• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
71
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN

KONSEP MATEMATIS

( Tesis )

Oleh

IRIN IRAWATI SIRAIT

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)

ABSTRACT

DEVELOPING OF PROBLEM SOLVING LEARNING MODEL TO INCREASE UNDERSTAND

MATHEMATICAL CONCEPTS

By

IRIN IRAWATI SIRAIT

This research was conducted to the students of 11th grade at Fransiskus Senior High School Bandar Lampung in the academic year of 2018/2019, aimed at developing problem solving learning model oriented to understand mathematical concepts. This study refers to the Research and Development procedure of Borg and Gall which was simplified into six stages and the resulting product was refined with ASSURE learning design theory. A validation sheet to determine validity, the questionnaire responses of practitioners and students to determine the level of practicality, and a test measuring the ability to understand mathematical concepts to determine effectiveness were used to collect the data. The validity and practicality of the model were analyzed descriptively and the data of ability to understand mathematical concepts was analyzed inferentially. The results show that the problem solving learning model which was oriented to understand mathematical concepts is valid, practical, and effective.

(3)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN

KONSEP MATEMATIS

Oleh

IRIN IRAWATI SIRAIT

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI SMA Fransiskus Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2018/2019, bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran problem solving yang berorientasi terhadap pemahaman konsep matematis. Penelitian ini mengacu pada prosedur Research and Development dari Borg dan Gall yang disederhanakan menjadi enam tahap dan produk yang dihasilkan.Pengumpulan data menggunakan lembar validasi untuk menentukan validitas, angket respon praktisi dan siswa untuk menentukan tingkat kepraktisan, dan instrumen tes yang mengukur pemahaman konsep matematis untuk menentukan keefektifan. Analisis validitas dan kepraktisan model dianalisa secara deskriptif sedangkan data pemahaman konsep matematis dianalisis secara inferensial. Hasil analisis diperoleh bahwa model pembelajaran problem solving berorientasi pemahaman konsep matematis yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif.

(4)

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN

KONSEP MATEMATIS

Oleh

IRIN IRAWATI SIRAIT

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Magister Pendidikan Matematika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Irin Irawati Sirait, dilahirkan pada

tanggal 18 Februari 1992 di Yukum Jaya, Kecamatan

Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah. Penulis

merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dari

pasangan Bapak Hisar Sirait dan Ibu Nurhana

Situmorang.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah di SD Kristen 3 Bandar Jaya

yang diselesaikan pada tahun 2004, kemudian dilanjutkan di SMP Negeri 1

Terbanggi Besar yang diselesaikan pada tahun 2007, kemudian dilanjutkan di

SMA Negeri 1 Terbanggi Besar yang diselesaikan pada tahun 2010. Penulis

menyelesaikan sarjana program studi Pendidikan Matematika di Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2014. Pada tahun 2016 diterima menjadi

mahasiswa Universitas Lampung, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

Jurusan Pendidikan MIPA dengan Program Studi Pascasarjana Pendidikan

(9)

MOTO

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang

(10)

Persembahan

Dengan Mengucap Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

Kupersembahkan karya ini sebagai tanda cinta dan kasih sayangku kepada :

Bapakku Hisar Sirait dan Ibuku tercinta Nurhana Situmorang yang telah membesarkan, mendidik, mencurahkan kasih sayang, dan selalu

mendoakan kebahagiaan dan keberhasilanku.

Abangku Hilton, Kedua kakakku Tio dan Erza, Adikku Kennedy dan David, Keponaanku Samuel serta keluarga besarku yang selalu

memberikan dukungan dan doa.

Para pendidik yang telah membimbingku dengan penuh kesabaran dan menjadikanku semakin berwawasan.

Sahabat-sahabat seperjuangan yang selalu memberi motivasi dan semangat.

(11)

SANWACANA

Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat

dan hidayah-Nya tesisi ini dapat diselesaikan.

Tesis dengan judul “ Pengembangan Model Pembelajaran Problem Solving Untuk

Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis” adalah salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Magister Pendidikan Matematika di Universitas Lampung.

Penulis menyadari bahwa terselesainya penyusunan tesis ini tidak terlepas dari

bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang

tulus ikhlas kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung,

beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan perhatian dan arahan

dalam menyelesaikan tesis.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Direktur Program

Pascasarjana Universitas Lampung, beserta staf dan jajarannya yang telah

memberikan perhatian dan arahan dalam menyelesaikan tesis.

3. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas

Lampung, beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan bantuan tesis.

4. Bapak Dr. Caswita., M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA,

(12)

untuk menyumbangkan ilmu serta memberikan validasi pada perangkat yang

telah dikembangkan.

5. Bapak Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Magister

Pendidikan Matematika dan validator yang telah memberikan penilaian dan

saran perbaikan.

6. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan perhatian,

dan motivasi selama penyusunan tesis sehingga menjadi lebih baik.

7. Ibu Dr. Asmiati, M.Si., selaku dosen pembimbing II yang telah bersedia

meluangkan waktunya untuk konsultasi dan memberi bimbingan, sumbangan

pemikiran, kritik, dan saran selama penyusunan tesis, sehingga tesis ini

menjadi lebih baik.

8. Ibu Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd., selaku dosen penguji I yang telah memberi

masukan, kritik, dan saran kepada penulis serta memberikan kemudahan

dalam menyelesaikan tesis ini.

9. Bapak/Ibu Dosen Magister Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan penulis.

10. Suster M.Pauli FSGM, selaku kepala sekolah SMA Fransiskus Bandar

Lampung beserta wakil, staf, dan karyawan yang telah memberi kemudahan

selama penelitian.

11. Ibu C. Ike Tri Widyastuti, M.Si., selaku guru mitra yang telah banyak

membantu dalam penelitian.

12. Siswa/siswi kelas XI SMA Fransiskus Bandar Lampung tahun pelajaran

(13)

13. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini.

Semoga dengan kebaikan, bantuan dan dukungan yang telah diberikan penulis,

mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah dan semoga tesis ini

bermanfaat.

Bandar Lampung, Januari 2020

Penulis

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Kontruktivisme... 8

B. Model Pembelajaran Problem Solving... 10

C. Pemahaman Konsep Matematis ... 16

D. Kerangka Berpikir... 18

E. Hipotesis Penelitian ... 20

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 21

B. Subjek Penelitian dan Pengembangan ... 21

C. Prosedur Penelitian ... 23

D. Instrumen Penelitian ... 27

E. Teknik Analisis Data ... 37

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 46

(15)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 74

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 76

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Indikator Pemahaman Konsep Matematis ... 17

3.1 Kisi-Kisi Instrumen Validasi Pengembangan Model ... 27

3.2 Kisi-Kisi Instrumen Validasi Silabus ... 28

3.3 Kisi-Kisi Instrumen Validasi RPP ... 28

3.4 Kisi-Kisi Instrumen Validasi LKPD oleh Ahli Materi ... 29

3.5 Kisi-Kisi Instrumen Validasi LKPD oleh Ahli Media ... 29

3.6 Kisi-Kisi Tanggapan Guru Pada Pengembangan Model ... 30

3.7 Kisi-Kisi Tanggapan Siswa Pada Pengembangan Model... 30

3.8 Kisi-Kisi Instrumen Guru Pada LKPD ... 31

3.9 Kisi-Kisi Instrumen Siswa Pada LKPD ... 32

3.10 Validitas Intrumen Tes Pemahaman Konsep Matematis... 34

3.11 Interpretasi Nilai Daya Pembeda ... 35

3.12 Hasil Analisis Daya Beda Soal ... 36

3.13 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran ... 36

3.14 Tingkat Kesukaran Soal... 37

3.15 Interval Nilai Tiap Kategori Penilaian... 39

3.16 Kriteria Kepraktisan Analisis Rata-Rata ... 39

3.17 Kriteria Skor N-Gain ... 40

3.18 Uji Normalitas Skor Posttest Kelas Eskperimen dan Kontrol... 41

3.19 Uji Normalitas Indeks Gain Kelas Eskperimen dan Kontrol ... 41

3.20 Uji Homogenitas Data Postest, dan Indeks Gain ... 42

4.1 Pengembangan Model Pembelajaran... 50

4.2 Hasil Perolehan Skor Validasi Ahli Pengembangan Model ... 56

4.3 Hasil Perolehan Skor Validasi Perangkat Pembelajaran ... 56

(17)

