• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
70
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

MODEL LINGKUNGAN KERJA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMA NEGERI 1 KECAMATAN SUNGKAI JAYA

KABUPATEN LAMPUNG UTARA

TESIS

Oleh

DESY NITALINDA

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)

ii ABSTRAK

Model Lingkungan Kerja Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Di SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara

Oleh Desy Nitalinda

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui model, pelaksanaan dan evaluasi model lingkungan yang baik untuk meningkatkan kinerja guru di SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara. Dua model lingkungan yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah lingkungan social dan lingkungan artistik yang kemudian peneliti gabungkan dari kedua aspek lingkungan tersebut dan menciptakan lingkungan kerja yang baru yaitu lingkungan kerja reflektif yang cocok untuk meningkatkan kinerja Guru di SMAN 1 kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan 10 informan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan FGD. Hasil penelitian menunjukan bahwa lingkungan sosial di SMAN 1 cukup baik sehingga menghasilkan kinerja guru yang baik, namun kurangnya komunikasi menyebabkan ketidaknyamanan antara hubungan guru dan kepala sekolah. Lingkungan artistik di SMAN 1 menunjukan bahwa para guru dalam pengerjaan tugas yang diberikan kepala sekolah berjalan baik, tertib dan disiplin namun kualitas perangkat pembelajaran kurang baik akibat terburu waktu. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh kebiasaan guru-guru setempat yang kurang memperhatikan isi dari perangkat pembelajaran itu sendiri. Model lingkungan yang baik adalah model lingkungan reflektif yang diterapkan di SMAN 1 yang dapat meningkatkan Kinerja guru di SMAN 1 Kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara. Model lingkungan kerja reflektif memiliki status baik pada hubungan antara kepala sekolah dengan guru karena guru dan kepala sekolah tidak berhubungan langsung. Guru menyampaikan masalah-masalah kesiswaan kepada wakil kepala sekolah, kemudian wakil kepala sekolah menyampaikannya pada kepala sekolah. Akan tetapi, semua masalah tetap tersampaikan kepada kepala sekolah. Selain itu, hubungan sesama guru dan antara guru dengan siswa memiliki status sangat baik. Model lingkungan kerja reflektif menekankan hubungan sosial yang baik untuk seluruh warga sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan fisik dan mental diusahakan senyaman mungkin untuk mendukung kinerja guru agar optimal.

(3)

iii ABSTRACT

Work Environment Model To Improve Teacher Performance at SMAN 1 Sungkai Jaya District, North Lampung Regency.

By Desy Nitalinda

The environment is very important to improve teacher performance. This research aims to create a good environment to improve teacher performance in SMA Negeri 1 Sungkai Jaya sub-district, North Lampung Regency. Two environmental models that are the focus on this study are the social and artistic environments which the researchers then combine from these two aspects of the environment and create a new work environment that is a reflective work environment suitable for improving teacher performance in SMAN 1 Sungkai Jaya district, North Lampung Regency This research uses a qualitative method with 10 informans. Data collection techniques in this study are observation, interviews, documentation, and FGD. The results show that the social environment at SMAN 1 is good enough to produce good teacher results, but improving communication causes discomfort between the teacher and school principal relations. The artistic environment at SMAN 1 shows that the teachers in carrying out the assignments given by the principal go well, orderly and disciplined, but the quality of the learning tools is not good when struggling with time. It could also be caused by the habits of local teachers who pay less attention to the contents of learning device itself. A good environmental model is a reflective environment model implemented in SMAN 1 that can improve teacher performance in SMAN 1, Sungkai Jaya sub-district, North Lampung district. The Reflective Work Environment Model has a good status on the relationship between the principal and the teacher because the teacher and the principal are not directly related. The teacher conveys student problems to the vice-principal, then the vice-principal conveys it to the principal. Thus, all problems remain conveyed to the principal. In addition, the relationship between teachers and between teachers and students has a very good status. The reflective work environment model emphasizes good social relations for all school members, both directly and indirectly. The physical and mental environment is endeavored to be as comfortable as possible to support teacher performance so that it is optimal.

(4)

iv

MODEL LINGKUNGAN KERJA UNTUK MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMA NEGERI 1 KECAMATAN SUNGKAI JAYA

KABUPATEN LAMPUNG UTARA

Oleh Desy Nitalinda

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Pascasarjana Magister Administrasi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

vi

RIWAYAT HIDUP

(9)

vii

MOTTO

Lakukan yang terbaik,

Sampai kita tidak bisa menyalahkan diri sendiri

Atas semua yang terjadi

(10)

viii

PERSEMBAHAN

Segala puji bagi Allah SWT, atas rahmat dan nikmat yang tercurahkan sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, semoga kita senantiasa melaksanakan sunah-sunah beliau.

Tesis ini kupersembahkan sebagai ungkapan rasa tanda bakti dan cintaku kepada:

Almamaterku tercinta Universitas Lampung.

Ibunda Hj. Aidah (Alm) dan Ayahanda Hi. Syahril (Alm) yang telah mendidik dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang, kesabaran, pengorbanan, serta Mama mertua dan Papa mertua yang telah memberikan segala do’a, selalu

menguatkanku, mendukung segala langkahku menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Kakakku Sony Jaya Putra (Alm), Sopuan Syah Putra, Detri Eka Putri dan Sederajat Mega serta keponakkan-keponakanku khususnya Tiara Laksmi Dewi yang selalu memberikan motivasi, dukungan dan mendo’akanku.

Suamiku tercinta Wandri Imroni beserta anak-anakku tersayang Putri Khaila D’Wandri dan M. Raihan Asyraf D’Wandri yang selalu menjadi penyemangatku,

memberikan dukungan, bantuan, motivasi, serta selalu mendo’akanku.

Keluarga besar SMA Negeri 1 Sungkai Jaya yang selalu memberikan dukungan, motivasi, serta doa’a untukku.

Guru dan dosen atas ilmu, nasihat, arahan dan bimbingan yang telah diberikan sehingga membuat hidup ini lebih bermakna.

(11)

ix SANWACANA

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Tesis ini dengan judul “Model Lingkungan Kerja Untuk Meningkatkan Kinerja Guru Di SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Administrasi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung.

Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Karomani, M.Si, selaku Rektor Universitas Lampung yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Pascasarjana Administrasi Pendidikan Universitas Lampung.

2. Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S, selaku Direktur Pascasarjana Universitas Lampung yang telah memberikan motivasi dalam penyusunan tesis ini.

3. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memfasilitasi penelitian ini.

4. Dr. Riswandi, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah memotivasi.

(12)

x

6. Prof. Dr. Bujang Rahman, M.Si, selaku dosen pembimbing pertama atas kesediannya memberikan perhatian, nasehat, bimbingan, kritik, saran dan motivasi dalam proses penyelesaian tesis ini.

7. Dr. Dedy Hermanto Karwan, M.M., selaku dosen penguji pertama yang telah memberikan kritik, saran dan motivasi kepada peneliti untuk perbaikan tesis ini.

8. Dr. Irawan Suntoro, M.S, selaku dosen penguji kedua yang telah memberikan kritik, saran dan motivasi kepada peneliti untuk perbaikan tesis ini.

9. Bapak dan ibu staf pengajar pada Program Studi Administrasi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah memberikan banyak ilmunya selama menempuh pendidikan sehingga peneliti mendapat tambahan wawasan keilmuan.

10. Kepala SMA Negeri 1 Sungkai Jaya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian serta informasi dan masukannya dalam penulisan tesis ini.

11. Dewan guru beserta staf tu, siswi-siswi SMA Negeri 1 Sungkai Jaya serta pihak masyarakat yang telah memberikan informasi dalam penulisan tesis ini. 12. Kepada Kedua Orang tuaku tersayang, mama mertua dan papa mertua,

Suamiku, anak-anakku, kakak-kakakku dan keponakanku tercinta yang telah

memberikan ketulusan kasih sayang, do’a, motivasi dengan penuh ketulusan

(13)

xi

13. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Angkatan 2017 Pascasarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah banyak memberikan motivasi.

Akhirnya kepada Allah SWT jualah penulis serahkan segalanya serta panjatkan doa semoga amal kebajikan mereka diterima disisi-Nya, serta diberikan pahala yang berlipat ganda sesuai dengan amal perbuatannya. Penulis berharap semoga tesis yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, serta bagi para pembaca pada umumnya, terutama bagi para pendidik (guru) saat ini dan dimasa yang akan datang.

