A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia.
Terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas dapat dilakukan melalui
berbagai cara salah satunya yaitu pendidikan, karena pendidikan merupakan usaha
sadar manusia untuk meningkatkan kemampuan diri dengan membina
potensi-potensi pribadi yang dimilikinya yaitu rohani (pikiran, karsa, rasa, serta cipta) dan
jasmani (panca indera berikut keterampilan-keterampilannya). Hal ini tercantum
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Begitu pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia, maka mutu pendidikan harus terus diperbaiki agar pendidikan yang
diterima calon sumber daya manusia dapat diserap dengan baik sehingga sumber
daya manusia yang tercipta memiliki kualitas yang baik. Perbaikan mutu
didikan adalah tugas semua pihak khususnya kepada guru sebagai tenaga
pen-didik. Guru sangat berperan penting dalam perbaikan mutu pendidikan karena
guru akan menciptakan anak didik yang berkualitas melalui proses pembelajaran.
yang bernilai pendidikan dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah
tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi edukatif harus menggambarkan
hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik dengan sejumlah pengetahuan
sebagai mediumnya yang biasanya terjadi pada proses belajar di sekolah.
Proses belajar di sekolah merupakan wahana pendidikan untuk membina dan
membentuk siswa ke arah kedewasaan dan dalam pelaksanaannya berpedoman
pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 41 Tahun 2007 tentang Standar
Proses Satuan Pendidikan pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan :
untuk satuan pendidikan mencakup perencanaan proses pembelajaran,
pe-laksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan
proses pembelajaran Hal ini berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan
nasional yang di dalamnya terdapat sejumlah mata pelajaran pokok dan
pen-dukung. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi Satuan Pendidikan pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa salah satu
di antara mata pelajaran pokok yang diajarkan kepada siswa adalah mata pelajaran
matematika.
Belajar matematika dapat membentuk siswa memiliki pola pikir yang sistematis
dan rasional, karena matematika adalah mata pelajaran yang terstruktur,
ter-organisasi, dan sifatnya berjenjang, artinya antara materi yang satu dengan yang
lainnya saling berkaitan. Untuk menguasai materi pelajaran matematika pada
tingkat kesukaran yang lebih tinggi, diperlukan penguasaan materi tertentu
sebagai pengetahuan prasyarat salah satunya yaitu dengan memiliki pemahaman
konsep yang baik sehingga memudahkan siswa dalam menerima materi
pintar dalam memilih model pembelajaran yang akan mendukung terjadinya
pemahaman konsep pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Pe-mahaman konsep yang lebih baik terjadi pada saat siswa menemukan sendiri
konsep dari materi pembelajaran dibandingkan dengan siswa yang menerima
langsung konsep dari guru.
Saat ini banyak model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses
pembel-ajaran, salah satunya yaitu model pembelajaran konvensional. Seperti yang
terjadi pada beberapa sekolah di Lampung Tengah, guru mengajar dengan
menggunakan pembelajaran konvensional selama proses pembelajaran di sekolah.
Pembelajaran konvensional yang berlangsung biasanya guru mengajar dengan
berpedoman pada buku teks atau LKS, dengan memberi materi melalui ceramah
atau memberikan langsung materi kepada siswa dan memberikan beberapa
pertanyaan kepada siswa, latihan soal kemudian pemberian tugas. Guru
mendominasi kegiatan pembelajaran atau dengan kata lain proses pembelajaran
ini berpusat pada guru. Selama proses pembelajaran ini siswa hanya
mendengar-kan atau mencatat apa yang disampaimendengar-kan guru, sehingga selama proses
pem-belajaran berlangsung siswa menjadi pasif dan mengalami kesulitan dalam
me-mahami konsep matematika karena tidak menemukan sendiri konsep dari materi
pembelajaran. Hal serupa juga terjadi di MTs-PSA Nurul Qodiri Way
Pengubuan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di MTs-PSA
Nurul Qodiri Way Pengubuan. Model pembelajaran yang digunakan adalah
model pembelajaran konvensional.
Selama proses pembelajaran guru mendominasi kegiatan pembelajaran dengan
berpedoman pada buku teks atau LKS. Guru memberikan langsung materi kepada
pemberian tugas, sedangkan siswa hanya memperhatikan, menjawab,
mendengarkan penjelasan guru dan mencatat bila ada yang perlu dicatat.
