EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR
DI KECAMATAN GADINGREJO
(Skripsi)
Oleh : Ilham Rusdi Choir
1311021042
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DI KECAMATAN GADINGREJO
Oleh
ILHAM RUSDI CHOIR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi alokatif (harga) faktor-faktor produksi usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Gadingrejo. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pakan, Populasi Ayam, Tenaga Kerja, dan Luas Kandang. Jenis data dalam penelitian yang digunakan adalah data primer, yang dipilih secara sengaja (purposive sampling). Jumlah populasi sebesar 74 sehingga jumlah sampel pada penelitian ini maka didapat sampel sebesar 38 peternak ayam ras petelur. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Model penelitian menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dan metode regresi linear berganda dengan menggunakan estimasi Ordinary Least Square (OLS) dan perhitungan efisiensi. Hasil dari analisis menunjukkan variabel Pakan, Populasi Ayam, Tenaga Kerja, dan Luas Kandang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi telur di Kecamatan Gadingrejo. Variabel Pakan belum efisien secara harga, variabel Populasi Ayam belum efisien secara harga, variabel Tenaga Kerja belum efisien secara harga, dan variabel Luas Kandang belum efisien secara harga.
Kata Kunci : Ayam Ras Petelur, Cobb-Douglas, Efisiensi Alokatif, Kecamatan Gadingrejo, OLS
ABSTRACT
ALLOCATIVE EFFICIENCY OF FACTORS FOR PRODUCTION OF LIGHT RAS CHICKEN FARMING BUSINESS IN GADINGREJO
DISTRICT
By
ILHAM RUSDI CHOIR
This study aims to determine the allocative efficiency (price) of the factors of production of laying chicken farms in Gadingrejo District. The independent variables in this study are the Feed, Chicken Population, Labor, and Cage Area. The type of data in the study used is primary data, chosen deliberately (purposive sampling). The total population was 74 so the number of samples in this study obtained a sample of 38 breeders laying hens. The analysis used in this study uses quantitative descriptive analysis. The research model uses the Cobb-Douglas production function and multiple linear regression methods using Ordinary Least Square (OLS) estimation and efficiency calculations. The results of the analysis showed the variable Feed, Chicken Population, Labor, and Cage Area had a positive and significant effect on egg production in Gadingrejo District. The Feed Variable is not yet price efficient, the Chicken Population variable is not yet price efficient, the Labor variable is not yet price efficient, and the Cage Area variable is not price efficient.
Keywords: Allocative Efficiency, Cobb-Douglas, Gadingrejo District, Laying Hens, OLS
EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR
DI KECAMATAN GADINGREJO
Oleh : Ilham Rusdi Choir
1311021042
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
Pada
Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Ilham Rusdi Choir dilahirkan pada tanggal 11 November 1995 di
Desa Tegalsari, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Penulis adalah
anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Subagiyo dan Ibu
Tarmiasih.
Penulis mulai menjalani pendidikan formal di SDN 1 Tegalsari dan lulus pada
Tahun 2007. Setelah itu penulis melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 1
Gadingrejo dan lulus pada Tahun 2010. Kemudian penulis melanjutkan
pendidikan ke SMA Negeri 1 Gadingrejo dan lulus pada tahun 2013. Ketika di
bangku SMA, penulis aktif dibidang ekstrakulikuler Drumband Gita Galang
Pesona dengan jabatan sebagai wakil ketua pada periode tahun 2011-2012 dan
ekstrakulikuler karate.
Pada Tahun 2013, penulis diterima sebagai mahasiswa Ekonomi Pembangunan,
Fakultas Ekonomi dan Bisnis perguruan tinggi Universitas Lampung melalui jalur
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Pada Tahun 2014, penulis mengikuti Kuliah Kunjungan Lapangan (KKL)
kebebrapa institusi yaitu Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional bersama dengan mahasiswa ekonomi
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Lampung Tengah,
Kecamatan Selagai Lingga, Kelurahan Margajaya selama 40 hari sebagai bentuk
MOTO
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah perbuatan jahat
dengan kebaikan supaya terhapus kejahatan, dan bergaul lah dengan sesama
manusia dengan budi baik”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
“Barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia maka haruslah dengan ilmu,
barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat haruslah dengan ilmu,
dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan pada keduanya maka haruslah
dengan ilmu”
(HR. Ibn Asakir)
“Tidaklah ada pemberian dari orang tua kepada anaknya yang lebih utama
daripada budi pekerti yang baik”
PERSEMBAHAN
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat yang diberikan,
serta shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Aku
persembahkan skripsi ini sebagai tanda cinta dan terima kasihku kepada:
Ayah dan Ibuku tercinta, adikku tersayang, kakek dan nenek tersayang, terima
kasih atas segala doa, pengorbanan materi maupun non materi, dan kasih sayang
yang tulus selama ini memberikan bimbingan, dorongan, semangat, serta motivasi
terbesar untuk mewujudkan keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Sahabat-sahabat tercinta yang dengan tulus menyayangiku, saling mendoakan,
memberikan dukungan, semangat, dan keceriaan kepadaku.
Dosen serta staff Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Almamater
SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul : “Efisiensi Alokatif Faktor-Faktor Produksi
Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur Di Kecamatan Gadingrejo” sebagai syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lampung.
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak memperoleh dukungan dan
bantuan oleh berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini dengan ketulusan
hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Nairobi, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lampung.
2. Ibu Dr. Neli Aida, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
3. Bapak Dr. Heru Wahyudi, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi
Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.
4. Bapak Muhidin Sirat, S.E.,M.Si. dan Ibu Emi Maimunah, S.E., M.Si. selaku
Dosen Pembimbing skripsi penulis selama ini. Terima kasih telah
meluangkan waktu untuk membimbing dengan penuh kesabaran, memberikan
6. Dosen serta staff Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Lampung.
7. Keluarga saya, Bapak Subagiyo dan Ibu Tarmiasih beserta adikku Fara Utari
Luwia dan Mukhsin Firanda Khoir yang telah memberikan segalanya, kasih
sayang, motivasi, semangat, arahan, dukungan material maupun non material
kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Kakek dan nenek, Om Haryono, Bulek Tarsinem (alm), Rully Yosita, Windu,
Agil Triasasti, dan keluarga besar lainnya yang telah memberikan do’a,
motivasi, dan semangat kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan
skripsi ini.
9. Saudaraku Bang Adnan Alit, Fitri Sichilia, Khaidir Novendra, M Fahmi Bahri,
Faisal Bahri. terima kasih selalu mendengar curhat dan memotivasi penulis
serta canda tawa selama ini.
10. Sri Rahayu terimakasih sudah menjadi penyemangat dalam menyelesaikan
skripsi ini.
11. Sahabat-sahabat terbaikku, Fadeli Yusuf Afif, Hardiansa Nur Syahputra, Sigit,
Mas Ahmad, Panggih, Agung P, Arif S, Faisal Al Faruq dan Nanda, terima
kasih atas doa dan dukungannya selama ini dengan bercandaan, kegilaan,
keceriaan dan motivasi yang diberikan kepada penulis.
12. Teman-teman satu bimbingan skripsi Mas Ahmad, Adi Sasongko, Syara,
Shandi dan Annisa Bella, terima kasih atas doa, dan semangatnya yang
Maei, Tio, Yahya, Yofi, Ade, Surya, Riki, Aris, Boy, Nuri, Ria p, Bella, Ria
Virsa, Syara, Dhea, Yosi, Fauziah, Wika, Shandi, Untung, Adi Hermawan,
dan teman-teman EP lainya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Terimakasih telah memberikan semangat dan dukungannya selama proses
perkuliahan sampai selesai, serta kebersamaan dalam canda tawa.
14. Semua teman teman Ekonomi Pembangunan. Kakak-kakak Angkatan 2011,
2012, dan adik-adik Angkatan 2014, 2015 dan 2016. terima kasih atas doa,
dan dukungannya selama ini, semoga kita semua sukses dan dapat mencapai
semua cita-cita.
15. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN), M Fahrizal, Hanafi, Alika, Riska,
Neva, Dwi, dan Eda yang selalu memberi semangat dan dukungannya kepada
penulis.
16. Sedulur-Sedulur Arek Kontrakan, Aditia, Andesni Reza, Mas Asep, Bang
Wanto, Prayogi, Yasmin, Mas Dodi, Mas Bambang, Ipan, Mba Anti,
Terimakasi telah memberikan semangat, Motivasi dan dukungannya untuk
dapat segera menyelasaikan skripsi serta canda tawa.
17. Sahabat-sahabat sebelum kuliah hingga saat ini Riski Nug, Dinda Ratri, Dewi,
Adis, Ria, Cyntia, Septia, Kurnia, Qori, Basofi, Jagad, Ferdi, Shintia,
Ginanjar, dan anak Smanding lainnya yang tidak dapat disebutkan satu
persatu. Semoga persahabatan kita terus terjalin selama-lamanya sampai kita
dapat membuktikan dan mewujudkan cita-cita kita masing-masing.
18. Squad UKM Bulutangkis Unila dan Pb TGS RAYA, Bayu, Irfan, Agro, Maei,
disebutkan satu persatu terima kasih atas canda tawanya menyemangati dalam
berolahraga serta memotivasi dalam menyelesaikan skripsi.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
akan tetapi penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi
kita semua. Amin.
Bandar Lampung, 14 Januari 2020
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ... ..i
DAFTAR ISI... .ii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR TABEL ... .v
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... ..1
B. Rumusan Masalah Penelitian ... 12
C. Tujuan Penelitian... 13
D. Manfaat Penelitian... 13
II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka ... 15
1. Teori Produksi ... 15
2. Fungsi Produksi ... 16
3. Model Fungsi Cobb-Douglas ... 23
4. Efisiensi ... 26
5. Teori Efisiensi Alokatif ... 28
6. Konsep Peternakan Ayam Petelur ... 31
7. Faktor Produksi Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur ... 42
B. Tinjauan Empiris ... 45
C. Kerangka Pemikiran ... 47
D. Hipotesis Penelitian ... 48
III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Sumber Data ... 49
1. Jenis Penelitian ... 49
2. Jenis Data ... 50
B. Definisi dan Operasional Variabel ... 50
2. Uji Asumsi Klasik ... 55
3. Uji Normalitas ... 56
4. Uji Multikolinieritas ... 56
5. Uji Heteroskedastisitas ... 57
6. Uji Autokorelasi ... 58
7. Uji Statistik ... 59
8. Efisiensi Harga atau Allocative Efficiency ... 60
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 63
1. Aspek Geografis ... 63
2. Kependudukan... 64
3. Perekonomian ... 66
B. Karakteristik Responden ... 66
C. Profil Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur ... 69
1. Pakan ... 69
2. Populasi Ayam Berproduksi ... 70
3. Tenaga Kerja ... 71
4. Luas Kandang... 71
D. Hasil Penelitian ... 72
1. Perhitungan Regresi ... 72
E. Uji Asumsi Klasik ... 74
1. Uji Normalitas ... 74
2. Uji Multikolinieritas ... 74
3. Uji Heteroskedastisitas ... 75
F. Pengujian Hipotesis Statistik... 76
1. Uji-t Statistik ... 76
2. Uji F Statistik ... 77
G. Efisiensi Harga ... 78
H. Pembahasan ... 81
I. Implementasi Penelitian ... 85
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 87
B. Saran ... 88
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Produksi daging, telur, dan susu ... ..2 2. Perkembangan produksi telur ayam ras petelur berdasarkan wilayah di
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Komposisi zat gizi telur ayam, ikan segar, dan daging kambing
per 100 gram bahan makanan ... ..3
2. Provinsi sentra produksi telur ayam ras di Indonesia Tahun 2014-2018 ... ..5
3. Populasi ayam ras petelur menurut Kabupaten/kota di Provinsi Lampung tahun 2016-2017 ... ..6
4. Penyebaran populasi ayam ras petelur dan produksi telur ayam ras petelur per kecamatan di Kabupaten Pringsewu Tahun 2018* ... ..8
5. Jumlah Peternak ayam ras petelur per Desa di Kecamatan Gadingrejo Tahun 2017* ... ..9
6. Performa beberapa strain ayam petelur ... 33
7. Tinjauan Empiris ... 45
8. Definisi dan operasional variabel ... 50
9. Daftar desa dan luas wilayah di Kecamatan Gadingrejo ... 64
10. Jumlah penduduk Kecamatan Gadingrejo menurut jenis kelamin dan desa tahun 2018 ... 65
11. Jumlah responden berdasarkan lama sekolah ... 67
12. Jumlah responden menurut kelompok umur ... 68
13. Jumlah responden menurut jumlah tanggungan... 68
14. Jumlah pakan yang dipakai oleh responden ... 70
15. Jumlah populasi ayam responden ... 70
16. Hasil perhitungan regresi dengan tingkat kepercayaan 5% ... 72
17. Hasil uji normalitas ... 74
18. Hasil uji multikolinieritas ... 75
19. Hasil uji heteroskedastisitas ... 75
20. Hasil uji-t ... 76
21. Hasil uji f ... 77
22. Efisiensi alokasi faktor produksi ... 78
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatnya perekonomian di Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh
peningkatan di sektor pertanian. Dengan mulai bergesernya pertanian ke industri
dan juga mengingat Indonesia merupakan negara agraris, sektor pertanian ini
mendapat perhatian cukup besar dari pemerintah karena peranannya dalam rangka
penjunjung ekonomi bangsa.
Peranan sektor pertanian adalah sebagai sumber penghasil bahan kebutuhan
pokok, sandang, papan, menyediakan lapangan kerja bagi sebagian penduduk,
memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional yang tinggi, dan
memberikan devisa bagi negara dan mempunyai efek pengganda ekonomi yang
tinggi dengan rendahnya ketergantungan terhadap impor (multiplier effect) yaitu
keterkaitan input-output antar produksi, konsumsi dan investasi. Dampak
pengganda tersebut relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan
andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian juga dapat
menjadi basis dalam mengembangkan kegiatan ekonomi pedesaan melalui
pengembangan usaha berbasis pertanian yaitu agribisnis dan agroindustri. Dengan
pertumbuhan yang terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar
Peran utama sektor pertanian dalam kebijakan makro nasional difokuskan pada
penyediaan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional dalam
rangka menunjang stok pangan nasional. (Badan Ketahanan Pangan 2017).
Berdasarkan karakteristik komoditas, sektor pertanian dibagi menjadi lima sub
sektor yaitu tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan.
Sub sektor yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah peternakan. Mengacu
pada UU Nomor 41 Tahun 2014, peternakan adalah segala urusan yang berkaitan
dengan sumber daya fisik, benih, bibit, bakalan, ternak ruminansia indukan,
pakan, alat dan mesin peternakan, budidaya ternak, panen, pasca panen,
pengolahan, pemasaran, pengusahaan, pembiayaan, serta sarana dan prasarana.
Usaha peternakan di Indonesia telah menjadi sebuah industri yang memiliki
komponen lengkap dari sektor hulu sampai hilir dimana perkembangan usaha ini
memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan pertanian. Industri
perunggasan memiliki nilai strategis khususnya dalam penyediaan protein hewani
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor, disamping
peranannya dalam memanfaatkan peluang kesempatan kerja. Perkembangan usaha
ini ditandai dengan meningkatnya produksi daging dan telur sementara untuk susu
masih berfluktuasi jumlah produksinya. (Statistik Peternakan dan Kesehatan
Hewan, 2018).
