• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
88
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR

DI KECAMATAN GADINGREJO

(Skripsi)

Oleh : Ilham Rusdi Choir

1311021042

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DI KECAMATAN GADINGREJO

Oleh

ILHAM RUSDI CHOIR

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi alokatif (harga) faktor-faktor produksi usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Gadingrejo. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pakan, Populasi Ayam, Tenaga Kerja, dan Luas Kandang. Jenis data dalam penelitian yang digunakan adalah data primer, yang dipilih secara sengaja (purposive sampling). Jumlah populasi sebesar 74 sehingga jumlah sampel pada penelitian ini maka didapat sampel sebesar 38 peternak ayam ras petelur. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Model penelitian menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dan metode regresi linear berganda dengan menggunakan estimasi Ordinary Least Square (OLS) dan perhitungan efisiensi. Hasil dari analisis menunjukkan variabel Pakan, Populasi Ayam, Tenaga Kerja, dan Luas Kandang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi telur di Kecamatan Gadingrejo. Variabel Pakan belum efisien secara harga, variabel Populasi Ayam belum efisien secara harga, variabel Tenaga Kerja belum efisien secara harga, dan variabel Luas Kandang belum efisien secara harga.

Kata Kunci : Ayam Ras Petelur, Cobb-Douglas, Efisiensi Alokatif, Kecamatan Gadingrejo, OLS

(3)

ABSTRACT

ALLOCATIVE EFFICIENCY OF FACTORS FOR PRODUCTION OF LIGHT RAS CHICKEN FARMING BUSINESS IN GADINGREJO

DISTRICT

By

ILHAM RUSDI CHOIR

This study aims to determine the allocative efficiency (price) of the factors of production of laying chicken farms in Gadingrejo District. The independent variables in this study are the Feed, Chicken Population, Labor, and Cage Area. The type of data in the study used is primary data, chosen deliberately (purposive sampling). The total population was 74 so the number of samples in this study obtained a sample of 38 breeders laying hens. The analysis used in this study uses quantitative descriptive analysis. The research model uses the Cobb-Douglas production function and multiple linear regression methods using Ordinary Least Square (OLS) estimation and efficiency calculations. The results of the analysis showed the variable Feed, Chicken Population, Labor, and Cage Area had a positive and significant effect on egg production in Gadingrejo District. The Feed Variable is not yet price efficient, the Chicken Population variable is not yet price efficient, the Labor variable is not yet price efficient, and the Cage Area variable is not price efficient.

Keywords: Allocative Efficiency, Cobb-Douglas, Gadingrejo District, Laying Hens, OLS

(4)

EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR

DI KECAMATAN GADINGREJO

Oleh : Ilham Rusdi Choir

1311021042

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Pada

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Ilham Rusdi Choir dilahirkan pada tanggal 11 November 1995 di

Desa Tegalsari, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Penulis adalah

anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Subagiyo dan Ibu

Tarmiasih.

Penulis mulai menjalani pendidikan formal di SDN 1 Tegalsari dan lulus pada

Tahun 2007. Setelah itu penulis melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 1

Gadingrejo dan lulus pada Tahun 2010. Kemudian penulis melanjutkan

pendidikan ke SMA Negeri 1 Gadingrejo dan lulus pada tahun 2013. Ketika di

bangku SMA, penulis aktif dibidang ekstrakulikuler Drumband Gita Galang

Pesona dengan jabatan sebagai wakil ketua pada periode tahun 2011-2012 dan

ekstrakulikuler karate.

Pada Tahun 2013, penulis diterima sebagai mahasiswa Ekonomi Pembangunan,

Fakultas Ekonomi dan Bisnis perguruan tinggi Universitas Lampung melalui jalur

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Pada Tahun 2014, penulis mengikuti Kuliah Kunjungan Lapangan (KKL)

kebebrapa institusi yaitu Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional bersama dengan mahasiswa ekonomi

(9)

melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Lampung Tengah,

Kecamatan Selagai Lingga, Kelurahan Margajaya selama 40 hari sebagai bentuk

(10)

MOTO

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah perbuatan jahat

dengan kebaikan supaya terhapus kejahatan, dan bergaul lah dengan sesama

manusia dengan budi baik”

(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

“Barang siapa menginginkan kebahagiaan di dunia maka haruslah dengan ilmu,

barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat haruslah dengan ilmu,

dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan pada keduanya maka haruslah

dengan ilmu”

(HR. Ibn Asakir)

“Tidaklah ada pemberian dari orang tua kepada anaknya yang lebih utama

daripada budi pekerti yang baik”

(11)

PERSEMBAHAN

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat yang diberikan,

serta shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Aku

persembahkan skripsi ini sebagai tanda cinta dan terima kasihku kepada:

Ayah dan Ibuku tercinta, adikku tersayang, kakek dan nenek tersayang, terima

kasih atas segala doa, pengorbanan materi maupun non materi, dan kasih sayang

yang tulus selama ini memberikan bimbingan, dorongan, semangat, serta motivasi

terbesar untuk mewujudkan keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Sahabat-sahabat tercinta yang dengan tulus menyayangiku, saling mendoakan,

memberikan dukungan, semangat, dan keceriaan kepadaku.

Dosen serta staff Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Almamater

(12)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul : “Efisiensi Alokatif Faktor-Faktor Produksi

Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur Di Kecamatan Gadingrejo” sebagai syarat

untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Lampung.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak memperoleh dukungan dan

bantuan oleh berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini dengan ketulusan

hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Nairobi, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Lampung.

2. Ibu Dr. Neli Aida, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

3. Bapak Dr. Heru Wahyudi, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi

Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

4. Bapak Muhidin Sirat, S.E.,M.Si. dan Ibu Emi Maimunah, S.E., M.Si. selaku

Dosen Pembimbing skripsi penulis selama ini. Terima kasih telah

meluangkan waktu untuk membimbing dengan penuh kesabaran, memberikan

(13)

6. Dosen serta staff Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Lampung.

7. Keluarga saya, Bapak Subagiyo dan Ibu Tarmiasih beserta adikku Fara Utari

Luwia dan Mukhsin Firanda Khoir yang telah memberikan segalanya, kasih

sayang, motivasi, semangat, arahan, dukungan material maupun non material

kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Kakek dan nenek, Om Haryono, Bulek Tarsinem (alm), Rully Yosita, Windu,

Agil Triasasti, dan keluarga besar lainnya yang telah memberikan do’a,

motivasi, dan semangat kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan

skripsi ini.

9. Saudaraku Bang Adnan Alit, Fitri Sichilia, Khaidir Novendra, M Fahmi Bahri,

Faisal Bahri. terima kasih selalu mendengar curhat dan memotivasi penulis

serta canda tawa selama ini.

10. Sri Rahayu terimakasih sudah menjadi penyemangat dalam menyelesaikan

skripsi ini.

11. Sahabat-sahabat terbaikku, Fadeli Yusuf Afif, Hardiansa Nur Syahputra, Sigit,

Mas Ahmad, Panggih, Agung P, Arif S, Faisal Al Faruq dan Nanda, terima

kasih atas doa dan dukungannya selama ini dengan bercandaan, kegilaan,

keceriaan dan motivasi yang diberikan kepada penulis.

12. Teman-teman satu bimbingan skripsi Mas Ahmad, Adi Sasongko, Syara,

Shandi dan Annisa Bella, terima kasih atas doa, dan semangatnya yang

(14)

Maei, Tio, Yahya, Yofi, Ade, Surya, Riki, Aris, Boy, Nuri, Ria p, Bella, Ria

Virsa, Syara, Dhea, Yosi, Fauziah, Wika, Shandi, Untung, Adi Hermawan,

dan teman-teman EP lainya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Terimakasih telah memberikan semangat dan dukungannya selama proses

perkuliahan sampai selesai, serta kebersamaan dalam canda tawa.

14. Semua teman teman Ekonomi Pembangunan. Kakak-kakak Angkatan 2011,

2012, dan adik-adik Angkatan 2014, 2015 dan 2016. terima kasih atas doa,

dan dukungannya selama ini, semoga kita semua sukses dan dapat mencapai

semua cita-cita.

15. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN), M Fahrizal, Hanafi, Alika, Riska,

Neva, Dwi, dan Eda yang selalu memberi semangat dan dukungannya kepada

penulis.

16. Sedulur-Sedulur Arek Kontrakan, Aditia, Andesni Reza, Mas Asep, Bang

Wanto, Prayogi, Yasmin, Mas Dodi, Mas Bambang, Ipan, Mba Anti,

Terimakasi telah memberikan semangat, Motivasi dan dukungannya untuk

dapat segera menyelasaikan skripsi serta canda tawa.

17. Sahabat-sahabat sebelum kuliah hingga saat ini Riski Nug, Dinda Ratri, Dewi,

Adis, Ria, Cyntia, Septia, Kurnia, Qori, Basofi, Jagad, Ferdi, Shintia,

Ginanjar, dan anak Smanding lainnya yang tidak dapat disebutkan satu

persatu. Semoga persahabatan kita terus terjalin selama-lamanya sampai kita

dapat membuktikan dan mewujudkan cita-cita kita masing-masing.

18. Squad UKM Bulutangkis Unila dan Pb TGS RAYA, Bayu, Irfan, Agro, Maei,

(15)

disebutkan satu persatu terima kasih atas canda tawanya menyemangati dalam

berolahraga serta memotivasi dalam menyelesaikan skripsi.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,

akan tetapi penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi

kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 14 Januari 2020

Penulis,

(16)

DAFTAR ISI

Halaman

COVER ... ..i

DAFTAR ISI... .ii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR TABEL ... .v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... ..1

B. Rumusan Masalah Penelitian ... 12

C. Tujuan Penelitian... 13

D. Manfaat Penelitian... 13

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka ... 15

1. Teori Produksi ... 15

2. Fungsi Produksi ... 16

3. Model Fungsi Cobb-Douglas ... 23

4. Efisiensi ... 26

5. Teori Efisiensi Alokatif ... 28

6. Konsep Peternakan Ayam Petelur ... 31

7. Faktor Produksi Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur ... 42

B. Tinjauan Empiris ... 45

C. Kerangka Pemikiran ... 47

D. Hipotesis Penelitian ... 48

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Sumber Data ... 49

1. Jenis Penelitian ... 49

2. Jenis Data ... 50

B. Definisi dan Operasional Variabel ... 50

(17)

2. Uji Asumsi Klasik ... 55

3. Uji Normalitas ... 56

4. Uji Multikolinieritas ... 56

5. Uji Heteroskedastisitas ... 57

6. Uji Autokorelasi ... 58

7. Uji Statistik ... 59

8. Efisiensi Harga atau Allocative Efficiency ... 60

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 63

1. Aspek Geografis ... 63

2. Kependudukan... 64

3. Perekonomian ... 66

B. Karakteristik Responden ... 66

C. Profil Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur ... 69

1. Pakan ... 69

2. Populasi Ayam Berproduksi ... 70

3. Tenaga Kerja ... 71

4. Luas Kandang... 71

D. Hasil Penelitian ... 72

1. Perhitungan Regresi ... 72

E. Uji Asumsi Klasik ... 74

1. Uji Normalitas ... 74

2. Uji Multikolinieritas ... 74

3. Uji Heteroskedastisitas ... 75

F. Pengujian Hipotesis Statistik... 76

1. Uji-t Statistik ... 76

2. Uji F Statistik ... 77

G. Efisiensi Harga ... 78

H. Pembahasan ... 81

I. Implementasi Penelitian ... 85

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 87

B. Saran ... 88

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Produksi daging, telur, dan susu ... ..2 2. Perkembangan produksi telur ayam ras petelur berdasarkan wilayah di

(19)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Komposisi zat gizi telur ayam, ikan segar, dan daging kambing

per 100 gram bahan makanan ... ..3

2. Provinsi sentra produksi telur ayam ras di Indonesia Tahun 2014-2018 ... ..5

3. Populasi ayam ras petelur menurut Kabupaten/kota di Provinsi Lampung tahun 2016-2017 ... ..6

4. Penyebaran populasi ayam ras petelur dan produksi telur ayam ras petelur per kecamatan di Kabupaten Pringsewu Tahun 2018* ... ..8

5. Jumlah Peternak ayam ras petelur per Desa di Kecamatan Gadingrejo Tahun 2017* ... ..9

6. Performa beberapa strain ayam petelur ... 33

7. Tinjauan Empiris ... 45

8. Definisi dan operasional variabel ... 50

9. Daftar desa dan luas wilayah di Kecamatan Gadingrejo ... 64

10. Jumlah penduduk Kecamatan Gadingrejo menurut jenis kelamin dan desa tahun 2018 ... 65

11. Jumlah responden berdasarkan lama sekolah ... 67

12. Jumlah responden menurut kelompok umur ... 68

13. Jumlah responden menurut jumlah tanggungan... 68

14. Jumlah pakan yang dipakai oleh responden ... 70

15. Jumlah populasi ayam responden ... 70

16. Hasil perhitungan regresi dengan tingkat kepercayaan 5% ... 72

17. Hasil uji normalitas ... 74

18. Hasil uji multikolinieritas ... 75

19. Hasil uji heteroskedastisitas ... 75

20. Hasil uji-t ... 76

21. Hasil uji f ... 77

22. Efisiensi alokasi faktor produksi ... 78

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

(21)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatnya perekonomian di Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh

peningkatan di sektor pertanian. Dengan mulai bergesernya pertanian ke industri

dan juga mengingat Indonesia merupakan negara agraris, sektor pertanian ini

mendapat perhatian cukup besar dari pemerintah karena peranannya dalam rangka

penjunjung ekonomi bangsa.

Peranan sektor pertanian adalah sebagai sumber penghasil bahan kebutuhan

pokok, sandang, papan, menyediakan lapangan kerja bagi sebagian penduduk,

memberikan sumbangan terhadap pendapatan nasional yang tinggi, dan

memberikan devisa bagi negara dan mempunyai efek pengganda ekonomi yang

tinggi dengan rendahnya ketergantungan terhadap impor (multiplier effect) yaitu

keterkaitan input-output antar produksi, konsumsi dan investasi. Dampak

pengganda tersebut relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan

andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor pertanian juga dapat

menjadi basis dalam mengembangkan kegiatan ekonomi pedesaan melalui

pengembangan usaha berbasis pertanian yaitu agribisnis dan agroindustri. Dengan

pertumbuhan yang terus positif secara konsisten, sektor pertanian berperan besar

(22)

Peran utama sektor pertanian dalam kebijakan makro nasional difokuskan pada

penyediaan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional dalam

rangka menunjang stok pangan nasional. (Badan Ketahanan Pangan 2017).

Berdasarkan karakteristik komoditas, sektor pertanian dibagi menjadi lima sub

sektor yaitu tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan.

Sub sektor yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah peternakan. Mengacu

pada UU Nomor 41 Tahun 2014, peternakan adalah segala urusan yang berkaitan

dengan sumber daya fisik, benih, bibit, bakalan, ternak ruminansia indukan,

pakan, alat dan mesin peternakan, budidaya ternak, panen, pasca panen,

pengolahan, pemasaran, pengusahaan, pembiayaan, serta sarana dan prasarana.

Usaha peternakan di Indonesia telah menjadi sebuah industri yang memiliki

komponen lengkap dari sektor hulu sampai hilir dimana perkembangan usaha ini

memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan pertanian. Industri

perunggasan memiliki nilai strategis khususnya dalam penyediaan protein hewani

untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor, disamping

peranannya dalam memanfaatkan peluang kesempatan kerja. Perkembangan usaha

ini ditandai dengan meningkatnya produksi daging dan telur sementara untuk susu

masih berfluktuasi jumlah produksinya. (Statistik Peternakan dan Kesehatan

Hewan, 2018).

[image:22.595.115.393.606.716.2]

Sumber : Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2018

Gambar 1. Produksi daging, telur, dan susu (000 ton) 0,00

1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00

Daging

Telur

(23)

Komoditas peternakan di Indonesia terdiri dari komoditas ternak unggulan dan

komoditas ternak perspektif. Komoditas ternak unggulan terdiri dari sapi potong,

kambing, ayam ras petelur, dan ayam ras pedaging, sedangkan komoditas ternak

perspektif terdiri dari ayam kampung, sapi perah, itik, kerbau, domba, babi, dan

burung puyuh (Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia Tahun 2018).

