PERAN KELUARGA TERHADAP PEWARISAN TRADISI TUNGGU TUBANG PADA MASYARAKAT SEMENDE
(Studi pada Masyarakat Semende Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim)
(Skripsi)
Oleh
FITRIA MAHARANI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PERAN KELUARGA TERHADAP PEWARISAN TRADISI TUNGGU TUBANG PADA MASYARAKAT SEMENDE
(Studi pada Masyarakat Semende Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim)
Oleh
F I T R I A M A H A R A N I
Tunggu Tubang merupakan tradisi dari etnis Semende yang berupa sistem pewarisan untuk anak perempuan tertua di dalam keluarga. Dalam pewarisannya, Tunggu Tubang menggunakan fungsi keluarga dan komunikasi interpersonal di dalam keluarga inti dan keluarga garis keturunan ibu. Ayah, ibu, anak, serta keluarga dari garis keturunan ibu menjadi agen yang berperan dalam pewarisan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran keluarga dalam mewarisi tradisi Tunggu Tubang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori struktural fungsional dan teori komunikasi interpersonal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal di dalam keluarga antara orang tua dan anak berdasarkan aspek keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif dan kesetaraan berjalan efektif. Peran dari keluarga inti, yaitu (1) Ayah bertugas untuk ikut menjaga harta warisan Tunggu Tubang, dan mengingatkan anak tentang kewajibannya menjadi Tunggu Tubang saat menikah, (2)Ibu bertugas mengurus keluarga, mengelola harta warisan sesuai aturan adat, dan menjadi contoh dalam menjadi Tunggu Tubang bagi anaknya, (3) Anak laki-laki tertua bertugas menegur dan menasihati saudari Tunggu Tubangnya bila melakukan kesalahan, (5) Calon Tunggu Tubang bertugas mengikuti ajaran dan aturan dalam menjadi Tunggu Tubang, (6) Anak Tengah bertugas membantu saudari Tunggu Tubangnya mengurus rumah, dan sebagai pengikut aturan dalam keluarga. Selain itu terdapat pula peran keluarga dari garis keturunan ibu, yaitu (1) Meraje bertugas membimbing Tunggu Tubang, dan mencarikan jodoh untuk Tunggu Tubang, (2) Jenang Jurai bertugas mengawasi keadaan keluarga, dan melaporkannya kepada Payung Jurai, (3) Payung Jurai bertugas mengatur keluarga agar tidak keluar dari ajaran agama dan adat, (4) Lebu Jurai bertugas sebagai pemberi nasihat karena merupakan posisi tertinggi dalam struktur Tunggu Tubang.
ABSTRACT
THE ROLE OF THE FAMILY TOWARDS THE INHERITANCE TUNGGU TUBANG TRADITION IN THE SEMENDE COMMUNITY
(Study of the Semende Community, Muara Dua Village, District Semende Darat Laut, Muara Enim Regency)
By
F I TR I A M A H A R A N I
Tunggu Tubang is a tradition of Semende ethnic in the form of a inheritance system for the oldest daughter in the family. In its inheritance, Tunggu Tubang uses family functions and interpersonal communication within the nuclear family and maternal family line. Fathers, mothers, children, and families from the maternal line become agents that play a role in inheritance. The purpose of this study was to determine the role of the family in inheriting the tradition of Tunggu Tubang. This study uses qualitative methods with functional structural theory and interpersonal communication theory. The results of this study indicate that interpersonal communication in the family between parents and children based on aspects of openness, empathy, supportive attitude, positive attitude and equality working effectively. The role of the nuclear family, namely (1) Father's duty is to help protect the inheritance of Tunggu Tubang, and remind children of their responsibility to become Tunggu Tubang when married, (2) Mother is tasked with taking care of the family, managing inheritance according to customary rules, and being a figure of Tunggu Tubang for her child, (3) The oldest son is in charge of reprimanding and advising the Tunggu Tubang sister when making a mistake, (5) Candidate of Tunggu Tubang is in charge of following the teachings and rules in being a Tunggu Tubang, (6) Anak Tengah is in charge of helping the Tunggu Tubang to take care of the house, and as followers of rules in the family. In addition, there are also family roles from the maternal line, namely (1) Meraje has the task of guiding Tunggu Tubang, and finding a mate for Tunggu Tubang, (2) Jenang Jurai has the duty to supervise the family situation, and report it to Payung Jurai, (3) Payung Jurai has the duty regulate the family so they will not go from the teachings of religion and customs, (4) Lebu Jurai served as a giver of advice because he is the highest position in the structure of Tunggu Tubang.
PERAN KELUARGA TERHADAP PEWARISAN TRADISI TUNGGU TUBANG PADA MASYARAKAT SEMENDE (STUDI PADA
MASYARAKAT DESA MUARA DUA, KECAMATAN SEMENDE DARAT LAUT, KABUPATEN MUARA ENIM
Oleh
F I T R I A M A H A R A N I
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU KOMUNIKASI
Pada
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Fitria Maharani dilahirkan di Bandarlampung, pada 6 Februari 1997. Penulis merupakan anak ke-tiga dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Iswan Hamdi dan Ibu Rita Saputri. Penulis mengawali pendidikan di TK Tunas Muda Sukarame yang diselesaikan pada 2002, SD Negeri 2 Gunung Terang yang diselesaikan pada 2009, Sekolah Menengah Pertama Negeri 22 Bandar Lampung yang diselesaikan pada 2012, dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas di YP Unila Bandarlampung pada 2015.
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada 2015. Selama menjadi mahasiswa, Penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi tahun 2016 sebagai anggota Bidang Broadcasting.
SANWACANA
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT,
berkat rahmat dan hidayah-Nya Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Peran Keluarga terhadap Pewarisan Tradisi Tunggu Tubang pada Masyarakat Semende (Studi pada Masyarakat Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim)” sebagai salah satu syarat untuk memeroleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Penyelesaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan saran dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT yang selalu memberikan pertolongan dan kemudahan kepada Penulis dalam segala kesulitan dan masalah yang Penulis dihadapi.
2. Bapak Dr. Syarief Makhya, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
3. Ibu Dhanik Sulistyarini, S.Sos.,MComn&MediaSt. selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 4. Ibu Wulan Suciska, S.I.Kom.,M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 5. Ibu Dr. Nina Yudha Aryanti, S.Sos.,M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah
x
penyelesaian skripsi ini.
6. Ibu Dr. Tina Kartika, M.Si. selaku dosen pembahas yang juga telah meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan kritik, saran, dan masukan yang sangat membangun terhadap skripsi ini.
7. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si. selaku Pembimbing Akademik selama Penulis melaksanakan perkuliahan. Terima kasih atas semua kebaikan serta bantuan yang bapak berikan selama ini.
8. Seluruh dosen, staf administrasi, karyawan Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung yang penuh dedikasi dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi Penulis, serta segala bantuan secara teknis maupun administratif yang diberikan kepada Penulis selama menyelesaikan studi.
9. Untuk kedua orang tuaku, sosok yang selalu berusaha memberikan segala hal yang terbaik untuk anak-anaknya, Terima kasih banyak atas kasih sayang dan doa yang telah diberikan selama ini. Semoga Rani kelak akan sukses dan bisa terus membanggakan mamuy dan papuy.
10. Untuk kedua kakakku yang terkadang menyebalkan, terima kasih karena selalu mengkhawatirkan kesehatan adiknya saat begadang mengerjakan skripsi, juga terima kasih karena selalu memberikan bantuan, dukungan, dan doa.
11. Terima kasih untuk keluarga besar penulisa yang selalu memberikan dukungan dan motivasi agar cepat menyelesaikan skripsi ini.
xi
yang kita bagi bersama. Terima kasih karena selalu mengingatkan dan memarahi Penulis saat Penulis mulai kehilangan semangat untuk mengerjakan skripsi. Penulis merasa sangat beruntung mengenal dan memiliki sahabat seperti kalian.
