PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH PADA TANAH
ULTISOLS DI PERTANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz)
(Skripsi)
Oleh
RUSDIYAN INANTHA
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH PADA TANAH
ULTISOLS DI PERTANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz)
Oleh
RUSDIYAN INANTHA
Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber bahan makanan ketiga di
Indonesia setelah padi dan jagung. Secara umum budidaya ubikayu di Indonesia
menggunakan sistem pengolahan tanah intensif yang bertujuan untuk memicu
kecepatan dekomposisi bahan organik. Akan tetapi pengolahan tanah yang terus
menerus secara sempurna (intensif) mengakibatkan tingkat pencuciaan dan erosi
akan sangat tinggi dan berdampak pada pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu
sistem olah tanah minimum juga dapat digunakan sebagai alternatif lain pengganti
olah tanah intensif dan pemberantasan gulma menjadi bagian penting dalam
sistem olah tanah minimum. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual
dan pengendalian gulma dapat pula dilakukan menggunakan herbisida.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh (1) sistem olah tanah
(2) aplikasi herbisida terhadap beberapa sifat kimia tanah pada tanah ultisols di
pertanaman ubikayu. Serta interaksi (3) sistem olah tanah dan aplikasi herbisida
terhadap beberapa sifat kimia tanah pada tanah ultisols di pertanaman ubikayu.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium terpadu Fakultas Pertanian dan di
Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini
disusun dari faktorial 2 x 2 dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan
terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama terdiri dari 2 perlakuan yaitu sistem olah
tanah intensif (OTI) dengan simbol T1dan olah tanah minimum (OTM) dengan
simbol T0. Faktor kedua terdiri dari 2 perlakuan yaitu disemprot dengan herbisida
dengan simbol H1dan tanpa disemprot dengan herbisida dengan simbol H0. Data
yang diperoleh diuji dengan uji Bartlett, aditivitas data diuji dengan uji Tukey.
Jika asumsi terpenuhi data dianalisis dengan sidik ragam dan perbedaan nilai
tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) sistem olah tanah tidak berpengaruh
terhadap C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd, pH, dan KTK tanah pada 2 waktu
pengambilan sampel tanah yaitu 5 BST–10 BST, kecuali pada waktu awal
pengambilan sampel tanah 2 BST berpengaruh terhadap K-dd tanah (2) aplikasi
herbisida tidak berpengaruh terhadap C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd, pH,
dan KTK tanah pada 3 waktu pengambilan sampel tanah (2 BST - 5 BST–10
BST) dan (3) Sistem olah tanah dan aplikasi herbisida tidak memberikan interaksi
yang nyata terhadap sifat kimia tanah yaitu C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd,
pH, dan KTK tanah.
PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH PADA TANAH
ULTISOLS DI PERTANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz)
(Skripsi)
Oleh
RUSDIYAN INANTHA Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
pada
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Bandar Jaya, Kec. Terbanggi Besar, Kab. Lampung
Tengah pada tanggal 4 Januari 1992. Penulis adalah anak kedua dari dua
bersaudara dari pasangan Bapak Thamrin Idrusi (alm) dan Ibu Rohaina.
Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak di TK Pewa Natar,
Lampung Selatan pada tahun 1998. Pada tahun 2004, penulis menyelesaikan
pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Yukum Jaya Terbanggi Besar, pada
tahun 2004, kemudian penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP
Negeri 1 Terbanggi Besar dan diselesaikan pada tahun 2007. Penulis
menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA K 3 Terbanggi Besar
pada tahun 2010.
Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional
Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Selama diperkuliahan, penulis
dipercaya sebagai Asisten Praktikum mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah
(2013/2014) dan (2014/2015). Penulis melaksanakan Praktik Umum di Balai
Penelitian Taman Bogo Purbolinggo, Kab. Lampung Timur pada bulan Juni-Juli
2013. Penulis juga melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Labuhan
Tanpa mengurangi rasa syukurku pada Allah Swt
Aku persembahkan karyaku kepada
Orang Tuaku
Ibu ku tercinta Rohaina, terimakasih selama ini telah menjadi Ibu sekaligus Ayah dalam keluarga
Terimakasih atas kasih sayang yang tak henti-hentinya kau berikan kepadaku
Dan kepada almarhum ayah tercinta Thamrin Idrusi, semoga engkau bangga melihatku dari kejauhan
Saudara kandungku
Andi Pratama terimakasih atas dukungan, perhatian dan motivasi selama ini
Serta
Menciptakan Rasa Cemas Untuk Hari Esok Saja Kau Tak Diperbolehkan
Apalagi Kau Mengkhawatirkan Masa Depan
(Rusdiyan Inantha)
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang ibarat
kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh
Itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang,
maka permasalahan akan rusak
SANWACANA
Puji dan syukur tak henti-hentinya penulis panjatkan kepada Allah SWT sebagai
sumber segala pengetahuan dan berkah atas semua kebenaran, yang telah
memberikan nikmat Iman dan Islam-Nya kepada penulis.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Ir. Sarno, M.S., selaku dosen pembimbing utama yang telah banyak
meluangkan waktu, membimbing, memberikan saran serta motivasi selama
melakukan penelitian dan penyusunan skripsi.
2. Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M.S.,M.Agr.Sc., selaku dosen pembimbing kedua
yang telah memberikan arahan, bimbingan dan motivasi selama melakukan
penelitian dan penyusunan skripsi.
3. Prof. Dr. Ir. Abdul Kadir Salam, M.Sc., selaku penguji yang telah
memberikan saran dan kritiknya yang membangun dalam penyusunan skripsi.
4. Ir. Efri, M.S., selaku pembimbing akademik untuk semua bimbingan dan
nasehat serta motivasi yang telah diberikan.
5. Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
6. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian
7. Seluruh dosen dan staf bidang Ilmu Tanah Jurusan Agroteknologi Universitas
Lampung atas seluruh ilmu pengetahuan dan bantuan yang diberikan selama
perkuliahan.
8. Keluarga tersayang : Ibuku tercinta Rohaina S.pd, Ayahku (Alm) Thamrin
Idrusi, dan Kakakku tercinta Andi Pratama S.pd atas curahan doa, kasih
sayang dan semangat yang selalu diberikan kepadaku.
9. Derta Risti Ilyin atas perhatian, motivasi, semangat serta kasih sayang yang
tiada henti kepadaku.
10. Teman-teman seperjuangan delapan + sekawan : Pri Angga Tri Atmaja,
Restu Yasin Adi Putra, Reza Prasetya, Roby Setiawan S.P, Roki Sugama S.P,
Ruby P.H, Rudianto Butar Butar, Ricky Ardiansyah S.P, Sandi Aji S.P,
Tabroni dan Topik Mahfut S.P atas kebersamaan, bantuan, dukungan dan
kerjasamanya kepada penulis.
11. Teman-teman angkatan 2010, dan kakak serta adik tingkat angkatan yang
tidak dapat disebut satu persatu terima kasih atas persahabatan yang telah
terjalin.
Penulis menyadari dalam penulisan ini terdapat banyak kekurangan karena
keterbatasan ilmu dan pengetahuan penulis. Oleh sebab itu penulis senantiasa
mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari semua pihak.
