EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI
KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
(Skripsi)
Oleh
I KOMANG OKA MAHENDRA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI
KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
Oleh
I KOMANG OKA MAHENDRA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas model Learning Cycle 3E (LC 3E) untuk meningkatkan penguasaan konsep materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Natar Tahun Ajaran 2018/2019. Pengambilan sampel mengguna-kan teknik purposive sampling, diperoleh kelas XI MIA 1 sebagai kelas eksperi-men dan kelas XI MIA 4 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini eksperi-menggunakan metode quasi experiment dengan Non Equivalent Control Group Design. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji perbedaan dua rata-rata dengan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan n-gain rata-rata penguasaan konsep di kelas ekspe-rimen dan kelas kontrol masing-masing 0,68 dan 0,45, keduanya sama-sama berkategori sedang. Hasil uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan n-gain
I Komang Oka Mahendra
iii
konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa model LC 3E efektif untuk mening-katkan penguasaan konsep materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
EFEKTIVITAS MODEL LEARNING CYCLE 3E UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI
KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
Oleh
I KOMANG OKA MAHENDRA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Banjit, Way Kanan tanggal 27 Januari 1997, sebagai anak
ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak I Nyoman Mudiana dan Ibu Ni
Made Serini.
Pendidikan formal diawali di SD Negeri 1 Bali Sadhar dan diselesaikan pada
tahun 2009. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Banjit dan
di-selesaikan pada tahun 2012. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1
Banjit, diselesaikan pada tahun 2015. Pada tahun 2015, diterima dan terdaftar
sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan MIPA,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung melalui jalur
SBMPTN.
Selama menjadi mahasiswa, pernah aktif di organisasi internal kampus Fosmaki,
Himasakta, dan UKM Hindu Universitas Lampung. Pada tahun 2018, mengikuti
Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono yang
terintegrasi dengan Kuliah Kerja Nyata Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di
PERSEMBAHAN
Om Avignam Astu Namo Sidham
Dengan Menyebut Nama Brahman yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Kupersembahkan skripsi ini kepada:
Bapak dan Ibu yang sangat kucintai.
Terimakasih atas kasih sayang, usaha, pengorbanan, motivasi, dan
doa yang tiada hentinya untuk keberhasilanku.
Keluarga Besarku
Sahabat-sahabatku
MOTTO
Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu
harus sanggup menahan perihnya kebodohan.
(Imam Syafi’i)
Aku hanyalah ‘aerosol padat’ diantara hamparan pasir di
pantai, tapi aku yakin suatu saat aku akan menjadi intan yang
SANWACANA
Om Avignam Astu Namo Sidham Om Sidhirastu Tad Astu Svaha, segala puji
syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas Asung Kerta dan
Waranugraha-Nya, sehingga dapat diselesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas
Model Learning Cycle 3E untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Materi
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu,
membimbing dan berperan besar dalam penyusunan skripsi ini, antara lain:
1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M. Pd. selaku Dekan FKIP Unila.
2. Bapak Dr. Caswita, M. Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.
3. Ibu Dr. Ratu Betta Rudibyani, M. Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Kimia.
4. Ibu Dra. Ila Rosilawati, M. Si. selaku Pembimbing I dan Pembimbing
Akademik, atas segala bimbingan, masukan, saran dan motivasi dalam proses
penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Dr. M. Setyarini, M. Si. selaku Pembimbing II atas segala bimbingan,
xii
6. Ibu Dra. Nina Kadaritna, M. Si. selaku Pembahas, atas segala bimbingan,
kritik, dan saran untuk perbaikan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan kimia dan Jurusan Pendidikan MIPA yang
telah memberikan ilmu selama menjalani perkuliahan.
8. Kepala SMA Negeri 1 Natar dan Ibu Nawariyati, S. Pd. selaku guru mitra
mata pelajaran kimia, atas bantuan dan kerjasamanya selama melakukan
penelitian berlangsung.
9. Rekan-rekan seperjuangan pendidikan kimia 2015, tim skripsi Rona Anisah
dan Novia Rakhmawati yang selalu memberikan semangat dan berbagi ilmu
dalam proses penyusunan skripsi.
10. Rekan-rekan KKN-PPL SMA N 1 Bandar Sribhawono, terimakasih atas
semangat, kebersamaan, keceriaan serta motivasinya.
11. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari, skripsi ini masih tidak cukup dikatakan sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran sangat dinanti. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Svaha.
Bandar Lampung, Januari 2020
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 6
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Pembelajaran Konstruktivisme ... 7
B. Model LC 3E ... 8
C. Penguasaan Konsep ... 12
D. Penelitian yang Relevan ... 13
E. Analisis Konsep ... 14
F. Kerangka Pemikiran ... 21
G. Anggapan Dasar ... 22
xiv
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel ... 24
B. Metode dan Desain Penelitian ... 24
C. Variabel Penelitian ... 25
D. Data Penelitian ... 25
E. Perangkat dan Instrumen Penelitian ... 26
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 26
G. Teknik Analisis Data ... 28
1. Perhitungan skor rata-rata pretes penguasaan konsep ... 28
2. Perhitungan n-gain ... 28
3. Perhitungan n-gain rata-rata ... 28
4. Uji Hipotesis ... 29
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 33
1. Hasil uji kesamaan dua rata-rata ... 33
2. Data n-gain penguasaan konsep ... 35
B. Pembahasan ... 38
1. Tahap eksplorasi (exploration) ... 38
2. Tahap penemuan konsep (explanation) ... 42
3. Tahap penerapan konsep (elaboration) ... 45
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 51
B. Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
xv
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 73
3. Lembar Kerja Siswa (LKS) ... 88
4. Kisi- kisi Soal Pretes dan Postes ... 121
5. Rubrik Soal Pretes dan Postes ... 123
6. Soal Pretes dan Postes ... 130
7. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ... 131
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Penelitian yang Relevan ... 13
2. Analisis Konsep Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan ... 16
3. Desain Penelitian ... 25
4. Kolmogorov-Smirnov Pretes Rata-rata Penguasaan Konsep ... 34
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Alur Penelitian ... 27
2. Skor Rata-rata Pretes Penguasaan Konsep... 33
3. n-gain Rata-rata Penguasaan Konsep ... 36
4. Hasil Pengamatan Kelarutan Garam ... 39
5. Tetapan Hasil Kali Kelarutan dari Garam Basa Sukar Larut ... 40
6. Hasil Percobaan Pengaruh Ion Senama Terhadap Kelarutan... 41
7. Pengertian Tetapan Hasil Kali Kelarutan... 43
8. Hubungan Antara Kelarutan dengan Ksp ... 43
9. Pengaruh Ion Senama Terhadap Kelarutan ... 44
10. Pengaruh pH Terhadap Kelarutan ... 45
11. Hubungan Qc dengan Ksp ... 45
12. Elaborasi LKS 1 ... 46
13. Elaborasi LKS 2 ... 47
14. Elaborasi LKS 3 ... 48
15. Elaborasi LKS 4 ... 49
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan pengetahuan yang sistematis dan
ber-laku secara universal yang membahas tentang sekumpulan data yang dihasilkan
berdasarkan hasil observasi dan eksperimen (Carin & Sund dalam Sudjana, 2013).
IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, prinsip-prinsip saja, melainkan juga merupakan suatu proses
pe-nemuan (Fatonah & Zuhdan, 2014). Senada dengan pendapat tersebut, Widi &
Eka (2014) mengungkapkan bahwa IPA merupakan rumpun ilmu yang memiliki
karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam yang faktual, baik berupa
kenyataan atau kejadian dan hubungan sebab akibatnya.
Salah satu cabang IPA adalah Ilmu kimia. Ilmu kimia merupakan cabang ilmu
yang mempelajari tentang materi yang meliputi struktur, susunan, sifat, dan
per-ubahan materi, serta energi yang menyertainya (Nugroho & Irwan, 2008). Pada
umumnya, pembelajaran kimia di sekolah hanya menghadirkan konsep-konsep,
hukum-hukum, dan teori-teori secara verbal tanpa melalui proses ditemukannya
konsep, hukum, prinsip, dan teori tersebut, sehingga menyebabkan interaksi yang
2
pembelajaran kimia menjadi kehilangan daya tariknya dan lepas relevansinya
dengan dunia nyata yang seharusnya menjadi objek ilmu pengetahuan tersebut
(Tim Penyusun, 2008).
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kimia di SMA Negeri 1
Natar, diperoleh data bahwa Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) siswa sebesar
78 dan hasil pencapaian siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan 60%.
Hal ini masih jauh dari harapan guru yaitu minimal 85%. Hal tersebut
dikarena-kan kegiatan pembelajaran dominan menggunadikarena-kan metode ceramah.
Pembelajar-an di dalam kelas didominasi oleh guru (teacher centered learning), hanya terjadi
komunikasi satu arah, serta jarang melakukan praktikum dan praktikumnya hanya
membuktikan teori, sehingga siswa menjadi pasif dan tidak dibimbing untuk
me-nemukan konsep, akibatnya penguasaan konsep siswa rendah.
Kurikulum 2013 (K-13) adalah kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi
(Tim Penyusun, 2013). Model-model pembelajaran yang sesuai dengan K-13,
yaitu proses pembelajaran sepenuhnya melibatkan kemampuan siswa pada
pengembangan melalui pendekatan saintifik dan diperkuat dengan penerapan
pembelajaran berbasis penyelidikan yaitu inquiry based learning. Menurut Gulo
(dalam Al-Tabani, 2014) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian
ke-giatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuan-penemuannya dengan penuh percaya diri. Untuk
dapat mengembangkan kemampuan tersebut, perlu adanya suatu model
pembel-ajaran yang mendorong siswa untuk mencari, menemukan, dan membangun
3
Salah satu kompetensi dasar (KD) kelas XI MIA semester genap yang harus
di-capai dalam K-13 adalah KD 3.14 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu
reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kelarutan (Ksp) dan KD 4.14
Mengolah dan menganalisis data hasil percobaan untuk memprediksi
terbentuk-nya endapan. Untuk mencapai KD tersebut dapat menggunakan model learning
cycle.
Model learning cycle 3E (LC 3E)merupakan suatu prosedur mengajar yang
mengacu pada kegiatan inkuiri. Selain itu, tahapan pada model learning cycle
sesuai untuk meningkatkan penguasaan konsep, karena berorientasi pada aktivitas
siswa, konsep ilmiah, eksplorasi, memperdalam pemahaman, dan menerapkan
konsep pada situasi baru (Sadi & Cakiroglu, 2010). Model learning cycle 3E
merupakan suatu model pembelajaran berbasis teori konstruktivisme yang
ber-pusat pada siswa (student centered) yang dilakukan melalui serangkaian fase
(tahapan) pembelajaran yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat
menguasai kompetensi dengan cara berperan aktif (Fajaroh & Dasna, 2007). Ada
tiga tahapan dalam model pembelajaran tersebut, antara lain yaitu tahap eksplorasi
(exploration), tahap penemuan konsep (explanation), dan tahap penerapan konsep
(elaboration) (Lawson, 1988).
Pada tahap eksplorasi, siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dan
diuji pengetahuan awalnya serta melakukan pengamatan, misalnya siswa diberi
permasalahan atau fenomena dalam kehidupan sehari-hari, seperti garam NaCl
dapat larut dalam air sedangkan garam CaCO3 yang terkandung dalam cangkang
kerang tidak larut dalam air laut. Kemudian untuk mengetahui mengapa garam
4
sehingga diperoleh data percobaan yang selanjutnya akan dianalisis oleh siswa.
