GURU SD NEGERI
(Tesis)
Oleh
R U S N E L I
MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
GURU SD NEGERI
Oleh R U S N E L I
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN
Pada
Program Studi S2 Magister Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmy Pendidikan
MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, DISIPLIN
KERJA DAN KONSEP DIRI TERHADAP KOMPETENSI
PROFESIONAL GURU SD NEGERI
Oleh R u s n e l i
Tujuan penelitian ini adalah untuk Menganalisis dan mengatahui pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah, disiplin kerja dan konsep diri terhadap kompetensi Profesional Guru SD Negeri Di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan. Baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian termasuk dalam penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini berjumlah 103 guru yang terbagi ke dalam 10 Sekolah Dasar. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini seluruh guru SD Negeri yang berada di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan yang berjumlah 82 guru. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner. Analisis yang digunakan adalah statistic deskriptif dan inferensial dengan menggunakan model regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kompetensi profesional guru , terdapat pengaruh disiplin kerja terhadap kompetensi profesional terdapat pengaruh konsep diri terhadap kompetensi profesional dan terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja, dan konsep diri terhadap kompetensi profesional guru Sekolah Dasar Negeri.
ABSTRACT
THE INFLUENCE HEADMWASTER’S LEADERSHIP, WORK DISCIPLINE AND SELF CONCEPT TO THE COMPETENCE PROFESSIONAL TEACHER
ON PUBLIC BASIC
By R u s n e l i
the purpose of this research is to know and analyze the influence of headmaster's leadership, work discipline and self-concept to the competence of teacher professional elementary school in district Baradatu Way Kanan regency. either partially or simultaneously. Research is included in quantitative descriptive research. the population in this study amounted to 103 teachers who were divided into 10 elementary schools. the sample used in this study all teachers of state elementary school located in district baradatu kabupaten way kanan which amounted to 82 teachers. the data were collected by questionnaire. the analysis used is descriptive and inferential statistic by using multiple linear regression model.
The result of the research shows that there is influence of headmaster's leadership toward teacher professional competence, there is influence of work discipline to professional competence there is influence of self concept to professional competence and there is influence of headmaster leadership, work discipline, and self concept to professional competence of elementary school teacher.
Keywords : headmaster ‘s leadership, work discipline, self concept, professional competence of teachers
Penulis dilahirkan di Sumber Jaya, pada tanggal 07 Juli 1982,
Penulis merupakan anak pertama dari lima saudara pasangan Bapak Habidillah
dan Asmawarni.
Penulis menyelesaikan pendidikan TK Darma Wanita Sungkai Utara dan tamat
tahun 1993. Pendidikan dasar di SDN 1 Sungkai Utara dan lulus tahun 1994.
Pendidikan Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Sungkai Utara lulus pada tahun
1997. Pendidikan Menengah Kejuruan SATU NUSA 1 Bandar Lampung pada
tahun 2000, dan pendidikan strata 1 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP
PGRI Bandar Lampung lulus tahun 2006. Penulis melanjutkan jenjang Pendidikan
S2 Prodi Magister Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan ) tetaplah bekerja keras dan hanya kepada
sebagai tanda bakti dan dan cintaku kepada:
1 Almamater Universitas Lampung.
2 Bapak dan Ibu tercinta, Habidillah dan Asmawarni yang telah membesarkan
dan mendidikku dengan segenap kasih sayangnya dan tak pernah bosan
memberiku semangat, bimbingan, nasehat serta doa yang senantiasa
mengiringi langkahku untuk kebahagiaan dan keberhasilanku.
3 Suami tercinta, Noviadi,S.Pd. yang telah sangat setia mendampingi saya
sampai saat ini, serta selalu memberikan dukungan moril dan materil yang tak
ternilai harganya. Semoga Allah yang bisa membalas dengan pahala yang
berlipat ganda. Amin.
4 Anak-anakku Viliant Mohardest, Raoul Due Naufal, Zafaro Lanovertree,
serta Keponakannku Faiz Saka Pratama yang selalu tersenyum indah
untukku.
5 Adik – adikku tercinta Saprizal, Eka Candrawati, Hardianto,Syihabudin,
Arinta Windarini, Deni Kurniawan, yang selalu mendukung dan
mendampingiku.
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT atas berkat, rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penyusunan tesis ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, serta sahabat-sahabat yang telah memperjuangkan agamanya.
Tesis yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Disiplin kerja dan Konsep diri terhadap Kompetensi Profesional guru Sekolah Dasar negeri adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar magister pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unviersitas Lampung.
Selama penulisan ini tentunya penulis menghadapi kesulitan dan hambatan, dalam penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannnya penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.Pd., selaku Rektor Universitas Lampung yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Pascasarjana Universitas Lampung.
2. Prof. Drs.Mustofa. M.A Ph.D selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Lampung yang telah memberikan arahan dan bantuan kepada penulis dalam memnyelasaikan penelitian ini
3. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung beserta staff dan jajarannya yang telah memfasilitasi dan memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan penenelitian ini.
4. Dr. Riswanti Rini, M.Si, selaku ketua jurusan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan arahan dan bantuan kepada penulis dalam menyelasikan penelitian ini
7. Dr. Dedy Hermanto Karwan, M.M, selaku Pembimbing II yang telah meluangkan banyak waktu, mencurahkan pikiran, mengarahkan serta memberikan petunjuk dan motivasi dalam penyusunan tesis ini dengan penuh keikhlasan
8. Dr. Riswanti Rini, M.Si, Ph.D selaku penguji I yang telah memberikan masukan dan saran kepada penulis serta kemudahan dalam menyelesaikan tesis ini.
9. Bapak, Ibu dosen serta staf karyawan program studi magister manajemen pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
10.Ayah, Ibu serta suamiku yang selalu berdoa, memdukung dan membantu mewujudkan cita - cita
11.Adik – adikku dan anak – anakku yang telah memberikan semangat dalam hidupku. 12.Pimpinan dan teman – teman pada dinas pendidikan Way kanan yang telah memberikan
waktu dan semangat untuk menyelesaikan tesisi ini.
13.Seluruh Dosen dan Karyawan jurusan Magister Manajemen yang tidak dapat di sebutkan satu per satu.
14.Sahabat-sahabat baikku tersayang seluruh teman Manajemen Pendidikan angkatan 2015 MP08 yang selama ini memberiku semangat dan selalu menemani saat suka maupun duka. Semoga kebersamaan kita selalu terjaga dan semoga menjadi kenangan terindah dan takkan pernah terlupakan untuk selamanya
Penulis harap setiap kata terangkai dalam tesis ini dapat menjadi sahabat yang mencerahkan. Semoga dengan bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat balasan pahala disisi Allah SWT dan semoga tesis ini bermanfaat.