Bandar Lampung, 20 Januari 2020

(14)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………. i

ABSTRAK ... LEMBAR PERNYATAAN ... RIWAYAT HIDUP ... PERSEMBAHAN ... MOTTO ... SANWACANA ... DAFTAR ISI ………...………... DAFTAR TABEL ………...………...…. DAFTAR GAMBAR ……… DAFTAR LAMPIRAN ………. ii iii iv v vi vii viii ix x xi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar BelakangMasalah ………...………... 1

1.2. Fokus Penelitian ...………. 7

1.3. Pertanyaan Penelitian ..…………....…...………... 8

1.4. Tujuan Penelitian …...…………...………...…... 8

1.5. Manfaat Penelitian ... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR 2.1 Tinjauan Pustaka ....………..……...…….. 10

2.1.1 Pengertian Lingkungan Kerja ... 10

2.1.2 Jenis-jenis Lingkungan Kinerja ...………... 11

2.1.3 Model-model Lingkungan Kerja….….………... 13

2.1.4 Aspek Lingkungan Kerja ..…..……... 15

2.1.5 Indikator Lingkungan Kerja ... 16

2.1.6 Pengertian Kinerja ... 16

2.1.7 Indikator Kinerja ... 17

2.2 Kerangka Pikir …………... 19

III. METODE PENELITIAN 3.1 LokasiPenelitian ….……….………..…………... 21

(15)

xii

3.3 Kehadiran Peneliti ... 23 3.4 Sumber Data Penelitian….……… 3.5 Teknik Pengumpulan Data……… 3.5.1 Observasi ...……….

28 31 31 3.5.2 Wawancara ………….……….………... 3.5.3 Dokumentasi……… 3.5.4 Focus Group Discussion (FGD)………. 3.6 Analisis Data ………... 3.6.1 Pengumpulan Data ……...……... 3.6.2 Reduksi Data……….. 3.6.3 Penyajian Data…...………... 3.6.4 Penarikan Kesimpulan………... 3.7 Keabsahan Data ...………. 3.7.1 Uji Kridibilitas Data………... 3.7.2 Pengujian Keteralihan (Transferability)………. 3.7.3 Pengujian Dependability………... 3.7.4 Pengujian Comfirmability…..………... 3.8 Tahapan Penelitian………... 3.8.1 Tahap Pra Lapangan ... 3.8.2 Tahap Pekerjaan Lapangan ... 3.8.3 Tahap Pengumpulan Data ... 3.8.4 Tahap Pelaporan Hasil Penelitian ... IV. PAPARAN DATA, TEMUAN, DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Tempat Penelitian………... 4.2 Paparan Data ………... 4.3 Temuan Penelitian ………... 4.4 Pembahasan………... 4.5 Model Hipotetik………... V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ………..

5.2 Saran ………...

DAFTAR PUSTAKA ...

(16)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Informan Penelitian... 27

3.2 Kode penelitian ... 28

3.3 Observasi Penelitian ... 31

3.4 Kisi–Kisi Wawancara ... 33

3.5 Dokumen ... 34

4.1 Matrik Perencanaan Model Lingkungan Kerja ... 79

4.2 Matrik Metode Penerapan Standard Operational Procedure ... 81

4.3 Matrik Perbandingan Siklus Model Lingkungan Kerja ... 83

(17)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Kerangka Pikir Penelitian………... 18 3.1 Komponen Dalam Analisis Data………. 39 4.1 Siklus Model Lingkungan Kerja Sosial ………... 4.2 Siklus Model Lingkungan Kerja Artistik ………... 4.3 Siklus Model Lingkungan Kerja Reflektif………... 4.4 Diagram Perencanaan Model Lingkungan Kerja ... 4.5 Diagram Penerapan Standard Operational Prosedure (SOP)... 4.6 Diagram Perbandingan Siklus Model Lingkungan Kerja ...

(18)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Hal.

1. Surat Izin Penelitian ..….………... 98 2. Pedoman Wawancara………... 99 3. Lembar Pertanyaan Wawancara……..………... 4. Transkrip Wawancara ... 4. Susunan Acara FGD………..………... 5. Daftar Observasi………... 6. Daftar Dokumentasi………...

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis menyajikan data awal penelitian untuk memperjelas gap dan tujuan penelitian. Paparan tentang latar belakang penelitian, fokus penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian serta manfaat penelitian dapat disajikan sebagai berikut.

1.1 Latar Belakang Masalah

Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung, (manusia dan lingkungan fisik). Semua

keadaan lingkungan tersebut berperan dan memberikan kontribusi terhadap proses peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas lulusan pendidikan. Perhatian Top Manajemen (Kepala Sekolah) seharusnya berupaya untuk mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya seoptimal mungkin, sehingga semua sumber tersebut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

Hollins (2015) Pendidikan dibuat untuk memahami siswa, hal ini menyajikan proses yang kuat untuk mengembangkan perspektif pengajaran yang mencakup sentralitas budaya dalam pembelajaran sekolah.

(20)

2

dengan baik pada sesamanya, belajar adalah perubahan tingkah laku dari diri individu berkat adanya interaksi antar individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka dapat berinteraksi dengan lingkungannya.

SMA Negeri 1 Sungkai Jaya merupakan satu-satunya sekolah menengah atas negeri di Kecamatan Sungkai Jaya. Sekolah ini terletak di daerah pedesaan yang cukup jauh dari pusat kota. Sarana dan prasarana penunjang pendidikan di sekolah ini cenderung masih minim. Rata-rata penduduknya memiliki status ekonomi menengah ke bawah dengan mayoritas pekerjaan orang tua murid adalah berkebun. Jumlah murid di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya mulai meningkat sejak dibebaskannya biaya pendidikan Sekolah Negeri oleh Pemerintah Daerah

Kabupaten Lampung Utara. Tenaga pendidik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil baru berjumlah enam orang, selebihnya merupakan tenaga honor.

(21)

3

kepala sekolah saat ini. Hasilnya, kinerja guru secara keseluruhan di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya masih belum maksimal.

Depdiknas (2007) Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 menyebutkan bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas

penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pememliharaan sarana dan prasarana. Kompetensi yang harus dimiliki oleh Kepala Sekolah / Madrasah berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah terdiri dari 5 kompetensi di antaranya : kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi,

kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.

Hariri (2016) These findings suggest that teachers ferceive that principals should

exhibit much more transformational leadership style and rational

decision-making sytle but avoid laissezfaire leadership style and avoidant decision decision-making

style.

Hariri (2016) Temuan ini menunjukkan bahwa guru memandang bahwa kepala sekolah harus menunjukan gaya kepemimpinan yang jauh lebih transformasional dan gaya pengambilan keputusan yang rasional tetapi menghindari gaya

kepemimpinan laissesz-faire dan gaya pengambilan keputusan yang menghindar. Hariri (2016) School leadership is seen as important for both schools and for

government and private policy-makers. The relationships between

(22)

decision-4

making styles and teacher-perceived job satisfaction in schools in Lampung

Province, Indonesia were examined.

Hariri (2016) Kepemimpinan sekolah dipandang penting bagi sekolah dan bagi pembuat kebijakan baik pemerintah dan swasta. Hubungan antara gaya

kepemimpinan kepala sekolah, gaya pengambilan keputusan kepala sekolah dan kepuasan kerja yang dirasakan guru di sekolah-sekolah di Provinsi Lampung, Indonesia.

Hariri (2016) Transformational leadership style and rational decision-making

style are the best predictors and are likely to contribute to increased teacher job

satisfaction.

Hariri (2016) Gaya kepemimpinan transformasional dan gaya pengambilan keputusan rasional adalah prediktor terbaik dan cenderung berkontribusi pada peningkatan kepuasan kerja guru.