Pembelajaran konvensional mengakibatkan rendahnya pemahaman konsep yang
dimiliki oleh siswa, karena siswa menerima langsung dari guru konsep materi
pembelajaran. Rendahnya pemahaman konsep siswa khususnya pada bidang studi
matematika, terlihat dari nilai matematika ujian semester ganjil tahun pelajaran
2011/2012 hampir 60% siswa harus mengikuti proses remidial untuk mencapai
ketuntasan belajar yang telah ditetapkan.
Berdasarkan kondisi tersebut, perlu adanya penerapan model pembelajaran yang
lebih baik agar proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru dan siswa
menjadi lebih aktif. Sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep
matematika. Salah satu model pembelajaran yang ada adalah pembelajaran
kooperatif (cooperatif learning). Isjoni (2010) mengemukakan bahwa
pem-belajaran kooperatif adalah suatu model pempem-belajaran yang saat ini banyak
digunakan untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa
(student oriented). Pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat
bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang
lain.
Pembelajaran kooperatif terdiri dari berbagai tipe, salah satu model pembelajaran
kooperatif adalah think-pair-share (TPS). Trianto (2009) Pembelajaran TPS
dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland
pada tahun 1981. Model ini memberi waktu kepada para siswa untuk berpikir dan
tiga tahap yaitu berpikir (thinking), berpasangan (pairing) dan berbagi (sharing),
dengan adanya ketiga tahap tersebut siswa menjadi aktif dapat saling bekerja
sama membantu satu sama lain sehingga siswa dapat lebih mudah dalam
menguasai konsep materi yang diberikan oleh guru. Pembelajaran TPS ini belum
pernah diterapkan di MTs-PSA Nurul Qodiri, maka akan diadakan penelitian
dengan menggunakan pembelajaran TPS untuk mengetahui efektivitas
pembel-ajaran kooperatif tipe TPS ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa
kelas VIII MTs-PSA Nurul Qodiri Way Pengubuan tahun pelajaran 2011/2012.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini: Apakah pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih
efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa daripada pembelajaran
konvensional?.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui efektivitas pembelajaran kooperatif tipe TPS ditinjau dari pemahaman
konsep matematika siswa.
D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan:
1. Bagi guru, dapat menjadi model pembelajaran alternatif yang dapat
diterap-kan untuk meningkatditerap-kan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.
2. Bagi peniliti lain, dapat menjadi refrensi pada penelitian sejenis.
Agar penelitian ini mencapai sasaran yang diinginkan sebagaimana yang telah
di-rumuskan dalam tujuan dan tidak terjadi salah penafsiran dalam memahami
tulisan ini sekaligus menghindari terjadinya kesimpangsiuran permasalahan yang
akan dibahas, maka perlu adanya pembatasan ruang lingkup penelitian. Adapun
pengertian-pengertian yang menyangkut dalam penelitian ini adalah :
1. Efektivitas
Efektivitas pembelajaran adalah tingkat keberhasilan proses pembelajaran
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pembelajaran
ko-operatif tipe TPS dikatakan efektif, jika pemahaman konsep matematika
siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih baik dari
pembelajaran konvensioanal.
2. Pembelajaran Kooperatif tipe TPS
Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan salah satu tipe dari model
pem-belajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok kecil dengan siswa
berpasangan yang terdiri dari tiga tahap pembelajaran yaitu tahap berpikir
(thinking), berpasangan (pairing) dan berbagi (sharing).
3. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang biasa digunakan
oleh guru dalam pembelajaran. Dalam hal ini, pembelajaran yang dimaksud
yaitu guru mengajar dengan berpedoman pada buku teks atau LKS, dengan
memberi materi melalui ceramah atau memberikan langsung materi dan
beberapa pertanyaan kepada siswa, latihan soal kemudian pemberian tugas.
Pemahaman konsep siswa merupakan kemampuan siswa menguasai konsep
materi pelajaran matematika yaitu lingkaran yang ditunjukkan dari hasil tes
dengan indikator yang terdiri dari:
a. Menyatakan ulang suatu konsep.
b. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.