Salah satu komoditi sub sektor peternakan yang paling strategis di Indonesia

adalah telur yang dihasilkan oleh ayam ras petelur. Telur ayam merupakan salah

satu sumber protein hewani yang memiliki nilai gizi yang baik dan lebih murah

dibandingkan produk ternak yang lain, sehingga dapat menjangkau lebih luas

masyarakat di Indonesia. Komposisi zat gizi telur dibandingkan dengan bahan

[image:23.595.117.511.444.575.2]

makanan sejenis disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi zat gizi telur ayam, ikan segar, dan daging kambing per 100 gram bahan makanan

Zat Gizi Telur Ayam Ikan Segar Daging

Kambing

Energi (kal) 155,00 113,00 154,00

Protein (g %) 13,0 17,00 16,60

Lemak (g %) 11,50 4,50 9,20

Kalsium (mg %) 54,00 20,00 11,00

Karbohidrat 1,10 0,00 0,00

Zat besi 1,20 1,00 1,00

Vitamin A (SI/100 g) 900,00 150,00 0,00

Sumber : Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2018

Komposisi zat gizi pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa telur ayam memiliki zat

gizi yang lebih lengkap dibandingkan dengan ikan segar dan daging kambing.

Selain itu, harganya yang relatif terjangkau membuat telur ayam sebagai pilihan

bahan makanan sumber zat gizi untuk meningkatkan kualitas dan kesehatan tubuh

(24)

Sehubungan dengan hal tersebut, perkembangan produksi telur dari tahun 1990 ke

tahun 2018 membentuk grafik yang berfluktuasi dan cenderung meningkat.

[image:24.595.113.513.140.320.2]

Sumber : Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia Tahun 2018

Gambar 2. Perkembangan Produksi Telur Ayam Ras Petelur Berdasarkan Wilayah di Indonesia Tahun 1990-2018*)

Rata-rata pertumbuhan produksi telur di Indonesia sebesar 7,74% per tahun

dengan sumbangan pertumbuhan di Pulau Jawa sebesar 9,67% per tahun dan di

luar Pulau Jawa sebesar 8,67% per tahun. Pertumbuhan produksi telur ayam ras

petelur dari tahun 2009 – 2018 mengalami peningkatan sebesar 7,28%. Dimana

pada tahun 2009 sebesar 0,90 juta ton menjadi 1,64 juta ton tahun 2018.

Pertumbuhan di luar Pulau Jawa cenderung kecil dibanding di Pulau Jawa yaitu

8,67% sedangkan pertumbuhan di Pulau Jawa hanya 9,67%. Hal ini dikarenakan

potensi lahan Pulau Jawa memungkinkan untuk pengembangan peternakan ayam

ras petelur. Namun tidak menutup kemungkinan di luar Pulau Jawa mempunyai

peluang yang besar dalam pengembangan peternakan ayam ras petelur.

Sentra produksi telur ayam ras di Indonesia pada tahun 2014-2018*) adalah

Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi

Selatan, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, dan Lampung. Provinsi 0

500000 1000000 1500000 2000000 2500000 3000000 3500000

Indonesia

Jawa

(25)

Lampung merupakan Provinsi terbesar ketiga di luar Pulau Jawa dengan produksi

telur ayam ras rata-rata sebesar 42.063,4 ton dengan pertumbuhan share nya

terhadap Indonesia sebesar 2,90% setelah Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera

Barat yang memiliki produksi telur ayam ras rata-rata sebesar 140.505 ton dengan

pertumbuhan share nya terhadap Indonesia sebesar 9,69%, sedangkan Provinsi

Sumatera Barat memiliki rata-rata produksi telur sebesar 67,149 ton dengan

[image:25.595.110.547.316.654.2]

pertumbuhan share nya terhadap Indonesia sebesar 4,63%.

Tabel 2. Provinsi Sentra Produksi Telur Ayam Ras di Indonesia Tahun 2014-2018 (ton)

Provinsi

Tahun

Rata-rata Share (%)

Kumulat if (%)

2014 2015 2016 2017 2018*)

Jawa Timur 291.399 390.055 445.793 455.811 465.838 409.779 28,25 28,25

Jawa Tengah 191.546 202.110 214.725 221.287 222.178 210.369 14,50 42,75

Sumatera

Utara 132.949 136.258 141.484 143.272 148.561 140.505 9,69 52,43

Jawa Barat 134.581 133.436 139.193 139.319 139.574 137.220 9,46 61,89

Sulawesi

Selatan 80.815 89.331 90.514 85.064 93.571 87.859 6,06 67,95

Banten 40.279 45.918 58.447 50.995 152.139 69.556 4,79 72,74

Sumatera

Barat 63.706 65.046 64.246 71.108 71.736 67.169 4,63 77,37

Kalimantan

Selatan 47.651 60.262 64.574 77.226 81.087 66.160 4,56 81,93

Lampung 50.786 37.839 39.286 41.076 41.330 42.063,4 2,90 84,83

Lainnya 210.591 212.574 227.426 221.034 228.446 220.014,2 15,17 100,00

Indonesia 1.244.312 1.372.829 1.485.688 1.506.192 1.644.460 1.450.696 100,0

Sumber : Ditjen. Peternakan dan Kesehatan Hewan 2018 Keterangan : *) angka sementara

Secara umum sektor pertanian di Provinsi Lampung diarahkan untuk

(26)

Provinsi Lampung (2018) menunjukkan bahwa rata-rata distribusi sektor

pertanian, tahun 2014-2018 terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku di

Provinsi Lampung adalah 30,00 persen. Peternakan merupakan salah satu

subsektor yang berkontribusi terhadap PDRB di Provinsi Lampung dan juga

berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan dalam menjamin

ketersediaan pangan yang berasal dari hewani. Rata-rata distribusi subsektor

peternakan tahun 2014-2018 terhadap total PDRB atas dasar harga berlaku di

Provinsi Lampung adalah 31,38 persen (Badan Pusat Statistik Provinsi

Lampung, 2018).

Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi

perkembangan pada sub sektor peternakan, dimana kondisi morfologi wilayahnya

yang cenderung datar dan beriklim baik. Hal itu sangat menunjang

perkembangan untuk mendorong banyaknya pelaku usaha untuk terjun pada

[image:26.595.120.511.514.734.2]

usaha ini (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, 2018).

Tabel 3. Populasi Ayam Ras Petelur Menurut Kabupaten/kota di Provinsi Lampung, Tahun 2016-2017

No Kabupaten/Kota Tahun 2016

(ekor) Tahun 2017 (ekor) Persentase perubahan (%)

1 Lampung Barat 24.500 9.000 -63,27

2 Tanggamus 24.903 25.835 3,74

3 Lampung Selatan 2.379.600 2.395.938 0,69

4 Lampung Timur 1.242.495 1.238.795 -0,29

5 Lampung Tengah 734.600 748.392 1,87

6 Lampung Utara 116.886 119.341 2,10

7 Way Kanan 87.364 88.199 0,96

8 Tulang Bawang 45.300 42.300 -6,62

9 Pesawaran 97.369 101.431 4,17

10 Pringsewu 445.730 687.900 54,33

11 Mesuji 1.250 2.750 120,00

12 Tulang Bawang Barat 16.979 17.233 1,50

13 Pesisir barat 0 0 0

(27)

Sambungan

No Kabupaten/Kota Tahun 2016

(ekor)

Tahun 2017 (ekor)

Persentase perubahan (%)

1 Bandar Lampung 12.000 12.000 0

2 Metro 34.550 14.150 -59,04

Provinsi Lampung 5.263.526 5.503.264 4,55

Sumber : Provinsi Lampung Dalam Angka, 2018 (data diolah)

Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa populasi ayam ras petelur di Provinsi Lampung

mengalami peningkatan sebesar 4,55% dari tahun 2016 hingga 2017 dengan

jumlah populasi ayam sebanyak 5.263.526 ditahun 2016 dan sebanyak 5.503.264

di tahun 2017. Kabupaten atau kota yang mengalami peningkatan populasi ayam

ras petelur terbanyak yaitu Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Pringsewu.

