• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
50
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH KOMPOSISI DAN WAKTU PENGGANTIAN LARUTAN PENGAWET TERHADAP KESEGARAN BUNGA POTONG

SEDAP MALAM (Polianthus tuberosa L) ‘WONOTIRTO’

(Skripsi)

Oleh

RANI OKTAVIA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH KOMPOSISI DAN WAKTU PENGGANTIAN LARUTAN PENGAWET TERHADAP KESEGARAN BUNGA POTONG

SEDAP MALAM (Polianthus tuberosa L.) ‘WONOTIRTO’

Oleh

RANI OKTAVIA

Sedap malam (Polianthus tuberosa L.) merupakan bunga yang banyak diminati

oleh masyarakat Indonesia. Untuk mempertahankan kesegaran bunga, dapat

dilakukan dengan menggunakan larutan pengawet. Tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui pengaruh komposisi larutan, waktu penggantian larutan, dan

interaksinya keduanya terhadap kesegaran bunga potong sedap malam

‘Wonotirto’.

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen Hortikultura Fakultas

Pertanian Universitas Lampung pada Oktober- November 2016. Rancangan

percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial

yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah komposisi larutan dan faktor kedua

(3)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi larutan berpengaruh nyata

terhadap jumlah bunga mekar per tangkai, jumlah bunga layu per tangkai, jumlah

bunga rontok per tangkai, dan masa kesegaran bunga. Waktu penggantian larutan

tidak berepngaruh terhadap semua variabel pengamatan. Interaksi antara

komposisi larutan pengawet dengan waktu penggantian larutan juga tidak

berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan.

(4)

PENGARUH KOMPOSISI DAN WAKTU PENGGANTIAN LARUTAN PENGAWET TERHADAP KESEGARAN BUNGA POTONG

SEDAP MALAM (Polianthus tuberosa L) ‘WONOTIRTO’

Oleh RANI OKTAVIA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

Pada

Jurusan Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

hl

Slripsi

I{mr

Mahasiswa

I{o. Pokok Matrasiswa

fuisan

F&rhas

PENGARUI KOMFOSISI DAN WAKTU

PENGGAI\TTIAN LARUTAN PENGAWET

TNRI{ADAP KESEGARAN BT]NGA POTONG

SEDAP

MALAM

(Pollonthus tuberusaL)

.WONOTIRTO'

RAI\n

OIffAYIA

t2l4l2lt75

Agroteknologi

Pertanian

MENYETUJTN

1. Komisi Pembimbing

In

Rugayah, M.P.

NIP l96t 1107 1986$ 2 0A2

2. Ketua Junrsan Agroteknologi

Prof. Dn

Ir.

Sri Yusnainio ll{.Si. NIP 19630508 198811 2 001

(6)

MENGESAIIKAII

Ferrysji

fitus

:

Ir.

Setyo Widagdo' M.Si"

:

In

Rugayth, M.P.

'.Irryan Snkri Banuwa,

M.St

020 198603'1 002

Penguji

hftan

Pembimbing : Prof. Dn

In

Soesiladi Esti Widodo, M.Sc.

Fakultas Pertanian

-a

-i_.___

7Q11-

|

:*rcfrs"

s'iTT,1

(7)

SI]RAT PERNYATAANI

bertmdatangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi saya yang "Pcrgeruh Konposiri dan Waktu Penggantian Larutan

tcrtedap Kesegann Bunge Potong Sedap Malam (Polionthus

L)

'Wonotirto' merupakan hasil karya saya sendiri dan bukan

lrSoorang lain. Semua hasil yang tertuang dalam skripsi ini telatr

kaidah penulisan karya iltniah Universitas Lamprmg. Apabila di

mi

tertu*ti bahwa skripsi ini merupakan hasil safinan atau dibuat

:

Samg

lain, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai denga

hru

akademik yang berlaku.

;i

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada 25 Oktober 1994 di Kota Agung, Lampung. Penulis

adalah anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Ibu Halimah dan Bapak

Karno.

Penulis mulai mengikuti pendidikan formal pada 2000 di Sekolah Dasar Negeri 4

Labuhan Ratu (2000-2006); Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Bandar

Lampung (2006-2009); kemudian dilanjutkan di Sekolah Menengah Atas Negeri

3 Bandar Lampung (2009-2012). Penulis diterima sebagai mahasiswa di Jurusan

Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur ujian masuk

lokal (UML) perguruan tinggi negeri pada (2012-2018).

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah menjadi Pengurus Persatuan

Mahasiswa Agroteknologi (Perma AGT), yaitu sebagai Pengurus Bidang

Penelitian dan Pengembangan (Litbang) (2013/2014).

Penulis memilih Hortikultura sebagai konsentrasi perkuliahan. Pada tahun 2015,

penulis melaksanakan Praktik Umum (PU) di Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Lembang, Jawa Barat. Pada tahun 2016 penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata

(9)

Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT,

Kupersembahkan karyaku ini untuk

Keluargaku tercinta,

Ibu Halimah yang tak pernah usai menguntai doa untukku; Bapak Karno yang

peluhnya tak pernah berhenti mengalir demi keberhasilanku;

Kakak-kakakku Linda Hartati, Elaina Wati, dan Juli Yanti, S.Kom

yang telah mendukung, memotivasi, memberi semangat serta nasihat, dan

mendoakan selama ini; serta

Almamater tercinta,

(10)

Jika kamu bersungguh-sungguh, kesungguhan itu untuk kebaikanmu sendiri

(Q.S. Al-Ankabut: 6)

“Perubahan tidak akan pernah terjadi

jika kita terus menunggu waktu atau orang yang tepat.

Kita adalah perubahan itu sendiri”

(11)

SANWACANA

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt yang telah melimpahkan

rahmat dan cinta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul Pengaruh Komposisi dan Waktu Penggantian Larutan Pengawet terhadap

Masa Kesegaran Bunga Potong Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.)

‘Wonotirto’. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai

gelar Sarjana Pertanian pada Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian,

Universitas Lampung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa semua ini dapat terlaksana dengan baik

karena bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sebagai

wujud rasa hormat penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., sebagai Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung.

2. Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi.

3. Ir. Setyo Widagdo, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Pertama, yang selama ini

telah memberikan bimbingan, nasihat, motivasi, arahan, dan saran selama

penelitian dan penulisan skripsi.

(12)

membimbing dan memberikan ilmu selama penulisan skripsi.

5. Prof. Dr. Ir. Soesiladi Esti Widodo, M.Sc., sebagai Penguji, yang telah

memberi masukan dan saran kepada penulis.

6. Prof. Dr. Ir. Yusnita, M.Sc., selaku dosen Pembimbing Akademik atas

arahan dan bimbingan kepada penulis selama menjadi mahasiswa.

7. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Agroteknologi yang telah membekali penulis

dengan berbagai ilmu yang bermanfaat.