Bandar Lampung, Juli 2018 Penulis,
ABSTRAK ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
LEMBAR PERNYATAAN ... v
RIWAYAT HIDUP... vi
MOTTO ... vii
SANWACANA ... viii
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 16
1.3 Pembatasan Masalah... 17
1.4 Rumusan Masalah... 17
1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 18
1.5.1 Tujuan Penelitian... 18
1.5.2 Kegunaan Penelitian... 29
1.6 Rung Lingkup Penelitian ... 20
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kompetensi Profesional... 22
2.1.1 Pengertian kompetensi ... 22
2.1.2 Kompetensi Guru ... 23
2.1.3 Kompetensi Profesional ... 25
2.2 Kepemimpinan Kepala Sekolah ... 27
2.2.1 Pengertian Kepemimpinan ... 27
2.2.2 Pengertian Kepala Sekolah... 31
2.2.3 Kepemimpinan Kepala Sekolah ... 34
2.3 Disiplin Kerja Guru ... 40
2.3.1 Pengertian Kedisiplinan ... 40
2.3.1.1 Tujuan kedisiplinan ... 41
2.3.1.2 Fungsi Kedisiplinan... 42
2.3.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan ... 42
2.3.1.4 Aspek- aspek Kedisiplinan ... 43
2.3.2 Disiplin Kerja Guru ... 43
2.4 Konsep Diri... 47
2.4.1 Pengertian Konsep Diri ... 47
2.6.2. Pengaruh Disiplin Kerja Terhadap Kompetensi Profesional 55
2.6.3. Pengaruh Konsep diri terhadap Kompetensi Profesional ... 55
2.6.4. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Disiplin Kerja dan Konsep diri terhadap Kompetensi Profesional Guru . 56 2.7 Hipotesis ... 58
III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian... 60
3.2 Jenis dan Sumber Data ... 60
3.3 Variabel Penelitian ... 61
3.4 Definisi Konseptual Variabel Penelitian ... 61
3.4.1 Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1)... 61
3.4.2 Disiplin Kerja (X2) ... 62
3.4.3 Konsep Diri (X3) ... 62
3.4.4 Kompetensi Profesional Guru (Y) ... 62
3.5 Definisi Operasional ... 62
3.5.1 Kepemimpinan Kepala Sekolah ... 62
3.5.2 Disiplin Kerja Guru ... 63
3.5.3 Konsep Diri... 64
3.5.4 Kompetensi Profesional... 64
3.6 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ... 67
3.6.1 Populasi ... 67
3.6.2 Sampel ... 68
3.6.3 Teknik Sampling... 69
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 70
3.7.1 Kuesioner... 70
3.7.2 Observasi ... 71
3.8 Teknik Pengujian Instrumen ... 71
3.9 Teknik Analisis Data ... 78
3.9.1 Prasyarat Uji Statistik Parametrik... 78
3.9.2 Uji Hipotesis ... 80
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. 1 Data Hasil Penelitian ... 84
4.1.1 Gambaran Umum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Way Kanan ... 84
4.1.2 Deskripsi Data ... 87
4.1.3 Uji Prasyarat Statistik Parametrik ... 94
4.1.3.1 Uji Normalitas ... 95
4.1.3.2 Uji Homogenitas ... 96
4.1.4 Analisa Data ... 98
1. Hasil Regresi Linear Bergand ... 98
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ... 114
5.2 Implikasi ... 113
5.2.1 Implikasi Penelitian ... 114
5.2.2 Implikasi Teoritis ... 115
5.3 Saran ... 115
5.4 Keterbatasan Penelitian ... 116
1.1 Hasil Uji Kompetensi Guru SD Negeri Kecamatan
Baradatu Tahun 2016 ... 8
1.2 Kehadiran Guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Bulan Januari ... 11
3.1 Daftar Pembobotan Penilaian Kepemimpinan Kepala Sekolah 63 3.2 Daftar Pembobotan Penilaian Disilplin Kerja Guru ... 64
3.3 Daftar Pembobotan Penilaian Konsep Diri ... 64
3.4 Daftar Pembobotan Penilaian Komptensi Profesional... 65
3.5. Operasional Variabel dan Indikator Penelitian ... 65
3.6 Jumlah Guru di SD Negeri di Kecamatan Baradatu Berdasarkan Daerah Binaan II (dua) di Kecamatan Baradatu ... 68
3.7 Sebaran Sampel... 70
3.8. Hasil Uji Validitas Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah . 72 3.9 Hasil Uji Validitas Variabel Disiplin Kerja ... 74
3.10 Hasil Uji Validitas Variabel Konsep Diri ... 75
3.11 Hasil Uji Validitas Variabel Kompetensi Professional Guru.. 76
3.12 Hasil Uji Reliabilitas ... 78
4.1 Skor Variabel-Variabel Penelitian ... 87
4.2 Disrtribusi Frekuensi Jawaban Responden Profesional Guru.. 88
4.3 Disrtribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah ... 90
4.4 Distribusi Frekuensi jawaban variable disiplin kerja ... 92
4.5 Distribusi Frekuensi jawaban variable konsep diri ………… 93
[image:16.595.84.479.95.759.2]dengan Disiplin Kerja ... 97
4.9 Homogeniitas Antara Kompetensi Profesional
dengan Konsep Diri ... 97
4.10 Hasil Uji Regresi ... 98
4.11 Uji t Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap
Kompetensi Profesional ... 99
4.12 Determininasi Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah
terhadap Kompetensi Profesional ... 100
4.13 Uji t Pengaruh Disiplin Kerja terhadap Profesional ... 101
4.15 Determininasi Pengaruh Disiplin Kerja terhadap
Kompetensi Profesional Guru ... 102
4.16 Uji t Pengaruh Konsep Diri terhadap Kompetensi Profesional 102
4.17 Determininasi Pengaruh Konsep Diri terhadap Kompetensi
Profesional Guru ... 103
4.18 Uji F Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekoah, Disiplin Kerja dan Konsep Diri secara bersama-sama terhadap Kompetensi
Profesional Guru ... 103
Gambar Halaman
Gambar 2.1 Diagram Kerangka Konseptual ... 57
Gambar 4.1 Histrogram Variabel Kompetensi Profesional Guru ... 89
Gambar 4.2 Histrogram Histrogram Variabel Kepemimpinan
Kepala Sekolah ... 91
Gambar 4.3 Histrogram Variabel Disiplin Kerja ... 92
Pendidikan memegang peranan penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan sumberdaya manusia, oleh karena itu, setiap individu
yang terlibat dalam pendidikan dituntut peran sertanya secara maksimal dan rasa
tanggung jawab dalam meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu permasalahan
pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia secara menyeluruh pada saat ini
adalah rendahnya mutu pendidikan. Menurut Mastuhu (2003:109) Mutu
pendidikan menjadi hal penting dalam rangka meningkatkan persaingan global,
maka pengelolaan komponen pendidikan harus perlu mendapatkan perhatian yang
serius. Manusia sebagai salah satu komponen instrumental input yang merupakan
faktor penting sebagai penentu pencapaian suatu tujuan.
Sekolah sebagai tempat menimba ilmu merupakan sebuah sistem yang memiliki
komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya, semua
komponen yang berkaitan tersebut harus memberikan manfaat dan pengaruh
demi tercapainya tujuan suatu organisasi. Komponen-komponen yang harus
berkaitan tersebut diantaranya ialah komite sekolah, kepala sekolah, tenaga
pendidik atau guru, kurikulum, lingkungan sekolah, fasilitas, sarana dan prasarana
yang memadai, tenaga pendidikan lainnya yang sangat mendukung terhadap
tujuan sekolah serta hasil yang diperoleh (output). Jika komponen-komponen
tersebut sejalan dan selaras dengan apa yang di cita-cita kan organisasi atau
sekolah, maka niscaya organisasi atau sekolah tersebut akan terjadi suatu
Kondisi organisasi atau sekolah, lingkungan dan suasana yang efektif dan
efisien serta komponen-komponen yang mendukung dalam tujuan organisasi
atau sekolah akan berdampak kepada siswanya, salah satu dampak yang terjadi
yaitu menghasilkan prestasi lulusan dengan capaian nilai UN yang tinggi. Hal
ini terjadi karena siswa merasa nyaman dalam suasana pembelajaran yang
didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai dan dorongan semangat
dari orang–orang yang berada di lingkungan sekolah. Kemudian siswa akan
bersemangat serta antusias dalam menerima rangsangan ilmu pengetahuan
yang diberikan oleh para pendidik atau guru agar kemampuan peserta
didiknya berkembang dengan baik.
Prestasi lulusan siswa dapat dipengaruhi oleh cara belajar siswa dan selain itu
prestasi lulusan siswa juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
faktor internal dan eksternal serta pendekatan belajar kepada peserta didik.
