip-prinsip nilai masyarakat yaitu pi’il pesenggiri (prinsip kehormatan) : juluk adek (prinsip keberhasilan), nemui nyimah
(prinsip penghargaan), nenggah nyappur (prinsip kebersamaan), dan sakai sambayan (prinsip kerjasama) (Haryadi, 1996:13 dalam Martiara,2012:89).
Seseorang boleh-boleh saja mencapai kekuasaannya (juluk adek) dengan adanya pi’il pesenggiri, tetapi kekuasaan atau prestasi dan semacamnya bukan didapat
bukan menjajah (Haryadi, 2003:37). Prestasi hendaknya dicapai dengan memberikan yang terbaik (nemui nyimah), sanggup untuk diuji (nengah nyappur), dan juga bermanfaat bagi orang lain (nengah nyappur), dengan semua kerja keras ini seseorang baru memiliki bobot sebagai pembaharu (juluk adek). Terpeliharanya pi’il pesenggiri hingga kini karena pi’il pesenggiri bukan hanya
terhenti sebatas pengertian tetapi juga karena adanya kesepakatan terhadap pengertian tersebut. Hakekatnya pelanggaran terhadap pi’il pesenggiri tidak diancam dengan sanksi-sanksi fisik semacam kurungan atau sebagainya, tetapi cukup dengan hukuman moral.
Jika dilihat dari nilai falsafah piil pesenggiri, terdapat beberapa kesamaan dengan nilai pancasila pada pendidikan karakter. Hal ini terkait dengan tari ngejuk ngakuk yang di dalamya terdapat nilai piil pesenggiri yang akan di ajarkan kepada peserta didik khususnya dalam kegiatan ekstrakurikuler tari di SMA Negeri 1 Kotabumi Pendidikan karakter menyangkut upaya menginternalisasikan nilai-nilai ke dalam diri seseorang sehingga nilai-nilai tersebut terpatri erat dan menggerakkan orang itu dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari-harinya.
Tujuan bangsa melalui pendidikan karakter tersebut diharapkan hadir bagi seluruh masyarakat Indonesia, salah satu wujud pencapaiannya adalah dengan mengintegrasika pendidikan berbasis karakter disekolah. Pengintegrasian pendidikan karakter disekolah tidak hanya pada program intra kurikuler melainkan juga pada program ekstrakurikuler dan seluruh kegiatan di ruang lingkup sekolah
Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter dalam proses pendidikannya. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup. Berdasarkan PP RI No 87 Tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter pasal 3, menyatakan bahwa “nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai 1) Religius, 2) Jujur, 3) Toleransi, 4) Disiplin, 5) Kerja Keras, 6) Kreatif, 7) Mandiri, 8) Demokratis, 9) Rasa Ingin tahu, 10) Semangat Kebangsaan, 11) Cinta Tanah Air, 12) Menghargai Prestasi, 13) Bersahabat/komunikatif, 14) Cinta Damai, 15) Gemar membaca, 16) Peduli Lingkungan, 17) Ped1uli Sosial, 18) Tanggung Jawab. Nilai-nilai moral yang telah diuraikan dicoba dihadirkan oleh sekolah dan guru agar menjadi karakter bawaan para siswa untuk menghadapi dunia.
2.2 Karakter
tanda atau ciri yang baik dalam semua suasana kehidupan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk membuat komitmen yang bijak (Ryan dalam Nabilla, 2017:37)
Menurut (Ratna) Proses pembentukan karakter merupakan masalah yang paling sulit. Proes ini lebih banyak berkatan dengan masalah kejiwaan dibandingkan dengan pendidikan dan pengajaran. Dua masalah penting yang memegang peranan dalam hubungan ini adalah pembawaan sebagai ciri-ciri tertentudalam kehidupan manusia secara individual dan kesadaran sebagai kemauan untuk berubah yang ada pada diri setiap manusia. Umumnya, kesadaranlah baik secara individual atau kelompok yang menjadi faktor penentu terjadinya perubahan-perubahan dan dengan sendirinya proses yang dimaksud. Proses kesadaran inilah yang menjadi pijakan awal dalam pementukan karakter.
Secara sederhana pendidikan karakter dapat diartikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa.Sudah menjadi pendapat umum bahwa pendidikan pertama merupakan awal untuk menanamkan sifat-sifat yang baik. Artinya, apa yang di tanamkan sejak kecil, pada umumnya dianggap sebagai pengalaman yang paling berkesan dalam dirinya, sehingga menjadi kebiasaan untuk selanjutnya.
jiwa yang berasas hukum kebatinan. Orang-orang yang memiliki kecerdasan budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya orang dapat kita kenal dengan pasti; yaitu karena watak atau budipekerti itu bersifat tetap dan pasti.
Berdasarkan uraian tersebut, karakter yang oleh Dewantara disebut budipekerti diharapkan dapat membentuk watak yang dimiliki oleh setiap manusia dan bersifat tetap. Oleh karena itu pendidikan karakter atau budipekerti menjadi sangat penting dalam pembangunan bangsa. Pendidikan adalah keseimbangan antara cipta, rasa, karsa dan karya tidak hanya sekedar proses alih ilmu pengetahuan atau transfer of kowledge tetapi dengan pendidikan juga sekaligus merupakan proses
transformasi nilai. Dengan kata lain pendidikan adalah proses pembentukan karakter manusia.
dua tujuan yaitu membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi. Dengan didasari oleh masalah-masalah moral yang terjadi, mulai dari masalah ketamakan dan ketidakjujuran hingga tindak kekerasan, penyalahangunaan narkoba dan tindakan bunuh diri maka pendidikan moral atau nilai karakter harus diterapkan di sekolah. Nilai yang diajarkan di sekolah seharusnya memiliki tujuan agar bermanfaat secara umum dan dapat diterima oleh masyrakat yang beragam.
