• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
79
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

TAHUN AJARAN 2017/2018

Skripsi

Oleh:

Welly Hasvindo

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 8 PESAWARAN TAHUN AJARAN

2017/2018

Oleh Welly Hasvindo

Tinggi rendahnya hasil belajar siswa tidak semata-mata hanya ditentukan oleh usaha siswa itu sendiri, melainkan juga ditentukan oleh penggunaan strategi pembelajaran yang tepat oleh guru. Berdasarkan observasi yang dilakukan, diketahui pembelajaran pada mata pelajaran IPS semester ganjil tahun ajaran 2017/2018 belum memenuhi KKM. Untuk mengatasi permasalahn tersebut, peneliti menggunakan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.

Rumusan masalah penelitian ini adalah: “Apakah ada peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match siswa Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018?” Tujuan penelitian yaitu menganalisis dan mengetahui ada atau tidaknya peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui penerapan strategi pembelajaran Active LearningTipe Index Card Match siswa Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018. Penelitian ini menggunakan metode One Shot Case Study. Teknik analisis data statistik menggujikan nonparametrik dengan uji t.

Hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan hipotesis kerja (H1) diterima, yakni “Terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui penerapan strategi pembelajaran Active LearningTipe Index Card Match siswa Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018. Dengan membandingkan besarnya to observasi yang diperoleh dalam perhitungan yakni to observasi = 45,682 dan besarnya nilai ttabel (ttabel ts 0,05 = 2,631 dan ttabel ts 0,01 = 1,986) maka dapat diketahui bahwa nilai t observasi lebih besar dari nilai ttabel, yakni 1,986 < 45,682 > 2,631. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar signifikan. HaI ini berarti, penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card dapat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

(3)

TAHUN AJARAN 2017/2018

Oleh:

Welly Hasvindo

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar

SARJANA PENDIDIDKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan ilmu pengetahuan sosial

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Peneliti dilahirkan di Gedong Tataan, pada tanggal 08

Maret 1996, anak Pertama dari dari pasangan Bapak Sejati

dan Ibu Suratini. Peneliti memulai pendidikan di SD N 1

Penyandingan selesai pada tahun 2008 berijazah, SMPN 8

Pesawaran diselesaikan pada tahun 2011 berijazah, SMAN

5 Metro diselesaikan pada tahun 2014 berijazah. Pada

tahun 2014, peneliti diterima sebagai mahasiswa Universitas Lampung Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial pada

Program Studi Pendidikan Sejarah lewat jalur SBMPTN (tertulis) dan dengan

skripsi ini peneliti menamatkan pendidikannya pada jenjang S1.

Penelitipernah aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di HIMAPIS

(8)

“Bukan kekurangan yang melemahkan hidupmu, tapi pendapatmu

yang mengecilkan semangatmu sendiri. (Welly Hasvindo).

Jadilah kuat saat dirimu lemah, Jadilah berani saat dirimu

takut, dan jadilah rendah hati saat dirimu memperoleh segalanya

dariNYA (Hendro Kartiko)

Bukanlah kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah

yang membuat kita sulit. Karena itu janganlah pernah mencoba

untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Dan

jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi

katakanlah pada masalah aku punya Allah Yang Maha

(9)

Dengan mengucap Syukur kepada Allah Swtdan dengan niat

tulus ikhlas,kupersembahkan karya sederhana ini

sebagaiUngkapan bakti dan setiaku kepada:

Kedua orang tua ku tercinta Suratini dan Sejati yang dengan

kesabaran dan kasih sayangnya selalu menerangi hidupku dan

senantiasa Mendoakanku dalam setiap sujudnya Mendoakan

keberhasilan, kesuksesan,Dan Keberkahan ku dimasa depan.

Almamaterku tercinta

(10)

SANWACANA

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Penerapan Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe

Index Card Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran IPS

Siswa Kelas VII Di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018” pada

Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas

Keguruan dan ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih yang setulusnya kepada

berbagai pihak yang telah menyumbangkan pemikiran, motivasi, dan waktunya

untuk memperlancar penyelesaian skripsi ini. Ucapan terimakasih peneliti

haturkan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd.Dekan Fakultas Keguruandan Ilmu

Pendidikan, Universitas Lampung;

2. Bapak Dr. Sunyono, M.Si. Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja Sama

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UniversitasLampung;

3. Bapak Drs Supriyadi, M.Pd. Wakil Dekan II Bidang Umum danKeuangan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;

4. Bapak Dr. Riswanti Rini, M.Si.Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan

Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Lampung;

5. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan

(11)

6. Bapak Drs. Syaiful M, M. Si.Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, sekaligus

Dosen Pembahas dalam penelitian ini. Terimakasih banyak atas dukungan,

masukan, saran dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini;

7. Bapak Muhammad Basri, S.Pd., M.Pd. sebagai Dosen Pembimbing I dan

Dosen Pembimbing Akademik, terimakasih banyak telah menjadi PA yang

baik dan juga terima kasih atas waktunya, saran, dan masukan dalam

penyusunan skripsi ini;

8. Bapak Suparman Arif, S.Pd., M.Pd. sebagai Dosen Pembimbing II,

terimakasih yang tak terhingga atas kesempatannya, waktunya, segala saran,

dukungan, dan masukan dalam penyusunan skripsi ini;

9. Bapak Drs. Maskun, M.H. Selaku Dosen Pendidikan Sejarah dan sebagai

pembahas, terimkasih atas dukungan, masukan, dan saran dalam penyusunan

Skripsi ini.

10. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Sejarah JurusanPendidikan

Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan Universitas

Lampung, Drs. Wakidi, M.Hum. Drs. H. Tontowi Amsia, M.Si. Hendri

Susanto, S.S.M.Hum. Dr. Risma Sinaga, M.Hum.Suparman Arif, S.Pd., M.Pd.