Bandar Lampung, 22 Februari 2016
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang dan Masalah ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 3
1.3 Kerangka Pemikiran ... 3
1.4 Hipotesis ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Sistem Olah Tanah ... 7
2.2 Herbisida ... 8
2.3 Peran Mulsa terhadap Kimia Tanah ... 10
2.4 Unsur-Unsur Hara dalam Tanah ... 12
2.5 Tanah Ultisols ... 15
2.6 Budidaya Tanaman Ubikayu ... 17
2.7 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah ... 18
III. BAHAN DAN METODE ... 20
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 20
3.2 Bahan dan Alat ... 20
3.3 Metode Penelitian ... 20
3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 21
3.4.1 Petak Percobaan ... 21
3.4.2 Pelaksanaan Percobaan di Lapang ... 22
3.4.3 Pengambilan Sampel Tanah ... 23
3.4.4 Analisis Tanah ... 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24
4.1 Hasil Penelitian ... 24
4.1.1 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap C-organik Tanah ... 24
4.1.2 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap N-total Tanah ... 25
4.1.3 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap P-tersedia Tanah ... 25
4.1.4 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap K-dd Tanah ... 26
4.1.5 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap pH Tanah ... 28
4.1.6 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap KTK Tanah ... 28
4.2 Pembahasan ... 29
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 33
5.1 Kesimpulan ... 33
5.2 Saran ... 33
PUSTAKA ACUAN ... 34
[image:14.595.119.502.92.483.2]LAMPIRAN ... 40
Tabel 3-63 ... 41
iii DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
K-dd tanah pada tanah ultisols. ... 27 2. Uji BNT pengaruh sistem olah tanah terhadap kandungan
K-dd tanah. ... 27 3. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
C-organik tanah pada tanah ultisols. ... 41 4. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
N-total tanah pada tanah ultisols. ... 41 5. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
P-tersedia tanah pada tanah ultisols. ... 41 6. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
pH tanah pada tanah ultisols. ... 42 7. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
KTK tanah pada tanah ultisols. ... 42 8. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
C-organik tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 43 9. Uji Homogenitas C-organik tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 43 10. Analisis Ragam C-organik tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 44 11. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
C-organik tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 44 12. Uji Homogenitas C-organik tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 45 13. Analisis Ragam C-organik tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 45 14. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
C-organik tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
iv 15. Uji Homogenitas C-organik tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 46 16. Analisis Ragam C-organik tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 47 17. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
N-total tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 48 18. Uji Homogenitas N-total tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 48 19. Analisis Ragam N-total tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 49 20. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
N-total tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 49 21. Uji Homogenitas N-total tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 50 22. Analisis Ragam N-total tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 50 23. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
N-total tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 51 24. Uji Homogenitas N-total tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 51 25. Analisis Ragam N-total tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 52 26. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
P-tersedia tanah pada tanah ultisols pada pengambilan
sampel 2 BST (Agustus 2014). ... 53 27. Uji Homogenitas P-tersedia tanah pada pengambilan
sampel 2 BST (Agustus 2014). ... 53 28. Analisis Ragam P-tersedia tanah pada pengambilan
sampel 2 BST (Agustus 2014). ... 54 29. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
P-tersedia tanah pada tanah ultisols pada pengambilan
sampel 5 BST (November 2014). ... 54 30. Uji Homogenitas P-tersedia tanah pada pengambilan
sampel 5 BST (November 2014). ... 55 31. Analisis Ragam P-tersedia tanah pada pengambilan
sampel 5 BST (November 2014). ... 55 32. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
P-tersedia tanah pada tanah ultisols pada pengambilan
v 33. Uji Homogenitas P-tersedia tanah pada pengambilan
sampel 10 BST (April 2015). ... 56 34. Analisis Ragam P-tersedia tanah pada pengambilan
sampel 10 BST (April 2015). ... 57 35. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
K-dd tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 58 36. Uji Homogenitas K-dd tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 58 37. Analisis Ragam K-dd tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 59 38. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
K-dd tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 59 39. Uji Homogenitas K-dd tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 60 40. Analisis Ragam K-dd tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 60 41. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
K-dd tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 61 42. Uji Homogenitas K-dd tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 61 43. Analisis Ragam K-dd tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 62 44. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
pH tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 63 45. Uji Homogenitas pH tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 63 46. Analisis Ragam pH tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 64 47. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
pH tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 64 48. Uji Homogenitas pH tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 65 49. Analisis Ragam pH tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 65 50. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
N-total tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
vi 51. Uji Homogenitas pH tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 66 52. Analisis Ragam pH tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 67 53. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
KTK tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 68 54. Uji Homogenitas KTK tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 68 55. Analisis Ragam KTK tanah pada pengambilan sampel
2 BST (Agustus 2014). ... 69 56. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
KTK tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 69 57. Uji Homogenitas KTK tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 70 58. Analisis Ragam KTK tanah pada pengambilan sampel
5 BST (November 2014). ... 70 59. Pengaruh sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
KTK tanah pada tanah ultisols pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 71 60. Uji Homogenitas KTK tanah pada pengambilan sampel
10 BST (April 2015). ... 71 61. Analisis Ragam KTK tanah pada pengambilan sampel
vii DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Pemikiran Pengaruh Sistem Olah Tanah dan
Aplikasi Herbisida terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah ... 6
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sumber bahan makanan ketiga di
Indonesia setelah padi dan jagung (Barret dan Damardjati, 1984). Pada sistem
budidaya ubikayu, sebagian besar sentra produksi ubikayu berada di lahan kering
dengan jenis tanah Alfisol, Ultisols, dan Inceptisol yang umumnya mempunyai
tingkat kesuburan rendah (Suryana, 2007). Berdasarkan keadaan yang ada, maka
salah satu alternatif untuk mengantisipasi masalah tersebut yaitu dengan
pengelolaan yang tepat untuk meningkatkan kualitas tanah sehingga kerusakan
tanah dapat dicegah (Pramudita, 2014).
Secara umum budidaya ubikayu di Indonesia menggunakan sistem pengolahan
tanah intensif yang bertujuan untuk memicu kecepatan dekomposisi bahan
organik, sehingga akan mempengaruhi tingkat kesuburan dan produktivitas tanah
dan menyebabkan aerasi dan drainase menjadi lebih baik dan temperatur tanah
juga meningkat (Fuady, 2010). Selain itu akar tanaman dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal karena struktur tanah menjadi remah akibat
pengolahan tanah sehingga proses penyerapan unsur hara lebih sempurna (Akbar
dkk., 2012). Akan tetapi Musa dkk. (2007) menyatakan bahwa pengolahan tanah
2
dan erosi akan sangat tinggi dan berdampak pada pertumbuhan tanaman (Fuady,
2010). Oleh sebab itu sistem olah tanah minimum juga dapat digunakan sebagai
alternatif lain pengganti olah tanah intensif.
Pemberantasan gulma menjadi bagian penting dalam sistem olah tanah minimum.
Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan pengendalian gulma
dapat pula dilakukan menggunakan herbisida. Gulma yang mati akibat perlakuan
herbisida secara tidak langsung dapat menambah kandungan unsur hara dan bahan
organik tanah (Faqihhudin dkk., 2013) dan gulma yang mati berfungsi sebagai
mulsa (Burhannudin, 2015). Penggunaan mulsa organik selain mensuplai
kebutuhan P bagi tanaman juga dapat mensuplai hara lainnya dan menekan
fluktuasi suhu tanah serta menjaga kelembaban tanah (Damaiyanti dkk., 2013).
Selain itu menurut Harsono (2011), mulsa organik dapat meningkatkan kapasitas
tukas kation tanah, kadar C-organik tanah, kadar bahan organik tanah, kadar P
tersedia, kadar N total tanah, kadar K tersedia, nisbah C/N tanah dan suhu tanah.
Bahan organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena
memiliki beberapa peranan di dalam tanah. Disamping itu bahan organik tanah
memiliki fungsi–fungsi yang saling berkaitan, sebagai contoh bahan organik
tanah menyediakan nutrisi untuk aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan
dekomposisi bahan organik (Sutanto, 2005) dan dalam penelitian Adnan (2012)
menjelaskan bahwa gulma yang mati akibat penyemprotan herbisida dan
pengolahan tanah akan mengalami pelapukan dan mineralisasi menjadi unsur hara
yang tersedia untuk diserap oleh tanaman dan penelitian ini dilakukan pada
3
memiskinkan tanah. Hal ini didasarkan pada salah satu sifat ubikayu yang sangat
efisien menyerap hara pada berbagai kondisi tanah (Radjit dkk., 2014).
Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam
pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah sistem olah tanah mempengaruhi beberapa sifat kimia tanah pada tanah
ultisols di pertanaman ubikayu?
2. Apakah aplikasi herbisida mempengaruhi beberapa sifat kimia tanah pada
tanah ultisols di pertanaman ubikayu?
3. Apakah terdapat interaksi antara sistem olah tanah dan aplikasi herbisida
terhadap beberapa sifat kimia tanah pada tanah ultisols di pertanaman ubikayu?
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh sistem olah tanah terhadap beberapa sifat kimia tanah
pada tanah ultisols di pertanaman ubikayu.
2. Mengetahui pengaruh aplikasi herbisida terhadap beberapa sifat kimia tanah
pada tanah ultisols di pertanaman ubikayu.
3. Mengetahui interaksi sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
beberapa sifat kimia tanah pada tanah ultisols di pertanaman ubikayu.
1.3 Kerangka Pemikiran
Budidaya ubikayu mayoritas menerapkan pengolahan tanah yang merupakan
manipulasi mekanik terhadap tanah untuk menciptakan keadaan tanah yang baik
4
pengolahan tanah dapat menciptakan sistem perakaran tanaman menjadi lebih
baik sehingga absorbsi unsur hara lebih sempurna dan tanaman dapat tumbuh dan
memberikan hasil yang lebih tinggi.
Supriyadi (2008) menjelaskan dalam penelitiannya dengan pengolahan tanah akan
mempercepat dekomposisi bahan organik dan gulma yang mati akibat perlakuan
herbisida pada sistem olah tanah minimum secara tidak langsung dapat menambah
kandungan unsur hara dan bahan organik tanah (Faqihhudin dkk., 2013).
Penambahan mulsa organik dari gulma yang mati dapat meningkatkan C-organik
tanah, N-total tanah, P-tersedia serta meningkatkan kapasitas tukar kation yang
menambah kemampuan tanah dalam menahan unsur-unsur hara, termasuk K
(Harsono, 2011) serta menurunkan kemasaman tanah (pH H2O) (Adrinal dkk.,
2012) dan tanpa bahan organik, mikroba dalam tanah akan menghadapi keadaan
defisiensi karbon sebagai nutrisi sehingga perkembangan populasi dan akivitasnya
terhambat sehingga proses mineralisasi hara menjadi unsur yang tersedia bagi
tanaman juga terhambat (Pirngadi, 2009)
Leiwakabessy dkk. (2003) menjelaskan bahwa bahan organik berfungsi untuk
memperbaiki struktur tanah, menambah ketersediaan unsur N, P, dan S,
meningkatkan kemampuan tanah mengikat air, memperbesar kapasitas tukar
kation (KTK) serta mengaktifkan mikroorganisme. Dalam hal kaitannya dengan
unsur hara pada dasarnya bahan organik mengandung unsur hara yang lengkap,
hanya saja kadarnya tergantung pada kandungan hara dari sumber bahan organik
itu sendiri (Supriyadi, 2008). Selain itu salah satu faktor penting parameter
5
sifat dan reaksi kimia yang terjadi dalam tanah dan diantara sifat tanah yang
dipengaruhi oleh pH tanah adalah KTK, ketersediaan unsur hara, populasi dan
aktivitas mikroorganisme, dan aktivitas enzim tanah (Salam, 2012). Oleh sebab
itu, penelitian tentang pengolahan tanah dan aplikasi herbisida perlu dilakukan
untuk mengetahui pengaruh dari sistem olah tanah dan pengaplikasian herbisida
terhadap beberapa sifat kimia tanah pada pertanaman ubikayu.
1.4 Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sistem olah tanah dapat mempengaruhi beberapa sifat kimia tanah pada tanah
ultisols di pertanaman ubikayu.
2. Aplikasi herbisida dapat mempengaruhi beberapa sifat kimia tanah pada tanah
ultisols di pertanaman ubikayu.
3. Terdapat interaksi antara sistem olah tanah dan aplikasi herbisida terhadap
6
[image:25.595.95.544.59.645.2]UUU
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah
Ubikayu
Rendahnya Kandungan Hara
Sistem Olah Tanah Tanah Ultisols
Pengaruh terhadap Sifat Kimia Tanah Bahan Organik Aplikasi Herbisida
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Olah Tanah
Pengolahan tanah merupakan manipulasi mekanis tanah yang bertujuan untuk
menciptakan keadaan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman (Azwir, 2013).
Selain itu pengolahan tanah bertujuan memperbaiki kondisi tanah untuk pentrasi
akar, infiltrasi air dan peredaran udara, menyiapkan tanah untuk irigasi permukaan
dan pengendalian hama serta menghilangkan sisa-sisa tanaman yang mengganggu
pertumbuhan tanaman (Prasetyo dkk., 2014).
Pengolahan tanah terbagi menjadi 3 yaitu sistem tanpa olah tanah, sistem olah
tanah intensif dan sistem olah tanah minimum. Sistem tanpa olah tanah bertujuan
untuk menyiapkan lahan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi optimum,
dengan tetap memperhatikan konservasi tanah dan air (Utomo, 2012). Sistem
tanpa olah tanah dapat menekan kehilangan bahan organik dari dalam tanah
karena dalam sistem tanpa olah tanah tidak dilakukan manipulasi secara fisik,
biologi dan memelihara bahan organik dalam tanah tersebut (Fuady, 2010).
