• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
68
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SINDROMA TEROWONGAN KARPAL PADA PENGRAJIN KAIN

TAPIS DI DESA BUMIRATU KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG

(Skripsi)

Oleh

CARLOS TAOLIN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(2)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SINDROMA TEROWONGAN KARPAL PADA PENGRAJIN KAIN

TAPIS DI DESA BUMIRATU KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG

Oleh

Carlos Taolin 1618011119

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(3)

ABSTRACT

MULTIPLE FACTORS ASSOCIATED TO CARPAL TUNNEL SYNDROME IN TAPIS FABRIC CRAFTSMEN IN BUMIRATU VILLAGE PAGELARAN

DISTRICT PRINGSEWU REGENCY LAMPUNG

BY

CARLOS TAOLIN

Background: Carpal Tunnel Syndrome (CTS) is a Work Related Musculosceletal Disorders (WMSD) that is common to workers. Carpal Tunnel Syndrome occurs due to exposure to repeated movements or mispositions in a long time. The purpose of this study was to know the factors related to CTS case in tapis fabric craftsmen. The observed factors are age, length of work, period of work, BMI, and repetitive motion. Method: The form of this study was cross sectional analytic. The population in this study was all filter craftsmen in Bumiratu Village Pagearan District Pringsewu Regency Lampung as much as 72 respondent. The sampling method used a total sampling with criteria for inclusion and exclusion and the sample obtained as much as 71 respondents. Independent variable in this study are age, working length, working period, repetitive motion, and BMI and the dependent variable is CTS. The analyzed statistically using the chi square with α 5%.

Result: Statistical tests showed 33 respondent (46.5%) that have carpal tunnel syndrome (CTS). The relations of age with CTS value of (p=0,370), working length (p=0,024), working period (p=0,015), repetitive motion (p=0,036), and BMI (P=0,015) on filter craftsmen in Bumiratu Village.

(4)

ABSTRAK

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN SINDROMA TEROWONGAN KARPAL PADA PENGRAJIN KAIN

TAPIS DI DESA BUMIRATU KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG

Oleh

CARLOS TAOLIN

Latar Belakang: Sindroma Terowongan Karpal (STK) merupakan Work Related Musculosceletal Disorders (WMSD) yang sering terjadi pada pekerja. STK terjadi akibat paparan terhadap gerakan berulang atau kesalahan posisi dalam waktu yang panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis. Faktor yang diamati adalah usia, lama kerja, masa kerja, status gizi, dan gerakan repetitif.

Metode: Bentuk penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Prigsewu Lampung sebanyak 72 responden. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi dan diperoleh sampel sebanyak 71 responden. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah usia, lama kerja, masa kerja, gerakan repetitif dan Status gizi dengan variabel terikat adalah STK. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan nilai α sebesar 5%.

Hasil: Dari 71 responden, terdapat 33 repsonden (46,5%) yang mengalami Sindroma Terowongan Karpal (STK). Hasil analisis data menunjukan nilai p pada variabel usia (p=0,0370), lama kerja (p=0,024), masa kerja (p=0,036), gerakan repetitif (p=0,036), dan status gizi (p=0,015) dengan kejadian STK.

Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara lama kerja, masa kerja, gerakan repetitif, status gizi dengan kejadian STK. Tidak ada hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung.

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis yang bernama Carlos Taolin dilahirkan di Lampung pada tanggal 21 Agustus 1997, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Penulis merupakan putra dari Bapak Yoseph Taolin dan Ibu Siti Muawanah.

Penulis menempuh jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK MMT pada tahun 2002. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) SDN 02 Sandai pada tahun 2009, Sekolah Menengah Pertama (SMP) PL St, Albertus Ketapang pada tahun 2012, dan SMAK Cor Jesu Malang pada tahun 2015.

(9)

Kupersembahkan karya ini untuk keluarga tercinta, Bapak Yoseph Taolin dan Ibu Siti Muawanah, serta adik Arsenio Taolin dan Alberto Taolin

Don’t give up when you still have

something to give. Nothing is really over

until the moment you stop trying

“Brian Dyson”

The only limit to our realization of tomorrow will be our doubts of today. Let us move forward with strong and active faith

(10)

Roosevelt-SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan YME, karena atas rahmat dan karunia-Nya di sepanjang hidup penulis serta dalam proses pembuatan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul. “Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Sindroma Terowongan Karpal pada Pengrajin Kain Tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung”

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak masukan, bantuan, dorongan, saran, bimbingan, dan kritik dari berbagai pihak. Maka pada dari itu, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Karomani, M.Si, selaku Rektor Universitas Lampung.

2. Dr. Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani, SKM., M. Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

(11)

4. dr. Nurul Utami, selaku Pembimbing 2. Terimakasih atas bimbingan, saran, dorongan yang telah diberikan. Tak lupa juga atas waktu, tenaga, dan pikiran yang telah diberikan selama penyusunan skripsi ini.

5. dr. Fitria Saftarina, M.Sc, selaku Pembahas dalam skripsi ini. Terimakasih telah bersedia untuk memberi bimbingan serta saran yang membangun penulis agar dapat menulis skripsi dengan baik. Terimakasih juga untuk segala ilmu serta pengalaman kehidupan yang tidak didapatkan dalam bangku perkuliahan.

6. Dr. dr. Susianti, M.Sc, selaku Pembimbing Akademik, atas kesediaannya memberikan arahan, masukan dan motivasi selama proses pembelajaran;

7. Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk mencapai cita-cita. 8. Seluruh Staf Akademik, TU dan Administrasi FK Unila serta pegawai yang

sangat membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini;

9. Papa tersayang, Yoseph Taolin, terimakasih atas dukungan, motivasi dan doa yang selalu diberikan terimakasih telah menjadi inspirasi terbesar di hidup penulis.

10. Mama tercinta, Siti Muawanah, wanita terkuat yang selalu mengajarkan tentang kehidupan yang rumit tapi menyenangkan dimana harus selalu tangguh dan pantang menyerah. Terimakasih atas kasih sayang yang telah diberikan selama ini. Terimakasih atas dukungan, motivasi, doa, dan segala pengorbanan yang diberikan tiada henti demi tercapainya masa depan yang baik bagi penulis.

(12)

12. Terimakasih kepada Ibu Kanti Lestari selaku pemilik sanggar Tapis, yang telah bersedia menjadi tuan rumah yang baik dan dapat membantu mengarahkan penulis pada sampel penelitian;

13. Teman-teman seperjuangan skripsi, Nema Putri dan Meiuta Hening Pratiwi. Semoga ilmunya bermanfaat dan dapat terus dikembangkan.

14. Teman-teman yang membantu proses penelitian ini, Dhea Mutiara Karmelita, Nadya Marshalita dan Abang Wahyudi Permana Darlis, Rangga Sakti, M. Abiyoso, Kristian Pieri, Edwina Nabila, Farhana Fitria. Terimakasih atas bantuan yang diberikan.

15. Teman-teman UKMK FK UNILA yang terbaik selama ini Restu, Raynaldo, Ino, Asri, Monic.

16. Temen-temen Arben yang super inspirasi terimakasih atas ilmu dan motivasinya selama ini Samuel gunawan, Kristian Pieri Ginting, Restu Krisnanda, Asri Pandiangan, Jovanka Risnatali, Rika Mutiara, Marla Okta, Jessika Sindy Sirait, Laurensia Alimin, Brigita Olivia, Angwen, Shinta Meliana.

17. Teman-teman gokil Yoso, Rendy, Jeff, Agung assiri, Haydarus, Vidi, Andesetia, Arif, Emir, Badly, Alka, Panggeh, Abiyi, Bagas, Habibor, Bayu, Bustami, Rio, Diaru, Jundi, Dimas, Fachmi, Farid, Januar, Rangga.

