HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KEAKTIFAN LANJUT USIA (LANSIA) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
RAJABASA INDAH
(Skripsi)
Oleh:
CHRISTINE YOHANA SIANTURI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KEAKTIFAN LANJUT USIA (LANSIA) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
RAJABASA INDAH
Oleh:
CHRISTINE YOHANA SIANTURI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG
ABSTRACT
ASSOCIATION OF FAMILY SUPPORT AND OTHER RELATED FACTORS WITH ELDERLY’S ACTIVENESS IN ATTENDING ACTIVITIES OF POSYANDU LANSIA IN RAJABASA INDAH REGION
PUBLIC HEALTH CENTER
By
CHRISTINE YOHANA SIANTURI
Background: Elderly has many health problems. One of the health care efforts to maintain the elderly’s health and productivity is having an elderly integrated service center (posyandu lansia). Elderly service in Bandarlampung is the second lowest in Lampung. In 2015 and 2016, the visitation of posyandu lansia has decreased compared to 2014. This study was aimed to determine the association of family support and other related factors with the elderlys’s activeness in attending posyandu lansia’s activities in Rajabasa Indah public health center.
Methods: This was a descriptive research with cross sectional approach. Independent variables were sosiodemographic characteristic, distance, family support, posyandu officers’ support, knowledge, and attitude. While the dependent variable was the elderly’s activeness in attending the activities of posyandu lansia. This research was conducted in September-December 2016. The sampling techniques used in this study was proportional stratified random sampling with 96 subjects. Data analysis used were Chi square and fisher’s exact with α=5%.
Results: The result showed there was an association between occupation (p=0,001, RR=1,86, 95%CI=1,97-123,36), family support (p=0.001, RR=2,30, 95%CI=3,43-24,60), knowledge (p=0.019, RR=1,83, 95%CI=1,52-2,20), and attitude (p=0.039, RR=1,80, 95%CI=1,50-2,17) with elderly’s activeness in attending posyandu’s activities. There was no association between sex (p=0.681), age (p=0.719), education (p=0.319), distance (p=0.313), and posyandu officers’ support (p=0.566) with the elderly’s activeness in attending the activities of posyandu lansia.
Conclusion: There was an association between occupation, family support, knowledge, and attitudes whereas gender, age, education, distance, and posyandu officers’ support are not related to the elderly’s activeness. The most related factors were family’s support and occupation.
ABSTRAK
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN FAKTOR LAINNYA DENGAN KEAKTIFAN LANJUT USIA (LANSIA) MENGIKUTI KEGIATAN POSYANDU LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
RAJABASA INDAH
Oleh
CHRISTINE YOHANA SIANTURI
Latar belakang: Lanjut usia (lansia) memiliki banyak masalah kesehatan. Salah satu upaya pemeliharaan kesehatan agar lansia dapat hidup sehat dan produktif adalah pos pelayanan terpadu (posyandu) lansia. Data cakupan pelayanan lansia di Bandarlampung merupakan capaian terendah kedua di Lampung. Presentase kunjungan di posyandu lansia di wilayah Puskesmas Rajabasa Indah masih rendah dan tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
Metode: Penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Variabel bebas adalah karakteristik sosiodemografi, jarak, dukungan keluarga, dukungan kader, pengetahuan dan sikap. Variabel terikat adalah keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Desember 2016. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling dan berjumlah 96 orang. Uji statistik yang digunakan chi square, dan fisher’s exact, dengan α= 5%.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pekerjaan (p=0,001, RR=1,86, 95%CI=1,97-123,36), dukungan keluarga (p=0,001, RR=2,30, 95%CI=3,43-24,60 ), tingkat pengetahuan (p=0,019, RR=1,83, 95%CI=1,52-2,20), dan sikap (p=0,039, RR=1,80, 95%CI=1,50-2,17) dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu. Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p=0,681), usia (p=0,719), pendidikan terakhir (p=0,319), jarak (p=0,303), dan dukungan kader (p=0,566) dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu.
Kesimpulan: Faktor resiko yang berhubungan dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan posyandu adalah pekerjaan, dukungan keluarga, tingkat pengetahuan, dan sikap. Faktor yang paling berpengaruh adalah dukungan keluarga dan pekerjaan.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 November 1994, sebagai anak
pertama dari empat bersaudara dari Bapak Benny Hasiholan Nagara Sianturi dan
Ibu Hening Tiaswati Siahaan.
Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) diselesaikan di TK Yayasan Pendidikan
Jayawijaya (YPJ) Tembagapura pada tahun 2000, Sekolah Dasar (SD)
diselesaikan di SD Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Kuala Kencana pada
tahun 2006, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Tarakanita
Gading Serpong pada tahun 2009, dan Sekolah Menengah Atas (SMA)
diselesaikan di SMA Negeri 8 Tangerang pada tahun 2012.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif pada Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Perhimpunan Mahasiswa
Pecinta Alam Tanggap Darurat (PMPATD) Pakis sebagai anggota tahun
2013-2016, pengurus Perhimpunan Tenaga Bantuan Medis Mahasiswa Kedokteran
Indonesia (PTBMMKI) pada tahun 2014-2015, pengurus Permako Medis pada
i
Puji Tuhan, dengan segala kerendahan hati,
Kupersembahkan karya sederhana ini dengan ucapan syukur kepada
Tuhan Yesus
Untuk Ayahanda Benny H.N. Sianturi dan Ibunda Hening T.
Siahaan
Untuk adik-adik kebangganku Iriani N. G. Sianturi, Britania H.