Prestasi lulusan dinilai dari hasil usaha kegiatan belajar siswa oleh tenaga
pendidik atau guru selama pembelajaran, kemudian hasil kegiatan siswa disalin
ke buku laporan dalam bentuk nilai, keterangan dan sebagainya atas pencapaian
peserta didik yang telah dicapai selama pembelajaran. Dengan begitu, maka
tenaga pendidik atau guru akan mudah untuk mengontrol dan mengawasi
bagaimana tingkat keberhasilan prestasi lulusan peserta didiknya dalam mengikuti
proses pembelajaran yang mereka ikuti. Jika terdapat peserta didik yang prestasi
lulusan dengan nilai kurang memenuhi kriteria yang diharapkan, maka tenaga
pendidik atau guru harus mampu menganalisa penyebabnya dan harus bisa
prestasi lulusan nilainya menjadi tinggi dan memenuhi kriteria yang sudah
ditetapkan.
Suatu prestasi lulusan peserta didik dengan nilai yang tinggi, tidak akan terwujud
tanpa ada guru profesional yang membimbing di sekolah. Guru merupakan sosok
atau figur yang sangat penting dalam hal memberikan ilmu bagi peserta
didiknya. Dengan sosok atau figur guru yang teladan, maka kemampuan peserta
didik niscaya akan bertambah dan dapat mengembangkan wawasan
keilmuannya dengan baik. Guru merupakan bagian dari sumber daya manusia
yang berada di sekolah. Salah satu sumber daya manusianya ialah dengan
melakukan kinerja guru dengan baik dan benar. Kinerja guru di sekolah
mempunyai peranan yang sangat penting dalam tujuan suatu sekolah
diantaranya adalah menjadikan siswanya memiliki prestasi lulusan dengan nilai
yang tinggi.
Kinerja guru akan berdampak langsung oleh siswa dan orang tua serta pihak
terkait. Oleh karena itu, maka kinerja guru harus menjadi perhatian berbagai
pihak demi keberlangsungan peserta didik yang mengarahkan agar peserta didik
di sekolah lebih berkembang dan berprestasi dalam proses kegiatan belajar
mengajar dan lainnya di sekolah. Kinerja guru akan optimal dijalankan oleh
guru jika semua komponen pihak sekolah dari kepala sekolah, guru, siswa dan
orang tua serta pihak terkait saling bersinergi satu sama lainnya. Kemudian
selain dukungan berbagai komponen-komponen terhadap kinerja guru, kinerja
guru akan semakin baik bilamana disertai dengan hati yang tulus, jiwa yang
senantiasa berusaha untuk meningkatkan atas kekurangan terhadap diri sendiri
untuk berusaha meningkatkan ke arah yang lebih baik. Kinerja guru akan
semakin efisien dan optimal bila ditunjang dan didukung dengan kompetensi
guru yang baik.
Kompetensi merupakan suatu kemampuan guru dalam melaksanakan profesi
dibidang ahlinya yaitu keguruannya. Dalam melaksanakan tugas di profesi
keguruannya, guru harus memahami bagaimana standar kompetensi dan
kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran tersebut agar kompetensi berjalan
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh semua pihak yang terkait didalamnya.
Kompetensi guru sebagai pemacu dalam pembelajaran pada jenjang pendidikan
dasar hingga menengah meliputi beberapa kompetensi diantaranya adalah
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan
kompetensi sosial, dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru
harus mampu mengahasilkan potensi-potensi bakat siswa yang luar biasa dalam
proses kegiatan belajar mengajar untuk mendapatkan prestasi lulusan siswa
dengan nilai yang tinggi dan lebih baik lagi. Kompetensi guru di sekolah akan
berjalan dengan baik bila di dukung oleh seorang kepala sekolah yang sangat
peduli terhadap orang-orang yang terkait dalam organisasinya.
Kepala sekolah merupakan salah satu sumber daya manusia yang berperan
sangat penting dalam mengatur dan mengendalikan seluruh sumber daya yang
terkait di bidang satuan pendidikan khususnya di sekolah. Kepala sekolah
merupakan sosok penting dalam sekolah karena kepala sekolah bertanggung
Kepemimpinan kepala sekolah dalam satuan pendidikan di sekolah merupakan
motor penggerak bagi semua sumber daya sekolah yang diharapkan mampu
untuk menggerakkan guru agar lebih efektif, membangun dan membina
hubungan baik antar lingkungan sekolah supaya tercipta suasana yang kondusif,
menggairahkan, produktif dan bersama-sama agar mampu melaksanakan
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap berbagai jenis kebijakan dan
perubahan yang telah dilakukan secara efektif dan efisien supaya semua diarahkan
untuk menghasilkan produk atau lulusan yang berkualitas serta memiliki
kompetensi yang unggul.
Program Peningkatan kualitas guru dari pengembangan profesional
Program telah mendapatkan minat yang cukup besar antara peneliti dari berbagai
belahan dunia, termasuk Indonesia, berbagai program sertifikasi guru dan bentuk
pelatihan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah daerah atau lembaga pelatihan
yang ditunjuk, telah dilaksanakan selama lebih dari satu dekade, namun belum
dianggap efektif dalam meningkatkan kompetensi guru(Postholm dalam Bujang,
2015).
Menurut laporan pembangunan manusia (Human Development Report - HDR)
United Nations Development Programme (2011: 127-129), Indeks Pengembangan
Manusia (Human Development Index–HDI) Indonesia berada pada peringkat
ke-124 dari 184 negara di dunia dengan indeks sebesar 0,617, jauh di bawah Brunei
Darussalam pada peringkat 33 dengan indeks 0,839, Malaysia pada peringkat 61
dengan indeks 0,761, Thailand pada peringkat 103 dengan indeks 0,682, dan
menunjukkan lemahnya pengembangan SDM ini adalah peningkatan jumlah
angka pengangguran kerja yang terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini kurang
menguntungkan bagi bangsa Indonesia untuk melakukan persaingan di tingkat
global.
Penyelenggaraan uji kompetensi awal dan uji kompetensi Guru pada tahun 2017
menunjukkan hasil bahwa kompetensi guru di Indonesia masih di bawah rata
-rata. Di lihat dari jenjang sekolah, guru SD menempati posisi terendah dengan
persentase 10 % yang mendapat nilai 50. Hal ini berarti pendidikan belum
menjadi pemicu utama dalam pengembangan SDM, tapi justru menjadi
kontributor utama dalam peningkatan jumlah pengangguran.
Faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, diantaranya faktor kurikulum,
kebijakan pendidikan, fasilitas pendidikan, aplikasi teknologi informasi dan
komunikasi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan proses belajar
mengajar, aplikasi metode, strategi dan pendekatan pendidikan yang mutakhir dan
modern, metode evaluasi pendidikan yang tepat, biaya pendidikan yang memadai,
manajemen pendidikan yang dilaksanakan secara profesional, sumberdaya
manusia para pelaku pendidikan yang terlatih, berpengetahuan, berpengalaman
dan profesional (Hadis dan Nurhayati, 2010:3). dapat dijaga dengan baik.
Tentunya hal ini juga berkaitan dengan penghargaan profesionalitas yang didapat
dalam setiap jenjang tersebut.
Guru juga harus bertanggung jawab dalam membangun atmosfer
akademik di dalam kelas.Atmosfer ini sebenarnya bertujuan untuk membentuk kar
sikap ilmiah dan kreatif.Guru perlu menekankan nilainilai intiyang berhubungan
dengan pengembangan sikap ilmiah dan kreatif dalam setiap tugas yang diberikan
kepada siswanya, dalam membimbing siswa memecahkan suatu persoalan atau
juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Untuk dapat mengajar
secara efektif, maka guru-guru akan ditrainingsecara kontinyu dan terutama akan
dibekali pengetahuan tentang cara mengajar yang baik dan bagaimana cara
menilai yang efektif. Sehinggadiharapkan guru tersebut dapat mengembangkan ca
ra mengajarnya sendiri,dapat meningkatkanpengetahuan mereka sendiri dan juga
dapat berkolaborasi dengan guru yang lain.
Seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu.
Kemampuan dan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi
profesionalisme guru yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai
pendidik dapat terlaksana dengan baik. Guru adalah seorang pemimpin yang
harus mengatur, mengawasi dan mengelola seluruh kegiatan proses pembelajaran
di sekolah yang menjadi lingkup tanggung jawabnya.
Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya
membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka
pembangunan pendidikan di Indonesia. Tampaknya kehadiran guru hingga saat ini
bahkan sampai akhir hayat nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh yang
lain, terlebih pada masyarakat Indonesia yang multikultural dan multibudaya,
kehadiran teknologi tidak dapat menggantikan tugas-tugas guru yang cukup
yang maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan
secara berkesinambungan mereka dapat meningkatkan kompetensinya,
Menurut Satori,dkk (2007)” kompetensi berarti kecakapan, kemampuan, dan
wewenang.” Jadi seorang guru dapat di nyatakan kompeten jika menguasai
kecakapan kerja pada satu bidang tertentu. Mengacu pada Peraturan Pemerintah
Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional pendidikan dinyatakan bahwa “
pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen
pembelajaran, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Menurut Zakirova (2016) mengemukakan struktur kompetensi guru sebagai
seperangkat komponen yang saling terkait yang merupakan karakteristik umum
untuk manifestasi aktivitas tertentu. Kualifikasi akademik adalah tingkat
pendidikan minimal yang harus di penuhi oleh seorang pendidik yang di buktikan
dengan ijazah yang relevan sesuai dengan ketentuan perundang–undangan yang
berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi profesional dan kompetensi sosial”. Jadi dapat di ketahui kompetensi
yang harus di kuasai seorang guru adalah kompetensi pedagogik, kepribadian,
profesional, dan kompetensi sosial.
Tabel. 1.1 Hasil Uji Kompetensi Guru SD Negeri Kecamatan Baradatu Tahun 2016
Kesimpulan Keterangan Pedagogik Profesional
< 50 Tidak Lulus 94 75
50 Lulus 115 134
Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Way Kanan, 2017
Berdasarkan Tabel 1.1 di atas, diperoleh informasi hasil uji kompetensi guru SD
Negeri di Kecamatan Baradatu sebanyak 94 guru (45%) tidak lulus dalam uji
kompetensi pedagogik dan sebanyak 75 guru (36%) tidak lulus dalam uji
kompetensi profesional. Hal ini mengidikasikan kompetensi guru SD Negeri
yang berada di Kecamatan Baradatu mash tergolong rendah.
Berbagai upaya yang harus dipikirkan dan dijalankan guna peningkatan mutu
pendidikan adalah peningkatan proses belajar mengajar yang sangat tergantung
kepada profesionalisme guru sebagai sumber daya manusia. Guru dituntut untuk
memiliki berbagai ketrampilan dalam menghantarkan siswa untuk mencapai
tujuan yang direncanakan. Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh guru
yang professional adalah:
1. Penguasaan materi pelajaran.
Untuk memperoleh hasil yang baik maka guru bukan hanya perlu menguasai sekedar materi tertentu, tetapi perlu penguasaan yang lebih luas dari materi yang disajikan.
2. Kemampuan menerapkan prinsip-prinsip psikologi.
Para ahli pendidikan maupun ahli psikologi mengakui tentang adanya perbedaan yang dimiliki oleh setiap individu, meliputi perbedaan bakat, minat, sikap, harapan dan aspek-aspek kepribadian lainnya. Prinsip-prinsip psikologi yang bertalian dengan belajar dapat memberikan strategi belajar mengajar yang tepat bagi guru.
3. Kemampuan menyelenggarakan proses belajar mengajar.
Bekal teoritis dan praktis adalah merupakan disiplin ilmu yang dapat menunjang pemahaman tentang konsep belajar mengajar. Guru harus memahami berbagai model mengajar secara teoritis dan selanjutnya dapat memilih model-model yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
4. Kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi baru.
sikap positif yang berkaitan dengan keberadaan lingkungan profesinya. (Suprayoga, 2006 :111)
Disamping itu guru yang professional mempunyai beberapa karakeristik, yaitu:
a. Komitmen terhadap profesionalitas yang melekat pada dirinya seperti sikapdedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja.
b. Menguasai ilmu dan mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya atau sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.
c. Mendidik dan meyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.
d. Mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri, atau menjadi pusat anutan dan konsultan bagi peserta didiknya.
e. Memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan. Mampu bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkelanjutan. (Kunandar, 2009:109)
Kepala sekolah dalam perannya sebagai pemimpin di sekolah selalu berusaha
untuk menimbulkan kesadaran dalam diri seluruh personil sekolah, bahwa maju
mundurnya sebuah lembaga pendidikan tidak hanya didasarkan kepada peran
kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga, akan tetapi perubahan tersebut terjadi
apabila seluruh personil sekolah berperan secara aktif dalam pelaksanaan proses
pendidikan di dalam sekolah, sehingga tujuan didirikannya sekolah tersebut dapat
berkembang secara sempurna sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh lembaga
Berdasarkan Tabel 1.2 di atas diketahui bahwa jumlah guru Sekolah Dasar Negeri
sebanyak 209 guru terdiri atas 137 guru (65%) berstatus Guru PNS dan 72 Guru
[image:29.595.101.485.211.351.2](35%) berstatus Honorer.
Tabel 1.2 Kehadiran Guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Bulan Januari 2017–Juni 2017
Bulan Guru
Persentase Kehadiran (%)
Persentase Ketidakhadiran (%)
Januari 2017 93,5 6,5
Febrrari 2017 93.7 6,3
Maret 2017 94,5 5,5
April 2017 92,8 7,2
Mei 2017 90,3 9,7
Juni 2017 93,7 6,3
Rata-rata 93 7
Sumber: UPT. Dinas Pendidikan Kecamtan Baradatu, 2017
Berdasarkan Tabel 1.3 di atas, diperoleh informasi tingkat kehadiran guru
Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Baradatu rata-rata sebesar 93%, hal ini
mengindikasikan disiplin kerja guru belum optimal artinya profesionalitas guru
Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan belum sepenuhnya berjalan sesuai komitmen
guru. Ketidakhadiran guru mengidikasikan bahwa kepala sekolah belum optimal
memberikan pengawasan terhadap kehadiran guru dalam mengajar. Hal ini
terlihat dari masih seringnya guru yang datang terlambat kesekolah, sering
meninggalkan kelas ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, bahkan belum
memiliki rencana pembelajaran yang baik.
Salah satu faktor penentu profesional guru adalah kedisplinan guru dalam
melaksanakan tugas pengajaran. Konsep disiplin berkaitan dengan tata tertib,
Manfaat lain dari disiplin ini mencakup ketrampilan dan ketelitian persepsi,
memperkuat keterampilan berkomunikasi, memecahkan masalah di luar kelas,
berkonsentrasi pada solusi daripada menghukum, membantu guru oleh guru lain,
langkah-langkah pemecahan masalah dan sesi dorongan (Ghorbani,2013).
Menurut Sardiman (2001 : 123) disiplin artinya adalah ketaatan (kepatuhan)
kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Sedangkan
pengertian guru adalah suatu komponen manusia dalam proses belajar mengajar
yang ikut berperan aktif dalam usaha pembentukan sumber daya manusia”
Sedangkan Dimyati (2000: 25) mengatakan bahwa “Guru adalah semua orang
yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid baik secara
individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ini berarti
bahwa seorang guru minimal harus memiliki dasar-dasar kompetensi sehingga
memiliki wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugasnya terutama agar
dapat meningkatkan suasana belajar yang kondusif..
