A KERAGAAN USAHA BUDIDAYA IKAN PATIN
STUDI KASUS DI CV XYZ
KECAMATAN BUMI RATU NUBAN KABUPATEN LAMPUNG TENGAH ( Skripsi )
Oleh
VIVI AYU YULIANA
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
IN CV XYZ CENTRAL LAMPUNG DISTRICT
By
Vivi Ayu Yuliana
Patin fish culture requires a large amount in terms of cost in its implementation. This study aims to analyze business performance financial, production and marketing aspects. The research method used is a case study in CV XYZ in Central Lampung District conducted in May-June 2019. Measurement of business performance from a financial aspect uses NPV, IRR, Net B / C, Gross B / C, and Payback Period with 12% interest rate. Measurement of business performance from the aspect of production uses the calculation of productivity and income during season one and season two. Measurement of patin fish marketing can be calculated through marketing margin analysis. The study concludes that the patin fish culture business per 1.000 m2was profitable to run, seen from the IRR value at 14,40%, NPV at 54.951.084,01, Net B / C at 1,12, Gross B / C at 1,04, and Payback Period at 7,41. The patin fish culture business from the aspect of production has been profitable based on the productivity obtained, namely per pond of 1.000 kg in season one and 750 kg in season two, per hectare at 50.000 kg in season one and 37.500 kg in season two. The marketing of catfish in CV XYZ is efficient based on the calculation of the value of the margin profit ratio in channel II of 1.766,67%.
ABSTRAK
KERAGAAN USAHA BUDIDAYA IKAN PATIN
STUDI KASUS DI CV XYZ KECAMATAN BUMI RATU NUBAN KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
Oleh Vivi Ayu Yuliana
Budidaya ikan patin memerlukan biaya yang cukup besar dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan usaha dari aspek finansial, produksi, dan pemasaran. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus di CV XYZ di Kabupaten Lampung Tengah yang dilakukan pada bulan Mei-Juni 2019. Pengukuran keragaan usaha dari aspek finansial menggunakan kriteria investasi NPV, IRR, Net B/C, Gross B/C, dan Payback Period dengan tingkat suku bunga 12 %. Pengukuran keragaan usaha dari aspek produksi menggunakan perhitungan produktivitas dan pendapatan pada saat musim tanam satu dan musim tanam dua. Pengukuran pemasaran ikan patin dapat dihitung melalui analisis marjin pemasaran. Hasil studi menyimpulkan bahwa usaha budidaya ikan patin per 1.000 m2 dari aspek finansial menguntungkan untuk dijalankan dilihat dari nilai IRR yang diperoleh sebesar 14,40%, NPV sebesar 54.951.084,01 , Net B/C sebesar 1,12 , Gross B/C sebesar 1,04 ,dan Payback Period sebesar 7,41. Dari aspek produksi sudah menguntungkan berdasarkan produktivitas yang diperoleh yaitu per kolam sebesar 1.000 kg musim tanam satu dan 750 kg musim tanam dua, per hektar sebesar 50.000 kg musim tanam satu dan 37.500 kg musim tanam dua. Pemasaran ikan patin di CV XYZ sudah efisien berdasarkan perhitungan nilai rasio profit marjin pada saluran II sebesar 1.766,67%.
KERAGAAN USAHA BUDIDAYA IKAN PATIN STUDI KASUS DI CV XYZ KECAMATAN BUMI RATU NUBAN KABUPATEN LAMPUNG
TENGAH Oleh
VIVI AYU YULIANA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
pada
Program Studi Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Palembang pada tanggal 13 Juli 1998 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Bapak Mistar dan Ibu Yuni Harini.
Penulis telah menyelesaikan studi tingkat Sekolah Dasar di SD Negeri Sumbersari Kecamatan Nibung pada tahun 2009, studi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP N Marga Baru Kecamatan Muara Lakitan tahun 2012, dan Pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA YADIKA Kota Lubuklinggau tahun 2015. Penulis diterima di Universitas Lampung Fakultas Pertanian Jurusan Agribisnis melalui jalur mandiri pada tahun 2015
SANWACANA
Bismillahirrohmanirrohim,
Alhamdulillahirobbil’alamin. Segala puji syukur hanya kepada Allah Subhanahu
Wa Ta‟ala, atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan dan tauladan kita Nabi Muhammad Shollallohu „Alaihi wa Sallam, semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di yaumul kiamat. Aamiin yaa robbal „alamin.
Dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Kinerja Usaha Budidaya Ikan Patin
Studi Kasus di CV XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah”, banyak pihak yang memberikan bantuan, motivasi, dukungan, nasihat serta saran-saran yang membangun. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung atas arahan dan bimbingan yang telah diberikan. 2. Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si., selaku Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas
Pertanian Universitas Lampung yang telah memberikan bantuan dan saran. 3. Dr. Ir. Fembriarti Erry Prasmatiwi, M.P., selaku pembimbing utama skripsi,
4. Dr. Ir. Muhammad Irfan Affandi, M.Si., selaku dosen pembimbing anggota skripsi, yang telah memberikan semangat, bimbingan, saran dan arahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Dr. Ir. Raden Hanung Ismono, M.P., selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan saran dan arahan untuk penyempurnaan skripsi ini.
6. Dr. Indah Listiana, S.P., M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung atas arahan dan nasihat yang diberikan. 7. Seluruh dosen Jurusan Agribisnis atas semua ilmu yang telah diberikan
selama penulis menjadi mahasiswa di Universitas Lampung.
8. Orang tuaku tercinta Ayah Mistar dan Ibu Yuni Harini serta adik-adikku Sarah Dwi Savitri dan Anindita Keisya Zahra yang telah memberikan kasih sayang, semangat, do‟a, motivasi serta dukungan baik moral maupun material
sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Bapak Saihul selaku pemilik CV XYZ yang telah bersedia memberikan informasi, dukungan serta saran.
10. Karyawan-karyawati di Jurusan Agribisnis, Mba Iin , Mba Tunjung, Mba Vannesa, Mas Bukhori, Mas Boim, atas segala bantuan yang telah diberikan. 11. Arif Adha Kenamon, terima kasih atas segala bantuan, dukungan, motivasi,
dan saran yang telah diberikan.
13. Sahabatku tercinta Rika Sari yang selalu memberikan motivasi dan semangat. 14. Keluarga besar Agribisnis Angkatan 2015 yang tidak bisa disebutkan satu
persatu terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya selama menyelesaikan skripsi.
15. Almamater tercinta dan seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta‟ala memberikan balasan terbaik atas segala
bantuan yang telah diberikan dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Penulis meminta maaf jika terdapat kesalahan dan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‟ala penulis mohon ampun.
