KAJIAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) AKSEPTOR MKJP YANG TIDAK MEWUJUDKAN NORMA KELUARGA KECIL (NKK)
DI KELURAHAN KELAPA TIGA PERMAI,
KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017
(Skripsi)
Oleh
RAUDATUL JANNAH
Pembimbing I : Dr. Hj. Trisnaningsih, M.Si. Pembimbing II : Drs. Edy Haryono, M.Si. Pembahas : Dra. Hj. Nani Suwarni, M.Si.
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
STUDY OF WOMEN OF CHILDBEARING AGE AS ACCEPTOR OF LONG TERM CONTRACEPTION METHOD WHO DO NOT REALIZE
SMALL FAMILY NORMS IN KELAPA TIGA PERMAI OF TANJUNGKARANG BARAT DISTRICT, BANDAR LAMPUNG 2017
By
Raudatul Jannah
This research aimed to examined women of childbearing age of Long Term Contraception Method acceptors who do not realize Small Family Norms in Kelapa Tiga Permai sub-district.
This research used descriptive qualitative method. Population in this research were 34 women of childbearing age of LTCM acceptors who had more than two children. Sample of this research were 7 women of childbearing age of LTCM acceptor who had more than two children, the sample was obtained by purposive sampling technique. Data was collected used observation, interviewing, questionnaire, and documentation. Data analysis with percentage tables as the basic of analytic description.
Result of the research showed that the factors causing non-existence of Small Family Norms on women of childbearing age of LTCM acceptors : (1) because women of childbearing age started using LTCM after having many children (2) because the seven women of childbearing age of LTCM acceptors have a view to the value of children in having children in the family.
ABSTRAK
KAJIAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) AKSEPTOR MKJP YANG TIDAK MEWUJUDKAN NORMA KELUARGA KECIL (NKK) DI
KELURAHAN KELAPA TIGA PERMAI,
KECAMATAN TANJUNGKARANG BARAT, BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017
Oleh Raudatul Jannah
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wanita pasangan usia subur (PUS) akseptor MKJP yang tidak mewujudkan Norma Keluarga Kecil, titik tekan kajiannya pada faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil pada wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini adalah 34 wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki anak lebih dari dua. Diambil sampel sebanyak 7 wanita PUS secara purposive sampling. Pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, kuisioneir, dan dokumentasi. Analisis data dengan tabel persentase sebagai dasar deskripsi analitik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab tidak terwujudnya NKK pada wanita PUS akseptor MKJP : (1) karena penggunaan MKJP baru dilakukan setelah memiliki anak banyak (2) karena ketujuh wanita PUS akseptor MKJP memiliki pandangan terhadap value of children dalam memiliki anak dalam keluarga.
KAJIAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) AKSEPTOR MKJP YANG TIDAK MEWUJUDKAN NORMA KELUARGA KECIL (NKK) DI
KELURAHAN KELAPA TIGA PERMAI,
KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017
Oleh
RAUDATUL JANNAH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Raudatul Jannah dilahirkan di Kota Bumi, Kabupaten Lampung
Utara pada tanggal 29 September 1992 sebagai anak ketiga dari
tiga bersaudara pasangan Bapak Drs. H. Fardinan Ahmad dan
Ibu Hj. Ismiyati Yusuf.
Pendidikan yang pernah dilalui yaitu pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah
Negeri (MIN) 1 Kota Bumi, Lampung Utara selama satu tahun (1998-1999),
kemudian pindah ke MIN VII Sawah Brebes, Tanjungkarang, setahun kemudian
pindah kembali ke MIN II Sukarame, Bandar Lampung dan tamat pada tahun
2004, kemudian melanjutkan pendidikian menengah pertama di Madrasah
Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Bandar Lampung lalu tamat pada tahun 2007, dan
pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 (Model) Bandar
Lampung, tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010, diterima menjadi mahasiswa
Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung melalui jalur
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Menjadi anggota atau pengurus bidang keputrian pada organisasi kemahasiswaan
Forum Pembangunan dan Pengkajian Islam (FPPI) di Fakultas Keguruan dan Ilmu
MOTO
Tak peduli betapa pun sulitnya sesuatu, saya akan tetap berpikir positif.
Kepada Bapak dan Bunda tersayang.
i
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Identifikasi Masalah ... 7
C. Fokus Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 8
F. Kegunaan Penelitian ... 8
G. Ruang Lingkup Penelitian ... 9
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka ... 10
1. Pengertian Keluarga Berencana ... 10
2. Tujuan dan Sasaran Keluarga Berencana ... 10
3. Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) ... 11
4. Kontrasepsi ... 13
a. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 14
b. Non-Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP) .... 17
5. Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)... 17
6. Jumlah Anak Wanita Pasangan Usia Subur (PUS) ... 18
7. Pandangan Wanita PUS Terhadap Nilai Anak ... 20
B. Penelitian yang Relevan ... 23
C. Kerangka Pikir ... 25
III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian... 27
B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28
ii
2. Sampel ... 28
C. Teknik Pengumpulan Data ... 30
1. Wawancara ... 30
2. Observasi ... 31
3. Dokumentasi ... 31
D. Prosedur Penelitian ... 32
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 33
F. Validitas Penelitian ... 34
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 36
B. Deskripsi Umum Informan ... 41
C. Hasil Penelitian ... 44
1. Karakteristik Informan ... 44
a. Usia Kawin Pertama dan Lama Masa Pernikahan ... 44
b. Jumlah Anak, Jenis Kelamin Anak, dan Jarak Kelahiran Anak ... 46
c. Jumlah Anak yang Diinginkan ... 50
d. Etnis Wanita PUS ... 53
e. Pandangan Wanita PUS Terhadap Nilai Anak ... 54
2. Penggunaan Alat Kontrasepsi Pada Wanita PUS ... 57
a. Penggunaan Alat Kontrasepsi Pertama Kali ... 57
b. Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) 62 D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 70
1. Faktor-faktor Penyebab Tidak Terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK) Pada Wanita PUS Akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 70
2. Gambaran Penggunaan Alat Kontrasepsi Pada Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 74
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 77
B. Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 79
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Jumlah Akseptor KB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan
Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016... 5
2. Penelitian yang Relevan ... 23
3. Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung
Berdasarkan Jenis Kelamin ... 39
4. Jumlah Anak yang Diinginkan Wanita PUS yang Tidak
Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 .. 50
5. Komposisi Jumlah Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK Berdasarkan Etnis di Kelurahan Kelapa Tiga
Permai Tahun 2017 ... 54
6. Pandangan Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK Terhadap Nilai ANak di Kelurahan Kelapa Tiga Permai
Tahun 2017 ... 55
7. Jumlah Wanita PUS Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi yang
Digunakan Pertama Kali ... 57
8. Penggunaan Alat Kontrasepsi Pertama Kali oleh Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan
Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 58
9. Komposisi Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK Berdasarkan Jenis MKJP yang Digunakan Saat Ini di
Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 63
10. Penggunaan MKJP Pada Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Pikir Penelitian, Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP Yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai,
Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandarlampung Tahun 2016 ... 26
2. Peta Administrasi Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan
xxii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Wawancara Penelitian... 74
2. Data Informan ... 76
SANWACANA
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam karena atas rahmat dan
hidayah-Nya dapat terselesaikan skripsi yang berjudul “Kajian Wanita Pasangan Usia Subur
(PUS) Akseptor MKJP dan Non-MKJP yang tidak mewujudkan Norma Keluarga
Kecil di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat,
Bandarlampung Tahun 2017”. Shalawat teriring salam selalu tercurahkan kepada
junjungan Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan umat manusia.