[image:22.595.115.393.606.716.2]Sumber : Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2018
Gambar 1. Produksi daging, telur, dan susu (000 ton) 0,00
1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00
Daging
Telur
Komoditas peternakan di Indonesia terdiri dari komoditas ternak unggulan dan
komoditas ternak perspektif. Komoditas ternak unggulan terdiri dari sapi potong,
kambing, ayam ras petelur, dan ayam ras pedaging, sedangkan komoditas ternak
perspektif terdiri dari ayam kampung, sapi perah, itik, kerbau, domba, babi, dan
burung puyuh (Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia Tahun 2018).
Salah satu komoditi sub sektor peternakan yang paling strategis di Indonesia
adalah telur yang dihasilkan oleh ayam ras petelur. Telur ayam merupakan salah
satu sumber protein hewani yang memiliki nilai gizi yang baik dan lebih murah
dibandingkan produk ternak yang lain, sehingga dapat menjangkau lebih luas
masyarakat di Indonesia. Komposisi zat gizi telur dibandingkan dengan bahan
[image:23.595.117.511.444.575.2]makanan sejenis disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi zat gizi telur ayam, ikan segar, dan daging kambing per 100 gram bahan makanan
Zat Gizi Telur Ayam Ikan Segar Daging
Kambing
Energi (kal) 155,00 113,00 154,00
Protein (g %) 13,0 17,00 16,60
Lemak (g %) 11,50 4,50 9,20
Kalsium (mg %) 54,00 20,00 11,00
Karbohidrat 1,10 0,00 0,00
Zat besi 1,20 1,00 1,00
Vitamin A (SI/100 g) 900,00 150,00 0,00
Sumber : Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2018
Komposisi zat gizi pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa telur ayam memiliki zat
gizi yang lebih lengkap dibandingkan dengan ikan segar dan daging kambing.
Selain itu, harganya yang relatif terjangkau membuat telur ayam sebagai pilihan
bahan makanan sumber zat gizi untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan tubuh
Sehubungan dengan hal tersebut, perkembangan produksi telur dari tahun 1990 ke
tahun 2018 membentuk grafik yang berfluktuasi dan cenderung meningkat.
[image:24.595.113.513.140.320.2]Sumber : Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia Tahun 2018
Gambar 2. Perkembangan Produksi Telur Ayam Ras Petelur Berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun 1990-2018*)
Rata-rata pertumbuhan produksi telur di Indonesia sebesar 7,74% per tahun
dengan sumbangan pertumbuhan di Pulau Jawa sebesar 9,67% per tahun dan di
luar Pulau Jawa sebesar 8,67% per tahun. Pertumbuhan produksi telur ayam ras
petelur dari tahun 2009 – 2018 mengalami peningkatan sebesar 7,28%. Dimana
pada tahun 2009 sebesar 0,90 juta ton menjadi 1,64 juta ton tahun 2018.
Pertumbuhan di luar Pulau Jawa cenderung kecil dibanding di Pulau Jawa yaitu
8,67% sedangkan pertumbuhan di Pulau Jawa hanya 9,67%. Hal ini dikarenakan
potensi lahan Pulau Jawa memungkinkan untuk pengembangan peternakan ayam
ras petelur. Namun tidak menutup kemungkinan di luar Pulau Jawa mempunyai
peluang yang besar dalam pengembangan peternakan ayam ras petelur.
Sentra produksi telur ayam ras di Indonesia pada tahun 2014-2018*) adalah
Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi
Selatan, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, dan Lampung. Provinsi 0
500000 1000000 1500000 2000000 2500000 3000000 3500000
Indonesia
Jawa
Lampung merupakan Provinsi terbesar ketiga di luar Pulau Jawa dengan produksi
telur ayam ras rata-rata sebesar 42.063,4 ton dengan pertumbuhan share nya
terhadap Indonesia sebesar 2,90% setelah Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera
Barat yang memiliki produksi telur ayam ras rata-rata sebesar 140.505 ton dengan
pertumbuhan share nya terhadap Indonesia sebesar 9,69%, sedangkan Provinsi
Sumatera Barat memiliki rata-rata produksi telur sebesar 67,149 ton dengan
[image:25.595.110.547.316.654.2]pertumbuhan share nya terhadap Indonesia sebesar 4,63%.
Tabel 2. Provinsi Sentra Produksi Telur Ayam Ras di Indonesia Tahun 2014-2018 (ton)
Provinsi
Tahun
Rata-rata Share (%)
Kumulat if (%)
2014 2015 2016 2017 2018*)
Jawa Timur 291.399 390.055 445.793 455.811 465.838 409.779 28,25 28,25
Jawa Tengah 191.546 202.110 214.725 221.287 222.178 210.369 14,50 42,75
Sumatera
Utara 132.949 136.258 141.484 143.272 148.561 140.505 9,69 52,43
Jawa Barat 134.581 133.436 139.193 139.319 139.574 137.220 9,46 61,89
Sulawesi
Selatan 80.815 89.331 90.514 85.064 93.571 87.859 6,06 67,95
Banten 40.279 45.918 58.447 50.995 152.139 69.556 4,79 72,74
Sumatera
Barat 63.706 65.046 64.246 71.108 71.736 67.169 4,63 77,37
Kalimantan
Selatan 47.651 60.262 64.574 77.226 81.087 66.160 4,56 81,93
Lampung 50.786 37.839 39.286 41.076 41.330 42.063,4 2,90 84,83
Lainnya 210.591 212.574 227.426 221.034 228.446 220.014,2 15,17 100,00
Indonesia 1.244.312 1.372.829 1.485.688 1.506.192 1.644.460 1.450.696 100,0
Sumber : Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan 2018 Keterangan : *) angka sementara
Secara umum sektor pertanian di Provinsi Lampung diarahkan untuk
Provinsi Lampung (2018) menunjukkan bahwa rata-rata distribusi sektor
pertanian, tahun 2014-2018 terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku di
Provinsi Lampung adalah 30,00 persen. Peternakan merupakan salah satu
subsektor yang berkontribusi terhadap PDRB di Provinsi Lampung dan juga
berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan dalam menjamin
ketersediaan pangan yang berasal dari hewani. Rata-rata distribusi subsektor
peternakan tahun 2014-2018 terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku di
Provinsi Lampung adalah 31,38 persen (Badan Pusat Statistik Provinsi
Lampung, 2018).
Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi
perkembangan pada sub sektor peternakan, dimana kondisi morfologi wilayahnya
yang cenderung datar dan beriklim baik. Hal itu sangat menunjang
perkembangan untuk mendorong banyaknya pelaku usaha untuk terjun pada
[image:26.595.120.511.514.734.2]usaha ini (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, 2018).
Tabel 3. Populasi Ayam Ras Petelur Menurut Kabupaten/kota di Provinsi Lampung, Tahun 2016-2017
No Kabupaten/Kota Tahun 2016
(ekor) Tahun 2017 (ekor) Persentase perubahan (%)
1 Lampung Barat 24.500 9.000 -63,27
2 Tanggamus 24.903 25.835 3,74
3 Lampung Selatan 2.379.600 2.395.938 0,69
4 Lampung Timur 1.242.495 1.238.795 -0,29
5 Lampung Tengah 734.600 748.392 1,87
6 Lampung Utara 116.886 119.341 2,10
7 Way Kanan 87.364 88.199 0,96
8 Tulang Bawang 45.300 42.300 -6,62
9 Pesawaran 97.369 101.431 4,17
10 Pringsewu 445.730 687.900 54,33
11 Mesuji 1.250 2.750 120,00
12 Tulang Bawang Barat 16.979 17.233 1,50
13 Pesisir barat 0 0 0
Sambungan
No Kabupaten/Kota Tahun 2016
(ekor)
Tahun 2017 (ekor)
Persentase perubahan (%)
1 Bandar Lampung 12.000 12.000 0
2 Metro 34.550 14.150 -59,04
Provinsi Lampung 5.263.526 5.503.264 4,55
Sumber : Provinsi Lampung Dalam Angka, 2018 (data diolah)
Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa populasi ayam ras petelur di Provinsi Lampung
mengalami peningkatan sebesar 4,55% dari tahun 2016 hingga 2017 dengan
jumlah populasi ayam sebanyak 5.263.526 ditahun 2016 dan sebanyak 5.503.264
di tahun 2017. Kabupaten atau kota yang mengalami peningkatan populasi ayam
ras petelur terbanyak yaitu Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Pringsewu.
