HUBUNGAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK), UMUR IBU, DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
TRIMESTER I DI PUSKESMAS KEMILING KOTA BANDARLAMPUNG TAHUN 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG 2020
(Skripsi)
Oleh:
HUBUNGAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK), UMUR IBU, DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
TRIMESTER I DI PUSKESMAS KEMILING KOTA BANDARLAMPUNG TAHUN 2018
Oleh
JESSICA SINDY SIRAIT
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tangerang, 6 Januari 1998 sebagai anak kedua dari pasangan
Bapak Erdy Parmonangan Sirait dan Ibu Sarni Ratu. Penulis menamatkan
pendidikan dasar di SD Kristen Ora et Labora Pamulang yang diselesaikan pada
tahun 2010, SMP Kristen Ora et Labora Pamulang yang diselesaikan pada tahun
2013, dan SMA Negeri 30 Jakarta yang diselesaikan pada tahun 2016.
Pada tahun 2016, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (SBMPTN) Tertulis. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam
SANWACANA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang selalu
memberikan kasih dan berkat tanpa batas sehingga skripsi ini dapat diselesaikan
tepat waktu.
Skripsi dengan judul “Hubungan Kurang Energi Kronis (KEK), Umur Ibu, dan
Paritas terhadap Kejadian Anemia pada Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas
Kemiling Kota Bandarlampung Tahun 2018” adalah salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus atas kasih karunia yang tak berkesudahan kepada penulis
serta pernyetaan-Nya dalam setiap detik kehidupan penulis hingga saat ini.
2. Prof. Dr. Karomani, M.Si, selaku Rektor Universitas Lampung.
3. Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, S.K.M., M.Kes, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Univesitas Lampung.
4. dr. Dian Isti Angraini, S.Ked., M.P.H., selaku Pembimbing Utama atas
kesediannya untuk memberi bimbingan, bantuan, arahan, motivasi, kritik dan
5. dr. Rasmi Zakiah Oktarlina, S.Ked., M.Farm., selaku Pembimbing Kedua atas
kesediannya untuk memberi bimbingan, bantuan, arahan, motivasi, kritik dan
saran dalam penyusunan skripsi ini.
6. Dr. dr. Aila Karyus, S.Ked., M.Kes., selaku Pembahas atas waktu, ilmu,
arahan, kritik dan saran yang sudah diberikan selama ini.
7. dr. Ahmad Fauzi S. Ked., M.Kes., (Epid), Sp.OT dan dr. Winda Trijayanthi
Utama, S.Ked., M.K.K., selaku Pembimbing Akademik atas bimbingan,
motivasi, dan saran yang telah diberikan selama ini.
8. Seluruh staff dosen dan karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
atas ilmu dan kerjasama yang telah diberikan selama ini.
9. Kepala Puskesmas Rawat Inap Kemiling beserta seluruh tenaga medis dan staff
atas kerjasama dan waktunya sehingga penelitian dapat terlaksana dengan baik.
10. Papa, Mama, dan Jimmy atas kasih dan doa yang selalu diberikan kepada
penulis, tidak pernah lelah memberikan dukungan dari awal pengambilan
keputusan penulis untuk melanjutkan studi, terus memotivasi dan memberikan
bantuan yang penulis butuhkan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
11. Keluarga besar Opung Jimmy (Amandus Sirait) dan keluarga besar Christ Ratu
atas dukungan doa, motivasi, dan bantuan yang telah diberikan hingga saat ini.
12. Permako Medis atas kesempatan yang diberikan untuk menjadi bagian
didalamnya, waktu dam kebersamaan yang telah dilewati bersama serta
dukungan yang terus diberikan.
13. Batak Jaya yang terdiri dari Asri Pandiangan, Kristian Pieri Ginting, Jovanka
Ris Natalia, Marlaokta, Revina Rifda Amelia, Rika Mutiara Gemiralda, Samuel
14. Fajar Com atas bantuannya dalam pengerjaan setiap tugas kuliah dan
berkas-berkas yang dibutuhkan penulis dalam menjalankan studi di Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung.
15. PMPATD Pakis Rescue Team dan teman-teman dari SC 11 untuk
kebersamaan, pengalaman dan ilmu yang telah diberikan.
16. Teman-teman Fakultas Kedokteran Universitas Lampung angkatan 2016
“TR16EMINUS” yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan
skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.
Bandarlampung, Januari 2020 Penulis,
ABSTRACT
RELATIONSHIP BETWEEN CHRONIC ENERGY DEFICIENCY (CED), MOTHER’S AGE, AND PARITY AGAINST ANEMIA DURING FIRST
TRIMESTER OF PREGNANCY AT PUSKESMAS KEMILING KOTA BANDARLAMPUNG IN 2018
Oleh
JESSICA SINDY SIRAIT
Background: Anemia of pregnancy is recognized as global health problem with 50% of pregnant women suffered from anemia. In 2018, 48,9% pregnant woman in Indonesia is anemic. This study aims to investigate the relationship between Chronic Energy Deficiency (CED), mother’s age, and parity against anemia during first trimester of pregnancy at Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung in 2018. The aim of this research is to know the the relationship between CED, mother’s age, and parity against anemia during first trimester of pregnancy at Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung in 2018.
Method: This study was observational analytical study with cross sectional approach using secondary data from medical records of pregnant women. Sampling was conducted at Puskesmas Kemiling, city of Bandarlampung in 2018. Sampling was done using simple random sampling technique with a sample of 92 samples that met the inclusion criteria and exclusion criteria. Data analysis using Fisher’s Exact with α=0,05.
Results: The results of the univariate analysis showed that 18,5% pregnant women in the first trimester had anemia, 29,3% had CED, 21,7% had high-risk pregnancy. There is a significant relationship between CED and anemia (p=0,000). There is no significant relationship between mother’s age towards anemia (p=0,346) and parity towards anemia (p=0,892).
Conclusion: There is a significant relationship between CED and anemia in pregnant women in the first trimester at Puskesmas Kemiling in the year of 2018.
ABSTRAK
HUBUNGAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK), UMUR IBU, DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
TRIMESTER I DI PUSKESMAS KEMILING KOTA BANDARLAMPUNG TAHUN 2018
Oleh
JESSICA SINDY SIRAIT
Latar belakang: Anemia diakui sebagai masalah kesehatan global dengan hampir 50% wanita hamil mengalaminya. Ibu hamil di Indonesia mengalami anemia sebesar 48,9% pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara Kurang Energi Kronis (KEK), umur ibu, dan paritas terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung tahun 2018. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan KEK, umur ibu, dan paritas terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung tahun 2018.
Metode: Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan data sekunder yang diambil dari data rekam medis ibu hamil di Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung periode Januari–Desember 2018. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, jumlah sampel sebesar 92 sampel. Analisis data menggunakan uji alternatif Fisher’s Exact dengan α=0,05.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan ibu hamil trimester I 18,5% mengalami anemia, 29,3% mengalami KEK, 21,7% mengalami hamil risiko tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara KEK dengan anemia pada ibu hamil trimester I (p=0,000). Namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur ibu dan anemia (p=0,346) serta paritas dan anemia (p=0,892).
