A. Pengertian Belajar
Istilah belajar sebenarnya telah lama dan banyak dikenal. Bahkan banyak ahli
telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran
diantaranya adalah Sardiman (2008: 21) yang menyatakan bahwa belajar merupakan
perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Lebih lanjut
Hamalik (2004
dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi
, lebih jauh lagi Slameto
(2003: 2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Sebagai akibat dari belajar Abdurrahman (2009: 28)
mengemukakan bahwa belajar merupakan proses dari seorang individu yang
berupaya mencapai tujuan belajar atau yang disebut hasil belajar, yaitu suatu
Terdapat tiga teori utama yang berkaitan dengan belajar, diantaranya adalah teori
belajar behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme.
a. Teori belajar behaviorisme menurut Sudjana (2002) bertolak pada asumsi
bahwa manusia dapat berperilaku pasif (dikontrol oleh stimulus) dan aktif
(dikontrol oleh respon) yang dikenal dengan teori stimulus respon (S R).
Belajar dalam teori ini diartikan sebagai kondisi yang menghasilkan
perubahan perilaku yang timbul terus menerus.
b. Teori belajar kognitivisme
Sudjana (2002) menyatakan bahwa teori belajar kognitif mengasumsikan
bahwa perilaku manusia bersifat interaktif. Teori ini menekankan pada
proses-proses intelektual yang kompleks seperti bahasa, pikiran, pemahaman,
dan pemecahan masalah yang merupakan aspek utama dalam pembelajaran.
Salah satu tokoh teori belajar ini adalah Gagne. Menurut Gagne (dalam
Slameto, 2003) belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan
yang diperoleh dari instruksi. Segala sesuatu yang dipelajari manusia terbagi
menjadi lima kategori, yaitu keterampilan motoris (koordinasi gerakan
badan), informasi verbal (seseorang dapat menjelaskan sesuatu dengan
berbicara, menulis, dan menggambar), kemampuan intelektual, strategi
kognitif, dan sikap.
c. Teori belajar konstruktivisme
Teori ini dikembangkan oleh Piaget dan merupakan perkembangan dari teori
belajar kognitif.
Manusia harus mengonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya
konstruktivisme melibatkan siswa berpikir menyelesaikan masalah, mencari
ide, dan membuat keputusan. Siswa juga akan lebih memahami dan
mengingat lebih lama apa yang ia pelajari karena siswa terlibat langsung
dalam menemukan pengetahuan baru. Hamzah (2008) mengemukakan bahwa
teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa
dalam mengorganisasi pengalaman mereka. Siswa diutamakan untuk
mengonstruksi pengetahuannya melalui asimilasi (penyerapan informasi baru
dalam pikiran) dan akomodasi (menyusun kembali struktur pikiran karena
adanya informasi baru).
B. Pembelajaran Matematika
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional
mendefinisikan pembelajaran sebagai proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam definisi lain
oleh Association for Education Communication and Technology (AECT) (1986:
195), pembelajaran dipandang sebagai suatu proses dimana lingkungan seseorang
secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku
tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi
tertentu. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran di sekolah
pada dasarnya adalah proses penciptaan atau pengondisian sebuah lingkungan
sekolah atau kelas yang memungkinkan siswa belajar.
Dalam sebuah penciptaan dan pengondisian yang ada di kelas, warga kelas
memiliki kendali terhadap penciptaan tersebut dan guru menjadi pendesainnya.
pembelajaran tertentu. Dalam hal ini seorang guru memiliki peran yang sangat
penting dalam proses pembelajaran di kelas. Tugas guru adalah mendesain
termasuk memilih model pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengendalikan pembelajaran dalam kelas sehingga tercipta suasana kelas dan
suasana pembelajaran yang kondusif dan terkondisi untuk belajar.