Sianturi, dan Josiah D. Sianturi
Serta untuk sahabat-sahabatku
ii
Therefore I tell you,
whatever you ask for in prayer,
Believe that you have received it,
iii SANWACANA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan segala
kasih, karunia, dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga dan Faktor Lainnya dengan Keaktifan Lanjut Usia
(Lansia) Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah”.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapat masukan, bantuan, dorongan,
saran, bimbingan dan kritik dari berbagai pihak. Maka dengan segenap kerendahan hati
penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., Selaku Rektor Universitas Lampung;
2. Dr. dr. Muhartono, S.Ked., M.Kes., Sp.PA., selaku Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung;
3. dr. Diana Mayasari, M.K.K. selaku Pembimbing Satu atas kesediaannya meluangkan
banyak waktu untuk membimbing, menjawab pertanyaan penulis, memberikan
masukan, saran dan kritik termasuk cara penulisan dan mengungkapkan kata-kata
dengan baik dan benar, serta motivasi yang bermanfaat dalam proses penyelesaian
skripsi ini;
4. dr. Ety Apriliana, M.Biomed selaku Pembimbing Kedua atas kesediaannya untuk
meluangkan waktu, memberikan masukan dan bimbingan, mengingatkan mengenai
format penulisan, membantu meginterpretasikan hasil analisis data, saran, dan kritik
iv 5. dr. M. Yusran, M.Sc., Sp.M. selaku Penguji Utama pada ujian Skripsi, terima kasih
atas kesediannya memberikan waktu, ilmu dan saran-saran yang membantu dalam
meningkatkan pengetahuan penulis selama proses penyelesaian skripsi ini;
6. dr. Betta Kurniawan, M.Kes selaku Pembimbing Akademik atas kesediaannya
memberikan bimbingan, nasihat dan saran yang membangun dan bermanfaat selama
perkuliahan di Fakultas Kedokteran ini walaupun dalam kondisi yang sibuk;
7. Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Kedokteran Unila atas bimbingan, ilmu,
dan waktu, yang telah diberikan dalam proses perkuliahan. Terkhusus untuk Mbak
Lisa, Mbak Lutfi, Mbak Qori, dan Pak Supangat yang telah sangat membantu,
memberikan waktu dan tenaga serta kesabarannya selama dalam proses penyelesaian
penelitian dan pelaksanaan seminar ini;
8. Papa dan mama tersayang, Benny Hasiholan Nagara Sianturi dan Hening Tiaswati
Siahaan yang menjadi motivator utama untuk penulis dalam menyelesaikan
perkuliahan. Terima kasih karena tak pernah lelah memberikan kasih sayang,
mendoakan, memberikan perhatian dan dukungan, membangunkan penulis, dan
memotivasi serta mendengarkan keluh kesah penulis. Terima kasih untuk
perjuangannya hingga penulis sampai pada titik ini, dan terima kasih karena
mengizinkan penulis mengejar cita-citanya;
9. Adik-adikku yang sangat kukasihi, Iriani Novio Gloria Sianturi, Britania Hasiholan
Sianturi, dan Josiah Daniel Sianturi serta seluruh keluarga besar yang tersayang yang
selalu berhasil memberikan semangat kepada peneliti. Terima kasih atas doa, kasih
sayang, dukungan, motivasi yang selalu diberikan. Terima kasih karena selalu
mendengarkan cerita peneliti dan membawa sukacita untuk peneliti;
10.Sahabat-sahabatku tersayang Neza Ukhalima, Salsabila Septira, Faridah Alatas,
v Labibah, dan Sutria Nirda yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat
kepada penulis. Terima kasih karena selain memberikan dukungan secara emosional
kalian juga telah bersedia meluangkan waktu di pagi hari bahkan melewatkan
perkuliahan untuk mengantar dan membantu peneliti dalam mempersiapkan segala
hal terkait penelitian dan dalam mewawancarai lansia di posyandu.
11.Sahabat serta keluarga saya “Ladies of God”, “Pengurus Permako Medis”, “Kuah Ketoprak”, “Beauty without Beast”, “Teman Burung”, dan teman-teman terbaik
lainnya yaitu Dear, Dea, Julia, Fauziah, Hanum, Meti, Nida, Sayyidatun, Wahida,
Zahra, Tito, Fadel, Firza, Marco, Fuad, Annisa, Tiffany, Benny, Raka, Irfan, Edgar,
Bisart, Josua. Terimakasih karena telah menjadi sahabat-sahabat yang mengasihi,
selalu bersedia membantu, mendengarkan keluh kesah, memotivasi dan membawa
keceriaan, serta saling mendoakan selama menjalani proses perkuliahan di FK Unila.
12.Kakak-kakak dan adik-adikku, Septina Ashariani, Kak Yvonne, Kak Gaby, Kak Ika,
Kak Lexy, Kak Radian, Karen, Grace, Febe, Rian, Yosua, Olivia, Harry, Renti,
Brigita, Efry, Lidya, Semadela, Josi dan Brandon yang selalu mendoakan dan
membantu penulis untuk mengerti banyak hal. Terimakasih untuk dukungan dan
sukacita yang diberikan.
13.Teman seperjuangan skripsi, baik teman pembimbing satu, teman pembimbing dua,
dan pembahas, terutama Tarrini, Amalia, Putri, Ria, dan Intan, yang menemani dan
memotivasi penulis untuk terus bersemangat menyelesaikan penelitian dan penulisan
skripsi ini. Terima kasih sudah meluangkan waktunya yang berharga;
14.Teman-temanku CERE13ELUMS yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Terimakasih atas kebersamaan, keceriaan, kekompakan kebahagiaan selama 3,5 tahun
perkuliahan ini, semoga kelak kita bisa menjadi dokter yang melayani dengan
vi 15.Kakak dan adik angkatan 2011, 2014, 2015, 2016 terimakasih atas dukungan, doa dan
bantuannya dalam satu fakultas kedokteran.
16.Ibu Imronah, Ibu Eva, Ibu Fitirana, dan para kader posyandu yang telah meluangkan
waktunya dan membantu penulis dalam proses penelitian.
17.Terimakasih kepada para lansia yang mengikuti kegiatan posyandu dan bersedia
menjadi sampel untuk penulis. Terima kasih karena telah meluangkan waktu dan
memberikan pelajaran serta masukan yang berharga bagi peneliti.
18.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah
memberikan bantuan dalam penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan
pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Terima kasih.
Bandar Lampung, 27 Januari 2017
Penulis
vii DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 LatarBelakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan ... 6
1.3.1 Tujuan Umum ... 6
1.3.2 Tujuan Khusus ... 6
1.4 Manfaat ... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 LanjutUsia ... 9
2.1.1 Definisi Lanjut Usia ... 9
2.1.2 Proses Penuaan... 10
2.1.3 Masalah Kesehatan Lanjut Usia... 11
2.1.4 Upaya Kesehatan Lanjut Usia ... 12
2.2 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia ... 13
2.2.1 Definisi Posyandu ... 13
2.2.2 Definisi Posyandu Lanjut Usia ... 13
2.2.3 Manfaat Posyandu Lanjut Usia ... 14
2.2.4 Kegiatan Posyandu Lanjut Usia ... 15
2.3 Dukungan Keluarga ... 17
2.4 Jarak... 20
2.5 Dukungan Kader... 21
2.6 Pengetahuan... 23
2.6.1 Pengertian Pengetahuan ... 23
2.6.2 Tingkat Pengetahuan ... 23
2.7 Sikap ... 24
2.7.1 Pengertian Sikap ... 24
2.7.2 Komponen Sikap ... 25
2.8 Perilaku Manusia ... 25
2.9 Profil Puskesmas Rajabasa Indah ... 29
viii
2.11 Kerangka Konsep ... 32
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 33
3.1 DesainPenelitian ... 33
3.2 Waktu dan Tempat ... 33
3.3 Populasi dan Sampel ... 33
3.3.1 Populasi ... 33
3.3.2 Sampel... 34
3.3.2.1 KriteriaInklusi ... 34
3.3.2.2 Kriteria Eksklusi ... 34
3.3.2.3 Besar Sampel ... 34
3.4 Variabel Penelitian ... 36
3.4.1 Variabel bebas ... 36
3.4.2 Variabelterikat... 36
3.5 Definisi Operasional ... 37
3.6 Instrumen Penelitian ... 38
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 40
3.8 Prosedur Penelitian ... 41
3.9 Alur Penelitian ... 43
3.10 Analisa Data dan Pengujian Hipotesa ... 43
3.11 Etika Penelitian... 45
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46
4.1 Gambaran Umum Penelitian ... 46
4.2 Hasil Penelitian... 46
4.2.1 Karakteristik Sosiodemografi ... 46
4.2.2 Dukungan Keluarga ... 50
4.2.3 Jarak ... 51
4.2.4 Dukungan Kader ... 51
4.2.5 Tingkat Pengetahuan ... 52
4.2.6 Sikap ... 53
4.2.7 Keaktifan ... 53
4.2.8 Analisis Bivariat Karakteristik Sosiodemografi ... 54