Kabupaten Mesuji menempati posisi pertama dengan penambahan populasi
sebanyak 120% dengan jumlah populasi ayam 1.250 di tahun 2016 dan 2.750 di
tahun 2017. Kabupaten Pringsewu mengalami penambahan jumlah populasi
sebesar 54,33% dengan angka populasi ayam 445.730 di tahun 2016 dan
687.900 di tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Pringsewu
memiliki potensi dalam pengembangan usaha ternak ayam ras petelur meskipun
masih berada pada urutan kedua di provinsi menurut persentase perubahan
jumlah populasi, tetapi sudah menunjukkan kemampuannya untuk menjadi sentra
ternak ayam ras petelur.
Karakteristik ayam ras petelur yang mayoritas digunakan di Kabupaten
Pringsewu adalah ayam ras petelur strain Lohman Brown. Menurut Rasyaf
(2003), Lohmann brown adalah ayam tipe petelur yang populer untuk pasar
komersial, ayam ini merupakan ayam yang selektif dibiakkan khusus untuk
perusahaan asal Jerman bernama Lohmann Tierzuch. Kebanyakan ayam ini
memiliki bulu berwarna cokelat seperti karamel, dengan bulu putih di sekitar
leher dan di ujung ekor. Ayam ini mulai dapat bertelur pada umur 18 minggu,
menghasilkan 1-2 butir telur per hari, dapat bertelur sampai 300 butir pertahun.
Bobot tubuh strain lohman brown pada umur 20 minggu sekitar 1,6-1,7 kg dan
pada akhir produksi sekitar 1,9-2,1 kg. Strain ini cukup cepat mencapai dewasa
kelamin, yaitu pada umur 18 minggu sehingga 50% produksi dapat dicapai pada
umur 140-150 hari. Produksi telur tinggi, yaitu sekitar 305 butir pertahun. berat
telur rata-rata 63,5-64,5 g. Konsumsi ransum pada saat produksi sekitar 110-120
g/ekor/hari dengan konversi ransum sekitar 2,1-2,2 kg. Lohmann brown
memiliki karakteristik bulu berwarna cokelat, perutnya lunak, kloaka bulat telur,
lebar, basah, terlihat pucat, badan agak memanjang, tubuh penuh, punggung
luas, dan bentuk kepala bagus dengan jengger berwarna merah cerah.
Ayam petelur strain Lohman brown termasuk kedalam tipe medium, dimana
ciri-cirinya mempunyai bobot tubuh yang cukup berat, tetapi beratnya antara
berat ayam petelur tipe ringan dengan broiler, sehingga disebut tipe medium.
Tubuhnya tidak kurus, tetapi juga tidak terlalu gemuk dan telur yang dihasilkan
cukup banyak. Rasyaf (2003) menyatakan ayam petelur tipe medium disebut
juga ayam tipe dwiguna atau ayam petelur cokelat yang memiliki berat badan
antara ayam tipe ringan dan berat. Ayam dwiguna selain dimanfaatkan sebagai
ayam petelur juga dimanfaatkan sebagai ayam pedaging bila sudah memasuki
Tabel 4. Penyebaran populasi ayam ras petelur dan produksi telur ayam ras petelur per kecamatan di Kabupaten Pringsewu, Tahun 2018)*
Kecamatan Populasi (ekor) Produksi (kg)
Pardasuka 45.000 720.000
Ambarawa 1.300 20.800
Pagelaran Utara 0 0
Pagelaran 22.900 297.700
Pringsewu 68.900 964.600
Gadingrejo 360.600 5.048.400
Sukoharjo 88.500 1.239.000
Banyumas 1.000 17.250
Adiluwih 101.000 1.313.000
Jumlah 687.900 9.620.750
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pringsewu, 2018 (data diolah)
Tabel 5. Jumlah Peternak ayam ras petelur per Desa di Kecamatan Gadingrejo,
Tahun 2017)*
No Pekon Jumlah Peternak
1 Parerejo 0
2 Blitarejo 0
3 Panjerejo 0
4 Bulukarto 0
5 Wates 0
6 Bulurejo 0
7 Tambah Rejo 1
8 Wonodadi 2
9 Gadingrejo 0
10 Tegal Sari 39
11 Tulung Agung 2
12 Yogyakarta 0
13 Kediri 0
14 Mataram 2
15 Wonosari 1
16 Klaten 3
17 Wates Timur 0
18 Wates Selatan 0
19 Gadingrejo Timur 3
20 Gadingrejo Utara 21
21 Tambahrejo Barat 0
22 Yogyakarta Selatan 0
23 Wonodadi Utara 0
Jumlah 74
[image:29.595.120.506.351.705.2]Penyebaran populasi ayam ras petelur pada Tabel 4 dan Tabel 5 memperlihatkan
bahwa Kecamatan Gadingrejo yang terdapat di Desa Tegalsari dan Gadingrejo
Utara merupakan sentra ternak ayam ras petelur di Kabupaten Pringsewu dengan
populasi sebesar 360.600 ekor dan produksi sebesar 5.048.400 kg. Produksi telur
di Kecamatan Gadingrejo tahun 2018 yaitu sebesar 5.048.400 : 360.600 = 14.
Hasil tersebut menjelaskan bahwa setiap satu populasi ayam menghasilkan 14 kg
per tahunnya yang jika dikonversi dalam jumlah butir dimana satu kilo telur ayam
berjumlah 17 butir telur, maka untuk pertahunnya hanya mampu menghasilkan
238 butir telur per satu ayam. Hal ini tentu menjadi masalah kenapa produksi telur
pertahunnya tidak mencapai produksi ideal yaitu sebesar 300 butir telur atau 17,65
kg untuk satu ayam per tahun seperti yang dijelaskan oleh Rasyaf (2003).
Berdasarkan keadaan ini usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan
Gadingrejo diduga mengalami masalah pada tingginya biaya-biaya produksi dalam
melakukan kegiatan usahanya. Usaha ternak ayam ras petelur dikenal sebagai
usaha yang intensif modal, sedangkan peternak ayam ras petelur di Kecamatan
Gadingrejo mayoritas memiliki modal dan pengetahuan serta penggunaan
teknologi yang sederhana sehingga keadaan ini akan mempengaruhi pada efisiensi
pemakaian masukan (faktor produksi).
Peningkatan biaya produksi juga menyebabkan harga pokok produksi meningkat
dan peternak harus meningkatkan harga jual telur. Perubahan harga jual telur
ayam ras petelur akan berbanding lurus dengan peningkatan biaya produksi.
Perubahan biaya produksi ini dapat mempengaruhi keuntungan dan kemampuan
kecil. Kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi usaha ternak jika tidak segera
diantisipasi oleh peternak.
Dalam pelaksanaan usaha ternak, setiap peternak selalu mengharapkan
keberhasilan dalam usahanya, salah satu parameter yang dapat dipergunakan
untuk mengukur keberhasilan suatu usaha adalah tingkat keuntungan yang
diperoleh dengan cara pemanfaatan faktor-faktor produksi secara efisien.
Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada setiap usaha adalah syarat
mutlak untuk memperoleh keuntungan. Seperti halnya penelitian yang dilakukan
oleh Kustiawati Ningsih (2014), bahwa kombinasi pengalaman berternak, bibit
ayam, tenaga kerja, pakan, vaksin, dan listrik berpengaruh terhadap kenaikan
tingkat produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan peternak
dalam mengelola usahanya merupakan faktor yang sangat menentukan
tercapainya tingkat keuntungan optimal dan efisiensi ekonomi.
