• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
59
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN PEMUPUKAN NITROGEN TERHADAP PERMEABILITAS TANAH PADA LAHAN PERTANAMAN

JAGUNG (Zea mays L.) DI POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

Skripsi

Oleh Siti Nur Rohmah

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN PEMUPUKAN NITROGEN TERHADAP PERMEABILITAS TANAH PADA LAHAN PERTANAMAN

JAGUNG (Zea mays L.) DI POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG Oleh

SITI NUR ROHAMH

Penelitian bertujuan untuk mengetahui 1). pengaruh sistem tanpa olah tanah pada

lahan pertanaman jagung (Zea mays L.) terhadap permeabilitas tanah dibanding

dengan sistem olah tanah minimum dan sistem olah tanah intensif, 2). Untuk

mengetahui pengaruh pemupukan Nitrogen 200 kg ha-1 terhadap permeabilitas

tanah pada lahan pertanaman jagung (Zea mays L.) dibanding dengan tanpa

pemupukan Nitrogen dan 3). Untuk mengetahui interaksi antara sistem olah tanah

dan pemupukan Nitrogen terhadap permeabilitas tanah pada lahan pertanaman

jagung (Zea mays L.). Penelitian dilakuan di kebun percobaan Politeknik Negeri

Lampung dan analisis tanah dilakukan di laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas

Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2016 –

Maret 2017.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok

(RAK)yang disusun secara faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah

sistemolah tanah jangka panjang yaitu T1 = Olah Tanah Intensif (OTI), T2 = Olah

(3)

adalahpemupukan nitrogen jangka panjang yaitu No = 0 kg N ha-1 dan N1 = 200

kg N ha-1.Data yang diperoleh akan diuji homogenitasnya dengan uji Bartlet dan

aditivitas data diuji dengan Uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi data dianalisis

dengan sidik ragam dan analisis lanjutan dengan uji BNT pada taraf 5%. Akan

tetapi jika asumsi tidak terpenuhi, data nilai tengah permeabilitas di

interpretasikan secara kualitatif menurut Uhlan dan O’neal (1951) pada buku Soil

permeability determinations for use in soil and water conservation. Hasil

penelitian menunjukan bahwa 1) permeabilitas tanah tidak dipengaruhi oleh

sistem olah tanah dan pemupukan nitrogen dan tidak terjadi interaksi antara kedua

perlakuan, 2) Kelas permeabilitas tanah pada kombinasi perlakuan olah tanah

minimum dan pemupukan nitrogen 200 kg ha-1 sebesar 3,62 cm jam-1termasuk

kedalam kelas sedang, sedangkan pada perlakuan yang lain termasuk dalam kelas

agak lambat.

Kata kunci : pemupukan nitrogen, permeabilitas tanah, sistem olah tanah

(4)

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN PEMUPUKAN NITROGEN TERHADAP PERMEABILITAS TANAH PADA LAHAN PERTANAMAN

JAGUNG (Zea mays L.) DI POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

Oleh Siti Nur Rohmah

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

Pada

Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

Judul Slripsi

Nama Mahasiswa

Nomor Pokok-Mahasiswa

Jurusan

Fakultas

: PENGARIIH SISTEM

OLAII

TANAII DAN PEMI]PI]KAI\I MTROGEN TERHADAP

PERMbABILITAS TANAH PAI)A

LAIIAN

PERTAIYAMAN JAGIING (Zea nrys L.)

DI

POLITEKI\IIK NEGERI LAMPT]NG

,$ttt

cl{t" rctonnh

:

t3l4l2ll7l

: Agroteknologi

: Pertanian

Prof. Dn

Ir.

Muhajir Utomo, M.Sc" NIP 19500716197603rc02

MEI\IYETUJtn

l. Komisi

Pembimbi4g

Dr.If.

Afendio M.P. NrP tB66l 103 1988031002

2. Kefira Jwgsan Agroteknologi

Prof.

Dr.Ir.

Sri Yusnaini M.St

(6)

l- Tun Penguji

Kefira

MENGESAHKAN

: Frof.

Ilr.

Ir.

Muhajir Utomor ll{.Sc.

:

Dr.In

Afandi, h[-P.

F€nguji

BdrmPembimbing : prof,, Dr. rr. rrwan sukri Bannwa,

*.#..

-'. Irwan

Suhi

Bannwa, M.Si.

0201986031002

(7)

$T'RAT FERNYATAAN

Saya yang bcrtrndtffitgar! di barnfil ini menyafakan hahwa skripsi st{ra yang

berjrdrl *PENGARUH SISTEil,f SLAH TANAH DAN PEII,IUruKAN

NTTROCSN TERHADAP PERMEABILITAS TANAH PADA LAHAN

PERTAF.SAMAN -fACUhIC (Zea

*vr*

L-)Dl FOLITEKNIK NEGERI LAMPUNC-nrcrupakan hcsil katlra sap yang dibimbing olch Komisi

Pcmhirnbing I)

ft'of

Dr. Ir, Mrfiajir U'fiwnc, M-Sc.

fuiz|

tlr. Ir. Afandl M.P. bcrdasarkan poda pengg{rhuan dm infortnasi;angrelah sala dapatkan- Karya

ilmiah ini berisi mdrrhl ymg dibud srdiri &n ha$il nrjukan beberape sumber lain {h*n-iurml" dll.} fqffrgrclsh dtxfrliktsi Sehmrnya atau br*srlah hasil dari

phglu k rJn orerg lain. lika pel:q@*t ini diksmrdi.n hari tcrbolai bahwa $lffip$r ini marpcken hasil salirsm dau dib$tf sang lain, maka seya ber*cdia

memirna sanksi $srai dengan ketsltuan akdsnik yang bcrlaku.

Seer

Lanprng !,fcvembcr 201E

Yeng

Siti Nur Rdrnneh

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Siti Nur Rohmah, dilahirkan pada 09 Mei 1995 di

Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah. Penulis adalah anak tunggal dari

pasangan Bapak Sujiman dan Ibu Siti Mibaroh.

Penulis menyelesaikan pendidikan di SDN 1 Sri Sawahan pada 2007, SMP N 1

Kotagajah pada 2010, dan SMA Muhammadiyah 2 Metro pada 2013. Pada 2013,

penulis melanjutkan pendidikan di Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian,

Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi

Negeri (SNMPTN). Pada Januari sampai Maret 2016, penulis melaksanakan

Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Tri Mulya Jaya, Kecamatan Banjar

Agung, Kabupaten Tulang Bawang. Penulis melaksanakan kegiatan Praktik

Umum (PU) di BALITTANAH KP Taman Bogo pada Juli sampai Agustus 2016.

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah aktif dalam UKM PERMA AGT

(Persatuan Mahasiswa Agroteknologi) dan menjadi anggota Bidang Penelitian dan

Pengembangan (Litbang) pada periode 2014 – 2015 dan anggota Bidang Dana

dan Usaha (Danus) pada periode 2015 – 2016. Penulis juga pernah menjadi

asisten dosen mata kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah pada Semester Genap

(9)

“Dan janganlah kamu membuat kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Allah sangat dengat dengan orang-orang yang berbuat baik. Dan

Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelumkedatangan rahmat-Nya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau kesuatu daerah yang tandus, lalu

Kami turunkan hujan didaerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai buah-buahan, seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, semoga kamu mengambil pembelajaran. Dan tanah yang baik tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin

Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana, demikianlah Kami mengulah tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi

orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf : 56 – 58)

“Sebaik baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain”

(10)

PERSEMBAHAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillahirabbil’alamin... Alhamdulillahirabbil’alamin...

Alhamdulillahirabbil’alamin...

Segala puji dan syukur,

Kupersembahkan karya sederhanaku ini kepada ayah dan ibuku tercinta yang telah mencurahkan kasih sayang dan dukungan yang tiada hentinya.

Serta

Almamater tercinta Universitas Lampung,

Semoga karya ini bermanfaat bagi banyak orang Aamiin

(11)

SANWACANA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat

rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan seluruh proses penelitian

yang dituangkan dalam karya ilmiah (Skripsi) dengan judul “Pengaruh Sistem

Oalh Tanah dan Pemupukan Nitrogen terhadap Permeabilitas Tanah pada Lahan Pertanaman Jagung (Zea mays L.) Di Politeknik Negeri Lampung”

Selama melaksanakan penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis banyak

mendapat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Pada

kesempatan ini dengan kerendahan hati, penulis ingin menghaturkan terima kasih

kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M. Sc., selaku pembimbing utama, yang

selalu sabar membimbing, memberi motivasi, masukan, saran, kritik, arahan

dalam penyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi,

2. Bapak Dr. Ir. Afandi, M.P., selaku pembimbing II, yang selalu sabar

membimbing, memberikan saran, kritik, masukan, dan motivasi dalam

menyelesaikan penulisan skripsi,

3. Ibu Ir. Yayuk Nurmiyati, M.S., selaku pembimbing akademik yang telah

(12)

4. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si.selaku Dekan Fakultas

Pertanian, Universitas Lampung dan selaku penguji yang telah memberikan

masukan, saran, dan kritik dalam penyempurnaan skripsi,

5. Ibu Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi,

Fakultas Pertanian, Universitas Lampung,

6. Ibu Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M.S., M.Agr.Sc., selaku Ketua Bidang Ilmu

Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Lampung,

7. Bapak Selamet yang telah banyak membantu selama proses penelitian

8. Ayah dan Ibu yang selalu memberikan motivasi, limpahan kasih sayang, dan

dukungan kepada penulis,

9. Sahabat-sahabatku Mayora, Steffy, Umi, Isti, Wiwin, May, Dewi, Sukma,

Tari, Vina, Rully, dan Istna serta Ratna dan Wahyu atas segala dukungan dan

kebersamaannya selama ini,

10. Teman-teman Agroteknologi angkatan 2013, atas dukungandan kebersamaan

selama menjalani perkuliahan,

11. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian

penelitian dan penulisan skripsi.