13. Untuk sahabat-sahabatku dari SMP (Galih, Risna, Azkha, Thalia, dan Heni). Walaupun sekarang kita sudah jarang bertemu, tetapi terima kasih karena selalu menghibur dan selalu ada saat Penulis membutuhkan kalian. Semoga persahabatan ini tetap berlanjut untuk selamanya.
14. Untuk sahabat-sahabatku dari SMA YP Unila, Maying, Tata, Dila, Niluh, Dewi, Mustika, Linda, Yuyun, Intan, dan Aulia terima kasih sudah membuat masa-masa SMA hingga sekarang menjadi lebih berwarna. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian.
15. Untuk Basecamp (Elen, Fifki, Atmim, Sayoga, Yaafi, dan Zulka) terima kasih karena telah saling membantu, menyemangati, dan menghibur penulis selama proses perkuliahan dengan tingkah laku kalian yang lucu. Semoga kalian selalu bahagia dan kita bisa sukses bersama.
16. Terima kasih untuk teman-teman KKN yaitu, Ica, Eva, Yusi, kak Fadhil, opung Daniel, dan kak Andre yang telah menghiasi 40hariku di Desa Neglasari Pringsewu dengan keseruan, kekompakan dan kerja sama yang baik. Semoga ikatan pertemanan ini tetap berlanjut untuk waktu yang lama.
xii
sebutkan satu per satu, terima kasih untuk dukungan dan doa selama ini. semoga kita bisa tetap kompak meski sudah lulus kuliah.
18. Untuk selurruh informan dalam penelitian ini, terima kasih telah membantu Penulis mengerjakan skripsi ini. Terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang diberikan kepada Penulis. Semoga selalu dilimpahi kesehatan dan kebahagiaan.
19. Serta untuk semua pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuan dan dukungannya.
Semoga Allah SWT selalu memberikan nikmat dan karunia-Nya untuk kita semua dalam hidup ini. Akhir kata, Penulis berharap semoga penelitian ini bisa bermanfaat dan memberikan keluasan ilmu bagi semua pihak yang telah membantu. Terima kasih banyak untuk segala bentuk doa dan dukungan yang diberikan.
Bandarlampung, 6 November 2019
Penulis
DAFTAR ISI
1.1.Latar Belakang... 1
1.2.Rumusan Masalah... 8
1.3.Tujuan Penelitian... 8
1.4.Manfaat Penelitian... 8
2.1.Penelitian Terdahulu... 10
2.2.Masyarakat Adat... 12
2.3.Tradisi Tunggu Tubang... 16
2.4.Keluarga... 19
2.5.Komunikasi Interpersonal... 23
2.6.Komunikasi Kelompok... 26
2.7.Teori Struktural Fungsional... 27
2.8.Teori Komunikasi Interpersonal Devito... 29
2.9.Kerangka Pikir... 32
I. PENDAHULUAN II.TINJAUAN PUSTAKA Halaman ABSTRAK... i
ABSTRACT... ii
COVER ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN... iv
HALAMAN PENGESAHAN... v
SURAT PERNYATAAN... vi
RIWAYAT HIDUP... vii
PERSEMBAHAN... viii
MOTTO... ix
SANWACANA... x
DAFTAR ISI... xiv
DAFTAR TABEL... xvii
xiv
4.1.Sejarah Desa Muara Dua... 42
4.2.Kondisi Geografis Desa Muara Dua... 43
4.3.Demografi Desa Muara Dua... 43
4.4.Etnis Semende... 44
4.4.1. Sejarah Semende... 45
4.4.2. Bahasa Etnis Semende... 45
4.4.3. Adat Istiadat Semende... 47
4.4.4. Peribadatan Etnis Semende... 48
4.4.5. Pendidikan Di Daerah Semende... 48
5.3.4. Manfaat dari Tradisi Tunggu Tubang... 65
5.3.5. Hambatan dalam Tradisi Tunggu Tubang... 66
5.3.6. Aspek Keterbukaan antara Orang Tua dan Anak... 68
5.3.7. Aspek Empati antara Orang Tua dan Anak... 72
5.3.8. Aspek Sikap Mendukung antara Orang Tua dan Anak... 75
5.3.9. Aspek Sikap Positif antara Orang Tua dan Anak... 77
5.3.10. Aspek Kesetaraan antara Orang Tua dan Anak... 81
5.3.11. Hasil Temuan Tambahan Penelitian... 84
5.4.Pembahasan... 106
5.4.1. Masyarakat Etnis Semende dan Sistem Pewarisan Tunggu Tubang... 106
5.4.2. Pelaksanaan Tradisi Tunggu Tubang pada Keluarga Etnis Semende... 116
5.4.3. Komunikasi Keluarga dalam Mewariskan Tradisi Tunggu Tubang... 121
5.4.4. Peran Keluarga dalam Pewarisan Tradisi Tunggu Tubang... 129
3.1.Tipe Penelitian... 35
3.2.Definisi Konseptual... 35
3.3.Fokus Penelitian... 36
3.4.Penentuan Informan... 37
3.5.Teknik Pengumpulan Data... 38
3.6.Sumber Data... 39
3.7.Teknik Analisis Data... 39
3.8.Keabsahan Data... 40
III.METODOLOGI PENELITIAN IV.GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V.HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1.Profil Informan... 50
5.2.Hasil Observasi... 54
5.3.Hasil Wawancara Penelitian... 58
5.3.1. Pengetahuan mengenai Tradisi Tunggu Tubang... 58
5.3.2. Pelaksanaan Tradisi Tunggu Tubang... 60
xv
5.4.5. Peran Keluarga dari Garis Keturunan Ibu dalam
Pelaksanaan Tradisi Tunggu Tubang... 140
LAMPIRAN GLOSARIUM
DAFTAR PUSTAKA
VI.SIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Penelitian Terdahulu ... 10
2. Batas-Batas Wilayah Desa Muara Dua Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim ... 43
3. Orbitasi Desa Muara Dua ... 43
4. Jumlah Penduduk Desa Muara Dua menurut Agama ... 44
5. Jumlah Penduduk Desa Muara Dua menurut Jenis Kelamin ... 44
6. Identitas Informan ... 50
7. Identitas Informan Kelompok Orang Tua ... 51
8. Identitas Informan Kelompok Orang Anak ... 53
9. Aspek Keterbukaan antara Orang Tua dan Anak ... 68
10. Aspek Empati antara Orang Tua dan Anak ... 72
11. Aspek Sikap Mendukung antara Orang Tua dan Anak ... 75
12. Aspek Sikap Positif antara Orang Tua dan Anak ... 77
13. Aspek Kesetaraan antara Orang Tua dan Anak ... 81
Halaman DAFTAR GAMBAR
Gambar
1. Kerangka Pikir ... 34
2. Aksara Etnis Semende ... 47
3. Struktur Pemerintahan Desa Muara Dua ... 49
4. Struktur Tradisi Tunggu Tubang ... 109
5. Struktur Keluarga Inti Tunggu Tubang... 131
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masyarakat etnis Semende merupakan salah satu etnis pribumi yang berada di daerah Sumatera Selatan. Etnis Semende pada awal kelahirannya merupakan keturunan dari puyang awak yang merupakan keturuan dari Sunan Gunung Jati. Etnis Semende ada sebab adanya pembukaan lahan di tanah Talang Tumutan Tujuh oleh seorang tokoh yang menyebarkan ajaran agama Islam yang bernama Syekh Nurqadim Al-Baharudin (Dzulfikriddin, 2001:7).
Etnis Semende mulanya bernama Samandah. Kata Semende sendiri berasal dari kata same dan ende yang artinya milik bersama, dengan penjelasan bahwa “anak same-same, tidak dijual, tidak dijujur, nyawe sutik takaran due, serame anak. Rasan kecik same urusi, rasa besak same bambani”, anak milik bersama
tidak dijual, tidak di jujur, senyawa walaupun hidup berdua, anak milik bedua, masalah kecil diurus bersama, masalah besar dihadapi dengan segala konsekuensinya. (Alihanafiah, 2008 : 9)
2
Tunggu Tubang berkewajiban untuk mengelola harta pusaka keluarga yang sudah turun-temurun demi kepentingan pribadi dan membantu saudara-saudaranya hingga dapat hidup mandiri. Struktur kekerabatan yang ada dalam etnis Semende adalah matrilineal artinya garis keturunan ditarik dari pihak ibu. Berdasarkan dengan struktur kekerabatan yang demikian, maka memengaruhi pula sistem kewarisan mereka dalam penerusan dan pengalihan hak penguasaan atas harta yang tidak terbagi-bagi.
