Manifetasi Oral Jamur Aspergillus Niger/ Brasilliensis Strain
ATCC
®16404
™pada Mukosa Gingiva Mandibula
(Penelitian pada Tikus Wistar)
(Oral Manifestation Aspergillus Niger/ Brasilliensis Strain ATCC
®16404
™in the
Mandibular Gingival Mucosa {Research on Wistar Rats})
Danang Bayu*, Fanny M. Laihad**, Nafi’ah***
* Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah Surabaya ** Departemen Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah Surabaya ***Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah Surabaya
ABSTRACT
Background: Aspergillosis is an invasive infection caused by Aspergillus niger or Aspergillus brasiliensis and appears as a fungal infection which can cause severe infection past two decades. No studies on the effect of invasive fungal injection Aspergillus niger systemically through the rat’s tail (intravenous) in the gingival mucosa of mandible. Objective: To identify the fungus Aspergillus brasiliensis Strain ATCC® 16404™ in the gingival mucosa of
mandible on days 3, 5, and 7 after injection of Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ systemically. Material and methods : The study used a post-test only control group design. Thirty-two adult male Wistar rats were devided 4 groups. Group (K) swabbed in the gingival mucosa of mandible on day 3, the group (P1) swabbed on day 3 after injection, the group (P2) swabbed on day 5 after injection, the group (P3) swabbed on day 7 after injection. Rats injected with 0.1 ml fungal Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ 0.5 McFarland through rat’s tail
(intravenous). After the swab, examination of media culture Saboroud’s Dextrose Agar (SDA) with a streak technique plate and incubated (37°C) for 48 hours. Then the colonies were counted and continued with microscopic examination by staining Lactophenol Cotton Blue (LCB). The number of fungi analyzed by Kruskal-Wallis. Result : Mean group K: 0.000 ± 0.000, P1: 0.750 ± 0.412, P2: 00.500 ± 0.327, P3: 0.630 ± 0.324. From the Kruskal-Wallis test results showed that there was no significant difference between all groups. Conclusion : Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ can manifest in the gingival mucosa of mandible on days 3, 5, and 7 after injection of
Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ systemically.
Keywords : Invasive fungal infection, aspergillus niger, aspergillosis, fungal colony.
Correspondence: Fanny M. Laihad, Department of Oral Surgeon, Faculty of Dentistry, Hang Tuah University, Arif Rahman Hakim 150, Surabaya, Indonesia. Phone 031-5945894
ABSTRAK
Latar belakang : Aspergillosis adalah infeksi invasif yang disebabkan oleh jamur Aspergillus niger atau Aspergills
brasiliensis dan muncul sebagai infeksi jamur yang bisa menyebabkan infeksi yang parah selama dua dekade terakhir
ini. Belum ada penelitian mengenai pengaruh injeksi jamur invasif Aspergillus niger secara sistemik melalui ekor tikus (intravena) pada mukosa gingiva mandibula. Tujuan : Mengidentifikasi adanya jamur Aspergillus brasiliensis
Strain ATCC® 16404™ di mukosa gingiva mandibula pada hari ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur Aspergillus
Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ secara sistemik. Bahan dan metode : Penelitian menggunakan post test only
control group design. Tiga puluh dua tikus wistar jantan dewasa dibagi 4 kelompok. Kelompok (K) dilakukan swab
pada mukosa gingiva mandibula pada hari ke-3, kelompok (P1) dilakukan swab pada hari ke-3 setelah injeksi, kelompok (P2) dilakukan swab pada hari ke-5 setelah injeksi, kelompok (P3) dilakukan swab pada hari ke-7 setelah injeksi. Tikus disuntik 0,1 ml jamur Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ 0,5 McFarland melalui ekor tikus
(intravena). Setelah swab, dilakukan pemeriksaan kultur media Saboroud’s Dextrose Agar (SDA) dengan teknik
streak plate dan diinkubasi (37°C) selama 48 jam. Kemudian dilakukan penghitungan koloni dan dilanjutkan dengan
pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan Lactophenol Cotton Blue (LCB). Data jumlah jamur dianalisis dengan
Kruskal-Wallis. Hasil : Rata-rata kelompok K: 0.000 ± 0.000, P1: 0.750 ± 0.412, P2: 00.500 ± 0.327, P3: 0.630 ±