4.2.9 Analisis Bivariat Dukungan Keluarga ... 56
4.2.10 Analisis Bivariat Jarak ... 57
4.2.11 Analisis Bivariat Dukungan Kader ... 58
4.2.12 Analisis Bivariat Tingkat Pengetahuan ... 58
4.2.13 Analisis Bivariat Sikap ... 59
4.2.14 Analisis Multivariat ... 60
4.3 Pembahasan ... 63
4.3.1 Gambaran Umum Responden Penelitian ... 61
4.3.2 Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 63
4.3.3 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 66
ix
4.3.5 Hubungan Dukungan Kader dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa
Indah ... 68
4.3.6 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 70
4.3.7 Hubungan Sikap dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah ... 71
4.3.8 Pembahasan Multivariat ... 72
4.3.2 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 74
5.1 Kesimpulan ... 74
Saran ... 75
x DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Jumlah Sampel ... 35
2. Definisi Operasional ... 37
3. Karakteristik Sosiodemografi Responden ... 47
4. Karakteristik Lansia berdasarkan Jenis Kelamin ... 48
5. Karakteristik Lansia berdasarkan Usia ... 48
6. Karakteristik Lansia berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 49
7. Karakteristik Lansia berdasarkan Pekerjaan ... 50
8. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Keluarga ... 50
9. Karakteristik Lansia berdasarkan Jarak Tempat Tinggal terhadap Posyandu ... 51
10. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Kader ... 52
11. Karakteristik Lansia berdasarkan Tingkat Pengetahuan ... 52
12. Karakteristik Lansia berdasarkan Sikap ... 53
13. Karakteristik Lansia berdasarkan Keaktifan ... 54
14. TabulasiSilangKarakteristikSosiodemografidenganKeaktifanLansiaMengikutiKeg iatanPosyanduLansia ... 55
15. TabulasiSilangDukungan KeluargadenganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 56
16. TabulasiSilangJarak denganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 57
17. TabulasiSilangDukungan Kader denganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 58
18. TabulasiSilang Tingkat PengetahuandenganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 58
19. TabulasiSilangSikapdenganKeaktifanLansiaMengikutiKegiatanPosyanduLansia ... 59
xi DAFTAR GAMBAR
xii DAFTAR LAMPIRAN
x DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Jumlah Sampel ... 35
2. Definisi Operasional ... 37
3. Karakteristik Sosiodemografi Responden ... 47
4. Karakteristik Lansia berdasarkan Jenis Kelamin ... 48
5. Karakteristik Lansia berdasarkan Usia ... 48
6. Karakteristik Lansia berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 49
7. Karakteristik Lansia berdasarkan Pekerjaan ... 50
8. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Keluarga ... 50
9. Karakteristik Lansia berdasarkan Jarak Tempat Tinggal terhadap Posyandu ... 51
10. Karakteristik Lansia berdasarkan Dukungan Kader ... 52
11. Karakteristik Lansia berdasarkan Tingkat Pengetahuan ... 52
12. Karakteristik Lansia berdasarkan Sikap ... 53
13. Karakteristik Lansia berdasarkan Keaktifan ... 54
14. Tabulasi Silang Karakteristik Sosiodemografi dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 55
15. Tabulasi Silang Dukungan Keluarga dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 56
16. Tabulasi Silang Jarak dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 57
17. Tabulasi Silang Dukungan Kader dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 58
18. Tabulasi Silang Tingkat Pengetahuan dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 58
19. Tabulasi Silang Sikap dengan Keaktifan Lansia Mengikuti Kegiatan Posyandu Lansia ... 59
xi DAFTAR GAMBAR
xii DAFTAR LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan Indonesia adalah semakin
meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH). Peningkatan UHH
menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke
tahun. Proyeksi rata-rata UHH penduduk Indonesia tahun 2015-2020 adalah
71,7 tahun, meningkat dari proyeksi tahun 2010-2015 yang adalah 70,7
tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Lanjut Usia (lansia) Menurut UU RI Nomor 13 tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60
tahun ke atas (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Data statistik tahun 2014
menunjukkan jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa, setara
dengan 8,03% dari total seluruh penduduk, sementara di daerah lampung
menunjukkan presentase penduduk lansia usia 60-69 tahun adalah 4,51%,
usia 70-79 tahun adalah 2,09% dan usia ≥80 tahun adalah 0,88%
(Subdirektorat Statistik Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial, 2015).
Perubahan struktur penduduk ini mempengaruhi angka beban
2
ditanggung penduduk produktif untuk membiayai penduduk tua, yaitu 11,90
persen pada tahun 2012 (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Peningkatan usia harapan hidup juga akan menimbulkan dampak khususnya
masalah kesehatan. Angka kesakitan penduduk lansia tahun 2012 sebesar
26,93%. Fungsi fisiologis dan daya tahan tubuh mengalami penurunan
akibat proses degeneratif (penuaan) dengan bertambahnya usia sehingga
penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes mellitus, dan
rematik serta penyakit menular banyak muncul pada lansia. Pertambahan
penduduk lansia akan disertai oleh berbagai masalah dan akan
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan yang meliputi fisik, biologis,
mental maupun sosial ekonomi (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Lansia
yang sakit-sakitan akan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan
bahkan pemerintah, sehingga akan menjadi beban dalam pembangunan
(Kementerian Kesehatan RI, 2010).
UU RI Nomor 36 tahun 2009 menyatakan upaya pemeliharaan kesehatan
bagi lansia ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif
secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan
(Departemen Kesehatan RI, 2009). Upaya pemerintah yang telah dilakukan
antara lain pendirian home cara bagi lansia berkebutuhan khusus, program
usaha ekonomi produktif, serta pos pelayanan terpadu (posyandu) lansia
3
Posyandu lansia adalah suatu pos pelayanan terpadu untuk masyarakat
lanjut usia di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati dan digerakkan
oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.
Kegiatan di posyandu lansia meliputi kegiatan preventif, promotif, kuratif,
dan rehabilitatif (Handayani & Wahyuni, 2012).
Penelitian di posyandu lansia Desa Simoboyo Kecamatan Pacitan
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup antara lansia yang
aktif mengikuti posyandu lansia dan yang tidak aktif. Data menunjukkan
58,3% lansia yang mengikuti posyandu sebagian besar memiliki kualitas
hidup yang baik sedangkan 41,7% yang tidak aktif memiliki kualitas hidup
yang buruk (Latifah, 2013).
Data cakupan pelayanan lansia di Provinsi Lampung tahun 2014
menunjukkan bahwa Bandarlampung memiliki angka 23,72% yang jauh
dibawah target yaitu sebesar 70% dan merupakan capaian terendah kedua
setelah Lampung Utara dengan angka cakupan 18,74% (Dinas Kesehatan
Provinsi Lampung, 2014). Data pencatatan kegiatan kelompok usia lanjut di
wilayah Puskesmas Rajabasa Indah tahun 2014 menunjukkan bahwa
rata-rata persentase kunjungan pra lansia dan lansia di 13 kelompok lansia
adalah 8,08% dari total 4371 orang. Tahun 2015, terjadi penurunan
kunjungan di 8 posyandu lansia yang dibina sebesar 5,27% menjadi 2,81%
dengan rincian presentase kunjungan pra lansia sebesar 1,13% dan lansia
4
presentase kunjungan lansia sebesar 5,01%. Data tersebut belum lengkap
namun jika dibandingkan dengan data presentase kunjungan lansia tahun
2014 masih lebih rendah (Puskesmas Rajabasa Indah, 2016).