18. Temen-temen PAKIS SC11 Revina rifda dkk.

19. Adik-adik Koloni kolon fams terimakasih untuk doa dan dukungannya, Zulia, Ghoni, Heickal, Derry, Annesia, Fatimah, Gita, Dana, Retno, Tisa.

(13)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap yang membacanya.

Bandar Lampung, 22 Januari 2020 Penulis,

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN………..vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.3.1 Tujuan Umum ... 6

1.3.2 Tujuan Khusus ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sindroma Terowongan Karpal ... 8

2.1.1 Definisi Sindroma Terowongan Karpal ... 8

2.1.2 Anatomi Nervus Medianus ... 9

2.1.3 Etiologi Sindroma Terowongan Karpal ... 11

2.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi Sindroma Terowongan Karpal... 12

2.1.5 Gejala Klinis Sindroma Terowongan Karpal ... 14

2.1.6 Diagnosis Sindroma Terowongan Karpal ... 15

2.1.7 Diagnosis Banding ... 19

2.1.8 Penatalaksanaan Sindroma Terowongan Karpal ... 20

2.1.9 Prognosis Sindroma Terowongan Karpal ... 21

2.2 Faktor yang berkaitan dengan Sindroma Terowongan Karpal ... 22

2.2.1 Umur ... 22

2.2.2 Masa Kerja ... 23

2.2.3 Lama Kerja ... 24

2.2.4 Jenis Kelamin... 25

2.2.5 Status Gizi ... 27

2.2.6 Gerakan Repetitif ... 27

2.2.7 Riwayat penyakit ... 28

2.3 Pencegahan ... 29

(15)

2.5 Kerangka Teori ... 31

2.6 Kerangka Konsep ... 32

2.7 Hipotesis Penelitian ... 32

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 33

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 34

3.3.1 Populasi Penelitian... 34

3.3.2 Sampel Penelitian ... 34

3.4 Variabel Penelitian ... 36

3.5 Definisi Operasional ... 37

3.6 Instrumen Penelitian ... 39

3.7 Cara Pengambilan Data ... 40

3.8 Alur Penelitian ... 41

3.9 Pengolahan Data dan Analisis Data ... 42

3.9.1 Pengolahan Data ... 42

3.9.2 Analisis Data ... 42

3.10 Etika Penelitian...44

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Penelitian ... 45

4.1.1 Karakteristik Responden ...46

4.2 Hasil Penelitian ... 47

4.2.1 Analisis Univariat ... 47

4.2.2 Analisis Bivariat ... 53

4.2.3 Analisis Multivariat ...58

4.3 Pembahasan... 61

4.4 Keterbatasan Penelitian...75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 76

5.2. Saran ... 77

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Klasifikasi IMT ... 27

2. Definisi operasional penelitian ... 37

3. Karakteristik responden ... 47

4. Distribusi frekuensi responden menurut usia ... 48

5. Distribusi frekuensi responden menurut lama kerja... 49

6. Distribusi frekuensi responden menurut masa kerja ... 49

7. Distribusi frekuensi responden menurut Status Gizi...50

8. Distribusi frekuensi responden menurut gerakan repetitif ... 51

9. Distribusi frekuensi responden berdasarkan Sindroma Terowongan Karpal ... 52

10. Hubungan usia responden dengan kejadian Sindroma Terowongan Karpal ... 53

11. Hubungan masa kerja dengan kejadian Sindroma Terowongan Karpal ... 55

12. Hubungan lama kerja dengan kejadian Sindroma Terowongan Karpal... 55

13. Hubungan Status gizi dengan Kejadian Sindroma Terowongan Karpal Tabel 4x2 ... 55

14. Hubungan Status gizi dengan Kejadian Sindroma Terowongan Karpal Tabel 2x2... ... 56

15. Hubungan gerakan repetitif dengan Sindroma Terowongan Karpal... 57

16. Hasil analisi seleksi bivariat ... 58

17. Hasil uji regresi logistik tahap pertama ... 59

18. Hasil uji regresi logistik tahap kedua ... 60

19. Hasil uji regresi logistik tahap ketiga ... 60

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Tulang Karpal Dilihat dari Dorsal & Medial ... 10

2. Anatomi Terowongan Karpal Potongan Transversal ... 11

3. Tes Phalen ... 16

4. Tes Tinnel... 17

5. Kerangka Teori... 31

6. Kerangka Konsep ... 32

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat izin penelitian Lampiran 2. Surat persetujuan etik

Lampiran 3. Surat keterangan hasil peneraan alat ukur tinggi badan Lampiran 4. Surat keterangan hasil peneraan timbangan mekanik Lampiran 5. Lembar pengantar kuesioner

Lampiran 6. Lembar persetujuan

Lampiran 7. Lembar kuesioner penelitian

Lampiran 8. Lembar phalen’s test dan pengukuran gerakan repetitif Lampiran 9. Hasil analisis data penelitian

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada masa globalisasi saat ini sektor industri merupakan sektor terpenting bagi perekonomian negara, baik dalam sektor formal maupun informal dimana selalu dituntut untuk dapat menghasilkan produk yang berkualitas dengan jumlah yang maksimal. Data yang diperoleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2018 jumlah usia kerja di Indonesia sebesar 193,55 juta jiwa, dimana 133,94 juta jiwa merupakan angkatan kerja dan 59,61 juta jiwa bukan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja, 127,07 juta jiwa bekerja di sektor formal maupun informal dan 6,87 juta jiwa adalah pengangguran, besarnya jumlah angkatan kerja ini merupakan aset berharga bagi kemajuan bangsa (Kemenkes, 2018).

(20)

kematian dikarenakan PAK, sementara lebih dari 380.000 dikarenakan kecelakaan kerja (ILO, 2018). Penyakit akibat kerja di Indonesia pada tahun 2011-2014 mengalami penurunan kasus yang signifikan sebesar 17.235 kasus dari yang sebelumnya sebesar 57.929 kasus pada tahun 2014 dimana Provinsi Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan kasus terbanyak, sedangkan untuk Provinsi Lampung pada tahun 2011-2014 mengalami peningkatan kasus PAK sebesar 712 kasus (Kemenkes, 2015).

(21)

kaki, kepala, leher, atau punggung karena sebuah luka. MSDs dapat disebabkan atau diperburuk oleh pekerjaan, lingkungan kerja dan performa kerja (Mutiah, Setyaningsih, dan Jayanti 2013).

Sindroma Terowongan Karpal (STK) mewakili 59% dari keseluruhan Work-related Musculoskeletal Disorder (WMSD) ditemukan dari semua catatan penyakit yang ditemukan di Eropa pada tahun 2005 (ILO, 2013). Statistik okupasional dalam skala nasional untuk STK jarang dan prevalensi bervariasi antar negara. Meskipun tingkat kejadian bervariasi, umumnya diyakini bahwa kondisi ini terdapat pada sekitar 3,8% dari total populasi. Tingkat insiden hingga 276:100.000 per tahun telah dilaporkan dengan tingkat prevalensi 9,2% pada wanita dan 6% pada pria. Terjadinya puncak insidensi di populasi usia 40-60 tahun (Ibrahim, 2012).