Mereka yang dapat dikategorikan sebagai Tunggu Tubang adalah anak kandung yang sah dari perkawinan orang tuanya dengan kemungkinan sebagai berikut (Praditama, 2014:2-3):
1. Anak pertama dengan jenis kelamin perempuan
2. Anak kedua, ketiga dan keempat tetapi sebelumnya tidak ada anak perempuan
3. Anak bungsu, tetapi satu-satunya anak perempuan
4. Anak perempuan kedua, akan tetapi kakak perempuannya meninggal dunia
3
di dalam keluarga. Hal ini disebut dengan istilah ngambik anak dalam perkawinan ngangkit.
Posisi menjadi seorang Tunggu Tubang sangatlah berat. Tunggu Tubang memunyai larangan-larangan yang harus dijauhi, larangan tersebut antara lain (Velinda, Wilodati, dan Kosasih, 2017:422) :
1. Menolak keluarga yang datang kerumah 2. Berperilaku kasar
3. Menjual harta keluarga atau harta Tubang
4. Menggadaikan harta keluarga tanpa izin dan pertimbangan musyawarah keluarga
5. Menelantarkan saudara-saudara sekandung yang belum berkeluarga 6. Membuka rahasia keluarga
Berdasarkan pemaparan larangan dalam menjadi Tunggu Tubang, dapat dipahami bahwa yang harus Tunggu Tubang lakukan atau yang menjadi kewajiban Tunggu Tubang yaitu memelihara, mengurus dan mengembangkan harta Tubang dengan sebaik-baiknya dan memakai hasilnya untuk kebutuhan bersama, termasuk kebutuhan sehari-hari keluarga Tunggu Tubang, sehingga harta peninggalan orang tua kepada Tunggu Tubang tidak boleh dijual. Harta yang ditinggalkan digunakan untuk membantu saudara-saudaranya, membiayai adik-adiknya hingga mereka mandiri dan bertanggung jawab atas setiap masalah dalam keluarga. Kewajiban-kewajiban tersebut yang mengharuskan Tunggu Tubang untuk menetap di rumah pusaka, sebab rumah tersebut merupakan tempat di mana anggota keluarga lain yang merantau untuk pulang atau untuk berkumpul seluruh anggota keluarga, dan perempuan Tunggu Tubang dianjurkan untuk tidak melakukan perkawinan dengan
4
Di masa sekarang, tradisi ini sudah mulai terkikis. Masyarakat etnis Semende sudah mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap sudah tidak relevan dengan kondisi masyarakat sekarang (Febriyanti, 2016:3). Seiring dengan perkembangan zaman, perempuan yang menjadi Tunggu Tubang juga ingin mewujudkan keinginannya seperti merantau ke daerah lain untuk mengadu nasib, menuntut ilmu, ataupun mereka melakukan perkawinan dengan laki-laki dari etnis lain. Mereka tidak ingin hanya tinggal menetap di rumah pusaka dengan segala kewajiban yang harus dijalankannya.
Hambatan dalam menjaga tradisi Tunggu Tubang pada masa sekarang adalah pola pikir masyarakat yang telah berubah dan modern. Para perempuan yang menjadi Tunggu Tubang di masa sekarang, biasanya sudah memiliki profesi lain sehingga lebih mementingkan profesinya dan anaknya yang menjadi calon Tunggu Tubang selanjutnya pun tidak diberikan penjelasan atau pengetahuan
tentang tradisi Tunggu Tubang. Selain itu para perempuan yang menjadi Tunggu Tubang lebih memilih mengikuti suaminya yang tidak menetap
sehingga tidak mampu memelihara harta peninggalan. Perempuan Tunggu Tubang memilih memekerjakan orang lain untuk mengurus harta peninggalan
seperti sawah dan ladang, bahkan ada pula harta peninggalan yang dijual (Wawancara dengan Tokoh Adat Semende Hi. M. Luthfie Zubair, S.H pada Kamis, 7 Maret 2019).
5
generasi selanjutnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sedyawati (2006:163) bahwa warisan budaya tidak berwujud (intangible) juga memerlukan upaya pelestarian seperti tata upacara, tarian, tradisi, musik dan lain-lain.
Agen yang berperan dalam mewariskan tradisi Tunggu Tubang ini yaitu keluarga, sebab tradisi ini bersifat genealogis, pewarisan ini berdasarkan pertalian darah dari ibu kepada sang anak yang menjadi calon Tunggu Tubang. Pewarisan yang dimaksud dalam penelitian ini bukan hanya mengenai pewarisan harta pusaka saja, melainkan pewarisan dari keseluruhan tradisi Tunggu Tubang, baik dari hak dan kewajiban, dasar-dasar, serta fungsi Tunggu
Tubang itu sendiri dalam kehidupan. Selain itu, proses individu memelajari
dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, norma, aturan-aturan hidup yang berlaku dalam kebudayaannya, juga dimulai dari lingkup keluarga. Keluarga berperan dalam mengenalkan segala tradisi, adat, norma, dan aturan yang berlaku. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gunarsa, dan Gunarsa (2004:30) bahwa salah satu fungsi dari keluarga yaitu mengajarkan adat istiadat, agama, kebudayaan atau tradisi, dan moral kepada anak.
6
berperan, sebab komunikasi keluarga antara orang tua dan anak berupa komunikasi interpersonal, merupakan komunikasi yang paling ampuh dalam mengubah sikap, pandangan dan perilaku (to change attitude, opinion and behaviuor) dibandingkan dengan komunikasi kelompok atau komunikasi bermedia (Effendy, 2000:18).
Komunikasi keluarga merupakan hal yang penting sebab keluarga adalah pihak yang berperan besar dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang. Keluarga menjadi kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia sebagai tempat individu belajar dan segala interaksi di dalamnya dipengaruhi dengan perasaan serta pengertian. Setiap keluarga memiliki kebiasaan adat-istiadat, nilai-nilai, dan norma-norma tersendiri. Ketika anggota keluarga berinteraksi, saat itu pula kebiasaan adat-istiadat, nilai-nilai, dan norma-norma tersebut dibagikan dan menjadi bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan dalam anggota keluarga.
Berdasarkan kenyataan yang ada bahwa tradisi Tunggu Tubang sudah mulai terkikis, terutama pada masyarakat etnis Semende yang merantau ke kota, maka dapat dikatakan bahwa peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan tradisi etnis Semende masih kurang maksimal. Anak-anak dalam keluarga etnis Semende biasanya hanya tahu tentang siapa anggota keluarga yang menjadi Tunggu Tubang, namun mereka tidak memahami makna tentang tradisi tersebut, sehingga kurang adanya komunikasi mengenai tradisi ini didalam keluarga.
7
mewariskan tradisi yaitu melalui bentuk komunikasi internal keluarga yaitu keluarga menentukan pasangan atau calon suami Tunggu Tubang dengan memberikan dorongan, motivasi, nasehat, pendapat dan tanggapan mengenai kriteria yang diharapkan keluarga.
Bentuk komunikasi selanjutnya yang dilakukan orang tua dalam upaya mewariskan tradisi Tunggu Tubang dengan cara seorang anak dibekali ilmu tentang adat istiadat etnis Semende dan diberikan pemahaman bahwa Tunggu Tubang adalah sebuah keistimewaan. Tunggu Tubang merupakan pengikat keluarga, dan penghimpun keluarga besar agar ikatan kekeluargaan semakin erat. Keluarga khususnya orang tua juga menjelaskan kepada anak bahwa tradisi Tunggu Tubang yang telah dilaksanakan secara turun temurun oleh nenek moyang masyarakat etnis Semende hendaknya dijaga dan dipertahankan keberadaanya, sebab selain sebagai jati diri dari bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa yang lain, juga sebagai salah satu warisan kebudayaan. Dengan bekal pengetahuan tentang adat istiadat yang dilakukan orang tua kepada anak akan memudahkan upaya pewarisan tradisi Tunggu Tubang, sehingga tradisi ini dapat terus terlaksana dan tidak hilang
begitu saja.