Simpulan: Terdapat hubungan antara KEK dan kejadian anemia pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Kemiling tahun 2018.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan Umum ... 7
1.3.2 Tujuan Khusus... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kehamilan ... 10
2.1.1 Definisi Kehamilan ... 10
2.1.2 Tanda dan Gejala Kehamilan ... 11
2.1.3 Perubahan Anatomi dan Fisiologi Ibu Hamil ... 12
2.1.4 Kebutuhan Gizi pada Ibu Hamil... 20
2.2 Anemia Defisiensi Besi ... 26
2.2.1 Definisi Anemia Defisiensi Besi ... 26
2.2.2 Faktor Risiko Anemia Defisiensi Besi ... 26
2.3 Kekurangan Energi Kronis (KEK) ... 34
2.3.1 Definisi Kurang Energi Kronis ... 34
2.3.2 Penyebab Masalah Gizi ... 35
2.3.3 Pengukuran Lingkar Lengan Atas ... 40
2.3.4 Hubungan Kurang Energi Kronis dengan Anemia ... 40
2.4 Kerangka Teori... 42
2.5 Kerangka Konsep ... 43
2.6 Hipotesis ... 43
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 44
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 44
3.2.1 Tempat Penelitian ... 44
3.2.2 Waktu Penelitian ... 44
3.3 Populasi Penelitian ... 44
3.4 Sampel Penelitian ... 45
3.5 Kriteria Sampel ... 46
3.6 Variabel dan Definisi Operasional ... 47
3.6.1 Variabel ... 47
3.6.2 Definisi Operasional ... 47
3.7 Alat dan Metode Pengumpulan Data ... 49
3.7.1 Alat ... 49
3.7.2 Metode Pengumpulan Data ... 49
3.8 Alur Penelitian ... 50
3.9 Pengolahan dan Analisis Data ... 51
3.9.1 Pengolahan Data ... 51
3.9.2 Analisis Data ... 52
iii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian ... 53
4.1.1 Analisis Univariat ... 53
4.1.1.3 Distribusi Frekuensi Anemia ... 54
4.1.1.4 Distribusi Frekuensi Kurang Energi Kronis ... 55
4.1.1.3 Distribusi Frekuensi Umur Ibu ... 54
4.1.1.4 Distribusi Frekuensi Paritas ... 55
4.1.2 Analisis Bivariat ... 55
4.1.1.1 Hubungan Kurang Energi Kronis dengan Anemia ... 55
4.1.1.2 Hubungan Umur Ibu dengan Anemia ... 56
4.1.1.3 Hubungan Paritas dengan Anemia ... 57
4.2 Pembahasan ... 58
4.2.1 Distribusi Frekuensi Anemia pada Ibu Hamil Trimester I ... 58
4.2.2 Distribusi Frekuensi Kurang Energi Kronis pada Ibu Hamil Trimester I ... 57
4.2.3 Distribusi Frekuensi Umur Ibu pada Ibu Hamil Trimester I ... 58
4.2.4 Distribusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil Trimester I ... 60
4.2.5 Hubungan Kurang Energi Kronis terhadap Anemia ... 60
4.2.6 Hubungan Umur Ibu terhadap Anemia ... 61
4.2.7 Hubungan Paritas terhadap Anemia ... 63
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 65
5.2 Saran ... 65
DAFTAR PUSTAKA ... 67
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Angka Kecukupan Gizi Rata-Rata yang Dianjurkan ... 21
2. Konsentrasi Hemoglobin untuk Diagnosis Anemia ... 27
3. Klasifikasi Kurang Energi Kronis dengan Indeks Massa Tubuh ... 35
4. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 48
5. Distribusi Frekuensi Kejadian Anemia ... 53
6. Distribusi Frekuensi Kurang Energi Kronis... 54
7. Distribusi Frekuensi Umur Ibu ... 54
8. Distribusi Frekuensi Paritas ... 55
9. Hubungan Kurang Energi Kronis terhadap Anemia ... 56
10. Hubungan Umur Ibu terhadap Anemia ... 56
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Faktor Penyebab Gizi Kurang ... 36
2. Kerangka Teori... 41
3. Kerangka Konsep ... 42
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Pengambilan Data
Lampiran 2 Hasil Pengolahan Data
Lampiran 3 Surat Pre-Survey Penelitian
Lampiran 4 Ethical Clearance
Lampiran 5 Surat Ijin Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Lampiran 6 Surat Ijin Penelitian Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Bandarlampung
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Millenium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia disebut Tujuan Pembangunan Milenium (TPM) adalah Deklarasi Milenium hasil
kesepakatan dari 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada
September 2000 berupa delapan target yang harus dicapai pada tahun 2015.
Kesepakatan ini tercipta untuk menciptakan dunia yang lebih sejahtera, adil,
dan damai (Lisbet, 2013; Tosepu et al., 2016).
Delapan target tersebut antara lain memberantas kemiskinan dan kelaparan
ekstrem, mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan
gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak,
meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS, memastikan
kelestarian lingkungan, dan mengembangkan kemitraan global untuk
Dalam pencapaiannya, terdapat lima target yang memerlukan kerja keras
pemerintah untuk mencapainya, dan salah satu diantaranya adalah MDG 5
berupa penurunan hingga tiga perempatnya angka kematian ibu per 100.000
kelahiran hidup (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2015).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mulai tahun 1991 hingga 2007
mengalami penurunan dari 390 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Akan
tetapi, pada tahun 2012 terjadi peningkatan AKI yang signifikan yaitu menjadi
359 per 100.000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2014). Pada tahun 2015, AKI Indonesia menjadi 305 per 100.000 kelahiran
hidup, AKI terbesar kedua setelah Laos di ASEAN dan sembilan kali lebih
tinggi dari Malaysia. Dapat disimpulkan AKI di Indonesia tidak berhasil
mencapai target MDGs, yaitu AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup
(Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2015; Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2016c; ASEAN, 2017).
Terdapat lima komplikasi mayor yang menyebabkan 75% dari seluruh kematian
ibu, antara lain perdarahan (sebagian besar postpartum), infeksi (biasanya setelah melahirkan), hipertensi saat kehamilan (preeklampsia dan eklampsia),
komplikasi saat partus, serta tindakan aborsi yang tidak aman. Penyebab
langsung kematian ibu terbanyak disebabkan perdarahan postpartum, kemudian
diikuti hipertensi saat kehamilan dan infeksi (Say et al., 2014). Adapun
3
paritas, peregangan uterus yang berlebihan, oksitosin drip, anemia, dan
persalinan dengan tindakan (Satriyandari dan Hariyati, 2017).
Anemia menjadi sorotan penting berkenaan dengan hubungannya yang
signifikan terhadap penyebab langsung perdarahan postpartum, yaitu atonia uteri. Semakin parah anemia, semakin besar kemungkinan perdarahan yang
lebih berat serta terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. Anemia saat
kehamilan merupakan hal yang biasa terjadi terutama di negara berkembang
karena keterbatasan akses untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Anemia
juga menjadi masalah kesehatan global, dimana hampir 50% dari wanita hamil
mengalami anemia. Anemia menjadi faktor risiko penting terhadap morbiditas
fetal dan maternal (Frass, 2015; Waghmare et al., 2017).
Anemia adalah sebuah kondisi dimana jumlah dari sel darah merah (beserta
kemampuan mereka untuk membawa oksigen) tidak dapat memenuhi
kebutuhan fisiologis tubuh. Kebutuhan fisiologis tubuh berbeda tergantung
pada usia, jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal (altitude), merokok, dan
tingkat kehamilan. Ambang batas normal kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil
adalah 11g/dL, sedangkan derajat anemia untuk ibu hamil antara lain anemia
ringan (10-10,9g/dL), anemia sedang (7-9,9g/dL), dan anemia berat (<7g/dL)
(WHO, 2011). Diperkirakan 41,8% ibu hamil diseluruh dunia mengalami
hamil di Indonesia mengalami anemia dan meningkat menjadi 48,9% tahun
2018 (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018a).
Skrining awal anemia pada kehamilan dilakukan pada saat ibu hamil melakukan
kontrol pertama di fasilitas kesehatan pada trimester I, dimana ibu hamil
menjalani pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kadar Hb. Program
pelayanan antenatal telah mewajibkan setiap ibu hamil untuk mendapatkan
tablet tambah darah (tablet besi) minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan
sejak kontak pertama (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).
Target cakupan pemberian 90 tablet tambah darah pada ibu hamil untuk tahun
2014 adalah 95%. Namun target tersebut tidak tercapai dengan cakupan
pemberian tablet tambah darah nasional hanya 85,1% dan untuk Provinsi
Lampung 83,5% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016a).
Riskesdas 2018 mencatat terjadi peningkatan cakupan tablet tambah darah, baik
nasional 87,8% maupun Provinsi Lampung 89,8% (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2018b).
Selain dari masalah anemia, Kekurangan Energi Kronis merupakan masalah
global yang sering terjadi pada wanita usia subur, termasuk ibu hamil. Pada
tahun 2014, baik di perkotaan maupun pedesaan, lebih dari 50% ibu hamil
mendapatkan asupan energi yang kurang dari 70% AKE dan hanya 14% yang
dapat memenuhi tingkat kecukupan energinya (Kementerian Kesehatan
5
KEK pada ibu hamil dengan prevalensi 15,7% di perkotaan dan 19,3% di
pedesaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018b). Saat para ibu
kekurangan energi dan protein, biasanya mereka juga akan kekurangan nutrisi
yang lain seperti vitamin dan mineral, sehingga ibu hamil berisiko untuk
kekurangan zat gizi mikro termasuk zat besi dan asam folat (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2016a; Lubis et al., 2017).
Berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) prevalensi risiko KEK
wanita hamil usia 15–49 tahun, secara nasional pada tahun 2013 sebesar 24,2%
dan untuk Provinsi Lampung sebesar 21,3% (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2013b). Pada tahun 2018, prevalensi KEK pada wanita hamil secara
nasional sebesar 17,3% dan untuk Provinsi Lampung sebesar 13,6%. Kelompok
umur wanita hamil yang memiliki prevalensi KEK terbesar terdapat pada umur
15–19 tahun yaitu sebesar 33,5% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2018b). Menurut kabupaten/kota di Provinsi Lampung, prevalensi KEK pada
wanita usia 15–49 tahun 2013 di Kota Bandarlampung yaitu 17,3%. Untuk
prevalensi KEK pada wanita hanil usia 15–49 tahun di Kota Bandarlampung
cukup tinggi yaitu 24,5% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013c).
Faktor lain yang dapat menyebabkan kejadian anemia pada ibu hamil adalah
usia ibu dan paritas. Umur ideal seorang wanita adalah 20–35 tahun, kurang
atau lebih daripada itu menjadi faktor kehamilan berisiko tinggi (Kementerian
hamil pada umur 10–14 sebanyak 4,1% dan pada umur 15–19 tahun sebanyak
63,2%, sehingga kehamilan di usia remaja (umur 10–19 tahun) mencapai 58,8%
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018b). Kejadian anemia saat
kehamilan paling banyak terjadi pada usia 15–24 tahun yatu sebesar 84,6%. Di
tahun yang sama, kehamilan pada umur lebih dari 35 tahun juga masih terjadi,
dengan anemia kehamilan terjadi pada 33,6% wanita usia 35–44 tahun dan 24%
pada wanita usia 45–54 tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2018a).
Paritas menjadi salah satu faktor penting dalam kejadian anemia zat besi pada
ibu hamil. Saat hamil, wanita akan menggunakan cadangan zat besi dalam
tubuhnya, sehingga semakin sering hamil dan melahirkan wanita akan semakin
anemia karena lebih banyak kehilangan zat besi (Astriana, 2017). Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia mencatat terjadinya penurunan Angka
Fertilitas Total Provinsi Lampung dari tahun 2012 sebesar 2,7 menjadi 2,3 pada
tahun 2017. Angka tersebut masih belum mencapai target yaitu 2,1. Jumlah
pasangan usia subur (PUS) yang menjadi peserta KB masih lebih rendah dari
jumlah PUS yang telah tercatat, dengan 1.798.320 PUS dan pengguna KB yang
tercatat hanya 1.315.985 PUS. Kota Bandarlampung sendiri memiliki 168.324
PUS dengan pengguna KB hanya 121.940 pasangan (BPS Provinsi Lampung,
7
Puskesmas Rawat Inap Kemiling merupakan salah satu fasilitas pelayanan
tingkat pertama di Bandarlampung dengan pendataan yang lengkap terhadap
ibu hamil. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk
mengetahui apakah terdapat hubungan antara kejadian kurang energi kronis
(KEK) dengan anemia pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Kemiling Kota
Bandarlampung.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah
penelitian ini, ”Apakah terdapat hubungan antara kejadian kurang energi kronis
(KEK), umur ibu dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester
I di Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung?”
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara kejadian kurang energi kronis
(KEK), umur ibu dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran kejadian anemia pada wanita hamil
trimester I di Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung.
b. Untuk menganalisis hubungan antara kejadian kurang energi kronis
dengan anemia pada wanita hamil trimester I di Puskesmas Kemiling
Kota Bandarlampung.
c. Untuk menganalisis hubungan antara umur ibu dengan anemia pada
wanita hamil trimester I di Puskesmas Kemiling Kota
Bandarlampung.
d. Untuk menganalisis hubungan antara paritas dengan anemia pada
wanita hamil trimester I di Puskesmas Kemiling Kota
Bandarlampung.
1.4 Manfaat Penelitian a. Bagi masyarakat
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan mengenai pengaruh asupan
makan sebagai faktor risiko kejadian kurang energi kronis (KEK) serta
hubungan umur ibu terhadap kejadian anemia pada ibu hamil.
b. Bagi pelayan kesehatan
Penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi mengenai pencegahan kejadian
9
c. Bagi peneliti
Penelitian ini dapat memberi pengalaman dan menambah wawasan dalam
penerapan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan.
d. Bagi peneliti lain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kehamilan dan Ibu Hamil 2.1.1 Definisi Kehamilan
Kehamilan merupakan kondisi saat seorang wanita memiliki embrio atau
janin yang berkembang di dalam tubuhnya, setelah pertemuan antara
oosit dan spermatozoa. Gravida adalah sebutan untuk wanita hamil. Disebut gravida I atau primagravida untuk kehamilan pertama, gravida
II untuk kehamilan kedua, gravida III untuk kehamilan ketiga, dan seterusnya (Dorland, 2011).
Kehamilan normal biasanya berlangsung selama 40 minggu atau 9 bulan
menurut kalender internasional. Usia kehamilan terbagi atas 3 trimester
yaitu trimester 1 (berlangsung 12 minggu), trimester 2 selama 15 minggu
(dari minggu ke-13 hingga minggu ke-27), dan trimester 3 selama 13
minggu (dari minggu ke-28 hingga minggu ke-40) (Prawirohardjo,
11
2.1.2 Tanda dan Gejala Kehamilan
Tanda-tanda kehamilan terdiri atas tanda kehamilan pasti dan tanda
kehamilan tidak pasti. (Saminem, 2009; Prawirohardjo, 2016).
1. Tanda kehamilan pasti
Seorang wanita dikatakan hamil apabila pemeriksa dapat mendengar
bunyi denyut jantung janin, meraba bagian janin dalam rahim,
merasakan gerakan janin, dan melihat kerangka janin melalui hasil
rontgen atau USG.
2. Tanda kehamilan tidak pasti
Terdapat dua penilaian yaitu tanda subjektif dan tanda objektif.
Tanda subjektif meliputi amenore, mual dan muntah, gerakan janin
terasa oleh ibu, serta polakisuri (sering berkemih). Tanda objektif
meliputi tanda Piskacek (pembesaran dan perubahan bentuk rahim yang lebih besar di tempat nidasi), tanda Hegar (pelunakan dan kompresibilitas isthmus serviks sehingga ujung-ujung jari seakan
dapat ditemukan apabila isthmus ditekan dari arah yang berlawanan),
tanda Chadwick (pada vagina terlihat daerah livida dan keunguan karena kongesti vena), kontraksi Braxton Hicks, balotemen (minggu
ke-4 atau ke-5), dan tanda Goodell (perubahan konsistensi (yang dianalogikan dengan konsistensi bibir) serviks dibandingkan dengan
konsistensi kenyal (dianalogikan dengan ujung hidung) pada saat
2.1.3 Perubahan Anatomi dan Fisiologi Ibu Hamil
Pada saat kehamilan terjadi perubahan pada sistem organ tubuh wanita,
terutama pada alat genitalia interna, genitalia eksterna, dan payudara.
Hormon yang sangat berperan pada perubahan ini adalah hormon
estrogen dan progesteron. Berikut ini perubahan anatomi dan fisiologi
yang terjadi pada masa kehamilan.
1. Sistem Reproduksi
a. Vagina dan vulva
Peningkatan hormon estrogen menyebabkan hipervaskularisasi
sehingga vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiruan
(livide) yang biasa dikenal dengan tanda Chadwick. Dinding vagina mengalami banyak perubahan sebagai persiapan untuk
mengalami peregangan pada waktu persalinan dengan
meningkatnya ketebalan mukosa, mengendornya jaringan ikat,
dan hipertrofi sel otot polos sehingga panjang dinding vagina
bertambah (Prawirohardjo, 2016).
b. Serviks Uteri
Serviks berfungsi untuk mempertahankan kehamilan dan
mencegah infeksi. Perubahan yang terjadi pada serviks saat
kehamilan dikenal sebagai tanda Chadwick, Goodell, Hegar. Perubahan-perubahan pada uterus menyebabkan berkurangnya
13
pembesaran uterus dan menyebabkan uterus terjatuh ke depan
(hiperantfleksio). Posisi ini mengakibatkan dorongan mekanik
fundus uteri ke kandung kemih sehingga timbul gejala sering
berkemih selama periode trimester pertama. Gejala ini akan
berkurang setelah usia kehamilan memasuki trimester kedua di
mana uterus semakin membesar dan keluar dari rongga pelvik
sehingga tidak lagi terjadi dorongan fundus pada kandung
kemih, dan kembali timbul saat kehamilan memasuki trimester
III (Saminem, 2009; Prawirohardjo, 2016).
c. Uterus
Setelah 3 bulan kehamilan, volume uterus bertambah secara
cepat. Hormon estrogen dan progesteron mengstimulasi uterus
sehingga terjadi perbesaran yang signifikan akibat hipertrofi
otot polos uterus. Tanda kehamilan lain adalah kontraksi
Braxton Hicks (peregangan miometrium yang disebabkan oleh terjadinya pembesaran uterus) yang bersifat bersifat non-ritmik,
sporadik, tanpa disertai adanya rasa nyeri. Kontraksi ini dapat
dikenali melalui pemeriksaan bimanual setelah trimester kedua.