4.5 Hasil Perolehan Skor Validasi LKPD oleh Ahli Media ... 58

4.6 Kategori Penilaian Model Pembelajaran Tanggapan Guru ... 61

4.7 Interval Penilaian Model Pembelajaran Tanggapan Siswa ... 61

4.8 Kategori Penilaian LKPD Tanggapan Guru ... 62

4.9 Kategori Penilaian LKPD Tanggapan Siswa ... 62

4.10 Data Skor Awal Pemahaman Konsep Matematis ... 64

4.11 Data Skor Akhir Pemahaman Konsep Matematis ... 65

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

4.1 Bagan Model Pembelajaran Problem Solving ... 52

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

A. Instrumen Penelitian/Perangkat Pembelajaran

A.1 Model ... 81

A.2 Silabus ... 104

A.3 RPP ... 111

A.4 LKPD ... 124

A.5 Kisi-Kisi... 171

A.6 Soal Tes Pemahaman Konsep Matematis ... 172

A.7 Pedoman Penskoran ... 177

A.8 Kisi-Kisi Angket ... 179

B. Analisis Data B.1 Analisis Validitas Pemahaman Konsep Matematis ... 183

B.2 Analisis Reliabilitas Pemahaman konsep matematis ... 184

B.3 Uji Tingkat Kesukaran Soal ... 185

B.4 Analisis Daya Beda Soal ... 186

B.5 Data Pemahaman Konsep Matematis Kelas Eksperimen ... 187

B.6 Data Pemahaman Konsep Matematis Kelas Kontrol... 188

B.7 Uji Normalitas Pemahaman Konsep Matematis ... 189

B.8 Uji Homogenitas Pemahaman Konsep Matematis ... 191

B.9 Skor N-Gain Kelas Eksperimen ... 192

B.10 Skor N-Gain Kelas Kontrol ... 193

B.11 Uji Normalitas N-Gain ... 194

B.12 N-Gain Peningkatan Pemahaman Matematis ... 195

(20)

C. Validasi

C.1 Analisis Validasi Pengembangan Model ... 197

C.2 Analisis Validasi Perangkat Pembelajaran ... 198

C.3 Analisis Validasi LKPD Oleh Ahli Materi ... 200

C.4 Analisis Validasi LKPD Oleh Ahli Media... 202

C.5 Analisis Angket Tanggapan Guru Terhadap Model ... 204

C.6 Analisis Angket Tanggapan Guru Terhadap LKPD ... 205

C.7 Lembar Penilaian Validasi ... 207

D. Lain-Lain D.1 Surat Izin Penelitian Pendahuluan ... 238

D.2 Surat Izin Penelitian ... 239

(21)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia pendidikan, matematika adalah salah satu mata pelajaran yang selalu

berpengaruh untuk mata pelajaran lainnya sekaligus di kehidupan sehari-hari. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Abdurrahman (2012:153) bahwa matematika perlu

diajarkan kepada siswa karena selalu digunakan dalam segala segi kehidupan,

semua bidang studi memerlukan ketrampilan matematika yang sesuai, dan

memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.

Dengan demikian sangatlah wajar apabila kedudukan matematika menjadi sangat

penting dipelajari untuk siapapun, sejak di bangku sekolah ataupun dalam

kehidupan sehari-hari.

Faktor yang terpenting dalam proses pembelajaran matematika adalah peran guru

karena guru secara langsung berhadapan dengan siswa. Hudojo (2005:4)

menyatakan bahwa peran guru dalam menilai keberhasilan siswa tidak cukup

hanya sekedar dari hasil ujian/tes saja melainkan juga dengan memonitor secara

berkelanjutan dari siswa selama kegiatan berlangsung sehingga tujuan yang

(22)

2

bahwa proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu

dilakukan secara kontinu.

Setiap proses pembelajaran dalam suatu pendidikan harus memiliki tujuan yang

ingin dicapai. Chent dan Wang (2016:457) menyatakan bahwa tujuan dari

pendidikan matematika adalah memiliki siswa yang benar-benar memahami

konsep-konsep matematika daripada sekadar menghapal. Hal ini senada dengan

pernyataan Depdikbud (2016:2) bahwa pendidikan matematika di sekolah

diharapkan memberikan kontribusi bagi siswa agar mampu memahami konsep

dan menerapkan prosedur matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan

demikian, pemahaman konsep matematis sangat diperlukan dalam proses

pembelajaran matematika di sekolah.

Menurut Murizal ( 2012:56 ) pemahaman konsep matematis sangat penting karena

pemahaman terhadap konsep-konsep matematika merupakan dasar untuk belajar

matematika secara bermakna. Namun pada kenyataannya, pemahaman konsep

matematis siswa di Indonesia masih tergolong rendah, terlihat dari hasil

pencapaian Indonesia dalam PISA. Wijaya ( 2012:45 ) manyatakan hal ini

dikarenakan untuk dapat menyelesaikan masalah nyata dalam soal-soal PISA,

siswa harus melalui proses matematisasi yang melibatkan pemahaman

konsep-konsep matematis. Selain itu, Wardhani (2008:10) menyatakan bahwa mampu

mengaplikasikan konsep ke dalam pemecahan masalah merupakan salah satu

(23)

3

Perolehan skor matematika siswa Indonesia dalam PISA tahun 2012 adalah 375,

di bawah skor rata-rata Internasional 494 (OECD, 2014:5). Selain itu, perolehan

skor matematika siswa Indonesia dalam PISA tahun 2015 adalah 403, di bawah

skor rata-rata Internasional 493 (OECD, 2016:7). Hal ini menjadi salah satu

indikasi bahwa pemahaman konsep matematis siswa di Indonesia tergolong

rendah.

Kenyataannya juga terlihat pada hasil observasi yang dilakukan di kelas XI IPA 2

SMA FRANSISKUS Bandar Lampung, diperoleh bahwa banyak siswa yang

mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika. Siswa kesulitan

menyelesaikan soal-soal yang berbeda dari contoh-contoh yang diberikan guru.

Siswa hanya berfokus pada contoh-contoh yang telah diberikan guru. Siswa masih

belum dapat mengungkapkan kembali dengan lengkap konsep yang telah

dipelajari, begitu juga menggunakan konsep dalam pemecahan masalah. Selain

itu, berdasarkan hasil wawancara kepada guru yang mengajar juga, siswa terbiasa

menghapal rumus matematika yang diberikan, bukan memahami konsep

matematikanya. Berdasarkan perolehan data hasil ulangan materi limit fungsi

aljabar juga didapat, bahwa siswa belum memiliki pemahaman konsep matematis

yang baik. Siswa mampu menyelesaikan soal yang sudah pernah dibahas, namun

soal-soal yang berbeda akan membuat siswa tidak mampu menyelesaikannya. Hal

ini mengindikasikan bahwa pemahaman konsep matematis siswa kelas XI IPA 2

(24)

4

Masih banyaknya siswa yang mempunyai pemahaman konsep matematis rendah

juga dikarenakan proses pembelajaran matematika yang dilaksanakan guru di

sekolah. Pembelajaran di sekolah saat ini masih didominasi oleh guru. Guru

secara langsung memberikan materi. Siswa kurang terlibat aktif dalam

mengkonstruksi sendiri pengetahuannya untuk memahami konsep-konsep yang

dipelajari. Siswa tidak banyak terlibat dalam mengkonstruksi pengetahuannya,

hanya menerima saja informasi yang disampaikan searah dari guru. Seringkali

siswa tidak mampu menjawab soal yang berbeda dari contoh yang diberikan guru.

