PeRAnAn fAKToR-fAKToR individuAl
dAlAM MengeMBAngKAn uSAhA
Studi Kuantitatif pada Wirausaha Kecil di Salatiga
The enormous number of micro enterprises contributes relatively low to the aggregate economy. This is due to the fact that many small businesses do not grow although it has been run for years. Reluctance to grow may be due to, for instance, the desire to retain ownership or avoidance of loss of satisfaction. This study aims to examine the influence of several individual factors that may affect growth intention. Those factors are the start-up motivation, self-efficacy and risk taking propensity of the business owners. The sample of this study were 50 pedagang kreatif lapangan in Salatiga who are the founder of his/her business. Multiple-regression analyses reveal that start-up motivation and self-efficacy significantly affect growth intention. This means that entrepreneurs who start their business because of some positive reasons and faith have greater intention to grow. The result also indicates that although a micro-entrepreneur has a high degree of risk taking propensity, his/her intention to grow may be low when he/she lacks of neither positive start-up motivation nor a high degree of self-efficacy.
Kontribusi usaha mikro terhadap perekonomian di Indonesia masih relatif kecil. Hal ini disebabkan oleh banyaknya usaha yang tidak berkembang walau telah dijalankan selama bertahun-tahun. Hambatan dalam mengembangkan usaha dapat disebabkan oleh faktor individu si pengusaha, misalnya hasrat untuk mempertahankan kepemilikan atau menghindari kehilangan kenyamanan menjalankan usaha dalam skala kecil. Studi ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh dari beberapa faktor individual yang dapat mempengaruhi keinginan untuk mengembangkan usaha. Faktor-faktor yang dimaksud adalah motivasi positif (pull factor) saat mendirikan usaha, self-efficacy dan risk taking propensity dari pendiri yang masih menjalankan usaha. Sampel dalam studi ini adalah 50 pedagang kreatif lapangan di kota Salatiga yang juga merupakan pendiri usaha. Untuk mengetahui pengaruh faktor individu terhadap keinginan untuk mengembangkan usaha dilakukan analisis regresi berganda. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi derajat pull factor saat mendirikan usaha dan self-efficacy pengusaha, semakin besar pula derajat keinginan untuk mengembangkan usaha. Namun demikian, studi ini tidak dapat membuktikan pengaruh risk taking propensity terhadap keinginan untuk mengembangkan usaha.
Keywords: growth intention, start-up motivation, entrepreneurial self-efficacy, risk taking propensity.
Komala Inggarwati
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga [email protected]Arnold Kaudin
Prasetiya Mulya Business School, Jakarta [email protected]
Abstract
McGraw-hill.
Jegadeesh, N., & S. Titman. (1993). Returns to buying winners and selling losers. Journal of Finance, 25, 469 – 482.
Jegadeesh, N., & S. Titman. (2001). Profitability of momentum strategies and evaluation of alternative explanations. Journal of Finance, 56, 599–720.
Jensen, M., & G. Bennington. (1970). Random walks and technical theories: some additional evidence. Journal of Finance, 25, 469 – 482.
Levine, David M, Stephan, David F., Krehbiel, Timothy C., & Berenson, Mark L.. (2008).
Statistics for Managers using Microsoft Excel. New Jersey: Pearson Education.
Levy, Robert A. ( January – February, 1968). Random Walks: Reality of Myth-Reply.
Financial Analysts Journal, 129 – 132.
Lo, A., & A. Mackinlay. (1999). A Non Random Walk down Wall Street. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Moskowitz, Tobias J. & Grinblatt, Mark. (1999). Does Industry Explain Momentum.
Journal of Finance, 54, 1249-1290.
Navarro, Peter. (2004). When The Market Moves Will You Be Ready. USA: McGraw Hill. Page 130 – 131.
Oberlechner, Thomas. (2001). Fundamental Analysis in the European Foreign Exchange Market. International Journal of Finance and Economics, 6, 81-93.
Ohlson, J. (1995). Earnings, Book Values and dividends in security valuation.
Contemporary Accounting Research, 11, 661 – 687.
Petersen, M. (2008). Estimating standard errors in finance panel data sets: comparing approaches. Review of Financial Studies. Forthcoming
Pring, Martin J.. (2002). Technical Analysis
Explained (4th ed.). USA: McGraw Hill. Page 36 - 45
Schwager, Jack D. (1995). Schwager on Futures : Fundamental Analysis. Canada: Wiley & Sons Inc. Page 228
Schwager, Jack D.. (1999). Getting Started in Technical Analysis. Canada: Wiley & Sons Inc. Page 3
Shim, Jae K., Ph. D, Siegel, Joel G., Ph. D, CPA. (2007). Handbook of Financial Analysis, Forecasting, And Modeling (3rd ed.). O.CCH. United States. Page 202.
Szabo, Andy CFA. (2004). Timing the Stock Market, Charles Dow and His Theory. Greenwich Financial Management Inc.
Taylor, M., & H. Allen. (1992). The use of technical analysis in the foreign exchange market.
Journal of International Money and Finance, 11, 304–314.
Teweles, Richard J., & Bradley, S. Bradley. (1998).
The Stock Market (7th ed.). Canada: Wiley and Sons, Inc.
Thomsett, Michael C. (1998). Mastering
Fundamental Analysis. USA: Dearborn Financial Publishing. Page 3.
Thornsett, Michael C. (2006). Getting Started in Fundamental Analysis. Canada: Wiley. Page 34.
White, Gerald I., Sondhi, Ashwinpaul C., & Fried,
Dov. (2003). The Analysis and Use of
intensi untuk mengembangkan usaha dalam diri seseorang berkembang masih terbatas. Selain itu, sebagian besar studi tersebut bertujuan untuk menjelaskan intensi seseorang dalam mendirikan usaha baru. Studi tentang pengaruh faktor-faktor individual terhadap intensi untuk mengembangkan usaha setelah pendirian usaha di Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh faktor individual terhadap intensi untuk mengembangkan usaha dengan subyek pedagang kreatif lapangan (PKL) di Salatiga. Pemahaman atas faktor yang mempengaruhi pertumbuhan usaha akan bermanfaat bagi para pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam merumuskan program yang sesuai untuk pengembangan usaha mikro yang efektif dan berkelanjutan. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat memperkuat teori kewirausahaan pada level individual khususnya yang terkait dengan pengembangan usaha mikro dan kecil. Dalam tulisan ini dibahas faktor-faktor individual yang meliputi motivasi awal mendirikan usaha, entrepreneurial self-efficacy, dan risk taking propensity dan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap intensi mengembangkan usaha yang merupakan proksi dari pertumbuhan usaha.