Pada tahap ini siswa dilatih untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis,
kritis, logis, dan analitis. Pada tahap penemuan konsep (explanation), siswa
men-diskusikan pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan berdasarkan data hasil
pengamatan dan menyimpulkan sendiri konsep pengetahuan yang diperolehnya
sesuai dengan fenomena, sehingga siswa dapat menghubungkan fakta dengan
teori. Pada tahap ini siswa dibimbing untuk menemukan konsep. Selanjutnya
pada tahap penerapan konsep (elaboration), siswa dilatih untuk menerapkan
konsep pada situasi baru yang sama tingkatannya atau lebih tinggi.
Beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan efektivitas model learning cycle
untuk meningkatkan penguasaan konsep adalah (1) Fitriana (2013) menyatakan
LC 3E dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi larutan
non-elektrolit dan non-elektrolit kelas X SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. (2) Nunggal
(2013) menyatakan LC 5Edapat meningkatkan keterampilan inferensi dan
penguasaan konsep siswa pada materi laju reaksi kelas XI IPA MAN Poncowati.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dilakukan penelitian
yang berjudul “Efektivitas Model Learning Cycle 3E untuk Meningkatkan
Penguasaan Konsep Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimana efektivitas model LC 3E untuk meningkatkan penguasaan
5
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
men-deskripsikan efektivitas model LC 3Euntuk meningkatkanpenguasaan konsep
materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak
antara lain:
1. Siswa
Penerapan model LC 3Edapat memberikan pengalaman belajar secara langsung
dan mempermudah dalam penguasaan konsep serta tercapainya kompetensi siswa,
sehingga siswa dapat memahami materi dengan mudah khususnya pada materi
kelarutan dan hasil kali kelarutan.
2. Guru
Penerapan model LC 3E dapat menjadi salah satu alternatif dalam memilih model
pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa.
3. Sekolah
Penerapan model LC 3E dapat dijadikan informasi dan referensi kepada sekolah
6
E. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menghindari tafsiran yang berbeda-beda dan kesalahpahaman pembaca
ter-hadap istilah yang digunakan, maka dikembangkan istilah-istilah sebagai berikut:
1. Model LC 3E dikatakan efektif untuk meningkatkan penguasaan konsep
apabila terdapat perbedaan n-gain yang signifikan antara kelas eksperimen
dengan kelas kontrol.
2. Penguasaan konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan adalah nilai siswa yang
diperoleh melalui pretesdan postes.
3. Terdapat 3 tahapan dalam model LC 3E yaitu (1) fase eksplorasi (
explora-tion); (2) fase penemuan konsep (explanation); dan (3) fase penerapan konsep
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Pembelajaran Konstruktivisme
Teori konstruktivisme dikembangkan oleh Piaget. Menurut Glasersfeld (dalam
Komalasari, 2010) konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita
sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke
pikiran siswa. Artinya siswa harus aktif secara membangun struktur
pengetahuan-nya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikipengetahuan-nya.
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual,
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang
hasil-nya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba.
Pengetahu-an bukPengetahu-anlah seperPengetahu-angkat fakta – fakta, konsep, atau kaidah yPengetahu-ang siap untuk
diam-bil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi
makna melalui pengalaman nyata (Thobroni & Mustofa, 2013).
Menurut Von Glasersfeld (dalam Pannen, Mustafa & Sekarwinahyu, 2001), agar
siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan, maka diperlukan:
1. Kemampuan siswa untuk mengingat dan mengungkapkan kembali
8
18 2. Kemampuan siswa untuk membandingkan, dan mengambil keputusan
mengenai persamaan dan perbedaan suatu hal. Kemampuan
membandingkan sangat penting agar siswa mampu menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus serta melihat kesamaan dan perbedaannya untuk selanjutnya membuat klasifikasi dan mengkon-struksi pengetahuannya.
3. Kemampuan siswa untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari yang lain (selective conscience). Melalui “suka dan tidak suka” inilah
muncul penilaian siswa terhadap pengalaman, dan menjadi landasan bagi pembentukan pengetahuannya.
Sementara itu, Driver & Bell mengemukakan karakteristik pembelajaran
kon-struktivisme sebagai berikut (Suyono & Hariyanto, 2014):
a. Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,
b. Belajar harus mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa.
c. Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan dikonstruk-si secara personal.
d. Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi lingkungan belajar.
e. Kurikulum bukanlah sekadar hal yang dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi dan sumber.
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran secara konstruktivisme adalah
pembel-ajaran yang berpusat pada siswa. Siswa mencari sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, tidak diberi begitu saja oleh guru. Guru berperan sebagai
fasilitator untuk membantu siswa mengolah pengetahuan baru, menyelesaikan
suatu masalah, dan sebagai pembimbing pada proses pembelajaran.
B. Model LC 3E
Dalam proses pembelajaran penggunaan serta pemilihan model pembelajaran
9
dicapai pada pembelajaran tersebut. Sukamto & Winatapura (2009) model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
peran-cang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan melaksanakan
akti-vitas belajar mengajar. Sementara Suprijono (2012) mengemukakan bahwa
model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
meren-canakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Berdasarkan definisi tentang
model pembelajaran yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah suatu kerangka konseptual yang disusun secara sistematis
yang digunakan sebagai pedoman untuk membantu pendidik dalam hal
merenca-nakan aktivitas belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan belajar tertentu.
Model LC dikembangkan oleh J. M. Atkin, R. Karplus & Kelompok SCIS
(Science Curriculum Improvement Study) di Universitas California, Berkeley,
Amerika Serikat sejak tahun 1967 (Made Wena, 2010). Model LC merupakan
salah satu model pembelajaran yang telah diakui dalam pendidikan, khususnya
pendidikan IPA. Model ini termasuk model yang mudah untuk digunakan oleh
guru dan dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas
belajar IPA pada setiap siswa.