Berkaitan dengan makna belajar dan hasilnya, Winkel (1996: 53) menyatakan
bahwa belajar merupakan suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan,
pemahaman, keterampilan serta sikap dan perubahan ini bersifat relatif konstan
dan berbekas. Hasil belajar siswa juga ditentukan oleh sejauh mana siswa terlibat
secara mental dalam kegiatan belajar. Keterlibatan ini diartikan sampai sejauh
mana kedekatan siswa dengan objek belajar. Silberman (2006: 27) mengatakan
Masing-masing cara dalam penyajian konsep akan
menentukan pemahaman siswa sehingga jika kedekatan materi belajar terjadi pada
siswa maka siswa akan merasakan adanya keterlibatan mental. Dengan kata lain,
pendekatan atau model pembelajaran yang digunakan guru menentukan sampai
sejauh mana keterlibatan siswa secara mental dalam proses belajar. Pendekatan
dan proses pembelajaran menentukan seberapa banyak muatan atau isi dari suatu
pengalaman yang diperoleh siswa terkait dengan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang diharapkan. Hal ini berarti pendekatan atau model
pembelajaran merupakan faktor dominan dalam menentukan hasil belajar siswa.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pendekatan atau model yang digunakan
yang dapat diperoleh siswa, karenanya pendekatan atau model pembelajaran harus
sedemikian rupa dirancang hingga memuat semua dimensi belajar. Marzano,
Pickering, dan McTighe dalam Udin S. Winataputra dan Tita Rosita (1995: 11)
menyatakan bahwa peristiwa belajar sebagai proses yang saling berkaitan antara
lima dimensi, yaitu (a) dimensi pertama adalah sikap dan persepsi yang positif
mengenai belajar, (b) dimensi kedua adalah memperoleh dan mengintegrasikan
pengetahuan, (c) dimensi ketiga adalah memperluas dan memperbaiki
pengetahuan, (d) dimensi keempat adalah menggunakan pengetahuan secara
bermakna, dan (e) dimensi kelima adalah kebiasaan yang produktif dari
pikirannya.
Matematika sekolah yang selanjutnya disebut matematika merupakan pelajaran di
sekolah yang memuat materi dengan karakteristik yang khas. Ditinjau dari sudut
pandang matematika sebagai pelajaran, Demuth dalam Herman Maier (1985: 8-9)
mengemukakan empat konsepsi: (1) Matematika berorientasi formalis, (2)
Matematika berorientasi pada dunia sekelilingnya, (3) Heuristik yaitu sistem
pelajarnya dilatih untuk menemukan sesuatu secara mandiri dalam pelajaran
matematika, dan (4) Matematika sebagai perkakas. Sejalan dengan pendapat
tersebut, Ebbutt dan Straker dalam Depdiknas (2006: 3-6) mendefinisikan
matematika sebagai berikut: (a) Matematika sebagai penelusuran pola dan
hubungan, (b) Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi,
dan penemuan, (c) Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem
solving), dan (d) Matematika sebagai alat berkomunikasi. Sedangkan materi
pelajaran matematika diklasifikasikan sebagai berikut: (a) fakta (facts), (b)
keterampilan menyelesaikan masalah matematika (problem solving), dan (f)
keterampilan melakukan penyelidikan (investigation).
C. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan salah satu bentuk
model pembelajaran sosial yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme.
Budi Usodo (2008: 13) menjelaskan bahwa siswa yang belajar dalam kelompok
kooperatif akan lebih baik daripada siswa yang belajar secara individual karena
didasarkan pada teori berikut :
1) Motivasi
Struktur tujuan kooperatif menciptakan situasi yang memotivasi siswa agar berhasil
mencapai tujuan pribadi masing-masing anggota dengan lebih dahulu mewujudkan
tujuan kelompok.
2) Kognitif
Teori kognitif dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu teori perkembangan dan
elaborasi kognitif.
a) Teori Perkembangan
Interaksi dengan teman sebaya ternyata memegang peranan yang sangat penting
dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa. Siswa terkadang dapat
melakukan tugas menyampaikan ide-ide yang sulit dengan baik melalui
ungkapan yang dapat diterima dan dimengerti oleh teman sebaya karena dalam
dirinya terdapat kesamaan persepsi untuk membuat dirinya mampu dan percaya
diri sehingga berani untuk mengungkapkan ide tersebut. Siswa dan teman
sebayanya akan mengubah bahasa pendidik (guru) ke dalam bahasa mereka.
perkembangan yang kemudian dikenal dengan Zone Proximum Development
(ZPD). Dalam pandangannya, aktivitas siswa menjanjikan suatu perkembangan.
