• No results found

Text ABSTRACT (ABSTRAK) pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRACT (ABSTRAK) pdf"

Copied!
74
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KEAKTIFAN LANJUT USIA (LANSIA) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

RAJABASA INDAH

(Skripsi)

Oleh:

CHRISTINE YOHANA SIANTURI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KEAKTIFAN LANJUT USIA (LANSIA) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

RAJABASA INDAH

Oleh:

CHRISTINE YOHANA SIANTURI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG

(3)

ABSTRACT

ASSOCIATION OF FAMILY SUPPORT AND OTHER RELATED FACTORS WITH ELDERLY’S ACTIVENESS IN ATTENDING ACTIVITIES OF POSYANDU LANSIA IN RAJABASA INDAH REGION

PUBLIC HEALTH CENTER

By

CHRISTINE YOHANA SIANTURI

Background: Elderly has many health problems. One of the health care efforts to maintain the elderly’s health and productivity is having an elderly integrated service center (posyandu lansia). Elderly service in Bandarlampung is the second lowest in Lampung. In 2015 and 2016, the visitation of posyandu lansia has decreased compared to 2014. This study was aimed to determine the association of family support and other related factors with the elderlys’s activeness in attending posyandu lansia’s activities in Rajabasa Indah public health center.

Methods: This was a descriptive research with cross sectional approach. Independent variables were sosiodemographic characteristic, distance, family support, posyandu officers’ support, knowledge, and attitude. While the dependent variable was the elderly’s activeness in attending the activities of posyandu lansia. This research was conducted in September-December 2016. The sampling techniques used in this study was proportional stratified random sampling with 96 subjects. Data analysis used were Chi square and fisher’s exact with α=5%.

Results: The result showed there was an association between occupation (p=0,001, RR=1,86, 95%CI=1,97-123,36), family support (p=0.001, RR=2,30, 95%CI=3,43-24,60), knowledge (p=0.019, RR=1,83, 95%CI=1,52-2,20), and attitude (p=0.039, RR=1,80, 95%CI=1,50-2,17) with elderly’s activeness in attending posyandu’s activities. There was no association between sex (p=0.681), age (p=0.719), education (p=0.319), distance (p=0.313), and posyandu officers’ support (p=0.566) with the elderly’s activeness in attending the activities of posyandu lansia.

Conclusion: There was an association between occupation, family support, knowledge, and attitudes whereas gender, age, education, distance, and posyandu officers’ support are not related to the elderly’s activeness. The most related factors were family’s support and occupation.

(4)

ABSTRAK

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KEAKTIFAN LANJUT USIA (LANSIA) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

RAJABASA INDAH

Oleh

CHRISTINE YOHANA SIANTURI

Latar belakang: Lanjut usia (lansia) memiliki banyak masalah kesehatan. Salah satu upaya pemeliharaan kesehatan agar lansia dapat hidup sehat dan produktif adalah pos pelayanan terpadu (posyandu) lansia. Data cakupan pelayanan lansia di Bandarlampung merupakan capaian terendah kedua di Lampung. Presentase kunjungan di posyandu lansia di wilayah Puskesmas Rajabasa Indah masih rendah dan tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.

Metode: Penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Variabel bebas adalah karakteristik sosiodemografi, jarak, dukungan keluarga, dukungan kader, pengetahuan dan sikap. Variabel terikat adalah keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Desember 2016. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling dan berjumlah 96 orang. Uji statistik yang digunakan chi square, dan fisher’s exact, dengan α= 5%.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pekerjaan (p=0,001, RR=1,86, 95%CI=1,97-123,36), dukungan keluarga (p=0,001, RR=2,30, 95%CI=3,43-24,60 ), tingkat pengetahuan (p=0,019, RR=1,83, 95%CI=1,52-2,20), dan sikap (p=0,039, RR=1,80, 95%CI=1,50-2,17) dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu. Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p=0,681), usia (p=0,719), pendidikan terakhir (p=0,319), jarak (p=0,303), dan dukungan kader (p=0,566) dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu.

Kesimpulan: Faktor resiko yang berhubungan dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu adalah pekerjaan, dukungan keluarga, tingkat pengetahuan, dan sikap. Faktor yang paling berpengaruh adalah dukungan keluarga dan pekerjaan.

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 November 1994, sebagai anak

pertama dari empat bersaudara dari Bapak Benny Hasiholan Nagara Sianturi dan

Ibu Hening Tiaswati Siahaan.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) diselesaikan di TK Yayasan Pendidikan

Jayawijaya (YPJ) Tembagapura pada tahun 2000, Sekolah Dasar (SD)

diselesaikan di SD Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Kuala Kencana pada

tahun 2006, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Tarakanita

Gading Serpong pada tahun 2009, dan Sekolah Menengah Atas (SMA)

diselesaikan di SMA Negeri 8 Tangerang pada tahun 2012.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif pada Badan Eksekutif Mahasiswa

(BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Perhimpunan Mahasiswa

Pecinta Alam Tanggap Darurat (PMPATD) Pakis sebagai anggota tahun

2013-2016, pengurus Perhimpunan Tenaga Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran

Indonesia (PTBMMKI) pada tahun 2014-2015, pengurus Permako Medis pada

(9)

i

Puji Tuhan, dengan segala kerendahan hati,

Kupersembahkan karya sederhana ini dengan ucapan syukur kepada

Tuhan Yesus

Untuk Ayahanda Benny H.N. Sianturi dan Ibunda Hening T.

Siahaan

Untuk adik-adik kebangganku Iriani N. G. Sianturi, Britania H.

Sianturi, dan Josiah D. Sianturi

Serta untuk sahabat-sahabatku

(10)

ii

Therefore I tell you,

whatever you ask for in prayer,

Believe that you have received it,

(11)

iii SANWACANA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan segala

kasih, karunia, dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga dan Faktor Lainnya dengan Keaktifan Lanjut Usia

(Lansia) Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah”.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapat masukan, bantuan, dorongan,

saran, bimbingan dan kritik dari berbagai pihak. Maka dengan segenap kerendahan hati

penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., Selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Dr. dr. Muhartono, S.Ked., M.Kes., Sp.PA., selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung;

3. dr. Diana Mayasari, M.K.K. selaku Pembimbing Satu atas kesediaannya meluangkan

banyak waktu untuk membimbing, menjawab pertanyaan penulis, memberikan

masukan, saran dan kritik termasuk cara penulisan dan mengungkapkan kata-kata

dengan baik dan benar, serta motivasi yang bermanfaat dalam proses penyelesaian

skripsi ini;

4. dr. Ety Apriliana, M.Biomed selaku Pembimbing Kedua atas kesediaannya untuk

meluangkan waktu, memberikan masukan dan bimbingan, mengingatkan mengenai

format penulisan, membantu meginterpretasikan hasil analisis data, saran, dan kritik

(12)

iv 5. dr. M. Yusran, M.Sc., Sp.M. selaku Penguji Utama pada ujian Skripsi, terima kasih

atas kesediannya memberikan waktu, ilmu dan saran-saran yang membantu dalam

meningkatkan pengetahuan penulis selama proses penyelesaian skripsi ini;

6. dr. Betta Kurniawan, M.Kes selaku Pembimbing Akademik atas kesediaannya

memberikan bimbingan, nasihat dan saran yang membangun dan bermanfaat selama

perkuliahan di Fakultas Kedokteran ini walaupun dalam kondisi yang sibuk;

7. Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Kedokteran Unila atas bimbingan, ilmu,

dan waktu, yang telah diberikan dalam proses perkuliahan. Terkhusus untuk Mbak

Lisa, Mbak Lutfi, Mbak Qori, dan Pak Supangat yang telah sangat membantu,

memberikan waktu dan tenaga serta kesabarannya selama dalam proses penyelesaian

penelitian dan pelaksanaan seminar ini;

8. Papa dan mama tersayang, Benny Hasiholan Nagara Sianturi dan Hening Tiaswati

Siahaan yang menjadi motivator utama untuk penulis dalam menyelesaikan

perkuliahan. Terima kasih karena tak pernah lelah memberikan kasih sayang,

mendoakan, memberikan perhatian dan dukungan, membangunkan penulis, dan

memotivasi serta mendengarkan keluh kesah penulis. Terima kasih untuk

perjuangannya hingga penulis sampai pada titik ini, dan terima kasih karena

mengizinkan penulis mengejar cita-citanya;

9. Adik-adikku yang sangat kukasihi, Iriani Novio Gloria Sianturi, Britania Hasiholan

Sianturi, dan Josiah Daniel Sianturi serta seluruh keluarga besar yang tersayang yang

selalu berhasil memberikan semangat kepada peneliti. Terima kasih atas doa, kasih

sayang, dukungan, motivasi yang selalu diberikan. Terima kasih karena selalu

mendengarkan cerita peneliti dan membawa sukacita untuk peneliti;

10.Sahabat-sahabatku tersayang Neza Ukhalima, Salsabila Septira, Faridah Alatas,

(13)

v Labibah, dan Sutria Nirda yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat

kepada penulis. Terima kasih karena selain memberikan dukungan secara emosional

kalian juga telah bersedia meluangkan waktu di pagi hari bahkan melewatkan

perkuliahan untuk mengantar dan membantu peneliti dalam mempersiapkan segala

hal terkait penelitian dan dalam mewawancarai lansia di posyandu.

11.Sahabat serta keluarga saya “Ladies of God”, “Pengurus Permako Medis”, “Kuah Ketoprak”, “Beauty without Beast”, “Teman Burung”, dan teman-teman terbaik

lainnya yaitu Dear, Dea, Julia, Fauziah, Hanum, Meti, Nida, Sayyidatun, Wahida,

Zahra, Tito, Fadel, Firza, Marco, Fuad, Annisa, Tiffany, Benny, Raka, Irfan, Edgar,

Bisart, Josua. Terimakasih karena telah menjadi sahabat-sahabat yang mengasihi,

selalu bersedia membantu, mendengarkan keluh kesah, memotivasi dan membawa

keceriaan, serta saling mendoakan selama menjalani proses perkuliahan di FK Unila.

12.Kakak-kakak dan adik-adikku, Septina Ashariani, Kak Yvonne, Kak Gaby, Kak Ika,

Kak Lexy, Kak Radian, Karen, Grace, Febe, Rian, Yosua, Olivia, Harry, Renti,

Brigita, Efry, Lidya, Semadela, Josi dan Brandon yang selalu mendoakan dan

membantu penulis untuk mengerti banyak hal. Terimakasih untuk dukungan dan

sukacita yang diberikan.

13.Teman seperjuangan skripsi, baik teman pembimbing satu, teman pembimbing dua,

dan pembahas, terutama Tarrini, Amalia, Putri, Ria, dan Intan, yang menemani dan

memotivasi penulis untuk terus bersemangat menyelesaikan penelitian dan penulisan

skripsi ini. Terima kasih sudah meluangkan waktunya yang berharga;

14.Teman-temanku CERE13ELUMS yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Terimakasih atas kebersamaan, keceriaan, kekompakan kebahagiaan selama 3,5 tahun

perkuliahan ini, semoga kelak kita bisa menjadi dokter yang melayani dengan

(14)

vi 15.Kakak dan adik angkatan 2011, 2014, 2015, 2016 terimakasih atas dukungan, doa dan

bantuannya dalam satu fakultas kedokteran.

16.Ibu Imronah, Ibu Eva, Ibu Fitirana, dan para kader posyandu yang telah meluangkan

waktunya dan membantu penulis dalam proses penelitian.

17.Terimakasih kepada para lansia yang mengikuti kegiatan posyandu dan bersedia

menjadi sampel untuk penulis. Terima kasih karena telah meluangkan waktu dan

memberikan pelajaran serta masukan yang berharga bagi peneliti.

18.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah

memberikan bantuan dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari

kesempurnaan. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan

pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Terima kasih.

Bandar Lampung, 27 Januari 2017

Penulis

(15)

vii DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 LatarBelakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan ... 6

1.3.1 Tujuan Umum ... 6

1.3.2 Tujuan Khusus ... 6

1.4 Manfaat ... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 LanjutUsia ... 9

2.1.1 Definisi Lanjut Usia ... 9

2.1.2 Proses Penuaan... 10

2.1.3 Masalah Kesehatan Lanjut Usia... 11

2.1.4 Upaya Kesehatan Lanjut Usia ... 12

2.2 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia ... 13

2.2.1 Definisi Posyandu ... 13

2.2.2 Definisi Posyandu Lanjut Usia ... 13

2.2.3 Manfaat Posyandu Lanjut Usia ... 14

2.2.4 Kegiatan Posyandu Lanjut Usia ... 15

2.3 Dukungan Keluarga ... 17

2.4 Jarak... 20

2.5 Dukungan Kader... 21

2.6 Pengetahuan... 23

2.6.1 Pengertian Pengetahuan ... 23

2.6.2 Tingkat Pengetahuan ... 23

2.7 Sikap ... 24

2.7.1 Pengertian Sikap ... 24

2.7.2 Komponen Sikap ... 25

2.8 Perilaku Manusia ... 25

2.9 Profil Puskesmas Rajabasa Indah ... 29

(16)

viii

2.11 Kerangka Konsep ... 32

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 33

3.1 DesainPenelitian ... 33

3.2 Waktu dan Tempat ... 33

3.3 Populasi dan Sampel ... 33

3.3.1 Populasi ... 33

3.3.2 Sampel... 34

3.3.2.1 KriteriaInklusi ... 34

3.3.2.2 Kriteria Eksklusi ... 34

3.3.2.3 Besar Sampel ... 34

3.4 Variabel Penelitian ... 36

3.4.1 Variabel bebas ... 36

3.4.2 Variabelterikat... 36

3.5 Definisi Operasional ... 37

3.6 Instrumen Penelitian ... 38

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 40

3.8 Prosedur Penelitian ... 41

3.9 Alur Penelitian ... 43

3.10 Analisa Data dan Pengujian Hipotesa ... 43

3.11 Etika Penelitian... 45

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46

4.1 Gambaran Umum Penelitian ... 46

4.2 Hasil Penelitian... 46

4.2.1 Karakteristik Sosiodemografi ... 46

4.2.2 Dukungan Keluarga ... 50

4.2.3 Jarak ... 51

4.2.4 Dukungan Kader ... 51

4.2.5 Tingkat Pengetahuan ... 52

4.2.6 Sikap ... 53

4.2.7 Keaktifan ... 53

4.2.8 Analisis Bivariat Karakteristik Sosiodemografi ... 54

4.2.9 Analisis Bivariat Dukungan Keluarga ... 56

4.2.10 Analisis Bivariat Jarak ... 57

4.2.11 Analisis Bivariat Dukungan Kader ... 58

4.2.12 Analisis Bivariat Tingkat Pengetahuan ... 58

4.2.13 Analisis Bivariat Sikap ... 59

4.2.14 Analisis Multivariat ... 60

4.3 Pembahasan ... 63

4.3.1 Gambaran Umum Responden Penelitian ... 61

4.3.2 Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 63

4.3.3 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 66

(17)