Bandar Lampung, Januari 2020
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
I. PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 7
C.Tujuan Penelitian ... 7
D.Manfaat Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 9
A.Tinjauan Pustaka ... 9
1. Budidaya ikan patin ... 9
2. Analisis finansial ... 12
3. Kinerja produksi ... 17
4. Konsep pemasaran ... 19
5. Efisiensi pemasaran ... 24
6. Konsep efisiensi pemasaran... 25
B.Penelitian Terdahulu ... 30
C.Kerangka Pemikiran ... 34
III. METODE PENELITIAN ... 37
A.Metode dasar penelitian ... 37
B.Konsep dasar dan batasan operasional ... 37
C.Lokasi, responden, dan waktu pengambilan data ... 41
D.Metode pengumpulan data ... 41
E. Metode analisis data ... 42
1. Aspek finansial ... 42
2. Aspek produksi ... 47
3. Saluran pemasaran ... 50
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 52
A.Sejarah dan profil umum perusahaan ... 52
B.Lokasi perusahaan ... 53
C.Struktur organisasi perusahaan ... 54
D.Sarana dan prasarana perusahaan ... 55
E. Produk ... 56
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 57
ii
B.Analisis finansial usaha budidaya ikan patin ... 58
1. Biaya investasi ... 59
2. Penggunaan sarana produksi ... 61
3. Produksi dan benefit ... 68
4. Penilaian kriteria investasi ... 71
C.Analisis produktivitas dan pendapatan usaha budidaya ikan patin di CV XYZ ... 78
1. Produktivitas ... 78
2. Pendapatan ... 79
D.Lembaga pemasaran ... 83
VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 91
A.Kesimpulan ... 91
B.Saran ... 91
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Produksi perikanan budidaya menurut kabupaten/kota di Provinsi
Lampung tahun 2017 ……….…4
2. Produksi ikan yang berasal dari kolam menurut jenis ikan di Kabupaten
Lampung Tengah tahun 2017……….…5 3. Kajian penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian analisis
finansial, kinerja produksi dan pemasaram ikan patin di CV XYZ…………..31 4. Perkembangan jumlah kolam dan produksi ikan patin di CV XYZ………...53 5. Biaya investasi dalam usaha budidaya ikan patin……….60 6. Penggunaan benih ikan patin di CV XYZ tahun 2012-2021………62 7. Kebutuhan pakan, vitamin, dan obat dalam usaha budidaya ikan patin
di CV XYZ………....64 8. Peralatan dalam usaha budidaya ikan patin………..65 9. Penggunaan tenaga kerja dalam usaha budidaya ikan patin per
kolam per tahun ………...66
10. Biaya PBB, listrik, bahan bakar, irigasi, dan sewa lahan………...67 11. Total biaya produksi ikan patin ………..…...68 12. Produksi, harga, dan penerimaan dalam usaha budidaya ikan patin………..69 13. Biaya dan penerimaan per tahun dalam usaha budidaya ikan
patin………70
14. Perhitungan analisis finansial usaha budidaya ikan patin
17. Pendapatan dan R/C Ratio dalam usaha budidaya ikan patin
tahun 2018 ………..……...81 18. Sebaran responden pedagang berdasarkan umur………83 19. Sebaran responden pedagang berdasarkan tingkat pendidikan……….…….84 20. Sebaran responden konsumen berdasarkan umur………..84 21. Sebaran responden konsumen berdasarkan pendidikan ………85 22. Analisis margin pemasaran ikan patin pada saluran I………88
23. Analisis margin pemasaran ikan patin pada saluran II………… …………..88
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Marjin tataniaga dan nilai marjin tataniaga………..28 2. Kerangka pemikiran keragaan usaha budidaya ikan patin studi kasus di CV
XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung
Tengah……….………..36
1 I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perikanan merupakan sektor ekonomi yang penting kedudukannya di Indonesia. Data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menurut sektor usaha pada tahun 2014 menunjukkan bahwa sektor perikanan menjadi sektor ketiga yang mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan menyumbang 12,53 % dari total PDB tahun 2014. Melihat pentingnya sektor perikanan bagi kelangsungan hidup negara, maka diperlukan upaya nyata untuk mengembangkan dan memajukan sektor perikanan secara berkelanjutan (Badan Pusat Statistik, 2014)
2 Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan
Industri Perikanan Nasional telah mengamanatkan kepada 25 Kementerian dan Lembaga terkait untuk melakukan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam mendukung upaya percepatan pembangunan industri perikanan nasional. Salah satu langkah yang diamanatkan dalam instruksi Presiden tersebut yaitu peningkatan produksi perikanan tangkap, budidaya, dan pengolahan hasil perikanan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2018)
Produksi ikan mencakup semua hasil penangkapan/budidaya ikan/binatang air lainnya/tanaman air yang ditangkap/dipanen dari sumber perikanan alami atau tempat pemeliharaan, baik yang diusahakan oleh perusahaan perikanan maupun rumah tangga perikanan. Budidaya ikan adalah kegiatan memelihara ikan/binatang air lainnya/tanaman air dengan menggunakan fasilitas buatan termasuk juga kegiatan pembenihan ikan. Perusahaan perikanan
tangkap/budidaya adalah unit ekonomi berbadan hukum yang melakukan kegiatan penangkapan/budidaya ikan/binatang air lainnya/tanaman air dengan tujuan sebagian/seluruh hasilnya untuk dijual (Badan Pusat Statistik, 2016)
Perusahaan perikanan yang dicakup hanya yang berbadan hukum dan mempunyai kegiatan penangkapan atau budidaya ikan/binatang air
3 yang melakukan kegiatan budidaya perikanan mencapai 257 perusahaan,
tersebar di 22 provinsi dan terbanyak berlokasi di Jawa Timur yaitu 37,74 persen. Jumlah tenaga kerja di perusahaan budidaya air tawar pada tahun 2017 sebanyak 660 orang. Sebanyak 549 orang dari jumlah total tenaga kerja merupakan tenaga kerja dibidang produksi dan sisanya 111 orang merupakan tenaga kerja non produksi (Badan Pusat Statistik, 2017)
Provinsi Lampung merupakan salah satu sentra produksi perikanan di Indonesia. Sektor perikanan di Provinsi Lampung meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap pada Tahun 2017 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2016 yaitu sebesar 64.583 ton. Produksi perikanan budidaya pada tahun 2017 yaitu sebesar 155.716,84 ton. Data produksi perikanan budidaya menurut kabupaten/kota di Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Tengah merupakan daerah produksi perikanan terbesar se-Provinsi Lampung yaitu 41,84 persen dari total produksi perikanan budidaya. Berikut merupakan data produksi
4 Tabel 1. Produksi perikanan budidaya menurut kabupaten/kota di Provinsi
Lampung tahun 2017
Kabupaten/Kota Budidaya
Laut Tambak Kolam Keramba
Jaring
Apung Sawah
Lampung Barat - - 2.937,00 - 2.121,00 85,78
Tanggamus - 2.433,00 2.613,00 - - -
Lampung Selatan 3.615,57 12.055,63 12.224,34 - 24,40 -
Lampung Timur 2,20 6.721,88 6.818,92 35,32 - -
Lampung Tengah - - 35.341,00 - - -
Lampung Utara - - 1.644,43 7,56 3.494,75 21,26
Way Kanan - - 1.442,80 - - -
Tulang Bawang - 28.204,30 232,50 54,60 - -
Pesawaran 253,00 8.896,50 750,20 - - -
Pringsewu - 6.891,42 659,46 478,20 -
Mesuji - 809,07 3.479,61 12,65 41,71 -
Tulang Bawang Barat
- - 1.293,45 45,42 18,95 13,98
Pesisir Barat 625,00 505,00 3.934,00 - - -
Bandar Lampung 19,10 - 1.955,57 - - -
Metro - - 1.903,31 - - -
Lampung 4.514,87 59.625,38 84.461,55 815,01 6.179,01 121,02
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, 2018
5 Tabel 2. Produksi ikan yang berasal dari kolam menurut jenis ikan di
Kabupaten Lampung Tengah tahun 2017.
Jenis ikan Produksi (ton)
Lele dumbo 9.200
Mas 182
Nila 3.315
Patin 11.507
Bawal 2.098
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Tengah, 2018
Berdasarkan data pada Tabel 2 jenis ikan yang dibudidayakan yang berasal dari kolam diantaranya seperti ikan lele dumbo, ikan mas, ikan tawes, ikan nila, ikan patin, ikan gurami, ikan tambakan, ikan mujair, dan ikan bawal. Berdasakan Tabel 2, jenis ikan tawes,ikan gurami, ikan tambakan, dan ikan mujair tidak diketahui produksinya di tahun 2017. Hal tersebut dapat dikarenakan produksi beberapa ikan tersebut rendah.
6 Budidaya ikan patin berlangsung selama 6-8 bulan hingga ukuran ikan patin
siap dipanen dan dipasarkan. CV XYZ telah melakukan usaha pembesaran ikan patin sejak tahun 2012. Permasalahan yang ada di CV XYZ ini adalah terkait permodalan yang mengakibatkan perusahaan belum dapat
meningkatkan produksi. Biaya investasi dalam usaha budidaya ikan patin ini cukup besar sehingga diperlukan pengukuran kelayakan usaha secara
finansial.
Kegiatan budidaya ikan patin di CV XYZ meliputi kegiatan penyiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemanenan. Kegiatan budidaya ikan patin harus diperhatikan agar input dapat digunakan secara efektif sehingga produksi yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan oleh CV XYZ. Sehingga, perlu menghitung produktivitas, dan pendapatan.
7 Tegineneng, dan Bandar Lampung. Harga ikan patin yang dipasarkan dari
produsen sampai ke konsumen memiliki perbedaan tingkat harga.
Pada tahun 2018 harga jual ikan patin di CV XYZ sebesar Rp 15.000/kg dan harga beli ditingkat konsumen berkisar antara Rp 22.000/kg sampai Rp 23.000/kg. Adanya perbedaan harga tersebut mengakibatkan marjin pemasaran produsen dengan pedagang pengecer berbeda. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diperlukan penelitian tentang keragaan usaha yang meliputi analisis kelayakan finansial, produktivitas dan pendapatan, serta analisis pemasaran.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu :
1. Bagaimana kelayakan finansial budidaya ikan patin di CV XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah.
2. Bagaimana produktivitas dan pendapatan budidaya ikan patin di CV XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah.