Pada sistem olah tanah intensif , dekomposisi bahan organik lebih cepat sehingga
mempengaruhi tingkat kesuburan tanah dan produktifitas tanah (Fuady, 2010) dan
kemampuan akar tanaman dalam menyerap unsur hara, air dan oksigen lebih besar
8
tanah intensif yaitu menjadikan lahan bersih dan gembur yang dilakukan dengan
cara membakar atau membuang sisa tanaman di lahan, kemudian lahan dibajak
beberapa kali dengan menggunakan bajak tradisional seperti cangkul maupun
bajak singkal. Sistem olah tanah minimum merupakan teknik konservasi tanah
yang mengupayakan gangguan mekanis terhadap tanah seminimum mungkin
(Wahyuningtyas, 2010). Dalam pelaksanaanya kegiatan OTM lebih sederhana,
karena selama masa pertanaman apabila kondisi tanah dalam keadaan baik maka
pengolahan lebih lanjut tidak perlu dilakukan (Foth, 1984). Menurut Musa
(2007), kelemahan perlakuan olah tanah minimum mempercepat pertumbuhan
gulma dan mengakibatkan persaingan antara tanaman budidaya dengan gulma
dalam memanfaatkan unsur hara dan air.
2.2 Herbisida
Herbisida merupakan bahan kimia yang dipergunakan untuk mengendalikan
gulma. Herbisida telah banyak digunakan dalam bidang pertanian. Herbisida
dapat diaplikasikan sebelum tanam, sebelum tumbuh, dan sesudah tumbuh
(Sudarmo, 1991). Pemilihan herbisida yang sesuai untuk mengendalikan gulma
dipertanaman budidaya merupakan suatu hal yang sangat penting. Pemilihan ini
dilakukan dengan memperhatikan daya efikasi herbisida terhadap gulma dan ada
tidaknya fitotoksitas pada tanaman. Pengendalian gulma dengan pemakaian
herbisida juga dapat menyebabkan perubahan komposisi spesies dan kepadatan
9
Berdasarkan tipe translokasi dalam tubuh gulma, herbisida dibedakan menjadi
herbisida kontak dan herbisida sistemik. Herbisida kontak adalah herbisida yang
dapat mengendalikan gulma dengan cara mematikan bagian gulma yang terkena
atau terkontak langsung dengan herbisida. Herbisida kontak tidak
ditranslokasikan atau tidak diserap dan dialirkan dalam tubuh gulma. Semakin
banyak bagian gulma yang berkontak langsung dengan herbisida, akan semakin
baik dan efektif penggunaan herbisida kontak. Oleh sebab itulah, maka herbisida
ini sering diaplikasikan dengan jumlah larutan semprot yang banyak dengan
tujuan agar seluruh permukaan gulma tertutupi oleh larutan herbisida. Herbisida
kontak kurang efektif jika diaplikasikan untuk mengendalikan gulma yang
mempunyai organ perbanyakan di dalam tanah, seperti teki dan alang-alang. Hal
tersebut dikarenakan bagian tanaman di dalam tanah tidak akan mati. Herbisida
kontak memiliki kelebihan berupa daya kerjanya yang lebih cepat terlihat.
Herbisida kontak umumnya diaplikasikan sebagai herbisida pasca tumbuh melalui
tajuk gulma (Yuono, 2013).
Herbisida sistemik adalah herbisida yang dialirkan atau ditranslokasikan dari
bagian tubuh gulma yang terkontak pertama kali ke seluruh bagian gulma
tersebut. Translokasi biasanya akan menuju titik tumbuh karena pada bagian
tersebut metabolisme tumbuhan paling aktif berlangsung. Herbisida ini dapat
diaplikasikan melalui tajuk atau melalui tanah. Herbisida sistemik diaplikasikan
melalui tajuk seperti herbisida glifosat, sulfosat, dan 2,4-D sedangkan herbisisda
sistemik yang diaplikasikan melalui tanah seperti ametrin, atrazin, metribuzin,
10
mati dengan pembuluh utama xilem bersama aliran masa gerakan air dan hara dari
tanah ke daun dengan bantuan proses transpirasi (Yuono, 2013).
Pengendalian gulma merupakan faktor penting dalam pemeliharaan tanaman. jika
keberadaan gulma di sekitar pertanaman diabaikan, maka dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman dan hasil produksi (Soerjandono, 2004). Penggunaan
herbisida sebagai bahan pembunuh gulma telah menjadi suatu kegiatan rutin yang
selalu diaplikasikan dalam bidang pertanian. Herbisida pada prinsipnya hanya
ditujukan pada objek sasaran yakni gulma yang bersangkutan. Namun dalam
aplikasinya sebagian besar bersinggungan dengan tanah yang menyebabkan
herbisida tersebut teradsorpsi di dalam tanah (Muktamar dkk., 2005).
2.3 Peran Mulsa terhadap Sifat Kimia Tanah
Mulsa diartikan sebagai bahan atau material yang sengaja dihamparkan di
permukaan tanah atau lahan pertanian (Umboh, 2002). Dalam hal ini penggunan
mulsa organik akan membantu mengurangi erosi, mempertahankan kelembaban
tanah, mengendalikan pH, memperbaiki drainase, mengurangi pemadatan tanah,
meningkatkan kapasitas pertukaran ion, dan meningkatkan aktivitas biologi tanah
(Subowo dkk., 1990).
Mulsa organik dari material tanaman yang telah mengalami pelapukan
memberikan tambahan unsur hara ke dalam tanah melalui proses dekomposisi
bahan organik (William,1997). Bahan organik tanah merupakan hasil
dekomposisi atau pelapukan sisa-sisa yang terdapat di dalam tanah. Bahan
11
tanaman dan hewan yang telah mati dan terlapuk selama jangka waktu tertentu.
Bahan organik dapat digunakan untuk menentukan sumber hara bagi tanaman,
selain itu dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi tanah (Soetjipto, 1992).
Kandungan organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik.
Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh arus akumulasi bahan asli dan arus
dekomposisi dan humifikasi yang sangat tergantung kondisi lingkungan (vegetasi,
iklim, batuan, timbunan, dan praktik pertanian). Arus dekomposisi jauh lebih
penting dari pada jumlah bahan organik yang ditambahkan (Foth,1994).
Peningkatan C-organik disebabkan oleh kandungan bahan organik yang semakin
tinggi dan mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan senyawa-senyawa
organik (Antari dkk., 2012).
Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap
kapasitas tukar kation, kapasitas tukar anion, pH tanah, daya sangga tanah dan
terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan meningkatkan muatan
negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK). Bahan
organik memberikan konstribusi yang nyata terhadap KTK tanah. Sekitar 20–70
% kapasitas pertukaran tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus
(contoh: Molisol), sehingga terdapat korelasi antara bahan organik dengan KTK
tanah (Stevenson,1982).
Pengaruh penambahan bahan organik terhadap pH tanah dapat meningkatkan atau
menurunkan tergantung oleh tingkat kematangan bahan organik yang kita
tambahkan dan jenis tanahnya. Penambahan bahan organik yang belum masak
12
dekomposisi, biasanya akan menyebabkan penurunan pH tanah, karena selama
proses dekomposisi akan melepaskan asam-asam organik yang menyebabkan
menurunnya pH tanah. Peningkatan pH tanah juga akan terjadi apabila bahan
organik yang kita tambahkan telah terdekomposisi lanjut (matang), karena bahan
organik yang telah termineralisasi akan melepaskan mineralnya, berupa
kation-kation basa (Suntoro, 2001).