Kabupaten Mesuji menempati posisi pertama dengan penambahan populasi

sebanyak 120% dengan jumlah populasi ayam 1.250 di tahun 2016 dan 2.750 di

tahun 2017. Kabupaten Pringsewu mengalami penambahan jumlah populasi

sebesar 54,33% dengan angka populasi ayam 445.730 di tahun 2016 dan

687.900 di tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Pringsewu

memiliki potensi dalam pengembangan usaha ternak ayam ras petelur meskipun

masih berada pada urutan kedua di provinsi menurut persentase perubahan

jumlah populasi, tetapi sudah menunjukkan kemampuannya untuk menjadi sentra

ternak ayam ras petelur.

Karakteristik ayam ras petelur yang mayoritas digunakan di Kabupaten

Pringsewu adalah ayam ras petelur strain Lohman Brown. Menurut Rasyaf

(2003), Lohmann brown adalah ayam tipe petelur yang populer untuk pasar

komersial, ayam ini merupakan ayam yang selektif dibiakkan khusus untuk

(28)

perusahaan asal Jerman bernama Lohmann Tierzuch. Kebanyakan ayam ini

memiliki bulu berwarna cokelat seperti karamel, dengan bulu putih di sekitar

leher dan di ujung ekor. Ayam ini mulai dapat bertelur pada umur 18 minggu,

menghasilkan 1-2 butir telur per hari, dapat bertelur sampai 300 butir pertahun.

Bobot tubuh strain lohman brown pada umur 20 minggu sekitar 1,6-1,7 kg dan

pada akhir produksi sekitar 1,9-2,1 kg. Strain ini cukup cepat mencapai dewasa

kelamin, yaitu pada umur 18 minggu sehingga 50% produksi dapat dicapai pada

umur 140-150 hari. Produksi telur tinggi, yaitu sekitar 305 butir pertahun. berat

telur rata-rata 63,5-64,5 g. Konsumsi ransum pada saat produksi sekitar 110-120

g/ekor/hari dengan konversi ransum sekitar 2,1-2,2 kg. Lohmann brown

memiliki karakteristik bulu berwarna cokelat, perutnya lunak, kloaka bulat telur,

lebar, basah, terlihat pucat, badan agak memanjang, tubuh penuh, punggung

luas, dan bentuk kepala bagus dengan jengger berwarna merah cerah.

Ayam petelur strain Lohman brown termasuk kedalam tipe medium, dimana

ciri-cirinya mempunyai bobot tubuh yang cukup berat, tetapi beratnya antara

berat ayam petelur tipe ringan dengan broiler, sehingga disebut tipe medium.

Tubuhnya tidak kurus, tetapi juga tidak terlalu gemuk dan telur yang dihasilkan

cukup banyak. Rasyaf (2003) menyatakan ayam petelur tipe medium disebut

juga ayam tipe dwiguna atau ayam petelur cokelat yang memiliki berat badan

antara ayam tipe ringan dan berat. Ayam dwiguna selain dimanfaatkan sebagai

ayam petelur juga dimanfaatkan sebagai ayam pedaging bila sudah memasuki

(29)
[image:29.595.113.512.112.284.2]

Tabel 4. Penyebaran populasi ayam ras petelur dan produksi telur ayam ras petelur per kecamatan di Kabupaten Pringsewu, Tahun 2018)*

Kecamatan Populasi (ekor) Produksi (kg)

Pardasuka 45.000 720.000

Ambarawa 1.300 20.800

Pagelaran Utara 0 0

Pagelaran 22.900 297.700

Pringsewu 68.900 964.600

Gadingrejo 360.600 5.048.400

Sukoharjo 88.500 1.239.000

Banyumas 1.000 17.250

Adiluwih 101.000 1.313.000

Jumlah 687.900 9.620.750

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pringsewu, 2018 (data diolah)

Tabel 5. Jumlah Peternak ayam ras petelur per Desa di Kecamatan Gadingrejo,

Tahun 2017)*

No Pekon Jumlah Peternak

1 Parerejo 0

2 Blitarejo 0

3 Panjerejo 0

4 Bulukarto 0

5 Wates 0

6 Bulurejo 0

7 Tambah Rejo 1

8 Wonodadi 2

9 Gadingrejo 0

10 Tegal Sari 39

11 Tulung Agung 2

12 Yogyakarta 0

13 Kediri 0

14 Mataram 2

15 Wonosari 1

16 Klaten 3

17 Wates Timur 0

18 Wates Selatan 0

19 Gadingrejo Timur 3

20 Gadingrejo Utara 21

21 Tambahrejo Barat 0

22 Yogyakarta Selatan 0

23 Wonodadi Utara 0

Jumlah 74

[image:29.595.120.506.351.705.2]
(30)

Penyebaran populasi ayam ras petelur pada Tabel 4 dan Tabel 5 memperlihatkan

bahwa Kecamatan Gadingrejo yang terdapat di Desa Tegalsari dan Gadingrejo

Utara merupakan sentra ternak ayam ras petelur di Kabupaten Pringsewu dengan

populasi sebesar 360.600 ekor dan produksi sebesar 5.048.400 kg. Produksi telur

di Kecamatan Gadingrejo tahun 2018 yaitu sebesar 5.048.400 : 360.600 = 14.

Hasil tersebut menjelaskan bahwa setiap satu populasi ayam menghasilkan 14 kg

per tahunnya yang jika dikonversi dalam jumlah butir dimana satu kilo telur ayam

berjumlah 17 butir telur, maka untuk pertahunnya hanya mampu menghasilkan

238 butir telur per satu ayam. Hal ini tentu menjadi masalah kenapa produksi telur

pertahunnya tidak mencapai produksi ideal yaitu sebesar 300 butir telur atau 17,65

kg untuk satu ayam per tahun seperti yang dijelaskan oleh Rasyaf (2003).

Berdasarkan keadaan ini usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan

Gadingrejo diduga mengalami masalah pada tingginya biaya-biaya produksi dalam

melakukan kegiatan usahanya. Usaha ternak ayam ras petelur dikenal sebagai

usaha yang intensif modal, sedangkan peternak ayam ras petelur di Kecamatan

Gadingrejo mayoritas memiliki modal dan pengetahuan serta penggunaan

teknologi yang sederhana sehingga keadaan ini akan mempengaruhi pada efisiensi

pemakaian masukan (faktor produksi).

Peningkatan biaya produksi juga menyebabkan harga pokok produksi meningkat

dan peternak harus meningkatkan harga jual telur. Perubahan harga jual telur

ayam ras petelur akan berbanding lurus dengan peningkatan biaya produksi.

Perubahan biaya produksi ini dapat mempengaruhi keuntungan dan kemampuan

(31)

kecil. Kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi usaha ternak jika tidak segera

diantisipasi oleh peternak.

Dalam pelaksanaan usaha ternak, setiap peternak selalu mengharapkan

keberhasilan dalam usahanya, salah satu parameter yang dapat dipergunakan

untuk mengukur keberhasilan suatu usaha adalah tingkat keuntungan yang

diperoleh dengan cara pemanfaatan faktor-faktor produksi secara efisien.

Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada setiap usaha adalah syarat

mutlak untuk memperoleh keuntungan. Seperti halnya penelitian yang dilakukan

oleh Kustiawati Ningsih (2014), bahwa kombinasi pengalaman berternak, bibit

ayam, tenaga kerja, pakan, vaksin, dan listrik berpengaruh terhadap kenaikan

tingkat produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan peternak

dalam mengelola usahanya merupakan faktor yang sangat menentukan

tercapainya tingkat keuntungan optimal dan efisiensi ekonomi.

Menurut Ustomo (2016) Dalam mengelola usaha peternakan ayam tiap peternak

harus memahami 3 (tiga) tahap unsur penting dalam produksi yaitu breeding

(pembibitan), feeding (makanan ternak), dan manajemen (pengelolaan usaha

ternak). Peternak dituntut mampu mengkombinasikan penggunaan faktor-faktor

produksi secara efisien dalam hal ini pakan, vitamin, luas kandang serta tenaga

kerja, merupakan faktor faktor yang sangat penting dalam memaksimalkan

keuntungan dan tingkat efisiensi yang diharapkan.