Apabila siswa pada tingkatan usia yang sama taraf kesulitannya berkisar pada
ZPD siswa. Hasil yang diperoleh pun jauh lebih memuaskan dibandingkan jika
siswa bekerja secara individual.
b) Teori Elaborasi Kognitif
Agar pengolahan informasi dapat berlangsung dengan baik diperlukan beberapa
kegiatan terstruktur dan terkoordinasi atau elaborasi kognitif terhadap suatu
materi pembelajaran. Salah satu elaboratif yang paling efektif adalah presentasi
yaitu siswa menjelaskan suatu materi kepada temannya. Dalam presentasi
tersebut terdapat pembicara dan pendengar, dan diantara keduanya diharapkan
terjadi komunikasi dan interaksi sehingga baik pembicara maupun pendengar
akan dapat mengumpulkan pengalaman belajar lebih banyak. Apabila
dibandingkan dengan belajar sendiri, pembicara akan belajar dengan lebih baik
karena secara logika jika pembicara tersebut telah mampu menjelaskan materi
pada teman-temannya secara tidak langsung tentu pembicara harus sudah
menguasai materi dengan baik.
Pembelajaran kooperatif, menurut Slavin (2005: 4) merupakan pembelajaran yang
merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana siswa berkerja dalam
kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam
mempelajari materi pembelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan
dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan beragumentasi untuk
mengasah pengetahuan yang mereka kuasai dan menutup kesenjangan dalam
pemahaman masing-masing.
Abdurrahman (2009: 123) mengungkapkan ciri-ciri pembelajaran kooperatif
1) Saling ketergantungan positif yang menuntut tiap anggota kelompok saling
membentu demi keberhasilan kelompok.
2) Akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan bahan pelajaran tiap
anggota kelompok dan kelompok diberikan balikan tentang prestasi belajar
anggota-anggota kelompoknya, sehingga mereka saling mengetahui teman
yang memerlukan bantuan.
3) Terdiri dari anak-anak yang berkemampuan atau memiliki karakteristik
heterogen.
4) Pemimpin kelompok dipilih secara demokratis.
5) Semua anggota harus saling membantu dan saling memberi motivasi.
6) Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas, tetapi juga pada upaya
mempertahankan hubungan interpersonal antar anggota kelompok.
7) Keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam kerja gotong royong,
mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan.
8) Pada saat pembelajaran kooperatif sedang berlangsung, guru terus
melakukan observasi terhadap komponen-komponen belajar dan
melakukan intervensi jika terjadi masalah antar anggota kelompok.
9) Guru memperhatikan proses keefektifan proses belajar kelompok.
Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif
adalah suatu model pembelajaran dengan cara membentuk kelompok-kelompok
kecil saat proses pembelajaran berlangsung, sehingga di dalam kelompok tersebut
terjadi aktivitas siswa seperti saling berdiskusi dan beragumentasi, saling
membantu, mengasah kemampuan yang dimiliki, menutup kesenjangan dalam
D. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang sederhana adalah Student Teams
Achievement Divisions (STAD). STAD merupakan model yang baik untuk
permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif.
Sejalan dengan teori belajar kontruktivisme, model pembelajaran STAD dapat
membantu siswa mengonstruksi pengetahuannya lewat dirinya sendiri maupun
melalui interaksi dengan orang lain secara berkelompok. Menurut Slavin (2005:
143-146) STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim,
kuis, skor kemajuan individual, dan rekognisi tim.
a. Presentasi Kelas
Materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam
kelas.Ini merupakan pengajaran langsung atau diskusi pelajaran yang
dipimpin oleh guru. Presentasi kelas ini sama dengan pengajaran biasa
hanya berbeda pada pemfokusan terhadap STAD. Dengan cara ini, para
siswa akan menyadari bahwa mereka harus memperhatikan seksama selama
presentasi kelas karena akan membantu mereka dalam mengerjakan
kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.
b. Tim
Tim terdiri dari 4 5 anggota kelompok dengan memperhatikan perbedaan
kemampuan, jenis kelamin, ras atau suku. Fungsi utama dari tim adalah
memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih
khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa
mengerjakan kuis dengan baik. Tim adalah fitur yang paling penting dalam
melakukan yang terbaik untuk tim, dan tim pun harus melakukan yang
terbaik untuk membantu tiap anggotanya.
c. Kuis
Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, siswa diberikan kuis atau tes
individu. Pada saat tes siswa tidak diperbolehkan membantu satu sama lain.