8. Kedua orang tua, bapak Karno dan Ibu Halimah tercinta yang senantiasa terima

memberikan doa, dukungan, semangat, perhatian, dan semua pengorbanan

terhadap penulis selama ini

9. Kakak penulis, Linda Hartati, Elaina Wati, dan Juli Yanti yang telah

memberikan doa, dukungan, dan motivasi kepada penulis.

10. Sahabat-sahabat Agroteknologi 2012, yang ikut membantu kelancaran selama

penelitian dan penulisan skripsi.

Hanya ucapan terima kasih dan doa yang bisa penulis berikan. Semoga Allah

SWT membalas semua amal baik yang telah dilakukan dan semoga

skripsi ini dapat bermanfaat. Aamiin.

Bandar Lampung, Juni 2018

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 4

1.3 Kerangka Pemikirian ... 5

1.4 Hipotesis ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bunga Potong Sedap Malam ... 9

2.1.1 Ciri Tanaman Sedap Malam ‘Wonotirto’ ... 10

2.1.2 Panen Bunga Sedap Malam ‘Wonotirto’ ... 11

2.2 Larutan Pengawet (Holding) ... 12

2.2.1 Perak Nitrat (AgNO3) ... 12

2.2.2 Sukrosa ... 13

2.2.3 Asam Sitrat ... 13

2.2.4 Tanaman Sirih ... 14

2.2.5 Vitamin C ... 14

2.3 Teknik Memperpanjang Kesegaran Bunga ... 15

2.4 Waktu Penggantian Larutan ... 15

III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat ... ... 17

3.2 Bahan dan Alat ... 17

(14)

3.4 Pelaksanaan ... 18

3.4.1 Penentuan bunga potong yang diberi perlakuan ... 18

3.4.2 Pemanenan ... 19

3.4.3 Pengemasan ... 20

3.4.4 Pengangkutan ... 20

3.4.5 Pembuatan larutan perendam ... 20

3.4.6 Perendaman ... 23

3.4.7 Pemotongan tangkai bunga dan penggantian larutan .... 24

3.5 Variabel Pengamatan ... 24

3.5.1 Pengamatan Awal ... 24

3.5.2 Pengamatan Akhir ... 25

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 27

4.2 Pembahasan ... 28

4.1.1 Jumlah bunga mekar per tangkai ... 28

4.1.2 Jumlah bunga layu per tangkai ... 31

4.1.3 Jumlah bunga rontok per tangkai ... 33

4.1.4 Vase life ... 35

V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 39

5.2 Saran ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 40

(15)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Koefisien perbandingan orthogonal dan pengaruh komposisi dan penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran bunga

potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 19

2. Rekapitulasi hasil analisis ragam pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran bunga

potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... .. 28

3. Nilai Uji kontras pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap jumlah bunga mekar hari ke-9

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 30

4. Nilai Uji kontras pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap jumlah bunga layu hari ke-12

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 32

5. Nilai Uji kontras pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap jumlah bunga rontok hari ke-6

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 34

6. Nilai Uji kontras pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap vase life bunga potong

sedap malam ‘Wonotirto’... 36

7. Hasil pengamatan bunga mekar hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 43

8. Hasil uji bartlett bunga mekar hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 44

9. Hasil analisis ragam bunga mekar hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

(16)

iv

10. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga mekar hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 45

11. Hasil pengamatan bunga mekar hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 46

12. Hasil uji bartlett bunga mekar hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 46

13. Hasil analisis ragam bunga mekar hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 46

14. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga mekar hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 47

15. Hasil pengamatan bunga mekar hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 48

16. Hasil uji bartlett bunga mekar hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 49

17. Hasil analisis ragam bunga mekar hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 50

18. Hasil pengamatan bunga layu hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 50

19. Hasil uji bartlett bunga layu hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 51

20. Hasil analisis ragam bunga layu hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 52

21. Hasil pengamatan bunga layu hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

(17)

iv

22. Hasil uji bartlett bunga layu hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 54

23. Hasil analisis ragam bunga layu hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 54

24. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga layu hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 55

25. Hasil pengamatan bunga layu hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 56

26. Hasil data transformasi pengamatan bunga layu hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 57

27. Hasil uji bartlett bunga layu hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 58

28. Hasil analisis ragam bunga layu hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 58

29. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga layu hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 59

30. Hasil pengamatan bunga layu hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 60

31. Hasil uji bartlett bunga layu hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 61

32. Hasil analisis ragam bunga layu hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 61

33. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga layu hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

(18)

iv

34. Hasil pengamatan bunga rontok hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 63

35. Hasil data transformasi pengamatan bunga rontok hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 64

36. Hasil uji bartlett bunga rontok hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 65

37. Hasil analisis ragam bunga rontok hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 65

38. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga rontok hari ke-6 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 66

39. Hasil pengamatan bunga rontok hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 67

40. Hasil uji bartlett bunga rontok hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 68

41. Hasil analisis ragam bunga rontok hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 68

42. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga rontok hari ke-9 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 69

43. Hasil pengamatan bunga rontok hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 70

44. Hasil data transformasi pengamatan bunga rontok hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam‘Wonotirto’ ... 71

45. Hasil uji bartlett bunga rontok hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

(19)

iv

46. Hasil analisis ragam bunga rontok hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 72

47. Hasil uji lanjut polinomial kontras bunga rontok hari ke-12 pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet

terhadap kesegaran bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 73

48. Hasil pengamatan vase life pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran bunga potong

sedap malam ‘Wonotirto’ ... 74

49. Hasil uji bartlett vase life pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran bunga potong

sedap malam ‘Wonotirto’ ... 75

50. Hasil analisis ragam vase life pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran bunga potong

sedap malam ‘Wonotirto’ ... 75

51. Hasil uji lanjut polinomial kontras vase life pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap kesegaran

bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ ... 76

52. Hasil uji pengaruh komposisi dan waktu penggantian larutan pengawet terhadap nilai rata-rata vase life kesegaran bunga potong

(20)
[image:20.595.110.511.242.567.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bunga sedap malam ‘Wonotirto’ ... 10

2. Larutan pulshing untuk merendam bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ yang sudah dipanen ... 12

3. Perbedaan warna masing-masing larutan pengawet ... 23

4. Bunga potong sedap malam yang telah dilakukan perendaman larutan pengawet ... 23

5. Bunga potong sedap malam ditimbang bobot basahnya ... 24

6. Bagian-bagian bunga potong sedap malam ... 25

7. Kriteria bunga mekar yang diamati ... 26

8. Kriteria bunga rontok yang diamati ... 27

9. Penampilan bunga mekar pengamatan hari ke-6 pada berbagai perlakuan ... 29

(21)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bunga sedap malam (Polianthus tuberosa L.) digunakan secara luas di

masyarakat Indonesia untuk kebutuhan bunga potong di hari-hari besar, misalnya

Idul fitri, Natal, dan tahun baru. Selain sering digunakan sebagai bunga tabur,

bunga ini sering digunakan dalam bentuk bunga segar dan bunga kering sebagai

campuran makanan, misalnya tekwan. Sedap malam juga memiliki kandungan

minyak atsiri yang dapat digunakan untuk bahan kosmetik dan bahan kecantikan

(Rukmana, 2002).