Soekartawi dalam Ahmad Ridhani Anandra (2010:23) menerangkan bahwa dalam

terminologi ilmu ekonomi, pengertian efisiensi dibedakan menjadi tiga yaitu

(32)

tercapai jika perusahaan tersebut mampu memaksimalkan keuntungan yaitu

menyamakan nilai produk marginal setiap faktor produksi dengan harganya.

Efisiensi alokatif ini terjadi apabila perusahaan memproduksi output yang paling

disukai oleh konsumen. Pencapaian alokatif yang tinggi sangat penting dalam

upaya meningkatkan tingkat kompetitif dan keuntungan usaha. Efisiensi teknis

mencakup hubungan antara input dan output. Suatu perusahaan dikatakan efisiensi

secara teknis bilamana produksi dengan output terbesar yang menggunakan set

kombinasi beberapa input saja. Sedangkan efisiensi ekonomis merupakan hasil

kali antara seluruh efisiensi teknis dengan efisiensi alokatif dari seluruh faktor

input.

Salah satu cara untuk memaksimumkan keuntungan adalah dengan cara

melakukan efisiensi faktor produksi yang digunakan. Salah satu parameter

keberhasilan dalam usaha adalah tingkat keuntungan yang diperoleh. Penelitian

ini berusaha untuk menganalisis efisiensi alokatif usaha peternakan ayam petelur

yang dihubungkan dengan penggunaan faktor-faktor produksi usaha peternakan

ayam ras petelur.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Kesuksesan usaha peternakan ayam ras petelur dipengaruhi oleh beberapa faktor

baik itu dari faktor produksi maupun kondisi alam. Faktor produksi disini terdiri

atas pakan, populasi ayam, tenaga kerja dan luas kandang. Sedangkan faktor alam

(33)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah

penelitian sebagai berikut :

1. Apakah faktor-faktor produksi yaitu, pakan, populasi ayam, tenaga kerja dan

luas kandang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi telur pada

usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten

Pringsewu?

2. Apakah penggunaan faktor produksi usaha peternakan ayam ras petelur di

Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu sudah efisien secara alokatif?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi yaitu pakan, populasi ayam,

tenaga kerja dan luas kandang terhadap produksi telur pada usaha peternakan

ayam petelur Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

2. Menghitung dan mengukur tingkat efisiensi alokatif dalam penggunaan

faktor-faktor produksi usaha peternakan ayam ras petelur di Kecamatan

Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

D. Manfaat Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat kelulusan penulis untuk mencapai gelar Sarjana

Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung

2. Sebagai bahan pedoman dan informasi bagi peternak ayam petelur di

Kecamatan Gadingrejo untuk meningkatkan perkembangan usahanya agar

(34)

3. Sebagai pedoman untuk pengambil kebijakan serta bahan pertimbangan

(35)

II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Teori Produksi

Produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan

tersebut mengubah dari suatu komoditi menjadi komoditi lainnya yang sama

sekali berbeda baik dalam pengertian apa, dimana dan kapan komoditi-komoditi

tersebut dialokasikan, maupun dalam pengertian apa yang dilakukan oleh

konsumen terhadap komoditi itu. Produksi merupakan konsep arus (flow concept),

maksudnya adalah produksi merupakan kegiatan yang diukur sebagai

tingkat-tingkat output per unit periode atau waktu. Sedangkan outputnya sendiri

senantiasa diasumsikan konstan kualitasnya. Miller dan Meiners dalam Ahmad

Ridhani Anandra (2010).

Iswardono dalam Ahmad Ridhani Anandra (2010:28) menyatakan bahwa teori

produksi sebagaimana teori perilaku konsumen merupakan teori pemilihan atas

berbagai alternatif yang tersedia. Dalam hal ini adalah keputusan yang diambil

seorang produsen untuk menentukan pilihan atas alternatif tersebut. Produsen

mencoba memaksimalkan produksi yang bisa dicapai dengan suatu kendala

(36)

2. Fungsi Produksi

Fungsi produksi adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan

variabel yang menjelaskan (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa

keluaran (output) dan variabel yang menjelaskan biasanya berupa masukan

(input). Faktor-faktor produksi ini terdiri dari tenaga kerja, tanah, modal, dan

keahlian keusahawan. Dalam teori ekonomi, untuk menganalisis mengenai

produksi selalu dimisalkan bahwa tiga faktor produksi (tanah, modal dan keahlian

keusahawan) adalah tetap jumlahnya. Hanya tenaga kerja yang dipandang sebagai

faktor produksi yang berubah-ubah jumlahnya. Yang dimaksud dengan faktor

produksi adalah semua hal yang dikorbankan yang diberikan pada tanaman agar

tanaman tersebut tumbuh dan menghasilkan dengan baik. (Soekartawi, 2003:17)

Fungsi produksi sangat penting dalam teori produksi karena :

1. Dengan fungsi produksi, maka dapat diketahui hubungan antara faktor

produksi (output) secara langsung dan hubungan tersebut dapat lebih mudah

dimengerti.

2. Dengan fungsi produksi, maka dapat diketahui hubungan antara variabel yang

dijelaskan (dependent variable) Y dan variabel yang menjelaskan

(independent variable) X, serta sekaligus mengetahui hubungan antara

variabel penjelas. Secara matematis, hubungan ini dapat diejalaskan sebagai

berikut:

Y = f (x1,x2,x3, ….., xi, ….., xn)

Dengan fungsi tersebut diatas, maka hubungan Y dan X dapat diketahui dan

(37)

Soekartawi (2003:38), menyatakan bahwa fungsi produk adalah kaitan antara

faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakan. Faktor-faktor

produksi di kenal pula dengan istilah input dan jumlah produksi selalu juga

disebut output. Fungsi produksi dinyatakan dalam bentuk rumus :

Q = f (K, L, R, T)

Keterangan : K adalah jumlah stok modal L adalah jumlah tenanga kerja R adalah kekayaan alam, dan

T adalah tingkat teknologi yang digunakan

Fungsi produksi menunjukkan output atau jumlah hasil produksi maksimum yang

dapat dihasilkan per satuan waktu tertentu dengan menggunakan berbagai

kombinasi sumber-sumber daya yang dipakai dalam berproduksi. Fungsi produksi

adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang

menjelaskan (X). variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel

yang menjelaskan biasanya dalam bentuk input. Secara matematis , hubungan ini

dapat ditulis sebagai berikut :

Y = f (X1,X2,X3, ….., Xi, ….., Xn)

Persamaan diatas menjelaskan bahwa hubungan X dan Y sekaligus hubungan Xi,

Xn,dan X lainnya. Penggunaan dari berbagai macam faktor-faktor tersebut

diusahakan untuk menghasilkan atau memberikan hasil maksimal dalam jumlah

tertentu. Keberadaan fungsi produksi menunjukkan jumlah maksimum komoditi

yang dapat diproduksi per unit waktu pada setiap kombinasi input alternatif bila

(38)

Soekartawi (2003), menyatakan bahwa fungsi produksi suatu perusahaan untuk

sebuah barang tertentu q. q = f(K,L) memperlihatkan jumlah maksimum sebuah

barang yang dapat diproduksi dengan menggunakan kombinasi alternatif antara

modal (K) dan Tenaga Kerja (L).

Y

Tahapan I Tahapan II Tahapan III

C Total

Produk

Fisik B (TP)

Total Produk fisik

A

0 Input Variabel X

Y

Produk Produk fisik Fisik dari marjinal setiap unit

input

Produk fisik rata-rata

0 QA QB QC MP X

[image:38.595.112.491.195.653.2]

Input Variabel Gambar 3. Kurva Produksi dengan Satu Input Variabel Sumber : Soekartawi 2003

Pada Gambar 3 menjelaskan bahwa total kuva produksi selalu berawal dari titik

(39)

satupun, maka tidak ada output yang dihasilkan atau nol produksi. Bila kemudian

dalam proses produksi input variable (tenaga kerja) termanfaatkan maka total

produksi akan bergerak keatas. Dengan bertambahnya input variable kurva

produksi total atau TP (total product) semakin meningkat tapi tambahannya atau

MP (marginal product) mulai menurun.