2.4 Unsur-Unsur Hara dalam Tanah
Kesuburan tanah merupakan suatu mutu tanah untuk bercocok tanam, yang
ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh
tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman (Notohadiprawiro dkk., 2006).
Kesuburan tanah sangat berkaitan dengan unsur hara yang dibutuhkan bagi
tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang. Dalam tanah terdapat 16 unsur
hara yang tergolong esensial bagi semua tanaman dan terbagi menjadi 2 yaitu
unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara
yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah besar, yang termasuk unsur hara
makro adalah N, P, K, Ca, S dan Mg sedangkan unsur hara mikro adalah unsur
hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah relatif sedikit, yang termasuk
unsur hara mikro yaitu Fe, Cu, Zn, Mn, Mo, B, Cl dan diantara ke 16 unsur hara
tersebut C, H dan O berasal dari udara dan air (Pulung, 2005).
Nitrogen merupakan unsur hara yang terbesar distribusinya di alam dan
bersumber dari atmosfir dan dari dalam tanah (Pulung, 2005). Ditinjua dari
berbagai hara, Nitrogen merupakan yang paling banyak mendapatkan perhatian.
13
yang diangkut tanaman berupa panen setiap musim cukup banyak (Hakim dkk.,
1986). Menurunnya nilai N-total tanah seiring dengan bertambahnya usia
tanaman karena terjadi degradasi bahan organik dan perubahan pH tanah yang
tidak signifikan dan masih tergolong sangat masam dan mengakibatkan
mikroorganisme perombak bahan organik tanah dan penambat N belum dapat
bekerja secara optimal (Nugroho dkk., 2013).
Fosfor di dalam tanah berasal dari bahan organik dan anorganik. Selain itu
ketersediaan P dipengaruhi oleh pH tanah, ion dan senyawa logam (Al, Fe, Mn),
kandungan Ca dalam tanah, kandungan bahan organik tanah dan aktivitas mikroba
tanah (Pulungan 2005). Pertambahan fosfor ke dalam tanah tidak terjadi dengan
pengikatan biokimia seperti halnya nitrogen, tetapi hanya bersumber dari deposit
atau batuan dan mineral yang mengandung fosfor di dalam tanah. Oleh karena itu
kadar fosfor tanah juga ditentukan oleh banyak atau sedikitnya cadangan mineral
yang mengandung fosfor dan tingkat pelapukannya (Hakim dkk., 1986).
Sedangkan Kalium di dalam tanah berada sebagai mineral primer dan mineral liat
sekunder dan sumber ion K berasal dari pelapukan primer dan mineral sekunder.
Pengurangan K dari dalam larutan tanah terjadi melalui fiksasi yang dipengaruhi
oleh kerapatan muatan, pengembangan zona terjepit, tingkat kelembaban tanah,
konsentrasi ion kalium dan ion pesaing dalam medium (Pulung, 2005). Selain itu
kehilangan kalium yang terbesar dalam tanah disebabkan oleh pencucian pada
tanah-tanah ringan dan banyak mengandung pasir akibat dari drainase (Hakim
14
Kalsium berasal dari bahan anorganik, yakni dari mineral primer dan sekunder di
dalam tanah dan senyawa karbonat merupakan mineral penting di dalam tanah
yang mengandung kalsium. Magnesium banyak terdapat dalam bentuk mineral
liat sekunder dan magnesium berperan dengan tanaman dalam hal fotosintesis,
karena tingginya Mg dalam klorofil dan selain itu dibutuhkan dalam kegiatan
enzim serta sebagai katalisator dan kofaktor reaksi di dalam tanaman. Sedangkan
belerang terdapat di dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik, dan
sumber utamanya adalah bahan organik. Besi, mangan, seng dan tembaga berasal
dari mineral primer dan mineral liat sekunder. Kelarutan logam tersebut sangat
dipengaruhi oleh pH tanah dan tingkat kelarutannya tinggi pada reaksi tanah asam
dan rendah pada tanah alkalis (Pulung, 2005).
Pengaruh bahan organik tidak dapat disangkal terhadap kesuburan tanah. Bahan
organik mempunyai daya jerap kation yang lebih besar daripada koloid liat
sehingga tingginya kandungan bahan organik suatu tanah akan semakin tinggi
pula kapasitas tukar kation (Hakim dkk., 1986) dan bahan organik tanah berperan
secara fisik, kimia, maupun biologis,sehingga menentukan kesuburan suatu tanah
(Hanafiah, 2007). Bahan organik memainkan banyak peranan penting dalam
tanah. Karena bahan organik tanah berasal dari sisa-sisa tumbuhan sehingga
bahan organik tanah mengandung semua hara yang diperlukan oleh tanaman
(Foth, 1994).
Salam (2012) menjelaskan bahwa secara kimia bahan organik sangat berperan
karena juga memiliki muatan negatif. Muatan negatif dan humus tanah berasal
15
ditimbulakan dari berbagai gugus fungsional ini berjumlah sangat besar dan
merupakan penyumbang KTK tanah yang cukup besar. Oleh karena itu
rendahnya KTK tanah mineral dapat ditingkatkan dengan perlakuan bahan
organik dan bahan organik mengandung unsur nitrogen, fosfat, dan kalium serta
unsur-unsur mikro, akan menambah kelarutan fosfat, karena humus akan menjadi
asam humat atau asam-asam lain yang dapat melarutkan Fe dan Al sehingga fosfat
dalam keadaan bebas. Selain itu humus berupa penyangga kation, sehingga dapat
mempertahankan unsur hara (Sarief, 1989).
2.5 Tanah Ultisols
Tanah ultisols merupakan tanah yang telah mengalami proses pelapukan lanjut
melalui proses Luxiviasi dan Podsolisasi. Ditandai oleh kejenuhan basa rendah
(kurang dari 35% pada kedalaman 1,8 m), Kapasitas Tukar Kation kurang dari 24
me per 100 gram liat, bahan organik rendah sampai sedang, nutrisi rendah dan pH
rendah (kurang dari 5,5) (Munir, 1996).
Tanah ultisols mempunyai tingkat perkembangan yang cukup lanjut, dicirikan
oleh penampang tanah yang dalam, kenaikan fraksi liat seiring dengan kedalaman
tanah, reaksi tanah masam dan kejenuhan basa rendah. Pada umumnya tanah ini
mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini
juga miskin kandungan hara, terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti
Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah dan peka
terhadap erosi (Adiningsih dkk., 1993). Selain rendahnya kandungan hara, tanah
16
sehinngga menyebabkan perakaran tanaman sulit menembus tanah, dan akhirnya
menggangu pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, agar tercapai
sistem pertanian berkelanjutan, maka peningkatan kesuburan dan tindakan
konservasi tanah merupakan upaya yang perlu dilakukan dalam memanfaatkan
lahan kering untuk usaha pertanian (Arsyad, 2001).