Hal ini dikarenakan siswa hanya mendengar penjelasan guru, mencontoh, dan

mengerjakan latihan mengikuti pola yang diberikan guru, bukan dikarenakan

siswa memahami konsepnya.

Menurut Shadiq (2009:9) bahwa model pembelajaran seperti yang dijelaskan di

atas, dapat dikatakan lebih menekankan kepada siswa untuk mengingat

(memorizing) atau menghapal (rote learning) dan kurang atau malah tidak

menekankan kepada siswa untuk bernalar (reasoning), memecahkan masalah

(problem solving) ataupun pada pemahaman (understanding). Model

pembelajaran tersebut masih digunakan juga oleh guru pada saat observasi di

kelas XI IPA 2. Dengan demikian, model pembelajaran tersebut yang menjadi

salah satu penyebab pemahaman konsep matematis siswa rendah.

Guru seharusnya selalu mempunyai ide-ide baru untuk mengembangkan

pembelajaran seperti model pembelajaran yang harus mendukung dengan

(25)

5

pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk

membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan

pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di dalam kelas atau yang lain.

Dengan demikian, guru harus menyiapkan pembelajaran yang baik dengan

mengembangkan model pembelajaran yang dapat mengembangkan pemahaman

konsep matematis. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan

pemahaman konsep matematis adalah problem solving.

Menurut Hamalik (1999:151) problem solving adalah suatu proses mental dan

intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan

informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.

Hal ini senada dengan pernyataan Janawi (2013:213) menyatakan bahwa model

pembelajaran problem solving merupakan model pembelajaran di mana siswa

dihadapkan pada suatu permasalahan yang harus diselesaikan. Dengan demikian,

model pembelajaran problem solving adalah model pembelajaran yang dapat

membantu siswa dalam menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan,

pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka mengambil kesimpulan

yang tepat. Dengan kata lain, model pembelajaran problem solving menuntut

siswa menggunakan konsep matematika yang dimiliki untuk menjawab suatu

masalah. Semakin sering siswa menggunakan konsep yang telah dimiliki, semakin

meningkat juga pemahaman konsep matematisnya.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti termotivasi untuk

(26)

6

Pembelajaran Problem Solving Untuk Meningkatkan Pemahaman konsep

matematis“.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka rumusan masalah dalam

penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah kevalidan dan kepraktisan hasil pengembangan model

pembelajaran problem solving untuk meningkatkan pemahaman konsep

matematis?

2. Bagaimanakah efektivitas hasil pengembangan model pembelajaran problem

solving untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka ditetapkan tujuan dari penelitian ini adalah

sebagai berikut.

1. Untuk menghasilkan model pembelajaran problem solving yang valid dan

praktis dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis.

2. Untuk menghasilkan model pembelajaran problem solving yang efektif untuk

meningkatkan pemahaman konsep matematis.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian pengembangan ini memiliki beberapa manfaat di antaranya sebagai

(27)

7

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini memiliki manfaat dari segi teoritis yaitu dapat memberikan ide

untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya pembelajaran matematika

SMA yaitu dengan menghasilkan model pembelajaran yang berguna bagi guru

maupun bagi siswa dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis.

2. Manfaat Praktis

a. Guru memperoleh pengetahuan baru tentang model pembelajaran yang baik

untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis.

b. Peneliti mendapatkan kesempatan dalam merancang dan membuat model

pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik materi dan kebutuhan

siswa.

c. Siswa memperoleh model pembelajaran yang bisa membantu mereka dalam

(28)

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Kontruktivisme

Muslich (2007:44) menyatakan bahwa pembelajaran yang berciri konstruktivisme

menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif

berdasarkan pengetahuan terdahulu dan pengalaman belajar yang bermakna.

Thobroni (2015:91) menyatakan bahwa konstruktivisme adalah sebuah teori yang

memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari

kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau

kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas orang lain. Manusia untuk belajar

menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi dan hal yang

diperlukan guna mengembangkan dirinya. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan

Sagala (2007:88) bahwa konstruktivisme merupakan landasan berpikir

pendekatan kontekstual, pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, hasilnya

diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba.

Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan

bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil

dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi

makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah,

(29)

9

siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.

Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep serta kaidah yang siap

dipraktekkan. Manusia harus mengkonstruksinya terlebih dahulu pengetahuan

tersebut dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Karena itu siswa

perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna

bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.

Menurut Suparno (2000:49) prinsip kontruktivisme, seorang guru berperan

sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan

dengan baik. Tekanan ada pada siswa yang belajar bukan guru yang mengajar.

Fungsi mediator dan fasilitator adalah (1) menyediakan pengalaman belajar yang

memungkinkan siswa bertanggungjawab dalam membuat rancangan, proses, dan

penelitian; (2) menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang

keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan

gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide mereka; (3) Guru memonitor dan

mengevaluasi kesimpulan siswa. Hal ini sejalan dengan model pembelajaran

problem solving, yaitu suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan

masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga

dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.

Dengan demikian, kontruktivisme adalah sebuah pendekatan belajar yang

dibangun dari pengetahuan yang direkontruksi oleh siswa sendiri dan siswa

mengembangkan ide-idenya sesuai dengan persepsinya, guru bertindak sebagai

(30)

10

B. Model Pembelajaran Problem Solving

1. Model Pembelajaran

Menurut Rusman (2010:133) model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola

yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka

panjang), merancang bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di

dalam kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan

artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien

untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu

b. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.

c. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.

d. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan : (1) urutan langkah-langkah

pembelajaran, (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4)

sistem pendukung.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran

merupakan suatu perencanaan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran

untuk mencapai tujuan belajar.

2. Model Pembelajaran Problem Solving

Menurut Matlin (2008:331) masalah (problem) merupakan suatu kesenjangan

antara keadaan sekarang dengan tujuan yang ingin dicapai, sementara kita tidak

(31)

11

strukturnya, Matlin (2008:371) menyatakan bahwa masalah dapat dibedakan

menjadi masalah yang terdefinisi dengan baik (well-defined problem) dan tidak

terdefinisi dengan baik atau tidak lengkap (ill-defined problem). Masalah yang

terdefinisi dengan baik adalah situasi masalah yang pernyataan asli, tujuan dan

aturan-aturannya terspesifikasi, sedangkan di dalam matematika terdapat dua

jenis masalah, yaitu masalah yang bertujuan untuk mencari nilai yang dicari dan

masalah yang bertujuan untuk membuktikan kebenaran suatu pernyataan dalam

matematika benar atau salah.

Hidayati (2008:67) menyatakan bahwa model pembelajaran problem solving

didasarkan pada kesadaran terhadap kenyataan, bahwa mengajar bukanlah sekedar

berpidato dan mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Tetapi,

mengajar adalah untuk meneliti dengan seksama, mencari, menyelidiki,

memikirkan, menganalisis, dan sampai menemukan. Sanjaya (2006:214) juga

menyatakan pada metode pemecahan masalah, materi pelajaran tidak terbatas

pada buku saja tetapi juga bersumber dari peristiwa – peristiwa tertentu sesuai

dengan kurikulum yang berlaku. Gulo (2006:111) juga menyatakab bahwa model

pembelajaran problem solving adalah model pembelajaran yang mengajarkan

penyelesaian masalah dengan memberi penekanan pada terselesaikannya suatu

masalah secara menalar.