Pola ini mengacu ada hukum (The Law of Diminishing returns). Pada saat TP

meningkat, kurva produksi marginal bergerak meningkat dan melebihi besarnya

produksi rata-rata. Pada saat MP dan AP (average product) berpotongan,

merupakan awal dari tahap kedua dan produksi rata-rata mencapai puncak yang

tertinggi.

Pada saat produksi total mencapai titik puncak, Kurva MP memotong sumbu

horizontal dan untuk selanjutnya berada dibawahnya (MP mencapai nilai negatif).

Penurunan total produksi menunjukan bahwa semakin banyak input variable

(misalkan tenaga kerja) yang digunakan justru akan mengurangi produksi

totalnya. Kondisi ini masuk pada tahp ketiga bahwa penambahan input variabel

(tenaga kerja) menyebabkan produktifitas tidak efisien lagi, AP dan MP yang

mula-mula menaik, kemudian mencapai puncak (titik maksimum) dan setelah itu

menurun.

Secara singkat dapat digambarkan ciri-ciri tiga tahapan produksi sebagai berikut:

1. Tahap I, dimana MP > AP, jika AP menaik, dimana input tetap lebih banyak

dari pada input variabel, merupakan tahap yang tidak rasional (increasing

(40)

2. Tahap II, dimana MP = AP ; jika AP maksimum, dimana input tetap dan

input variabel sudah rasional (decreasing returns).

3. Tahap III, dimana MP < AP ; jika AP menurun, dimana input variabel lebih

banyak dari pada input tetap, merupakan tahap yang tidak rasional (negative

decreashing returns).

Ketiga tahapan dalam suatu proses produksi tersebut tidak dapat dilepaskan dari

konsep produk marginal (marginal product). Produk marginal dimaksudkan

tambahan satu satuan input X yang dapat menyebabkan perubahan atau

pengurangan satu satuan output Y, dengan demikian produk marginal (PM) dapat

ditulis dengan ΔY / ΔX (Soekartawi, 2003). Dalam proses produksi tersebut

setiap tahapan mempunyai nilai produk marginal yang berbeda.

Nilai produk marginal berpengaruh terhadap elastisitas produksi. Elastisitas

produksi diartikan sebagai presentase perubahan dari output sebagai akibat dari

input yang dirumuskan sebagai berikut :

Eᵖ = ΔY/ΔX⁄ΔX/X atau ΔY

ΔX. 𝑋 𝑌

(Soekartawi, 2014)

Dimana :

Ep = elastisitas produksi

ΔY = perubahan hasil produksi (output)

Y = hasil produksi (output)

ΔX = perubahan penggunaan faktor produksi (input)

(41)

Hubungan yang unik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tahap I: nilai Ep > 1, produk total, produk rata-rata menaik dan produk

marginal juga nilainya menaik kemudian menurun sampai nilainya

sama dengan produ rata-rata. Pada daerah ini penambahan input

sebesar 1% akan menyebabkan penambahan produk yang selalu lebih

besar dari 1%.

Tahap II: nilai Ep adalah 0 < Ep < 1, produk total menaik tetapi produk rata-rata

menurun dan produk marginal juga menurun sampai nol. Pada daerah

ini penambahan input sebear 1% akan menyebabkan penambahan

komoditas paling tinggi sama dengan 1% dan paling rendah 0%,

tergantung harga input dan outputnya.

Tahap III: nilai Ep < 0, produk total dan produk rata-rata sama-sama menurun

sedang produk marginal nilainya negatif. Pada daerah ini,

penambahan pemakaian input akan menyebabkan penurunan produk

total.

Fungsi produksi membatasi pencapaian profit maksimum karena keterbatasan

teknologi dan pasar dimana hal ini akan mempengaruhi ongkos produksi, output

yang dihasilkan dan harga jual output. Hubungan antara input dengan input, input

dengan output dan output dengan output yang merupakan karakteristik dari fungsi

produksi suatu perusahaan tergantung pada teknik produksi yang digunakan. Pada

umumnya, semakin maju teknologi yang digunakan akan semakin meningkatkan

output yang dapat diproduksikan dengan suatu jumlah input tertentu. Dalam

(42)

fungsi preferensi konsumen meskipun ada perbedaannya. Perusahaan

menggunakan input-input untuk menghasilkan output, pada umumnya jumlah

atau kuantitas ini mempunyai karakteristik cardinal artinya produk atau output

dapat ditambah dan dapat dilihat fungsi produksi juga menjelaskan bukan hanya

satu isoquant tetapi seluruh jumlah isoquant, dimana masing-masing isoquant

menunjukkan tingkat output yang berbeda serta menunjukkan bagaimana output

berubah menjadi input yang digunakan juga berubah. Di dalam sebuah fungsi

produksi terdapat tiga konsep produksi yang penting, yaitu:

a. Produksi Total (TP), adalah total output yang dihasilkan dalam unit fisik.

b. Produk Marjinal (MP), adalah tambahan produk atau output yang diakibatkan

oleh bertambahnya satu unit input, dengan menganggap input lainnya

konstan.

c. Produksi Rata-rata (AP), adalah output total yang dibagi dengan unit total

input. (Nicholson, 2002:174)

Dalam kegiatan usaha untuk mengubah berbagai input menjadi output, maka

alternatif pada berbagai kombinasi pada berbagai kombinasi input untuk

mendapatkan output maksimal menjadi perusahaan. Fungsi produksi yang

menggambarkan hubungan antara input dan output diformulasikan secara

sederhana untuk memberikan gambaran bagaimana cara terbaik untuk

menggabungkan input-input menjadi output.

Namun dalam kenyataanya, penggunaan output tersebut masih dipengaruhi faktor

lain diluar kontrol manusia yang dikenal dengan istilah faktor ketidak tentuan dan

(43)

menghasilkan dugaan yang lebih baik, sehingga dapat diperoleh informasi

mengenai kombinasi input yang paling baik dan seberapa besar mempengaruhi

produksi yang diperoleh dan tetap perlu hati-hati dalam memberi arti terhadap

parameter fungsi produksi, hal ini disebabkan tidak semua variabel bebas di

masukkan dalam model.

Fungsi produk linear sederhana biasanya digunakan untuk menyederhanakan

gejala/keadaan yang saling berkaitan. Model ini sering digunakan karena

analisisnya mudah dilakukan dan hasilnya juga mudah dimengerti. Namun

kelemahannya adalah penelitian akan kehilangan informasi tentang variabel yang

tidak masuk dalam model tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka

digunakan Linier Berganda. Secara matematis fungsi linier berganda dapat

dituliskan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + ….. + biXi + ….. bnXn

Dimana : Y = produksi a = intersep

b = koefisien regresi Xi = input produksi (Soekartawi, 2003)

3. Model Fungsi Cobb-Douglas

Fungsi produksi Cobb-Douglas adalah fungsi atau persamaan yang melibatkan

dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut variabel dependen,

yang dijelaskan (X). Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penggunaan fungsi

(44)

a. Tidak ada pengamatan variabel penjelas (X) yang sama dengan 0, sebab

logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui

(infinite).

b. Dalam fungsi produksi diasumsikan tidak terdapat perbedaan teknologi pada

setiap pengamatan (non neutral difference in the respective technologies).

Dalam arti bahwa kalau fungsi produksi Cobb-Douglass yang dipakai sebagai

model dalam suatu pengamatan dan bila diperlukan analisis yang

memerlukan lebih dari 1 model maka perbedaan model tersebut terletak pada

intercept dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut.

c. Tiap variabel X adalah perfect competition

d. Perbedaan lokasi seperti iklim sudah tercakup pada faktor kesalahan

e. Hanya terdapat satu variabel yang dijelaskan yaitu (Y)

Secara matematis fungsi produksi Cobb-Douglas adalah :

Y = aX1b1X2b2X3b3 … …Xnbn et

Keterangan:

Y = output produk (variabel dependen)

X1,...Xn = input produksi (variabel independen)

a = konstanta

b1,…bn = koefisien regresi (elastisitas produksi)

= logaritma natural, = 2,718

et = kesalahan (eror term)

Penggunaan penyelesaian fungsi Cobb-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah

(45)

Ln Y = Ln a + b1lnX1 + b2lnX2 + …… bnlnXn + t

Pada persamaan diatas terlihat bahwa nilai b1, b2, b3,… bn adalah tetap walaupun

variabel yang terlibat telah dilogaritmakan. Hal ini karena b1, b2, b3,… bn pada

fungsi Cobb-Douglass menunjukkan elastisitas X terhadap Y, dan jumlah

elastisitas adalah merupakan return to scale. Lebih lanjut dijelaskan bahwa

penggunaan penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglass dalam penyelesaiannya

selalu dilogaritmakan dan diubah bentuk menjadi fungsi produksi linier.