Menurut Ustomo (2016) Dalam mengelola usaha peternakan ayam tiap peternak
harus memahami 3 (tiga) tahap unsur penting dalam produksi yaitu breeding
(pembibitan), feeding (makanan ternak), dan manajemen (pengelolaan usaha
ternak). Peternak dituntut mampu mengkombinasikan penggunaan faktor-faktor
produksi secara efisien dalam hal ini pakan, vitamin, luas kandang serta tenaga
kerja, merupakan faktor faktor yang sangat penting dalam memaksimalkan
keuntungan dan tingkat efisiensi yang diharapkan.
Soekartawi dalam Ahmad Ridhani Anandra (2010:23) menerangkan bahwa dalam
terminologi ilmu ekonomi, pengertian efisiensi dibedakan menjadi tiga yaitu
tercapai jika perusahaan tersebut mampu memaksimalkan keuntungan yaitu
menyamakan nilai produk marginal setiap faktor produksi dengan harganya.
Efisiensi alokatif ini terjadi apabila perusahaan memproduksi output yang paling
disukai oleh konsumen. Pencapaian alokatif yang tinggi sangat penting dalam
upaya meningkatkan tingkat kompetitif dan keuntungan usaha. Efisiensi teknis
mencakup hubungan antara input dan output. Suatu perusahaan dikatakan efisiensi
secara teknis bilamana produksi dengan output terbesar yang menggunakan set
kombinasi beberapa input saja. Sedangkan efisiensi ekonomis merupakan hasil
kali antara seluruh efisiensi teknis dengan efisiensi alokatif dari seluruh faktor
input.
Salah satu cara untuk memaksimumkan keuntungan adalah dengan cara
melakukan efisiensi faktor produksi yang digunakan. Salah satu parameter
keberhasilan dalam usaha adalah tingkat keuntungan yang diperoleh. Penelitian
ini berusaha untuk menganalisis efisiensi alokatif usaha peternakan ayam petelur
yang dihubungkan dengan penggunaan faktor-faktor produksi usaha peternakan
ayam ras petelur.
B. Rumusan Masalah Penelitian
Kesuksesan usaha peternakan ayam ras petelur dipengaruhi oleh beberapa faktor
baik itu dari faktor produksi maupun kondisi alam. Faktor produksi disini terdiri
atas pakan, populasi ayam, tenaga kerja dan luas kandang. Sedangkan faktor alam
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah
penelitian sebagai berikut :
1. Apakah faktor-faktor produksi yaitu, pakan, populasi ayam, tenaga kerja dan
luas kandang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi telur pada
usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten
Pringsewu?
2. Apakah penggunaan faktor produksi usaha peternakan ayam ras petelur di
Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu sudah efisien secara alokatif?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi yaitu pakan, populasi ayam,
tenaga kerja dan luas kandang terhadap produksi telur pada usaha peternakan
ayam petelur Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
2. Menghitung dan mengukur tingkat efisiensi alokatif dalam penggunaan
faktor-faktor produksi usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan
Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai salah satu syarat kelulusan penulis untuk mencapai gelar Sarjana
Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
2. Sebagai bahan pedoman dan informasi bagi peternak ayam petelur di
Kecamatan Gadingrejo untuk meningkatkan perkembangan usahanya agar
3. Sebagai pedoman untuk pengambil kebijakan serta bahan pertimbangan
II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Teori Produksi
Produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan
tersebut mengubah dari suatu komoditi menjadi komoditi lainnya yang sama
sekali berbeda baik dalam pengertian apa, dimana dan kapan komoditi-komoditi
tersebut dialokasikan, maupun dalam pengertian apa yang dilakukan oleh
konsumen terhadap komoditi itu. Produksi merupakan konsep arus (flow concept),
maksudnya adalah produksi merupakan kegiatan yang diukur sebagai
tingkat-tingkat output per unit periode atau waktu. Sedangkan outputnya sendiri
senantiasa diasumsikan konstan kualitasnya. Miller dan Meiners dalam Ahmad
Ridhani Anandra (2010).
Iswardono dalam Ahmad Ridhani Anandra (2010:28) menyatakan bahwa teori
produksi sebagaimana teori perilaku konsumen merupakan teori pemilihan atas
berbagai alternatif yang tersedia. Dalam hal ini adalah keputusan yang diambil
seorang produsen untuk menentukan pilihan atas alternatif tersebut. Produsen
mencoba memaksimalkan produksi yang bisa dicapai dengan suatu kendala
2. Fungsi Produksi
Fungsi produksi adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan
variabel yang menjelaskan (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa
keluaran (output) dan variabel yang menjelaskan biasanya berupa masukan
(input). Faktor-faktor produksi ini terdiri dari tenaga kerja, tanah, modal, dan
keahlian keusahawan. Dalam teori ekonomi, untuk menganalisis mengenai
produksi selalu dimisalkan bahwa tiga faktor produksi (tanah, modal dan keahlian
keusahawan) adalah tetap jumlahnya. Hanya tenaga kerja yang dipandang sebagai
faktor produksi yang berubah-ubah jumlahnya. Yang dimaksud dengan faktor
produksi adalah semua hal yang dikorbankan yang diberikan pada tanaman agar
tanaman tersebut tumbuh dan menghasilkan dengan baik. (Soekartawi, 2003:17)
Fungsi produksi sangat penting dalam teori produksi karena :
1. Dengan fungsi produksi, maka dapat diketahui hubungan antara faktor
produksi (output) secara langsung dan hubungan tersebut dapat lebih mudah
dimengerti.
2. Dengan fungsi produksi, maka dapat diketahui hubungan antara variabel yang
dijelaskan (dependent variable) Y dan variabel yang menjelaskan
(independent variable) X, serta sekaligus mengetahui hubungan antara
variabel penjelas. Secara matematis, hubungan ini dapat diejalaskan sebagai
berikut:
Y = f (x1,x2,x3, ….., xi, ….., xn)
Dengan fungsi tersebut diatas, maka hubungan Y dan X dapat diketahui dan
Soekartawi (2003:38), menyatakan bahwa fungsi produk adalah kaitan antara
faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakan. Faktor-faktor
produksi di kenal pula dengan istilah input dan jumlah produksi selalu juga
disebut output. Fungsi produksi dinyatakan dalam bentuk rumus :
Q = f (K, L, R, T)
Keterangan : K adalah jumlah stok modal L adalah jumlah tenanga kerja R adalah kekayaan alam, dan
T adalah tingkat teknologi yang digunakan
Fungsi produksi menunjukkan output atau jumlah hasil produksi maksimum yang
dapat dihasilkan per satuan waktu tertentu dengan menggunakan berbagai
kombinasi sumber-sumber daya yang dipakai dalam berproduksi. Fungsi produksi
adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang
menjelaskan (X). variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel
yang menjelaskan biasanya dalam bentuk input. Secara matematis , hubungan ini
dapat ditulis sebagai berikut :
Y = f (X1,X2,X3, ….., Xi, ….., Xn)
Persamaan diatas menjelaskan bahwa hubungan X dan Y sekaligus hubungan Xi,
Xn,dan X lainnya. Penggunaan dari berbagai macam faktor-faktor tersebut
diusahakan untuk menghasilkan atau memberikan hasil maksimal dalam jumlah
tertentu. Keberadaan fungsi produksi menunjukkan jumlah maksimum komoditi
yang dapat diproduksi per unit waktu pada setiap kombinasi input alternatif bila
Soekartawi (2003), menyatakan bahwa fungsi produksi suatu perusahaan untuk
sebuah barang tertentu q. q = f(K,L) memperlihatkan jumlah maksimum sebuah
barang yang dapat diproduksi dengan menggunakan kombinasi alternatif antara
modal (K) dan Tenaga Kerja (L).