3. Bagaimana pemasaran ikan patin di CV XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian yaitu : 1. Menganalisis kelayakan finansial usaha budidaya ikan patin di CV XYZ
8 2. Menganalisis produktivitas dan pendapatan budidaya ikan patin di CV
XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah. 3. Menganalisis pemasaran ikan patin di CV XYZ Kecamatan Bumi Ratu
Nuban Kabupaten Lampung Tengah.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. CV XYZ, digunakan sebagai bahan masukan dan referensi dalam mengevaluasi kelayakan finansial, produktivitas, pendapatan dan pemasaran .
9 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A.Tinjauan Pustaka
1. Budidaya ikan patin
Ikan patin merupakan komoditas perikanan air tawar yang cukup digemari bukan hanya di Indonesia namun juga di luar negeri. Ikan patin banyak dibudidayakan karena mempunyai kelebihan diantaranya paling mudah beradaptasi, dapat dibudidayakan di lahan marginal, daya tahan tinggi, dan mempunyai pasar domestik yang luas. Pada habitat alami, ikan patin memakan serangga, biji-bijian, ikan rucah, udang-udangan dan moluska. Sedangkan pada skala pembudidayaan, ikan patin biasanya diberi makanan buatan berupa pelet (Tim Perikanan WWF-Indonesia, 2015).
Menurut Prasetio (2010) ikan patin merupakan ikan konsumsi air tawar. Ikan ini akan tumbuh dengan optimal jika ditempatkan di kolam yang berarus sedang. Adapun beberapa tahapan dalam budidaya ikan patin tidak jauh berbeda dengan ikan air tawar lainnya :
a) Pembuatan Kolam
10 kolam bak. Jenis-jenis kolam yang dibutuhkan dalam budidaya ikan
patin diantaranya kolam pematangan gonad ; kola mini berfungsi untuk memelihara induk patin hingga siap kawin/matang gonad, kolam pemijahan ; kolam pemijahan berfungsu untuk memijahkan induk jantan dengan induk betina, dan kolam pembesaran ; kolam pembesaran berfungsi untuk membesarkan benih patin yang sudah menetas.
b) Kualitas Air
Suhu air yang cocok bagi habitat patin adalah 23-31oC dengan tingkat keasaman/pH sekitar 7-9. Perubahan suhu yang terlalu tajam akan menyebabkan terganggunya proses pertumbuhan. Suhu yang kurang dari 10oC dan di atas 36oC akan menyebabkan kematian.
c) Pakan
Patin bersifat omnivora atau pemakan segalanya maka sangat mudah dalam pemberian makannya. Kegiatan pemupukan pada kolam, baik berupa pupuk kandang maupun pupuk buatan akan menghasilkan pakan alami yang melimpah. Pemberian pakan patin haruslah tepat agar patin dapat tumbuh dan berkembang secara cepat. Pakan utama patin
sebaiknya berupa pelet khusus yang sudah banyak beredar di pasaran. d) Seleksi Induk
11 dapat dengan mudah menentukan rasio antara induk jantan dan induk
betina. Induk yang mengalami cacat sebaiknya jangan dijadikan sebagai induk karena akan mengakibatkan gagalnya proses pemijahan atau menghasilkan keturunan yang kurang baik.
e) Proses Pemijahan
Proses pemijahan dilakukan dengan memasukkan kedua induk patin sudah siap kawin/matang gonad ke dalam kolam pemijahan. Setelah patin melakukan pemijahan dan mengeluarkan telurnya, kemudia angkat induk patin dan biarkan telur yang sudah dibuahi berada di kolam pemijahan hingga menetas. Setelah menetas, benih patin dipindahkan ke kolam pendederan/pembesaran.
f) Panen
Patin dapat dipanen setelah berumur sekitar 7-12 bulan, tergantung dari pemberian pakan. Pemberian pakan yang tepat akan mempercepat proses panen.
12 12.000,00/kg. Sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp 9.447.000,00
kemudian dikurangi dengan pengeluaran sebesar Rp 3.447.000,00 , maka keuntungan yang diperoleh perusahaan selama 6 bulan adalah sebesar Rp 6.000.000,00.
2. Analisis finansial
Proyek ialah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit). Proyek juga adalah suatu aktivitas yang mengeluarkan uang dengan harapan untuk
mendapatkan hasil di waktu yang akan datang, dan yang dapat
direncanakan, dibiayai, dan dilaksanakan sebagai satu unit (Kadariah, 1999).
Menurut Kadariah (1999) proyek dapat dievaluasikan atas enam aspek diantaranya aspek teknis, aspek manajerial dan administratif, aspek organisasi, aspek komersial, aspek finansial, dan aspek ekonomis. Untuk setiap aspek tersebut, terdapat satu macam analisis yang menitikberatkan aspek itu. Tetapi, dalam rangka ilmu evaluasi proyek biasanya ditekankan hanya dua macam analisis :
a) Analisis finansial
13 proyek, ialah hasil yang harus diterima oleh para petani, pengusaha,
perusahaan swasta, suatu badan pemerintah, atau siapa saja yang berkepentingan dalam pembangunan proyek.
b) Analisis ekonomis
Di dalam analisis ekonomi proyek dilihat dari sudut perekonomian sebagai keseluruhan. Hal yang perlu diperhatikan adalah hasil total, atau produktivitas atau keuntungan yang didapat dari semua sumber yang dipakai dalam proyek untuk masyarakat atau perekonomian sebagai keseluruhan, tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-sumber tersebut dan siapa dalam masyarakat yang menerima hasil proyek tersebut.
Mencari suatu ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu proyek telah dikembangkan berbagai macam indeks. Indeks-indeks tersebut disebut Investment Criteria. Setiap indeks itu menggunakan Present Value yang telah di-discount dari arus-arus benefit dan biaya selama umur suatu proyek. Berikut ini kelima Investment Criteria yang paling terkenal, ketiga kriteria pertama dapat dipertanggung jawabkan untuk penggunaan tertentu sedangkan yang kedua terakhir terkena kritik dari segi teoretis (Kadariah, 1999) :
a) Net Present Value (NPV)
14 kelebihan benefit (manfaat) dibandingi dengan Cost (biaya). Secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
∑ ( )
Keterangan :
Bt = Penerimaan pada tahun ke-t Ct = Cost pada tahun ke-t
N = Waktu umur proyek
Apabila evaluasi suatu proyek tertentu telah dinyatakan “Go” maka nilai NPV ≥ 0. Bila NPV = 0, berarti proyek tersebut mengembalikan
persis sebesar Social Opportunity Cost of Capital, dan bila NPV ≤ 0 maka proyek tersebut “No Go” atau ditolak, artinya ada penggunaan lain yang lebih menguntungkan untuk sumber-sumber yang diperlukan proyek (Pasaribu, 2012).
b) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C adalah perbandingan antara jumlah NPV positif dengan jumlah NPV negatif. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya benefit berapa kali besarnya biaya dan investasi untuk memperoleh suatu manfaat. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut (Pasaribu, 2012)
∑ ( )
15 c) Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C)
Gross B/C adalah rasio antara jumlah Present Value Benefit (PVB) dengan Present Value Cost (PVC). Secara matematis dirumuskan sebagai berikut (Pasaribu, 2012)
∑ (
) ( ) ∑ ( ) ( )
d) Internal Rate of Return (IRR)
IRR ialah untuk mengetahui sebagai alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman dari lembaga internal keuangan yang membiayai proyek tersebut. Pada dasarnya IRR memperlihatkan bahwa Present Value Benefit (PVB) akan sama dengan Present Value Cost (PVC). Dengan demikian, untuk mencari IRR harus menaikkan
Discount Factors (DF) yang merupakan Opportunity Cost of Capital
(Pasaribu, 2012). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
( )
Keterangan :
NPV1 = NPV positif NPV2 = NPV negatif
I1 = Discount rate pertama dimana diperoleh NPV positif I2 = Discount rate kedua dimana diperoleh NPV negatif
Jika IRR dari suatu proyek sama dengan nilai i yang berlaku sebagai Social Discount Rate , maka NPV dari proyek itu adalah sebesar 0. Jika
16 Social Discount Rate akan memberikan tanda “no-go” (Kadariah,
1999).