Semoga Allah SWT dapat membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada

penulis dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pembaca. Aamiin

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bandar Lampung, Penulis,

(13)

i DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang dan Masalah ... 1

1.2. Tujuan Penelitian ... 5

1.3. Kerangka Pemikiran ... 5

1.4. Hipotesis ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Jagung (Zea mays L.) ... 11

2.2. Sistem Olah Tanah ... 13

2.3. Pemupukan Nitrogen ... 15

2.4. Permeabilitas Tanah ... 16

2.5. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Permeabilitas ... 19

III. BAHAN DAN METODE ... 28

3.1. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan ... 28

3.2. Bahan dan Alat ... 28

3.3. Metode Penelitian ... 29

3.4. Pelaksanaan Penelitian ... 30

3.4.1. Pengolahan Tanah ... 31

3.4.2. Pembuatan petak percobaan dan penanaman ... 31

3.4.3. Pemupukan ... 31

3.4.4. Pemeliharaan ... 32

3.4.5. Panen ... 32

3.4.6. Pengambilan Contoh Tanah ... 32

3.5. Variabel Pengamatan ... 33

3.5.1. Variabel Utama ... 33

(14)

ii

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37

4.1 Rekapitulasi Analisis Ragam Variabel Penelitian ... 37

4.2 Permeabilitas Tanah ... 37

4.3 Karbon organik Tanah ... 42

4.4 Berat Volume Tanahdan Porositas Tanah ... 45

4.5 Tekstur Tanah ... 46

4.6 Struktur Tanah ... 48

4.7 Produksi Tanaman ... 49

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 50

5.1 Simpulan ... 50

5.2 Saran ... 50

[image:14.595.135.509.86.198.2]

DAFTAR PUSTAKA ... 52 LAMPIRAN

(15)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1. Perbedaan sistem olah tanah pada indikator kualitas lingkungan ... 15

Tabel 2. Klasifikasi permeabilitas tanah ... 19

Tabel 3. Rekapitulasi analisis ragam pengaruh sistem olah tanah dan pemupukan N terhadap sifat tanah ... 37

Tabel 4. Kelas Permeabilitas Tanah beberapa kombinasi sistem olah tanah dan pemupukan N ... 39

Tabel 5. Pengaruh sistem olah tanah dan pemupukan N terhadap Karbon Organik Tanah... 43

Tabel 6. Berat volume tanah dan porositas tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 45

Tabel 7. Tekstur tanah pada kedalaman 0--20 cm dan 20--40 cm ... 47

Tabel 8. Tipe atau bentuk struktur tanah pada berbagai sistem pengolahan tanah dan residu pemupukan N ... 48

Tabel 9. Pengaruh sistem olah tanah dan pemupukan nitrogen terhadap produksi tanaman jagung. ... 50

Tabel 10. Data pengukuran permeabilitas tanah di laboratorium akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen ... 58

Tabel 11. Hasil analisis permeabilitas tanah di laboratorium akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen ... 60

Tabel 12. Rata-rata kecepatan permeabilitas tanah pada jam ke 7, 8, 9, dan 10 akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen 61

(16)

iv

Tabel 14. Analisis ragam rata-rata kecepatan permeabilitas tanah pad jam ke 7, 8, 9, dan 10 akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen ... 62

Tabel 15. C-organik tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen ... 62

Tabel 16. Uji bartlett C-organik tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 63

Tabel 17. Analisis ragam C-organik tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 63

Tabel 18. Data bulk density akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen kedalaman 5 cm ... 64

Tabel 19. Bulk density akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan

pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 65

Tabel 20. Uji bartlett bulk density akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 65

Tabel 21. Analisis ragam bulk density akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 66

Tabel 22. Data porositas tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 67

Tabel 23. Porositas tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan

pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 68

Tabel 24. Uji bartlett porositas tanah akibat penerapan berbagai sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen pada kedalaman 5 cm ... 68

(17)

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1. Laju permeabilitas tanah dari jam pertama pengukuran sampai konstan pada kombinasi perlakuan olah tanah dan pemupukan nitrogen... 40

Gambar 2. Proses perendaman sample tanah dalam ring sample yang bertujuan untuk penjenuhan sample tanah ... 70

Gambar 3. Proses penyambungan ring sample berisi tanah dengan head

permeameter ... 70

Gambar 4. Proses pengukuran permeabilitas tanah dengan mengunakan

permeameter dengan metedo aliran tetap ... 71

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Masalah

Jagung merupakan salah satu tanaman pangan yang memiliki peranan strategis

dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan, karena

kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (food),

disamping itu juga jagung berperan sebagai bahan baku industri pangan, industri

pakan (feed), dan bahan bakar (fuel) (Siregar, 2009). Tanaman jagung sangat

bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di Indonesia, jagung merupakan

komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan

bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke-3 setelah gandum

dan padi (Badan Pusat Statistik, 2016).

Provinsi Lampung adalah salah satu provinsi penghasil jagung terbesar di

Indonesia. Pada 2017, Lampung menduduki peringkat ketiga penghasil jagung di

Indonesia setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada 2016 produksi jagung

sebesar 1,7 juta ton, sedangkan pada 2017 produksi jagung Lampung meningkat

menjadi 2,4 juta ton. Secara nasional, Lampung menyumbang sebesar 8,59 %

produksi jagung. Salah satu program pendukung dari peningkatan produksi

jagung Lampung yakni fasilitasi pengembangan jagung 189 ribu hektar dan

(19)

2

lahan jagung di seluruh sentra kini mencapai 464.712 hektar (Kumpastuntas,

2018).

Lahan kering adalah salah satu sumberdaya alam yang berpotensi untuk

meningkatkan produksi pertanian di Indonesia. Namun, potensi tersebut belum

dimanfaatkan secara optimal. Kendala-kendala yang sering ditemui pada lahan

kering diantaranya adalah tingkat kesuburan tanah yang rendah, erosi yang tinggi

dan kekeringan di musim kemarau (Utomo, dkk., 1993). Untuk memberdayakan

lahan kering secara maksimum perlu teknik budidaya yang cocok dalam

pemecahan masalah penggunaan lahan kering untuk tanaman semusim. Olah

tanah konservasi merupakan salah satu pendekatan sistem produksi tanaman yang

memperhatikan konservasi lahan (Utomo, dkk.,1989).

Di Indonesia cara persiapan lahan yang memenuhi kriteria olah tanah konservasi

adalah pengolahan tanah minimum dan tanpa pengolahan tanah (Utomo, 1999).

Penerapan olah tanah konservasi memiliki beberapa keuntungan antara lain dapat

(1) meningkatkan kualitas mulsa in situ, (2) meningkatkan N dan hara tanah, dan

(3) memanfaatkan residu pupuk dari tanaman sebelumnya secara efisien (Utomo,

dkk., 1989). Pada sistem olah tanah konservasi, tanah diolah seperlunya saja atau

bila perlu tidak diolah sama sekali, dan mulsa dari residu tanaman sebelumnya

dibiarkan menutupi permukaan lahan minimal 30%.

Menurut Abdurachman, dkk. (1998), olah tanah konservasi (OTK) merupakan

cara penyiapan lahan yang dapat mengurangi kehilangan tanah dan air kerena

erosi dan penguapan dibandingkan dengan cara-cara penyiapan lahan secara

(20)

3

pemberian bahan organik dalam bentuk mulsa yang cukup (Rachman, dkk., 2004).

Mulsa dapat menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi laju pemadatan tanah.

Hakim, dkk. (1986) menyatakan bahwa dari semua sumber unsur hara, Nitrogen

dibutuhkan paling banyak, tetapi ketersediaannya selalu rendah karena

mobilitasnya yang sangat tinggi. Pasokan N dalam tanah merupakan faktor yang

sangat penting dalam kaitannya dengan pemeliharaan atau peningkatan kesuburan

tanah yang akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pemupukan N merupakan

salah satu kegiatan yang dilakukan dalam budidaya pertanian, karena kebutuhan

N untuk pertumbuhan tanaman tidak tersedia begitu saja dan N-organik yang ada

di dalam tanah tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman (Sanchez,

1992).

Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman

untuk dapat meningkatkan mutu dan produksi tanaman (Mulyani, 2003).

Pemupukan N yang dilakukan terus-menerus pada musim tanam sebelumnya

dengan sistem olah tanah konservasi memiliki kandungan N tanah yang lebih

tinggi dibandingkan dengan olah tanah intensif (Niswati, dkk., 1994).

Salah satu sifat fisik tanah yang penting adalah kemampuan untuk meloloskan

aliran air melalui ruang pori yang disebut dengan permeabilitas tanah.

Permeabilitas adalah kualitas tanah untuk meloloskan air atau udara yang diukur

berdasarkan besarnya aliran melalui satuan tanah yang telah dijenuhi terlebih

dahulu per satuan waktu tertentu (Susanto, 1994). Permeabilitas sangat

dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah. Perubahan pada suhu air sedikit

(21)

4

bervariasi di antara limit yang luas, mulai kurang dari 25 cm tiap tahun pada tanah

liat yang padat sampai dengan beberapa ribu meter per tahun dalam formasi

kerikil. Untuk tanah yang tak jenuh air kadar kelembaban (moisture content)

adalah salah satu dari faktor dominan yang mempengaruhi nilai laju permeabilitas

tanah (Israelsen danHansen, 1962 dalam Siregar, dkk., 2013).

Pengukuran permeabilitas tanah sangat penting untuk beberapa kepentingan di

bidang pertanian, misalnya masuknya air ke dalam tanah, gerak air ke akar

tanaman, aliran air drainase, evaporasi air pada permukaan tanah, kesemuanya itu

dapat dipengaruhi oleh permeabilitas tanah yang mana berkaitan pula dengan

peranan konduktivitas hidroliknya (Soepardi, 1975 dalam Siregar, dkk., 2013).

Permeabilitas dapat mempengaruhi kesuburan tanah. Permeabilitas berbeda

dengan drainase yang lebih mengacu pada proses pengaliran air saja,

permeabilitas dapat mencakup bagaimana air, bahan organik, bahan mineral,

udara dan partikel–partikel lainnya yang terbawa bersama air yang akan diserap

masuk ke dalam tanah (Rohmat, 2009).

Penelitian ini dilaksanakan untuk dapat menjawab masalah yang dirumuskan

dalam pertanyaan sebagai berikut :

1. Apakah sistem olah tanah konservasi pada lahan pertanaman jagung (Zea

mays L.) mempunyai permeabilitas tanah yang lebih cepat daripada sistem

olah tanah intensif

2. Apakah lahan pertanaman jagung (Zea mays L) dengan pemupukan Nitrogen

200 kg ha-1 mempunyai permeabilitas tanah yang lebih cepat dibanding

(22)

5

3. Apakah terjadi interaksi antara sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen

terhadap permeabilitas tanah pada lahan pertanaman jagung (Zea mays L.)

1.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

1. Untuk mengetahui pengaruh sistem olah tanah konservasi pada lahan

pertanaman jagung (Zea mays L.) terhadap permeabilitas tanah dibanding

dengan sistem olah tanah intensif

2. Untuk mengetahui pengaruh pemupukan Nitrogen 200 kg ha-1 terhadap

permeabilitas tanah pada lahan pertanaman jagung (Zea mays L.) dibanding

dengan tanpa pemupukan Nitrogen

3. Untuk mengetahui interaksi antara sistem olah tanah dan pemupukan

Nitrogen terhadap permeabilitas tanah pada lahan pertanaman jagung

(Zea mays L.)

1.3. Kerangka Pemikiran

Jagung merupakan salah satu tanaman pangan yang memiliki peranan strategis

dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan, karena

kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (food),

disamping itu jagung berperan sebagai bahan baku industri pangan, industri pakan

(feed), dan bahan bakar (fuel) (Siregar, 2009). Tanaman jagung sangat

bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di Indonesia, jagung merupakan

(23)

6

bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke-3 setelah gandum

dan padi (Badan Pusat Statistik, 2016).

Pengolahan tanah tanpa didukung dengan tindakan konservasi tanah akan

menyebabkan menurunnya produktivitas lahan secara cepat. Tanpa olah tanah,

lahan tidak diolah sama sekali kecuali alur kecil atau lubang tugalan untuk

penempatan benih dan pupuk serta gulma dikendalikan dengan herbisida. Akibat

dari adanya mulsa dan tidak adanya manipulasi maka pada lahan tersebut akan

terjadi penambahan bahan organik tanah, serta tingkat erosi menjadi lebih rendah

(Utomo, 1990).

Pengolahan tanah yang berlebihan mempunyai pengaruh buruk yaitu dapat

menurunkan kandungan bahan organik tanah, menyebabkan hilangnya permukaan

tanah yang dapat menimbulkan erosi, kekeringan tanah, dan agregasi tanah

menurun. Dengan sistem pertanian tanpa olah tanah, erosi dapat ditekan, bahan

organik dan air tanah dapat ditingkatkan, serta suhu tanah dapat diturunkan

(Utomo, 1997).

Pengolahan tanah intensif secara keseluruhan selain kurang efisien juga akan

menyebabkan terjadinya degradasi lahan sehingga daya dukung dan produktivitas

tanah menurun yang akhirnya untuk jangka panjang menyebabkan sistem

pertanian tersebut tidak berkelanjutan. Kerugian yang ditimbulkan olah tanah

intensif dalam jangka panjang adalah merugikan pembutiran tanah permukaan,

mempercepat oksidasi dan pelaksanaan pengolahan tanah dengan alat-alat berat

(24)

7

organik didalam tanah. Pengolahan tanah yang berlebihan dapat mempercepat

kemerosotan kesuburan tanah dan merusak sifat fisik tanah (Rafiudin, dkk., 2006).

Olah tanah secara minimum atau tanpa olah tanah dalam jangka panjang secara

umum dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah (Utomo, 1991). Karena

kandungan bahan organik pada OTM (olah tanah minimum) dan TOT ( tanpa olah

tanah) cukup tinggi sehingga agregasi yang terbentuk semakin mantap berakibat

menurunkan kerapatan isi dan kekerasan tanah (Subiantoro, dkk., 1995).

Pengolahan tanah minimum dalam barisan tanaman disertai dengan pemberian

mulsa dapat memelihara atau bahkan memperbaiki struktur tanah. Hal tersebut

dikarenakan adanya peningkatan bahan organik yang menyebabkan terjadinya

perbaikan struktur tanah. Struktur tanah yang baik menunjukan bahwa terdapat

penyebaran pori yang baik yaitu terdapat ruang pori di dalam dan diantara agregat

yang diisi air dan udara dan sekaligus menunjukkan kemantapan agregatnya

(Wirosoedarmo, 2005).

Kontribusi penerapan olah tanah minimum dengan pemberian mulsa terlihat pada

penurunan kepadatan tanah. Hal ini disebabkan karena olah tanah minimum

menciptakan kondisi struktur tanah tidak mudah hancur oleh tumbukan butir-butir

hujan sehingga permeabilitas tanah dapat ditingkatkan. Demikian juga peranan

mulsa, dengan pemberian mulsa maka permukaan tanah akan terlindungi dari

daya rusak butir-butir hujan, sehingga porositas tanah tetap baik dan permeabilitas

(25)

8

Arsyad (2010), mengemukakan bahwa pengolahan tanah konservasi relatif lebih

menguntungkan untuk pertanian jangka panjang, di antaranya memelihara atau

memperbaiki struktur tanah dan kandungan bahan organik tanah, meningkatkan

ketersediaan air, memperbaiki infiltrasi dan mengurangi kerusakan lingkungan,

serta dapat meningkatkan hasil tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa

teknik olah tanah konservasi yang disertai pemberian mulsa berpengaruh terhadap

penurunanan ketahanan penetrasi tanah dan meningkatkan permeabilitas tanah

(Soepardi, 1983 dalam Endriani, 2010).

Bahan organik lebih ringan daripada bahan mineral. Disamping itu bahan organik

akan memperbesar pori tanah. Nilai bulk density lebih rendah, maka bahan

organik penyusun tanah tinggi karena bahan organik dapat memperkecil berat

tanah dan dapat memperbesar porositas tanah serta memiliki berat yang kecil

dibanding dengan bahan mineral (Pairunan, dkk., 1985).

Ketahanan penetrasi berhubungan erat dengan bobot isi, total ruang pori, dan

kandungan bahan organik tanah. Semakin tinggi kandungan bahan organik maka

semakin rendah bobot isi tanah, sehingga ketahanan penetrasi berkurang. Hal ini

sesuai dengan pendapat Sarief (1986) bahwa penurunan ketahanan penetrasi tanah

diikuti menurunnya bobot isi tanah dan meningkatnya total ruang pori tanah,

peningkatan ketahan penetrasi akan meningkatkan bobot isi tanah, menurunkan

pori aerase dan menurunkan permeabilitas tanah.