Teori-teori dan prinsip pembelajaran yang di gunakan dalam pembelajaran moral di Indonesia seharusnya dikembangkan dengan berpijak pada karakteristik siswa dan budayanya. Pada tahap penalaran moral di mana mereka berada, bagaimana kepercayaan/eksistensial iman, empati, dan peran sosial mereka. Ini semua perlu amat diperlukan oleh guru, pendidik, teknolog, dan perancang pembelajaran dalam upaya pengembangan program-program pembelajaran moral dan produksi sumber belajar. Informasi mengenai karakteristik remaja dan budayanya pada setiap daerah perlu dipahami oleh para guru dan pendidik di bidang moral sebagai pijakan dalam pembelajaran moral bagi anak dan remaja .
peranan sebagai daya tarik serta dasar bagi tindakan manusia, serta mendorong manusia untuk mewujudkan nilai-nilai yang ditemukannya dalam tindakannya.
2.3 Nilai Karakter
(Thomas Lickona 2012:7) mengatakan bahwa pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan yaitu membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi. Dengan didasari oleh masalah-masalah moral yang terjadi, mulai dari masalah ketamakan dan ketidakjujuran hingga tindak kekerasan, penyalahangunaan narkoba dan tindakan bunuh diri maka pendidikan moral atau nilai karakter harus diterapkan disekolah. Nilai yang diajarkan di sekolah seharusnya memiliki tujuan agar bermanfaat secara umum dan dapat diterima oleh masyrakat yang beragam.
Karakter yang dimaksud oleh Thomas Lickona terdiri atas tiga korelasi antara lain: 1) Moral Knowing, yaitu kenginan seseorang untuk mengetahui hal-hal yang baik, 2) Moral Feeling, setelah mengetahui hal-hal yang baik maka seseorang memiliki keinginan untuk berbuat baik, 3) Moral Behaviour, melaksanakan yang baik tadi berdasarkan atas pemikiran, dan perasaan apakah hal tersebut baik untuk dilakukan atau tidak, kemudian dikerjakan. Ketiga korelasi inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai pijakan dalam melihat proses pembentukan karakter serta nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk.
dituntut dalam kehidupan ini. Nilai non moral biasanya tidak membawa tuntutan untuk dilakukan hanya untuk menunjukan sikap atau pribadi dari diri seseorang. Setiap jenjang pendidikan baik formal maupun non formal harus menjalankan pendidikan karakter tersebut mengingat pendidikan merupakan transformasi nilai-nilai.Namun yang harus disadari bukan hanya terletak pada jenjang pendidikan apa saja namun kepada landasan dari pendidikan karakter itu sendiri, dengan penelitian ini diharapkan tari ngejuk ngakuk sebagai salah satu bentuk kesenian daerah dapat menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan berbasis karakter yang di dalamnya terdapat nilai.
Semua pelajaran disekolah diharapkan menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam proses belajar mengajar, begitu juga pelajaran seni budaya khususnya seni tari. Melalui kesenian daerah yang dalam hal ini tari ngejuk ngakuk diharapkan mampu menjadi landasan bagi pelatih ekstrakurikuler tari di SMA N 1 Kotabumi guna menerapkan pendidikan berbasis karakter kepada siswa. Ngejuk ngakuk sebagai objek material penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi siswa tentang kesenian daerah yang di ciptakan guna melestrarikan adat kebiasaan masyarakat Lampung khusunya abung Lampung Utara.
2.4 Ekstrakurikuler
kreatif (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2010:4). Tujuan bangsa melalui pendidikan karakter tersebut diharapkan hadir bagi seluruh masyarakat Indonesia, salah satu wujud pencapaiannya adalah dengan mengintegrasika pendidikan berbasis karakter disekolah. Pengintegrasian pendidikan karakter di sekolah tidak hanya pada program intra kurikuler melainkan juga pada program ekstrakurikuler dan seluruh kegiatan di ruang lingkup sekolah.
Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa, misalnya olahraga, kesenian, berbagai macam ketrampilan dan kepramukaan diselenggarakan disekolah diluar jam pelajaran biasa. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler antara satu sekolah dan sekolah yang lain bisa saling berbeda. Variasinya bisa ditentukan oleh kemampuan guru, siswa dan kemampuan sekolah (Suryosubroto, 2009: 286). Sedangkan menurut Arikunto, yang dikutip oleh Suryosubroto dalam bukunya yang berjudul “Proses Belajar Mengajar di Sekolah” yang dimaksud kegiatan
ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan diluar struktur program yang pada
umumnya merupakan kegiatan pilihan.
potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang akan membantu siswa untuk mengembangkan ilmu, potensi serta bakat yang dimilikinya. Terkhusus dalam bidang seni tari, siswa tidak hanya diberikan pengetahuan-pengetahuan tentang seni tari melalui kegiatan intrakurikuler, didalam kegiatan ekstrakurikuler siswa akan dibantu untuk mengembangkan pengetahuan tentang tari dan juga siswa akan dibantu untuk mengembangkan bakat serta keinginan berkesenian yang dimilikinya.