Mendekati usia kehamilan aterm, kontraksi ini menjadi lebih
teratur dan reguler sehingga sering disalahartikan sebagai
kontraksi persalinan (fake labor) (Prawirohardjo, 2016;
d. Ovarium
Ovulasi berhenti saat kehamilan, dan maturasi folikel baru
ditunda. Hanya satu korpus luteum yang dapat ditemukan di
ovarium dan akan bekerja secara maksimal pada 6–7 minggu
pertama saat awal kehamilan hingga 4–5 minggu postovulasi.
Hormon HCG dihasilkan oleh trofoblast sampai terbentuknya
plasenta (kehamilan 16 minggu). Kemudian plasenta
menggantikan peran trofoblast untuk menghasilkan hormon
estrogen dan progesteron (Prawirohardjo, 2016; Cunningham et
al., 2018).
e. Payudara
Pada awal kehamilan, payudara wanita akan menjadi lebih
tegang dan lebih sensitif (breast tenderness). Pada bulan ke-2,
payudara mulai membesar dan vena akan terlihat di bawah kulit.
Kolustrum (cairan kekuningan yang mulai disekresi
kelenjar-kelenjar asinus) dapat dikeluarkan dengan pijat lembut pada
payudara. Kelenjar Montgomeri (kelenjar sebasea dari areola) akan membesar, hiperpigmentasi dan cenderung menonjol
keluar. Payudara yang semakin membesar dapat diikuti
kemunculan striae pada perut. Ukuran payudara sebelum
kehamilan tidak mempunyai hubungan dengan banyaknya air
susu yang akan dihasilkan (Prawirohardjo, 2016; Cunningham
15
2. Sistem Respiratori
Perbesaran uterus menyebabkan terjadinya elevasi pada diafragma
sekitar 4 cm. Peningkatan ini mengakibatkan berkurangnya kapasitas
total paru sebesar 5%. Akan tetapi, ekskursi diafragma meningkat 1–
2 cm dan pernapasan ibu menjadi pernapasan diafragma. Mukosa
nasofaring menjadi hiperemis dan edematosa sehingga dapat
menyebabkan hidung tersumbat dan terjadi epistaksis walaupun
jarang. Hiperventilasi yang terjadi saat kehamilan menjadikan
peningkatan volume tidal oleh karena itu volume menit respirasi
meningkat sebesar 40%. Hal ini mungkin disebabkan akibat kerja
progesteron pada pusat pernapasan dan peningkatan sensitivitas
terhadap CO2. Wanita hamil akan bernapas lebih pendek.
Hiperventilasi juga menyebabkan perubahan keseimbangan asam
basa. PaCO2 arteral turun 38–32 mmHg dan PaO2 naik 95–105
mmHg. Perubahan ini memfasilitasi transfer CO2 dari fetus ke ibu dan
O2 dari ibu ke fetus. PH naik 0,02 unit dan terjadi kelebihan basa 2
mEq/L. Dengan demikian, masa kehamilan ada di dalam keadaan
alkalosis pernapasan. Sebagian kompensasi ginjal terjadi melalui
peningkatan ekskresi bikarbonat. Konsumsi O2 ibu meningkat 20–
40% karena meningkatnya permintaan janin, plasenta, dan jaringan
3. Sistem Endokrin
Progesteron dan estrogen merangsang proliferasi dari desidua dalam
upaya mempersiapkan implantasi jika terjadi kehamilan. Kerja korpus
luteum akan diambil alih oleh plasenta yang sudah terbentuk
sempurna untuk menghasilkan estrogen dan progesteron. Konsentrasi
plasma hormon paratiroid akan menurun pada trimester pertama dan
kemudian akan meningkat secara progresif. Aksi yang penting dari
hormon paratiroid ini adalah untuk memasok janin dengan kalsium
yang adekuat serta memiliki peran dalam produksi peptida pada janin,
plasenta, dan ibu (Megasari et al., 2014; Prawirohardjo, 2016).
4. Sistem Ekskresi
Perubahan anatomi wanita saat hamil menyebabkan kompresi pada
kandung kemih sehingga terjadi peningkatan frekuensi urin.
Mayoritas perubahan fungsional sistem renal akibat kehamilan terjadi
akibat peningkatan aliran plasma pada renal. Peningkatan ini dimulai
saat awal trimester pertama kehamilan, bahkan dapat meningkat 75%
dari wanita yang tidak hamil pada saat aterm. Demikian juga
glomerular filtration rate (GFR) meningat 50% dibandingkan saat
tidak hamil. Peningkatan GFR membuat peningkatan beban berbagai
zat terlarut yang masuk ke dalam sistem renal, tak jarang ibu hamil
mengalami peningkatan kadar glukosa pada urin. Asam amino dan
vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin B12, juga lebih banyak
17
yang signifikan pada ekskresi protein, sehingga proteinuria saat
kehamilan dianggap tidak normal. Metabolisme natrium tidak
berubah karena peningkatan GFR dikompensasi oleh peningkatan
reabsorpsi tubulus ginjal terhadap sodium (Casanova et al., 2019).
5. Sistem Pencernaan
Indra pengucapan sering berubah pada awal kehamilan. Seluruh
traktus intestinal mengalami penurunan motilitas pada trimester
pertama dan kedua, dengan peningkatan absorpsi air dan garam,
cenderung meningkatkan konstipasi. Konstipasi juga dapat
disebabkan hormon progesteron yang dapat merelaksasi otot termasuk
otot peristaltik usus. Gejala berupa pyrosis (heartburn) sering terjadi
sebagai hasil dari peningkatan tekanan intragastrik. Pada awal
kehamilan, rasa mual dan ingin muntah (emesis gravidarum) sering
terjadi (kehamilan 7-4 minggu) terutama di pagi hari. Mual terjadi
akibat penurunan asam hidroklorid dan penurunan motilias
(Prawirohardjo, 2016; Keith et al., 2018).
6. Metabolisme Besi
Jumlah zat besi yang ada pada wanita dewasa normal berkisar antara
2,0 hingga 2,5 gr, atau sekitar setengah dari yang biasa ditemukan
pada pria dewasa. Sebagian besar menyatu pada hemoglobin atau
normal hanya sekitar 300 mg. Walaupun kadar besi rendah pada
wanita sebagian disebabkan karena kehilangan darah saat menstruasi,
faktor lainnya memiliki peran, terutama hepcidin–a peptide hormone
yang memiliki fungsi sebagai regulator homeostatik untuk
metabolisme besi sistemik. Kadar hepsidin meningkat dengan adanya
inflamasi, namun menurun dengan keadaan defisiensi zat besi dan
beberapa hormon, termasuk testosteron, estrogen, vitamin D, dan
kemungkinan prolaktin. Dari 1000 mg zat besi yang dibutuhkan saat
kehamilan, sekitar 300 mg secara aktif disalurkan kepada fetus dan
plasenta, dan 200 mg lainnya hilang melewati rute-rute ekskresi
normal, salah satunya saluran pencernaan. Kehilangan ini bersifat
wajib walaupun ibu dalam keadaan defisiensi zat besi. Peningkatan
rata-rata volume eritrosit total yang bersikulasi (sekitar 450 ml)
memerlukan 500 mg zat besi, 1 ml eritrosit mengandung 1.1 mg zat
besi (Cunningham et al., 2018).