0.324. Dari hasil uji Kruskal-Wallis didapatkan tidak adanya perbedaan yang bermakna antara semua kelompok.
Kesimpulan : Jamur Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ dapat bermanifestasi di mukosa gingiva
mandibula pada hari ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ secara
sistemik
Kata kunci : Infeksi jamur invasif, Aspergillus niger, aspergillosis, koloni jamur
Korespondensi: Fanny M. Laihad, Bagian Bedah Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hang Tuah, Arif
PENDAHULUAN
Di dunia saat ini ada kurang lebih 100.000 jenis jamur, namun dari semua itu hanya sedikit yang mempunyai sifat patogen bagi manusia, dan sebagian besar menunjukkan distribusi berbeda. Spesies
Aspergillus telah muncul sebagai penyebab
penting dari infeksi pada pasien
immunocompromised, dan sampai sekarang
dianggap sebagai penyebab infeksi yang tidak biasa dan ini dapat mengancam jiwa. Spesies
aspergillus bisa muncul sebagai penyebab
penting morbiditas dan mortalitas pada pasien
immunocompromised1. Dan yang sering
menyebabkan infeksi adalah Aspergillus
fumigatus, Aspergillus flavus,Aspergillus terreus dan Aspergillus niger.
Aspergillus niger lebih jarang
dilaporkan sebagai penyebab infeksi jamur invasif, akan tetapi telah dikaitkan dengan otomycosis . Tetapi ada beberapa kasus infeksi jamur aspergillus niger terjadi pada bagian maksila, hal ini telah ditemukan di Eropa 2 (dua) kasus yaitu di Italia dan Belanda , di Amerika dan Kanada dilaporkan terdapat 4 (empat) kasus , Oman 1 (Satu). Beberapa kasus juga ditemukan di mandibula seperti laporan kasus infeksi sekunder
mandibula pada pasien perempuan 35 tahun2.
Lokasi yang paling sering terkena infeksi
Aspergillus niger adalah gingiva, diikuti
dengan langit-langit keras. Mukosa ulserasi yang nekrotik dapat berkembang dan mempengaruhi tulang. Sebuah kasus yang melibatkan mandibula juga telah dilaporkan
setelah pencabutan gigi pada pasien diabetes1.
Aspergillus niger dapat menghasilkan berbagai metabolit jamur, disebut mikotoksin. Mikotoksin yang dihasilkan oleh aspergillus
niger dapat menyebabkan beberapa penyakit ,yaitu hati, ginjal, system saraf, otot, kulit, organ pernafasan, saluran pencernaan, organ genital1.
Infeksi jamur Aspergillus ini cukup berbahaya bagi manusia ,dikarenakan efek yang ditimbulkan juga dapat menyerang organ-organ di dalam tubuh seperti paru, telinga dan rongga mulut. Sehingga banyak penelitian dilakukan untuk menemukan obat infeksi jamur ini. Untuk saat ini pengobatan aspergillosis invasif dilakukan dengan beberapa obat antijamur sistemik termasuk vorikonazol, amfoterisin B, itrakonazol,
posaconazole, caspofungin, dan micafungin4.
Penelitian dari Henry Christianto pada tahun
2014 ditemukan manifestasi jamur Rhizopus
oryzae CBS 110.17 di maksila pada hari ke
3,5, dan 75. Pada penelitian sebelumnya telah
diteliti tentang manifestasi oral jamur
Aspergillus Niger secara sistemik di mukosa
rongga mulut maksilla oleh Yanuardi Kristandia pada tahun 2014 dan didapatkan hasil yaitu jamur Aspergillus niger dapat bermanifestasi pada mukosa gingiva rongga mulut maxilla setelah diinjeksikan jamur
Aspergillus niger secara sistemik6.