2.5 Tari Ngejuk Ngakuk
Tari sejak kehidupan manusia purba mempunyai peranan yang sangat penting, baik sebagai sarana upacara-upacara keagamaan, adat, maupun sebagai saluran-saluran untuk mengapresiasikan persaan gembira dari generasi tua diturunkan ke generasi berikutnya lewat pendidikan, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana (Sedyawati, 1984:77).
Tari ngejuk ngakuk merupakan tari kreasi yang berasal dari kotabumi Lampung Utara. Tari adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah tari, dan entity (wujud) tari tidak dapat dipisahkan dari konsep budaya (Martiara, 2012:4). Budaya ngejuk ngakuk secara luas diambil dari titi gemati adat ngejuk ngakuk yang di dalamnya
terdapat sebumbangan, bumbang ratu, bumbang aji, ibal serbo, dan nyakak manuk. Soal yang ada pada sebumbangan, bumbang ratu, bumbang aji, ibal
serbo( pineng nyerabung sanggar) terletak pada bagaimana cara gadis itu di ambil
dan bagaimana cara gadis itu di lepaskan (diberikan), inilah inti dari adat ngejuk ngakuk (Sempurnadjaja, 1991:iv).
Rahayu selaku koreografer tarian tersebut mengatakan bahwa gerak dasar tari ini mengacu pada ragam gerak tari tradisi Lampung yang telah dikembangkan. Tarian ini diciptakan sebagai bentuk pelestarian budaya abung yang dituangkan dalam bentuk gerak tari. Beberapa gerak dasar diambil berasal dari tari bedana. Tari bedana merupakan tari tradisi kerakyatan daerah Lampung sebagai perwujudan simbol adat istiadat, agama, estetika yang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat (Mustika, 2012:50). Selain itu juga ada beberapa ragam gerak dari tari sigeh penguten serta gerak tari cangget.
Kesenian menghadirkan kegembiraan dalam jiwa, kegembiraan menggetarkan emosi, emosi yang intens menggerakan sikap dan prilaku, sikap dan prilaku membentuk kepribadian, dan kepribadian yang kukuh mengantar setiap jiwa pada takdirnya (Purwanto, 2016:9). Merujuk dari kata-kata di atas penelitian ini di dasari dari sikap dan prilaku yang dapat membentuk karakter yang di peroleh dari pembelajaran seni tari.
Tari ngejuk ngakuk yang mempunyai peranan sebagai penggambaran prosesi pernikahan masyarakat abung Lampung Utara yang mana di dalamnya memiliki aturan adat dan tata cara. Ngejuk sendiri yang berarti memberi dan ngakuk yang berarti mengambil dalam bahasa lampung dialek O masyarakat abung Lampung Utara. Tarian ini merupakan penggambaran dari proses penyerahan dan penerimaan seorang mempelai wanita. Berangkat dari hal tersebut ada beberapa nilai yang di dapatkan di dalam tarian tersebut yaitu :
1. Tanggung Jawab
jawab yang sangat besar baik kepada keluarga, pihak besan, tokoh adat, dan terhadap lingkungan sekitar.
2. Mandiri
Mandiri merupakan sikap untuk tidak menggantungkan suatu pekerjaan mapun tindakan terhadap orang lain. Seorang yang menjalankan suatu yang memiliki suatu sikap kemandiriian berarti dia akan sanggup dalam menerima suatu beban pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Begitu pula dalam tarian ini di ajarkan pula bahwa kemandirian sangatlah dibutuhkan agar suatu kepala keluarga dapat menjalankan suatu beban dalam menjaga keluarganya secara mandiri. Apabila seseorang telah memiliki rasa mandiri di dalam jiwanya maka ia akan merasa percaya diri ketika melakukan suatu pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri.
3. Toleransi
Sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau aantar individu dalam masyarakatatau dalam ruang lungkup lain. Toleransi yang diajarkan dalam tarian ini adalah bagaimana perbedaan antara watak, adat istiadat, maupun kedua belah pihak antara keluarga pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan, dan antara pengantn perempuan dan pengantin laki-laki akan di satukan kedalam sebuah hubungan dan juga dalam sebuah prosesi adat pernikahan.
4. Jujur
diwujudkan dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan baik terhadap diri sendiri maupun pada orang lain. Kejujuran merupakan prilaku yang didasarkan pada upaya untuk menjadikan diri sebagai orang yang selalu dapat dipercaya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sikap ini harus dimiliki dalan adat pernikahan orang Lampung agar dapat menjaga nama baik keluarga dan menjaga piil dalam keluarga. Berikut merupakan ragam gerak dari tari ngejuk ngakuk :
Tabel 2.1 Ragam Gerak wanita Nama Ragam Gerak Gambar Uraian Ragam Gerak Makna Ragam Gerak Nilai Karakter Pengembanga
n gerak Lapah Tebeng
Posisi badan mendak
kemudian berjalan kedepan
dengan posisi tangandidepan dada, tangan kanan berada diatas dan posisi tangan kiri dibawah tangan kanan
Ragam gerak lapah tebeng mengandung makna pandangan hidup masyarakat Lampung untuk selalu menatap ke depan dalam segala hal. Percaya diri Pengembanga n Samber Melayang
Posisi badan tegak dengan kedua tangan dibuka posisi tangan sejajar bahu, kaki memutar depan dan belakang dengan posisi tangan tetap
Gerak ini mengandung makna bahwa masyarakat Lampung menjunjung tinggi harga diri dan mempertaha nkan harga diri.