Hsio dan Chang (2003:391) menyatakan bahwa model pembelajaran problem

solving juga merupakan suatu model pembelajaran yang menyediakan suatu

kondisi tambahan untuk melatih kemampuan berpikir individual siswa,

(32)

12

Janawi (2013:213) menyatakan bahwa model pembelajaran problem solving

merupakan model pembelajaran di mana peserta didik dihadapkan pada suatu

permasalahan. Hamdani (2011:84) juga menyatakan bahwa model pembelajaran

problem solving adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong siswa

untuk mencari dan memecahkan suatu masalah atau persoalan dalam rangka

pencapaian tujuan pengajaran. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan

penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

Berdasarkan pendapat di atas, disimpulkan bahwa model pembelajaran problem

solving adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik mendapat

pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah,

dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam

tim.

3. Tahapan Model Pembelajaran Problem Solving

Sanjaya (2006:217) menyatakan bahwa banyak ahli yang menjelaskan bentuk

penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah. John Dewey seorang ahli

pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah strategi pembelajaran

berbasis masalah yang kemudian dinamakan model pemecahan masalah (problem

solving) sebagai berikut.

a. Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa dalam menentukan masalah yang

akan dipecahkan.

b. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis

(33)

13

c. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa dalam merumuskan pemecahan

masalah berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.

d. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa untuk mencari informasi dalam

upaya pemecahan masalah.

e. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa untuk merumuskan kesimpulan

sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.

f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa

menggambarkan rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan

Polya (1980:5) mengartikan bahwa pemecahan masalah sebagai salah satu usaha

mencari jalan keluar dari satu kesulitan guna mencapai satu tujuan yang tidak

begitu mudah segera untuk dicapai. Polya menyatakan bahwa ada empat tahapan

pemecahan masalah yaitu memahami masalah, membuat rencana pemecahan

masalah, melaksanakan rencana pemecahana masalah, dan menelaah kembali.

Empat tahapan Polya adalah sebagai berikut.

a. Memahami masalah (understanding the problem)

Memahami masalah mengarah kepada identifikasi informasi, fakta yang

diperlukan dalam menyelesaikan masalah. Pada tahap ini, siswa harus dapat

menentukan hal-hal atau apa yang diketahui dan hal-hal atau apa yang

ditanyakan. Apabila diperlukan, siswa dapat membuat diagram atau tabel

atau sket atau grafiknya. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempermudah

dalam memahami masalahnya dan mendapatkan gambaran umum

penyelesaiannya. Siswa juga dituntut untuk mengetahui apa yang ditanyakan,

(34)

14

b. Membuat rencana pemecahan masalah (devising a plan)

Membuat rencana merujuk pada pemodelan dari masalah yang diketahui.

Pada tahap ini, strategi yang sering digunakan di antaranya adalah menebak

dan memeriksa, membuat diagram atau gambar, mencobakan pada soal yang

lebih sederhana, menguji semua kemungkinan, dan mengurutkan

data/informasi.

c. Melaksanakan rencana pemecahan masalah (carrying out the plan)

Melaksanakan rencana merujuk kepada proses perhitungan dan penyelesaian

model matematika dengan setiap kali mengecek kebenaran di setiap langkah.

d. Menelaah kembali (looking back).

Menelaah kembali dapat dimaknai sebagai tahap pemeriksaan kebenaran

langkah dari jawaban.

Menurut Zaif (2013:2) dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika

di sekolah tidaklah cukup hanya diberikan sejumlah besar pengetahuan kepada

para siswa, akan tetapi para siswa perlu memiliki keterampilan untuk membuat

pilihan-pilihan dan menyelesaikan berbagai masalah dengan menggunakan

penalaran yang logis. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir

siswa adalah dengan memberikan sejumlah keterampilan problem-solving

(memecahkan masalah). Keterampilan menyelesaikan masalah tersebut akan

dicapai siswa jika dalam pembelajaran guru mengkondisikan siswa untuk dapat

mengkontruksi pengetahuannya dan memfasilitasi siswa untuk melakukan

aktivitas belajar yang melibatkan pemecahan masalah. Untuk membelajarkan

(35)

15

masalah model Polya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka tahapan

pemecahan masalah Polya tersebut menjadi landasan dalam mengembangkan

model pembelajaran problem solving yang berorientasi pemahaman konsep

matematis.

4. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Problem Solving

Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran problem solving menurut Sanjaya

(2006:220) adalah sebagai berikut.

1. Kelebihan model pembelajaran problem solving.

a. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih

memahami isi pelajaran.

b. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa serta

memberikan kepuasaan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

c. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.

d. Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer

pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

e. Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan

pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang

mereka lakukan.

f. Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa

mata pelajaran matematika, pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan

sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar

(36)

16

g. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk

mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

h. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara

terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah

berakhir.

2. Kekurangan model pembelajaran problem solving

Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan

bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan

merasa enggan untuk mencoba / tidak efektif jika terdapat beberapa siswa

yang pasif.

C. Pemahaman Konsep Matematis

Purwosusilo (2014:32) menyatakan bahwa kemampuan pemahaman matematis

siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa dalam memahami konsep,

memahami rumus dan mampu menggunakan konsep dan rumus tersebut dalam

perhitungan, serta pemahaman siswa tentang skema atau struktur yang dapat

digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas dan sifat pemakaiannya

lebih bermakna. Definisi dari pemahaman konsep (conceptual understanding)

menurut Kilpatrick, Swafford & Findell (2001:116) adalah sebagai kemampuan

siswa untuk memahami konsep, operasi dan relasi yang ada dalam matematika.

Seseorang yang memiliki pemahaman konsep akan mampu mengkonstruksi

(37)

17

baik melalui komunikasi lisan maupun tulis. Pemahaman konsep merupakan

bagian yang paling penting dalam pembelajaran matematika.

Matematika sendiri merupakan ilmu pengetahuan yang diorganisasikan dengan

sistematis dalam rangkaian urutan yang logis (Suherman, 2003:22).

Konsep-konsep pada pembelajaran metematika tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis

dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang

paling kompleks. Dalam matematika terdapat konsep prasyarat sebagai dasar

untuk memahami suatu topik atau konsep selanjutnya. Hal ini sejalan dengan

pernyataan Zulkardi (2003:65) yang menyatakan bahwa mata pelajaran

matematika menekankan pada konsep. Ini berarti bahwa ketika siswa mempelajari

matematika, pemahaman konsep matematis harus terlebih dahulu dimiliki siswa

untuk dapat menyelesaikan soal-soal serta mampu mengaplikasikan pembelajaran

tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan beberapa uraian tentang pemahaman konsep matematis di atas, maka

peneliti menetapkan indikator pemahaman konsep matematis digunakan pada

[image:37.595.114.511.608.738.2]

penelitian yang tertera pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Indikator Pemahaman Konsep Matematis No Indikator Pemahaman Konsep

Matematis Deskripsi

1 Menyatakan ulang secara verbal konsep yang telah dipelajari.

Kemampuan mengungkapkan kembali informasi pada materi yang telah dipelajari.

2 Mengklasifikasi objek-objek berdasarkan dipenuhi atau tidaknya persyaratan untuk membentuk konsep tersebut.

(38)

18

No Indikator Pemahaman Konsep

Matematis Deskripsi

3 Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.