Aspergillus niger dapat menghasilkan mycotoxin tertentu yang heptocarcinogenic,
imunologi nefrogenik di alam. Efek yang terjadi meliputi penurunan respon antibodi, pengurangan ukuran organ antibodi dan perubahan pada produksi sitokin yang mana pada protein dan peptida khusus yang
digunakan dalam sinyaling3. Efek dari
mycotoxin tersebut menyebabkan jamur Aspergillus Niger dapat berproliferasi ke
dalam pembuluh darah. Aspergillus niger yang masuk ke dalam pembuluh darah, menyebar dan berkoloni di seluruh tubuh.
Berdasarkan penelitian di atas saya tertarik untuk meneliti jamur Aspergillus
niger pola manifestasinya jamur di mandibula. Model hewan coba yang digunakan yaitu tikus wistar (rattus novergicus strain wistar). Berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut, maka kami akan melakukan penelitian manifestasi oral jamur
aspergillus niger/ brasiliensis strain ATCC®16404™ pada mukosa gingiva
mandibula tikus wistar. BAHAN DAN METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental laboratories dengan rancangan penelitian post test only control
group design. Teknik pengambilan sampel
adalah secara simple random sampling. Tiga puluh dua tikus wistar jantan dewasa dibagi 4 kelompok. Kelompok (K) dilakukan swab pada mukosa gingiva mandibula pada hari ke-3, kelompok (P1) dilakukan swab pada hari ke-3 setelah injeksi, kelompok (P2) dilakukan
swab pada hari ke-5 setelah injeksi, kelompok
(P3) dilakukan swab pada hari ke-7 setelah injeksi. Tikus disuntik 0,1 ml jamur
Aspergillus Niger/ Brasilliensis Strain ATCC®
16404™ 0,5 McFarland melalui ekor tikus
pemeriksaan kultur media Saboroud’s
Dextrose Agar (SDA) dengan teknik streak plate dan diinkubasi (37°C) selama 48 jam.
Kemudian dilakukan penghitungan koloni dan dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan Lactophenol
Cotton Blue (LCB). Data jumlah jamur
dianalisis dengan Kruskal-Wallis. HASIL
Data yang diperoleh dari hasil penelitian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran distribusi dan ringkasan data guna memperjelas penyajian hasil, kemudian dilakukan uji statistik analitik dengan nilai signifikansi 95% (p=0,05) dengan menggunakan program SPSS versi 16. Tabel 1. Rata-rata dan simpangan baku jumlah
Aspergillus Niger pada mukosa gingiva
mandibula pada hari ke 3, 5, dan 7 setelah
diinjeksi jamur Aspergillus Niger/
Brasilliensis Strain ATCC® 16404™ secara
sistemik.
Perlakuan Rata-rata ± Std. Deviasi
K 0.000 ± 0.000
P1 0.750 ± 0.412
P2 0.500 ± 0.327
P3 0.630 ± 0.324
Berdasarkan tabel 1, didapatkan jumlah rata-rata yang paling tinggi dari jamur
Aspergillus Niger pada kelompok P1 dan P3.
Terjadi penurunan jumlah koloni pada kelompok P2. Dan jumlah koloni yang paling rendah terdapat pada kelompok K.
Tabel 2. Hasil uji nomalitas jumlah Aspergillus
Niger pada mukosa gingiva mandibula pada hari
ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur
Aspergillus Niger/ Brasilliensis Strain ATCC®
16404™secara sistemik. Perlakuan Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. K .000 8 .000 P1 .724 8 .004 P2 .566 8 .000 P3 .693 8 .002
Tabel 3. Hasil uji Levene jumlah Aspergillus
Niger pada mukosa gingiva mandibula pada hari
ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur
Aspergillus Niger/ Brasilliensis Strain ATCC®
16404™secara sistemik.
