EVALUASI DAN UJI DAYA HASIL 24 KLON UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) DI DESA MUARA PUTIH, NATAR, LAMPUNG
SELATAN (Skripsi)
Oleh
DIAN LATIFATHUL MAR’AH
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
Evaluasi dan Uji Daya Hasil 24 Klon Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) di Desa Muara Putih Natar Lampung Selatan
Oleh
DIAN LATIFATHUL MAR’AH
Program pemuliaan tanaman ubi kayu bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan produksi melalui penciptaan varietas unggul baru berdaya hasil tinggi. Evaluasi karakter serta uji daya hasil perlu dilakukan guna mengetahui karakter dari tanaman yang akan didaftarkan sebagai varietas unggul baru maupun dijadikan tetua dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi dan menguji daya hasil 24 klon ubi kayu dengan membandingkan klon-klon tersebut dengan varietas standar UJ3 dan UJ5 dan membuat deskripsi 24 klon yang diuji. Klon UJ 3 dan UJ5 merupakan klon standar yang umum ditanami oleh petani di Lampung. Penelitian ini dilakukan di Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan dari bulan Januari sampai dengan Desember 2016.
Dian Latifathul Mar’ah
perbedaan nilai tengah antarperlakuan, menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman warna. Warna pucuk daun didominasi oleh warna hijau keunguan, warna tangkai atas daun didominasi oleh warna hijau kemerahan, warna tangkai bawah daun
didominasi oleh warna merah, warna batang didominasi oleh warna perak, warna kulit luar ubi didominasi oleh warna coklat terang, warna korteks ubi didominasi oleh warna kuning dan warna daging ubi didominasi oleh warna putih.
Tingkat keragaman tinggi ditunjukkan oleh variabel tinggi tanaman, diameter batang, diameter penyebaran ubi, bobot berangkasan, bobot ubi per tanaman, indeks panen, jumlah lobus dan tingkat percabangan produktif. Klon-klon yang lebih unggul dari klon UJ 3 dan UJ 5 pada variabel jumlah ubi per tanaman, bobot ubi per tanaman, indeks panen dan rendemen pati yaitu klon
T-190414-Bercabang, Gayor, Malang 6-101, MU 22, BL 1, CMM 96-1-105, MU 111, UJ 3-110116-MB-2, UJ 3-Kecil, CMM 25-27 MB1, SL 87, CMM 25-27-281014, SL 221, Sl 36, CMM 25-27-3 dan CMM 25-27-172.
EVALUASI DAN UJI DAYA HASIL 24 KLON UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) DI DESA MUARA PUTIH, NATAR, LAMPUNG
SELATAN
Oleh
DIAN LATIFATHUL MAR’AH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
r
,,,[dJil Slripsi
Ilarna Mahasiswa
llornor Pokok Mahasiswa
fim$an
hlsrltas
EVALUASI DAN UJI DAYA IIASIL
24
IILON UBI
I(AIU
(ltlanllrct
err;ulenta
Crantzl DI
DESA UUARA PUTIII,IIAIAB"
I,ATITPUNG SDI,ATAN
{Diqtt
%tilo{uf
!}tu"qfl
t3t4L2L045
Agroteknologi
Pertianian
IIDNYDTUJUI
1.
Komisi PembimbingDr.
lr.
Sctyollnrt Utomo,
H.Sc.NrP 1961 1021 1985051002 NrP 195607 L2r982t1 1002
2.
Ketua Jurusan Agrotelmologitu
Plof.
Dr.
Ir.
SrlYusnalnl,
!I.Sl.
IUEN(iDSAIIltAN
i -r.,i#.":f'
.,
I\!l
Plof.
IF.
Ir.
SetyoIlwl
Utomo,
!1.t
Dr.
Ir.
DrutnYulladl,
![.Sc"
Akarl
Edy, S.P., l[.S1.I
.
lrvan
$uH
Banuwa,lt[.S|.
o201986051002I
,rl
qj
l+
I
Pertanian
SURAT PERFTYATAAI\T
'":. t
$aya yang bertanda tangan di baw.4h ini, meiyatakan bahwa skripsi saya yang
bcddul "EVALUASI
DAll
UJI DAYA 24 KLONt
BI KAYU (Manihot l+'sutenta.Cyana)
III
DESA MUARAPIITdI, NATA&
LAMPUNGffiIl\TAN'merupakan
n*if
kary. saya sendiri bukan hasil karya orang lain.Semua hasil yang tertuang dalam slaipdi ini telah mengi*uti kaidah penulisan
fulailmiah
Universitas Lamprrng. Apabila kemudiao hari t€6ukti bahwa skripsiini merupakan hasil salinan atau dibuat oleh orang lain, maka saya bersedia
m€n€rima Sanksisesuai dengan ketentrran akademik yang berlaku.
Bandar
Lampung
November 2017Diah latifathul
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada 29 Juni 1995, sebagai anak ke-4 dari 6 bersaudara dari bapak Dr. Ir. Rudy Sutrisna, M.S. dan ibu Ir. Any Kusumastuti, M.S. Jenjang pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah Taman Kanak-kanak(TK) Mutiara Hati Klaten diselesaikan tahun 2001, Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Gunung Terang diselesaikan tahun 2007, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 8 Bandar Lampung diselesaikan tahun 2010, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Kautsar Bandar Lampung diselesaikan tahun 2013.
Alhamdulillahirobbil’alamin
Dengan tulus dan penuh rasa syukur kupersembahkan karya ini untuk:
Keluarga tercinta papa Dr. Ir. Rudy Sutrisna, M.S dan Ibu Ir. Any Kusumastuti, M.S serta kakak dan adikku sebagai wujud rasa terima kasih dan
baktiku atas doa, pengorbanan, kasih sayang, dan dukungan yang diberikan.
Prof. Dr. Ir. Setyo Dwi Utomo, M.Sc., dan
Dr. Ir. Erwin Yuliadi, M.Sc.yang telah memberikan saran, motivasi, dan bimbingan
serta
Almamater tercinta
Agroteknologi, Fakultas Pertanian,
“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan
kesanggupannya”
(QS. Al-Baqarah: 286)
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan..”