Yustina Sri Ekwandari, S.Pd, M.Hum. Drs. Ali Imron, M.Hum. Cheri Saputra,

S.Pd, M.Pd. Myristica Imanita, S.Pd, M.Pd. dan Marzius Insani, S.Pd., M.Pd.

yang telah memberikan ilmu, pengalaman berharga kepada peneliti;

11. Bapak Solikhin, S.Pd. Kepala SMP Negeri 8 Pesawaran yang telah

(12)

12. Ibu Khadijah, S.Pd. guru mitra penelitian yang telah membimbing dan

memberikan saran yang bermanfaat untuk skripsi ini;

13. Sahabat lama, Rofik, Refni, Topik, Ma’ruf, Nanda, Ridwan, terima kasih atas

dukungannya;

14. Sahabat SMA, Yoga Cahya Saputra, Lupita Indah, Nurul Irma, Rizki Tri

Maryadi, Riski Saputra, Gata, Fikri, Rama terima kasih motivasi dan

semangatnya;

15. Sahabat serta teman-teman kuliah Pendidikan Sejarah terhebat yang pernah

peneliti kenal, Farlian Oktora P, Kasirun, Agil Yama Hakim, M Fafa

Nurwahid, Septiyan Wicaksono, Siti Rohmatun Nasikha, Sulaiman Abdul

Razaq, Giat Cipta, Siti Halimah, Joshua Fernando, Ika Sellyna Putri, Desi

Puspita, Siti Nur Masitoh, Eva Mayana terima kasih atas perhatiannya;

16. Kak Mardiansyah, kak Fadlan, Mbak Nurul Fahma dan Kak Nandar terima

kasih bantuannya dalam mengajarkan peneliti mengolah data skripsi;

17. Adik-adikku terima kasih doanya, duluan yaa...;

18. Seluruh teman-teman seperjuangan angkatan 2014, semoga berkah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, Oktober 2018 Peneliti,

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSEMBAHAN ... i

SANWACANA ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ……….. 4

1.4. Manfaat Penelitian………. 4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ………...………..5

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, PARADIGMA DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Pustaka ... 7

2.1.1 Konsep Belajar ... 7

2.1.2 Teori Belajar dan Pembelajaran ... 8

2.1.3 Konsep Hasil Belajar ... 14

2.1.4 Strategi Pembelajaran Aktif ( Active Learning) ... 16

2.1.5 Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match.21 2.1.6 Konsep Ilmu Penegtahuan Sosial (IPS) Sebagai Mata Pelajaran di SMP ... 24

2.1.7 Penelitian Yang Relevan……… 26

2.1.8 Kerangkaa Pikir ………..27

2.1.9 Paradigma ……….. 29

(14)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian. ... 32

3.2 Populasi dan Sampel ... 33

3.3. Variabel Penelitiandan Definisi Operasional Variabel ………....35

3.4. Teknik Pengumpulan Data ……….. 37

3.5. Langkah-langkah Penelitian ……….45

3.6. Uji Instrumen Penelitian ………..47

3.7. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ...……….... 50

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian. ... 55

4.2 Hasil Uji Instrumen ... 63

4.3. Pelaksanaan Pembelajaran ... 67

4.4. Hasil Pengkonsversian Skor ke Nilai dan Pengujian Hipotesis ... 73

4.5. Pembahasan ... 82

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 85

5.2. Saran ... 85

(15)
[image:15.595.148.510.254.742.2]

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Hasi Ulangan Tengah Semester Ganjil Mata pelajaran IPS

Siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran TA 2017/2018 ...2

2. Data Siswa Kelas VII SMPN 8 Pesawaran TA 2017/2018 ...35

3. Indikator Kegiatan Guru dengan Index Card Match (ICM)... 40

4. Kategori Kinerja Guru ... 42

5. Lembar Aktivitas Siswa ... 42

6. Aspek Aktivitas Siswa yang akan di amati... 43

7. Kategori Aktivitas Belajar... 44

8. Kisi-kisi Soal ……… 46

9. Pedoman Penskoran Postest ………...………. 46

10. Koefisien Validitas Tes .……….. 49

11. Kriteria Reliabilitas ……….. .50

12. Interprestasi Nilai Tingkat Kesukaran ……….. 51

13.

Interpretasi Nilai Daya Pembeda... 52

14. Daftar Nama Kepala SMP Negeri 8 Pesawaran ... 58

15. Keadaan Tenaga Pendidik SMP N 8 Pesawaran ……….. 59

16. Keadaan Tenaga Kependidikan SMPN 8 Pesawaran ………60

17. Keadaan Siswa SMP Negeri 8 Pesawaran ……… 61

18. Keadaan Sarana dan Prasarana SMPN 8 Pesawaran ……… 62

19. Ekstrakulikuler SMPN 8 Pesawaran……….. 65

20. Hasil Uji Coba Instrumen ………...66

21. Hasil Tingkat Kesukaran ……….. 68

(16)

23. Data Observasi Nilai Mata Pelajaran IPS Kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018 (KKM≤68) ...……... 70 24. Penskoran Posttest... ………...76 25. Data Nilai Hasil Observasi (X) dan Hasil Post-Test (Y) Serta Beda

(D) Mata Pelajaran IPS Pada 92 Siswa Kelas VII SMPN 8

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Pengesahan Judul

2. Surat Izin Penelitian Pendahuluan

3. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian

Pendahuluan

4. Surat Izin Penelitian

5. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian

6. Rekomendasi Pembahas

7. Silabus

8. RPP

9. Soal Posttest

10. Kunci Jawaban Posttest

11. Validitas Instrumen

12. Reliabilitas Instrumen

13. Tingkat Kesukaran

14. Daya Pembeda

15. Tabel Uji Chi Kuadrat

16. Tabel Uji T

(18)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan bagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, merupakan

salah satu faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya

manusia sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini

menuntun manusia untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Sehingga, antara

pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 (ayat 1) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Crow and Crow pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam

kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan

membantumeneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke

generasi (Fuad Ihsan, 2010:4).

Pendidikan diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang di kembangkan

atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat)

yangberfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan

(19)

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara siswa dan guru yang

menggunakan segala sumber daya sesuai dengan perencanaan yang telah di

persiapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pembelajaran yang efektif yaitu dengan adanya interaksi antara siswa dengan

lingkungan sosialnya (guru dan teman-temannya) melalui diskusi, bermain peran,

dan saling bertanya,membangkitkan motivasi berprestasi siswa (memiliki daya

dorong atau keinginandan keyakinan), memantapkan pengalaman siswa, dan

menenangkan siswa.

Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di SMP N 8 Pesawaran pada tanggal

24 Oktober 2017 bahwa hasil belajar di sekolah belum mencapai rata-rataKKM

yang telah di tentukan oleh sekolah tersebut. Ketentuan standar ketuntasan belajar

untuk Mata Pelajaran IPS di SMP N 8 Pesawaran adalah 68,00. Hasil ulangan

tengah semester pada Mata Pelajaran IPS di kelas VII ini dapat di lihat pada tabel

[image:19.595.114.512.575.730.2]

berikut:

Tabel 1. Hasil Ulangan Tengah Semester Ganjil Mata pelajaran IPS Siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran TP 2017/2018

NO Kelas KKM = 68 Jumlah Siswa

< 68 ≥ 68

1 VII A 19 9 28

2 VII B 23 6 29

3 VII C 13 15 28

(20)

5 VII E 11 16 27

Jumlah Siswa 92 47 139

Persentase 66% 34% 100%

Sumber : Guru Mata Pelajaran IPS SMP N 8 Pesawaran

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa hasil belajar IPS siswa kelas VII

masih tergolong rendah yaitu siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum (

KKM) yang berlaku di SMP Negeri 8 Pesawaran yaitu 68 itu berarti hanya 47

siswa dari jumlah seluruh siswa kelas VII 139 siswa atau hanya 34% yang

mencapai KKM dan sebanyak 92 siswa atau 66% siswa tidak mencapai nilai

KKM. Berdasarkan data diatas, yaitu hasil belajar siswa yang belum mencapai

standar ketuntasan belajar pada mata pelajaran IPS. Maka harus dicoba dengan

menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran siswa

adalah strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match. Strategi

pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match atau mencari pasangan

kartu, cukup menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran

yang telah diberikan sebelumnya. Mengacu pada permasalahan tersebut di atas,

penulis akan melakukan penelitian eksperimen dengan judul “Penerapan Strategi

Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match Untuk Meningkatkan

Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII di SMP Negeri 8

(21)

1.2. Rumusan Masalah

Ditinjau dari pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian

yakni, “Apakah ada peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui

penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match siswa

Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018?”

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui ada atau tidaknya

peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui

penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match siswa

Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan manfaat kepada

pihak-pihak berikut.

1. Siswa

Melalui penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card

Match, diharapkan siswa dapat memperoleh pembelajaran yang bermakna,

menyenangkan, dan mampu mengembangkan pengetahuan sesuai dengan

pengalaman belajar yang diperoleh, sehingga mampu meningkatkan hasil

belajar dalam pembelajaran mata pelajaran IPS.

2. Guru

Memperluas pengetahuan guru mengenai strategi pembelajaran yang dapat

mengoptimalkan kemampuan siswa serta dapat memberikan manfaat dalam

(22)

3. Sekolah

Menjadi kontribusi positif untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya

kualitas pembelajaran di SMP Negeri 8 Pesawaran.

4. Peneliti

Menjadi sarana pengembangan wawasan mengenai strategi pembelajaran serta

dapat menambah pengetahuan tentang penelitian eksperimen dan penerapan

strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi:

1. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen.

2. Objek penelitian ini adalah penerapan strategi pembelajaran Active

Learning Tipe Index Card Match dan hasil belajar mata pelajaran IPS

pada siswa.

3. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran.

4. Penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 8 Pesawaran pada semester

(23)

REFERENSI

Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.18

Iskandar Wassid dan Dadand Sunendar.2011.Strategi Pembelajaran

Bahasa.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Hal. 1

Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Surakarta: Pustaka Belajar. Hal. 18

Trianto. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenamedia Group. Hal.185

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, PARADIGMA DAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Konsep Belajar

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku manusia sebagai akibat

dari pengalaman dan latihan serta aktifitas manusia dalam interaksi dengan

lingkungannnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (2010:2) bahwa

“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh

suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Djamarah dan Zain (2010:10) yang menyatakan

bahwa “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan,

baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi

segenap aspek organisme atau pribadi”. Selanjutnya Aunurrahman (2010:36)

menyatakan bahwa:

Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau objek-objek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengalaman-pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh.

Menurut Aliran Behavioristik (dalam Sanjaya, 2013:114) “Belajar pada

(25)

indera dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan

respon (S-R)”. Belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus

dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks

(Riyanto, 2010:9). Sejalan dengan pengertian tersebut, Sanjaya (2010:107)

berpendapat bahwa “Belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan

kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara

individu dengan lingkungannya”.Selanjutnya Degeng (dalam Riyanto, 2010:5)

mengemuka kan bahwa belajar merupakan:

Pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar. Hal ini mempunyai arti bahwa dalam proses belajar, peserta didikakan menghubung-hubungkan pengetahuan atau ilmu yang telah tersimpan dalam memorinya dan kemudian menghubungkan dengan pengetahuan yang baru.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar

merupakan proses perubahan tingkah laku manusia baik yang menyangkut

pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan tingkah laku manusia sebagai akibat

dari aktifitas, pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang

ditangkap melalui panca indera untuk dapat mengaitkan pengetahuan lama dengan

pengetahuan yang baru.

2.1.2 Teori Belajar dan Pembelajaran

Secara umum terdapat ada tiga jenis teori belajar yang telah dikenal, yaitu teori

belajar Behavioristik, Kognitif dan teori belajar Konstruktivistik.Teori belajar

(26)

pembelajaran. Ada 3 pandangan psikologi utama tentang teori belajar,yaitu teori

belajar Behavioristik, teori belajar Kognitif dan teori belajarKontruktivisme.

a. Teori belajar Behavioristik

Teori belajar ini pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapatdiukur dan

diamati.Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilakuyang diinginkan

dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan daripenerapan teori

behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku

yang di nginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai

mendapat penghargaan negatip. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku

yang tampak. Dalam teori belajar ini gurutidak banyak memberikan ceramah,

tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun

melalui simulasi.

Menurut Thorndike (Sugihartono dkk, 2007: 91) belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwaperistiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

b. Teori belajar Kognitif

Menurut teori ini, proses belajar akan baik bila materi pelajaran

(27)

strukturkognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Dalam teori ini ilmu

pengetahuandibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi

yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses pembelajaran ini bejalan

tidak sepotong–sepotong atau terpisah–pisah melainkan bersambung dan

menyeluruh. Teori belajar kognitif ini guru bukanlah sumber belajar utama

dan bukan kepatuhan siswa yang dituntut dalam refleksi atas apa yang

diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Evaluasi belajar bukan padahasil tetapi

pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasi pengalamanya.

Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121)bahwa

”belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untukmemperoleh

suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhansebagai hasil

pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan

suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Sepertijuga diungkapkan

oleh Winkel dalam Winataputra (2008: 36) belajar adalah suatu aktivitas

mental atau psikis yang berlangsung dalam suatu interaksi aktif dengan

lingkungan yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan

pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.Perubahan itu bersifat secara relatif

dan berbekas.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses

usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia

(28)

memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah

laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

c. Teori belajar Humanistik

Proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentinganmemanusiakan

manusia itu sendiri. Winataputra (2008: 4.2) teoribelajar humanistik

menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses di mana siswa

mengembangkan kemampuan pribadi yang khasdalam bereaksi terhadap

lingkungan sekitar.

Mikarsa (2007: 6.6) teori belajar humanisme memandang bahwaperilaku

manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internaldirinya dan bukan

oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan.Belajar bermakna menurut teori

ini adalah belajar yang melibatkanpengalaman langsung, berpikir dan

merasakan, atas kehendak dirisendiri dan melibatkan seluruh pribadi siswa.