Berdasarkan hasil uji Levene statistic pada tabel 3, dapat dilihat bahwa variabel jumlah Aspergillus Niger pada mukosa gingiva mandibula pada hari 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur Aspergillus Niger/
Brasilliensis Strain ATCC® 16404™ secara
sistemik memiliki varians yang tidak homogen karena p=7.948 (p>0,05). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tersebut adalah tidak homogen. Tabel 4. Hasil uji Kruskal-Wallis jumlah
Aspergillus Niger pada mukosa rongga mulut
pada hari ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur
Aspergillus Niger/ Brasilliensis Strain ATCC®
16404™secara sistemik.
Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis pada tabel 4, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,292 (p>0,05). Hal ini menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna.
Berdasarkan data tersebut, maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa jamur Aspergillus Niger/ Brasilliensis
Strain ATCC® 16404™ bermanifestasi di
mukosa gingiva mandibula pada hari ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur Aspergillus
Niger/ Brasilliensis Strain ATCC® 16404™
secara sistemik dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna.
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya jamur Aspergillus
niger pada mukosa gingiva mandibula pada
hari 3, 5 dan 7 setelah diinjeksi jamur
Aspergillus niger secara sistemik. Objek
penelitian dibagi dalam 4 kelompok, yaitu kelompok (K) merupakan kelompok kontrol tanpa adanya perlakuan (hanya dilakukan
swab) pada hari ke-3; kelompok (P1)
merupakan kelompok perlakuan dengan pemberian jamur Aspergillus niger secara sistemik melalui ekor tikus (intravena) lalu dilakukan swab pada hari ke-3 setelah injeksi;
Levene Statistic Sig.
7.948 .001
Variabel Sig.
kelompok (P2) merupakan kelompok perlakuan dengan pemberian jamur
Aspergillus niger secara sistemik melalui ekor
tikus (intravena) lalu dilakukan swab pada hari ke-5 setelah injeksi; dan kelompok (P3) merupakan kelompok perlakuan dengan pemberian jamur Aspergillus niger secara sistemik melalui ekor tikus (intravena) lalu dilakukan swab pada hari ke-7 setelah injeksi. Ruangan kelompok (K) dipisah dengan ruangan (P1), (P2), dan (P3).
Swab mukosa gingiva mandibula
dipilih pada hari ke 3, 5, dan 7 berdasarkan
pengamatan7. Penelitian ini menggunakan
hewan percobaan yaitu Rattus Norvegicus
Strain Wistar, karena menurut8 dan Rukmini9
tikus wistar jenis ini memiliki karakteristik tertentu, sifat struktur anatomi, dan zat gizi yang diperlukan relatif serupa dengan manusia, serta mempunyai kesamaan dengan aspek fisiologis metabolisme manusia. Tikus wistar yang digunakan adalah jenis kelamin jantan dengan berat 170-190 gram, umur 3 bulan, sehat dan berkualitas sesuai dengan materi penelitian. Hal ini dikarenakan untuk menghindari adanya pengaruh hormonal dalam proses penyembuhan dan memudahkan penanganan, serta pemeliharaan karena tubuhnya kecil10, 11.
Dari berbagai kasus yang telah dilaporkan di hampir semua tempat di seluruh dunia, paling banyak menyerang maxilla dibandingkan dengan mandibula. Karena pada pasien immunocompromised, sinus hidung atau sinus maxilla tampak sebagai sumber utama infeksi jamur saluran
pernafasan12. Maxilla adalah salah satu tulang
wajah yang kaya akan suplai vaskular13.
Ketika infeksi timbul dari hidung atau sinus paranasal, infeksi dapat menyebabkan ulser palatal berkembang menuju nekrosis. Menyerang pembuluh darah dan selanjutnya menyebar melaluinya. Setelah hifa jamur masuk ke dalam aliran darah, mereka dapat menyebar ke organ yang lain seperti otak atau
paru-paru14, 15. Bila infeksi menyebar, temuan
klinis dapat muncul di mana saja yaitu di
rongga mulut termasuk mandibula16.