Kemampuan untuk memaparkan konsep secara berurutan yang bersifat matematis. Misalkan siswa diberi permasalahan, siswa mampu menyajikan permasalahan yang diberikan dalam bentuk tabel, grafik, diagram, sketsa, model matematika atau cara lainnya.

4 Menerapkan konsep secara algoritma.

Kemampuan menerapkan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis sebagai suatu algoritma pemecahan masalah

5 Mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal matematika)

Kemampuan mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal matematika) yang berhubungan dengan materi).

Kilpatrick, Swafford & Findell (2001:117)

D. Kerangka Berpikir

Salah satu kemampuan yang penting dalam proses pembelajaran matematika

adalah pemahaman konsep matematis. Pemahaman konsep matematis adalah

kemampuan dasar bagi siswa dalam mengerjakan matematika. Selain itu,

pemahaman konsep matematis juga merupakan tujuan dari pendidikan

matematika. Dengan demikian, pemahaman konsep matematis pada siswa perlu

dikembangkan agar siswa tersebut dapat mengerjakan soal-soal matematika

dengan benar.

Seorang siswa dikatakan memiliki pemahaman konsep yang baik apabila mampu

menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajari, memberikan contoh yang

berbeda dari contoh yang diberikan oleh guru, dan dapat menggunakan konsep

(39)

19

meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa adalah model pembelajaran

problem solving. Model pembelajaran problem solving adalah model

pembelajaran yang dapat membantu individu atau kelompok untuk menemukan

jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki

sebelumnya dalam rangka mengambil kesimpulan yang tepat. Dengan

pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, siswa dapat melatih pemahaman

konsep matematis yang dimiliki untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi.

Semakin sering siswa menggunakan konsep yang telah dimiliki, semakin

meningkat juga pemahaman konsep matematisnya.

Dalam hal ini, pengembangan model pembelajaran problem solving untuk

meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa dibantu dengan LKPD. LKPD

yang dibuat berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran problem solving

dengan memuat indikator pemahaman konsep matematis yang ingin dicapai.

Siswa diharuskan berperan aktif untuk mencari tahu secara mandiri terlebih

dahulu dalam menemukan konsep dari materi yang sedang dipelajari, dan

sesekali bertanya dengan guru jika mengalami kesulitan.

Pada proses pembelajaran problem solving, permasalahan dibangun dari

pengetahuan yang direkontruksi oleh siswa sendiri lewat pengetahuan yang

dimiliki dan siswa mengembangkan ide-idenya sesuai dengan persepsinya, seperti

yang terdapat pada teori kontruktivisme. Pada saat siswa mengkontruksi

pengetahuan yang dimilikinya dan mengembangkan ide-idenya, siswa harus dapat

(40)

20

atas, diharapkan model pembelajaran problem solving, dapat meningkatkan

pemahaman konsep matematis siswa.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan maka dirumuskan suatu hipotesis dalam

penelitian ini adalah:

1. Hipotesis Umum

Pengembangan model pembelajaran problem solving berorientasi

kemampuan pemecahan matematis memenuhi kriteria valid, praktis, dan

efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa.

2. Hipotesis Khusus

a. Hasil pengembangan model pembelajaran problem solving memenuhi

kriteria valid.

b. Hasil pengembangan model pembelajaran problem solving memenuhi

kriteria praktis.

c. Hasil pengembangan model pembelajaran problem solving memenuhi

(41)

21

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan merupakan jenis penelitian dan pengembangan

(Research and Development). Menurut Sugiyono (2012:407), metode penelitian

dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan

produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Dengan kata lain

Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk

menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Dalam

hal ini, produk yang akan dikembangkan adalah model pembelajaran problem

solving untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis.

B. Subjek Penelitian dan Pengembangan

Penelitian ini dilaksanakan di SMA FRANSISKUS Bandar Lampung pada

semester genap tahun pelajaran 2018/2019. Subjek dalam penelitian ini dibagi

dalam beberapa tahap berikut.

1. Subjek studi pendahuluan

Pada studi pendahuluan dilakukan analisis kebutuhan berupa observasi dan

wawancara, dan analisis tingkat kesulitan soal. Subjek pada saat observasi adalah

(42)

22

satu orang guru yang mengajar matematika di kelas XI IPA yaitu C.Ike

Widyastuti, M.Si. Subjek pada analisis tingkat kesulitan soal dan daya beda soal

adalah siswa kelas XII IPA 3 terdiri dari 31 siswa.

2. Subjek validasi pengembangan pembelajaran

Subjek validasi pengembangan pembelajaran dalam penelitian ini adalah Dr.

Sugeng Sutiarso, M.Pd., Dr. Caswita, M.Si.. Dua orang ahli tersebut memvalidasi

desain pengembangan model pembelajaran, materi, dan juga media.

3. Subjek uji coba lapangan awal

Subjek uji coba lapangan awal pada penelitian ini terdiri atas subjek uji coba

lapangan awal pada LKPD dan subjek uji coba lapangan awal pada model

pembelajaran problem solving yang dikembangkan. Subjek uji coba lapangan

awal pada LKPD yaitu enam siswa kelas XI IPA 3 yang sedang menempuh materi

turunan fungsi. Keenam siswa tersebut terdiri dari dua siswa dengan kemampuan

matematis tinggi, dua siswa kemampuan matematis sedang, dan dua siswa

kemampuan matematis rendah. Pengelompokkan kemampuan pemahaman

matematis dilakukan berdasarkan nilai ujian akhir yang diperoleh siswa pada

semester sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kepraktisan produk

sebelum diuji cobakan pada kelas penelitan.

Sedangkan uji coba lapangan awal pada model pembelajaran yang dikembangkan

adalah semua siswa kelas XI IPA 3. Tujuan dari uji coba awal model

pembelajaran yang dikembangkan adalah untuk mengetahui keterlaksanaan

(43)

23

4. Subjek uji coba lapangan

Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling atau

sampel bertujuan, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Teknik purposive sampling digunakan karena diperlukan dua kelas yang homogen

kemampuannya serta dapat mewakili karakteristik populasi. Kenyataannya juga

bahwa pembagian kelas pada kelas XI berdasarkan hasil belajar kelas X pada

semester 2 dengan mendistribusikan secara merata berdasarkan kemampuan

siswa, jenis kelamin, dan suku. Oleh karena itu, pada kelas XI SMA Fransiskus

memiliki kemampuan yang sama pada tiap-tiap kelasnya, dan memiliki

kemampuan yang heterogen pada siswa dalam satu kelasnya.

Dalam penentuan kelas kontrol dan kelas eksperimen didasarkan pada

pertimbangan guru bidang studi matematika kelas XI IPA SMA Fransiskus.

Subjek pada tahap ini adalah siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2. Kelas XI IPA 1

dengan jumlah 33 siswa sebagai kelas kontrol yaitu kelas yang belajar dengan

menggunakan model pembelajaran konvensional. Sedangkan kelas XI IPA 2

dengan jumlah 33 siswa sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang belajar dengan

menggunakan model pembelajaran problem solving berorientasi kemampuan

pemahaman konsep matematis.