Pada umumnya tanah ultisols memiliki tingkat kesuburan yang sangat rendah
untuk tanaman pangan, tetapi tanah ultisolss memiliki tanggapan yang baik
terhadap pemupukan karena sifat-sifat fisik ultisolss yang peka terhadap
pemupukan dingin (Foth, 1994). Namun demikian, faktor iklim dan relief perlu
diperhatikan dan kendala pemanfaatan tanah ultisols untuk pengembangan
pertanian adalah kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi, kandungan hara dan
bahan organik rendah dan tanah peka terhadap erosi. Berbagai kendala tersebut
dapat diatasi dengan penerapan teknologi seperti pengapuran, pemupukan, dan
pengelolaan bahan organik (Prasetyo dkk., 2006) dan tanah ultisols yang berada di
lahan kering dapat dikembangkan untuk pertanian tanaman pangan, seperti :
jagung, kedelai, kacang-kacangan, umbi-umbian, padi gogo dan lain-lain
(Subagyo dkk., 2000).
Tanah ultisols merupakan jenis tanah yang cukup luas tersebar di Indonesia
terutama di pulau-pulau besar seperti Sumatera dan beberapa pulau besar lainnya.
Namun perlu penanganan yang sangat teliti dalam pengembangan pertanian di
tanah ini, selain tanahnya yang kurang subur secara kimia, tanah ini juga sangat
17
2.6 Budidaya Tanaman Ubikayu
Ubikayu atau singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat yang berasal
dari umbi. Ubikayu atau ketela pohon merupakan tanaman perdu. Ubikayu
berasal dari benua Amerika, tepatnya dari Brasil. Penyebarannya hampir ke
seluruh dunia, antara lain Afrika, Madagaskar, India, dan Tiongkok. Ubikayu
berkembang di negara–negara yang terkenal dengan wilayah pertaniannya
(Purwono, 2009).
Adapun sistematika tanaman ubikayu adalah sebagai berikut:
Kelas : Dycotyledoneae
Sub kelas : Archichlamydeae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Sub famili : Manihotae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot esculenta Crantz
Manihot esculenta Crantz mempunyai nama lain M. utilissima dan M. alpi. Semua
genus Manihot berasal dari Amerika Selatan. Brasil merupakan pusat asal dan
sekaligus sebagai pusat keragaman ubikayu. Manihot mempunyai 100 spesies
yang telah diklasifikasikan dan mayoritas ditemukan di daerah yang relatif kering.
Tanaman ubikayu tumbuh di daerah antara 30° lintang selatan dan 30° lintang
utara, yakni daerah dengan suhu rata-rata lebih dari 18° C dengan curah hujan di
18
Kondisi lingkungan yang sesuai untuk ditanami tanaman ubikayu adalah daerah
yang kering. Tanaman ubikayu dapat tumbuh di antara 30° Lintang Utara dan
antara 30° Lintang Selatan. Sinar matahari untuk pertumbuhan tanaman ubikayu
adalah 10 jam/ hari dengan temperatur 10 - 18°C dan curah hujan diatas 500 mm/
tahun. Ubikayu tumbuh pada ketinggian 100 - 700 m dpl dengan kelembaban
udara berkisar 60 - 65 %, dan tumbuh pada tanah berstruktur remah, gembur,
tidak terlalu liat, tidak terlalu poros, dan kaya akan bahan organik. Jenis tanah
yang cocok untuk ditanami ubikayu adalah jenis tanah Aluvial, Latosol, Podsolik
Merah Kuning, Mediteran, Grumosol dan Andosol (Rukmana, 1997).
2.7 Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Herbisida terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah.
Teknik persiapan lahan dalam praktiknya dikelompokkan dalam olah tanah
sempurna, olah tanah minimum, tanpa olah tanah, dan olah tanah bermulsa. Olah
tanah sempurna yang umumnya menggunakan alat-alat sederhana hingga alat-alat
berat pada dasarnya bertujuan mengendalikan gulma dan untuk menggemburkan
tanah sehingga aerasi dan kapasitas infiltrasi tanah meningkat. Namun sistem
olah tanah sempurna dalam jangka panjang akan berdampak buruk yaitu
terjadinya degradasi tanah yang dapat memacu erosi, dan menurunnya kesuburan
tanah (Utomo, 2012).
Sistem olah tanah secara umum memberikan pengaruh yang positif pada
pertumbuhan tanaman budidaya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan sifat
19
menjadi remah, aerase tanah yang baik dan menghambat pertumbuhan tanaman
penganggu (Akbar dkk., 2012).
Sistem olah tanah dapat mempengaruhi laju mineralisasi N tanah dan potensial
organik N termineralilasasi tergantung oleh bahan organik karena bahan organik
merupakan aset daripada N yang dibebaskan melalui proses mineralisasi (Fuady,
2010) dan perombakan bahan organik yang cepat mempengaruhi kandungan N
total meningkat yang menyebabkan residu N cenderung lebih tinggi pada sistem
pengolahan tanah. Selain itu mulsa dari sisa-sisa tanaman meningkatkan C
organik. Bahan organik yang tinggi dapat meningkatkan kapasitas tukar kation
(KTK) tanah dan memudahkan pelepasan unsur-unsur hara lainnya seperti P
(Rosliani dkk., 2010). Namun menurut Supriyadi (2008), pengolahan tanah yang
berulang-ulang dapat menurunkan input bahan organik kedalam tanah yang
menyebabkan disintegrasi agregat sehingga menjadi tanah peka pada erosi dan
pemadatan.
Pengaplikasian herbisida diperlukan dalam sistem pengolahan tanah minimum.
Penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma dapat meningkatan sumbangan
unsur hara dalam tanah khususnya Kalium yang dihasilkan dari gulma yang mati
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada pertanaman Ubikayu di Laboratorium terpadu
Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan analisis tanah dilakukan di
Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan Penelitian
ini dilaksanakan pada Juni 2014 hingga April 2015.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan yaitu sampel tanah ultisols di pertanaman ubikayu
serta bahan-bahan untuk analisis tanah. Sedangkan alat-alat yang digunakan pada
penelitian ini yaitu sekop, plastik, ayakan 2mm, label dan alat-alat laboratorium
untuk analisis C-organik tanah, N, P, K tanah, pH tanah, Kapasitas Tukar Kation
(KTK) tanah.
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini disusun dari faktorial 2 x 2 dalam Rancangan Acak Kelompok
(RAK). Perlakuan terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama terdiri dari 2 perlakuan
yaitu sistem olah tanah intensif (OTI) dengan simbol T1dan olah tanah minimum
21
dengan herbisida dengan simbol H1dan tanpa disemprot dengan herbisida dengan
simbol H0.
Sehingga diperoleh kombinasi perlakuan sebagai berikut :
T1H1= OTI + Herbisida
T1H0= OTI + Tanpa Herbisida
T0H1= OTM+ Herbisida
T0H0= OTM + Tanpa Herbisida
Semua perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Tata letak percobaan dapat dilihat pada
Gambar 2 (Lampiran). Data yang diperoleh diuji dengan uji Bartlett, aditivitas
data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi data dianalisis dengan sidik
ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Jujur
(BNJ) pada taraf 5%.