Y
Tahapan I Tahapan II Tahapan III
C Total
Produk
Fisik B (TP)
Total Produk fisik
A
0 Input Variabel X
Y
Produk Produk fisik Fisik dari marjinal setiap unit
input
Produk fisik rata-rata
0 QA QB QC MP X
[image:38.595.112.491.195.653.2]Input Variabel Gambar 3. Kurva Produksi dengan Satu Input Variabel Sumber : Soekartawi 2003
Pada Gambar 3 menjelaskan bahwa total kuva produksi selalu berawal dari titik
satupun, maka tidak ada output yang dihasilkan atau nol produksi. Bila kemudian
dalam proses produksi input variable (tenaga kerja) termanfaatkan maka total
produksi akan bergerak keatas. Dengan bertambahnya input variable kurva
produksi total atau TP (total product) semakin meningkat tapi tambahannya atau
MP (marginal product) mulai menurun.
Pola ini mengacu ada hukum (The Law of Diminishing returns). Pada saat TP
meningkat, kurva produksi marginal bergerak meningkat dan melebihi besarnya
produksi rata-rata. Pada saat MP dan AP (average product) berpotongan,
merupakan awal dari tahap kedua dan produksi rata-rata mencapai puncak yang
tertinggi.
Pada saat produksi total mencapai titik puncak, Kurva MP memotong sumbu
horizontal dan untuk selanjutnya berada dibawahnya (MP mencapai nilai negatif).
Penurunan total produksi menunjukan bahwa semakin banyak input variable
(misalkan tenaga kerja) yang digunakan justru akan mengurangi produksi
totalnya. Kondisi ini masuk pada tahp ketiga bahwa penambahan input variabel
(tenaga kerja) menyebabkan produktifitas tidak efisien lagi, AP dan MP yang
mula-mula menaik, kemudian mencapai puncak (titik maksimum) dan setelah itu
menurun.
Secara singkat dapat digambarkan ciri-ciri tiga tahapan produksi sebagai berikut:
1. Tahap I, dimana MP > AP, jika AP menaik, dimana input tetap lebih banyak
dari pada input variabel, merupakan tahap yang tidak rasional (increasing
2. Tahap II, dimana MP = AP ; jika AP maksimum, dimana input tetap dan
input variabel sudah rasional (decreasing returns).
3. Tahap III, dimana MP < AP ; jika AP menurun, dimana input variabel lebih
banyak dari pada input tetap, merupakan tahap yang tidak rasional (negative
decreashing returns).
Ketiga tahapan dalam suatu proses produksi tersebut tidak dapat dilepaskan dari
konsep produk marginal (marginal product). Produk marginal dimaksudkan
tambahan satu satuan input X yang dapat menyebabkan perubahan atau
pengurangan satu satuan output Y, dengan demikian produk marginal (PM) dapat
ditulis dengan ΔY / ΔX (Soekartawi, 2003). Dalam proses produksi tersebut
setiap tahapan mempunyai nilai produk marginal yang berbeda.
Nilai produk marginal berpengaruh terhadap elastisitas produksi. Elastisitas
produksi diartikan sebagai presentase perubahan dari output sebagai akibat dari
input yang dirumuskan sebagai berikut :
Eᵖ = ΔY/ΔX⁄ΔX/X atau ΔY
ΔX. 𝑋 𝑌
(Soekartawi, 2014)
Dimana :
Ep = elastisitas produksi
ΔY = perubahan hasil produksi (output)
Y = hasil produksi (output)
ΔX = perubahan penggunaan faktor produksi (input)
Hubungan yang unik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tahap I: nilai Ep > 1, produk total, produk rata-rata menaik dan produk
marginal juga nilainya menaik kemudian menurun sampai nilainya
sama dengan produ rata-rata. Pada daerah ini penambahan input
sebesar 1% akan menyebabkan penambahan produk yang selalu lebih
besar dari 1%.
Tahap II: nilai Ep adalah 0 < Ep < 1, produk total menaik tetapi produk rata-rata
menurun dan produk marginal juga menurun sampai nol. Pada daerah
ini penambahan input sebear 1% akan menyebabkan penambahan
komoditas paling tinggi sama dengan 1% dan paling rendah 0%,
tergantung harga input dan outputnya.
Tahap III: nilai Ep < 0, produk total dan produk rata-rata sama-sama menurun
sedang produk marginal nilainya negatif. Pada daerah ini,
penambahan pemakaian input akan menyebabkan penurunan produk
total.
Fungsi produksi membatasi pencapaian profit maksimum karena keterbatasan
teknologi dan pasar dimana hal ini akan mempengaruhi ongkos produksi, output
yang dihasilkan dan harga jual output. Hubungan antara input dengan input, input
dengan output dan output dengan output yang merupakan karakteristik dari fungsi
produksi suatu perusahaan tergantung pada teknik produksi yang digunakan. Pada
umumnya, semakin maju teknologi yang digunakan akan semakin meningkatkan
output yang dapat diproduksikan dengan suatu jumlah input tertentu. Dalam
fungsi preferensi konsumen meskipun ada perbedaannya. Perusahaan
menggunakan input-input untuk menghasilkan output, pada umumnya jumlah
atau kuantitas ini mempunyai karakteristik cardinal artinya produk atau output
dapat ditambah dan dapat dilihat fungsi produksi juga menjelaskan bukan hanya
satu isoquant tetapi seluruh jumlah isoquant, dimana masing-masing isoquant
menunjukkan tingkat output yang berbeda serta menunjukkan bagaimana output
berubah menjadi input yang digunakan juga berubah. Di dalam sebuah fungsi
produksi terdapat tiga konsep produksi yang penting, yaitu:
a. Produksi Total (TP), adalah total output yang dihasilkan dalam unit fisik.
b. Produk Marjinal (MP), adalah tambahan produk atau output yang diakibatkan
oleh bertambahnya satu unit input, dengan menganggap input lainnya
konstan.
c. Produksi Rata-rata (AP), adalah output total yang dibagi dengan unit total
input. (Nicholson, 2002:174)
Dalam kegiatan usaha untuk mengubah berbagai input menjadi output, maka
alternatif pada berbagai kombinasi pada berbagai kombinasi input untuk
mendapatkan output maksimal menjadi perusahaan. Fungsi produksi yang
menggambarkan hubungan antara input dan output diformulasikan secara
sederhana untuk memberikan gambaran bagaimana cara terbaik untuk
menggabungkan input-input menjadi output.
Namun dalam kenyataanya, penggunaan output tersebut masih dipengaruhi faktor
lain diluar kontrol manusia yang dikenal dengan istilah faktor ketidak tentuan dan
menghasilkan dugaan yang lebih baik, sehingga dapat diperoleh informasi
mengenai kombinasi input yang paling baik dan seberapa besar mempengaruhi
produksi yang diperoleh dan tetap perlu hati-hati dalam memberi arti terhadap
parameter fungsi produksi, hal ini disebabkan tidak semua variabel bebas di
masukkan dalam model.
Fungsi produk linear sederhana biasanya digunakan untuk menyederhanakan
gejala/keadaan yang saling berkaitan. Model ini sering digunakan karena
analisisnya mudah dilakukan dan hasilnya juga mudah dimengerti. Namun
kelemahannya adalah penelitian akan kehilangan informasi tentang variabel yang
tidak masuk dalam model tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka
digunakan Linier Berganda. Secara matematis fungsi linier berganda dapat
dituliskan sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + ….. + biXi + ….. bnXn
Dimana : Y = produksi a = intersep
b = koefisien regresi Xi = input produksi (Soekartawi, 2003)
3. Model Fungsi Cobb-Douglas
Fungsi produksi Cobb-Douglas adalah fungsi atau persamaan yang melibatkan
dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut variabel dependen,
yang dijelaskan (X). Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penggunaan fungsi
a. Tidak ada pengamatan variabel penjelas (X) yang sama dengan 0, sebab
logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui
(infinite).
b. Dalam fungsi produksi diasumsikan tidak terdapat perbedaan teknologi pada
setiap pengamatan (non neutral difference in the respective technologies).