Kedisiplinan guru merupakan suatu ketaatan (kepatuhan) guru terhadap tata tertib
(aturan) yang berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga pendidik
dalam proses belajar mengajar di sekolah. Berkenaan dengan hal itu, maka teori
dasar yang dikembangkan sebagai dimensi dan indikator kedisiplinan guru dalam
proses belajar mengajar adalah mencakup tiga aspek, yaitu kehadiran, pelaksanaan
tugas (kegiatan) dan program tindak lanjut, dengan alasan untuk mengetahui
sejauhmana tingkat kedisiplinan guru dalam menjalankan tugasnya sebagai
Perilaku negatif dan penyimpangan di sekolah khususnya di Sekolah Dasar Negeri
(SDN) yang berada di Kecamatan Baradatu Way kanan yang dilakukan peserta
didik akan mengganggu efektivitas pembelajaran. Hal ini sangat erat kaitannya
engan disiplin sekolah. Oleh karena itu, dalam upaya untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran, antara lain dapat dilakukan dengan pembinaan disiplin sekolah.
Dalam hal ini guru bertanggung jawab mengarahkan pada yang baik, harus
menjadi contoh, sabar, dan penuh pengertian. Guru harus mampu menumbuhkan
disiplin dalam diri peserta didik, terutama disipllin diri (self discipline).
Di sekolah guru dapat menanamkan rasa kedisiplinan baik dalam dirinya sendiri
ataupun kepada siswanya dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
dengan baik. Tanpa adanya sikap disiplin yang yang dimiliki oleh seorang guru
dalam menjalankan tugasnya, maka tidak heran bila hasil akhir pembelajaran tidak
sesuai dengan yang dicita-citakan. Rendahnya disiplin kerja guru akan
mengakibatkan buruknya mutu pendidikan di sekolah. Kedisiplinan harus
ditanamkan kepada setiap individu, baik itu para guru atau pun siswanya. Sebagai
pendidik, segala sikap dan perilaku yang dilakukannya tentu akan dilihat dan
dicontohkan oleh siswanya. Jika seorang guru memiliki sikap kedisiplinan, maka
tidak dapat disalahkan bila siswanya juga mengikuti prilaku sang guru yang
disiplin tersebut.
Disiplin kerja yang baik mencerminkan besarnya tanggung jawab yang harus
dipikul oleh seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya, yang
mendorong semangat kerja dalam mewujudkan tujuan organisasi. Untuk itu
guru dan peserta didik sebagai wujud nyata dari pengawasan dalam menciptakan
tata tertib organisasi sekolah. Disiplin kerja yang baik juga mencerminkan
kepribadian seorang guru yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, selain
mempunyai intelektual yang tinggi dan wawasan yang luas dan berbagai
kompetensi yang dimilikinya.
Disiplin belajar siswa dapat dimulai dari kebiasaaan yang sering dilakukan
diantaranya siswa mampu mempergunakan waktu yang cukup baik, memiliki rasa
tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh guru, mempunyai rasa
memiliki dan tanggung jawab terhadap organisasi kelas dan menyusun jadwal
pelajaran. Dengan adanya rasa kesadaran diri untuk melaksanakan disiplin kerja
maupun disiplin belajar diharapkan semua kegiatan yang dilaksanakan sehari-hari
di sekolah dapat membuahkan hasil yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan
yang juga merupakan tujuan dari pendidikan nasional.
Peran guru di kelas sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih, kerapkali guru
menghadapi berbagai persoalan dalam mengatasi situasi belajar yang susah
diarahkan dan perilaku para siswa yang sulit dikendalikan. Kondisi ini bisa
diakibatkan dari kurangnya pengetahuan dan pengalaman guru dalam menyikapi
situasi belajar tersebut dan pemahaman psikologis siswa yang kurang. Dalam
menghadapi situasi belajar yang sulit dikendalikan, seorang guru harus memiliki
kesadaran emosional yang baik yang merupakan konsep diri positif seorang guru.
Konsep diri positif ini sangat penting, karena tidak akan mungkin guru dapat
mengendalikan emosional para siswa dan situasi belajar dengan baik apabila ia
Pengendalian emosi dapat dilakukan apabila seorang guru menerapkan konsep diri
yang positif pada dirinya. Konsep diri positif ini merupakan konsep diri yang
selalu berorientasi pada pemikiran positif, mencari peluang di setiap kesulitan,
dan emncari jawaban dari setiap persoalan. Pribadi seorang guru yang memiliki
konsep diri positif selalu tampil di hadapan para siswa dengan tenang, percaya
diri, tangguh, sabar, dan memiliki keyakinan penuh bahwa ia mampu
mengendalikan situasi belajar dengan kondusif tanpa melenceng dari perannya
sebagai pendidik. Adapaun pribadi seorang guru yang memiliki konsep diri
positif untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, diantaranya: luwes
dalam pembelajaran, empati dan peka terhadap segala kebutuhna siswa, mampu
mengajar sesuai dengan selera siswa, Mau dan mampu memberikan peneguhan
(reinforcement), mau dan mampu memberikan kemudahan, kehangatan, dan tidak
akkau dalam proses pembelajaran, dan mau menyesuaikan emosi, percaya diri,
dan riang dalam proses pembelajaran. Dengan memiliki konsep diri positif, guru
akan mudah meguasai situasi belajar para siswa dan mengarahkan mereka untuk
mengikuti pembelajaran secara tertib dengan penyampaian mendidik dan
pengendalian emosi yang baik.
Tingkah laku atau moral guru pada umumnya, merupakan penampilan lain dari
kepribadiannya. Bagi anak didik yang masih kecil, guru adalah contoh teladan
yang sangat penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang yang pertama
sesudah orang tua, yang mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik.
Kalaulah tingkah laku atau akhlak guru tidak baik, pada umumnya akhlak anak
didik akan rusak olehnya, karena anak mudah terpengaruh oleh orang yanag
terganggu jiwa karena ia menemukan contoh yang berbeda atau berlawanan
dengan contoh yang selama ini didapatnya dirumah dari orang tuanya.
Sikap guru dalam menghadapi segala persoalan, baik menghadapi anak didik,
teman-temannya sesama guru, kepala sekolah dan sekolah itu sendiri akan dilihat,
diamati dan dinilai pula oleh anak didik. Sikap pilih kasih dalam memperlakukan
anak didik, adalah yang paling cepat dirasakan oleh anak didik, karena semua
anak mengharapkan perhatian dan kasih sayang gurunya. Kelakuan anak didik
tidak boleh dijadikan alasan untuk membesakan perhatian, karena anak yang nakal
misalnya, seringkali dimarahi dan dibenci oleh guru, karena ia sering mengganggu
suasana sekolah. Akan tetapi guru yang bijaksana tidak akan benci kepada anak
yang nakal, dia akan lebih memperhatikannya dan berusaha mengetahui latar
belakang anak tersebut. Selanjutnya berusaha memperbaikinya secara individual.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dijelaskan diatas, maka penulis akan
mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.2.1 Rendahnya kompetensi profesional guru
1.2.2 Kurangnya disipin kerja guru
1.2.3 Tingkat kehadiran guru yang masih rendah
1.2.4 Kompetensi profesional guru masih perlu ditingkatkan
1.2.5 Kepala Sekolah sebagai pemimpin kurang memberikan sikap tauladan
1.2.6 Guru kurang memberikan sikap tauladan kepada siswa hal ini dibuktikan
dengan sikap disiplin guru berupa kehadiran guru dalam pembelajaran yang
kurang optimal
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan latar belakang masalah yang telah
disajikan diatas, maka pembatasan masalah dalam penelitian ini aadalah:
1.3.1 Kepemimpinan Kepala Sekolah SD Negeri di Kecamatan Baradatu
Kabupaten Way Kanan.
1.3.2 Disiplin kerja guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way
Kanan
1.3.3 Konsep diri guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way
Kanan
1.3.4 Kompetensi profesional guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu
Kabupaten Way Kanan.