[image:43.595.107.517.314.742.2]Mampang bias Posisi tangan di tekuk keatas dengan jari sejajar kepala kemudian tangan diukel dan salah satu kaki maju mundur secara bergantian Gerak mampang bias merepresenta sikan nilai sakai sambayan yaitu sikap toleransi kebersamaan dalam kegotongroy ongan dan bertumpu pada pepatah berat sama dipikul ringan sama di jinjing.
Toleransi dalam setiap perbedaan
gerak kimbang Posisi tangan
kiri ditekuk keatas , dari siku sampai ke jari lurus sejajar kepala kemudian tangan kiri berada
dibawah sejajar pinggul kemudian keduanya saling bergantian.
Gerak ini merupakan simbol keterbukaan dan
kerendahan hati yang ditunjukan dari gerakan tangan yang dibuka secara bergantian yang memiliki makna bahwa masyarakat Lampung memiliki rasa toleransi. Toleransi untuk meeenerim a segala suseatu perbedaan.
Lenggang Kaki kanan
melangkah lenggang kedepan
kedepan, selanjutnya bergantian dengan kaki kiri dan tangan kanan
Tolak tebeng Tangan kanan
lurus kearah kanan dan tangan kiri ditekuk lurus kearah kiri sejajar dada kemudian kaki melangkah ke lawan arah (ke arah kiri)
Gerak ini memiliki makna keseimbanga n hidup dengan maksud bahwa orang Lampung harus selalu menjaga keseimbanga n nilai-nilai kehormatann ya untuk mencapai kesempurnaa n hidup.
Tanggung jawab
Maku racang Posisi mendak
dan condong kekiri tangan kanan lurus keatas dan tangan kiri ke bawah
kemudian di ukel secara bersamaan
Gerak ini memiliki makna bahwa masyarakat Lampung pada umumnya dituntut memiliki kemampuan untuk menepatkan diri pada posisi yang wajar, dalam arti sopan dalam
perbuatan dan santu dalam tutur kata .
Ngecum Tangan kanan dan tangan kiri bergerah searah namun berlawanan dengan gerak kaki kanan
Ngecum merupakan simbol kebijaksanaa n yang artinya masyarakat Lampung mempertimb angkan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan baik dalam urusan pribadi maupun dalam urusan adat. Tanggung jawab
[image:46.595.108.517.84.384.2](Foto, Supadmi : 2017)
Tabel 2.2 Ragam Gerak Pria Nama Ragam Gerak Gambar Uraian Ragam Gerak Makna Ragam Gerak Nilai Karakter
Nyubuk Posisi badan
duduk kemudian tangan seluruh badan ditutupi dengan sarung kecuali bagian mata
[image:46.595.109.516.447.650.2]Petikan Posisi duduk dengan telapak kaki dijinjit dan dengkul menyentuh lantai seta tangan kiri berada di atas paha , tangan kanan lurus keatas dengan posisijari jempol dan telunjuk
bergesekan dan ketiga jari lainnya
ditekuk , posisi muka
menghadap ke jari tangan atas.
Gerak ini memiliki makna simbol pembauran dimana orang Lampung harus bersikap sopan dan santunyang harus siap mendengark an,
menganalisis dan
menyampaik an informasi dengan tertib.
Tanggung jawab
ayun gantung Posisi badan
tegak dengan kedua tangan dikepal, tangan ditekuk ke atas sejajar telinga dan tangan kanan lurus kebawah dengan kaki kanan serong ke samping dan kaki kiri ditekuk , posisi muka
menghadap ke sebelah kanan .
Gerak ini merupakan simbol keterbukaan dan
Silat (amuk) Posisi mendak dengan kaki kiri disilang jijit
kebelakang kemudian jari tangan kanan dikepal serta jari tangan kiri lurus keatas dan saling bertemu di depan dada
Gerak ini memiliki makna keberanian sebagai perwujudan dari masyarakat Lampung yang turut serta membela kebenaran. Tanggung Jawab Cemengguk Permisei
Posisi badan ditekuk
kedepan
dengan muka menghadap kebawah lalu tangan kanan lurus kebawah dan tangan kiri ditekuk ke arah siku tangan kanan.
Gerak ini mengandung makna meminta restu orang tua sebagai wujud bakti dan asas sopan
santun.
Tanggung jawab
Mejeng Tabik Posisi badan
duduk dengan kedua tangan berada di depan dada dan posisi muka
menghadap ke depan
Gerak ini mengandung arti duduk hormat yang berarti persembahan atau permohonan izin. Tanggung Jawab
Ngecum Posisi kaki
kanan lurus dan kaki kiri jinjit, kedua tangan lurus sejajar bahu dengan jari tangan ngecum
Gerak ini memiliki simbol kebijaksanaa n yang akan selalu
ke bawah sesuatu sebelum mengambil keputusan baik pribadi maupun adat.
Ngakuk Posisi kaki
kanan ditekuk kedepan , lutut kiri menyentuh lantai , posisi badan lurus, tangan kanan dan kiri ditekuk keatas dan jari tangan lurus kedepan.
Gerak ini memiliki makna tanggung jawab di mana ngakuk sendiri yang berarti mengambil sesuatu yang dalam hal ini seorang anak gadis dan siap untuk bertanggung jawab atas segala
sesuatunya.
[image:49.595.109.517.83.432.2]Tanggung Jawab
Tabel 2.3 Gerak Tambahan Menggunakan Properti Nama Ragam Gerak Gambar Uraian Ragam Gerak Makna Ragam Gerak Nilai Karakter
Panggow Posisi tangan
kanan lurus dan tangan kiri ditekuk kearah siku kemudian sebaliknya (pria) kemudian posisi (wanita) duduk diatas kedua tangan (pria) lalu kedua tangan berada didepan
Panggow harus dilakukan dengan dua orang
[image:49.595.109.516.483.750.2]dada. sang ayah maupun saudara laki-laki yang menyerahka n seluruh tanggung jawab atas anak gadis atau saudara perempuann ya kepada keluarga besan/ mempelai pria.