C. Prosedur Penelitian

Penelitian pengembangan ini dilakukan dengan mengacu pada prosedur R&D dari

Borg dan Gall (Sukmadinata, 2008:164 ) ada 10 langkah pelaksanaan strategi

(44)

24

1. Research and information colleting ( penelitian dan pengumpulan data).

2. Planning ( perencanaan ).

3. Develop preliminary form of product ( pengembangan desain produk awal ).

4. Preliminary field testing ( uji coba lapangan awal ).

5. Main product revision ( revisi hasil uji coba lapangan awal ).

6. Main field testing (uji coba lapangan ).

7. Operasional product revision (revisi produk hasil uji coba lapangan ).

8. Operasional field testing ( uji pelaksanaan lapangan ).

9. Final product revision ( Penyempurnaan dan produk akhir )

10. Dissemination and implementation ( Disseminasi dan implementasi )

Menurut Sukmadinata (2008:162) dalam penelitian dan pengembangan ini

dijelaskan jika kesepuluh langkah dalam penelitian dan pengembangan diikuti

dengan benar, maka akan dapat menghasilkan suatu produk pendidikan yang

dapat dipertanggungjawabkan. Namun Borg dan Gall (Emzir, 2014:56)

menyatakan bahwa dimungkinkan untuk membatasi penelitian dalam skala kecil

termasuk membatasi langkah penelitian. Penerapan langkah-langkah

pengembangannya disesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Selain itu, dalam

proses pengembangan dilakukan beberapa kali pengujian dan revisi sehingga

meskipun prosedur pengembangan dipersingkat namun di dalamnya sudah

mencakup proses pengujian dan revisi sehingga produk yang dikembangkan telah

memenuhi kriteria produk yang baik, teruji secara empiris dan tidak ada

(45)

25

Hal ini juga dikarenakan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki oleh

peneliti, maka langkah-langkah tersebut disederhanakan menjadi enam langkah

pengembangan sebagai berikut.

1. Penelitian dan Pengumpulan Data (Research & Information Colleting)

Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan penelitian pendahuluan

dengan mencari tahu masalah apa yang dihadapi oleh guru dan siswa pada saat

pembelajaran. Pengumpulan informasi tersebut dilakukan pada guru dan siswa

kelas XI IPA SMA Fransiskus Bandar Lampung. Selain itu, peneliti juga

melakukan studi literatur guna berkaitan dengan pencarian informasi dan data

empiris melalui teori dan penelitian relevan terkait produk yang dikembangkan.

Dalam hal ini produk yang akan dikembangkan adalah model pembelajaran

problem solving. Oleh karena itu, peneliti mencari sumber-sumber yang

relevan untuk mengembangkan model pembelajaran problem solving guna

meningkatkan pemahaman konsep matematis.

2. Perencanaan Penelitian ( Planning)

Setelah dilakukan studi pendahuluan, selanjutnya dilakukan perencanaan

penelitian. Perencanaan penelitian R&D meliputi perumusan untuk

memperkirakan dana, tenaga, dan waktu.

3. Pengembangan desain produk awal (Develop Preliminary of Product)

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran

problem solving berorientasi pemahaman konsep matematis.

(46)

26

Uji coba pengembangan model problem solving dan desain LKPD diberikan

kepada siswa kelas XI IPA 3 SMA Fransiskus Bandar Lampung. Untuk LKPD

yang digunakan dalam pengembangan model pembelajaran problem solving

juga diuji cobakan agar bisa digunakan oleh seluruh siswa kelas eksperimen

dengan baik. Peneliti memberikan angket yang berisi pengembangan model

pembelajaran problem solving dan angket yang berisi uji keterbacaan LKPD

yang digunakan dalam pengembangan model pembelajaran problem solving .

Angket tersebut kemudian dianalisis dan dijadikan sebagai salah satu acuan

untuk melakukan revisi serta penyempurnaan pengembangan model

pembelajaran problem solving.

5. Merevisi hasil uji coba ( Main Product Revision )

Revisi produk dilakukan setelah bimbingan dengan seluruh dosen ahli sesuai

dengan masukan dan saran. Kemudian dibimbing kembali sampai produk

dinyatakan siap untuk diuji coba.

6. Uji coba lapangan (Main Field Testing)

Sebelum melakukan uji coba lapangan, terlebih dahulu siswa pada kelas

eksperimen dan kontrol diberikan pretest, yaitu untuk mengetahui kemampuan

awal pemahaman konsep matematis dan kemampuan awal mengenai materi

yang akan dipelajari. Uji coba lapangan dilakukan untuk mengetahui hasil

penggunaan produk yang telah direvisi. Kemudian kedua kelas diberikan

posttest untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan yang dicapai dan

mengetahui efektivitas dari model pembelajaran problem solving yang

(47)

27

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua jenis instrumen,

yaitu non tes dan tes dengan penjelasannya sebagai berikut.

1. Instrumen Non Tes

Instrumen non tes ini terdiri dari beberapa bentuk yang disesuaikan dengan

langkah-langkah dalam penelitian pengembangan. Instrumen non tes yang

digunakan yaitu pedoman wawancara dan angket. Pedoman wawancara digunakan

saat studi pendahuluan untuk mengetahui kondisi awal siswa. Instrumen nontes

yang kedua berupa angket untuk digunakan pada beberapa tahapan penelitian.

Beberapa jenis angket dan fungsinya dijelaskan sebagai berikut.

a. Angket Validasi Pengembangan Model Pembelajaran Problem Solving

Instrumen untuk memvalidasi pengembangan model pembelajaran problem

solving diserahkan kepada ahli pendidikan. Adapun indikator instrumen

[image:47.595.113.511.552.714.2]

terdapat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1.Kisi- Kisi Instrumen Validasi Pengembangan Model Pembelajaran Problem Solving

Kriteria Indikator Nomor Angket

Teori Pendukung

Teori dalam pengembangan model 1

Konsep dasar pengembangan model 2

Struktur pengembangan model

Latar belakang pengembangan model 3

Tujuan pengembangan model 4

Karakteristik pengembangan model 5 Sistem sosial pengembangan model 6 Sistem pendukung pengembangan model 7

Langkah-langkah pembelajaran 8

Evaluasi dalam penilaian 9

(48)

28

b. Angket Validasi Perangkat Pembelajaran

Adapun kisi-kisi instrumen untuk validasi silabus terdapat pada Tabel 3.2.

Instrumen ini digunakan untuk mengukur kevalidan silabus dalam

pelaksanaan pembelajaran matematika model problem solving yang

berorientasi kemampuan pemahaman konsep matematis pada materi turunan

[image:48.595.116.512.304.363.2]

fungsi aljabar.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Validasi Silabus

Indikator Nomor Angket

Isi yang disajikan 1,2,3,4

Bahasa yang digunakan 5,6

Waktu 7,8,9

Indikator instrumen untuk validasi RPP terdapat pada Tabel 3.3. Instrumen

ini digunakan untuk mengukur kevalidan RPP dalam pelaksanaan

pembelajaran matematika model problem solving yang berorientasi

kemampuan pemahaman konsep matematis pada materi turunan fungsi

aljabar.

Tabel 3.3 Indikator Instrumen Validasi RPP

Indikator Nomor Angket

Perumusan tujuan pembelajaran 1,2,3,4,5

Isi yang digunakan 6,7,8,9,10

Bahasa yang digunakan 11,12,13

Waktu 14,15

c. Angket Validasi LKPD

Instrumen untuk memvalidasi LKPD diserahkan kepada ahli materi. Tujuan

pemberian skala ini adalah menilai kesesuaian isi LKPD dengan model

(49)

29

konsep matematis. Kisi-kisi instrumen validasi LKPD oleh ahli materi tertera

[image:49.595.113.512.187.398.2]

pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Validasi LKPD oleh Ahli Materi

Kriteria Indikator Nomor Angket

Aspek kelayakan Isi

Kesesuaian materi dengan KI dan KD 1,2,3

Keakuratan materi 4,5,6,7,8

Mendorong kreativitas siswa 9 Aspek Kelayakan

Penyajian

Teknik penyajian 10,11

Kelengkapan penyajian 12,13,14

Penyajian pembelajaran 15,16

Koherensi dan keruntutan proses berpikir 17,18 Penilaian pengembangan model pembelajaran problem solving