Intensi Mengembangkan Usaha sebagai Proksi Pertumbuhan Usaha
Pada umumnya pertumbuhan usaha diukur dari pertumbuhan penjualan, pertambahan tenaga kerja, dan indikator-indikator finansial seperti peningkatan laba, peningkatan nilai aset, return on assets, return on investment dan sebagainya. Pada kasus PKL, indikator-indikator tersebut sulit diperoleh secara akurat mengingat
pada umumnya para pelaku usaha tidak memiliki sistem pencatatan yang memadai atau bahkan tidak pernah mencatat aktivitas keuangan usahanya. Penggunaan indikator-indikator tersebut juga memiliki kelemahan, antara lain karena tidak dapat menggambarkan pertumbuhan usaha secara utuh seperti pertumbuhan dalam sumber daya, perbaikan teknologi, dan dan perluasan pasar yang tidak selalu tercermin dalam penjualan atau laba saat ini (Liao dkk, 2001). Sebagai contoh, tidak semua usaha yang bertumbuh dapat tercermin dalam pertambahan tenaga kerja, karena bisa saja pertumbuhan usaha terjadi karena pemanfaatan kapasitas yang masih menganggur atau karena penggunaan teknologi. Lebih lanjut, walaupun beberapa indikator saling berkorelasi (Janssen, 2009; Shepherd & Wilkund, 2009) akan tetapi beberapa penelitian menunjukkan penggunaan ukuran pertumbuhan yang berbeda memberikan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Janssen (2009) misalnya, menunjukkan bahwa tenaga kerja dan penjualan tidak dapat digunakan secara bergantian (interchangeable) sebagai indikator pertumbuhan karena terbukti faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan dari tenaga kerja dan penjualan berbeda.
Di samping itu, pertumbuhan usaha merupakan proses dinamis yang tidak terjadi secara instan karena motivasi dan perilaku hari ini akan mempengaruhi pertumbuhan usaha di masa yang akan datang (Dutta & Thornhill, 2008; Wiklund & Shepherd, 2003) sehingga mengetahui motivasi dan perilaku pengusaha diharapkan dapat lebih menggambarkan potensi pertumbuhan usaha dibanding menggunakan proksi dari indikator keuangan atau kuantitatif lainnya.
Di
Indonesia, sebagian besar usaha baru yang didirikan merupakan usaha berskala mikro, yaitu usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan dengan aset sebanyak-banyaknya 50 juta rupiah dan omzet sebanyak-banyaknya 300 juta rupiah per tahun (Departemen UKM dan Koperasi, 2009). Walaupun berskala mikro, secara agregat keberadaan usaha-usaha ini mampu menjadi penopang kehidupan sosial dan ekonomi suatu negara melalui kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja dan Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah usaha mikro pada tahun 2008 diperkirakan mencapai 98,9 persen dari seluruh unit usaha yang ada dan menyerap lebih dari 89 persen tenaga kerja di Indonesia di mana kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 32,05 persen dari total PDB (Departemen UKM dan Koperasi, 2009). Berdasarkan data tersebut tampak bahwa kontribusi sosial usaha mikro cukup signifikan akan tetapi kontribusi ekonominya masih dapat ditingkatkan.Kontribusi usaha mikro dalam per-ekonomian dapat ditingkatkan melalui penambahan jumlah unit usaha dan atau meningkatkan besaran usaha yang telah ada. Usaha yang bertumbuh akan mempunyai pasar yang lebih luas, aset yang lebih besar, dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Pertumbuhan usaha juga merupakan indikator keberhasilan usaha dan pembeda antara pelaku usaha yang berjiwa wirausaha dan pelaku yang sekedar memiliki usaha skala kecil (Carland dkk, 1984). Sayangnya, sebagian besar usaha yang ada tidak bertumbuh walaupun usaha tersebut telah dijalankan bertahun-tahun. Oleh karena itu, penting untuk diketahui berbagai faktor yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan usaha.
Pada umumnya faktor-faktor seperti keterbatasan akses terhadap modal, keterbatasan akses pasar, keterbatasan teknologi, kesulitan memperoleh bahan baku berkualitas dengan harga terjangkau, birokrasi yang rumit, pajak, keterbatasan sumber daya, lemahnya kemampuan manajerial, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi dipandang sebagai faktor yang menjadi penyebab tidak bertumbuhnya usaha kecil (Tambunan, 2002; Davidson, 1989). Namun demikian, penghambat pertumbuhan usaha dapat pula bersumber dari diri wirausaha itu sendiri. Tidak semua pelaku usaha menginginkan usahanya bertumbuh. Keengganan bertumbuh dapat disebabkan oleh keinginan wirausaha untuk mempertahankan kepemilikan atau kendali administratif, kekhawatiran pengusaha akan beban kerja yang semakin berat atau kehilangan kepuasan kerja (Kolvereid, 1992). Hal ini menunjukkan bahwa faktor individual wirausaha dapat pula menjadi kendala bagi pertumbuhan usaha.
kuat akan memiliki keinginan yang lebih kuat pula untuk berkembang.
Terdapat berbagai alasan yang mendorong seseorang mengambil keputusan menjadi wirausaha. Alasan-alasan tersebut dapat dikelompokkan menjadi push factors dan
pull factors (Kirkwood, 2009; Williams dkk, 2009; Liao dkk, 2001; Basu & Goswami, 1999; Amit & Muller, 1995; Gilad & Levine, 1986).
Push factors merupakan faktor negatif yang memaksa seseorang untuk menjadi wirausaha seperti kesulitan mencari pekerjaan, gaji yang tidak mencukupi, tidak mempunyai ketrampilan khusus di bidang lain, diskriminasi, konflik di tempat kerja, kehilangan pekerjaan dan sebagainya. Sebaliknya, pull factors merupakan faktor positif yang menarik seperti keinginan untuk mandiri, memanfaatkan peluang yang ada, dan keinginan meningkatkan pendapatan (Basu & Goswami, 1999). Dengan kata lain, sebagian orang mendirikan usaha karena terpaksa sementara lainnya melakukannya karena ketertarikan atau pilihan hidupnya (Basu & Goswami, 1999; Keeble dkk, 1992). Usaha-usaha yang dimulai karena dorongan faktor-faktor negatif secara finansial kurang berhasil jika dibandingkan usaha-usaha yang dimulai karena dorongan faktor-faktor positif (Amit & Muller, 1995). Pull factors bersumber dari dalam diri individu dan menyangkut minat individu yang bersangkutan dalam melakukan suatu tindakan. Maka individu melakukan suatu hal relatif atas keinginannya sendiri tanpa ada unsur keterpaksaan. Inilah yang mengikat individu untuk menjadi lebih berkomitmen terhadap hal yang dilakukannya. Walaupun masih banyak diperdebatkan, namun pull factors nampak lebih penting dari pada push factors dalam
menjelaskan pertumbuhan usaha (Williams dkk, 2009; Basu & Goswami, 1999). Oleh karena itu, studi ini hendak menunjukkan bahwa pull factor dapat mempengaruhi intensi untuk mengembangkan usaha.
H1: Semakin tinggi derajat dorongan faktor-faktor positif dalam mendirikan usaha, semakin tinggi pula intensi untuk mengembangkan usaha.
Entrepreneurial Self-Efficacy (ESE)
Mengacu pada Bandura (1986), self-efficacy
didefinisikan sebagai keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengorganisasi dan mengeksekusi seperangkat tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tertentu (Barbosa dkk, 2007). Semakin kuat keyakinan, semakin besar kemungkinannya tujuan si individu akan dapat dicapai karena baik secara sadar maupun tidak individu mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya secara berkesinambungan untuk mencapai tujuannya. Individu dengan keyakinan kuat akan lebih mampu menghadapi masalah, berusaha menyelesaikan dan mencari jalan keluar jangka panjang.