8
Dari data yang peneliti dapatkan pelaksanaan tradisi Tunggu Tubang di Desa Muara Dua sudah berlangsung sangat lama, bahkan rata-rata telah memasuki 5 sampai 6 keturunan dalam melaksanakan tradisi Tunggu Tubang.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran Keluarga terhadap Pewarisan Tradisi Tunggu Tubang pada Masyarakat Semende (Studi pada Keluarga dalam Masyarakat Etnis Semende di Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim)”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti adalah “Bagaimanakah Peran Keluarga terhadap Pewarisan Tradisi Tunggu Tubang pada Masyarakat Semende?”
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis peran keluarga terhadap pewarisan tradisi Tunggu Tubang pada masyarakat Semende.
1.4. Manfaat Penelitian A. Manfaat Akademis
9
B. Manfaat Praktis
Manfaat praktis merupakan manfaat yang berkaitan dengan suatu tahapan dan berguna untuk memecahkan suatu masalah. Manfaat praktis pada penelitian inti yaitu:
1. Memberikan pemahaman tradisi Tunggu Tubang sebagai warisan kebudayaan Masyarakat Etnis Semende yang patut untuk dijaga dan dipertahankan.
Sumber: Diolah oleh Peneliti
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
[image:29.595.135.502.356.748.2]Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan dan gambaran penelitian bagi peneliti untuk memerkaya bahan kajian dan sebagai bahan perbandingan dari penelitian sebelumnya. Adapun penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
Nama Nova Aryanti (2012)
Judul Peran Komunikasi Keluarga dalam Menentukan Pasangan Hidup Etnis Semende
Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitatif. Hasil Penelitian Keluarga berperan dalam menentukan pasangan hidup anaknya
dengan adanya proses komunikasi internal dalam keluarga terkait kriteria-kriteria yang diharapkan oleh keluarga besar.
Perbedaan Penelitian
Penelitian yang dillakukan oleh Nova Aryanti memfokuskan mengenai peran keluarga dalam menentukan pasangan hidup dikeluarga etnis Semende. Sedangkan peneliti memfokuskan peran keluarga dalam upaya pewarisan tradisi Tunggu Tubang.
Kontribusi penelitian
Menjadi referensi bagi penulis serta menjadi pedoman dalam membantu proses penyusunan penelitian.
Nama Navila Camalia (2018)
Judul Keluarga dan Nilai Tradisi Budaya Sunda (Studi Deskriptif Keluarga Sunda Di Kampung Genteng RT 002/RW002 Kota Sukabumi)
Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitatif. Hasil Penelitian Keluarga tidak berperan dalam memertahankan nilai-nilai tradisi
budaya Sunda karena adanya faktor penghambat seperti teman sepermainan anak, lingkungan rumah yang berbaur dengan warga pendatang, dan maraknya penggunaan handphone dan televsi sehingga anak dapat mencari informasi mengenai tradisi kebudayaan.
Perbedaan Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Navila Camila memfokuskan kepada bagaimana peran komunikasi keluarga dalam memertahankan nilai-nilai tradisi budaya Sunda pada anak-anaknya. Sedangkan peneliti memfokuskan pada bagaimana komunikasi keluarga Suku Semende dalam upaya pewarisan tradisi Tunggu Tubang.
Kontribusi penelitian
11
Peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Peran Keluarga terhadap Pewarisan Tradisi Tunggu Tubang pada Masyarakat Semende” (Studi Pada Masyarakat Semende, Desa Muara Dua, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim).” Peneliti memakai penelitian terdahulu sebagai referensi dan acuan penulis dalam membuat penelitian ini yang tentunya telah peneliti analisis terlebih dahulu dan berkaitan dengan bahasan penelitian ini.
Penelitian tentang peran keluarga sebelumnya pernah diteliti oleh Nova Aryanti, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Lampung pada tahun 2012 dengan judul “Peran Komunikasi Keluarga dalam Menentukan Pasangan Hidup Etnis Semende”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keluarga etnis Semende dalam menentukan pasangan hidup anak perempuannya yang menjadi Tunggu Tubang. Hasil dari penelitian ini yaitu keluarga berperan dalam menentukan pasangan hidup anaknya dengan adanya proses komunikasi internal dalam keluarga terkait kriteria-kriteria yang diharapkan oleh keluarga besar.
12
adanya faktor penghambat seperti teman sepermainan anak, lingkungan rumah yang berbaur dengan warga pendatang, dan maraknya penggunaan handphone dan televisi sehingga anak dapat mencari informasi mengenai tradisi kebudayaan.
2.2. Masyarakat Adat
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), pada Kongres I tahun 1999 menjelaskan mengenai Masyarakat Adat, yaitu komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur secara turun-temurun di atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat. (Bpsplpadang.kkp.go.id/masyarakat-adat, diakses pada 29 maret 2019, pukul 20.15 WIB)
Masyarakat Adat atau the indigenous people merupakan masyarakat yang patuh pada peraturan atau hukum yang mengatur tingkah laku manusia dalam hubungannya satu sama lain baik berupa keseluruhan dari kebiasaan dan kesusilaan yang benar-benar hidup karena diyakini dan dianut, jika dilanggar pelakunya mendapat sanksi dari penguasa adat. Masyarakat adat timbul secara spontan di wilayah tertentu, yang berdirinya tidak ditetapkan atau diperintahkan oleh penguasa yang lebih tinggi atau penguasa lainnya. Oleh sebab itu masyarakat ini juga biasa disebut dengan Masyarakat Hukum Adat, karena masih mematuhi hukum adat yang berlaku di wilayahnya.
13
1. Masyarakat adat merupakan masyarakat yang tinggal dan mendiami suatu wilayah atau tanah-tanah yang dianggap milik nenek moyangnya, baik seluruhnya atau sebagian.
2. Masyarakat adat merupakan masyarakat yang memunyai garis keturunan yang sama, dan berasal dari penduduk asli daerah tersebut.
3. Masyarakat adat merupakan masyarakat yang memunyai budaya khas yang menyangkut agama, sistem etnis, pakaian, tarian, cara hidup, peralatan hidup sehari-hari, termasuk untuk mencari nafkah.
4. Masyarakat adat biasanya masyarakat yang memiliki bahasa sendiri. 5. Masyarakat adat merupakan masyarakat yang biasanya hidup terpisah dari
kelompok masyarakat lain dan menolak atau bersikap hati-hati terhadap hal-hal baru yang berasal dari luar komunitasnya. (Bpsplpadang .kkp.go.id/masyarakat-adat, diakses pada 29 maret 2019, pukul 20.15 WIB)
Masyarakat adat di Indonesia dapat dibagi atas dua golongan menurut dasar susunannya, yaitu berdasarkan pertalian suatu keturunan atau genealogi, dan berdasarkan lingkungan daerah atau teritorial (Soekanto, 2010: 95).
14
leluhur, baik secara langsung karena hubungan darah (keturunan) atau secara tidak langsung karena pertalian keturunan atau pertalian adat.
Masyarakat adat ini persebarannya berada di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat etnis Semende merupakan salah satu contoh dari masyarakat adat yang berada di Provinsi Sumatra Selatan. Etnis ini merupakan salah satu etnis asli atau etnis pribumi di dataran Pulau Sumatera bagian selatan.
Menurut Rauf (1989:146), secara bahasa, kata Semende memunyai tiga pengertian, yakni :
a. Semende berarti akad nikah atau kawin, yang dalam istilah Semende disebut dengan tunak atau ngambik bagian.
b. Kata Semende merupakan rangkaian dari kata same dan nde. Same memiliki arti sama atau bersama dan Nde artinya milik, kepunyaan, atau hak. Jadi same dan nde artinya sama mempunyai, sama memiliki, dan kepunyaan bersama.
c. Kata Semende merupakan pengalihan dari rangkaian kata Se, mah, dan nde. Se artinya satu atau kesatuan, mah artinya rumah, dan nde artinya milik, kepunyaan, atau hak. Jadi se, mah, nde maknanya rumah kesatuan milik bersama.