(Q.S. Al-Insyirah: 5)
“Sukses terdiri dari keberlanjutan kesalahan demi kesalahan tanpa
kehilangan rasa antusias”
SANWACANA
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah
Subhanahu wa Ta’ala, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta
berbagai kemudahan yang telah diberikan-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi dengan judul “Evaluasi Dan Uji Daya Hasil 24 Klon Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz) di Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan” merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pertanian Universitas Lampung. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Setyo Dwi Utomo, M.Sc., selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk memberikan saran, gagasan, bimbingan, dan ilmu bermanfaat sampai penulisan skripsi ini selesai. 2. Dr. Ir. Erwin Yuliadi, M.Sc., selaku Dosen Pembimbing Kedua yang
telah menyisihkan waktu dan pikirannya untuk memberikan fasilitas, saran, dukungan, serta bimbingan yang diberikan selama penelitian hingga
penulisan skripsi selesai.
4. Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
5. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
6. Prof. Dr. Ir. Soesiladi Esti Widodo, M.Sc., selaku Pembimbing Akademik. 7. Kedua orang tua, bapak Dr.Ir. Rudy Sutrisna, M.S., ibu Ir. Any Kusumastuti,
M.S., serta kakak dan adikku yang tidak pernah lupa berdoa kepada Allah SWT untuk kelancaran, serta mendukung secara moral dan material. 8. Rekan satu tim yaitu Dea Novia Natasya, Dena Tiara Marishka, Apriyanti,
dan Nur Kholis yang selalu memberikan semangat, kepeduliaan, keceriaan dalam proses penelitian maupun penulisan.
9. Sahabat terdekat Tri Hendra dan Ine Layna Azka yang tidak pernah lupa untuk mendukung dan memberi semangat.
10. Sahabat – sahabat di masa perkuliahan Catur Ryan N, Dito Aditya, Agil Ikhsandi , Ade Yulistiani, Dede Rahayu, Annisa Fitri, Muhammad Saifudin dan Dimmas Pranata G.
11. Teman-teman KKN yaitu Meyditia Al- Fanni, Nikita Riskila, Yoga Saputra, Yones Sepriansah, Ardian Ilham dan Bli Nyoman, yang tak pernah lupa untuk mendukung dan memotivasi.
12. Teman – teman Catur with the girls semasa perkuliahan Annove Kurnia A, Eka Aprilia, Alifia Rahma A, Dytri Anintyas, Dwi Arianti, Ervina Eka Putri, dan Ayu Dwi Raminda dan teman kelas AGT A lainnya yang sudah
13. Teman-teman Wacana Asik yaitu Ayu Widya P, Diah Monica, Arif Wicaksana, Andri Tri W dan David Irvanto.
14. Seluruh angkatan Agroteknologi 2013 yang telah bersama-sama dari awal perkuliahan.
15. Semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu per satu yang secara langsung telah membantu baik selama pelaksanaan penelitian maupun dalam proses penyelesaian skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan Penulis berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’alamembalas semua kebaikan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Bandar Lampung, November 2017 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vii
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 4
1.3 Kerangka Pemikiran ... 4
1.4 Hipotesis ... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Ubi Kayu ... 7
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman ... 8
2.3 Manfaat Tanaman ... 9
2.4 Pemuliaan Tanaman Ubi Kayu ... 10
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 13
3.2 Alat dan Bahan ... 13
3.3 Metode Penelitian ... 14
3.4 Analisis Data ... 15
3.4.1 Karakter Kuantitatif ... 16
3.4.2 Karakter Kualitatif ... 16
3.5 Pelaksanaan Penelitian ... 16
3.5.1 Pengolahan Tanah ... 16
3.5.2 Penanaman ... 16
3.5.3 Pemeliharaan ... 18
3.6 Variabel Pengamatan ... 18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 26
4.1.1 Karakter Kualitatif pada klon-klon ubi kayu ... 26
ii
4.1.3 Deskripsi Klon - Klon Unggul Ubi Kayu ... 40
4.2 Pembahasan ... 51
V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 60
5.2 Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 62
[image:15.595.106.514.76.254.2]DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Identitas 24 klon ubi kayu ... 14
2. Deskripsi klon UJ 3 dan UJ 5 ... 15
3. Tata letak percobaan ... 17
4. Warna daun pucuk ... 28
5. Warna tangkai atas ... 28
6. Warna tangkai bawah ... 29
7. Warna batang ... 30
8. Warna kulit luar ubi ... 30
9. Warna korteks ubi ... 31
10. Warna daging ubi ... 31
11. Rekapitulasi analisis ragam variabel kuantitatif yang diamati ... 32
12. Pengaruh klon terhadap tinggi tanaman, diameter batang, dan Tingkat percabangan reproduktif ... 34
13. Pengaruh perlakuan klon terhadap boobt brangkasan dan diameter penyebaran ubi ... 36
14. Pengaruh perlakuan klon terhadap jumlah ubi per tanaman dan Bobot ubi per tanaman ... ... 38
15. Pengaruh perlakuan klon terhadap rendemen pati, indeks panen dan jumlah lobus ... 40
[image:16.595.115.508.240.757.2]iv
17. Urutan 5 klon tertinggi berdasarkan variabel indeks panen
dan rendemen pati ... ... 42
18. Rekapitulasi 17 klon tertinggi berdasarkan variabel jumlah ubi per tanaman, bobot ubi per tanaman, indeks panen, dan kadar pati ... 43
19. Deskripsi klon Gayor dan T 190414-Bercabang ... 44
20. Deskripsi klon Malang 6-101 dan MU 22 ... 45
21. Deskripsi klon BL1 dan CMM-96-1-105 ... 46
22. Deskripsi klon MU III dan UJ 3 110116 MB-2 ... 47
23. Deskripsi klon UJ 3-Kecil dan CMM 25-27-MB1 ... 48
24. Deskripsi klon SL 87 dan CMM 25-27-281014 ... 49
25. Deskripsi klon CMM 25-27-172 dan SL 221 ... 50
26. Deskripsi klon Sl 3 dan CMM 25-27-3 ... 51
27. Rekapitulasi analisis ragam variabel kuantitatif ... 67
28. Tinggi tanaman klon-klon ubi kayu ... 68
29. Analisis ragaman tinggi tanaman ... 69
30. Diameter batang klon-klon ubi kayu ... 70