Self-efficacy dapat mempengaruhi intensi kewirausahaan (Boyd & Vozikis, 1994). Aktivitas yang dijalankan wirausaha, dimulai dari mendirikan usaha, menjalankan, dan kemudian mengembangkannya merupakan suatu proses yang rumit dan berliku. Ketidakpastian iklim usaha dan berbagai hambatan yang bersumber dari dalam usaha dan individu maupun yang terjadi sebagai konsekuensi dari berinteraksi dengan pihak lain adalah sebagian kecil dari permasalahan yang harus diatasi dan dilalui oleh seorang wirausaha. Bandura (1986, dalam Barbosa dkk, 2007) menyatakan Berdasarkan argumen tersebut, dalam studi
ini pertumbuhan usaha akan diukur dari intensi pengusaha untuk mengembangkan usaha.
Intensi untuk mengembangkan usaha merupakan aspirasi dari tingkat pertumbuhan yang hendak dicapai oleh wirausaha (Dutta & Thornhill, 2008). Intensi individu dapat mempengaruhi perilaku seseorang yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kelangsungan hidup, perkembangan, dan pertumbuhan organisasi (Fini dkk, 2009; Ajzen, 1991). Beberapa peneliti menggunakan terminologi yang berbeda untuk menjelaskan intensi mengembangkan usaha seperti growth aspirations (Kolvereid, 1992), growth willingness (Davidsson, 1989) dan growth intention (Edelman dkk, 2010; Dutta & Thornhill, 2008). Intensi untuk mengembangkan usaha dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan usaha atas dasar pemahaman bahwa mengembangkan usaha merupakan tindakan yang terencana. Ajzen (1991) menjelaskan bahwa perilaku seseorang dapat diprediksi dari intensi atau niat berperilakunya. Intensi menunjuk pada seberapa besar seseorang akan berusaha dan mencoba mewujudkan perilaku tertentu. Semakin kuat intensi seseorang untuk melakukan sesuatu, akan semakin besar pula kemungkinan dilaksanakannya niat itu. Studi pada bidang kewirausahaan menunjukkan bahwa intensi kewirausahaan memiliki hubungan dengan perilaku kewirausahaan (Krueger dkk, 2000) dan intensi untuk mengembangkan usaha berhubungan dengan achieved growth
(Sirec & Mocnik, 2010; Wiklund & Shepherd, 2003; Kolvereid & Bullvåg, 1996). Dengan demikian, intensi mengembangkan usaha
dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan usaha.
Faktor-Faktor Individual dan Intensi untuk Mengembangkan Usaha
Fokus dalam penelitian ini adalah karakteristik individual wirausaha, yaitu karakteristik psikologis individu yang dapat menggambarkan mengapa seseorang terdorong untuk berperilaku sebagai wirausaha. Termasuk dalam karakteristik psikologis adalah need for achievement, risk tolerance, self esteem dan self-efficacy, locus of control (Sirec & Mocnik, 2010),karakteristik kepribadian, motivasi, dan aspek kognitif dan sebagainya. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, karakteristik kepribadian seperti percaya diri, extraversion, dan sebagainya tidak memberikan hasil yang meyakinkan dan konsisten (Jung dkk, 2001; De Noble dkk, 1999; Sandberg & Hofer, 1987). Oleh karena itu, dalam penelitian ini karakteristik yang dipilih adalah motivasi awal mendirikan usaha dan dua karakteristik psikologis lain yaitu self-efficacy
dan risk taking propensity. Self-efficacy dan
risk taking propensity disertakan karena kedua variabel tersebut konsisten dalam memprediksi intensi kewirausahaan (Fini dkk, 2009). Dalam penelitian ini kendala eksternal maupun internal yang dihadapi pengusaha diasumsikan sama.
Motivasi Awal Mendirikan Usaha
dihadapkan pada ketidakpastian seperti apakah produk baru dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen atau apakah ada permintaan yang cukup besar sehingga cabang baru perlu dibuka. Dengan demikian, kegiatan pengembangan usaha yang dilakukan wirausaha baik melalui pengembangan produk baru, perluasan pasar, ekspansi usaha, dan sebagainya akan menghadapkan wirausaha pada risiko yang lebih besar. Pengembangan usaha yang dilakukan oleh wirausaha melibatkan kesediaan wirausaha untuk menanggung risiko. Oleh karenanya, kesediaan atau keengganan wirausaha menanggung risiko yang lebih besar dapat menjadi faktor yang mendukung atau menghambat untuk mengembangkan usaha.
Risk taking propensity merupakan indikator untuk mengukur kesediaan seseorang menjalankan aktivitas yang berisiko/tidak berisiko. Orang yang memiliki risk taking propensity yang lebih tinggi akan lebih berani mengambil tindakan-tindakan kewirausahaan. Sebagian besar penelitian
risk taking propensity dalam kewirausahaan dilakukan dengan membandingkan risk
taking propensity yang dimiliki wirausaha dan non-wirausaha dan menunjukkan bahwa wirausaha cenderung memiliki
risk taking propensity yang lebih tinggi (Carland dkk, 1995; Carland dkk, 1984; Brockhaus 1980). Penelitian Zhao dkk (2010) menunjukkan adanya hubungan yang positif antara risk taking propensity dengan intensi berwirausaha. Dalam penelitian ini hendak dikaji kecenderungan wirausaha menanggung risiko dan bagaimana kecenderungan tersebut mempengaruhi intensinya untuk mengembangkan usaha. H3: Semakin tinggi derajat kesediaan
menanggung risiko, semakin tinggi pula intensi mengembangkan usaha
METODE
Model Penelitian
Model yang hendak dikaji dalam penelitian ini disajikan dalam Gambar 1. Model tersebut menggambarkan pengaruh faktor-faktor individual wirausaha terhadap intensi untuk mengembangkan usaha. Terdapat tiga faktor individual dalam penelitian ini yaitu: (1) motivasi awal mendirikan usaha (MAM), Entrepreneurial self-efficacy (ESE),
Motivasi Awal Mendirikan Usaha (MAM)
Entrepreneurial self-efficacy
(ESE)
Intensi mengembangkan
usaha (IMU)
Risk taking propensity
(RTP)
Gambar 1. Kerangka Model Dasar
H1 (+)
H2 (+)
H3 (+) bahwa self-efficacy bersifat task specific
dan seharusnya assessment-nya dilakukan berdasarkan tugas dan perilaku tertentu.
Self-efficacy yang bersifat task specific bagi seorang wirausaha disebut entrepreneurial self-efficacy/ESE (Chen dkk, 1998). Barbosa dkk (2007) mengelompokkan ESE yang terkait dengan tugas-tugas tertentu ( task-specific self-efficacy) dengan mempersempit konsepsi task specific Bandura dan mendasarkannya pada aktivitas-aktivitas wirausaha yang ditelaah dalam penelitian DeNoble dkk (1999) dan Chen dkk (1998). Jenis-jenis task-specific self-efficacy tersebut adalah:
* Opportunity-Identification self-efficacy: persepsi individu terhadap kemampuannya untuk meng-identifikasi dan mengembangkan peluang pasar dan produk baru.