Banyak faktor yang mempengaruhi keaktifan lansia dalam kegiatan
posyandu. Penelitian Purnawati (2014) menunjukkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kunjungan lansia adalah pekerjaan, umur, pengetahuan,
sikap, dan dukungan keluarga maupun masyarakat, sedangkan jenis
kelamin, pelayanan kader dan petugas kesehatan tidak mempengaruhi
kunjugan lansia ke posyandu. Penelitian lain menyebutkan bahwa faktor
yang berhubungan yaitu tingkat pengetahuan, dukungan keluarga dan
dukungan petugas, sedangkan variabel yang tidak berhubungan adalah jarak
tempat tinggal lansia (Aryatiningsih, 2014). Berbeda dengan itu, Penelitian
terhadap 371 orang di Kabupaten Deli Serdang menunjukkan bahwa baik
tingkat pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dukungan kader maupun
jarak memiliki hubungan bermakna dengan pemanfaatan posyandu lansia
(Natsution, 2013).
Dukungan keluarga merupakan salah satu aspek yang dapat
memberdayakan pengembangan aktivitas lansia dengan meningkatkan
keinginan untuk mengetahui dan menggunakan suatu hal baru, termasuk
minat mengikuti posyandu lansia (Aryatiningsih, 2014). Penelitian terhadap
364 lansia di Pekanbaru menunjukkan lansia berpengetahuan rendah yang
5
mendapatkan dukungan keluarga dan tidak memanfaatkan posyandu
sebanyak 78,8%. Dapat dilihat bahwa dukungan keluarga, dukungan kader,
jarak, tingkat pengetahuan, maupun sikap lansia dapat mempengaruhi
keaktifan lansia dalam kegiatan posyandu lansia.
Berbagai faktor dapat menyebabkan rendahnya kunjungan di posyandu
lansia di wilayah Puskesmas Rajabasa Indah pada tahun 2015 dan 2016.
Melihat hal tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang apakah ada
hubungan dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan keaktifan lanjut
usia (lansia) mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja
Puskesmas Rajabasa Indah.
1.2 Rumusan Masalah
Jumlah penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Ditinjau dari
aspek kesehatan, kelompok lansia akan mengalami penurunan derajat
kesehatan. Berbagai program dan upaya telah dilakukan oleh pemerintah,
salah satunya adalah posyandu lansia. Namun, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa angka kunjungan posyandu lansia masih rendah.
Presentase kehadiran pra lansia dan lansia di posyandu lansia Rajabasa pada
tahun 2014 adalah 8,08% dan mengalami penurunan pada tahun 2015
menjadi 2,81%. Angka tersebut juga masih jauh dari target pencapaian
cakupan pelayanan kesehatan lansia Provinsi Lampung tahun 2014, yaitu
6
dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan keaktifan lanjut usia (lansia)
mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa
Indah?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan dukungan keluarga dan faktor lainnya dengan
keaktifan lanjut usia (lansia) mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah
kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui angka kunjungan posyandu lansia di wilayah kerja
Puskesmas Rajabasa Indah.
b. Mengetahui karakteristik lansia (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pekerjaan) di posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa
Indah.
c. Mengetahui keaktifan kunjungan lansia di posyandu lansia di wilayah
kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
d. Mengetahui jumlah keluarga yang mendukung lansia mengikuti
posyandu lansia.
e. Mengetahui jumlah kader yang mendukung lansia mengikuti posyandu
lansia.
f. Mengetahui gambaran jarak rumah lansia dengan posyandu lansia.
7
h. Mengetahui sikap lansia terhadap posyandu lansia.
i. Mengetahui hubungan karakteristik sosiodemografi dengan keaktifan
lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
j. Mengetahui hubungan jarak dengan keaktifan lansia mengikuti kegiatan
posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
k. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan keaktifan lansia
mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
l. Mengetahui hubungan dukungan kader dengan keaktifan lansia
mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
m.Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan lansia dengan keaktifan
lansia mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
n. Mengetahui hubungan sikap lansia dengan keaktifan lansia mengikuti
kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini di harapkan dapat menghasilkan suatu informasi yang
dapat di gunakan dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya mengenai
8
usia (lansia) mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja
Puskesmas Rajabasa Indah.
b. Bagi Peneliti
Sebagai wujud pengaplikasian disiplin ilmu yang telah dipelajari dan
dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman di bidang
kesehatan komunitas, khususnya mengenai hubungan dukungan keluarga
dan faktor lainnya dengan keaktifan lanjut usia (lansia) mengikuti
kegiatan posyandu.
c. Bagi Praktisi Kesehatan
Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pertimbangan dan masukan
dalam meningkatkan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan
posyandu lansia.
d. Bagi Masyarakat Umum
Dapat menjadi informasi yang bermanfaat di bidang kesehatan terutama
dalam mengetahui pentingnya megikuti kegiatan posyandu lansia dan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lanjut usia
2.1.1 Definisi Lanjut Usia
Definisi lanjut usia (lansia) menurut UU RI No. 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60
(enam puluh) tahun ke atas, baik yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa, maupun
yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada
bantuan orang lain (Notoadmodjo, 2007). WHO membagi lansia menjadi
empat kelompok yaitu usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun; lansia
(elderly) 60-74 tahun; lansia tua (old) 75-90 tahun; usia sangat tua (very old)
usia diatas 90 tahun (Efendi, 2009).
Berbeda dengan WHO, Departemen Kesehatan RI (2003)
mengklasifikasikan lansia menjadi pralansia untuk seorang yang berusia
antara 45-59 tahun, lansia untuk seorang yang berusia 60 tahun atau lebih,
lansia resiko tinggi untuk seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/
10
lansia potensial untuk lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/ jasa, dan lansia tidak
potensial untuk lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga
hidupnya bergantung pada pekerjaan orang lain (Maryam et al, 2008).
2.1.2 Proses Penuaan
Menua adalah proses yang mengakibatkan suatu perubahan bersifat
kumulatif, dan suatu proses penurunan daya tahan tubuh dalam menghadapi
rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian
(Kementerian Kesehatan RI, 2014). Secara umum, proses menua adalah
perubahan terkait waktu, bersifat universal, intrinsik, profresif dan
detrimental (Dewi, 2014). Proses penuaan merupakan proses biologis
dimana terdapat perubahan-perubahan dalam tubuh yang terprogram oleh
jam biologis, terjadinya aksi dari zat metabolik akibat mutasi spontan,
radikal bebas dan adanya kesalahan pada molekul DNA, dan perubahan
yang terjadi di dalam sel ataupun akibat pengaruh dari luar sel (Dewi &
Darwin, 2014).