31. Analisis ragam diameter batang ... 71
32. Jumlah lobus klon-klon ubi kayu ... 72
33. Analisis ragam jumlah lobus ... 73
34. Tingkat percabangan reproduktif klon-klon ubi kayu ... 74
35. Tingkat percabangan reproduktif klon-klon ubi kayu (transformasi √x+0,5) ... 75
36. Analisis ragam tingkat percabanganreproduktif ... 76
v
38. Diameter penyebaran ubi klon-klon ubi kayu
(transformasi √x+0,5) ... 78
39. Analisis ragam diameter penyebaran ubi... 79
40. Jumlah ubi klon-klon ubi kayu ... 80
41. Jumlah ubi klon-klon ubi kayu (transformasi √x+0,5) ... 81
42. Analisis ragam jumlah ubi ... 82
43. Bobot ubi klon-klon ubi kayu ... 83
44. Bobot ubi klon-klon ubi kayu (transformasi √x+0,5 ... 84
45. Analisis ragam bobot ubi ... 85
46. Indeks panen klon-klon ubi kayu ... 86
47. Analisis ragam indeks panen ... 87
48. Bobot brangkasan klon-klon ubi kayu ... 88
49. Bobot brangkasan klon-klon ubi kayu (transformasi √x+0,5). ... 89
50. Analisis ragam bobot brangkasan ... 90
51. Rendemen pati klon-klon ubi kayu ... 91
52. Analisis ragam rendemen pati ... 92
53. Deskripsi klon 27 dan Bendo 3 ... 93
54. Deskripsi klon BL 1 dan CMM 25-27 MB1 ... 94
55. Deskripsi klon CMM 25-27-172 dan CMM 25-27-281014 ... 95
56. Deskripsi klon CMM 25-27-3 dan CMM 96-1-105 ... 96
57. Deskripsi klon Klenteng 16 KS dan Malang 6-101 ... 97
58. Deskripsi klon MU 104 danmu 22 ... 98
59. Deskripsi klon MU 35 dan MU 111 ... 99
60. Deskripsi klon Mulyo 3 dan SL 221 ... 100
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Skema Perakitn Varietas Unggul Ubi Kayu ... 11
2. Peta Jalan Penelitian (roadmap) Pemuliaan Ubi Kayu di Universitas Lampung ... ... 12
3. Tata Letak dan Cara Pengambilan Sampel ... 17
4. Alternatif warna daun pucuk ... 19
5. Alternatif warna tangkai daun ... 20
6. Alternatif warna batang ... 21
7. Alternatif warna kulit ubi bagian luar ... 22
8. Alternatif warna korteks ... 22
9. Alternatif warna daging ubi ... 23
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan sejenis tanaman perdu tahunan tropika dan subtropika yang ditanam secara komersil di Indonesia dan merupakan bahan makanan pokok di beberapa wilayah Nusantara. Ubi kayu memiliki manfaat dan kandungan seperti karbohidrat (34,7 g/ 100g), protein (1,2 g/ 100g) (Soetanto, 2008) serta pati dan kadar gula bebasnya yang tinggi (Carvalho et al., 2004). Selain itu ubi kayu dapat dimanfaatkan sebagai olahan makanan rumah tangga, minyak, tepung tapioka, pakan ternak maupun sebagai bahan papan untuk pembuatan pagar.
2
terbesar dengan kontribusi 7.387.084 ton pada luas areal panen 279.337 ha atau setara dengan 26 ton/ ha (Badan Pusat Statistik, 2016).
Produksi ubi kayu yang tinggi harus dipertahankan, mengingat kebutuhan bahan baku yang terus meningkat tiap tahunnya. Namun, budidaya ubi kayu menemui berbagai macam kendala seperti minimnya ketersediaan lahan akibat
pengkonversian lahan ke bidang industri perumahan dan kemungkinan terjadinya fluktuasi harga. Fluktuasi harga yang tinggi menyebabkan rendahnya minat petani dalam menggunakan bahan tanam bervarietas unggul, penggunan pupuk secara optimal maupun pemberian obat-obatan (pestisida) secara berkala. Jika
lingkungan dan sarana produksi tidak terpenuhi maka dapat menurunkan
produksi. Hal ini berdampak pada tidak stabilnya ketersediaan ubi kayu, sehingga diperlukan kegiatan yang dapat meningkatkan produksi dan produktivitas ubi kayu secara optimal.
3
Penelitian ini merupakan penilitian lanjutan dari kegiatan tersebut, yaitu menguji daya hasil dan evaluasi agronomi pada 24 klon unggul dari 120 klon yang
dihasilkan, kemudian dibandingkan dengan varietas unggul nasional/standar UJ3 dan UJ5. Setelah dilakukan pengujian diperoleh deskripsi secara agronomi dan morfologi pada setiap klon. Apabila klon yang diuji memiliki potensi yang lebih unggul daripada varietas standar maka klon tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai varietas unggul baru dengan produksi dan produktivitas yang tinggi.
Klon-klon ubi kayu yang siap dilepas sebagai varietas unggul harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut : (1) Terdapat silsilah tanaman dan metode pemuliaan yang digunakan, (2) Tersedia deskripsi yang lengkap dan jelas untuk memungkinkan identifikasi dan pengenalan varietas tersebut secara akurat, (3) Menunjukkan keunggulan terhadap varietas pembanding, (4) Pernyataan dari pemilik bahwa benih penjenis tersedia baik dalam jumlah maupun mutu yang cukup untuk perbanyakan lebih lanjut, dan (5) Dilengkapi data hasil pengujian lapangan seluruh lokasi atau laboratorium (Syukur, 2015). Berdasarkan hal tersebut pada penelitian kali ini akan dilakukan pengkajian deskripsi serta uji daya hasil pada setiap klon – klon ubi kayu agar dapat dilepas menjadi ubi kayu
4
Berdasarkan latar belakang dan masalah yang telah diuraikan, maka disusun perumusan masalah yaitu:
1. Apakah 24 klon ubi kayu memiliki keragaman karakter morfologi dan agronomi
2. Apakah 24 klon ubi kayu memiliki karakter morfologi dan agronomi yang lebih unggul dibandingkan dengan varietas standar UJ3 dan UJ5
3. Bagaimanakah karakter klon terbaik yang dibandingkan dengan varietas standar UJ3 dan UJ5
1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi keragaman pada 24 klon ubi kayu (Manihot esculenta Crantz)
2. Mengevaluasi keunggulan dari 24 klon ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) pada karakter morfologi dan agronomi yang dibandingkan dengan varietas standar UJ3 dan UJ5
3. Mendapatkan klon terbaik yang dibandingkan dengan varietas standar UJ3 dan UJ5
1.3 Kerangka Pemikiran
5
Selain itu bagian tanaman seperti daun maupun ampas ubi dapat dimanfaatkan sebagai olahan pangan maupun pakan ternak.