* Relationship self-efficacy: persepsi individu terhadap kemampuan dirinya untuk membina hubungan dengan para penyedia modal.
* Managerial self-efficacy: persepsi individu terhadap kemampuannya dalam pengelolaan keuangan dan mempertimbangkan aspek ekonomi.
* Tolerance self-efficacy: persepsi individu terhadap kemampuannya untuk bekerja produktif dalam situasi yang penuh tekanan, konflik dan dinamis.
Kategorisasi tersebut menunjukkan bahwa konsep relationship self-efficacy
sangat terfokus pada hubungan baik dengan penyedia modal. Pada studi ini konsepsi tersebut diperluas dengan turut menyertakan unsur-unsur hubungan baik dengan pemasok, pelanggan, dan sesama pedagang. Selain itu, managerial self-efficacy
juga dikembangkan dari yang terfokus pada ketrampilan mengelola keuangan menjadi ketrampilan mengelola usaha berdasarkan fungsi-fungsi manajemen yang meliputi keuangan, pemasaran, SDM dan operasi. Menurut Barbosa dkk (2007), kadar dari berbagai task-specific self-efficacy tersebut berbeda-beda berdasarkan preferensi individu terhadap risiko. Misalnya individu yang preferensinya terhadap risiko cenderung tinggi akan memiliki intensi kewirausahaan yang tinggi dan opportunity-seeking self-efficacy-nya juga tinggi. Di lain pihak, individu yang preferensi risikonya rendah memiliki relationship efficacy dan
tolerance efficacy yang tinggi.
Wirausaha yang memiliki keyakinan tinggi akan kemampuannya untuk menangani tugas-tugas tertentu (ESE tinggi) akan mencapai hasil yang lebih positif (misalnya dalam hal mendirikan usaha atau menawarkan produk-produk inovatif) dibanding yang lain (Jung dkk, 2001). Dalam studi ini hendak diketahui hubungan antara ESE dengan intensi untuk mengembangkan usaha dan hipotesis kedua studi ini adalah:
H2: Wirausaha yang memiliki
entrepreneurial self-efficacy yang lebih tinggi akan memiliki intensi yang lebih tinggi untuk mengembangkan usaha
Risk Taking Propensity
Entrepreneurial self-efficacy (ESE). Pengukuran ESE dalam studi ini didasarkan pada empat klasifikasi ESE menurut Barbosa dkk (2007). Sebagai langkah pertama, pertanyaan diadopsi dari De Noble dkk (1999). Kuisioner ESE De Noble dkk disusun berdasarkan hasil wawancara dengan para wirausaha yang kemudian disarikan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan pada berbagai hasil studi mengenai perilaku dan ketrampilan yang idealnya dimiliki wirausaha. Kemudian disusun daftar berisi 35 item perilaku dan ketrampilan wirausaha yang diklasifikasi menjadi enam dimensi teoritis untuk mengukur ESE. Seluruh pertanyaan di-rating menurut Skala Likert 5 dan didasarkan pada pertanyaan: “Seberapa Anda meyakini bahwa Anda mampu menjalankan tugas berikut?” Akhirnya
dengan Analisis Faktor ditentukan 23 buah pertanyaan yang diadopsi dalam studi ini. Pertanyaan-pertanyaan De Noble dkk tersebut kemudian disesuaikan dengan situasi yang diperkirakan relevan dengan aktivitas pengelolaan usaha mikro (PKL) di Salatiga. Dengan demikian tidak semua pertanyaan De Noble dkk diadopsi. Pertanyaan yang diajukan kembali dari kuisioner De Noble dkk adalah yang menurut Barbosa dkk (2007) terklasifikasi sebagai opportunity identification dan
toleranceself-efficacy. Beberapa pertanyaan yang memiliki kesamaan makna dalam konteks Indonesia digabungkan atau dihilangkan salah satunya. Pada klasifikasi
relationship, pertanyaan dikembangkan menjadi relationship dengan pelanggan,
Karakteristik responden Jumlah responden Prosentase
Jenis kelamin (n=50) Laki-laki
Perempuan 2327 4654
Besaran Usaha Penjualan per bulan (n=50) Di bawah Rp 5.000.000
Rp 5.000.000 atau lebih (maks Rp 50 juta)
Jumlah tenaga kerja (n=45) 1 orang
2 orang Lebih dari 3 orang
31 19
17 19 9
62 38
38 42 20
Sosio-ekonomi
Orang tua menjalankan bisnis (n=50) Ya
Tidak
Lamanya menjalankan usaha (n=50) Kurang dari 10 tahun
Lebih dari 10 sampai kurang dari 20 tahun 20 tahun atau lebih
35 15
20 21 9
70 30
40 42 18 Tabel 1. Karakteristik Responden
Sumber: Hasil survei (2010)
dan Risk taking propensity (RTP). Ketiga variabel tersebut diduga mempunyai pengaruh yang positif terhadap intensi mengembangkan usaha (IMU).
Metode Penelitian
Penelitian ini melibatkan 50 PKL yang ditemui di sepanjang jalan utama kota Salatiga. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling dimana PKL yang diteliti adalah pendiri usaha, telah menjalankan usahanya selama minimal tiga tahun dan bersedia menjadi responden. Kepada pedagang yang memenuhi syarat ditawarkan sebuah payung UKSW bila bersedia menjadi responden.
Data diperoleh melalui kuisioner yang terdiri dari lima bagian yang meliputi pertanyaan mengenai data demografis responden, motivasi awal mendirikan usaha, entrepreneurial self-efficacy, risk taking propensity, dan intensi untuk mengembangkan usaha. Selama proses pengisian kuisioner, responden didampingi oleh enumerator.
Responden terdiri dari 23 (46%) orang laki-laki dan 27 (54%) orang perempuan, berusia antara 27 tahun sampai 62 tahun dan mayoritas berpendidikan dasar (28%) dan menengah (SMP 32% dan SMA 28%), hanya enam orang (12%) yang tidak sekolah/tidak lulus sekolah dasar. Dilihat dari besaran usahanya, 31 responden (62%) merupakan pedagang kreatif lapangan dengan omset per bulan di bawah Rp 5.000.000 sedangkan 19 orang (38%) mempunyai omset di atas Rp 5.000.000. Lebih lanjut, 50 persen responden mengaku usahanya tidak bertumbuh atau bahkan menurun dibanding awal usaha. Sementara 62 persen responden menyatakan
usahanya tidak bertumbuh dan mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Tabel 1 menyajikan gambaran responden yang berhasil diperoleh.
Pengukuran Variabel
Intensi untuk mengembangkan usaha.Intensi mengembangkan usaha diukur dengan memberikan sepuluh pernyataan kepada responden tentang rencana pengembangan usaha dalam tiga sampai lima tahun yang akan datang dan ditanyakan seberapa tertariknya mereka terhadap aktivitas-aktivitas tersebut. Jawaban diukur dengan menggunakan skala Likert 1 (sangat tidak tertarik) sampai dengan 5 (sangat tertarik). Jawaban atas pernyataan-pernyataan tersebut dirata-rata untuk memperoleh nilai intensi mengembangkan usaha.
