TAHUN AJARAN 2017/2018
Skripsi
Oleh:
Welly Hasvindo
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS VII DI SMP NEGERI 8 PESAWARAN TAHUN AJARAN
2017/2018
Oleh Welly Hasvindo
Tinggi rendahnya hasil belajar siswa tidak semata-mata hanya ditentukan oleh usaha siswa itu sendiri, melainkan juga ditentukan oleh penggunaan strategi pembelajaran yang tepat oleh guru. Berdasarkan observasi yang dilakukan, diketahui pembelajaran pada mata pelajaran IPS semester ganjil tahun ajaran 2017/2018 belum memenuhi KKM. Untuk mengatasi permasalahn tersebut, peneliti menggunakan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.
Rumusan masalah penelitian ini adalah: “Apakah ada peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match siswa Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018?” Tujuan penelitian yaitu menganalisis dan mengetahui ada atau tidaknya peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui penerapan strategi pembelajaran Active LearningTipe Index Card Match siswa Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018. Penelitian ini menggunakan metode One Shot Case Study. Teknik analisis data statistik menggujikan nonparametrik dengan uji t.
Hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan hipotesis kerja (H1) diterima, yakni “Terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui penerapan strategi pembelajaran Active LearningTipe Index Card Match siswa Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018. Dengan membandingkan besarnya to observasi yang diperoleh dalam perhitungan yakni to observasi = 45,682 dan besarnya nilai ttabel (ttabel ts 0,05 = 2,631 dan ttabel ts 0,01 = 1,986) maka dapat diketahui bahwa nilai t observasi lebih besar dari nilai ttabel, yakni 1,986 < 45,682 > 2,631. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar signifikan. HaI ini berarti, penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card dapat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
TAHUN AJARAN 2017/2018
Oleh:
Welly Hasvindo
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIDKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan ilmu pengetahuan sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Peneliti dilahirkan di Gedong Tataan, pada tanggal 08
Maret 1996, anak Pertama dari dari pasangan Bapak Sejati
dan Ibu Suratini. Peneliti memulai pendidikan di SD N 1
Penyandingan selesai pada tahun 2008 berijazah, SMPN 8
Pesawaran diselesaikan pada tahun 2011 berijazah, SMAN
5 Metro diselesaikan pada tahun 2014 berijazah. Pada
tahun 2014, peneliti diterima sebagai mahasiswa Universitas Lampung Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial pada
Program Studi Pendidikan Sejarah lewat jalur SBMPTN (tertulis) dan dengan
skripsi ini peneliti menamatkan pendidikannya pada jenjang S1.
Penelitipernah aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di HIMAPIS
“Bukan kekurangan yang melemahkan hidupmu, tapi pendapatmu
yang mengecilkan semangatmu sendiri. (Welly Hasvindo).
Jadilah kuat saat dirimu lemah, Jadilah berani saat dirimu
takut, dan jadilah rendah hati saat dirimu memperoleh segalanya
dariNYA (Hendro Kartiko)
Bukanlah kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah
yang membuat kita sulit. Karena itu janganlah pernah mencoba
untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Dan
jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi
katakanlah pada masalah aku punya Allah Yang Maha
Dengan mengucap Syukur kepada Allah Swtdan dengan niat
tulus ikhlas,kupersembahkan karya sederhana ini
sebagaiUngkapan bakti dan setiaku kepada:
Kedua orang tua ku tercinta Suratini dan Sejati yang dengan
kesabaran dan kasih sayangnya selalu menerangi hidupku dan
senantiasa Mendoakanku dalam setiap sujudnya Mendoakan
keberhasilan, kesuksesan,Dan Keberkahan ku dimasa depan.
Almamaterku tercinta
SANWACANA
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Penerapan Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe
Index Card Match Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran IPS
Siswa Kelas VII Di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018” pada
Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas
Keguruan dan ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih yang setulusnya kepada
berbagai pihak yang telah menyumbangkan pemikiran, motivasi, dan waktunya
untuk memperlancar penyelesaian skripsi ini. Ucapan terimakasih peneliti
haturkan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd.Dekan Fakultas Keguruandan Ilmu
Pendidikan, Universitas Lampung;
2. Bapak Dr. Sunyono, M.Si. Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kerja Sama
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UniversitasLampung;
3. Bapak Drs Supriyadi, M.Pd. Wakil Dekan II Bidang Umum danKeuangan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;
4. Bapak Dr. Riswanti Rini, M.Si.Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan
Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Lampung;
5. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
6. Bapak Drs. Syaiful M, M. Si.Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, sekaligus
Dosen Pembahas dalam penelitian ini. Terimakasih banyak atas dukungan,
masukan, saran dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini;
7. Bapak Muhammad Basri, S.Pd., M.Pd. sebagai Dosen Pembimbing I dan
Dosen Pembimbing Akademik, terimakasih banyak telah menjadi PA yang
baik dan juga terima kasih atas waktunya, saran, dan masukan dalam
penyusunan skripsi ini;
8. Bapak Suparman Arif, S.Pd., M.Pd. sebagai Dosen Pembimbing II,
terimakasih yang tak terhingga atas kesempatannya, waktunya, segala saran,
dukungan, dan masukan dalam penyusunan skripsi ini;
9. Bapak Drs. Maskun, M.H. Selaku Dosen Pendidikan Sejarah dan sebagai
pembahas, terimkasih atas dukungan, masukan, dan saran dalam penyusunan
Skripsi ini.
10. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Sejarah JurusanPendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan Universitas
Lampung, Drs. Wakidi, M.Hum. Drs. H. Tontowi Amsia, M.Si. Hendri
Susanto, S.S.M.Hum. Dr. Risma Sinaga, M.Hum.Suparman Arif, S.Pd., M.Pd.