(22)

Salah satu industri yang berisiko tinggi mendapatkan STK adalah industri kerajinan kain tapis. Tapis lampung sendiri termasuk kerajinan tradisional dimana proses pengerjaan dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengrajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis. Proses awal dalam pembuatan kain tapis adalah “menenun” kain atau bahan dasar. Kain ditenun dari benang kapas dengan

menggunakan alat yang disebut “mattakh”. Sekarang, untuk menenun kain banyak digunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sementara itu, benang emas dan benang perak yang digunakan untuk menyulam motif, “diplintir”’ dengan menggunakan alat sederhana. Proses selanjutnya adalah

menyulam motif, masyarakat lampung menyebutnya dengan proses “cucuk” benang. Pada proses ini, kesabaran, ketelatenan, kecermatan, kejelian, dan keterampilan adalah hal yang utama (Ria, 2018). Proses pembuatan kain tapis adalah salah satu faktor pekerjaan yang merupakan faktor risiko terjadinya STK pada prosesnya yaitu gerakan tangan berulang, gerakan tangan dengan kekuatan, adanya tekanan pada tangan atau pergelangan, posisi tangan statis, posisi tangan dan tubuh bagian atas tidak ergonomik, posisi fleksi dan ekstensi (Harris-adamson et al., 2013). Bagian penenun kain tapis merupakan faktor risiko terjadinya STK akibat adanya gerakan berulang pergelangan tangan seperti fleksi, ekstensi dan pronasi serta posisi tubuh yang tidak berubah dalam waktu 2-4 jam pada saat menenun kain tapis (Bahrudin, 2011).

(23)

kerajinan kain tapis di Provinsi Lampung. Berdasarkan hasil survei dan wawancara dengan kepala desa dan ketua RT serta agen pengrajin kain tapis pada tanggal 22 september 2019 di kecamatan tersebut, khususnya di Desa Bumiratu didapatkan total 72 pengrajin kain tapis yang sudah melakukan pekerjaan ini dalam waktu yang cukup lama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Jika tidak dalam musim panen membuat kerajinan kain tapis merupakan pekerjaan utama yang dilakukan ibu-ibu di Desa Bumiratu, lamanya pengerjaan kain tapis bervariasi tergantung ukuran dan pesanan, dalam sehari rata-rata para pengrajin kain tapis menghabiskan waktu 3-8 jam. Berdasarkan survei pada 48 pengrajin yang telah dilakukan wawancara dan pemeriksaan fisik sebanyak 23 diantaranya memiliki keluhan positif STK seperti mati rasa dan rasa kesemutan pada tangan.

Berdasarkan data tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keluhan STK pada pengrajin kain tapis seperti masa kerja, lama kerja, usia, status gizi, dan gerakan repetitif sehingga nantinya dapat memberikan pengetahuan serta mencegah dari kejadian penyakit akibat kerja.

1.2 Rumusan Masalah

(24)

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

2. Mengetahui gambaran usia, gerakan repetitif, lama kerja, masa kerja, dan status gizi pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

3. Mengetahui hubungan antara gerakan repetitif dengan STK pengrajin kain tapis.

4. Mengetahui hubungan antara lama kerja dengan STK pada pengrajin kain tapis.

5. Mengetahui hubungan antara masa kerja dengan STK pada pengrajin kain tapis.

6. Mengetahui hubungan antara status gizi dengan STK pada pengrajin kain tapis.

7. Mengetahui hubungan antara usia dengan STK pada pengrajin kain tapis.

(25)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Bagi peneliti dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh guna mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kesehatan, serta untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai faktor risiko pada kejadian STK pada pengrajin kain tapis

2. Bagi para pekerja, dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan kerja serta dapat melakukan tindakan pencegahan agar dapat menurunkan angka kejadian penyakit akibat kerja.

3. Bagi Institusi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan.

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sindroma Terowongan Karpal

2.1.1 Definisi Sindroma Terowongan Karpal

Sindroma Terowongan Karpal (STK) adalah suatu keadaan dimana terdapat tekanan neuropati terhadap nervus medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan, lebih tepatnya di bawah fleksor retinakulum. Dahulu, sindroma ini merupakan sindroma yang dikenal dengan nama acroparesthesia, median thenar neuritis atau partial thenar atrophy. Sir James Paget pada tahun 1854 merupakan orang pertama yang memperkenalkan STK sebagai suatu sindroma klinik dimana pada kasus stadium lanjut fraktur radius bagian distal. Sindroma terowongan karpal spontan pertama kali dilaporkan oleh Pierre Narie dan C. Foix pada taboo ditahun 1913. Istilah STK ini diperkenalkan juga oleh Moersch pada tahun 1938 (Rambe, 2004).

(27)

berlebihan, dengan tekanan berulang, gerakan memutar dari pergelangan tangan dan penggunaan alat-alat yang bergetar. Beberapa pekerjaan yang sering menimbulkan gejala yang dihubungkan dengan tingginya insiden STK adalah proses memasak makanan, pekerjaan pabrik, pemuatan barang dan pekerja bangunan. Beberapa kondisi yang sering dihubungkan dengan kejadian STK adalah kehamilan, artritis inflamasi, fraktur colles, amyloiosis, hipotiroid, dan diabetes melitus (Tamba dan Pudjowidyanto, 2008).

2.1.2 Anatomi Nervus Medianus

(28)
[image:28.595.176.494.84.285.2]

Gambar 1. Tulang Karpal Dilihat dari Dorsal & Medial (Lutjen-Drecoll, 2012)

Terowongan karpal terletak pada bagian sentral pergelangan tangan yang dimana pada tulang dan ligamen membetuk sebuah terowongan sempit yang dilewati oleh beberapa tendon dan nervus medianus. Ada beberapa komponen yang membentuk dasar dan sisi-sisi terowongan dengan komposisi yang keras dan kaku yaitu tulang-tulang karpalia sedangkan pada bagian atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum atau transverse carpal ligament dan palmar carpal ligament yang kuat dan melengkung di atas tulang-tulang karpalia tersebut (Salawati dan Syahrul, 2014).

(29)
[image:29.595.223.429.91.204.2]

Gambar 2. Anatomi Terowongan Karpal Potongan Transversal (Lutjen-Drecoll, 2012)

2.1.3 Etiologi Sindroma Terowongan Karpal (STK)

Celah terowongan karpal yang cukup sempit selain dilalui oleh nervus medianus juga dilewati oleh beberapa tendon fleksor. Kondisi yang dapat mengakibatkan padatnya terowongan karpal dapat menyebabkan terjadinya penekan pada nervus medianus sehingga dapat menimbulkan sindroma terowongan karpal (Salawati dan Syahrul, 2014).

Kasus tertetu etiologinya masih belum diketahui, terutama pada penderita lanjut usia. Beberapa penelitian mendapatkan bahwa gerakan yang berulang pada pergelangan tangan menambah risiko menderita gangguan pada pergelangan tangan selain itu etiologi yang telah diketahui antara lain (Rambe, 2004):

(30)

3. Pekerjaan, gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang berulang-ulang. Seorang sekertaris yang sering mengetik, pekerja kasar yang sering mengangkat beban berat dan pemain musik terutama pemain piano dan pemain gitar yang banyak menggunakan tangannya juga merupakan etiologi dari sindroma terowongan karpal. 4. Infeksi, tenosinovitis, tuberkulosis, sarkoidosis.

5. Metabolik, amiloidosis, gout, hipotiroid, khususnya STK juga terjadi karena penebalan ligamen, dan tendon dari simpanan zat yang disebut mukopolisakarida.

6. Endokrin, akromegali, terapi estrogen atau androgen, diabetes mellitus, hipotiroid, kehamilan.

7. Neoplasma, kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastasi, mieloma.

8. Penyakit kolagen vaskular seperti arthritis reumatoid, polimialgia reumatika, skleroderma, lupus eritematosus sistemik.

9. Degeneratif seperti osteoatritis.

10. Iatrogenik, punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk dialisis, hematoma, komplikasi dari terapi anti koagulan.

11. Inflamasi dari membran mukosa yang mengelilingi tendon menyebabkan nervus medianus tertekan dan menyebabkan sindroma terowongan karpal.