e) Payback Period (PP)
Payback Period adalah jangka waktu pengembalian modal investasi
yang akan dibayarkan melalui keuntungan yang diperoleh proyek tersebut. Semakin cepat waktu pengembalian semakin baik untuk diusahakan. Akan tetapi Payback Period tersebut akan mengabaikan nilai pada saat sekarang (Pasaribu, 2012). Secara matematis
dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan :
I = Jumlah investasi
Bt = Net Benefit rata-rata tiap Tahun f) Sensitivitas
Analisis kepekaan (sensitivitas) diperlukan sejak awal proyek waktu direncanakan. Hal ini untuk mengantisipasi beberapa kemungkinan, missal turunnya harga poduk akibat harga pasar merosot (Pasaribu, 2012). Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat kepekaan dari analisis NPV, IRR, Gross B/C, Net B/C, dan Payback Period terhadap perubahan-perubahan pada dasar perhitungan penerimaan dan biaya produksi. Perubahan-perubahan yang digunakan pada analisis
17 Secara matematis pengukuran analisis sensitivitas dapat dirumuskan
sebagai berikut :
|
|
| |
Keterangan :
X1 = Gross B/C / Net B/C / NPV / IRR / PP setelah perubahan X0 = Gross B/C / Net B/C / NPV / IRR / PP sebelum perubahan X = Rata-rata perubahan Gross B/C / Net B/C / NPV / IRR / PP Y1 = Harga jual/Biaya produksi setelah perubahan
Y0 = Harga jual/Biaya produksi sebelum perubahan Y = Rata-rata perubahan harga jual/biaya produksi
Dengan kriteria :
Jika laju kepekaan lebih dari satu, maka usaha sensitif terhadap perubahan
Jika laju kepekaan kurang dari satu, maka usaha tidak sensitif terhadap perubahan
3. Kinerja produksi
Menurut Mulyadi (2003) kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam
18 perusahaan dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan perusahaan yang
dapat diukur dengan angka
Menurut Simbolon (2015) pada praktiknya, ukuran kinerja dapat
bermacam-macam, tergantung jenis industrinya. Pertama, ukuran kinerja berdasarkan sudut pandang manajemen, pemilik, atau pemberi pinjaman sehingga ukuran yang digunakan dapat berupa kinerja operasional seperti profit margin. Kedua, kinerja dalam suatu industri dapat diamati dengan
nilai tambah, produktivitas dan efisiensi.
Menurut Prasetya dan Fitri (2009) ada enam tipe pengukuran kinerja yaitu produktivitas, kapasitas, kualitas, kecepatan pengiriman, fleksibel dan kecepatan proses. Berikut penjelasannya :
a) Produktivitas
Produktivitas adalah suatu ukuran seberapa naik kita mengkonversi input dari proses transformasi kedalam output. Produktivitas
perusahaan dapat dihitung dari unit yang diproduksi (output) dengan masukan yang digunakan (input).
b) Kapasitas
Kapasitas adalah suatu tingkat keluaran atau output maksimum dari suatu sistem produksi dalam periode tertentu dan merupakan kuantitas keluaran tertinggi yang mungkin selama periode waktu.
c) Kualitas
19 d) Kecepatan Pengiriman
Kecepatan pengiriman ada dua ukuran dimensi, pertama jumlah waktu antara produk ketika dipesan untuk dikirimkan ke pelanggan, kedua adalah variabilitas dalam waktu pengiriman.
e) Fleksibel
Terdapat tiga dimensi dari fleksibel, pertama bentuk dari fleksibel menandai bagaimana kecepatan proses dapat masuk dari memproduksi satu produk atau keluaran produk untuk yang lain. Kedua adalah kemampuan bereaksi untuk berubah dalam volume. Ketiga yaitu kemampuan dari proses produksi yang lebih dari satu produk secara serempak.
4. Konsep pemasaran
a) Ruang Lingkup Pemasaran
Setiap orang dalam memasarkan suatu produk menurut Laksana (2008) meliputi 10 jenis produk, yang merupakan bagian dari ruang lingkup marketing yaitu:
1) Goods : Barang-barang fisik
2) Services : Jasa/pelayanan yang bersifat non fisik, yang menyertai atau tidak menyertai produk barang fisik.
3) Experience : Pengalaman kegiatan atau seseorang yang dapat dinikmati oleh orang lain.
20 6) Places : Tempat atau kota yang memiliki keunggulan, keunikan atau
keindahan
7) Properties : Hak kepemilikan bisa berupa benda nyata atau finansial. 8) Organizations : Lembaga atau wadah yang dapat memberikan citra
atau nilai jual dari suatu produk
9) Information : Informasi yang dapat diproduksi dan dipasarkan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2008) secara luas pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana pribadi atau organisasi
memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui
penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain. Pemasaran menurut Kotler dan Armstrong (2008) sebagai proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya. Pemasaran menurut Laksana (2008) yaitu segala kegiatan yang menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
21 Tataniaga produk pertanian dalam sistem agribisnis adalah sesuatu yang
bersifat kompleks, karena tataniaga hasil pertanian merupakan salah satu subsistem dari sistem agribisnis itu sendiri. Terdapat lima subsistem agribisnis yang satu dengan lainnya saling berinteraksi, sehingga bila salah satu subsistem bermasalah, maka akibatnya sub sistem yang lain akan terganggu (Hasyim,2012).
b) Saluran Distribusi dan Lembaga Pemasaran
Menurut Hasyim (2012) saluran distribusi atau saluran tataniaga adalah suatu struktur organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri dari agen dealer, pedagang besar, dan pengecer, melalui sebuah komoditas, produk atau jasa yang dipasarkan.
Menurut Hasyim (2012) saluran distribusi pada dasarnya adalah sekumpulan organisasi yang saling berhubungan dan terlibat dalam proses membuat produk atau jasa siap digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen atau pengguna bisnis. Saluran distribusi adalah saluran yang digunakan produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri.
Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat diketahui ada beberapa unsur penting yaitu :
22 2) Saluran mengalihkan kepemilikan produk baik secara langsung
maupun tidak langsung dari produsen ke konsumen.
3) Saluran distribusi bertujuan untuk mencapai pasar tertentu . 4) Saluran distribusi merupakan suatu kesatuan dan melaksanakan
sistem kegiatan (fungsi) yang lengkap dalam menyalurkan produk.
Menurut Hasyim (2012) distribusi merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh produsen untuk menyalurkan, menyebarkan, mengirimkan, dan menyampaikan produk yang dipasarkan kepada konsumen. Oleh karena itu, diperlukan penyalur atau perantara guna kegiatan tataniaga yang lebih baik. Hal penting yang lain adalah jenis produk dan lokasi tataniaga, karena keduanya sangat erat berkaitan dengan efektivitas distribusi dalam tataniaga. Proses distribusi tersebut pada dasarnya menciptakan manfaat (utility) bentuk, waktu, tempat dan pengalihan hak milik. Dalam menciptakan keempat faedah tersebut terdapat dua aspek penting yang terlibat di dalamnya yaitu : (1) lembaga yang berfungsi sebagai saluran distribusi (channel of distribution/marketing channel) dan (2) aktivitas yang menyalurkan
arus fisik barang ( physical distribution ).
23 memberikan imbalan berupa balas jasa kepada lembaga tataniaga dalam
bentuk margin tataniaga. Berdasarkan penguasaan terhadap produk barang dan jasa dan bentuk usahanya, lembaga tataniaga dibedakan menjadi tiga golongan yaitu ; Pertama, lembaga yang tidak memiliki namun menguasai produk pertanian, seperti agen perantara, makelar (broker, selling broker, buying broker). Kedua, lembaga yang memiliki dan menguasai produk pertanian yang diperjual belikan, seperti
pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir, dan importir. Ketiga, lembaga tataniaga yang tidak memiliki dan menguasai produk pertanian yang diperjual belikan, seperti perusahaan penyedia fasilitas-fasilitas transportasi, asuransi tataniaga, dan penentu mutu produk pertanian atau surveyor (Hasyim, 2012)
Menurut Hasyim (2012) lembaga-lembaga tataniaga produk pertanian dapat dirinci sebagai berikut :
1) Tengkulak, yaitu lembaga tataniaga yang secara langsung
mengadakan transaksi dengan petani. Transaksi tersebut bisa secara tunai, ijon, atau kontrak pembelian.