Yustina Sri Ekwandari, S.Pd, M.Hum. Drs. Ali Imron, M.Hum. Cheri Saputra,
S.Pd, M.Pd. Myristica Imanita, S.Pd, M.Pd. dan Marzius Insani, S.Pd., M.Pd.
yang telah memberikan ilmu, pengalaman berharga kepada peneliti;
11. Bapak Solikhin, S.Pd. Kepala SMP Negeri 8 Pesawaran yang telah
12. Ibu Khadijah, S.Pd. guru mitra penelitian yang telah membimbing dan
memberikan saran yang bermanfaat untuk skripsi ini;
13. Sahabat lama, Rofik, Refni, Topik, Ma’ruf, Nanda, Ridwan, terima kasih atas
dukungannya;
14. Sahabat SMA, Yoga Cahya Saputra, Lupita Indah, Nurul Irma, Rizki Tri
Maryadi, Riski Saputra, Gata, Fikri, Rama terima kasih motivasi dan
semangatnya;
15. Sahabat serta teman-teman kuliah Pendidikan Sejarah terhebat yang pernah
peneliti kenal, Farlian Oktora P, Kasirun, Agil Yama Hakim, M Fafa
Nurwahid, Septiyan Wicaksono, Siti Rohmatun Nasikha, Sulaiman Abdul
Razaq, Giat Cipta, Siti Halimah, Joshua Fernando, Ika Sellyna Putri, Desi
Puspita, Siti Nur Masitoh, Eva Mayana terima kasih atas perhatiannya;
16. Kak Mardiansyah, kak Fadlan, Mbak Nurul Fahma dan Kak Nandar terima
kasih bantuannya dalam mengajarkan peneliti mengolah data skripsi;
17. Adik-adikku terima kasih doanya, duluan yaa...;
18. Seluruh teman-teman seperjuangan angkatan 2014, semoga berkah.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Bandar Lampung, Oktober 2018 Peneliti,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSEMBAHAN ... i
SANWACANA ... ii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ……….. 4
1.4. Manfaat Penelitian………. 4
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ………...………..5
II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, PARADIGMA DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Pustaka ... 7
2.1.1 Konsep Belajar ... 7
2.1.2 Teori Belajar dan Pembelajaran ... 8
2.1.3 Konsep Hasil Belajar ... 14
2.1.4 Strategi Pembelajaran Aktif ( Active Learning) ... 16
2.1.5 Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match.21 2.1.6 Konsep Ilmu Penegtahuan Sosial (IPS) Sebagai Mata Pelajaran di SMP ... 24
2.1.7 Penelitian Yang Relevan……… 26
2.1.8 Kerangkaa Pikir ………..27
2.1.9 Paradigma ……….. 29
III. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian. ... 32
3.2 Populasi dan Sampel ... 33
3.3. Variabel Penelitiandan Definisi Operasional Variabel ………....35
3.4. Teknik Pengumpulan Data ……….. 37
3.5. Langkah-langkah Penelitian ……….45
3.6. Uji Instrumen Penelitian ………..47
3.7. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ...……….... 50
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian. ... 55
4.2 Hasil Uji Instrumen ... 63
4.3. Pelaksanaan Pembelajaran ... 67
4.4. Hasil Pengkonsversian Skor ke Nilai dan Pengujian Hipotesis ... 73
4.5. Pembahasan ... 82
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 85
5.2. Saran ... 85
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Hasi Ulangan Tengah Semester Ganjil Mata pelajaran IPS
Siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran TA 2017/2018 ...2
2. Data Siswa Kelas VII SMPN 8 Pesawaran TA 2017/2018 ...35
3. Indikator Kegiatan Guru dengan Index Card Match (ICM)... 40
4. Kategori Kinerja Guru ... 42
5. Lembar Aktivitas Siswa ... 42
6. Aspek Aktivitas Siswa yang akan di amati... 43
7. Kategori Aktivitas Belajar... 44
8. Kisi-kisi Soal ……… 46
9. Pedoman Penskoran Postest ………...………. 46
10. Koefisien Validitas Tes .……….. 49
11. Kriteria Reliabilitas ……….. .50
12. Interprestasi Nilai Tingkat Kesukaran ……….. 51
13.
Interpretasi Nilai Daya Pembeda... 5214. Daftar Nama Kepala SMP Negeri 8 Pesawaran ... 58
15. Keadaan Tenaga Pendidik SMP N 8 Pesawaran ……….. 59
16. Keadaan Tenaga Kependidikan SMPN 8 Pesawaran ………60
17. Keadaan Siswa SMP Negeri 8 Pesawaran ……… 61
18. Keadaan Sarana dan Prasarana SMPN 8 Pesawaran ……… 62
19. Ekstrakulikuler SMPN 8 Pesawaran……….. 65
20. Hasil Uji Coba Instrumen ………...66
21. Hasil Tingkat Kesukaran ……….. 68
23. Data Observasi Nilai Mata Pelajaran IPS Kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018 (KKM≤68) ...……... 70 24. Penskoran Posttest... ………...76 25. Data Nilai Hasil Observasi (X) dan Hasil Post-Test (Y) Serta Beda
(D) Mata Pelajaran IPS Pada 92 Siswa Kelas VII SMPN 8
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Pengesahan Judul
2. Surat Izin Penelitian Pendahuluan
3. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian
Pendahuluan
4. Surat Izin Penelitian
5. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian
6. Rekomendasi Pembahas
7. Silabus
8. RPP
9. Soal Posttest
10. Kunci Jawaban Posttest
11. Validitas Instrumen
12. Reliabilitas Instrumen
13. Tingkat Kesukaran
14. Daya Pembeda
15. Tabel Uji Chi Kuadrat
16. Tabel Uji T
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan bagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, merupakan
salah satu faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini
menuntun manusia untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Sehingga, antara
pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 (ayat 1) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Crow and Crow pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam
kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan
membantumeneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke
generasi (Fuad Ihsan, 2010:4).
Pendidikan diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang di kembangkan
atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat)
yangberfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara siswa dan guru yang
menggunakan segala sumber daya sesuai dengan perencanaan yang telah di
persiapkan sebelumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pembelajaran yang efektif yaitu dengan adanya interaksi antara siswa dengan
lingkungan sosialnya (guru dan teman-temannya) melalui diskusi, bermain peran,
dan saling bertanya,membangkitkan motivasi berprestasi siswa (memiliki daya
dorong atau keinginandan keyakinan), memantapkan pengalaman siswa, dan
menenangkan siswa.