2.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi Sindroma Terowongan Karpal

(31)

sindroma terowongan karpal. Umumnya STK terjadi secara kronis di mana terjadi penebalan pada fleksor retinakulum yang mengakibatkan tekanan pada nervus medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan dalam durasi yang cukup lama dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intravaskuler yang mengakibatkan perlambatan aliran darah pada vena intravaskuler (Rambe, 2004).

Kongesti ini akan mengganggu intravaskuler yang di lalui aliran darah tersebut yang kemudian terjadi anoksia yang dapat merusak endotel. Hipotesis ini menerangkan bagaimana keluhan nyeri dan sembab yang timbul terutama pada malam dan pagi hari akan berkurang setelah tangan yang terlibat digerakan atau diurut dimana terjadi perbaikan sementara pada aliran darah. Apabila kondisi ini terus berlanjut maka akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Lama-kelamaan saraf menjadi atrofi yang kemudian digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi dari nervus medianus terganggu secara menyeluruh (Davis et al., 2005).

(32)

2.1.5 Gejala Klinis Sindroma Terowongan Karpal

Pada awal gejala umumnya menunjukan gejala berupa gangguan sensorik saja. Gangguan motorik dapat terjadi namun hanya terjadi pada keadan-keadan yang berat. Gejala awal yang paling sering muncul berupa parestesia, kurangnya rasa atau rasa seperti terkena sengatan listrik pada jari dan setengah sisi radial jari sesuai dengan distribusi sensorik nervus medianus walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari-jari (Davis et al., 2005).

Gejala lain yang juga dirasakan oleh penderita STK berupa manifestasi dari gangguan nervus medianus baik ganguan motorik maupun sensorik berupa (Basuki, 2016) :

1. Kesemutan atau mati rasa, terutama pada ibu jari, telunjuk, tengah dan jari manis.

2. Nyeri pada tangan dan mati rasa, terutama pada malam hari, dan membaik pada pagi atau siang hari.

3. Tangan sering gemetar kadang disertai dengan kelemahan pada fungsi jari jempol.

(33)

banyak hari kerja bahkan tidak bekerja lagi bila fungsi tangan terganggu secara menetap. Dampak psikologi juga dapat muncul karena pekerja tidak dapat lagi menggunakan tangan, dapat menjadi depresi dan menderita, atau mungkin terpaksa berhenti kerja (Tana, 2003).

Pada tahap yang lebih lanjut penderita mengeluh jari-jarinya menjadi kurang terampil misalnya saat menyulam atau memungut benda-benda kecil. Kelemahan dan kesulitan yang dialami penderita sewaktu mencoba memuatar tutup botol atau menggenggam. Pada penderita STK pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang dipersarafi oleh nervus medianus(Rambe, 2004).

2.1.6 Diagnosis Sindroma Terowongan Karpal

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi kekuatan dan sensitivitas tangan dapat membantu mendiagnosa STK. Studi kecepatan Elektromiografi (EMG) dan tes saraf dapat memetakan dari fungsi saraf dan dapat membantu mengonfirmasi apakah pasien mengalami kondisi yang ringan atau berat. Selain itu pemeriksaan listrik juga dapat menolong tenaga medis untuk mengenali penyakit lain atau kondisi medis lain yang memiliki gejala seperti STK. Beberapa kondisi yang dapat menempatkan tekanan pada saraf di lokasi yang berbeda, seperti leher dan siku (Basuki, 2016).

Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat membantu menegakan diagnos STK antara lain:

(34)

maka mendukung diagnosa STK. Namun harus diingat tanda ini juga muncul pada penyakit Ratnauld Thenar Wasting pada saat inspeksi dan palpasi terdapat atrofi otot-otot thenar.

[image:34.595.187.486.290.379.2]

2. Phanlen’s test, pasien diminta melakukan fleksi tangan secara maksimal. Kemudian perhatikan bila dalam waktu 60 detik pasien merasakan gejala-gejala seperti STK maka tes ini mendukung diagnosa STK.

Gambar 3. Tes Phalen (Urbano, 2000)

3. Wrist extension test, pasien diminta untuk melakukan ekstensi tangan secara maksimal, sebaiknya dilakukan secara serentak pada kedua tangan sehingga dapat dibandingkan antara tangan kiri dan kanan. Kemudian bila dalam waktu 60 detik timbul gejala-gejala seperti STK maka mendukung diagnosa.

(35)
[image:35.595.209.482.83.223.2]

Gambar 4.Tes Tinnel (Urbano, 2000)

5. Torniquet test, pada tes ini dilakukan pemasangan torniquet dengan menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di atas tekanan sistolik. Apabila dalam waktu satu menit menimbulkan gejala-gejala sepetri sindroma terowongan karpal maka tes ini menyokong diagnosa. Kemudian dapat juga dengan menilai kekuatan dan keterampilan serta kekuatan pada otot secara manual dengan menggunakan alat dinamometer. Dimana penderita diminta untuk abduksi maksimal palmar lalu ujung jari dipertemukan dengan ujung jari lain. Kemudian nilai jepitan pada kedua ujung jari. Sedangkan keterampilan dapat dinilai dengan meminta pasien melakukan gerakan rumit seperti menulis atau menyulam (Rambe, 2004).

(36)

sedangkan untuk Tinel test berkisar 77% dan 66%. Dari penelitian tersebut sepuluh pasien dengan gejala STK yang dilakukan Phalen’s test memiliki sensitivitas dan spesifisitas sebesar 82% dan 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa phalen’s test dapat dipercaya dan bisa digunakan dalam menegakan diagnosa STK.

Selain dengan pemeriksaan fisik dapat juga dengan melakukan pemeriksaan neurologis dengan menggunakan elektrodiagnostik. Dengan pemeriksaan EMG dapat menunjukan adanya fibrilasi, polifasik, gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot thenar. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot. EMG bisa normal pada 31% kasus STK. Kemudian dengan melihat kecepatan hantaran saraf. Pada 15-25% kasus sindroma ini dapat normal. Keadaan lainnya menunjukan penurunan dan masa laten distal memanjang, hal ini menunjukan adanya gangguan pada konduksi saraf pergelangan tangan. Masa laten sensorik lebih sensitif dari masa laten motorik (Salawati dan Syahrul, 2014).

(37)

1. Terdapat salah satu atau lebih gejala parastesia, hipoanastesia, sakit, kebas atau mati rasa pada tangan yang berlangsung sedikitnya 1 minggu atau bila tidak terjadi secara terus menerus, sering terjadi pada berbagai kesempatan.

2. Secara objektif dijumpai hasi Tinel’s atau Phalen’s test positif atau berkurang sampai hilangnya rasa sakit pada kulit telapak dan jari tangan. Diagnosa dapat pula ditegakkan melalui pemeriksaan elektrodiagnostik antara lain dengan pemeriksaan elektromiografi. 3. Adanya riwayat pekerjaan seperti melakukan pekerjaan berulang

atau repetitif, pekerjaan yang disertai kekuatan tangan, fleksi dan ekstensi,deviasi gerakan pergelangan dan jari tangan, menggunakan alat dengan gerakan tinggi terjadi tekanan pada pergelangan tangan atau telapak tangan.

2.1.7 Diagnosis Banding

Terdapat beberapa diagnoisis banding pada penyakit Sindroma Terowongan Karpal antara lain: (Rambe, 2004)

1. Cervical radiculopathy, yang membedakannya dengan STK adalah keluhan akan berkurang bila leher diistirahatkan dan bertambah bila leher digerakan. Distribusi gangguan sensorik sesui dengan dermatomnya.