2) Pedagang pengumpul, adalah lembaga tataniaga yang melakukan pembelian produk pertanian langsung kepada petani dan atau dari tengkulak. Umumnya volume pembelian relative kecil dan agar lebih efisien biasanya mereka melakukan proses pengumpulan dari banyak petani dan tengulak.
24 meningkatkan efisiensi dengan melakukan konsentrasi, sehingga
volume perdagangan menjadi lebih besar.
4) Agen penjualan, adalah lembaga tataniaga yang biasanya membeli produk pertanian yang dimiliki pedagang dalam jumlah besar dengan harga yang relative lebih murah dibandingkan pengecer.
5) Pengecer, adalah lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen atau pemakai akhir.
5. Efisiensi pemasaran
Secara umum pengertian efisiensi adalah penggunaan sumber daya minimum guna pencapaian hasil yang optimum, atau dengan kata lain efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (keluaran) dengan penggunaan sumber daya yang terbatas. Menurut Hasyim (2012) efisiensi dalam pengertian ilmu ekonomi digunakan untuk merujuk pada sejumlah konsep yang terkait pada kegunaan, pemaksimalan, dan pemanfaatan seluruh sumber daya dalam produksi barang dan jasa.
Sebuah sistem ekonomi yang efisien dapat memberi lebih banyak barang dan jasa bagi masyarakat tanpa menggunakan lebih banyak sumber daya. Sistem ekonomi dapat disebut efisien bila memenuhi kriteria sebagai berikut :
25 b) Tidak ada keluaran yang dapat diperoleh tanpa adanya peningkatan
jumlah masukan.
c) Tidak ada produksi bila tanpa adanya biaya yang rendah dalam satuan unit.
Menurut Hasyim (2012) dilihat dari sudut pandang teori tataniaga, efisiensi tataniaga akan terjadi bila :
1) Biaya tataniaga bisa ditekan sehingga ada keuntungan 2) Tataniaga dapat lebih tinggi
3) Persentase perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi
4) Tersedianya fasilitas fisik tataniaga.
6. Konsep efisiensi pemasaran
Terdapat dua konsep efisiensi tataniaga menurut Hasyim (2012) yaitu : a) Konsep Input-Output Rasio
Konsep ini mendefinisikan bahwa, efisiensi tataniaga adalah
maksimisasi input-output rasio. Input dalam hal ini adalah berbagai ramuan (kombinasi) dari tenaga kerja, modal, dan manajemen yang digunakan oleh lembaga niaga dalam proses tataniaga. Sementara yang dimaksud dengan output adalah kepuasan konsumen terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh lembaga niaga. Peningkatan efisiensi dapat terjadi apabila :
26 kepuasan konsumen, artinya output tetap dan input lebih kecil atau
lebih sedikit.
2) Suatu perubahan yang menyebabkan kepuasan meningkat dengan tanpa berkurangnya biaya input untuk menghasilkan suatu barang dan jasa. Artinya output mengalami peningkatan, sedangkan input konstan.
3) Kepuasan dan biaya input untuk menghasilkan suatu barang dan jasa sama-sama konstan, tapi laju kepuasan lebih besar daripada laju input.
4) Kepuasan dan biaya input untuk menghasilkan suatu barang dan jasa sama-sama menurun, tapi laju penurunan kepuasan lebih lambat daripada laju penuruan input.
b) Pengukuran Efisiensi melalui Analisis Struktur, Perilaku, dan Keragaan Pasar
Organisasi pasar adalah istilah yang meliputi semua aspek sistem tataniaga tertentu. Terdapat tiga komponen organisasi pasar menurut Hasyim (2012) :
1) Struktur Pasar (market structure)
Struktur pasar mengacu pada dimensi fisik yang menyangkut definisi industri dan pasar, jumlah perusahaan/produsen atau pabrik di pasar, distribusi perusahaan/produsen dan/atau pabrik dalam berbagai ukuran dan konsentrasi, deskripsi produk dan diferensiasi produk, rintangan masuk pasar (entry), dan sebagainya. Termasuk
27 para pembeli dan para penjual, antara penjual satu dengan penjual
yang lain, dan hubungan antara penjual di pasar dengan para penjual potensial yang akan masuk ke dalam pasar.
2) Perilaku Pasar (market conduct)
Perilaku pasar mengacu pada perilaku perusahaan atau lembaga tataniaga pada struktur pasar tertentu dan tipe keputusan yang diambil manajer dalam berbagai struktur pasar. Pola tingkah laku dari lembaga tataniaga dalam hubungannya dengan sistem
pembentukan harga dan praktek transaksi secara horizontal maupun vertikal.
3) Kinerja Pasar (market performance)
Kinerja atau keragaan pasar mengacu pada pengaruh nyata struktur dan perilaku yang diukur dalam beberapa variabel, yaitu harga, biaya, dan volume output. Kinerja atau keragaan merupakan elemen signifikan dalam skema klasifikasi ini atau dengan kata lain sampai sejauh mana pengaruh riil struktur dan perilaku pasar yang
berkenaan dengan harga, biaya, dan volume produksi.
c) Marjin Tataniaga dan Rasio Profit Margin
28 produk agribisnis yang diperjual belikan. Secara matematis marjin
tataniaga dapat dinyatakan sebagai berikut : Mji = Psi - Pbi, atau Mji = bti + πi , atau
πi = Mji – bti
Keterangan :
Mji = marjin lembaga tataniaga tingkat ke-i
Psi = harga penjualan lembaga tataniaga tingkat ke-i Pbi = harga pembelian lembaga tataniaga tingkat ke-i bti = biaya tataniaga lembaga tataniaga tingkat ke-i
π
i = keuntungan lembaga tataniaga tingkat ke-iEfisiensi suatu pemasaran dapat dilihat juga melalui analisis marjin digunakan sebaran rasio profit margin (RPM) pada setiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran. Rasio profit marjin merupakan perbandingan antara tingkat keuntungan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran (Hasyim, 2012).
Gambar 1. Marjin tataniaga dan nilai marjin tataniaga
P
Pr
Pf
Q1
O Q
D2
D1
S2
S1
L
[image:43.595.173.427.481.672.2]29 Keterangan :
Pr : Harga tingkat pengecer Pf : Harga tingkat petani
S1 : Penawaran tingkat pengecer S2 : Penawaran tingkat petani D1 : Permintaan tingkat pengecer D2 : Permintaan tingkat petani
Gambar 1 marjin tataniaga ditunjukkan oleh besarnya jarak vertikal antara kurva-kurva permintaan dan atau kurva-kurva penawaran yaitu OPr – Opf = PrPf. Oleh karena itu, pengertian marjin tataniaga hanya menunjukkan perbedaan harga dan tidak menyatakan tentang jumlah produk yang dipasarkan.
Menurut Hasyim (2012) persebaran marjin pemasaran dapat dilihat berdasarkan persentase keuntungan terhadap biaya pemasaran (Ratio Profit Marjin) pada masing-masing lembaga pemasaran, yaitu sebagai berikut :
Keterangan :
πi = Keuntungan lembaga pemasaran ke-i bti = Biaya pemasaran lembaga pemasaran ke-i d) Farmer’s Share
Salah satu indikator yang berguna dalam melihat efisiensi kegiatan pemasaran adalah dengan membandingkan bagian yang diterima petani (Farmer’s share) terhadap harga yang dibayar konsumen akhir. Bagian
30 B.Penelitian Terdahulu
31 Tabel 3. Kajian penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian keragaan usaha budidaya ikan patin studi kasus di CV XYZ
Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah.
No Judul Penelitian & Peneliti Tujuan Metode Analisis Hasil
1. Analisis Kelayakan Usaha Ikan Patin di Kabupaten Bogor (Kasus Pembenihan di Kecamatan Ciampea dan Pembesaran di Kecamatan Kemang) / Bukit, 2007
Menganalisis kelayakan usaha dan sensitivitas usaha budidaya ikan patin.
Analisis kualitatif dan kuantitatif
Analisis kelayakan usaha budidaya ikan patin pada tiga scenario
diperoleh scenario I lebih layak dan menguntungkan dilaksanakan bila dibandingkan dengan scenario II dan III.
2. Kelayakan dan Strategi Pengembangan Usaha
Pembenihan Ikan Patin di CV Mika Distrindo / Witoko, Syarief, Raharja, 2013
Menganalisis kelayakan usaha pembenihan ikan patin.