7. Sistem Kardiovaskular
a. Volume darah
Peningkatan volume plasma adalah penyebab dari anemia
fisiologis saat kehamilan. Peningkatan volume plasma mendorong
penurunan volume pada indikator anemia (hematokrit, hemoglobin
darah, dan jumlah eritrosit dalam sirkulasi) tetapi tidak mengurangi
jumlah absolut eritrosit atau hemoglobin dalam sirkulasi secara
19
kehamilan terjadi untuk mengurangi viskositas darah ibu sehingga
meningkatkan perfusi plasenta serta memfasilitas pengiriman
oksigen dan nutrisi kepada janin. Ketidakseimbangan peningkatan
volume dengan jumlah sel darah merah mulai pada minggu keenam
kehamilan, mencapai puncak nilai maksimum sekitar 24 minggu
kehamilan dan mungkin terus meningkat hingga akhir trimester
tiga. Pada puncaknya, volume plasma sekitar 40-50% lebih tinggi
daripada saat awal kehamilan. Penurunan kadar hematokrit,
konsentrasi hemoglobin, dan jumlah eritrosit di dalam sirkulasi
umumnya terjadi pada minggu ke-7 sampai ke-8 kehamilan dan
berlanjut sampai equilibrium baru tercapai pada minggu ke 16
hingga 22 (Greer et al., 2019).
Sebagai hasil dari keseimbangan fisiologis yang baru terbentuk ini,
ditetapkan nilai ambang batas konsentrasi hemoglobin pada akhir
semester pertama adalah <11g/dL dan <10g/dL pada trimester
kedua dan ketiga, di bawah nilai tersebut dicurigai ada sebab lain
penyebab kejadian anemia saat kehamilan. Selama kehamilan,
peningkatan 15% hingga 25% jumlah sel darah merah biasanya
terjadi namun tersembunyi akibat efek dilusi dari peningkatan
volume plasma. Peningkatan sel darah merah dapat lebih besar bila
ibu mengkonsumsi tablet zat besi. Volume plasma darah ibu mulai
menurun pada minggu akhir masa kehamilan, diikuti peningkatan
Volume darah ibu akan kembali seperti sebelum masa kehamilan 1
sampai 6 minggu setelah melahirkan (Greer et al., 2019).
b. Tekanan Darah
Tekanan darah meningkat secara perlahan antara 10–15 bpm
sehingga cardiac output mulai meningkat. Stroke volume
meningkat agak belakangan pada trimester pertama. Dua faktor ini
mendorong cardiac output untuk meningkat 35-40% pada
kehamilan pertama, dan mencapai 50% pada kehamilan
berikutnya, bahkan dapat lebih meningkat lagi pada
kehamilan-kehamilan selanjutnya. Setelah kehamilan-kehamilan 24 minggu tekanan
darah akan sedikit demi sedikit naik kembali seperti tekanan darah
sebelum hamil (Prawirohardjo, 2016; Keith et al., 2018).
2.1.4 Kebutuhan Gizi pada Ibu Hamil
Masa kehamilan adalah salah satu masa kritis tumbuh-kembang manusia
(window of opportunity); masa lainnya adalah masa sebelum konsepsi
(calon ibu, remaja putri), masa menyusui (ibu menyusui), dan masa
bayi/anak 0-2 tahun. Kekurangan gizi yang terjadi di masa tersebut akan
menimbulkan tidak memadainya perkembangan otak, kecerdasan,
kemampuan sekolah, dan daya produksi serta bersifat menetap. Janin atau
bayi usia 0-2 tahun yang mengalami kekurangan gizi memiliki risiko
21
Kebutuhan gizi untuk ibu hamil mengalami peningkatan dibandingkan
dengan ketika tidak hamil. Bila kebutuhan energi perempuan sebelum hamil
2.250 kkal/hari untuk usia 19-29 tahun dan 2.150 kkal untuk usia 30-49
tahun, maka kebutuhan ini akan bertambah sekitar 180 kkal/hari pada
trimester I dan 300 kkal/hari pada trimester II dan III. Demikian juga dengan
kebutuhan protein, lemak, vitamin dan mineral, akan meningkat selama
kehamilan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013a).
Tabel 1. Angka Kecukupan Gizi Rata-Rata yang Dianjurkan (Kementerian Kesehatan Repunblik Indonesia, 2013a).
Energi (kkal) 2250 2150 +180 +300 +300
Protein (g) 56 57 +20 +20 +20
Vitamin A (RE) 500 500 +300 +300 +300
Vitamin D (μg) 15 15 +0 +0 +0
Vitamin E (mg) 15 15 +0 +0 +0
Vitamin K (μg) 55 55 +0 +0 +0
Tiamin (mg) 1,1 1,1 +0.3 +0.3 +0.3
Riboflavin (mg) 1,4 1,3 +0.3 +0.3 +0.3
Niasin (mg) 12 12 +4 +4 +4
Asam folat (μg) 400 400 +200 +200 +200
Piridoksin (mg) 1,3 1,3 +0,4 +0,4 +0,4
Vitamin B12 (μg) 2,4 2,4 +0,2 +0,2 +0,2
Vitamin C (mg) 75 75 +10 +10 +10
Kalsium (mg) 1100 1000 +200 +200 +200
Fosfor (mg) 700 700 +0 +0 +0
Magnesium (mg) 310 320 +40 +40 +40
Besi (mg) 26 26 +0 +9 +13
Yodium (μg) 150 150 +70 +70 +70
Seng (mg) 10 10 +2 +4 +10
Selenium (μg) 30 30 +5 +5 +5
Mangan (mg) 1,8 1,8 +0,2 +0,2 +0,2
Fluor (mg) 2,5 2,7 +0 +0 +0
Dewasa (tahun) Saat Hamil
Ibu hamil harus memahami dan mempraktikkan pola hidup sehat bergizi
seimbang sebagai salah satu upaya untuk menjaga agar keadaan gizinya
tetap baik. Berdasarkan prinsip PGS (Pedoman Gizi Seimbang), terdapat
lima kelompok asupan zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil, yaitu
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, serta air (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2011; Pritasari et al., 2017).
a. Karbohidrat
Pemenuhan kebutuhan energi yang berasal dari karbohidrat dianjurkan
sebesar 50-60% dari total energi yang dibutuhkan, terutama yang
berasal dari karbohidrat pati dan serat, seperti nasi, sereal, roti, pasta,
jagung, sagu, singkong, dan ubi jalar.
b. Protein
Protein diperlukan untuk pembentukan sel-sel tubuh dan pengembangan
jaringan, termasuk pembentukan plasenta. Kebutuhan protein untuk ibu
hamil sekitar 17 g/hari (10-15% dari total energi). Jenis protein yang
dikonsumsi seperlimanya sebaiknya berasal dari protein hewani, seperti
daging, ikan, telur, susu, yogurt, dan selebihnya berasal dari protein
23
c. Lemak
Lemak memiliki peran penting pada perkembangan janin dan
pertumbuhan awal pascalahir. Asam lemak omega-3 DHA diperlukan
untuk perkembangan dan fungsi saraf janin selama kehamilan.
Konsumsi PUFA (polyunsaturated fatty acid/ asam lemak tak jenuh ganda) selama kehamilan memengaruhi transfer PUFA ke plasenta dan
ASI. Saat hamil, dibutuhkan energi dari lemak sebesar 20-25% dari total
energi per hari. Proporsi asam lemak jenuh (lemak hewani)
membutuhkan 8% dari kebutuhan energi total, sedangkan sisanya (12%)
berasal dari asam lemak tak jenuh. Perbandingan kandungan asam
lemak omega 6 dan omega 3, EPA, dan DHA sebaiknya lebih banyak.
d. Vitamin dan Mineral
Vitamin membantu berbagai proses dalam tubuh seperti pembelahan
dan pembentukan sel baru. Vitamin A berperan dalam meningkatkan
pertumbuhan dan kesehatan sel serta jaringan janin; vitamin B seperti
tiamin, riboflavin, dan niasin memiliki peran dalam metabolisme energi,
sedangkan vitamin B6 (asam folat) membantu protein membentuk
sel-sel baru; vitamin C sangat penting untuk penyerapan zat besi yang
berasal dari bahan makanan nabati; dan vitamin D memiliki peran
penyerapan kalsium. Mineral berperan dalam berbagai tahap proses
pertumbuhan (yodium dan seng), serta pertumbuhan tulang dan gigi
(kalsium).
e. Air
Air sangat esensial dalam tubuh karena berfungsi untuk mengangkut
zat-zat gizi ke seluruh tubuh dan membawa sisa makanan keluar tubuh.