ix

4.3.5 Hubungan Dukungan Kader dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa

Indah ... 68

4.3.6 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 70

4.3.7 Hubungan Sikap dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 71

4.3.8 Pembahasan Multivariat ... 72

4.3.2 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 74

5.1 Kesimpulan ... 74

Saran ... 75

(18)

x DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Jumlah Sampel ... 35

2. Definisi Operasional ... 37

3. Karakteristik Sosiodemografi Responden ... 47

4. Karakteristik Lansia berdasarkan Jenis Kelamin ... 48

5. Karakteristik Lansia berdasarkan Usia ... 48

6. Karakteristik Lansia berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 49

7. Karakteristik Lansia berdasarkan Pekerjaan ... 50

8. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Keluarga ... 50

9. Karakteristik Lansia berdasarkan Jarak Tempat Tinggal terhadap Posyandu ... 51

10. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Kader ... 52

11. Karakteristik Lansia berdasarkan Tingkat Pengetahuan ... 52

12. Karakteristik Lansia berdasarkan Sikap ... 53

13. Karakteristik Lansia berdasarkan Keaktifan ... 54

14. TabulasiSilangKarakteristikSosiodemografidenganKeaktifanLansiaMengikutiKeg iatanPosyanduLansia ... 55

15. TabulasiSilangDukungan KeluargadenganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 56

16. TabulasiSilangJarak denganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 57

17. TabulasiSilangDukungan Kader denganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 58

18. TabulasiSilang Tingkat PengetahuandenganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 58

19. TabulasiSilangSikapdenganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 59

(19)

xi DAFTAR GAMBAR

(20)

xii DAFTAR LAMPIRAN

(21)

x DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Jumlah Sampel ... 35

2. Definisi Operasional ... 37

3. Karakteristik Sosiodemografi Responden ... 47

4. Karakteristik Lansia berdasarkan Jenis Kelamin ... 48

5. Karakteristik Lansia berdasarkan Usia ... 48

6. Karakteristik Lansia berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 49

7. Karakteristik Lansia berdasarkan Pekerjaan ... 50

8. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Keluarga ... 50

9. Karakteristik Lansia berdasarkan Jarak Tempat Tinggal terhadap Posyandu ... 51

10. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Kader ... 52

11. Karakteristik Lansia berdasarkan Tingkat Pengetahuan ... 52

12. Karakteristik Lansia berdasarkan Sikap ... 53

13. Karakteristik Lansia berdasarkan Keaktifan ... 54

14. Tabulasi Silang Karakteristik Sosiodemografi dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 55

15. Tabulasi Silang Dukungan Keluarga dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 56

16. Tabulasi Silang Jarak dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 57

17. Tabulasi Silang Dukungan Kader dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 58

18. Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 58

19. Tabulasi Silang Sikap dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 59

(22)

xi DAFTAR GAMBAR

(23)

xii DAFTAR LAMPIRAN

(24)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan Indonesia adalah semakin

meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH). Peningkatan UHH

menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke

tahun. Proyeksi rata-rata UHH penduduk Indonesia tahun 2015-2020 adalah

71,7 tahun, meningkat dari proyeksi tahun 2010-2015 yang adalah 70,7

tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2013).

Lanjut Usia (lansia) Menurut UU RI Nomor 13 tahun 1998 tentang

Kesejahteraan Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60

tahun ke atas (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Data statistik tahun 2014

menunjukkan jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa, setara

dengan 8,03% dari total seluruh penduduk, sementara di daerah lampung

menunjukkan presentase penduduk lansia usia 60-69 tahun adalah 4,51%,

usia 70-79 tahun adalah 2,09% dan usia ≥80 tahun adalah 0,88%

(Subdirektorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial, 2015).

Perubahan struktur penduduk ini mempengaruhi angka beban

(25)

2

ditanggung penduduk produktif untuk membiayai penduduk tua, yaitu 11,90

persen pada tahun 2012 (Kementerian Kesehatan RI, 2013).

Peningkatan usia harapan hidup juga akan menimbulkan dampak khususnya

masalah kesehatan. Angka kesakitan penduduk lansia tahun 2012 sebesar

26,93%. Fungsi fisiologis dan daya tahan tubuh mengalami penurunan

akibat proses degeneratif (penuaan) dengan bertambahnya usia sehingga

penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes mellitus, dan

rematik serta penyakit menular banyak muncul pada lansia. Pertambahan

penduduk lansia akan disertai oleh berbagai masalah dan akan

mempengaruhi berbagai aspek kehidupan yang meliputi fisik, biologis,

mental maupun sosial ekonomi (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Lansia

yang sakit-sakitan akan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan

bahkan pemerintah, sehingga akan menjadi beban dalam pembangunan

(Kementerian Kesehatan RI, 2010).

UU RI Nomor 36 tahun 2009 menyatakan upaya pemeliharaan kesehatan

bagi lansia ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif

secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan

(Departemen Kesehatan RI, 2009). Upaya pemerintah yang telah dilakukan

antara lain pendirian home cara bagi lansia berkebutuhan khusus, program

usaha ekonomi produktif, serta pos pelayanan terpadu (posyandu) lansia

(26)

3

Posyandu lansia adalah suatu pos pelayanan terpadu untuk masyarakat

lanjut usia di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati dan digerakkan

oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kegiatan di posyandu lansia meliputi kegiatan preventif, promotif, kuratif,

dan rehabilitatif (Handayani & Wahyuni, 2012).

Penelitian di posyandu lansia Desa Simoboyo Kecamatan Pacitan

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup antara lansia yang

aktif mengikuti posyandu lansia dan yang tidak aktif. Data menunjukkan

58,3% lansia yang mengikuti posyandu sebagian besar memiliki kualitas

hidup yang baik sedangkan 41,7% yang tidak aktif memiliki kualitas hidup

yang buruk (Latifah, 2013).

Data cakupan pelayanan lansia di Provinsi Lampung tahun 2014

menunjukkan bahwa Bandarlampung memiliki angka 23,72% yang jauh

dibawah target yaitu sebesar 70% dan merupakan capaian terendah kedua

setelah Lampung Utara dengan angka cakupan 18,74% (Dinas Kesehatan

Provinsi Lampung, 2014). Data pencatatan kegiatan kelompok usia lanjut di

wilayah Puskesmas Rajabasa Indah tahun 2014 menunjukkan bahwa

rata-rata persentase kunjungan pra lansia dan lansia di 13 kelompok lansia

adalah 8,08% dari total 4371 orang. Tahun 2015, terjadi penurunan

kunjungan di 8 posyandu lansia yang dibina sebesar 5,27% menjadi 2,81%

dengan rincian presentase kunjungan pra lansia sebesar 1,13% dan lansia

(27)

4

presentase kunjungan lansia sebesar 5,01%. Data tersebut belum lengkap

namun jika dibandingkan dengan data presentase kunjungan lansia tahun

2014 masih lebih rendah (Puskesmas Rajabasa Indah, 2016).

Banyak faktor yang mempengaruhi keaktifan lansia dalam kegiatan

posyandu. Penelitian Purnawati (2014) menunjukkan faktor-faktor yang

mempengaruhi kunjungan lansia adalah pekerjaan, umur, pengetahuan,

sikap, dan dukungan keluarga maupun masyarakat, sedangkan jenis

kelamin, pelayanan kader dan petugas kesehatan tidak mempengaruhi

kunjugan lansia ke posyandu. Penelitian lain menyebutkan bahwa faktor

yang berhubungan yaitu tingkat pengetahuan, dukungan keluarga dan

dukungan petugas, sedangkan variabel yang tidak berhubungan adalah jarak

tempat tinggal lansia (Aryatiningsih, 2014). Berbeda dengan itu, Penelitian

terhadap 371 orang di Kabupaten Deli Serdang menunjukkan bahwa baik

tingkat pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dukungan kader maupun

jarak memiliki hubungan bermakna dengan pemanfaatan posyandu lansia

(Natsution, 2013).

Dukungan keluarga merupakan salah satu aspek yang dapat

memberdayakan pengembangan aktivitas lansia dengan meningkatkan

keinginan untuk mengetahui dan menggunakan suatu hal baru, termasuk

minat mengikuti posyandu lansia (Aryatiningsih, 2014). Penelitian terhadap

364 lansia di Pekanbaru menunjukkan lansia berpengetahuan rendah yang

(28)

5

mendapatkan dukungan keluarga dan tidak memanfaatkan posyandu

sebanyak 78,8%. Dapat dilihat bahwa dukungan keluarga, dukungan kader,

jarak, tingkat pengetahuan, maupun sikap lansia dapat mempengaruhi

keaktifan lansia dalam kegiatan posyandu lansia.

Berbagai faktor dapat menyebabkan rendahnya kunjungan di posyandu

lansia di wilayah Puskesmas Rajabasa Indah pada tahun 2015 dan 2016.

Melihat hal tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang apakah ada

hubungan dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan keaktifan lanjut

usia (lansia) mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja

Puskesmas Rajabasa Indah.

1.2 Rumusan Masalah

Jumlah penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Ditinjau dari

aspek kesehatan, kelompok lansia akan mengalami penurunan derajat

kesehatan. Berbagai program dan upaya telah dilakukan oleh pemerintah,

salah satunya adalah posyandu lansia. Namun, beberapa penelitian

menunjukkan bahwa angka kunjungan posyandu lansia masih rendah.

Presentase kehadiran pra lansia dan lansia di posyandu lansia Rajabasa pada

tahun 2014 adalah 8,08% dan mengalami penurunan pada tahun 2015

menjadi 2,81%. Angka tersebut juga masih jauh dari target pencapaian

cakupan pelayanan kesehatan lansia Provinsi Lampung tahun 2014, yaitu

(29)

6

dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan keaktifan lanjut usia (lansia)

mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa

Indah?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan

keaktifan lanjut usia (lansia) mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah

kerja Puskesmas Rajabasa Indah.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui angka kunjungan posyandu lansia di wilayah kerja

Puskesmas Rajabasa Indah.

b. Mengetahui karakteristik lansia (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan,

pekerjaan) di posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa

Indah.

c. Mengetahui keaktifan kunjungan lansia di posyandu lansia di wilayah

kerja Puskesmas Rajabasa Indah.

d. Mengetahui jumlah keluarga yang mendukung lansia mengikuti

posyandu lansia.

e. Mengetahui jumlah kader yang mendukung lansia mengikuti posyandu

lansia.

f. Mengetahui gambaran jarak rumah lansia dengan posyandu lansia.

(30)

7

h. Mengetahui sikap lansia terhadap posyandu lansia.

i. Mengetahui hubungan karakteristik sosiodemografi dengan keaktifan

lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas

Rajabasa Indah.

j. Mengetahui hubungan jarak dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan

posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.

k. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan keaktifan lansia

mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas

Rajabasa Indah.

l. Mengetahui hubungan dukungan kader dengan keaktifan lansia

mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas

Rajabasa Indah.

m.Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan lansia dengan keaktifan

lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas

Rajabasa Indah.

n. Mengetahui hubungan sikap lansia dengan keaktifan lansia mengikuti

kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini di harapkan dapat menghasilkan suatu informasi yang

dapat di gunakan dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya mengenai

(31)

8

usia (lansia) mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja

Puskesmas Rajabasa Indah.

b. Bagi Peneliti

Sebagai wujud pengaplikasian disiplin ilmu yang telah dipelajari dan

dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman di bidang

kesehatan komunitas, khususnya mengenai hubungan dukungan keluarga

dan faktor lainnya dengan keaktifan lanjut usia (lansia) mengikuti

kegiatan posyandu.

c. Bagi Praktisi Kesehatan

Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan dan masukan

dalam meningkatkan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan

posyandu lansia.

d. Bagi Masyarakat Umum

Dapat menjadi informasi yang bermanfaat di bidang kesehatan terutama

dalam mengetahui pentingnya megikuti kegiatan posyandu lansia dan

(32)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lanjut usia

2.1.1 Definisi Lanjut Usia

Definisi lanjut usia (lansia) menurut UU RI No. 13 tahun 1998 tentang

kesejahteraan lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60

(enam puluh) tahun ke atas, baik yang masih mampu melakukan pekerjaan

dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa, maupun

yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada

bantuan orang lain (Notoadmodjo, 2007). WHO membagi lansia menjadi

empat kelompok yaitu usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun; lansia

(elderly) 60-74 tahun; lansia tua (old) 75-90 tahun; usia sangat tua (very old)

usia diatas 90 tahun (Efendi, 2009).

Berbeda dengan WHO, Departemen Kesehatan RI (2003)

mengklasifikasikan lansia menjadi pralansia untuk seorang yang berusia

antara 45-59 tahun, lansia untuk seorang yang berusia 60 tahun atau lebih,

lansia resiko tinggi untuk seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/

(33)

10

lansia potensial untuk lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan

dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/ jasa, dan lansia tidak

potensial untuk lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga

hidupnya bergantung pada pekerjaan orang lain (Maryam et al, 2008).

2.1.2 Proses Penuaan

Menua adalah proses yang mengakibatkan suatu perubahan bersifat

kumulatif, dan suatu proses penurunan daya tahan tubuh dalam menghadapi

rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian

(Kementerian Kesehatan RI, 2014). Secara umum, proses menua adalah

perubahan terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, profresif dan

detrimental (Dewi, 2014). Proses penuaan merupakan proses biologis

dimana terdapat perubahan-perubahan dalam tubuh yang terprogram oleh

jam biologis, terjadinya aksi dari zat metabolik akibat mutasi spontan,

radikal bebas dan adanya kesalahan pada molekul DNA, dan perubahan

yang terjadi di dalam sel ataupun akibat pengaruh dari luar sel (Dewi &

Darwin, 2014).

Menurut Hernawati (2006), perubahan pada lansia meliputi perubahan

biologis, psikologis dan sosiologis. Perubahan biologis diantaranya adalah

penurunan fungsi sel otak, penurunan kemampuan, penurunan massa otot

dan peningkatan massa lemak yang mengakibatkan penurunan cairan tubuh

sehingga kulit kelihatan mengerut, kering serta muncul garis-garis yang

(34)

11

pendengaran yang menyebabkan lansia kurang aktif dan mengganggu

kegiatan sehari-hari. Perubahan psikologis berupa ketidakmampuan untuk

mengadakan penyesuaian terhadap situasi yang dihadapi misalnya sindrom

lepas jabatan dan sedih yang berkepanjangan. Perubahan sosiologis lansia

sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman terhadap diri

sendiri. Perubahan ini disebabkan oleh perubahan status sosial, misalnya

pensiunan (Ina, 2006).

2.1.3 Masalah Kesehatan Lanjut Usia

Seiring dengan penambahan umur, proporsi lansia yang mengalami keluhan

kesehatan semakin besar. Sebanyak 37,11 %penduduk pra lansia mengalami

keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir, meningkat menjadi 48,39 % pada

lansia muda, meningkat lagi menjadi 57,65 % pada lansia madya, dan

proporsi tertinggi pada lansia tua yaitu sebesar 64,01 % (Kementerian

Kesehatan RI, 2013). Keluhan kesehatan itu sendiri adalah suatu keadaan

dimana seseorang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik

karena penyakit akut/kronis, kecelakaan, kriminalitas, atau sebab lainnya.

(Badan Pusat Statistik, 2015).

Kemunduran pada fungsi organ tubuh khususnya lansia menyebabkan

rawan terhadap serangan berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus,

stroke, gagal ginjal, kanker, hipertensi, dan jantung. Jenis-jenis keluhan

kesehatan pada lansia dapat mengindikasikan gejala awal dari penyakit

(35)

12

yang paling banyak dialami lansia adalah keluhan lainnya, yaitu jenis

keluhan kesehatan yang secara khusus memang diderita lansia seperti asam

urat, darah tinggi, darah rendah, reumatik, diabetes, dan berbagai jenis

penyakit kronis lainnya (Badan Pusat Statistik, 2015).

2.1.4 Upaya Kesehatan Lanjut Usia

Kementerian Kesehatan dalam upaya untuk meningkatkan status kesehatan

para lansia melakukan beberapa program, yaitu:

a. Peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para lansia di pelayanan

kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok lansia melalui

program Puskesmas Santun Lanjut Usia dengan mengutamakan aspek

promotif dan preventif di samping aspek kuratif dan rehabilitatif.

b. Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lansia melalui pengembangan

Poliklinik Geriatri di Rumah Sakit.

c. Peningkatan penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan dan

gizi bagi usia lanjut. Kegiatan program kesehatan lansia terdiri dari

kegiatan promotif penyuluhan tentang perilaku hidup sehat dan gizi

lansia, deteksi ini dan pemantauan kesehatan lansia, pengobatan ringan

bagi lansia dan kegiatan rehabilitatif berupa upaya medis, psikososial dan

edukatif (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

Tujuan program kesehatan lansia adalah agar para lansia menikmati masa

tua bahagia dan berguna. Kegiatan juga dilakukan agar kondisi kesehatan

(36)

13

partisipasi lintas sektor, meningkatkan koordinasi lintas sektor di setiap

tingkat administrasi, seiring dengan program kerja komisi daerah lansia

(Kementerian Kesehatan RI, 2014).

2.2 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia

2.2.1 Definisi Posyandu

Posyandu dapat didefinisikan sebagai satu bentuk Upaya Kesehatan

Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan

dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan suatu

pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dalam

memperoleh suatu pelayanan kesehatan dasar (Departemen Kesehatan RI,

2011). Kegiatan di posyandu merupakan kegiatan nyata suatu partisipasi

dari masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari oleh, dan untuk

masyarakat, yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah

mendapatkan pendidikan dan pelatihan-pelatihan dari puskesmas mengenai

pelayanan kesehatan dasar (Effendy, 2000).

2.2.2 Definisi Posyandu Lanjut Usia

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia adalah suatu wadah pelayanan

kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) untuk melayani penduduk

lansia, yang proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh

masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor

(37)

14

dengan menitikberatkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan

preventif (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

Posyandu lansia disediakan untuk masyarakat usia lanjut di wilayah tertentu

yang telah disepakati, digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa

mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu ini merupakan suatu

pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi

lansia yang diselenggarakan melalui program Puskesmas dengan melibatkan

peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial

dalam penyelenggaraannya dan didalamnya terdapat pelayanan kesehatan,

dan kegiatan peningkatan kesehatan serta kesejahteraan lansia (Komisi

Nasional Lanjut Usia, 2010; Angraeni, 2014).

2.2.3 Manfaat Posyandu Lanjut Usia

Tujuan pembentukan posyandu lansia menurut Depkes RI (2006) adalah

meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat

sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan

lansia. Tujuan lain adalah mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran

serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan selain

meningkatkan komunikasi antara orang lanjut usia (Angraeni, 2014).

Manfaat posyandu lansia adalah agar kesehatan fisik usia lanjut dapat

(38)

15

dalam bidang kesehatan, manfaat lain adalah dapat menyalurkan minat dan

bakat untuk mengisi waktu luang (Departemen Kesehatan RI, 2006).

2.2.4 Kegiatan Posyandu Lanjut Usia

Di samping pelayanan kesehatan, posyandu lansia juga memberikan

pelayanan sosial, agama, pendidikan, keterampilan, olah raga, seni budaya,

dan pelayanan lain yang dibutuhkan para lansia dengan tujuan untuk

meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan kesehatan dan

kesejahteraan (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Kegiatan lansia menurut

Kementerian Kesehatan RI (2011) meliputi:

a. Promotif, dapat berupa penyuluhan kesehatan dan pemeliharaan

kebersihan, makanan mengandung gizi seimbang, kesegaran jasmani

yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan lansia,

pembinaan mental dalam meningkatkan iman, pembinaan keterampilan,

dan meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.

b. Preventif, dapat berupa kegiatan pemeriksaan kesehatan secara berkala

dan teratur untuk menemukan penyakit dini lansia, kesegaran jasmani,

penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu, penyuluhan untuk

mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan pada lansia, dan

pembinaan mental.

c. Kuratif, dapat berupa kegiatan pelayanan kesehatan dasar, dan pelayanan

kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan.

d. Rehabilitatif, dapat berupa kegiatan memberikan informasi dan

(39)

16

mengembalikan kepercayaan diri dan memperkuat mental, pembinaan

pemenuhan kebutuhan pribadi dan aktifitas di dalam maupun luar rumah,

nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita, dan

perawatan fisioterapi (Marlina, 2012).

Penyelenggaraan posyandu dilaksanakan oleh kader kesehatan yang terlatih,

tokoh dari PKK, tokoh masyarakat dibantu oleh tenaga kesehatan dari

puskesmas setempat baik seorang dokter bidan atau perawat.

Penyelenggaraan dilakukan dengan sistem 5 meja meliputi meja

pendaftaran, tempat penimbangan, pengukuran dan pencatatan berat dan

tinggi badan serta perhitungan index massa tubuh (IMT), tempat

pemeriksaan dan pengobatan sederhana (tekanan darah , gula darah, dan

sebagainya), tempat kegiatan konseling (kesehatan, gizi, dan kesejahteraan),

dan tempat pemberian informasi dan melakukan kegiatan sosial (pemberian

makanan tambahan, bantuan modal, dan sebagainya) (Komisi Nasional

Lanjut Usia, 2010).

Terdapat 10 tahap pelayanan dalam kegiatan posyandu lansia, yaitu

pemeriksaan aktivitas sehari-hari (Activity Daily Living) seperti makan dan

minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik dan turun turun tempat tidur, dan

buang air, pemeriksaan status mental, pemeriksaan status gizi dan dicatat

pada grafik IMT, pengukuran tekanan darah dan denyut nadi, pemeriksaan

hemoglobin. Pemeriksaan selanjutnya adalah untuk mendeteksi adanya

(40)

17

mellitus (gula) dan adanya protein dalam air seni untuk deteksi awal

penyakit ginjal. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembuatan rujukan

ke puskesmas bila terdapat keluhan atau kelainan pada pemeriksaan nomor

1 sampai 7, penyuluhan di dalam atau luar kelompok dalam rangka

kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai masalah

kesehatan yang dihadapi oleh individu atau kelompok lansia, dan kunjungan

rumah oleh kader dan petugas bagi kelompok lansia yang tidak datang

(Departemen Kesehatan RI, 2006).