Menurut Hernawati (2006), perubahan pada lansia meliputi perubahan
biologis, psikologis dan sosiologis. Perubahan biologis diantaranya adalah
penurunan fungsi sel otak, penurunan kemampuan, penurunan massa otot
dan peningkatan massa lemak yang mengakibatkan penurunan cairan tubuh
sehingga kulit kelihatan mengerut, kering serta muncul garis-garis yang
11
pendengaran yang menyebabkan lansia kurang aktif dan mengganggu
kegiatan sehari-hari. Perubahan psikologis berupa ketidakmampuan untuk
mengadakan penyesuaian terhadap situasi yang dihadapi misalnya sindrom
lepas jabatan dan sedih yang berkepanjangan. Perubahan sosiologis lansia
sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman terhadap diri
sendiri. Perubahan ini disebabkan oleh perubahan status sosial, misalnya
pensiunan (Ina, 2006).
2.1.3 Masalah Kesehatan Lanjut Usia
Seiring dengan penambahan umur, proporsi lansia yang mengalami keluhan
kesehatan semakin besar. Sebanyak 37,11 %penduduk pra lansia mengalami
keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir, meningkat menjadi 48,39 % pada
lansia muda, meningkat lagi menjadi 57,65 % pada lansia madya, dan
proporsi tertinggi pada lansia tua yaitu sebesar 64,01 % (Kementerian
Kesehatan RI, 2013). Keluhan kesehatan itu sendiri adalah suatu keadaan
dimana seseorang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik
karena penyakit akut/kronis, kecelakaan, kriminalitas, atau sebab lainnya.
(Badan Pusat Statistik, 2015).
Kemunduran pada fungsi organ tubuh khususnya lansia menyebabkan
rawan terhadap serangan berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus,
stroke, gagal ginjal, kanker, hipertensi, dan jantung. Jenis-jenis keluhan
kesehatan pada lansia dapat mengindikasikan gejala awal dari penyakit
12
yang paling banyak dialami lansia adalah keluhan lainnya, yaitu jenis
keluhan kesehatan yang secara khusus memang diderita lansia seperti asam
urat, darah tinggi, darah rendah, reumatik, diabetes, dan berbagai jenis
penyakit kronis lainnya (Badan Pusat Statistik, 2015).
2.1.4 Upaya Kesehatan Lanjut Usia
Kementerian Kesehatan dalam upaya untuk meningkatkan status kesehatan
para lansia melakukan beberapa program, yaitu:
a. Peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para lansia di pelayanan
kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok lansia melalui
program Puskesmas Santun Lanjut Usia dengan mengutamakan aspek
promotif dan preventif di samping aspek kuratif dan rehabilitatif.
b. Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lansia melalui pengembangan
Poliklinik Geriatri di Rumah Sakit.
c. Peningkatan penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan dan
gizi bagi usia lanjut. Kegiatan program kesehatan lansia terdiri dari
kegiatan promotif penyuluhan tentang perilaku hidup sehat dan gizi
lansia, deteksi ini dan pemantauan kesehatan lansia, pengobatan ringan
bagi lansia dan kegiatan rehabilitatif berupa upaya medis, psikososial dan
edukatif (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Tujuan program kesehatan lansia adalah agar para lansia menikmati masa
tua bahagia dan berguna. Kegiatan juga dilakukan agar kondisi kesehatan
13
partisipasi lintas sektor, meningkatkan koordinasi lintas sektor di setiap
tingkat administrasi, seiring dengan program kerja komisi daerah lansia
(Kementerian Kesehatan RI, 2014).
2.2 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lanjut Usia
2.2.1 Definisi Posyandu
Posyandu dapat didefinisikan sebagai satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan
dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan suatu
pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dalam
memperoleh suatu pelayanan kesehatan dasar (Departemen Kesehatan RI,
2011). Kegiatan di posyandu merupakan kegiatan nyata suatu partisipasi
dari masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari oleh, dan untuk
masyarakat, yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah
mendapatkan pendidikan dan pelatihan-pelatihan dari puskesmas mengenai
pelayanan kesehatan dasar (Effendy, 2000).
2.2.2 Definisi Posyandu Lanjut Usia
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia adalah suatu wadah pelayanan
kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) untuk melayani penduduk
lansia, yang proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh
masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor
14
dengan menitikberatkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan
preventif (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Posyandu lansia disediakan untuk masyarakat usia lanjut di wilayah tertentu
yang telah disepakati, digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu ini merupakan suatu
pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi
lansia yang diselenggarakan melalui program Puskesmas dengan melibatkan
peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial
dalam penyelenggaraannya dan didalamnya terdapat pelayanan kesehatan,
dan kegiatan peningkatan kesehatan serta kesejahteraan lansia (Komisi
Nasional Lanjut Usia, 2010; Angraeni, 2014).
2.2.3 Manfaat Posyandu Lanjut Usia
Tujuan pembentukan posyandu lansia menurut Depkes RI (2006) adalah
meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat
sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan
lansia. Tujuan lain adalah mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran
serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan selain
meningkatkan komunikasi antara orang lanjut usia (Angraeni, 2014).
Manfaat posyandu lansia adalah agar kesehatan fisik usia lanjut dapat
15
dalam bidang kesehatan, manfaat lain adalah dapat menyalurkan minat dan
bakat untuk mengisi waktu luang (Departemen Kesehatan RI, 2006).
2.2.4 Kegiatan Posyandu Lanjut Usia
Di samping pelayanan kesehatan, posyandu lansia juga memberikan
pelayanan sosial, agama, pendidikan, keterampilan, olah raga, seni budaya,
dan pelayanan lain yang dibutuhkan para lansia dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Kegiatan lansia menurut
Kementerian Kesehatan RI (2011) meliputi:
a. Promotif, dapat berupa penyuluhan kesehatan dan pemeliharaan
kebersihan, makanan mengandung gizi seimbang, kesegaran jasmani
yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan kemampuan lansia,
pembinaan mental dalam meningkatkan iman, pembinaan keterampilan,
dan meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.
b. Preventif, dapat berupa kegiatan pemeriksaan kesehatan secara berkala
dan teratur untuk menemukan penyakit dini lansia, kesegaran jasmani,
penyuluhan tentang penggunaan berbagai alat bantu, penyuluhan untuk
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan pada lansia, dan
pembinaan mental.
c. Kuratif, dapat berupa kegiatan pelayanan kesehatan dasar, dan pelayanan
kesehatan spesialistik melalui sistem rujukan.
d. Rehabilitatif, dapat berupa kegiatan memberikan informasi dan
16
mengembalikan kepercayaan diri dan memperkuat mental, pembinaan
pemenuhan kebutuhan pribadi dan aktifitas di dalam maupun luar rumah,
nasihat cara hidup yang sesuai dengan penyakit yang diderita, dan
perawatan fisioterapi (Marlina, 2012).
Penyelenggaraan posyandu dilaksanakan oleh kader kesehatan yang terlatih,
tokoh dari PKK, tokoh masyarakat dibantu oleh tenaga kesehatan dari
puskesmas setempat baik seorang dokter bidan atau perawat.
Penyelenggaraan dilakukan dengan sistem 5 meja meliputi meja
pendaftaran, tempat penimbangan, pengukuran dan pencatatan berat dan
tinggi badan serta perhitungan index massa tubuh (IMT), tempat
pemeriksaan dan pengobatan sederhana (tekanan darah , gula darah, dan
sebagainya), tempat kegiatan konseling (kesehatan, gizi, dan kesejahteraan),
dan tempat pemberian informasi dan melakukan kegiatan sosial (pemberian
makanan tambahan, bantuan modal, dan sebagainya) (Komisi Nasional
Lanjut Usia, 2010).