Ibu hamil disarankan untuk menambah asupan cairannya sebanyak 500
ml/hari dari kebutuhan orang dewasa yang umumnya minimal 2
liter/hari atau setara 8 gelas/hari. Kebutuhan air pada ibu hamil juga
bertambah untuk memenuhi kebutuhan janin dan metabolisme yang
lebih tinggi menjadi 10—13 gelas/hari.
Sebagian zat gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil tidak dapat dicukupi
hanya dari makanan yang dikonsumsi ibu hamil sehari-hari sehingga
harus mengkonsumsi tambahan suplemen, contohnya zat besi, asam
folat dan kalsium (Pritasari et al., 2017).
a. Zat Besi
Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin di dalam
eritrosit, yang beredar di dalam darah dan berfungsi mengangkut
oksigen ke seluruh tubuh. Pada ibu hamil, kebutuhan zat besi
meningkat untuk meningkatkan massa hemoglobin karena adanya
penambahan massa tubuh ibu (plasenta, payudara, pembesaran
uterus, dan lain-lain) dan janin. Kebutuhan tambahan total selama
25
besi yang terbaik adalah makanan yang berasal dari sumber hewani
seperti daging dan hati. Sementara zat besi yang berasal dari sumber
makanan nabati, misalnya serealia, kacang-kacangan, dan sayuran
hijau, walaupun kaya zat besi, tetapi zat besi tersebut mempunyai
bioavailabilitas yang rendah. Sumber zat besi nabati ini agar dapat
diserap dengan baik harus dikonsumsi bersama-sama dengan
sumber protein hewani, seperti daging, atau sumber vitamin C,
seperti buah-buahan.
b. Asam Folat
Asam folat termasuk dalam kelompok vitamin B. Jumlah yang
dibutuhkan hingga trimester akhir kehamilan adalah 0, 4 mg/hari per
orang. Asupan asam folat sangat penting untuk perkembangan saraf
pusat terutama terjadi dalam 8 minggu pertama kehamilan untuk
mencegah kelainan seperti neural tube defect. Sumber asam folat antara lain sayuran berwarna hijau seperti brokoli dan bayam, telur,
dan daging.
c. Kalsium
Kalsium dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan sel-selnya.
Janin akan mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu jika asupan
kalsium tidak mencukupi kebutuhan per hari. Jumlah kebutuhan
kehamilan. Sumber kalsium antara lain telur, susu, keju, mentega,
daging, ikan, dan bayam.
2.2 Anemia Defisiensi Besi
2.2.1 Definisi Anemia Defisiensi Besi
Defisiensi besi adalah masalah nutrisi dengan prevalensi terbesar di
dunia. Dari 2 juta kasus anemia di dunia, 50% disebabkan oleh defisiensi
besi. Survey nasional representatif yang dilakukan oleh WHO dari tahun
1993 sampai 2005 menunjukkan 42% dari ibu hamil dan 47% anak
prasekolah yang tersebar di seluruh dunia menderita anemia (Ahmed et
al., 2012).
Penyebab tersering dari anemia di negara berkembang adalah malnutrisi
dan infeksi. Penyebab anemia defisiensi nutrisi pada ibu hamil
didominasi defisiensi zat besi dan asam folat. Anemia juga dapat
disebabkan defisiensi vitamin B12, defisiensi vitamin A, inflamasi akut
dan kronik, serta kelainan hematologi diturunkan atau didapat yang
mempengaruhi sintesis eritrosit atau umur eritrosit. Konsentrasi
hemoglobin saja tidak bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis
defisiensi besi. Namun, pemeriksaan konsentrasi dari hemoglobin perlu
dilakukan, walaupun tidak semua anemia disebabkan oleh defisiensi besi
27
Tabel 2. Konsentrasi Hemoglobin untuk Diagnosis Anemia (WHO, 2011).
Ringan Sedang Berat
Anak umur 6-59 bulan ≥11.0 10.0-10.9 7.0-9.9 <7.0 Anak umur 5-11 tahun ≥11.5 11.0-11.4 8.0-10.9 <8.0 Anak umur 12-14 tahun ≥12.0 11.0-11.9 8.0-10.9 <8.0 Wanita usia subur (≥15 tahun) ≥12.0 11.0-11.9 8.0-10.9 <8.0
Wanita hamil ≥11.0 10.0-10.9 7.0-9.9 <7.0
Pria (≥15 tahun) ≥13.0 11.0-12.9 8.0-10.9 <8.0
Anemia*
*dalam satuan g/dL
Populasi Normal*
2.2.2 Faktor Risiko Anemia Defisiensi Besi 1. Umur Ibu
Seorang wanita direkomendasikan untuk hamil adalah pada umur 20-35
tahun. Kehamilan pada umur <20 tahun memiliki risiko kekurangan zat
besi karena ibu harus memenuhi kebutuhan biologisnya sedangkan zat
gizi akan terbagi dua untuk ibu dan janin yang dikandungnya. Untuk
kehamilan pada umur >35 tahun, fungsi fisiologis tubuh tidak dapat
bekerja secara optimal karena ibu memasuki fase degeneratif awal
tubuh. (Tanziha et al., 2016).
Pada kehamilan umur < 20 tahun selain keadaan biologis yang belum
optimal, keadaan emosional ibu yang cenderung lebih labil dan
ketidaksiapan mental akan mengakibatkan kurangnya perhatian
terhadap pemenuhan kebutuhan zat–zat gizi selama kehamilannya jika
terjadi suatu guncangan. Pada ibu hamil umur >35 tahun juga akan
Kehamilan remaja akan lebih berdampak negatif terhadap kesehatan
remaja dan bayinya, serta akan berdampak dalam segi sosial dan
ekonomi. Kehamilan pada usia remaja akan meningkatkan risiko
kelahiran prematur, BBLR, serta perdarahan persalinan yang dapat
meningkatkan kematian ibu dan bayi. SDKI 2012 menyatakan bahwa
angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang
berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi daripada ibu yang berusia 20–
39 tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
2. Paritas
Paritas terbagi atas beberapa definisi yaitu nulipara, primipara,
multipara, dan grande multipara. Nulipara adalah seseorang yang belum
pernah menyelesaikan kehamilan hingga fetus mampu untuk hidup,
mungkin pernah mengalami aborsi sebelumnya. Primipara adalah
seseorang yang telah melahirkan satu anak yang mampu hidup, dimana
angka paritas tidak bertambah meskipun fetus lebih dari satu (bayi
kembar). Multipara adalah seseorang yang telah menyelesaikan dua atau
lebih fase kehamilan yang memasuki tingkat viabilitas atau lebih.
Grande multipara adalah seseorang yang telah melahirkan ≥4 anak yang
viabel (Konar, 2016). Risiko kejadian anemia saat kehamilan meningkat
tiga kali lebih tinggi pada wanita paritas tinggi dibandingkan wanita
dengan paritas rendah. Hal ini mungkin terjadi karena wanita dengan
paritas tinggi meningkatkan kerentanan terhadap perdarahan. Nilai
29
≥11.0g/dl. Jika dibandingkan dengan keadaan saat tidak hamil, setiap
kehamilan memiliki peningkatan risiko mengalami perdarahan sebelum,
saat, dan sesudah melahirkan. Oleh karena itu, wanita dengan paritas
tinggi akan lebih sering untuk mengalami hemoragik pada
periode-periode berisiko (Al-farsi et al., 2011).
3. Pendidikan
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan
perilaku hidup sehat. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
semakin mudah menerima hidup sehat secara mandiri, kreatif dan
berkesinambungan. Pendidikan ibu menjadi salah satu faktor yang
menentukan status gizi, dan mortalitas ibu, bayi, dan anak. Hal ini dapat
disebabkan kurang pemahaman kaitan anemia dan faktor lainnya,
kurang mendapatkan akses mengenai informasi anemia dan
penanggulangannya, kurang dapat memilih bahan makanan yang
bergizi, khususnya yang mengandung zat besi relatif tinggi, serta kurang
dapat menggunakan pelayanan kesehatan yang tersedia (Roosleyn,
2016).