Skripsi ini disusun dalam rangka melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Lampung.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan baik secara
langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui
kesempatan ini pula, diucapkan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Dra. Hj. Nani
Suwarni, M.Si., selaku Pembimbing I sekaligus Pembimbing Akademik, Bapak Drs.
Edy Haryono, M.Si., selaku Pembimbing II, dan Bapak Drs. Budiyono, M.S., selaku
Dosen Pembahas atas arahan dan bimbingannya yang sangat bermanfaat bagi
kecuali doa yang tulus dan ikhlas. Semoga ilmu yang telah diberikan akan menjadi
amal ibadah dan Allah SWT menganugerahkan limpahan rahmat, hidayah, dan
kesehatan lahir dan batin.
Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:
1. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M.Hum. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan beserta jajaran dekanat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan
Kerja Sama, Bapak Drs. Hi. Buchori Asyik, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang
Umum dan Keuangan, Bapak Drs. Supriyadi, M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Lampung.
3. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Lampung.
4. Bapak Drs. I Gede Sugiyanta, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
5. Seluruh staff dan dosen Program Studi Pendidikan Geografi, yang telah mendidik
dan membimbing penulis selama menyelesaikan studi.
6. Bapak, Bunda, dan kakak-kakak tercinta atas doa dan kasih sayang dan dukungan
7. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan
bantuan dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan
tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Bandar Lampung, Desember 2017
Penulis,
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam konteks kependudukan Indonesia, Undang-Undang No. 52 Tahun 2009
Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, telah
diamanatkan bahwa penduduk harus menjadi titik sentral dalam pembangunan
berkelanjutan di Indonesia. Dinamika kependudukan sangatlah luas, meliputi
jumlah, struktur, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, dan
kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial budaya, agama
serta lingkungan penduduk.
Luasnya ranah kependudukan tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh
dimensi kependudukan dalam pembangunan berkelanjutan sebuah negara.
Pembangunan yang tidak lain harus dilakukan oleh penduduk dan untuk
kesejahteraan penduduk pula atau dengan kata lain, subjek dan objek
pembangunan berkelanjutan adalah penduduk itu sendiri. Oleh karenanya,
seluruh dimensi kependudukan harus menjadi titik sentral pembangunan negara.
Sejalan dengan dimensi kependudukan tersebut, telah kita ketahui masih banyak
permasalahan kependudukan yang belum teratasi, diantaranya pertumbuhan
jumlah penduduk dan angka kelahiran yang masih cukup tinggi. Hal tersebut
2
keluarga, meningkatnya angka pengangguran karena bertambahnya angkatan
kerja, termasuk meningkatnya tingkat kriminalitas, dan lain-lain.
Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengontrol laju
pertumbuhan penduduk adalah melalui program Keluarga berencana (KB).
Tujuan umum adanya program KB ialah meningkatkan kesejahteraan ibu dan
anak dalam rangka mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
(NKKBS) dengan dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja untuk
setiap keluarga. Hal ini termaktub dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1992
Pasal 1 Ayat 12 Tentang Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga,
bahwa keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,
pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk
mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera (NKKBS).
Sebagai tujuan program KB, Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)
salah satunya diwujudkan melalui penggunaan metode kontrasepsi. Setiap
pasangan suami istri pasangan usia subur (PUS) bebas memilih metode
kontrasepsi yang akan digunakan. Berdasarkan lama waktu pemakaiannya,
BKKBN (2007: 41) membedakan metode kontrasepsi menjadi dua, yakni :
1. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu alat atau cara kontrasepsi untuk pemakaian dalam jangka waktu lama dan memiliki tingkat efektifitas dan reversibilitas tinggi, praktis, aman, dan ekonomis. Yang termasuk MKJP antara lain IUD, implan, Metode Operasi Pria (MOP), dan Metode Operasi Wanita (MOW).
3
Melalui penggunaan alat kontrasepsi tersebut diharapkan dapat mengatur jumlah
anak yang ideal serta jarak dan usia ideal melahirkan untuk dimiliki setiap
keluarga. Melalui upaya tersebut diharapkan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS), dapat tercapai, yakni setiap keluarga diupayakan memiliki
dua anak cukup, laki-laki atau perempuan sama saja.
Upaya mewujudkan NKKBS tersebut dikuatkan dengan dikuatkan dalam Rencana
Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional tahun
2015-2019 (2015: 5) yang menyebutkan beberapa isu strategis dan permasalahan
pengendalian kuantitas penduduk yang mendapat perhatian khusus yang meliputi :
a. masih tingginya jumlah anak yang diinginkan keluarga, yaitu sekitar 2,7 sampai dengan 2,8 anak (SDKI 2012);
b. penggunaan alat dan obat non-MKJP terus meningkat dari 46,5 % menjadi 47,3 %, sementara MKJP cenderung menurun dari 10.9 % menjadi 10,6 % (SDKI 2012).
c. angka kelahiran remaja perempuan usia 15-19 tahun masih tinggi, yaitu 48 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun dan remaja 15-19 tahun yang telah menjadi ibu dan atau sedang hamil anak pertama meningkat dari 8,5 % menjadi 9,5 % (SDKI 2012);
d. masih banyaknya usia perkawinan muda dengan median usia kawin pertamam perempuan yang rendah, yaitu 20,1 tahun.
Melihat beberapa isu strategis permasalahan pengendalian kuantitas penduduk di
atas, maka diperlukan adanya percepatan penurunan angka kelahiran terutama
pada pasangan usia subur. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, tercantum bahwa dalam upaya
mempercepat pengendalian angka fertilitas melalui penggunaan kontrasepsi, maka
keluarga berencana di Indonesia lebih diarahkan untuk menggunakan Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Metode ini dianggap paling efektif dalam
menekan angka kelahiran penduduk dibandingkan non-MKJP yang risiko
4
Meskipun penggunaan MKJP sangatlah dianjurkan bagi wanita pasangan usia
subur (PUS), tetapi rendahnya tingkat penggunaan MKJP di Indonesia menjadi
salah satu isu nasional permasalahan kependudukan yang telah disebutkan
sebelumnya dalam Renstra BKKBN tahun 2015-2019.
Pengendalian angka kelahiran dan rendahnya tingkat penggunaan MKJP nasional
masih terus menjadi tantangan bagi tiap daerah di Indonesia. Menyadarai
permasalahan-permasalahan tersebut, yang kemudian melatarbelakangi
dilakukannya survei awal terkait pencapaian Norma Keluarga Kecil (NKK) dan
tingkat penggunaan MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung
Karang Barat, Bandar Lampung. Dipilihnya Kelurahan Kelapa Tiga Permai
sebagai lokasi survei dikarenakan kelurahan tersebut merupakan kelurahan baru
sebagai bentuk pemekaran dari Kelurahan Kelapa Tiga pada tahun 2013. Sebagai
kelurahan yang terbilang baru tersebut, maka kiranya perlu diketahui tingkat
penggunaan MKJP terkait dengan pencapaian Norma Keluarga Kecil (NKK) di
kelurahan tersebut.