15
Tungguan Semende adalah Tungguan Jagat Besemah Panjang. Tungguan
menurut Puyang Awak adalah Betunam (memiliki yang enam), yakni:
1. Begantian ialah cepat tanggap, peka waspada, siap membela keluarga, saudara, tetangga dan kaum muslimin dengan tenaga, harta maupun nyawa.
2. Bepatian ialah memiliki cita dan citra luhur, hidup dalam rencana saleh, menjaga harga diri, keluarga, etnis, bangsa, dan agama.
3. Besindat artinya orang yang tahu dengan garis batas, dapat membedakan dan bersikap yang benar terhadap orang tua dan anak muda, laki-laki, perempuan, suami-istri, nenek-cucu, mertua-menantu, kakak-adek, dan lain-lain.
4. Bemalu artinya memiliki malu sebagai iman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Al-Haya’u Minal Iman”. Malu apabila tidak Bepatian. 5. Besingkuh adalah wujud ketaatan pada perintah Allah SWT “La Taqrobuz
Zina”(Jangan mendekati zina) yaitu segala sikap rohani, jasmani, tingkah
laku, dan pribahasa wajib ada dalam jalan lurus.
6. Besundi adalah kelanjutan watak pribadi. Besundi dalam tingkat yang lebih tinggi lagi, yakni dalam keteladanan orang tua, pemimpin agama, dan pemimpin adat. Bersikap, memberi teladan, langsung mendidik, amar ma’ruf nahi munkar pada generasi muda atau anak buahnya (Rauf, 1989 :
40).
16
2.3. Tradisi Tunggu Tubang
Tunggu Tubang terdiri dari dua kata yang sangat berlainan arti. Secara harfiah
Tunggu disini berarti orang yang bertugas menunggui barang atau rumah,
selain itu juga dapat berarti orang yang diberi hak untuk mendiami atau menghuni rumah milik kaum dan adat. Sedangkan Tubang atau Tabung adalah bambu seruas atau lebuh yang dijadikan tempat untuk menaruh atau menyimpan sesuatu (Alihanafiah, 2008:29). Sama halnya, Tunggu Tubang merupakan adat yang diperuntukkan kepada perempuan tertua dalam sebuah keluarga yang berkewajiban untuk mengelola harta pusaka demi kepentingan pribadi dan membantu saudara-saudaranya hingga dapat hidup mandiri (Guspitawaty, 2002:25).
Anak perempuan menjadi Tunggu Tubang bila ia telah menikah, sehingga yang dimaksudkan Tunggu Tubang bukan hanya anak perempuan saja, melainkan ia dan suaminya (Dzulfikriddin, 2001:55). Tunggu Tubang dapat berlaku bagi anak perempuan kedua, ketiga dan seterusnya dalam susunan keluarga selama di atasnya adalah laki-laki. Tunggu Tubang juga berlaku pada anak lelaki tertua jika dalam satu keluarga tidak terdapat anak perempuan sama sekali. Tunggu Tubang diberikan kepercayaan untuk memelihara harta peninggalan orang
tuanya dan diawasi oleh saudara laki-laki. Tradisi Tunggu Tubang sudah terjadi sejak lama bahkan sebelum Indonesia merdeka atau mampu mengusir penjajahan Belanda dan Jepang.
Tunggu Tubang memunyai tanggung jawab dan kewajiban yaitu memelihara,
17
hasilnya dipakai untuk kebutuhan bersama, termasuk kebutuhan sehari-hari keluarga Tunggu Tubang, sehingga harta peninggalan orang tua kepada Tunggu Tubang tidak boleh dijual. Harta yang ditinggalkan digunakan untuk
membantu saudara-saudaranya, membiayai adik-adiknya hingga mereka mandiri dan bertanggung jawab atas setiap masalah dalam keluarga. Kewajiban-kewajiban tersebutlah yang mengharuskan Tunggu Tubang untuk menetap di rumah pusaka, sebab rumah tersebut merupakan tempat di mana anggota keluarga lain yang merantau untuk pulang atau untuk berkumpul seluruh anggota keluarga, dan perempuan Tunggu Tubang dianjurkan untuk tidak melakukan perkawinan dengan laki-laki dari etnis lain.
Kewajiban-kewajiban tersebut apabila diabaikan atau tidak sama sekali dilaksanakan maka akan membatalkan hak-hak Tunggu Tubang. Dua hal yang dapat membatalkan kedudukan Tunggu Tubang, yaitu: (Praditama, 2014:4)
1. Permintaan Tunggu Tubang itu sendiri
2. Diberhentikan melalui sidang Meraje dan apit jurai sebab melanggar peraturan-peraturan Tunggu Tubang.
Sidang Meraje merupakan musyawarah anggota ahli waris yang tugasnya di dalam keluarga adalah mengawasi harta seluruhnya supaya tidak rusak, tidak berkurang atau hilang. Sidang Meraje terdiri dari lima tingkatan, yaitu :
1. Payung Jurai dapat diartikan pelindung dan penasehat 2. Ahli Jurai dapat diartikan sebagai ketua umum
3. Jenang Jurai dapat diartikan sebagai ketua pelaksana 4. Apit Jurai dapat diartikan sebagai pelaksananya
18
Apabila Tunggu Tubang tidak tinggal menetap di rumah pusaka maka akan diadakan musyawarah keluarga yang disebut dengan sidang meraje untuk menentukan siapa yang berhak menempati rumah pusaka tersebut. Orang yang dapat dikategorikan sebagai pengganti dari Tunggu Tubang untuk menempati rumah pusaka adalah sebagai berikut :
1. Saudari perempuan kandung dari Tunggu Tubang yang dalam bahasa semende disebut kelawai.
2. Saudara laki-laki kandung apabila tidak mempunyai saudari perempuan yang disebut dengan muanai.
3. Saudara kandung perempuan dari orang tua atau ibu Tunggu Tubang yang dalam bahasa Semende disebut ndis atau ndung kecik.
Ketiga kategori di atas merupakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menempati rumah pusaka apabila Tunggu Tubang tidak tinggal menetap di rumah tersebut.(Praditama, 2014:4-5)
Tunggu Tubang memiliki hak dan kewajiban tertentu dalam adat Semende,
yaitu: (Dzulfikriddin, 2001:39-45) 1. Kewajiban Tunggu Tubang:
a. Menjaga dan mengurus harta pusaka b. Menjaga dan mengurus orang tua c. Mematuhi dan menjalankan aturan adat 2. Hak Tunggu Tubang:
a. Menikmati harta pusaka
19
Orang yang menjadi Tunggu Tubang harus mengamalkan dasar-dasar dan fungsi Tunggu Tubang. Dasar dan fungsi Tunggu Tubang sebagai berikut:
1. Memegang pusat jale (jala), artinya bila dikipaskan batu jale itu bertaburan dan apabila ditarik kembali bersatu. Dengan kata lain, menghimpun semua sanak keluarga, baik yang jauh maupun yang dekat.
2. Memegang kapak, artinya segala pengurusan tidak boleh berbeda-beda antara kedua belah pihak, tidak boleh memihak siapapun, baik dari keluarga suami ataupun keluarga dari pihak isteri. Yang keduanya itu harus adil, tidak boleh berat sebelah.
3. Harus bersifat balau (tombak), artinya kalau dipanggil atau diperintahkan harus segera melaksanakan, yang menurut kebiasaannya, perintah itu datang dari Entue Meraje.
4. Harus bersifat guci, artinya orang yang menjadi Tunggu Tubang harus tabah dalam menghadapi segala macam persoalan yang menimpa diri mereka.