Berbagai sistem olah tanah akan berpengaruh terhadap kadar bahan organik tanah

dan laju mineralisasi N tanah. Handayani (1999), menyatakan bahwa sistem olah

(26)

9

yang termineralisasi. Sistem olah tanah konvensional membuat struktur tanah

menjadi gembur, aerasi baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas

mikroorganisme dan laju mineralisasi N sehingga N menjadi tersedia. Hal ini

akan mempercepat kehilangan N dalam tanah, karena N terabsorbsi oleh tanaman,

tercuci dan menguap sehingga kadar N tanah cepat berkurang. Sedangkan pada

tanah yang diolah terbatas dan tidak diolah sama sekali, laju mineralisasi N

berjalan sedang dan agak lambat, sehingga kadar N organik tanah lebih dapat

dipertahankan.

Penambahan pupuk nitrogen (N) ke dalam tanah pada dasarnya tidak dapat

digunakan semuanya oleh tanaman. Hal ini di sebabkan karena sifat N yang

sangat mobil sehingga akan mudah hilang dari dalam tanah, terimmobilisasi oleh

jasad renik, tercuci dan tererosi (Hakim, dkk., 1986).

Hasil penelitian Rauf dan Ritonga (1989) membuktikan bahwa tanah yang diolah

terbatas mempunyai kadar N total yang lebih tinggi dibandingkan pada tanah yang

diolah konvensional. Keadaan tanah yang ideal adalah adanya keseimbangan

antara pelepasan N untuk tanaman dengan N organik tanah. Dengan adanya

sistem olah tanah konservasi dengan pemupukan N, kesuburan tanah dapat

ditingkatkan, yakni dengan bertambahnya bahan organik akibat pemberian mulsa

pada lahan (Utomo, 2004).

Menurut penelitian Akbar, dkk. (2012), dosis pupuk urea yang diuji cobakan pada

lahan pertanaman kedelai berpengaruh sangat nyata terhadap rata-rata

permeabilitas tanah (cm jam-1). Dosis pupuk urea 25 kg ha-1 dan 50 kg ha -1 pada

(27)

10

dengan dosis pupuk 0 kg ha -1. Peningkatan nilai laju permeabilitas tanah diduga

sebagai akibat menurunnya berat volume tanah dan meningkatnya total porositas

tanah. Sifat fisika tanah yang berpengaruh terhadap permeabilitas tanah yaitu

kandungan air tanah, berat volume tanah, porositas total, pori drainase cepat, pori

drainase lambat, kandungan pasir kasar, kandungan pasir halus, kandungan debu

dan kandungan liat. Pemberian dosis pupuk pupuk urea 25 kg ha-1 dan 50 kg ha -1

diduga mampu memperbaiki struktur tanah yang semula padat menjadi lebih

gembur.

1.4. Hipotesis

1. Sistem olah tanah konservasi pada lahan pertanaman jagung (Zea mays L.)

mempunyai permeabilitas tanah yang lebih cepat daripada sistem olah tanah

intensif

2. Pada lahan pertanaman jagung (Zea mays L.) dengan pemupukan Nitrogen

200 kg ha-1 memberikan permeabilitas tanah yang lebih cepat dibanding

dengan tanpa pemupukanNitrogen

3. Terdapat interaksi antara sistem olah tanah dan pemupukan Nitrogen terhadap

(28)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Jagung (Zea mays L.)

Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman berrumah dua yang termasuk dalam

kelompok tanaman C4. Daun tanaman C4 berfungsi sebagai agen penghasil

fotosintat yang didistribusikan ke seluruh jaringan tanaman. Jalur lintasan

fotosintesis C4 menjelaskan bahwa daun tanaman ini memiliki laju fotosintesi

yang tinggi, tingkat kompensasi CO2 yang rendah dan tidak jenuh cahaya untuk

fotosintesis sekalipun dalam cahaya matahari penuh (Goldsworthy, 1992 dalam

Larasati, 2011). Klorofil pada tanaman ini sebagian besar berada pada seludang

pembuluh (bundle sheat cell). Di dalam sel ini terjadi dekarboksilasi asam malat

dan aspartat yang menghasilkan CO2 kemudian masuk pada siklus Kelvin

membentuk pati dan selulosa (Muhajir, 1998).

Jagung merupakan tanaman serealia yang paling produktif di dunia, sesuai

ditanam di wilayah bersuhu tinggi, dan pematangan tongkol ditentukan oleh

akumulasi panas yang diperoleh tanaman. Luas pertanaman jagung di seluruh

dunia lebih dari 100 juta ha, menyebar di 70 negara, termasuk 53 negara

berkembang. Penyebaran tanaman jagung sangat luas karena mampu beradaptasi

dengan baik pada berbagai lingkungan. Jagung tumbuh baik di wilayah tropis

(29)

12

permukaan laut (dpl), dengan curah hujan tinggi, sedang, hingga rendah sekitar

500 mm per tahun (Dowswell, 1996 dalam Larasati, 2011).

Pusat produksi jagung di dunia tersebar di negara tropis dan subtropis. Tanaman

jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase baik, dengan

kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembaban tanah kurang dari 40%

kapasitas lapang atau bila batangnya terendam air. Pada dataran rendah, umur

jagung berkisar antara 3 -- 4 bulan, tetapi di dataran tinggi di atas 1000 m dpl

berumur 4 -- 5 bulan. Umur panen jagung sangat dipengaruhi oleh suhu, setiap

kenaikan tinggi tempat 50 m dari permukaan laut, umur panen jagung akan

mundur satu hari (Hyene, 1987).

Areal dan agroekologi pertanaman jagung sangat bervariasi, dari dataran rendah

sampai dataran tinggi, pada berbagai jenis tanah, berbagai tipe iklim dan

bermacam pola tanam. Tanaman jagung dapat ditanam pada lahan kering

beriklim basah dan beriklim kering, sawah irigasi dan sawah tadah hujan, toleran

terhadap kompetisi pada pola tanam tumpang sari, sesuai untuk pertanian

subsistem, pertanian komersial skala kecil, menengah, hingga skala sangat besar.

Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman jagung rata-rata 26 o -- 30 oC dan pH

tanah 5,7 -- 6,8 (Subandi, 1988 dalam Larasati, 2011).

Tanaman jagung memiliki susunan tubuh (morfologi) terdiri dari akar, batang,

daun bunga dan buah. Perakaran tanaman jagung terdiri dari akar utama, akar

cabang, akar lateral, dan akar rambut. Sistem perakaran serabut yang berfungsi

sebagai alat untuk menghisap air serta garam-garam yang terdapat dalam tanah,

(30)

13

dan alat pernafasan. Batang jagung beruas-ruas (berbuku-buku) dengan jumlah

ruas bervariasi antara 10 -- 40 ruas. Tanaman jagung tidak bercabang. Panjang

batang jagung berkisar antara 60 cm -- 300 cm (Rukmana, 1997).

2.2. Sistem Olah Tanah

Teknologi pengolahan tanah merupakan salah satu dari pengelolaan tanah dalam

pertanian. Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah

untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman dengan

tujuan pokok menciptakan daerah persemaian yang baik, membenamkan sisa

tanaman, dan mengendalikan tumbuhan pengganggu (Arsyad, 2010).

Ada dua sistem olah tanah, yaitu olah tanah intensif (OTI) dan olah tanah

konservasi (OTK). Menurut Nugroho (1991), pengolahan tanah secara intensif

berarti mengubah tempat pertanaman dengan menggunakan alat pertanian,

sehingga diperoleh susunan tanah yang baik ditinjau dari struktur dan porositas

tanah. Olah tanah intensif umumnya bertujuan untuk memperoleh hasil yang

maksimal tanpa memperhitungkan faktor berkelanjutannya (daya dukung dan

kelestarian lahan). Pengolahan tanah yang dilakukan secara intensif terus

menerus dalam jangka waktu yang panjang akan menurunkan daya dukung lahan,

sebagai akibat dari terjadinya degradasi tanah.

Olah tanah konservasi merupakan teknologi penyiapan lahan yang berwawasan

lingkungan. Utomo (1995) mendefinisikan olah tanah konservasi (OTK) sebagai

suatu cara pengolahan tanah yang bertujuan untuk menyiapkan lahan agar

(31)

14

aspek konservasi tanah dan air. Pada sistem OTK, tanah diolah seperlunya saja

atau bila perlu tidak sama sekali, dan mulsa dari residu tanaman sebelumnya

dibiarkan menutupi permukaan lahan minimal 30%. Sistem olah tanah yang

masuk dalam rumpun OTK antara lain olah tanah bermulsa (OTB), olah tanah

minumum (OTM) dan tanpa olah tanah (TOT) (Utomo, 2004).

Sistem olah tanah minimum merupakan sistem pengolahan tanah dengan

pengolahan seperlunya saja. Gulma dapat dikendalikan secara manual dan

kimiawi. Seperti halnya sistem tanpa olah tanah sisa-sisa tanaman pada musim

tanam sebelumnya digunakan untuk menutupi permukaan tanah, agar menjaga

kelembaban aerasi yang baik, dan menyimpan air untuk kebutuhan tanaman

(Utomo, 1989).