Model LC termasuk model pembelajaran yang berbasis teori konstruktivisme,
yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita
sen-diri. Oleh karena itu, melalui model pembelajaran ini siswa diharuskan dapat
membangun sendiri pengetahuannya dengan memecahkan permasalahan yang
10
18 Terdapat tiga tahapan dalam siklus belajar yaitu eksplorasi (exploration),
menjelaskan/menemukan (explanation), dan memperluas (elaboration/extention),
yang dikenal dengan LC 3E(Lawson, 1988).
1. Eksplorasi (exploration)
Pada tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca
indera-nya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dari kegiatan
ini diharapkan muncul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya yang
ditan-dai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah berkembangnya
daya nalar tingkat tinggi yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan
bagaimana (Dasna, 2005). Munculnya pertanyaan tersebut sekaligus menjadi
indikator kesiapan siswa menuju tahapan berikutnya.
2. Menemukan konsep (explanation)
Pada tahap ini diharapkan terjadi proses keseimbangan antara konsep-konsep yang
telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep baru yang dipelajari melalui kegiatan
yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi.
Pada tahap ini pembelajar mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan
konsep-konsep baru yang sedang dipelajari.
3. Menerapkan konsep (elaboration/extention)
Siswa menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan seperti problem
solving. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi
belajar. LC 3E melalui kegiatan dalam tiap tahap mewadahi siswa untuk secara
11
lingkungan fisik maupun sosial. Hudojo (2001) mengemukakan bahwa LC 3E
dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivis:
1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa,
2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Infor-masi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu,
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupa-kan pemecahan masalah.
Cohen & Clough (dalam Fajaroh & Dasna, 2007) menyatakan bahwa LC 3E
merupakan strategi jitu bagi pembelajaran sains di sekolah menengah, karena
dapat dilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata guru dan siswa.
Dilihat dari dimensi guru, penerapan strategi ini memperluas wawasan dan
meningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Bila
ditinjau dari dimensi siswa, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai
berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar karena siswa dilibatkan secara aktif dalam
proses pembelajaran.
2. Membantu mengembangkan sikap ilmiah siswa.
3. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi dan
diperkirakan menurut Soebagio (dalam Kamdi, 2007) sebagai berikut:
1. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan me-laksanakan proses pembelajaran.
12
18 4. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun
ren-cana dan melaksanakan pembelajaran,
C. Penguasaan Konsep
Penguasaan adalah pemahaman dan kesanggupan untuk menggunakan
penge-tahuan, kepandaian dan sebagainya (Fitriani, 2012). Menurut Sagala (2003)
konsep adalah suatu pemikiran seseorang atau kelompok orang yang dinyatakan
pada definisi sehingga menjadi produk pengetahuan yang meliputi prinsip-prinsip,
hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui
generalisasi dan berfikir abstrak. Penguasaan konsep yang baik akan membantu
pemakaian konsep-konsep yang lebih kompleks.
Menurut Djamarah & Zain (dalam Trianto, 2007) menyatakan konsep merupakan
suatu kondisi utama yang dibutuhkan dalam menguasai pengetahuan dan proses
kognitif. Untuk dapat menguasai konsep seseorang harus mampu dalam
mem-bedakan antara benda yang satu dengan benda yang lain, dengan menguasai
kon-sep siswa akan dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konkon-sep itu
(Trianto, 2007). Setiap konsep tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan satu sama
lain. Oleh karena itu siswa dituntut tidak hanya menghafal konsep saja, tetapi
hendaknya memperhatikan hubungan antara satu konsep dengan konsep yang
lainnya.
Penguasaan konsep akan mempengaruhi ketercapaian hasil belajar siswa. Suatu
proses dikatakan berhasil apabila hasil belajar yang didapatkan meningkat atau
mengalami perubahan setelah siswa melakukan aktivitas belajar, pendapat ini
13
adalah suatu proses usaha yang dilakukan seorang untuk memperoleh suatu
peru-bahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Dalam belajar dituntut juga
adanya suatu aktivitas yang harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk
mening-katkan penguasaan materi.
Dalam mempelajari ilmu kimia diperlukan penguasaan konsep sebagai dasar
da-lam mempelajari konsep-konsep berikutnya yang lebih kompleks. Penguasaan
terhadap konsep akan baik jika siswa belajar karena siswa tahu banyak tentang
materi pelajaran. Sebagian besar materi pelajaran yang dipelajari di sekolah
ter-diri dari konsep-konsep. Guru sebagai pengajar harus memiliki kemampuan
untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar siswa dapat menemukan dan
memahami konsep yang diajarkan di kelas. Dengan terciptanya kondisi yang
kondusif, siswa dapat menguasai dan memahami konsep yang disampaikan guru.
D. Penelitian Yang Relevan
Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini seperti yang
[image:30.595.112.523.587.723.2]disaji-kan pada tabel berikut.
Tabel 1. Penelitian yang relevan.
No. Peneliti/Judul Hasil
1 Nur (2014),
Efektivitas media pembelajaran learning cycle 5E pada materi larutan nonelektrolit dan elektrolit dalam meningkatkan minat dan penguasaan konsep siswa
Melalui model pembela-jaran learning cycle 5E
14
18 Tabel 1 (Lanjutan)
2 Cholistyana (2014),
Pengaruh model learning cycle 5E
terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem ekskresi
Model learning cycle 5E
memiliki pengaruh ter-hadap hasil belajar siswa pada konsep sistem eks-kresi.
3 Indrawati, Suyatno & Yuanita (2015), Implementasi model pembelajaran learning cycle 7E pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa.
Implementasi model pem-belajaran learning cycle 7E pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan efektif untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa.
4 Permatasari, Hairida & Rody (2016), Pengaruh model siklus belajar 5E terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada materi koloid
Pengaruh model siklus belajar 5E terhadap kete-rampilan berpikir kritis siswa pada materi koloid, menyatakan bahwa model siklus belajar 5E dapat meningkatkan kete-rampilan berpikir kritis siswa pada materi koloid.