1.4 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, serta pembatasan
masalah yang diuraikan diatas, maka penulis merumuskan masalah:
1.4.1 Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Kepemimpinan
kepala Sekolah secara langsung terhadap kompetensi profesional guru
1.4.2 Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan Disiplin Kerja guru
secara langsung terhadap kompetensi Profesional guru SD Negeri di
Kecamatan Baradatu Kabupaten Way Kanan ?
1.4.3 Apakah terdapat pengaruh Konsep diri positif dan signifikan terhadap
terhadap kompetensi Profesionalguru SD Negeri di Kecamatan
Baradatu Kabupaten Way Kanan ?
1.4.4 Apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan yang simultan antara
Kepemimpinan Kepala Sekolah, disiplin kerja, dan konsep diri,
terhadap kompetensi Profesional guru SD Negeri di Kecamatan
Baradatu Kabupaten Way Kanan?
1.5 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.5.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisis :
1.5.1.1Pengaruh yang Kepemimpinan Kepala Sekolah secara langsung
terhadap kompetensi Profesionalisme guru SD Negeri di Kecamatan
Baradatu Kabupaten Way Kanan.
1.5.1.2Pengaruh Disiplin Kerja Guru secara langsung terhadap kompetensi
Profesional guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way
Kanan
1.5.1.3Pengaruh Konsep Diri secara langsung terhadap kompetensi
Profesional guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way
Kanan.
1.5.1.4Pengaruh yang Kepemimpinan Kepala Sekolah, Disiplin Kerja dan
Profesionalisme guru SD Negeri di Kecamatan Baradatu Kabupaten Way
Kanan.
1.5.2 Kegunaan Penelitian 1.5.2.1 Kegunaan Secara Teoritis
Secara teoritis, peneliti bermaksud menjadikan penelitian ini berguna atau
bermanfaat untuk :
a. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah konsep Kepemimpinan
Kepala Sekolah, Disiplin kerja, Konsep diri, serta manfaatnya untuk
meningkatkan kompetens Profesional guru disekolah,
b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai dasar pelaksanaan
penelitian-penelitian selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna
c. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menambah keilmuan pendidikan.
1.5.2.2 Kegunaan Secara Praktis
Secara praktis, peneliti bermaksud menjadikan penelitian ini berguna atau
bermanfaat untuk:
a. Bagi Dinas Pendidikan, untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam
upaya mewujudkan pendidikaan yang lebih baik,
b. Bagi Kepala Sekolah, sebagai masukan dalam usaha memperbaiki mutu
pendidikan disekolah melalui variabel-variabel yang mempengaruhinya,
c. Bagi Guru, sebagai acuan untuk meningkatkan kesadaran diri dalam
meningkatkan kompetensi Profesional guru dalam melaksanakan
1.6 Rung Lingkup Penelitian 1.6.1 Lingkup ilmu
Sebagai proses dan fungsi manajemen, berikut substansi yang menjadi
garapan manajemen pendidikan:
1. Perencanaan
2. Pengorganisasian itu meliputi beberapa kegiatan, yaitu penugasan
tanggung jawab tertentu dan pendelegasian wewenang yang
diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan
tugas-tugasnya sehingga dibutuhkan disiplin kerja yang tinggi.
3. Pengarahan meliputi motivasi, kepemimpinan, kekuasaan,
pe-ngambilan keputusan, komunikasi, koordinasi, negosiasi serta
pengembangan organisasi. Sementara itu, Terry dan Rue menyatakan
bahwa kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri
pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar
dalam hubungan tugas yang diinginkan.
4. Pengendalian meliputi pemantauan (monitoring), penilaian, dan
pelaporan.
1.6.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini melibatkan seluruh guru SD di Kecamatan Baradatu
Negeri Kabupaten Way Kanan.
1.6.3 Objek Penelitian
Penelitian ini obyeknya adalah kompetensi Profesional guru sebagai
varibel terikat, Kepemimpinan Kepala Sekolah, disiplin kerja, dan konsep
1.6.4 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian : SD Negeri Kecamatan Baradatu Kabupaten Way
Kanan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kompetensi Profesional 2.1.1 Pengertian kompetensi
Kompetensi berasal dari Bahasa Inggris Competence, maknanya sama dengan
being competent, sedangkan competent maknanya sama dengan being ability,
power, authorithy, skill, knowledge dan attitude dan sebagainya. Dengan
demikian kompetensi adalah kemampuan, kecakapan, keahlian dan ketrampilan
seseorang di bidang tertentu.
Menurut Sagala (2009) .Kompetensi adalah perpaduan dari penguasaan,
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan
berpikir dan bertindak dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya.
W. Robert Houtson memberikan definisi, competence ordinaly is defined as
“adequacy for a task or as “possession” or require knowledge, skill and abilities.
(Kompetensi dirumuskan sebagai suatu tugas yang memadai, atau pemilikan
pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang)
(Janawi, 2012:29). Menurut Kusnandar (2007), “Kompetensi adalah penguasaan
pengetahuan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang
diperlukan untuk menunjang keberhasilan.
Beberapa pengertian mengenai kompetensi diatas, dapat diambil kesimpulan
bahwa kompetensi adalah penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai
dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam
bisa dikatakan juga bahwa kompetensi merupakan komponen utama dari standar
profesi.
2.1.2Kompetensi Guru
Kompetensi guru adalah pengetahuan, kemampuan dan keyakinan yang dimiliki
seorang individu atau guru dan ditampilkan untuk situasi mengajar. Kompetensi
guru merupakan sekumpulan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai sebagai
kinerja yang berpengaruh terhadap peran, peruntukan, prestasi serta pekerjaan
seseorang (Yulaelawati 2004).
Rasto (2010) menjelaskan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan
menunjukan kualitas guru dalam mengajar, kompetensi itu akan terwujud dalam
bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya
sebagai guru. Diyakini bahwa, kompetensi yang diperlukan oleh seseorang guru
tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman
mengajar. Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal,
keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual yang secara kaffah membentuk
kompetensi standar profesi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman
terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan
profesionalisme (Mulyasa 2008).
Menurut Saud (2010) menyatakan karakteristik indikator kompetensi guru
mencakup :
b. Menguasai perangkat pengetahuan (teori dan konsep, prinsip dan kaidah, hipotesis dan generalisasi, data dan informasi, dan sebagainya) tentang seluk beluk apa yang menjadi bidang tugas pekerjaannya.
c. Menguasai perangkat keterampilan (strategi dan teknik, metode dan teknik, prosedur dan mekanisme, sarana dan instrument, dan sebagianya) tentang cara dan bagaimana dan dengan apa harus melakukan tugas. d. Memahamai perangkat persyaratan ambang (basic standard) tentang
ketentuan kelayakan normatif minimal kondisi dari proses yang dapat ditolerensikan dari kreteria keberhasilan yang dapat diterima dari apa yang dapat dilakukan.
e. Memiliki daya motivasi dan citra (aspirasi) unggulan dalam melakukan tugas pekerjaan. Guru bukan sekedar puas dengan memadai persyaratan minimal, melainkan berusaha mencapai yang sebaik mungkin.
f. Memiliki kewenangan yang memancar atas perangkat kompetensinya yang dalam batas tertentu dapat didemontrasikan dan teruji sehingga memungkinkan memperoleh pengakuan pihak berwenang.
Dari indikator-indikator kompetensi yang telah dikemukakan oleh Saud, dapat
disimpulkan bahwa seorang guru berkompetensi adalah sesorang yang
mempunyai visi dan misi yang jelas, kritis, logis, menguasai teori dan praktek
mengajar, dan bermotivasi tinggi untuk memberikan yang terbaik. Selain itu, guru
tersebut juga mempunyai kewenangan yang teruji oleh pihak yang memberi
wewenang. Seorang guru selain berkompetensi dalam bidang pengajaran, guru
juga harus mempunyai derajat kualifikasi akademik yang telah ditempuhnya dari
lembaga berwenang.
