ANALISIS KEKALAHAN PETAHANA DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2015
(Skripsi)
Oleh INTAN BARIZA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
ANALISIS KEKALAHAN PETAHANA DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2015
Oleh INTAN BARIZA
Kekalahan dari pasangan Bustami Zainudin-Adinata pada Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Way Kanan tahun 2015. Hal ini tidak semestinya terjadi, karena mengingat pasangan ini memiliki latar belakang pengalaman dan keunggulan diberbagai bidang. Namun nyatanya belum mampu membawa pasangan ini memenangkan Pilkada Way Kanan tahun 2015 dengan perolehan suara yang hanya sebesar 40,24%.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kekalahan dari petahana Bustami-Adinata pada Pemilihan Kepala Daerah tahun 2015 di Kabupaten Way Kanan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi, sedangkan teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan tahap editing dan interprestasi data. Teknik analisis data terdiri dari pengumpulan, penyederhanaan, penyajian dan verifikasi akhir data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, perilaku pemilih menjadi faktor kekalahan pasangan petahana Bustami-Adinata kalah dalam Pilkada di Way Kanan tahun 2015. Faktor kekalahan yang dapat dilihat dari penilaian kinerja petahana, pencitraan dan isu, serta dilihat dari pekerjaan, usia, agama dan atau latar belakang pendidikan dari pemilih. Selain itu meski memiliki pendukung dari partai yang kuat, dana anggaran kampanye yang besar, serta kedudukannya sebagai bupati yang masih menjabat tidak menjamin kemenangannya pada Pilkada Way Kanan 2015. Hal ini karena adanya tim pemenangan yang tidak loyal/setia yang ada dalam tim kampanye Bustami di Kabupaten Way Kanan.
ABSTRACT
ANALYSIS THE DEFEAT OF INCUMBENT IN LOCAL ELECTION OF WAY KANAN REGENCY IN 2015
By
INTAN BARIZA
The defeat that happen to the incumbent Bustami-Adinata at the local elections of Way Kanan Region in 2015. Where it is not suppose to be happen, because they have more background experience and they excellence in various fields. But in fact all that yet to makes them win in the local elections of Way Kanan Region in 2015 with only have 40,24% votes.
This research purpose is to reveal and analyzing the deafeat that happen to the incumbent Bustami-Adinata at the local elections of Way Kanan Region in 2015. Method used in this is qualitative research methods with the type of descriptive reasearch.The technique for this data collection is done by interview, observation and documentation, while technique for processing this data is done by using editing and interpretation of data. Data analysis techniques consist of collection, simplification, presentation and final verification of data.
The results of this study indicate that the voter behavior is the defeat factors of imcumbent pairs Bustami-Adinata lose in the local elections of Way Kanan Region in 2015. The defeat factors that can be seen from the performance appraisal incumbent, image and issues, also seen from the work, age or eduation backgroung of the voter. Even with the backing from big political parties, budget funds for the campaign, as well as the position of the regent who is still served can’t ensure the victory at the local elections of Way Kanan Region in 2015. Other reason is because there are team of winners that unloyal in the campaign teams of Bustami at the Way Kanan District local elections..
ANALISIS KEKALAHAN PETAHANA DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2015
Oleh INTAN BARIZA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU PEMERINTAHAN
Pada
Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Rawabening, pada tanggal 9 Juli 1994.
Nama lengkap Intan Bariza, merupakan anak bungsu dari
empat bersaudara dari pasangan Bapak Herman dan Ibu
Warnati Zen. Jenjang akademik penulis dimulai dengan
menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1
Suka Bumi, lulus pada tahun 2005, dilanjutkan menempuh pendidikan di Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Buay Bahuga, yang diselesaikan pada tahun
2008, dan dilanjutkan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA)
Perintis 1 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2011.
Tahun 2011 penulis terdaftar menjadi mahasiswa Universitas Lampung melalui
jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), diterima
sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
MOTTO
Kata menyerah adalah untuk mereka yang telah berjuang sampai akhir.
Jika kau tidak mengambil resiko, kau tidak bisa menciptakan masa depan.
-One Piece-
No one is born hating another person because of his skin or his
background or his religion.
-Barack Obama-
I may fall down and get hurt, but I still run endlessly towards my dreams. Dreams, Hope, Forward, Forward.
-BTS-
Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, selama kita percaya pada diri kita sendiri, akan ada cara untuk mewujudkan keinginan kita.
PERSEMBAHAN
Puji syukur Alhamdulillah ku ucapkan kehadirat Allah S.W.T
Kupersembahkan karya kecilku ini kepada orang-orang yang kucintai dan
mencintaiku....
Untuk Ayah dan Ibuku tercinta atas kasih sayang dan do’a yang tulus
Untuk kakak-kakakku yang selalu sabar dan selalu memberiku dukungan
Dan
SANWACANA
Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Kekalahan Petahana Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Way
Kanan Tahun 2015”. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu
Politik Universitas Lampung.
Penyusunan skripsi ini disadari penulis akan adanya keterbatasan kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki, dimana tanpa bantuan berbagai pihak skripsi ini tidak
mungkin dapat terselesaikan dengan baik. Kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari semua pihak, demi kesempurnaan skripsi ini sangat diharapkan.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua
pihak yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini, dimana
antara lain :
1. Bapak Dr. Syarief Makhya, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Lampung
2. Bapak Drs. R Sigit Krisbintoro, M.IP, selaku Dosen Pembimbing dan
Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
3. Bapak Budi Harjo, S.Sos, M.IP, selaku penguji yang telah banyak
memberi masukan dan saran untuk dalam menyelesaikan skripsi ini
4. Bapak Syafarudin, S.Sos, M.A, selaku Pembimbing Akademik yang telah
banyak memberikan ilmu pengetahuan dan motivasi selama penulis
menjadi mahasiswa.
5. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung,
yang telah banyak memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis
selama menuntut ilmu di Jurusan Ilmu Pemerintahan
6. Seluruh staf jurusan dan karyawan Fisip Unila yang telah banyak
membantu proses administrasi penulis selama menjadi mahasiswa
7. Pegawai Dinas Catatan Sipil, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD)
Kabupaten Way Kanan dan pegawai Kesbangpol Kabupaten Way Kanan,
serta Camat atau staf-stafkecamatan yang mewakili,dan juga para
informan yang membantu selama saya melakukan penelitiandi Kabupaten
Way Kanan,yang tidak dapat disebutkan satu-persatu
8. Orang tuaku dan Kakak-kakakku tercinta yang telah sabar dan selalu memberiku semangat untuk keberhasilanku dengan do’a, perhatian,
motivasi, dan dukungan yang diberikan selama ini
9. Sahabat-sahabatku yang selalu memberi semangat dan selalu
membantuku, Gita Aprilia, Siti Robi’ah, Wiwik Zubaidah, Neti Ariani
yang telah banyak meluangkan waktunya selama ini untuk membantuku.
10.Teman-teman jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2011 yang tidak bisa
kusebutkan satu-persatu dan para mahasiswa juniorku yang telah
Serta semua pihak yang membantu, namun tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Semoga bantuan dan dukungan yang telah diberikan selama ini mendapat balasan
dari Allah SWT.