Motivasi mendirikan usaha. Motivasi mendirikan usaha merupakan variabel independen dalam penelitian ini. Mengacu Basu dan Goswami (1999), motivasi menjadi wirausaha diukur dengan seberapa besar
yaitu pertanyaan nomor 4 dan nomor 9 tidak valid sehingga untuk analisis berikutnya, kedua pertanyaan tersebut tidak disertakan. Sementara reliabilitas diukur dengan Cronbach’s alpha di mana bila nilainya lebih dari 0,6 maka instrumen dianggap reliable. Hasil uji reliabilitas menunjukkan seluruh instrumen memiliki nilai Cronbach’s alpha lebih besar dari 0,60 (Tabel 3).
Teknik Analisis
Untuk mengetahui pengaruh motivasi awal mendirikan usaha, entrepreneurial self-efficacy dan risk taking propensity dilakukan analisis regresi berganda. Metode regresi berganda dipilih untuk menggambarkan hubungan linier di antara variabel-variabel tersebut dan dengan mempertimbangkan keterbatasan jumlah sampel. Sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, linearitas, multikolinearitas dan heteroskedastisitas.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menerapkan regresi berganda dengan persamaan:
IMU = β0 + β1MAM + β2ESE + β3RTP + εi (1) dimana:
IMU = skor intensi mengembangkan usaha MAM = skor motivasi awal mendirikan usaha ESE = skor entrepreneurial self-efficacy
RTP = skor risk taking propensity
βi = koefisien regresi
εi = error term
Pengaruh MAM, ESE, dan RTP terhadap IMU dilakukan dengan Uji t dengan Ho: βi = 0 dan Ha: βi ≠ 0.
HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif
Tabel berikut menunjukan statistik deskriptif dari skor jawaban responden:
Rerata skor intensi untuk mengembangkan usaha yang relatif tinggi dengan deviasi standar yang relatif moderat mengindikasikan banyak responden yang berkeinginan untuk mengembangkan usahanya dalam waktu tertentu di masa yang akan datang. Skor minimum yang berada pada nilai tengah range pilihan Skala Likert menunjukkan bahwa setidaknya responden merasa ragu-ragu untuk menjawab tidak menginginkan mengembangkan usahanya. Rerata skor motivasi awal dan entrepreneurial self-efficacy juga berada di atas nilai tengah
Variabel Cronbach’s Alpha Reliabilitas
Motivasi awal (MAM) 0,760 Reliabel
Entrepreneurial self efficacy (ESE) 0,799 Reliabel
Risk taking propensity (RTP) 0,737 Reliabel
Intensi untuk berkembang (IMU) 0,728 Reliabel
Tabel 3. Hasil uji reliabilitas
Sumber: Data diolah (2010)
Tabel 4. Statistik deskriptif
Sumber: Data diolah (2010)
Variabel Mean Deviasi standar Maksimum Minimum
INT 3,88 0,43 4,89 2,78
MAM 3,68 0,62 5,00 2,00
ESE 3,73 0,48 5,00 2,36
RTP 2,77 0,61 4,75 1,75
sesama pedagang, dan aparat sementara pada kuisioner De Noble dkk hanya menyangkut relationship dengan pemodal. Pertanyaan pada klasifikasi managerial
juga dikembangkan, dari hanya didasarkan pada fungsi manajemen keuangan pada kuisioner De Noble dkk, menjadi didasarkan pada fungsi-fungsi manajemen lainnya (Pemasaran, SDM, dan operasi).
Risk taking propensity (RTP). Kesediaan mengambil risiko diukur dengan sepuluh item pernyataan yang dikembangkan oleh Hung dan Tangpong (2010). Pernyataan tersebut dapat digunakan untuk mengukur kesediaan mengambil risiko dalam pengambilan keputusan bisnis secara
umum. Kepada responden ditanyakan apakah mereka setuju atau tidak setuju terhadap setiap pernyataan dengan menggunakan skala Likert 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan 5 (sangat setuju).
Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas dari instrumen penelitian diukur dengan Pearson’s Correlation (Tabel 2). Hasil uji validitas menunjukkan bahwa korelasi dari semua butir pertanyaan pada variabel motivasi awal, entrepreneurial self-efficacy
dan intensi mengembangkan usaha adalah signifikan sehingga instrumen penelitian dinyatakan valid dan dapat mengukur data penelitian. Sedangkan dua buah pertanyaan mengenai risk taking propensity,
Pertanyaan Korelasi Pearson Sig. Validitas Pertanyaan Korelasi Pearson Sig. Validitas
Motivasi awal RTP
Pertanyaan 1 0,666 0,000* Valid Pertanyaan 1 0,354 0,012* Valid
Pertanyaan 2 0,499 0,000* Valid Pertanyaan 2 0,617 0,000* Valid
Pertanyaan 3 0,730 0,000* Valid Pertanyaan 3 0,651 0,000* Valid
Pertanyaan 4 0,712 0,000* Valid Pertanyaan 4 0,263 0,065 Tidak valid
Pertanyaan 5 0,746 0,000* Valid Pertanyaan 5 0,391 0,005* Valid
Pertanyaan 6 0,722 0,000* Valid Pertanyaan 6 0,714 0,000* Valid
ESE Pertanyaan 7 0,649 0,000* Valid
Pertanyaan 1 0,658 0,000* Valid Pertanyaan 8 0,572 0,000* Valid
Pertanyaan 2 0,707 0,000* Valid Pertanyaan 9 0,180 0,210 Tidak valid
Pertanyaan 3 0,691 0,000* Valid Pertanyaan 10 0,659 0,000* Valid
Pertanyaan 4 0,650 0,000* Valid Intensi
Pertanyaan 5 0,690 0,000* Valid Pertanyaan 1 0,474 0,001* Valid
Pertanyaan 6 0,484 0,000* Valid Pertanyaan 2 0,324 0,015* Valid
Pertanyaan 7 0,559 0,000* Valid Pertanyaan 3 0,711 0,000* Valid
Pertanyaan 8 0,321 0,023* Valid Pertanyaan 4 0,652 0,000* Valid
Pertanyaan 9 0,588 0,000* Valid Pertanyaan 5 0,728 0,000* Valid
Pertanyaan 10 0,384 0,006* Valid Pertanyaan 6 0,454 0,001* Valid
Pertanyaan 11 0,556 0,000* Valid Pertanyaan 7 0,425 0,002* Valid
Pertanyaan 8 0,512 0,000* Valid
Pertanyaan 9 0,733 0,000* Valid
Tabel 2. Hasil uji validitas
taking propensity memiliki hubungan positif terhadap intensi namun tidak signifikan. Hasil regresi menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan keinginan pengusaha untuk mengembangkan usahanya adalah motivasi awal ketika mendirikan usaha. Pengusaha mikro yang memulai usahanya karena faktor ketertarikan untuk berbisnis lebih punya keinginan untuk bertumbuh dari pada mereka yang mulainya karena ”keterpaksaan”. Daya tarik menjadi wirausaha seperti kemandirian, potensi meningkatkan pendapatan, memanfaatkan peluang yang ada juga memotivasi wirausaha untuk mengembangkan usahanya. Sebaliknya, individu yang menjadi pengusaha karena tuntutan keadaan atau terpaksa, cenderung kurang mempunyai keinginan bertumbuh. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kepuasan atas status “memiliki pekerjaan” dan atau merasa bahwa usaha yang sekarang dijalankan bukanlah pekerjaan yang diinginkan sehingga mereka menjalankan usaha dengan ala kadarnya saja sebagai batu loncatan atau untuk mengisi waktu. Usaha yang didirikan dan dijalankan juga tidak dimaksudkan untuk diwariskan kepada generasi penerus namun sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karakter psikologis pengusaha mikro yang juga mempengaruhi intensi untuk mengembangkan usaha adalah
entrepreneurial self-efficacy. Mereka yang memiliki keyakinan yang tinggi akan kemampuan untuk menangani aktivitas bisnisnya (entrepreneurial tasks) ternyata memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk mengembangkan usaha dibanding yang derajat keyakinannya yang lebih rendah. Entrepreneurial self-efficacy ini
membuat pengusaha lebih percaya diri dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan bisnis sehingga lebih punya keinginan dan keberanian untuk mengembangkan usaha. Pengusaha yang
self-efficacy-nya rendah, bisa saja tidak berani mengambil keputusan bisnis baru (seperti menambah produk baru atau membuka pasar baru) karena merasa tidak mampu untuk menangani kemungkinan-kemungkinan yang terjadi akibat dari keputusannya tersebut.