Namun, di antara kelebihan tersebut terdapat permasalahan pada budidayanya seperti minimnya ketersediaan lahan akibat pengkonversian lahan ke bidang industri perumahan dan kemungkinan terjadi fluktuasi harga menyebabkan minat petani yang rendah dalam penggunaan bahan tanam bervarietas unggul,
penggunan pupuk secara optimal, maupun pemberian obat-obatan (pestisida) secara berkala. Jika lingkungan dan sarana produksi tidak terpenuhi maka dapat menurunkan produksi. Mengingat kebutuhan bahan baku yang terus meningkat, hal tersebut akan berdampak pada tidak stabilnya ketersediaan ubi kayu, dengan demikian untuk mempertahanakan dan meningkatkan produksi serta produktivitas ubi kayu dilakukan penggunaan ubi kayu bervarietas unggul.
6
genetik secara mudah. Terdapatnya keragaman pada suatu populasi akan memudahkan proses seleksi yang efektif. Seleksi yang dilakukan dengan baik dilanjutkan dengan evaluasi karakter agronomi dengan perolehan deskripsi keragaman pada klon – klon ubi kayu yang diamati. Deskripsi tersebut nantinya akan berfungsi sebagai salah satu syarat untuk memenuhi pelepasan klon-klon ubi kayu bervarietas unggul.
Penelitian ini berada pada posisi evaluasi karakter agronomi dan uji daya hasil beberapa klon unggul dari bahan tanam stek hasil koleksi, introduksi dan
hibridisasi yang kemudian dibandingkan dengan varietas unggul nasional/standar UJ3 dan UJ5. Apabila hasil klon yang diperoleh memiliki potensi yang lebih unggul dibandingkan varietas standar maka klon tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai varietas unggul baru.
1.4 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan, maka diperoleh hipotesis sebagai berikut.
1. Terdapat keragaman pada 24 klon ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) 2. Terdapat klon – klon lebih unggul yang dibandingkan dengan varietas
pembanding/standar UJ3 dan UJ5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Ubi kayu
Tanaman ubi kayu dalam sistematika (klasifikasi) tumbuhan, diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Manihot
Spesies : Manihot esculenta Crantz sin. M. Utilissima Pohl (Rukmana, 1997).
8
batang ubi kayu beruas-ruas, panjang dan berkayu serta empulur pada batang ubi kayu berwarna putih dan lunak seperti gabus (Alves, 2002).
Daun tanaman ubi kayu memiliki 5 - 9 lobus dengan bentuk daun menjari (Rukmana, 1997). Jenis bunga yang dimiliki yaitu bunga berumah satu dan mengalami proses penyerbukan silang. Bunga jantan pada tanaman ubi kayu memiliki 2 lingkaran dimana masing-masing lingkaran tersebut terdapat 5 benang sari. Penyerbukan sendiri akan terjadi secara alamiah jika bunga jantan dari tangkai bunga berbeda (dalam satu tanaman) membuka bersamaan (Jennings dan Iglesias, 2002).
Akar pada tanaman ubi kayu akan membentuk ubi sebagai akibat dari perubahan akar
tanaman yang kemudian dijadikan sebagai tempat penimbunan pati. Bentuk ubi pada
umumnya bulat memanjang, berwarna putih gelap atau kuning gelap dan pada setiap
tanaman dapat menghasilkan kisaran 5 - 10 ubi.
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman
Ubi kayu (Manihot esculenta Cratntz) adalah perdu tahunan tropika dan
subtropika dari suku Euphorbiaceae. Ubi kayu tumbuh pada kondisi iklim yang sangat variatif, berkisar antara 30o LS dan 30o LU,pada ketinggian antara 0-2300 diatas permukaan laut ( Wargiono et al., 2009).
9
5 yang pada umumnya ditanam pada lahan tersebut (Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Ubi-ubian, 2012).
Struktur tanah gembur adalah hal utama dalam penanaman ubi kayu sebab tanah yang gembur akan berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan ubi. Disamping itu, untuk mendukung produksi ubi yang tinggi diperlukan pemberian pupuk secara tepat, terutama pada tanah yang berat diperlukan pemberian pupuk organik secara berkala (Prihandana et al., 2007).
Tanaman ubi kayu menghendaki curah hujan cukup. Curah hujan yang optimum untuk ubi kayu berkisar antara 760 nm–1.015 nm per tahun. Apabila curah hujan terlalu tinggi dan drainase kurang baik, maka bagian daun, batang dan ubi akan berpotensi terkena serangan jamur dan bakteri (Prihandana et al., 2007).
2.3 Manfaat Tanaman
Ubi kayu mempunyai banyak manfaat dan prospek yang cukup baik seperti untuk pembuatan bioetanol. Selain itu, ubi kayu memiliki kadar gula bebas (surgary cassava) tinggi (Carvalho et al., 2004) sehingga dapat mempercepat proses
fermentasi (hidrolisis) pati menjadi etanol (bioetanol).
Ubi kayu digelari sebagai makanan super oleh Center for Science in the Public Interest, berkat kandungan nutrisinya. Sepotong ubi kayu ukuran sedang
10
Pemanfaatan ubi kayu menjadi Modified Cassava Flour (MOCAF) yaitu tepung ubi kayu yang dimodifikasi. Prinsip modifikasi pada pembuatan tepung ini terjadi pada sel ubi kayu dengan cara difermentasi. Mikroba asam laktat pada proses fermentasi menghasilkan enzim-enzim pektinolitik dan sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel ubi kayu, sehingga terjadi liberasi granula pati, selain itu terjadi hidrolisis pada pati menjadi gula kemudian diubah menjadi asam-asam organik (asam laktat) dengan bantuan enzim lain yang dihasilkan dari mikroba tersebut. Hal tersebut menyebabkan karakter tepung lebih mudah terlarut, dan naiknya viskositas, kemampuan gelasi serta daya dehidrasi (Effendi, 2010).