Bandar Lampung, Oktober 2017
Penulis,
i DAFTAR ISI
Halaman ABSTRAK
SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP MOTTO
PERSEMBAHAN SANWACANA
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 13
C. Tujuan Penelitian ... 13
D. Kegunaan Penelitian ... 13
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Perilaku Politik ... 14
1. Pengertian Perilaku Politik ... 14
2. Perilaku Pemilih ... 17
3. Konsepsi pemilihan Umum ... 20
B. Partisipasi Politik ... 22
1. Definisi Partisipasi Politik ... 22
2. Tipologi Partisipasi Politik ... 24
C. Masyarakat... 29
1. Definisi Masyarakat... 29
2. Unsur-Unsur Masyarakat... 30
ii
D. Tinjauan Tentang Pemilihan Kepala Daerah ... 31
1. Definisi Pemilihan Kepala Daerah ... 31
2. Kreativitas Tim Sukses ... 35
E. Kerangka Pikir ... 37
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ... 42
B. Definisi Konseptual ... 44
C. Definisi Operasional ... 45
D. Lokasi Penelitian ... 46
E. Jenis Data ... 46
F. Teknik Pengumpulan Data ... 48
G. Teknik Pengolahan Data ... 50
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Ummum Pemilihan Kepala Daerah ... 51
B. Gambaran Umum Kabupaten Way Kanan ... 52
C. Profil Calon dan Ikatannya Dengan Lokasi Penelitian ... 60
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 64
B. Pembahasan ... 84
VI. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 88
B. Saran ... 89
iii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Hasil perolehan suara Pilkada Way Kanan Tahun 2015 ... 7
2. Rekapitulasi penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Way Kanan Tahun 2015... 7
3. Penelitian Terdahulu ... 10
4. Bentuk-bentuk Partisipasi Kolektif ... 25
5. Tabel Usia Poduktif dan Non-produktif ... 55
6. Jumlah Penduduk per-Kecamatan ... 56
7. Jumlah Penduduk menurut pendidikan ... 57
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia memakai sistem demokrasi sehingga rakyat diberikan kebebasan
dan hak dalam menjalankan kehidupan juga diberikan jaminan hukum agar
warga negara dapat mengeluarkan aspirasinya secara terbuka. Proses
demokratisasi di tingkat lokal juga sedang giat dicanangkan oleh pemerintah,
salah satunya dengan adanya kebijakan otonomi daerah. Pemilu adalah
mekanisme untuk mewujudkan kedaulatan rakyat guna membentuk
pemerintahan perwakilan atau gambaran ideal bagi sebuah pemerintahan
demokrasi di zaman modern (Dahl dalam Eka Suaib, 2010:2).
Pemilu adalah salah satu barometer yang dipakai untuk mengukur seberapa
besar partisipasi masyarakat. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan
suatu kegiatan yang dilakukan di negara Indonesia setiap lima tahun sekali,
untuk memilih kepala daerah yang akan menjadi pemimpin pada suatu daerah
tertentu, yang dilakukan dengan cara demokratis. Pemimpin yang sanggup
2
Pemilu sendiri dilaksanakan selain untuk tujuan pemilihan kepala
pemerintahan juga memiliki fungsi-fungsi penting yang mendasari
keberadaannya secara sistematis, Syamsuddin Haris (dalam Eka Suaib,
2010:2) mengemukakan fungsi-fungsi pemilu sebagai berikut:
1. Legitimasi politik
Artinya, melalui pemilu, keabsahan pemerintah yang berkuasa dapat ditegakkan, begitu pula dengan programdan kegiatan yang dihasilkan. Pentingnya fungsi ini karena melalui pemilu, pemerintah sebenarnya bisa menyakinkan atau setidaknya bisa mempengaruhi kesepakatan politik dengan rakyat. Semua program dan kegiatan yang dihasilkan dan yang akan dilaksanakan memiliki legitimasi kuat karena di antara penguasa dan rakyat terdapat kesepakatan melalui kampanye dan kontrak politik.
2. Perwakilan politik
Baik dalam rangka mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintah, program kerja maupun kebijakan yang dihasilkan, dalaam kaitan ini pemilu merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil yang akan duduk di lembaga pemerintahan maupun di lembaga legislatif.
3. Pergantian atau sirkulasi elite penguasa
Keterkaitan pemilu dengan sirkulasi elite didasarkan pada asumsi bahwa elite berasal dari dan bertugas mewakili masyarakat luas.
4. Sarana pendidikan politik
Pemilu merupakan pendidikan politik bagi rakyat, terbuka dan massal, yang diharapkan dapat mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi. Kaitan ini menunjukkan struktur, proses dan fungsi pemilu diharapkan bisa mencerdaskan dan mencerahkan wawasan masyarakat sehingga kehidupan politik dapat dipulihkan ke arah yang lebih demokratis.
Eka Suaib (2010:2) berpendapat bahwa ada beberapa alasan mengapa pemilu
menjadi penting bagi sebuah negara, yaitu sebagai berikut :
3
2. “Pemilu melegitimasi sistem politik”. Maksudnya ialah dengan adanya pemilu nantinya pergerakan calon yang terpilih akan lebih mudah melaksanakan sistem karena telah memperoleh kekuatan dukungan dari para pemilihnya.
3. “Pemilu mengabsahkan kepemimpinan politik”. Maksudnya ialah setelah selesai proses pemilu maka regenerasi tangkup kepemimpinan telah resmi berganti dan dapat menjalankan kepemimpinan yang baru.
4. “Pemilu sebagai unsur pokok partisipasi politik di negara yang berdemokrasi”. Maksudnya ialah nilai tertinggi pada partisipasi politik warga negara ditunjukan atas perhatiannya dan sikap kongkrit masyarakat dalam menyikapi kegiatan politik ini, yang dimaksud adalah ikut memberikan suaranya pada hari H pemilihan, tanpa adanya partisipasi maka negara tersebut belum bisa menyandang gelar negara dengan sistem yang demokratis.
Merujuk pada penjabaran fungsi-fungsi dan pentingnya pelaksanaan pemilu
di atas menjadikan empat dimensi sarana yang bermanfaat bagi masyarakat
agar memandang pemilu adalah proses penting bagi transformasi perubahan
baik itu ditinjau dari input, process, dan output pelaksanaan pemilu itu sendiri. Pelaksanaan itu pun merupakan implementasi kepatuhan masyarakat
terhadap peraturan perundang-undangan, dan juga partisipasi aktif adalah
harga mati bagi identitas negara yang demokratis. Sehingga garis proses yang
dibuat tidak terputus dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Partisipasi politik warga negara dalam perpolitikan sangatlah penting, karena
setiap keputusan yang diambil penguasa di negara atau wilayah yang
menganut demokrasi harus dipatuhi oleh masyarakat atau warga negara.
4
dan bertanggung jawab atas pemimpin yang telah dipilihnya dan juga untuk mengurangi kekeliruan pemimpin dalam menjalankan tugasnya karena ikut diawasi oleh konstituen yang memilihnya.”
Partisipasi politik yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia
adalah dengan ikut ambil bagian pada proses pemungutan suara, dan salah
satu bentuk kongkritnya ialah turut memberikan suara (memilih) dalam
pilkada yang berlangsung disetiap kabupaten. Partisiapasi politik sangat erat
kaitannya dengan gejala-gejala sosial politik dalam masyarakat, seperti
perubahan-perubahan struktur sosial, pengaruh kaum intelektual, konflik
kepentingan antar kelompok-kelompok politik, dan keterlibatan pemerintah
yang meluas dalam urusan sosial.
Gerakan partisipasi politik adalah gerakan yang dinamis dan selalu
berkembang menyesuaikan dengan gejala dan fenomena yang terjadi pada
masyarakat. Pada konsep partisipasi politik kesadaran politik menjadi hal
yang sangat penting, karena masyarakat yang sadar politik akan paham bahwa
setiap keputusan yang diambil oleh penguasa atau pemimpin harus dipatuhi
oleh warga negara baik yang aktif, pasif maupun yang apatis terhadap politik.
Masyarakat yang sadar politik akan menuntut haknya untuk mempengaruhi
kebijakan pemimpin yang nantinya akan ia laksanakan pula, begitupun halnya
dengan penentuan kepala daerah yang nantinya akan memimpin.
Tinggi dan rendahnya partisipasi masyarakat akan menentukan seberapa
besar tingkat kesadaran yang dimiliki masyarakat untuk berpolitik. Pada
dasarnya, keikutsertaan warga negara dalam pemilihan umum yang
5
diungkapkan oleh Surbakti (2010:185) yaitu memilih atau tidak memilih
dalam pemilu. Sehingga, keputusan untuk tidak memilih ini juga merupakan
suatu pilihan yang memungkinkan untuk diambil.