Tujuan khusus yang pertama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah koloni jamur Aspergillus niger /
brasiliensis di mukosa mandibula pada hari
ke-3 setelah injeksi jamur Aspergillus
Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ secara
sistemik dengan dosis 106 CFU setara dengan
0,5 McFarland17. Pada hari ke-3 kelompok
yang dilihat adalah kelompok (K) dan P1. Pada penelitian ini ruangan kelompok (K) dan kelompok perlakuan dipisah, dan dari data tabel 5.1 dan 5.2 menunjukkan data rata-rata 0.000 yang berarti tidak ada jamur
Aspergillus niger, namun kelompok (K)
terkontaminasi jamur lain, yaitu rhizopus
oryzae hal ini bisa disebabkan karena
lingkungan ruangan kelompok (K) yang kurang bersih. Sehingga beberapa hewan percobaan dari kelompok (K) juga terkontaminasi. Karena jamur rhizopus
oryzae dapat ditemukan dalam buah-buahan,
tanah, kotoran3.
Sedangkan pada (P1) didapatkan hasil dari tabel 5.1 dan 5.2 adalah 0.750 sehingga menjadi jumlah koloni jamur
Aspergillus niger tertinggi dibanding dengan
kelompok (P2) maupun (P3), meskipun begitu kelompok (P1) juga tidak luput terkontaminasi jamur lain, yaitu Rhizopus
oryzae. Hal ini disebabkan karena dalam satu
ruangan yang sama terdapat hewan coba lain yang mendapat perlakuan injeksi jamur tersebut sehingga menyebabkan kelompok (P1) terkontaminasi. Pada dasarnya jamur
Rhizopus oryzae Dapat menyebar melalui
udara dan dapat dengan mudah terhirup sehingga menyebabkan infeksi jamur sistemik7, 3. Dari hasil penelitian dan teori
tersebut dapat diketahui bahwa terdapat manifestasi jamur Aspergillus niger pada mukosa gingiva mandibula pada hari ke-3 setelah injeksi jamur Aspergillus Brasiliensis
Strain ATCC® 16404™ secara sistemik dengan
dosis 106 CFU setara dengan 0,5 McFarland.
Tujuan khusus yang kedua dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah koloni jamur Aspergillus niger / brasiliensis di mukosa mandibula pada hari ke-5 setelah injeksi jamur Aspergillus Brasiliensis Strain
ATCC® 16404™ secara sistemik dengan dosis
106 CFU setara dengan 0,5 McFarland17. Pada
hari ke-5 kelompok yang dilihat adalah kelompok (P2). Pada penelitian (P2) didapatkan hasil perhitungan pada tabel 5.1 dan 5.2 yaitu 0.500 yang artinya jumlah koloni jamur Aspergillus niger paling rendah dibanding dengan kelompok (K), (P1) maupun (P3), pada kelompok (P2) juga terkontaminasi jamur lain, yaitu Rhizopus
oryzae. Hal ini disebabkan karena jamur Rhizopus oryzae Dapat menyebar melalui
sehingga menyebabkan infeksi jamur sistemik7, 3. Dari hasil penelitian dan teori
tersebut dapat diketahui bahwa terdapat manifestasi jamur Aspergillus niger pada mukosa gingiva mandibula pada hari ke-5 setelah injeksi jamur Aspergillus Brasiliensis
Strain ATCC® 16404™ secara sistemik dengan
dosis 106 CFU setara dengan 0,5 McFarland.
Jumlah jamur Aspergillus niger pada hari ke 3 dan 5 yaitu kelompok P1 dan P2 lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (K) dikarenakan faktor kadar pH dalam mulut dan efek sistem imunitas seperti neutropenia. Kadar pH dalam mulut dapat mempengaruhi muncul atau tidaknya jamur pada mukosa rongga mulut. Pertumbuhan Aspergillus niger didukung oleh pH asam (7,3-6,88) tetapi tidak pada pH basa
(7,78-8,38)18, 19. pH asam menyebabkan
pemisahan zat besi bebas dari protein. Pelepasan zat besi bebas ini memungkinkan pertumbuhan jamur yang cepat. Defek pada mekanisme pertahanan fagositosis, misalnya, kekurangan jumlah sel (neutropenia) memungkinkan proliferasi jamur meningkat. Akhirnya, kerusakan sel endotel yang diakibatkan oleh jamur memungkinkan terjadinya angioinvasion jamur dan trombosis pembuluh darah dan selanjutnya nekrosis jaringan dan penyebaran infeksi jamur19.