2.4 Pemuliaan Tanaman Ubi kayu
2.4.1 Tahap-Tahap PerakitanVarietas/KlonUnggul
Umumnya perbanyakan ubi kayu dilakukan secara vegetatif, sehingga karakter fenotipe pada tanaman yang dihasilkan bersifat homogen. Dalam pelaksanaan perakitan variestas/ klon unggul ubi kayu dilakukan beberapa tahap meliputi penciptaan dan perluasan keragaman genetik populasi awal, evaluasi karakter agronomi dan seleksi kecambah dan tanaman yang tumbuh dari biji botani, evaluasi dan seleksi klon, uji daya hasil pendahuluan ,dan uji daya hasil lanjutan (CIAT, 2005).
Pelepasan suatu galur bervarietas unggul dapat dilakukan dengan terpenuhinya populasi yang beragam pada galur tersebut. Populasi yang beragam dapat
11
negara lain. Pada proses perakitan suatu varietas/klon menjadi varietas/ klon yang unggul, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu : (1) Varietas atau klon yang dihasilkan harus mempunyai tingkat efisiensi produksi yang baik, artinya input yang diberikan harus memberikan pertambahan bagi output, (2) Perlu diperhatikan kebiasaan pola tanam di wilayah yang akan menggunakan varietas yang akan dihasilkan, (3) Varietas unggul terkait dengan sarana produksi yang diperlukan, (4) Hasil yang diberikan tidak dapat lepas dari peluang pemasarannya (Syukur et al., 2012).
[image:31.595.113.512.431.702.2]Tahap evaluasi dalam rangka seleksi dilakukan setelah diperolehnya populasi yang beragam. Modifikasi skema tahap-tahap pemuliaan ubi kayu oleh Ceballos et al (2006) dalam seleksi untuk perakitan varietas unggul ubi kayu tersaji pada
(Gambar 1).
12
2.4.2 Pemuliaan Tanaman Ubi kayu di Universitas Lampung
[image:32.595.110.503.380.715.2]Perakitan varietas/ klon unggul nasional dapat dilakukan dengan adanya sumber genetik dengan keragaman yang luas. Dengan tercapainya suatu varietas unggul dapat mempengaruhi pada peningkatan produksi ubi kayu sehingga hasil produksi yang dieroleh dapat digunakan secara efisien sesuai kebutuhan yang diinginkan. Pada pemuliaan tanaman ubi kayu di Universitas Lampung perolehan varietas unggul diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi bioetanol (Utomo et al., 2015) Kegiatan pemuliaan tanaman sudah dilakukan pada tahun 2010-2015 yang tersaji pada Gambar 2, meliputi introduksi dan eksplorasi dari stek dan benih botani, hibridisasi alami dan buatan antarklon atau antar varietas unggul nasional.
Gambar 2. Peta Jalan penelitian (Roadmap) Pemuliaan Ubi kayu di Universitas Lampung (Utomo et al., 2015)
Hibridisasi alami & buatan antar klon (2011-2015) Regenerasi in vitro & induksi keragaman somaklonal (2013) Studi Genetik Introduksi / eksplorasi klon-klon dari stek benih botani (2010-2011) Karakterisasi, evaluasi dan seleksi klon (2013-2015) Uji Daya Hasil
Plasma Nutfah dan Klon-Klon Ubi Kayu
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Universitas Lampung yang terletak di Desa Muara Putih, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan mulai bulan Januari sampai dengan Desember 2016.
3.2 Alat dan Bahan
14
3.3 Metode Penelitian
[image:34.595.116.514.300.697.2]Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) berdasarkan plot yang terdiri dari 2 ulangan. Setiap ulangan terdapat 24 perlakuan dengan masing-masing ulangan terdapat 10 tanaman sebagai satuan percobaan dan 3 tanaman merupakan tanaman sampel. Perlakuan klon-klon yang diamati tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1. Identitas 24 Klon Ubi Kayu
No Aksesi Asal
1 MU III F1 half siblings Mentik Urang-
2 CMM 25-27-281014 F1 half siblings CMM 25-27
3 Gayor F1 half siblings Gayor
4 MU 35 F1 half siblings Mentik Urang
5 SL 221 F1 half siblings Sayur Liwa
6 MU 22 F1 half siblings MU-22
7 CMM 25-27-MB1* F1 half siblings CMM 25-27
8 T 190414-bercabang** F1 half siblings Thailand
9 Bendo 3 F1 half siblings Bendo-3
10 SL 36 F1 half siblings Sayur Liwa
11 UJ 3 110116 MB-2 F1 half siblings UJ3
12 MU 104 F1 half siblings Mentik Urang
13 Malang 6-101 F1 half siblings Malang
14 SL 87 F1 half siblings Sayur Liwa
15 UJ 3 F1 half siblings UJ3
16 BL 1 Lokal Lampung
17 UJ 5 F1 half siblings UJ3
18 UJ 3-Kecil F1 half siblings UJ3
19 Mulyo 3 F1 half siblings Klon Mulyo
20 Klenteng 16 KS F1 half siblings Klenteng
21 CMM 25-27-155 F1 half siblings CMM 25-27
22 UJ 3-13-Bercabang** F1 half siblings UJ3
23 CMM 25-27-172 F1 half siblings CMM 25-27
24 CMM 25-27-3 F1 half siblings CMM 25-27
Keterangan:
half siblings : Nama tetua betina
*Bunga : Bahan tanam berasal dari biji
15
[image:35.595.112.540.179.571.2]Penelitian ini menggunakan klon UJ-5 dan UJ-3 sebagai varietas pembanding. Deskripsi klon UJ-5 dan UJ-3 diruraikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Deskripsi Klon Pembanding UJ-5 dan UJ-3
No. Deskripsi UJ 3 UJ 5
1 Dilepas tahun 2000 2000
2 Nama daerah Rayong-6 Kasetsart-50
3 Asal Introduksi dari Thailand Introduksi dari Thailand 4 Potensi hasil 20– 35 t/ha ubi segar 25– 38 t/ha ubi segar 5 Umur panen 8– 10 bulan 9– 10 bulan
6 Tinggi tanaman 2,5– 3,0 m >2,5 m
7 Bentuk daun Menjari Menjari
8 Warna pucuk daun Hijau muda kekuningan Coklat
9 Warna petiole Kuning kemerahan Hijau muda kekuningan 10 Warna kulit batang Hijau merah kekuningan Hijau perak
11 Warna batang dalam Kuning Kuning 12 Warna ubi Putih kekuningan Putih
13 Warna kulit ubi Kuning keputihan Kuning keputihan 14 Ukuran tangkai ubi Pendek Pendek
15 Tipe tajuk >1 m >1 m
16 Bentuk ubi Mencengkeram Mencengkeram
17 Rasa ubi Pahit Pahit
18 Rendemen pati 20,0– 27,0% 19,0– 30,0%
19 Kadar air 60,63% 60,06%
20 Kadar abu 0,13% 0,11%
21 Kadar serat 0,10% 0,07%
22 Ketahanan terhadap penyakit
Agak tahan CBB (Cassava Bacterial Blight)
Agak tahan CBB (Cassava Bacterial Blight)
23 Peneliti/pengusul Palupi Puspitorini, Fauzan, Muchlizar Murkan,
Syahrin Mardik, Koes Hartojo
Palupi Puspitorini, Fauzan, Muchlizar Murkan,
Syahrin Mardik, Koes Hartojo
Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (2012)
3.4 Analisis Data
16
1.4.1 Karakter kualitatif
Karakter kualitatif diuji dengan menghitung persentase sifat yang muncul dari keseluruhan sifat pada setiap klon atau perlakuan yang diberikan.