Kolb dalam Budiningsih(2005: 70) membagi tahap-tahap belajar menjadi

empat tahap, yaitu:(1) tahap pengalaman konkret, (2) tahap pengamatan aktif

danreflektif, (3) tahap konseptualisasi, (4) tahap eksperimentasi aktif.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa belajarmenurut teori

humanistik adalah untuk memanusiakan manusia.Proses belajar dianggap

berhasil jika siswa telah memahamilingkungannya dan dirinya sendiri atau

(29)

d. Teori belajar Konstruktivistik

Menurut teori ini permasalahan dimunculkan dari pancinganinternal,

permasalahan muncul dibangun dari pengetahuan yangdirekonstruksi sendiri

oleh siswa. Teori ini sangat dipercaya bahwa siswa mampu mencari sendiri

masalah,menyusun sendiri pengetahuannyamelalui kemampuan berpikir dan

tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai

keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.

Manfaat dari beberapa teori belajar sebagai berikut.

1) Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar

2) Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses

pembelajaran

3) Memandu guru untuk mengelola kelas

4) Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil

belajar siswa yang telah dicapai.

5) Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan produktif

6) Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepadasiswa

sehingga dapat mencapai hasil prestasi yang maksimal.

Untuk penganut aliran kognitif mengungkapkan bahwa belajarbukanlah

sekedar melibatkan hubungan diantara respon dan stimulus. Padamodel belajar

kognitif adalah suatu bentuk teori belajar yang seringdisebut dengan model

perseptual. Belajar kognitif menyatakan bahwaperilaku seseorang ditentukan

(30)

dengan tujuan belajar mereka. Belajar adalah perubahan pandangan dan

pemahaman yang tidak selalu bisaterlihat sebagai perilaku yang nampak.

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori

belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mentalPiaget. Teori ini

biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atauteori perkembangan

kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengankesiapan anak untuk belajar,

yang dikemas dalam tahap perkembanganintelektual dari lahir hingga dewasa.

Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan

ciri-ciri tertentu dalammengkonstruksi ilmu pengetahuan. Pada tahapan yang lebih

tinggi seseorang lebih mampu berpikir terorganisasi dan abstrak (Winataputra,

2008: 68)

Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama(Dahar, 1989:

159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangundalam pikiran anak

melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalahpenyerapan informasi baru

dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur

pikiran karena adanya informasi baru,sehingga informasi tersebut mempunyai

tempat (Ruseffendi 1988: 133).

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat dikatakan bahwa teoribelajar

konstruktivis menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anaksecara aktif

dalam proses pengaitan sejumlah gagasan danpengkonstruksian ilmu

(31)

Teori yang mendukung desain pembelajaran pada penelitian ini adalah teori

belajar humanistik, karena belajar bermakna menurut teori ini adalah belajar

yang melibatkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan, atas kehendak

diri sendiri dan melibatkan seluruh pribadi siswa. Teori ini juga menganggap

perilaku manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internal dirinya

dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan

2.1.3 Konsep Hasil Belajar

Pengukuran hasil belajar dalam pendidikan dilakukan dengan mengadakan testing

untuk membandingkan kemampuan siswa yang diukur dengan tes sebagai alat

ukurnya. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat belajar

(Purwanto, 2008:34). Perubahan di upayakan dalam proses belajar mengajar untuk

mencapai tujuan pendidikan. Perubahan perilaku individu akibat proses belajar

tidak tunggal. Setiap proses belajar memengaruhi perubahan perilaku pada

domain tertentu pada diri seseorang, tergantung perubahan yang diinginkan terjadi

sesuai dengan tujuan pendidikan.

Ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom dalam buku dasar-dasar evaluasi

pendidikan Suharsimi Arikunto yaitu :

1. Mengenal (Recognition)

Dalam pengenalan siswa diminta untuk memilih satu dari dua atau lebih jawaban.

2. Pemahaman (Comprehension)

Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. 3. Penerapan atau Aplikasi (Application)

(32)

dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar.

4. Analisis (Analysis)

Dalam tugas analisis ini siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar.

5. Sintesis (Synthesis)

Penyusun soal tes bermaksud meminta siswa melakukan sintesis maka pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga meminta siswa untuk menggabungkan atau menyusun kembali (reorganize) hal-hal yang spesifik agar dapat mengembangkan suatu struktur baru. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dengan soal sintesis ini siswa diminta untuk melakukan generalisasi.

6. Evaluasi (evaluation)

Penyusun soal bermaksud untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai sesuatu kasus yang diajukan oleh penyusun soal.

(Suharsimi Arikunto, 2006:114)

Daftar Kata Operasional Ranah Kognitif (C1-6) adalah sebagai berikut

NO Ranah

Kognitif

Kata Operasional

1 Pengetahuan (C1) Menyebutkan, menyatakan, mendefinisikan,

mendeskripsikan, mengidentifikasi,

mendaftarkan, menjodohkan, dan mereproduksi.

2 Pemahaman (C2) Menerangkan, membedakan, menduga,

mempertahankan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, member contoh,

menuliskan kembali, dan memperkirakan

3 Aplikasi (C3) Mengoprasikan, menemukan, menunjukkan,

menghubungkan, memecahkan, menggunakan, mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, memanipulasi, memodifikasi, meramalkan, menyiapkan dan menghasilkan.

4 Analisis (C4) Merinci, Mengidentifikasi, Mengilustrasikan,

menunjukkan, menghubungkan, memilih, memisah, menyusun, membagi, membedakan, dan menyimpulkan

5 Sintesis (C5) Mengkategorikan, Menyusun, Menghubungkan,

(33)

Sumber : (Suharsimi Arikunto, 2006:150)

2.1.4 Strategi Pembelajaran Aktif ( Active Learning )

2.1.4.1 Konsep Strategi Pembelajaran Aktif ( Active Learning )

Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang artinya sebagai

cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan.

Slameto (dalam Riyanto, 2010:131). Menyatakan bahwa, “Strategi adalah suatu

rencana tentang pendayagunaan dan penggunaan potensi sarana yang ada untuk

meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengajaran.” Djamarah (dalam

Riyanto:2010:131) menyatakan bahwa, “Strategi adalah suatu garis-garis besar

haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan”.

Berkaitan dengan pembelajaran, Riyanto (2010:131) menyatakan. “Strategi adalah

sebagai pola-pola umum kegiatan guru dengan anak didik dalam perwujudan

kegiatan pembelajaran untukmencapai tujuan yang telah digariskan”. Sanjaya

(2013:126) menyatakan bahwa, “Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai

perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesaim untuk

mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

rencana, menyusun kembali,

merekonstruksikan, merevisi, menuliskan, menceritakan.