Simpuh Duduk simpuh
dengan tangan kanan lurus kebawah dan tangan kiri memegang properti (kembang telur) yang mana
menggambarka n keramayan dan keceriaan dalam suatu acara
pernikahan.
Simpuh yang yang artinya duduk bersimpuh dengan membawa properti kembang telur sebagai simbol kemeriahan berpesta yang secara keseluruhan menyimbolk an orang Lampung harus tetap memiliki adat kesopanan dalam melakukan suatu acara pesta
Tanggung Jawab
(Foto, Supadmi : 2017)
hal yang telah dikenal kalangan masyarakat. Ia bertujuan untuk memperindah mempercantik diri (muka). Berhias digunakan untuk menampilkan keindahan secara wajar dan tidak berlebihan. Akan tetapi fungsi dari tata rias bukan hanya itu saja. Tata rias sebenarnya merupakan suatu rekayasa manusia untuk melahirkan suatu karya dalam bentuk lain sesuai dengan apa yang diharapkan atau dikehendakinya. Dalam pementasan tari ngejuk ngakuk, tata rias yang dipergunakan adalah tata rias korektif (corretive make-up), yakni rias cantik dengan mempertebal garis-garis pada mata, bibir, pipi dan hidung. Berikut merupakan busana yang dikenakan oleh penari baik wanita maupun laki-laki :
Tabel 2.4 Busana Penari ngejuk ngakuk wanita
No Nama Busana Gambar
[image:51.595.113.512.372.653.2]2 Gelang pipih
3 Gelang Burung
5 Penekan jidat
6 Bunga
8 Kawai lawak andak
9 Rok payung
11 Siger
12 Anting siger
(Foto, Supadmi : 2017)
Tabel 2.5 Busana Penari ngejuk ngakuk pria
No Nama Busana Gambar
[image:56.595.113.510.628.742.2]2. Sarung
4. Gelang Kano
5. Teluk belanga kreasi
6. Teluk belanga kreasi
7. Kalung Buah Jukum
(Foto, Supadmi : 2017)
2.6 Kerangka Pikir
Gambar 2.1 kerangka Pikir
Berdasarkan Kerangka Berfikir di atas, tari Ngejuk Ngakuk di pilih sebagai tari yang di ajarkan ke pada peseta didik dikarenakan tarian ini memiliki nilai yang perlu diketahui oleh masyarakat khususnya siswa-siswi SMA Negeri 1 Kotabumi . Melalui kegiatan ekstrakurikuler tari di SMA Negeri 1 Kotabumi diharapkan akan terjadi perbaikan karakter oleh peserta didik dengan adanya kegiatan positif yang akan memperkecil terjadinya perbuatan negatif yang marak dilakukan oleh peserta didik di SMA tersebut. dengan mempelajari nilai karakter yang ada di dalamnya yang menggunakan teori pendidikan karakter dari Thomas Lickona yang dalam prosesnya menggunakan 3 tahapan korelasi yakni Moral knowing, Moral Feeling, dan Moral Behaviour sebagai tahapan pementukan nilai karakter peserta didik. Setiap tahapan korelasi tersebut peserta didik diberikan pengetahuan mengenai nilai-nilai yang ada di dalam tari melalui pembelajaran gerak tari. Melalui tahapan tersebut akan dilihat nilai apa yang akan muncul dalam diri peserta didik yang akan menjadi hasil dari penelitian ini dari proses pembentukan karakter peserta didik.
Tari ngejuk ngakuk
SMA N 1 Kotabumi
Ekstrakurikuler
Moral Knowing Moral Feeling Moral
Behaviour
Nilai Karakter Peserta didik Teori PendidikanKarakter
3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana deskriptif kualitatif digunakan untuk memaparkan secara jelas mengenai proses pembelajaran nilai karakter tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi. Penelitian ini bersifat naturalistik, karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (Sugiyono, 2015:8). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa masalah yang diteliti akan dijelaskan secara sitematis dan apa adanya. Artinya segala sesuatu yang terjadi akan dijabarkan secara jelas sesuai dengan keadaan yang sebenar-benarnya.
Penelitian ini dilakukan melalui desain penelitian yang secara penelitian suatu rencana tentang bagaimana mengumpulkan data dan mengolah data agar penelitian yang diharapkan dapat tercapai (Sujarweni, 2014:26). Desain tersebut merupakan kerangka penjajakan lapangan yang digunakan dalam penelitian ini. Desain yang di lakukan dalam pra-lapangan , yaitu:
2. Melakukan permohonan izin terhadap kepala sekolah SMA Negeri 1 Kotabumi Lampung Utara. berupa surat penelitian pendahuluan dan surat izin penelitian.
3. Melakukan observasi awal terhadap pelatih dan peserta ekstrakurikuler tari di SMA Negeri 1 Kotabumi Lampung Utara.
4. Melakukan wawancara kepada kepala sekolah, guru, pelatih, serta peserta didik .
5. Menyusun rancangan penelitian setelah mengetahui permasalahan yang terletak pada siswa maupun guru dalam pembelajaran tari.