Bunga sedap malam tergolong bunga potong yang laku dipasaran. Bunga ini

menduduki peringkat nomor tiga setelah bunga krisan dan bunga mawar dalam

urutan banyaknya penjualan di pasar bunga Indonesia. Panen sedap malam di

Indonesia dari 2008 hingga 2012 meningkat sebesar 4,94 %. Peningkatan

produktivitas sedap malam dalam kurun waktu tersebut adalah 54,24%

(Promosiana, 2014).

Bunga potong sedap malam banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Bunga

sedap malam yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga sedap malam

‘Wonotirto’ berasal dari Tanggamus, Lampung. Hal tersebut adalah untuk

(22)

2

tanaman diambil dari luar Lampung yang beresiko mengakibatkan kerusakan fisik

bunga akibat pengangkutan. Bunga sedap malam ‘Wonotirto’ ini memiliki

karakteristik menarik yang berbeda dengan bunga potong sedap malam lainnya,

antara lain sususan helia mahkota bunga bertingkat (berlapis), tebal, harum,

terdapat semburat merah pada kuncup bunga sebelum mekar, dan bunga tahan 5-7

hari setelah panen.

Masalah yang sering dihadapi oleh pengusaha dan konsumen bunga potong adalah

cara mempertahankan kualitas bunga. Kualitas bunga meliputi kesegaran bunga

dan daya simpan (vase life) bunga. Masa kesegaran dan daya simpan bunga

potong sedap malam yang direndam dengan air relatif singkat, yaitu hanya

bertahan 2-3 hari (Suyanti, 2002).

Faktor penyebab singkatnya masa kesegaran dan daya tahan bunga potong sedap

malam adalah berkurangnya sumber energi, pH, dan busuknya pangkal tangkai

bunga akibat pemotongan saat panen (Suyanti, 2002). Salah satu upaya yang

dilakukan untuk mencegah hal tersebut adalah perendaman menggunakan larutan

pengawet.

Pengawetan bunga sedap malam dapat dilakukan dengan cara pulsing dan

holding. Pulsing adalah larutan pengawet tempat dicelupkannya bunga segera setelah panen dalam jangka waktu pendek sebelum pengiriman. Holding

adalahlarutan pengawet sebagai perendam tangkai bunga sejak dari panen hingga

(23)

3

Pengawetan dengan cara holding umumnya menggunakan bahan-bahan larutan,

misalnya perak nitrat (AgNO3), sukrosa, dan asam sitrat. Perak nitrat (AgNO3)

adalah bahan kimia yang dapat berperan mencegah pertumbuhan bakteri peyebab

kebusukan tangkai bunga (Suyanti, 2002). Bahan komponen pengawet lainnya

adalah asam sitrat. Asam sitrat sering digunakan sebagai antietilen, karena

senyawa kimia ini berperan meningkatkan efesiensi dan efektifitas penyerapan

bahan pengawet ke dalam bunga potong sedap malam.

Penggunaan perak nitrat (AgNO3) memiliki banyak kekurangan antara lain susah

didapat karena tidak dijual bebas di pasaran, dan harga relatif mahal. Bahan

alternatif yang lebih murah, dan bersifat alami adalah daun sirih dan vitamin C.

Rebusan daun sirih adalah salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan

sebagai pengganti perak nitrat (AgNO3). Rebusan daun sirih memiliki minyak

atsiri yang mengandung chavicol (Atin, 2008). Chavicol mempunyai daya

mematikan terhadap kuman, sehingga diharapkan akan menghentikan luka pada

tangkai bunga potong sedap malam setelah dipanen.

Asam sitrat berfungsi sebagai penurun pH untuk proses penyerapan bahan

pengawet bunga potong sedap malam. Bunga menyerap air dengan maksimum

pada pH berkisar 3,5- 4,5 (Arisanti dan Setiari, 2012). Selain penurun pH, asam

sitrat juga berfungsi sebagai antioksidan. Namun untuk mendapatkan bahan yang

bersifat alami maka diperlukan bahan alternatif. Bahan alternatif pengganti asam

sitrat sebagai antioksidan alami adalah vitamin C. Antioksidan merupakan zat

yang dapat menghambat atau memperlambat laju oksidasi dari bahan yang mudah

(24)

4

antioksidan alami dengan kelarutan yang tinggi dalam air (Song and Wei, 2002).

Namun konsentrasi vitamin C harus sesuai dengan kebutuhan bunga potong sedap

malam. Konsentrasi vitamin C yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat

menghambat proses penyerapan nutrisi oleh tangkai bunga (Arisanti dan Setiari,

2012). Pada bunga potong, tangkai bunga yang terhambat dalam penyerapan

nutrisinya akan menyebabkan kelayuan.

Faktor yang juga harus diperhatikan selain komposisi bahan larutan pengawet

adalah kepekatan dan kejernihan larutan. Kepekatan larutan dipengaruhi oleh

konsentrasi larutan, dan kejernihan larutan dipengaruhi oleh adanya endapan

bahan larutan, misalnya AgNO3, vitamin C, asam sitrat, atau bahan lain misalnya

debu dan kotoran. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan penggantian

larutan secara berkala selama peragaan bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

(1) Pengaruh komposisi larutan terhadap kesegaran bunga potong sedap malam;

(2) Pengaruh waktu penggantian larutan terhadap kesegaran bunga potong sedap

malam;

(3) Pengaruh interaksi antara komposisi larutan danwaktu penggantian larutan

(25)

5

1.3 Kerangka pemikiran

Tanaman hias sedap malam merupakan produk yang bermanfaat sebagai bunga

potong yang dapat dinikmati keindahan bunganya. Nilai keindahan bunga potong

sedap malam dapat dilihat dari bunganya yang tidak mudah rontok, memiliki

tangkai bunga yang panjang, memiliki floret yang banyak.

Proses pascapanen bunga sedap malam yang baik berpengaruh pada kualitas

bunga potong, antara lain umur panen yang tepat. Selain itu, bunga telah

memenuhi kriteria panen. Kriteria panen yang tepat adalah bunga telah mekar 1-2

kuntum dan bunga potong yang dipilih adalah yang memiliki tangkai yang lurus,

utuh, sehat, dan tidak cacat. Selain kriteria panen, hal yang perlu diperhatikan

untuk mempertahankan kualitas bunga potong sedap malam adalah pulsing dan

holding. Kualitas bunga akan mempengaruhi minat beli konsumen. Agar kualitas bunga tetap prima sampai ke tangan konsumen, maka bunga perlu diberi nutrisi

holding.