3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Petak percobaan
Tanah percobaan pernah ditanami jagung dengan perlakuan yang sama pada bulan
Maret–Juni 2014. Setelah itu, pada bulan juni 2014 ditanami dengan ubikayu
(penelitian ini). Petak percobaan dibuat secara berkelompok yaitu empat
perlakuan pengolahan tanah dan pemberian herbisida. Lahan penelitian dibagi
menjadi 16 petak dengan ukuran setiap petaknya 3m x 4m yang ditanami oleh
tanamam ubikayu dengan jarak tanam 90 x 50 cm. Tanaman ubikayu ini dipupuk
22
Organonitrofos 10.000kg ha-1. Pupuk urea diberikan dua kali yaitu setengah dosis
pada saat tanaman ubikayu berumur satu minggu dan selanjutnya diberikan pada
saat tanaman berumur 6 bulan.
3.4.2 Pelaksanaan Percobaan di Lapang
Pada perlakuan sistem olah tanah yaitu OTI (T1) tanah dicangkul dan tanah
dibalik secara merata dan OTM (T0) tanah dicangkul seperlunya saja. Pada
perlakuan pengendalian gulma yaitu (H1) gulma disemprot dengan herbisida yang
berbahan aktif Isopropilamina glifosat 240g/l dengan dosis 160ml/16 liter air
(tanki) dan tanpa herbisida (H0) gulma tidak disemprot. Perlakuan dapat dilihat
yaitu sebagai berikut :
1. T1H1= OTI dan gulma disemprot lalu gulma yang mati dibuang keluar petak
percobaan.
2. T1H0= OTI dan gulma dikoret lalu gulma dibuang keluar petak percobaan.
3. T0H1= OTM dan gulma disemprot lalu gulma dibiarkan di dalam petak
percobaan.
4. T0H0= OTM dan gulma dikoret lalu gulma dibiarkan di dalam petak
percobaan.
Setelah 4 bulan penyiangan gulma dengan herbisida diulang dengan perlakuan
23
3.4.3 Pengambilan Sampel Tanah
Pengambilan sampel tanah dilakukan 2 bulan setelah tanaman (BST) (Agustus
2014), 5 BST (November 2014) dan 10 BST (April 2015). Sampel tanah diambil
dari lima titik dan diambil secara diagonal kemudian diaduk menjadi satu
(komposit). Tanah pada penelitian ini diambil dari lahan yang merupakan tanah
ultisols yang sedang ditanami tanaman ubikayu dengan kedalaman 0-20 cm.
Pengambilan sampel tanah dilakukan sebelum diaplikasi herbisida.
3.4.4 Analisis Tanah
Sampel tanah yang telah diambil dikering anginkan kemudian tanah diayak
hingga lolos ayakan 2 mm dan dimasukan ke dalam kantong plastik yang telah
diberi label. Tanah yang telah diberi label dianalisis di Laboratorium Ilmu Tanah
Universitas Lampung.
3.4.5 Pengamatan
Variabel yang diamati adalah C-organik tanah (Walkey & Black), Nitrogen tanah
(Kjeldhal), Fosfor tanah (Bray I), Kalium tanah, pH tanah (pH meter) dan
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan yaitu:
1. Sistem olah tanah tidak berpengaruh terhadap C-organik, N-total, P-tersedia,
K-dd, pH, dan KTK tanah pada 2 waktu pengambilan sampel tanah yaitu 5
BST–10 BST, kecuali pada waktu awal pengambilan sampel tanah 2 BST
berpengaruh terhadap K-dd tanah.
2. Aplikasi herbisida tidak berpengaruh terhadap C-organik, N-total, P-tersedia,
K-dd, pH, dan KTK tanah pada 3 waktu pengambilan sampel tanah
(2 BST–5 BST–10 BST)
3. Sistem olah tanah dan aplikasi herbisida tidak memberikan interaksi yang
nyata terhadap sifat kimia tanah yaitu C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd,
pH, dan KTK tanah.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui pengaruh sistem olah tanah
dan aplikasi herbisida dalam jangka panjang terhadap beberapa sifat kimia tanah
PUSTAKA ACUAN
Adiningsih, S.J. dan Mulyadi. 1993. Alternatif Teknik Rehabilitasi dan Pemanfaatan Lahan Alang-Alang. Dalam: S. Sukmana, Sawardjo, J. Sri Adiningsih, H. Subagyo, H. Suhardjo, dan Y. Prawirasumantri (Eds). Pemanfaatan Lahan Alang-alang untuk Usaha Tani Berkelanjutan.
Prosiding Seminar Lahan Alang-alang. Bogor 1992. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat : 29-50.
Adnan. 2012. Aplikasi Beberapa Dosis Herbisida Glifosat dan Paraquat Pada Sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) Serta Pengaruhnya terhadap Sifat Kimia Tanah, Karakteristik Gulma dan Hasil Kedelai. J. Agrista 16 (3) : 135-145.
Adrinal., A. Saidi dan Gusmini. 2012. Perbaikan Sifat Fisika-Kimia Tanah Psamment dengan Pemulsaan Organik dan Olah Tanah Konservasi pada Budidaya Jagung. J. Solum 9 (1) : 25-35.
Antari, R., Wawan dan G.ME. Manurung. 2012. Pengaruh Mulsa Organik Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Tanah serta Pertumbuhan Akar Kelapa Sawit. Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian. Universitas Riau. 13 hlm.
Akbar, A., A. Nugroho dan J. Moenandir. 2012. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Waktu Penyiangan pada Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine Max L.) Var. Grobogan. J. Budidaya Pertanian. 1-12 hlm.
Arsyad, A.R. 2001. Pengaruh Olah Tanah Konservasi dan Pola Tanam terhadap Sifat Fisika Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. J. Agronomi 8 (2) : 111-116.
Bareet, M.D. dan S.D. Damardjati. 1984. Peningkatan Mutu Hasil Ubi Kayu di Indonesia. Jakarta.
Damaiyanti, D.R R., N. Aini dan Koesriharti. 2013. Kajian Penggunaan Macam Mulsa Organik pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Besar. J. Produksi Tanaman 1 (2) : 25-32.
Faqihhudin, M.D. 2013. Penggunaan Herbisida Ipa-Glifosat terhadap
Pertumbuhan, Hasil dan Residu Jagung. J. Ilmu Pertanian 17 (1) : 1-12.
Foth, H.D. 1994. Dasar–Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Adisoemarto, S. Edisi keenam. Erlangga. Jakarta. 374 hlm.
Fuady, Z. 2010. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Residu Tanaman terhadap Laju Mineralisasi Nitrogen Tanah. J. Ilmiah Sains Dan Teknologi 10 (1) : 94-101.
Hakim, N., Y.M. Nyakpa., A.M. Lubis., S.G. Nugroho., M.A. Diha., G.B. Hong dan H.H. Bailey. 1989. Dasar–Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. 490 hlm.
Hanafiah, K.A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 358 hlm.