1.4.2 Karakter Kuantitatif
Data kuantitatif yang sudah diperoleh kemudian diuji homogenitas ragamnya dengan menggunakan Uji Barlett. Jika data memenuhi asumsi maka dilanjutkan dengan analisis ragam untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antar perlakuan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%, pada variabel (jumlah lobus dan tingkat percabangan ) tertentu digunakan analisis deskriptif.
3.5 Pelaksanaan Penelitian
3.5.1 Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan diawali dengan melakukan pembersihan lahan dari gulma, kemudian dilanjutkan dengan penggemburan tanah secara mekanik menggunakan cangkul. Lahan yang telah diolah dibuat petakan berukuran 250 m2 sebagai petak untuk pertanaman.
3.5.2 Penanaman
17
P1
P2
P1
P3
P1
P1 I
P1
P2
P3
II
P1 x
z
stek ubi kayu dilakukan dengan jarak tanam 100 x 50 cm, stek yang sudah siap ditanam dengan cara menancapkan stek dengan kedalaman 1/3 dari panjang batang dengan tunas menghadap ke atas. Petak percobaan tersaji pada Gambar 3 dan Tabel 3 berikut ini.
Gambar 3. Tata Letak Percobaan dan Pengambilan Sampel Keterangan:
I = Ulangan I II = Ulangan II
X = Jarak antar tanaman sebagai perlakuan (100 cm) Z = Jarak antar tanaman sebagai satuan percobaan (50 cm) P1 = Klon tanaman sebagai perlakuan
18
Tabel 3. Tata Letak Percobaan
No Klon Ulangan 1 Klon Ulangan 2
1 MU III Bendo 3
2 CMM 25-27-281014 T 190414
3 Gayor Mulyo 3
4 MU 35 Klenteng 16 KS
5 SL 221 CMM 25-27-3
6 MU 22 MU 104 Bercabang
7 CMM 25-27-MB1 Malang 6-101
8 T 190414-bercabang UJ 3 TBB
9 Bendo 3 CMM 96-1-105
10 SL 36 CMM 25-27-172
11 UJ 3 110116 MB-2 MU 22
12 MU 104 UJ 5 TBB
13 Malang 6-101 MU 35
14 SL 87 27
15 UJ 3 TBB UJ 3-Kecil
16 BL 1 SL 221
17 UJ 5 TBB UJ 3-13-Bercabang
18 UJ 3 Kecil MU 111
19 Mulyo 3 CMM 25-27-155
20 Klenteng 16 KS SL 87
21 CMM 25-27-155 BL 1
22 UJ 3-13-Bercabang CMM 25-27 MB 1 Mudah Berbunga
23 CMM 25-27-172 UJ 3 110116 MB 2
24 CMM 96-1-105 SL 36
25 CMM 25-27-3 CMM 25-27 281014
3.5.3 Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pengguludan, pemupukan dan pengendalian gulma. Penyiraman pada tanaman dilakukan berdasarkan curah hujan. Pengguludan dilakukan setelah 1-2 BST. Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk NPK Mutiara dengan dosis 300 kg/ha .
19
3.6 Variabel Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada variabel kualitatif dan kuantitatif. Variabel kuantitatif meliputi tinggi tanaman, diameter batang tanaman, diameter penyebaran ubi, jumlah ubi per tanaman, bobot ubi per tanaman, bobot
brangkasan, jumlah lobus, tingkat percabangan, indeks panen dan rendemen pati . Variabel kualitatif meliputi warna pucuk daun, warna permukaan atas tangkai daun, warna permukaan bawah tangkai daun, warna kulit luar batang, warna kulit ubi bagian luar, warna kulit ubi bagian dalam, dan warna daging ubi, Pengamatan kualitatif berupa warna dilakukan secara visual berdasarkan Deskripsi Morfologi dan Agronomi untuk Tanaman Singkong (Fukuda et al., 2010).
1. Warna daun pucuk
Pengamatan warna daun pucuk dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst). Warna daun pucuk diamati dan disesuaikan dengan pilihan warna pada buku panduan, adapun skala pengamatannya sebagai berikut (Gambar 4).
[image:39.595.124.479.513.637.2]a b c d
20
2. Warna permukaan atas tangkai daun
Pengamatan warna permukaan atas tangkai daun dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst). Warna permukaan atas tangkai daun yang diamati pada tangkai daun yang ke-5 dari pucuk kemudian warna disesuaikan pada buku panduan dengan skala pengamatan terdapat pada (Gambar 5).
3. Warna permukaan bawah tangkai daun
Pengamatan warna permukaan bawah tangkai daun dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst). Warna permukaan bawah tangkai daun yang diamati pada tangkai daun yang ke-5 dari pucuk kemudian warna disesuaikan pada buku panduan dengan skala pengamatan terdapat pada (Gambar 5).
a b c
[image:40.595.179.415.385.690.2]d e f
21
4. Warna batang
Pengamatan warna batang dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst) dengan mengamati batang bagian bawah yang terletak 30 cm dari titik tumbuh stek kemudian warna disesuaikan pada buku panduan dengan skala pengamatan sebagai berikut (Gambar 6).
a b c d
[image:41.595.162.456.227.509.2]e f g
Gambar 6. Alternatif warna batang: (a) oranye; (b) hijau kekuningan; (c) keemasan; (d) coklat terang; (e) perak; (f) abu-abu dan (g) coklat gelap (Fukuda et al., 2010).