Sedangkan tujuan khusus yang ketiga dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah koloni jamur Aspergillus niger /
brasiliensis di mukosa mandibula pada hari
ke-7 setelah injeksi jamur Aspergillus
Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ secara
sistemik dengan dosis 106 CFU setara dengan
0,5 McFarland17. Pada hari ke-7 kelompok
yang dilihat adalah kelompok (P3). Pada penelitian (P3) hasil rata-rata pada tabel 5.1 dan 5.2 adalah 0.630 yang berarti jumlah koloni jamur Aspergillus niger lebih tinggi dari (P2) namun masih lebih rendah dibanding (P1), pada kelompok (P3) juga tidak luput terkontaminasi jamur lain, yaitu
Rhizopus oryzae. Hal ini disebabkan karena
dalam satu ruangan yang sama terdapat hewan coba lain yang mendapat perlakuan injeksi jamur tersebut sehingga menyebabkan kelompok (P3) terkontaminasi. Teori menyatakan yang masuk ke dalam pembuluh darah (Angioinvasion), dapat menyebar dan berkoloni di seluruh tubuh hingga ke rongga mulut14, 15. Pada dasarnya jamur Rhizopus oryzae Dapat menyebar melalui udara dan
dapat dengan mudah terhirup sehingga
menyebabkan infeksi jamur sistemik7, 3. Dari
hasil penelitian dan teori tersebut dapat diketahui bahwa terdapat manifestasi jamur
Aspergillus niger pada mukosa gingiva
mandibula pada hari ke-7 setelah injeksi
jamur Aspergillus Brasiliensis Strain ATCC®
16404™ secara sistemik dengan dosis 106
CFU setara dengan 0,5 McFarland.
Dari tabel 5.1 diketahui rata-rata dari kelompok (K) adalah 0.000, kelompok (P1) adalah 0.750 kemudian (P2) adalah 0.500 dan pada kelompok (P3) yaitu 0.630, itu berarti bahwa jumlah jamur tertinggi ada pada kelompok (P1), setelah itu kelompok (P3) kemudian kelompok (P2) dan yang terakhir adalah kelompok (K).
Kemudian dari hasil uji hipotesis menggunakan uji kruskal-wallis pada tabel 5.4 didapatkan jamur Aspergillus Brasiliensis
Strain ATCC® 16404™ bermanifestasi di
mukosa gingiva mandibula pada hari ke 3, 5, dan 7 setelah diinjeksi jamur Aspergillus
Brasiliensis Strain ATCC® 16404™ secara
sistemik dan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna karena kelompok P1 dan P3 memiliki jumlah rata-rata koloni jamur yang sama.
Perlu untuk diketahui bahwa ada perbedaan antara sistem imunitas dari spesies binatang yang berbeda, yang dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam perlawanan terhadap infeksi jamur atau mikosis20.
Namun pada penelitian ini variabel terkendali belum benar-benar bisa dikontrol, karena adanya kesalahan dalam prosedur penelitian pada penekanan saat melakukan swab, sehingga jamur tidak melekat pada
cotton sweb dan saat melakukan inokulasi
hasil swab jamur tidak berpindah dari cotton
sweb dan nutrient agar21. DAFTAR PUSTAKA
1.
Schutz P and Ibrahim H. 2013. Nonodontogenic oral and maxillofacial
infections. Available from
http://cdn.intechopen.com/pdfs/41009
acial_infections.pdf. Accessed 12.2016.h.3
2. Sumeet Sandhu, Tejinder Kaur. 2003 Aspergillosis: A rare case of secondary delayed mandibular
involvement. Quintessence
International. Hal 139-142
3.
Gautam AK, Sharma S, Avasthi S,Bhadauria R. 2011.
Diversity,Pathogenicity,and Toxiology of A.niger : An Important Spoilage Fungi. Jiwaji University Gwalior.