Pengolahan tanah intensif secara keseluruhan selain kurang efisien juga akan

menyebabkan terjadinya degradasi lahan sehingga daya dukung dan produktivitas

tanah menurun yang akhirnya untuk jangka panjang menyebabkan sistem

pertanian tersebut tidak berkelanjutan. Kerugian yang ditimbulkan olah tanah

intensif dalam jangka panjang adalah: merugikan pembutiran tanah permukaan,

mempercepat oksidasi dan pelaksanaan pengolahan tanah dengan alat-alat berat

cenderung merusak agregat tanah yang mantap dan mempercepat oksidasi bahan

organik didalam tanah. Pengolahan tanah yang berlebihan dapat mempercepat

kemerosotan kesuburan tanah dan merusak sifat fisik tanah (Rafiudin, dkk., 2006).

Adapun perbedaan sistem olah tanah pada indikator kualitas lingkungan adalah

(32)
[image:32.595.118.514.97.398.2]

15

Tabel 1. Perbedaan sistem olah tanah pada indikator kualitas lingkungan Olah Tanah Konservasi Olah Tanah Intensif Infiltrasi meningkat

Erosi tanah menurun

Bahan organik tanah meningkat Sifat fisika, kimia, dan biologi tanah meningkat

Produktivitas tanaman meningkat Biaya produksi menurun

Pendapatan petani jangka panjang meningkat

Pencemaran air (sedimen, pupuk, pestisida) menurun

Pemanasan global menurun

Infiltrasi menurun Erosi tanah meningkat

Bahan organik tanah menurun Sifat fisika, kimia, dan biologi tanah meningkat

Produktivitas tanaman menurun Biaya produksi meningkat

Pendapatan petani jangka panjang menurun

Pencemaran air (sedimen, pupuk, pestisida) meningkat

Pemanasan global meningkat Sumber : Utomo (2006)

2.3. Pemupukan Nitrogen

Nitrogen merupakan salah satu unsur hara makro bagi pertumbuhan tanaman yang

sangat diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan seperti daun, batang, dan

akar (Hakim, dkk., 1986). Nitrogen diserap oleh tanaman dengan jumlah

terbanyak yaitu 55 -- 60% dibandingkan dengan unsur lain yang didapatkan dari

tanah (Krisna, 2002). Sumber nitrogen di dalam tanah adalah dari fiksasi oleh

mikroorganisme, air irigasi dan hujan, absorpsi amoniak, perombakan bahan

organik, dan pemupukan. Nitrogen di dalam tanah mempunyai dua bentuk utama,

yaitu nitrogen organik dan nitrogen anorganik berupa amonium (NH4+), amoniak

(NH3), nitrit (NO2-) dan nitrat (NO3-) (Stevenson, 1982 dalam Krisna, 2002).

Mineralisasi merupakan proses konversi nitrogen bentuk organik menjadi bentuk

(33)

16

Nitrogen merupakan salah satu unsur yang paling luas penyebarannya di alam.

Unsur N juga paling banyak dibutuhkan oleh tanaman sebagai komponen

produksi, kecuali untuk tanaman yang produksinya berupa buah berair atau

umbi/akar. Menurut Hakim, dkk., (1986) nitrogen merupakan penyusun setiap sel

hidup, karenanya terdapat pada seluruh bagian tanaman.

Nitrogen di dalam tanah berasal dari bahan organik, hasil pengikatan N dari udara

oleh mikroba, pupuk, dan air hujan. Nitrogen yang dikandung tanah pada

umumnya rendah, sehingga harus selalu ditambahkan dalam bentuk pupuk atau

sumber lainnya pada setiap awal pertanaman. Selain rendah, nitrogen di dalam

tanah mempunyai sifat yang dinamis (mudah berubah dari satu bentuk ke bentuk

lain seperti NH4+ menjadi NO3-, NO, N2O, dan N2 dan mudah hilang tercuci

bersama air drainase (Taufan, 2003 dalam Ardiansyah, 2013).

Suplai nitrogen di dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam

kaitannya dengan pemeliharaan atau peningkatan kesuburan tanah. Peranan N

terhadap pertumbuhan tanaman adalah jelas, karena senyawa organik di dalam

tanaman pada umumnya mengandung N anatara lain asam-asam amino, enzim

dan bahan lainnya yang menyalurkan energi (Hakim, dkk., 1986).

2.4. Permeabilitas Tanah

Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk meloloskan atau melewatkan

air. Permeabilitas tanah juga merupakan suatu kesatuan yang meliputi infiltrasi

tanah dan bermanfaat dalam mempermudah pengolahan tanah. Tanah dengan

(34)

17

larian (Rohmat, 2009). Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk

meneruskan air atau udara. Permeabilitas tanah biasanya diukur dengan istilah

kecepatan air yang mengalir dalam waktu tertentu yang ditetapkan dalam satuan

cm jam-1 (Hakim, dkk, 1986).

Selain itu permeabilitas juga merupakan pengukuran hantaran hidraulik tanah.

Hantaran hidraulik tanah timbul adanya pori kapiler yang saling bersambungan

dengan satu dengan yang lain. Secara kuantitatif hantaran hidraulik jenuh dapat

diartikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam

keadaan jenuh. Dalam hal ini sebagai cairan adalah air dan sebagai media pori

adalah tanah. Penetapan hantaran hidraulik didasarkan pada hukum Darcy.

Dalam hukum ini tanah dianggap sebagai kelompok tabung kapiler halus dan

lurus dengan jari – jari yang seragam. Sehingga gerakan air dalam tabung

tersebut dianggap mempunyai kecepatan yang sama (Rohmat, 2009).

Permeabilitas tanah jenuh sangat bervariasi. Di dalam studi irigasi dan drainase,

permeabilitas adalah variabel yang dominan, beberapa tanah memiliki

permeabilitas yang berbeda. Pengetahuan permeabilitas tanah sangat penting

untuk kemajuan dalam studi ketersediaan air dan efisiensi aplikasi air, dan dalam

desain sistem drainase untuk reklamasi tanah salin dan alkali. Untuk aplikasi

irigasi biasa, tidak praktis untuk mengukur semua faktor yang mempengaruhi

permeabilitas, tetapi praktis dan sangat penting untuk mengukur permeabilitas

tanah di laboratorium dan di lapangan (Israelsen dan Hansen, 1962 dalam Siregar,

(35)

18

Permeabilitas sangat mempengaruhi irigasi, permeabilitas merupakan kemampuan

tanah untuk menahan air, jika kemampuan tanah dalam menahan air lemah maka

akan mempengaruhi air yang ada dalam saluran irigasi, dengan demikian tanah

pada saluran irigasi yang mempunyai permeabilitas lemah akan menyebabkan

tinggi air yang akan hilang (merembes) (Sunardi, 2006).

Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang

dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah.

Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan

makin rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir

kasar yang mengandung butiran-butiran halus memiliki harga k yang lebih rendah

dan pada tanah ini koefisien permeabilitas merupakan fungsi angka pori. Kalau

tanahnya berlapis-lapis permeabilitas untuk aliran sejajar lebih besar dari pada

permeabilitas untuk aliran tegak lurus. Lapisan permeabilitas lempung yang

bercelah lebih besar dari pada lempung yang tidak bercelah (unfissured) (Seta,

1994).

Dalam menghitung pemindahan air melalui tanah pada kondisi jenuh dikenal

hukum Darcy yang biasa digunakan dalam menghitung permeabilitas. Hukum

Darcy merupakan satu ukuran pengaliran air pada tanah jenuh dan dirumuskan

sebagai berikut:

k=Q L/A Δh t...(1)

atau

(36)

19

di mana:

k = koefisien permeabilitas (cm jam-1)

Q = debit air ( cm3 jam-1)

A = luas permukaan tanah (cm2)

Δh = tinggi muka air dan tebal tanah (cm)

L = tebal/kedalaman tanah (cm)

t = waktu

(Israelsen dan Hansen, 1962 dalam Siregar, dkk., (2013), Kirkham, dan Powers,

(1971)).

Permeabilitas tanah dapat dikelompokkan berdasarkan kelas kecepatannya.

Uhland dan O’neal (1951) mengelompokkan kelas permeabilitas tanah seperti

[image:36.595.118.457.445.611.2]

yang terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Klasifikasi permeabilitas tanah

Kelas Permeabilitas (cm jam-1) Sangat lambat

Lambat Agak lambat

Sedang Agak cepat

Cepat Sangat cepat

< 0,125 0,125 – 0,50 0,50 – 2,00 2,00 – 6,25 6,25 – 12,50 12,50 – 25,00 >25,00 Sumber : Uhland dan O’neal (1951).

2.5. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Permeabilitas

Permeabilitas timbul karena adanya pori kapiler yang saling bersambungan satu

(37)

20

kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam keadaan jenuh.

