• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
79
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

(Skripsi)

Oleh

AGATHA IVANIA PRANANDARI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

PENGARUH PEMBELAJARAN OUTDOOR LEARNING TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP

NEGERI 2 KALIANDA TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Oleh

AGATHA IVANIA PRANANDARI

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh pembelajaran outdoor learning terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa SMP Negeri 2 Kalianda pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Penelitian ini

menggunakan desain Non Equivalent Control Grup Design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas VII di SMP Negeri 2 Kalianda semester genap tahun ajaran 2018/2019 yang terbagi ke dalam 7 kelas.

(3)

iii

2,3701 lebih besar dari ttabel= 1,672 yang berarti bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik yang diperoleh melalui metode outdoor learning lebih dari rata-rata hasil belajar peserta didik yang diperoleh metode diskusi kelompok belajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari penggunaan metode outdoor learning terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar pada peserta didik.

(4)

Oleh

AGATHA IVANIA PRANANDARI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

Penulis dilahirkan di Gisting pada tanggal 4 Februari 1995 sebagai anak pertama dari dua bersaudara, anak dari pasangan Bapak Daniel Sudana dengan Ibu A.Aprilleni Sondang. Penulis beralamat di Desa Bumi Dipasena Jaya Blok 07 Jalur 26 No 1, Kecamatan Rawa Jitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Nomor telepon 085273223888.

(9)

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”

(Roma 12 : 12)

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu.”

(Kel 14 : 13)

“Cara termudah untuk jadi pandai adalah belajar dari hal terbodoh yang pernah kau lakukan.”

(Wilson Kanadi)

“Kerjakan saja bagianmu dan sisanya serahkan pada Tuhan yang akan menyelesaikan bagian-Nya.”

(10)

Puji Syukur kuucapkan kepada Tuhanku, Yesus Kristus, atas penyertaan dan berkat-Nya selama ini kepadaku

sehingga aku dapat menyelesaikan skripsi ini.

Teriring doa, rasa syukur, dan segala kerendahan hati. Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya ini

untuk orang-orang yang berharga dalam hidupku:

Ayahku (Daniel Sudana) dan Ibuku (Anselma Aprilleni Sondang) Ayah dan ibu yang telah mendidik dan membesarkanku dengan segala doa terbaik, segala kesabaran dan limpahan kasih sayang yang selalu menjaga dan

menguatkanku, mendukung segala langkahku menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Adikku (Eusebius Nino Pradipta)

Terimakasih untuk adikku yang tak pernah lelah untuk menguatkan, menghibur, dan memberi semangat serta segala bentuk dukungannya yang diberikan untukku.

(11)

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala penyertaan berkat rahmat dan kasih-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unila. Skripsi ini berjudul“Pengaruh

Pembelajaran Outdoor Learning Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Kalianda Tahun Pelajaran 2018/2019”. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Biologi yang telah memberikan bimbingan dan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai;

4. Dr. Tri Jalmo, M.Si., selaku Pembimbing I serta Pembimbing Akademik yang ditengah kesibukannya telah banyak membantu penulis dengan penuh

(12)

xii

6. Drs. Darlen Sikumbang, M.Biomed., selaku Pembahas yang telah banyak memberikan saran perbaikan dan motivasi yang sangat berharga dalam proses penulisan skripsi ini;

7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staff Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, yang telah memberikan dukungan, semangat, motivasi, nasihat, dan ilmu yang berguna kepada penulis;

8. Agusnel, S.Pd., Sri Subandini W., S.Pd., dan Suminingrum, S.Pd., selaku guru IPA kelas VII dan VIII di SMP Negeri 2 Kalianda yang banyak membantu selama proses penelitian;

9. Siswa-siswi kelas VII A, VII C, dan VIII D tahun ajaran 2018/2019 di SMP Negeri 2 Kalianda yang telah membantu selama proses penelitian ini; 10. Seluruh mahasiswa Pendidikan Biologi 2013, kakak, dan adik tingkat

Pendidikan Biologi FKIP UNILA yang telah mendukung dan memotivasi pada penyelesaian skripsi ini;

11. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 6 Februari 2020 Penulis

(13)

Halaman DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

F. Kerangka Pikir ... 8

G. Hipotesis ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Outdoor Learning ... 11

B. Sikap Ilmiah ... 22

C. Hasil Belajar ... 25

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 31

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 31

C. Desain Penelitian ... 31

D. Prosedur Penelitian ... 32

E. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data ... 36

F. Uji Instrumen ... 38

G. Teknik Analisis Data ... 50

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 58

(14)

xiv

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN 1. Silabus Kelas Eksperimen ... 76

2. Silabus Kelas Kontrol ... 79

3. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ... 82

4. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ... 92

5. Lembar Kerja Peserta Didik Kelas Eksperimen 1 ...102

6. Lembar Kerja Peserta Didik Kelas Kontrol 1 ...105

7. Lembar Kerja Peserta Didik Kelas Eksperimen 2 ...108

8. Lembar Kerja Peserta Didik Kelas Kontrol 2 ...111

9. Kisi-Kisi Soal Pretes - Postes ...114

10. Soal Pretes - Postes ...122

11. Rubrik Penilaian Lembar Observasi Sikap Ilmiah ...128

12. Lembar Observasi Sikap Ilmiah Peserta Didik ...129

13. Kisi-Kisi Angket Penilaian Diri Sikap Ilmiah ...137

14. Angket Penilaian Diri Sikap Ilmiah Peserta Didik ...138

15. Kisi-Kisi Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ...139

16. Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ...140

17. Kisi-Kisi Angket Tanggapan Guru Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ...141

18. Angket Tanggapan Guru Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ...142

19. Hasil Uji Instrumen ...143

20. Data Penilaian Lembar Observasi Sikap Ilmiah Kelas Eksperimen ...147

21. Data Penilaian Lembar Observasi Sikap Ilmiah Kelas Kontrol ...150

22. Data Penilaian Diri Sikap Ilmiah Kelas Eksperimen ...153

23. Data Penilaian Diri Sikap Ilmiah Kelas Kontrol ...156

24. Data Uji Normalitas ...159

25. Data Uji Homogenitas ...183

26. Data Uji N-Gain ...187

27. Data Uji-t ...190

28. Data Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ...195

29. Data Angket Tanggapan Guru Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ...198

30. Foto Penelitian ...199

(15)

Tabel Halaman

1. Ringkasan Jenjang Belajar ... 27

2. Indikator dan Rubrik Lembar Observasi Sikap Ilmiah ... 39

3. Angket Penilaian Diri Sikap Ilmiah ... 40

4. Kisi-Kisi Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ... 41

5. Instrumen Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning ... 42

6. Klasifikasi Validitas ... 44

7. Rekapitulasi Uji Validitas Soal Tes ... 44

8. Kriteria Reliabilitas Soal ... 46

9. Rekapitulasi Uji Reliabilitas Tes ... 46

10. Klasifikasi Daya Pembeda ... 47

11. Rekapitulasi Uji Daya Pembeda ... 48

12. Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal ... 49

13. Rekapitulasi Uji Tingkat Kesukaran Soal ... 49

14. Kriteria Sikap Ilmiah ... 51

(16)

xvi

18. Hasil Uji Statistik Data Pretest, Postest, dan N-Gain Hasil Belajar ... 59 19. Hasil Analisis Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Outdoor

Learning (n=30) ... 61 20. Hasil Analisis Angket Tanggapan Guru IPA Kelas VII

(17)

Gambar Halaman

1. Bagan Kerangka Pikir ...9

2. Desain Penelitian Pretest Postest Non Equivalent ...32

3. Peserta Didik Mengerjakan Pretest ...199

4. Peserta Didik Berdiskusi Mengerjakan LKPD ...199

5. Peserta Didik Mempresentasikan Hasil Diskusi LKPD ...200

6. Peserta Didik Mengerjakan Postest ...200

7. Peserta Didik Mengerjakan Pretest ...201

8. Peserta Didik Berdiskusi Mengerjakan LKPD ...201

9. Peserta Didik Mempresentasikan Hasil Diskusi LKPD ...202

(18)

A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang menentukan keberhasilan belajar siswa dan memiliki kegiatan timbal balik antara guru dengan siswa untuk menuju tujuan yang lebih baik. Suwanto (2010 : 191-192) menyatakan bahwa pembelajaran sains (IPA) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Proses pembelajaran sains yang dikehendaki adalah pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik sains (IPA) dan karakteristik pendidikan sains yaitu proses pembelajaran aktif berbasis exploring dan inquiring (pembelajaran yang berorientasi kepada eksplorasi dan inkuiri) (Permendiknas, 2007 : 15). Oleh karena itu, pendekatan yang diterapkan dalam menyajikan pembelajaran sains adalah memadukan antara pengalaman proses sains dan pemahaman produk sains dalam bentuk pengalaman langsung.