Melalui survei awal yang telah dilakukan di wilayah kerja Pos Kesehatan
Kelurahan (Poskeskel) Kelurahan Kelapa Tiga Permai, diperoleh informasi bahwa
tingkat penggunaan MKJP pada wanita PUS terbilang rendah dibandingkan
tingkat penggunaan Non-MKJP. Sehubungan dengan hal tersebut, data akseptor
KB berdasarkan jenis alat kontrasepsi yang digunakan di Kelurahan Kelapa Tiga
Permai pada November 2016 ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1 memperlihatkan bahwa jenis kontrasepsi suntik dan pil yang tergolong
5
Kelurahan Kelapa Tiga Permai. Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)
menerangkan bahwa non-MKJP lebih diminati wanita PUS karena harganya yang
lebih murah dan penggunaan yang lebih mudah dibandingkan penggunaan MKJP
yang pemasangannya harus dilakukan oleh bidan atau dokter. Lebih lanjut, PLKB
menjelaskan bahwa meskipun penggunaan MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga
Permai masih terbilang rendah, tetapi jumlah tersebut sudah merupakan hasil
peningkatan sejak awal terbentuknya kelurahan ini, apalagi sejak digulirkannya
program KB implant gratis oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) provinsi Lampung. Sampai saat ini pun pihak PLKB dan
petugas Poskeskel masih terus melakukan konseling dan penyuluhan mengenai
MKJP kepada PUS saat berkunjung ke Poskeskel ataupun saat kegiatan
[image:23.595.112.505.459.628.2]Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Tabel 1. Jumlah Akseptor KB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016
No Jenis Alat Kontrasepsi Jumlah
Akseptor
Persentase (%)
1. MKJP
IUD 49 12,40
Implan 27 6,84
MOW 9 2,28
MOP 34 8,60
2. Non-MKJP
Suntik 135 34,18
Pil 128 32,40
Kondom 13 3,29
Jumlah 395 100,00
Sumber : Data Sekunder PLKB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat Tahun 2016
Selain rendahnya proporsi penggunaan MKJP dibandingkan dengan non-MKJP
tersebut, pihak PLKB pun menjelaskan bahwa pengggunan MKJP di kalangan
6
di atas 30 tahun dan telah memiliki anak lebih dari dua atau anak yang banyak.
Wanita berumur di bawah 30 tahun dan memiliki jumlah anak 1-2 lebih memilih
menggunakan non-MKJP seperti pil dan suntik. Meskipun belum terdapat data
tertulis yang terperinci mengenai hal tersebut, namun demikian hal tersebut dapat
diyakini sebab hal tersebut diperoleh dari pengamatan mayoritas wanita PUS yang
melakukan konseling kepada PLKB dan yang melakukan pemasangan MKJP
seperti implant dan IUD saat mobil unit pelayanan KB datang ke kelurahan.
Hasil keterangan PLKB mengenai penggunaan MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga
Permai yang didominasi oleh wanita PUS yang memiliki jumlah anak lebih dari
dua menimbulkan pertanyaan terkait implementasi penggunaan MKJP dalam
menurunkan angka kelahiran yang sebelumnya telah disebutkan dalam RPJMN
2015-2019. Penggunaan MKJP yang dianggap lebih efektif dalam mempercepat
pengendalian fertilitas seyogyanya juga dapat membantu mewujudkan Norma
Keluarga Kecil (NKK) dengan dua anak cukup, laki-laki maupun perempuan
sama saja.
Sehubungan dengan permasalahan yang telah dijelaskan dalam uraian di atas,
maka dianggap perlu dilakukan penelitian mengenai gambaran penggunaan
kontrasepsi pada wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai
yang memiliki anak lebih dari dua (tidak mewujudkan NKK) dan faktor-faktor
apa yang menyebabkan tidak terwujudnya NKK tersebut. Oleh karena itu
dilakukanlah penelitian yang berjudul“Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP yang
Tidak Mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK) di Kelurahan Kelapa Tiga
7
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
diperoleh identifikasi masalah berikut :
1. Proporsi penggunaan MKJP pada wanita PUS jauh lebih rendah
dibandingkan dengan non-MKJP ;
2. Akseptor MKJP didominasi oleh wanita PUS yang memiliki anak lebih
dari dua;
3. Adanya wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki anak lebih dari dua
mengindikasikan tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK), yakni
dua anak cukup.
C. Fokus Masalah
Agar tidak terdapat kerancuan dalam penelitian nanti, maka masalah akan
difokuskan pada perihal berikut :
1. Wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai yang memiliki
anak lebih dari dua mengindikasikan tidak terwujudnya Norma Keluarga
Kecil (NKK), yakni dua anak cukup.
2. Penggunaan kontrasepsi pada wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki anak
lebih dari dua di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang
Barat, Bandar Lampung tahun 2017;
D. Rumusan Masalah
Sesuai dengan fokus masalah yang telah disebutkan sebelumnya, maka berikut
8
1. Apakah faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil pada
wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan
Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun 2016 ?
2. Bagaimanakah penggunaan kontrasepsi pada wanita PUS akseptor MKJP
yang memiliki jumlah anak lebih dari dua di Kelurahan Kelapa Tiga Permai,
Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun 2016?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor penyebab tidak
terwujudnya Norma Keluarga Kecil pada wanita PUS akseptor MKJP di
Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar
Lampung tahun 2017.
2. Untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan kontrasepsi pada wanita
PUS akseptor MKJP yang memiliki anak lebih dari dua di Kelurahan Kelapa
Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun
2017;
F. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Program Studi
Pendidikan Geografi, FKIP Unila;
2. Sebagai aplikasi teori dan ilmu selama perkuliahan di perguruan tinggi dengan
9
3. Sebagai bahan informasi bagi penelitian sejenis lainnya;
4. Sebagai penambah bahan kepustakaan dan menjadi informasi kependudukan
terkait KB bagi Program Studi Pendidikan Geografi.
Penelitian ini memiliki ruang lingkup sebagai berikut :
1. Objek penelitian ini : tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK) pada
wanita PUS akseptor MKJP.
2. Subjek penelitian : wanita pasangan usia subur (PUS) akseptor MKJP.
3. Tempat dan waktu penelitian : Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan
Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun 2016.
4. Ruang lingkup ilmu : Demografi.
Menurut Philip M. Hauser dan Duddley Duncan (1959) dalam Mantra (2003:
2), demografi mempelajari jumlah, persebaran, territorial dan komposisi
penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang
biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak territorial
(migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status). Penelitian ini masuk dalam
lingkup demografi karena dalam penelitian ini terkait dengan pengendalian
fertilitas penduduk yang berkaitan dengan keluarga berencana melalui upaya
penggunaan metode kontrasepsi dalam rangka mewujudkan Norma Keluarga
Kecil (NKK).
10
II. KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Keluarga Berencana
Menurut Undang-Undang No. 52 Tahun 2009, keluarga berencana adalah upaya
mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan,
melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk
mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Menurut Sulistyawati (2011: 15), keluarga berencana (family planning/planed
parenthood) adalah suatu upaya menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.
Dengan demikian, keluarga berencana merupakan upaya kebijakan pemerintah
bagi setiap keluarga untuk merencanakan jumlah anak dan mengatur jarak
kelahiran dan usia ideal melahirkan guna mewujudkan pembangunan keluarga
berkualitas melalui upaya salah satunya dengan menggunakan alat kontrasepsi.
2. Tujuan dan Sasaran Keluarga Berencana
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 12 Tentang
Perkembangan Penduduk dan Perkembangan Keluarga, keluarga berencana
adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui
11
keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil,
bahagia, dan sejahtera.
Kemudian, dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 juga termaktub bahwa
tujuan KB antara lain:
a. Mengatur kehamilan yang diinginkan;
b. Menjaga kesehatan dan menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak; c. Meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan
pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi;
d. Meningkatkan partisipasi dan kesertaan pria dalam praktek keluarga berencana; dan mempromosikan penyusuan bayi sebagai upaya untuk menjarangkan jarak kehamilan.
Jika menilik pada kedua Undang-Undang tersebut, maka pada dasarnya tujuan
Keluarga Berencana (KB) ialah mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan
sejahtera melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran melalui
peningkatan akses informasi konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi,
pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Tujuan
KB inilah yang kemudian lebih lanjut dikenal sebagai Norma Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera (NKKBS).