Harsono, P. 2011. Mulsa Organik: Pengaruhnya terhadap Lingkungan Mikro, Sifat Kimia Tanah dan Keragaman Cabai Merah di Vertisol pada Musim Kemarau. Prosiding Seminar Nasional PERHORTI. Lembang : 122-129 hlm.
Leiwakabessy, F.M., U.M. Wahjudin dan Suwarno. 2003. Kesuburan Tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Leomo, S., L. Mudi dan S. Alam. 2013. Aplikasi Rizobakteri pada Cover Crop dalam Mempengaruhi Sifat Kimia Tanah Tanah Bekas Tambang Nikel. J. Agroteknologi 3 (1) : 26-33.
Lumbanraja, P. 2009. Pengaruh Pemberian Abu Janjang Sawit dan Pupuk Kandang terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah, Pertumbuhan dan Ukuran Biji Tanaman Kedelai (Glycine Max L) Var. Willis pada Tanah Ultisol Simalingkar. J. Darma Agung 14 (Edisi Khusus) : 62-69.
Muktamar, Z., N. Setyowati dan Hamidati. 2005. Adsorpsi Paraquat oleh Tanah Dystrandept, Dystrudept, Paleudult dan Psamment pada Berbagai
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia:Karakteristik , Klasifikasi dan Pemanfaatannya. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.
Musa, Y. 2007. Evaluasi Produktivitas Jagung Melalui Pengelolaan Populasi Tanaman, Pengolahan Tanah dan Dosis Pemupukan. J. Agrisistem 3 (1) : 21-33.
Notohadiprawira, T., S. Soekodarmodjo dan E. Sukana. 2006. Pengelolaan Kesuburan Tanah dan Peningkatan Efisiensi Pemupukan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Jawa Tengah : 1-19 hlm.
Nugroho, T.C. 2013. Analisis Sifat Kimia Tanah Gambut yang Dikonversi Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Kampar. J. Agroteknologi 4 (1) : 25-30.
Nyakpa., M.Y., A.M. Lubis., M.A. Pulung., A.G. Amrah., A. Munawar., G.B. Hong dan N. Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Petunjuk Teknis. 2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Pirngadi, K. 2009. Peran Bahan Organik dalam Peningkatan Produksi Padi Berkelanjutan Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1) : 48-64.
Pramudita, M.H. 2014. Implementasi Pemeliharaan Lahan pada Tanaman
Ubikayu : Pengaruh Pengelolaan Lahan terhadap Hasil Tanaman dan Erosi. J. Tanah dan Sumberdaya Lahan. 1 (2) : 88-92.
Prasetyo, B.H. dan D.A Suriadikarta. 2006. Karakteristik, Potensi, dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering Di Indonesia. J. Litbang Pertanian 25 (2) : 39-46.
Prihandana, R., K. Noerwijan, P.G. Adinurani, D. Setyaningsih, S. Setiadi dan R. Hendroko. 2007. Bioetanol Ubikayu Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta: Agromedia. 224 hlm.
Pulung. M.A. 2005. Kesuburan Tanah. Jurusan Ilmu Tanah. Fakultas pertanian. Universitas Lampung. 287 hlm.
Purwono. 2009. Budidaya 8 Jenis Tanaman Unggul. Jakarta : Penebar Swadaya.
Radjit, B.S., Y. Widodo., N. Saleh dan N. Prasetiaswati. 2014. Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas dan Keuntungan Usahatani Ubikayu di Lahan Kering Ultisol. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Ubi. Malang. IPTEK Tanaman Pangan. 9 (1) : 51-62.
Rosliani, R., N. Sumarni dan I. Sulastrini. 2010. Pengaruh Cara Pengolahan Tanah dan Tanaman Kacang-kacangan sebagai Tanaman Penutup terhadap
Kesuburan Tanah dan Hasil Kubis di Dataran Tinggi. J. Hort 20 (1) : 36-44.
Rukmana, R. 1997. Ubi Jalar Budidaya dan Pasca panen. Kanisius. Yogyakarta. 68 hlm.
Rusdiana, O. dan R.S. Lubis. 2012. Pendugaan Korelasi antara Karakteristik Tanah terhadap Cadangan Karbon (Carbon Stock) Pada Hutan Sekunder. J. Silvikultur Tropika 3 (1) : 14-21.
Salam, A.K. 2012. Ilmu Tanah Fundamental. Global Madani Pers. Bandar Lampung. 362 hlm.
Sarief, E.S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung. 174 hlm.
Soerjandono, N. B. 2004. Pengaruh Aplikasi Herbisida Persistensi Rendah pada Dua Olah Tanah terhadap Pertumbuhan Gulma dan Hasil Padi. Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian. Loka Penelitian Pencemaran Lingkungan Pertanian. Jakenan : 192-197 hlm.
Soetjipto. 1992. Dasar-Dasar Irigasi. Jakarta : Erlangga .
Subagyo, H., N. Suharta dan A.B. Siswanto. 2000. Tanah-tanah Pertanian di Indonesia dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Hlm. 21-66.
Subowo, J. Subaga, dan M. Sudjadi. 1990. Pengaruh Bahan Organik terhadap Pencucian Hara Tanah Ultisol Rangkasbitung, Jawa Barat. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk 9 : 26-31.
Sudarmo, S. 1991. Pestisida. Kanisius. Yogyakarta. 130 hlm.
Suntoro, 2001. Pengaruh Residu Penggunaan Bahan Organik, Dolomit dan KCl pada Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogeae. L.) pada Oxic Dystrudept di Jumapolo. Karanganyar. J. Habitat 12 (3) : 170-177.
Supawan, G.I. dan Hariyadi. 2014. Efektivitas Herbisida IPA Glifosat 486 SL untuk Pengendalian Gulma pada Budidaya Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) Belum Menghasilkan. Bul. Agrohorti 2 (1) : 95-103.
Supriyadi, S. 2008. Kandungan Bahan Organik sebagai Dasar Pengelolaan Tanah di Lahan Kering Madura. J. Embryo 5 (2) : 176-183.
Suryana, A. 2007. Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Ubikayu untuk Agroindustri dan Ketahanan Pangan. 1-19 halaman. Prosiding: Prospek, Strategi, dan Teknologi, Pengembangan Ubikayu untuk Agroindustri dan Ketahanan Pangan. Badan Litbang Deptan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 98 hlm.
Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Umboh, A.H. 2002. Petunjuk Penggunaan Mulsa. Jakarta: Penebar Swadaya.
Utami, S.R. dan S. Handayani. 2003. Sifat Kimia Tanah pada Sistem Pertanian Organik. J. Ilmu Pertanian 10 (2) : 63-69.
Utomo, M. 2012. Tanpa Olah Tanah. Teknologi Pengelolaan Pertanian Lahan Kering. Lembaga Penelitian Universitas Lampung. 110 hlm.
Wahyuningtyas, R.S. 2010. Melestarikan Lahan dengan Olah Tanah Konservasi. J. Galam 4 (2) : 81-96.
Yuono, T. 2013. Herbisida Sistemik dan Herbisida Kontak.
Detiktani.blogspot.co.id. [Akses berkala]. 10 September 2015.