Sehingga, tiap siswa bertanggung jawab secara individual untuk memahami
materinya. Tes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa.
d. Skor Kemajuan Individual
Gagasan dibalik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada
tiap siswa tujuan kinerja yang dapat dicapai apabila mereka belajar lebih giat
dan memberikan kinerja yang lebih baik daripada sebelumnya. Tiap siswa
dapat memberikan kontribusi poin yang maksimal kepada timnya dalam
sistem skor ini, tetapi tidak ada siswa yang dapat melakukannya tanpa
yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa tersebut sebelumnya dalam
mengerjakan kuis. Siswa selanjutnya akan mengumpulkan poin untuk tim
mereka berdasar tingkat kenaikan skor kuis mereka dibandingkan dengan
skor awal mereka. Kriteria pemberian poin peningkatan dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 2.1 Kriteria Pemberian Poin Peningkatan
Skor Kuis Terakhir Poin Peningkatan
Lebih dari 10 poin dibawah skor dasar 5 poin
10 poin 1 poin di bawah skor dasar 10 poin
Skor dasar sampai 10 poin di atasnya 20 poin
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin
Nilai sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) 30 poin
e. Rekognisi Tim
Rekognisi/penghargaan akan diberikan berdasarkan poin peningkatan
kelompok. Skor kelompok adalah rata-rata dari peningkatan individu dalam
kelompok tersebut. Untuk menghitung peningkatan skor kelompok
digunakan rumus:
Pk =
kelompok anggota
banyaknya
kelompok setiap
individu peningka
poin
jumlah tan
Pk = poin perkembangan kelompok
Kelompok yang memperoleh poin sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan berhak memperoleh penghargaan. Berdasarkan poin
perkembangan kelompok terdapat 3 tingkatan penghargaan yang diberikan
[image:11.595.139.530.445.506.2]seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Kriteria Poin Perkembangan Kelompok
Perkembangan Penghargaan
Pk < 15 poin Baik
Hebat Super Hebat (Slavin, 2009: 160)
E. Hasil Belajar
Belajar merupakan interaksi antara keadaan internal dan proses kognitif siswa
dengan stimulasi dari lingkungan. Proses kognitif tersebut menghasilkan suatu
hasil belajar. Hasil belajar tersebut terdiri dari informasi verbal, keterampilan
intelek, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Hal ini sejalan dengan
teori belajar kognitivisme. Teori ini menekankan pada proses-proses intelektual
merupakan aspek utama dalam pembelajaran. Gagne (dalam Dimyati dan
Mujiono, 2002: 10) menyatakan kelima hasil belajar tersebut sebagai berikut:
1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi verbal
memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan.
2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk
berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan
lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep
konkret dan definisi, dan prinsip.
3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah
dalam memecahkan masalah.
4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan
penilaian terhadap obyek tersebut.
Dimyati dan Mujiono (2002: 3) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan
hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru
tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, sedangkan dari sisi
siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar.
Bukti dari usaha yang dilakukan dalam kegiatan belajar dan proses belajar adalah
hasil belajar yang biasa diukur melalui tes. Hamalik (2002: 146) menyatakan
bahwa hasil belajar (achievement) itu sendiri dapat diartikan sebagai tingkat
sekolah, yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes
mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar setiap
siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil
belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian dan yang
berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan yang
berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna
untuk melakukan perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil
belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut.
F. Disposisi Matematis
Pada teori belajar behaviorisme, belajar diartikan sebagai kondisi yang
menghasilkan perubahan perilaku yang timbul terus menerus. Oleh karena itu
pembelajaran yang baik haruslah mampu mengubah perilaku manusia ke arah
yang lebih baik. Salah satu perilaku baik dalam matematika yang dapat
dipengaruhi oleh pembelajaran adalah disposisi matematis.
Mulyana (2009: 29) mengemukakan disposisi matematis merupakan
kecenderungan siswa dalam memandang dan bersikap terhadap matematika, serta
bertindak ketika belajar matematika. Siswa memerlukan disposisi yang akan
menjadikan mereka gigih dalam menghadapi masalah yang lebih menantang,
untuk bertanggung jawab terhadap belajar mereka sendiri, serta untuk
mengembangkan kebiasaan baik di matematika. Misalnya ketika siswa dapat
pelajar akan menjadi lebih positif. Semakin banyak konsep matematika yang
dipahami, maka siswa akan semakin yakin bahwa matematika dapat dikuasai.
Menurut Sumarmo (2006: 54), disposisi matematis adalah keinginan, kesadaran,
dan dedikasi yang kuat pada diri siswa untuk belajar matematika dan
melaksanankan berbagai kegiatan matematika. Terdapat hubungan yang erat
antara disposisi matematis dan pembelajaran matematika. Pembelajaran
matematika selain untuk meningkatkan hasil belajar atau aspek kognitif siswa,
haruslah juga memperhatikan aspek afektif siswa, yaitu disposisi matematis.