E. Analisis Konsep
Konsep-konsep tidak dapat diamati dan harus disimpulkan dari perilaku. Konsep
yang dimaksud tidak lain dari kategori-kategori dan skema-skema terorganisasi
untuk mengasimilasi stimulus-stimulus baru dan menentukan hubungan di dalam
dan di antara kategori-kategori (Dahar, 1996). Belajar konsep merupakan hasil
utama pendidikan. Konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental
yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi.
Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus mengetahui aturan-aturan yang
15
Herron, dkk (dalam Saputra, 2012) mengemukakan bahwa analisis konsep
merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk menolong guru dalam
merencanakan urutan-urutan pengajaran bagi pencapaian konsep. Teknik-teknik
semacam ini telah dikembangkan oleh Klausmeler, Ghatala & Frayer (1974).
Analisis konsep dilakukan melalui tujuh langkah, yaitu menentukan nama atau
label konsep, definisi konsep, jenis konsep, atribut kritis, atribut variabel, posisi
konsep, contoh, dan non contoh. Analisis konsep kelarutan dan hasil kali
16 Tabel 2. Analisis konsep kelarutan dan hasil kali kelarutan
Label konsep Definisi konsep Jenis konsep
Atribut konsep Posisi konsep
Contoh Noncontoh Kritis Variabel Super
ordinat
Koordina
t Sub ordinat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kesetim-bangan kimia Keadaan yang terjadi saat laju reaksi maju sama deng-an reaksi balik, dapat berupa reaksi homogen yang memi-liki suatu tetapan (harga K) dan dapat mengalami pergeseran. Konsep abstrak Kesetim bangan kimia Laju reaksi maju sama dengan laju reaksi balik Dapat mengala mi per-geseran
Fase zat
Harga K
Reaksi kimia Reaksi ireversi-bel Reaksi rever-sibel Kesetimbang an statis Kesetimbang an dinamis
N2(g) + 3H2(g)
⇄2NH3(g)
CH4(g) +
2O2(g) ⟶
CO2(g) +
Tabel 2 (Lanjutan)
17
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kesetim-bangan dinamis Kesetim-bangan ki-miayang secara ma-kroskopis tidak terjadi perubahan (tetap), teta-pi secara mikroskopis reaksi ber-langsung terus mene-rus Konsep abstrak Kesetim bangan dinamis Secara makros-kopis tidak terjadi peru-bahan (tetap) Secara mikros-kopis reaksi berlang-sung te-rus me-nerus
Fase zat
Harga K
Kesetim bangan kimia Kesetim-bangan statis Dalam ruang tertutup, gas N2O2 yang
tidak berwarna bila dipanas-kan adipanas-kan ter-urai menjadi gas NO2
ber-warna coklat. Sebaliknya bila gas NO2
didinginkan warna coklat yang terbentuk akan memudar. Dalam keada-an setimbkeada-ang secara mikros-kopis reaksi ini berlangsung terus menerus
Kristal CuSO4.5H2O
apabila di-panaskan akan berubah men-jadi kristal putih dengan melepaskan air dalam bentuk uap air. Se-baliknya bila kristal putih CuSO4 hasil
[image:34.842.81.771.115.494.2]Tabel 2 (Lanjutan)
18
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kesetim-bangan kelarutan Pada kese-timbangan kelarutan terjadi kese-timbangan dinamis an-tara zat padat elektrolit tak larut dengan ion-ionnya yang terlarut dalam larujan jenuh Konsep yang menya-takan proses Kesetim bangan kelarut-an Kesetim bangan dinamis antara zat padat elek-trolit tak larut dengan ion-ion-nya yang terlarut dalam larutan jenuh. Jenis elektrolit Kesetim bangan kimia Kesetim-bangan homogen dan heterogen Kelarutan
Ksp
CH3COOH (s) ⇄ H+(aq) + CH3COO-(aq)
[image:35.842.89.765.123.495.2]Tabel 2 (Lanjutan)
19
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Tetapan hasil kali kelarutan (Ksp)
Ksp menyata-kan ukuran terjadinya kesetimbang-an kesetimbang-antara zat padat elektro-lit tak larut dengan ion-ionnya dalam larutan jenuh
Ksp dihitung dari hasil kali konsentrasi ion-ion yang terlarut di-pangkatkan koefisien reaksi pada keadaan la-rutan jenuh Konsep berdasar kan prinsip
Ksp ukuran terjadinya kesetim-bangan an-tara zat padat elek-trolit tak larut dengan ion-ionnya dalam kelarutan jenuh. Ksp dihitung dari hasil kali kon-sentrasi ion-ion yang terla-rut dipang-katkan ko-efisien reaksi pada keadaan larutan jenuh. Jenis elektrolit Konsen-trasi ion-ion Koefisien reaksi Kesetim bangan kelarut-an
kelarutan Ksp AgCl =
[image:36.842.91.760.117.495.2]Tabel 2 (Lanjutan)
20
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Kelarutan Jumlah maksimum zat terlarut yang dapat larut pada zat pelarut tertentu pada suhu tertentu.
konkrit Hasil kali kelarut an
Garam
Ion se-nama
Jenis zat terlarut
Jenis zat pelarut
Kesetim bangan kimia
Ksp Ag2CrO4 =
8,4 x 10-5 mol/L
Ksp Ag2CrO4
[image:37.842.195.768.111.480.2]21
F. Kerangka Pemikiran
Kegiatan pembelajaran yang direncanakan oleh seorang guru akan berpengaruh
ter-hadap hasil belajar siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang diinginkan, maka perlu ketepatan dalam memilih dan
menerapkan model pembelajaran,
Pada kurikulum 2013, salah satu kompetensi dasar (KD) kelas XI MIA semester
genap yang harus dicapai adalah KD 3.14 Memprediksi terbentuknya endapan dari
suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kelarutan dan KD 4.14
Mengolah dan menganalisis data hasil percobaan untuk memprediksi terbentuknya
endapan. Untuk mencapai KD tersebut dapat menggunakan model learning cycle.