(38)

3. Pronator teres syndrome, keluhan ini lebih menonjol pada rasa nyeri pada telapak tangan daripada di STK karena cabang dari nervus medianuske kulit telapak tangan tidak melalui terowongan karpal. 4. De Quervain’s syndrome, pada keluhan ini tenosinovitis dari tendon

muskulus abductor pollicis longus dan ekstensor pollicis brevis, biasanya akibat gerakan tangan yang repetitif. Sedangkan gejala yang dirasakan adalah nyeri dan nyeri tekan pada pergelangan tangan di dekat ibu jari.

5. Finkelstein’s test, dilakukan palpasi pada otot abduktor ibu jari pada abduksi pasif ibu jari, positif bila nyeri bertambah.

2.1.8 Penatalaksanaan Sindroma Terowongan Karpal

Dalam penatalaksanaan STK ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu, terapi dapat diberikan terhadap keadaan atau penyakit lain yang mendasari terjadinya STK. Terdapat dua macam terapi yang dapat diberikan yaitu:

(39)

dengan fisioterapi dengan tujuan perbaikan vaskularisasi pergelangan tangan (Bahrudin, 2011).

2. Terapi operatif hanya dilakukan pada kasus yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi konservatif atau bila terjadi gangguan sensorik yang berat atau atrofi otot thenar. Operasi bilateral dimana tangan yang paling nyeri yang didahulukan walaupun bisa dilakukan sekaligus. Peneliti lain menyatakan bahwa tindakan operasi mutlak hanya dilakukan bila terapi konservatif gagal atau tidak membuat perubahan yang baik sedangkan indikasi relatif tindakan operasi adalah hilangnya sensibilitas yang persisten (Rambe, 2004).

2.1.9 Prognosis Sindroma Terowongan Karpal

Pada kasus STK yang ringan dan telah mendapatkan terapi secara konservatif umumnya memiliki prognosis yang baik. Tetapi bila keadaan tidak membaik setelah mendapatkan terapi konservatif maka tindakan operasi harus dilakukan. Secara umum prognosis pasien dengan STK yang telah menerima prosedur operasi juga baik namun karena prosedur operasi hanya dilakukan pada pasien yang sudah lama maka penyembuhannya bertahap (Bahrudin, 2011).

Bila setelah dilakukan tindakan operasi, tidak juga mendapatkan perbaikan yang signifikan maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan kembali antara lain.

(40)

2. Telah terjadi kerusakan total pada nervus medianus.

3. Terjadi STK yang baru sebagai akibat dari perlengketan, infeksi hematoma atau jaringan parut hipertrofik.

Sekalipun prognosis STK dengan terapi konservatif maupun terapi operatif cukup baik, namun risiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. Apabila terjadi kekambuhan, prosedur tetap baik konservatif maupun operatif dapat diulang kembali (Rambe, 2004).

2.2 Faktor yang berkaitan dengan Sindroma Terowongan Karpal

2.2.1 Umur

Faktor umur merupakan faktor terkuat yang dapat meningkatkan keluhan otot. Semakin bertambahnya umur akan terjadi degenerasi pada tulang dan keadaan ini akan terjadi pada saat seseorang berusia 30 tahun dimana akan terjadi degenerasi berupa kerusakan jaringan, pergantian jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan sehingga hal ini menyebabkan stabilitas pada tulang dan otot menjadi berkurang. Pada sebagian besar kasus STK biasanya terjadi pada usia 30-60 tahun semakin tuanya seseorang cairan sinovial akan berkurang sehingga bisa menyebabkan pembengkakan pada bagian persendian. Selain itu semakin tua, tingkat imunitas seseorang akan semakin berkurang. Hal tersebut dapat membatasi fungsi dari pergelangan tangan dan tangan itu sendiri yang akan berdampak pada menurunnya kinerja serta motivasi untuk bekerja (Rambe, 2004).

(41)

dengan kejadian STK dikarenakan kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga risiko terjadinya keluhan pada otot meningkat. Hal ini dikarenakan saat sebuah otot berkontraksi seperti gerakan melintir dan melakukan gerakan fleksi pergelangan tangan, terjadi penambahan luas otot berlebihan yang dapat memicu timbulnya kelainan muskuloskeletal termasuk STK (Elvi dan Catur 2016).

2.2.2 Masa Kerja

Masa kerja adalah jangka waktu seseorang bekerja dari pertama mulai bekerja sampai sekarang masih bekerja. Masa kerja dapat diartikan sebagai sepenggal waktu yang agak lama dimana seorang tenaga kerja masuk dalam satu wilayah tempat usaha sampai batas waktu tertentu. Masa kerja merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan muskuloskeletal pada pekerja (Rambe, 2004).

(42)

Pada penelitian yang dilakukan pada pengrajin batik di Kelurahan Pasirsari Kota Pekalongan pada pengrajin yang memiliki masa kerja >9 tahun memiliki risiko yang cukup tinggi terkena STK dan tidak menutup kemungkinan pada pengrajin dengan masa kerja <9 tahun untuk terkena STK (Elvi dan Catur, 2016)

2.2.3 Lama Kerja

Lama kerja bagi seseorang menentukan kesehatan yang bersangkutan, efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerjanya. Lama kerja seseorang dapat bekerja dengan baik dalam sehari pada umumnya 6-10 jam. dalam satu minggu orang hanya bisa bekerja dengan baik selama 40-50 jam. Lama kerja yang panjang akan menyebabkan penurunan kualitas dan hasil kerja serta bekerja dalam jangka waktu yang lama akan terjadi kelelahan, gangguan kesehatan, penyakit dan kecelakaan serta ketidakpuasan (Rambe, 2004).

(43)

Kemudian pada penelitian yang telah dilakukan pada pekerja penyadap pohon karet dari 101 petani yang menjadi responden didapatkan 68 (67,3%) petani menderita STK sedangkan 33 (32,7%) petani tidak mengalami STK. Pekerja yang bekerja ≥6-8 jam memiliki resiko 1,488 kali lebih besar dari yang bekerja <6-8 jam (Selviyati et al., 2016).

2.2.4 Jenis Kelamin

Sindroma Terowongan Karpal lebih banyak ditemui pada perempuan di bandingkan laki-laki, prevalensi STK lebih besar terjadi pada wanita sebesar 3:1 dari pada pria. Hal ini dapat disebabkan karena ukuran terowongan karpal pada wanita lebih kecil dari pria. Pada keadaan tertentu, misalnya pada kehamilan, penggunaan pil kontrasepsi, dan pada masa menopause, prevalensinya sedikut bertambah. Adanya perbedaan hormonal pada wanita, terutama saat hamil dan menopause. Retensi cairan yang terjadi selama kehamilan yang menempatkan tekanan tambahan pada terowongan karpal dan menyebabkan gejala STK (Selviyati et al., 2016).

(44)

tulang karpal, dimana tulang pergelangan tangan pada wanita secara alami lebih kecil sehingga menciptakan ruangan yang sempit. perubahan hormon pada saat menopause dapat menempatkan perempuan pada risiko lebih besar untuk medapatkan STK karena struktur pergelangan tangan membesar dan dapat menekan pada saraf pergelangan tangan (Tana, 2003).

2.2.5 Status gizi

Untuk menilai status gizi seseorang dapat ditentukan dengan melihat hasil perhitungan dari pemeriksaan Indeks Masa Tubuh (IMT). Indeks Masa Tubuh merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu ciri kesehatan yang baik, sehingga tenaga kerja yang produktif dapat terwujud. Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18 tahun (Supariasa, 2002).

Cara mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT) seseorang dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara berat badan dengan tinggi badan. Indeks Masa Tubuh merupakan rasio yang dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter) (Supariasa, 2002).