2.3 Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa

kehidupan. Sifat dan jenis dukungan berbeda dalam berbagai tahap-tahap

siklus kehidupan. Dukungan keluarga dapat berupa dukungan sosial

internal, seperti dukungan dari suami, istri atau dukungan dari saudara

kandung dan dapat juga berupa dukungan keluarga eksternal bagi keluarga

inti. Sebagai akibatnya, hal ini meningkatkan kesehatan dan adaptasi

keluarga (Friedman, 2010).

Dalam melakukan perawatan terhadap lansia, setiap anggota keluarga

memiliki peranan yang sangat penting. Peranan keluarga antara lain

menjaga dan merawat lansia, mepertahankan dan meningkatkan status

mental, mengantisipasi perubahan sosial ekonomi, serta memberikan

motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia. Anggota

(41)

18

kehangatan dalam keluarga, membantu mempersiapkan makanan,

membantu dalam segi transportasi atau memenuhi sumber keuangan,

memberi kasih sayang, menghormati dan menghargai, sabar dan bijaksana

terhadap perilaku lansia, menyediakan waktu serta perhatian, dan meminta

nasihatnya dalam peristiwa-peristiwa penting (Maryam et al, 2008).

Keluarga memiliki empat fungsi dukungan diantaranya:

a. Dukungan emosional

Dukungan emosional keluarga berupa perhatian, kasih sayang dan

empati. Dukungan emosional merupakan fungsi afektif keluarga berupa

fungsi internal keluarga dalam memenuhi kebutuhan psikososial dengan

saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling mendukung dan

menghargai antar anggota keluarga, adanya kepercayaan, perhatian,

mendengarkan dan didengarkan (Friedman, 2010).

b. Dukungan Informasi

Dukungan informasi merupakan suatu dukungan atau bantuan yang

diberikan oleh keluarga dalam bentuk memberikan saran atau masukan,

nasehat atau arahan dan memberikan informasi-informasi penting yang

sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan status kesehatannya.

Manfaatnya adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena

informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang

khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat,

(42)

19

c. Dukungan instrumental

Dukungan instrumental keluarga merupakan dukungan atau bantuan

penuh dari keluarga dalam bentuk memberikan bantuan tenaga, dana,

maupun meluangkan waktu untuk membantu atau melayani dan

mendengarkan klien halusinasi dalam menyampaikan perasaannya. Serta

dukungan instrumental keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit,

dan kesehatan pasien dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat

dan terhindarnya pasien dari kelelahan (Friedman, 2010).

d. Dukungan Penghargaan

Dukungan keluarga berperan dalam mengintensifkan perasaan sejahtera

karena keluarga membimbing dan menengahi pemecahan masalah.

Orang yang hidup dalam lingkungan yang supportif kondisinya jauh

lebih baik daripada mereka yang tidak memilikinya. Dukungan tersebut

akan tercipta bila hubungan interpersonal diantara mereka baik. Ikatan

kekeluargaan yang kuat membantu ketika keluarga menghadapi masalah

(Friedman, 2010).

Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat lansia

untuk mengikuti kegiatan Posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi

motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyempatkan diri untuk

mendampingi atau mengantar lansia ke Posyandu, mengingatkan Lansia

jika lupa jadwal Posyandu dan berusaha membantu mengatasi segala

(43)

20

Dukungan keluarga dapat diukur dengan menggunakan Perceived Social

Support Questionnaire Family (PSS-fa) yang terdiri dari 20 item.

Kuesioner PSS-Fa dibuat dengan skala likert dengan jawaban sangat

tidak setuju, tidak setuju, setuju dan sangat setuju. Alat ukur ini

digunakan untuk mengetahui persepsi individu terhadap dukungan yang

didapatkan dari keluarga sesuai dengan yang dibutuhkan. Bentuk

dukungan keluarga ini adalah dukungan fisik, informasi dan umpan balik

dari keluarga (Procidano dan Heler; Radita, 2015).

2.4 Jarak

Pemanfaatan pelayanan kesehatan menurut Kemenkes (2010) dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterjangkauan lokasi tempat

pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia, maupun

keterjangkauan informasi. Rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan

kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai, seperti tidak tahu adanya suatu

kemampuan fasilitas (faktor informasi), biaya yang tidak terjangkau (faktor

ekonomi), tradisi yang menghambat pemanfaatan fasilitas (faktor budaya),

dan jarak yang jauh (faktor geografi). Tempat pelayanan yang tidak strategis

sulit dicapai, menyebabkan berkurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan

(Handayani, 2013).

Jarak sendiri dapat diartikan sebagai ruang sela (panjang atau jauh) antara

(44)

21

diperlukan oleh setiap kendaraan atau perseorangan untuk berjalan di antara

dua titik tertentu (Departemen Pendidikan Nasional, 2008).

2.5 Dukungan Kader

Pelayanan dan pemeliharaan kesehatan tidak dapat ditangani seluruhnya

oleh para dokter saja, apalagi kegiatan yang mencakup kelompok

masyarakat luas. Dokter memerlukan bantuan para tenaga medis, sanitasi

gizi, ahli ilmu sosial dan juga anggota masyarakat (tokoh masyarakat dan

kader) untuk melaksanakan program kesehatan. Tugas tim kesehatan ini

dapat dibedakan menurut tahap dan jenis program yang dijalankan, yaitu

berupa promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (Departemen Kesehatan

RI, 2005).

Kader kesehatan atau promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga

sukarelawan yang dipilih oleh dan dari masyarakat dan memiliki tugas

untuk mengembangkan masyarakat. Depkes RI menyebutkan kader

kesehatan adalah tenaga sukarela yang terdidik dan terlatih dalam bidang

tertentu yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat dan merasa

berkewajiban untuk meningkatkan dan membina kesejahteraan masyarakat

dengan ikhlas dan didasarkan panggilan jiwa untuk melaksanakan tugas

kemanusiaan. Kader kesehatan dipilih dari masyarakat dengan prosedur

yang disesuaikan dengan kondisi setempat. diharapkan memiliki latar

belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk

(45)

22

bekerja dengan sukarela, serta sabar dan memahami lansia. Selain itu, kader

yang dipilih juga harus dapat melaksanakan tugas-tugas kader secara fisik,

memiliki penghasilan sendiri dan tinggal tetap di desa bersangkutan, aktif

dalam kegiatan sosial dan pembangunan di desa, dikenal masyarakat, dapat

bekerjasama dengan calon kader lain, dan sanggup membina paling sedikit

10 kepala keluarga (Zulkifli, 2004).

Kader posyandu sendiri memiliki beberapa peran, yaitu:

a. Sebelum hari buka posyandu berupa melakukan persiapan,

menyebarluaskan informasi mengenai hari buka posyandu melalui

pertemuan warga setempat, melakukan pembagian tugas antar kader,

melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan dan menyiapkan bahan

penyuluhan dan pemberian makanan tambahan.

b. Saat hari buka posyandu berupa melakukan pendaftaran, memberikan

pelayanan kesehatan, membimbing dan membantu melakukan

pencatatan, melakukan penyuluhan dan memberi layanan konsultasi

maupun konseling, memotivasi, menyampaikan informasi dan

penghargaan serta melakukan pencatatan kegiatan yang telah dilakukan.

c. Sesudah hari buka posyandu berupa melakukan kunjungan, memotivasi

masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan dan memberi penyuluhan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menyelenggarakan diskusi

dengan masyarakat terkait kegiatan posyandu, serta mempelajari Sistem

(46)

23

2.6 Pengetahuan

2.6.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang

dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya), atau hasil penginderaan

manusia. Pengetahuan yang dihasilkan tersebut dipengaruhi oleh lamanya

intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoadmodjo, 2010).