Model LC 3Emerupakan suatu model pembelajaran berbasis teori konstruktivisme
yang berpusat pada siswa (student centered) yang dilakukan melalui serangkaian fase
(tahapan) pembelajaran yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat
menguasai kompetensi dengan cara berperan aktif (Fajaroh dan Dasna, 2007). Ada
tiga tahapan dalam model pembelajaran tersebut, antara lain yaitu tahap eksplorasi
(exploration), tahap penemuan konsep (explanation), dan tahap penerapan konsep
(elaboration) (Lawson, 1988).
Pada tahap eksplorasi (exploration), siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok
kecil dan diuji pengetahuan awalnya serta melakukan pengamatan, yaitu siswa diberi
permasalahan atau fenomena dalam kehidupan sehari-hari, seperti garam NaCl dapat
22
18 tidak larut dalam air laut. Kemudian untuk mengetahui mengapa garam CaCO3 tidak
larut dalam air seperti garam NaCl, siswa melakukan percobaan, sehingga diperoleh
data percobaan yang selanjutnya dianalisis oleh siswa. Pada tahap ini siswa dilatih
untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis. Pada
tahap penemuan konsep (explanation), siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan
yang telah diberikan berdasarkan data hasil pengamatan dan menyimpulkan sendiri
konsep pengetahuan yang diperolehnya sesuai dengan fenomena, sehingga siswa
dapat menghubungkan fakta dengan teori. Pada tahap ini siswa dibimbing untuk
me-nemukan konsep, selanjutnya pada tahap penerapan konsep (elaboration), siswa
di-latih untuk menerapkan konsep pada situasi baru yang sama tingkatannya atau lebih
tinggi.
Berdasarkan uraian di atas, dengan diterapkannya model LC 3E diharapkan dapat
meningkatkan penguasaan konsep materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
G. Anggapan Dasar
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Tingkat kedalaman dan keluasan materi larutan dan hasil kali kelarutan yang
di-belajarkan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama.
2. Perbedaan n-gain penguasaan konsep materi kelarutan dan hasil kali kelarutan
terjadi karena penggunaan model LC 3Epada kelas eksperimen dan
23
3. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi peningkatan penguasaan konsep di luar
perilaku pada kedua kelas diabaikan
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah model LC 3E efektif untuk meningkatkan
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1
Natar Tahun Ajaran 2018/2019 dengan jumlah 288 siswa yang tersebar dalam
delapan kelas. Sampel dalam penelitian ini yaitu satu kelas sebagai kelas
eks-perimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive
sampling,merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertim-bangan tertentu (Sugiyono, 2016). Pertimpertim-bangan sampel berdasarkan kemampuan
akademik siswa yang relatif sama. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh
guru kimia mengenai karakteristik siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Natar,
diketahui bahwa kelas XI MIA 1 dan XI MIA 4 memiliki kemampuan kognitif
yang hampir sama. Sampel yang dijadikan kelas eksperimen yaitu kelas XI MIA
1 dan kelas XI MIA 4 dijadikan sebagai kelas kontrol.
B. Metode dan Desain Penelitian
Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah quasi experiment yang berbentuk
25
eksperimen dan kelas kontrol. Berikut merupakan gambaran desain penelitian
[image:42.595.113.443.167.254.2]nonequivalent control group design yang disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Desain penelitian
Kelas Penelitian Pretes Perlakuan Postes
Eksperinen O1 X O2
Kontrol O1 C O2
Keterangan:
O1 = kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi pretes (sebelum perlakuan)
X = perlakuan berupa pembelajaran dengan model LC 3E C = perlakuan berupa pembelajaran konvensional
O2 = kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi postes (sesudah perlakuan)
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas, variabel terikat, dan variabel
kontrol. Variabel bebas adalah model pembelajaran yang digunakan yaitu model
LC 3Epada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.
Variabel terikat adalah penguasaan konsep. Variabel kontrolnya adalah materi
kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).
D. Data Penelitian
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data utama dan data
pendu-kung. Data utama berupa data skor pretes dan postes penguasaan konsep pada
materi kelarutan dan hasil kali kelarutan, sedangkan data pendukungnya berupa
26
E. Perangkat dan Instrumen Penelitian
Perangkat pembelajaran dalam penelitian ini antara lain:
a. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b. Pada kelas eksperimen menggunakan 5 LKS yaitu LKS 1 mengenai larutan
jenuh, kelarutan, garam dan basa sukar larut serta hasil kali kelarutan, LKS 2
hubungan kelarutan dan hasil kali kelarutan, LKS 3 pengaruh ion senama
ter-hadap kelarutan, LKS 4 pengaruh pH terter-hadap kelarutan, dan LKS 5
pemben-tukan endapan., sedangkan pada kelas kontrol tidak menggunakan LKS.
Instrumen yang digunakan berupa soal pretes dan postes yang terdiri dari 4 soal
uraian serta lembar observasi aktivitas siswa. Instrumen yang digunakan harus
valid, yaitu yang mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat
mengungkap-kan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Validitas penelitian ini
meng-gunakan validitas isi. Pengujian validitas isi ini dilakukan dengan cara judgment
oleh dosen pembimbing penelitian.
F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Langkah-langkah dalam pelaksanan penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 1.
1. Melakukan observasi di SMA Negeri 1 Natar untuk mendapatkan informasi
untuk menentukan populasi penelitian.