Terdapat 10 tahap pelayanan dalam kegiatan posyandu lansia, yaitu
pemeriksaan aktivitas sehari-hari (Activity Daily Living) seperti makan dan
minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik dan turun turun tempat tidur, dan
buang air, pemeriksaan status mental, pemeriksaan status gizi dan dicatat
pada grafik IMT, pengukuran tekanan darah dan denyut nadi, pemeriksaan
hemoglobin. Pemeriksaan selanjutnya adalah untuk mendeteksi adanya
17
mellitus (gula) dan adanya protein dalam air seni untuk deteksi awal
penyakit ginjal. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembuatan rujukan
ke puskesmas bila terdapat keluhan atau kelainan pada pemeriksaan nomor
1 sampai 7, penyuluhan di dalam atau luar kelompok dalam rangka
kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai masalah
kesehatan yang dihadapi oleh individu atau kelompok lansia, dan kunjungan
rumah oleh kader dan petugas bagi kelompok lansia yang tidak datang
(Departemen Kesehatan RI, 2006).
2.3 Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa
kehidupan. Sifat dan jenis dukungan berbeda dalam berbagai tahap-tahap
siklus kehidupan. Dukungan keluarga dapat berupa dukungan sosial
internal, seperti dukungan dari suami, istri atau dukungan dari saudara
kandung dan dapat juga berupa dukungan keluarga eksternal bagi keluarga
inti. Sebagai akibatnya, hal ini meningkatkan kesehatan dan adaptasi
keluarga (Friedman, 2010).
Dalam melakukan perawatan terhadap lansia, setiap anggota keluarga
memiliki peranan yang sangat penting. Peranan keluarga antara lain
menjaga dan merawat lansia, mepertahankan dan meningkatkan status
mental, mengantisipasi perubahan sosial ekonomi, serta memberikan
motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia. Anggota
18
kehangatan dalam keluarga, membantu mempersiapkan makanan,
membantu dalam segi transportasi atau memenuhi sumber keuangan,
memberi kasih sayang, menghormati dan menghargai, sabar dan bijaksana
terhadap perilaku lansia, menyediakan waktu serta perhatian, dan meminta
nasihatnya dalam peristiwa-peristiwa penting (Maryam et al, 2008).
Keluarga memiliki empat fungsi dukungan diantaranya:
a. Dukungan emosional
Dukungan emosional keluarga berupa perhatian, kasih sayang dan
empati. Dukungan emosional merupakan fungsi afektif keluarga berupa
fungsi internal keluarga dalam memenuhi kebutuhan psikososial dengan
saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling mendukung dan
menghargai antar anggota keluarga, adanya kepercayaan, perhatian,
mendengarkan dan didengarkan (Friedman, 2010).
b. Dukungan Informasi
Dukungan informasi merupakan suatu dukungan atau bantuan yang
diberikan oleh keluarga dalam bentuk memberikan saran atau masukan,
nasehat atau arahan dan memberikan informasi-informasi penting yang
sangat dibutuhkan dalam upaya meningkatkan status kesehatannya.
Manfaatnya adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena
informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang
khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat,
19
c. Dukungan instrumental
Dukungan instrumental keluarga merupakan dukungan atau bantuan
penuh dari keluarga dalam bentuk memberikan bantuan tenaga, dana,
maupun meluangkan waktu untuk membantu atau melayani dan
mendengarkan klien halusinasi dalam menyampaikan perasaannya. Serta
dukungan instrumental keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit,
dan kesehatan pasien dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat
dan terhindarnya pasien dari kelelahan (Friedman, 2010).
d. Dukungan Penghargaan
Dukungan keluarga berperan dalam mengintensifkan perasaan sejahtera
karena keluarga membimbing dan menengahi pemecahan masalah.
Orang yang hidup dalam lingkungan yang supportif kondisinya jauh
lebih baik daripada mereka yang tidak memilikinya. Dukungan tersebut
akan tercipta bila hubungan interpersonal diantara mereka baik. Ikatan
kekeluargaan yang kuat membantu ketika keluarga menghadapi masalah
(Friedman, 2010).
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat lansia
untuk mengikuti kegiatan Posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi
motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyempatkan diri untuk
mendampingi atau mengantar lansia ke Posyandu, mengingatkan Lansia
jika lupa jadwal Posyandu dan berusaha membantu mengatasi segala
20
Dukungan keluarga dapat diukur dengan menggunakan Perceived Social
Support Questionnaire Family (PSS-fa) yang terdiri dari 20 item.
Kuesioner PSS-Fa dibuat dengan skala likert dengan jawaban sangat
tidak setuju, tidak setuju, setuju dan sangat setuju. Alat ukur ini
digunakan untuk mengetahui persepsi individu terhadap dukungan yang
didapatkan dari keluarga sesuai dengan yang dibutuhkan. Bentuk
dukungan keluarga ini adalah dukungan fisik, informasi dan umpan balik
dari keluarga (Procidano dan Heler; Radita, 2015).
2.4 Jarak
Pemanfaatan pelayanan kesehatan menurut Kemenkes (2010) dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterjangkauan lokasi tempat
pelayanan, jenis dan kualitas pelayanan yang tersedia, maupun
keterjangkauan informasi. Rendahnya pemanfaatan fasilitas pelayanan
kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai, seperti tidak tahu adanya suatu
kemampuan fasilitas (faktor informasi), biaya yang tidak terjangkau (faktor
ekonomi), tradisi yang menghambat pemanfaatan fasilitas (faktor budaya),
dan jarak yang jauh (faktor geografi). Tempat pelayanan yang tidak strategis
sulit dicapai, menyebabkan berkurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan
(Handayani, 2013).
Jarak sendiri dapat diartikan sebagai ruang sela (panjang atau jauh) antara
21
diperlukan oleh setiap kendaraan atau perseorangan untuk berjalan di antara
dua titik tertentu (Departemen Pendidikan Nasional, 2008).
2.5 Dukungan Kader
Pelayanan dan pemeliharaan kesehatan tidak dapat ditangani seluruhnya
oleh para dokter saja, apalagi kegiatan yang mencakup kelompok
masyarakat luas. Dokter memerlukan bantuan para tenaga medis, sanitasi
gizi, ahli ilmu sosial dan juga anggota masyarakat (tokoh masyarakat dan
kader) untuk melaksanakan program kesehatan. Tugas tim kesehatan ini
dapat dibedakan menurut tahap dan jenis program yang dijalankan, yaitu
berupa promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (Departemen Kesehatan
RI, 2005).
Kader kesehatan atau promotor kesehatan desa (prokes) adalah tenaga
sukarelawan yang dipilih oleh dan dari masyarakat dan memiliki tugas
untuk mengembangkan masyarakat. Depkes RI menyebutkan kader
kesehatan adalah tenaga sukarela yang terdidik dan terlatih dalam bidang
tertentu yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat dan merasa
berkewajiban untuk meningkatkan dan membina kesejahteraan masyarakat
dengan ikhlas dan didasarkan panggilan jiwa untuk melaksanakan tugas
kemanusiaan. Kader kesehatan dipilih dari masyarakat dengan prosedur
yang disesuaikan dengan kondisi setempat. diharapkan memiliki latar
belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk
22
bekerja dengan sukarela, serta sabar dan memahami lansia. Selain itu, kader
yang dipilih juga harus dapat melaksanakan tugas-tugas kader secara fisik,
memiliki penghasilan sendiri dan tinggal tetap di desa bersangkutan, aktif
dalam kegiatan sosial dan pembangunan di desa, dikenal masyarakat, dapat
bekerjasama dengan calon kader lain, dan sanggup membina paling sedikit
10 kepala keluarga (Zulkifli, 2004).