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di SMP N 8 Pesawaran pada tanggal
24 Oktober 2017 bahwa hasil belajar di sekolah belum mencapai rata-rataKKM
yang telah di tentukan oleh sekolah tersebut. Ketentuan standar ketuntasan belajar
untuk Mata Pelajaran IPS di SMP N 8 Pesawaran adalah 68,00. Hasil ulangan
tengah semester pada Mata Pelajaran IPS di kelas VII ini dapat di lihat pada tabel
[image:19.595.114.512.575.730.2]berikut:
Tabel 1. Hasil Ulangan Tengah Semester Ganjil Mata pelajaran IPS Siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran TP 2017/2018
NO Kelas KKM = 68 Jumlah Siswa
< 68 ≥ 68
1 VII A 19 9 28
2 VII B 23 6 29
3 VII C 13 15 28
5 VII E 11 16 27
Jumlah Siswa 92 47 139
Persentase 66% 34% 100%
Sumber : Guru Mata Pelajaran IPS SMP N 8 Pesawaran
Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa hasil belajar IPS siswa kelas VII
masih tergolong rendah yaitu siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum (
KKM) yang berlaku di SMP Negeri 8 Pesawaran yaitu 68 itu berarti hanya 47
siswa dari jumlah seluruh siswa kelas VII 139 siswa atau hanya 34% yang
mencapai KKM dan sebanyak 92 siswa atau 66% siswa tidak mencapai nilai
KKM. Berdasarkan data diatas, yaitu hasil belajar siswa yang belum mencapai
standar ketuntasan belajar pada mata pelajaran IPS. Maka harus dicoba dengan
menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran siswa
adalah strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match. Strategi
pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match atau mencari pasangan
kartu, cukup menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran
yang telah diberikan sebelumnya. Mengacu pada permasalahan tersebut di atas,
penulis akan melakukan penelitian eksperimen dengan judul “Penerapan Strategi
Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII di SMP Negeri 8
1.2. Rumusan Masalah
Ditinjau dari pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian
yakni, “Apakah ada peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui
penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match siswa
Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018?”
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui ada atau tidaknya
peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS melalui
penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match siswa
Kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
pihak-pihak berikut.
1. Siswa
Melalui penerapan strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card
Match, diharapkan siswa dapat memperoleh pembelajaran yang bermakna,
menyenangkan, dan mampu mengembangkan pengetahuan sesuai dengan
pengalaman belajar yang diperoleh, sehingga mampu meningkatkan hasil
belajar dalam pembelajaran mata pelajaran IPS.
2. Guru
Memperluas pengetahuan guru mengenai strategi pembelajaran yang dapat
mengoptimalkan kemampuan siswa serta dapat memberikan manfaat dalam
3. Sekolah
Menjadi kontribusi positif untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya
kualitas pembelajaran di SMP Negeri 8 Pesawaran.
4. Peneliti
Menjadi sarana pengembangan wawasan mengenai strategi pembelajaran serta
dapat menambah pengetahuan tentang penelitian eksperimen dan penerapan
strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi:
1. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen.
2. Objek penelitian ini adalah penerapan strategi pembelajaran Active
Learning Tipe Index Card Match dan hasil belajar mata pelajaran IPS
pada siswa.
3. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran.
4. Penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 8 Pesawaran pada semester
REFERENSI
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.18
Iskandar Wassid dan Dadand Sunendar.2011.Strategi Pembelajaran
Bahasa.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Hal. 1
Purwanto. 2011. Evaluasi Hasil Belajar. Surakarta: Pustaka Belajar. Hal. 18
Trianto. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenamedia Group. Hal.185
II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, PARADIGMA DAN HIPOTESIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Konsep Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku manusia sebagai akibat
dari pengalaman dan latihan serta aktifitas manusia dalam interaksi dengan
lingkungannnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (2010:2) bahwa
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Djamarah dan Zain (2010:10) yang menyatakan
bahwa “Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan,
baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi
segenap aspek organisme atau pribadi”. Selanjutnya Aunurrahman (2010:36)
menyatakan bahwa:
Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau objek-objek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan, baik pengalaman-pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh.
Menurut Aliran Behavioristik (dalam Sanjaya, 2013:114) “Belajar pada
indera dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan
respon (S-R)”. Belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus
dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks
(Riyanto, 2010:9). Sejalan dengan pengertian tersebut, Sanjaya (2010:107)
berpendapat bahwa “Belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan
kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara
individu dengan lingkungannya”.Selanjutnya Degeng (dalam Riyanto, 2010:5)
mengemuka kan bahwa belajar merupakan:
Pengaitan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang sudah dimiliki si belajar. Hal ini mempunyai arti bahwa dalam proses belajar, peserta didikakan menghubung-hubungkan pengetahuan atau ilmu yang telah tersimpan dalam memorinya dan kemudian menghubungkan dengan pengetahuan yang baru.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan proses perubahan tingkah laku manusia baik yang menyangkut
pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan tingkah laku manusia sebagai akibat
dari aktifitas, pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang
ditangkap melalui panca indera untuk dapat mengaitkan pengetahuan lama dengan
pengetahuan yang baru.
2.1.2 Teori Belajar dan Pembelajaran
Secara umum terdapat ada tiga jenis teori belajar yang telah dikenal, yaitu teori
belajar Behavioristik, Kognitif dan teori belajar Konstruktivistik.Teori belajar
pembelajaran. Ada 3 pandangan psikologi utama tentang teori belajar,yaitu teori
belajar Behavioristik, teori belajar Kognitif dan teori belajarKontruktivisme.
a. Teori belajar Behavioristik
Teori belajar ini pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapatdiukur dan
diamati.Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilakuyang diinginkan
dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan daripenerapan teori
behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku
yang di nginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai
mendapat penghargaan negatip. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku
yang tampak. Dalam teori belajar ini gurutidak banyak memberikan ceramah,
tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun
melalui simulasi.
Menurut Thorndike (Sugihartono dkk, 2007: 91) belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwaperistiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
b. Teori belajar Kognitif
Menurut teori ini, proses belajar akan baik bila materi pelajaran
strukturkognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Dalam teori ini ilmu
pengetahuandibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi
yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses pembelajaran ini bejalan
tidak sepotong–sepotong atau terpisah–pisah melainkan bersambung dan
menyeluruh. Teori belajar kognitif ini guru bukanlah sumber belajar utama
dan bukan kepatuhan siswa yang dituntut dalam refleksi atas apa yang
diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Evaluasi belajar bukan padahasil tetapi
pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasi pengalamanya.
Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121)bahwa
”belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untukmemperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhansebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan
suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Sepertijuga diungkapkan
oleh Winkel dalam Winataputra (2008: 36) belajar adalah suatu aktivitas
mental atau psikis yang berlangsung dalam suatu interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan
pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.Perubahan itu bersifat secara relatif
dan berbekas.
Sehingga dapat dikatakan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses
usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia
memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah
laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
c. Teori belajar Humanistik
Proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentinganmemanusiakan
manusia itu sendiri. Winataputra (2008: 4.2) teoribelajar humanistik
menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses di mana siswa
mengembangkan kemampuan pribadi yang khasdalam bereaksi terhadap
lingkungan sekitar.
Mikarsa (2007: 6.6) teori belajar humanisme memandang bahwaperilaku
manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internaldirinya dan bukan
oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan.Belajar bermakna menurut teori
ini adalah belajar yang melibatkanpengalaman langsung, berpikir dan
merasakan, atas kehendak dirisendiri dan melibatkan seluruh pribadi siswa.
Kolb dalam Budiningsih(2005: 70) membagi tahap-tahap belajar menjadi
empat tahap, yaitu:(1) tahap pengalaman konkret, (2) tahap pengamatan aktif
danreflektif, (3) tahap konseptualisasi, (4) tahap eksperimentasi aktif.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa belajarmenurut teori
humanistik adalah untuk memanusiakan manusia.Proses belajar dianggap
berhasil jika siswa telah memahamilingkungannya dan dirinya sendiri atau
d. Teori belajar Konstruktivistik
Menurut teori ini permasalahan dimunculkan dari pancinganinternal,
permasalahan muncul dibangun dari pengetahuan yangdirekonstruksi sendiri
oleh siswa. Teori ini sangat dipercaya bahwa siswa mampu mencari sendiri
masalah,menyusun sendiri pengetahuannyamelalui kemampuan berpikir dan
tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai
keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.
Manfaat dari beberapa teori belajar sebagai berikut.
1) Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar
2) Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses
pembelajaran
3) Memandu guru untuk mengelola kelas
4) Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil
belajar siswa yang telah dicapai.
5) Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan produktif
6) Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepadasiswa
sehingga dapat mencapai hasil prestasi yang maksimal.
Untuk penganut aliran kognitif mengungkapkan bahwa belajarbukanlah
sekedar melibatkan hubungan diantara respon dan stimulus. Padamodel belajar
kognitif adalah suatu bentuk teori belajar yang seringdisebut dengan model
perseptual. Belajar kognitif menyatakan bahwaperilaku seseorang ditentukan
dengan tujuan belajar mereka. Belajar adalah perubahan pandangan dan
pemahaman yang tidak selalu bisaterlihat sebagai perilaku yang nampak.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori
belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mentalPiaget. Teori ini
biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atauteori perkembangan
kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengankesiapan anak untuk belajar,
yang dikemas dalam tahap perkembanganintelektual dari lahir hingga dewasa.
Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan
ciri-ciri tertentu dalammengkonstruksi ilmu pengetahuan. Pada tahapan yang lebih
tinggi seseorang lebih mampu berpikir terorganisasi dan abstrak (Winataputra,
2008: 68)
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama(Dahar, 1989:
159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangundalam pikiran anak
melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalahpenyerapan informasi baru
dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur
pikiran karena adanya informasi baru,sehingga informasi tersebut mempunyai
tempat (Ruseffendi 1988: 133).
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat dikatakan bahwa teoribelajar
konstruktivis menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anaksecara aktif
dalam proses pengaitan sejumlah gagasan danpengkonstruksian ilmu
Teori yang mendukung desain pembelajaran pada penelitian ini adalah teori
belajar humanistik, karena belajar bermakna menurut teori ini adalah belajar
yang melibatkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan, atas kehendak
diri sendiri dan melibatkan seluruh pribadi siswa. Teori ini juga menganggap
perilaku manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internal dirinya
dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan
2.1.3 Konsep Hasil Belajar
Pengukuran hasil belajar dalam pendidikan dilakukan dengan mengadakan testing
untuk membandingkan kemampuan siswa yang diukur dengan tes sebagai alat
ukurnya. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat belajar
(Purwanto, 2008:34). Perubahan di upayakan dalam proses belajar mengajar untuk
mencapai tujuan pendidikan. Perubahan perilaku individu akibat proses belajar
tidak tunggal. Setiap proses belajar memengaruhi perubahan perilaku pada
domain tertentu pada diri seseorang, tergantung perubahan yang diinginkan terjadi
sesuai dengan tujuan pendidikan.
Ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom dalam buku dasar-dasar evaluasi
pendidikan Suharsimi Arikunto yaitu :
1. Mengenal (Recognition)
Dalam pengenalan siswa diminta untuk memilih satu dari dua atau lebih jawaban.
2. Pemahaman (Comprehension)
Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. 3. Penerapan atau Aplikasi (Application)
dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar.
4. Analisis (Analysis)
Dalam tugas analisis ini siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar.
5. Sintesis (Synthesis)
Penyusun soal tes bermaksud meminta siswa melakukan sintesis maka pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga meminta siswa untuk menggabungkan atau menyusun kembali (reorganize) hal-hal yang spesifik agar dapat mengembangkan suatu struktur baru. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dengan soal sintesis ini siswa diminta untuk melakukan generalisasi.
6. Evaluasi (evaluation)
Penyusun soal bermaksud untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai sesuatu kasus yang diajukan oleh penyusun soal.
(Suharsimi Arikunto, 2006:114)
Daftar Kata Operasional Ranah Kognitif (C1-6) adalah sebagai berikut
NO Ranah
Kognitif
Kata Operasional
1 Pengetahuan (C1) Menyebutkan, menyatakan, mendefinisikan,
mendeskripsikan, mengidentifikasi,
mendaftarkan, menjodohkan, dan mereproduksi.
2 Pemahaman (C2) Menerangkan, membedakan, menduga,
mempertahankan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, member contoh,
menuliskan kembali, dan memperkirakan
3 Aplikasi (C3) Mengoprasikan, menemukan, menunjukkan,
menghubungkan, memecahkan, menggunakan, mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, memanipulasi, memodifikasi, meramalkan, menyiapkan dan menghasilkan.
4 Analisis (C4) Merinci, Mengidentifikasi, Mengilustrasikan,
menunjukkan, menghubungkan, memilih, memisah, menyusun, membagi, membedakan, dan menyimpulkan
5 Sintesis (C5) Mengkategorikan, Menyusun, Menghubungkan,
Sumber : (Suharsimi Arikunto, 2006:150)
2.1.4 Strategi Pembelajaran Aktif ( Active Learning )
2.1.4.1 Konsep Strategi Pembelajaran Aktif ( Active Learning )
Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang artinya sebagai
cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan.
Slameto (dalam Riyanto, 2010:131). Menyatakan bahwa, “Strategi adalah suatu
rencana tentang pendayagunaan dan penggunaan potensi sarana yang ada untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengajaran.” Djamarah (dalam
Riyanto:2010:131) menyatakan bahwa, “Strategi adalah suatu garis-garis besar
haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan”.
Berkaitan dengan pembelajaran, Riyanto (2010:131) menyatakan. “Strategi adalah
sebagai pola-pola umum kegiatan guru dengan anak didik dalam perwujudan
kegiatan pembelajaran untukmencapai tujuan yang telah digariskan”. Sanjaya
(2013:126) menyatakan bahwa, “Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai
perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesaim untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
rencana, menyusun kembali,
merekonstruksikan, merevisi, menuliskan, menceritakan.
6 Evaluasi (C6) Menilai, menyimpulkan, memutuskan,
Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi
pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk
pengggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan
dalamppembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampaipada
proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi
disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan
penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, pemanfaatan berbagai fasilitas dan
sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab
itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat
diukur keberhasilanntya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu
strategi.
Kemp (dalam Sanjaya, 2013:126) menjelaskan bahwa “Strategi pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Senada dengan
pendapat di atas, Dick And Carey (dalam Sanjaya, 2013:126) menyebutkan bahwa
“Strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang
digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Banyak strategi pembelajaran aktif yang dikembangkan oleh para ahli dengan
berbagai komponen yang berorientasi pada aktivitas peserta didik. Gerlacch,
Gagne ( dalam Sanjaya, 2008: 60) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah
berbagai komponen di dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk
belajar Active learning pada dasarnya merupakan salah satu bentuk atau jenis dari
Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik mengandung pengertian
bahwa sistem pembelajaranmenempatkan peserta didik sebagai subyek yang aktif
dan telah memiliki kesiapan untuk belajar.
Dalam pandangan psikologi modern belajar bukanlah sekedar menghafalkan
sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi merupakan peristiwa mental dan proses
berpengalaman. Oleh karena itu, setiap peristiwa pembelajaran menuntut
keterlibatan intelektual-emosional peserta didik melalui asimilasi dan akomodasi
kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan serta pengalaman
langsung dalam rangka membentuk keterampilan (kognitif, motorik, dan sosial),
penghayatan serta internalisasi nilai-nilaidalam pembentukan sikap.
Tingkatan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk
menerapkan strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran di kelas.
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak
hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca,
menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggota kelas yang lain dalam
memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak
didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang
menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis,
membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah
strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata
menggunakan teknik active learning di kelas menjadi sangat penting karena
Strategi active learning adalah strategi belajar mengajar yang bertujuan
meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mencapai keterlibatan siswa agar efektif
dan efisien dalam belajar, dibutuhkan berbagai pendukung dalam proses belajar
mengajar, yaitu dari sudut siswa, guru, situasi belajar, program belajar, dan dari
sarana belajar. Menurut Silberman (dalam Hamdani, 2011:49) strategi active
learning merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi pembelajaran
yang komprehensif, meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik menjadi
aktif. Strategi active learning sukar didefinisikan secara tegas sebab semua cara
belajar mengandung unsur keaktifan dari siswa, meskipun dengan kadar keaktifan
yang berbeda. Keaktifan dapat muncul dalam berbagai bentuk, tetapi semua itu
harus dikembalikan pada satu karakteristik keaktifan dalam rangka active learning
strategy, yaitu keterlibatan intelektual, emosional dalam kegiatan belajar mengajar
yang bersangkutan, asimilasi akomodasi kognitif dalam pencapaian pengetahuan,
perbuatan serta pengalaman langsung terhadap umpan baliknya dalam
pembentukan keterampilan dan penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam
pembentukan sikap.
Bertitik tolak dari uraian di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa strategi
active learning adalah salah satu cara atau strategi belajar mengajar yang
menuntut keaktifan serta partisipasi siswa dalam setiap kegiatanbelajar seoptimal
mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan
Dari beberapa pendapat tentang pengertian Active Learning, maka peneliti
menyimpulkan bahwa Active Learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya
menuntut keaktifan dan partisipasi siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
2.1.4.2 Karakteristik Pembelajaran Aktif( Active Learning )
Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, kegiatan
belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Sardiman (2011: 95) berpendapat
bahwa ”belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi
melakukan kegiatan, tidakada belajar kalau tidak ada aktivitas”. Pembelajaran
berpusat pada siswa, guru membimbing dalam terjadinya pengalaman belajar,
tujuan kegiatan tidak hanya sekedar mengejar standar akademis, pengelolaan
kegiatan pembelajaran dan penilaian (Joni, R dalam Nurhayati, 2008). Aktivitas
siswa dalam pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman (2011: 99) bahwa: “Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas belajar itu tidak mungkin akan berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifansiswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar”.
Dari beberapa pendapat tentang pengertian Aktive Learning, maka peneliti
menyimpulkan bahwa karakteristik Aktive Learning adalah pembelajaran yang
pelaksanaannya berpusat pada siswa, peran guru sebagai pembimbing yang tujuan
pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan siswa dengan pengelolaan
2.1.5 Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match
2.1.5.1 Konsep Pembelajaran Strategi Pembelajaran Active Learning Index Card Match
Strategi ini merupakan salah satu pembelajaran aktif untuk mengulang materi
pembelajaran yang di dalamnya terdapat unsur permainan. Dengan cara guru
memancing kreatifitas dengan menggunakan media. Cara ini memungkinkan
siswa untuk berpasangan dan memberikan pertanyaan kuis kepada temannya.
Strategi pembelajaran aktif tipe Index Card Match merupakan salah satu strategi
mengajar yang dikembangkan oleh Dr. Melvin L Silberman, ia adalah guru besar
kajian Psikologi Pendidikan di Tempel University, dengan spesialisasi psikologi
pengajaran. Lulusan Brandeis University ini memiliki gelar A.M. dan Ph.D
dibidang psikologi pendidikan dari Universitas Chicago. Disamping reputasi
internasionalnya dalam bidang proses belajar aktif.
Strategi ini merupakan sekumpulan dari buku 101 Strategi Pembelajaran Aktif
(Active Learning). Strategi tersebut dapat digunakan untuk membantu siswa
dalam meninjau ulang materi pelajaran yang telah disampaikan dan juga
menghilangkan kejenuhan.
a. Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Active Learning tipe Index Card Match
Adapun prosedur-prosedur strategi pembelajaran Active Learning tipe index card
match, sebagai berikut.
2) Pada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atas masing-masing pertanyaan itu.
3) Campurkan dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampur aduk.
4) Berikan satu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan pencocokan. Sebagian siswa mendapat pertanyaan tinjauan dan sebagian lain mendapatkan kartu jawabannya.
5) Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari tempat duduk bersama. (Katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka). 6) Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, perintahkan tiap
pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa yang lain dengan membacakan keras-keras pertanyaan dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya.
Mengacu pada pendapat Zaini (2008: 67-68), maka langkah-langkah dalam
penelitian ini sedikit dimodifikasi, yaitu sebagai berikut.
1) Membuat potongan kertas (kartu) sesuai dengan jumlah siswa kelas VII. 2) Membagi potongan kertas (kartu) menjadi dua bagian.
3) Menuliskan pertanyaan terkait materi pada separuh jumlah kartu. Masing-masing kartu berisi satu pertanyaan.
4) Menuliskan jawaban atas pertanyaan pada separuh jumlah kartu yang lain.
5) Sebelum memulai permainan, guru membagikan nomor kepada siswa sesuai dengan nomor presensi masing-masing dengan tujuan memudahkan guru untuk memberikan penilaian. Kemudian guru menjelaskan aturan dan langkah-langkah yang harus diikuti siswa dalam permainan ini.
6) Mengkocok semua kartu dan membagikannya kepada siswa.
Masing-masing siswa mendapat satu kartu.
7) Meminta siswa yang mendapat kartu pertanyaan untuk berkeliling mencari kartu jawaban, sedangkan siswa yang mendapat kartu jawaban duduk dibangkunya masing-masing. Waktu yang diberikan untuk menemukan kartu pasangannya adalah 5 menit.
8) Setelah semua pasangan duduk berdekatan, guru memerintahkan siswa untuk tidak memberitahukan apa yang ada di kartu kepada pasangan lain. 9) Meminta siswa membacakan keras-keras pertanyaan yang ada di kartu
agar dijawab oleh pasangan lain, begitu seterusnya hingga pertanyaan habis. Siswa yang aktif memberikan jawaban dengan tepat akan mendapatkan bintang.
b. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Active Learning tipe Index Card Match
Setiap Strategi yang digunakan dalam pengajaran hampir dapat dipastikan
mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Demikian juga Strategi
Pembelajaran Active Learning tipe Index Card Match memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan. Menurut Zaini (2008: 82-83), kelebihan dan
kekurangan strategi pembelajaran active learning tipe index card match sebagai
berikut.
1) Kelebihan sebagai berikut.
a. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik.
b. Karena terdapat unsur permainan, strategi ini menyenangkan. c. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. d. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa.
e. Efektif melatih kedisiplinan siswa dalam menghargai waktu untuk belajar.
2) Kelemahan sebagai berikut.
a. Jika guru tidak merancang dengan baik, maka banyak waktu yang akan terbuang.
b. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, pada saat siswa membacakan kartunya banyak siswa yang kurang memperhatikan yang akan menjadikan suasana menjadi ramai.
c. Menggunakan strategi index card match secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.
d. Strategi ini terkendala dilakukan jika jumlah siswa tidak genap. Apabila jumlah siswa dalam suatu kelas ganjil atau ada siswa yang tidak masuk, maka dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi siswa dengan menggabungkan siswa yang tidak mempunyai pasangan kedalam pasangan lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas didapat bahwa kelebihan index card match, yaitu
mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan, mampu
menumbuhkan kegembiraan, siswa lebih lama mengingat materi pelajaran yang
dipelajari, dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa karena didalamnya ada
unsur permainan. Sedangkan kekurangan index cardmatch adalah suasana kelas
menjadi gaduh, guru harus meluangkan waktu yang lebih lama untuk persiapan,
dan membutuhkan waktu yanglama bagi siswa untuk menyelesaikan tugas.
2.1.6. Konsep Ilmu Penegtahuan Sosial (IPS) Sebagai Mata Pelajaran di SMP
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang ada di tingkat SD, SMP,
dan SMA. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan disiplin intelektual yang
mempelajari Manusia sebagai makhluk sosial secara ilmiah serta memusatkan
pada manusia sebagai anggota masyarakat ( Sumaatmadja, 2007;9). Dalam
penelitian ini akan dibahas tentang IPS yang ada di tingkat SMP. Menurut
Kurikulum Pendidikan IPS untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah
merupakan bentuk penyederhanaan, penyesuaian, seleksi modifikasi, dan disiplin
akademis ilmu-ilmu social yang di organisir dan disajikan secara ilmiah
pedagogis/psikologis, untuk mewujudkan tujuan pendidikan tingkat dasar dan
menengah, dan untuk mendukung tujuan nasional pendidikan di Indonesia yang
berdasarkan Pancasila.
Mata Pelajaran IPS di SMP merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib
ditempuh oleh siswa SMP bahwa IPS pada kurikulum sekolah (satuan pendidikan)
pasal 37 yang berbunyi bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib
memuat ilmu pengetahuan sosial (UU 20 Tahun 2003).
Tujuan mata pelajaran IPS di SMP yaitu mengembangkan kesadarandan kepedulian masyarakat dan lingkungan sebagaimana yang tertuang dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 sebagai berikut :
1. Mengembangkan pemahaman tentang gejala alam dan kehidupan sistem sosial, pengolahan sumber daya, dan perubahan keberlanjutan.
2. Menerapkan pola berfikir keruangan dalam memahami gejala alam dan kehidupan manusia.
3. Mengembangkan keterampilan, mengelola sumberdaya dan kesejahtraan.
4. Mengembangkan kemampuan melakukan investigasi dan pola pikir
kronologis untuk menganalisis hubungan sebab akibat dalam suatu rangkaian peristiwayang terjadi.
5. Berempati dalam membangun pola interaksi dan beradaptasi dengan lingkungan alam, social, dan budaya.
6. Menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan masyarakat dan lingkungan,
cinta tanah air, menghargai perbedaan, persamaan hak dan kesetaraan gender.
7. Membiasakan diri berfikir secara rasional, membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, mengantisipasi terjadinya konflik dan memecahkan masalah dengan menggunakan keterampilan social.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006, juga disebutkan bahwa sumber bahan IPS berasal dari sejarah, geografi, ekonomi, antropologi, politik, dan sosiologi. Berikut ini merupakan materi yang dibahas dalam pembelajaran IPS :
1. Sejarah, maksudnya apakah fenomena atau masalah social yang
adadikaitkan dengan peristiwa masa lampau sehingga dapat dikurangi beban masa yang akan datang.
2. Geografi, maksutnya apakah suatu fenomena atau masalah social yang ada disebabkan oleh faktor-faktor geografis.
3. Ekonomi, maksutnya pembahasan suatu masalah atau fenomena sosial melalui nilai-nilai dan faktor ekonomi sebagai unsur yang mempengaruhinya.
4. Antropologi, dengan mengajak para siswa untuk memahami
danmenghargai nilai, norma, dan buadaya suatu masyarakat tertentu. 5. Ilmu Politik, maksudnya menggunakan konsep pemerintah kenegaraan
proses politik dan dalam rangka memupuk kesadaran siswa terhadap hak dan kewajiban sebagai warga Negara.
6. Sosiologi, maksudnya pembahasan fenomena sosial dalam rangka
Ilmu Pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi menggunakan konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan pembelajran. Keadaan sosial masyarakat selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dinamisasi kemajuan diberbagai bidang kehidupan harus dapat ditangkap dan diperhatikan oleh lembaga pendidikan yang kemudian menjadi bahan materi pembelajaran, sehingga bahan pelajaran secara formal dapat dituangkan dalam bentuk kurikulum. Pembelajaran IPS berupaya mengembangkan pemahaman siswa tentang bagaimana individu dan kelompok hidup bersama dan berinteraksi dengan lingkungannya. Disamping itu siswa dibimbing untuk mengembangkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang positif dan kritis terhadap yang negatif. Serta memiliki kepedulian terhadap keadilan sosial, proses demokrasi, dan kelanggengan ekologis.
Pendidikan dan Pengajaran IPS di Indonesia sudah mendapatkan landasan hukum yang kuat sebagaimana tertuang pada bab III pasal 2 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesiayang menegaskan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Mata Pelajaran IPS di SMP dari kelas VII, VIII, dan IX memiliki alokasi waktu 4 jam selama seminggu atau 2 sks.
2.1.7. Penelitian Yang Relevan
Hasil penelitian Maisyaroh (2017)menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan pada penerapan strategi pembelajaran aktif tipe index card match
Negeri Katon. Persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan
dilaksanakan ini terletak pada strategi pembelajaran yang digunakan, yaitu strategi
pembelajaran aktif tipe index card match; jenis penelitiannya, yaitu penelitian
eksperimen; variabel terikat yang diteliti, yaitu hasil belajar; serta mata pelajaran
yang digunakan, yaitu IPS.
Rois Amrulloh Akbar (2015) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan Strategi Belajar Aktif Index Card Match (Icm) Terhadap Hasil Belajar
Biologi Siswa Kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Muncar., hanya saja mata
pelajarannya Biologi.
2.1.8.Kerangkaa Pikir
Kerangka pikir berisi gambaran spesifik untuk mengetahui adanya hubungan
antara variabel-variabel yang ada dalam penelitian.Kerangka pikir
mendeskripsikan model konseptual tentang begaimana teori berhubungan dengan
berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kegiatan awal penelitian ini ialah dengan melakukan observasi. Kegiatan
observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran dan hasil belajarIPS
siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran. Hasil observasi tersebut adalah
rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran yang
Pada penelitian ini, penelitian akan dilaksanakan dengan memberikan perlakuan
penerapan strategi pembelajaran active learning tipeindex card match pada siswa yang tidak mencapai KKM ≥ 68. Hasil belajar yang diperoleh tersebut kemudian
akan diuji hipotesis untuk melihat signifikansi peningkatan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran IPS.
Seperti yang telah diungkapkan dalam kajian pustaka, penulis mempunyai
keyakinan bahwa Penerapan Strategi Pembelajaran Active Learning tipe Index
Card Match dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS. Dan
peningkatan tersebut signifikan .
Berdasarkan uraian tersebut, untuk lebih jelasnya kerangka pikir dalam penelitian
ini dapat dilihat pada gambar berikut.
[image:45.595.134.331.469.527.2]
Gambar 1.Kerangka konsep variabel. Keterangan:
X = Strategi pembelajaran active learning tipeindex card match Y = Hasil belajar IPS siswa kelas VII
= Penerapan
(Adaptasi dari Sugiyono, 2010: 105)
2.1.9.Paradigma
Keterangan:
X = Pembelajaran Active Learining tipeIndex Card Match Y = Hasil Belajar
= Penerapan
2.2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir di atas, hipotesis penelitian yang
diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
H0 : Tidak terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran
IPS sesudah diterapkan strategi pembelajaran active learning tipe index card
match siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran tahun ajaran
2017/2018.
H1: Terdapat peningkatan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran IPS
sesudah diterapkan strategi pembelajaran active learning tipe index card
match siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Pesawaran tahun
ajaran 2017/2018.
REFERENSI
Agus Suprijono. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya. Hal. 6
Arikunto, Suharsimi.2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 71
Hasbullah. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Hlm 2
Hamalik, 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hal 162
Hisyam, Op.Cit., Hal. 174 Hisyam, Loc.Cit.
Ibid., Hal 185
Ibid., Hal 189
Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Hal. 276
Stita, Loc.Cit.
Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal. 50-52
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Hal. 96
Suprahatiningrum, Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hal 37
Trianto. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenamedia Group. Hal.169
Trianto, Op.Cit., Hal. 183
Trianto, Op.Cit., Hal. 187
Trianto, Loc.Cit.
Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara. Hal 4-8
Winarno, Surakhmad. 1989. Pengantar penelitian ilmiah dasar, metode dan Teknik. Bandung : Tarsito. Hal. 7
III. METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian pre-eksperimen design yang
dipandang sebagai penelitian yang tidak sebenarnya. Model penelitian eksperimen
yang digunakan yaitu One-shot Case Study. Secara umum model penelitian
eksperimen ini disajikan sebagai berikut.
Perlakuan Posttest
X O
Gambar 2. Desain Penelitian
X adalah treatment atau perlakukan O adalah hasilobservasi sesudah treatment
Peneliti hanya mengadakan treatment satu kali yang diperkirakan sudah mempunyai pengaruh. Kemudian diadakan post-test. Dari hasil post-test diambil kesimpulan dengan 2 cara:
1) melihar rata-rata hasil dan membandikan dengan strandar yang diinginkan;
2) dibandingkan dengan rata-rata test sebelum treatment. (Arikunto, 2010:78)
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan
post-test pada akhir perlakuan akan menunjukkan seberapa jauh akibat dari perlakuan.
O merupakan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa sesudah perlakuan melalui
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi Penelitian
Setiap penelitian membutuhkan objek/subjek untuk diamati. Sugiyono (2010:
117) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun
menurut Kasmadi dan Nia (2014: 65), populasi adalah seluruh data yang menjadi
perhatian peneliti dalam satu ruang lingkup dan waktu yang sudah ditentukan.
Populasi bukan sekadar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi
meliputi seluruhkarakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VII di SMP Negeri 8
Pesawaran pada tahun pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 5 kelas, secara rinci
[image:50.595.114.510.575.732.2]dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Data Siswa Kelas VII SMPN 8 Pesawaran Tahun Ajaran 2017/2018 Menurut Kelas dan Jenis Kelamin
NO
Kelas
Siswa
Jumlah Siswa Laki-laki Perempuan
1 VII A 10 18 28
2 VII B 15 14 29
Sumber: Data Statistik Siswa SMPN 8 Pesawaran TA. 2017/2018.
Dari tabel di atas, dapat diketahui yang menjadi populasi penelitian adalah siswa
kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran Tahun Pelajaran 2017/2018 yang terdistribusi
dalam 5 kelas (VII A,VII B, VII C, VII D,VII E) sebanyak 139 orang siswa yang
terdiri dari 68 orang siswa laki-laki dan 71 orang siswa perempuan.
3.2.2 Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah bagian dari anggota populasi
yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian.
Sugiyono (2010: 118) menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sedangkan Trianto (2011: 231),
meyakini bahwa populasi adalah sebagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri
atau sifat-sifat yang sama dan/atau serupa dengan populasi.
Berapa besar sampel yang harus diambil untuk mendapatkan data yang
representatif penulis berpedoman pada pendapat Masri Singarimbun (2011:150)
bahwa:
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian diantaranya derajat keseragaman (degree of homogenity). Apabila populasi itu segaram sempurna (completely homogenous), maka satu satuan elementer saja dari seluruh populasi itu sudah cukup reperesentatif untuk diteliti. Sebaliknya, apabila populasi itu secara sempurna tidak seragam (completely heterogeneous), maka hanya pencacahan lengkaplah yang dapat memberikan gambaran yang representatif.
4 VII D 13 14 27
5 VII E 15 12 27
Mengingat data populasi hetergen dan berpedoman pada pendapat di atas, maka
dalam menetapkan sampel penelitian ini penulis melakukan pencacahan populasi
dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPS pada siswa kelas VII semester
genap SMP Negeri 8 Pesawaran tahun ajaran 2017/2018 didapatkan data
sebanyak 92 siswa yang belum mencapai KKM yang ditetapkan nilai 68.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik purposive sampling atau
sampel bertujuan dengan alasan agar penelitian ini tepat memilih sumber data
sesuai variabel yang diteliti, sehingga tepat sasaran dengan mengambil sampel
yaitu siswa yang melakukan kecenderungan perilaku antisosial di sekolah.
Menurut Arikunto (2010:183) “purposive sample atau sampel bertujuan dilakukan
dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah
tetapi didasarkan atas ada tujuan tertentu”. Sampel bertujuan memiliki
syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu: pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri
atau sifat pokok populasi, subjek yang diambil sampel merupakan subjek yang
benar-benar mengandung ciri yang terdapat pada populasi, yaitu ada 92 siswa
kelas VII SMP Negeri 8 Pesawaran tahun ajaran 2017/2018 yang belum mencapai
KKM nilai 68 untuk mata pelajaran IPS.
3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
3.3.1 Variabel Penelitian
Variabel penelitian berkenaan dengan apa yang diteliti dalam suatu penelitian.
Sugiyono (2010: 60) menyatakan bahwa variabel pada dasarnya adalah segala
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya. Terdapat dua macam variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel
bebas dan variabel terikat.
a. Variabel bebas (independent variable) yaitu variabel yang memengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat atau
dependent. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah strategi
pembelajaran active learning tipe index card match (X) dengan Indikator
Kinerja Guru dan Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran.
b. Variabel terikat (dependent variable) variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini, yang
menjadi variabel terikat adalah hasil belajar IPS siswa kelas VII (Y).
3.3.2. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel adalah suatu definisi yang didasarkan pada sifat-sifat
yang didefinisikan dan diamati. Untuk memberikan penjelasan mengenai
variabel-variabel yang dipilih dalam penelitian dan memudahkan pengumpulan data agar
tidak terjadi kesalahpahaman dalam mendefinisikan objek penelitian, berikut ini
akan dijelaskan definisi operasional variabel penelitian.
a. Strategi Pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match (X)
Strategi pembelajaran Active Learning Tipe Index Card Match adalah strategi
pembelajaran aktif dan menyenangkan yang digunakan oleh guru untuk
mengulang materi yang telah diberikan dengan mencari pasangan kartu yang
merupakan jawaban atau soal. Strategi ini memungkinkan siswa untuk
b. Hasil Belajar (Y)
Hasil belajar adalah salah satu bagian dari proses pembelajaran berupa
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah melalui kegiatan
pembelajaran secara komprehensif. Kemampuan tersebut mencakup ranah
kognitif, afektif, maupun psikomotor. Adapun hasil belajar yang diteliti pada
penelitian ini difokuskan pada ranah kognitif dengan kata kerja operasional
“menyebutkan”, “menerangkan”, “mengoperasikan”, “mengidentifikasi”,
“mengkategorikan”, “menyimpulkan”. Hasil belajar yang diperoleh siswa
berupa nilai dalam ranah kognitif setelah mengikuti tes pada akhir
pembelajaran pada pertemuan terakhir.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian
ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
nontes, observasi, studi dokumentasi, teknik tes, kepustakaan.
3.4.1 Nontes
Lembar Panduan Observasi digunakan untuk mengetahui apakah dengan
penerapan strategi pembelajaran active learning tipe index card match pada mata
pelajaran IPS di kelas VII SMPN 8 Pesawaran akan dapat meningkatkan hasil
belajar. Observasi dilakukan oleh observer terhadap peningkatan aktivitas siswa