Beberapa hal yang menjadi alasan pokok mengapa fungsi Cobb-Douglas lebih

banyak dipakai para peneliti, termasuk dalam penelitian yaitu:

1. Fungsi produksi Cobss-Douglas relevan untuk sektor pertanian yang telah

dibuktikan secara empiris, khusunya untuk penelitan dengan menggunakan

cross section.

2. Penyelesaian fungsi Cobb-Douglas elatif lebih mudah dibandingkan dengan

fungsi yang lain, hal ini dikarenakan fungsi dapat dengan mudah ditransfer ke

bentuk linier, yaitu dengan jalan melogaritmakan variable yang dibangun

dalam model, baik dengan logaritma biasa atau dengan logaritma natural.

3. Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan

koefisien regresi sekaligus menunjukan besaran elastisitas, dimana elastisitas

dari produk akan mengukur kemampuan reaksi dari input terhadap output.

4. Koefisien-koefisien regresi (b1, b2, …. Bn) menggambarkan tingkat

elastisitas input tersebut.

5. Konstanta (a) merupakan indeks efisiensi produksi

(46)

4. Efisiensi

Salah satu elemen penting dalam teori mikro ekonomi modern adalah efisiensi.

Analisis tentang efisiensi telah menjadi perhatian utama ekonom sejak dahulu.

Konsep efisiensi lahir didasakan oleh asumsi bahwa sumber daya untuk

memenuhi keinginan manusia berada dalam keadaan yang terbatas, sehingga

didorong untuk menghasilkan suatu output yang sebesar-besarnya dengan

korbanan atau inputnyang sekecil-kecilnya. Menurut Miller dan Meiners (2000)

permasalahan utama bagi seorang pengambil kebijakan adalah penggunaan

sumberdaya secara efisien karena hal tersebut merupakan tujuan yang paling

penting dalam penentuan keputusan penggunaan input yang digunakan untuk

mencapai hasil yang diinginkan. Efisiensi berkaitan dengan pencapaian output

maksimum dari alokasi sejumlah (set) sumberdaya atau input. Jika output yang

dihasilkan lebih besar dari sumber daya yang digunakan maka semakin tinggi

pula tingkat efisiensi yang dicapai. Dengan kata lain, efisiensi mengandung

makna, pencapaian biaya produksi minimal untuk memperoleh nilai tambah yang

maksimal melalui pemanfaatan teknologi, pengelolaan skala produksi dan

kombinasi optimal. Efisiensi merupakan komponen penting yang

dipertimbangkan oleh petani dalam setiap pengambilan keputusan usaha taninya

karena hasil yang diperoleh tergantung pada efisiensi alokasi faktor input yang

digunakan dalam kegiatan usaha tani.

Selain itu Ramli dan A Marhasan (2005) menyatakan bahwa tingkat efisiensi

yang tinggi tercapai pada saat kondisi optimal terpenuhi yaitu apabila tidak ada

(47)

input yang lebih sedikit dan tidak ada kemungkinan menghasilkan produk yang

lebih banyak dengan menggunakan input yang sama.

Soekartawi (2003) menyatakan efisiensi merupakan banyaknya hasil produksi

fisik yang dapat diperoleh dari kesatuan faktor produksi atau input. Situasi seperti

ini akan terjadi bila petani mampu membuat suatu upaya agar nilai produk

marjinal (NPM) untuk suatu input atau masukan sama dengan harga input (P) atau

dapat dituliskan sebagai berikut:

NPMx = Px ; atau NPMx / Px =1

Dalam banyak kenyataan NPMx tidak selalu sama dengan Px, dan yang sering

terjadi adalah keadaan sebagai berikut:

1. (NPMx / Px) > 1 ; artinya bahwa penggunaan input x belum efisien. Untuk

mencapai tingkat efsiensi maka input harus nambah.

2. (NPMx / Px) < 1 ; artinya penggunaan input x tidak efisiensi. Untuk

mencapai atau menjadi efisiensi maka input harus dikurangi.

Terminologi ilmu ekonomi menjelaskan bahwa, pengertian efisiensi dapat

dibedakan menjadi tiga yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokasi atau harga dan

efisiensi ekonomis. Menurut Sokartawi (2004), efisiensi terjadi jika petani

mendapatkan keuntungan maksimum, namum ada hal beberapa yang

menyebabkan mengapa keuntungan maksimum sulit dicapai petani, yaitu:

a. Petani tidak atau belum memahami prinsip hubungan input-output.

b. Petani sering dihadapkan pada faktor resiko yang tinggi.

c. Petani sering dihadapkan pada faktor ketidakpastiaan dengan harga dimasa

(48)

d. Keterbatasan petani dalam menyediakan input dan kurangnya keterampilan

petani.

5. Teori Efisiensi Alokatif

Efisiensi alokatif (harga) menunjukan hubungan biaya dan output. Efisiensi

alokatif bisa dicapai jika dapat memksimumkan keuntungan yaitu menyamankan

produk marjinal setiap faktor produksi dengan harganya. Suatu usaha tani

dikatakan efisiensi secara alokatif bila mana petani mendapat keuntungan yang

maksimum dari usaha tani yang dijalankannya.

Menurut Soekartawi (1994), apabila fungsi produksi yang digunakan adalah

fungsi produksi Cobb-Douglas, maka :

Y = AXb atau Ln Y = Ln A + bLn X

Maka kondisi produksi marjinalnya adalah

MPPxi = 𝛿𝑥𝑖𝛿𝑌 = A.bXb-1

Dalam analisis efisiensi alokasi, terdapat dua tujuan utama, yaitu maksimisasi

keuntungan dan harga input atau output berada pada dasar persaingan sempurna,

maka dapat ditulis sebagai berikut:

Π = TVP – TFC

Π = Y . Py – (Pxi . Xi + C0)

Π = f (Xi) . Py – (Pxi . Xi + C0)

Π = maksimum 𝑑𝑥𝑖𝑑π = 0

𝑑π

(49)

MPPxi. Py = Pxi

MPPxi. Py = NPMxi

Ki = 𝑀𝑃𝑃𝑥𝑖.𝑃𝑦𝑝𝑥𝑖 = 𝑁𝑃𝑀𝑖𝑝𝑖

Ki = 1 (Kondisi π maksimum / efisiensi)

Ki < 1 (Tidak Efisien)

Ki > 1 (Belum Efisien)

Efisiensi harga tercapai apabila pertandingan antara nilai produktivitas marjinal

masing-masing input (NPMxi) denga harga inputnya (Pxi) sama dengan 1. Kondisi

ini menghendaki NPMx sama dengan harga faktor produksi X atau dapat ditulis

sebagai berikut:

NPM = Pxi

MPPxi . Py = Pxi

(A . bXb-1) . Py = Pxi

A . bXᵇ

𝑋 . 𝑃𝑦 = 𝑃𝑥𝑖

b(A.Xᵇ)

𝑋 . Py = Pxi

b. Y

𝑋 . 𝑃𝑦 = 𝑃𝑥𝑖

Ki = b.Y.Py𝑋.𝑃𝑥𝑖 = 1 (kondisi efisien)

Px = Harga faktor produksi X. Dalam prakteknya, nilai Y, Py, X, Px diambil nilai

rata-ratanya, dan dalam kenyataan yang sebenarnya persamaan nilainya tidak

sama dengan 1, sehingga yang sering kali terjadi adalah:

(50)

2. Ki > 1, artinya pengunaan faktor produksi belum efisiensi sehingga perlu

menambah input

3. Ki < 1, artinya pengguaan faktor produksi tidak efisiensi. Untuk mencapai

tingkat efisiensi diperlukan mengurangi penggunaan input.