Dalam arti bahwa kalau fungsi produksi Cobb-Douglass yang dipakai sebagai
model dalam suatu pengamatan dan bila diperlukan analisis yang
memerlukan lebih dari 1 model maka perbedaan model tersebut terletak pada
intercept dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut.
c. Tiap variabel X adalah perfect competition
d. Perbedaan lokasi seperti iklim sudah tercakup pada faktor kesalahan
e. Hanya terdapat satu variabel yang dijelaskan yaitu (Y)
Secara matematis fungsi produksi Cobb-Douglas adalah :
Y = aX1b1X2b2X3b3 … …Xnbn et
Keterangan:
Y = output produk (variabel dependen)
X1,...Xn = input produksi (variabel independen)
a = konstanta
b1,…bn = koefisien regresi (elastisitas produksi)
= logaritma natural, = 2,718
et = kesalahan (eror term)
Penggunaan penyelesaian fungsi Cobb-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah
Ln Y = Ln a + b1lnX1 + b2lnX2 + …… bnlnXn + t
Pada persamaan diatas terlihat bahwa nilai b1, b2, b3,… bn adalah tetap walaupun
variabel yang terlibat telah dilogaritmakan. Hal ini karena b1, b2, b3,… bn pada
fungsi Cobb-Douglass menunjukkan elastisitas X terhadap Y, dan jumlah
elastisitas adalah merupakan return to scale. Lebih lanjut dijelaskan bahwa
penggunaan penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglass dalam penyelesaiannya
selalu dilogaritmakan dan diubah bentuk menjadi fungsi produksi linier.
Beberapa hal yang menjadi alasan pokok mengapa fungsi Cobb-Douglas lebih
banyak dipakai para peneliti, termasuk dalam penelitian yaitu:
1. Fungsi produksi Cobss-Douglas relevan untuk sektor pertanian yang telah
dibuktikan secara empiris, khusunya untuk penelitan dengan menggunakan
cross section.
2. Penyelesaian fungsi Cobb-Douglas elatif lebih mudah dibandingkan dengan
fungsi yang lain, hal ini dikarenakan fungsi dapat dengan mudah ditransfer ke
bentuk linier, yaitu dengan jalan melogaritmakan variable yang dibangun
dalam model, baik dengan logaritma biasa atau dengan logaritma natural.
3. Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan
koefisien regresi sekaligus menunjukan besaran elastisitas, dimana elastisitas
dari produk akan mengukur kemampuan reaksi dari input terhadap output.
4. Koefisien-koefisien regresi (b1, b2, …. Bn) menggambarkan tingkat
elastisitas input tersebut.
5. Konstanta (a) merupakan indeks efisiensi produksi
4. Efisiensi
Salah satu elemen penting dalam teori mikro ekonomi modern adalah efisiensi.
Analisis tentang efisiensi telah menjadi perhatian utama ekonom sejak dahulu.
Konsep efisiensi lahir didasakan oleh asumsi bahwa sumber daya untuk
memenuhi keinginan manusia berada dalam keadaan yang terbatas, sehingga
didorong untuk menghasilkan suatu output yang sebesar-besarnya dengan
korbanan atau inputnyang sekecil-kecilnya. Menurut Miller dan Meiners (2000)
permasalahan utama bagi seorang pengambil kebijakan adalah penggunaan
sumberdaya secara efisien karena hal tersebut merupakan tujuan yang paling
penting dalam penentuan keputusan penggunaan input yang digunakan untuk
mencapai hasil yang diinginkan. Efisiensi berkaitan dengan pencapaian output
maksimum dari alokasi sejumlah (set) sumberdaya atau input. Jika output yang
dihasilkan lebih besar dari sumber daya yang digunakan maka semakin tinggi
pula tingkat efisiensi yang dicapai. Dengan kata lain, efisiensi mengandung
makna, pencapaian biaya produksi minimal untuk memperoleh nilai tambah yang
maksimal melalui pemanfaatan teknologi, pengelolaan skala produksi dan
kombinasi optimal. Efisiensi merupakan komponen penting yang
dipertimbangkan oleh petani dalam setiap pengambilan keputusan usaha taninya
karena hasil yang diperoleh tergantung pada efisiensi alokasi faktor input yang
digunakan dalam kegiatan usaha tani.
Selain itu Ramli dan A Marhasan (2005) menyatakan bahwa tingkat efisiensi
yang tinggi tercapai pada saat kondisi optimal terpenuhi yaitu apabila tidak ada
input yang lebih sedikit dan tidak ada kemungkinan menghasilkan produk yang
lebih banyak dengan menggunakan input yang sama.
Soekartawi (2003) menyatakan efisiensi merupakan banyaknya hasil produksi
fisik yang dapat diperoleh dari kesatuan faktor produksi atau input. Situasi seperti
ini akan terjadi bila petani mampu membuat suatu upaya agar nilai produk
marjinal (NPM) untuk suatu input atau masukan sama dengan harga input (P) atau
dapat dituliskan sebagai berikut:
NPMx = Px ; atau NPMx / Px =1
Dalam banyak kenyataan NPMx tidak selalu sama dengan Px, dan yang sering
terjadi adalah keadaan sebagai berikut:
1. (NPMx / Px) > 1 ; artinya bahwa penggunaan input x belum efisien. Untuk
mencapai tingkat efsiensi maka input harus nambah.
2. (NPMx / Px) < 1 ; artinya penggunaan input x tidak efisiensi. Untuk
mencapai atau menjadi efisiensi maka input harus dikurangi.
Terminologi ilmu ekonomi menjelaskan bahwa, pengertian efisiensi dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokasi atau harga dan
efisiensi ekonomis. Menurut Sokartawi (2004), efisiensi terjadi jika petani
mendapatkan keuntungan maksimum, namum ada hal beberapa yang
menyebabkan mengapa keuntungan maksimum sulit dicapai petani, yaitu:
a. Petani tidak atau belum memahami prinsip hubungan input-output.
b. Petani sering dihadapkan pada faktor resiko yang tinggi.
c. Petani sering dihadapkan pada faktor ketidakpastiaan dengan harga dimasa
d. Keterbatasan petani dalam menyediakan input dan kurangnya keterampilan
petani.
5. Teori Efisiensi Alokatif
Efisiensi alokatif (harga) menunjukan hubungan biaya dan output. Efisiensi
alokatif bisa dicapai jika dapat memksimumkan keuntungan yaitu menyamankan
produk marjinal setiap faktor produksi dengan harganya. Suatu usaha tani
dikatakan efisiensi secara alokatif bila mana petani mendapat keuntungan yang
maksimum dari usaha tani yang dijalankannya.
Menurut Soekartawi (1994), apabila fungsi produksi yang digunakan adalah
fungsi produksi Cobb-Douglas, maka :
Y = AXb atau Ln Y = Ln A + bLn X
Maka kondisi produksi marjinalnya adalah
MPPxi = 𝛿𝑥𝑖𝛿𝑌 = A.bXb-1
Dalam analisis efisiensi alokasi, terdapat dua tujuan utama, yaitu maksimisasi
keuntungan dan harga input atau output berada pada dasar persaingan sempurna,
maka dapat ditulis sebagai berikut:
Π = TVP – TFC
Π = Y . Py – (Pxi . Xi + C0)
Π = f (Xi) . Py – (Pxi . Xi + C0)
Π = maksimum 𝑑𝑥𝑖𝑑π = 0
𝑑π
MPPxi. Py = Pxi
MPPxi. Py = NPMxi
Ki = 𝑀𝑃𝑃𝑥𝑖.𝑃𝑦𝑝𝑥𝑖 = 𝑁𝑃𝑀𝑖𝑝𝑖
Ki = 1 (Kondisi π maksimum / efisiensi)
Ki < 1 (Tidak Efisien)
Ki > 1 (Belum Efisien)
Efisiensi harga tercapai apabila pertandingan antara nilai produktivitas marjinal
masing-masing input (NPMxi) denga harga inputnya (Pxi) sama dengan 1. Kondisi
ini menghendaki NPMx sama dengan harga faktor produksi X atau dapat ditulis
sebagai berikut:
NPM = Pxi
MPPxi . Py = Pxi
(A . bXb-1) . Py = Pxi
A . bXᵇ
𝑋 . 𝑃𝑦 = 𝑃𝑥𝑖
b(A.Xᵇ)
𝑋 . Py = Pxi
b. Y
𝑋 . 𝑃𝑦 = 𝑃𝑥𝑖
Ki = b.Y.Py𝑋.𝑃𝑥𝑖 = 1 (kondisi efisien)
Px = Harga faktor produksi X. Dalam prakteknya, nilai Y, Py, X, Px diambil nilai
rata-ratanya, dan dalam kenyataan yang sebenarnya persamaan nilainya tidak
sama dengan 1, sehingga yang sering kali terjadi adalah:
2. Ki > 1, artinya pengunaan faktor produksi belum efisiensi sehingga perlu
menambah input
3. Ki < 1, artinya pengguaan faktor produksi tidak efisiensi. Untuk mencapai
tingkat efisiensi diperlukan mengurangi penggunaan input.
Efisiensi penggunaan input dapat terjadi ketika petani mampu membuat suatu
upaya agar nilai produk marginal (NPM) untuk suatu input sama dengan harga
input tersebut, dalam bentuk matematis:
NPMx = Px atau NPMx/Px = 1
Ada dua hal yang perlu dilakukan, antara lain:
a. Tingkat tranformasi antara input dan output dalam fungsi produksi.
b. Perbandingan antara harga input dan output sebagai upaya untuk mencapai
indikator efisiensi
(Soekartawi, 2003).
Efisiensi yang demikian disebut dengan efisiensi harga atau allocative efficienc.
Jika keadaan yang terjadi adalah:
a. NPMx/Px = 1 maka penggunaan input x sudah efisien.
b. NPMx/Px < 1 maka penggunaan input x tidak efisien dan perlu mengurangi
penggunaan input.
c. NPMx/Px > 1 maka penggunaan input x belum efisien dan perlu menambah
6. Konsep Peternakan Ayam Ras Petelur
Ayam ras petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk
diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik
liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi
tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah
seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat
diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi
tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal
dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam
petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian
dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu
dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada
sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik
dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam
petelur unggul.
Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan di Indonesia adalah ayam ras
petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya
dijadikan ayam potong. Ayam petelur terbagi atas tiga jenis ayam yaitu tipe
ringan berasal dari bangsa white leghorn, tipe medium dari bangsa rhode island
reds, dan barred plymouth rock dan tipe berat dari bangsa new hampshire, white
plymouth rock, dan cornish (Amrullah, 2004).
Asal mula ayam petelur adalah dari ayam hutan yang telah didomestikasi dan
pada produksi yang banyak. Namun, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur
dan dagingnya maka arah dari seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi
untuk tujuan produksi daging dikenal dengan broiler, sedangkan untuk produksi
telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna
kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat
(Rasyaf, 1997).
Ayam petelur adalah ayam yang sangat efisien untuk menghasilkan telur dan
mulai bertelur umur ± 5 bulan dengan jumlah telur sekitar 250--300 butir per ekor
per tahun. Bobot telur ayam ras rata-rata 57,9 g dan rata-rata produksi telur hen
day 70% (Susilorini et al., 2008).
Ayam ras petelur yang beredar di masyarakat ialah final stock penghasil telur.
Final stock ialah ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan telur dan telah
melalui berbagai persilangan dan seleksi (Yuwanta, 2004). Ayam petelur tipe
medium mempunyai bobot tubuh yang cukup berat, tetapi beratnya antara berat
ayam petelur tipe ringan dengan broiler, sehingga disebut tipe medium.
Tubuhnya tidak kurus, tetapi juga tidak terlalu gemuk dan telur yang dihasilkan
cukup banyak. Ayam tipe medium disebut juga ayam dwiguna karena mampu
memproduksi telur dan daging (Rasyaf, 2003).
Menurut Sudarmono (2003), ayam petelur tipe medium memiliki ciri-ciri:
a. Ukuran badan lebih besar dan lebih kokoh daripada ayam tipe ringan, serta
b. Timbangan badan lebih berat daripada ayam tipe ringan karena jumlah
daging dan lemaknya lebih banyak.
c. Otot-otot kaki dan dada lebih tebal.
d. Produksi telur cukup tinggi dengan kulit telur tebal dan berwarna cokelat.
Rasyaf (2003) menyatakan ayam petelur tipe medium disebut juga ayam tipe
dwiguna atau ayam petelur cokelat yang memiliki berat badan antara ayam tipe
ringan dan berat. Ayam dwiguna selain dimanfaatkan sebagai ayam petelur juga
dimanfaatkan sebagai ayam pedaging bila sudah memasuki masa afkir.
Strain ialah klasifikasi ayam berdasarkan garis keturunan tertentu melalui
persilangan dari berbagai kelas, bangsa/varietas sehingga ayam mempunyai
bentuk sifat dan tipe produksi tertentu sesuai dengan tujuan produksi
[image:53.595.114.516.460.726.2](Yuwanta,2004).
Tabel 6. Performa beberapa strain ayam petelur
Strain
Umur awal produksi (minggu)
Umur pada produksi 50%
Puncak produksi
(minggu) FCR Lohmann Brown MF 402 19-20 22 92-93 2,3-2,4
Hisex Brown 20-22 22 91-92 2,36
Bovans White 20-22 21-22 93-94 2,2
Hubbard Golden Comet 19-20 23-24 90-94 2,2-2,5
Dekalb Warren 20-21 22-24 90-95 2,2-2,4
Bovans Goldline 20-21 21,5-22 93-95 1,9
Brown Nick 19-20 21,5-23 92-94 2,2-2,3
Bovans Nera 21-22 21,5-22 92-94 2,3-2,45
Bovans Brown 21-22 21-23 93-95 2,25-2,35
Isa Brown*) 18-19 20 94-95 2,4-2,5
Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan
pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai
mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan
antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan
ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang
kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di
pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang
kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan
ayam negeri galur murni).
Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam
ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa
produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga
menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam
broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna atau
ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.
Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya
dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara
komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam
ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan
kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat
mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya
kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun
Dalam dunia peternakan, kita tidak asing lagi dengan ayam yang sengaja
diternakan untuk dihasilkan daging atau telurnya, karena sudah banyak
peternakan ayam yang menyebar diseluruh Indonesia bahkan sampai diluar
negeri, baik peternakan pabrik ataupun peternakan individu.
Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki
prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai
standar nasional, konsumsi protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri
dari 80% protein nabati dan 20% protein hewani. Hal itu berarti target konsumsi
protein hewani sekitar 11 g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein
hewani penduduk Indonesia baru memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih
rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina (Ditjen. Peternakan dan
Kesehatan Hewan, 2017).
Ayam itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis yaitu ayam jenis pedaging dan ayam
jenis petelur. Ayam jenis pedaging, pastinya dibudidayakan karena untuk
dihasilkan daging dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik,
sedangkan ayam petelur dibudidayakan untuk dihasilkan telur dengan jumlah
yang banyak dan kualitas yang baik.
Dalam beternak ayam petelur, kita perlu memperhatikan tahapan proses produksi
mulai dari kandang, pakan, vaksinasi, pemeliharaan ayam dan sebagainya.
Berikut ini merupakan tahapan-tahapan proses produksi usaha peternakan ayam