Karakteristik pengembangan model pembelajaran problem solving

19,20,21,22,23,2 4

d. Angket Validasi LKPD oleh Ahli Media

Instrumen ini digunakan untuk menguji kontruksi LKPD yang

dikembangkan. Adapun kisi-kisi instrumen validasi LKPD oleh ahli media

terdapat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Validasi LKPD oleh Ahli Media

Kriteria Indikator Nomor Angket

Aspek Kelayakan Kegrafikan

Ukuran LKPD 1, 2

Desain Sampul KLPD 3, 4, 5, 6, 7

Desain Isi LKPD 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16 Aspek

Kelayakan Bahasa

Lugas 17, 18, 19

Komunikatif 20, 21

Kesesuaian dengan Kaidah Bahasa

22, 23

Penggunaan istilah, simbol,maupun lambang

[image:49.595.113.513.543.688.2]
(50)

30

e. Angket Tanggapan Guru terhadap Model

Instrumen ini digunakan untuk mengetahui tanggapan guru matematika

mengenai kepraktisan penggunaan model pembelajaran problem solving yang

dikembangkan pada materi turunan fungsi. Adapun indikator instrumen

[image:50.595.112.512.568.702.2]

terdapat pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Indikator Instrumen Tanggapan Guru Matematika

Indikator Nomor Angket

Kejelasan petunjuk penggunaan RPP 1,2,3,4 Ketercapaian kompetensi dan tujuan

pembelajaran

5,6,7,8

Respon siswa 9,10,11

Tingkat kesulitan dalam mengimplementasikan

12,13,14

Keterkucupan waktu 15,16

f. Angket Tanggapan Siswa terhadap Model Pembelajaran

Instrumen ini digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai

kepraktisan dan keterlaksanaan model pembelajaran problem solving yang

dikembangkan pada materi turunan fungsi. Adapun kisi-kisi instrumen untuk

validasi tanggapan siswa dijelaskan pada Tabel 3.7.

Tabel 3.7 Kisi-Kisi Instrumen Tanggapan Siswa

Indikator Nomor Angket

Menarik perhatian siswa 1

Memberikan motivasi 2

Kejelasan materi 3

Penggunaan contoh yang tepat 4 Kemampuan mengelola kelas 5 Penggunaan waktu secara efektif 6 Penekanan nilai karakter 7,8,9

[image:50.595.115.516.569.701.2]
(51)

31

g. Angket Tanggapan Guru terhadap LKPD

Instrumen angket ini diberikan kepada guru mengenai kepraktisan dan

keterlaksanaan LKPD yang telah dibuat dalam pelaksanaan pembelajaran

matematika dengan model pembelajaran problem solving pada materi turunan

fungsi aljabar. Kisi-kisi instrumen yang digunakan untuk validasi dijelaskan

[image:51.595.113.514.301.491.2]

pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8 Kisi-Kisi Instrumen Respon Guru terhadap LKPD

Kriteria Indikator Nomor Angket

Aspek teknik penyajian

Kesesuaian susunan penyajian LKPD 1,2 Kesesuaian gambar/ilustrasi dengan

materi

15,17

Kejelasan teks 16

Aspek kesesuaian bahasa

Kesederhanaan bahas 18,19

Kejelasan struktur kalimat 20

Aspek kesesuaian materi

Kesesuian materi dengan SK dan KD 4,6,7,14,24

Aspek keakuratan materi

Kualitas LKPD terhadap pemahaman dan kemampuan siswa

3,5,8,9,10,13

Aspek kemudahan

Kemudahan penggunaan LKPD 11,12,21,22,23,2 5

h. Angket Tanggapan Siswa terhadap LKPD

Instrumen angket ini diberikan kepada siswa sebagai produk pendukung

berupa LKPD. Angket ini berfungsi untuk mengetahui bagaimana

keterbacaan, ketertarikan siswa, dan tanggapannya terhadap LKPD yang telah

dibuat. Angket yang telah divalidasi dijadikan patokan sebagai dasar untuk

merevisi LKPD. Kisi-kisi instrumen yang digunakan dapat dilihat pada Tabel

(52)
[image:52.595.115.510.138.312.2]

32

Tabel 3.9 Kisi-Kisi Instrumen Respon Siswa terhadap LKPD

Kriteria Indikator Nomor Angket

Aspek tampilan

Kejelasan teks 1, 2, 4, 7, 13

Kesesuaian gambar/ilustrasi dengan materi 15, 17 Aspek

penyajian materi

Kemudahan pemahaman materi 20

Ketepatan penggunaan lambang atau simbol

14

Kelengkapan dan ketepatan sistematika penyajian

3, 11, 23

Kesesuaian contoh dengan materi 18, 19 Aspek

manfaat

Kemudahan belajar 9, 10, 22

Peningkatan motivasi belajar 8, 16, 21 Ketertarikan menggunakan LKPD 5, 6, 12

2. Instrumen Tes

Instrumen ini berupa tes pemahaman konsep matematis. Tes ini diberikan secara

individual dan bertujuan untuk mengukur pemahaman konsep matematis siswa.

Soal tes pemahaman konsep matematis disusun berdasarkan indikator pemahaman

konsep matematis. Untuk memperoleh data pemahaman konsep matematis

diperlukan pedoman penskoran terhadap jawaban siswa untuk tiap nomor soal.

Adapun pedoman penskoran pada penelitian ini disajikan pada Lampiran A.7.

Sebelum tes pemahaman konsep matematis digunakan pada saat uji lapangan,

terlebih dahulu tes tersebut diujicobakan pada kelas lain yang telah menempuh

materi untuk mengetahui validitas, reliabiltas, tingkat kesukaran, dan daya

pembeda soal.

Uji validitas, reliabiltas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal dijelaskan

sebagai berikut.

(53)

33

Validitas yang dilakukan terhadap instrumen tes pemahaman konsep

matematis didasarkan pada validitas isi dan validitas empiris. Validitas isi

dari tes pemahaman konsep matematika ini dapat diketahui dengan cara

membandingkan isi yang terkandung dalam tes pemahaman konsep

matematis dengan indikator pembelajaran yang telah ditentukan. Tes yang

dikategorikan valid yaitu yang telah dinyatakan sesuai dengan kompetensi

dasar dan indikator yang diukur.

Validitas empiris dilakukan pada peserta didik kelas XII IPA 3. Asra

(2015:147) menyatakan bahwa teknik yang digunakan untuk menguji

validitas empiris ini dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product

moment .

= ∑ − (∑ ) (∑ )

∑ − (∑ ) ( ∑ − (∑ ) )

Keterangan:

= koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y N = banyaknya siswa

X = skor siswa pada setiap butir soal = total skor siswa

Penafsiran harga korelasi product moment dengan membandingkan dengan

harga untuk validitas butir instrumen, yaitu 0,339 yang diperoleh dari tabel

product moment. Artinya apabila ≥ 0.339, maka nomor butir soal

tersebut dinyatakan valid. Hasil perhitungan validitas butir soal tes

kemampuan berpikir kritis disajikan pada Tabel 3.10. Perhitungan

(54)
[image:54.595.113.513.140.235.2]

34

Tabel 3.10 Validitas Instrumen Tes Pemahaman Konsep Matematis

No. Soal rxy rTabel Kriteria

1 0,803

0,339

Valid

2 0,795 Valid

3 0,749 Valid

4 0,732 Valid

5 0,667 Valid

b. Reliabilitas

Asra (2015:143) menjelaskan instrumen yang reliabel adalah instrumen yang

bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan

menghasilkan data yang sama. Perhitungan untuk mencari nilai reliabilitas

instrumen didasarkan pada pendapat Arikunto (2009:109 ) yang menyatakan

bahwa untuk menghitung reliabilitas dapat digunakan rumus Alpha, yaitu:

               

2

2 11 1 1 t i n n r Keterangan: 11

r : nilai reliabilitas instrumen (tes)

n

: banyaknya butir soal

 2

i

: jumlah varians skor dari tiap-tiap butir soal

: varians total skor

Sudijono berpendapat bahwa suatu tes dilakukan baik apabila memiliki nilai

reliabilitas ≥ 0,70. Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen

pemahaman konsep matematis, diperoleh nilai koefisien reliabilitas sebesar

0,541. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen yang diuji cobakan memiliki

reliabilitas yang tinggi sehingga instrumen tes ini dapat digunakan untuk

mengukur pemahaman konsep matematis siswa. Hasil perhitungan reliabilitas

uji coba instrumen dapat dilihat pada Lampiran B.2.