Analisis deskriptif kuantitatif
Analisis kelayakan usaha
pembenihan ikan patin di CV Mikha Distrindo dikatakan layak karena hasil perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa memberikan manfaat secara finansial.
3. Analisis Finansial Penggunaan Lampu Petromak Sebagai Pemanas Pada Budidaya Pembenihan Ikan Patin/Diatin dan Dwirosyadha, 2009
Menganalisis kelayakan finansial penggunaan lampu petromak sebagai pemanas ruangan.
Analisis deskriptif kuantitatif
Penggantian alat pemanas dengan menggunakan lampu petromak pada kegiatan pembenihan ikan patin layak untuk diusahakan.
4. Analisis Kelayakan Finansial dan Kontribusi Pendapatan Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Pembudidaya Ikan Lele Dumbo/Fika, Suwandari,
Mengetahui kelayakan budidaya ikan lele dumbo
32 Hartadi, 2016
5. Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal di Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah / Rosalina, 2014
Menganalisis kelayakan usaha budidaya ikan lele
Analisis kuantitatif Potensi pembenihan lele dumbo di Bangka Belitung ini dipandang baik untuk dikembangkan di Provinsi Bangka Belitung.
6. Kinerja Produksi Kepiting Bakau Scylla serrata Cangkang Lunak Pada Metode Pemotongan Capit dan Kaki Jalan, Popey, dan Alami / Harianto, 2015
Menentukan kinerja produksi kepiting bakau cangkang lunak pada metode pemotongan capit dan kaki jalan, popey, dan alami.
Analisis rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan dan masing-masing tiga ulangan.
Performa metode pemotongan capit dan kaki jalan lebih baik
dibandingkan dengan metode alami serta metode popey, dilihat dari parameter budidaya.
7. Produksi Yuwana Ikan Patin Pangasianodon hypophtalmus (Sauvage 1878) pada Sistem Budidaya Berbasis Bioflok dengan Penambahan Sumber Karbon Berbeda / Apriani, I, dkk, 2016
Mengevaluasi pengaruh dari teknologu bioflok dengan penambahan sumber karbon berbeda pada kinerja
produksi yuwana ikan patin.
Analisis varian
menggunakan SPSS.16 (p<0,05)
Penambahan sumber karbon molase meningkatkan tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan Panjang baku, dan menurunkan rasio konversi pakan ikan patin yang dipelihara pada media budidaya berbasis bioflok serta penggunaan sumber karbon molase lebih efektif untuk meningkatkan produksi juvenile ikan patin.
8. Kinerja Operasional Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual / Ngamel, Y. A., dkk , 2013
Menilai kinerja operasional PPN Tual dalam
menjalankan fungsinya sesuai tujuan awal pembangunan dengan meningkatkan kinerja
Metode pembobotan atau scoring method
33 produksi hasil tangkapan.
9. Analisis pendapatan dan efisiensi pemasaran ikan patin di
Kecamatan Seputih Raman Kabupaten Lampung Tengah / Sazmi, 2017
Menganalisis efisiensi pemasaran ikan.
Analisis deskriptif dan kuantitatif
Saluran pemasaran ikan patin yang terbentuk yaitu 3 saluran pemasaran. Setiap saluran pemasaran ikan patin belum efisien.
10. Analisis sistem pemasaran ikan patin segar desa koto masjid ke daerah tujuan pemasaran / Tibrani, 2015
Menganalisis saluran pemasaran, sistem pemasaran, dan efisiensi pemasaran ikan patin segar
Analisis deskriptif dan analisis kuantitatif
Ikan patin segar hasil budidaya disalurkan melalui agen yang
bertindak sebagai penghubung petani dan pengumpul. Biaya pemasaran dan margin pemasaran tertinggi dikeluarkan oleh pedagang besar. Pemasaran ikan patin segar sudah efisien.
11. Sistem Agribisnis Ikan Patin (Pangasius sp) Kelompok Budidaya Ikan Sekar Mina di Kawasan Minapolitan Patin Kecamatan Kota Gajah Lampung Tengah / Susanti, 2017
Menganalisis pemasaran hasil produksi ikan patin dan jasa layanan penunjang yang mendukung kegiatan agribisnis ikan patin.
Analisis kualitatif dan statistik
Pemasaran ikan patin dibagi menjadi dua yaitu pemasaran ikan patin segar dan pemasaran ikan patin olahan, masing-masing pemasaran ikan patin memiliki 2 saluran pemasaran. 12. Analisis Efisiensi Saluran
Pemasaran Ikan Lele di Desa Rasau Jaya 1 Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya / Apriono, 2012
Mengananalisis fungsi lembaga pemasaran dan efisiensi pemasaran ikan lele.
Analisis kualitatif dan kuantitatif
34 C.Kerangka Pemikiran
CV XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang budidaya ikan patin yang terletak di Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah. Perusahaan ini dalam melaksanakan kegiatan budidaya tentu saja
menggunakan input yaitu berupa kolam budidaya, benih ikan patin, pakan ikan patin, probiotik, serta tenaga kerja. Kegiatan budidaya ikan patin meliputi pemilihan lokasi budidaya, penebaran benih ikan patin, pemberian pakan, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, serta proses pemanenan.
Penggunaan input sebagai sarana produksi harus diperhatikan agar input dapat digunakan secara efektif . Penilaian terhadap penggunaan input sebagai sarana produksi juga sangat penting untuk melihat bagaimana CV XYZ dalam
menggunakan sumber daya yang tersedia. Penilaian ini mengukur bagaimana perusahaan agar dapat terus berkembang. Permintaan ikan patin yang tinggi di Provinsi Lampung dan adanya persaingan antara perusahaan dengan petani memerlukan kinerja produksi perusahaan yang baik. Pengukuran keragaan usaha dari aspek produksi perusahaan dilihat secara teknis yaitu produktivitas dan pendapatan dari produksi ikan patin yang dihasilkan.
35 dilakukan menggunakan metode analisis finansial dan analisis sensitivitas.
Analisis finansial menggunakan beberapa kriteria yaitu NPV, IRR, PP, Net B/C, Gross B/C, sedangkan analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana usaha budidaya ini dapat dikatakan layak apabila terjadi
perubahan harga dan perubahan biaya produksi. Pengukuran ini untuk
mengetahui apakah usaha budidaya ikan patin layak atau tidak secara finansial. Apabila usaha ini layak secara finansial, maka dapat dilakukan pengembangan pada usaha budidaya ikan patin. Namun, jika hasil analisis menunjukkan hasil yang tidak layak maka, dilakukan evaluasi terhadap kegiatan budidaya ikan patin.
Produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang berupa ikan patin segar kemudian dipasarkan dengan cara dijual kepada tengkulak. Kegiatan
pemasaran usaha budidaya ikan patin di CV XYZ ini melibatkan petani sebagai produsen, pedagang pengumpul, pedagang pengumpul besar dan pedagang pengecer baik di dalam maupun di luar Kecamatan Bumi Ratu Nuban. Rantai pemasaran ini dihitung marjin pemasarannya pada berbagai tingkat lembaga pemasaran, marjin pemasaran diketahui dari harga jual dan harga beli yang terjadi. Sistem pemasaran ikan patin akan dikatakan efisien apabila
36
Gambar 2. Kerangka pemikiran keragaan usaha budidaya ikan patin studi kasus di CV XYZ Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah
Pengembangan Ikan Patin
Input Proses Budidaya Output
1. Kolam 2. Benih 3. Pakan 4. Vitamin 5. Tenaga
kerja
Produktivitas
Ikan Patin
Biaya Operasional
Harga input
Harga Output
Saluran pemasaran dan margin pemasaran Penerimaan
1. Pendapatan 2. Analisis
Finansial : a. NPV b. IRR c. Net B/C d. Gross B/C e. PP
f. Sensitivitas
Tidak Layak Layak
[image:51.595.143.517.82.621.2]37 III. METODE PENELITIAN
A. Metode dasar penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus di CV XYZ. Metode penelitian studi kasus yaitu pengumpulan data tentang status subjek penelitian yang berkenan dengan suatu fenomena spesifik atau khas yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu objek, kelompok, perusahaan, lembaga, atau terhadap gejala tertentu (Silaen dan Widiyono, 2013).
B. Konsep dasar dan batasan operasional
Konsep dasar dan Batasan operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk menciptakan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan penelitian, didefinisikan sebagai berikut :
1) Keragaan usaha budidaya ikan patin adalah penampilan suatu usaha budidaya ikan patin di CV XYZ. Dalam penelitian ini keragaan usaha ditinjau dari kelayakan finansial, produktivitas, pendapatan, dan pemasaran ikan patin.