Available from
http://docsdrive.com/pdfs/academicjo urnals/jm/2011/270-280.pdf. Accessed 22.2016.h.7
4. Hospenthal, Duane R. Rinaldi, Michael G. 2015. Diagnosis and Treatment of Fungal Infections second edition. Springer International Publishing Switzerland. Page 129-134 5. Nugroho HCA. 2015. Manifestasi Jamur Rhizopus Oryzae Strain: CBS 110.17 pada Mukosa Rongga Mulut Akibat Infeksi Sistemik pada Tikus Wistar. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Hang Tuah. Surabaya.
6. Kristandia Y. 2015. Pengaruh induksi
Aspergillus Niger/Brasililensis STRAIN ATCC®16404™ Secara
Sistemik dan Tindakan Pencabutan Gigi Terhadap Jumlah Koloni pada Mukosa Gingiva Maxilla. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Hang Tuah. Surabaya.
7. Oswal NP, Gadre PK, Sathe P, Gadre KS. 2012. Mucormycosis of Mandible with Unfavorable Outcome. CRD, Vol. 2012: 257940.
8. Ridwan Endi. 2013. Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan Dalam Penelitian. J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 3, Maret,2013 9. Rukmini A, 2007. Regenerasi Minyak
Goreng Bekas Dengan Arang Sekam Menekan Kerusakan Organ Tubuh. Seminar Nasional Teknologi 2007. ISSN 1978-9777.
10. Suwandi T. 2012. Pemberian Ekstrak Kelopak Bunga Rosela Menurunkan Malondialdehid Pada Tikus Yang Diberi Minyak Jelatah. Tesis.
Universitas Udayana Denpasar. Hal 89-90
11. Ingriani N. 2012. Pemberian Ekstrak
Biji Irvingia gabonensis
MencegahKenaikan Berat Badan Dan Berat Lemak Abdominal Pada Tikus Jantan Yang Diberi Diet Tinggi Karbohidrat Dan Lemak. Tesis. Denpasar: Universitas Udayana 12. Mignogna. MD, Fortuna G, Leuci S,
Adamo D, Ruoppo E, Siano M, Mariani U. 2011. Mucormycosis in Immunocompetent Patient: a case-series of patients with maxillary sinus involvement and a critical review of the literature. International Journal of Infectious Disease, Vol. 15: e533-e540.
13. Kumar JA, Babu P, Prabu K, Kumar P. Mucormycosis in Maxilla: Rehabilitation of Facial Defects Using Interm Removable Prosthesis: A Clinical Case Report. J Pharm Bioallied Sci, Vol. 5 (2): s163-165. 14. Auluck A. 2007. Maxillary Necrosis
by Mucormycosis. A case report and literature review. Med Oral Patol Oral Cir Bucal, Vol. 12: e360-4.
15. Vaid NS, Athavale SA, Kale OS. 2005. Mucormycosis: A retrospective study. Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery Vol. 57 (2): 136-138.
16. Hingad N, Kumar G, Deshmukh R. 2012. Oral Mucormycosis Causing Necrotizing Lesion in a Diabetic Patient: A Case Report. International Journal of Oral & Maxillofacial Pathology, Vol. 3 (3): 08-12.
17. Lee Jeong Ah dan Chee Hee Youn, 2010, In Vitro Antifungal Activity of Equol against Candida Albicans, Departement of Cell Biology, Konyang University, P-1
18. Michael Glick. 2015. Burket’s ORAL MEDICINE 12th edition. People’s Medical Publishing House—USA Shelton, Connecticut. Hal 548
19. Spellberg B, Edwards Jr J, Ibrahim A. 2005. Novel Perspectives on Mucormycosis: Pathophysiology, Presentation, and Management.
Clinical Microbiology Reviews, Vol. 18 (3): 556–569.
20. Blanco JL, Garcia ME. Immune response to fungal infections. Veterinary Immunology and Immunopathology 125 (2008) 47–70. 21. Fatwa M, 2014, Isolasi Bakteri Pada