Persentase pemilih menjadi sangat penting karena itu berarti menunjukan
tingkat penerimaan rakyat terhadap pemerintah. Begitu pentingnya partisipasi
masyarakat dalam pemilu, maka menjadi suatu fenomena tersendiri yang
sangat disayangkan apabila dalam suatu pemilihan terdapat masyarakat yang
memilih untuk tidak menyampaikan aspirasi/hak suara/pilihan yang
dimilikinya dalam pemilu, meskipun sudah menjadi hak masing-masing
individu untuk secara bebas berpendapat/mengeluarkan atau tidak
mengeluarkan suara sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945.
Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu Daerah Otonom Baru (DOB)
yang ada di Provinsi Lampung. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran
dari kabupaten induk yaitu Tulang Bawang. Pada pelaksanaan Pilkada
serentak oleh Komisi Pemilihan Umum di Lampung tahun 2015 lalu, ada 8
Daerah melaksanakan pemilihan umum kepala daerah yaitu Kota Bandar
Lampung, Kota Metro, Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Pesawaran,
Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung
Tengah dan Kabupaten Lampung Timur.
Pasangan petahana atau dikenal dengan istilah incumbent sering kali ikut serta dalam pemilihan kepala daerah dan munculnya calon petahana dalam
pelaksanaan pemilihan kepala daerah memberi peluang untuk memenangkan
6
langsung maupun tidak langsung. Tidak jarang pula calon petahana gagal
dalam pemilihan umum tersebut. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor,
yaitu pada saat menjadi pemimpin tidak dapat menjalankan perintahnya
dengan benar atau masyarakat yang tidak memperoleh apa yang di inginkan
seperti peningkatan kesejahteraan ekonomi dan kesehatan mereka serta
pembangunan di daerah mereka. Kegagalan dari calon petahana tersebut
merupakan tolak-balik karena tidak dapat menjalankan tugas pemerintahan
seperti yang diharapkan masyarakat.
Berdasarkan pilkada yang dilakukan di Lampung peneliti telah merangkum
calon petahana yang ikut serta kembali dalam pilkada pada tahun 2015, hanya
Walikota Petahana Bandar Lampung, Herman HN, yang menang dengan
suara signifikan.Herman HN - Yusuf Kohar yang merupakan Calon
Incumbent di usung oleh partai Demokrat, PDI-P, Nasdem, PKS, PKB dan
Gerindra. Calon Bupati incumbent atau petahana dari Kabupaten Way Kanan
dengan pasangan calon (Paslon) H. Bustami Zainudin - Adinata, Lampung
Selatan dengan Paslon Rycko Menoza SZP - Eki Setyanto dan Pesawaran
dengan Paslon Aris Sandi DP - Mahmud Yunus kalah dari kompetitornya.
Hasil pemungutan suara dari KPU Way Kanan diumumkan menghasilkan
pemenang pasangan Adipati Surya- Edward Antony meraih total suara paling
besar, mengalahkan pasangan petahana Bustami Zaenudin- Adinata. Berikut
ini adalah tabel hasil penghitungan suara dari masing-masing kecamatan di
7
Tabel 1. Hasil Perolehan Suara Pilkada Kabupaten Way Kanan 2015
Sumber : Diolah oleh penulis 2017
Berdasarkan data tabel di atas, Bustami Zainudin yang menjabat sebagai
Kepala Daerah Kabupaten Way Kanan tahun 2010, dari 14 kecamatan hanya
memenangkan suara tertinggi di 2 kecamatan dan mengakibatkan Bustami
Zainudin kalah pada pilkada langsung tahun 2015. Berikut ini adalah hasil
rekapitulasi dari penghitungan suara pada Pilkada Way Kanan Tahun 2015.
Tabel 2. Rekapitulasi penghitungan suara Pilkada Way Kanan tahun 2015
No Nama Pasangan Calon Perolehan Suara 1 Bustami Zainudin - Adinata 91.849 (40,24 %)
2 Raden Adipati Surya – Edward Antoni 136.387 (59,76 %)
Jumlah 281.246
Sumber : Data olahan atas KPUD Kabupaten Way Kanan 2015 No Kecamatan
Nama Calon
Jumlah Bustami
Zainudin - Adinata
Raden Adipati Surya - Edward Anthony
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Bahuga 3.160 3.014 6.236
2 Banjit 7.816 15.957 24.079
3 Baradatu 8.730 12.331 21.157
4 Blambangan Umpu 11.260 21.096 32.606
5 Buay Bahuga 3.712 7.790 11.650
6 Bumi Agung 4.370 10.030 14.596
7 Gunung Labuhan 5.739 8. 662 14.628
8 Kasui 9.893 6.647 16.477
9 Negara Batin 7.709 8.148 16.051
10 Negeri Agung 8.424 10.550 19.179
11 Negeri Besar 3.808 5.906 9.888
12 Pakuan Ratu 8.615 12.019 20.841
13 Rebang Tangkas 4.660 6.352 11.162
14 Way Tuba 3.953 7.885 11.804
[image:24.595.141.496.671.742.2]8
Berdasarkan kekalahan petahana Bustami Zainudin pada pemilihan kepala
daerah di Kabupaten Way Kanan tersebut, penulis tertarik untuk dicermati
lebih lanjut mengapa Bustami Zainudin sebagai calon incumbentyang memiliki keuntungan langsung dari segi popularitas sebagai kepala daerah
kalah dalam pemilu tahun 2015 di Kabupaten Way Kanan.Bustami Zainudin
menjabat sebagai Bupati Kabupaten Way Kanan 2010-2015mengadakan
program yang bernama Mulang Tiyuh yang artinya Pulang Kampung. Program dimana Bustami memiliki tujuan agar masyarakat Kabupaten Way
Kanan kembali kekampung halaman untuk dapat ikut serta dalam memajukan
daerah mereka bersama.
Berdasarkan artikel yang dimuat dalam My Blog LampungX.com, seorang pengamat politik dari Universitas Lampung yaitu Yusdianto memberikan
pendapatnya terhadap calon incumbent yang maju dalam pilkada serentak di lampung, sebagai berikut :
“Ya, bakal ada enam sampai tujuh incumbent yang bakal maju Pilkada 2015. Mereka punya kelebihan, tapi bukan tanpa kelemahan. Jika tak berbenah dalam waktu singkat, bisa saja mereka tumbang. Semua hampir sama kelemahannya. Belum mampu meyakinkan masyarakat akan programnya. Sebab, periode pertama tentu belum bisa mewujudkan janji kampanye. Tapi, calon incumbent belum bisa menyajikan pelayanan publik yang maksimal dan bisa menyentuh langsung kepentingan masyarakat,” katanya. (https://bukancinta.wordpress.com/2014/09/24/ inilah-enam-kartu-truf-incumbent/diakses pada tanggal 4 Maret 2017).
Yusdianto menerangkan, dari sekitar tujuh incumbent itu hampir punya
kelemahan serupa. Di antaranya, mulai dari kegagalan menangani potensi
konflik, pemberantasan korupsi, hingga buruknya komunikasi politik, baik
9
Bustami Zainudin yang menjabat sebagai Bupati Way Kanan Periode
2010-2015. Yusdianto menyebutkan sebagai berikut :
“Di Waykanan, lanjut dia, Bustami dinilai punya kelebihan mampu membentuk disiplin aparatur. Tapi, kelemahannya di antaranya soal infrastruktur yang masih buruk. Seperti jalan dan listrik. Program Bustami yang melarang PNS merokok membuktikan keberhasilannya dalam menegakkan disiplin. Tapi, ada kekurangan di bidang infrastruktur dan percepatan pembangunan lantaran kurang mampu mendatangkan investor,” bebernya. (https://bukancinta.wordpress.com/2014/09/24/ inilah-enam-kartu-truf-incumbent/diakses pada tanggal 4 Maret 2017).
Fenomena kekalahan petahana dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia
bukanlah hal yang baru. Terdapat beberapa petahana yang mengalami
kegagalan ketika ikut berpartisipasi kembali dalam pemilihan kepala daerah.
Gagalnya petahana dalam pemilihan kepala daerah biasanya disebabkan oleh
beberapa faktor, seperti buruknya kinerja petahana ketika masih memegang
jabatan. Penyampaian pesan oleh tim kampanye yang tidak menarik. Adapun
penelitian terdahulu yang telah membuktikan kebenaran dari faktor tersebut
10
Tabel 3. Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Teori Metodologi Hasil/Kesimpulan
1 M. Dias Al Kaisya “Faktor-faktor penyebab kekalahan Incumbent Edy Sutrisno pada Pilwakot Bandar Lampung Tahun 2010”. Skripsi (2012) a. Kegagalan kampanye b. Popularitas dan ketokohan calon c. Loyalitas pemilih terhadap partainya d. Pengaruh strategi perekrutan calon oleh partai politik
Survey dengan pendekatan kuantitatif
1. Penyampaian pesan yang tidak tepat sasaran
2. Penyampaian pesan oleh tim kampanye yang tidak menarik 3. Kegagalan masyarakat
dalam memahami pesan kampanye 4. Program-program
kampanye yang tidak menetapkan khalayak sasaran secara tepat 5. Pesan-pesan kampanye
tidak memiliki arahan tepat bagaimana khalayak untuk menerima dan menerapkan gagasan yang diberikan dan diterima, serta bagaimana mengambil tindakan yang di perlukan.
2 Monicha Anggraini “Faktor Penyebab Kekalahan Zainal Abidin (Incumbent) dan Anshori Djausal Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Lampung Utara 2013” Perilaku Pemilih Deskriptif Kualitatif 1.
Kepemimpinan yang buruk dari incumbent 2. Pemilih memberikan
11
3 Saiful Zuhri “Analisis SWOT Terhadap kekalahan Petahana (Mustafa) di Daerah Pemilihan kecamatan Terbanggi Besar Pada Pemilihan Kepala Daerah di kabupaten Lampung Tengah Tahun 2015”. Skripsi (2016) Faktor internal dan eksternal dari teori SWOT, lalu dikaji dari modal politik, sosial dan ekonomi. Survey dari teknik pusposive sampling, dengan Metode Kualitatif dalam bentuk tipe deskriptif.
1. Tim pemenangan kurang loyal sehingga adanya Penyelewengan dana kampanye oleh tim pemenangan 2. Tidak mampu menjaga
kepercayaan dari masyarakat yang menimbulkan isu negatif calon petahana 3. Kinerja yang tidak
memuaskan dimasa pemerintahannya 4. Pelayanan masyarakat
yang dilakukan aparatur pemerintah masih berjalan, seperti pembangunan
infrastruktur 5. Masyarakat yang
menentukan pilihan berdasarkan kedekatan sosial
Sumber : Diolah oleh penulis 2017
Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah
pada penelitian ini lebih menekankan pada analisis terhadap kekalahan
petahana di Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung pada Pilkada 2015
dengan calon Incumbent Bustami Zaenudin yang saat itu masih berstatus
sebagai kepala daerah, sehingga diketahui faktor penyebab kekalahan
petahana dengan besar peluang bagi calon petahana Bupati Kabupaten Way
Kanan untuk terpilih kembali pada pilkada 2015.
Menggunakan sudut pandang dari kinerja selama menjabat sebagai Bupati
atau Kepala Daerah serta faktor yang mempengaruhi perilaku politik kandidat
dan perilaku politik dari pemilih dalam menentukan calon bupati atau kepala
12
hal ini dapat dilihat dari segi penilaian masyarakat terhadapcalon petahana
selama menjabat sebagai bupati, dengan menggunakan teori perilaku politik.
Berdasarkan penjelasan di atas maka menurut peneliti, penelitian ini penting
untuk dilakukan karena dalam penelitian ini akan mengungkap bagaimana
perilaku politik kandidat petahana di Kabupaten Way Kanan Provinsi
Lampung. Dalam hal ini, penelitian yang dilakukan terhadap petahana yang
dapat dikatakan memiliki potensi terbesar memenangkan pemilihan baik
secara langsung maupun tidak langsung, terutama berdasarkan posisi dan
popularitas yang dimiliki pasangan petahana.
Penelitian ini akan membantu agar masyarakat dalam mengikuti Pilkada
selanjutnya mengetahui dan mempertimbangkan pilihan terhadap calon
petahana. Berdasarkan penjelasan tersebut, dengan menilai kinerja calon
petahana selama menjabat dan faktor yang mempengaruhi kekalahan
petahana dalam pilihan di pilkada. Maka dari itu peneliti tertarik untuk
meneliti lebih jauh tentang kekalahan petahana dalam pemilihan kepala
daerah Kabupaten Way Kanan tahun 2015.
13
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan
masalah pada penelitian ini adalah menganalisis apa yang menjadi penyebab
kekalahan petahana dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Way Kanan
pada Tahun 2015 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis faktor atau penyebab kekalahan Petahana dalam Pemilihan
Kepala Daerah Kabupaten Way Kanan tahun 2015
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
1. Secara Akademis
Secara akademis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian
ilmu pengetahuan khususnya dalam pengembangan ilmu pemerintahan
dan politik, serta lebih memperkuat teori penelitian yang ada.
2. Secara Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan
yang menangani langsung masalah yang berkaitan tentang kekalahan
petahana (incumbent) dalam pemilihan kepala daerah serta perilaku politik calon petahana dan kecenderungan atau perilaku politik pemilih
dalam menentukan pilihan dalam Pilkada. Memberikan masukan bagi
calon petahana serta organisasi/lembaga yang berkaitan dengan
14
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku Politik
1. Pengertian Perilaku Politik
Pada hakikatnya segala kegiatan masyarakat,kelompok, dan pemerintah
yang berkenaan dengan proses pembuatan, pelaksanaan dan penegakan
keputusan politik adalah merupakan identifikasi dari teori perilaku politik.
Dalam buku Memahami Ilmu Politik yang ditulis oleh Surbakti (2010)
disebutkan bahwa terdapat empat faktor yang memengaruhi perilaku
politik seseorang atau aktor politik yaitu:
a) lingkungan sosial politik tak langsung, seperti sistem politik, sistem ekonomi, sistem budaya dan media massa;
b) lingkungan sosial politik langsung yang memengaruhi dan membentuk kepribadian aktor, seperti keluarga, agama, sekolah, dan kelompok pergaulan. Dari lingkungan sosial politik langsung seorang aktor mengalami sosialisasi dan internalisasi nilai dan norma masyarakat, termasuk nilai dan norma kehidupan bernegara, dan pengalaman-pengalaman hidup pada umumnya;
15
diri. Artinya, penilaian seseorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh keinginan untuk mengatasi konflik batin atau tekanan psikis yang mungkin berwujud mekanisme pertahanan diri dan eksternalisasi diri, seperti proyeksi, idealisasi, rasionalisasi, dan identifikasi dengan aggresor.
d) faktor lingkungan sosial politik langsung berupa situasi, yaitu keadaan yang memengaruhi aktor secara langsung ketika hendak melakukan suatu kegiatan, seperti cuaca, keadaan keluarga, keadaan ruang, kehadiran orang lain, suasana kelompok, dan ancaman dengan segala bentuknya.
Perilaku politik oleh Surbakti (2010:21) dibagi menjadi dua, yaitu perilaku
politik lembaga-lembaga dan pejabat pemerintah, dan juga perilaku politik
warga negara biasa, baik individu maupun kelompok. Perilaku politik
lembaga-lembaga dan pejabat pemerintah berkenaan dengan tanggung
jawab membuat, melaksanakan dan menegakkan keputusan politik,
sedangkan perilaku politik warga negara biasa, baik yang individu maupun
yang kelompok tidak memiliki kewenangan seperti yang pertama, tetapi
berhak memengaruhi pihak pertama menjalankan fungsinya, karena apa
yang dilakukan pihak pertama menyangkut juga kehidupan dari pihak
kedua.
2. Budaya Politik
Menurut Gabriel Almond dalam Roy C dan Bernard F (1996:249), teori
kebudayaan politik meletakkan beberapa arti penting pada sikap politik,
keyakinan politik, nilai, dan emosi-emosi dalam menjelaskan fenomena
politik, fenomena struktural, dan fenomena perilaku kohesi nasional,
pola-pola lapisan politik, cara-cara mengatasi konflik, serta ciri khas partisipasi
16
Menurut rumusan Parsons dan Shils dalam Gabriel Almond dan Verba
(1984:16), budaya politik mengandung tiga komponen objek politik
sebagai berikut :
1) Orientasi kognitif yaitu berupa pengetahuan tentang kepercayaan pada politik, peranan dan segala kewajibannya serta input dan output-nya. 2) Orientasi efektif yaitu sikap/perasaan terhadap sistem politik,
peranannya, para aktor dan penampilannya.
3) Orientasi evaluatif yaitu keputusan dan pendapat tentang objek-objek politik yang secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.
Menurut Almond dan Verba (1984:19-20), orientasi individual terhadap
pemerintahan dapat dijelaskan secara sistematis dengan memperhatikan
hal-hal berikut:
1) Pengetahuan apa yang dimiliki seseorang tentang negara dan sistem politiknya dalam pengertian umum, seperti sejarah, ukuran lokasi, kekuasaan, sifat-sifat konstitusionalnya dan lain-lain. Bagaimana perasaan-perasaannya terhadap karakteristik sistemik ini? Bagaimana pula pendapatnya tentang kelebihan dan kekurangan, serta penilaiannya terhadap karakteristik yang sistemik itu?
2) Bagaimana pemahaman seseorang tentang struktur dan peranan, kaum elit politik dan pengajuan-pengajuan kebijaksanaan yang diperkenalkan ke dalam arus pembuatan kebijaksanaan yang bersifat upward? Bagaimana perasaan dan pendapatnya tentang segala struktur, para pemimpin dan semua proposal kebijaksanaan ini?
3) Bagaimana pemahaman yang dimiliki tentang arus pengokohan kebijaksanaan yang downward, struktur-struktur, individu-individu, kepuasan-kepuasan yang dilibatkan dalam seluruh rangkaian proses ini? Bagaimana perasaan dan pendapatnyaterhadap hal-hal itu?
4) Bagaimana perasaan pribadinya sebagai anggota sistem politik tersebut? Bagaimana pemahamannya tentang haknya, dan strateginya untuk dapat memasuki kelompok orang-orang yang berpengaruh?
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat dapat diketahui bahwa
budaya politik erat kaitannya dengan aspek subjektif dan psikologi yaitu
berupa orientasi, nilai, kepercayaan, keyakinan politik, dan sikap politik
17
3. Perilaku Pemilih a. Perilaku Memilih
Perilaku memilih (votting behaviour) dalam pemilu merupakan salah satu turunan dari perilaku politik (political behaviour). Pemilih (voter) diartikan sebagai semua pihak yang menjadi tujuan utama para kandidat
untuk mereka pengaruhi agar dapat memberikan dukungan dan
memberikan hak suaranya kepada yang bersangkutan. Firmanzah
(2008: 87) mengemukakan bahwa yang dinyatakan sebagai pemilih
dalam pilkada, yaitu mereka yang telah terdaftar sebagai peserta
pemilih oleh petugas pendata peserta pemilu.
Pemilih dalam hal ini dapat diartikan masyarakat umum, pemilih ialah
masyarakat yang memiliki hak pilih dalam pemilu dan terdaftar sebagai
pemilih oleh panitia penyelenggara pemilu, seperti yang dijelaskan
dalam UU No.10 tahun 2008 Pasal 19 ayat1 bahwa “Warga Negara
Indonesia yang pada hari pemungutan suara telah genap berumur 17
(tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih”. Dan ayat 2 bahwa “Warga Negara Indonesia sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didaftar oleh penyelenggara Pemilu dalam daftar pemilih”.
Almond, Gabriel A dan Sydney Verba. 1984) mengatakan bahwa,
perilaku pemilih terhadap partai politik tertentu dipengaruhi
18
bila seseorang menentukan pilihannya, baik terhadap calon Presiden
maupun anggota parlemen.
Pelaksanaan pemilihan umum suatu negara, baik itu pemilu tingkat
daerah maupun tingkat pusat, perilaku politik itu berupa perilaku
pemilih dalam menentukan sikap dan pilihan mereka dalam
melaksanakan pemilu tersebut. Perilaku pemilih tersebut pasti didasari oleh “bagaimana individu” tersebut atau perilaku pemilih dalam
memilih ini dapat saja dilatarbelakangi oleh beragam faktor yang
menyangkut dirinya.
b. Perilaku Tidak Memilih
Perilaku tidak memilih di Indonesia lebih dikenal dengan istilah golput
(golongan putih) atau non-voting. Susan Welch (dalam Efriza 2012: 534) mengemukakan bahwa:
“Golput (non-voting) adalah ketidakhadiran seseorang berkaitan dengan kepuasan atau ketidakpuasan pemilih. Kalau seseorang memperoleh kekuasaan dengan tidak menghadiri pemilu tentu ia tidak akan hadir dibilik suara, begitu pula sebaliknya. Disamping itu, ketidakhadiran juga berkaitan dengan kalkulasi untung rugi. Kalau seseorang merasa lebih beruntung secara finansial, dengan tidak hadir dalam pemilu, tentu ia akan lebih suka melakukan pekerjaan lain yang lebih menguntungkan.”
Mereka beranggapan bahwa kehadiran dan ketidakhadiran mereka pada
saat pemilihan harus memberikan manfaat tersendiri bagi diri mereka,
jadi jika mereka tidak mendapatkan manfaat dari suatu pemilihan
19
mementingkan urusan pekerjaanya.Arief Budiman dalam Joko
Prihatmoko (2003:150) mengatakan bahwa:
“Golput bukan organisasi, tanpa pengurus, dan hanya merupakan pertemuan solidaritas. Golput adalah sebuah identifikasi bagi mereka yang tidak puas dengan keadaan dan aturan main demokrasi yang diinjak-injak oleh partai politik dan pemerintah demi memenangkan pemilu dengan menggunakan aparat negara melalui cara di luar batas aturan main demokratis. Keberadaan golput mengindikasikan bahwa proses politik yang sedang berlangsung tidak benar. Kendati tidak memiliki kekuatan politik, golput melakukan gerakannya dengan diam.”
Kedua argument di atas memiliki beberapa perbedaan dalam substansi,
yaitu pada Arief Budiman golput terjadi dengan adanya kesadaran dan
pengetahuan dari pelakunya untuk tidak menggunakan hak pilih dengan
tujuan yang jelas, sementara dalam pandangan Susan Welch setiap
orang yang memiliki hak pilih namun tidak menggunakan hak pilih
pada saat pemilihan berlangsung dan itu dikatakan sebagai golput
dikarenakan perhitungan untung rugi mengikuti atau tidak mengikuti
pemilihan.
Ditinjau dari sudut apapun golput memiliki ruang pengaruh tersendiri
dalam proses transisi demokrasi, karena dalam demokratisasi partisipasi
masyarakat merupakan hal penting dalam pembentukan legitimasi
pemerintah. Perilaku tidak memilih (golput) bertujuan mendelegitimasi
pemilu yang diselenggarakan pemerintah, sehingga sangat rawan
keberlangsungan pemerintahan yang tidak mendapatkan legitimasi
20
4. Konsepsi Pemilihan Umum
Sejak bergulirnya reformasi di Indonesia, pemilihan umum merupakan
pesta demokrasi yang menentukan tonggak estafet kepemimpinan
selanjutnya. Masyarakat diberikan hak penuh untuk memilih satu pasang
dari beberapa pasang calon yang mengajukan diri. Namun pada
perjalanannya dari tahun ke-tahun angka masyarakat yang tidak
menggunakan hak pilihnya semakin meningkat, hal ini bisa jadi
dikarenakan beberapa faktor seperti faktor latarbelakang status
sosial-ekonomi dan faktor keperayaan politik.
Berkaitan dengan pemilihan kepala daerah yang telah dilaksanakan pada 9
Desember 2015, pemilihan umum merupakan bagian dari penyelenggaraan
pesta demokrasi tersebut. Pemilihan umum menurut pasal 1 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang penyelenggaraan
pemilihan umum, menegaskan :
“Pemilihan Umum, selanjutnya disingkat pemilu adalah pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang
Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Pemilihan Umum adalah
sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Negara Republik
21
Pengertian lain mengenai pemilihan umum merupakan mekanisme
memilih seorang penguasa, pejabat atau lainnya dengan jalan menuliskan
nama yang dipilih dalam secarik kertas atau dengan memberikan suaranya
dalam pemilihan. Jadi pemilihan umum hanyalah ajang dimana memilih
seseorang penguasa yang hendak menduduki kursi jabatan (Abu Nashr,
2004:29).
Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian lain dari pemilihan umum
adalah pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana
mewujudkan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara
yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
(Ibramsyah Amirudin, 2008:42).
Disimpulkan bahwa proses berlangsungnya pemilihan umum terjadi dari
ketika para peserta pemilihan umum menawarkan janji-janji dan
program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama di waktu
yang telah ditentukan menjelang hari pemungutan suara. Setelah
pemungutan suara dilakukan, maka proses penghitungan suara dimulai.
Pemenang pemilihan umum ditentukan oleh aturan main atau sistem
penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan Komisi Pemilihan
Umum (KPU) dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para
22
B. Partisipasi politik
1. Definisi Partisipasi Politik
Peran serta atau partisipasi politik masyarakat sipil merupakan pilar utama
dari dinamika perubahan dan kebebasan dalam iklim demokrasi.
Partisipasi publik merupakan ciri khas modernisasi politik. Kemajuan
demokrasi dapat diukur dari seberapa besar partisipasi politik masyarakat.
Leo Agustino (2007:59) mengemukakan, sesuai dengan istilah partisipasi,
maka partisipasi politik berarti keikutsertaan warga negara biasa (tidak
memiliki kewenangan) dalam mempengaruhi proses pembuatan dan
pelaksanaan keputusan politik berupa kebijakan publik.
Miriam Budhiardjo (2008:367) mendefenisikan bahwa partisipasi politik
adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut secara aktif
dalam kehidupan politik yaitu dengan cara jalan memilih pimpinan negara
secara langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi kebijakan
pemerintah. Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara
dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, menjadi anggota suatu
partai atau kelompok kepentingan, mengadakan hubungan dengan pejabat
pemerintah atau anggota parlemen.
Bentuk partisipasi bisa secara legal dan ilegai yang pengertiannya adalah
yang mana bisa dalam bentuk baik maupun dalam bentuk tidak baik yang
hilirnya adalah mencapai maksud dan tujuan yang akan dicapai oleh pihak
23
sukarela saja yaitu, kegiatan yang dilakukan tanpa paksaan atau tekanan
dari siapapun. (Gabriel Almond. 1984).
Menurut Mc Closky (dalam Budiharjo, 2008:367) “partisipasi politik
adalah kegiatan sukarela dari warga masyarakat, secara sukarela
mengambil bagian dari proses pemilihan pemimpin langsung atau tidak langsung dalam proses pengambilan kebijakan umum”.
“(The term political partisipation will refer those voluntary activities by wich members of asociety share in the selection of rules and directly, in the formation of public policy)”.
Samuel Hutington dan Joan Nelson (dalam Budiharjo, 2008:368) memberi
tafsiran yang lebih luas dengan memasukan secara eksplisit tindakan ilegal
dan kekerasan.
“(By political partisipationwe mean activity by private cityzens designed do influence governmentdecicion making. Participation may be individual or collective, organized or spontaneous, sustained or sporadic, peacefull or violent, legal or illegal, effective or ineffective)”.
Diartikan sebagai, “Partisipasi politik adalah tindakan warga yang
bertindak sebagi pribadi-pribadi, yang dimaksud untuk memengaruhi
pembuatan keputusan oleh pemerintah. Partisipasi bisa bersifat individual
atau kolektif, terorganisir atau spontan, mantap atau sporadis, secara damai
atau dengan kekerasan, legal atau ilegal, efektif atau tidak efektif”.
Pengertian secara umum tentang partisipasi politik adalah sebagai kegiatan
warga negara biasa dalam memengaruhi proses pembuatan dan
pelaksanaan kebijakan umum dan pemimpin pemerintahan. Dengan
24
adalah tindakan warga negara yang ditujukan untuk memengaruhi
kebijakan yang akan diambil oleh Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif.
Surbakti (2010:185) berpendapat bahwa, berkenaan dengan partisipasi
politik, keikutsertaan warga negara dalam proses pemilihan merupakan
serangkaian kegiatan pembuatan keputusan untuk menentukan pemimpin
dari pemerintahan negara tersebut, apakah akan memilih untuk atau tidak memilih, jika memilih akankah memilih kandidat “A” atau kandidat “B”.
Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa partisipasi
politik merupakan suatu rangkaian yang melibatkan peran serta dari
masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bertujuan
untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah yang menyangkut kepentingan
masyarakat.
2. Tipologi Partisipasi Politik
Arti partisipasi politik seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
partisispasi politik merupakan hal yang dapat di golongkan menjadi dua,
yakni partisipasi aktif dan partisipasi pasif. Berdasarkan golongan tersebut
yang termasuk kedalam partisipasi aktif diantaranya adalah mengajukan
usul mengenai suatu kebijakan publik, mengajukan alternatif kebijakan
publik yang berlainan dengan kebijakan yang dibuat pemerintah,
mengajukan kritik dan solusi untuk meluruskan kebijakan yang dibuat
25
Sedangkan, kegiatan warga negara yang menerima/menaati begitu saja
segala kebijakan pemerintah adalah partisipasi pasif. Jadi, partisipasi pasif
cenderung tidak mempersoalkan apapun kebijakan politik yang dibuat
pemerintah atau dengan kata lain apabila kesadaran politik sangat rendah
tetapi kepercayaan kepada pemerintah sangat tinggi, maka akan
melahirkan partisipasi yang pasif. (Gabriel Almond dan Verda, 1984).
Surbakti (2010:183) mengategorikan partisipasi politik berdasarkan jumlah
pelaku, yakni individual dan kolektif. Partisipasi individual berarti yang
dilakukan oleh seseorang atau per individu, sedang partisipasi kolektif
berarti secara serentak atau merupakan kelompok baik kecil maupun besar.
Partisipasi kolektif juga dibagi menjadi dua, partisipasi konvensional dan
partisipasi non konvensional, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel
berikut :
Tabel 4. Bentuk-bentuk Partisipasi Kolektif
Sumber : Gabriel Almond dalam Mas’oed dan Mac Andrews, (2000:47) Partisipasi Konvensional Partisipasi Non-Konvensional
Pemberian suara
Diskusi politik
Kampanye
Membentuk dan bergabung
dalam kelompok kepentingan
Komunikasi dengan pejabat
politik
Demonstrasi
Konfrontasi
Mogok
Tindakan kekerasan terhadap harta benda
Tindakan kekerasan terhadap manusia
Mengajukan petisi
Revolusi
26
Selain itu, Samuel P. Hutington dan Joan M. Nelson dalam Pahmi Sy
(2010:73) menyebutkan bahwa terdapat dua aspek partisipasi politik, yaitu
otonom dan yang dimobilisasi. Partisipasi otonom adalah partisipasi atas
kehendak dan kemauannya sendiri. Berdasarkan hal ini pelaku mengerti
apa yang dilakukan, untuk apa dan mengapa melakukan itu serta mengerti
dampak dari tindakannya. Sedangkan partisipasi politik yang dimobilisasi
adalah partisipasi politik yang dilakukan atas perintah, anjuran, saran,
petunjuk atas kehendak orang lain, dalam hal ini pelaku tidak mengetahui
mengapa, dan untuk apa melakukan semua itu.
Calon yang maju atau berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah
memerlukan dukungan politik yang diusung dari partai politik (koalisi
partai). Partai politik adalah organisasi yang mengajukan kandidat dalam
pemilihan kepala daearah dan wakil kepala daerah untuk mengisi jabatan
politik di pemerintahan dan kemudian dipilih oleh rakyat. Kandidat akan
berusaha sebanyak mungkin menggalang koalisi partai politik yang
mendapatkan kursi dan suara di DPRD hasil daripemilihan umum
legislatif, namun dukungan partai politik yang tidak memiliki kursi di
DPRD juga tetap digalang untuk menambah jumlah dukungan.
Perlu adanya dukungan politik, baik dari rakyat maupun dari
kekuatan-kekuatan politik yang dipandang sebagai representasi dari rakyat.
Merupakan modal sebagai partisipan untuk menjadi sentral bagi semua
orang yang bermaksud mengikuti kontestasi di dalam pemilihan kepala
27
tahap pemilihan. Jabatan politik, pengalaman mengorganisasi massa,
keturunan (bangsawan atau penguasa), kekuatan terhadap pengambilan
keputusan publik, reputasi dan legitimasi merupakan modal penting yang
harus dimiliki kandidat untuk memperoleh modal politik dengan maksimal
(kacung Marijan, 2010: 184-185).
Kandidat yang ingin memenangkan pemilihan kepala daerah harus
sebanyak mungkin memanfaatkan jaringan organisasi-organisasi politik
untuk memperoleh dukungan politik. Selain organisasi politik, kandidat
harus melakukan pendekatan dengan elit-elit politik, elit politik yang
menduduki jabatan politik dan jabatan strategis yang mempunyai peran
penting dan pengaruh terhadap kelompok dan masyarakat (Haryanto,
2005:72).
Pendekatan dengan elit politik juga perlu dilakukan sebagai modal politik
dalam konteks lokal. Elit politik lokal adalah mereka yang memiliki
jabatan politik tinggi di tingkat lokal yang membuat dan menjalankan
kebijakan politik. Elit politiknya seperti Gubernur, Bupati, Walikota,
Ketua DPRD, Anggota DPRD, maupun pemimpin-pemimpin partai yang
ada di tingkat daerah. Elit non politik lokal adalah seseorang yang
menduduki jabatan-jabatan strategis dan mempunyai pengaruh untuk
memerintah orang lain dalam lingkup masyarakat. Elit non politik ini
seperti elit keagamaan, elit organisasi masyarakat, kepemudaan, profesi
28
Kandidat memerlukan selain dukungan partai politik, juga dukungan
elit-elit politik lokal. Elit politik tersebut memiliki peran yang menonjol dalam
politik dan bidang lain serta memiliki pengaruh yang besar dengan
keunggulan-keunggulan yang dimiliki calon kepala daerah, dan kandidat
juga harus memiliki kapasitas pribadi yang berkualitas, seperti kedudukan
di partai politik dengan melihat posisi strategis dalam struktur jabatan di
partai politik dan pemerintahan.
Sehingga dari penjelasan di atas, dalam partisipasi poltik kandidat perlu
memiliki modal yang didapat dari partai politik dan koalisi partai. Semua
partai dibutuhkan untuk menarik dukungan, baik itu partai yang memiliki
kursi di DPRD ataaupun tidak. Modal ini juga berupa dukungan elit-elit
politik lokal dari organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, jabatan
politik, pengalaman mengorganisasi massa, kekuatan terhadap
pengambilan keputusan publik, reputasi dan juga legitimasi berpengaruh
untuk pemenangan pemilihan kepala daerah.
Pengaruh besar dalam memperoleh basis dukungan untuk menentukan
menang atau kalahnya calon petahana dalam pemilihan kepala daerah ialah
berasal dari modal politik yang dimiliki kandidat serta dalam kaitannya
dengan pemilihan umum, baik itu pemilihan kepala negara ataupun
pemilihan kepala daerah, masyarakat dalam setiap lapisannya memberikan
peran yang sangat penting dalam menentukan arah politik suatu bangsa
29
Oleh sebab itu, selai partisipasi dari masyarakat, dalam menganalisis
faktor kekalahan petahana di daerah pilihan Kabupaten Way Kanan pada
pemilihan kepala daerah tahun 2015 lalu, salah satu fokusnya ialah
mengkaji modal politik yang dimiliki calon petahana.
C. Masyarakat
1. Definisi Masyarakat
Menurut WJS. Poerwodarminto dalam Hartomo dan Arnicun Aziz (2004:
88) masyarakat adalah pergaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang
hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan antara aturan
yang tertentu. Sedangkan menurut Linton yang dikutip oleh Hartomo dan
Arnicun Aziz (2004: 88), mengemukakan bahwa masyarakat adalah setiap
kelompok manusia, yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama,
sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang
dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
Menurut Paul B. Horton & C. Hunt dalam Hartomo dan Arnicun aziz
(2004: 89) masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri,
hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu
wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian
besar kegiatan di dalam kelompok/kumpulan manusia tersebut.
Masyarakat dalam buku Ilmu Sosial Dasar (1998:63) karangan Munandar
Soelaeman berasal dari bahasa Arab, yaitu Syirk, yang artinya bergaul. Adanya saling bergaul ini tentu adanya bentuk-bentuk aturan hidup yang
30
oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan
kesatuan.
Berdasarkan kumpulan beberapa definisi masyarakat di atas, maka peneliti
menyimpulkan definisi masyarakat sebagai objek penelitian ini merupakan
kumpulan manusia yang hidup bersama dalam satu wilayah tertentu
dengan memiliki aturan-aturan tertentu yang dimana di dalam
organisasinya mereka memiliki visi, misi maupun tujuan bersama.
2. Unsur-Unsur Masyarakat
Menurut Soerjono Soekanto (sumber http: //wartawarga. gunadarma.ac.id
/2010/05/ diakses pada 22 Februari 2017) dalam masyarakat setidaknya
memuat unsur sebagai berikut :
a. Beranggotakan minimal dua orang
b. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan
c. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan
manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan
hubungan antar anggota masyarakat.
d. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta
keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
Unsur-unsur masyarakat menurut peneliti berupa, masyarakat yang
memiliki lebih dari satu anggota yang memiliki visi, misi mapun tujuan
bersama yang saling berkomunikasi satu sama lain sehingga menciptakan
31
3. Ciri-Ciri Masyarakat
Menurut Marion Levy dalam Soerjono Soekanto (sumber
http://wartawarga. gunadarma.ac.id /2010/05/ diakses pada 22 Februari
2017) diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpulan
manusia bisa dikatakan/disebut sebagai masyarakat.
1) Ada sistem tindakan utama
2) Saling setia pada sistem tindakan utama
3) Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota
4) Sebagian atau seluruh anggota baru didapat dari kelahiran atau
reproduksi manusia.
Menurut Koentjoroningrat (2009:118) masyarakat adalah kesatuan hidup
manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang
bersifat kontinu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Sedang
pakar sosiolog Selo Sumardjan berpendapat bahwa masyarakat adalah
orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. (sumber :
http://organisasi.org/pengertian-masyarakat/, diakses pada 1 Maret 2017)
D. Tinjauan Tentang Pemilihan Kepala Daerah
1. Definisi Pemilihan Kepala Daerah
Setelah UUD 1945 dan Ketetapan MPR RI NomoR IV / MPR / 2000
tentang rekomendasi kebijakan dalam penyelenggaraan otonomi daerah,
pemerintah bersama DPR membahas dan mengesahkan UU Nomor 32
Undang-32
Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Salah satu
tujuan dari pembentukan UU No 32 tahun 2004 dapat di baca pada bagian
konsideran menimbang (a), yang berbunyi sebagai berikut :
“Bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memerhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemilihan kepala daerah merupakan suatu proses pemilihan langsung oleh
rakyat, rakyat menyeleksi secara langsung calon yang dianggap terbaik
dari daerah mereka. Calon pemimpin yang mampu memimpin dan
membawa daerah mereka menjadi lebih baik dan lebih maju, serta
menjamin terciptanya kesejahteraan masyarakat. Pemilihan kepala daerah
merupakan sebuah tanggung jawab langsung oleh masyarakat demi
kemajuan daerah mereka.
Sebagai tindak lanjut dari pemberlakuan UU No 32 tahun 2004
diselenggarakan pemilukada langsung, yang pertama kali dilaksanakan
pada tanggal 1 Juni 2005 di Kutai Kertanegara (Suharizal, 2011:4). Rozali
Abdullah (2011:53) mengungkapkan beberapa alasan pilkada secara
langsung, selain sinkronisasi antara pemilihan presiden dan pemilihan
kepala daerah, alasan lain ialah untuk mengembalikan kedaulatan ke
33
dan wakil kepala daerah dengan DPRD, dan mencegah terjadinya politik
uang.
Suharizal (2011: 34) mengatakan, pilkada merupakan perjalanan politik
panjang yang diwarnai tarik-menarik antara kepentingan elit politik dan
kehendak publik, kepentingan pusat dan daerah, atau bahkan antara
kepentingan nasional dan internasional. Mengingat esensi pilkada adalah
pemilu, dimana secara prosedural dan subtansial adalah manifestasi dari
prinsip demokrasi dan penegakan kedaulatan, maka pilkada sebagaimana
pemilu lainnya layak mendapatkan pengatura khusus sehingga derajat
akuntabilitas dan kualitas demokrasinya dapat terpenuhi dengan baik.
Apalagi pilkada merupakan instrumen penting bagi demokratisasi di level
lokal atau daerah yang menjadi pilar bagi demokratisasi di tingkat
nasional.
Sarundajang dalam bukunya Pilkada Langsung (2011:117) mengatakan bahwa:
“Pilkada sebagaimana pemilu nasional merupakan sarana untuk memilih dan mengganti pemerintahan secara damai dan teratur. Melalui pilkada, rakyat akan secara langsung memilih pemimpinnya di daerah sekaligus memberikan legitimasi kepada siapa yang berhak dan mampu untuk memerintah. Pilkada dengan kata lain merupakan seperangkat aturan atau metode bagi warga negara untuk menentukan masa depan pemerintahan yang absah (legitimate)”.
Berdasarkan dari berbagai macam pengertian ahli di atas, dapat diartikan
bahwa yang dimaksud dengan pemilu adalah pengembalian kedaulatan
penuh kepada rakyat, penyetaraan pemilu pusat dengan daerah agar
34
yang akan memerintah selanjutnya akan dapat dukungan dari masyarakat
sehingga akan memudahkan perjalananya saat memerintah, karena
mendapat legitimasi dari suara rakyat tersebut.
Pilkada langsung seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32
tahun 2004 pasal 56 yang telah direvisi melalui UU No 12 Tahun 2008
dalam ayatnya yang berbunyi :
1) Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis, berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
2) Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh partai politik, gabungan partai politik, atau perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Mengenai tahapan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah menurut UU
No 32 Tahun 2004 pasal 65, yaitu masa persiapan, tahap pelaksanaan.
Masa persiapan meliputi:
a. Pemberitahuan DPRD kepada kepala daerah mengenai berakhirnya masa jabatan;
b. Pemberitahuan DPRD kepada KPUD mengenai berakhirnya masa jabatan kepala daerah;
c. Perencanaam penyelenggaraan, meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah;
d. Pembentukan Panitia Pengawas, PPK, PPS dan KPPS; e. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau
Tahap pelaksanaan meliputi:
a) Penetapan daftar pemilih;
b) Pendaftaran dan Penetapan calon kepala daerah/wakil kepala daerah; c) Kampanye;
d) Pemungutan suara; e) Penghitungan suara; dan
35
2. Kreativitas Tim Sukses
Kreativitas tim suskes dalam pemilihan umum maupun pemulihan kepala
daerah merupakan faktor yang sangat penting. Kreativitas tim sukses juga
menentukan menang dan kalahnya kandidat yang maju dalam pemilihan.
Kandidat hebat dengan tim sukses yang lemah, kegagalan yang didapat.
Kandidat lemah dengan tim sukses kuat, keberhasilan diraih. Dalam setiap
tindakan untuk merealisasikan renana menjadi hasil yang diharapkan,
pemimpin harus fokus untuk mempekerjakan orang-orang yang kreatif,
proaktif, strategis, disiplin dan optimis di dalam sebuah tim sukses.
Tim sukses harus menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, terdefinisi dan
konsisten dan setiap anggota tim sukses harus berkomitmen untuk
menunaikan tanggung jawab mereka secara total. Keberadaan tim sukses
disamping para kandidat yang maju dalam pemilihan kepala daerah,
membuat kegiatan kampanye lebih teratur, lebih tertib, terencana dan
efektif. Namun nampaknya, berbeda dengan tim sukses dari petahana
Bustami pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Way Kanan tahun 2015.
Beberapa tim sukses dari petahana Bustami pada pemilihan kepala daerah
di Kabupaten Way Kanan tahun 2015 lalu, dilaporkan ke Panwaslu Way
Kanan terkait dugaan melakukan Politik Uang. Salah satunya adalah Edi
Sucipto yang tercatat sebagai Koordinator Kecamatan Tim Sukses dari
nomor urut satu yaitu Bustami Zainudin yang pada Pilkada 2015 di
Kabupaten Way Kanan mencalonkan diri sebagai Cabup dengan
36
Berdasarkan lampiran pada situs online Nyokabar.com , Edi Sucipto pernah menandatangani Surat Hasil Rekapitulasi Pemuktahiran Data
Coklit Pemilihan Bupati-Wakil Bupati Way Kanan 2015 dari PPK Bumi
Agung, Edi Sucipto tercatat sebagai Tim Sukses Paslon Bupati nomor urut
satu (Bustami-Adinata).
“Dia yang menandatangani berita acara PPK tersebut sebagai saksi tim paslon nomor 1”, ungkap Deny Ribowo sebagai juru bicara Paslon nomor urut 2 (Adipati-Edward). Selain Edy Sucipto, laporan juga ditujukan kepada Saefudin atau biasa disebut Ustadz Saefudin, didapati mendistribusikan uang dalam amplop, satu juta kemasing-masing saksi di TPS di Kecamatan Bumi Agung. “Mereka meminta mencarikan 50 orang untuk diberikan kupon paslon nomor urut 1, kemudian diberikan uang Rp. 20 ribu per orang. Setelah pencoblosan warga yang mendapatkan kupon diundang acara ke rumah Edy Sucipto, kupon tersebut akan ditukar uang Rp. 100 ribu,” beber Deny Ribowo. (www.nyokabar.com, diakses pada Mei 2017).
Berdasarkan permasalahan di atas, dapat diketahui bahwa pada masa
kampanye keberadaan tim sukses saja tidaklah cukup, tetapi juga harus
beriringan dengan tujuan yang terukur. Kandidan dan parpol usungan
harus cerdas dalam memilih karakter dari pribadi-pribadi yang akan berada
dalam tim sukses. Tim sukses haruslah ditempatkan sesuai bakat dan
potensinya, dimana tim sukses harus dapat menyusun strategi pemenangan
dan pemantauan sekaligus memastikan bahwa strategi tersebut berjalan
sesuai track. Sedangkan, tim yang kurang jujur tapi memiliki keahlian
mempengaruhi massa jangan dipercaya, karena aturan dan kebijakan
haruslah ditetapkan sebagai fondasi dasar untuk membangun etos kerja tim