2. Melakukan studi literatur yang sesuai dengan hasil observasi di lapangan.
3. Menyusun perangkat pembelajaran, yaitu silabus, RPP dan LKS.
4. Menyusun instrumen penelitian, yaitu soal pretes-postes penguasaan konsep
27
Keterangan :
[image:44.595.112.537.87.658.2]= Proses penelitian = Hasil
Gambar 1. Alur penelitian
5. Melakukan pretes dengan soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Pretes dilakukan pada pertemuan pertama di luar jam pelajaran. 1. Melakukan observasi
2. Melakukan studi literatur
3. Menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian 4. Validasi instrumen
Persiapan
1. Memperoleh data mengenai siswa, model pembelajaran yang digunakan, dan sarana-prasarana
2. Perangkat pembel-ajaran (silabus, RPP, dan LKS) dan in-strumen penelitian (soal pretes postes dan lembar obser-vasi aktivitas siswa).
Pretes
Kelas eksperimen Kelas Kontrol
Hasil awal
Learning cycle 3E Konvensional
Postes
Analisis
Kesimpulan
28
6. Memberikan perlakuan terhadap kedua kelas penelitian. Kelas eksperimen
dengan model pembelajaran LC 3Esedangkan kelas kontrol dengan
pembelajaran konvensional pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.
7. Memberikan postes dengan soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Postesdilakukan pada pertemuan akhir.
8. Data hasil postes pada kedua sampel akan dianalisis, kemudian dapat diambil
suatu kesimpulan pada penelitian ini.
G. Teknik Analisis Data
Tujuan analisis data untuk menarik suatu kesimpulan yang berkaitan dengan
masalah, tujuan, dan hipotesis.
1. Perhitungan skor rata-rata pretes penguasaan konsep
Setelah diperoleh skor dari masing-masing siswa, selanjutnya menghitung skor
rata-rata pretes dengan menggunakan rumus berikut.
Skor rata-rata pretes = Jumlah skor pretes
Jumlah siswa
2. Perhitungan n-gain
Perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan skor pretes dan postes
dari kedua kelas. Rumus n-gain menurut Meltzer (2002)
n-gain = Skor postes-skor pretes Skor maksimum-skor pretes
3. Perhitungan n-gain rata-rata
Setelah n-gain diperoleh, kemudian menghitung n-gain rata-rata siswa di kelas
29
n-gain rata-rata = Jumlah n-gain seluruh siswa Jumlah seluruh siswa
Hasil perhitungan 𝑛-g𝑎𝑖𝑛 rata-rata kemudian diinterpretasikan sebagai berikut.
a. Jika 𝑛-g𝑎𝑖𝑛 ≥ 0,7 maka berkategori tinggi.
b. Jika 0,3 ≤ 𝑛-g𝑎𝑖𝑛 < 0,7 maka berkategori sedang.
c. Jika 𝑛-g𝑎𝑖𝑛 < 0,3 maka berkategori rendah. (Hake,1998). .
4. Uji Hipotesis
Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji kesamaan dua rata-rata
dan uji perbedaan dua rata-rata. Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan pada
ke-mampuan awal siswa (pretes), sedangkan uji perbedaan dua rata-rata dilakukan
pada n-gain.
Sebelum melakukan pengujian ini, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat, yaitu
uji normalitas dan homogenitas terhadap nilai pretes kedua kelas penelitian untuk
menguji kesamaan dua rata-rata dan n-gain rata-ratakedua kelas penelitian untuk
menguji perbedaan dua rata-rata.
a. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel berasal
dari populasi berdistribusi normal atau tidak, serta untuk menentukan uji
selanjut-nya menggunakan uji statistik parametrik atau non parametrik. Pengujian ini
dila-kukan dengan menggunakan SPSS 23.0. Rumusan hipotesis pada uji ini adalah:
H0: data penelitian berdistribusi normal
30
Kriteria pengujian, terima H0 jika nilai Sig. Kolmogorov-Smirnov >0.05, dalam
hal lain tolak H0. Dengan demikian, data dikatakan memenuhi asumsi normalitas
jika pada Kolmogorov-Smirnov memiliki nilai sig > 0.05.
b. Uji homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel
memiliki varians yang homogen atau tidak. Uji homogenitas yang digunakan
dalam percobaan ini adalah levene statistics test menggunakan SPSS 23.0.
Rumus-an hipotesis pada uji ini adalah sebagai berikut:
H0 : 𝜎12 = 𝜎22 (kedua kelas memiliki varians yang homogen)
H1 : 𝜎12 ≠ 𝜎22 (kedua kelas memiliki varians yang tidak homogen)
Keterangan:
𝜎12 = varians skor kelompok eksperimen
𝜎22 = varians skor kelompok kontrol
Kriteria pengujian, terima H0 jika Fhitung> Ftabel, dengan taraf nyata α 0.05, dalam
hal lain tolak H0.
c. Uji kesamaan dua rata-rata
Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah penguasaan
kon-sep awal siswa sama secara signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas
kontrol. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 23.0.
Hipotesis penguasaan konsep adalah:
H0 : µ1 = µ2 (Skor rata-rata pretes penguasaan konsep kelas eksperimen yang
menggunakan model LC 3Esama dengan skor rata-rata pretes
kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional)
31
menggunakan model LC 3E tidak sama dengan skor rata-rata
pretes kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional).
Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, diperoleh skor pretes
pengu-asaan konsep kelas eksperimen dan kelas kontrol memenuhi kriteria data
ber-distribusi normal dan homogen, maka uji kesamaan dua rata-rata dilakukan
dengan uji statistik parametrik yaitu uji t menggunakan Independent sampel t-test.
Dengan kriteria uji:
Terima H1 jika nilai sig. < 0,05 dan sebaliknya.
d. Uji perbedaan dua rata-rata
Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah n-gain
penguasaan konsep berbeda secara signifikan antara pembelajaran menggunakan
model pembelajaran LC 3E dengan model pembelajaran konvensional. Pengujian ini dilakukan dengan SPSS 23.0.