Risk taking propensity tidak berpengaruh signifikan terhadap intensi seseorang dalam mengembangkan usaha walau pada persamaan regresi arah hubungannya positif. Artinya, derajat kesediaan mengambil risiko yang lebih tinggi tidak otomatis mendorong seseorang untuk mengembangkan usahanya. Dalam pengambilan keputusan bisnis, risk taking propensity bersifat kontekstual (Hung & Tangpong, 2010). Pada umumnya risk taking propensity memiliki hubungan positif dengan kesediaan seseorang untuk memulai usaha baru. Namun dalam hal pengembangan usaha, studi ini tidak dapat membuktikan adanya hubungan positif antara risk taking propensity dengan intensi. Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa pengusaha, penyebab hal
Tabel 5. Pengaruh Motivasi (MAM), Entrepreneurial Self-efficacy (ESE) dan Risk Taking Propensity (RTP) Terhadap Intensi Mengembangkan Usaha (IMU)
*Signifikan pada α=5%, **Signifikan pada α=10% Sumber: Data diolah (2010)
β Std. error t Sig.
Konstanta 1.773 .507 3.500 .001
MAM .260 .090 2.898 .006*
ESE .198 .117 1.698 .096**
RTP .146 .089 1.647 .106
range Skala Likert, mengindikasikan rerata responden memiliki motivasi awal yang positif saat memulai usahanya dan memiliki
self-efficacy yang cenderung kuat. Selisih nilai maksimum dan minimum dari skor kedua variabel memiliki nilai yang serupa dengan range lebih variatif.
Rerata skor risk taking propensity yang di bawah nilai tengah Skala Likert mengindikasikan lebih banyak responden yang cenderung tidak bersedia mengambil keputusan berisiko. Variasi pada skor jawaban responden relatif besar dengan adanya jarak yang cukup jauh dari nilai maksimum dengan minimum.
Pengaruh Motivasi Awal Mendirikan Usaha, Entrepreneurial Self-efficacy, dan
Risk Taking Propensity terhadap Intensi
Mengembangkan Usaha
Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan usaha. Faktor-faktor tersebut antara lain keterbatasan akses sumber modal, keterbatasan akses pasar dan birokrasi yang rumit, keterbatasan sumber daya, lemahnya kemampuan manajerial, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia dan penguasaan, dan sebagainya. Dalam penelitian ini diasumsikan kendala-kendala tersebut secara umum dihadapi oleh seluruh pengusaha mikro. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada karakteristik psikologis individu pengusahanya yang mungkin dapat menjadi faktor pembeda yang dapat menjelaskan intensi pengusaha untuk mengembangkan usaha. Karakteristik psikologis individu dalam penelitian ini adalah motivasi awal mendirikan usaha,
entrepreneurial self-efficacy dan risk taking propensity.
Sebelum hasil uji regresi berganda atas pengaruh motivasi awal mendirikan usaha, entrepreneurial self-efficacy dan
risk taking propensity terhadap intensi mengembangkan usaha diuraikan, terlebih dulu dibahas hasil uji asumsi klasik. Uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test. Uji terhadap empat variabel menunjukkan nilai
Kolmogorov-Smirnov (Z) yang mempunyai p > 0,05 yang berarti data terdistribusi normal. Hasil uji linearitas menghasilkan nilai koefisien F = 6,286 dengan p = 0,001 sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan linier antara variabel motivasi awal mendirikan usaha, entrepreneurial self-efficacy, risk taking propensity, dan intensi mengembangkan usaha. Hasil uji multikolinearitas menunjukkan tidak terjadi kolinearitas ganda antar variabel bebas karena semua variabel bebas memiliki nilai variance inflation factor (VIF) < 10 atau nilai tolerance (TOL) mendekati 1 (Gujarati 2003: 362-363). Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan metode Glejser. Hasilnya menunjukkan tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas terhadap absolut residualnya (p > 0,05) dengan demikian tidak terdapat gangguan heteroskedastisitas dalam persamaan regresi.
Hasil regresi berganda (Tabel 5) menunjukkan nilai koefisien regresi untuk variabel motivasi awal mendirikan usaha sebesar 0,260 (p = 0,006), entrepreneurial self-efficacy sebesar 0,198 (p = 0,96) dan
2. Institusi-institusi tersebut juga perlu meningkatan kemampuan kewirausahaan bagi wirausaha maupun calon wirausaha, seperti bagaimana melihat peluang, membangun jejaring, praktik-praktik manajemen, teknik menjual, dan sebagainya yang dapat dilakukan melalui seminar-seminar, pelatihan, maupun pendampingan bagi pengusaha mikro sehingga mereka mempunyai self-efficacy yang lebih tinggi, memiliki orientasi bisnis jangka panjang, dan memiliki keinginan untuk mengembangkan usahanya. Diharapkan kegiatan berusaha para pengusaha mikro tidak sekadar menjadi cara menyambung hidup namun juga menjadi cara untuk meningkatkan kualitas hidup si pengusaha, baik kualitas hidup dirinya maupun keturunannya, dengan memiliki usaha yang terus berkembang.
KESIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh beberapa faktor individual yang dapat mempengaruhi intensi untuk mengembangkan usaha. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor individual pengusaha mempunyai pengaruh terhadap intensi mengembangkan usaha. Dalam konteks usaha mikro, karakteristik psikologis yang cenderung mendominasi seseorang untuk berperilaku entrepreneurial
(mengembangkan usaha) adalah motivasi awal mendirikan usaha dan self-efficacy.
Bila usaha didirikan karena dorongan dari dalam diri si pengusaha maka terdapat keinginan yang relatif lebih tinggi untuk mengembangkan usaha. Demikian pula, semakin tinggi derajat self-efficacy si pengusaha, semakin tinggi pula intensi untuk mengembangkan usaha.