Sasaran program KB menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 antara lain:
a. Pasangan Usia Subur (PUS), yaitu pasangan suami istri yang hidup bersama dalam satu rumah atau tidak, dimana istri berumur antara 15-49 tahun.
b. Yang tidak termasuk pasangan usia subur, yaitu semua anggota masyarakat selain dari pasangan usia subur, pemudi-pemudi yang belum menikah, pasangan di atas usia 45 tahun, orang tua dan tokoh masyarakat. c. Sasaran institusional, yaitu organisasi-organisasi dan lembaga masyarakat
baik pemerintah maupun swasta.
d. Wilayah yang kurang pencapaian target KB-nya.
3. Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)
12
merupakan tujuan utama Keluarga Berencana (KB). BKKBN (1998: 12)
menyebutkan pelembagaan dan pembudayaan NKKBS di masyarakat terdiri dari
beberapa norma, yaitu :
1. Norma jumlah anak yang sebaiknya dimiliki 2 (dua) anak; 2. Norma jenis kelamin anak, laki-laki atau perempuan sama saja;
3. Norma saat yang tepat seorang wanita untuk melahirkan, umur 20-30 tahun;
4. Norma pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan; 5. Norma usia yang tepat untuk mencegah kehamilan;
6. Norma usia yang tepat untuk menikah, untuk wanita, 20 tahun; 7. Norma menyusui anaknya sampai umur 2 tahun.
Pembudayaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera dalam masayarakat
sangat berkaitan dengan kenyataan bahwa nampaknya masyarakat Indonesia yang
memiliki keanekaragaman suku, etnis, budaya, dan adat sitiadat yang berbeda
akan tidak sama pandangannya dalam mewujudkan norma keluarga kecil bahagia
sejahtera, terutama terhadap norma “dua anak cukup”, serta laki-laki dan
perempuan sama saja. Pada masa lalu misalnya, terdapat pandangantradisional
yang sangat terkenal dalam masyarakat yakni pandangan masyarakat “banyak
anak banyak rezeki”, namun sekarang banyak masyarakat yang mengganti
pendapat tersebut menjadi bahwa banyak anak banyak susah.
Dikutip dari Budiyono (2010: 8) bahwa San S. Hutabarat (1976) mengemukakan
bahwa masih dipedomaninya nilai kehadiran/kelahiran anak dalam suatu keluarga
yang diikat oleh tali perkawinan yang sah, ternyata keinginan memiliki anak dan
sejumlah anak oleh setiap keluarga etnis, masih dilandasi dan dipedomani
pandangan tertentu, seperti ; adat budaya masyarakat, segi sosial dan ekonomi,
agama yang selama ini diwarisi oleh leluhurnya, berdasarkan atas alas an
masing-masing yang sangat kuat dan direalisasikan dala kehidupan sehari-hari keluarga
13
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Fazidah (2003: 5) bahwa dalam
perjalanannya, penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)
mengalami beberapa hambatan, antara lain :
a. Alasan Agama
Bagi para pemeluk agama merencanakan jumlah anak adalah menyalahi kehendak Tuhan. Kita tidak boleh mendahului kehendak Tuhan apalagi mencegah kelahiran anak dengan menggunakan alat kontrasepsi supaya tidak hamil. Langkah utama untuk mengatasi hal ini adalah menemui tokoh-tokoh atau ulama dari agama tersebut untuk menjelaskan bahwa merencanakan keluarga untuk membantu keluarga kecil adalah tidak bertentangan dengan Agama.
b. Sosial Ekonomi
Anak dipandang sebagai tenaga kerja yang dapat membantu meningkatkan ekonomi keluarga sehingga mempunyai banyak anak akan banyak tambahan pendapatan yang akan diperoleh. Hal ini memang suatu kenyataan dan benar, tetapi belum diperkirakan nasib anak itu sendiri apakah anak itu memang bisa diharapkan pendidikannya dan masa depannya. Kalau hal ini dipertimbangkan, mempunyai banyak anak malah menjadi beban.
c. Adat lstiadat
Adat kebiasaan atan adat dari suatu masyarakat yang memberikan nilai anak laki-laki lebih dari anak perempuan atau sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan satu keluarga mempunyai banyak anak. Bagaimana kalau keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki atau perempuan tidak terpenuhi mungkin akan menceraikan istrinya dan kawin lagi agar terpenuhi keinginan memiliki anak laki-laki ataupun anak perempuan. Disini norma adat istiadat perlu diluruskan karena tidak banyak menguntungkan bahkan banyak bertentangan dengan kemanusiaan.
4. Kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan istilah yang tidak pernah terlepaskan dalam keluarga
berencana. Keluarga berencana sebagai usaha untuk mengatur jumlah anak dan
jarak anak yang dilahirkan memerlukan suatu cara untuk mencapai hal tersebut
dan inilah yang disebut metode kontrasepsi. Hal ini seusai dengan apa yang
dikemukakan oleh Sulistyawati (2011: 13) :
14
(tetap).Kontrasepsi yang reversibel adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat. Metode kontrasepsi permanen adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan karena melibatkan tindakan operasi.
Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa kontrasepsi yang dimaksud merupakan
upaya pencegahan sperma laki-laki membuahi sel telur wanita untuk berkembang
di dalam rahim. Hal tersebut dapat dilakukan dengan metode konrasepsi
reversibel, yaitu kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat dan metode
kontrasepsi permanen, yaitu kontrasespsi yang tidak dapat mengembalikan
kesuburan karena melibatkan tindakan operasi.
Kontrasepsi merupakan alat pelayanan kesehatan reproduksi dalam program
keluarga berencana dan pemilihan jenis kontrasepsi merupakan hak setiap
individu. Menurut Hartanto (2004: 30), “pelayanan kontrasepsi mempunyai dua
tujuan, yaitu dihayatinya NKKBS dan penurunan angka kelahiran yang
bermakna”.
Berdasarkan lama waktu pemakaiannya, BKKBN (2007: 41) membedakan
metode kontrasepsi menjadi dua, yakni :
1. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu alat atau cara kontrasepsi untuk pemakaian dalam jangka waktu lama dan memiliki tingkat efektifitas dan reversibilitas tinggi, praktis, aman, dan ekonomis. 2. Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP) yaitu kontrasepsi
yang digunakan dalam jangka waktu pendek dan harus diulang.
Berikut merupakan uraian lebih lanjut mengenai pembagian jenis alat kontrasepsi
berdasarkan lama pemakaiannya:
a. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Menurut definisi dari BKKBN di atas, bahwa yang dimaksud dengan MKJP
15
waktu yang lama, efektivitas dalam mencegah terjadinya kehamilan tinggi, praktis
karena hanya sekali pasang. Alat-alat kontrasepsi yang termasuk MKJP, yaitu:
1). Internal Uterine Device (IUD)
Menurut BKKBN (2014: 13), Internal Uterine Device (IUD) adalah :
alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim dengan menjepit kedua saluran yang menghasilkan indung telur sehingga tidak terjadi pembuahan, terdiri atas bahan plastik polietilena, ada yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak.
Keuntungan :
- Efektivitas tinggi, 99,2-99,4 % (0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama.
- Tidak mempengaruhi ASI dan dapat dipasang segera setelah melahirkan (dalam 48 jam/setelah 4 minggu melahirkan)
- Dapat efektif segera setelah pemasangan dan bisa dicabut kapan saja. - Tidak ada efek samping hormonal.
Dengan demikian, IUD merupakan alat kontrasepsi jangka panjang dengan
efektivitas tinggi, yang dipasang di dalam rahim guna mencegah terjadinya
pembuahan antara sperma laki-laki dan sel telur wanita.
2). Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) atau Implan
Menurut Irianto (2012: 38), AKBK atau implan ialah alat kontrasepsi berbentuk
kapsul sintetik berisi hormon jenis progestin sintetik yang ditanamkan di bawah
kulit atau alat kontrasepsi bagi wanita yang dipasang di bawah kulit lengan bagian
atas yang terdiri atas 6 kapsul berukuran kira-kira 3 cm berisi zat levonorgestrel.
Sulistyawati (2011: 81) menyebutkan bahwa implan merupakan kontrasepsi yang
sangat efektif, yakni 0,2 – 1 kehamilan per 100 perempuan. Cara kerja implan
ialah menekan ovulasi dan mengurangi transportasi sperma.
Dengan demikian, implan merupakan alat kontrasepsi sintetik yang dipasang di
16
mencegah perjalanan (transportasi) sperma laki-laki agar tidak bertemu dengan sel
telur wanita, sehingga tidak akan terjadi pembuahan di dalam rahim.
3). Kontrasepsi Mantap (Kontap)
Metode terakhir yang termasuk kontrasepsi jangka panjang ialah kontrasepsi
mantap. Kontrasepsi mantap terbagi menjadi 2 metode, yakni tubektomi atau
metode operasi wanita (MOW) dan vasektomi atau metode operasi pria (MOP).
a). Metode Operasi Wanita (MOW) atau Tubektomi
BKKBN (2014: 13) menjelaskan bahwa Metode Operasi Wanita (MOW) atau
tubektomi adalah:
metode kontrasepsi mantap yang bersifat sukarela bagi seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara menonklusi tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum. Efektivitas MOW sangat tinggi, yakni 99,5 % (0,5 kehamilan/100 perempuan selama tahun pertama penggunaan, tidak mempengaruhi proses menyusui, baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang serius, tidak ada efek samping dalam jangka panjang,tidak mengurangi fungsi seksual, serta berkurangnya risiko kanker ovarium.
Terkait uraian di atas, menurut Nina dan Mega (2013: 121), “tuba fallopi adalah struktur berbentuk pipa yang menjadi jalur perjalanan telur setelah dilepaskan
dari indung telur (ovarium). Setiap wanita memiliki tuba fallopi sepasang, dua
ujungnya melekat di sisi uterus dan dua lainnya terbuka di abdomen.”
Jadi, MOW atau tubektomi ialah metode kontrasepsi bagi wanita yang
benar-benar tidak ingin hamil lagi yang dilakukan melalui jalan operasi dengan
mengikat, memotong, atau memasang cincin pada saluran telur wanita agar
sperma tidak bertemu dengan sel telur, sehingga tidak akan terjadi
17
b). Metode Operasi Pria (MOP) atau Vasektomi
Menurut BKKBN (2014: 14), Metode Operasi Pria (MOP) atau yang juga disebut
vasektomi adalah :
prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan cara mengonklusi vas deferens sehingga alur trasportasi sperma terhambat dari proses fertilisasi. Efektivitas MOP mencapai 99,6-99,8 %, sangat aman (tidak ditemukan efek samping jangka panjang), morbiditas dan mortalitas jarang, hanya sekali aplikasi dan efektif dalam jangka panjang, serta tinggi tingkat rasio efisiensi biaya dari lamanya penggunaan kontrasepsi.
Tidak berbeda dengan tubektomi yang diperuntukkan bagi wanita, vasektomi yang diperuntukkan bagi laki-laki merupakan metode kontrasepsi bagi laki-laki yang benar-benar tidak ingin memiliki anak lagi yang dilakukan melalui jalan operasi dengan mengikat atau memotong saluran sperma laki-laki (vas deferens), agar sperma tidak keluar dan bertemu dengan sel telur, sehingga tidak akan terjadi pembuahan/kehamilan.
b. Non-Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP)
Berlawanan dengan MKJP, maka menurut definisi dari BKKBN sebelumnya,
bahwa yang dimaksud dengan Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
(Non-MKJP) adalah jenis alat-alat kontrasepsi yang pemakaiannya hanya berlangsung
dalam waktu singkat sehingga harus dipakai berulang-ulang. Alat-alat kontrasepsi
yang termasuk Non-MKJP, yaitu: kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain
selain metode yang termasuk dalam MKJP.
5. Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)
Menurut BKKBN (1999: 26), pasangan usia subur yaitu pasangan yang istrinya
berumur 15 sampai 49 tahun atau pasangan suami-istri berumur kurang dari 15
tahun dan sudah haid atau istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid
18
Berdasarkan definisi tersebut, maka yang dimaksud wanita pasangan usia subur
(PUS) adalah wanita yang telah berumah tangga dan masih mampu melakukan
fungsi reproduksi (menghasilkan keturunan) dengan rentang usia 15-49 tahun,
atau berusia kurang dari 15 tahun namun sudah haid atau telah berusia lebih dari
50 tahun namun masih haid (belum menopause).
6. Jumlah Anak Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)
Dalam Survei Demografi Kesehatan Indonesia atau SDKI (2012: 26) dijelaskan
bahwa banyaknya jumlah anak yang dimiliki pasangan usia subur sangat berkaitan
dengan faktor-faktor fertilitas yang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut.
a. Usia Kawin Pertama Wanita PUS
Wanita diciptakan dengan memiliki masa fertilitas (kesuburan), sehingga mampu
untuk bereproduksi yang kemudian akan berpengaruh pada kemampuan
melahirkan. Artinya, banyak sedikitnya anak yang dilahirkan seorang wanita
akan sangat berhubungan dengan usia wanita usia subur tersebut saat
melangsungkan perkawinan pertamanya. Asumsinya, semakin muda seorang
wanita melakukan perkawinan pertamanya, maka kemungkinan jumlah anak yang
akan dimiliki pun akan semakin tinggi, sebaliknya semakin dewasa seorang
wanita melangsungkan perkawinan pertamanya maka kemungkinan jumlah anak
yang dimiliki pun akan semakin sedikit. Hal tersebut dikarenakan, karena
semakin tua usia wanita, maka masa reproduksinya pun akan semakin singkat
samapai mencapai masa menopause.
b. Lama Status Perkawinan Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)
19
garis keturunan juga sebagai penyeimbang kebutuhan biologis, psikologis, dan
sosial. Dalam Undang-Undang Tentang Perkawinan Pasal 1 disebutkan bahwa
perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dikutip oleh McDonald.dkk dalam Lucas (1990: 81) menyebutkan bahwa:
banyak ahli demografi tertarik untuk mengukur distribusi umur pada waktu memasuki ikatan seksual, atau dengan istilah perkawinan, usia konsumsi perkawinan (hubungan kelamin yang pertama kali dilakukan setelah menikah). Bila konsumsi itu terjadi segera setelah menikah (biasanya memang demikian), maka usia kawin dianggap sama dengan usia memasuki suatu ikatan perkawinan atau ikatan seksual. Namun demikian, dalam beberapa masyarakatterutama di Asia pada waktu lampau, seorang gadis dikawinkan beberapa tahun sebelum cukup umurnya. Biasanya konsumsi perkawinan ditunda selama beberapa tahun karena gadis itu masih kanak-kanak dan secara seksual belum dewasa.
Berdasarkan kutipan penjelasan tersebut, jika berbicara mengenai usia kawin
dapat dipahami bahwa terdapat dua hal, yakni perkawinan dan ikatan perkawinan.
Perkawinan adalah sebuah ikatan seksual, sedangkan ikatan perkawinan mengacu
pada status sah dari hubungan perkawinan atau disebut pernikahan, baik secara
hukum maupun agama. Oleh karena itu, perkawinan biasanya dilakukan sejak
awal ikatan perkawinan (pernikahan), maka lama status perkawinan wanita
pasangan usia subur kiranya dapat kita hitung sejak awal ikatan perkawinan
(pernikahan) itu dilakukan. Artinya, secara logika, semakin muda seorang wanita
usia subur melakukan sebuah ikatan perkawinan, ia akan memiliki kesempatan
untuk memiliki jumlah anak semakin banyak sampai masa menopause-nya.
Sebaliknya, semakin dewasa seorang wanita subur melakukan ikatan perkawinan,
20
hal ini tentu tetap memperhatikan segi usia kawin pertamanya dan fertilitas
(tingkat kesuburan) yang dimiliki wanita pasangan usia subur tersebut.
c. Jumlah Anak yang Diinginkan Wanita PUS
Keinginan keluarga untuk memiliki anak berkaitan dengan padangan
masing-masing keluarga tentang nilai anak. Semakin tinggi tanggung jawab keluarga
terhadap nilai anak maka semakintinggi pula dorongan keluarga untuk
merencanakan jumlah anak ideal (BKKBN, 2007: 4). Dilihat dari keterangan
tersebut, maka jumlah anak yang diinginkan setiap pasangan usia subur dapat
diketahui berdasarkan persepsi atau pandangan mereka terhadap nilai anak.
Dorongan setiap keluarga dalam merencanakan jumlah anak ideal sangat
ditentukan oleh persepsi terhadap nilai anak yang mereka miliki, sehingga jumlah
anak ideal bagi setiap keluarga bisa jadi akan berbeda pula.
Jumlah anak yang diinginkan dikategorikan berdasarkan jumlah anak lahir hidup
yang mendasari besar keluarga. Menurut kebijakan NKKBS (Norma Keluarga
Kecil Bahagia Sejahtera) dalam BKKBN (2009: 25), banyak anak yang dilahirkan
dikelompokkan menjadi dua, yaitu sedikit jika suatu keluarga memiliki anak sama
dengan atau kurang dari dua (≤2) dan banyak jika anak lebih dari dua (>2).
7. Pandangan Wanita PUS Terhadap Nilai Anak
Kelahiran anak dalam sebuah ikatan pernikahan tentulah sangat dinanti-nantikan.
Dalam memandang kelahiran anak tersebut, setiap keluarga tentunya memiliki
pandangan masing-masing terkait hal tersebut. Pandangan terhadap kehadiran
21
Setiap pasangan suami istri dalam memutuskan untuk memiliki anak dan jumlah
anak yang diinginkan ditentukan oleh pandangan terhadap nilai anak. Pada
masyarakat Indonesia, nilai anak lebih dinilai berkaitan dengan nilai budaya
pasangan suami istri yang bersangkutan. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa
masyarakat Indonesia memiliki keanekaragaman suku, etnis, dan adat budaya
yang berbeda. Biasanya setiap suku atau etnis memiliki aturan atau tatanan
budaya yang berbeda-beda dan tatanan budaya tersebut akan diwariskan secara
turun-temurun guna menjaga kelangsungan budaya suku atau etnis tersebut. Oleh
karena itu, dengan aturan dan tatanan budaya yang berbeda, maka berbicara
mengenai keturunan , pandangan terhadap nilai anak akan berbeda dalam berbagai
budaya. Singkatnya, anak merupakan sumber kebahagiaan dan sumber daya yang
berharga sebagai perwujudan di masa depan bagi setiap suku bangsa.
Menurut San S. Hutabarat (1976: 274), tiap suku bangsa mempunyai value of
children sendiri-sendiri, misalnya anak sebagai penerus sejarah, anak sebagai tenaga kerja, anak sebagai jaminan sosial di hari tua, banyak anak banayk rezeki,
anak adalah karunia Tuhan yang tidak dapat ditolak, dan anak sebagai ikatan
perkawinan. Artinya, setiap keluarga dalam setiap suku atau etnis memiliki nilai
dan arti tersendiri terhadap kelahiran anak. Lebih lanjut, pandangan terhadap nilai
anak bagi keluarga yang kini masih menjadi pedoman dan tradisi kehidupan
menurut Budiyono (2010: 3) antara lain:
1. Suatu perkawinan harus mempunyai anak (anak sebagai ikatan perkawinan); Kelahiran anak merupakan bukti ikatan perkawinan yang nantinya akan dapat memberikan ketenteraman dan kebahagiaan dalam pernikahan. Biasanya ketidakhadiran anak dalam pernikahan dapat menimbulkan perselisihan antara suami dan istri yang dapat berujung pada perceraian;
22
Sebagai seorang yang beragama tentu akan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan,sehingga kelahiran anak dalam keluarga, semuanya merupakan kehendak Tuhan yang tak dapat ditolak oleh manusia. 3. Anak sebagai jaminan hidup di hari tua;
Pandangan tersebut menekankan bahwa memiliki anak, apalagi jumlah anaknya banyak diharapkan di masa tua nanti kehidupan orang tuanya tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari kebutuhan pangan guna kelangsungan hidup.
4. Mempunyai anak dapat membantu pekerjaan orang tua;
Manusia pada masa lampau penghidupannya sangat tergantung pada luas lahan pertanian yang diolah, pekerjaannya berat, butuh tenaga banyak dan waktu lama untuk mengolahnya. Oleh karena itu, memperbanyak jumlah anak akan membantu meringankan pekerjaan orang tuanya tersebut.
5. Anak sebagai penerus nama dan sejarah orang tua;
Dengan memiliki anak diharapkan nantinya akan menjadi pelanjut keturunan dan nama suatu keluarga, sebagai penerus sejarah atas nama keluarga.
6. Anak sebagai pewaris harta orang tua;
Anak nantinya akan mewarisi harta kekayaan prang tuanya. Pewarisan harta kepada anak merupakan adat budaya turun-temurun sebagai tanda tanggung jawab orang tua terhadap anak yang nantinya warisan tersebut dapat menjadi sumber penghidupan dan modal untuk meningkatkan kehidupannya di masa depan.
7. Memiliki anak sebagai kepuasan batin;
Pandangan tersebut dapat dicontohkan bahwa sudah memiliki anak perempuan harus punya anak laki-laki, begitupun sebaliknya.
8. Banyak anak, banyak rezeki;
9. Memiliki berapapun jumlah anak, Tuhan akan menjaminnya; 10. Kelahiran anak lagi, semua terserah kuasa Tuhan.
Berdasarkan beberapa pandangan terhadap nilai anak tersebut, terlihat bahwa
pandangan terhadap nilai anak dalam keluarga berkaitan dengan segi sosial
budaya, ekonomi, dan agama. Dari segi sosial budaya, anak merupakan bukti
ikatan perkawinan, anak sebagai penerus nama/sejarah keluarga, anak sebagai
kepuasan batin. Dilihat dari segi ekonomi, anak dapat bernilai sebagi pewaris
harta orang tua, anak sebagai jaminan di hari tua, anak dapat membantu pekerjaan
orang tua, serta banyak anak banyak rezeki. Dilihat dari segi agama, anak dapar
bernilai seperti : anak sebagai karunia Tuhan yang tidak dapat ditolak, berapapun
jumlah anak maka Tuhan pasti akan menjaminnya, dan kelahiran anak lagi dalam
23
[image:41.842.90.777.167.506.2]B. Penelitian yang Relevan Tabel 2. Penelitian yang Relevan.
No Penulis Judul Metode Variabel yang
Diteliti Hasil
1. Sa’roni Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Program Keluarga Berencana (KB) Guna Mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) Di Desa Sendangwaru, Kecamatan Kragan, Kabupaten Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data dalam penelitian inimenggunakan teknik triangulasi bersifat deskriptif analisis yang digunakan 4 tahap antara lain (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan atau verifikasi data.
Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam program KB dalam mewujudkan NKKBS.
Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam Pelaksanaan Program KB guna Mewujudkan NKKBS adalah (a) faktor pendukung, yaitu kesadaran diri dari masyarakat, mendukung dan berpartisipasi dalam
pelaksanaan program KB, (b) faktor penghambat yaitu adanya beberapa masyarakat yang belum melaksanakan program KB, rendanhnya
masyarakat pria yang ikut ber-KB, tenaga medis yang melayani masyarakat untuk berKB masih kurang, dan kurang informasi tentang
24
2. Yunita Miftahul Masita Rebang Hak Reproduksi Pengaturan Jumlah Anak dan Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Karyawati Akademi Kebidanan Bina Husada Jember Tahun 2015 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Teknik analisis data : model interaktif Miles and Hubberman.
Hak reproduksi dalam pengaturan jumlah anak dan pemilihan alat kontrasepsi.
25
C. Kerangka Pikir
Keluarga Berencana merupakan program pemerintah sebagai upaya peningkatan
kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan,
pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga dengan tujuan untuk mewujudkan Norma Keluarga Kecil, Bahagia,
Sejahtera (NKKBS), yakni dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja.
Perwujudan Norma Keluarga Kecil (NKK) membantu mengendalikan kelahiran
penduduk sekaligus dapat mengendalikan pertambahan penduduk.
Terkait dengan norma dua anak cukup, pada dasarnya setiap pasangan suami istri
tentunya bebas dalam menentukan jumlah anak yang ingin dimiliki. Namun
demikian, perencanaan jumlah anak tetap diarahkan pada perwujudan Norma
Kelurga Kecil (NKK), yakni dua anak cukup. Salah satu upaya yang digunakan
dalam mewujudkan NKK ialah melalui penggunaan alat kontrasepsi.
Pemerintah melalui RPJMN 2015-2019 lebih mengarahkan penggunaan MKJP
guna mempercepat penurunan angka kelahiran penduduk. MKJP dikatakan lebih
efektif dibandingkan dengan Non-MKJP. Akan tetapi, apa yang terjadi di
Kelurahan Kelapa Tiga Permai memperlihatkan terdapatnya wanita PUS akseptor
MKJP yang justru memiliki jumlah anak lebih dari dua, dengan kata lain tidak
mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK).
Tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK) pada wanita PUS akseptor
MKJP tersebut dapat dimungkinkan karena beberapa faktor seperti: penggunaan
MKJP pada wanita PUS, etnis budaya wanita PUS, jumlah anak yang diinginkan
26
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini akan mengkaji faktor individu
wanita PUS akseptor MKJP yang meliputi : suku, jumlah anak yang diinginkan
wanita PUS, etnis wanita PUS, dan pandangan PUS terhadap nilai anak. Selain
itu, akan dikaji pula gambaran penggunaan alat kontrasepsi pada wanita PUS
akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, yang akan meliputi
penggunaan alat kontrasepsi (alkon) pertama kali dan penggunaan alat kontrasepsi
saat ini.. Dengan mengkaji aspek-aspek tersebut diharapkan dapat mengetahui
faktor-faktor penyebab wanita PUS akseptor MKJP tersebut tidak mewujudkan
[image:44.595.114.508.343.682.2]Norma Keluarga Kecil (NKK).
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian, Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan
Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016 Penggunaan Alkon Pada
Wanita PUS Akseptor MKJP - Penggunaan alkon pertama
kali
- Penggunaan alkon saat ini (MKJP)
Faktor Individu Wanita PUS Akseptor MKJP - Etnis budaya wanita PUS - Jumlah anak yang
diinginkan
- Pandangan wanita PUS terhadap nilai anak
Perwujudan Norma Keluarga Kecil
27
III. METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif guna
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait permasalahan dalam
penelitian ini. Metode ini dianggap cocok dengan rumusan masalah atau
pertanyaan penelitian yang ingin dipecahkan/dijawab, tujuan penelitian, teknik
pengumpulan data dan jenis data yang akan dikumpulkan, serta kondisi informan
dalam penelitian ini.
Seperti yang telah diketahui, penelitian ini mengangkat topik mengenai wanita
pasangan usia subur (PUS) akseptor MKJP yang tidak mewujudkan norma
Keluarga Kecil (NKK), sehingga banyak berfokus pada masalah persepsi dan
sikap seseorang, maka jenis penelitian yang dianggap cocok ialah penelitian
kualitatif. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2008: 4) mengartikan metodologi
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Penelitian kualitatif bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian misalnya perilaku persepsi, motivasi, tindakan, dan
lain-lain.
Melalui penelitian kualitatif ini, diharapkan dapat mempermudah pengembangan
temuan-28
temuan lain terkait dengan objek penelitan, maka hal tersebut justru sangat
diharapkan, sehingga hasil penelitian yang diperoleh dapat menggambarkan
penyebab permasalahan secara lebih mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti
berkedudukan sebagai instrumen penelitian baik sebagai perencana, pelaksana
pengumpulan data, penganalisis data, sampai pelapor hasil penelitiannya.
B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Menurut Arikunto (2010: 130), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Berdasarkan definisi tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan NKK (memiliki anak
banyak) yang berjumlah 34 orang wanita yang tersebar di dua lingkungan di
Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar
Lampung tahun 2016.
Untuk lebih jelas, berikut merupakan data populasi dalam penelitian ini:
Tabel. Jumlah Wanita PUS Akseptor MKJP yang tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai
No. Lingkungan Jumlah (jiwa) Presentase (%)
1. I 16 47,06
2. II 18 52,94
Jumlah 34 100,00
Sumber : Hasil penelitian, tahun 2016
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini merupakan subjek yang akan diteliti atau informan
29
rumusan permasalahan penelitian. Sampel dalam penilitian ini adalah 7 (tujuh)
orang wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan NKK (memiliki anak
banyak). Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
nonprobability sampling, yaitu dengan menggunakan strategi purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010: 218), purposive sampling adalah teknik pengambilan
sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
Pemilihan purposive sampling dalam penarikan sampel mempertimbangkan
beberapa alasan. Pertama, sampel bagi metode kualitatif sifatnya purposive artinya sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Raco (2010: 138)
menyatakan, sampel metode kualitatif tidak menekankan pada jumlah atau
keterwakilan, tetapi lebih kepada kualitas informasi, kredibilitas, dan kekayaan
informasi yang dimiliki oleh informan atau partisipan. Kedua, dengan jumlah sampel yang kecil, data yang akan dikumpulkan pun akan lebih mendalam,
sehingga dapat mengatasi kendala waktu yang dialami selama proses penelitian.
Dalam pelaksanaannya, setelah menggunakan teknik purposive sampling dalam
menentukan kriteria informan sesuai tujuan dan data yang ingin diperoleh,
kemudian dengan bantuan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)
dilakukan penunjukan calon informan selanjutnya yang memiliki kriteria atau
spesifikasi yang sesuai dengan kriteria informan yang telah ditentukan.
Selanjutnya, barulah satu persatu informan ditemui secara bergulir guna
mengumpulkan data penelitian yang ingin diperoleh, baik melalui kuisioner
30
Merujuk pada beberapa permasalahan yang telah dikemukakan pada Bab
Pendahuluan dan dengan menggunakan teknik purposive sampling, maka sampel
penelitian yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah wanita PUS
di Kelurahan Kelapa Tiga Permai dengan kriteria sebagai berikut:
a. Subjek sedang menggunakan salah satu jenis alat kontrasepsi MKJP (IUD,
implant, atau MOW);
b. Subjek memiliki jumlah anak lebih dari dua (anak banyak).
c. Saat survei dilakukan, subjek merupakan warga tetap di Kelurahan Kelapa
Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.
d. Selain mengandalkan informasi dari informan utama, yakni wanita PUS
akseptor MKJP tersebut, terdapat pula informan lain, yakni 2 (dua) PLKB di
Kelurahan Kelapa Tiga Permai yang akan menjadi informan dalam triangulasi
sumber guna menguji keabsahan data dalam penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui 3 teknik, yaitu :
wawancara mendalam (depth interview), observasi, dan dokumentasi.
1. Wawancara
Moleong (2008: 186) mengemukakan bahwa wawancara adalah percakapan
dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara
(interviewise) yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Dalam
penelitian ini akan menggunakan jenis wawancara semi terstruktur. Menurut
31
wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka
dan pihak yang diajak wawancara dimintai pendapatnya. Dalam melakukan
wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang
dikemukakan informan.
2. Observasi
Pengumpulan data dalam penelitian ini didukung pula dengan teknik observasi.
Dalam tradisi kualitatif, Raco (2010: 111) menjelaskan, proses observasi dimulai
dengan mengidentifikasi tempat yang hendak diteliti, sehingga diperoleh
gambaran umum tentang sasaran penelitian. Kemudian, peneliti mengidentifikasi
siapa yang akan diteliti, kapan, berapa lama, dan bagaimana. Dalam penelitian
ini, yang menjadi sasaran observasi ialah wanita PUS aksepor MKJP yang
memiliki anak lebih dari dua dengan lokasi atau wilayah penelitian di Kelurahan
Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung pada
tahun 2016.
3. Dokumentasi
Dokumentasi menurut Arikunto (2010: 158) adalah metode untuk mencari data
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, dan sebagainya. Dokumentasi dilakukan dengan cara
mengumpulkan dan mempelajari bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan
masalah penelitian.
Dalam penelitian ini, teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data
rincian jumlah akseptor KB berdasarkan jenis kontrasepsi di Kelurahan Kelapa
32
D. Prosedur Penelitian
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan.
Tahapan-tahapan tersebut, meliputi:
1. Pengajuan surat permohonan izin penelitian kepada institusi (Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Lampung);
2. Mengajukan surat izin dari institusi kepada Lurah Kelurahan Kelapa Tiga
Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.
3. Melakukan diskusi dengan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)
yang bertugas di Kelurahan Kelapa Tiga Permai. Topik yang didiskusikan
meliputi:
a) latar belakang, rencana, dan tujuan penelitian;
b) gambaran penggunaan metode kontrasepsi di kalangan wanita PUS;
c) rancangan kerja penelitian.
4. Melakukan pemilihan informan. Informan akan dipilih dengan tekni stratified
purposive sampling, dimana seluruh informan awal akan ditunjuk dengan bantuan PLKB berdasarkan kriteria/spesifikasi informan yang telah
ditentukan.
5. Menghubungi atau melakukan kontak kepada informan yang telah dipilih
untuk menjelaskan tujuan penelitian dan menanyakan tentang
kesiapan/kesediaannya untuk menjadi informan penelitian, sekaligus membuat
janji untuk melakukan wawancara mendalam.
6. Melaksanakan wawancara dan observasi sesuai dengan waktu yang telah
33
di rumah masing-masing informan, sekaligus melakukan observasi yang
berfokus pada kondisi tempat/rumah/lingkungan informan yang bersangkutan.
7. Melakukan pengolahan dan penganalisisan data yang diperoleh dari hasil
wawancara mendalam terhadap informan.
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Bogdan dalam Moleong (2008: 248) mengemukakan bahwa analisis data kualitatif
merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan
apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang
lain. Pada tahapan analisis data dilakukan proses penyederhanaan data-data yang
terkumpul dipilih sesuai dengan fokus penelitiaan ini dan diberi kode untuk
memudahkan peneliti dalam mengkategorikan data-data yang terkumpul.
Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskripsi analitik, yakni data yang
diperoleh tidak dianalisa menggunakan rumus statistika, melainkan dideskripsikan
sehingga dapat memberikan kejelasan sesuai dengan kenyataan realita yang ada di
lapangan. Hasil analisa berupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti
dalam bentuk uraian naratif. Dalam penelitian ini, data yang akan dianalisis ialah
hasil wawancara terhadap wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki jumlah anak
lebih dari dua, sehingga tidak mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK) di
Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar
Lampung.
34
1. Pengumpulan
Proses ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data berupa observasi,
wawancara dan studi dokumentasi.
2. Reduksi data
Reduksi data berarti melakukan abstraksi yang merupakan upaya membuat
rangkuman inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga
berada di dalamnya (Moleong, 2008: 247). Artinya, dalam tahap ini akan
dilakukan proses membaca ulang data-data yang telah terkumpul, baik berupa
transkrip hasil wawancara mendalam maupun hasil observasi, kemudian
melakukan pemahaman, termasuk melakukan pengkodean (coding) dan secara
bertahap mengurangi data yang berulang atau tumpang tindih.
3. Penyajian Data
Data yang sudah dirangkum kemudian disajikan guna mendeskripsikan hasil
penelitian yang dalam penelitian ini ialah kajian terhadap wanita PUS akseptor
MKJP yang memiliki jumlah anak lebih dari dua, yakni gambaran penggunaan
MKJP dan faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya NKK. Data tersebut
akan disajikan dan diinterpretasikan dalam bentuk uraian teks (narasi).
4. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan
sejak awal, bahkan kesimpulan dalam penelitian kualitatif diharapkan akan
menghasilkan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.
F. Validitas Penelitian
Raco (2010: 133) menyatakan bahwa dalam metode kualitatif lebih tepat
35
berarti memberikan deskripsi, keterangan, informasi (account) yang adil (fair) dan
jujur. Harus dijamin bahwa hasil yang diperoleh dan interpretasinya adalah tepat
berdasarkan informasi yang disampaikan oleh partisipan dan bukan karangan
peneliti sendiri.
Untuk menjamin autentisitas atau akurasi dan kredibilitas hasil dan interpretasi
penelitian ini, maka digunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber
(menggunakan sumber informasi lain/partisipan penelitian sebagai pembanding
hasil dan interpretasi data penelitian yang telah dibuat oleh peneliti). Penggunaan
triangulasi sumber ini memang telah direncanakan, seperti yang telah
dicantumkan pada bagian sampel penelitian, di mana partisipan yang dijadikan
sebagai triangulasi sumber ialah dua orang Petugas Lapangan Keluarga Berencana
77
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian, maka diperolehlah
kesimpulan sebagai berikut:
1. Bahwa faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil
(NKK) pada wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai,
karena terdapat kecenderungan wanita PUS ingin mempunyai anak lebih dari
dua. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pandangan terhadap nilai anak atau
value of children yang dipengaruhi nilai budaya etnis yang dipercayai oleh wanita PUS tersebut.
2. Bahwa dari ketujuh wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan NKK
di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, seluruhnya (100%) baru mulai
menggunakan MKJP setelah memiliki anak lebih dari dua. Wanita PUS
memilih Non-MKJP seperti pil dan suntik sebagai metode kontrasepsi yang
pertama kali digunakan dengan tujuan untuk menjarak kelahiran antar anak.
Kemudian, setelah memiliki anak lebih dari dua baru mulai menggunakan
MKJP, seperti IUD, implant, atau MOW ketika untuk menghentikan