Pembelajaran matematika di kelas harus dirancang khusus sehingga selain dapat
meningkatkan hasil belajar siswa juga dapat meningkatkan disposisi matematis.
Menurut Maxwell (2001), disposisi matematis terdiri dari (1) inclination
(kecenderungan), yaitu bagaimana sikap siswa terhadap tugas-tugas; (2)
sensitivity (kepekaan), yaitu bagaimana kesiapan siswa dalam mengahadapi tugas;
(3) ability (kemampuan), yaitu bagaimana siswa focus untuk menyelesaikan tugas
secara lengkap; dan (4) enjoyment (kesenangan), yaitu bagaimana tingkah laku
siswa dalam menyelesaikan tugas.
Lebih lanjut Wardani (2009: 76) mengungkapkan aspek-aspek yang diukur pada
disposisi matematis antara lain:
1. Kepercayaan diri dengan indikator percaya diri terhadap kemampuan.
2. Keingintahuan dengan indikator sering mengajukan pertanyaan,
antusias/semangat belajar, dan banyak membaca/mencari sumber lain.
3. Ketekunan dengan indikator gigih, perhatian, dan sungguh-sungguh.
4. Fleksibilitas dengan indikator kerja sama atau berbagi pengetahuan,
5. Reflektif dengan indikator senang terhadap matematika.
G. Peran Kemampuan Awal dalam Belajar Matematika
Dalam proses belajar, untuk memahami hal-hal baru orang memerlukan modal
berupa kemampuan yang telah melekat padanya dan yang terkait dengan hal baru
yang akan dipelajari tersebut. Kemampuan yang telah melekat pada seseorang
dan yang terkait dengan hal baru yang akan dipelajari selanjutnya disebut
kemampuan awal.
Muh Ali (1987: 74) berpendapat bahwa seseorang dapat memiliki suatu
kemampuan dengan baik bila sebelumnya telah memiliki kemampuan yang lebih
rendah daripadanya dalam bidang yang sama. Senada dengan pendapat tersebut,
Peaget dalam Paul Suparno (1997: 20-21) menyatakan bahwa setiap level keadaan
dapat dimengerti sebagai akibat dari transformasi tertentu atau sebagai titik tolak
bagi transformasi lain. Hal ini mengacu pada pendapatnya tentang aspek berfikir
operatif yang berkaitan dengan transformasi dari satu level ke level lain dan
berfikir operasi inilah yang memungkinkan seseorang untuk mengembangkan
pengetahuan dari suatu level tertentu ke level yang lebih tinggi.
Dalam teori skema proses belajar adalah proses membentuk dan mengubah
skema. Jonassen, dkk dalam Paul Suparno (1997: 55) menyatakan skema adalah
abstraksi mental seseorang yang digunakan untuk mengerti sesuatu hal,
menemukan jalan keluar, ataupun memecahkan persoalan. Skema disusun dalam
suatu jaringan hubungan konsep-konsep. Orang harus mengisi atribut skemanya
dengan informasi yang benar agar dapat membentuk kerangka pemikiran yang
bahwa proses belajar merupakan proses membentuk dan mengubah skema.
Dalam proses belajar, orang mengadakan perubahan skemanya baik dengan
menambah atribut, memperhalus, memperluas, ataupun mengubah sama sekali
skema lama. Perubahan skema yang kuat terjadi bila orang mengadakan
akomodasi (mengubah konsep yang tidak sesuai) terhadap skema yang telah ia
punyai ketika berhadapan dengan fenomen yang baru, dan perubahan yang lemah
bila orang tersebut hanya mengadakan asimilasi (menggunakan) skema yang lama
ketika berhadapan dengan fenomena yang baru. Selanjutnya, bila dalam proses
belajar terjadi perubahan yang kuat artinya siswa melakukan proses akomodasi
maka hasil belajar yang diperoleh siswa tersebut akan lebih baik dari siswa yang
dalam proses belajar hanya melakukan proses asimilasi. Proses belajar tersebut
adalah proses yang aktif dan beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan
yang telah dipunyai, kemampuan kognitif, dan lingkungan berpengaruh terhadap
hasil belajar.