Berat a an ( g)

(45)
[image:45.595.139.532.88.183.2]

Tabel 1. Klasifikasi IMT (Kemenkes, 2018)

Kategori IMT

Underweight <18,5

Normal ≥18,5- < 25,0

Overweight ≥ 25,0 - < 27,0

Obesitas ≥ 27,0

Pada penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa STK terjadi karena kompresi saraf median dibawah ligamentum karpal transversal berhubungan dengan naiknya berat badan atau IMT. Indeks Masa Tubuh yang rendah merupakan kondisi kesehatan yang baik untuk proteksi fungsi saraf medianus. Pekerja dengan IMT minimal ≥25 lebih mungkin terkena STK dibanding dengan pekerja yang mempunyai berat badan ramping. America Obsity Association menemukan bahwa 70% dari penderita STK memiliki kelebihan berat badan. Setiap peningkatan nilai IMT 8% risiko STK meningkat. Berdasarkan penelitian sebelumnya orang gemuk mempunyai risiko 2,5 kali lebih tinggi dibanding orang yang kurus (Merijianti, 2009).

2.2.6 Gerakan Repetitif

(46)

Sebagian besar peneliti menyatakan bahwa pekerjaan dengan gerakan berulang merupakan suatu faktor risiko STK.

Beberapa kasus STK yang telah dilaporkan disebabkan karena kondisi pekerjaan yang berhubungan dengan gerakan biomekanis berulang pada pergelangan tangan dan lengan. Kombinasi antara pemakaian tenaga yang kuat dan pengulangan gerakan yang sama pada jari dan tangan, menggenggam alat dengan kuat, menjepit benda dengan jari, posisi atau postur sendi tidak baik atau ekstrim, tekanan langsung pada sendi, getaran serta peregangan yang berlangsung lama (Tana, 2003).

Pengulangan gerakan yang sama setiap hari akan meningkatkan risiko terjadinya tendinitis. Gerakan berulang dapat meningkatkan tekanan pada terowongan karpal. Penekanan ini dapat menyebabkan kerusakan yang permanen atau sementara. Penekanan dengan intensitas yang lama dapat mengurangi aliran darah pada pembuluh darah tepi. Penekanan yang lama pada pembuluh darah akan berdampak pada permeabilitas pembuluh darah pada pergelangan tangan (Kurniawan et al., 2008).

2.2.7 Riwayat penyakit

(47)

menyebabkan risiko STK antara lain, rheumatoid artritis, diabetes militus, fraktur atau dislokasi (Kurniawan et al., 2008).

2.3 Pencegahan

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam upaya mencegah terjadinya STK adalah penerapan prinsip-prinsip ilmu ergonomi dalam pekerjaan pada pekerja, peralatan kerja, prosedur kerja dan lingkungan kerja sehingga dapat diperoleh penampilan pekerja yang paling optimal. Rotasi kerja pada jangka waktu tertentu dapat dilakukan, yaitu dengan merotasi pekerja pada tugas dengan risiko yang berbeda. Penyesuaian peralatan kerja dapat meminimalkan masalah yang terjadi contohnya penyesuaian peralatan yang ergonomik kepada pekerja. Hal yang dapat mengurangi efek beban tenaga pada pergelangan, maka alat dan tugas seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi gerakan menggenggam atau menjepit dengan kuat (Salawati dan Syahrul, 2014).

(48)

2.4 Komplikasi

Komplikasi yang dapat terkadi pada STK adalah: (Basuki, 2016)

1. Rasa nyeri dan pegal pada bekas operasi dapat terjadi pada beberapa kasus, namun dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan anti nyeri. 2. Pada kasus yang telah ditangani secara operatif dapat mengalami

kekambuhan untuk menangani gejala yang kembali timbul dengan cara mencegah gerakan berlebih misalnya menekuk pergelangan tangan setelah operasi.

(49)

2.5 Kerangka Teori

[image:49.595.151.544.216.618.2]

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan pada tinjauan pustaka maka dapat disusun kerangka teori mengenai faktor yang berhubungan dengan kejadia Sindroma Terowongan Karpal.

(50)

2.6 Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

[image:50.595.113.538.167.320.2]

`

Gambar 6. Kerangka Konsep

2.7 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian dan Kerangka pemikiran dalam penelitian ini maka dapat diturunkan suatu hipotesis sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara lama kerja dengan STK. 2. Terdapat hubungan antara masa kerja dengan STK. 3. Terdapat hubungan antara usia dengan STK.

4. Terdapat hubungan antara gerakan repetitif dengan STK. 5. Terdapat hubungan antara status gizi dengan STK.

1. Lama kerja 2. Masa kerja 3. Usia

4. Gerakan Repetitif 5. Status gizi

Sindroma Terowongan Karpal

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Merupakan salah satu bentuk studi observasional yang mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek yang ditimbulkan. Dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekaligus pada waktu yang telah ditentukan (Notoatmodjo, 2012).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

(52)

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pengrajin kain tapis yang berada di Desa Bumiratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Prinngsewu, Provinsi Lampung sebanyak 72 responden.

3.3.2 Sampel Penelitian

Pada penelitian ini sampel yang diambil menggunakan metode total sampling, yaitu seluruh pengrajin yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukan kedalam penelitian dengan syarat dan jumlah minimum terpenuhi, kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012).

1. Kriteria inklusi

Pada penelitian ini yang termasuk dalam kriteria inklusi adalah seluruh pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung yang bersedia menandatangani informed consent. 2.Kriteria ekslusi

a. Riwayat trauma pada pergelangan tangan, fraktur pada tangan atau pergelangan tangan atau kelainan muskuloskeletal lain pada tangan sebelum bekerja sebagai pengrajin kain tapis

b. Sedang hamil

(53)

( ) ( ) ( )

( )

( ) ( )

Keterangan :

α = derajat kepercayaan = 5%(1,96)

p = Nilai proporsi sebesar 0,375 (Rohmah, 2016) q = 1-p = 1-0,375 = 0,625

d = limit error atau presisi absolut = 0,05 N = Jumlah total populasi = 72 pengrajin n = Jumlah sampel minimal yang diperlukan

(54)

3.4 Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan karakteristik dalam subjek penelitian yang dapat berubah dari satu subjek ke subjek yang lain (Sastroasmoro, 2018). Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel terikat (Dependent variable)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah gejala penyakit STK pada pengrajin kain tapis.

2. Variabel bebas (Independent variable)

(55)

3.5 Definisi Operasional

[image:55.595.143.536.250.704.2]

Definisi operasional merupakan uraian tentang batasan variabel yang dimaksut atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2012). Sedangkan definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Definisi operasional penelitian

Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Skala

Lama kerja Lamanya responden bekerja dalam satu hari kerja.

Kuisioner Wawancara 0 = < 4 jam 1 = ≥ 4 jam (Elvi dan Catur, 2016)

Kategorik Ordinal

Masa kerja Lamanya responden bekerja sebagai pengrajin kain tapis sampai diadakannya penelitian ini.

Kuisioner Wawancara 0 = <4 tahun 1 = ≥4 tahun (Agustin, 2012)

Kategorik Ordinal

Usia Lama hidup responden dihitung dari waktu kelahiran sampai saat penelitian dihitung dalam tahun.