(55)

35

c. Daya Pembeda

Daya pembeda suatu butir tes adalah kemampuan suatu soal untuk

membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dan

berkemampuan rendah. Daya pembeda butir tes dapat diketahui dengan

melihat besar kecilnya tingkat diskriminasi atau angka yang menunjukkan

besar kecilnya daya pembeda. Untuk menghitung daya pembeda, terlebih

dahulu diurutkan dari siswa yang memperoleh nilai tertinggi sampai siswa

yang memperoleh nilai terendah. Kemudian diambil 27% siswa yang

memperoleh nilai tertinggi (kelompok atas) dan 27% siswa yang memperoleh

nilai terendah (kelompok bawah). Sudijono (2011:120) mengungkapkan

bahwa menghitung daya pembeda ditentukan dengan rumus:

DP =JA − JBIA

Keterangan :

DP : indeks daya pembeda satu butir soal tertentu

JA : jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah JB : jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah IA : jumlah skor ideal kelompok (atas/bawah)

Hasil perhitungan daya pembeda diinterpretasi berdasarkan klasifikasi yang

[image:55.595.112.513.617.710.2]

tertera dalam Tabel 3.11.

Tabel 3.11 Interpretasi Nilai Daya Pembeda

Nilai Interpretasi

-1.00≤ DP <0,09 Sangat buruk

0,10≤ DP < 0,19 Buruk

0,20 ≤ DP < 0,29 Agak baik, perlu revisi

0,30 ≤ DP < 0,49 Baik

0,50 ≤ DP< 1,00 Sangat Baik

(56)

36

Sebuah butir soal dikatakan baik untuk digunakan adalah butir soal yang

mempunyai daya pembeda ≥ 0,30. Berdasarkan hasil perhitungan analisis

daya beda soal, diperoleh hasil seperti tertera pada Tabel 3.12. Perhitungan

[image:56.595.112.512.250.345.2]

selengkapnya tertera pada Lampiran B.4

Tabel 3.12 Hasil Analisis Daya Beda Soal

No soal Daya beda (DB) Kriteria

1 0,614 Sangat Baik

2 0,3 Baik

3 0,3187 Baik

4 0,362 Baik

5 0,312 Baik

d. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaaran digunakan untuk mengetahui indeks kesukaran suatu

butir soal. Perhitungan tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan rumus:

TK = JI Keterangan:

TK: tingkat kesukaran suatu butir soal

JT : jumlah skor yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang diperoleh IT : jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh peserta didik pada suatu

butir soal

Untuk menginterpretasikan tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan

kriteria indeks kesukaran yang disajikan pada Tabel 3.13.

Tabel 3.13. Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran

Nilai Interpretasi

0,00≤ TK ≤ 0,15 Sangat sukar

0,16≤ TK ≤ 0,30 Sukar

0,31≤ TK ≤ 0,70 Sedang

0,71≤ TK ≤ 0,85 Mudah

0,86≤ TK ≤ 1,00 Sangat mudah

[image:56.595.117.513.632.726.2]
(57)

37

Sudijono (2011:372) menyatakan bahwa suatu tes dikatakan baik jika

memiliki derajat kesukaran sedang, tidak terlalu sukar dan tidak terlalu

mudah. Berdasarkan hasil perhitungan tingkat kesukaran uji coba soal tes

pemahaman konsep matematis, diperoleh hasil seperti tertera pada Tabel

[image:57.595.112.512.276.364.2]

3.14. Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran B.3.

Tabel 3.14 Tingkat Kesukaran Soal

No. Butir Soal Indeks Tingkat Kesukaran Interprestasi

1 0,416 Sedang

2 0,408 Sedang

3 0,477 Sedang

4 0,314 Sedang

5 0,345 Sedang

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan

data lewat instrumen kemudian dikerjakan sesuai prosedur penelitian dan

pengembangan. Dalam penelitian ini teknik analisis data dilakukan untuk

mendapatkan model pembelajaran yang layak digunakan dan berkualitas yang

memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Berikut penjelasan analisis data dari

masing-masing instrumen.

1. Analisis Data Pendahuluan

Data studi pendahuluan berupa hasil observasi, wawancara dianalisis secara

deskriptif sebagai latar belakang diperlukannya pengembangan model

pembelajaran problem solving guna meningkatkan pemahaman konsep

(58)

38

2. Analisis Validasi Angket

Data yang diperoleh saat validasi model problem solving adalah hasil

penilaian validator terhadap pengembangan model pembelajaran problem

solving melalui skala kelayakan. Analisis yang dilakukan berupa deskriptif

kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif berupa komentar dan saran dari

validator dideskripsikan secara kualitatif sebagai acuan untuk memperbaiki

pengembangan model pembelajaran problem solving. Data kuantitatif berupa

skor penilaian untuk model, silabus dan RPP. Data kuantitatif berupa skor

penilaian untuk LKPD divalidasi oleh ahli materi dan ahli media. Langkah

yang dilakukan dalam menganalisis data dari lembar validasi adalah sebagai

berikut.

a. Menjumlahkan seluruh skor yang diberikan ahli untuk seluruh aspek

b. Mengukur tingkat validitas produk pengembangan

Tingkat validitas (P) dihitung menggunakan rumus berikut.

= ∑ 100%

Keterangan :

P : persentase yang dicari

: jumlah nilai jawaban oleh semua ahli Maks : maksimal jumlah skor

Min : minimum jumlah skor

c. Berdasarkan data angket validasi yang diperoleh, kategori penilaian dari

interval nilai untuk menghitung hasil perolehan validasi dari validator

mengenai model pembelajaran, silabus, RPP, dan LKPD ditunjukkan

Figure

Tabel 2.1. Indikator Pemahaman Konsep Matematis
Tabel 3.1.Kisi- Kisi Instrumen Validasi Pengembangan Model PembelajaranProblem Solving
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Validasi Silabus
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Validasi LKPD oleh Ahli Media
+7

References

Related documents

[r]

According to Table 4, in the IFG, the mean of the students depth scores on the pre -test is (62/87) much lower than the post- test (105/80).This result indicates that

The purpose of Senate Bill 744 / House Bill 706 is to provide a process by which the various insurance payers recognize and pay for the benefits they receive from electronic

We present a multi-stage robust optimization model to determine optimal strategic stock levels and layout configuration of the back-up supplier for a supply chain subject to

This scale, supported by an in-depth review of the literature to date and the most advanced mechanisms of empirical validation, comprises four dimensions that characterise the

The diagnostic sensitivity of the RLBH assay to detect fluoroquinolone resistance was calculated to be 95.34%, with the specificity being 100%, as none of the 50 pansusceptible

Several precautions were taken in the experimental pro- cedure involving both the urinary bladder and the gall bladder: 1) the samples of saline were limited to ap- proximately 1 or

Serum B12 levels were determined in 20 patients with megaloblastic anemia, 3 patients with chronic myelogenous leukemia, 4 patients with liver dis- ease, and 35 normal control