Larutan holding adalah larutan pengawet sebagai perendam tangkai bunga sejak

panen hingga bunga sampai ke tangan konsumen (Haley dan Mayak, 1979).

Bahan-bahan yang digunakan dalam larutan holding adalah bakterisida, asam

sitrat, dan gula. Bahan-bahan tersebut diperlukan oleh bunga untuk melakukan

aktivitas hidupnya, menghambat kelayuan, dan menambah kemekaran bunga.

Larutan holding dimungkinkan dapat mempertahankan kesegaran (vase life)

bunga potong sedap malam.Bunga potong sedap malam dapat direndam dengan

(26)

6

Gula yang digunakan sebagai sumber energi bunga potong sedap malam dalam

larutan pengawet adalah sukrosa. Gula merupakan sumber energi bunga potong

sedap malam untuk tetap menjalankan proses metabolisme setelah dipanen.

Sukrosa adalah bahan alternatif dari gula yang relatif murah dan mudah

didapatkan.

Bahan komponen larutan pengawet lainnya adalah bakterisida. Bakterisida yang

umumnya digunakan adalah perak nitrat (AgNO3). Namun perak nitrat memiliki

kelemahan antara lain sulit didapat dan harga relatif mahal. Bahan alternatif lain

yang dapat digunakan untuk mempermudah, mengurangi biaya, serta ramah

lingkungan adalah rebusan daun sirih. Rebusan daun sirih juga mempunyai

berbagai macam senyawa yang berfungsi sebagai bakterisida dan antifungi

(Pradhan, 2013). Rebusan daun sirih yang paling optimum dalam larutan

pengawet untuk mempertahankan kesegaran bunga adalah konsentrasi 30%

(Hidayah, 2012).

Bahan pengawet larutan holding lainnnya adalah asam sitrat yang berfungsi

sebagai penurun pH. Bunga menyerap air dengan maksimum pada pH berkisar

3,5- 4,5 (Arisanti dan Setiari, 2012). Selain penurun pH, asam sitrat juga

berfungsi sebagai antioksidan. Namun untuk mendapatkan bahan yang bersifat

alami maka diperlukan bahan alternatif. Bahan alternatif pengganti asam sitrat

sebagai antioksidan alami adalah vitamin C. Antioksidan merupakan zat yang

dapat menghambat laju oksidasi dari bahan yang mudah teroksidasi (Deni, 2008).

Vitamin C (L-asam askorbat) bekerja sebagai antioksidan alami dengan kelarutan

(27)

7

Sesuai dengan kebutuhan bunga potong sedap malam. Konsentrasi vitamin C

yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat proses penyerapan

nutrisi oleh tangkai bunga (Arisanti dan Setiari, 2012). Pada bunga potong,

tangkai bunga yang terhambat dalam penyerapan nutrisinya akan menyebabkan

kelayuan.

Waktu penggantian larutan secara berkala perlu dilakukan untuk meningkatkan

masa simpan bunga. Penggantian larutan dapat mempengaruhi kejernihan larutan.

Larutan pengawet harus dapat diserap oleh jaringan pembuluh bunga potong.

Faktor yang mempengaruhinya antara lain kepekatan dan kejernihan larutan.

Kepekatan larutan dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, sedangkan kejernihan

larutan dipengaruhi oleh adanya pengendapan bahan lain dalam larutan. Untuk

mempertahankan kejernihan larutan, perlu dilakukanpenggantianlarutan secara

berkala selama peragaan. Dengan menggunakan bahan-bahan larutan pengawet

seperti bakterisida, penurun pH, dan sumber energi yang dilakukan penggantian

larutan secara berkala, diharapkan vase life kesegaran bunga potong sedap malam

dapat diperpanjang.

1.4 Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah:

(1) Komposisi larutan pengawet berpengaruh terhadap kesegaran bunga potong

sedap malam;

(2) Waktu penggantian larutan berpengaruh terhadap kesegaran bunga potong

(28)

8

(3) Terdapat interaksi antara komposisi dan waktu penggantian larutan terhadap

(29)

9

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bunga Potong Sedap Malam

Sedap malam (Polyanthus tuberosa L.) merupakan tanaman bunga potong yang

telah lama dikembangkan dan dikenal, serta mempunyai peluang besar untuk

meningkatkan taraf hidup petani karena bernilai ekonomi yang tinggi. Bunga

sedap malam ini berasal dari Mexico yang telah menyebar di Indonesia, di daerah

beriklim panas (Prihadini dan Yuniarti, 2002).

Taksonomi bunga sedap malam menurut Tjitrosoepomo (2005) adalah sebagai

berikut: Kingdom: Plantae, Divisi: Magnoliophyta, Kelas: Liliopsida, Ordo:

Asparagales, Famili: Agavaceae, Genus: Polianthes, Spesies: Polianthus tuberosa Bunga sedap malam merupakan tanaman berumbi, mempunyai batang beruas-ruas

dan rangkaian bewarna putih, berbunga terus menerus sepanjang tahun dan

mempunyai ciri khusus, yaitu aroma harum sepanjang malam.

Tanaman bunga sedap malam siap berbunga setelah berumur 5-8 bulan setelah

tanam, tergantung ketinggian tempat. Sedap malam dapat hidup di dataran rendah

dengan kisaran ketinggian tempat 0 - 1500 m dpl, namun tumbuh optimal pada

ketinggian 100-900 m dpl. Tanaman sedap malam sudah siap dipanen apabila

setiap tangkai bunga telah mekar 2-3 kuntum bunga. Setiap tangkai bunga

(30)

10

Bunga sedap malam dapat diperbanyak dengan cara pemisahan anakan.

Walaupun terdapat biji, tetapi untuk tanaman sedap malam biji jarang dipakai

untuk perbanyakan. Standar bunga sedap malam sebagai bunga potong untuk

panjang tangkai bunga sedap malam sebagai berikut: kelas super > 95 cm,

panjang 75-90 cm, medium 60-74 cm, pendek 50-59 cm, mini 30-49 cm

(Rismunandar, 1995).

2.1.1 Ciri Tanaman Sedap Malam‘Wonotirto’

Ciri tanaman sedap malam ‘Wonotirto’ menurut Keputusan Menteri Pertanian

No.535/kpts/pd.210/110/2013 adalahmemiliki kuntum bunga banyak dengan

susunan rapat, diameter kuntum lebar, aroma kuat, mekar malai bunga lama,

produksi cukup tinggi, dan memenuhi standar ekspor. Bunga sedap malam

‘Wonotirto’merupakan bunga yang dikembangkandi Pekon Wonotirto,

[image:30.595.149.510.508.663.2]

Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung (Gambar 1).