2.6.2 Tingkat Pengetahuan

Intensitas atau tingkat pengetahuan seseorang terhadap objek secara garis

besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu berarti hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengukur bahwa orang

tahu sesuatu, dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan.

b. Memahami (comprehension)

Memahami berarti orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara

benar tentang objek tersebut, bukan sekedar tahu dan dapat menyebutkan,

tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus melakukan hal tersebut.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan saat seseorang yang telah memahami suatu objek yang

dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

(47)

24

d. Analisis (analysis)

Analalisis berarti seseorang mampu menjabarkan dan/atau memisahkan,

kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat

dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis adalah saat seseorang mampu untuk merangkum atau

meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen

pengetahuan yang dimiliki atau diartikan sebagai kemampuan menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi adalah saat seseorang mampu untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini berdasarkan atas

kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di

masyarakat. Misalnya, seseorang ibu dapat menilai seseorang menderita

malnutrisi atau tidak, dan sebagainya (Notoadmodjo, 2010).

2.7 Sikap

2.7.1 Pengertian Sikap

Campbell (1950) mendefinisikan sikap secara sederhana, yakni suatu

sindroma dalam merespon stimulus atau objek dimana faktor pendapat dan

emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju,

baik-tidak baik, dan sebagainya) dilibatkan, termasuk pikiran, perasaan,

(48)

25

Menurut Newcomb, sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk

bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Bisa dikatakan

bahwa fungsi sikap merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau reaksi

tertutup dan masih belum merupakan tindakan (reaksi terbuka)

(Notoadmodjo, 2010).

2.7.2 Komponen Sikap

Menurut Allport (1954) sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu

kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek, kehidupan

emosional atau evaluasi orang terhadap objek, dan kecenderungan untuk

bertindak. Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh (total

attitide). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,

keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoadmodjo, 2010).

2.8 Perilaku Manusia

Setelah faktor lingkungan, faktor perilaku merupakan faktor terbesar kedua

yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok atau masyarakat.

(Notoatmodjo, 2007). Menurut Skiner, perilaku adalah respons atau reaksi

seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar) atau “S-O-R”

(stimulus-organisme-respon). Teori Skiner menjelaskan ada dua jenis respon, yaitu:

a. Respondent respons atau refleksif, yakni respon yang ditimbulkan oleh

eliciting stimuli atau rangsangan-rangsangan stimulus tertentu.

(49)

26

b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul

dan berkembang kemudian diikuti oleh stimuli atau rangsangan yang

lain, dimana perasangsang terakhir disebut reinforcing stimuli atau

reinforcer sebab berfungsi memperkuat respon (Notoadmodjo, 2010).

Jika dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu perilaku tertutup dimana respon seseorang

terhadap stimulus masih terbatas pada perhatian, persepsi,

pengetahuan/kesadaran, dan sikap orang yang menerima stimulus tersebut

dan belum dapat diamati oleh orang lain secara jelas, dan perilaku terbuka

dimana respon seseorang terhadap stimulus sudah jelas dalam bentuk

tindakan atau praktik dan lebih mudah diamati (Notoadmodjo, 2007).

Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:

a. Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)

Faktor predisposisi adalah yang memotivasi dan memberikan alasan

perilaku dan preferensi pribadi seseorang mencakup pengetahuan, sikap,

keyakinan budaya, kesiapan untuk berubah, dan karakteristik

sosiodemografi seseorang, seperti umur, jenis kelamin, pendidikan,

pekerjaan, dan status perkawinan (Marlina, 2012).

b. Faktor Penguat (Reinforcing Factor)

Faktor penguat berasal dari lingkungan, mencakup keluarga, petugas

kesehatan, teman, dan tokoh masyarakat yang menentukan apakah suatu

(50)

27

bergantung tujuan dan jenis program pelayanan kesehatan. Pelayanan

petugas kesehatan maupun kader yang baik terbukti sebagai faktor yang

mempengaruhi keaktifan lansia ke kelompok lansia (Marlina, 2012).

c. Faktor Pemungkin (Enabling Factor)

Faktor pemungkin mencakup dapat terlaksananya suatu kegiatan maupun

aspirasi untuk perubahan perilaku dengan adanya ketersediaan sumber

daya kesehatan, keterjangkauan sumber daya kesehatan, serta komitmen

pemerintah dan masyarakat terhadap layanan dan keterampilan tenaga

keehatan di layanan seperti polindes, puskesmas, posyandu lansia

maupun posbindu lain (Marlina, 2012).

Perilaku mencakup 3 domain, yakni: pengetahuan (knowledge), sikap

(attitude) dan tindakan atau praktik (practice). Oleh sebab itu, mengukur

perilaku dan perubahannya mengacu pada 3 domain tersebut. Dapat

dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengetahuan kesehatan

Pengetahuan kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang

terhadap cara-cara memelihara kesehatan, meliputi pengetahuan

mengenai penyakit menular dan tidak menular, pengetahuan mengenai

faktor-faktor yang terkait dan/atau mepengaruhi kesehatan, pengetahuan

mengenai fasilitas pelayanan kesehatan baik yang profesional maupun

tradisional, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan. Pengukuran

pengetahuan kesehatan dilakukan dengan mengajukan

(51)

pertanyaan-28

pertanyaan tertulis atau angket. Indikator pengetahuan kesehatan adalah “tingginya pengetahuan” responden mengenai kesehatan atau besarnya

presentase kelompok responden atau masyarakat tentang

variabel-variabel atau komponen-komponen kesehatan (Notoadmodjo, 2010).

b. Sikap terhadap kesehatan

Sikap terhadap kesehatan merupakan penilaian atau pendapat orang

terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan yang

sekurang-kurangnya mencakup 4 variabel yakni sikap terhadap penyakit,

sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan/atau mepengaruhi

kesehatan, sikap terhadap fasilitas pelayanan, dan sikap dalam

menghindari kecelakaan. Pengukuran sikap terhadap kesehatan dapat

dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat

dengan mengajukan pertanyaan mengenai stimulus atau objek yang

bersangkutan atau dengan cara memberikan pendapat menggunakan kata “setuju” atau “tidak setuju” terhadap pernyatan-pernyataan mengenai

objek tertentu, dengan menggunakan skala Lickert, yaitu 5 bila sangat

setuju, 4 bila setuju, 3 bila biasa saja, 2 bila tidak setuju, dan 1 bila sangat

tidak setuju (Notoadmodjo, 2010).

c. Praktik Kesehatan

Tindakan hidup sehat atau praktik kesehatan adalah semua kegiatan

orang untuk memlihara kesehatan. Meliputi 4 faktor seperti di atas, yaitu

tindakan atau praktik sehubungan dengan penyakit, sehubungan dengan

faktor-faktor yang terkait dan/atau mepengaruhi kesehatan, sehubungan

(52)

29

menghindari kecelakaan. Pengukuran dapat dilakukan melalui cara

langsung maupun tidak langsung. Pengukuran secara langsung yakni

dengan pengamatan (observasi), yaitu pengamatan terhadap tindakan

subjek dalam rangka memelihara kesehatannya. Sedangkan secara tidak

langsung dilakukan dengan metode recall atau mengingat kembali, yang

dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subjek (Notoadmodjo,

2010).