Namun demikian, walau seorang pengusaha mikro dalam sampel memiliki derajat risk taking propensity yang cukup tinggi, bila usaha tidak dijalankan karena dorongan faktor-faktor motivasi yang positif atau dengan derajat self-efficacy
yang tinggi terdapat kemungkinan keinginan untuk mengembangkan usaha juga rendah. Dengan kata lain, keberanian mengambil tindakan untuk mengembangkan usaha menjadi tidak relevan tanpa adanya dorongan motivasi awal yang kuat yang terkait dengan tindakan mendirikan usaha.
Keterbatasan dan Saran untuk Penelitian Mendatang
Sampel dalam studi ini masih meliputi pelaku usaha pada berbagai bidang usaha. Terdapat kemungkinan risk taking propensity untuk mengembangkan usaha dipengaruhi oleh bidang usaha yang digeluti responden. Misalnya, risk taking propensity
seseorang saat dirinya hendak membuka toko kelontong mungkin berbeda dengan bila dirinya membuka warung makan. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada kecenderungan mengambil risiko di antara para responden karena bidang usaha yang berbeda-beda. Oleh karena itu penelitian mendatang dapat difokuskan pada suatu bidang usaha tertentu untuk memperkecil bias persepsi yang mungkin terjadi. Selain itu, pada penelitian mendatang pengukuran sikap pengusaha terhadap risiko dapat dilakukan dengan mengganti variabel risk taking propensity dengan tinjauan dari aspek kognitifnya. Misalnya dengan menggunakan risk perception untuk mengetahui hubungan antara persepsi pengusaha terhadap risiko dengan intensi untuk mengembangkan usahanya.
tersebut adalah karena mengembangkan usaha lebih terkait dengan ‘kesediaan’ daripada ‘keberanian’. Pada beberapa pengusaha, mereka tidak bersedia mengembangkan usaha bukan karena tidak berani mengambil risiko tetapi karena sudah merasa cukup dengan skala usaha yang sekarang. Pada situasi seseorang ‘berani’ namun ‘tidak bersedia’, maka pengembangan usaha tidak akan terjadi. Sebaliknya, pada situasi seseorang ‘bersedia’ untuk mengembangkan usaha, walau pada dasarnya memiliki risk taking propensity yang relatif rendah, mungkin saja pengalaman dan skala usaha yang diinginkan dapat mendorong yang bersangkutan untuk tetap mencoba mengembangkan usahanya. Terkait dengan risiko usaha, aktivitas kewirausahaan yang dilakukan seseorang mungkin saja tidak terkait kesediaannya mengambil risiko tetapi lebih terkait dengan bagaimana persepsi seseorang terhadap risiko. Dalam hal ini, aspek kognitif seseorang seperti bagaimana seseorang itu mempersepsikan risiko dapat pula mempengaruhi perilaku kewirausahaannya. Dihadapkan pada situasi yang sama, wirausaha ternyata mempunyai persepsi yang lebih positif dibanding yang bukan wirausaha (Palich & Bagby, 1995). Persepsi yang positif terhadap situasi tertentu itulah yang mendorong seseorang bersedia mengambil tindakan kewirausahaan. Lebih lanjut, sikap seseorang wirausaha terhadap risiko tidaklah homogen. Wirausaha yang memulai usahanya dengan motivasi tertarik (pull factors) ternyata mempunyai toleransi terhadap risiko yang berbeda dibanding dengan wirausaha yang memulai usahanya karena dorongan faktor negatif (Block dkk, 2009).
IMPLIKASI MANAJERIAL
Karena motivasi awal mendirikan usaha merupakan faktor individual yang paling mempengaruhi intensi untuk mengembangkan usaha, maka upaya-upaya untuk mendorong pertumbuhan usaha tidak akan cukup kuat jika pelaku usaha tidak mempunyai motivasi berwirausaha yang positif. Dalam kenyataannya, banyak pengusaha sektor informal yang memulai usahanya karena dorongan faktor negatif (Williams dkk, 2009). Oleh karena itu, implikasi dari hasil penelitian ini adalah:
Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior.
Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179-211.
Amit, R. & Muller, E. (1995). Push and pull entrepreneurship (two types based on motivation). Journal of Small Business and Entrepreneurship, 12(4), 64-80.
Barbosa, S.D., Gerhardt, M.G. & Kickul, J.R. (2007). The role of cognitive style and risk preference on entrepreneurial self-efficacy and entrepreneurial intentions.
Journal of Leadership and Organizational Studies, 13(4), 87-104.
Basu, A. & Goswami, A. (1999). South Asian entrepreneurship in Great Britain: factors influencing growth. International Journal of Entrepreneurial Behaviour & Research, 5(5), 251-275.
Block, J., Sandner, P. & Spiegel, F. (2009). Do risk attitudes differ within group of entrepreneurs? The role of motivation.
Munich Personal RePec Archive, paper no 17587.
Boyd, N. & Vozikis, G. (1994). The influence of self-efficacy on the development of entrepreneurial intentions and actions.
Entrepreneurship Theory and Practice, 18(4), 63-77.
Brockhaus, R.H. (1980). Risk taking propensity of
entrepreneurs. Academy of Management
Journal, 23(3), 509-520.
Carland, J.W., III., Carland, J.A. & Pearce, J.W. (1995). Risk taking propensity among entrepreneurs, small business owners,
and managers. Journal of Business and
Entrepreneurship, 7(1), 15-23.
Carland, J.W., Hoy, F., Boulton, W.R. & Carland, J.A.C. (1984). Differentiating entrepreneurs from small business owners: a conceptualization. Academy of Management Review, 9(2), 354–359.
Chen, C.C., Greene, P.G. & Crick, A. (1998). Does entrepreneurial self-efficacy distinguish entrepreneurs from managers?. Journal of Business Venturing, 13, 295-316.
Davidsson, P. (1989). Entrepreneurship - and after? A study of growth willingness in small firms. Journal of Business Venturing, 4(3), 221-226.
De Noble, A.F., Jung, D. & Ehrlich, S.B. (1999). Entrepreneurial self-efficacy: the development of a measure and its relationship to entrepreneurial action. http://www.babson.edu/entrep/fer/, diunduh Juni 2010.
Dutta, D.K. & Thornhill, S. (2008). The evolution of growth intentions: Toward a
cognition-based model. Journal of Business
Venturing, 23(3), 307–332.
Edelman, L.F., Brush, C.G., Manolova, T.S. & Greene, P.G. (2010). Start-up motivations and growth intentions of minority nascent entrepreneurs. Journal of Small Business Management, 48(2), 174-196.
Fini, R., Grimaldi, R., Marzocchi, G.L. & Sobrero, M. (2009). The foundation of entrepreneurial intention. The Summer Conference 2009 on CBS - Copenhagen Business School.
Gerry, C., Marques, C.S. & Nogueira, F. (2008). Tracking student entrepreneurial potential: personal attributes and the propensity for business start-ups after graduation in a Portuguese. Problems and Perspectives in Management,6(4), 46-54.