Gambar 1. Bunga sedap malam‘Wonotirto’: (a) bunga siap panen; (b) bunga yang telah dipanen

floret

Tangkai bunga

(31)

11

2.1.2 Panen Bunga Sedap Malam

Bunga sedap malam mulai berbunga umur 115-284 hari setelah ditanam (Sharga,

1982) dan bunga mulai dipanen saat 1-2 kuntum bunga telah mekar. Mutu bunga

dianggap baik apabila sepertiga bagian kuntum bunga dalam setiap malainya

mekar. Namun, bunga dengan tingkat kemekaran yang banyak tidak tahan selama

dalam pengangkutan, karena bunga yang telah mekar memiliki sepal yang rapuh.

Panen bunga yang tepat untuk pengangkutan jarak jauh adalah apabila 1-2 kuntum

bunga dalam setiap malainya mekar. Bunga yang masih kuncup akan mekar

selama dalam peragaan. Cara pemanenan yang tepat dilakukan dengan mencabut

atau memotong tangkai bunga. Bunga yang telah dipanen kemudian dikumpulkan

untuk disortasi dan di grading sesuai dengan ukuran malainya.

2.2 Larutan Pengawet Pulsing dan Holding

Larutan pulsing berisi 15 % gula. Larutan pulsing adalah larutan pengawet

tempat dicelupkannya bunga segera setelah panen dalam jangka waktu pendek

sebelum pengiriman, sedangkan larutan holding adalah larutan pengawet sebagai

perendam tangkai bunga sejak dari panen hinga bunga sampai ke tangan

konsumen (Halevy dan Mayak, 1979). Dalam larutan pengawet pulsing, bahan

yang digunakan adalah aquades dan sukrosa. Larutan pulsing untuk merendam

bunga potong yang sudah dipanen ditampilkan pada Gambar 2.

Energi yang tersisa pada bunga potong setelah dipanen hanya mampu

mempertahankan kesegaran bunga untuk waktu yang singkat, sehingga diperlukan

(32)

12

kesegaran bunga. Energi yang dibutuhkan, yaitu sukrosa, dapat mempengaruhi

kemekaran bunga dan menunda kelayuan bunga potong.

Kandungan larutan holding juga diperlukan bahan untuk menurunkan pH, yaitu

vitamin C (Arisanti dan Setiari, 2012). Larutan pengawet jugaharus mengandung

desinfektan yang berfungsi sebagai antibakteri agar bunga potong selama

[image:32.595.263.361.291.450.2]

peragaan terhindar dari mikroorganisme penyebab busuk tangkai bunga.

Gambar 2. Larutan pulsing yang siap digunakan untuk merendam bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ yang sudah dipanen

2.2.1 Perak nitrat (AgNO3)

Perak nitrat merupakan sebuah senyawa anorganik dengan rumus kimia AgNO3.

Senyawa ini adalah senyawa paling serbaguna diantara senyawa perak lainnya,

senyawa ini juga bisa digunakan untuk membuat beberapa pereaksi dasar. AgNO3

adalah bakterisida yang efektif dalam larutan pengawet bunga potong, dan

berperan sebagai antagonis etilen (penghambat munculnya gas etilen). Perak

nitrat (AgNO3) dapat mengurangi kecepatan penurunan pemasukan air dalam

(33)

13

etilen, jadi mencegah rintangan fisiologis tangkai potong. Namun perak nitrat

(AgNO3) sangat jarang digunakan, karena harganya relatif mahal serta tidak

ramah lingkungan.

2.2.2 Sukrosa

Pascapanen bunga potong sedap malammengalami proses masuk dan keluarnya

air oleh bunga potong yang berfluktuasi secara siklik dan cenderung mengalami

kemundurankesegaran bunga (Nofrianti, 2005). Defisit air disebabkan oleh

pengurangan kapasitas memegang air jaringan bunga kibat perubahan fisiologis

yang berhubungan dengan penuaaan di tingkat sel.

Sukrosa ditambahkan untuk bahan nutrisi pada proses pascapanen bunga potong

sedap malam agar dapat mempertahankankesegaran bunga (Kurniawan, 2008).

Penelitian Talukdar dan Barooah (2012) memperlihatkan bahwa pemberian 4%

sukrosa, 2% asam sitrat, dan 20 ppm perak nitrat (AgNO3) efektif dalam

memperpanjang vase life bunga sedap malam cv. Calcutta Double pada suhu

ruang 26-350C hingga 10 hari. Penelitian Hutchinson (2003) bahwa konsentrasi

gula yang rendah 2 – 4 % selama pemajangan,sudah dapat membantu mengurangi

celah stomata dalam daun bunga potong mawar dan mengurangi kehilangan air.

2.2.3 Asam sitrat

Asam sitrat merupakan sebuah senyawa anorganik dengan rumus kimia C6H8O7

yang diperoleh dari ekstrak buah-buahan terutama jeruk. Senyawa ini digunakan

sebagai pengatur pH larutan (Tisnawati, 2005). Asam sitrat berfungsi untuk

(34)

14

(Halevy dan Mayak, 1979). Dalam penghambat respirasi digunakan asam sitrat,

yang banyak digunakan sebagai komponen bahan pengawet, karena senyawa ini

berperan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyerapan bahan pengawet ke

dalam bunga potong dengan cara menurunkan pH.

2.2.4 Tanaman sirih

Tanaman sirih (Piper betle) sudah dikenal sebagai tanaman obat, yang sekaligus

dapat ditanam sebagai tanaman hias. Tanaman sirih ini memiliki manfaat sebagai

obat diantaranya untuk mengobati mimisan, keputihan, sakit jantung, alergi, diare,

sakit gigi berlubang, batuk, menurunkan kolesterol, bau mulut, dan gusi bengkak.

Selain daunnya dimanfaatkan sebagai obat, pada tanaman sirih terdapat minyak

atsiri yang mengandung minyak terbang (beklephenol), seskuiterpen, diatase,

gula, zat samak, antioksidan, fungisida, dan chavicol (Atin, 2008). Kandungan

chavicol mempunyai daya mematikan kuman, sehingga diharapkan akan

mempercepat penyembuhan luka pada tangkai bunga potong sedap malam setelah

dipanen.

2.2.5 Vitamin C

Secara umum penyerapan larutan oleh bunga sangat penting dalam

mempertahankan kesegaran bunga potong. Salah satu faktor yang mempengaruhi

penyerapan larutan oleh bunga adalah pH larutan. Keasaman larutan yang baik

untuk penyerapan larutan oleh tangkai bunga adalah 3,5-4,5 (Arisanti dan Setiari,

(35)

15

Bahan alternatif yang digunakan untuk larutan pengawet adalah vitamin C.

Vitamin C juga dapat menurunkan pH larutan dan berpengaruh terhadap

kesegaran bunga potong krisan. Namun pada konsentrasi yang tinggi, vitamin C

dapat menyebabkan perbedaan tekanan osmotik pada larutan mengakibatkan

bunga potong mengalami plasmolisis (Arisanti dan Setiari, 2012). Penelitian

Astita (2016) menyatakan bahwa penggunaan vitamin C 50 ppm masih rendah

sehingga belum mampu menunda kelayuan bunga sebaik asam sitrat 2%.

2.3 Teknik Memperpanjang Kesegaran Bunga

Bunga sedap malam (Polyanthus tuberosa L.) yang telah dipotong tetap

menjalankan aktivitas hidupnya. Penyusunan formula nutrisi dan pengawet

dibedakan berdasarkan tujuan pengguanaan yaitu, larutan pulsing adalah larutan

yang digunakan untuk merendam tangkai bunga segera setelah panen, sebelum

dikemas.

Pulsing dilakukan dalam jangka waktu pendek sebelum pengiriman. Larutan holding adalah larutan pengawet tempat dicelupkannya bunga sejak dari panen hingga bunga sampai ke tangan konsumen. Penggunaan teknik holding

diharapkan mampu menjaga kesegaran bunga potong sedap malam sampai pada

konsumen (Nowak dan Rudnicki, 1990).

2.4 Waktu Penggantian Larutan

Waktu penggantian larutan juga perlu dilakukan secara berkala, karena dapat

mempengaruhi kejernihan suatu larutan pengawet. Faktor yangmempengaruhinya

(36)

16

Kepekatan larutan dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, sedangkan kejernihan

larutan dipengaruhi oleh adanya pengendapan bahan lain dalam larutan. Untuk

mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan waktu penggantian larutan secara berkala

(37)

17

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini berlangsung pada Oktober– November 2016, yang dilaksanakan di

Laboratorium Pascapanen Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga potong sedap

malam (Polianthus tuberosa L) ‘Wonotirto’ yang dipanen langsung dari petani

Pekon Wonotirto Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus, vitamin C (ipi

150 ppm), daun sirih 30%, asam sitrat (Citrun acid 2%), AgNO3 (perak nitrat

murni 20 ppm), gula pasir 4%, dan air.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, botol bening (sebagai

vas), gelas ukur 100 ml, gelas piala 1000ml, pH meter, kertas label, kamera,

timbangan, gunting setek, kapas, gabus, plastik, tali, dan rak.

3.3 Metode

Penelitian ini disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dan

diulang 3 kali. Faktor pertama adalah komposisi larutan pengawet (K), meliputi:

(38)

18

K0 : Air (kontrol)

K1 : Air + Sukrosa 4% + Asam Sitrat 2% + AgNO3 20 ppm

K2 : Air + Sukrosa 4% + Vitamin C 150 ppm + AgNO3 20 ppm

K3 : Sukrosa 4% + Asam sitrat 2% + Rebusan daun sirih

K4 : Sukrosa 4 % + Vitamin C 150 ppm + Rebusan daun sirih

Faktor kedua adalah penggantian larutan (P) meliputi:

P0 : (tanpa penggantian larutan),

P1 : (penggantian larutan setiap enam hari sekali)

Homogenitas keragaman diuji dangan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji

dengan uji Tukey, kemudian dianalisis dengan sidik ragam. Hasil pengujian yang

berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Orthogonal Kontras. Setiap pengujian

dilakukan pada taraf 5%. Koefisien perbandingan orthogonal penelitian

ini disajikan dalam Tabel 1.

3.4 Pelaksanaan

3.4.1 Penentuan bunga potong yang akan diberi perlakuan

Bunga potong yang akan diberi perlakuan adalah bunga potong sedap malam

siap panen. Bunga dipanen pada pagi hari di Pekon Wonotirto Kecamatan

Sumberejo Kabupaten Tanggamus. Panen dilakukan pada bunga potong yang

telah mekar 1-2 kuntum dan bunga potong yang dipilih adalah yang memiliki

(39)
[image:39.595.104.510.139.523.2]

19

Tabel 1. Koefisien perbandingan orthogonal pengaruh komposisi dan penggantian larutan pengawet terhadap masa kesegaran bunga potong sedap

malam ‘Wonotirto’

Perbandingan Tidak diganti (P0) Diganti (P1) K0 K1 K2 K3 K4 K0 K1 K2 K3 K4

K (Komposisi larutan)

P1 : K0 vs K1, K2, K3, K4 -4 +1 +1 +1 +1 -4 +1 +1 +1 +1

P2 : K1, K2 vs K3, K4 0 -1 -1 +1 +1 0 -1 -1 +1 +1

P3 : K1vs K2 0 -1 +1 0 0 0 -1 +1 0 0

P4 : K3vs K4 0 0 0 -1 +1 0 0 0 -1 +1

P (Penggantian larutan)

P5: P0 vs P1

-1 -1 -1 -1 -1 +1 +1 +1 +1 +1

P x K (interaksi)

P6 : P1 x P5 +4 -1 -1 -1 -1 -4 +1 +1 +1 +1 P7 : P2 x P5 0 +1 +1 -1 -1 0 -1 -1 +1 +1

P8 : P3 x P5 0 +1 -1 0 0 0 -1 +1 0 0

P9 : P4 x P5 0 0 0 +1 -1 0 0 0 -1 +1

Keterangan : K0 : Air (kontrol)

K1 : Air + Sukrosa 4% + Asam Sitrat 2% + AgNO3 20 ppm

K2 : Air + Sukrosa 4% + Vitamin C 150 ppm + AgNO3 20 ppm

K3 : Rebusan daun sirih + Sukrosa 4 % + Asam sitrat 2%

K4 : Rebusan daun sirih + Sukrosa 4% + Vitamin C 150 ppm

P0 : Tanpa penggantian larutan

P1 : Penggantian larutan setiap enam hari sekali

3.4.2 Pemanenan

Pemanenan bunga sedap malam dilakukan pada pukul 7-8 pagi. Pemanenan

dilakukan dengan cara menarik pangkal tangkai bunga dengan posisi miring.

Pemanenan bunga sedap malam dengan menggunakan pemotong baik pisau atau

(40)

20

3.4.3 Pengemasan

Setelah dipanen, panjang tangkai bunga diukur. Tangkai bunga yang panjangnya

lebih dari 70 cm dipotong, sehingga diperoleh tangkai bunga yang panjangnya

seragam. Setelah itu, floret bunga dibungkus plastik secara perlahan untuk

mengurangi resiko teluka, sedangkan bagian bawah direndam dengan larutan

pulsing berupa larutan sukrosa 15%.

3.4.4 Pengangkutan

Pengangkutan dari lokasi panen menuju tempat penelitian membutuhkan waktu

dua jam. Selama pengangkutan, bunga tetap direndam dalam larutan pulsing.

3.4.5 Pembuatan larutan perendam

Sebelum bunga potong direndam pada larutan pengawet, larutan yang akan dibuat

harus dihitung terlebih dahulu. Kemudian bahan ditimbang sesuai dengan

konsentrasi masing-masing bahan. Perhitungan bahan-bahan yang digunakan

untuk membuat larutan pengawet.

a. Sukrosa 4%

Konsentrasi sukrosa yang digunakan untuk membuat larutan pengawet adalah 4%.

Konsentarsi tersebut diperoleh dengan cara :

4 x 1000 = 40 g/l 100

Jumlah larutan yang dibutuhkan adalah 300 ml per sampel, dan sampel yang

(41)

21

pengawetan adalah 300 ml x 30= 9000 ml. Dengan demikian gula yang diberikan

adalah sebanyak 40 x 9000 ml = 360 g/9l air.

b. Asam sitrat 2 %

Konsentrasi asam sitrat yang digunakan untuk membuat larutan pengawet adalah

2 %. Konsentrasi tersebut di peroleh dengan cara :

2 x 1000 = 20 g/l 100

Jumlah larutan yang dibutuhkan adalah 300 ml per sampel, dan sampel yang

digunakan sebanyak 30 sampel. Maka jumlah larutan yang dibutuhkan selama

pengawetan adalah 300 ml x 30 = 9000 ml. Dengan demikian, asam sitrat yang

diberikan adalah sebanyak 20 x 9000 ml = 180 g/9l air.

c. Perak nitrat 20 ppm

Konsentrasi perak nitrat yang digunakan untuk membuat larutan pengawet adalah

20 ppm. Konsentrasi tersebut di peroleh dengan cara :

20 x 1000 = 0,02 g/l 1000000

Jumlah larutan yang dibutuhkan adalah 300 ml per sampel, dan sampel yang

digunakan sebanyak 30 sampel. Maka jumlah larutan yang dibutuhkan selama

pengawetan adalah 300 ml x 30 = 9000 ml. Dengan demikian, perak nitrat yang

(42)

22

d. Vitamin C 150 ppm

Konsentrasi vitamin C yang digunakan untuk membuat larutan pengawet adalah

150 ppm. Konsentrasi tersebut di peroleh dengan cara :

150 x 1000 = 0,15 g/l 1000000

Jumlah larutan yang dibutuhkan adalah 300 ml per sampel, dan sampel yang

digunakan sebanyak 30 sampel. Maka jumlah larutan yang dibutuhkan selama

pengawetan adalah 300 ml x 30 = 9000 ml. Dengan demikian, vitamin C yang

diberikan adalah sebanyak 0,15 x 9000 ml = 1,35 g/9l air.

e. Daun sirih 30%

Kriteria daun sirih yang diambil untuk dibuat larutan pengawet adalah daun sirih

yang telah membuka penuh dan berkembang secara sempurna. Konsentrasi daun

sirih yang digunakan untuk membuat larutan pengawet adalah 30%. Konsentrasi

tersebut di peroleh dengan cara :

30 x 1000 = 300 g/l 100

Jumlah larutan yang dibutuhkan adalah 300 ml per sampel, dan sampel yang

digunakan sebanyak 30 sampel. Maka jumlah larutan yang dibutuhkan selama

pengawetan adalah 300 ml x 30 = 9000 ml. Dengan demikian, daun sirih yang

diberikan adalah sebanyak 300 x 9000 ml = 2700 g/9l air.

Semua jenis larutan perendam yang telah disiapkan menunjukkan warna yang

(43)

23

Gambar 3. Perbedaan warna masing-masing larutan pengawet

Keterangan: K0 : Air (kontrol)

K1 : Air + Sukrosa 4% + Asam Sitrat 2% + AgNO3 20 ppm

K2 : Air + Sukrosa 4% + Vitamin C 150 ppm + AgNO3 20 ppm

K3 : Rebusan daun sirih 30% + Sukrosa 4 % + Asam sitrat 2%

K4 : Rebusan daun sirih 30% + Sukrosa 4% + Vitamin C 150 ppm

3.4.6 Perendaman

Setiap tangkai bunga direndam dalam botol yang telah diisi 300 ml larutan

holding. Bunga sedap malam yang siap dilakukan perendaman larutan holding ditampilkan pada Gambar 4. Bagian tangkai bunga yang terendam dalam larutan

[image:43.595.188.437.512.691.2]

holding panjangnya 10cm. Mulut botol ditutup dengan gabus untuk menghindari penguapan.

Gambar 4. Bunga potong sedap malam yang dilakukan perendaman larutan pengawet (holding)

(44)

24

3.4.7 Pemotongan tangkai bunga dan penggantian larutan

Tangkai bunga dipotong bagian bawahnya sepanjang 1 cm dengan kemiringan 450

setiap hari. Tujuan pemotongan adalah untuk menghindari terjadinya

pembusukan.

3.5 Pengamatan

3.5.1 Pengamatan awal

Pengamatan awal dilaksanakan sebelum bunga potong diberi perlakuan.

Pengamatan ini merupakan pengambilan data awal bunga potong yang bertujuan

untuk mengetahui tingkat keseragaman bunga. Data yang diamati antara lain

bobot basah bunga, panjang tangkai bunga, panjang floret, dan jumlah

bunga yang sudah mekar.

(1) Bobot basah bunga (g)

Bobot basah bunga diukur dengan cara menimbang bunga sebelum diberi

[image:44.595.233.390.566.683.2]

perlakuan. Bobot basah bunga potong meliputi seluruh bagian bunga

(Gambar 5).

(45)

25

(2) Panjang tangkai bunga (cm)

Panjang tangkai bunga diukur menggunakan meteran. Panjang tangkai bunga

[image:45.595.175.413.180.341.2]

meliputi seluruh bagian bunga (Gambar 6).

Gambar 6. Bagian-bagian bunga potong sedap malam

(3) Panjang floret (cm)

Panjang floret diukur menggunakan meteran dari pangkal floret hingga ujung

bunga.

(4) Jumlah bunga yang sudah mekar (kuntum)

Jumlah bunga mekar dihitung secara manual. Bunga mekar ditandai dengan

terbukanya kelopak bunga maksimal 900 terhadap garis vertikal.

(5) Total jumlah floret per tangkai

Jumlah floret per tangkai dihitung mulai pangkal hingga ujung floret.

3.5.2 Pengamatan akhir

Pengamatan dilakukan terhadap setiap variabel persentase bunga mekar,

persentase bunga layu, masa kesegaran kuntum bunga, dan masa kesegaran total.

Floret

(46)

26

Variabel pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini meliputi: jumlah kuntum

bunga mekar; jumlah bunga layu per tangkai; jumlah bunga rontok per tangkai;

dan masa kesegaran bunga.

(1) Jumlah kuntum bunga mekar

Jumlah bunga dihitung bila sepal bunga telah membuka 50%, diamati setiap

[image:46.595.255.372.264.420.2]

hari dengan menghitung jumlah bunga mekar (Gambar 7).

Gambar 7. Kriteria bunga mekar yang diamati

(2) Jumlah bunga layu per tangkai

Jumlah bunga layu diamati setiap hari dengan ciri sepal bunga mengkerut,

dengan warna kecoklatan.

(3) Jumlah bunga rontok per tangkai

Jumlah bunga rontok diamati setiap hari dengan kriteria bunga bewarna

kecoklatan, dan lepas dari tangkai bunga. Bunga rontok per tangkai

(47)
[image:47.595.137.508.86.178.2]

27

Gambar 8. Kriteria bunga rontok yang diamati selama penelitian: a) bunga segar rontok; b) bunga kuncup rontok; dan c) bunga layu rontok

(4) Masa kesegaran bunga

Masa kesegaran bunga dalam satuan hari dihitung sejak awal holding hingga

hari pada saat jumlah bunga layu >50%.

c b

(48)

39

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Simpulan dari hasil penelitian ini adalah:

(1) Komposisi larutan berpengaruh terhadap variabel jumlah bunga mekar,

jumlah bunga rontok, dan masa kesegaran bunga potong sedap malam.

(2) Waktu penggantian larutan tidak berpengaruh terhadap semua variabel

pengamatan bunga potong sedap malam.

(3) Interaksi antara komposisi larutan dengan waktu penggantian larutan tidak

berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan bunga potong sedap

malam.

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan beragam konsentrasi bahan larutan

alternatif dalam upaya mempertahankan masa kesegaran bunga potong sedap

(49)

40

DAFTAR PUSTAKA

Arisanti, D. dan N. Setiari. 2012. Pengaruh pemberian vitamin C (asam askorbat) terhadap kesegaran bunga krisan (Chrysanthenum sp.) pada kawasan sentra penghasil di pekon ngasem, kecamatan Jetis, Bandungan, Jawa Tengah. Buletin Anatomi dan Fisiologi 20(1): 37-46.

Astita, A., F. 2016. Pengaruh jenis dan penggantian larutan peraga (holding) terhadap masa kesegaran bunga potongsedap malam (Polianthes tuberosa L.) varietas wonotirto. (Skripsi). Universitas Lampung. Lampung

Atin, S. 2008. Apotek Hidup Dari Rempah-Rempah, Tanaman Hias, dan Tanaman Liar. Yrama Widya. Bandung.

Halevy, A.H., dan S. Mayak. 1979. Senesence and postharvest physiology of cut flowers. J.Hortic. Rev 1:204-236.

Hidayah, A., F., D. Sofa. 2012. Pengaruh rebusan daun sirih (Piper betle) pada larutan perendam terhadap kesegaran bunga potong krisan

(Chrysanthemum indicum L.) (Skripsi) Universitas Jember. Jawa Timur Hutchinson, M.J., D.K. Chebet, and V.E. Emongor. 2003. Effect of accel, sucrose

and silver thiosulphate on the water relation and post harvest physiology of cut tuberose flowers. African Crop Science Journal, 11(4): 279-287.

Kurniawan, A., A.2008. Pengaruh komposisi larutan perendam dalam memperpanjang kesegaran anggrek potong dendrobium. (Skripsi) Universitas Brawijaya. Malang

Lakitan. 1995. Hortikultura Teori Budidaya dan Pascapanen. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Nofrianti, D. 2006. Kajian sistem pengemasan bunga mawar potong (Rosa hybrida) selama penyimpanan untuk memperpanjang masa pajangan. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor.

Nowak, J. dan M, R Rudnicki. 1990. Postharvest handling and stronge of cut flower, florist greens and potted Plant. Timber Press. Portland Oregon. Pradhan, D. 2013. “Golden heart of the nature: Piper Betle L ‘Journal Of

(50)

41

Prihardini dan Yuniarti. 2002. Pengenalan Varietas Sedap Malam (Varietas Roro Anteng) Jawa Timur. Http: www.bptp-jatimdeptan.go.id/baru-sedap-malam.htm/. Diakses tanggal 29 Maret 2016 pukul 15.00 WIB.

Promosiana, A. 2014. Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2013. Direktorat Jendral Hortikultura. Kementrian Pertanian

Rukmana, R. 2002. Sedap Malam. Kanisius . Yogyakarta. 36 hlm.

Sharga, A.N. 1982. Effect of bulb size on vegetatif growth and floral character tuberose (Polianthes tuberose L). J. Horti. 14(4): 258-260.

Sihombing, D. 2008. “Dian Arum” varietasbaru sedap malam balithi. Warta Plasma Nutfah Indonesia (20):1-3.

Suyanti. 2002. Teknologi pascapanen bunga sedap malam. Jurnal Litbang Pertanian 21(1):24-25

Talukdar, M.C. dan L. Barooah. 2011. Effect of pulsing anf different holding solution on flower quality and vese life of tuberosa (Polianthes tuberosa Linn) cv Calcuta double. J. Indian Journal of Hill Farming 24(1): 31-33

Tisnawati. 2005. Teknik memperpanjang masa simpan bunga potong Alpinia. Buletin Teknik Pertanian. 10(1):39-42

Tjitrosoepomo, G. 2005. Taksonomi Tumbuhan: Dasar-Dasar Taksonomi

Figure

Gambar                                                                                                        Halaman  Bunga sedap malam ‘Wonotirto’  .......................................................
Gambar 1. Bunga sedap malam‘Wonotirto’: (a)  bunga siap panen;                    (b)  bunga yang telah dipanen
Gambar 2.  Larutan pulsing yang siap digunakan untuk merendam bunga potong sedap malam ‘Wonotirto’ yang sudah dipanen
Tabel 1.  Koefisien perbandingan orthogonal pengaruh komposisi dan penggantian                 larutan pengawet terhadap masa kesegaran bunga potong sedap
+6

References

Related documents

Body elongate; sides silvery; head large, snout very long pointed; mouth terminal; lower jaw projecting beyond upper; teeth strong; pectoral in the lower half of the body; two

- Simultaneous live monitoring form multiple MDVR units Download video from MDVR to ACMS2.0 server - Event video download. - Video download by

Grouped by the software layer in which the iteration of the connection generator happens (either in Python by PyNN or in C++ by NEST, see section 4) and the CSA implementation used

[r]

O n the contrary, the phrase 'fields coordinated by this Directive' in Article 2 a ( l ) circumscribes the areas in which the transmission state principle applies,

Results do not allow us to confirm Herzberg’s differentiation for the Spanish PhD holders, since factors related with basic motivation (such as salary or

As the number of prospective drinking and driving clients searching the web has increased, so has the amount of time and money that criminal lawyers are putting into their drunk

Iowa crash records from 1995 to 2000 were used to identify the following unique identifiers (severity, time of day, rural/urban, type of accident, light conditions, collision