6. Menyiapkan perlengkapan penelitian yang akan digunakan dalam proses penelitian. Perlengkapan tersebut berupa lembar pengamatan peserta untuk mengamati perubahan karakter siswa dalam pembelajaran nilai gerak tari mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan ke delapan, lembar wawancara berupa pertanyaan yang harus dijawab oleh oleh pelatih dan peserta didik anggota ekstrakurikuler setelah delapan kali pertemuan selesai, dan alat dokumentasi yang berupa alat perekam suara , kamera handphone , kamera SLR, untuk mengambil gambar dan video semua aktivitas peserta.
kepada anggota ekstrakurikuler tari di SMA Negeri 1 Kotabumi apakah terjadi perubahan sikap setelah mempelajari nilai yang ada dalam gerak tari. Mengambil gambar dan merekan video juga dilakukan untuk mendokumentasikan semua aktivitas peserta selama pembelajaran tari berlangsung menggunakan kamera handphone dan SLR. Mencatat semua data tambahan yang diperoleh dari
lapangan ke dalam catatan lapangan. Semua data yang diperoleh kemudian dianalisis dalam analisis data. Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, ctatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat dengan mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Sugiyono, 2011: 244). Analisis data bertujuan untuk menyimpulkan hasil penelitian dari kemampuan peserta didik dalam mempelajari gerak tari serta makna yang terkandung didalamnya. Desain yang terakhir setelah semua dilaksanakan, yakni menulis hasil penelitian kedalam bentuk laporan penelitian.
3.2 Sumber Data
Data yang diambil dalam penelitian ini diperoleh dari sumber data melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi (Arikunto, 2009: 99). Subjek penelitian ini adalah guru, kepala sekolah, pelatih, dan tokoh adat dan siswa-siswi yang mengikuti ekstrakurikuler tari. Setiap subjek dalam penelitian ini dapat memberikan informasi yang berbeda-beda sesuai dengan perannya.
sekolah yaitu tentang struktur yang ada di sekolah tesebut. Sumber data yang didapatkan dari pelatih yaitu bagaimana proses kegiatan ekstrakurikuler tari berlangsung. Koreografer memberikan data-data tentang tari ngejuk ngakuk baik dari segi gerak maupun makna yang terkandung didalam nya. Tokoh adat memberikan informasi tentang pengertian dan pemahaman dari adat ngejuk ngakuk. Terakhir dari siswa sumber data yang didapat yakni proses perubahan apa
yang terjadi saat pembelajaran tari telah diberikan. Objek dalam penelitian ini adalah nilai budaya yang terkandung dalam tari ngejuk ngakuk dan penerapannya dalam pembelajaran seni tari di SMA Negeri 1 Kotabumi.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan hal yang sangat penting untuk mengumpulkan informasi yang ada menjadi sebuah data. Dalam penelitian ini ada tiga teknik pengumpulan data yaitu:
3.3.1 Observasi Berperan Serta (Participant Observation)
Penelitian ini dilakukan secara langsung dengan ikut serta dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Pada saat melakukan observasi, peneliti juga ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. Dengan demikian, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak (Sugiyono, 2015: 14).
melakukan observasi ke 2 dengan tujuan mencari informasi tentang permasalahan yang terjadi di SMA Negeri 1 Kotabumi secara langsung bertanya kepada pelatih ekstrakurikuler tari dan berinteraksi secara langsung dengan anggota ekstrakurikuler. Pada saat observasi lebih ditekankan pada pengamatan karakteristik siswa saat berada didalam kelas. Melalui observasi ini, peneliti berharap dapat memperoleh data tentang pembelajaran seni tari di SMA Negeri 1 Kotabumi sesuai dengan batasan masalah penelitian.
3.3.2 Wawancara
Penelitian ini dilakukan dengan tekhnik wawancara secara tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi lebih mendalam dari narasumber. Narasumber dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah, guru seni budaya, pelatih ekstrakurikuler, penata tari , dan tokoh adat. Hasil wawancara yang telah dilakukan dari berbagai nara sumber di catat dan direkam dengan menggunakan recorder handphone.
3.3.3 Dokumentasi
Data tambahan untuk melengkapi data setelah dilakukan observasi dan wawancara yang berupa buku, tulisan, gambar, dan video. Dokumentasi dilakukan dari awal observasi, wawancara sampai akhir penelitian. Pendokumentasian ini mengunakan handphone merk Iphone 5 32gb , DSLR merek canon tipe EOS 600D. Data yang diperoleh dari hasil pendokumentasian ini antara lain :
3.3.4 Tes Praktik
Mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik dapat dilakukan menggunakan beberapa tes untuk melihat sampai sejauh mana peserta didik melakukan proses pembelajaran di ekstrakurikuler tari. Instrumen yang digunakan berupa lembar pengamatan tes hasil praktik siswa, lembar pengamatan aktivitas belajar siswa dan lembar pengamatan aktivitas guru. Lembar pengamatan tes praktik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Pengamatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran nilai dan gerak tari ngejuk ngakuk
No ASPEK INDIKATOR DESKRIPTOR
KATEGORI ada tidak
1 percaya diri
1. Sikap Awal
1. Posisi badan siap untuk menerima materi gerak
2. Posisi awal sesuai dengan komposisi pola lantai
3. Tidak berbicara saat akan melakukan gerak
2. Sikap saat menari
1. Ekspresi yang
[image:67.595.110.540.321.751.2]2. Tidak gugup ketika akan melakukan gerak satu ke gerak selanjutnya
2
Tanggung Jawab
1. Penyelesaian Gerak
1. Dapat menyelesaikan gerak dari awal hingga akhir
2. Dapat menyelesaikan gerak dari awal hingga akhir dengan pola lantai
3. Dapat menyelesaikan gerak dari awal hingga akhir dengan
menggunakan musik
3 Konsentrasi
1. Fokus dalam Menari
1.Tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitar
2. Tidak melakukan kesalahan dalam gerak
4 Kecekatan
1.Improvisasi dalam Gerak
1.Sigap ketika melakukan kesalahan dalam gerak
2.Sigap dalam menggunakan properti
Instrumen ini digunakan untuk melihat adanya nilai yang muncul dalam setiap pertemuan. Apabila telah dilakukan maka kolom-kolom ini akan diberi chek list sebagai penanda
3.4 Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Langkah-langkah analisis data ialah sebagai berikut. Hasil analisis disusun untuk mendeskripsikan tentang penerapan nilai karakter tari ngejuk ngakuk dalam masyarakat abung Lampung Utara pada ektrakurikuler di SMA Negeri 1 Kotabumi. Proses analisis data tidak terlepas dari langkah-langkah menurut para ahli yaitu :
1. Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data, merangkum data, memilih hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal penting, dan disusun secara sistematis dalam bentuk uraian atau laporan terperinci. Data dalam penelitian ini berupa hasil pengamatan nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi. Data dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara dengan guru, yang didapat dari proses pengamatan selama pembelajaran dengan melihat masalah yang terjadi pada setiap pertemuan dan aktivitas belajar siswa. Data yang dikumpulan berupa foto, video, serta catatan lapangan.