Arianto (2013:191) Sumber daya manusia merupakan salah satu aset paling berharga yang dimiliki oleh suatu organisasi, karena manusialah yang merupakan satu-satunya sumber daya yang dapat menggerakkan sumber daya lainnya. Dalam lingkungan kerja SMA Negeri 1 Sungkai Jaya, sumber daya manusia yang perlu dikembangkan meliputi guru-guru dan para siswa. Untuk mengembangkan para siswa, kualitas guru-guru perlu ditingkatkan terlebih dahulu. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kinerja guru-guru tersebut. Kinerja sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

(23)

5

Lingkungan umum adalah segala sesuatu di luar organisasi yang memiliki potensi untuk meningkatkan organisasi. Lingkungan ini berupa kondisi sosial dan

teknologi. Sedangkan lingkungan khusus adalah bagian lingkungan yang secara langsung berkaitan dengan pencapaian sasaran-sasaran sebuah organisasi. Lingkungan berpengaruh besar terhadap kinerja orang-orang di dalamnya, sebagaimana lingkungan kerja yang mempengaruhi kinerja guru-guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun, sekolah ini telah mencoba berbagai jenis lingkungan kerja yang dapat memaksimalkan kinerja guru.

Menurut Afandi (2011:93), terdapat beberapa model lingkungan yang didasarkan oleh teori karir Holland, yaitu model lingkungan: (1) realistis; (2) intelektual; (3) sosial; (4) konvesional; (5) usaha; dan (6) artistik. Representasi visual dari model lingkungan tersebut ditunjukkan pada Gambar.1 (Winkel & Hastuti, 2005:637). Salah satu permasalahan penting yang dihadapi oleh para pimpinan adalah bagaimana dapat meningkatkan kinerja karyawannya sehingga dapat mendukung keberhasilan pencapaian tujuan (Arianto, 2013:192). Salah satu tujuan sekolah ini adalah untuk menghasilkan guru-guru berkualitas yang memiliki kinerja tinggi. Namun, model-model lingkungan tersebut terlalu umum sehingga tidak dapat diaplikasikan secara maksimal di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Dampaknya, kinerja guru-guru juga tidak meningkat secara signifikan.

(24)

6

Usman (2003:10-19) Indikator-indikator untuk mengukur kinerja tenaga pengajar terdiri dari: (1) kemampuan merencanakan belajar mengajar meliputi: menguasai garis-garis besar penyelenggaraan pendidikan, menyesuaikan analisis materi pelajaran, menyusun program semester, menyusun program atau pembelajaran; (2) kemampuan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, meliputi: tahap pra-instruksional, tahap pra-instruksional, tahap evaluasi dan tindak lanjut; dan (3)

kemampuan mengevaluasi, meliputi: evaluasi normatif, evaluasi formatif, laporan hasil evaluasi, pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan. Untuk

meningkatkan kinerja guru-guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya, diperlukan penilaian terhadap masing-masing individu dengan dasar indikator-indikator kinerja tersebut.

Gambar.1 Model Heksagon Holland Sumber : Winkel & Hastuti (2005:637)

Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, penilaian kinerja guru adalah penilaian yang dilakukan terhadap setiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya. Penilaian kinerja guru

Realistic

Conventional

Investigative

Social

Artistic

(25)

7

perlu dilakukan untuk menjaga kompetensi guru tetap sesuai standar kualifikasi yang berlaku. Penguasaan kompetensi guru tentu sangat berpengaruh terhadap outcome dari para siswa di suatu lingkungan sekolah.

Berdasarkan studi pendahuluan, guru-guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya belum memiliki kinerja yang maksimal. Sumber daya manusia yang tersedia belum mampu meningkatkan kesadaran para siswa terhadap pentingnya pendidikan, terutama di tingkat sekolah menengah atas.

Indikator-indikator ketercapaian kinerja guru pun belum tercapai dengan

maksimal. Hal tersebut disebabkan oleh lingkungan kerja yang kurang baik dari berbagai aspek.

Model-model lingkungan kerja yang saat ini sudah ada tidak mampu memperbaiki kinerja guru-guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model lingkungan kerja baru untuk peningkatan kinerja di tempat tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis memutuskan melakukan penulisan untuk tesis yang berjudul“Model Lingkungan Kerja Untuk Meningkatkan Kinerja

Guru di SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara”.

1.2 Fokus Penelitian

(26)

8

1.2.1 Perencanaan model lingkungan kerja reflektif yang dapat meningkatkan kinerja guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

1.2.2 Pelaksanaan metode model lingkungan kerja reflektif di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

1.2.3 Mengevaluasi perbandingan model lingkungan kerja reflektif dengan model lingkungan kerja sosial dan model lingkungan artistik saat diaplikasikan di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan paparan di atas, pertanyaan penelitian ini dapat diformulasikan sebagai berikut:

1.3.1 Bagaimana perencanaan model lingkungan kerja reflektif yang dapat meningkatkan guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya?

1.3.2 Bagaimana pelaksanaan metode model lingkungan kerja reflektif di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya?

1.3.3 Bagaimana evaluasi perbandingan model lingkungan kerja reflektif dengan model lingkungan kerja sosial dan model lingkungan kerja artistik saat diapliksian di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian, maka tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan mengetahui hal-hal sebagai berikut:

(27)

9

1.4.2 Untuk mengetahui pelaksanaan metode dalam Pengaplikasian Model Lingkungan Kerja Reflektif di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

1.4.3 Untuk mengevaluasi Perbandingan Model Lingkungan Kerja Reflektif dengan Model Lingkungan Kerja Sosial dan Model Lingkungan Artistik saat diaplikasikan di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih secara teoritis maupun praktis sebagai berikut:

1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan lebih jauh dan dapat membantu SMA Negeri 1 Sungkai Jaya dalam mengembangkan kualitas sekolah, terutama dalam meningkatkan kinerja guru dengan terus mengaplikasikan Model lingkungan Kerja Reflektif.

2. Memberikan kontribusi bagi lembaga pendidikan, khususnya ilmu manajemen pendidikan tentang lingkungan kerja.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Bagi kepala sekolah SMA Negeri 1 Sungkai Jaya, sebagai acuan yang lebih intensif dalam menjalankan peran kepemimpinannya dan lebih intensif dalam berkomunikasi guna meningkatkan kinerja guru. 2. Bagi SMA Negeri 1 Sungkai Jaya memberikan masukan yang

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

Pada bab ini penulis menyajikan landasan teori yang menjadi acuan dalam melakukan penelitian. Paparan tentang teori yang mendukung tersaji dalam tinjauan pustaka dapat disajikan sebagai berikut:

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Lingkungan Kerja

Nitisemito (1991:183) menjelaskan bahwa lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan.Lingkungan kerja dalam suatu sekolah perlu diperhatikan karena berperan langsung terhadap kinerja para guru.

Munparidi, M. (2012) Assumption from this research reflected in hypothesis that

suspects that there is a positive and significant influence from leadership,

motivation, training, and working environment to performance. For testing the

validity from that hypothesis it’s needed a related data from worker opinion about

leadership, motivation, training, working environment, and performance.

Munparidi, M. (2012) Asumsi dari penelitian ini tercermin dalam hipotesis yang menduga adanya pengaruh positif dan hubungan yang signifikan dari

(29)

11

Untuk menguji validitas dari hipotesis tersebut diperlukan data terkait dari pendapat pekerja tentang kepemimpinan, motivasi, pelatihan, lingkungan kerja, dan kinerja. Lingkungan kerja yang kondusif dapat meningkatkan kerja guru. Sebaliknya, lingkungan kerja yang kurang kondusif atau kurang memadai dapat menurunkan kinerja guru. Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila manusia yang terlibat di dalamnya dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.

Berdasarkan indikator-indikator tersebut, maka kesesuaian lingkungan kerja berkontribusi sangat besar terhadap kinerja para guru di suatu sekolah. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang

lama.Lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja untuk waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien.

Menurut Listyawati (2017:36), lingkungan kerja guru merupakan lingkungan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Lingkungan kerja guru mencakup faktor-faktor yang meliputi lingkungan fisik sekolah, kepala sekolah, rekan guru lain, karyawan, peserta didik, sarana dan prasarana sekolah, kondisi non-fisik

lingkungan sekolah, serta birokrasi sekolah. Semua faktor tersebut bersama-sama memengaruhi kinerja guru dalam ukurn yang berbeda-beda.

2.1.2 Jenis-Jenis Lingkungan Kerja

(30)

12

1. Lingkungan Kerja Fisik

Menurut Sedarmayanti (2009: 22), lingkungan kerja fisik adalah semua yang terdapat disekitar tempat kerja yang dapat meningktkan guru baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan ini mayoritas meliputi kenyamanan kantor guru dan ruang kelas secara ergonomis. Secara detail, faktor-faktor yang memengaruhi lingkungan fisik adalah:

a. Pewarnaan b. Penerangan c. Udara d. Suara bising e. Ruang gerak f. Keamanan g. Kebersihan

2. Lingkungan Kerja Non-fisik

Sedarmayanti (2009: 31) menyatakan bahwa lingkungan kerja non-fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik dengan atasan maupun dengan sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan. Untuk guru, lingkungan kerja ini mencakup interaksi dengan kepala sekolah, para siswa, dan sesama guru atau pegawai sekolah lainnya. Beberapa faktor yang memengaruhi lingkungan kerja non-fisik adalah:

a. Struktur kerja

b. Tanggung jawab kerja

c. Perhatian dan dukungan pemimpin d. Kerja sama antar kelompok

(31)

13

2.1.3 Model-Model Lingkungan Kerja

Afandi (2011:93) menjelaskan teori Holland mengenai enam model lingkungan kerja dimana individu dan lingkungan saling berinteraksi dengan tipe yang berbeda. Enam model lingkungan kerja tersebut adalah sebagai berikut:

1. Realistik

Model lingkungan ini biasanya ditandai oleh tugas- tugas yang konkrit, fisik, dan ekplisit yangmemberikan tantangan bagi pelakunya. Untuk mendapatkan pemecahan yang efektif seringkali memerlukan kecakapan mekanik, ketahanan, dan gerakan fisik untuk berpindah tempat danbahkan selalu di luar gedung.

2. Intelektual

Lingkungan intelektual ditandai dengan tugas-tugas yang memerlukan kemampuan yangabstrak dan kreatif, bukan tergantung pada kemampuan dan pengamatan pribadinya. Pemecahan masalah memerlukan imajinasi, intelegensidan kepekaan terhadap masalah-masalah yang bersifat

intelektual dan fisik. Biasanya keberhasilan dicapai secara bertahap dan terjadi didalam suatu periode waktu yang relatif lama meskipun kriteria keberhasilan dapat bersifatobjektif dan dapat diukur. Masalah-masalah yang terdapat dalam lingkungan ini berbeda dalam tingkat kesukarannya. 3. Sosial

Lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antarpersonil yang ada disekolah secara umum.Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar kita, yang ada hubungannya dan berpengaruh terhadap

(32)

14

yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Model lingkungan ini menekankan pada:

a. Interaksi antara siswa dengan siswa b. Interaksi antara siswa dengan guru

c. Interaksi antara siswa dengan karyawan di sekolah

Lingkungan sosial ditandai dengan masalah-masalah yang memerlukan kemampuan menginterpretasi dan merubah perilaku manusia dan minat untuk berkomunikasi dengan oranglain. Pada umumnya situasi bekerja dapat menimbulkan rasa harga diri dan mengangkat kedudukan. 4. Konvensional

Lingkungan konvensional ditandai dengan tugas-tugas dan masalah-masalah yang memerlukan pemrosesan informasi verbal dan matematis, rutin, konkrit dan sistematis.Keberhasilan pemecahan masalah relatif jelas dan terjadi dalam satu priode waktu yang relatifsingkat pula.

5. Usaha

Lingkungan tipe usaha ini ditandai dengan tugas-tugas yang

mengutamakan kemampuan verbal yang digunakan untuk mengarahkan atau mempengaruhi orang lain.

6. Artistik

Lingkuangan artistik ditandai dengan tugas-tugas dan masalah-masalah yang memerlukan interpretasi atau kreasi, bentuk-bentuk artistik melalui cita rasa perasaan dan imajinasi.

(33)

15

masalah. Hal ini berbeda dengan lingkunganrealistis, intelektual dan konvensional yang seringkali kurang menuntut penggunaan semua sumber potensi pribadi seseorang.

2.1.4 Aspek Lingkungan Kerja

Menurut Simanjuntak (2002:39), terdapat beberapa aspek lingkungan kerja yang memengaruhi kinerja. Aspek-aspek tersebut terdiri dari: pelayanan kerja, kondisi kerja dan hubungan kerja.

1. Pelayanan Kerja

Pelayanan guru merupakan aspek terpenting yang harus dilakukan oleh setiap sekolah terhadap tenaga kerja. Pelayanan yang baik dari perusahaan akan membuat guru lebih bergairah dalam bekerja, mempunyai rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaannnya, serta dapat terus menjaga nama baik melalui produktivitas kerjanya dan tingkah lakunya. Pada umumnya pelayanan guru meliputi beberapa hal, antara lain:

a. Pelayanan makan dan minum b. Pelayanan kesehatan

c. Pelayanan kamar kecil/kamar mandi ditempat kerja 2. Kondisi Kerja

(34)

16

3. Hubungan Kerja

Hubungan kerja akan sangat menentukan dalam menghasilkan

produktivitas kerja. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara motivasi serta semangat dan kegairahan kerja dengan hubungan yang kondusif antar sesama guru dalam bekerja, ketidakserasian hubungan antara guru dapat menurunkan motivasi dan kegairahan yang akibatnya akan dapat menurunkan produktivitas kerja.

2.1.5 Indikator Lingkungan Kerja

Terdapat macam-macam hal yang dapat mempengaruhi lingkungan tempat seseorang bekerja. Hal-hal tersebut disebut sebagai indikator lingkungan kerja. Menurut Nitisemito (1991:183), indikator-indikator lingkungan kerja terdiri dari: (1) Pewarnaan, (2) kebersihan, (3) penerangan, (4) pertukaran udara, (5) musik, (6) keamanan, (7) kebisingan.

2.1.6 Pengertian Kinerja

Arlina & Sarkawi (2017:4) Kinerja merupakan perwujudan dari kemampuan dalam bentuk karya nyata. Kinerja dalam kaitannya dengan jabatan diartikan sebagai hasil yang dicapai yang berkaitan dengan fungsi jabatan dalam periode waktu tertentu. Kinerja merupakan istilah umum yang digunakan untuk penilaian pekerja dalam berbagai profesi, termasuk untuk penilaian guru.

(35)

17

tugasnya dengan baik atau belum. Apabila standar yang ditetapkan telah dicapai atau terlampaui oleh guru tersebut, maka guru dapat dianggap sebagai panutan dan terkualifikasi untuk mengajar. Pentingnya kinerja guru untuk guru sendiri, sekolah, dan para siswa menyebabkan kinerja masing-masing guru harus dievaluasi secara rutin.

Menurut Bichi (2017:104), evaluasi pada kinerja guru merujuk pada proses formal yang digunakan suatu sekolah untuk meninjau dan mengukur kinerja guru serta keefektifan di dalam ruang kelas.

2.1.7 Indikator Kinerja

Pentingnya kinerja guru serta proses evaluasinya tidak boleh diragukan oleh setiap sekolah. Oleh karena itu, Aisyah (2013:5) menguraikan indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja guru sebagai berikut:

1. Kemampuan membuat perencanaan dan persiapan mengajar. 2. Penguasaan materi yang akan diajarkan kepada siswa

3. Penguasaan metode dan strategi mengajar 4. Pemberian tugas-tugas kepada siswa 5. Kemampuan mengelola kelas

6. Kemampuan melakukan penilaian dan evaluasi.

2.2 Kerangka Pikir

Mendeskripsikan model lingkungan kerja yang reflektif agar dapat meningkat kinerja guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya merupakan langkah pembaharuan ketika sebuah lembaga pendidikan harus mengikuti ketatnya persaingan untuk memperoleh mutu yang berkualitas.

(36)

18

[image:36.595.113.505.319.570.2]

studi, guru BK, dan siswa. Dalam proses evaluasi model lingkungan kerja yang dilakukan adalah selain mendeskripsikan model lingkungan kerja reflektif sekaligus mengaplikasikan model lingkungan kerja tersebut, serta mengevaluasi perbandingan antara model lingkungan kerja reflektif dengan model lingkungan kerja sosial dan model lingkungan kerja artistik. Output dalam penelitian ini adalah terjadi peningkatan kinerja guru, dengan meningkatnya kinerja guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya berarti turut memperbaiki proses sekaligus input. Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian

INPUT

Sumber Daya Sekolah:

1. Kepala sekolah 2. Wakil kepala 3. Guru bidang studi 4. Guru BK

5. Siswa

OUTPUT

Peningkatan Kinerja Guru

di SMAN 1 Sungkai Jaya.

PROSES

1. Mendeskripsikan model lingkungan kerja baru yang dapat meningkatkan kinerja guru.

2. Pelaksanaan metode untuk mengaplikasikan model lingkungan kerja baru. 3. Mengevaluasi

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini penulis menjelaskan tentang lokasi penelitian, jenis penelitian, fokus penelitian, serta subjek, sumber dan jenis data penelitianyang menjadi acuan dalam melakukan penelitian.

3.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian terutama dalam menangkap fenomenalogi atau peristiwa yang sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-data penelitian yang akurat. Dalam penentuan Lokasi penelitian, Moleong (2017:132) menentukan cara terbaik untuk ditempuh dengan jalan mempertimbangkanteori substantif dan menjajaki lapangan dan mencari kesesuaian dengan kenyataan yang ada dilapangan.

Sementara itu keterbatasan geografi dan praktis seperti waktu, biaya, tenaga perlu juga dijadikan pertimbangan dalam penentuan lokasi penelitian. Lokasi yang diambil dalam penelitian ini ditentukan dengan sengaja (purposive), yang

(38)

20

3.2 Pendekatan dan Rancangan Penelitian

Metode penelitian adalah sebuah cara ilmiah untuk memperoleh data dengan fungsi dan tujuan tertentu serta memperhatikan cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaannya. Cara ilmiah berdasarkan ciri keilmuan yaitu kegiatan penelitian harus rasional, empiris, dan sistematis. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Bogdan dan Taylor dalam Moloeng (2017:4) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati dari fenomena yang terjadi.

Menurut Moleong (2017:11) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif menekankan pada data berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka yang disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti.

(39)

21

Penelitian deskriptif kualitatif menafsirkan dan menuturkan data yang

bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi di dalam masyarakat, pertentangan dua keadaan atau lebih, hubungan antar variabel, perbedaan antara fakta, pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain-lain. Pengambilan sampel atau sumber data pada penelitian ini dilakukan secara purposive dan untuk ukuran sampel tersebut ditentukan secara total sampling teknik dimana populasi menjadi seluruh sampel dalam penelitian, teknik

pengumpulan dengan gabungan, analisa data bersifat kualitatif dan hasil penelitian menekankan makna generalisasi.

Hasil dari penelitian ini hanya mendeskripsikan atau mengkonstruksikan wawancara, observasi, dokumentasi dan FGD mendalam terhadap subjek penelitian sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai model lingkungan kerja yang dapat meningkatkan kinerja guru SMA Negeri 1 di Kecamatan Sungkai Jaya Kabupaten Lampung Utara.

3.3 Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti berperan penting karena menjadi instrumen utama, instrumen non insani bersifat sebagai data pelengkap. Peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian sekaligus sebagai pengumpul data. Untuk memperoleh data yang baik dan lengkap secara tulisan, lisan yang maksimal, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak, maka peneliti mengambil sikap yang tegas, artinya sikap yang memiliki etika, estetika terhadap obyek sehingga mereka merasa tidak terganggu dan menerima dengan senang.

(40)

22

Untuk itulah, peneliti berusaha membangun hubungan yang lebih akrab, lebih wajar dan tumbuh kepercayaan bahwa peneliti tidak akan menggunakan hasil penelitiannya untuk maksud yang salah dan merugikan orang lain atau lembaga yang diteliti.

Kehadiran peneliti di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya secara terjadwal adalah sebagai berikut:

Peneliti melakukan observasi awal pada tanggal 18 November 2018 di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah sebagai langkah untuk memulai penelitian lebih lanjut. Peneliti berbincang dengan pihak sekolah mengutarakan maksud dan tujuan peneliti yang akan melaksanakan penelitian di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya sekaligus memberitahukan bahwa surat pengantar izin penelitian sedang dalam proses.

Proposal penelitian telah mendapat persetujuan pada tanggal 27 Februari 2019 dari dosen pembimbing I, dosen pembimbing II, dan Ketua Program Studi Magister Manajemen Pendidikan pada pukul 09.00 WIB. Lembar pengesahan proposal telah disetujui digunakan sebagai syarat untuk mendapatkan surat

pengantar izin penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melalui sub bagian pendidikan. Pada pukul 14.00 WIB melakukan entry data pengajuan surat izin penelitian di sub bagian pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan.

Surat pengantar untuk izin penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan telah selesai pada tanggal 7 Maret 2019 dan diambil pada pukul 10.00 WIB. Surat pengantar izin penelitian ini dibawa pada saat peneliti mengunjungi lokasi

(41)

23

Surat izin penelitian yang telah diterbitkan pada tanggal 18 Maret 2019 oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan diserahkan ke lokasi penelitian sebagai bentuk legalitas perizinan penelitian. Sehingga pada pukul 08.00 WIB surat tersebut diserahkan ke SMA Negeri 1 Sungkai Jaya sebagai lokasi pelaksanaan penelitian. Pada waktu yang sama dengan waktu penyerahan surat izin penelitian tersebut, peneliti membuat kesepakatan dengan kepala sekolah berkaitan dengan pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan agar selama penelitian tidak

mengganggu aktivitas nara sumber.

Sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah dan setelah dihubungi oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMA Negeri 1 Sungkai Jaya maka pada tanggal 2 April 2019 pukul 10.00 WIB peneliti mulai melakukan pengumpulan data melalui wawancara kepada kepala sekolah. Pada kesempatan tersebut peneliti memperoleh informasi mengenai hubungan kepala sekolah dan guru, hubungan antara sesama guru dan hubungan anatara guru dengan siswa di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya melalui pernyataan-pernyataan yang diberikan kepada kepala sekolah.

Pada tanggal 10 April 2019 pukul 08.30 WIB peneliti melakukan wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan yang menangani kegiatan siswa di sekolah. Wawancara dilakukan guna memperoleh informasi mengenai

(42)

24

Pada tanggal 15 April 2019 pukul 09.00 WIB peneliti melakukan wawancara dengan 4 orang siswa Wawancara dilakukan guna memperoleh informasi mengenai hubungan siswa dengan guru-guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Peneliti kembali datang ke sekolah pada tanggal 18 April 2019 pukul 09.00 WIB peneliti melakukan wawancara dengan Wakil Kepala bidang Kurikulum yang menangani tentang kurikulum sekolah. Wawancara dilakukan guna memperoleh informasi mengenai kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

Pada tanggal 25 April 2019 pukul 09.00 WIB peneliti melakukan Focus Group Disscution (FGD) dengan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Bidang Kurikulum,

Wakil Kepala bidang Kesiswaan, Wakil Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Guru Bidang Studi, Guru BP, TU dan Keamanan FGD dilakukan guna

memperoleh informasi mengenai hubungan kepala sekolah dan guru, hubungan antara sesama guru dan hubungan antara guru dengan siswa di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

Sesuai kesepakatan dengan pihak sekolah maka pada tanggal 29 April 2019 pukul 08.00 WIB peneliti melakukan observasi mengenai model lingkungan kerja SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Pukul 09.00 WIB peneliti melakukan studi

dokumentasi dan crosscheck antara hasil wawancara dan hasil observasi pertama dengan dokumen-dokumen yang terkait dengan model lingkungan kerja di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Sesuai panduan dokumentasi. Selain itu, peneliti

melakukan crosscheck antara hasil wawancara, dokumentasi, observasi, dan FGD mengenai model lingkungan kerja sesuai panduan observasi yang telah dibuat dengan disesuaikan kondisi yang ada. Pada penelitian tersebut peneliti

(43)

25

lingkungan kerja di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Berdasarkan studi dokumentasi tersebut peneliti memperoleh kepastian kondisi Lingkungan kerja di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

Pada tanggal 27 Mei 2019 pukul 09.00 WIB, peneliti memperoleh surat keterangan yang menyatakan bahwa peneliti benar-benar telah melakukan

penelitian di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Selain itu, peneliti sekaligus memohon pamit dan mengucapkan terima kasih kepada pihak SMA Negeri 1 Sungkai Jaya yang telah berkenan membantu memberikan informasi selama pelaksanaan penelitian berlangsung. Pada saat yang sama, pihak SMA Negeri 1 Sungkai Jaya memberikan kesempatan dan mempersilahkan apabila masih ada hal lain yang diperlukan terkait penelitian.

Peneliti selama dilapangan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: (1) Peneliti berusaha untuk berperilaku luwes, sederhana, dan ramah, serta

senantiasa berusaha tampil sebaik-baiknya dengan memperhatikan sikap dan perilaku, serta tidak menonjolkan diri.

(2) Peneliti menghormati etika pergaulan yang sudah terbangun, mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku, serta berusaha menyesuaikan diri dengan kebiasaan subjek penelitian.

(44)

26

(4) Karena keterbatasan peneliti di lapangan memerlukan instrumen bantu, yang dapat dipergunakan dalam penelitian seperti alat tulis, hand phone (hp), dan kamera.

3.4 Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini ditentukan dengan Purposive Sampling, melalui informan yang terdiri dari kepala sekolah, waka kurikulum, waka kesiswaan, guru, siswa. Kuncinya didapatkan informasi berupa data-data penelitian yang sangat diperlukan sesuai kebutuhan penelitian. Peneliti memilih informan yang dianggap mengetahui dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang akurat dan mengetahui masalahnya secara mendalam, kemudian dikembangkan dengan informan lain melalui Snowball dalam penentuan informan selanjutnya sehingga jumlah data yang akan didapat semakin banyak dan lengkap.

Arikunto (2006:224) sumber data adalah subjek darimana data dapat diperoleh dan untuk memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi sumber data, peneliti telah menggunakan rumus 3P, yaitu:

a. Person (orang), merupakan tempat dimana peneliti bertanya mengenai variabel yang diteliti.

b. Paper (kertas), adalah tempat peneliti membaca dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian, seperti arsip, angka, gambar, dokumen-dokumen, simbol-simbol, dan lain sebagainya

(45)

27

Menurut Lofland dalam Moleong (2017:165), sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan yang didapat dari informan melalui

wawancara, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Untuk mendapatkan data dan informasi maka informan dalam penelitian ini ditentukan secara purposive atau sengaja dimana informan telah ditetapkan sebelumnya. Informan merupakan orang-orang yang terlibat atau mengalami proses pelaksanaan dan perumusan program dilokasi penelitian.

[image:45.595.113.406.470.644.2]

Adapun yang menjadi informan kunci (key informan) pada penelitian ini adalah kepala sekolah, setelah itu dikembangkan kepada informan-informan lainnya, yaitu: Wakil kepala sekolah, komite sekolah, guru, TU dan siswa. Pada penelitian ini, peneliti berupaya secara maksimal dan terfokus untuk mendapatkan data yang obyektif.

Tabel 3.1. Informan Penelitian

No Sumber Data Kode Jumlah

1 Kepala Sekolah Ks 1

2 Waka Kurikulum Wk 1

3 Waka Kesiswaan Ws 1

4 Komite Sekolah Kms 3

5 Guru Gr 2

6 Siswa Sw 2

(46)
[image:46.595.113.408.111.302.2]

28

Tabel 3.2. Kode Penelitian

No Kategori Kode

1 Sumber data

1. Kepala Sekolah 2. Waka kurikulum 3. Waka Kesiswaan 4. Komite Sekolah 5. Guru 6. Siswa Ks Wk Ws Kms Gr Sw 2 Teknik Pengumpulan data

1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi

4. Focus Group Disscution

O W D F

Menurut Miles, Huberman, & Saldana (2014), secara operasional transkip wawancara dibaca secara berulang-ulang untuk dipilih yang terkait dengan fokus penelitian dan diberi kode berdasarkan subfokus penelitian dan sumbernya. Pemberian kode sangat diperlukan untuk memudahkan pelacakan data secara bolak-balik. Secara rinci pengkodean dibuat berdasarkan pada teknik

pengumpulan data dan informasi.

Moleong (2017) Data penelitian berupa kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Pada penelitian ini yang diteliti oleh peneliti berupa kata-kata, perilaku atau kebijakan yang terkait dengan manajemen hubungan sekolah dan masyarakat.

Disini peneliti perlu menegaskan bahwa penelitian kualitatif ini bermaksud untuk mengkaji permasalahan model lingkungan kerja yang cocok untuk di terapkan di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya. Data yang terdapat dalam dokumen-dokumen, manuskrip, catatan dan lain-lainnya yang menyangkut lingkungan kerja

(47)

29

Nasution (2003) Tindakan dan kata-kata orang-orang yang diamati atau

diwawancarai merupakan sumber data utama dan dicatat melalui catatan tertulis, pengambilan foto atau film.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.

Menurut Sugiyono (2007:209) bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi,

wawancara, FGD dan dokumentasi. Namun dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan melalui empat metode, yaitu:

1. Observasi

Menurut Afifudin dan Saebani (2009:134), observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala dalam objek penelitian. Iryana & Kawasati (2019:11) Terdapat beberapa bentuk observasi yang umum digunakan:

a. Observasi partisipasi, yaitu metode yang digunakan melalui pengamatan dan penginderaan dimana peneliti terlibat dalam keseharian informan.

b. Observasi tidak terstruktur, yaitu pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan.

(48)

30

Penulis menyimpulkan bahwa observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan jenis objek penelitian. Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis observasi terus terang dan tersamarkan dimana penelitian terkadang mengatakan pada informan bahwa dia melakukan penelitian akan tetapi terkadang tidak mengatakan pada informan.

(49)

31

Berikut tabel pedoman observasi yang akan dilakukan oleh peneliti: Tabel 3.3. Observasi Penelitian

No. Ragam Situasi yang Diamati Keterangan

1. 2. 3. 4. 5. 6. Keadaan Fisik

Letak dan keadaan geografis 1. Sarana Pra-sarana

2. Suasana lingkungan mengajar/sekolah 3. Suasana ruang kelas

4. Keadaan siswa Kegiatan siswa

1. Ektrakurikuler 2. Pramuka

3. Pengembangan diri 4. Olahraga

Prestasi siswa

1. Bidang akademik 2. Bidang Non-akademik Upacara dan Ritual

1. Upacara peringatan hari besar nasional/keagamaan

2. Proses kegiatan belajar belajar mengajar dikelas

Rapat-Rapat

1. Rapat koordinasi kepala sekolah, guru, staf dengan pengawas.

2. Rapat dengan pengurus komite sekolah 3. Rapat dengan orang tua siswa

Kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan fokus penelitian (komunikasi dan partisipasi masyarakat).

Setting yang perlu dan event penting akan diambil

gambarnya/fotonya.

2. Wawancara

[image:49.595.115.511.137.567.2]
(50)

32

(a) Wawancara berstruktur yaitu wawancara dimana peneliti telah mengetahui pasti informasi yang akan diperoleh dan peneliti telah menyiapkan rangkaian pertanyaan untuk wawancara.

(b) Wawancara tak terstruktur adalah wawancara dimana peneliti tidak menyiapkan panduan wawancara dan lebih bersifat bebas.

(c) Wawancara semi terstruktur merupakan paduan antara wawancara terstruktur dan tak terstruktur, peneliti melakukan wawancara lebih bebas namun peneliti juga menyiapkan panduan wawancara. Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa wawancara merupakan salah satu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan dialog dengan nara sumber untuk mencapai tujuan dari suatu penelitian.

Adapun dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara terstruktur, peneliti menyiapkan daftar pertanyaan yang merupakan pertanyaan mengenai lingkungan kerja, dan apabila saat melakukan wawancara ada hal-hal yang dirasa peneliti kurang mendalam maka peneliti dapat menggunakan informasi yang lebih mendalam. Peneliti menentukan informan yang diwawancarai, selanjutnya peneliti melakukan wawancara kepada informan disesuaikan dengan kebutuhan

penelitian.Mengatasi permasalahan selama melakukan wawancara. Peneliti menggunakan perekam data berupa lembar catatan lapangan dan handphone sebagai alat bantu untuk foto.

(51)

33

[image:51.595.114.514.193.493.2]

yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi. Oleh karena itu jenis jenis wawancara yang digunakan oleh peneliti termasuk kedalam jenis wawancara terstruktur.

Tabel 3.4. Kisi - kisi wawancara

No. Sub-fokus Penulisan Indikator Informan

1. Lingkungan Sosial

Hubungan antara atasan dan bawahan

Ks,Gr Hubungan antara sesama

rekan kerja

Hubungan guru dengan siswa Gr, Sw, Kms

2. Lingkungan Artistik

Kemampuan guru

mengerjakan tugas-tugas dari kepala sekolah

Ks, Gr, Kms Kemampuan emosi guru

dalam memecahkan masalah Kemampuan guru dalam berkreasi

3. Kinerja Guru

Kemampuan membuat perencanaan mengajar

Gr Kemampuan pelaksanaan

atau strategi mengajar Kemampuan melakukan penilaian dan evaluasi

3. Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data mengenai sesuatu hal atau variable berupa catatan, transkip, buku, agenda dan sebagainya. Dalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti dokumen kemitraan dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang tidak bisa diungkap oleh metode lainnya.

(52)

34

Menurut Moleong (2017:161), dokumentasi sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data dapat dimanfaatkna untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk meramaikan.

Menurut Sugiyono (2007:213), dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental seseorang. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel kalau didukung oleh dokumen-dokumen yang bersangkutan.

[image:52.595.128.505.332.551.2]

Berikut tabel dokumen yang akan melengkapi hasil peneliti: Tabel 3.5. Dokumen

No. Jenis Dokumen

1 Data Ketenagaan  Data siswa  Data Guru

2 Sarana dan Prasarana  Denah lokasi sekolah  Gedung KBM

 Ruang Kepala Sekolah, Guru, dan Staf 3 Organisasi Sekolah

4 Profil Sekolah

Sumber: Dokumen peneliti

4. Focus Group Disscution (FGD)

(53)

35

Cakupan masalah yang dibahas masih luas dan belum terarah kepada topik yang diteliti oleh peneliti. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih detail dan akurat, peneliti menggunakan metode FGD untuk penelitian ini.

Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya

[image:53.595.127.505.369.646.2]

pada tanggal 22 Mei 2019. Partisipan FGD berjumlah 11 orang yang berasal dari berbagai bidang dan tingkatan jabatan. Rincian informan untuk FGD ditunjukkan pada tabel 1, sedangkan susunan acaranya ditunjukkan pada Tabel.2

Tabel 1. Daftar Hadir Focus Group Discussion Model Lingkungan Kerja SMA Negeri 1 Sungkai Jaya

No Nama Jabatan Gol/

NIP

Tanda Tangan 1. Haidir Yusuf, ST Kepala Sekolah III. C

2. Suwito, M.Pd Waka Kurikulum IV.B 3. Ansori, S.Pd Waka Kesiswaan III. B 4. Cik Agus, S.Pd Waka sarpras III. B 5. Arman Sanjaya, M.Pd Guru III. B

6. Barqiah, S.Pd Guru III. D

7. AgungSuratman, M.Pd BP

-8. Desy Nitalinda, S.Pd Guru III. D

9. Sri Mayang,S. Kom Operator

-10. Riza Maryana TU

(54)
[image:54.595.112.507.192.515.2]

-36

Tabel 2. Susunan Acara Focus Group Discussion Model Lingkungan Kerja di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

HARI/TANGGAL : 22 Mei 2019

TEMPAT : SMA NEGERI 1 SUNGKAI JAYA

WAKTU KEGIATAN PELAKSANA

AN

KETERANGAN 08.00- 08.30 Pembukaan Semua peserta MC : Mayang 08.30- 08.35 Perkenalan Mayang

08.35- 08.50 sambutan

1. Kepala Sekolah 2. Waka.

Kurikulum

Sambutan Oleh: 1. Haidir Yusuf, ST 2. Suwito,M.Pd

08.50-09.50 Inti Acara: Focus Group Discussion(FGD)

Semua Peserta Leader FGD: Cik Agus, S.Pd

CO Leader : Ansori, S.Pd

Notulen : Risa Fasil: Mayang, Agung, Ranum Dokumentasi: Fersa

3.6 Analisis Data

Bodgan dan Biklen dalam Moleong (2017: 248) mengatakan, “Teknik analisis

data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

(55)

37

Didalam sebuah penelitian diperlukan analisis data agar penelitian dapat berjalan dengan baik dan efektif sehingga di dalam proses penelitian tidak terjadi

kesalahan. Adapun metode yang digunakan dalam analisis data menurut Miles dan Huberman dalam bukunya Qualitative Data Analysis: An Expended Sourcebook (3rded.), yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta pengambilan

kesimpulan.

1. Data Condensation (kondensasi data)

Data kondensasi mengacu pada proses proses pemilihan atau seleksi, fokus, menyederhanakan serta melakukan pergantian data yang terdapat pada catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen maupun data empiris yang telah didapatkan. Data kualitatif tersebut dapat diubah dengan cara seleksi, ringkasan, atau uraian menggunakan kata-kata sendiri dan lain-lain.

Berdasarkan data yang dimiliki, peneliti akan mencari data, tema, dan pola mana yang penting, sedangkan data yang dianggap tidak penting akan dibuang. Pada penelitian kali ini Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, FGD dan observasi langsung pada guru di SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya kabupaten Lampung Utara.

2. Data reduction (reduksi data)

Menurut Sugiyono (2015) Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal- hal-hal penting, dicari tema dan polanya dan membuang data yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah

(56)

38

Dalam penelitian ini, data yang direduksi oleh peneliti adalah data mengenai hasil observasi, wawancara secara langsung, dokumentasi, dan fgd tentang model lingkungan kerja untuk meningkatkan kinerja guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

3. Data Display (penyajian data)

Selanjutnya peneliti melakukan penyajian data. Data yang disajikan telah melewati tahap reduksi. Penyajian data dilakukan dengan tujuan agar penulis lebih mudah untuk memahami permasalahan yang terkait dalam penelitian dan dapat melanjutkan langkah berikutnya.

Pada umumnya penyajian merupakan suatu pengaturan, kumpulan informasi yang telah dikerucutkan sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan.

Penyajian data dapat dilakukan dengan bagan, uraian singkat, skema dan lain-lain.Setelah mengumpulkan data terkait selanjutnya peneliti

mengelompokkan hasil observasi dan wawancara untuk disajikan dan di bahas lebih detail.

4. Conclusion drawing / verification (pengambilan kesimpulan)

Apabila tahap kondensasi dan penyajian data telah dilakukan, maka langkah terakhir yang dilakukan adalah mengambil kesimpulan. Pengambilan

kesimpulan merupakan suatu proses dimana peneliti menginterprestasikan data dari awal pengumpulan disertai pembuatan pola dan uraian atau penjelasan.

(57)

39

kesimpulan tentang lingkungan kerja yang efektif untuk meningkatkan kinerja guru di SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya.

Melihat penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa analisa data terdiri dari beberapa tahap yang dilakukan.Tahap-tahap tersebut dilakukan di dalam proses penelitian.

Tahap tersebut digambarkan sebagai berikut :

1 3

[image:57.595.175.502.262.448.2]

2 4

Gambar 3.1 Teknik Analisis Data

(Sumber: Adopsi Miles dan Huberman 2014: 11)

3.7 Keabsahan Data

Menurut Moleong (2017: 324) teknik keabsahan data didasarkan pada empat kriteria yaitu kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability),

ketergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Untuk

menjamin keabsahan data yang akan diperoleh dalam penelitian ini, data yang terkumpul akan dicek keabsahannya melalui metode triangulasi yaitu teknik– teknik pemeriksaan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data– data tersebut.

Pengumpulan Data

Reduksi Data

Kesimpulan : Penarikan/ Verifikasi Penyajian

(58)

40

Patton dalam Moleong (2017: 325) dalam hal ini triangulasi yang digunakan adalah pemeriksaan melalui data lain yaitu dengan cara membandingkan data mengecek baik derajat kepercayaan sesuai informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

Analisis trianggulasi yaitu menganalisis jawaban subjek dengan meneliti kebenarannya dengan data empiris (sumber data lainnya) yang tersedia. Trianggulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan

data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Jadi triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan

perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konsteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai

sumber,metode, atau teori.

Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi dimana peneliti

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang didapat dari Guru SMA Negeri 1 Kecamatan Sungkai Jaya.

Penilaian keabsahan riset kualitatif, biasanya data diperlukan dalam teknik pemeriksaan. Pelaksanaan pemeriksaan didasarkan pada empat kriteria yaitu Derajat Kepercayaan (Credibility) Tingkat kepercayaan suatu proses dan hasil penelitian. Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian antara lain: (a) Waktu pelaksanaan observasi diperpanjang sehingga dapat meningkatkan

(59)

41

(c) Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sumber-sumber diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut,

(d) Peer debriefing (pemeriksaan dengan teman sejawat) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.

Pada tahap ini, setelah mendapatkan data dari proses penelitian untuk meningkatkan derajat kepercayaan peneliti terhadap data peneliti bias

memperpanjang waktu penelitian agar data yang didapat benar- benar akurat. Selanjutnya, untuk meyakinkan hasil dari penelitian bisa membandingkan data yang didapat dengan penelitian terdahulu yang mengangkat tema serupa yang diangkat oleh peneliti. Langkah berikutnya adalah mendiskusikan dengan teman sejawat mengenai hasil penelitian.

Karena tidak menutup kemungkinan data yang diperoleh dilapangan masih belum cocok sepenuhnya dengan yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan dengan harapan adanya masukan-masukan dari teman sejawat untuk perbaikan data yang nantinya akan menghasilkan simpulan bagi penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

Pada dasarnya penerapan kriteria derajat kepercayaan (kredibilitas) berfungsi untuk menggantikan konsep validitas internal dari nonkualitatif. Kriteria ini memiliki dua fungsi: pertama, melaksanakan inkuiri sehingga tingkat

(60)

hasil-42

hasil penemuan dengan jalan pembuktian peneliti yang kepercayaannya terdapat ganda sedang peneliti.

1. Uji Kredibilitas Data

Pengecekan kredibilitas data dilakukan untuk membuktikan apakah yang diamati oleh peneliti benar-benar sesuai dengan yang sesungguhnya terjadi secara wajar dilapangan.Penelitian ini, subyek melakukan klarifikasi dengan membaca transkrip hasil wawancara dan observasi.Transkrip yang salah, diketik ulang kemudian diserahkan kepada subyek untuk diperiksa ulang dan ditanda tangani. Derajat kebenaran dalam penelitian kualitatif digunakan untuk memenuhi kriteria (nilai) agar tidak dimanipulasi.

Memeriksa kredibilitas dilakukan dengan kegiatan; (a) Diskusi teman sejawat, (b) Triangulasi data dan metode.Mengenai diskusi teman sejawat, dimaksudkan untuk membicarakan dan melihat kelemahan dari penelitian ini sehingga peneliti memperoleh masukan guna penyempurnaan.

Triangulasi data dilakukan dengan cara membandingkan kebenaran data atau informasi dari informan lain yang berbeda. Triangulasi metode diarahkan untuk membandingkan informasi yang diperoleh dari

wawancara mendalam, observasi peran serta, dan dokumentasi.Misalnya, hasil observasi dibandingkan atau dicek dengan wawancara, kemudian dicek lagi melalui dokumen yang relevan.

2. Keterahlian (Transferability)

(61)

43

tersebut. Sehingga hasil penelitian dapat diterapkan ditempat yang berbeda manakala tempat tersebut memiliki karakteristik yang sama dengan lokasi penelitian. Konsep validitas menyatakan bahwa generalisasi suatu

penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua konteks dalam populasi yang sama atau dasar yang diperoleh pada sampel secara representatif.

3. Ketergantungan (Dependability)

Mengulang studi dalam kasus yang sama dan mendapatkan hasil yang sama menunjukan bahwa penelitian itu memiliki ketergantungan. Apakah hasil penelitian mengacu pada konsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik simpulan.

4. Kepastian (Confirmability)

Yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil

penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

Pada tahap ini, dilakukan dengan cara mengkonfirmasikan hasil penelitian ini pada sidang tesis dengan dosen penguji. Hasil penelitian ini telah memenuhi standar confirmability karena telah dipertahankan di depan para penguji melalui seminar, ujian tertutup, dan ujian terbuka. Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara peneliti mengadakan

(62)

44

seperti ini maka kepastian data dari urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.

Konsep kepastian tergantung pada bagaimana pandangan orang terhadap penelitian tersebut. Dalam hal ini kepastian bahwa sesuatu objektif atau tidak tergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuannya. Dalam pelaksanaan ini bersifat tentatif.

3.8 Tahapan Penelitian

Proses pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

1. Proses memasuki lokasi penelitian

Sebelum memasuki lokasi penelitian untuk memperoleh data, pada tahap initerlebih dahulu peneliti memperkenalkan diri dan meminta izin kepada kepala sekolah SMA Negeri 1 kecamatan Sungkai Jaya.Setelah itu, peneliti mengutarakan maksud dan tujuan penelitian untuk menciptakan kepercayaan kepada masing-masing pihak, kemudian menentukan waktu melakukan wawancara.

2. Ketika berada dilokasi penelitian (getting along).

(63)

45

3. Pengumpulan data (logging data)

Pada tahap ini, peneliti melakukan proses pengumpulan data yang telah ditetapkan berdasarkan fokus penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Observasi, tujuan dari observasi ini adalah untuk mengamati objek penelitian, sehingga dapat memahami kondisi yang sebenarnya. Pengamatan bersifat non-partisipatif, yaitu peneliti berada diluar sistem yang diamati.

b. Wawancara mendalam (indeep interview) yang dilakukan kepada Guru SMAN 1 Kecamatan Sungkai Jaya dengan cara melakukan tanya jawab atau percakapan langsung dengan seluruh sumber data yang ada berdasarkan daftar pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sebagai panduan sumber data.

c. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlaku dan berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen berguna karena dapat memberikan latar belakang yanglebih luas mengenai pokok penelitian yang dapat dijadikan bahan triangulasi untuk mengecek data dan merupakan bahan utama dalam penelitian.

d. Focus Group Disscution (FGD)

(64)

46

subjektivitas yang terbentuk akibat tidak cukupnya narasumber yang memberikan informasi kepada peneliti.

4. Tahap pelaporan hasil penelitian

(65)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, paparan data, temuan peneliti dan pembahasan mengenai model lingkungan kerja untuk meningkatkan kinerja guru maka disimpulkan bahwa :

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang menjawab tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Model lingkungan kerja baru yang dapat meningkatkan kinerja guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya adalah Model Lingkungan Kerja Reflektif. Model ini dikembangkan berdasarkan pengembangan teori John Holland tentang pengembangan karir yang disesuaikan dengan kondisi spesifik di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

2. Model Lingkungan Kerja Reflektif diaplikasikan di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya dengan metode penerapan Standard Operational Procedure (SOP). SOP dari Model Lingkungan Kerja Reflektif terdiri dari sembilan

poin yang ditujukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru di SMA Negeri 1 Sungkai Jaya.

Figure

Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian
Tabel  3.1. Informan Penelitian
Tabel  3.2. Kode Penelitian
gambarnya/fotonya.
+6

References

Related documents

Ornithonyssus sylviarum é considerado um parasita emergente na Europa, apresentando-se como um problema atual e crescente em aviários, não devendo por isso

Health care cost data were compared for patients who used additional homeopathic treatment within the integrated care model homeopathy (homeopathy group) and those who used only

Numerous variables have been outlined as being capable of influencing the customer experience in the online web environment, namely, ease of use (navigational control),

determining which top-level windows there are in the region. Then it proceeds to search through the interactors attached to those windows, looking for interactors whose bounds

The unit provides candidates with the knowledge to construct and apply the correct fares on one-way and return journeys, to investigate fares which exceed the mileage system,

Understanding Religion from a sociological perspective is essentially a way of looking at religion by focusing on humanity (especially social aspect) in religious belief

However, only one species of rosewood, the Brazilian rosewood ( Dalbergia nigra ), is listed under Appendix I of CITES, indicating a ban on all international trade in the

Next we will go through the existing problems on physical RFID tags, security primitives and protocols for tags, and the application specific issues in general.. 4.1