4. Perekonomian
Peran status ekonomi dalam kesehatan sangat berpengaruh terhadap
kesehatan seseorang. Masyarakat cenderung mempunyai ketakutan
persalinan. Status ekonomi juga berpengaruh terhadap pembelian bahan
makanan yang dapat memenuhi gizi ibu hamil. Ibu hamil dengan status
ekonomi yang memadai akan mudah memperoleh informasi yang
dibutuhkan (Roosleyn, 2016). Perlu adanya bimbingan dan layanan bagi
ibu hamil dengan status ekonomi rendah dengan memanfaatkan fasilitas
yang disediakan puskesmas seperti posyandu, pemanfaatan buku
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) (Ariyani, 2016).
5. Status sosial
Status sosial wanita yang masih rendah di masyarakat mempermudah
kejadian anemia zat gizi. Tingkat pendidikan wanita juga cenderung
lebih rendah dari laki-laki. Hal ini terjadi karena adanya anggapan
bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi. Upah tenaga
kerja wanita pada umumnya masih lebih rendah dibandingkan dengan
laki-laki pada hampir seluruh lapangan kerja. Selain itu, masih banyak
kepercayaan yang merugikan di tengah masyarakat, seperti pantangan
makanan tertentu pada saat kehamilan atau mengurangi makan setelah
trimester III agar bayinya kecil (Roosleyn, 2016).
Sebaliknya, ibu hamil dengan tingkat sosial ekonomi yang baik akan
mendapatkan kesejahteraan fisik dan psikologis yang baik pula. Status
gizi akan lebih baik karena nutrisi yang didapatkan berkualitas
31
6. Kunjungan Antenatal Care
Antenatal care dilakukan sebagai bentuk pengawasan sebelum
persalinan terutama pada pertumbuhan dan perkembangan janin di
dalam rahim. Kejadian anemia defisiensi gizi yang selalu disertai
dengan malnutrisi dan infeksi parasit sering terjadi karena keengganan
ibu hamil melakukan kunjungan antenatal (Nurhidayati et al., 2013).
Kasus anemia yang disebabkan oleh defisiensi gizi dan penyakit infeksi
dapat dicegah dan ditangani dengan melakukan kunjungan antenatal,
sehingga pelayanan antenatal care dapat mengurangi angka kematian
ibu (Tanziha et al., 2016).
7. Kecukupan Konsumsi Tablet Besi
Pemberian tablet besi adalah salah satu terapi utama untuk mengatasi
anemia pada kehamilan. Rekomendasi konsumsi suplemen besi di
Indonesia adalah 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat per hari
atau 1 tablet per hari yang dikonsumsi minimal 90 tablet selama
kehamilan. Tablet besi ini diberikan pada saat ibu melakukan kunjungan
pelayanan antenatal (Tanziha et al., 2016).
Zat besi dibutuhkan dalam pembentukan hemoglobin pada eritrosit.
saat tidak hamil. Defisiensi zat besi menjadi penyebab utama dalam
anemia pada kehamilan dengan prevalensi 20-80% wanita di dunia
mengalaminya (Breymann, 2015).
8. Kurang Energi Kronis
Selain peningkatan asupan gizi ibu untuk memenuhi kebutuhan janin
dan dirinya, perubahan fisiologis akan mengakibatkan peningkatan
volume cairan dan sel darah merah serta penurunan konsentrasi protein
pengikat gizi dalam sirkulasi darah dan penurunan gizi mikro. Sebelum
bayi lahir, masa pertumbuhan dan perkembangan janin ada pada saat
janin masih dalam kandungan ibu sehingga gangguan gizi yang terjadi
pada masa kehamilan akan berdampak besar bagi kesehatan ibu dan
janin. Kekurangan energi yang kronis pada ibu hamil dapat berdampak
pada kejadian anemia ibu hamil juga pada kejadian BBLR dan stunting
(Tanziha et al., 2016).
9. Penyakit Infeksi
Infeksi yang dapat meningkatkan risiko anemia contohnya malaria,
TBC, hepatitis, dan cacingan karena menyebabkan terjadinya
peningkatan penghancuran sel darah merah dan terganggunya eritrosit.
Malaria meningkatkan risiko anemia ibu, prematuritas, dan berat badan
lahir rendah pada kehamilan pertama. Prevalensi dan densitas
33
hamil. Di daerah endemis malaria, anemia adalah gejala yang paling
sering ditemukan selama kehamilan. Penyebab utama adalah penyakit
cacing dan malnutrisi. Penyakit malaria dapat memperberat keadaan
anemianya. Penyakit malaria biasanya memberikan gejala dengan
manifestasi anemia sehingga semua kasus anemia harus diperiksa
kemungkinan ke arah penyakit malaria (Nurhidayati et al., 2013; Prawirohardjo, 2016).
2.2.3 Pengaruh Anemia pada Kehamilan
Secara global 80% kematian ibu tergolong pada kematian ibu langsung,
yaitu perdarahan (25%) (biasanya perdarahan pascapersalinan), sepsis
(15%), komplikasi aborsi tidak aman (13%), hipertensi dalam kehamilan
(12%), partus macet (8%), dan sebab lainnya (8%). Komplikasi paling
sering dari perdarahan pascapersalinan adalah anemia. Jika kehamilan
terjadi pada seorang ibu yang telah menderita anemia, maka perdarahan
pascapersalinan dapat memperberat keadaan anemia. Oleh karena itu,
anemia termasuk dalam faktor langsung dan tidak langsung dari kematian
ibu, baik anemia saat kehamilan maupun anemia pascapersalinan
(Prawirohardjo, 2016).
Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat menimbulkan gangguan atau
hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia
bawaan, Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR), serta anemia pada bayi
yang dilahirkan. Anemia juga dapat menyebabkan persalinan yang lama
akibat kelelahan otot rahim dalam berkontraksi, perdarahan pascapersalinan
karena tidak ada kontraksi otot rahim, syok, infeksi yang didapatkan saat
persalinan maupu pascapersalinan, serta anemia yang sangat berat (<4 gr%)
dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hal ini meningkatkan morbiditas
dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna. (Roosleyn,
2016).
2.3 Kekurangan Energi Kronis
2.3.1 Definisi Kurang Energi Kronis
Kekurangan energi kronis (KEK) adalah kondisi seorang individu
menderita kekurangan asupan makan yang berlangsung dalam jangka
waktu lama (menahun atau kronis) dan jika dibiarkan dapat
menimbulkan masalah kesehatan. Ibu hamil akan berisiko terhadap KEK
jika pengukuran Lingkar Lengar Atas (LILA) kurang dari 23,5cm. Ibu
hamil yang menderita KEK tidak dapat memenuhi peningkatan
kebutuhan gizinya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016c).
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) klasifikasi KEK terbagi dalam
tiga tingkatan, tingkatan pertama didefinisikan sebagai underweight ringan (mild), tingkatan kedua sebagai underweight sedang (moderate),
35
Tabel 3. Klasifikasi Kurang Energi Kronis dengan Indeks Massa Tubuh (Arisman, 2014).
Tingkatan Kurang Energi Kronis Indeks Massa Tubuh (kg/m2)
Normal >18,5
Ringan 17,0-18,4
Sedang 16,0-16,9
Berat <16,0
2.3.2 Penyebab Masalah Gizi
Terdapat beberapa teori yang dapat menimbulkan masalah gizi. Dua
diantaranya adalah teori United Nation Children’s Fund (Unicef) dan teori segi tiga penyebab masalah. Teori Unicef tahun 1990 menyatakan
masalah gizi disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu langsung dan tidak
langsung. Faktor langsung masalah gizi meliputi kurangnya asupan
makanan dan penyakit yang diderita. Kurangnya asupan gizi
mengakitbakan rendahnya daya tahan tubuh sehingga tubuh lebih rentan
terhadap penyakit. Sebaliknya orang yang sakit akan kehilangan nafsu
makan sehingga status gizi menjadi kurang. Asupan gizi dan penyakit
mempunyai hubungan yang saling ketergantungan (Par’i et al., 2017).
Kekurangan asupan makanan dapat disebabkan tidak tersedianya pangan
pada tingkat rumah tangga, pola asuh orang tua kurang baik terhadap
anak, distribusi makanan tidak tepat dan pemanfaatan potensi rumah
tangga yang kurang baik, misalnya orang tua lebih mementingkan
[image:53.595.162.508.143.216.2]Kesling dan Yankes tidak
[image:54.595.153.512.228.660.2]memadai
Gambar 1. Faktor Penyebab Gizi Kurang (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2015).