Efisiensi penggunaan input dapat terjadi ketika petani mampu membuat suatu

upaya agar nilai produk marginal (NPM) untuk suatu input sama dengan harga

input tersebut, dalam bentuk matematis:

NPMx = Px atau NPMx/Px = 1

Ada dua hal yang perlu dilakukan, antara lain:

a. Tingkat tranformasi antara input dan output dalam fungsi produksi.

b. Perbandingan antara harga input dan output sebagai upaya untuk mencapai

indikator efisiensi

(Soekartawi, 2003).

Efisiensi yang demikian disebut dengan efisiensi harga atau allocative efficienc.

Jika keadaan yang terjadi adalah:

a. NPMx/Px = 1 maka penggunaan input x sudah efisien.

b. NPMx/Px < 1 maka penggunaan input x tidak efisien dan perlu mengurangi

penggunaan input.

c. NPMx/Px > 1 maka penggunaan input x belum efisien dan perlu menambah

(51)

6. Konsep Peternakan Ayam Ras Petelur

Ayam ras petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk

diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik

liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi

tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah

seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat

diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi

tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal

dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam

petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian

dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu

dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada

sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik

dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam

petelur unggul.

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan di Indonesia adalah ayam ras

petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya

dijadikan ayam potong. Ayam petelur terbagi atas tiga jenis ayam yaitu tipe

ringan berasal dari bangsa white leghorn, tipe medium dari bangsa rhode island

reds, dan barred plymouth rock dan tipe berat dari bangsa new hampshire, white

plymouth rock, dan cornish (Amrullah, 2004).

Asal mula ayam petelur adalah dari ayam hutan yang telah didomestikasi dan

(52)

pada produksi yang banyak. Namun, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur

dan dagingnya maka arah dari seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi

untuk tujuan produksi daging dikenal dengan broiler, sedangkan untuk produksi

telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna

kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat

(Rasyaf, 1997).

Ayam petelur adalah ayam yang sangat efisien untuk menghasilkan telur dan

mulai bertelur umur ± 5 bulan dengan jumlah telur sekitar 250--300 butir per ekor

per tahun. Bobot telur ayam ras rata-rata 57,9 g dan rata-rata produksi telur hen

day 70% (Susilorini et al., 2008).

Ayam ras petelur yang beredar di masyarakat ialah final stock penghasil telur.

Final stock ialah ayam yang khusus dipelihara untuk menghasilkan telur dan telah

melalui berbagai persilangan dan seleksi (Yuwanta, 2004). Ayam petelur tipe

medium mempunyai bobot tubuh yang cukup berat, tetapi beratnya antara berat

ayam petelur tipe ringan dengan broiler, sehingga disebut tipe medium.

Tubuhnya tidak kurus, tetapi juga tidak terlalu gemuk dan telur yang dihasilkan

cukup banyak. Ayam tipe medium disebut juga ayam dwiguna karena mampu

memproduksi telur dan daging (Rasyaf, 2003).

Menurut Sudarmono (2003), ayam petelur tipe medium memiliki ciri-ciri:

a. Ukuran badan lebih besar dan lebih kokoh daripada ayam tipe ringan, serta

(53)

b. Timbangan badan lebih berat daripada ayam tipe ringan karena jumlah

daging dan lemaknya lebih banyak.

c. Otot-otot kaki dan dada lebih tebal.

d. Produksi telur cukup tinggi dengan kulit telur tebal dan berwarna cokelat.

Rasyaf (2003) menyatakan ayam petelur tipe medium disebut juga ayam tipe

dwiguna atau ayam petelur cokelat yang memiliki berat badan antara ayam tipe

ringan dan berat. Ayam dwiguna selain dimanfaatkan sebagai ayam petelur juga

dimanfaatkan sebagai ayam pedaging bila sudah memasuki masa afkir.

Strain ialah klasifikasi ayam berdasarkan garis keturunan tertentu melalui

persilangan dari berbagai kelas, bangsa/varietas sehingga ayam mempunyai

bentuk sifat dan tipe produksi tertentu sesuai dengan tujuan produksi

[image:53.595.114.516.460.726.2]

(Yuwanta,2004).

Tabel 6. Performa beberapa strain ayam petelur

Strain

Umur awal produksi (minggu)

Umur pada produksi 50%

Puncak produksi

(minggu) FCR Lohmann Brown MF 402 19-20 22 92-93 2,3-2,4

Hisex Brown 20-22 22 91-92 2,36

Bovans White 20-22 21-22 93-94 2,2

Hubbard Golden Comet 19-20 23-24 90-94 2,2-2,5

Dekalb Warren 20-21 22-24 90-95 2,2-2,4

Bovans Goldline 20-21 21,5-22 93-95 1,9

Brown Nick 19-20 21,5-23 92-94 2,2-2,3

Bovans Nera 21-22 21,5-22 92-94 2,3-2,45

Bovans Brown 21-22 21-23 93-95 2,25-2,35

Isa Brown*) 18-19 20 94-95 2,4-2,5

(54)

Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan

pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai

mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan

antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan

ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang

kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di

pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang

kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan

ayam negeri galur murni).

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam

ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa

produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga

menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam

broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna atau

ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.

Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya

dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara

komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam

ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan

kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat

mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya

kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun

(55)

Dalam dunia peternakan, kita tidak asing lagi dengan ayam yang sengaja

diternakan untuk dihasilkan daging atau telurnya, karena sudah banyak

peternakan ayam yang menyebar diseluruh Indonesia bahkan sampai diluar

negeri, baik peternakan pabrik ataupun peternakan individu.

Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki

prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai

standar nasional, konsumsi protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri

dari 80% protein nabati dan 20% protein hewani. Hal itu berarti target konsumsi

protein hewani sekitar 11 g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein

hewani penduduk Indonesia baru memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih

rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina (Ditjen. Peternakan dan

Kesehatan Hewan, 2017).

Ayam itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis yaitu ayam jenis pedaging dan ayam

jenis petelur. Ayam jenis pedaging, pastinya dibudidayakan karena untuk

dihasilkan daging dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik,

sedangkan ayam petelur dibudidayakan untuk dihasilkan telur dengan jumlah

yang banyak dan kualitas yang baik.

Dalam beternak ayam petelur, kita perlu memperhatikan tahapan proses produksi

mulai dari kandang, pakan, vaksinasi, pemeliharaan ayam dan sebagainya.

Berikut ini merupakan tahapan-tahapan proses produksi usaha peternakan ayam

Figure

Gambar 1. Produksi daging, telur, dan susu (000 ton)
Tabel 1. Komposisi zat gizi telur ayam, ikan segar, dan daging kambing per   100 gram bahan makanan
Gambar 2. Perkembangan Produksi Telur Ayam Ras Petelur Berdasarkan Wilayah
Tabel 2. Provinsi Sentra Produksi Telur Ayam Ras di Indonesia Tahun 2014-2018           (ton)
+7

References

Related documents

In the past decade, however, new steps have been taken at the regional level (e.g., the Helsinki Convention) to raise the level of protection in regional seas, like the Baltic

When asked about appearance characteristics associated with feminism, many of the respondents in my study immediately thought of a stereotypical appearance, even if they do

Although the fluoride analyses results in the strict sense only apply to the toothpastes evaluated, if inferences could be drawn, these would indicate that based on

The aim of this in vitro study was to evaluate potential effects of natural product amygdalin combined with mycotoxin deoxynivalenol (DON) on the key regulators

Black box testing: (1) Function testing (2) Domain testing (3) Specification-based testing (4) Risk-based testing (5) Stress testing (6) Regression testing (7) User testing (8)

Refugee women have the right to information on legal indications for abortion, and to safe, accessible, and confidential abortion care, including care for complications of

The effect of eugenol oil concentration on the anodic and cathodic polarization behavior of tin in 0.1 M Na 2 CO 3 solution has been studied by

In simplistic terms, the tool rotation rate controls the frictional heat input to the weld zone and plasticises the steel whilst the traverse rate of the tool influences the