Penyajian data dalam penelitian ini adalah hasil pengamatan yang diperoleh dari hasil nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi.
5.1 Simpulan
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari Ngejuk Ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi. Deskripsi dimulai dari data proses pembentukan karakter peserta didik dalam pembelajaran tari Ngejuk Ngakuk yang dilanjutkan dengan nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk di ekstrakurikuler tari SMA Negeri 1 Kotabumi
Pembentukan karakter peserta didik dalam pembelajaran tari Ngejuk Ngakuk di ekstrakurikuler tari memiliki nilai 4 aspek penilaian yaitu percaya diri, tanggung jawab, konsentrasi dan kecekatan. Nilai tersebut di ajarkan melalui gerak tari yang ada dalam ragam gerak tari Ngejuk Ngakuk antara lain gerak Lapah tebeng, samber melayang, mampan bias, kimbang, lenggang tolak tebeng, maku racang,
ngecum, nyubuk, petikan, ayun ganung, silat (amuk), cemengguk permisei,
mejong tabik, ngecum, ngakuk, panggow, simpuh.
tidak mengalami peningkatan dalam pembelajaran gerak yang mempengaruhi nilai yang muncul. Hal ini dikarenakan kemapuan peserta didik dalam memiliki kemampuan yang berbeda-beda yang kemudian berpengaruh pada muncul tidaknya nilai yang ada.
Pada pertemuan satu belum muncul adanya nilai karakter pada peserta didik yang. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena peserta didik membutuhkan suatu proses penyesuaian dalam melakukan pembelajaran. Apabila tidak adanya nilai yang muncul pada peserta didik, berarti peserta didik membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembentukan karakter melalui pembelajaran gerak tari.
Pada pertemuan kedelapan akan dilihat nilai karakter yang muncul dalam pembelajaran tari ngejuk ngakuk dari proses pertemuan pertama hingga pertemuan ketujuh. Pada pertemuan pertama sampai ketujuh nilai yang muncul dari peserta didik tidak stabil Hingga pada akhirnya, pada pertemuan kedelapan nilai yang muncul dalam pembelajaran mengalami penurunan dari pertemuan ke tujuh.
dalam menerima gerak baru yang diberikan pelatih sebab hal ini berpengaruh dengan nilai percaya diri pada sikap awal dalam menari. Kemampuan awal peserta didik sangat berpengaruh dalam nilai percaya diri dan konsistensi. Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih akan terlihat lebih pecaya diri dan konsisten dalam melakukan gerak dibandingkan peserta didik yang memiliki kemampuan kurang.
Jika diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari proses pembentukan karakter melalui pembelajaran gerak tari ngejuk ngakuk ini berdampak terhadap rasa percaya diri siswa baik ketika menari maupun dalam bergaul dengan teman. Tanggung jawab antar kelompok dalam gerak mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari contohnya siswa secara mandiri membersihkan dan menyiapkan ruangan kelas sebelum dan sesudah latihan dimulai. Siswa juga terlihat lebih cekatan mengajari teman sekelompoknya yang masih kurang paham. Siswa juga terlihat lebih fokus saat diberikan pengarahan tentang cerita dari tari yang diajarkan sehingga pada saat pelatih bertanya tentang bagaimana maksud dari tarian tersebut siswa mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar.
terhadap pembentukan karakter siswa, ektrakurikuler lain juga ikut berperan aktif dalam hal ini.
5.2 Saran
Berdasarkan simpulan di atas, terdapat beberapa saran untuk pembentukan nilai karakter dalam proses pembelajaran tari Ngejuk ngakuk di SMA Negeri 1 Kotabumi Lampung Utara, yaitu :
1. Sekolah sebaiknya mengharuskan setiap peserta didik untuk ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler agar peserta didik memiliki kegiatan yang positif dan dapat mengurangi terjadinya hal-hal negatif yang dilakukan oleh remaja karena ekstrakurikuler tari saja tidak dapat menjadi jaminan untuk siswa agar dapat membentuk karakter yang baik apabila tidak didukung dengan ekstrakurikuler yang lain.