5. Memelihara tebat (kolam), artinya menggambarkan ketenangan dan ketentraman dalam rumah tangga, tidak membocorkan rahasia rumah tangga. Walaupun ada masalah dalam rumah tangga, harus dijaga jangan sampai bocor, terutama pada Entue Meraje. Entue Meraje merupakan istilah dalam bahasa Semende yang artinya kakak atau adik perempuan yang menjadi Tunggu Tubang. Kesemuanya ini harus dijaga baik-baik (Rauf, 1989:138).
2.4. Keluarga
Kelompok terkecil dalam kehidupan manusia adalah keluarga. Keluarga adalah rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan, dan menyediakan fungsi-fungsi mendasar keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan (Lestari, 2012:6).
Sebagai sebuah kelompok kecil, keluarga juga memiliki bentuk, yaitu: Lee (dalam Lestari, 2012:6-7)
1. Keluarga Inti
20
layaknya persahabatan, sedangkan anak-anak tergantung pada orang tua dalam hal pemenuhan kebutuhan afeksi dan sosialisasi.
2. Keluarga Batih
Keluarga batih adalah keluarga yang menyertakan posisi lain selain tiga posisi ayah, ibu, dan anak. keluarga batih terbagi dalam beberapa bentuk, yaitu:
a. Keluarga bercabang (stem family)
Keluarga bercabang merupakan keluarga dimana seorang anak yang telah menikah masih tinggal dalam rumah orang tuanya.
b. Keluarga berumpun (linier family)
Keluarga berumpun merupakan keluarga dimana lebih dari satu anak yang sudah menikah tetap tinggal bersama kedua orang tuanya.
c. Keluarga beranting (fully extended)
Keluarga beranting merupakan keluarga dimana dalam satu keluarga terdapat generasi ketiga (cucu) yang sudah meikah dan tetap tinggal bersama.
Burges dan Locke (dalam Goode, 1985:14) juga mengemukakan terdapatnya 4 karakteristik keluarga yang terdapat pada semua keluarga juga untuk membedakan keluarga dari kelompok-kelompok sosial lainnya:
21
2. Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama di bawah satu atap dan merupakan susunan suatu rumah tangga atau jika mereka bertempat tinggal, rumah tangga tersebut menjadi rumah mereka. Kadang-kadang seperti masa lampau, rumah tangga adalah keluarga luas, meliputi didalamnya tiga, empat sampai lima generasi.
3. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peran sosial bagi suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Peranan-peranan tersebut dibatasi oleh masyarakat, tetapi masing-masing keluarga diperkuat oleh kekuatan melalui sentimen-sentimen, yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi emosional, yang menghasilkan pengalaman.
4. Keluarga adalah pemeliharaan suatu kebudayaan bersama, yang diperoleh pada hakekatnya dari kebudayaan umum, tetapi dalam suatu masyarakat yang kompleks masing-masing keluarga mempunyai ciri-ciri yang berkelainan dengan keluarga lainnya. Berbedanya dari setiap keluarga yang merupakan gabungan dari pola-pola ini dapat terbawa oleh istri maupun suami kedalam perkawinan, atau diperoleh sesudah perkawinan lewat pengalaman-pengalaman yang berbeda dari suami, istri dan anak-anak mereka.
Selain memiliki karakteristik yang membedakan dengan kelompok sosial lainnya, keluarga juga memiliki fungsi, yaitu:
1. Mendapat keturunan dan membesarkan anak.
22
3. Mengembangkan kepribadian.
4. Mengatur pembagian tugas, menanamkan kewajiban, hak dan tanggung jawab.
5. Mengajarkan dan meneruskan adat, istiadat, kebudayaan, agama, sistem nilai moral kepada anak. (Gunarsa, dan Gunarsa, 2004:30)
Berdasarkan fungsinya, keluarga merupakan agen dalam mewariskan pengajaran kepada individu, yaitu dalam hal ini adalah anak. Proses enkulturasi yaitu proses individu memelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, norma, aturan-aturan hidup yang berlaku dalam kebudayaannya, dimulai dari lingkup keluarga.
Dalam penelitian ini keluarga berperan dalam hal pewarisan tradisi Tunggu Tubang sebab tradisi ini bersifat genealogis yang berarti secara turun-temurun
23
dalam membentuk dan mengembangkan nilai-nilai yang dibutuhkan sebagai pegangan hidup. Komunikasi yang berlangsung berupa budaya atau tradisi ditranmisikan sebagai pesan kepada generasi selanjutnya, baik secara lisan maupun tulisan.
2.5. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan antara pengirim pesan dengan penerima pesan baik secara langsung maupun tidak langsung (Aw, 2011:5). Komunikasi interpersonal pada hakikatnya adalah suatu proses transaksi mengenai gagasan, ide, pesan, simbol, dan informasi yang terjadi diantara individu-individu yang sedang berinteraksi.
Komunikasi interpersonal merupakan suatu action oriented, ialah suatu tindakan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Beberapa tujuan dari komunikasi interpersonal, yaitu:
1. Mengungkapkan perhatian kepada orang lain
Pada prinsipnya komunikasi interpersonal hanya dimaksudkan untuk menunjukkan adanya perhatian kepada orang lain, dan untuk menghindari kesan dari orang lain sebagai pribadi yang tertutup, dingin, dan cuek. 2. Menemukan diri sendiri
24
3. Menemukan dunia luar
Dengan komunikasi interpersonal diperoleh kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi dari orang lain, termasuk informasi penting dan aktual. Informasi tersebut dapat berupa keadaan dunia luar yang sebelumnya tidak diketahui. Jadi komunikasi merupakan “jendela dunia”, karena dengan berkomunikasi dapat mengetahui berbagai kejadian di dunia luar.
4. Membangun dan memelihara hubungan yang harmonis
Sebagai makhluk sosial, salah satu kebutuhan setiap orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan baik dengan orang lain. Oleh karena itu, setiap orang telah banyak waktu untuk komunikasi interpersonal yang diabadikan untuk membangun hubungan sosial dengan orang lain.
5. Memengaruhi sikap dan tingkah laku
25
6. Mencari kesenangan atau sekedar menghabiskan waktu
Ada kalanya seseorang melakukan komunikasi interpersonal sekedar mencari kesenangan atau hiburan. Komunikasi yang mendatangkan kesenangan dapat mendatangkan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan suasana rileks, ringan, dan menghibur dari semua keseriusan berbagai kegiatan.
7. Menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi
Komunikasi interpesonal dapat menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi dan salah interpretasi, sebab dengan komunikasi interpersonal dapat dilakukan pendekatan secara langsung, menjelaskan berbagai pesan yang rawan menimbulkan kesalahan interpretasi.
8. Memberikan bantuan konseling
Ahli psikologi klinis dan terapi menggunakan komunikasi interpersonal dalam kegiatan profesionalnya untuk mengarahkan klien. Tanpa disadari setiap orang juga ternyata seting bertindak sebagai konselor maupun konseli dalam interaksi interpesonal sehari-hari (Aw, 2011:19-21).
26
2.6.Komunikasi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Mulyana, 2005:31). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan.
Komunikasi kelompok dapat dipetakan menjadi 3 kelompok komunikasi (Krech, 1982: 456) yaitu;
1. Small groups (kelompok yang berjumlah sedikit)
Komunikasi yang melibatkan sejumlah orang dalam interaksi satu dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang bersifat berhadapan. Ciri-ciri kelompok seperti ini adalah kelompok komunikan dalam situasi berlangsungnya komunikasi memunyai kesempatan untuk memberikan tanggapan, dalam hal ini komunikator dapat berinteraksi atau melakukan komunikasi antar pribadi.
2. Medium groups (agak banyak)
Komunikasi dalam kelompok sedang lebih mudah sebab bisa diorganisir dengan baik dan terarah, misalnya komunikasi antara satu bidang dengan bidang yang lain dalam organisasi atau perusahaan.
3. Large groups (jumlah banyak)
27
lebih sulit dibandingkan dengan dua kelompok di atas karena tanggapan yang diberikan komunikan lebih bersifat emosional.