Kader posyandu sendiri memiliki beberapa peran, yaitu:
a. Sebelum hari buka posyandu berupa melakukan persiapan,
menyebarluaskan informasi mengenai hari buka posyandu melalui
pertemuan warga setempat, melakukan pembagian tugas antar kader,
melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan dan menyiapkan bahan
penyuluhan dan pemberian makanan tambahan.
b. Saat hari buka posyandu berupa melakukan pendaftaran, memberikan
pelayanan kesehatan, membimbing dan membantu melakukan
pencatatan, melakukan penyuluhan dan memberi layanan konsultasi
maupun konseling, memotivasi, menyampaikan informasi dan
penghargaan serta melakukan pencatatan kegiatan yang telah dilakukan.
c. Sesudah hari buka posyandu berupa melakukan kunjungan, memotivasi
masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan dan memberi penyuluhan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menyelenggarakan diskusi
dengan masyarakat terkait kegiatan posyandu, serta mempelajari Sistem
23
2.6 Pengetahuan
2.6.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang
dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya), atau hasil penginderaan
manusia. Pengetahuan yang dihasilkan tersebut dipengaruhi oleh lamanya
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoadmodjo, 2010).
2.6.2 Tingkat Pengetahuan
Intensitas atau tingkat pengetahuan seseorang terhadap objek secara garis
besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu berarti hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengukur bahwa orang
tahu sesuatu, dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan.
b. Memahami (comprehension)
Memahami berarti orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara
benar tentang objek tersebut, bukan sekedar tahu dan dapat menyebutkan,
tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus melakukan hal tersebut.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan saat seseorang yang telah memahami suatu objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
24
d. Analisis (analysis)
Analalisis berarti seseorang mampu menjabarkan dan/atau memisahkan,
kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat
dalam suatu masalah atau objek yang diketahui.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah saat seseorang mampu untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki atau diartikan sebagai kemampuan menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah saat seseorang mampu untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini berdasarkan atas
kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di
masyarakat. Misalnya, seseorang ibu dapat menilai seseorang menderita
malnutrisi atau tidak, dan sebagainya (Notoadmodjo, 2010).
2.7 Sikap
2.7.1 Pengertian Sikap
Campbell (1950) mendefinisikan sikap secara sederhana, yakni suatu
sindroma dalam merespon stimulus atau objek dimana faktor pendapat dan
emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju,
baik-tidak baik, dan sebagainya) dilibatkan, termasuk pikiran, perasaan,
25
Menurut Newcomb, sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk
bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Bisa dikatakan
bahwa fungsi sikap merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau reaksi
tertutup dan masih belum merupakan tindakan (reaksi terbuka)
(Notoadmodjo, 2010).
2.7.2 Komponen Sikap
Menurut Allport (1954) sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu
kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek, kehidupan
emosional atau evaluasi orang terhadap objek, dan kecenderungan untuk
bertindak. Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh (total
attitide). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoadmodjo, 2010).
2.8 Perilaku Manusia
Setelah faktor lingkungan, faktor perilaku merupakan faktor terbesar kedua
yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok atau masyarakat.
(Notoatmodjo, 2007). Menurut Skiner, perilaku adalah respons atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar) atau “S-O-R”
(stimulus-organisme-respon). Teori Skiner menjelaskan ada dua jenis respon, yaitu:
a. Respondent respons atau refleksif, yakni respon yang ditimbulkan oleh
eliciting stimuli atau rangsangan-rangsangan stimulus tertentu.
26
b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respon yang timbul
dan berkembang kemudian diikuti oleh stimuli atau rangsangan yang
lain, dimana perasangsang terakhir disebut reinforcing stimuli atau
reinforcer sebab berfungsi memperkuat respon (Notoadmodjo, 2010).
Jika dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu perilaku tertutup dimana respon seseorang
terhadap stimulus masih terbatas pada perhatian, persepsi,
pengetahuan/kesadaran, dan sikap orang yang menerima stimulus tersebut
dan belum dapat diamati oleh orang lain secara jelas, dan perilaku terbuka
dimana respon seseorang terhadap stimulus sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktik dan lebih mudah diamati (Notoadmodjo, 2007).
Perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
a. Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
Faktor predisposisi adalah yang memotivasi dan memberikan alasan
perilaku dan preferensi pribadi seseorang mencakup pengetahuan, sikap,
keyakinan budaya, kesiapan untuk berubah, dan karakteristik
sosiodemografi seseorang, seperti umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, dan status perkawinan (Marlina, 2012).
b. Faktor Penguat (Reinforcing Factor)
Faktor penguat berasal dari lingkungan, mencakup keluarga, petugas
kesehatan, teman, dan tokoh masyarakat yang menentukan apakah suatu
27
bergantung tujuan dan jenis program pelayanan kesehatan. Pelayanan
petugas kesehatan maupun kader yang baik terbukti sebagai faktor yang
mempengaruhi keaktifan lansia ke kelompok lansia (Marlina, 2012).
c. Faktor Pemungkin (Enabling Factor)
Faktor pemungkin mencakup dapat terlaksananya suatu kegiatan maupun
aspirasi untuk perubahan perilaku dengan adanya ketersediaan sumber
daya kesehatan, keterjangkauan sumber daya kesehatan, serta komitmen
pemerintah dan masyarakat terhadap layanan dan keterampilan tenaga
keehatan di layanan seperti polindes, puskesmas, posyandu lansia
maupun posbindu lain (Marlina, 2012).
Perilaku mencakup 3 domain, yakni: pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude) dan tindakan atau praktik (practice). Oleh sebab itu, mengukur
perilaku dan perubahannya mengacu pada 3 domain tersebut. Dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengetahuan kesehatan
Pengetahuan kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang
terhadap cara-cara memelihara kesehatan, meliputi pengetahuan
mengenai penyakit menular dan tidak menular, pengetahuan mengenai
faktor-faktor yang terkait dan/atau mepengaruhi kesehatan, pengetahuan
mengenai fasilitas pelayanan kesehatan baik yang profesional maupun
tradisional, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan. Pengukuran
pengetahuan kesehatan dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan-28
pertanyaan tertulis atau angket. Indikator pengetahuan kesehatan adalah “tingginya pengetahuan” responden mengenai kesehatan atau besarnya
presentase kelompok responden atau masyarakat tentang
variabel-variabel atau komponen-komponen kesehatan (Notoadmodjo, 2010).
b. Sikap terhadap kesehatan
Sikap terhadap kesehatan merupakan penilaian atau pendapat orang
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan yang
sekurang-kurangnya mencakup 4 variabel yakni sikap terhadap penyakit,
sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan/atau mepengaruhi
kesehatan, sikap terhadap fasilitas pelayanan, dan sikap dalam
menghindari kecelakaan. Pengukuran sikap terhadap kesehatan dapat
dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat
dengan mengajukan pertanyaan mengenai stimulus atau objek yang
bersangkutan atau dengan cara memberikan pendapat menggunakan kata “setuju” atau “tidak setuju” terhadap pernyatan-pernyataan mengenai
objek tertentu, dengan menggunakan skala Lickert, yaitu 5 bila sangat
setuju, 4 bila setuju, 3 bila biasa saja, 2 bila tidak setuju, dan 1 bila sangat
tidak setuju (Notoadmodjo, 2010).
c. Praktik Kesehatan
Tindakan hidup sehat atau praktik kesehatan adalah semua kegiatan
orang untuk memlihara kesehatan. Meliputi 4 faktor seperti di atas, yaitu
tindakan atau praktik sehubungan dengan penyakit, sehubungan dengan
faktor-faktor yang terkait dan/atau mepengaruhi kesehatan, sehubungan
29
menghindari kecelakaan. Pengukuran dapat dilakukan melalui cara
langsung maupun tidak langsung. Pengukuran secara langsung yakni
dengan pengamatan (observasi), yaitu pengamatan terhadap tindakan
subjek dalam rangka memelihara kesehatannya. Sedangkan secara tidak
langsung dilakukan dengan metode recall atau mengingat kembali, yang
dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subjek (Notoadmodjo,
2010).
2.9 Profil Puskesmas Rajabasa Indah
Puskesmas Rajabasa Indah merupakan Puskesmas Pemerintah Kotamadya
Bandarlampung yang resmi menjadi puskesmas induk sejak tahun 2003
Puskesmas didirikan di atas tanah seluas 200m2 dengan luas bangunan 176
m2. Sarana yang tersedia meliputi fasilitas sarana pelayanan langsung
(medis dan keperawatan) dengan tidak langsung (penunjang medis).
Kegiatan yang direncanakan adalah kegiatan upaya kesehatan wajib dan
upaya kesehatan pengembang. Puskesmas Rajabasa Indah terletak di Jalan
Pramuka No.1 yang termasuk dalam kelurahan Rajabasa Kota
Bandarlampung. Rata-rata kepadatan penduduk Kecamatan Rajabasa
sebesar 26,67 jiwa/Ha. Pada tahun 2012 jumlah penduduk penduduk di
wilayah Puskesmas Rajabasa Indah 32.935 jiwa yang terdiri dari laki-laki
15.808 jiwa dan perempuan 17.127 jiwa dengan jumlah kepala 9.320 KK.
Terdapat 13 posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah
30
lansia menjadi 8 posyandu yang terdiri dari 2 posyandu di Kelurahan
Rajabasa Raya 2 posyandu, 5 posyandu di Kelurahan Rajabasa Jaya, dan 1
posyandu di Kelurahan Gedung Meneng. Nama posyandu lansia tersebut
adalah Bunda, RKS Nadila, Bougenville, Kepayang, Lingsuh, Flamboyan,
31
[image:54.595.146.512.118.622.2]2.10 Kerangka Teori
Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian (Modifikasi Teori Lawrance Green) Perilaku dan Gaya Hidup: Kunjungan Lansia Faktor Penguat: dukungan keluarga, petugas kesehatan, teman,dan tokoh masyarakat Faktor Pemungkin: ketersediaan& keterjangkauan sumber daya kesehatan, komitmen pemerintah dan masyarakat keterampilan tenaga kesehatan Faktor Predisposisi: pengetahuan, sikap, keyakinan budaya, kesiapan untuk berubah, dan karakteristik sosiodemografi seseorang Keaktifan lansia mengikuti posyandu lansia Peningkatan kualitas hidup lansia
32
2.11 Kerangka Konsep
Komponen yang akan dianalisis adalah faktor predisposisi yakni gambaran
karakteristik sosiodemografi (umur, jenis kelamin, pendidikan, dan
pekerjaan), pengetahuan, dan sikap. Faktor penguat yang dianalisis yakni
dukungan keluarga orang lanjut usia (lansia) dan dukungan kader, dan
faktor pemungkin yang dianalis adalah jarak. Baik faktor predisposisi,
faktor penguat, dan faktor pemungkin tersebut dianalisis dengan keaktifan
lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu lansia wilayah kerja Puskesmas
[image:55.595.145.505.358.531.2]Rajabasa Indah.
Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian
- Dukungan keluarga - Karakteristik Sosiodemografi - Jarak
- Dukungan Kader - Tingkat
Pengetahuan - Sikap
Keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan Posyandu
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan
cross sectional, dimana variabel bebas dan terikat diukur pada waktu yang
bersamaan.
3.2 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di 8 posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Rajabasa Indah, Kota Bandar Lampung. Penelitian telah
dilaksanakan pada bulan September-Desember 2016.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi terget dalam penelitian ini adalah lansia yang berumur ≥ 45 tahun.
Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah lansia di wilayah kerja
Puskesmas Rajabasa Indah, Kota Bandar Lampung, yang terbagi dalam 8
34
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian yang dipilih dengan cara tertentu untuk mewakili
keseluruhan kelompok populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi pada saat pelaksanaan posyandu lansia Kecamatan Rajabasa Indah,
Kota Bandar Lampung. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah
probability sampling yaitu proportionate stratified random sampling.
3.3.2.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi:
1. Lanjut usia yang berusia 45 tahun ke atas.
2. Bisa berkomunikasi dengan baik secara tertulis maupun tidak
tertulis.
3.3.2.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah
1. Lansia yang mempunyai gangguan pendengaran.
2. Lansia yang memiliki kelainan mental.
3.3.2.3 Besar Sampel
Jumlah sampel dihitung dengan rumus minimal sampe size:
( )
Keterangan:
35
P = Proporsi Kategori
Q = 1-P
d = Presisi
Tingkat kepercayaan penelitian sebesar 95%, sehingga α = 5% dan Zα=1,96% dengan kesalahan prediksi yang masih bisa diterima (d)
sebesar 10%. Prevalensi (P) ditetapkan sebesar 0,53 karena sudah ada
penelitian yang serupa sebelumnya, sehingga Q (1-P) didapatkan 0,47.
( )
( )
Dengan demikian, besar sampel adalah 96 orang.
Peneliti menghitung proporsi sampel berdasarkan jumlah lansia yang
aktif mengikuti posyandu lansia yang tersebar di 8 posyandu. Jumlah
[image:58.595.173.504.545.679.2]sampel tiap-tiap posyandu adalah:
Tabel 1. Jumlah Sampel
Posyandu Jumlah lansia Perhitungan Jumlah Sampel 1 12 12/128 x 96 = 9 9 2 14 14/128 x 96 = 10,5 10 3 9 9/128 x 96 = 6,75 7 4 13 13/128 x 96 = 9,75 10 5 15 15/128 x 96 = 11,25 11 6 19 19/128 x 96 = 14,25 14 7 17 17/128 x 96 = 12,75 13 8 29 29/128 x 96 = 21,75 22
36
3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai sifat, ciri, dan
ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang konsep
pengertian tertentu (Notoadmodjo, 2012). Variabel penelitian terdiri dari:
3.4.1 Variabel bebas
Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah dukungan
keluarga, dan faktor lainnya (karakteristik sosiodemografi, jarak, dukungan
kader, tingkat pengetahuan, dan sikap).
3.4.2 Variabel terikat
Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah keaktifan