Gilad, B. & Levine, P. (1986). A behavioral model of entrepreneurial supply. Journal of Small Business Management, 24(4), 45-54.
Gujarati, D. (2003). Basic econometrics. Edisi 4. New York: McGraw-Hill, 362-363.
Hung, K.T. & Tangpong, C. (2010). General risk propensity in multifaceted business decisions: scale development. Journal of Managerial Issues, 22(1), 88-107.
Janssen, F. (2009). The conceptualisation of growth: Are employment and turnover
interchangeable criteria?. Journal of
Entrepreneurship, 18(1), 2-45.
Jung, D.I., Ehrlich, S.B., De Noble, A.E. & Baik, K.B. (2001). Entrepreneurial self-efficacy and
Referensi
Karena faktor individual berpengaruh terhadap intensi untuk mengembangkan usaha maka dalam penelitian berikutnya bisa dilakukan dengan mengeksplorasi faktor individual lainnya yaitu nilai-nilai filosofis dan budaya yang dimiliki oleh pengusaha karena nilai-nilai tersebut sangat mungkin mempengaruhi sikap
dan perilaku. Misalnya, dalam lingkungan masyarakat tertentu masih terdapat kesan menjadi pegawai, terutama pegawai negeri, memiliki status sosial yang lebih tinggi daripada menjadi pengusaha sehingga kegiatan usaha dipandang sebagai kegiatan sementara yang tidak untuk diwariskan ke generasi penerus.
STRATegi PRoduKTiviTAS
TenAgA KeRJA dAn dAyA SAing
Studi Kasus galangan Kapal Kawasan Pulau Batam dan Jawa
The strength of international competitiveness encouraged a shipyard to reduce cost of materials and labor. Therefore, a shipyard did a measurement to improve the rationalization toward labor productivity. This study aimed to compare the path model from strategies of labor productivity and competitiveness of medium size shipyard in region of Batam and Java. The normality test of questionnaire data at 200 respondents who are competent in the field of shipbuilding through the ratio of skewness and kurtosis did not show normal distribution from the data. Test of model feasibility through PLS algorithm and bootstrapping showed moderate criterion and no significant difference in the variable path for both regions. The first latent variable: shipyard competitiveness is influenced by the strategic policy and labor productivity, while the second latent variable: labor productivity is influenced by work activity, strategic policy, and corporate culture. Test of model segmentation through FIMIX-PLS showed good criterion and no significant difference in the interaction of variable heterogeneity for both regions. The final result of shipyards PLS path modeling showed a consistent relationship between strategic policy and labor productivity in order to increase the Indonesian shipyard competitiveness
Kekuatan daya saing internasional mendorong galangan kapal untuk mengurangi biaya material dan tenaga kerja. Oleh karena itu, galangan kapal melakukan pengukuran untuk meningkatkan rasionalisasi ke arah produktivitas tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan membandingkan model jalur strategi produktivitas tenaga kerja dan daya saing galangan kapal ukuran menengah di kawasan Pulau Batam dan Jawa. Uji normalitas data kuesioner pada 200 responden yang kompeten di bidang pembangunan kapal melalui rasio skewness dan kurtosis tidak menunjukkan distribusi normal dari sebuah data. Uji kelayakan model melalui PLS algorithm dan bootstrapping menunjukkan kriteria sedang dan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jalur variabel untuk kedua kawasan tersebut. Variabel laten pertama: daya saing galangan kapal dipengaruhi oleh kebijakan strategis dan produktivitas tenaga kerja, sedangkan variabel laten kedua: produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh aktivitas kerja, kebijakan strategis, dan budaya perusahaan. Uji segmentasi model melalui FIMIX-PLS menunjukkan kriteria baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam interaksi heterogenitas variabel untuk kedua kawasan tersebut. Hasil akhir dari Shipyard PLS path modeling menunjukkan sebuah hubungan yang konsisten antara kebijakan strategis dan produktivitas tenaga kerja dalam upaya meningkatkan daya saing galangan kapal Indonesia.
Keywords: produktivitas tenaga kerja, daya saing galangan kapal, PLS path modeling
Bagiyo Suwasono
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya [email protected]
Sjarief Widjaja
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya [email protected]
Ahmad Zubaydi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya [email protected]
M. Zaed Yuliadi
PT. PAL Indonesia [email protected]Abstract
its relationship to entrepreneurial action: A comparative study between the US and Korea. Management International, 6(1), 41-54.
Keeble, D., Bryson, J. & Wood, P. (1992). The rise and fall of small service firms in the United
Kingdom. International Small Business
Journal, 11(1), 11-22.
Kementerian koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (2010), Data perkembangan Usaha Mikro, kecil dan Menengah dan Usaha Besar Tahun 2008 s.d 2009, diakses April 2010.
Kirkwood, J. (2009). Motivational factors in a push-pull theory of entrepreneurship.
Gender in Management: An International Journal, 24(5), 346-364.
Kolvereid, L. (1992). Growth aspirations among
Norwegian entrepreneurs. Journal of
BusinessVenturing, 7(3), 209 – 222.
Krueger, N.F., Reilly, M.D. & Carsrud, A.L. (2000). Competing models of entrepreneurial intentions. Journal of Business Venturing, 15(5-6), 411 – 432.
Liao, J., Welsch, H.P. & Pistrui, D. (2001). Environmental and individual determinants of entrepreneurial growth:
An empirical examination. Journal of
Enterprising Culture, 9(3), 253-272.
Nishanta, B. (2008). Influence of personality traits and socio-demographic background of undergraduate students on motivation for entrepreneurial career: the case of Sri Lanka. paper presented at Euro-Asia Management Studies Association (EAMSA) Conference held on 5th December 2008 at Doshisha Business School, Kyoto, Japan.
Palich, L.E. & Bagby, D.R. (1995). Using cognitive theory to explain entrepreneurial risk-taking: Challenging conventional
wisdom. Journal of Business Venturing, 10, 425-438.
Sandberg, W.R. & Hofer, C.W. (1987). Improving new venture performance: The role of strategy, industry structure, and
the entrepreneur. Journal of Business
Venturing, 2, 5-28.
Shane, S.A. (2003). A general theory of entrepreneurship: the individual-opportunity nexus. Edward Elgar Publishing Limited, 61-62.
Shepherd, D. & Wiklund, J. (2009). Are we comparing apples with apples or apples with oranges? Appropriateness of knowledge accumulation across growth
studies. Entrepreneurship Theory and
Practice, January, 105 – 123.
Sirec, K. & Mocnik, D. (2010). How Entrepreneurs’ Personal Characteristics Affect SMES’
Growth. Nase Gospodarstvo, ABI/INFORM
Global, 56 (1/2), 3-12.
Tambunan, T.T.H. (2002). Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia: Beberapa Isu Penting. Jakarta: Salemba Empat.
Wiklund, J. & Shepherd, D. (2003). Aspiring and achieving for growth: The moderating role of resources and opportunities.
Journal of Management Studies, 40(8), 1919-1941.
Williams, C.C., Round, J. & Rodgers, P. (2009). Evaluating the Motives of Informal Entrepreneurs: Some lessons from
Ukraine. Journal of Developmental
Entrepreneurship, 14(1), 59-71.