6 Evaluasi (C6) Menilai, menyimpulkan, memutuskan,

(34)

Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi

pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk

pengggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan

dalamppembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampaipada

proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi

disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan

penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, pemanfaatan berbagai fasilitas dan

sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab

itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat

diukur keberhasilanntya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu

strategi.

Kemp (dalam Sanjaya, 2013:126) menjelaskan bahwa “Strategi pembelajaran

adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar

tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Senada dengan

pendapat di atas, Dick And Carey (dalam Sanjaya, 2013:126) menyebutkan bahwa

“Strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang

digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Banyak strategi pembelajaran aktif yang dikembangkan oleh para ahli dengan

berbagai komponen yang berorientasi pada aktivitas peserta didik. Gerlacch,

Gagne ( dalam Sanjaya, 2008: 60) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah

berbagai komponen di dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk

belajar Active learning pada dasarnya merupakan salah satu bentuk atau jenis dari

(35)

Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik mengandung pengertian

bahwa sistem pembelajaranmenempatkan peserta didik sebagai subyek yang aktif

dan telah memiliki kesiapan untuk belajar.

Dalam pandangan psikologi modern belajar bukanlah sekedar menghafalkan

sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi merupakan peristiwa mental dan proses

berpengalaman. Oleh karena itu, setiap peristiwa pembelajaran menuntut

keterlibatan intelektual-emosional peserta didik melalui asimilasi dan akomodasi

kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan serta pengalaman

langsung dalam rangka membentuk keterampilan (kognitif, motorik, dan sosial),

penghayatan serta internalisasi nilai-nilaidalam pembentukan sikap.

Tingkatan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk

menerapkan strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran di kelas.

Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak

hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca,

menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggota kelas yang lain dalam

memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak

didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang

menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis,

membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah

strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata

menggunakan teknik active learning di kelas menjadi sangat penting karena

(36)

Strategi active learning adalah strategi belajar mengajar yang bertujuan

meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mencapai keterlibatan siswa agar efektif

dan efisien dalam belajar, dibutuhkan berbagai pendukung dalam proses belajar

mengajar, yaitu dari sudut siswa, guru, situasi belajar, program belajar, dan dari

sarana belajar. Menurut Silberman (dalam Hamdani, 2011:49) strategi active

learning merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi pembelajaran

yang komprehensif, meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik menjadi

aktif. Strategi active learning sukar didefinisikan secara tegas sebab semua cara

belajar mengandung unsur keaktifan dari siswa, meskipun dengan kadar keaktifan

yang berbeda. Keaktifan dapat muncul dalam berbagai bentuk, tetapi semua itu

harus dikembalikan pada satu karakteristik keaktifan dalam rangka active learning

strategy, yaitu keterlibatan intelektual, emosional dalam kegiatan belajar mengajar

yang bersangkutan, asimilasi akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan,

perbuatan serta pengalaman langsung terhadap umpan baliknya dalam

pembentukan keterampilan dan penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam

pembentukan sikap.

Bertitik tolak dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa strategi

active learning adalah salah satu cara atau strategi belajar mengajar yang

menuntut keaktifan serta partisipasi siswa dalam setiap kegiatanbelajar seoptimal

mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan

(37)

Dari beberapa pendapat tentang pengertian Active Learning, maka peneliti

menyimpulkan bahwa Active Learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya

menuntut keaktifan dan partisipasi siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

2.1.4.2 Karakteristik Pembelajaran Aktif( Active Learning )

Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, kegiatan

belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Sardiman (2011: 95) berpendapat

bahwa ”belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi

melakukan kegiatan, tidakada belajar kalau tidak ada aktivitas”. Pembelajaran

berpusat pada siswa, guru membimbing dalam terjadinya pengalaman belajar,

tujuan kegiatan tidak hanya sekedar mengejar standar akademis, pengelolaan

kegiatan pembelajaran dan penilaian (Joni, R dalam Nurhayati, 2008). Aktivitas

siswa dalam pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman (2011: 99) bahwa: “Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin akan berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifansiswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar”.

Dari beberapa pendapat tentang pengertian Aktive Learning, maka peneliti

menyimpulkan bahwa karakteristik Aktive Learning adalah pembelajaran yang

pelaksanaannya berpusat pada siswa, peran guru sebagai pembimbing yang tujuan

pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan siswa dengan pengelolaan

(38)

2.1.5 Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match

2.1.5.1 Konsep Pembelajaran Strategi Pembelajaran Active Learning Index Card Match

Strategi ini merupakan salah satu pembelajaran aktif untuk mengulang materi

pembelajaran yang di dalamnya terdapat unsur permainan. Dengan cara guru

memancing kreatifitas dengan menggunakan media. Cara ini memungkinkan

siswa untuk berpasangan dan memberikan pertanyaan kuis kepada temannya.

Strategi pembelajaran aktif tipe Index Card Match merupakan salah satu strategi

mengajar yang dikembangkan oleh Dr. Melvin L Silberman, ia adalah guru besar

kajian Psikologi Pendidikan di Tempel University, dengan spesialisasi psikologi

pengajaran. Lulusan Brandeis University ini memiliki gelar A.M. dan Ph.D

dibidang psikologi pendidikan dari Universitas Chicago. Disamping reputasi

internasionalnya dalam bidang proses belajar aktif.

Strategi ini merupakan sekumpulan dari buku 101 Strategi Pembelajaran Aktif

(Active Learning). Strategi tersebut dapat digunakan untuk membantu siswa

dalam meninjau ulang materi pelajaran yang telah disampaikan dan juga

menghilangkan kejenuhan.

a. Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Active Learning tipe Index Card Match

Adapun prosedur-prosedur strategi pembelajaran Active Learning tipe index card

match, sebagai berikut.

(39)

2) Pada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atas masing-masing pertanyaan itu.

3) Campurkan dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampur aduk.

4) Berikan satu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan pencocokan. Sebagian siswa mendapat pertanyaan tinjauan dan sebagian lain mendapatkan kartu jawabannya.

5) Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari tempat duduk bersama. (Katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka). 6) Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, perintahkan tiap

pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa yang lain dengan membacakan keras-keras pertanyaan dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya.

Mengacu pada pendapat Zaini (2008: 67-68), maka langkah-langkah dalam

penelitian ini sedikit dimodifikasi, yaitu sebagai berikut.

1) Membuat potongan kertas (kartu) sesuai dengan jumlah siswa kelas VII. 2) Membagi potongan kertas (kartu) menjadi dua bagian.