5. Warna kulit ubi bagian luar
22
[image:42.595.176.416.87.230.2]a b c d
Gambar 7. Alternatif warna kulit ubi: (a) putih; (b) kuning; (c) coklat terang dan (d) coklat gelap (Fukuda et al., 2010).
6. Warna Korteks Ubi
Pengamatan warna korteks ubi dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst), dengan mengelupas kulit bagian luar ubi kemudian warna disesuaikan pada buku panduan dengan skala pengamatan sebagai berikut (Gambar 8).
a b c d
Gambar 8. Alternatif warna korteks ubi: (a) merah muda; (b) ungu; (c) putih dan (d) kuning (Fukuda et al., 2010).
7. Warna daging ubi
[image:42.595.154.428.421.561.2]23
[image:43.595.161.443.93.177.2]a b c d
Gambar 9. Alternatif warna daging ubi: (a) putih; (b) putih susu; (c) kuning dan (d) merah muda (Fukuda et al., 2010).
8. Jumlah lobus
Pengamatan jumlah lobus dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst), dengan menghitung daun yang menjari pada satu tangkai daun ke-5 dari pucuk tanaman.
Gambar 10. Jumlah lobus daun (Fukuda et al., 2010).
9. Tinggi tanaman
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada umur 40 minggu setelah tanam (40 mst), dimulai dari titik tumbuh stek sampai pucuk daun pada tanaman.
10. Diameter batang
[image:43.595.133.496.353.445.2]24
11. Tingkat percabangan tanaman reproduktif
Pengamatan tingkat percabangan tanaman dilakukan pada umur 32 minggu setelah tanam (32 mst) dengan menghitung banyaknya tingkat cabang yang terbentuk setelah percabangan tingkat 1.
12. Bobot brangkasan
Penimbangan bobot brangkasan ubi dilakukan pada umur 40 minggu setelah tanam (40 mst), ubi ditimbang menggunakan timbangan manual dan dinyatakan dalam gram pada setiap tanaman sampel dari masing-masing klon ubi kayu.
13. Diameter penyebaran ubi
Pengukuran diameter penyebaran ubi dilakukan pada umur 40 minggu setelah tanam (40 mst), sebaran ubi diukur menggunakan meteran dengan mengukur jarak terjauh dari ujung-ujung ubi.
14. Jumlah ubi per tanaman (JUPT)
Penghitungan jumlah ubi dilakukan pada umur 40 minggu setelah tanam (40 mst) dengan menghitung jumlah ubi pada satu tanaman yang berdiameter 1 cm.
15. Bobot ubi per tanaman (BUPT)
25
16. Rendemen pati
Menurut Sunyoto (2013) langkah-langkah perhitungan rendemen pati yaitu disiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan seperti mesin parutan, timbangan digital, pisau, nampan, dan ubi kayu dari masing-masing klon. Proses selanjutnya ubi kayu yang telah disipakan, dikupas, dicuci lalu ditimbang (misalnya: X gram). Bahan baku yang telah ditimbang kemudian diparut menggunakan mesin parutan. Apabila ada sisa dari ubi yang diparut, maka sisa ini dijadikan sebagai “koreksi” yaitu bobot kupasan dikurangi bahan tidak terparut (missalnya: Y gram).
Tahap selanjutnya ditambahkan air pada hasil parutan, lalu dibilas/diperas 3 kali, kemudian wadah nampan ditimbang dan dicatat bobotnya ( missal: A gram). Hasil perasan ditampung dalam wadah nampan dan diletakkan di tempat teduh selama 2 jam sampai perasan ubi mengendap. Endapan tersebut kemudian dikeringkan dengan oven (70 C) , setelah kering ditimbang wadah beserta endapannya (missal: B gram). Hasil pengeringan tersebut dinamakan pati, yang selanjutnya dilakukan perhitungan rendemen pati menggunakan rumus :
Berat pati (C) = B-A
Rendemen pati =
Keterangan:
A: Berat wadah nampan B: Berat wadah beserta pati C: Berat pati
26
17. Indeks Panen
Perhitungan variabel indeks panen dihitung dengan rumus sebagai berikut :
IP=
x 100 % Keterangan:
IP: Indeks Panen BU: Bobot Ubi
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Karakter kualitatif pada warna pucuk daun didominasi oleh warna hijau keunguan, warna tangkai atas daun didominasi oleh warna hijau kemerahan, warna tangkai bawah daun didominasi oleh warna merah, warna batang didominasi oleh warna perak, warna kulit luar ubi didominasi oleh warna coklat terang, warna korteks ubi didominasi oleh warna kuning dan warna daging ubi didominasi oleh warna putih.
61
3. Klon MU 1111 merupakan klon terbaik dari keseluruhan klon yang diamati
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Agbaje G. O and Akinlosotu T.A. 2004. Influence of NPK fertilizier on tuber yieldof early and planted cassava in a forest alfisol of south western Nogeria. African Journal of Biotecnology. 3(10): 547-551
Aldiansyah. 2012. Evaluasi Karakter Vegetatif Klon – Klonubikayu (Manihot Esculenta Crantz) Di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan. (Skripsi). Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Lampung. 101 Hlm Alves, A.A.C. 2002. Cassava Botany and Physicology. In Cassava: Biology,
Production and Utilization, eds Hillocks, R.J., Thresh, J.M. and Belloti, A.C., CAB International, pp. 67—89.
Badan Pusat Statistik. 2016. Produksi Ubi Kayu Menurut Provinsi (ton), 1993-2015. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/880. Diakses 10 Maret 2017.
Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi-Umbian. 2012. Uji Multilokasi Ubi Kayu Umur Genjah. Malang. http://balitkabi.litbang.deptan.go.id/id/hasil-penelitian-utama/blog/page-2. Diakses 2 Maret 2017.
Carvalho, L. J. C. B., C.R.B. de Souza, J.C.M. Cascardo, C.B. Junior, dan L.Campos. 2004.Identification and characterization of a novel cassava
(Manihot esculenta Crantz) clone with high free sugar content and novel starch. Plant Mol Biol 56:643–659
Ceballos, H., Pérez, J. C., Calle, F., Jaramillo, G., Lenis, J. I., Morante, N., & López, J. 2006. A new evaluation scheme for cassava breeding at CIAT. In Cassava Research and Development in Asia: Exploring New Opportunities for an Ancient Crop. Proceedings of the 7th Regional Cassava Workshop, DOA-CIAT, Bangkok, Thailand (pp. 125-135).