Kuisioner Wawancara 0= <30 tahun 1= ≥ 30 tahun (Elvi dan Catur 2016)

Kategorik Ordinal

Gerakan repetitif

Gerakan repetitif adalah aktifitas kerja berulang yang melibatkan gerakan tangan atau pergelangan tangan seperti tangan

mencengkeram atau pergelangan tangan fleksi dan ekstensi,pada frekuensi tertentu (30 kali gerakan per menit).

stopwatch Menghitung aktivitas gerakan berulang dengan menggunakan stopwatch 0=Lebih Berisiko, melakukan gerakan ≥30 kali gerakan berulang dalam satu menit 1=Kurang Berisiko, melakukan gerakan <30 kali gerakan berulang dalam satu menit (Tana et al.,

2012)

(56)

Status gizi Suatu metode pengukuran antropometri untuk melihat suatu gizi dengan menggunakan pengukuran berat badan dan tinggi badan Microtoice dan Timbangan Pemeriksaan Fisik

0= underweight

bila IMT <18,5

1= normal bila IMT ≥18,5<25 2= overweight

bila IMT ≥25-27

3= obesitas bila IMT ≥27 (Kemenkes, 2018) Kategorik Ordinal Sindroma Terowongan Karpal

Sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri, kesemutan (parestesia), rasa tebal dan rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada daerah yang dipersarafi oleh n.medianus Kuesioner Boston Carpal Tunnel Questioner (BCTQ) Hasil pengisian kuesioner dan Pemeriksaan Fisik

menggunakan

Phalen Test

0= Ya, bila hasil skor pada kuesioner untuk keluhan subyektif adalah ≥ 3 dan

Phalen’s tets

(+), hasil skor pada kuesioner keluhan subjektif adalah < 3 dan

Phalen’s test

(+), hasil skor pada kuesioner keluhan subjektif ≥ 3 dan Phalen’s

test (-).

1= Tidak, bila hasil skor pada kuesioner untuk keluhan subjektif adalah <3 dan

Phalen’s test (-) (Barnardo, 2004).

(57)

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Alat tulis

Alat tulis adalah alat yang digunakan untuk mencatat, melaporkan hasil penelitian. Alat tersebut adalah pulpen, kertas, pensil dan komputer. 2. Kuesioner terstruktur

Kuesioner ini adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Kuesioner yang digunakan untuk memperoleh data tentang karakteristik responden yaitu lama kerja, masa kerja, usia, dan keluhan subjektif gejala STK.

3. Pemeriksaan fisik

Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan fisik kepada responden yaitu phalen test, tes ini dilakukan kepada pengrajin kain tapis dengan menekuk telapak tangan secara fleksi selama 60 detik. Apabila dalam 60 detik ditemukan gejala STK seperti kesemutan, nyeri, tangan kebas atau seperti mengalami penebalan maka tes ini mendukung diagnosa namun pada tes ini hanya dilakukan oleh seorang mahasiswa.

4. Timbangan dan Microtoice

Alat ini digunakan untuk mengambil data penelitian dari responden berupa berat badan dan tinggi badan yang nantinya dapat menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai penilaian status gizi responden. 5. Kamera

(58)

6. Stopwach

Stopwach merupakan alat yang digunakan untuk mengukur lamanya waktu dimana dalam penelitian ini digunakan sebagai alat ukur untuk melakukan gerakan berulang dan Phalen’s test. Waktu yang diperlukan selama gerakan berulang dan Phalen’s test adalah 60 detik atau selama satu menit.

3.7 Cara Pengambilan Data

Data adalah bahan keterangan tentang suatu obyek penelitian yang diperoleh dilokasi penelitian (Bungin, 2010). Dalam penelitian ini, seluruh data diambil secara langsung dari responden yang meliputi :

1. Penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian. 2. Pengisian informed consent sebagai bukti persetujuan.

3. Responden diberikan kuisioner dan dijelaskan tentang isi pertanyaan sebelum responden menjawab.

4. Pengisian kuesioner oleh para pengrajin.

5. Pemeriksaan STKdengan cara Phalen test oleh peneliti. 6. Penimbangan berat badan dan tinggi badan responden.

(59)
[image:59.595.156.541.147.591.2]

3.8 Alur Penelitian

Gambar 7. Alur Penelitian 1. Tahap Persiapan

Pembuatan Proposal, Perijinan, ethical clearance koordinasi

2. Tahap Penelitian

Pengisian informed Consent

Memasukan data ke komputer

Analisis Data di komputer 3. Tahap Pengelolahan Data

Survei Penelitian

Penjelasan kuesioner dan pengisian kuesioner

Pemeriksaan dan pengambilan data

Pencatatan hasil

(60)

3.9 Pengolahan Data dan Analisis Data

3.9.1 Pengolahan Data

Pengolahan data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diubah ke dalam bentuk tabel-tabel, kemudian data diolah menggunakan program komputer. Proses pengolahan data menggunakan aplikasi program komputer ini terdiri beberapa langkah :

1. Coding adalah kegiatan mengklasifikasikan data-data yang sudah diperoleh. Data yang telah diolah tersebut diberi identitas sehingga memiliki arti tertentu pada saat dianalisis (Bungin, 2010). Coding, untuk menerjemahkan data yang dikumpulkan selama penelitian kedalam simbol yang cocok untuk keperluan analisis.

2. Data entry, memasukkan data-data penelitian yang diperoleh ke dalam komputer melalui program software komputer

3. Verifikasi, memasukkan data pemeriksaan secara visual terhadap data yang telah dimasukkan ke dalam komputer.

4. Output, hasil yang telah dianalisis oleh komputer kemudian dicetak dan disertakan sebagai hasil penelitian.

3.9.2 Analisis Data

(61)

1. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian ini analisa digunakan untuk menentukan distribusi frekuensi variabel bebas yaitu lama kerja, masa kerja, status gizi, usia, dan gerakan repetitif dan variabel terikat yaitu Sindroma Terowongan Karpal.

2. Analisis Bivariat

Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan variabel bebas dimana pada penelitian ini adalah usia, lama kerja, masa kerja, status gizi dan gerakan repetitif dengan variabel terikat yaitu sindroma terowongan karpal. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji chi-square yang merupakan uji komparatif yang digunakan dalam penelitian ini. Uji signifikan antara data yang diobservasi dengan data yang diharapkan dilakukan dengan batas kemaknaan (α<0,05) yang artinya

apabila diperoleh nilai p< α, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel independent dengan variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai kemaknaan (α) yang digunakan sebesar 0,05 dengan tingkat

kepercayaan 95%. 3. Analisis Multivariat

(62)

3.10 Etika Penelitian

(63)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Angka kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung sebesar 33 responden (46,5%).

2. Terdapat hubungan bermakna antara lama kerja dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung.

3. Terdapat hubungan bermakna antara masa kerja dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung.

4. Terdapat hubungan bermakna antara Status gizi dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung.

(64)

6. Tidak terdapat hubungan bermakna antara usia dengan kejadian STK pada pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung.

7. Faktor risiko yang paling berperan pada kejadian STK adalah Status gizi.

5.2. Saran

1.Bagi Dinas Kesehatan / Instansi terkait, diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan seperti konseling atau penyuluhan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada pekerja informal termasuk pengrajin kain tapis sehingga dapat meminimalkan penyakit akibat kerja seperti STK pada pengrajin kain tapis.

2.Bagi Puskesmas Pembantu Desa Bumiratu, perlu dilakukan penyuluhan kesehatan berkala bagi para pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung.

3.Bagi pengrajin kain tapis di Desa Bumiratu Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung perlu melakukan pengaturan pola hidup yang lebih sehat, istirahat berkala dan olahraga ringan disela-sela waktu kerja dan segera berobat ke dokter jika keluhan pergelangan tangan dirasa semakin berat.

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Adamson CH. 2013. Personal and Workplace Psychosocial Risk Factor for Carpal Tunnel Syndrome: A Pooled Study Cohort. Occupational Environment Medicine.7(8):529–37.

Agustin CPM. 2012. Masa Kerja, Sikap Kerja Dan Kejadian Sindrom Karpal Pada Pembatik. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 7(2):170–76.

Al-Musqsith. 2018. Anatomi Dan Biomekanika Sendi Dan Pergelangan Tangan. Aceh: Unimalpress.

American Academy of Orhopedic Surgeons. 2008. Clinical Practice Guideline on the Treatment of Carpla. Journal of Chemical Information and Modeling. 8(16): 41-46.

Bahrudin M. 2011. Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Saintika Medika. 7(1):72-98.