2. Pelatih hendaknya memberikan tekhnik dasar tari agar peserta didik dapat dengan mudah menerima gerak sesuai dengan nilai karakter yang ada di dalamnya. Peserta didik juga membutuhkan bimbingan pelatih dalam melakukan pemanasan dan membutuhkan pengetahuan tentang tekhnik tekhnik tari agar tubuh peserta didik semakin siap dalam menari mulai dari kepala, badan, tangan, hingga kaki kemudian memberikan kebutuhan dalam gerak.
Abung : Bagian dari masyarakat pepadun Abung Siwo Mego : Sembilan marga masyarakat abung
Adek / Adok : Gelar adat yang diberikan ketika seseorang menikah Anak Tuha : Salah satu marga dari masyarakat abung
B
Begawi : Mengadakan pesta adat
Beliuk : Salah satu marga dari masyarakat abung
Bumbang Aji : Salah satu syarat pernikahan secara resmi yang diminta oleh sang gadis kepada calon mempelai pria.
Bumbang Ratu : Salah satu syarat pernikahan secara resmi yang diminta oleh sang gadis kepada calon mempelai pria.
C
Cangget : Tari atau pentas adat atau upacara adat pada masyarakat Lampung pepadun, sebagai ungkapan rasa gembira dari gawi yang baru saja dilaksanakan, Cangget merupakan sarana bertemunya muda-mudi di balai adat sebagai wakil dari orang tua mereka, yang ditempatkan sesuai dengan kedudukan kepunyimbangan orang tuanya.
G
Gawi Adat : Kerja adat, pesta adat
I
Juluk Adek : Salah satu falsafah piil pesenggiri
K
Keterem : Langgaran
Kutobumi Tigo Gandung : Mayarakat Adat
N
Nengah Nyappur : Salah satu falsafah Piil Pesenggiri yang memiliki makna sosialisasi dan keahlian berkomunikasi.
Nemui Nyimah : Salah satu falsafah Piil Pesenggiri yang memiliki makna keahlian bertamu dan menerima tamu.
Ngejuk Ngakuk : Prosesi adat penyerahan dan pengembilan seorang gadis kepada pihak mempelai pria.
Nuban : Salah satu marga dari masyarakat abung Nyerupa : Salah satu marga dari masyarakat abung
P
Panggeh : Proses mengangkat muli dari rumah menuju sesat yang dilakukan oleh paman atau saudara lelakinya.
Penguten : Salah satu penghormatan masyarakat Lampung kepada tamu dengan memberikan sekapur sirih.
Pepadun : Salah satu suku besar di Lampung.
Piil Pesenggiri : Falsafah hidup masyarakat Lampung yang memiliki makna harga diri masyarakat Lampung.
R
Sakai Sambayan : Salah satu falsafah Piil Pesenggiri yang memiliki makna gotong royong dan bekerja sama.
Sebumbangan : Prosesi pernikahan dengan cara larian di mana sang gadis akan di bawa pergi oleh sang pria ke rumah sanak
saudara atau orang tuanya dengan meninggalkan surat atau harta benda secara diam-diam.
Sesat : Rumah adat masyarakat Lampung, berupa rumah panggung.
Subing : Salah satu marga dari masyarakat abung
Sutan : Raja dalam bahasa Lampung.
T
Tiyuh : Desa dalam Bahasa Lampung.
U
Alfan, Muhammmad. 2013. Pengantar Filsafat Nilai. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Budiningsih, Asri. 2013. Pembelajaran Moral. Jakarta: Rineka Cipta.
Dewantara, K H. 1977. Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Hariyanto. 2012. Pendidikan Karakter. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Kekerasan seksual terhadap anak. 06 April 2017. Tribun, hlm 10
Kurnia, Nabilla. 2017. Aktualisasi Nilai Budaya Piil Pesenggiri dalam Upcara Cangget dan Relevansinya dengan Pendidikan Karakter. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta
Kurniasih, Imas.2015. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran. Yogyakarta : Kata Pena.
Lickona, Thomas. (2012). Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. (Terjemahan oleh Lita S). Jakarta: Bumi Aksara. (Buku asli diterbitkan tahun 2008).
Martiara, Rina. 2012. Nilai dan Norma Budaya Lampung dalam Sudut Pandang Strukturalisme. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Merdapi, Djemari. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Non Tes. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press
Mudhofir, Ali. (2014). Kamus Filsafat Nilai. Jakarta: Yayasan Kertagama.
Mustika, I Wayan. 2010. Teknik Dasar Gerak Tari Lampung. Lampung : Buana Cipta.
Pustaka Pelajar.
Rahayu, Nani. 2017. Hasil Wawancara Supadmi“Ragam Gerak serta Makna Tari Ngejuk Ngakuk” .Kotabumi : Dokument Pribadi.
---, Nani. 2017. Hasil Wawancara Supadmi “Sejarah Terbentuknya Tari NgejukNgakuk”.Kotabumi : Dokument Pribadi.
Ratna, Khuta Nyoman. 2013. Karya Sastra Seni dan Budaya dalam Pendidikan Karakter. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sedyawati, Edi. 1984. Tari Tinjauan dari Berbagai Segi. Bandung : Fa Ekonomi. Sistem Pendidikan Indonesia. 12 Mei 2016. Kompas, hlm 12..
Sudarminta, J. 2008. Nilai Etika Aksiologis Max Scheler. Yogyakarta : Kansius. Sugiyono. 2015. Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung
: Alfabeta.
---, 2016. Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sujarweni, Wiratna. 2014. Metodelogi Penelitian. Yogjakarta. PUSTAKABARUPRES.