63
Clarizky, A., E. Yuliadi dan Ardian. 2013. Berbagai Pengaruh Perlakuan Pada Stek Batang Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) Terhadap Pertumbuhan Ubi. Jurnal Kelitbangan. 2(3) : 103
Darkwa, N.A., F.K. Jetuah and D.Sekyere. 2003. Utilization of Cassava Flour for Production of Adhesive for the Manufacture of Paperboards. Sustainable industrial markets for cassava project. Final reports on project output 2.2.2 Forestry Research Institute of Ghana. Hlm 16.
Efendi P J., 2010. Kajian Karaktristik Fisik Mocaf (Modified Cassava Flour) Dari Ubi Kayu (Manihot Esculenta Crantz) Varietas Malang-I Dan Varietas Mentega Dengan Perlakuan Lama Fermentasi. Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Skripsi. Hlm.1
Fageria, N.K., Filho, M.P.B., and Dacosta, J.H.C.2009. Potassiuminthe Use of Nutrients in Crop Plants.CRC Press Taylor & Francis Group, Boca Raton,London, New York. 131-163
Farhad, I.S.M, Islam, M.N., Hoque, S nd Bhuiyan, M.S.I. 2010. Role of pottasium and sulphur on the growth, yield and oil contet of soybean ( Glycine maxL.). Ac.J.Plant Sci. 3(2): 99-103
Fukuda, W. M. G., C. L. Guevara, R. Kawuki, and M. E. Ferguson. 2010.Selected Morphological and Agronomic Descriptors for TheCharacterization of Cassava. International Institute of Tropical Agriculture (IITA), Ibadan, Nigeria. Nigeria
Islami, T. 2015. Ubi kayu tinjauan aspek ekofisiologis serta upaya peningkatan dan keberlanjutan hasil tanaman. Graha Ilmu. Yogyakarta. 100 Hlm. Jennings, D.L. and C.A. Iglesias. 2002. Breeding for crop improvement. hlm.
149-166. In : R.J. Hillocks, J.M. Thresh, and A. C. Belloti (Eds.). Cassava : Biology, Production, and Utilization. CABI Publ., New York, USA
Minantyorini, N. Zuraida, dan A. Dimyati. 1993.Penampilan sifat-sifat utama pada
seleksi lanjutklon-klon ubikayu. Risalah Hasil PenelitianTanaman Pangan
3:11-15.
Noerwijati, K. 2012. Keragaan Klon-Klon Ubi Kayu Dengan Potensi Hasil Umbi dan Pati Tinggi Sebagai Bahan Baku Industri. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang. 9 hlm.
Onwueme, I.C. and Charles, W. B. 1994.Tropical Root and Tuber Crops
64
Prihandana, R., K., Noerwijati, P.G. Adinurani, D. Setyaningsih, S. Setiadi, dan R. Hendoko. 2007. Bioetanol Ubi Kayu, Bahan Bakar Masa Depan. Jakarta. PT. AgroMedia Pustaka. Jakarta. 195 hlm.
Purwono dan H. Purnamawati. 2009. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta. 139 hlm.
Putri, D.I., E. Yuliadi dan S.D. Utomo. 2013. Keragaman Karakter Agronomi Klon-Klon F1 Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) Keturunan Tetua Betina UJ-3, CMM 25-27, dan Mentik Urang. Jurnal Agrotek Tropika. 1 (1) : 1 - 7
Rukmana. R. 1997. Ubi Kayu Budi Daya dan Pasca Panen. Peberbit Kanisus. Yogyakarta.
Setyono A., Soeharmadi dan Sudaryono, 1991. Beberapa Cara Pengolahan dalam Usaha Memperdayagunakan Ubijalar. Dalam Proseding Hasil penelitian Pascapanen, 10 Februari 1991. Hal 190-194.
Soetanto, N.E. 2008. Tepung Kasava dan Olahannya. Kanisius. Yogyakarta.81 hlm.
Sukmawan, A. 2017. Evaluasi Karakter Morfologi dan Agronomi 20 Klon Ubi Kayu ( Manihot esculenta Crantsz) di Natar Lampung Selatan. Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Skripsi. Hlm 52.
Sundari, T., K. Noerwijati., dan I.M.J.Mejaya. 2010. Hubungan antara komponen hasil dan hasil umbi klon harapan ubi kayu. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 29 (1) : hal 35
Swandari, T. 2015. Deteksi keberadaan dan ekspresi gen terkait biosintesis antosianin pada persilangan cabai (Capsicum spp.). Program Studi S2 Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada. Tesis.92 hlm.
Sunyoto. 2013. Panduan Praktikum Perhitungan Kadar Aci. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 1 hlm.
Syukur, M., S. Sujiprihati, R. Yunianti. 2012. Teknik Pemuliaan Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta. 348 hlm
65
Utomo S D., Erwin Y., Yafizham., dan Edy A. Perakitan . 2015. Varietas Unggul Ubi Kayu Berdaya Hasil Tinggi Dan Sesuai Untuk Produksi Bioetanol Melalui Hibridisasi, Seleksi Dan Uji Daya Hasil. Proposal Penelitian Strategi Nasional. Hlm 12-13
Wargiono, J., A. Hasanuddin, dan Suyamto. 2006. Teknologi Produksi Ubi Kayu Mendukung Pengembangan Industri Bioethanol. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 18 hlm.
Wargiono, J. Solihin, T. Sundari, dan Kartika. 2009. Fisiologi dan sejarah penyebaran. hlm. 91-97. Dalam J.Wargiono, Hermanto, dan Sunihardi (Eds.) Ubi kayu. Inovasi Teknologi dan Kebijakan Pengembangan.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian Widodo, Y. 1990. KeeratanHubungan antara Sifat Kuantitatif pada Ubi Jalar.
Jurnal Penelitian Tanaman Pangan Malang : 215- 220.
Widowati, S. dan Djoko S. Damardjati. 2001. Menggali Sumberdaya Pangan Lokal dan Peran Teknologi Pangan Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional. Majalah Pangan No. 36/X/Januari 2001. Puslitbang Bulog. Jakarta. Hal. 3-11.
Wijayanto, T. 2007. Karakteristik Sifat-sifat Agronomi Beberapa Nomor Koleksi Sumberdaya Genetik Jagung Sulawesi. Jurnal Penelitian dan Informasi Pertanian Agrin.