38 3) Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang dari selisih antara
benefit dengan cost pada discount rate tertentu.
4) Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses budidaya ikan patin yang diukur dalam satuan rupiah (Rp) per musim budidaya. 5) Benefit merupakan hasil yang diperoleh dari penjualan ikan patin sebagai
hasil produksi dikalikan dengan harga jual dalam satuan rupiah (Rp). 6) Net B/C adalah perbandingan antara jumlah NPV positif dengan jumlah
NPV negatif.
7) Gross B/C adalah rasio antara jumlah Present Value Benefit dengan Present Value Cost.
8) Internal Rate of Return (IRR) ialah untuk mengetahui sebagai alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman dari lembaga internal keuangan yang membiayai proyek tersebut.
9) Payback Periods adalah jangka waktu pengembalian modal investasi
yang akan dibayarkan melalui keuntungan yang diperoleh proyek tersebut.
10)Pendapatan merupakan balas jasa yang diterima produsen yang diperoleh dari penerimaan dikurangi dengan biaya produksi yang diukur dalam satuan rupiah (Rp).
11)Produktivitas ikan patin adalah jumlah output atau hasil ikan patin segar dari luas lahan per satu kali musim budidaya yang diukur dalam per kolam, per hektar, dan per HOK.
39 13)Input atau faktor produksi merupakan semua korbanan yang diberikan
dalam budidaya ikan agar mampu menghasilkan produk yang baik. Input yang digunakan yaitu kolam, benih ikan, pakan, probiotik, dan tenaga kerja.
14)Kolam merupakan perairan di daratan yang ukurannya lebih kecil dari pada danau. Kolam yang dimiliki oleh CV XYZ sebanyak 23 kolam dengan luas lahan 0,5 ha.
15)Benih ikan merupakan anak ikan dengan ukuran tertentu yang akan digunakan sebagai bahan organik dalam kegiatan pembudidayaan. Benih ikan yang digunakan CV XYZ sebanyak 3.000 ekor/kolam.
16)Pakan adalah makanan/asupan yang diberikan kepada hewan peliharaan. Pakan yang digunakan oleh CV XYZ dalam budidaya ikan patin adalah pakan pabrik dan pakan buatan (kg)
17)Probiotik merupakan vitamin dan obat-obatan yang diberikan ke ikan patin untuk menunjang kesehatan ikan patin. probiotik yang digunakan oleh CV XYZ yaitu viterna (liter) dan indroflox (ml).
18)Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri
maupun masyarakat. Tenaga kerja di CV XYZ adalah 9 orang yang berasal dari luar keluarga dan diukur dalam satuan hari orang kerja (HOK).
19)Pemasaran adalah proses penciptaan, penawaran, dan secara bebas
40 Efisiensi pemasaran adalah proses pemaksimalan kegunaan suatu barang
salam proses produksi barang atau jasa.
20)Harga ikan patin adalah nilai tukar ikan patin ditingkat petani setelah penanganan panen diukur dalam satuan rupiah per kilogram.
21)Lembaga pemasaran adalah orang atau badan usaha yang menyediakan jasa untuk melakukan proses pemasaran ikan patin.
22)Pedagang pengumpul adalah salah satu lembaga dalam pemasaran yang membeli ikan patin dari produsen dan menjualnya ke lembaga pemasaran lainnya.
23)Pedagang besar adalah salah satu lembaga dalam pemasaran yang membeli ikan patin dari produsen atau pedagang pengumpul dan menjualnya ke pengecer.
24)Pedagang pengecer adalah salah satu lembaga dalam pemasaran yang menjual ikan patin langsung ke konsumen akhir dalam skala penjuala yang relatif kecil.
25)Harga jual petani adalah harga rata-rata produk (per kilogram) yang diterima petani yang diukur dalam satuan rupiah.
26)Harga beli ditingkat pedagang adalah harga rata-rata produk per kilogram yang dibeli dari petani atau pedagang perantara sebelumnya (Rp).
27)Harga jual ditingkat pedagang adalah harga rata-rata produk per kilogram yang dijual pedagang kepada pedagang lainnya atau kepada konsumen akhir (Rp).
41 C. Lokasi, responden, dan waktu pengambilan data
Penelitian ini dilaksanakan di CV XYZ yang berlokasi di Kelurahan Bumi Ratu Kecamatan Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa CV XYZ merupakan perusahaan budidaya ikan patin dan merupakan salah satu sentra produksi ikan air tawar di Provinsi Lampung yang terletak di
Kabupaten Lampung Tengah (BPS Provinsi Lampung, 2016).
Responden dalam penelitian ini adalah produsen ikan patin di CV XYZ, dan lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam kegiatan pemasaran ikan patin di lokasi penelitian. Populasi karyawan CV XYZ adalah sebanyak 9 orang, dari populasi tersebut dijadikan responden penelitian. Populasi pelanggan perusahaan ini adalah para tengkulak yang datang langsung untuk membeli ikan patin. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan April-Mei 2019.
D. Metode pengumpulan data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kegiatan wawancara secara langsung menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka, lembaga/instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik, dan
42 Kuesioner dapat menjadi alat ukur yang baik dalam penelitian bila dilakukan
uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas dan uji reabilitas perlu dilakukan dalam penelitian agar hasil penelitian dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah. Uji validitas adalah keabsahan atau tingkat kecocokan alat ukur untuk pengukuran, yan benar-benar cocok mengukur sesuatu yang sedang diukur. Reliabilitas adalah menyangkut ketepatan atau presisi suatu pengukuran atau alat pengukuran, atau dengan kata lain alat ukur itu dapat mengukur secara cermat dan tepat ( Silaen dan Widiyono, 2013).
E. Metode analisis data
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis keragaan usaha dari aspek finansial, produktivitas, pendapatan, dan efisiensi pemasaran ikan patin berdasarkan marjin pemasaran dan farmer’ share .
1. Aspek finansial
CV XYZ merupakan perusahaan yang mengusahakan budidaya ikan patin sejak Tahun 2012. Perusahaan ini memiliki 23 kolam budidaya dengan luas lahan budidaya 0,5 ha dan umur ekonomis kolam adalah 10 Tahun. Pada penelitian ini salah satunya adalah untuk mengevaluasi usaha budidaya ikan patin di CV XYZ dengan menggunakan Compound Factor dan Discount Factor. Compound factor digunakan untuk mengevaluasi usaha budidaya sejak tahun 2012 sampai tahun 2018, sedangkan Discount factor digunakan untuk merencanakan pengembangan usaha dari tahun
43 Menjawab tujuan kedua analisis kelayakan finansial pada penelitian ini
dilakukan untuk melihat hasil kerja CV XYZ dalam budidaya ikan patin yang dilihat dari beberapa kriteria berikut :
a) Net Present Value (NPV)
NPV merupakan selisih antara Present Value dari benefit dan Present Value dari biaya. Menurut Pasaribu (2012) secara matematis
dirumuskan :
∑ ( )
∑( )
( )
Keterangan :
Bt = Benefit pada tahun ke-t Ct = Cost pada tahun ke-t
N = Waktu umur proyek (10 tahun)
I = Tingkat suku bunga (12%/tahun, mengacu pada Rabo Bank)
Dengan kriteria sebagai berikut :
Apabila NPV > 0 , maka usaha dinyatakan layak. Apabila NPV < 0, maka usaha dinyatakan tidak layak.
Apabila NPV = 0, maka usaha dinyatakan dalam posisi Break Event Point (BEP)
Menurut Pasaribu (2012) untuk menentukan Panjang umur proyek salah satu pendekatan yang digunakan yaitu dengan umur ekonomis suatu asset ialah jumlah tahun selama pemakaian asset tersebut dapat
44 yang dikira-kira sama dengan umur ekonomis dari suatu proyek. Pada
penelitian ini asset yang digunakan sejak proyek dilaksanakan pada Tahun 2012 yaitu bangunan kolam. Umur ekonomis bangunan kolam mencapai 10 tahun sehingga untuk penentuan umur proyek dapat dilihat berdasarkan bangunan kolam.
b) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C adalah perbandingan antara jumlah NPV positif dengan jumlah NPV negatif. Menurut Pasaribu (2012) secara matematis dirumuskan :
∑ ( )
∑ ( )
∑ ( ) ( )
∑ ( ) ( )
Dengan kriteria :
Apabila Net B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan. Apabila Net B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan. Apabila Net B/C = 0 maka usaha dalam keadaan Break Event Point (BEP)
c) Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C)
Gross B/C adalah rasio antara jumlah Present Value Benefit (PVB) dengan Present Value Cost (PVC). Menurut Pasaribu (2012) secara matematis dirumuskan sebagai berikut :
∑ (
) ( ) ∑ ( ) ( )
45 Dengan kriteria :
Apabila Gross B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan. Apabila Gross B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan.