Keluarga merupakan kelompok primer dan komunikasi yang terjadi di dalamnya termasuk komunikasi kelompok small group. Sebab interaksi dan komunikasi yang ada di dalamnya hanya melibatkan beberapa orang dan bersifat secara langsung. Keluarga sebagai kelompok primer menandakan bahwa keluarga memiliki peranan dalam pembelajaran dan pengembangan pada diri individu, sehingga nilai-nilai dan sikap yang dianut didalam keluarga membentuk dan menyatu dengan identitas anggota keluarga.
2.7.Teori Struktural Fungsional
Teori Struktural Fungsional merupakan teori yang memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari unsur-unsur sistem. Tiap unsur dalam sistem saling berhubungan secara fungsional sehingga apabila salah satu unsur rusak maka akan menyebabkan jalannya sistem secara keseluruhan terganggu (Soeroso, 2008:15). Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan untuk memertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang.
28
1. Adaptation (adaptasi): sebuah sistem harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.
2. Goal attainment (pencapaian tujuan): sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3. Integration (integrasi): sebuah sistem harus mengatur antarhubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus mengelola antarhubungan ketiga fungsi penting lainnya (A, G, L)
4. Latency (latensi atau pemeliharaan pola): sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memerbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Adaptasi merupakan cara bagaimana sistem sosial itu mengelola pengalokasian sumber-sumber dayanya, apakah itu berupa manusia, benda-benda atau simbol-simbol, integrasi merupakan cara memertahankan komitmen anggota-anggota sistem sosial kepada anggota-anggota-anggota-anggota sistem sosial kepada keseluruhan, pencapaian tujuan (goal-attainment) yaitu mencapai konsensus atas tujuan-tujuan yang hendak dikejar dan akhirnya pemeliharaan pola (pattern maintenance), atau perbaikan setiap kerusakan pada bagian-bagian sistem yang terjadi dalam operasi keseluruhan.
29
fungsional di masyarakat akan tetap ada sedangkan yang tidak memiliki fungsional akan hilang dengan sendirinya. Adanya nilai fungsional pada tradisi Tunggu Tubang membuat masyarakat terus melakukan pemeliharaan terhadap
tradisi ini.
2.8. Teori Komunikasi Interpersonal Devito (Pendekatan Humanistik)
Devito dalam Aw (2010:82) mengungkapkan karakteristik efektifitas komunikasi antar pribadi dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu sudut pandang humanistik, pragmatis, dan pendekatan sosial. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan humanistik karena pendekatan humanistik menekankan pada kelima aspek kualitas umum yang menentukan terciptanya komunikasi antar pribadi yang efektif. Humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta memunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan berjalan efektif berdasarkan lima kualitas pertimbangan yaitu:
1. Keterbukaan
30
cenderung menghindari sikap difensif dan lebih cermat memandang diri kita dan orang lain. Keterbukaan menjadi salah satu sikap yang positif sebab komunikasi interpersonal akan berlangung secara adil, transparan, dua arah, dan dapat diterima oleh semua pihak yang berkomunikasi.
2. Empati
Empati ialah kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dan dapat memahami suatu persoalan dari sudut pandang orang lain, melalui kacamata orang lain. Orang yang berempati mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap, serta harapan dan keinginan mereka. Dengan demikian empati akan menjadi filter agar individu baik sebagai komunikator ataupun komunikan, tidak mudah menyalahkan orang lain. Namun individu dibiasakan untuk dapat memahami setiap keadaan tidak semata-mata berdasarkan cara pandang sendiri, melainkan juga menggunakan sudut pandang orang lain.
3. Sikap mendukung
31
4. Sikap positif
Sikap positif bermaksud bahwa pihak-pihak yang telibat dalam komunikasi interpersonal harus memiliki perasaan dan pikiran positif, bukan pransangka dan curiga. Sikap positif adalah perwujudan nyata dari suatu pikiran terutama memerhatikan hal-hal yang baik. Suasana jiwa yang mengutamakan kegiatan kreatif dari pada kegiatan yang menjemukan, kegembiraan dari pada kesedihan, optimisme dari pada pesimisme. Ada dua cara dalam mengkomunikasikan sikap positif yaitu, menyatakan sikap positif dan secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikasi antarpribadi terbina jika orang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif.
5. Kesetaraan
32
2.9.Kerangka Pikir
Masyarakat etnis Semende memiliki tradisi unik dan masih ada hingga sekarang, yaitu tradisi Tunggu Tubang. Tradisi ini berkaitan dengan pewarisan harta pusaka keluarga kepada anak perempuan tertua di keluarga. Sistem pewarisan ini dipengaruhi oleh sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Etnis Semende yaitu matrilineal. Adanya struktural fungsional terdapat pada sistem pewarisan tradisi Tunggu Tubang etnis Semende yang menganut pada garis keturunan ibu dapat dilihat dari pemposisian anak perempuan yang dianggap penting dalam keluarga sebagai Tunggu Tubang dan tradisi Tunggu Tubang menjadi unsur dalam sistem masyarakat yang masih dilaksanakan.
Tradisi Tunggu Tubang ini merupakan identitas masyarakat etnis Semende yang sepatutnya dilestarikan dengan cara diwarisi kepada generasi-generasi selanjutnya. Proses pewarisan tidak lepas dari adanya komunikasi kepada individu-individu yang menjadi generasi penerus. Keluarga menjadi agen sangat berperan penting dalam proses pewarisan tradisi ini, dimana kedua orang tua memberikan penanaman nilai-nilai dan makna mengenai tradisi Tunggu Tubang kepada anak-anaknya agar dapat membentuk pandangan dan
proses pewarisan tradisi dapat berjalan. Komunikasi yang berlangsung antara orang tua dan anak pun haruslah berjalan efektif agar tujuan dari komunikasi berupa pewarisan tradisi dapat tercapai.
33
tradisi sebagai bentuk proses komunikasi untuk mewariskan tradisi Tunggu Tubang sehingga kelak anaknya terutama anak perempuan yang merupakan
34
Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir Sumber: Diolah oleh Peneliti
Berdasarkan uraian diatas maka kerangka pikir dalam penelitian ini adalah:
Struktural Fungsional
Masyarakat Etnis Semende Tradisi Tunggu Tubang
Keluarga
Orang Tua Anak
Pewarisan Tradisi Tunggu Tubang Komunikasi Interpersonal
Devito: Keterbukaan Empati
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Basrowi dan Suwandi, 2008:21) menyatakan metode kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data dekriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati.
Penelitian ini juga bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata, gambar dan bukan angka (Basrowi dan Suwandi, 2008:28). Sifat deskriptif digunakan untuk meneliti objek dengan cara menuturkan, menafsirkan data yang ada, dan pelaksanaanya melalui pengumpulan, penyusunan, analisa, interpretasi data yang diteliti pada masa sekarang. Penelitian ini bersifat deskriptif dimaksudkan untuk memeroleh deskripsi tentang peran keluarga berupa komunikasi terhadap pewarisan tradisi Tunggu Tubang.
3.2. Definisi Konsep
36
1. Peran dalam ilmu sosial merupakan suatu fungsi yang dibawakan oleh seseorang ketika menduduki suatu karakterisasi (posisi) dalam stuktur sosial (Suhardono, 2016: 3). Peran yang dibahas pada penelitian ini yaitu peran keluarga yang merupakan gambaran dari pola perilaku, sifat dan segala kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam situasi dan posisi tertentu, terbagi menjadi peran ayah, ibu dan anak yang berupa kegiatan komunikasi dalam upaya pewarisan tradisi.
2. Menurut Colley, pewarisan merupakan suatu proses peralihan nilai-nilai dan norma-norma yang dilakukan dan diberikan oleh generasi tua ke generasi muda (https://repository.unpas.ac.id/33070, diakses pada 26 Maret 2019 pukul 13.15). Pada penelitian ini pewarisan yang dibahas mengenai pewarisan tradisi Tunggu Tubang.