2.9 Profil Puskesmas Rajabasa Indah

Puskesmas Rajabasa Indah merupakan Puskesmas Pemerintah Kotamadya

Bandarlampung yang resmi menjadi puskesmas induk sejak tahun 2003

Puskesmas didirikan di atas tanah seluas 200m2 dengan luas bangunan 176

m2. Sarana yang tersedia meliputi fasilitas sarana pelayanan langsung

(medis dan keperawatan) dengan tidak langsung (penunjang medis).

Kegiatan yang direncanakan adalah kegiatan upaya kesehatan wajib dan

upaya kesehatan pengembang. Puskesmas Rajabasa Indah terletak di Jalan

Pramuka No.1 yang termasuk dalam kelurahan Rajabasa Kota

Bandarlampung. Rata-rata kepadatan penduduk Kecamatan Rajabasa

sebesar 26,67 jiwa/Ha. Pada tahun 2012 jumlah penduduk penduduk di

wilayah Puskesmas Rajabasa Indah 32.935 jiwa yang terdiri dari laki-laki

15.808 jiwa dan perempuan 17.127 jiwa dengan jumlah kepala 9.320 KK.

Terdapat 13 posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah

(53)

30

lansia menjadi 8 posyandu yang terdiri dari 2 posyandu di Kelurahan

Rajabasa Raya 2 posyandu, 5 posyandu di Kelurahan Rajabasa Jaya, dan 1

posyandu di Kelurahan Gedung Meneng. Nama posyandu lansia tersebut

adalah Bunda, RKS Nadila, Bougenville, Kepayang, Lingsuh, Flamboyan,

(54)

31

[image:54.595.146.512.118.622.2]

2.10 Kerangka Teori

Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian (Modifikasi Teori Lawrance Green) Perilaku dan Gaya Hidup: Kunjungan Lansia Faktor Penguat: dukungan keluarga, petugas kesehatan, teman,dan tokoh masyarakat Faktor Pemungkin: ketersediaan& keterjangkauan sumber daya kesehatan, komitmen pemerintah dan masyarakat keterampilan tenaga kesehatan Faktor Predisposisi: pengetahuan, sikap, keyakinan budaya, kesiapan untuk berubah, dan karakteristik sosiodemografi seseorang Keaktifan lansia mengikuti posyandu lansia Peningkatan kualitas hidup lansia

(55)

32

2.11 Kerangka Konsep

Komponen yang akan dianalisis adalah faktor predisposisi yakni gambaran

karakteristik sosiodemografi (umur, jenis kelamin, pendidikan, dan

pekerjaan), pengetahuan, dan sikap. Faktor penguat yang dianalisis yakni

dukungan keluarga orang lanjut usia (lansia) dan dukungan kader, dan

faktor pemungkin yang dianalis adalah jarak. Baik faktor predisposisi,

faktor penguat, dan faktor pemungkin tersebut dianalisis dengan keaktifan

lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia wilayah kerja Puskesmas

[image:55.595.145.505.358.531.2]

Rajabasa Indah.

Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian

- Dukungan keluarga - Karakteristik Sosiodemografi - Jarak

- Dukungan Kader - Tingkat

Pengetahuan - Sikap

Keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan Posyandu

(56)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan

cross sectional, dimana variabel bebas dan terikat diukur pada waktu yang

bersamaan.

3.2 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di 8 posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Rajabasa Indah, Kota Bandar Lampung. Penelitian telah

dilaksanakan pada bulan September-Desember 2016.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi terget dalam penelitian ini adalah lansia yang berumur ≥ 45 tahun.

Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah lansia di wilayah kerja

Puskesmas Rajabasa Indah, Kota Bandar Lampung, yang terbagi dalam 8

(57)

34

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian yang dipilih dengan cara tertentu untuk mewakili

keseluruhan kelompok populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan

eksklusi pada saat pelaksanaan posyandu lansia Kecamatan Rajabasa Indah,

Kota Bandar Lampung. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah

probability sampling yaitu proportionate stratified random sampling.

3.3.2.1 Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi:

1. Lanjut usia yang berusia 45 tahun ke atas.

2. Bisa berkomunikasi dengan baik secara tertulis maupun tidak

tertulis.

3.3.2.2 Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah

1. Lansia yang mempunyai gangguan pendengaran.

2. Lansia yang memiliki kelainan mental.

3.3.2.3 Besar Sampel

Jumlah sampel dihitung dengan rumus minimal sampe size:

( )

Keterangan:

(58)

35

P = Proporsi Kategori

Q = 1-P

d = Presisi

Tingkat kepercayaan penelitian sebesar 95%, sehingga α = 5% dan Zα=1,96% dengan kesalahan prediksi yang masih bisa diterima (d)

sebesar 10%. Prevalensi (P) ditetapkan sebesar 0,53 karena sudah ada

penelitian yang serupa sebelumnya, sehingga Q (1-P) didapatkan 0,47.

( )

( )

Dengan demikian, besar sampel adalah 96 orang.

Peneliti menghitung proporsi sampel berdasarkan jumlah lansia yang

aktif mengikuti posyandu lansia yang tersebar di 8 posyandu. Jumlah

[image:58.595.173.504.545.679.2]

sampel tiap-tiap posyandu adalah:

Tabel 1. Jumlah Sampel

Posyandu Jumlah lansia Perhitungan Jumlah Sampel 1 12 12/128 x 96 = 9 9 2 14 14/128 x 96 = 10,5 10 3 9 9/128 x 96 = 6,75 7 4 13 13/128 x 96 = 9,75 10 5 15 15/128 x 96 = 11,25 11 6 19 19/128 x 96 = 14,25 14 7 17 17/128 x 96 = 12,75 13 8 29 29/128 x 96 = 21,75 22

(59)

36

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai sifat, ciri, dan

ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang konsep

pengertian tertentu (Notoadmodjo, 2012). Variabel penelitian terdiri dari:

3.4.1 Variabel bebas

Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah dukungan

keluarga, dan faktor lainnya (karakteristik sosiodemografi, jarak, dukungan

kader, tingkat pengetahuan, dan sikap).

3.4.2 Variabel terikat

Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah keaktifan

Figure

Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian (Modifikasi Teori Lawrance Green)
Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian
Tabel 1. Jumlah Sampel Posyandu Jumlah lansia
Gambar 3. Alur Penelitian

References

Related documents

Fecal calprotectin levels of three groups of subjects (healthy controls, mild Clostridium difficile infection [CDI], and severe CDI).. The box plot shows the median (bold line),

From the perspectives of organic place-making and social capital, this research examines the on-going transformation of cultural creative urban villages in the largest city

Therefore, high gambling participation rates interwoven with family support, respect for kin, beliefs about winning, and cultural transmission motivations seem to be associated

Of the various metals subjected to long-term corrosion testing and evaluated after 1, 3, and 6 years of underground exposure, carbon steel and beryllium exhibited the highest

b) offering a positive or negative option exceeding 10% of the daily nomination of the System User to the Natural Gas Transmission Company (FGSZ) for the zero point

Disney Children can read along or listen to the stories of the Disney movies: “The Little Mermaid,” “The Lion King,” and “Beauty and the Beast.”.. “Museum Mystery”

RT*FC-B-W-D TINY female cable connector, black metal shell, water resistant boot, gold plated contacts; bulk packed,.. to be ordered in multiples of

This paper considers a diversified world stock index in a continuous financial market with the growth optimal portfolio (GOP) as the reference unit or benchmark.. Diversified