3) Menuliskan pertanyaan terkait materi pada separuh jumlah kartu. Masing-masing kartu berisi satu pertanyaan.

4) Menuliskan jawaban atas pertanyaan pada separuh jumlah kartu yang lain.

5) Sebelum memulai permainan, guru membagikan nomor kepada siswa sesuai dengan nomor presensi masing-masing dengan tujuan memudahkan guru untuk memberikan penilaian. Kemudian guru menjelaskan aturan dan langkah-langkah yang harus diikuti siswa dalam permainan ini.

6) Mengkocok semua kartu dan membagikannya kepada siswa.

Masing-masing siswa mendapat satu kartu.

7) Meminta siswa yang mendapat kartu pertanyaan untuk berkeliling mencari kartu jawaban, sedangkan siswa yang mendapat kartu jawaban duduk dibangkunya masing-masing. Waktu yang diberikan untuk menemukan kartu pasangannya adalah 5 menit.

8) Setelah semua pasangan duduk berdekatan, guru memerintahkan siswa untuk tidak memberitahukan apa yang ada di kartu kepada pasangan lain. 9) Meminta siswa membacakan keras-keras pertanyaan yang ada di kartu

agar dijawab oleh pasangan lain, begitu seterusnya hingga pertanyaan habis. Siswa yang aktif memberikan jawaban dengan tepat akan mendapatkan bintang.

(40)

b. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Active Learning tipe Index Card Match

Setiap Strategi yang digunakan dalam pengajaran hampir dapat dipastikan

mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Demikian juga Strategi

Pembelajaran Active Learning tipe Index Card Match memiliki beberapa

kelebihan dan kekurangan. Menurut Zaini (2008: 82-83), kelebihan dan

kekurangan strategi pembelajaran active learning tipe index card match sebagai

berikut.

1) Kelebihan sebagai berikut.

a. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik.

b. Karena terdapat unsur permainan, strategi ini menyenangkan. c. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. d. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa.

e. Efektif melatih kedisiplinan siswa dalam menghargai waktu untuk belajar.

2) Kelemahan sebagai berikut.

a. Jika guru tidak merancang dengan baik, maka banyak waktu yang akan terbuang.

b. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, pada saat siswa membacakan kartunya banyak siswa yang kurang memperhatikan yang akan menjadikan suasana menjadi ramai.

c. Menggunakan strategi index card match secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.

d. Strategi ini terkendala dilakukan jika jumlah siswa tidak genap. Apabila jumlah siswa dalam suatu kelas ganjil atau ada siswa yang tidak masuk, maka dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi siswa dengan menggabungkan siswa yang tidak mempunyai pasangan kedalam pasangan lainnya.

(41)

Berdasarkan penjelasan di atas didapat bahwa kelebihan index card match, yaitu

mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan, mampu

menumbuhkan kegembiraan, siswa lebih lama mengingat materi pelajaran yang

dipelajari, dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa karena didalamnya ada

unsur permainan. Sedangkan kekurangan index cardmatch adalah suasana kelas

menjadi gaduh, guru harus meluangkan waktu yang lebih lama untuk persiapan,

dan membutuhkan waktu yanglama bagi siswa untuk menyelesaikan tugas.

2.1.6. Konsep Ilmu Penegtahuan Sosial (IPS) Sebagai Mata Pelajaran di SMP

Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang ada di tingkat SD, SMP,

dan SMA. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan disiplin intelektual yang

mempelajari Manusia sebagai makhluk sosial secara ilmiah serta memusatkan

pada manusia sebagai anggota masyarakat ( Sumaatmadja, 2007;9). Dalam

penelitian ini akan dibahas tentang IPS yang ada di tingkat SMP. Menurut

Kurikulum Pendidikan IPS untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah

merupakan bentuk penyederhanaan, penyesuaian, seleksi modifikasi, dan disiplin

akademis ilmu-ilmu social yang di organisir dan disajikan secara ilmiah

pedagogis/psikologis, untuk mewujudkan tujuan pendidikan tingkat dasar dan

menengah, dan untuk mendukung tujuan nasional pendidikan di Indonesia yang

berdasarkan Pancasila.

Mata Pelajaran IPS di SMP merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib

ditempuh oleh siswa SMP bahwa IPS pada kurikulum sekolah (satuan pendidikan)

(42)

pasal 37 yang berbunyi bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib

memuat ilmu pengetahuan sosial (UU 20 Tahun 2003).

Tujuan mata pelajaran IPS di SMP yaitu mengembangkan kesadarandan kepedulian masyarakat dan lingkungan sebagaimana yang tertuang dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 sebagai berikut :

1. Mengembangkan pemahaman tentang gejala alam dan kehidupan sistem sosial, pengolahan sumber daya, dan perubahan keberlanjutan.

2. Menerapkan pola berfikir keruangan dalam memahami gejala alam dan kehidupan manusia.

3. Mengembangkan keterampilan, mengelola sumberdaya dan kesejahtraan.

4. Mengembangkan kemampuan melakukan investigasi dan pola pikir

kronologis untuk menganalisis hubungan sebab akibat dalam suatu rangkaian peristiwayang terjadi.

5. Berempati dalam membangun pola interaksi dan beradaptasi dengan lingkungan alam, social, dan budaya.

6. Menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan masyarakat dan lingkungan,

cinta tanah air, menghargai perbedaan, persamaan hak dan kesetaraan gender.

7. Membiasakan diri berfikir secara rasional, membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, mengantisipasi terjadinya konflik dan memecahkan masalah dengan menggunakan keterampilan social.

Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006, juga disebutkan bahwa sumber bahan IPS berasal dari sejarah, geografi, ekonomi, antropologi, politik, dan sosiologi. Berikut ini merupakan materi yang dibahas dalam pembelajaran IPS :

1. Sejarah, maksudnya apakah fenomena atau masalah social yang

adadikaitkan dengan peristiwa masa lampau sehingga dapat dikurangi beban masa yang akan datang.

2. Geografi, maksutnya apakah suatu fenomena atau masalah social yang ada disebabkan oleh faktor-faktor geografis.

3. Ekonomi, maksutnya pembahasan suatu masalah atau fenomena sosial melalui nilai-nilai dan faktor ekonomi sebagai unsur yang mempengaruhinya.

4. Antropologi, dengan mengajak para siswa untuk memahami

danmenghargai nilai, norma, dan buadaya suatu masyarakat tertentu. 5. Ilmu Politik, maksudnya menggunakan konsep pemerintah kenegaraan

proses politik dan dalam rangka memupuk kesadaran siswa terhadap hak dan kewajiban sebagai warga Negara.

6. Sosiologi, maksudnya pembahasan fenomena sosial dalam rangka

(43)

Ilmu Pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi menggunakan konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan pembelajran. Keadaan sosial masyarakat selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dinamisasi kemajuan diberbagai bidang kehidupan harus dapat ditangkap dan diperhatikan oleh lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bahan materi pembelajaran, sehingga bahan pelajaran secara formal dapat dituangkan dalam bentuk kurikulum. Pembelajaran IPS berupaya mengembangkan pemahaman siswa tentang bagaimana individu dan kelompok hidup bersama dan berinteraksi dengan lingkungannya. Disamping itu siswa dibimbing untuk mengembangkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang positif dan kritis terhadap yang negatif. Serta memiliki kepedulian terhadap keadilan sosial, proses demokrasi, dan kelanggengan ekologis.

Pendidikan dan Pengajaran IPS di Indonesia sudah mendapatkan landasan hukum yang kuat sebagaimana tertuang pada bab III pasal 2 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesiayang menegaskan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Mata Pelajaran IPS di SMP dari kelas VII, VIII, dan IX memiliki alokasi waktu 4 jam selama seminggu atau 2 sks.

2.1.7. Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian Maisyaroh (2017)menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang

signifikan pada penerapan strategi pembelajaran aktif tipe index card match

(44)

Negeri Katon. Persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan

dilaksanakan ini terletak pada strategi pembelajaran yang digunakan, yaitu strategi

pembelajaran aktif tipe index card match; jenis penelitiannya, yaitu penelitian

eksperimen; variabel terikat yang diteliti, yaitu hasil belajar; serta mata pelajaran

yang digunakan, yaitu IPS.

Rois Amrulloh Akbar (2015) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang

signifikan Strategi Belajar Aktif Index Card Match (Icm) Terhadap Hasil Belajar

Biologi Siswa Kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Muncar., hanya saja mata

pelajarannya Biologi.

2.1.8.Kerangkaa Pikir

Kerangka pikir berisi gambaran spesifik untuk mengetahui adanya hubungan

antara variabel-variabel yang ada dalam penelitian.Kerangka pikir

mendeskripsikan model konseptual tentang begaimana teori berhubungan dengan

berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

Kegiatan awal penelitian ini ialah dengan melakukan observasi. Kegiatan

observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran dan hasil belajarIPS

siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran. Hasil observasi tersebut adalah

rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran yang

(45)

Pada penelitian ini, penelitian akan dilaksanakan dengan memberikan perlakuan

penerapan strategi pembelajaran active learning tipeindex card match pada siswa yang tidak mencapai KKM ≥ 68. Hasil belajar yang diperoleh tersebut kemudian

akan diuji hipotesis untuk melihat signifikansi peningkatan hasil belajar siswa

pada mata pelajaran IPS.

Seperti yang telah diungkapkan dalam kajian pustaka, penulis mempunyai

keyakinan bahwa Penerapan Strategi Pembelajaran Active Learning tipe Index

Card Match dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS. Dan

peningkatan tersebut signifikan .

Berdasarkan uraian tersebut, untuk lebih jelasnya kerangka pikir dalam penelitian

ini dapat dilihat pada gambar berikut.

[image:45.595.134.331.469.527.2]

Gambar 1.Kerangka konsep variabel. Keterangan:

X = Strategi pembelajaran active learning tipeindex card match Y = Hasil belajar IPS siswa kelas VII

= Penerapan

(Adaptasi dari Sugiyono, 2010: 105)

(46)

2.1.9.Paradigma

Keterangan:

X = Pembelajaran Active Learining tipeIndex Card Match Y = Hasil Belajar

= Penerapan

2.2. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, hipotesis penelitian yang

diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H0 : Tidak terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran

IPS sesudah diterapkan strategi pembelajaran active learning tipe index card

match siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran tahun ajaran

2017/2018.

H1: Terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS

sesudah diterapkan strategi pembelajaran active learning tipe index card

match siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran tahun

ajaran 2017/2018.

(47)

REFERENSI

Agus Suprijono. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya. Hal. 6

Arikunto, Suharsimi.2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 71

Hasbullah. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Hlm 2

Hamalik, 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal 162

Hisyam, Op.Cit., Hal. 174 Hisyam, Loc.Cit.

Ibid., Hal 185

Ibid., Hal 189

Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai

Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Hal. 276

Stita, Loc.Cit.

Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal. 50-52

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Hal. 96

Suprahatiningrum, Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hal 37

(48)

Trianto. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenamedia Group. Hal.169

Trianto, Op.Cit., Hal. 183

Trianto, Op.Cit., Hal. 187

Trianto, Loc.Cit.

Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara. Hal 4-8

Winarno, Surakhmad. 1989. Pengantar penelitian ilmiah dasar, metode dan Teknik. Bandung : Tarsito. Hal. 7

(49)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian pre-eksperimen design yang

dipandang sebagai penelitian yang tidak sebenarnya. Model penelitian eksperimen

yang digunakan yaitu One-shot Case Study. Secara umum model penelitian

eksperimen ini disajikan sebagai berikut.

Perlakuan Posttest

X O

Gambar 2. Desain Penelitian

X adalah treatment atau perlakukan O adalah hasilobservasi sesudah treatment

Peneliti hanya mengadakan treatment satu kali yang diperkirakan sudah mempunyai pengaruh. Kemudian diadakan post-test. Dari hasil post-test diambil kesimpulan dengan 2 cara:

1) melihar rata-rata hasil dan membandikan dengan strandar yang diinginkan;

2) dibandingkan dengan rata-rata test sebelum treatment. (Arikunto, 2010:78)

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan

post-test pada akhir perlakuan akan menunjukkan seberapa jauh akibat dari perlakuan.

O merupakan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa sesudah perlakuan melalui

(50)

3.2. Populasi dan Sampel

3.2.1. Populasi Penelitian

Setiap penelitian membutuhkan objek/subjek untuk diamati. Sugiyono (2010:

117) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun

menurut Kasmadi dan Nia (2014: 65), populasi adalah seluruh data yang menjadi

perhatian peneliti dalam satu ruang lingkup dan waktu yang sudah ditentukan.

Populasi bukan sekadar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi

meliputi seluruhkarakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII di SMP Negeri 8

Pesawaran pada tahun pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 5 kelas, secara rinci

[image:50.595.114.510.575.732.2]

dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Data Siswa Kelas VII SMPN 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018 Menurut Kelas dan Jenis Kelamin

NO

Kelas

Siswa

Jumlah Siswa Laki-laki Perempuan

1 VII A 10 18 28

2 VII B 15 14 29

(51)

Sumber: Data Statistik Siswa SMPN 8 Pesawaran TA. 2017/2018.

Dari tabel di atas, dapat diketahui yang menjadi populasi penelitian adalah siswa

kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018 yang terdistribusi

dalam 5 kelas (VII A,VII B, VII C, VII D,VII E) sebanyak 139 orang siswa yang

terdiri dari 68 orang siswa laki-laki dan 71 orang siswa perempuan.

3.2.2 Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah bagian dari anggota populasi

yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian.

Sugiyono (2010: 118) menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sedangkan Trianto (2011: 231),

meyakini bahwa populasi adalah sebagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri

atau sifat-sifat yang sama dan/atau serupa dengan populasi.

Berapa besar sampel yang harus diambil untuk mendapatkan data yang

representatif penulis berpedoman pada pendapat Masri Singarimbun (2011:150)

bahwa:

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian diantaranya derajat keseragaman (degree of homogenity). Apabila populasi itu segaram sempurna (completely homogenous), maka satu satuan elementer saja dari seluruh populasi itu sudah cukup reperesentatif untuk diteliti. Sebaliknya, apabila populasi itu secara sempurna tidak seragam (completely heterogeneous), maka hanya pencacahan lengkaplah yang dapat memberikan gambaran yang representatif.

4 VII D 13 14 27

5 VII E 15 12 27

(52)

Mengingat data populasi hetergen dan berpedoman pada pendapat di atas, maka

dalam menetapkan sampel penelitian ini penulis melakukan pencacahan populasi

dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPS pada siswa kelas VII semester

genap SMP Negeri 8 Pesawaran tahun ajaran 2017/2018 didapatkan data

sebanyak 92 siswa yang belum mencapai KKM yang ditetapkan nilai 68.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik purposive sampling atau

sampel bertujuan dengan alasan agar penelitian ini tepat memilih sumber data

sesuai variabel yang diteliti, sehingga tepat sasaran dengan mengambil sampel

yaitu siswa yang melakukan kecenderungan perilaku antisosial di sekolah.

Menurut Arikunto (2010:183) “purposive sample atau sampel bertujuan dilakukan

dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah

tetapi didasarkan atas ada tujuan tertentu”. Sampel bertujuan memiliki

syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu: pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri

atau sifat pokok populasi, subjek yang diambil sampel merupakan subjek yang

benar-benar mengandung ciri yang terdapat pada populasi, yaitu ada 92 siswa

kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran tahun ajaran 2017/2018 yang belum mencapai

KKM nilai 68 untuk mata pelajaran IPS.

3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

3.3.1 Variabel Penelitian

Variabel penelitian berkenaan dengan apa yang diteliti dalam suatu penelitian.

Sugiyono (2010: 60) menyatakan bahwa variabel pada dasarnya adalah segala

(53)

sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik

kesimpulannya. Terdapat dua macam variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel

bebas dan variabel terikat.

a. Variabel bebas (independent variable) yaitu variabel yang memengaruhi atau

yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat atau

dependent. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah strategi

pembelajaran active learning tipe index card match (X) dengan Indikator

Kinerja Guru dan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran.

b. Variabel terikat (dependent variable) variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, yang

menjadi variabel terikat adalah hasil belajar IPS siswa kelas VII (Y).

3.3.2. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah suatu definisi yang didasarkan pada sifat-sifat

yang didefinisikan dan diamati. Untuk memberikan penjelasan mengenai

variabel-variabel yang dipilih dalam penelitian dan memudahkan pengumpulan data agar

tidak terjadi kesalahpahaman dalam mendefinisikan objek penelitian, berikut ini

akan dijelaskan definisi operasional variabel penelitian.

a. Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match (X)

Strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match adalah strategi

pembelajaran aktif dan menyenangkan yang digunakan oleh guru untuk

mengulang materi yang telah diberikan dengan mencari pasangan kartu yang

merupakan jawaban atau soal. Strategi ini memungkinkan siswa untuk

(54)

b. Hasil Belajar (Y)

Hasil belajar adalah salah satu bagian dari proses pembelajaran berupa

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah melalui kegiatan

pembelajaran secara komprehensif. Kemampuan tersebut mencakup ranah

kognitif, afektif, maupun psikomotor. Adapun hasil belajar yang diteliti pada

penelitian ini difokuskan pada ranah kognitif dengan kata kerja operasional

“menyebutkan”, “menerangkan”, “mengoperasikan”, “mengidentifikasi”,

“mengkategorikan”, “menyimpulkan”. Hasil belajar yang diperoleh siswa

berupa nilai dalam ranah kognitif setelah mengikuti tes pada akhir

pembelajaran pada pertemuan terakhir.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian

ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

nontes, observasi, studi dokumentasi, teknik tes, kepustakaan.

3.4.1 Nontes

Lembar Panduan Observasi digunakan untuk mengetahui apakah dengan

penerapan strategi pembelajaran active learning tipe index card match pada mata

pelajaran IPS di kelas VII SMPN 8 Pesawaran akan dapat meningkatkan hasil

belajar. Observasi dilakukan oleh observer terhadap peningkatan aktivitas siswa

Figure

Tabel                                                                                               Halaman
Tabel 1. Hasil Ulangan Tengah Semester Ganjil Mata pelajaran IPS  Siswa
Gambar 1.Kerangka konsep variabel.
Tabel 2.  Data Siswa Kelas VII SMPN 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018
+7

References

Related documents

The goal of health education is to supply adequate information that enables patients to improve knowledge and skills that will facilitate management of the disease while

Other Wastes:  Autoclave Wastes  Biohazard Wastes  Sharps  Broken Glass  Special Wastes  Drain Disposal  General refuse Clearly label all wastes!... Autoclave

Nextly, Mursaleen [25] and Mursaleen and Edely [26] have defined the almost strong regularity of matrices for double sequences and applied these matrices to establish a core theorem

The findings of this research aided in the construction of a matrix useful for researchers and practitioners since it demonstrates the perceptions of tourists on the use of robots

Haptic feedback is achieved by combining the force and torque readings from both sensors within a control system before manipulating the data into a robot instruction that is used

According to Table 4, in the IFG, the mean of the students depth scores on the pre -test is (62/87) much lower than the post- test (105/80).This result indicates that

Introduction to Testing – BA, Dept of Behavioral Sciences, Ben Gurion University Test Development – MA - Dept of Behavioral Sciences,Ben Gurion University Cognitive Psychology –

The object is to select a beast in the camp, quietly draft it from the mob, bring it to the face of the camp, prove that you are able to hold it there, and when ready, proceed to