3.3. Fokus Penelitian
Penetapan fokus penelitian berfungsi untuk membatasi studi sehingga peneliti dapat membuat keputusan mengenai data yang perlu dan tidak perlu dikumpulkan (Basrowi dan Suwandi, 2008:67). Untuk dapat memermudah dalam penelitian yang dilakukan maka yang menjadi fokus penelitian adalah :
1. Peran keluarga dalam upaya pewarisan tradisi Tunggu Tubang
37
3.4. Penentuan Informan
Penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah informan, tetapi bisa tergantung dari tepat tidaknya pemilihan informan kunci, dan kompleksitas dari keragaman fenomena sosial yang diteliti. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah teknik penentuan
informan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2018:85).
Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai beberapa pertimbangan atau kriteria yang harus dimiliki oleh informan penelitian. Beberapa kriteria dari informan penelitian yang dimuat oleh peneliti, diantaranya :
1. Informan beretnis Semende.
2. Informan berdomisili atau memang warga asli di Desa Muara Dua. 3. Informan masih melaksanakan tradisi Tunggu Tubang.
4. Informan berusia 25-70 tahun.
5. Informan bersedia untuk diwawancara dan memberikan informasi yang peneliti butuhkan.
Penentuan informan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Informan merupakan Tokoh Adat Semende di Desa Muara Dua.
2. Informan merupakan Tunggu Tubang dikeluarga yang masih menjalankan tradisi Tunggu Tubang.
38
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang lengkap, akurat dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Observasi
Purwanto (dalam Basrowi dan Suwandi, 2008:93-94), observasi adalah metode pengumpulan data atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Peneliti mengamati dan meneliti keluarga Semende yang berdomisili di Desa Muara Dua. 2. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh kedua belah pihak, yaitu pewawancara sebagai pengaju pertanyaan dan yang diwawancarai, dengan maksud memerluas informasi dari orang lain (Basrowi dan Suwandi, 2008:127). Wawancara ini dilakukan beberapa kali sesuai dengan keperluan peneliti yang berkaitan dengan kejelasan dan kemantapan masalah yang dijelajahi. Pada penelitian ini, peneliti mengajukan sejumlah pertanyaan kepada para informan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
3. Dokumentasi
39
3.6. Sumber Data
Soeratno dan Arsyad (dalam Koestoro dan Basrowi 2006: 138), data adalah semua hasil observasi atau pengukuran yang telah dicatat untuk suatu keperluan tertentu. Ada dua sumber data dalam penelitian ini, yaitu sumber data primer dan data sekunder.
1. Data primer yaitu data terpenting dalam penelitian yang akan diteliti. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan baik melaluli pengamatan sendiri, maupun hasil dari wawancara yang dilakukan.
2. Data sekunder yaitu data yang mendukung data primer, mencakup data lokasi penelitian dan data lain yang mendukung masalah penelitian.
3.7. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat dipahami dengan mudah, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Miles and Hubermen (dalam Sugiyono, 2018:246-252) mengungkapkan komponen dalam analisis data, yaitu :
1. Reduksi Data
40
2. Penyajian Data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori. Penyajian data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Proses ini akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.
3. Verifikasi Data
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
3.8. Keabsahan Data
Data dalam penelitian kualitatif haruslah dapat dipertanggungjawabkan, sebagai penelitian ilmiah perlu dilakukan uji keabsahan data. Adapun uji keabsahan data yang dapat dilaksanakan, yaitu:
1. Meningkatkan kecermatan dalam penelitian
41
2. Triangulasi
Tiga teknik yang dapat dilakukan untuk dapat menguji data dan mendapatkan informasi yang benar, yaitu: (Sugiyono, 2018:241-242) 1. Triangulasi Sumber
Pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi Teknik
Pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi.
3. Triangulasi waktu
42
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1.Sejarah Desa Muara Dua Kecamatan Semendo Kabupaten Muara Enim
Desa Muara Dua merupakan desa yang terletak di kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan. Desa Muara Dua pada awalnya merupakan daerah yang tidak ada penghuninya, hanya sebuah semak belukar tidak berpenghuni. Baru kemudian pada tahun 1882-1888 mulai didatangi dan dihuni sekelompok masyarakat yang dipimpin oleh Pembarap. Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut dipimpin oleh Pembarap mulai dari tahun 1882-1888. Seorang penggawa lama Aman Hamili, bercerita bahwa yang bertugas sebagai pemimpin desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut dari tahun 1971-1995 sepengetahuan beliau adalah :
1. Pembarap Bastari dari 1947-1953 2. Pembarap Abdullah dari 1953-1968. 3. Pembarap Abdul Kohar dari 1968-1978
4. Pembarap Muharmin dari 1978-1983 (Syatibi, 2018:61-62).
43
4.2.Kondisi Geografis Desa Muara Dua
[image:62.595.135.513.250.370.2]Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim memiliki luas wilayah 21,55 km2, berada pada ketinggian dari permukaan laut 600-700 m dengan curah hujan rata-rata pertahun tergolong sedang. Batas-batas wilayah Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Batas-Batas Wilayah Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim
No Wilayah Batas
1 Utara Kawasan Desa Muara Danau SDL
2 Selatan Sungai ir Alun Kemudian Dengan Desa Pulau
Panggung
3 Timur Kawasan Hutan Lindung
4 Barat Sungai Air Mio
Sumber : Profil Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim, tahun 2018
Orbitasi (Jarak Dari Pusat Pemerintahan) Desa Muara Dua Kecamatan
Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Orbitasi Desa Muara Dua
No Orbitasi Jarak
1 Jarak Ke Ibukota Kecamatan 1 km
2 Jarak Ke Ibukota Kabupaten 82 km
3 Jarak Ke Ibukota Provinsi 278 km
4 Waktu Tempuh Ke Ibukota Kecamatan 10 menit
5 Waktu Tempuh Ke Ibukota Kabupaten 2,5 jam
6 Waktu Tempuh Ke Pusat Fasilitas ( Ekonomi, Kesehatan, Pemerintahan )
10 menit
Sumber : Profil Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim, tahun 2018
4.3.Demografi Desa Muara Dua
[image:62.595.135.514.457.580.2]44
Tabel 4. Jumlah Penduduk Desa Muara Dua Menurut Agama
No Agama Jumlah Jiwa
1 Islam 1574
2 Kristen -
3 Budha -
4 Hindu -
5 Khonghucu -
Sumber : Profil Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim, tahun 2018
Berdasarkan tabel diatas maka dapat peneliti simpulkan bahwa penduduk desa Muara Dua beragama Islam yaitu berjumlah 1574 jiwa.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Desa Muara Dua Menurut Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Jiwa Persentase (%)
1 Laki-Laki 673 42,8%
2 Perempuan 901 57,2%
Jumlah 1574 100%
Sumber : Profil Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut Kabupaten Muara Enim, tahun 2018
Berdasarkan data pada tabel di atas diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Muara Dua Kecamatan Semende Darat Laut adalah 1574 jiwa, dengan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, yaitu sebanyak 901 (57,2%) sedangkan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 673 (42,8%).
4.4 Etnis Semende
[image:63.595.135.501.273.339.2]45
4.4.1.Sejarah Semende
Dzulfikriddin (2001:7) menjelaskan bahwa Semende mulai dibuka pada 1650 M atau 1072 H oleh puyang yang bernama Syekh Nurqadim Al-Baharudin atau yang lebih dikenal dengan puyang awak. Puyang awak merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati dan ia mewarisi ilmu kewalian dan kemujahidan Sunan Gunung Jati. Syekh Nurqadim Al-Baharudin menikahi seorang gadis dari Muara Siban di kaki Gunung Dempo dan membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh. Banyak para penghulu atau pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan untuk memenuhi ajakan Nurqadim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh. Setelah banyak orang yang bermukim disana, maka diresmikanlah Talang itu oleh Ratu Agung Dede Abang menjadi dusun yang dinamakan Para Dipe yang artinya Para Penghulu Agama atau yang lebih mudah
disebut dengan Pardipe. Peresmian tersebut terjadi pada tahun 1650 M atau 1072 H. Di Pardipe, Syekh Nurqadim Al-Baharudin dan para sahabatnya memulai penerapan ajaran Islam sekaligus penerapan ajaran adat yang mereka namakan Semende.
4.4.2. Bahasa Etnis Semende