Demikian halnya dalam bidang matematika, karena matematika merupakan ilmu
yang abstrak dan bersruktur sehingga cara memikirkannya harus menggunakan
abstraksi dan generalisasi, maka kesiapan intelektual merupakan syarat mutlak
bagi seseorang untuk mempelajari matematika. Herman Hudoyo (1979: 93)
menyatakan dalam belajar matematika bila konsep A dan konsep B mendasari
konsep C, maka konsep C tidak mungkin dipelajari sebelum konsep A dan B
dipelajari terlebih dahulu. Demikian pula konsep D baru dapat dipelajari bila
konsep C yang mendahuluinya sudah dipahami, dan seterusnya.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal matematika
siswa sebagai pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya merupakan
matematikanya pada tingkatan yang lebih tinggi. Dengan kata lain kemampuan
awal matematika siswa yang merupakan representasi dari sekumpulan
pengetahuan dan pengalaman tentang matematika yang telah dimiliki siswa
menjadi faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar matematikanya.
H. Kerangka Pikir
Selain aspek kognitif yang berupa hasil belajar, aspek afektif berupa disposisi
matematis juga harus diperhatikan dalam pembelajaran matematika. Kedua hal
ini diperoleh dari pembelajaran matematika yang didesain guru. Dalam penelitian
ini model pembelajaran yang digunakan guru adalah model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dan pembelajaran konvensional. Proses belajar bagi siswa
dengan pembelajaran konvensional lebih sedikit dibandingkan peran guru sebagai
pemberi informasi, sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD
menekankan pada proses belajar bagi siswa dimana siswa mengonstruksikan
informasi sendiri dengan bantuan teman sebayanya. Proses pembelajaran
kooperatif tipe STAD menuntut siswa aktif bersama kelompoknya untuk
menyusun algoritma pengetahuan ke dalam pengetahuannya.
Pembelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang
menekankan pada learning community lebih memberikan pengalaman belajar bagi
siswa, sehingga pembelajaran matematika akan lebih bermakna bagi siswa
selanjutnya siswa akan terlibat langsung secara personal dan secara kelompok
dalam aktivitas matematika Model ini juga memberikan kebebasan pada siswa
untuk mengonstruksi informasi dalam pengetahuannya lewat tanya jawab, belajar
membawa pembelajaran bersifat interaktif yakni terjadi komunikasi banyak arah
antar siswa-siswa dan guru-siswa. Hal ini yang akan mendorong rasa ingin tahu
siswa karena keterbatasan jarak antara guru dengan siswa sangatlah pendek.
Kepercayaan diri siswa akan jauh lebih besar karena mereka merasa informasi
dapat mereka dapatkan lewat siapa saja. Dengan demikian, siswa akan masuk
dalam zona nyaman dalam belajar. Bagi siswa kondisi seperti ini akan lebih
menyenangkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar yang diperoleh melalui
pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD mungkin akan mampu
membuat siswa merasa lebih nyaman dalam belajar sehingga dapat menghasilkan
hasil belajar dan disposisi matematis yang memuaskan.
Dalam pembelajaran konvensional, sering kali siswa berusaha untuk
menyelesaikan sendiri kesulitan yang ada tanpa mengomunikasikannya dengan
siswa lain atau guru. Selain itu pada pembelajaran konvensional guru lebih
banyak memberikan materi atau latihan soal sementara siswa mencatat materi dari
guru tanpa harus mengembangkan materi tersebut. Pembelajaran ini dapat
dikatakan sangat atau agak individualistis yaitu kemajuan siswa dalam belajar
mengikuti jalannya sendiri, tidak ada kontak sosial dan tidak ada interaksi. Oleh
karenanya, pembelajaran konvensional tidak mampu mendorong siswa masuk
dalam zona nyaman dalam belajar. Hal ini justru akan membuat siswa merasa
bosan dalam belajar yang nantinya mungkin akan mengakibatkan hasil belajar dan
disposisi matematis siswa menjadi rendah.
Karakteristik matematika yang tersusun secara hierarkis, meletakkan kemampuan
awal matematika siswa yang merupakan representasi dari sekumpulan
pengetahuan dan pengalaman siswa tentang matematika memungkinkan siswa
Dengan kata lain, kemampuan awal matematika siswa sebagai pengetahuan yang
telah dimiliki siswa sebelumnya merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
hasil belajar matematika. Kemampuan awal matematika siswa dan pengalaman
siswa selama proses belajar berlangsung merupakan modal bagi siswa dalam
membangun konsep matematika yang dimiliki dan disposisi matematisnya. Ini
berarti pada pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD akan mencapai
hasil belajar dan disposisi matematis yang baik jika ditinjau dari masing-masing
tingkat kemampuan awal.
I. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikir dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa.
2) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa jika ditinjau dari masing-masing tingkat kemampuan awal.
3) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap disposisi
matematis siswa.
4) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap disposisi