(19)

mata pelajaran IPA. Sanjaya (2008 : 34) mengatakan bahwa secara empiris berdasarkan hasil analisis penelitian terhadap rendahnya hasil belajar peserta didik disebabkan oleh pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan belum menyentuh ranah peserta didik. Hal ini juga didukung oleh observasi yang telah dilakukan dengan mewawancarai pendidik bidang studi IPA di SMP Negeri 2 Kalianda, bahwa metode yang masih dipakai yaitu berupa ceramah sehingga mengakibatkan peserta didik menjadi tidak aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, peserta didik terbiasa menghafal buku dibandingkan dengan menemukan sendiri konsep pada materi yang diajarkan sehingga sikap ilmiah dan hasil belajar masih rendah. Kemudian, hasil belajar pada semester lalu untuk materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan, sebanyak 30% peserta didik belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).Peserta didik kurang termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran IPA karena cara mengajar pendidik di kelas kurang bervariatif dan masih

(20)

Salah satu metode pembelajaran yang digunakan untuk mencapai kompetensi keberhasilan proses pembelajaran melalui pembelajaran Outdoor learning. Proses pembelajaran yang dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar peserta didik pada pelajaran IPA adalah dengan menerapkan metode outdoor learning dengan menggunakan lingkungan di luar kelas sebagai sumber belajar. Suyadi menyebutkan bahwa pembelajaran outdoor learning

mempunyai banyak manfaat bagi siswa karena kemasan pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi anak, serta pembelajaran tersebut lebih bermakna karena akan dihadapkan pada situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami (Husamah dalam Yuliyanti, 2015 : 2), selain itu sumber belajar lebih variatif dan rekreatif sehingga siswa tidak jenuh dan bosan dalam belajar serta siswa lebih bersemangat dan lebih berkonsentrasi pada pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

(21)

Pendekatan maupun metode yang digunakan di kelas juga harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan sifat dari materi yang disampaikan (Rustaman dalam Solikhatun, 2015 : 2). Materi yang dapat digunakan dalam pembelajaran outdoor learning ini bervariasi. Salah satunya materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan pada siswa kelas VII semester genap. Materi ini cocok dilakukan dengan outdoor learning karena siswa dapat bereksplorasi secara ilmiah dengan lingkungan alam di sekitar dengan cara mengamati langsung makhluk hidup yang ada di sekitar sekolah yang sedang berinteraksi dengan lingkungan.

Penelitian mengenai pengaruh pembelajaran dengan metode outdoor learning terhadap hasil belajar siswa telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Richmond (2017) dalam hasil penelitiannya pada pendidikan petualangan di luar ruang (outdoor adventure education) memiliki posisi yang baik untuk memberikan hasil belajar yang diinginkan seperti meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian, dan keterampilan sosial serta mengembangkan kompetensi kepemimpinan dan komunikasi. Penelitian tidak jauh berbeda dilakukan oleh Sulasih (2017) yang mengembangkan model pembelajaran outdoor study berbasis keunggulan lokal pada siswa sekolah menengah kejuruan dan

diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan yang signifikan pada rata-rata kelas di tingkat ketuntasan klasikal dengan kriteria baik. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Adiyawati (2017) yang menyatakan bahwa penggunaan metode outdoor study dengan berbantu media lingkungan sekitar terhadap hasil belajar IPA diperoleh hasil penelitian bahwa terjadi peningkatan

(22)

peserta didik kelas kontrol. Selain itu Yuliyanti (2015) dalam pengembangan model outdoor learning berbantuan model group investigation untuk

pengembangkan sikap ilmiah diperoleh hasil penelitian bahwa model outdoor learning secara signifikan dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dianggap perlu untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh pembelajaran outdoor learning terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa dengan materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan di SMP Negeri 2 Kalianda. Sehingga melalui penelitian ini akan memberikan informasi kepada guru bahwa dengan pembelajaran outdoor learning dapat meningkatkan atau tidak hasil belajar pada peserta didik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh positif pembelajaran outdoor learning terhadap sikap ilmiah peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kalianda tahun pelajaran 2018/2019?

(23)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui pengaruh positif pembelajaran outdoor learning terhadap sikap ilmiah peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kalianda tahun pelajaran 2018/2019.

2. Mengetahui pengaruh signifikan pembelajaran outdoor learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kalianda pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukan penelitian ini adalah: 1. Bagi siswa

Memberikan siswa pengalaman baru sehingga siswa menjadi terbiasa untuk berpikir kritis, bersikap ilmiah, dan meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Bagi guru

Memberikan informasi mengenai pembelajaran outdoor learning yang dapat digunakan sebagai evaluasi untuk meningkatkan hasil belajar materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan pada siswa. 3. Bagi sekolah

(24)

4. Bagi peneliti

Memberikan wawasan, pengalaman, serta bekal sebagai calon guru IPA yang profesional dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran terutama tentang pembelajaran outdoor learning.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari anggapan yang berbeda terhadap masalah yang akan dibahas maka peneliti membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut: 1. Metode pembelajaran yang digunakan adalah outdoor learning yaitu

suatu metode pembelajaran yang dilakukan di luar ruangan agar siswa dapat belajar berdasarkan kejadian yang ada di dunia nyata secara faktual dan nyata, serta lebih bermakna. Langkah-langkah pada pembelajaran outdoor learning yaitu dengan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, lalu pendidik mengajak peserta didik keluar kelas dan

membagi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi langkah kegiatan untuk pengamatan tumbuhan, hewan, dan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar, kemudian pendidik memberikan panduan belajar dan menjelaskan cara kerja kelompok, peserta didik melakukan

pengamatan dan mencatat hasil pengamatan, setelah pengamatan peserta didik dikumpulkan kembali untuk mempresentasikan hasil pengamatan dan memberikan kesimpulan (Husamah, 2013 : 78).

(25)

pada peserta didik yaitu rasa ingin tahu, jujur, percaya diri, disiplin, dan toleransi.

3. Hasil belajar diperoleh dengan tes tertulis yang terdiri dari hasil pretest dan postest pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. 4. Materi pokok pada penelitian ini terdapat pada KD 3.7 Menganalisis

interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya serta dinamika populasi akibat interaksi tersebut.

5. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VII semester genap di SMP Negeri 2 Kalianda Tahun Pelajaran 2018/2019.

F. Kerangka Pikir

Proses pembelajaran yang dapat meningkatkan minat belajar siswa oleh guru pada mata pelajaran IPA dengan menerapkan metode outdoor learning yaitu pembelajaran dilakukan diluar lingkungan kelas yang mana lingkungan dijadikan sebagai sumber belajar.Pembelajaran outdoor learning merupakan pembelajaranberdasarkan kejadian yang ada di dunia nyata secara faktual dan nyata. Pembelajaran menggunakan metodeoutdoor learning dapat

meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar pada siswa. Hal ini karena

berbagai fenomena nyata yang tidak terdapat dalam buku tetapi dapat diamati secara langsung sehingga memunculkan rasa ingin tahu pada peserta didik dan membuat peserta didik untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan

(26)

secara ilmiah serta memotivasi dan mendorong peserta didik untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan alam.

Sikap merupakan produk dari kegiatan belajar. Sikap ilmiah diperlukan siswa karena mendasari setiap gerak langkah dari seorang siswa yang membantu dalam proses belajar untuk meningkatkan prestasi dan hasil belajar yang diharapkan. Dengan sikap ilmiah siswa akan menyenangi pelajaran, sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa akan baik. Hasil belajar adalah suatu yang diperoleh dari suatu kegiatan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Hasil belajar pula merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya. Tingkat sikap ilmiah siswa dapat dilihat dari bagaimana mereka memiliki rasa

keingintahuan yang sangat tinggi, memahami konsep baru dengan

[image:26.595.236.435.518.686.2]

kemampuannya, kritis terhadap suatu permasalahan yang perlu dibuktikan kebenarannya hingga mengevaluasi kinerjanya. Kerangka pikir dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir Pembelajaran

Outdoor learning

(27)

G. Hipotesis

Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh positif pembelajaran outdoor learning terhadap sikap ilmiah peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kalianda tahun pelajaran 2018/2019.

2. H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan pembelajaran outdoor learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VII SMP Negeri 2 Kalianda pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. H1: Terdapat pengaruh signifikan pembelajaran outdoor learning dapat

(28)

A. Pembelajaran Outdoor Learning

Belajar pada hakikatnya adalah suatu interksi antara individu dengan lingkungan. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan. Dalam proses interaksi itu dapat terjadi perubahan pada diri individu berupa perubahan tingkah laku. Dapat terjadi, individu menjadi penyebab perubahan pada lingkungan, baik yang positif atau bersifat negatif. Hal ini menunjukan, bahwa fungsi lingkungan merupakan faktor yang penting dalam proses belajar mengajar (Hamalik, 2001 : 194).

Belajar di luar kelas (Outdoor Learning) tidak hanya berperan sebagai tempat bermain melainkan juga sebagai tempat siswa mengekspresikan

(29)

Menurut Komarudin (dalam Husamah, 2013 : 19) menyatakan bahwa outdoor learning merupakan aktivitas luar sekolah yang berisi kegiatan di luar

kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti : bermain di lingkungan sekolah, taman, perkampungan pertanian/nelayan, berkemah, dan kegiatan yang bersifat kepetualangan, serta pengembangan aspek pengetahuan yang relevan. Proses pembelajaran bisa terjadi dimana saja, di dalam ataupun di luar kelas, bahkan di luar sekolah. Proses pembelajaran yang dilakukan di luar kelas atau bahkan di luar sekolah, memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan siswa.

Menurut Priest (dalam Husamah, 2013 : 21) bahwa pendidikan luar ruangan adalah, metode eksperimental pembelajaran dengan melakukan, yang terjadi terutama melalui paparan di luar rumah. Dalam pendidikan di luar ruangan, penekanan untuk subjek pembelajaran ditempatkan pada hubungan tentang sumber daya manusia dan alam.

Menurut Karjawati (dalam Husamah, 2013 : 23) bahwa metode outdoor learning adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk

mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Melalui metode outdoor

(30)

Menurut Vera (2012 : 17-18) outdoor learning merupakan kegiatan

menyampaikan pelajaran di luar kelas yang melibatkan siswa secara langsung dengan lingkungan sekitar mereka, sesuai dengan materi yang diajarkan. Sehingga, pendidikan di luar kelas lebih mengacu pada pengalaman dan pendidikan lingkungan yang sangat berpengaruh pada kecerdasan para siswa. Sebagian orang menyebutnya dengan outing class, yaitu suatu kegiatan yang melibatkan alam secara langsung untuk dijadikan sebagai sumber belajar.

Outdoor learning merupakan pembelajaran yang lebih berorientasi pada keaktifan siswa dengan pemanfaatan lingkungan sekitar. Sehingga dalam pembelajaran ini guru lebih berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan mediator pembelajaran. Pembelajaran outdoor juga sejalan dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), dimana peran aktif siswa dan suasana demokratif dalam pendidikan dijunjung tinggi, sehingga selain dapat meningkatkan kepekaan siswa terhadap lingkungan juga menunjang siswa mengemukakan pendapat dan berinteraksi dengan lingkungan secara baik (Vera, 2012 : 19).

(31)

yang dipelajari akan baik sehingga secara langsung dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik itu sendiri (Vera, 2012 : 19).

Pendidikan luar kelas bertujuan agar siswa dapat beradaptasi dengan

lingkungan dan alam sekitar dan mengetahui pentingnya keterampilan hidup dan pengalaman hidup di lingkungan dan alam sekitar, dan memiliki apresiasi terhadap lingkungan dan alam sekitar. Menurut Vera (2012 : 21-25) tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui aktivitas outdoor learning atau belajar di luar lingkungan sekolah adalah sebagai berikut:

1. Mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kreatifitas mereka dengan seluas-luasnya di alam terbuka. Selain itu, kegiatan belajar mengajar di luar kelas juga bertujuan memberikan ruang kepada mereka untuk mengembangkan inisiatif personal mereka.

2. Kegiatan belajar mengajar di luar kelas bertujuan menyediakan latar (setting) yang berarti bagi pembentukan sikap dan mental peserta didik. Dengan kata lain, mereka diharapkan tidak “gugup” ketika menghadapi

realitas yang harus dihadapi.

3. Meningkatkan kesadaran, apresiasi, dan pemahaman peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya, serta cara mereka bisa membangun hubungan baik dengan alam.

4. Membantu mengembangkan segala potensi setiap peserta didik agar menjadi manusia sempurna, yaitu memiliki perkembangan jiwa, raga, dan spirit yang sempurna.

(32)

mendapat kesempatan luas untuk merasakan secara langsung hal yang telah dipahami dalam teori (mata pelajaran).

6. Menunjang keterampilan dan ketertarikan peserta didik. Bukan hanya ketertarikan terhadap mata pelajaran tertentu yang bisa dikembangakan di luar kelas, melainkan juga ketertarikan terhadap kegiatan-kegiatan di luar kelas.

7. Menciptakan kesadaran dan pemahaman peserta didik cara menghargai alam dan lingkungan, serta hidup berdampingan di tengah perbedaan suku, ideologi, agama, politik, ras, bahasa, dan lain sebagainya. 8. Mengenalkan berbagai kegiatan di luar kelas yang dapat membuat

pembelajaran lebih kreatif.

9. Memberikan kesempatan yang unik bagi peserta didik untuk perubahan perilaku melalui penataan latar pada kegiatan luar kelas.

10. Memberikan kontribusi penting dalam rangka membantu mengembangkan hubungan guru dan murid.

11. Menyediakan waktu seluas-luasnya bagi peserta didik untuk belajar dari pengalaman langsung melalui implementasi bebas kurikulum sekolah di berbagai area.

12. Memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari lingkungan dan komunitas sekitar untuk pendidikan.

(33)

Penelitian mengenai pengaruh outdoor learning terhadap hasil belajar telah dilakukan sebelumnya oleh Utami (2014) bahwa dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dapat meningkatkan aktivitas

pembelajaran dan hasil belajar IPA siswa di kelas VB SD Negeri 20 Kota Bengkulu. Kegiatan belajar para siswa akan lebih menarik dan tidak membosankan, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi, hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau penggunaan media konkret, bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat, kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat

dilakukan dengan berbagai cara seperti bertanya, kerja kelompok, mengamati, membuktikan, menguji fakta. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek -aspek kehidupan yang ada di lingkungan, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan disekitarnya serta dapat mengarahkan sikap menghargai alam dan kelestariannya. hal tersebut merupakan kelebihan - kelebihan dari metode outdoor study (Vera, 2012 : 28-46).

Sedangkan menurut Suyadi (dalam Husamah, 2013 : 25) outdoor learning memiliki manfaat antara lain sebagai berikut :

1. Pikiran lebih jernih karena suasana yang berganti. 2. Pembelajaran akan terasa menyenangkan.

3. Pembelajaran lebih variatif dengan kemampuan eksplorasi yang runtut. 4. Belajar lebih rekreatif.

(34)

7. Tertanam image bahwa dunia sebagai kelas. 8. Wahana belajar akan lebih luas.

9. Kerja otak lebih rileks.

Sudjana dan Rivai menjelaskan pula (dalam Husamah, 2013 : 25-26) bahwa banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari

lingkungan dalam proses belajar antara lain:

1. Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk berjam- jam, sehingga motivasi siswa akan lebih tinggi.

2. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.

3. Bahan-bahan yang dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya akurat.

4. Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.

5. Sumber belajar lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.

6. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.

(35)

keluyuran kemana - mana, gangguan konsentrasi, Kurang tepat waktu (waktu akan tersita), pengelolaan siswa lebih sulit, bisa terserang panas dan dingin. Kendala seperti ini bisa saja muncul tetapi penanganannya sangat mudah, guru hanya perlu memberikan perhatian yang ekstra kepada siswa,

membentuk siswa dalam kelompok sehingga akan mudah mengawasinya, membuat kesepakan mengenai peraturan tata tertib siswa selama di luar kelas, dan guru juga harus pandai dalam memilih objek belajar. Dengan demikian maka kendala - kendala dalam menggunakan metode outdoor learning dapat di minimalisir (Vera, 2012 : 47).

Menurut Suyadi (dalam Husamah, 2013 : 30), guru perlu memperhatikan beberapa hal yang mungkin menjadi kendala atau kelemahan pembelajaran di luar ruang yaitu:

1. Siswa akan kurang konsentrasi.

2. Pengelolaan siswa akan lebih sulit terkondisi. 3. Waktu akan tersita (kurang tepat waktu).

4. Penguatan konsep kadang terkontaminasi oleh siswa lain atau kelompok lain.

5. Guru lebih intensif dalam membimbing. 6. Akan muncul minat yang semu.

(36)

waktu siswa dibawa ke tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan sehingga terkesan main - main, kelemahan ini dapat di atasi dengan persiapan yang matang sebelum kegiatan. Ada kesan guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu yang cukup lama, kesan ini keliru sebab mempelajari lingkungan bisa dengan cara mempelajari lingkungan sekitar sekolah seperti kebun sekolah dan taman. Kesan tersebut mengartikan sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas, ia lupa tugas belajar siswa dapat dilakukan di luar kelas dengan mempelajari keadaan lingkungannya dan memiliki arti yang sangat penting. Banyak hal yang perlu dipikirkan oleh guru. Salah satunya adalah belajar di luar ruangan akan menjadi daya tarik tersendiri sehingga banyak orang yang datang untuk menyaksikan. Pusat perhatian siswa akan langsung tertuju kemana-mana karena posisi belajar mereka di tempat terbuka. Oleh karena itu, sebagai guru yang cerdas,

diperlukan kiat-kiat tertentu untuk mengatasi kelemahan model pembelajaran outdoor learning.

Seorang guru yang ingin yang ingin mengajar para siswa di luar kelas mesti mengetahui cara-cara pengajaran di luar kelas, adapun cara-caranya adalah: 1. Penugasan

(37)

dikerjakan di rumah masing-masing. Melainkan dikerjakan saat itu juga dan dilaksakan di luar kelas serta dinilai dan disimpulkan di luar kelas. Tugas yang diberikan oleh guru ketika mengajar di luar kelas harus berkaiatan erat dengan mata pelajaran yang sedang dibahas. Tidak hanya itu, tugas yang diberikan kepada siswa mesti bisa dilaksankan di luar kelas. Artinya para siswa tidak perlu mencari bahan-bahan atas tugas tersebut di rumah atau di dalam kelas (Vera, 2012 : 107).

2. Tanya Jawab

Metode ini kurang lebih mengikuti teknik tanya jawab. Guru

memberikan pertanyaan kepada siswa yang jawabannya mengarah pada perkembangan pembelajaran yang sedang diajarkan, kemudian guru menambahkan jawaban mereka. Sebenarnya metode tanya jawab bukan hanya menekankan guru bertanya kepada siswa melainkan siswa juga bisa bertanya kepada gurunya akan tetapi pertanyaan yang diajukan siswa kepada gurunya bukan pertanyaan yang sifatnya menguji atau mengetes tapi berangkat dari ketidaktahuan seorang siswa tentang pembelajaran (Vera, 2012 : 114).

3. Bermain

(38)

4. Observasi

Observasi dalam kegiatan mengajar di luar kelas adalah metode atau cara-cara belajar di luar kelas yang dilakukan dengan melihat atau mengamati materi pelajaran secara langsung di alam bebas. Metode itu dilakukan dengam pengamatan secara langsung dan membuat

pencatatan-pencatatan secara objektif mengenai sesuatu yang diamati kemudian menyimpulkannya (Vera, 2012 : 134).

Adapun langkah-langkah kegiatan inti pada pada pembelajaran outdoor learning menurut Husamah (2013 : 78):

1. Kegiatan Awal

a. Guru mengajak siswa ke lokasi di luar kelas

b. Guru mengajak siswa berkumpul menurut kelompoknya c. Guru memberi salam

d. Guru memberi motivasi pada siswa tentang pentingnya lingkungan sebagai sumber belajar termasuk manfaat sumber daya alam yang ada di sekitar

e. Guru memberikan panduan belajar

f. Guru menjelaskan penjelasan cara kerja kelompok

2. Kegiatan Inti

a. Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi unruk melakukan pengamatan dan diberi waktu kurang lebih 20 menit

b. Guru membimbing siswa saat melakukan pengamatan

(39)

hasilnya

d. Guru memandu diskusi

3. Kegiatan Akhir

a. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan atau kesulitan yang dialami saat proses pembelajaran b. Guru memberikan kesimpulan bersama siswa

B. Sikap Ilmiah

Sikap ilmiah dapat berpengaruh pada tingkat penguasaan konsep siswa. Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan ilmiah. Sikap akan diperoleh melalui proses seperti pengalaman, kegiatan pembelajaran, identifikasi, perilaku peran (guru-murid, orang tua-anak). Melalui pengalaman baru secara konstan dapat mempengaruhi sikap peserta didik, membuat sikap berubah, intensif, lemah, ataupun sebaliknya. Sikap dapat diartikan sebagai kemampuan internal yang berperan dalam mengambil tindakan. Dimana tindakan yang akan dipilih tersebut, tergantung pada sikapnya terhadap penilaian akan untung atau rugi, memuaskan atau tidak, baik atau buruk, dari suatu tindakan yang dilakukannya. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah perbuatan belajar (Slameto, 2010 : 188).

(40)

kemampuannya tanpa ada kesulitan, kritis terhadap suatu permasalahan yang perlu dibuktikan kebenarannya, hingga mengevaluasi kinerjanya sendiri. Hal-hal inilah yang dapat membantu siswa belajar secara ilmiah. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2013 : 29) menyimpulkan bahwa semakin tinggi sikap ilmiah siswa terhadap pelajaran fisika, maka hasil belajar siswa akan semakin tinggi juga. Siswa yang memiliki sikap ilmiah yang positif terhadap fisika, akan cenderung lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan siswa tersebut cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta sikap kritis terhadap permasalahan fisika yang diberikan oleh guru. Untuk itu, diperlukan model pembelajaran yang dapat mendorong sikap ilmiah siswa ke arah positif sehingga siswa mampu untuk memahami dan menguasai konsep-konsep yang dipelajarinya.

Sikap ilmiah diperlukan oleh seseorang (siswa) karena mendasari setiap gerak langkah dari seorang siswa yang membawa pada prestasi belajarnya. Sikap ilmiah pada siswa membantu dalam proses belajar untuk meningkatkan prestasi dan hasil belajar yang diharapkan. Di dalam jurnal yang ditulis oleh Karim (2005 : 67), sikap ilmiah yang cenderung dikembangkan di berbagai sekolah adalah:

1. Curiosity (sikap ingin tahu)

Ditandai dengan tingginya minat siswa. Disini anak juga sering mencoba pengalaman-pengalaman baru. Curiosity sering diawali dengan

(41)

2. Flexibility (sikap luwes)

Sikap anak dalam memahami konsep baru, pengalaman baru, sesuai dengan kemampuannya tanpa ada kesulitan. Dan biasanya pemahaman ini berlangsung secara bertahap.

3. Critical reflection (sikap kritis)

Kebiasaan anak untuk merenung dan mengkaji kembali kegiatan yang sudah dilakukan.

4. Honest (sikap jujur)

Kejujuran siswa kepada diri sendiri dan orang lain dalam menyelesaikan atau mencoba pengalaman yang baru.

Sikap ilmiah merupakan suatu kecenderungan, kesiapan atau kesediaan relatif seseorang (siswa) untuk memberikan respon, tanggapan atau bertingkah laku secara ilmiah. Sikap ilmiah yang muncul dari individu disebabkan adanya rangsangan berupa suatu objek. Rangsangan itu menimbulkan respon yang konsisten baik positif ataupun negatif, baik setuju atau tidak, baik langsung ataupun tidak, bagi individu yang bersangkutan sehinggga apabila seseorang atau mahasiswa merasa tertarik memperoleh kesempatan dan memiliki sikap menyukai suatu pelajaran maka akan belajar dengan baik.

Menurut Gusriana (2014) pada sikap ilmiah terdapat gambaran bagaimana siswa seharusnya bersikap dalam proses belajar, menanggapi permasalahan, melaksanakan tugas, hingga mengembangkan diri. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi tingkat penguasaan konsep dalam sebuah kegiatan belajar siswa ke arah yang positif. Selain itu, siswa kurang memiliki rasa

(42)

siswa pasif dalam belajar fisika, sehingga kurang bisa mendorong sikap ilmiah siswa ke arah positif. Agar pembelajaran fisika menjadi pelajaran yang disukai dan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat

mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan, maka seorang pendidik perlu menumbuhkan sikap ilmiah pada diri siswa. Sikap ilmiah dapat berpengaruh pada tingkat penguasaan konsep siswa. Tingkat sikap ilmiah siswa dapat dilihat dari bagaimana mereka memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi, memahami konsep baru dengan

kemampuannya tanpa ada kesulitan, kritis terhadap suatu permasalahan yang perlu dibuktikan kebenarannya, hingga mengevaluasi kinerjanya sendiri. Hal-hal inilah yang dapat membantu siswa belajar secara ilmiah (Gusriana, 2014 : 2-3).

C. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan dalam pembelajaran. Menurut pemikiran Gagne (dalam Suprijono, 2012: 5-6) hasil belajar berupa: 1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam

bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak

memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.

(43)

3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Hasil belajar diukur selama proses belajar berlangsung dan pada akhir pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui pencapaian dari kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Hasil belajar tampak sebagai terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang sopan menjadi sopan dan sebagainya (Hamalik, 2010: 155).

Menurut Bloom (dalam Suprijono, 2012: 6-7) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman,

menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan,

(44)

valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial dan intelektual.

Anderson (dalam Prawiradilaga, 2007: 94-95), menyatakan bahwa hasil belajar dalam kecakapan kognitif terdiri dari 6 proses berpikir, yaitu: 1. mengingat; 2. mengerti; 3. menerapkan; 4. menganalisis; 5. menilai; dan 6. berkreasi.

[image:44.595.135.491.320.657.2]

Penjelasan dari 6 proses berpikir dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1. Ringkasan jenjang belajar

Berpikir Uraian Rincian

Mengingat Memunculkan pengetahuan dari jangka panjang.

Mengenali Memahami

Mengerti

Membentuk arti dari pesan pembelajaran (isi): lisan, tulisan, grafis, atau gambar.

Memahami Membuat contoh Mengelompokkan Meringkas Meramalkan Membandingkan Menjelaskan Menerapkan Melaksanakan atau

menggunakan prosedur dalam situasi tertentu.

Melaksanakan

Mengembangkan

Menganalisis

Menjabarkan komponen atau struktur dengan membedakan dari bentuk dan fungsi, tujuan dan seterusnya. Membedakan Menyusun kembali Menandai Menilai Menyusun pertimbangan berdasarkan kriteria dan persyaratan khusus.

Mengecek

Mengkritik

Berkreasi

Menyusun sesuatu hal baru; memodifikasi suatu model lama, menjadi sesuatu yang berbeda, dan seterusnya.

Menghasilkan Merencanakan

Membentuk

Sumber : dimodifikasi dari Prawiradilaga (2007: 95)

(45)

Faktor dari dalam yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang berasal dari siswa yang sedang belajar. Faktor-faktor ini meliputi:

1. Fisiologi, meliputi kondisi jasmaniah secara umum dan kondisi panca indra. Anak yang segar jasmaninya akan lebih mudah proses belajarnya. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi, kondisi panca indra yang baik akan memudahkan anak dalam proses belajar.

2. Kondisi psikologis, yaitu beberapa faktor psikologis utama yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.

a. Faktor kecerdasan yang dibawa individu mempengaruhi belajar siswa. Semakin individu itu mempunyai tingkat kecerdasan tinggi, maka belajar yang dilakukannya akan semakin mudah dan cepat. Sebaliknya, semakin individu itu memiliki tingkat kecerdasan rendah, maka belajarnya akan lambat dan mengalami kesulitan belajar.

b. Bakat individu satu dengan lainnya tidak sama, sehingga

menimbulkan belajarnya pun berbeda. Bakat merupakan kemempuan awal anak yang dibawa sejak lahir.

c. Minat individu merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu. Minat belajar siswa yang tinggi menyebabkan belajar siswa lebih mudah dan cepat.

(46)

e. Emosi merupakan kondisi psikologi (ilmu jiwa) individu untuk melakukan kegiatan, dalam hal ini adalah untuk belajar. Kondisi psikologis siswa yang mempengaruhi belajar antara lain perasaan senang, kemarahan, kejengkelan, kecemasan dan lain-lain.

f. Kemampuan kognitif siswa yang mempengaruhi belajar mulai dari aspek pengamatan, perhatian, ingatan, dan daya pikir siswa.

Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini meliputi: 1. Lingkungan alami

Lingkungan alami yaitu faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar misalnya keadaan udara, cuaca, waktu, tempat atau gedungnya, alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti alat-alat pelajaran.

2. Lingkungan sosial

(47)

Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Faktor instrumen ini antara lain

(48)

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada peserta didik kelas VII semester genap bulan April tahun pelajaran 2018/2019 di SMP Negeri 2 Kalianda dengan materi pokok interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas VII A–VII G di SMP Negeri 2 Kalianda semester genap tahun ajaran 2018/2019, dengan materi pokok interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Untuk

kepentingan penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan sampling purposive menurut Sugiyono (2013 : 124) dengan mengambil dua kelas dari tujuh kelas yang ada dan diperoleh kelas VII A sebagai kelas eksperimen dengan jumlah 30 peserta didik dan kelas VII C sebagai kelas kontrol dengan jumlah 30 peserta didik.

C. Desain Penelitian

(49)

Control Grup Design. Dalam rangcangan ini menggunakan 2 kelompok, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol adalah kelompok

pengendali yaitu kelas yang diterapkan metode diskusi kelompok sedangkan kelas eksperimen adalah kelas yang diterapkan metode pembelajaran outdoor. Hasil pretest dan postest pada kedua kelas kemudian dibandingkan. Struktur desain dari penelitian ini sebagai berikut:

[image:49.595.136.407.257.317.2]

Ket : I = kelas eksperimen, II = kelas kontrol; O1= Pretest; O2= Postest; X = Perlakuan metode pembelajaran outdoor learning, C = perlakuan metode diskusi kelompok (dimodifikasi dari Sukardi, 2007: 186) Gambar 2. Desain penelitian pretest postest non equivalent

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut, sebagai berikut: 1. Prapenelitian

Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah:

a. Membuat surat izin penelitian pendahuluan ke sekolah tempat diadakannya penelitian.

b. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang kondisi kelas yang diteliti dan pencapaian materi oleh peserta didik pada tahun lalu yang

berhubungan dengan penelitian, dan mendiskusikan tentang masalah-masalah yang sedang dialami oleh guru saat ini.

I O1 X O2

(50)

c. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol.

d. Membuat perangkat pembelajaran berupa Silabus kelas eksperimen dan kelas kontrol, Rencana Perangkat Pembelajaran (RPP) kelas eksperimen dan kelas kontrol, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk pertemuan pertama dan kedua, instrumen penilaian berupa soal tes yang terdiri dari pretest dan postest serta soal non tes yang terdiri dari lembar observasi sikap ilmiah; angket penilaian diri sikap ilmiah; dan angket tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran outdoor learning, serta membuat kisi-kisi dan kunci jawaban dari instrumen penilaian.

e. Mengujicobakan soal tes berupa pretest dan postest untuk

mengetahui apakah soal layak digunakan sebagai alat pengambilan data. Uji coba soal tes telah dilakukan pada kelas VIII D di SMP Negeri 2 Kalianda.

f. Menganalisis hasil uji coba pada instrumen tes yang berupa soal pretest dan postest dengan uji validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal.

2. Pelaksanaan Penelitian

(51)

lingkungan. Adapun langkah-langkah pembelajaran yaitu sebagai berikut:

Kelas eksperimen

a. Kegiatan pendahuluan

1) Memberikan peserta didik soal pretes pada pertemuan I, soal pretes dalam bentuk pilihan ganda dengan materi pokok interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

2) Memberikan apersepsi pada peserta didik.

a) Pertemuan I : pendidik menyatakan “coba kalian lihat makhluk hidup atau benda apa saja yang ada di lingkungan sekolah ini. Apakah mereka melakukan interaksi antar makhluk hidup dengan lingkungannya?”

b) Pertemuan II : pendidik menyatakan “coba amati lingkungan sekitar kalian, apakah antar makhluk hidup memiliki saling ketergantungan antarasatu dengan yang lainnya?”

3) Memberikan motivasi pada peserta didik. b. Kegiatan inti

1) Membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok dan membagikan LKPD untuk peserta didik.

2) Mengajak peserta didik keluar kelas untuk mengamati lingkungan di luar kelas dan mengerjakan LKPD yang telah dibagikan

bersama kelompoknya.

(52)

4) Meminta peserta didik mengumpulkan LKPD yang telah dikerjakan.

5) Meminta peserta didik untuk mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompoknya dan kelompok lain dipersilahkan memberikan tanggapan.

c. Penutup

1) Membimbing peserta didik untuk menyimpulkan pembelajaran hari ini dan merefleksikan pembelajaran hari ini.

2) Memberikan peserta didik soal postes pada pertemuan II, soal postes dalam bentuk pilihan ganda dengan materi pokok interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

Kelas kontrol

a. Kegiatan pendahuluan

1) Memberikan peserta didik soal pretes pada pertemuan I, soal pretes dalam bentuk pilihan ganda dengan materi pokok interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

2) Memberikan apersepsi pada peserta didik.

a) Pertemuan I : pendidik menyatakan “coba kalian lihat makhluk hidup atau benda apa saja yang ada di lingkungan sekolah ini. Apakah mereka melakukan interaksi antar makhluk hidup dengan lingkungannya?”

(53)

3) Memberikan motivasi pada peserta didik. b. Kegiatan inti

1) Membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok dan membagikan LKPD untuk peserta didik.

2) Meminta peserta didik untuk mengerjakan LKPD dan mengamati gambar yang telah dibagikan bersama kelompoknya.

3) Membimbing peserta didik dalam mengerjakan LKPD di dalam kelas.

4) Meminta peserta didik mengumpulkan LKPD yang telah dikerjakan.

5) Meminta peserta didik untuk mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompoknya dan kelompok lain dipersilahkan memberikan tanggapan.

c. Penutup

1) Membimbing peserta didik untuk menyimpulkan pembelajaran hari ini dan merefleksikan pembelajaran hari ini.

2) Memberikan peserta didik soal postes pada pertemuan II, soal postes dalam bentuk pilihan ganda dengan materi pokok interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.

E. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian 1. Jenis Data

(54)

yang diperoleh dari hasil lembar observasi sikap ilmiah, angket penilaian diri sikap ilmiah, dan angket tanggapan peserta didik terhadap

pembelajaran outdoor learning. Sedangkan data pada hasil belajar peserta didik dengan materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya yang diperoleh dari hasil pretest dan postest.

2. Teknik Pengumpulan Data a. Lembar Observasi

Salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Menurut Sugiyono (2017: 203) “teknik

pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, peneliti berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar”.Hasil penilaian sikap berupa lembar observasi sikap ilmiah peserta didik yang diambil pada pertemuan pertama dan kedua saat pembelajaran berlangsung. Sedangkan angket penilaian diri sikap ilmiah dan angket tanggapan peserta didik terhadap outdoor learning diambil pada pertemuan kedua setelah pembelajaran selesai. Kemudian aspek yang diamati dari lembar observasi sikap ilmiah adalah aspek rasa ingin tahu, jujur, percaya diri, disiplin, dan toleransi. Angket penilaian diri sikap ilmiah berupa pertanyaan kuesioner dengan jumlah soal sebanyak 20 butir dan memberi tanda ceklis pada tabel. Angket tanggapan peserta didik terhadap

pembelajaran outdoor learning berupa pertanyaan kuesioner skala likert dengan jumlah soal sebanyak 15 butir dengan bentuk penilaian

(55)

b. Pretest dan Postest

Menurut Arikunto (2013 : 193) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Hasil belajar berupa pretest diambil pada pertemuan pertama dan postest diambil pada pertemuan kedua. Bentuk soal yang diberikan baik pretest dan postest adalah pilihan ganda dengan jumlah soal sebanyak 25 butir dan skor maksimal 100. Teknik tes yang digunakan bertujuan untuk mencari data mengenai hasil belajar yang diberikan peneliti kepada peserta didik untuk kemudian diteliti guna melihat adanya pengaruh dari perlakuan metode outdoor learning.

c. Teknik Dokumentasi

Teknik lain yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi ini digunakan untuk mendapatkan data yang diperlukan peneliti seperti catatan dan arsip sekolah. Peneliti menggunakan teknik ini untuk mendapatkan data jumlah SMP Negeri 2 Kalianda semester genap tahun ajaran 2018/2019 dalam menentukan jumlah populasi dan sampel penelitian.

F. Uji Instrumen

1. Instrumen Lembar Observasi

(56)

Lembar observasi sikap ilmiah peserta didik digunakan untuk

[image:56.595.170.513.205.750.2]

mengetahui bagaimana sikap ilmiah peserta didik terhadap penerapan metode pembelajaran yang diterapkan. Indikator dan rubrik lembar observasi sikap ilmiah sebagai berikut:

Tabel 2. Indikator dan Rubrik Lembar Observasi Sikap Ilmiah No Sikap

Ilmiah Indikator Kriteria Skor

1. Rasa Ingin Tahu

1. Memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru 2. Aktif bertanya

3. Memperhatikan dengan seksama objek yang diamati 4. Antusias mencari jawaban dan

membaca banyak sumber

4 indikator terpenuhi 4 3 indikator terpenuhi 3 2 indikator terpenuhi 2 1 indikator terpenuhi 1

2. Jujur 1. Melaporkan data atau informasi sesuai objek pengamatannya

2. Tidak melakukan plagiat dalam mengerjakan tugas

3. Berkata benar

4. Tidak mencontek dalam mengerjakan tugas/ ulangan/ujian 4 indikator terpenuhi 4 3 indikator terpenuhi 3 2 indikator terpenuhi 2 1 indikator terpenuhi 1 3. Percaya Diri

1. Berani berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu

2. Berani presentasi di depan kelas

3. Berani bertanya

4. Berani menjawab pertanyaan

4 indikator terpenuhi 4 3 indikator terpenuhi 3 2 indikator terpenuhi 2 1 indikator terpenuhi 1

4. Disiplin 1. Datang tepat waktu 2. Melakukan kegiatan sesuai

dengan waktu yang ditentukan 3. Mengumpulkan tugas dengan

tepat waktu

4. Mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan benar ketika membuat laporan kegiatan 4 indikator terpenuhi 4 3 indikator terpenuhi 3 2 indikator terpenuhi 2 1 indikator terpenuhi 1

5. Toleransi 1. Tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat

2. Tidak memaksakan pendapat pada orang lain

4 indikator terpenuhi 4 3 indikator terpenuhi 3

(57)

3. Mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun tanpa membeda- bedakan

4. Bersedia terbuka dan menerima masukan atau gagasan dari oranglain

terpenuhi 1 indikator terpenuhi

1

Sumber : dimodifikasi dari Wahyuningsih (2015 : 85) b. Angket penilaian diri sikap ilmiah

Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup sehingga mempermudah responden untuk mengisinya. Angket tersebut

[image:57.595.165.515.82.175.2]

diberikan kepada peserta didik di kelas eksperimen dan kontrol pada pertemuan kedua. Jumlah angket penilaian diri sikap ilmiah terdiri atas 20 soal berdasarkan 5 aspek sikap ilmiah.Angket penilaian diri sikap ilmiah menggunakan skala likert dengan penilaian SL (Selalu), SR (Sering), KD (Kadang-kadang) dan TP (Tidak Pernah). Angket penilaian diri sikap ilmiah sebagai berikut:

Tabel 3. Angket Penilaian Diri Sikap Ilmiah

No Pernyataan SL SR KD TP

1. Saya memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru

2. Saya aktif bertanya

3. Saya memperhatikan dengan seksama objek yang diamati

4. Saya antusias mencari jawaban dan membaca banyak sumber

5. Saya melaporkan data atau informasi sesuai objek pengamatannya

6. Saya menyebutkan sumber apabila mengutip atau menyalin dalam mengerjakan tugas

7. Saya berkata benar (tidak berbohong) ketika memberi penjelasan

8. Saya tidak mencontek dalam mengerjakan tugas/ ulangan

9. Saya berani berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu

10. Saya berani presentasi di depan kelas 11. Saya berani bertanya

12. Saya berani menjawab pertanyaan 13. Saya datang tepat waktu

(58)

waktu yang ditentukan

15. Saya mengumpulkan tugas dengan tepat waktu

16. Saya menulis laporan dengan benar dan rapi

17. Saya tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat

18. Saya tidak memaksakan pendapat pada orang lain

19. Saya mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun tanpa membeda-bedakan

20. Saya bersedia terbuka dan menerima masukan atau gagasan dari orang lain

JUMLAH

Sumber : dimodifikasi dari Wahyuningsih (2015 : 87) c. Angket tanggapan peserta didik terhadap outdoor learning

[image:58.595.168.514.82.300.2]

Kisi-kisi angket tanggapan peserta didik terhadap metode outdoor learning sebagai berikut:

Tabel 4. Kisi-Kisi Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pembelajaran Outdoor Learning

No Aspek Indikator No

Soal 1. Pembelajaran dan

pemahaman materi

a. Selama pembelajaran siswa merasa senang dengan pembelajaran outdoor learning

1

b. Siswa memahami dengan menganalisis materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya serta dinamika populasi akibat interaksi tersebut

menggunakan

pembelajaran outdoor learning

2

c. Siswa menerapkan sikap dan metode ilmiah dalam setiap kegiatan

pembelajaran

3, 4, 5, 6, 7 d. Siswa termotivasi untuk

belajar IPA

8 2. Media/LKPD (Lembar

Kerja Peserta Didik)

a. Membantu siswa dalam belajar dan memahami

(59)

materi interaksi makhluk hidup dengan

lingkungannya

b. LKPD disusun menarik dan mudah

dipahamiisinya.

11

3. Evaluasi a. Siswa mampu

mengerjakan soal LKPD dengan diskusi kelompok

12

Sumber : dimodifikasi dari Wahyuningsih (2015 : 88)

[image:59.595.176.509.84.223.2]

Jenis angket yang akan digunakan adalah angket tertutup sehingga mempermudah responden untuk mengisinya. Angket tersebut diberikan kepada peserta didik di kelas eksperimen pada pertemuan kedua. Terdapat 12 butir item pada angket tanggapan peserta didik. Masing-masing butir memiliki skor 1 (dengan jawaban“Ya”) dan skor 0 (dengan jawaban“Tidak”). Instrumen angket tanggapan peserta didik terhadap metode outdoor learning sebagai berikut: Tabel 5. Instrumen Angket Tanggapan Peserta Didik Terhadap

Pembelajaran Outdoor Learning

No Pernyataan Ya Tidak

1. Saya merasa senang mengikuti pembelajaran IPA dengan outdoor learning

2. Saya dapat memahami materi interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya dengan outdoor learning dan melakukan pengamatan secara langsung

3. Saya melakukan kegiatan pembelajaran outdoor learning dengan metode dan sikap ilmiah

4. Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran outdoor learning, saya merasa bahwa jujur itu penting dalam belajar IPA

5. Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran outdoor learning ini, saya merasa rasa ingin tahu saya terhadap IPA meningkat

(60)

7. Saya termotivasi untuk menerapkan sikap ilmiah (rasa ingin tahu, jujur dan percaya diri) dalam setiap pembelajaran IPA dan

kehidupan sehari-hari

8. Saya termotivasi untuk melakukan pembelajaran IPA

9. Media yang digunakan (LKPD) membantu saya memahami dan menemukan konsep-konsep dari interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya

10. Media yang digunakan (LKPD) sesuai dengan materi interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya

11. Media yang digunakan (LKPD) disusun menarik dan mudah dipahami isinya

12. Saya mampu mengerjakan soal LKPD dengan diskusi kelompok

Jumlah Skor

Sumber : dimodifikasi dari Wahyuningsih (2015 : 89)

2. Intrumen Tes

Menurut Sudaryono dkk, (2013 : 40) tes adalah serangkai pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Sebelum tes diberikan maka dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda yang diperoleh dari hasil ujicoba peserta didik pada kelas VIII.

a. Uji Validitas

(61)

=

∑ −

(

)(

)

( ∑ 2 − ∑ )2( ∑ 2 − (∑ )2)

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y N = Jumlah responden

∑XY = Total perkalian skor X dan Y ∑Y = Jumlah skor X

∑X = Jumlah skor Y X2 = Total kuadrat skor X ∑Y2 = Total kuadrat skor Y X = Skor hasil belajar per item

Y = Skor total

(Arikunto, 2008 : 72)

[image:61.595.171.422.88.304.2]

Kriteria pengujian rhitung> rtabel dengan = 0,05, maka alat ukur tersebut dinyatakan valid. Adapun klasifikasi validitas dapat diihat sebagai berikut :

Tabel 6. Klasifikasi Validitas

Kriteria Validitas Keterangan 0.00≤rxy <0.20 Sangat rendah (SR) 0.20≤rxy <0.40 Rendah (RD) 0.40≤rxy <0.60 Sedang (SD) 0.60≤rxy <0.80 Tinggi (T) 0.80≤rxy≤1.00 Sangat Tinggi (ST) (Arikunto, 2008 : 75)

Berdasarkan uji instrumen uji validitas soal tes dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2010 diperoleh sebagai berikut: Tabel 7. Rekapitulasi Uji Validitas Soal Tes

Nomor

Item rhitung rtabel Kondisi Keputusan Kategori

[image:61.595.171.451.404.517.2]
(62)

Nomor

Item rhitung rtabel Kondisi Keputusan Kategori

10 0,841 0,374 rhitung >rtabel Valid Sangat Tinggi 11 0,873 0,374 rhitung >rtabel Valid Sangat Tinggi 12 0,522 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 13 0,703 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 14 0,487 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 15 0,711 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 16 0,841 0,374 rhitung >rtabel Valid Sangat Tinggi 17 0,873 0,374 rhitung >rtabel Valid Sangat Tinggi 18 0,711 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 19 0,441 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 20 0,631 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 21 0,522 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 22 0,425 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 23 0,745 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 24 0,636 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 25 0,522 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 26 0,522 0,374 rhitung >rtabel Valid Sedang 27 0,784 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 28 0,636 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi 29 0,318 0,374 rhitung <rtabel Tidak Valid Rendah 30 0,636 0,374 rhitung >rtabel Valid Tinggi Berdasarkan 30 item uji coba soal diperoleh 29 soal dengan keputusan valid dan 1 soal dalam keputusan tidak valid dengan kategori sangat tinggi sebanyak 7 soal, tinggi sebanyak 13 soal, sedang sebanyak 8 soal dan rendah sebanyak 2 soal.

b. Uji Reliabilitas

(63)

tes pada soal pilihan ganda menggunakan rumus sebagai berikut:

= − 1 − ∑

Dimana :

=∑ ; dengan ∑ = ∑ −(∑ ) ; dan = 1 −

Keterangan:

= Koefisien reliabilitas tes = Jumlah butir item = Varians total

= Proporsi tes yang menjawab benar = Proporsi tes yang menjawab salah = Banyak subjek

[image:63.595.164.457.142.363.2]

Proses pengolahan data reliabilitas diklasifikasikan sebagai berikut: Tabel 8. Kriteria Reliabilitas Soal

No. Nilai Reliabilitas Kategori 1 0,00 ≤ < 0,20 Sangat Rendah 2 0,20 ≤ < 0,40 Rendah 3 0,40 ≤ < 0,60 Sedang 4 0,60 ≤ < 0,80 Tinggi 5 0,80 ≤ < 1,00 Sangat Tinggi Sumber : Arikunto (2008 : 109)

[image:63.595.165.424.402.514.2]

Berdasarkan uji instrumen uji reliabilias soal tes dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2010 diperoleh sebagai berikut: Tabel 9. Rekapitulasi Uji Reliabilitas Tes

Nomor Item Varian Item Nomor Item Varian Item Nomor Item Varian Item

1 0,222 11 0,222 21 0,032

2 0,222 12 0,222 22 0,000

3 0,222 13 0,222 23 0,032

4 0,222 14 0,222 24 0,032

5 0,747 15 0,246 25 0,160

6 0,246 16 0,232 26 0,160

7 0,222 17 0,697 27 0,222

8 0,222 18 0,196 28 0,179

(64)

10 0,240 20 0,222 30 0,246

Jumlah Varian Item 6,264

Varian Total 76,493

Reliabilitas( ) 0,950

Kategori Tinggi

c. Daya Pembeda Soal

Menurut Arikunto (2008 : 201) menyatakan bahwa daya pembeda soal adalah “kemampuan soal untuk membedakan antara peserta didik

yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang berkemampuan rendah”. Daya beda soalini diperlukan untuk membedakan

kemampuan masing-masing responden. Adapun rumus perhitungan daya pembeda adalah sebagai berikut :

= 2 ( )

Keterangan

D = Daya pembeda

[image:64.595.160.507.86.158.2]

BA = Jumlah jawaban benar pada kelompok atas BB = Jumlah jawaban benar pada kelompok bawah N = Jumlah peserta didik yang mengerjakan tes Kriteria daya pembeda soal ditentukan sebagai berikut : Tabel 10. Klasifikasi Daya Pembeda

No. Indeks daya beda Klasifikasi 1 0,00 ≤ < 0,20 Jelek

2 0,20 ≤ < 0,40 Cukup

3 0,40 ≤ < 0,70 Baik

4 0,70 ≤ ≤ 1,00 Baik Sekali

5 Negatif Tidak Baik

Sumber : Arikunto (2008 : 203)

(65)

Tabel 11. Rekapitulasi Uji Daya Pembeda Nomor

Item Kriteria

1 14 15 0,93 6 15 0,40 0.53 Baik

2 15 15 1,00 5 15 0,33 0.67 Baik

3 15 15 1,00 9 15 0,33 0.20 Cukup

4 15 15 0,93 9 15 0,40 0.40 Baik

5 15 15 0,80 8 15 0,27 0,12 Jelek

6 15 15 0,93 8 15 0,40 0,47 Baik

7 15 15 0,80 9 15 0,27 0,40 Baik

8 15 15 1,00 5 15 0,33 0,06 Jelek

9 15 15 0,93 9 15 0,40 0,40 Baik

10 15 15 1,00 8 15 0,33 0,47 Baik

11 15 15 0,93 8 15 0,40 0,47 Baik

12 15 15 1,00 9 15 0,33 0,04 Jelek

13 14 15 1,00 6 15 0,33 0,53 Baik

14 12 15 0,93 6 15 0,40 0,40 Baik

15 14 15 0,87 6 15 0,27 0,53 Baik

16 15 15 0,87 5 15 0,40 0,67 Baik

17 15 15 0,93 5 15 0,33 0,67 Baik

18 14 15 1,00 6 15 0,47 0,53 Baik

19 11 15 0,93 6 15 0,40 0,33 Baik

20 13 15 0,80 6 15 0,33 0,47 Baik

21 15 15 0,93 5 15 0,40 0,22 Cukup

22 12 15 1,00 7 15 0,33 0.33 Cukup

23 15 15 1,00 7 15 0,33 0.53 Baik

24 14 15 0,93 6 15 0,40 0,11 Jelek

25 10 15 1,00 6 15 0,33 0,04 Jelek

26 14 15 0,93 6 15 0,40 0,07 Jelek

27 15 15 1,00 5 15 0,33 0,67 Baik

28 15 15 0,93 5 15 0,27 0,07 Jelek

29 15 15 0,93 5 15 0,40 0,07 Jelek

30 15 15 0,87 5 15 0,40 0,67 Baik

d. Uji Tingkat Kesukaran

(66)

tingkat kesukaran dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

=

Keterangan :

IK = Indeks kesukaran

X = Nilai rata-rata tiap butir soal SMI = Skor maksimum ideal

[image:66.595.165.442.276.363.2]

Adapun kriteria indeks kesukaran soal dapat ditentukan sebagai berikut: Tabel 12. Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal

No. Indeks Keterangan

1 0,00≤ <0,30 Sukar

2 0,30≤ <0,70 Sedang

3 0,70≤ ≤1,00 Mudah

Sumber : Arikunto (2008 : 210)

[image:66.595.166.504.430.759.2]

Berdasarkan uji instrumen daya pembeda soal tes dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2010 diperoleh sebagai berikut: Tabel 13. Rekapitulasi Uji Tingkat Kesukaran Soal

Nomor Item Benar Salah P Tingkat Keputusan

1 20 10 0,67 Sedang

2 20 10 0,67 Sedang

3 24 6 0,80 Mudah

4 20 10 0,67 Sedang

5 23 7 0,77 Mudah

6 20 10 0,67 Sedang

7 16 14 0,53 Sedang

8 24 6 0,80 Mudah

9 20 10 0,67 Sedang

10 20 10 0,67 Sedang

11 20 10 0,67 Sedang

12 24 6 0,80 Mudah

13 20 10 0,67 Sedang

14 18 12 0,60 Sedang

15 20 10 0,67 Sedang

16 20 10 0,67 Sedang

17 20 10 0,67 Sedang

18 20 10 0,67 Sedang

19 17 13 0,57 Sedang

20 19 11 0,63 Sedang

(67)

Nomor Item Benar Salah P Tingkat Keputusan

22 19 11 0,63 Sedang

23 22 8 0,73 Mudah

24 23 7 0,77 Mudah

25 24 6 0,80 Mudah

26 24 6 0,67 Sedang

27 20 10 0,67 Sedang

28 23 7 0,77 Mudah

29 23 7 0,77 Mudah

30 17 13 0,57 Sedang

Berdasarkan 30 soal tersebut terdapat 10 soal pada kategori mudah dan 20 soal pada kategori sedang.

G. Teknik Analisis Data

1. Teknik Analisis Data Instrumen Angket Sikap Ilmiah

Memudahkan dalam mengetahui sikap ilmiah, maka proses terakhir adalah membuat presentase pencapaian sikap ilmiah peserta didik yang diperoleh dari hasil lembar observasi sikap ilmiah peserta didik, angket penilaian diri sikap ilmiah peserta didik, dan angket tanggapan outdoor learning peserta didik yang selanjutnya dideskripsikan. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 282) bahwa: “proses pengolahan data deskriptif dapat dilakukan

dengan sederhana dan dinalar secara gamblang, apapun jenis riset deskriptif cara analisis data yaitu dengan mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang diperoleh dari hasil

pengumpulan data, yang berbeda adalah cara mengintreprestasikan data dan mengambil kesimpulan”.

(68)

peserta didik. Setelah data selesai di koreksi selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan perhitungan sebagai berikut :

= ∑Xi × 100%

Keterangan:

P = Persentase skor yang diperoleh ∑Xi = Jumlah skor yang diperoleh n = Jumlah skor maksimum (Sudjana, 2002 : 69)

[image:68.595.151.484.378.468.2]

Setelah diperoleh skor pada tiap indikator sikap ilmiah peserta didik berdasarkan lembar observasi dan angket penilaian diri sikap ilmiah peserta didik, maka untuk memudahkan dalam mengetahui kriteria sikap ilmiah peserta didik dilihat dengan tabel berikut:

Tabel 14. Kriteria Sikap Ilmiah

Nilai Kriteria

86−100 Sangat Baik

71−85 Baik

56−70 Cukup

≤ 55 Kurang

(Kemendikbud, 2015 : 43)

Kemudian untuk menganalisis skor yang diperoleh dari angket tanggapan outdoor learning peserta didik dan guru dengan menggunakan rumus:

= ∑Xi × 100%

Keterangan:

P = Persentase skor yang diperoleh ∑Xi = Jumlah skor yang diperoleh n = Jumlah skor maksimum (Sudjana, 2002 : 69)

Figure

Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir
Tabel 1. Ringkasan jenjang belajarBerpikirUraian
Gambar 2. Desain penelitian pretest postest non equivalent
Tabel 2. Indikator dan Rubrik Lembar Observasi Sikap IlmiahSikap
+7

References

Related documents

( Received 10 July 2015; accepted 14 July 2017; published online 24 August 2017 ) To improve existing online portfolio selection strategies in the case of non-zero transaction costs,

If you need to view data only, it is enough with the free AR User Read license Bought in bundles which are then added to your server using the included base licenses6. -

Samsung Electronics (Korea) Process Control Seoul National University Hospital (Korea) Patient Management. Hyundai Heavy Industries (Korea) Process Control Public Procurement

The amount of adhesive needed will depend on wood species, surface quality of wood, moisture content, type of adhesive, temperature and humidity of the air, assembly time,

We hereby certify that, Oliver Buhler Oliver Buhler Oliver Buhler Oliver Buhler , Courant Institute of Mathematical Sciences Courant Institute of Mathematical Sciences

I develop a model of bilateral conversations in which players honestly exchange ideas with their competitors. The key to incentive compatibility is a

and 3) to study the exercise response of pulmonary diffusing capacity in subjects with a pulmonary capillary bed of normal size, as in pregnancy, pa- tients with a large

Isolates belonging to different clusters were as follows: C1 included USA600 and MCRF4, C2 (GLMC5 and GLMC2), C5 FIG 1 (A) Whole-genome map similarity cluster of 47 S. aureus