Barcenilla A, March LM, Chen JS, dan Sambrook PN. 2012. Carpal Tunnel Syndrome and Its Relationship to Occupation: A Meta-Analysis. Rheumatology. 51(2):250–261.

Basuki H. 2016. Carpal Tunnel Syndrome. Journal of the Royal Society of Medicine. 59(9):824–27.

Basuki R, Jenie MN, dan Fikri Z. 2015. Faktor Prediktor Carpal Tunnel Syndrome (CTS) Pada Pengrajin Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). [Skripsi]. Lampung: Universitas Muhammadiyah Semarang. 4(2):1–7.

(66)

Darno. 2011. Hubungan Karakteristik Pekerja Dan Gerakan Berulang Dengan Kejadian Carpal Tunnel Syndrome Pada Pemetik Daun Teh. [Skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Daryono, Wibawa A. dan Tianing NW. 2014. Intervensi Ultrasound Dan Free Carpal Tunnel Exercise Lebih Efektif Dibanding Ultrasound Dan Gliding Exercise Terhadap Penurunan Nyeri pada Kasus Carpal Tunnel Syndrome. Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI). 4(2):1–10.

Davis LE, King MK, dan Schultz J. 2005. Carpal Tunnel Syndrome in Fundamentals of Neurologic Disease. New York: Demos Medical.

Dina E dan Yuantari C. 2016. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Risiko Terjadinya Carpal Tunnel Syndrome Pada Perajin Batik Di Kelurahan Pasirsari Kota Pekalongan Tahun 2016. [Skripsi]. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro

Hobby JL, Venkatesh R, dan Motkur P. 2005. The Effect of Age and Gender Upon Symptoms and Surgical Outcomes in Carpal Tunnel Syndrome. Journal of Hand Surgery. 4(6):599–604.

Ibrahim I, Khan WS, Goddard N, dan Smitham P. 2012. Carpal Tunnel Syndrome: A Review of the Recent Literature. The Open Orthopaedics Journal. 6(1):69–76.

International Labor Organization. 2013. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Vol. 33. Swizerland: ILO

International Labor Organization. 2018. Meningkatkan Keselamatan Dan Kesehatan Pekerja Muda. Swizerland: ILO

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia Tahun 2018. Jakarta: Lembaga Penerbitan Badan Litbangkes

Kementrian Kesehatan RI. 2015. Info Datin Situasi Kesehatan Kerja. Jakarta: Kemenkes RI. Jakarta: Lembaga Penerbitan Badan Litbangkes

(67)

Kurniawan B, Jayanti S, dan Setyaningsih Y. 2008. Faktor Risiko Kejadian Carpal Tunnel Syndrome ( CTS ) Pada Wanita Pemetik Melati di Desa Karangcengis Purbalingga. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia 3(1):31–37.

Merijanti LT. 2009. Body Mass Index as Predictor of Carpal Tunnel Syndrome among Garment Workers. Universa Medicina. 28(3):3–8.

Mutiah A, Setyaningsih Y, dan Jayanti S. 2013. Analisis Tingkat Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Dengan The Brieftm Survey Dan Karakteristik Individu Terhadap Keluhan MSDs Pembuat Wajan Di Desa Cepogo Boyolali. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. 2(2):69-78.

Notoatmodjo S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Rambe AS. 2004. Sindrom Terowongan Karpal (Carpal Tunnel Syndrome). USU Digital Library. 2(4):19-33

Ria N. 2018. Proses Pembuatan Tapis Khas Lampung. [21 August 2019] Tersedia di: https://alyntapis.jstore.co/blog/tips-dan-trik/proses-pembuatan-tapis-khas-lampung.

Rohen JW. Yokochi C, dan Lutjen-Drecoll E. 2012. Atlas Anatomi Manusia A Phatographic Study of the Human Body. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins, Wolters Kluwer, Schattauer.

Rohmah S. 2016. Analisis Hubungan Faktor-Faktor Individu Dengan Carpal Tunnel Syndrome (CTS) Pada Pekerja Konveksi. Seminar Nasional IENACO. 2(3):73-79

Salawati L dan Syahrul. 2014. Carpal Tunnel Syndrome. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 14(1):29–37.

Sang A, Djajakusli R dan Russeng S. 2014. Hubungan Risiko Postur Kerja Dengan Keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) Pada Pemanen Kelapa Sawit Di PT. Sinergi Perkebunan Nusantar. [Skripsi]. Makassar: Universitas Hasanudin

(68)

Schneider E, dan Irastorza X. 2010. OSH in Figures: Work-Related Musculoskeletal Disorders in the EU-Facts and Figures. Luxembourg: European Agency for Safety and Health at Work.

Sekarsari D, Pratiwi AD, dan Amrin F. 2017. Hubungan Lama Kerja, Gerakan Repetitif Dan Postur Janggal Pada Tangan Dengan Keluhan Carpal Tunnel Syndrome (CTS) Pada Pekerja Pemecah Batu Di Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2016. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Unsyiah. 2(6):1–9.

Selviyati V, Camelia A, dan Sunarsih E. 2016. Analisis Determinan Kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) Pada Petani Penyadap Pohon Karet Di Desa Karang Manik Kecamatan Belitang II Kabupaten Oku Timur. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. 7(3):198–208.

Supariasa IDN, Bakri B, dan Fajar I. 2002. Penilaian Status Gizi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Kedokteran ECG.

Tamba LMT, dan Pudjowidyanto H. 2008. Karakteristik Penderita Sindroma Terowongan Karpal (STK) Di Poliklinik Instalasi Rehabilitasi Medik RS Dr. Kariadi Semarang 2006. Media Medika Indonesia. 43(1):10–16.

Tana L, Halim FXS, Delima, dan Ryadina W. 2012. Carpal Tunnel Syndrome Pada Pekerja Garmen Di Jakarta. Bulletin of Health Research. 32(2):73-82.

Tana L. 2003. Sindrom Terowongan Karpal Pada Pekerja : Pencegahan Dan Pengobatannya. Jurnal Kedokteran Trisakti. 22(3):99–104.

Urbano FL. 2000. Tinel’s Sign dan Phalen’s Manoeuver: Physical Signs of Carpal Tunnel Syndrome. Hospital Physician. 20(7):39–44.

Figure

Gambar 1. Tulang Karpal Dilihat dari Dorsal & Medial (Lutjen-Drecoll, 2012)
Gambar 2.  Anatomi Terowongan Karpal Potongan Transversal (Lutjen-Drecoll, 2012)
Gambar 3. Tes Phalen (Urbano, 2000)
Gambar 4. Tes Tinnel (Urbano, 2000)
+6

References

Related documents

Thus the empirical investigation in this study suggests that in Zimbabwe the long run causal relationship runs from stock market development and banking sector (financial

while reiterating section 101’s outer bounds. 2008) (“An argument can be made that the Supreme Court has only recognized a process as within the statutory definition when it

Special attention was given to the following indicators: level of health protection costs, in particular expenditure on drugs from personal resources of the population;

The proposed discrete resonant self-oscillating DC/DC converter operable at high speed with high efficiency comprises cascoded power stage, automatic dead time cir- cuitry and

Disney Children can read along or listen to the stories of the Disney movies: “The Little Mermaid,” “The Lion King,” and “Beauty and the Beast.”.. “Museum Mystery”

Overall and indirect effects of variables of self-concept and science achievement on attitude towards science was significant, while the overall impact of parental education

Using evidence from 20 interviews with decision makers from a wide range of industries in the context of cloud service certifications, we find that a decision maker’s

Justice Information Services Division, Uniform Crime Report, Law Enforcement Officers Killed and Assaulted [LEOKA], 2014, Table 1, Law Enforcement Officers Feloniously Killed,