Permeabilitas ini merupakan suatu ukuran kemudahan aliran melalui suatu media

porous. Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan dengan koefisien

permeabilitas (Hanafiah, 2005).

Beberapa faktor yang mempengaruhi permeabilitas di antaranya tekstur tanah,

bahan organik tanah, bulk density, dan porositas tanah.

Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam bentuk persentase) fraksi–fraksi

pasir, debu, dan liat. Partikel-partikel pasir memiliki luas permukaan yang kecil

dibandingkan debu dan liat tetapi ukurannya besar. Semakin banyak ruang pori

diantara partikel tanah semakin dapat memperlancar gerakan udara dan air. Luas

permukaan debu jauh lebih besar dari permukaan pasir, dimana tingkat pelapukan

dan pembebasan unsur hara untuk diserap akar lebih besar dari pasir. Tanah yang

memiliki kemampuan besar dalam memegang air adalah Fraksi Liat (Hanafiah,

2005).

Menurut Hardjowigeno (2003), kelas tekstur tanah menunjukkan perbandingan

butir-butir pasir (0,005 mm -- 2 mm), debu (0,002 mm -- 0,005 mm), dan liat

(< 0,002 mm) di dalam fraksi tanah halus. Tekstur menentukan tata air, tata

udara, kemudahan pengelolaan, dan struktur tanah. Penyusun tekstur tanah

berkaitan erat dengan kemampuan memberikan zat hara untuk tanaman,

kelengasan tanah, perkembangan akar tanaman, dan pengelolaan tanah.

Berdasarkan persentase perbandingan fraksi – fraksi tanah, maka tekstur tanah

(38)

21

tekstur tanah mengakibatkan kualitas tanah semakin menurun karena

berkurangnya kemampuan tanah dalam menghisap air.

Tekstur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menentukan

kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Tektur tanah akan

mempengaruhi kemampuan tanah menyimpan dan menghantarkan air,

menyimpan dan menyediakan hara tanaman. Tanah bertekstur pasir yaitu tanah

dengan kandungan pasir > 70 %, porositasnya rendah (< 40%), sebagian ruang

pori berukuran besar sehingga aerasinya baik, daya hantar air cepat, tetapi

kemampuan menyimpan zat hara rendah. Tanah pasir mudah diolah, sehingga

juga disebut tanah ringan. Tanah disebut bertekstur berliat jika liatnya > 35 %

kemampuan menyimpan air dan hara tanaman tinggi. Air yang ada diserap

dengan energi yang tinggi, sehingga liat sulit dilepaskan terutama bila kering

sehingga kurang tersedia untuk tanaman. Tanah liat juga disebut tanah berat

karena sulit diolah, tanah berlempung, merupakan tanah dengan proporsi pasir,

debu, dan liat sedemikian rupa sehingga sifatnya berada diantara tanah berpasir

dan berliat. Jadi aerasi dan tata udara serta udara cukup baik, kemampuan

menyimpan dan menyediakan air untuk tanaman tinggi. Mineral liat merupakan

kristal yang terdiri dari susunan silika tetrahedral dan alumia oktahedral. Didalam

tanah selain dari mineral liat, muatan negatif juga berasal dari bahan organik.

Muatan negatif ini berasal dari ionisasi hidrogen pada gugusan karboksil atau

penolik (Islami dan Utomo, 1995).

Tekstur sangat mempengaruhi permeabilitas tanah. Hal ini dikarenakan

(39)

22

pasir akan mudah melewatkan air dalam tanah. Hal ini terkait dengan pengaruh

tekstur terhadap proporsi bahan koloidal, ruang pori dan luas permukaan adsorbsi,

yang semakin halus teksturnya akan makin banyak, sehingga makin besar

kapasitas simpan airnya, hasilnya berupa peningkatan kadar dan ketersediaan air

tanah (Hanafiah, 2005).

Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah adalah komponen tanah yang berasal dari makhluk hidup

(tumbuhan atau hewan) yang telah mati. Umumnya bahan organik di tanah

mineral berkisar 0,5 -- 5,0 %. Terlepas dari kadarnya yang sangat rendah di tanah

mineral, fraksi organik sangat mempengaruhi sifat–sifat tanah, fungsi ekosistem,

dan banyak proses ekosistem. Sifat–sifat tanah yang dipengaruhinya meliputi

sifat biologi, kimia, dan fisika tanah (Mukhlis, dkk., 2011).

Berdasarkan kandungan bahan organiknya tanah dapat dikelompokkan menjadi

kelompok tanah mineral dan tanah organik. Tanah mineral meliputi tanah – tanah

yang kandungan bahan organiknya kurang dari 20 % atau tanah yang mempunyai

lapisan organik dengan ketebalan kurang dari 30 cm (diukur dari permukaan

tanah) dan tanah organik adalah tanah yang kandungan bahan organiknya lebih

dari 65 % (hingga kedalaman 1 meter apabila tanah belum diolah) (Kartasapoetra

dan Sutedjo, 2005).

Komponen organik tanah adalah residu tumbuhan dan hewan di dalam tanah pada

berbagai tingkat dekomposisi. Kadarnya ± 5 % dari total volume tanah.

Konsentrasi C organik berkisar dari < 5 g/kg C tanah (0,5 % C) hingga > 130 g/kg

(40)

23

0 cm -- 10 cm, pada lahan lempung padang pasir (Aridisol). Bahan organik terdiri

atas organisme hidup (10 %), akar tanaman (10 %), dan humus (80 %). Unsur

penyusun utama dari bahan organik tanah adalah C (52 -- 58 %), O (34 -- 39 %),

H (3,3 -- 4,8 %), dan N (3,7 -- 4,1 %) (Mukhlis, dkk., 2011).

Bahan organik pada umumnya ditemukan di atas permukaan tanah, jumlahnya

tidak besar, sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap sifat-sifat

tanah. Dapat dilihat bahwa bahan organik dapat berfungsi sebagai granulator

memperbaiki srtuktur tanah, sebagai sumber unsur hara N, P, S, kapasitas

meningkatkan nilai KTK tanah merupakan sumber energi bagi mikroorganisme

tanah dan menambah kemampuan tanah menahan air (Hardjowigeno, 2003).

Berat Volume Tanah

Berat volume tanah menyatakan berat volume tanah, dimana seluruh ruang tanah

diduduki butir padat dan pori yang masuk dalam perhitungan. Berat volume

dinyatakan dalam massa suatu kesatuan volume tanah kering. Volume yang

dimaksudkan adalah menyangkut benda padat dan pori yang terkandung di dalam

tanah. Berat volume tanah dipengaruhi oleh padatan tanah, pori-pori tanah,

struktur, tekstur, ketersediaan bahan organik, serta pengolahan tanah sehingga

dapat dengan cepat berubah akibat pengolahan tanah dan praktek budidaya

(Hardjowigeno, 2003).

Tanah lebih padat mempunyai berat volume tanah yang lebih besar dari pada

tanah mineral yang bagian atasnya mempunyai kandungan berat volume tanah

yang lebih rendah dibandingkan tanah dibawahnya. Berat volume tanahdi

(41)

24

cm-3. Tanah organik memiliki nilai berat volume tanah yang lebih mudah,

misalnya dapat mencapai 0,1 g cm-3 -- 0,9 g cm-3 pada bahan organik. Berat

volume tanah atau kerapatan massa tanah banyak mempengaruhi sifat fisik tanah,

seperti porositas, kekuatan, daya dukung, kemampuan tanah menyimpan air

drainase dan lain-lain. Sifat fisik tanah ini banyak bersangkutan dengan

penggunaan tanah dalam berbagai keadaan (Hardjowigeno, 2003).

Bahan organik lebih ringan daripada bahan mineral. Disamping itu bahan organik

akan memperbesar pori tanah. Nilai berat volume tanah akan lebih rendah bahan

organik penyusun tanah tinggi karena bahan organik dapat memperkecil berat

tanah dan dapat memperbesar porositas tanah serta memiliki berat yang kecil

dibanding dengan bahan mineral. Tanah dengan nilai berat volume tanah yang

kecil baik untuk lahan pertanian sebab bulk density yang kecil bahan organik yang

dikandungnya akan semakin besar sehingga akan menyebabkan aerasi dalam

tanah tersebut menjadi lebih baik. Tanah yang memiliki berat volume tanah

tinggi atau besar mempunyai kandungan bahan mineral yang banyak, namun

porositasnya rendah karena semakin tinggi nilai berat volume tanahnya maka

porositasnya akan berkurang (Pairunan, dkk., 1985).

Menurut Hakim, dkk (1986), berat volume tanah pada pertumbuhan sedang dan

pertumbuhan kecil (1,05 -- 1,32) relatif tinggi dibandingkan pertumbuhan baik

(1,04 -- 1,18). Hal ini menunjukkan semakin tinggi berat volume tanah

menyebabkan kepadatan tanah meningkat, aerasi dan drainase terganggu,

sehingga perkembangan akar menjadi tidak normal. Nilai berat volume tanah

(42)

25

organik dan mineral, porositas, daya memegang air, sifat drainase, dan

kemudahan tanah ditembus akar.