Hipotesis untuk uji ini adalah:
H0 : µ1 ≤ µ2 (n-gain rata-rata penguasaan konsep siswa pada materi kelarutan
dan hasil kali kelarutan dengan model pembelajaran LC 3Elebih
rendah atau sama dengan n-gain rata-rata penguasaan konsep siswa
dengan pembelajaran konvensional).
H1 : µ1 > µ2 (n-gain rata-rata penguasaan konsep siswa pada materi kelarutan
dan hasil kali kelarutan dengan model pembelajaran LC 3Elebih
tinggi daripada n-gain rata-rata penguasaan konsep siswa dengan
32
Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas, diperoleh n-gain rata-rata
penguasaan konsep kelas eksperimen dan kelas kelas kontrol memenuhi kriteria
data berdistribusi normal dan homogen, maka uji perbedaan dua rata-rata
di-lakukan menggunakan uji statistik parametrik, yaitu uji t menggunakan
Inde-pendent sampel t-test.
Dengan kriteria uji :
V. SIMPULAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, analisis data, dan pembahasan pada penelitian ini,
maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Terdapat perbedaan n-gain rata-ratapenguasaan konsep yang signifikan
antara kelas eksperimen yang menggunakan model LC3Edengan kelas
kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.
2. Model LC3Eefektif untuk meningkatkan penguasaan konsep materi
kelarutan dan hasil kali kelarutan.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dikemukakan saran sebagai
berikut:
1. Model LC3Edapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran bagi
guru dalam membelajarkan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan
2. Bagi calon peneliti lain agar lebih memperhatikan pengelolaan waktu dalam
proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih maksimal dan dapat
DAFTAR PUSTAKA
Al-Tabani, T. (2014). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Prenadamedia Group. Surabaya.
Cholistyana, I. E. (2014). Pengaruh Model Learning Cycle 5ETerhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem Ekskresi. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Dahar, R. W. (1996). Teori-teori Belajar. Erlangga. Jakarta
Dasna, I.W. (2005). Kajian Implementasi Model Siklus Belajar (Learning Cycle) dalam Pembelajaran Kimia. Makalah Seminar Nasional MIPA dan
Pembelajarannya. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas. 5 September 2005
Fajaroh, F., & Dasna I.W. (2007). Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (learning cycle). Universitas Negeri Malang. Malang.
Fatonah, S., & Zuhdan, K. (2014). Pembelajaran Sains. Ombak. Yogyakarta.
Fitriana, E. (2013). Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 3E dalam Meningkatkan Penguasaan Konsep Pada Materi Larutan Non-elektrolit dan Elektrolit. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Fitriani, I. (2012). Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa pada SMPN 19 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/2012. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung
Hake, R. R. (1998). Interactive-Enga-gement Versus Traditional Me-thods, A six Thousand-Student Survey of Mechanics Test Data For Introductory Physics Coures. American Journal of Physics. 66(1): 67-74.
53
Indrawati, W., Suyatno, S., & Yuanita,Y. (2017). Implementasi Model Learning Cycle 7E pada Pembelajaran Kimia dengan Materi Pokok Kelarutn dan Hasil Kali Kelarutan untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA. Jurnal Penelitian Pendidikan Sains. 5(1): 788-794.
Kamdi, W. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif. UNM. Malang.
Klausmeier, H. J., Ghatala, E. S., & Frayer D. A. (1974). Conceptual Learning and Development: a Cognitive View. Academic Press. New York.
Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Refika Aditama. Bandung.
Lawson, A. E. (1988). Three Type of Learning Cycles : A Better way to Teach Science. Paper Presented at The Annual Convention of The National Assosiation for Research in Science Teaching, Lake Ozark. MO.
Meltzer, D. E. (2002). The Relationship between Mathematic Preparation and Conceptual Learning Grains in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostice Pretest Scores. American Journal Physics. 70 (12): 1260.
Nugroho, A., & Irwan, N. (2008). Bertualang di Dunia Kimia. Pustaka Insan Madani. Yogyakarta.
Nunggal, E. (2013). The Enchancement of Inferring Skill and Concept of Mastery in Reaction Rate Material by Learning Cycle 5E Model. Journal of
Chemical Education. 2(1): 13-14.
Nur, A. A. (2014). Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 5E pada Materi Larutan Non-elektrolit dan Elektrolit dalam Meningkatkan Minat dan Penguasaan Konsep Siswa. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Pannen, P., Mustafa, D., & Sekarwinahyu, M. (2001). Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Dikti. Jakarta.
54
Sadi, O., & Cakiroglu, J. (2010). Effect of 5E Learning Cycle on Students’ Human Circulatory System Achievement. Journal of Research in Science Teaching. 40 (8): 757-775.
Sagala, S. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Bandung.
Sani, R. A. (2016). Penilaian Autentik. Bumi Akasara. Jakarta.
Saputra, A. (2012). Model Pembelajaran Problem Solving pada Materi Pokok Kesetimbangan Kimia untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Skripsi. Universitas Lampung. Tidak diterbitkan.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta.
Jakarta.
Soekamto, T., & Udin, S. (2009). Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Ditjen Dikti. Jakarta.
Sudjana. (2005). MetodeStatistika Edisi Keenam. PT. Tarsito. Bandung.
Sudjana, N. (2013). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo. Bandung.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualititatif dan R & D. Alfabeta. Bandung.
Suprijono, A. (2012). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Pustaka Belajar. Yogyakarta.
Suyono, & Hariyanto. (2014). Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep
Dasar. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Thobroni, M., & Mustofa, A. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Ar-Ruzz Media. Yogyakarta.
Tim Penyusun. (2008). Pengembangan Materi Pembelajaran. Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
______ . (2013). Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah
55
Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivisme. Prestasi Pustaka Publisher. Jakarta.
Wena, M. (2010). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer (Suatu Tinjauan Konseptual Operasional). Bumi Aksara. Jakarta.