Penyakit infeksi disebabkan oleh kurangnya layanan kesehatan pada
masyarakat dan keadaan lingkungan yang sehat. Tingginya infeksi juga
dapat disebabkan pola asuh yang kurang baik, contohnya anak dibiarkan
bermain pada tempat yang kotor (Par’i et al., 2017).
Ibu Hamil KEK
Kurangnya Asupan Gizi Persediaan makanan tidak cukup Penyakit
Pola asuh tidak memadai Manifestasi Penyebab tidak langsung Penyebab langsung Kurang pendidikan, pengetahuan dan keterampilan
Kurang pemberdayaan wanita, keluarga dan SDM
Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan
Krisis ekonomi, politik dan sosial
Masalah utama
37
Teori segi tiga penyebab masalah adalah teori hubungan timbal balik
antara tiga dimana jika faktor-faktor ini seimbang maka seseorang
dikatakan memiliki status gizi yang baik. Faktor-faktor tersebut antara
lain faktor pejamu, agen dan lingkungan (Par’i et al., 2017).
1. Pejamu
Faktor pejamu adalah faktor-faktor di dalam diri manusia yang dapat
mempengaruhi status gizi. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai
berikut.
a. Genetik, jika orang tua menderita kegemukan maka
keturunannya memiliki cenderungan untuk menjadi gemuk.
b. Umur, kebutuhan asupan gizi mengikuti kelompok umur.
Contohnya, kelompok umur balita lebih membutuhkan protein,
sedangkan kelompok umur dewasa lebih banyak membutuhkan
vitamin dan mineral.
c. Jenis kelamin, contohnya wanita lebih banyak memerlukan zat
besi daripada pria.
d. Kelompok etnik, pada suatu golongan etnik cenderung
mempunyai pola dan kebiasaan yang sama, sehingga masalah
gizi yang muncul tidak jauh berbeda antar penduduk.
e. Fisiologik, ibu hamil yang sedang terjadi pertumbuhan janin
f. Imunologik, seseoran berisiko terkena penyakit bila memiliki
imunitas tubuh yang lemah. Daya tahan tubuh optimal terbentuk
apabila tubuh mempunyai zat gizi cukup.
g. Kebiasaan menentukan kebutuhan gizi yang berbeda pada setiap
orang, contohnya seseorang yang mempunyai kebiasaan
berolahraga akan membutuhkan gizi yang lebih banyak daripada
individu yang jarang berolahraga.
2. Agen
Agen adalah agregat yang keberadaannya atau ketidakberadaannya
dapat menimbulkan masalah gizi. Agen yang ketidakberadaannya
menimbulkan masalah gizi seperti zat besi yang dapat menyebabkan
anemia, vitamin C yang dapat menurunkan imunitas tubuh, hormon
dan lemak yang berperan dalam metabolisme tubuh. Agregat yang
keberadaannya menimbulkan masalah gizi salah satunya zat kimia
dari luar tubuh seperti obat-obatan. Contohnya obat antibiotik
tertentu dapat menganggu absorpsi susu. Faktor psikis, pada
orang-orang tertentu yang sedang mengalami stress akan dikompensasi
dalam bentuk makanan. Tubuh akan memerlukan asupan gizi yang
lebih banyak apabila seseorang sedang mengalami penyakit infeksi
39
3. Lingkungan
Terdapat tiga keadaan lingkungan yang dapat memengaruhi asupan
gizi seseorang, sebagai berikut.
a. Genetik, jika orang tua menderita kegemukan maka keturunan
mereka memiliki kecenderungan untuk menjadi gemuk.
b. Lingkungan fisik, meliputi cuaca/iklim, tanah, dan air, dapat
mempengaruhi kesuburan tanaman yang merupakan sumber
makanan. Demikian juga hewan tidak dapat tumbuh subur pada
lingkungan yang gersang.
c. Lingkungan biologi, ketersediaan zat gizi pada masyarakat akan
terpengaruh. Tanaman dan hewan yang subur dapat memberikan
persediaan pangan dan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Kepadatan penduduk akan mengakibatkan ketersediaan pangan
menjadi terbatas.
d. Lingkungan sosial ekonomi, terdiri atas pekerjaan, tingkat
urbanisasi, perkembangan ekonomi, dan bencana alam.
Perkembangan ekonomi suatu wilayah akan mempengaruhi pada
tingkat ketersediaan pangan masyarakat, sehingga akan terjadi
peningkatan status gizi. Sebaliknya bencana alam akan
mengakibatkan kekurangan persediaan pangan dan menurunkan
2.3.3 Pengukuran Lingkar Lengan Atas
Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) bertujuan untuk mengetahui
prevalensi wanita usia subur umur 15-45 tahun dan ibu hamil yang
menderita KEK. Batas LILA Wanita Usia Subur (WUS) dengan risiko
KEK di Indonesia adalah 23,5 cm (Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2007). Ukuran LILA yang kurang dari 23,5 cm atau bagian
merah pita LILA menunjukan wanita tersebut mempunyai risiko KEK
dan kemungkinan besar melahirnya bayi BBLR. Berat bayi lahir rendah
meningkatkan risiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan
gangguan perkembangan anak (Supariasa et al., 2012).
Sebelum melakukan pengukuran, pastikan pita LILA tidak kusut, tidak
terlipat dan tidak sobek. Gunakan meteran kain jika lengan responden
>33 cm. Saat pengukuran, minta responden untuk berdiri tegak dan tetap
rileks, tidak memegang apapun serta otot lengan tidak tegang.
Singsingkan baju pada lengan kiri ke atas sampai pangkal baju terlihat
atau lengan bagian atas tidak tertutup. Pengukuran dilakukan dengan
mengikuti beberapa langkah sebagai berikut (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2007).
1. Tentukan posisi pangkal bahu.
2. Tentukan posisi ujung siku dengan cara siku dilipat dengan telapak
41
3. Tentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan
menggunakan pita LILA atau meteran, dan beri tanda dengan
pulpen/spidol.
4. Lingkarkan pita LILA sesuai tanda pulpen di sekeliling lengan
responden sesuai tanda (di pertengahan antara pangkal bahu dan
siku).
5. Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LILA.
6. Pita ditarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau longgar.
7. Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada pita LILA (ke
arah angka yang lebih besar).
8. Tuliskan angka pembacaan pada kuesioner.
Pengukuran LILA dilakukan dibagian tengah antara bahu dan siku
lengan kiri (kecuali orang kidal diukur di lengan kanan) (Supariasa et
al., 2012).
2.3.4 Hubungan Kurang Energi Kronis dengan Anemia
Anemia dalam kehamilan merupakan suatu kondisi ibu dengan kadar
haemoglobin dalam darah di bawah 11 gr/ml terutama pada saat
kehamilan di trimester ke 1 dan 3. Ibu hamil yang menderita kurang
energi kronis dan anemia mempunyai risiko kesakitan yang lebih besar
terutama pada saat kehamilan trimester 3. Ibu hamil KEK dan anemia
Gambar 2. Kerangka teori faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil (Nurhidayati, Sulastri and Irdawati, 2013; Tanziha et al., 2016; Roosleyn, 2016).
(BBLR), kematian saat persalinan, perdarahan, juga kondisi fisik yang
lemah setelah proses persalinan karena lebih mudah mengalami
gangguan kesehatan (Mahirawati, 2014).
2.4 Kerangka Teori
Pendidikan
Perekonomian
Status Sosial
Kunjungan Antenatal Care Umur Ibu
Kecukupan Konsumsi Tablet
Besi
Kurang Energi Kronis
Penyakit infeksi
43
Gambar 3. Kerangka konsep hubungan kurang energi kronis umur ibu dan jumlah paritas kejadian anemia pada ibu hamil.
2.5 Kerangka Konsep
2.6 Hipotesis
H0: Tidak terdapat hubungan antara kejadian kurang energi kronis (KEK), umur
ibu, dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester I di
Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung tahun 2018.
Ha: Terdapat hubungan antara kejadian kurang energi kronis (KEK), umur ibu,
dan paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester I di Puskesmas
Kemiling Kota Bandarlampung tahun 2018.
Anemia pada Ibu Hamil Kurang Energi
Kronis
Umur Ibu
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan
cross sectional. Pengambilan data menggunakan data sekunder yang diambil dari data rekam medis ibu hamil di Puskesmas Kemiling Kota Bandarlampung
periode Januari–Desember 2018.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Rawat Inap Kemiling Kota
Bandarlampung.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober–November 2019.
3.3 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester I yang tercatat dalam