Berdasarkan literatur dan pendapat beberapa ahli dapat simpulkan bahwa
kompetensi merupakan kemampuan yang terdapat dalam diri individu dalam
pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk melakukan sesuatu dalam menunjang
keberhasilan proses pembelajaran. Guru sebagai seorang individu yang
keseharianya berkerja di dunia pendidikan harus memiliki kompetensi dalam
2.1.3 Kompetensi Profesional
Profesi dapat dilihat dari dua konteks, yang pertama merupakan indikator
kemampuan yang menunjukan kepada perbuatan yang dapat diobservasi, dan
yang kedua sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek kognitif dan afektif
dengan tahap pelaksaaannya (Sardiman, 2001).
Kompetensi professional guru adalah sejumlah kompetensi yang berhubungan
dengan profesi yang menuntut berbagai keahlian di bidang pendidikan atau
keguruan atau bisa dikatakan sebagai kemampuan dasar guru sesuai standar yang
ditetapkan direktur jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan (PMPTK) serta Standar Nasional Pendidikan. Pendapat yang sama
juga di ungkapkan di dalam Undang – Undang Nomor 14 tahun 2005 berbunyi
“Kompetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam yang memungkinkan membimbing siswa untuk memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan”
Berdasarkan Undang – Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005
kompetensi Profesional adalah Penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di
sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan
terhadap struktur dan metodologikeilmuannya.
Aspek-aspek yang berkaitan dengan kompetensi profesional
menurutPermendiknas No 16 Tahun 2007 yang meliputi :
(1) Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung
(2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang
diampu;
(3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif; (4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
melakukan
tindakan reflektif dan
(5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan
diri.
Menurut Wahidmurni (2010) kompetensi profesional berkaitan dengan
kemampuan guru akan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
Kemampuan ini diperoleh melalui jalur pendidikan sesuai dengan program studi
yang ditempuh. Sedangkan menurut Yanim (2006)Kompetensi profesional
menurut meliputi :
(1) Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya;
(2) Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan;
(3) Penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar tenaga pendidik
Kompetensi profesional menurut Usman (2001) meliputi;
(1) Penguasaan terhadap landasan kependidikan; (2) Menguasai bahan pengajaran;
(3) Kemampuan menyusun program pengajaran dan
(4) Kemampuan menyusun perangkat penilaian hasil belajar dan proses pembelajaran.
Dari beberapa teori di atas dapat di simpulkan bahwa kompetensi profesional
adalah salah satu bidang kompetensi yang harus di miliki seorang guru dalam hal
bidang keilmuan yang di milikinya, dengan dikuasainya kompetensi profesional
dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan peraturan yang berlaku
dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
2.2 Kepemimpinan Kepala Sekolah 2.2.1 Pengertian Kepemimpinan
Menurut Danim (2008: 204) mendefinisikan kepemimpinan adalah segala
tindakan yang dilakukan seseorang baik individu maupun kelompok untuk
melakukan koordinasi dan melakukan pengarahan kepada individu atau kelompok
lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya
menurut Sutrisno (2011: 213) mengatakan kepemimpian adalah kemampuan
seseorang dalam mempengaruhi orang lain, dimana bawahan akan melakukan apa
yang menjadi kehendak pemimpin walaupun secara pribadi bawahan tersebut
tidak menyukainya. Selain itu menurut J. Canon dalam Sagala (2009: 115)
mengatakan kepemimpinan adalah “kemampuan atasan mempengaruhi perilaku
bawahan maupun perilaku kelompok dalam organisasi”. Sedangkan menurut
Purwanto (2005: 26) Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam
mempengaruhi orang lain agar orang yang dipengaruhinya mau dan dapat
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh
semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa. Sedangkan
Menurut Armstrong dalam A.L Hartani (2011: 28) kepemimpinan adalah “proses
memberi inspirasi kepada semua karyawan agar bekerja sebaik-baiknya untuk
mencapai hasil yang diharapkan”.
Kartono (2005: 57) mengungkapkan kepemimpinan adalah “kegiatan
untuk mencapai tujuan yang diinginkan”. Sedangkan Menurut Wahyudi (2009:
120) kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam
menggerakkan, mengarahkan, sekaligus mempengaruhi pola pikir, cara kerja
setiap anggota agar bersikap mandiri dalam bekerja untuk kepentingan percepatan
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan
kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain, baik individu atau
kelompok. Serta kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku individu atau
kelompok untuk memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang
diinginkan oleh kelompoknya, sehingga bawahan dengan senang hati mau
melaksanakan tugas yang diberikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Kepemimpinan merupakan salah satu aspek penting yangmempengaruhi
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuanorganisasi. Keberhasilan suatu
organisasi baik secara keseluruhan maupun sebagian kelompok organisasi sangat
bergantung pada mutu kepemimpinan yang terdapat dalam organisasi tersebut.
Peran kepemimpinan efektif pada suatu organisasi
dalam mencapai tujuan organisasi adalah bagaimana para pemimpin organisasi
mampu menggerakkan, menginspirasi, memotivasi dan mengarahkan anggota
organisasinya dalam mencapai tujuan organisasinya secara efektif dan efisien. (
Fretilino, 2012:7)
Menurut Fretilino (2012 : 10) kepemimpinan adalah faktor manusiawi yang
tujuan-tujuan tertentu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ini berarti
antara kepemimpinan dengan motivasi memiliki ikatan yang kuat. Seseorang yang
menjalankan fungsi kepemimpinan setidaknya harus memiliki persyaratan atau
sifat-sifat bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki inteligensia tinggi,
memiliki fisik kuat, berpengetahuan luas, percaya diri, dapat menjadi anggota
kelompok, adil dan bijaksana, tegas dan berinisiatif, berkapasitas membuat
keputusan, memilki kestabilan emosi. bahwa keterampilan yang harus dimiliki
oleh administrator efektif adalah keterampilan teknis (technical skill), ketrampilan
hubungan manusia (human relation skill), dan keterampilan konseptual
(conseptual skill).
Menurut Wibowo (2008) Ciri-ciri seorang personel itu mempunyai sifat
kepemimpinan terlihat dari :
1) Kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan tepat. 2) Kemampuan menentukan prioritas kerja yang tepat.
3) Kemampuan untuk mengemukakan pendapat yang jelaskepada orang lain.
4) Menguasai bidang tugasnya dengan baik dan mampu memberiketeladanan dengan baik kepada bawahan,
5) Berusaha memupuk dan mengembangkan kerjasama dengan baik 6) Mampu melatih dan mengembangkan bawahan dengan baik,
7) Dapat menggugah semangat dan menggerakkan bawahandalam melaksanakan pekerjaan,
8) Bersedia mempertimbangkan saran-saran bawahan danmemperhatikan nasib, serta mendukung bawahan untuk maju.
Pemimpin aparatur harus memiliki kompetensi kreatif yang mampumenyelesaikan
berbagai permasalahan dan tantangan akibat dariperubahan yang cepat dan penuh
ketidakpastian. Peran kepemimpinan aparat adalah13:
1) Coach atau pelatih yang mampu senantiasa melatih, mendidik, membina dan memberdayakan aparat, atau pegawai yang dipimpinnya.
diluar organisasi. Kemampuanberkomunikasi dialog, lobby, dan mendengar secara aktif,sangat diperlukan.