Apabila Gross B/C = 0 maka usaha dalam keadaan Break Event Point (BEP)
d) Internal Rate of Return (IRR)
IRR ialah untuk mengetahui sebagai alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman dari lembaga internal keuangan yang membiayai proyek tersebut. Menurut Pasaribu (2012) secara matematis dirumuskan :
( )
Keterangan :
NPV1 = NPV positif NPV2 = NPV negatif
I1 = Discount/Compound factor pertama dimana diperoleh NPV positif
I2 = Discount/Compound factor kedua dimana diperoleh NPV negatif
Dengan kriteria :
46
e) Payback Periods (PP)
Payback Period adalah jangka waktu pengembalian modal investasi
yang akan dibayarkan melalui keuntungan yang diperoleh proyek tersebut. Menurut Pasaribu (2012) secara matematis dirumuskan :
Keterangan :
n = tahun terakhir dimana arus kas masih belum bisa menutupi initial investment
a = jumlah investasi
b = jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n c = jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n+1
Dengan kriteria :
Jika PP lebih pendek dari umur ekonomis usaha, maka usaha menguntungkan dan layak untuk dijalankan.
Jika PP lebih Panjang dari umur ekonomis usaha, maka usaha tidak layak untuk dikembangkan.
f) Sensitivitas
Menjawab salah satu tujuan analisis kepekaan (sensitivitas) diperlukan sejak awal proyek waktu direncanakan. Hal ini untuk mengantisipasi beberapa kemungkinan, misal turunnya harga poduk akibat harga pasar merosot (Pasaribu, 2012). Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat kepekaan dari analisis NPV, IRR, Gross B/C, Net B/C, dan Payback Period terhadap perubahan-perubahan pada dasar perhitungan
47 pada analisis sensitivitas usaha budidaya ikan patin ini yaitu terjadi
penurunan harga jual ikan patin dan penurunan produksi ikan patin.
Penurunan produksi ikan patin sebesar 25% yang terjadi di lokasi penelitian dikarenakan ikan mati akibat serangan penyakit, sehingga ikan dijual dengan harga rendah. Penurunan harga jual ikan patin sebesar 9,375% dari harga jual normal. Analisis sensitivitas pada saat terjadi kenaikan biaya produksi mengacu pada tingkat inflasi pada bulan September 2019 yaitu sebesar 3,39%. Secara matematis untuk mengetahui apakah usaha budidaya ikan patin ini sensitif atau tidak terhadap perubahan tersebut maka dapat dirumuskan sebagai berikut :
|
|
| |
Keterangan :
X1 = Gross B/C / Net B/C / NPV / IRR / PP setelah perubahan X0 = Gross B/C / Net B/C / NPV / IRR / PP sebelum perubahan X = Rata-rata perubahan Gross B/C / Net B/C / NPV / IRR / PP Y1 = Harga jual/Biaya produksi/Produksi setelah perubahan Y0 = Harga jual/Biaya produksi/Produksi sebelum perubahan Y = Rata-rata perubahan harga jual/biaya produksi/produksi
Dengan kriteria :
Jika laju kepekaan lebih dari satu, maka usaha sensitif terhadap perubahan
Jika laju kepekaan kurang dari satu, maka usaha tidak sensitif terhadap perubahan.
48 Menjawab tujuan kedua analisis dari aspek produksi pada penelitian ini
dilakukan untuk melihat hasil kerja CV XYZ dalam budidaya ikan patin yang dilihat dari beberapa aspek berikut :
a) Produktivitas
Produktivitas dapat dihitung dari unit yang diproduksi dengan masukan yang digunakan. Secara matematis dapat dirumuskan (Prasetya dan Lukiastuti, 2009) :
( ) ( )
Produktivitas pada penelitian ini dapat dihitung menggunakan rumus :
( ) ( )
Ukuran produktivitas ini dinyatakan dalam satuan kg/HOK, dimana semakin besar angka produktivitas yang diperoleh maka semakin baik kinerja produksi perusahaan yang dilaksanakan. Produktivitas yang dihitung diantaranya produktivitas per kolam (200 m2), produktivitas per HOK, dan produktivitas per hektar. Standar nilai besaran
produktivitas menurut Render dan Heizer (2001) adalah 7,20 kg/HOK. Jika produktivitas lebih dari 7,20 kg/HOK maka kinerja perusahaan sudah baik. Sebaliknya, jika produktivitas kurang dari 7,20 kg/HOK maka kinerja perusahaan kurang baik.
49 Pendapatan atau keuntungan adalah selisih penerimaan dengan semua
biaya produksi, atau dengan kata lain pendapatan merupakan pendapatan kotor atau penerimaan total dan penerimaan bersih.
Pendapatan kotor atau penerimaan total adalah nilai produksi ikan patin secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi. Secara
matematis penerimaan dapat dirumuskan sebagai berikut (Rahim dan Hastuti, 2007).
Keterangan :
TR = Penerimaan total
Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha budidaya Py = Harga Y
Berdasarkan uraian tersebut, pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi, 1995).
( ) (∑ )
Keterangan : Pd = Pendapatan TR = Penerimaan Total TC = Biaya total
Y = Hasil produksi (kg) Py = Harga hasil produksi (Rp)
Xi = Faktor produksi variabel ke-I (1, 2, 3, 4, n) Pxi = Harga faktor produksi variabel ke-I (Rp/satuan) BTT= Biaya tetap total
Efisiensi pendapatan dapat diukur dengan analisis Return Cost Ratio (R/C Ratio), atau perbandingan (nisbah) antara penerimaan dan biaya. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
50 Keterangan :
R/C Ratio = Nisbah antara penerimaan dengan biaya TR = Penerimaan total
TC = Biaya total
Dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut :
Jika R/C > 1, maka usaha budidaya ikan patin mengalami keuntungan Jika R/C < 1, maka usaha budidaya ikan patin mengalami kerugian Jika R/C = 1, maka usaha budidaya ikan patin berada pada titik impas (tidak untung atau tidak rugi).
3. Saluran pemasaran a) Marjin Pemasaran
Melalui marjin pemasaran dapat diketahui besarnya biaya dan keuntungan dalam pemasaran ikan patin. Menurut Hasyim (2012), secara matematis marjin pemasaran dapat dinyatakan sebagai berikut :
Mji = Psi - Pbi Mj i= bti + πi πi = Mji – bti
Keterangan :
Mji = marjin lembaga tataniaga tingkat ke-i
Psi = harga penjualan lembaga tataniaga tingkat ke-i Pbi = harga pembelian lembaga tataniaga tingkat ke-i bti = biaya tataniaga lembaga tataniaga tingkat ke-i
π
i = keuntungan lembaga tataniaga tingkat ke-ib) Farmer’s Share
Farmer’s Share merupakan perbandingan harga yang diterima petani
ikan patin dengan harga yang dibayarkan konsumen. Farmer’s Share
51 ikan patin semakin rendah. Farmer’s share dirumuskan sebagai
berikut:
Keterangan :
Fs : Farmer’s Share (%)
91 VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Keragaan usaha budidaya ikan patin di CV XYZ dilihat dari aspek
kelayakan finansial layak dan menguntungkan.
2. Keragaan usaha budidaya ikan patin di CV XYZ dilihat dari aspek
produktivitas dan pendapatan sudah cukup baik. Hal tersebut dapat dilihat melalui nilai R/C Ratio lebih besar dari 1 sehingga usaha budidaya ikan patin layak dan menguntungkan.
3. Lembaga pemasaran ikan patin yang terlibat dalam pemasaran ikan patin yaitu produsen, tengkulak dan pengecer. Saluran pemasaran I dan II sudah efisien sedangkan saluran pemasaran III kurang efisien.
B.Saran
Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. CV XYZ diharapkan lebih mampu mengelola penggunaan sumber daya
92 2. Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah agar memberi kemudahan dalam
proses perizinan usaha budidaya ikan patin bagi para pemilik usaha budidaya ikan patin.