Berat volume tanah sangat berhubungan dengan particle density, jika particle

density tanah sangat besar maka berat volume tanah juga besar. Hal ini

dikarenakan partikel density berbanding lurus dengan berat volume tanah, namun

apabila tanah memiliki tingkat kadar air yang tinggi maka partikel density dan

berat volume tanah akan rendah. Dapat dikatakan bahwa particle density

berbanding terbalik dengan kadar air. Hal ini terjadi jika suatu tanah memiliki

tingkat kadar air yang tinggi dalam menyerap air tanah, maka kepadatan tanah

menjadi rendah karena pori-pori di dalam tanah besar sehingga tanah yang

memiliki pori besar akan lebih mudah memasukkan air di dalam agregat tanah

(Hanafiah, 2005).

Berat volume tanah menunjukkan perbandingan berat tanah terhadap volume total

(udara, air, dan padatan) yang dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

ρb=Ms / Vt ...(3)

di mana :

ρb = berat volume tanah (g cm-3 )

Ms = massa tanah (g)

Vt = volume total ( cm3 )

(Hillel, 1981)

Porositas Tanah

Porositas adalah proporsi ruang pori total (ruang kosong) yang terdapat dalam

(43)

26

indikator kondisi drainase dan aerasi tanah. Porositas dapat ditentukan melalui 2

cara, yaitu menghitung selisih bobot tanah jenuh dengan bobot tanah kering dan

menghitung ukuran volume tanah yang ditempati bahan padat. Komposisi

pori-pori tanah ideal terbentuk dari kombinasi fraksi debu, pasir, dan lempung.

Porositas itu sendiri mencerminkan tingkat kesarangan untuk dilalui aliran massa

air (permeabilitas, jarak per waktu) atau kecepatan aliran air untuk melewati

massa tanah (perkolasi, waktu per jarak). Kedua indikator ini ditentukan oleh

semacam pipa berukuran non kapiler (yang terbentuk dari pori–pori makro dan

meso yang berhubungan secara kontinu) di dalam tanah. Hal tersebut

menekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir memiliki porositas lebih kecil

daripada tanah liat. Sebab tanah pasir memiliki ruang pori total yang mungkin

rendah tetapi mempunyai proporsi yang besar yang disusun oleh komposisi

pori-pori yang besar yang efisien dalam pergerakan udara dan airnya. Ini berarti

karena persentase volume yang terisi pori-pori kecil pada tanah pasir

menyebabkan kapasitas menahan airnya rendah. Maka tanah–tanahyang memiliki

tekstur halus, memiliki ruang pori lebih banyak dan disusun oleh pori–pori kecil

karena proporsinya relatif besar (Susanto, 1994).

Porositas menunjukkan indeks dari volume pori relatif dalam tanah. Nilai

porositas umumnya berkisar antara 0,3 -- 0,6 (30 % -- 60 %). Porositas juga

berhubungan dengan kerapatan massa tanah (bulk density) sesuai dengan

persamaan sebagai berikut:

f =(1−ρb/ρs) 100 %...(4)

di mana :

(44)

27

ρb = kerapatan massa tanah (g cm-3 )

ρs = kerapatan partikel tanah (g cm-3 )

(Hillel, 1981).

Porositas atau ruang pori adalah rongga antar tanah yang biasanya diisi air atau

udara. Pori sangat menentukan sekali dalam permeabilitas tanah, semakin besar

pori dalam tanah tersebut, maka semakin cepat pula permeabilitas tanah tersebut

(Hanafiah, 2005). Tanah bertekstur kasar mempunyai persentase ruang pori total

lebih rendah dari pada tanah bertekstur halus, meskipun rataan ukuran pori

bertekstur kasar lebih besar dari pada ukuran pori tanah bertekstur halus (Arsyad,

(45)

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 sampai dengan bulan Januari

2017 pada tahun ke-29. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Politeknik

Negeri Lampung dengan koordinat 105o 13’ 45,5‖ -- 105o 13’ 48,0‖ E dan 05o 21’

19,6‖ -- 05o

21’ 19,9‖ S. Dengan penerapan olah tanah konservasi dan perlakuan

pemupukan N jangka panjang yang berlangsung sejak tahun 1987 (Utomo, 2012)

sampai dengan 2016. Pada musim ke-38 (tahun 2008) lahan diberakan selama

satu tahun. Analisis contoh tanah dilakukan di Laboratorium Jurusan Ilmu Tanah

Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2. Bahan dan Alat

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah permeameter sebagai alat

untuk mengukur laju permeabilitas. Sebuah rak dari kayu atau metal dibuat untuk

menyangga 8 ring sampel, ditempatkan dalam satu baris. Air dialirkan melewati

siphon yang menghubungkan ring dengan ring berikutnya. Sistem aliran air dapat

dibuat satu arah atau secara berputar (circulating water-supply system). Pada

sistem satu arah, kelebihan air (over flow) langsung mengalir menuju saluran

pembuangan, sedangkan pada sistem beputar, kelebihan air ditampung dalam

(46)

29

menggunakan pompa. Air yang berhasil melalui masa tanah dari masing-masing

contoh tanah ditampung dalam wadah, misalnya gelas piala atau erlenmeyer untuk

selanjutnya diukur dengan menggunakan gelas ukur.

Alat-alat lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah ring sampel yang akan

digunakan untuk sampel tanah tidak terganggu, timbangan sebagai alat penimbang

tanah, tabung ukur untuk mengukur air yang ditambahkan secara kontinu di

tabung permeameter, erlenmeyer sebagai penampung air yang berhasil melalui

massa tanah, stopwatch sebagai alat untuk menghitung waktu penambahan air

secara kontinu dalam tinggi muka air konstan, penggaris sebagai alat pengukur

tinggi air, kalkulator sebagai alat hitung, dan alat tulis sebagai pencatat data.

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain air, kertas label,

sampel tanah tidak terganggu, dan zat kimia yang dibutuhkan untuk analisis di

laboratorium.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)

yang disusun secara faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah sistem

olah tanah jangka panjang yaitu T1 = Olah Tanah Intensif (OTI), T2 = Olah

Tanah Minimum (OTM), T3 = Tanpa Olah Tanah (TOT), dan faktor kedua adalah

pemupukan nitrogen jangka panjang yaitu No = 0 kg N ha-1 dan N1 = 200 kg N

ha-1. Dengan demikian terbentuk 6 kombinasi perlakuan dengan 4 kelompok

sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Adapun kombinasi perlakuan yang

(47)

30

N0T1 = N 0 kg ha-1 + olah tanah intensif

N0T2 = N 0 kg ha-1 + olah tanah minimum

N0T3 = N 0 kg ha-1 + tanpa olah tanah

N1T1 = N 200 kg ha-1 + olah tanah intensif

N1T2 = N 200 kg ha-1 + olah tanah minimum

N1T3 = N 200 kg ha-1 + tanpa olah tanah

Selanjutnya data yang diperoleh akan diuji homogenitasnya dengan uji Bartlet dan

aditivitas data diuji dengan Uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi data dianalisis

dengan sidik ragam dan analisis lanjutan dengan uji BNT pada taraf 5%. Akan

tetapi jika asumsi tidak terpenuhi, data nilai tengah permeabilitas di

interpretasikan secara kualitatif menurut Uhlan dan O’neal (1951) pada buku Soil

permeability determinations for use in soil and water conservation.

3.4. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian jangka panjang yang telah berlangsung

selama 44 musim tanam sejak tahun 1987. Pola tanam yang diterapkan adalah

serealia (jagung dan padi gogo) -- legum (kedelai, kacang tanah, dan kacang

hijau), kemudian pada tahun 2008 musim ke-38 lahan diberakkan selama satu

tahun. Pemupukan N hanya dilakukan pada tanaman serealia dengan dosis antara

0 - 200 kg N ha-1. Pada musim tanam ke-17 (tahun 1997) dan musim tanam ke-28

(tahun 2002) telah dilakukan pengolahan tanah kembali pada petak perlakuan

tanpa olah tanah dan olah tanah minimum, karena telah terjadi penurunan

produksi. Pada musim tanam ke-31 (tahun 2004) semua petak perlakuan

(48)

31

3.4.1. Pengolahan Tanah

Pada saat dua minggu sebelum tanam lahan petak tanpa olah tanah (TOT), gulma

yang tumbuh dikendalikan dengan menggunakan herbisida campuran Lindomin

0,5-1 liter ha-1 dan Roundup 4 liter ha-1 kemudian gulma tersebut digunakan

sebagai mulsa. Pada petak tanpa olah tanah, lahan tidak diolah sama sekali

kecuali lubang tugal untuk penempatan benih. Pada petak olah tanah minimum

lahan cukup dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya dengan

cara dikoret, dan gulma dibiarkan menjadi mulsa, (tanah dicangkul sekali sedalam

10 cm). Pada petak olah tanah intensif tanah dicangkul dua kali hingga

kedalaman 20 cm dan sisa tanaman gulma dibuang dari petak percobaan.

3.4.2. Pembuatan petak percobaan dan penanaman

Lahan dibagi menjadi 24 petak percobaan sesuai dengan perlakuan dan dengan

ukuran tiap petaknya 4 m x 6 m dengan jarak antar petak yaitu 1 meter. Dibuat

lubang tanam dengan jarak 75 cm x 25 cm, setelah itu ditanami benih jagung

varietas P-27 dengan 1 benih per lubang tanam.

3.4.3. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara dilarik diantara baris tanaman. Aplikasi pupuk

N, P dan K dilakukan pada 1 minggu setelah tanam. Pupuk N diberikan 1/3 dosis

untuk pemupukan 1 minggu setelah tanam dan 2/3 dosis saat 8 minggu setelah

tanam. Sedangkan pupuk P dan K diberikan seluruh dosis pada saat pemupukan 1

minggu setelah tanam. Dosis pupuk N yang diberikan adalah 200 kg ha-1. Dosis

(49)

32

3.4.4. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman jagung meliputi penyulaman, penyiangan, serta

pengendalian hama dan penyakit. Penyulaman dilakukan untuk benih jagung

yang tidak tumbuh dan dilaksanakan satu minggu setelah tanam. Penyiangan

dilakukan dengan mencabut dan mengoret gulma yang tumbuh di petak percobaan

dan melakukan pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida Calaris 550 ml

dan ditambah semacam surfaktan. Dengan dosis 75 ml / 12 liter air. Herbisida

Calaris mengandung bahan aktif Mesotrion 50 g liter-1 dan Atrazin 500 g liter-1.

Pengendalian penyakit dilakukan dengan mencabut tanaman yang terinfeksi

penyakit dan membuangnya jauh dari lahan percobaan.

3.4.5. Panen

Panen dilakukan saat tanaman jagung berumur ±104 HST atau setelah tongkol

masak dengan ciri-ciri tongkol masak yaitu klobot telah mengering dan berwarna

kuning, biji mengkilap, kering, keras dan tidak membekas bila ditekan dengan

kuku. Panen dilakukan dengan cara mengupas kelobot jagung kemudian

memotong tongkol dari batang.

3.4.6. Pengambilan Contoh Tanah

Pengambilan sampel dilakukan pada plot dengan perlakuan tanpa olah tanah, olah

tanah minimum, dan olah tanah intensif yang dikombinasikan dengan pemupukan

nitrogen 0 kg/ha dan 200 kg N ha-1. Pengambilan sampel dilakukan satu kali

(50)

33

3.5. Variabel Pengamatan

3.5.1. Variabel Utama

Variabel utama dalam penelitian ini adalah permeabilitas tanah. Metode yang

digunakan untuk mengukur permeabilitas tanah adalah metode constant head

permebility test atau metode aliran tetap. Prosedur yang digunakan untuk

mengukur permeabilitas tanah berdasarkan buku sifat fisik tanah dan metode

analisisnya adalah

1. Contoh tanah di dalam ring direndam dalam air pada bak perendaman dengan

kedalaman sedikit di bawah bagian atas ring (misalnya jika ring yang

digunakan mempunyai ketinggian 4 cm, maka ketinggian air perendaman

kira-kira sampai setinggi 3 cm dari dasar bak). Maksud perendaman adalah

untuk mengeluarkan semua udara dari dalam pori-pori tanah, sehingga tanah

dapat dikondisikan dalam keadaan jenuh. Untuk membuat tanah dalam

keadaan jenuh, maka dibutuhkan waktu perendaman selama lebih dari 12 jam

atau sampai contoh tanah nampak basah (Klute dan Dirksen, 1986 dalam

Balittanah, 2006). LPT (1979 dalam Balittanah 2006), menggunakan waktu

perendaman lebih dari 24 jam untuk membuat kondisi tanah dalam keadaan

jenuh sempurna.

2. Ukur ring sampel dengan jangka sorong sebanyak 3 kali masing–masing pada

diameter, tinggi ring sampel, dan tinggi head, lalu ambil nilai rata–ratanya.

3. Setelah proses penjenuhan selesai, bagian atas dari ring yang berisi contoh

tanah dihubungkan dengan ring kosong, menggunakan pita atau gelang karet

(51)

34

penyambungan, contoh tanah tetap berada di dalam air rendaman.

Selanjutnya contoh tanah tersebut dipindahkan ke alat pengukuran, kemudian

air dialirkan ke alat tersebut. Jaga agar tinggi air di atas contoh tanah

konstan.

4. Lakukan pengukuran volume air yang keluar melalui masa tanah.

Pengukuran dilakukan sampai jumlah air yang keluar stabil atau konstan.

Untuk mempermudah perhitungan, disarankan setiap pengukuran dilakukan

dalam jangka waktu satu jam sekali. Penghitungan dimulai pada jam ke-7, 8,

9, dan 10. Masukkan nilai yang telah diperoleh kedalam rumus untuk

menentukan permeabilitas tanah.

Dalam menghitung pemindahan air melalui tanah pada kondisi jenuh dikenal

hukum Darcy yang biasa digunakan dalam menghitung permeabilitas. Hukum

Darcy merupakan satu ukuran pengaliran air pada tanah jenuh dan dirumuskan

sebagai berikut:

k=Q L / A Δh t...(1)

di mana:

k = koefisien permeabilitas (cm jam-1)

Q = debit air ( cm3 jam-1)

A = luas permukaan tanah (cm2)

Δh = tinggi muka air dan tebal tanah (cm)

L = tebal/kedalaman tanah (cm)

t = waktu

(52)

35

Atau

Q = -KA(h2-h1)/(z2-z1) (2)

di mana:

K = koefisien permeabilitas (cm jam-1)

Q = debit air ( cm3 jam-1)

A = luas permukaan tanah (cm2)

h1 = tinggi muka air pada penampung air(cm)

h2 = tinggi muka air dari tanah+head dan penampung air

z1 = tinggi tanah pada permukaan bawah

z2 = tinggi tanah pada permukaan atas

Kirkham dan Powers (1971).

3.5.2. Variabel Pendukung

Variable pendukung yang diamati dalam penelitian ini yaitu :

a. Bulk density (g cm-3);

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode gravimerti. Bulk density

dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

ρb=Ms / Vt ...(3)

di mana :

ρb = Bulk density (g cm-3)

Ms = massa tanah (g)

Vt = volume total ( cm3 )

(53)

36

b. Ruang pori tanah (%);

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan metode gravimerti. Porositas

tanah dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

f =(1−ρb/ρs) 100 %...(4)

di mana :

f = porositas (%)

ρb = kerapatan massa tanah (g cm-3 )

ρs = kerapatan partikel tanah (g cm-3 )

(Hillel, 1981).

(54)

V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

1. Kelas permeabilitas tanah tidak dipengaruhi oleh sistem olah tanah dan

pemupukan nitrogen dan tidak terjadi interaksi antara kedua perlakuan;

2. Kelas permeabilitas tanah pada kombinasi perlakuan olah tanah minimum dan

pemupukan nitrogen 200 kg ha-1 sebesar 3,62 cm jam-1 termasuk kedalam

kelas sedang, sedangkan pada perlakuan yang lain termasuk dalam kelas agak

lambat.

5.2 Saran

1. Menggunakan metode pengukuran permeabilitas yang lain, seperti falling

head permeability test

2. Pengukuran permeabilitas tanah dengan metode lain, seperti metode lilin atau

pewarnaan

3. Melakukan analisis awal dan analisis akhir untuk karbon organik tanah

4. Tidak perlu dilakukan penelitian permeabilitas tanah dalam jangka waktu

Figure

Tabel 10-25 .....................................................................................................
Tabel 1. Perbedaan sistem olah tanah pada indikator kualitas lingkungan
Tabel 2. Klasifikasi permeabilitas tanah

References

Related documents

The EU funded and still does a large assistance programs aiming at developing the professional skills of the newly elected members of the parliament, support to the security sector

More specifically, the study aimed to (i) compare student preference for either small (dyad) or large (quad) PAL group size; (ii) determine whether PAL improved students’

With genital infec- tion defined as a positive standard of care test and rectal infection defined as a positive culture and/or two or more positive NAATs, 19 gonococcal infections

In light of the above facts, the present extensive study was planned to determine the prevalence of Citrobacter infections, their antibiotic susceptibility profiles, the occurrence

flow to skeletal muscle (6), it was possible to calculate the oxygen consumption and carbon dioxide production of forearm skeletal muscle from determinations of blood flow

The data indicate that rats treated with diethyl- stilbestrol develop hydronephrosis and an in- creased susceptibility to renal parenchymal infec- tion associated with

the method described in this work we isolated about 3 mg of 21-hydroxypregnenolone disulfate, identical with the isolated ester sulfate from fraction S,, after administra- tion of

In studying the effects of ethanol on the liver, we have directed our attention to the manner by which ethanol intoxication in animals causes an acute fatty liver (1, 2). Although