3) Kedalam organisasi seorang pemimpin aparatur hendaknyamampu membawa perubahan baru, gagasan dan terobosanbaru, serta pemikiran yang membawa nilai tambahproduktivitas dan efisiensi organisasi. 4) Keluar, pemimpin aparat hendaknya mampu berperan sebagaidirection
setter yakni suatu kemampuan untuk memberikanarah yang tepat dalam rangka mewujudkan visi, misi, tujuan,dan program-program kerja organisasi.( Fretilino, 2012)
Ciri-ciri kepemimpinan dari segi kompetensi dapat dikemukakan sebagai berikut :
1) Kesadararan diri, seorang pemimpin harus mempunyai pemahaman tentang jati dirinya yang tercermin dari sikap sabar, teguh pendirian, memiliki integritas tinggi. Seseorang yang memiliki keseimbangan antar kecerdasan intelektual dan emosional.
2) Kemampuan mengelola dan/atau menangani perubahan, ketidakpastian, ketidakteraturan, dan keserba bertentangan.
3) Mempunyai visi ke depan. Maka harus mampu menggerakkan seluruh jajaran organisasi agar mempunyai persamaan persepsi terhadap apa yang akan dicapai bersama, sehingga mampu menggerakkan organisasi sebagai organisasi pembelajaran yang dapat terus berkembang.
4) Keterbukaan terhadap kritik dan saran, sehingga, akan dapat terus meningkatkan dan memperbaiki diri dan produktivitas organisasi. 5) Kemampuan menggunakan kekuasaan secara arif dan bijaksana,
sehingga tidak terjadi penyalahgunaan jabatan dan penyimpangan dari amanah dan kekuasaan yang diembannya.(Fretilino,2012)
Peranan seorang pemimpin sangat dominan untuk dapat menjembatani
masalah-masalah kronis yang dihadapi oleh organisasinya. Peranan pemimpin
digambarkan sebagai berikut :
1. Peranan Bersifat Interpersonal, yaitu sebagai figurhead, leader, dan liaison (Penghubung). Peranan bersifat interpersonal sebagai :
a. Figurehead, tampil dalam berbagai acara
b. Leader (penggerak), mampu memberikan bimbingan, sehingga bawahan dapat dibina dan dikembangkan dalam pelaksanaantugas; c. Liaison (hubungan), mengembangkan hubungan kerjasama, kepada
bawahan dan lingkungan kerja diluar satuannya, dalam rangka saling tukar informasi.
2. Peranan Bersifat Informasional, yaitu pemonitor, disseminator (penyebar), dan juru bicara. Peranan bersifat informasional, sebagai :
b. Dissimenator, harus selalu memberi informasi kepada bawahannya berkaitan dengan satuan kerjanya. Setiap organisasi apapun memerlukan kerjasama, bantuan, konsultasi dan dukungan dari luar. c. Juru bicara suatu organisasi adalah pemimpin itu sendiri.
3. Peranan sebagai Pengambil Keputusan, yaitu sebagai entreprenuer (pengusaha), disturbance handler (mengatasi kesulitan), pengatur sumber daya dan wakil (mewakili satuan kerja).Peranan pengambil keputusan sebagai :
a. Entrepreneur yang selalu berusaha memperbaiki dan mengembangkan satuan kerja yang dipimpinnya, berusaha menciptakan ide dan gagasan baru, sistem hubungan dan tata kerja (innovation) pengembangan organisasinya.
b. Mampu mengatasi segala macam kesulitan (disturbances handler) dalam situasi apapun harus mampu mengatasi hambatan dan tantangan yang dihadapi.
c. Pengatur segala macam sumber daya yang ada bertanggungjawab mengatur SDM, dana, waktu dan prasarana, sehingga dapat dimanfaatkan seefektif mungkin dalam mencapai tujuan organisasi. d. Wakil, dalam setiap hubungan kerja dengan satuan kerja diluar. ( Henry Mitzberg,2008)
Dari uraian di atas dapat ditetapkan pengertian kepemimpinan yang tepatadalah
kemampuan individu mempengaruhiaktivitas anggota kelompok, serta pihak
terkait untuk mencapaitujuan bersama yang dirancang untuk memberikan
manfaatinduvidu, pihak terkait dan organisasi.
2.2.2 Pengertian Kepala Sekolah
Secara sederhana kepala sekolah didefinisikan sebagai ”seorang tenaga fungsional
guru diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses
belajar mengajar atau tempat dimana terjadi interaksi antar guru yang memberi
pelajaran dan muridyang menerima pelajaran” (Wahyosumidjo,2002:81).
Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah
sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan
kepala sekolah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin
seorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. bahkan lebih jauh
tersebut menyimpulkan bahwa keberhasilan kepala sekolah adalah keberhasilan
kepala sekolah. beberapa diantara kepala sekolah dilukiskan sebagai orang yang
sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staf dan para siswa, kepala
sekolah adalah mereka yang banyak mengetahui tugas-tugas mereka dan mereka
yang menentukan irama bagi sekolah mereka.
Telah kita maklumi bahwa tugas kepala sekolah itu sedemikian banyak dan
tanggung jawabnya sedemikian besar. Maka tidak sembarangan orang patut
menjadi kepala sekolah. Untuk dapat menjadi kepala sekolah harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Disamping syarat yang berupa ijazah (yang merupakan
syarat-syarat formal) juga pengalaman kerja dan kepribadian yang baik perlu
diperhatikan.
Dalam peraturan yang berlaku dilingkungan Depdikbud untuk setiap tingkatan
dan jenis sekolah sudah ditetapkan syarat-syaratnya untuk pengangkatan kepala
sekolah. Seperti telah kita ketahui bahwa untuk menjadi kepala sekolah TK dan
SD serendah-rendahnya berijazah sarjana muda BI. Karena jenis SMP maupun
SMA itu bermacam-macam (SMP, SMA, SMK, DLL), maka ijazah yang
diperlukan bagi seorang kepala sekolah hendaknya sesuai dengan jurusan/ jenis
sekolah yang dipimpinnya.
Pengalaman kerja merupakan syarat penting yang tidak dapat diabaikan.
Bagaimana bisa memimpin apabila ia belum mempunyai pengalaman bekerja /
menjadi guru pada jenis sekolah yang dipimpinnya. Mengenai persyaratan
keseragaman diantara berbagai jenis sekolah. Hal tersebut karena adanya banyak
hal yang menyebutkan kesulitan pengangkatan, diantaranya:
a. Pertumbuhan dan perkembangan jumlah sekolah yang sangat pesat dan tidak sesuai dengan jumlah guru yang tersedia.
b. Adanya ketidak seimbangan antara banyaknya guru-guru fak umum/sosial yang besar jumlahnya dengan gutu-guru fak kejurusan (teknik dan ekstra ) yang sangat sedikit.
c. Dikota besar kelabihan guru sedang dipesok sangat kekurangan guru. d. Dan lain-lain.(Daryanto, 2005:91)
Disamping ijazah dan pengalaman kerja, ada syarat lain yang tidak kurang
pentingnya, yaitu persyaratan kepribadian dan kecakapan yang dimilikinya.
Seorang kepala sekolah hendaknya memiliki kepribadian yang baik sesuai dengan
kepemimpinan yang akan dipegangnya. Ia hendaknya memiliki sifat-sifat jujur,
adil dan dapat dipercaya, suka menolong dan membantu guru dalam menjalankan
tugas dan mengatasi kesulitan-kesulitan, bersifat supel dan ramah mempunyai
sifat tegas dan konsekuen yang tidak kaku.
Sifat-sifat kepribadian seperti tersebut diatas, seorang kepala sekolah hendaknya
memiliki ilmu pengetahuan dan kecakapan yang sesuai dengan jurusan serta
bidang-bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa memiliki
sifat-sifat serta pengetahuan dan kecakapan seperti diuraikan diatas, sukarlah baginya
untuk dapat menjalankan peranan kepemimpinan yang baik dan diperlukan bagi
kemajuan sekolahnya.
Seorang kepala sekolah harus berjiwa nasional dan memiliki falsafah hidup yang
sesuai dengan falsafah dan dasar negara kita. Jika kita simpulkan apa yang telah
diuraikan diatas, maka syarat seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut: