• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
58
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

KAJIAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) AKSEPTOR MKJP YANG TIDAK MEWUJUDKAN NORMA KELUARGA KECIL (NKK)

DI KELURAHAN KELAPA TIGA PERMAI,

KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017

(Skripsi)

Oleh

RAUDATUL JANNAH

Pembimbing I : Dr. Hj. Trisnaningsih, M.Si. Pembimbing II : Drs. Edy Haryono, M.Si. Pembahas : Dra. Hj. Nani Suwarni, M.Si.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

STUDY OF WOMEN OF CHILDBEARING AGE AS ACCEPTOR OF LONG TERM CONTRACEPTION METHOD WHO DO NOT REALIZE

SMALL FAMILY NORMS IN KELAPA TIGA PERMAI OF TANJUNGKARANG BARAT DISTRICT, BANDAR LAMPUNG 2017

By

Raudatul Jannah

This research aimed to examined women of childbearing age of Long Term Contraception Method acceptors who do not realize Small Family Norms in Kelapa Tiga Permai sub-district.

This research used descriptive qualitative method. Population in this research were 34 women of childbearing age of LTCM acceptors who had more than two children. Sample of this research were 7 women of childbearing age of LTCM acceptor who had more than two children, the sample was obtained by purposive sampling technique. Data was collected used observation, interviewing, questionnaire, and documentation. Data analysis with percentage tables as the basic of analytic description.

Result of the research showed that the factors causing non-existence of Small Family Norms on women of childbearing age of LTCM acceptors : (1) because women of childbearing age started using LTCM after having many children (2) because the seven women of childbearing age of LTCM acceptors have a view to the value of children in having children in the family.

(3)

ABSTRAK

KAJIAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) AKSEPTOR MKJP YANG TIDAK MEWUJUDKAN NORMA KELUARGA KECIL (NKK) DI

KELURAHAN KELAPA TIGA PERMAI,

KECAMATAN TANJUNGKARANG BARAT, BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017

Oleh Raudatul Jannah

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wanita pasangan usia subur (PUS) akseptor MKJP yang tidak mewujudkan Norma Keluarga Kecil, titik tekan kajiannya pada faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil pada wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini adalah 34 wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki anak lebih dari dua. Diambil sampel sebanyak 7 wanita PUS secara purposive sampling. Pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, kuisioneir, dan dokumentasi. Analisis data dengan tabel persentase sebagai dasar deskripsi analitik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab tidak terwujudnya NKK pada wanita PUS akseptor MKJP : (1) karena penggunaan MKJP baru dilakukan setelah memiliki anak banyak (2) karena ketujuh wanita PUS akseptor MKJP memiliki pandangan terhadap value of children dalam memiliki anak dalam keluarga.

(4)

KAJIAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) AKSEPTOR MKJP YANG TIDAK MEWUJUDKAN NORMA KELUARGA KECIL (NKK) DI

KELURAHAN KELAPA TIGA PERMAI,

KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017

Oleh

RAUDATUL JANNAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Raudatul Jannah dilahirkan di Kota Bumi, Kabupaten Lampung

Utara pada tanggal 29 September 1992 sebagai anak ketiga dari

tiga bersaudara pasangan Bapak Drs. H. Fardinan Ahmad dan

Ibu Hj. Ismiyati Yusuf.

Pendidikan yang pernah dilalui yaitu pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah

Negeri (MIN) 1 Kota Bumi, Lampung Utara selama satu tahun (1998-1999),

kemudian pindah ke MIN VII Sawah Brebes, Tanjungkarang, setahun kemudian

pindah kembali ke MIN II Sukarame, Bandar Lampung dan tamat pada tahun

2004, kemudian melanjutkan pendidikian menengah pertama di Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Bandar Lampung lalu tamat pada tahun 2007, dan

pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 (Model) Bandar

Lampung, tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010, diterima menjadi mahasiswa

Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung melalui jalur

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Menjadi anggota atau pengurus bidang keputrian pada organisasi kemahasiswaan

Forum Pembangunan dan Pengkajian Islam (FPPI) di Fakultas Keguruan dan Ilmu

(9)

MOTO

Tak peduli betapa pun sulitnya sesuatu, saya akan tetap berpikir positif.

(10)

Kepada Bapak dan Bunda tersayang.

(11)

i

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Fokus Masalah ... 7

D. Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 8

F. Kegunaan Penelitian ... 8

G. Ruang Lingkup Penelitian ... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka ... 10

1. Pengertian Keluarga Berencana ... 10

2. Tujuan dan Sasaran Keluarga Berencana ... 10

3. Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) ... 11

4. Kontrasepsi ... 13

a. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) ... 14

b. Non-Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP) .... 17

5. Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)... 17

6. Jumlah Anak Wanita Pasangan Usia Subur (PUS) ... 18

7. Pandangan Wanita PUS Terhadap Nilai Anak ... 20

B. Penelitian yang Relevan ... 23

C. Kerangka Pikir ... 25

III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian... 27

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 28

(12)

ii

2. Sampel ... 28

C. Teknik Pengumpulan Data ... 30

1. Wawancara ... 30

2. Observasi ... 31

3. Dokumentasi ... 31

D. Prosedur Penelitian ... 32

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 33

F. Validitas Penelitian ... 34

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 36

B. Deskripsi Umum Informan ... 41

C. Hasil Penelitian ... 44

1. Karakteristik Informan ... 44

a. Usia Kawin Pertama dan Lama Masa Pernikahan ... 44

b. Jumlah Anak, Jenis Kelamin Anak, dan Jarak Kelahiran Anak ... 46

c. Jumlah Anak yang Diinginkan ... 50

d. Etnis Wanita PUS ... 53

e. Pandangan Wanita PUS Terhadap Nilai Anak ... 54

2. Penggunaan Alat Kontrasepsi Pada Wanita PUS ... 57

a. Penggunaan Alat Kontrasepsi Pertama Kali ... 57

b. Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) 62 D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 70

1. Faktor-faktor Penyebab Tidak Terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK) Pada Wanita PUS Akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 70

2. Gambaran Penggunaan Alat Kontrasepsi Pada Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 74

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 77

B. Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Jumlah Akseptor KB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan

Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016... 5

2. Penelitian yang Relevan ... 23

3. Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga (KK) di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung

Berdasarkan Jenis Kelamin ... 39

4. Jumlah Anak yang Diinginkan Wanita PUS yang Tidak

Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 .. 50

5. Komposisi Jumlah Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK Berdasarkan Etnis di Kelurahan Kelapa Tiga

Permai Tahun 2017 ... 54

6. Pandangan Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK Terhadap Nilai ANak di Kelurahan Kelapa Tiga Permai

Tahun 2017 ... 55

7. Jumlah Wanita PUS Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi yang

Digunakan Pertama Kali ... 57

8. Penggunaan Alat Kontrasepsi Pertama Kali oleh Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan

Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 58

9. Komposisi Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK Berdasarkan Jenis MKJP yang Digunakan Saat Ini di

Kelurahan Kelapa Tiga Permai Tahun 2017 ... 63

10. Penggunaan MKJP Pada Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Pikir Penelitian, Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP Yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai,

Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandarlampung Tahun 2016 ... 26

2. Peta Administrasi Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan

(15)

xxii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Wawancara Penelitian... 74

2. Data Informan ... 76

(16)

SANWACANA

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam karena atas rahmat dan

hidayah-Nya dapat terselesaikan skripsi yang berjudul “Kajian Wanita Pasangan Usia Subur

(PUS) Akseptor MKJP dan Non-MKJP yang tidak mewujudkan Norma Keluarga

Kecil di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat,

Bandarlampung Tahun 2017”. Shalawat teriring salam selalu tercurahkan kepada

junjungan Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan umat manusia.

Skripsi ini disusun dalam rangka melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar

Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan

Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Lampung.

Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan baik secara

langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui

kesempatan ini pula, diucapkan terima kasih kepada yang terhormat Ibu Dra. Hj. Nani

Suwarni, M.Si., selaku Pembimbing I sekaligus Pembimbing Akademik, Bapak Drs.

Edy Haryono, M.Si., selaku Pembimbing II, dan Bapak Drs. Budiyono, M.S., selaku

Dosen Pembahas atas arahan dan bimbingannya yang sangat bermanfaat bagi

(17)

kecuali doa yang tulus dan ikhlas. Semoga ilmu yang telah diberikan akan menjadi

amal ibadah dan Allah SWT menganugerahkan limpahan rahmat, hidayah, dan

kesehatan lahir dan batin.

Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M.Hum. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan beserta jajaran dekanat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan

Kerja Sama, Bapak Drs. Hi. Buchori Asyik, M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang

Umum dan Keuangan, Bapak Drs. Supriyadi, M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang

Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Lampung.

3. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Lampung.

4. Bapak Drs. I Gede Sugiyanta, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

5. Seluruh staff dan dosen Program Studi Pendidikan Geografi, yang telah mendidik

dan membimbing penulis selama menyelesaikan studi.

6. Bapak, Bunda, dan kakak-kakak tercinta atas doa dan kasih sayang dan dukungan

(18)

7. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan

bantuan dalam penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan

tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan

bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandar Lampung, Desember 2017

Penulis,

(19)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam konteks kependudukan Indonesia, Undang-Undang No. 52 Tahun 2009

Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, telah

diamanatkan bahwa penduduk harus menjadi titik sentral dalam pembangunan

berkelanjutan di Indonesia. Dinamika kependudukan sangatlah luas, meliputi

jumlah, struktur, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, dan

kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial budaya, agama

serta lingkungan penduduk.

Luasnya ranah kependudukan tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh

dimensi kependudukan dalam pembangunan berkelanjutan sebuah negara.

Pembangunan yang tidak lain harus dilakukan oleh penduduk dan untuk

kesejahteraan penduduk pula atau dengan kata lain, subjek dan objek

pembangunan berkelanjutan adalah penduduk itu sendiri. Oleh karenanya,

seluruh dimensi kependudukan harus menjadi titik sentral pembangunan negara.

Sejalan dengan dimensi kependudukan tersebut, telah kita ketahui masih banyak

permasalahan kependudukan yang belum teratasi, diantaranya pertumbuhan

jumlah penduduk dan angka kelahiran yang masih cukup tinggi. Hal tersebut

(20)

2

keluarga, meningkatnya angka pengangguran karena bertambahnya angkatan

kerja, termasuk meningkatnya tingkat kriminalitas, dan lain-lain.

Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengontrol laju

pertumbuhan penduduk adalah melalui program Keluarga berencana (KB).

Tujuan umum adanya program KB ialah meningkatkan kesejahteraan ibu dan

anak dalam rangka mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera

(NKKBS) dengan dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja untuk

setiap keluarga. Hal ini termaktub dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1992

Pasal 1 Ayat 12 Tentang Perkembangan Penduduk dan Pembangunan Keluarga,

bahwa keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta

masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,

pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk

mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera (NKKBS).

Sebagai tujuan program KB, Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)

salah satunya diwujudkan melalui penggunaan metode kontrasepsi. Setiap

pasangan suami istri pasangan usia subur (PUS) bebas memilih metode

kontrasepsi yang akan digunakan. Berdasarkan lama waktu pemakaiannya,

BKKBN (2007: 41) membedakan metode kontrasepsi menjadi dua, yakni :

1. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu alat atau cara kontrasepsi untuk pemakaian dalam jangka waktu lama dan memiliki tingkat efektifitas dan reversibilitas tinggi, praktis, aman, dan ekonomis. Yang termasuk MKJP antara lain IUD, implan, Metode Operasi Pria (MOP), dan Metode Operasi Wanita (MOW).

(21)

3

Melalui penggunaan alat kontrasepsi tersebut diharapkan dapat mengatur jumlah

anak yang ideal serta jarak dan usia ideal melahirkan untuk dimiliki setiap

keluarga. Melalui upaya tersebut diharapkan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan

Sejahtera (NKKBS), dapat tercapai, yakni setiap keluarga diupayakan memiliki

dua anak cukup, laki-laki atau perempuan sama saja.

Upaya mewujudkan NKKBS tersebut dikuatkan dengan dikuatkan dalam Rencana

Strategis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional tahun

2015-2019 (2015: 5) yang menyebutkan beberapa isu strategis dan permasalahan

pengendalian kuantitas penduduk yang mendapat perhatian khusus yang meliputi :

a. masih tingginya jumlah anak yang diinginkan keluarga, yaitu sekitar 2,7 sampai dengan 2,8 anak (SDKI 2012);

b. penggunaan alat dan obat non-MKJP terus meningkat dari 46,5 % menjadi 47,3 %, sementara MKJP cenderung menurun dari 10.9 % menjadi 10,6 % (SDKI 2012).

c. angka kelahiran remaja perempuan usia 15-19 tahun masih tinggi, yaitu 48 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun dan remaja 15-19 tahun yang telah menjadi ibu dan atau sedang hamil anak pertama meningkat dari 8,5 % menjadi 9,5 % (SDKI 2012);

d. masih banyaknya usia perkawinan muda dengan median usia kawin pertamam perempuan yang rendah, yaitu 20,1 tahun.

Melihat beberapa isu strategis permasalahan pengendalian kuantitas penduduk di

atas, maka diperlukan adanya percepatan penurunan angka kelahiran terutama

pada pasangan usia subur. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, tercantum bahwa dalam upaya

mempercepat pengendalian angka fertilitas melalui penggunaan kontrasepsi, maka

keluarga berencana di Indonesia lebih diarahkan untuk menggunakan Metode

Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Metode ini dianggap paling efektif dalam

menekan angka kelahiran penduduk dibandingkan non-MKJP yang risiko

(22)

4

Meskipun penggunaan MKJP sangatlah dianjurkan bagi wanita pasangan usia

subur (PUS), tetapi rendahnya tingkat penggunaan MKJP di Indonesia menjadi

salah satu isu nasional permasalahan kependudukan yang telah disebutkan

sebelumnya dalam Renstra BKKBN tahun 2015-2019.

Pengendalian angka kelahiran dan rendahnya tingkat penggunaan MKJP nasional

masih terus menjadi tantangan bagi tiap daerah di Indonesia. Menyadarai

permasalahan-permasalahan tersebut, yang kemudian melatarbelakangi

dilakukannya survei awal terkait pencapaian Norma Keluarga Kecil (NKK) dan

tingkat penggunaan MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung

Karang Barat, Bandar Lampung. Dipilihnya Kelurahan Kelapa Tiga Permai

sebagai lokasi survei dikarenakan kelurahan tersebut merupakan kelurahan baru

sebagai bentuk pemekaran dari Kelurahan Kelapa Tiga pada tahun 2013. Sebagai

kelurahan yang terbilang baru tersebut, maka kiranya perlu diketahui tingkat

penggunaan MKJP terkait dengan pencapaian Norma Keluarga Kecil (NKK) di

kelurahan tersebut.

Melalui survei awal yang telah dilakukan di wilayah kerja Pos Kesehatan

Kelurahan (Poskeskel) Kelurahan Kelapa Tiga Permai, diperoleh informasi bahwa

tingkat penggunaan MKJP pada wanita PUS terbilang rendah dibandingkan

tingkat penggunaan Non-MKJP. Sehubungan dengan hal tersebut, data akseptor

KB berdasarkan jenis alat kontrasepsi yang digunakan di Kelurahan Kelapa Tiga

Permai pada November 2016 ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1 memperlihatkan bahwa jenis kontrasepsi suntik dan pil yang tergolong

(23)

5

Kelurahan Kelapa Tiga Permai. Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

menerangkan bahwa non-MKJP lebih diminati wanita PUS karena harganya yang

lebih murah dan penggunaan yang lebih mudah dibandingkan penggunaan MKJP

yang pemasangannya harus dilakukan oleh bidan atau dokter. Lebih lanjut, PLKB

menjelaskan bahwa meskipun penggunaan MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga

Permai masih terbilang rendah, tetapi jumlah tersebut sudah merupakan hasil

peningkatan sejak awal terbentuknya kelurahan ini, apalagi sejak digulirkannya

program KB implant gratis oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana

Nasional (BKKBN) provinsi Lampung. Sampai saat ini pun pihak PLKB dan

petugas Poskeskel masih terus melakukan konseling dan penyuluhan mengenai

MKJP kepada PUS saat berkunjung ke Poskeskel ataupun saat kegiatan

[image:23.595.112.505.459.628.2]

Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Tabel 1. Jumlah Akseptor KB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016

No Jenis Alat Kontrasepsi Jumlah

Akseptor

Persentase (%)

1. MKJP

IUD 49 12,40

Implan 27 6,84

MOW 9 2,28

MOP 34 8,60

2. Non-MKJP

Suntik 135 34,18

Pil 128 32,40

Kondom 13 3,29

Jumlah 395 100,00

Sumber : Data Sekunder PLKB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat Tahun 2016

Selain rendahnya proporsi penggunaan MKJP dibandingkan dengan non-MKJP

tersebut, pihak PLKB pun menjelaskan bahwa pengggunan MKJP di kalangan

(24)

6

di atas 30 tahun dan telah memiliki anak lebih dari dua atau anak yang banyak.

Wanita berumur di bawah 30 tahun dan memiliki jumlah anak 1-2 lebih memilih

menggunakan non-MKJP seperti pil dan suntik. Meskipun belum terdapat data

tertulis yang terperinci mengenai hal tersebut, namun demikian hal tersebut dapat

diyakini sebab hal tersebut diperoleh dari pengamatan mayoritas wanita PUS yang

melakukan konseling kepada PLKB dan yang melakukan pemasangan MKJP

seperti implant dan IUD saat mobil unit pelayanan KB datang ke kelurahan.

Hasil keterangan PLKB mengenai penggunaan MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga

Permai yang didominasi oleh wanita PUS yang memiliki jumlah anak lebih dari

dua menimbulkan pertanyaan terkait implementasi penggunaan MKJP dalam

menurunkan angka kelahiran yang sebelumnya telah disebutkan dalam RPJMN

2015-2019. Penggunaan MKJP yang dianggap lebih efektif dalam mempercepat

pengendalian fertilitas seyogyanya juga dapat membantu mewujudkan Norma

Keluarga Kecil (NKK) dengan dua anak cukup, laki-laki maupun perempuan

sama saja.

Sehubungan dengan permasalahan yang telah dijelaskan dalam uraian di atas,

maka dianggap perlu dilakukan penelitian mengenai gambaran penggunaan

kontrasepsi pada wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai

yang memiliki anak lebih dari dua (tidak mewujudkan NKK) dan faktor-faktor

apa yang menyebabkan tidak terwujudnya NKK tersebut. Oleh karena itu

dilakukanlah penelitian yang berjudul“Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP yang

Tidak Mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK) di Kelurahan Kelapa Tiga

(25)

7

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka

diperoleh identifikasi masalah berikut :

1. Proporsi penggunaan MKJP pada wanita PUS jauh lebih rendah

dibandingkan dengan non-MKJP ;

2. Akseptor MKJP didominasi oleh wanita PUS yang memiliki anak lebih

dari dua;

3. Adanya wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki anak lebih dari dua

mengindikasikan tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK), yakni

dua anak cukup.

C. Fokus Masalah

Agar tidak terdapat kerancuan dalam penelitian nanti, maka masalah akan

difokuskan pada perihal berikut :

1. Wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai yang memiliki

anak lebih dari dua mengindikasikan tidak terwujudnya Norma Keluarga

Kecil (NKK), yakni dua anak cukup.

2. Penggunaan kontrasepsi pada wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki anak

lebih dari dua di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang

Barat, Bandar Lampung tahun 2017;

D. Rumusan Masalah

Sesuai dengan fokus masalah yang telah disebutkan sebelumnya, maka berikut

(26)

8

1. Apakah faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil pada

wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan

Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun 2016 ?

2. Bagaimanakah penggunaan kontrasepsi pada wanita PUS akseptor MKJP

yang memiliki jumlah anak lebih dari dua di Kelurahan Kelapa Tiga Permai,

Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun 2016?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor penyebab tidak

terwujudnya Norma Keluarga Kecil pada wanita PUS akseptor MKJP di

Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar

Lampung tahun 2017.

2. Untuk memperoleh informasi mengenai penggunaan kontrasepsi pada wanita

PUS akseptor MKJP yang memiliki anak lebih dari dua di Kelurahan Kelapa

Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun

2017;

F. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Program Studi

Pendidikan Geografi, FKIP Unila;

2. Sebagai aplikasi teori dan ilmu selama perkuliahan di perguruan tinggi dengan

(27)

9

3. Sebagai bahan informasi bagi penelitian sejenis lainnya;

4. Sebagai penambah bahan kepustakaan dan menjadi informasi kependudukan

terkait KB bagi Program Studi Pendidikan Geografi.

Penelitian ini memiliki ruang lingkup sebagai berikut :

1. Objek penelitian ini : tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK) pada

wanita PUS akseptor MKJP.

2. Subjek penelitian : wanita pasangan usia subur (PUS) akseptor MKJP.

3. Tempat dan waktu penelitian : Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan

Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung tahun 2016.

4. Ruang lingkup ilmu : Demografi.

Menurut Philip M. Hauser dan Duddley Duncan (1959) dalam Mantra (2003:

2), demografi mempelajari jumlah, persebaran, territorial dan komposisi

penduduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang

biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak territorial

(migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status). Penelitian ini masuk dalam

lingkup demografi karena dalam penelitian ini terkait dengan pengendalian

fertilitas penduduk yang berkaitan dengan keluarga berencana melalui upaya

penggunaan metode kontrasepsi dalam rangka mewujudkan Norma Keluarga

Kecil (NKK).

(28)

10

II. KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Keluarga Berencana

Menurut Undang-Undang No. 52 Tahun 2009, keluarga berencana adalah upaya

mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan,

melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk

mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Menurut Sulistyawati (2011: 15), keluarga berencana (family planning/planed

parenthood) adalah suatu upaya menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.

Dengan demikian, keluarga berencana merupakan upaya kebijakan pemerintah

bagi setiap keluarga untuk merencanakan jumlah anak dan mengatur jarak

kelahiran dan usia ideal melahirkan guna mewujudkan pembangunan keluarga

berkualitas melalui upaya salah satunya dengan menggunakan alat kontrasepsi.

2. Tujuan dan Sasaran Keluarga Berencana

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 12 Tentang

Perkembangan Penduduk dan Perkembangan Keluarga, keluarga berencana

adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui

(29)

11

keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil,

bahagia, dan sejahtera.

Kemudian, dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 juga termaktub bahwa

tujuan KB antara lain:

a. Mengatur kehamilan yang diinginkan;

b. Menjaga kesehatan dan menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak; c. Meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan

pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi;

d. Meningkatkan partisipasi dan kesertaan pria dalam praktek keluarga berencana; dan mempromosikan penyusuan bayi sebagai upaya untuk menjarangkan jarak kehamilan.

Jika menilik pada kedua Undang-Undang tersebut, maka pada dasarnya tujuan

Keluarga Berencana (KB) ialah mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan

sejahtera melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran melalui

peningkatan akses informasi konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi,

pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Tujuan

KB inilah yang kemudian lebih lanjut dikenal sebagai Norma Keluarga Kecil

Bahagia Sejahtera (NKKBS).

Sasaran program KB menurut Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 antara lain:

a. Pasangan Usia Subur (PUS), yaitu pasangan suami istri yang hidup bersama dalam satu rumah atau tidak, dimana istri berumur antara 15-49 tahun.

b. Yang tidak termasuk pasangan usia subur, yaitu semua anggota masyarakat selain dari pasangan usia subur, pemudi-pemudi yang belum menikah, pasangan di atas usia 45 tahun, orang tua dan tokoh masyarakat. c. Sasaran institusional, yaitu organisasi-organisasi dan lembaga masyarakat

baik pemerintah maupun swasta.

d. Wilayah yang kurang pencapaian target KB-nya.

3. Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)

(30)

12

merupakan tujuan utama Keluarga Berencana (KB). BKKBN (1998: 12)

menyebutkan pelembagaan dan pembudayaan NKKBS di masyarakat terdiri dari

beberapa norma, yaitu :

1. Norma jumlah anak yang sebaiknya dimiliki 2 (dua) anak; 2. Norma jenis kelamin anak, laki-laki atau perempuan sama saja;

3. Norma saat yang tepat seorang wanita untuk melahirkan, umur 20-30 tahun;

4. Norma pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan; 5. Norma usia yang tepat untuk mencegah kehamilan;

6. Norma usia yang tepat untuk menikah, untuk wanita, 20 tahun; 7. Norma menyusui anaknya sampai umur 2 tahun.

Pembudayaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera dalam masayarakat

sangat berkaitan dengan kenyataan bahwa nampaknya masyarakat Indonesia yang

memiliki keanekaragaman suku, etnis, budaya, dan adat sitiadat yang berbeda

akan tidak sama pandangannya dalam mewujudkan norma keluarga kecil bahagia

sejahtera, terutama terhadap norma “dua anak cukup”, serta laki-laki dan

perempuan sama saja. Pada masa lalu misalnya, terdapat pandangantradisional

yang sangat terkenal dalam masyarakat yakni pandangan masyarakat “banyak

anak banyak rezeki”, namun sekarang banyak masyarakat yang mengganti

pendapat tersebut menjadi bahwa banyak anak banyak susah.

Dikutip dari Budiyono (2010: 8) bahwa San S. Hutabarat (1976) mengemukakan

bahwa masih dipedomaninya nilai kehadiran/kelahiran anak dalam suatu keluarga

yang diikat oleh tali perkawinan yang sah, ternyata keinginan memiliki anak dan

sejumlah anak oleh setiap keluarga etnis, masih dilandasi dan dipedomani

pandangan tertentu, seperti ; adat budaya masyarakat, segi sosial dan ekonomi,

agama yang selama ini diwarisi oleh leluhurnya, berdasarkan atas alas an

masing-masing yang sangat kuat dan direalisasikan dala kehidupan sehari-hari keluarga

(31)

13

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Fazidah (2003: 5) bahwa dalam

perjalanannya, penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)

mengalami beberapa hambatan, antara lain :

a. Alasan Agama

Bagi para pemeluk agama merencanakan jumlah anak adalah menyalahi kehendak Tuhan. Kita tidak boleh mendahului kehendak Tuhan apalagi mencegah kelahiran anak dengan menggunakan alat kontrasepsi supaya tidak hamil. Langkah utama untuk mengatasi hal ini adalah menemui tokoh-tokoh atau ulama dari agama tersebut untuk menjelaskan bahwa merencanakan keluarga untuk membantu keluarga kecil adalah tidak bertentangan dengan Agama.

b. Sosial Ekonomi

Anak dipandang sebagai tenaga kerja yang dapat membantu meningkatkan ekonomi keluarga sehingga mempunyai banyak anak akan banyak tambahan pendapatan yang akan diperoleh. Hal ini memang suatu kenyataan dan benar, tetapi belum diperkirakan nasib anak itu sendiri apakah anak itu memang bisa diharapkan pendidikannya dan masa depannya. Kalau hal ini dipertimbangkan, mempunyai banyak anak malah menjadi beban.

c. Adat lstiadat

Adat kebiasaan atan adat dari suatu masyarakat yang memberikan nilai anak laki-laki lebih dari anak perempuan atau sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan satu keluarga mempunyai banyak anak. Bagaimana kalau keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki atau perempuan tidak terpenuhi mungkin akan menceraikan istrinya dan kawin lagi agar terpenuhi keinginan memiliki anak laki-laki ataupun anak perempuan. Disini norma adat istiadat perlu diluruskan karena tidak banyak menguntungkan bahkan banyak bertentangan dengan kemanusiaan.

4. Kontrasepsi

Kontrasepsi merupakan istilah yang tidak pernah terlepaskan dalam keluarga

berencana. Keluarga berencana sebagai usaha untuk mengatur jumlah anak dan

jarak anak yang dilahirkan memerlukan suatu cara untuk mencapai hal tersebut

dan inilah yang disebut metode kontrasepsi. Hal ini seusai dengan apa yang

dikemukakan oleh Sulistyawati (2011: 13) :

(32)

14

(tetap).Kontrasepsi yang reversibel adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat. Metode kontrasepsi permanen adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan karena melibatkan tindakan operasi.

Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa kontrasepsi yang dimaksud merupakan

upaya pencegahan sperma laki-laki membuahi sel telur wanita untuk berkembang

di dalam rahim. Hal tersebut dapat dilakukan dengan metode konrasepsi

reversibel, yaitu kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat dan metode

kontrasepsi permanen, yaitu kontrasespsi yang tidak dapat mengembalikan

kesuburan karena melibatkan tindakan operasi.

Kontrasepsi merupakan alat pelayanan kesehatan reproduksi dalam program

keluarga berencana dan pemilihan jenis kontrasepsi merupakan hak setiap

individu. Menurut Hartanto (2004: 30), “pelayanan kontrasepsi mempunyai dua

tujuan, yaitu dihayatinya NKKBS dan penurunan angka kelahiran yang

bermakna”.

Berdasarkan lama waktu pemakaiannya, BKKBN (2007: 41) membedakan

metode kontrasepsi menjadi dua, yakni :

1. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu alat atau cara kontrasepsi untuk pemakaian dalam jangka waktu lama dan memiliki tingkat efektifitas dan reversibilitas tinggi, praktis, aman, dan ekonomis. 2. Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP) yaitu kontrasepsi

yang digunakan dalam jangka waktu pendek dan harus diulang.

Berikut merupakan uraian lebih lanjut mengenai pembagian jenis alat kontrasepsi

berdasarkan lama pemakaiannya:

a. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)

Menurut definisi dari BKKBN di atas, bahwa yang dimaksud dengan MKJP

(33)

15

waktu yang lama, efektivitas dalam mencegah terjadinya kehamilan tinggi, praktis

karena hanya sekali pasang. Alat-alat kontrasepsi yang termasuk MKJP, yaitu:

1). Internal Uterine Device (IUD)

Menurut BKKBN (2014: 13), Internal Uterine Device (IUD) adalah :

alat kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim dengan menjepit kedua saluran yang menghasilkan indung telur sehingga tidak terjadi pembuahan, terdiri atas bahan plastik polietilena, ada yang dililit oleh tembaga dan ada yang tidak.

Keuntungan :

- Efektivitas tinggi, 99,2-99,4 % (0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama.

- Tidak mempengaruhi ASI dan dapat dipasang segera setelah melahirkan (dalam 48 jam/setelah 4 minggu melahirkan)

- Dapat efektif segera setelah pemasangan dan bisa dicabut kapan saja. - Tidak ada efek samping hormonal.

Dengan demikian, IUD merupakan alat kontrasepsi jangka panjang dengan

efektivitas tinggi, yang dipasang di dalam rahim guna mencegah terjadinya

pembuahan antara sperma laki-laki dan sel telur wanita.

2). Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) atau Implan

Menurut Irianto (2012: 38), AKBK atau implan ialah alat kontrasepsi berbentuk

kapsul sintetik berisi hormon jenis progestin sintetik yang ditanamkan di bawah

kulit atau alat kontrasepsi bagi wanita yang dipasang di bawah kulit lengan bagian

atas yang terdiri atas 6 kapsul berukuran kira-kira 3 cm berisi zat levonorgestrel.

Sulistyawati (2011: 81) menyebutkan bahwa implan merupakan kontrasepsi yang

sangat efektif, yakni 0,2 – 1 kehamilan per 100 perempuan. Cara kerja implan

ialah menekan ovulasi dan mengurangi transportasi sperma.

Dengan demikian, implan merupakan alat kontrasepsi sintetik yang dipasang di

(34)

16

mencegah perjalanan (transportasi) sperma laki-laki agar tidak bertemu dengan sel

telur wanita, sehingga tidak akan terjadi pembuahan di dalam rahim.

3). Kontrasepsi Mantap (Kontap)

Metode terakhir yang termasuk kontrasepsi jangka panjang ialah kontrasepsi

mantap. Kontrasepsi mantap terbagi menjadi 2 metode, yakni tubektomi atau

metode operasi wanita (MOW) dan vasektomi atau metode operasi pria (MOP).

a). Metode Operasi Wanita (MOW) atau Tubektomi

BKKBN (2014: 13) menjelaskan bahwa Metode Operasi Wanita (MOW) atau

tubektomi adalah:

metode kontrasepsi mantap yang bersifat sukarela bagi seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara menonklusi tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum. Efektivitas MOW sangat tinggi, yakni 99,5 % (0,5 kehamilan/100 perempuan selama tahun pertama penggunaan, tidak mempengaruhi proses menyusui, baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang serius, tidak ada efek samping dalam jangka panjang,tidak mengurangi fungsi seksual, serta berkurangnya risiko kanker ovarium.

Terkait uraian di atas, menurut Nina dan Mega (2013: 121), “tuba fallopi adalah struktur berbentuk pipa yang menjadi jalur perjalanan telur setelah dilepaskan

dari indung telur (ovarium). Setiap wanita memiliki tuba fallopi sepasang, dua

ujungnya melekat di sisi uterus dan dua lainnya terbuka di abdomen.”

Jadi, MOW atau tubektomi ialah metode kontrasepsi bagi wanita yang

benar-benar tidak ingin hamil lagi yang dilakukan melalui jalan operasi dengan

mengikat, memotong, atau memasang cincin pada saluran telur wanita agar

sperma tidak bertemu dengan sel telur, sehingga tidak akan terjadi

(35)

17

b). Metode Operasi Pria (MOP) atau Vasektomi

Menurut BKKBN (2014: 14), Metode Operasi Pria (MOP) atau yang juga disebut

vasektomi adalah :

prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan cara mengonklusi vas deferens sehingga alur trasportasi sperma terhambat dari proses fertilisasi. Efektivitas MOP mencapai 99,6-99,8 %, sangat aman (tidak ditemukan efek samping jangka panjang), morbiditas dan mortalitas jarang, hanya sekali aplikasi dan efektif dalam jangka panjang, serta tinggi tingkat rasio efisiensi biaya dari lamanya penggunaan kontrasepsi.

Tidak berbeda dengan tubektomi yang diperuntukkan bagi wanita, vasektomi yang diperuntukkan bagi laki-laki merupakan metode kontrasepsi bagi laki-laki yang benar-benar tidak ingin memiliki anak lagi yang dilakukan melalui jalan operasi dengan mengikat atau memotong saluran sperma laki-laki (vas deferens), agar sperma tidak keluar dan bertemu dengan sel telur, sehingga tidak akan terjadi pembuahan/kehamilan.

b. Non-Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP)

Berlawanan dengan MKJP, maka menurut definisi dari BKKBN sebelumnya,

bahwa yang dimaksud dengan Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang

(Non-MKJP) adalah jenis alat-alat kontrasepsi yang pemakaiannya hanya berlangsung

dalam waktu singkat sehingga harus dipakai berulang-ulang. Alat-alat kontrasepsi

yang termasuk Non-MKJP, yaitu: kondom, pil, suntik, dan metode-metode lain

selain metode yang termasuk dalam MKJP.

5. Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)

Menurut BKKBN (1999: 26), pasangan usia subur yaitu pasangan yang istrinya

berumur 15 sampai 49 tahun atau pasangan suami-istri berumur kurang dari 15

tahun dan sudah haid atau istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid

(36)

18

Berdasarkan definisi tersebut, maka yang dimaksud wanita pasangan usia subur

(PUS) adalah wanita yang telah berumah tangga dan masih mampu melakukan

fungsi reproduksi (menghasilkan keturunan) dengan rentang usia 15-49 tahun,

atau berusia kurang dari 15 tahun namun sudah haid atau telah berusia lebih dari

50 tahun namun masih haid (belum menopause).

6. Jumlah Anak Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)

Dalam Survei Demografi Kesehatan Indonesia atau SDKI (2012: 26) dijelaskan

bahwa banyaknya jumlah anak yang dimiliki pasangan usia subur sangat berkaitan

dengan faktor-faktor fertilitas yang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal berikut.

a. Usia Kawin Pertama Wanita PUS

Wanita diciptakan dengan memiliki masa fertilitas (kesuburan), sehingga mampu

untuk bereproduksi yang kemudian akan berpengaruh pada kemampuan

melahirkan. Artinya, banyak sedikitnya anak yang dilahirkan seorang wanita

akan sangat berhubungan dengan usia wanita usia subur tersebut saat

melangsungkan perkawinan pertamanya. Asumsinya, semakin muda seorang

wanita melakukan perkawinan pertamanya, maka kemungkinan jumlah anak yang

akan dimiliki pun akan semakin tinggi, sebaliknya semakin dewasa seorang

wanita melangsungkan perkawinan pertamanya maka kemungkinan jumlah anak

yang dimiliki pun akan semakin sedikit. Hal tersebut dikarenakan, karena

semakin tua usia wanita, maka masa reproduksinya pun akan semakin singkat

samapai mencapai masa menopause.

b. Lama Status Perkawinan Wanita Pasangan Usia Subur (PUS)

(37)

19

garis keturunan juga sebagai penyeimbang kebutuhan biologis, psikologis, dan

sosial. Dalam Undang-Undang Tentang Perkawinan Pasal 1 disebutkan bahwa

perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita

sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dikutip oleh McDonald.dkk dalam Lucas (1990: 81) menyebutkan bahwa:

banyak ahli demografi tertarik untuk mengukur distribusi umur pada waktu memasuki ikatan seksual, atau dengan istilah perkawinan, usia konsumsi perkawinan (hubungan kelamin yang pertama kali dilakukan setelah menikah). Bila konsumsi itu terjadi segera setelah menikah (biasanya memang demikian), maka usia kawin dianggap sama dengan usia memasuki suatu ikatan perkawinan atau ikatan seksual. Namun demikian, dalam beberapa masyarakatterutama di Asia pada waktu lampau, seorang gadis dikawinkan beberapa tahun sebelum cukup umurnya. Biasanya konsumsi perkawinan ditunda selama beberapa tahun karena gadis itu masih kanak-kanak dan secara seksual belum dewasa.

Berdasarkan kutipan penjelasan tersebut, jika berbicara mengenai usia kawin

dapat dipahami bahwa terdapat dua hal, yakni perkawinan dan ikatan perkawinan.

Perkawinan adalah sebuah ikatan seksual, sedangkan ikatan perkawinan mengacu

pada status sah dari hubungan perkawinan atau disebut pernikahan, baik secara

hukum maupun agama. Oleh karena itu, perkawinan biasanya dilakukan sejak

awal ikatan perkawinan (pernikahan), maka lama status perkawinan wanita

pasangan usia subur kiranya dapat kita hitung sejak awal ikatan perkawinan

(pernikahan) itu dilakukan. Artinya, secara logika, semakin muda seorang wanita

usia subur melakukan sebuah ikatan perkawinan, ia akan memiliki kesempatan

untuk memiliki jumlah anak semakin banyak sampai masa menopause-nya.

Sebaliknya, semakin dewasa seorang wanita subur melakukan ikatan perkawinan,

(38)

20

hal ini tentu tetap memperhatikan segi usia kawin pertamanya dan fertilitas

(tingkat kesuburan) yang dimiliki wanita pasangan usia subur tersebut.

c. Jumlah Anak yang Diinginkan Wanita PUS

Keinginan keluarga untuk memiliki anak berkaitan dengan padangan

masing-masing keluarga tentang nilai anak. Semakin tinggi tanggung jawab keluarga

terhadap nilai anak maka semakintinggi pula dorongan keluarga untuk

merencanakan jumlah anak ideal (BKKBN, 2007: 4). Dilihat dari keterangan

tersebut, maka jumlah anak yang diinginkan setiap pasangan usia subur dapat

diketahui berdasarkan persepsi atau pandangan mereka terhadap nilai anak.

Dorongan setiap keluarga dalam merencanakan jumlah anak ideal sangat

ditentukan oleh persepsi terhadap nilai anak yang mereka miliki, sehingga jumlah

anak ideal bagi setiap keluarga bisa jadi akan berbeda pula.

Jumlah anak yang diinginkan dikategorikan berdasarkan jumlah anak lahir hidup

yang mendasari besar keluarga. Menurut kebijakan NKKBS (Norma Keluarga

Kecil Bahagia Sejahtera) dalam BKKBN (2009: 25), banyak anak yang dilahirkan

dikelompokkan menjadi dua, yaitu sedikit jika suatu keluarga memiliki anak sama

dengan atau kurang dari dua (≤2) dan banyak jika anak lebih dari dua (>2).

7. Pandangan Wanita PUS Terhadap Nilai Anak

Kelahiran anak dalam sebuah ikatan pernikahan tentulah sangat dinanti-nantikan.

Dalam memandang kelahiran anak tersebut, setiap keluarga tentunya memiliki

pandangan masing-masing terkait hal tersebut. Pandangan terhadap kehadiran

(39)

21

Setiap pasangan suami istri dalam memutuskan untuk memiliki anak dan jumlah

anak yang diinginkan ditentukan oleh pandangan terhadap nilai anak. Pada

masyarakat Indonesia, nilai anak lebih dinilai berkaitan dengan nilai budaya

pasangan suami istri yang bersangkutan. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa

masyarakat Indonesia memiliki keanekaragaman suku, etnis, dan adat budaya

yang berbeda. Biasanya setiap suku atau etnis memiliki aturan atau tatanan

budaya yang berbeda-beda dan tatanan budaya tersebut akan diwariskan secara

turun-temurun guna menjaga kelangsungan budaya suku atau etnis tersebut. Oleh

karena itu, dengan aturan dan tatanan budaya yang berbeda, maka berbicara

mengenai keturunan , pandangan terhadap nilai anak akan berbeda dalam berbagai

budaya. Singkatnya, anak merupakan sumber kebahagiaan dan sumber daya yang

berharga sebagai perwujudan di masa depan bagi setiap suku bangsa.

Menurut San S. Hutabarat (1976: 274), tiap suku bangsa mempunyai value of

children sendiri-sendiri, misalnya anak sebagai penerus sejarah, anak sebagai tenaga kerja, anak sebagai jaminan sosial di hari tua, banyak anak banayk rezeki,

anak adalah karunia Tuhan yang tidak dapat ditolak, dan anak sebagai ikatan

perkawinan. Artinya, setiap keluarga dalam setiap suku atau etnis memiliki nilai

dan arti tersendiri terhadap kelahiran anak. Lebih lanjut, pandangan terhadap nilai

anak bagi keluarga yang kini masih menjadi pedoman dan tradisi kehidupan

menurut Budiyono (2010: 3) antara lain:

1. Suatu perkawinan harus mempunyai anak (anak sebagai ikatan perkawinan); Kelahiran anak merupakan bukti ikatan perkawinan yang nantinya akan dapat memberikan ketenteraman dan kebahagiaan dalam pernikahan. Biasanya ketidakhadiran anak dalam pernikahan dapat menimbulkan perselisihan antara suami dan istri yang dapat berujung pada perceraian;

(40)

22

Sebagai seorang yang beragama tentu akan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan,sehingga kelahiran anak dalam keluarga, semuanya merupakan kehendak Tuhan yang tak dapat ditolak oleh manusia. 3. Anak sebagai jaminan hidup di hari tua;

Pandangan tersebut menekankan bahwa memiliki anak, apalagi jumlah anaknya banyak diharapkan di masa tua nanti kehidupan orang tuanya tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari kebutuhan pangan guna kelangsungan hidup.

4. Mempunyai anak dapat membantu pekerjaan orang tua;

Manusia pada masa lampau penghidupannya sangat tergantung pada luas lahan pertanian yang diolah, pekerjaannya berat, butuh tenaga banyak dan waktu lama untuk mengolahnya. Oleh karena itu, memperbanyak jumlah anak akan membantu meringankan pekerjaan orang tuanya tersebut.

5. Anak sebagai penerus nama dan sejarah orang tua;

Dengan memiliki anak diharapkan nantinya akan menjadi pelanjut keturunan dan nama suatu keluarga, sebagai penerus sejarah atas nama keluarga.

6. Anak sebagai pewaris harta orang tua;

Anak nantinya akan mewarisi harta kekayaan prang tuanya. Pewarisan harta kepada anak merupakan adat budaya turun-temurun sebagai tanda tanggung jawab orang tua terhadap anak yang nantinya warisan tersebut dapat menjadi sumber penghidupan dan modal untuk meningkatkan kehidupannya di masa depan.

7. Memiliki anak sebagai kepuasan batin;

Pandangan tersebut dapat dicontohkan bahwa sudah memiliki anak perempuan harus punya anak laki-laki, begitupun sebaliknya.

8. Banyak anak, banyak rezeki;

9. Memiliki berapapun jumlah anak, Tuhan akan menjaminnya; 10. Kelahiran anak lagi, semua terserah kuasa Tuhan.

Berdasarkan beberapa pandangan terhadap nilai anak tersebut, terlihat bahwa

pandangan terhadap nilai anak dalam keluarga berkaitan dengan segi sosial

budaya, ekonomi, dan agama. Dari segi sosial budaya, anak merupakan bukti

ikatan perkawinan, anak sebagai penerus nama/sejarah keluarga, anak sebagai

kepuasan batin. Dilihat dari segi ekonomi, anak dapat bernilai sebagi pewaris

harta orang tua, anak sebagai jaminan di hari tua, anak dapat membantu pekerjaan

orang tua, serta banyak anak banyak rezeki. Dilihat dari segi agama, anak dapar

bernilai seperti : anak sebagai karunia Tuhan yang tidak dapat ditolak, berapapun

jumlah anak maka Tuhan pasti akan menjaminnya, dan kelahiran anak lagi dalam

(41)

23

[image:41.842.90.777.167.506.2]

B. Penelitian yang Relevan Tabel 2. Penelitian yang Relevan.

No Penulis Judul Metode Variabel yang

Diteliti Hasil

1. Sa’roni Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Dalam Pelaksanaan Program Keluarga Berencana (KB) Guna Mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) Di Desa Sendangwaru, Kecamatan Kragan, Kabupaten Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data dalam penelitian inimenggunakan teknik triangulasi bersifat deskriptif analisis yang digunakan 4 tahap antara lain (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan atau verifikasi data.

Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam program KB dalam mewujudkan NKKBS.

Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam Pelaksanaan Program KB guna Mewujudkan NKKBS adalah (a) faktor pendukung, yaitu kesadaran diri dari masyarakat, mendukung dan berpartisipasi dalam

pelaksanaan program KB, (b) faktor penghambat yaitu adanya beberapa masyarakat yang belum melaksanakan program KB, rendanhnya

masyarakat pria yang ikut ber-KB, tenaga medis yang melayani masyarakat untuk berKB masih kurang, dan kurang informasi tentang

(42)

24

2. Yunita Miftahul Masita Rebang Hak Reproduksi Pengaturan Jumlah Anak dan Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Karyawati Akademi Kebidanan Bina Husada Jember Tahun 2015 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Teknik analisis data : model interaktif Miles and Hubberman.

Hak reproduksi dalam pengaturan jumlah anak dan pemilihan alat kontrasepsi.

(43)

25

C. Kerangka Pikir

Keluarga Berencana merupakan program pemerintah sebagai upaya peningkatan

kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan,

pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan

keluarga dengan tujuan untuk mewujudkan Norma Keluarga Kecil, Bahagia,

Sejahtera (NKKBS), yakni dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja.

Perwujudan Norma Keluarga Kecil (NKK) membantu mengendalikan kelahiran

penduduk sekaligus dapat mengendalikan pertambahan penduduk.

Terkait dengan norma dua anak cukup, pada dasarnya setiap pasangan suami istri

tentunya bebas dalam menentukan jumlah anak yang ingin dimiliki. Namun

demikian, perencanaan jumlah anak tetap diarahkan pada perwujudan Norma

Kelurga Kecil (NKK), yakni dua anak cukup. Salah satu upaya yang digunakan

dalam mewujudkan NKK ialah melalui penggunaan alat kontrasepsi.

Pemerintah melalui RPJMN 2015-2019 lebih mengarahkan penggunaan MKJP

guna mempercepat penurunan angka kelahiran penduduk. MKJP dikatakan lebih

efektif dibandingkan dengan Non-MKJP. Akan tetapi, apa yang terjadi di

Kelurahan Kelapa Tiga Permai memperlihatkan terdapatnya wanita PUS akseptor

MKJP yang justru memiliki jumlah anak lebih dari dua, dengan kata lain tidak

mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK).

Tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil (NKK) pada wanita PUS akseptor

MKJP tersebut dapat dimungkinkan karena beberapa faktor seperti: penggunaan

MKJP pada wanita PUS, etnis budaya wanita PUS, jumlah anak yang diinginkan

(44)

26

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini akan mengkaji faktor individu

wanita PUS akseptor MKJP yang meliputi : suku, jumlah anak yang diinginkan

wanita PUS, etnis wanita PUS, dan pandangan PUS terhadap nilai anak. Selain

itu, akan dikaji pula gambaran penggunaan alat kontrasepsi pada wanita PUS

akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, yang akan meliputi

penggunaan alat kontrasepsi (alkon) pertama kali dan penggunaan alat kontrasepsi

saat ini.. Dengan mengkaji aspek-aspek tersebut diharapkan dapat mengetahui

faktor-faktor penyebab wanita PUS akseptor MKJP tersebut tidak mewujudkan

[image:44.595.114.508.343.682.2]

Norma Keluarga Kecil (NKK).

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian, Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP yang Tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan

Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016 Penggunaan Alkon Pada

Wanita PUS Akseptor MKJP - Penggunaan alkon pertama

kali

- Penggunaan alkon saat ini (MKJP)

Faktor Individu Wanita PUS Akseptor MKJP - Etnis budaya wanita PUS - Jumlah anak yang

diinginkan

- Pandangan wanita PUS terhadap nilai anak

Perwujudan Norma Keluarga Kecil

(45)

27

III. METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif guna

memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait permasalahan dalam

penelitian ini. Metode ini dianggap cocok dengan rumusan masalah atau

pertanyaan penelitian yang ingin dipecahkan/dijawab, tujuan penelitian, teknik

pengumpulan data dan jenis data yang akan dikumpulkan, serta kondisi informan

dalam penelitian ini.

Seperti yang telah diketahui, penelitian ini mengangkat topik mengenai wanita

pasangan usia subur (PUS) akseptor MKJP yang tidak mewujudkan norma

Keluarga Kecil (NKK), sehingga banyak berfokus pada masalah persepsi dan

sikap seseorang, maka jenis penelitian yang dianggap cocok ialah penelitian

kualitatif. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2008: 4) mengartikan metodologi

kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Penelitian kualitatif bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami

oleh subjek penelitian misalnya perilaku persepsi, motivasi, tindakan, dan

lain-lain.

Melalui penelitian kualitatif ini, diharapkan dapat mempermudah pengembangan

(46)

temuan-28

temuan lain terkait dengan objek penelitan, maka hal tersebut justru sangat

diharapkan, sehingga hasil penelitian yang diperoleh dapat menggambarkan

penyebab permasalahan secara lebih mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti

berkedudukan sebagai instrumen penelitian baik sebagai perencana, pelaksana

pengumpulan data, penganalisis data, sampai pelapor hasil penelitiannya.

B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Menurut Arikunto (2010: 130), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.

Berdasarkan definisi tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan NKK (memiliki anak

banyak) yang berjumlah 34 orang wanita yang tersebar di dua lingkungan di

Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar

Lampung tahun 2016.

Untuk lebih jelas, berikut merupakan data populasi dalam penelitian ini:

Tabel. Jumlah Wanita PUS Akseptor MKJP yang tidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai

No. Lingkungan Jumlah (jiwa) Presentase (%)

1. I 16 47,06

2. II 18 52,94

Jumlah 34 100,00

Sumber : Hasil penelitian, tahun 2016

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini merupakan subjek yang akan diteliti atau informan

(47)

29

rumusan permasalahan penelitian. Sampel dalam penilitian ini adalah 7 (tujuh)

orang wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan NKK (memiliki anak

banyak). Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik

nonprobability sampling, yaitu dengan menggunakan strategi purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010: 218), purposive sampling adalah teknik pengambilan

sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.

Pemilihan purposive sampling dalam penarikan sampel mempertimbangkan

beberapa alasan. Pertama, sampel bagi metode kualitatif sifatnya purposive artinya sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Raco (2010: 138)

menyatakan, sampel metode kualitatif tidak menekankan pada jumlah atau

keterwakilan, tetapi lebih kepada kualitas informasi, kredibilitas, dan kekayaan

informasi yang dimiliki oleh informan atau partisipan. Kedua, dengan jumlah sampel yang kecil, data yang akan dikumpulkan pun akan lebih mendalam,

sehingga dapat mengatasi kendala waktu yang dialami selama proses penelitian.

Dalam pelaksanaannya, setelah menggunakan teknik purposive sampling dalam

menentukan kriteria informan sesuai tujuan dan data yang ingin diperoleh,

kemudian dengan bantuan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

dilakukan penunjukan calon informan selanjutnya yang memiliki kriteria atau

spesifikasi yang sesuai dengan kriteria informan yang telah ditentukan.

Selanjutnya, barulah satu persatu informan ditemui secara bergulir guna

mengumpulkan data penelitian yang ingin diperoleh, baik melalui kuisioner

(48)

30

Merujuk pada beberapa permasalahan yang telah dikemukakan pada Bab

Pendahuluan dan dengan menggunakan teknik purposive sampling, maka sampel

penelitian yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah wanita PUS

di Kelurahan Kelapa Tiga Permai dengan kriteria sebagai berikut:

a. Subjek sedang menggunakan salah satu jenis alat kontrasepsi MKJP (IUD,

implant, atau MOW);

b. Subjek memiliki jumlah anak lebih dari dua (anak banyak).

c. Saat survei dilakukan, subjek merupakan warga tetap di Kelurahan Kelapa

Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.

d. Selain mengandalkan informasi dari informan utama, yakni wanita PUS

akseptor MKJP tersebut, terdapat pula informan lain, yakni 2 (dua) PLKB di

Kelurahan Kelapa Tiga Permai yang akan menjadi informan dalam triangulasi

sumber guna menguji keabsahan data dalam penelitian ini.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui 3 teknik, yaitu :

wawancara mendalam (depth interview), observasi, dan dokumentasi.

1. Wawancara

Moleong (2008: 186) mengemukakan bahwa wawancara adalah percakapan

dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu

pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara

(interviewise) yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Dalam

penelitian ini akan menggunakan jenis wawancara semi terstruktur. Menurut

(49)

31

wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka

dan pihak yang diajak wawancara dimintai pendapatnya. Dalam melakukan

wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang

dikemukakan informan.

2. Observasi

Pengumpulan data dalam penelitian ini didukung pula dengan teknik observasi.

Dalam tradisi kualitatif, Raco (2010: 111) menjelaskan, proses observasi dimulai

dengan mengidentifikasi tempat yang hendak diteliti, sehingga diperoleh

gambaran umum tentang sasaran penelitian. Kemudian, peneliti mengidentifikasi

siapa yang akan diteliti, kapan, berapa lama, dan bagaimana. Dalam penelitian

ini, yang menjadi sasaran observasi ialah wanita PUS aksepor MKJP yang

memiliki anak lebih dari dua dengan lokasi atau wilayah penelitian di Kelurahan

Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung pada

tahun 2016.

3. Dokumentasi

Dokumentasi menurut Arikunto (2010: 158) adalah metode untuk mencari data

mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,

majalah, prasasti, dan sebagainya. Dokumentasi dilakukan dengan cara

mengumpulkan dan mempelajari bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan

masalah penelitian.

Dalam penelitian ini, teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data

rincian jumlah akseptor KB berdasarkan jenis kontrasepsi di Kelurahan Kelapa

(50)

32

D. Prosedur Penelitian

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan.

Tahapan-tahapan tersebut, meliputi:

1. Pengajuan surat permohonan izin penelitian kepada institusi (Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Lampung);

2. Mengajukan surat izin dari institusi kepada Lurah Kelurahan Kelapa Tiga

Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.

3. Melakukan diskusi dengan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

yang bertugas di Kelurahan Kelapa Tiga Permai. Topik yang didiskusikan

meliputi:

a) latar belakang, rencana, dan tujuan penelitian;

b) gambaran penggunaan metode kontrasepsi di kalangan wanita PUS;

c) rancangan kerja penelitian.

4. Melakukan pemilihan informan. Informan akan dipilih dengan tekni stratified

purposive sampling, dimana seluruh informan awal akan ditunjuk dengan bantuan PLKB berdasarkan kriteria/spesifikasi informan yang telah

ditentukan.

5. Menghubungi atau melakukan kontak kepada informan yang telah dipilih

untuk menjelaskan tujuan penelitian dan menanyakan tentang

kesiapan/kesediaannya untuk menjadi informan penelitian, sekaligus membuat

janji untuk melakukan wawancara mendalam.

6. Melaksanakan wawancara dan observasi sesuai dengan waktu yang telah

(51)

33

di rumah masing-masing informan, sekaligus melakukan observasi yang

berfokus pada kondisi tempat/rumah/lingkungan informan yang bersangkutan.

7. Melakukan pengolahan dan penganalisisan data yang diperoleh dari hasil

wawancara mendalam terhadap informan.

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Bogdan dalam Moleong (2008: 248) mengemukakan bahwa analisis data kualitatif

merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilah milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

mensintesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan

apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang

lain. Pada tahapan analisis data dilakukan proses penyederhanaan data-data yang

terkumpul dipilih sesuai dengan fokus penelitiaan ini dan diberi kode untuk

memudahkan peneliti dalam mengkategorikan data-data yang terkumpul.

Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskripsi analitik, yakni data yang

diperoleh tidak dianalisa menggunakan rumus statistika, melainkan dideskripsikan

sehingga dapat memberikan kejelasan sesuai dengan kenyataan realita yang ada di

lapangan. Hasil analisa berupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti

dalam bentuk uraian naratif. Dalam penelitian ini, data yang akan dianalisis ialah

hasil wawancara terhadap wanita PUS akseptor MKJP yang memiliki jumlah anak

lebih dari dua, sehingga tidak mewujudkan Norma Keluarga Kecil (NKK) di

Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar

Lampung.

(52)

34

1. Pengumpulan

Proses ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data berupa observasi,

wawancara dan studi dokumentasi.

2. Reduksi data

Reduksi data berarti melakukan abstraksi yang merupakan upaya membuat

rangkuman inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga

berada di dalamnya (Moleong, 2008: 247). Artinya, dalam tahap ini akan

dilakukan proses membaca ulang data-data yang telah terkumpul, baik berupa

transkrip hasil wawancara mendalam maupun hasil observasi, kemudian

melakukan pemahaman, termasuk melakukan pengkodean (coding) dan secara

bertahap mengurangi data yang berulang atau tumpang tindih.

3. Penyajian Data

Data yang sudah dirangkum kemudian disajikan guna mendeskripsikan hasil

penelitian yang dalam penelitian ini ialah kajian terhadap wanita PUS akseptor

MKJP yang memiliki jumlah anak lebih dari dua, yakni gambaran penggunaan

MKJP dan faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya NKK. Data tersebut

akan disajikan dan diinterpretasikan dalam bentuk uraian teks (narasi).

4. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan

sejak awal, bahkan kesimpulan dalam penelitian kualitatif diharapkan akan

menghasilkan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

F. Validitas Penelitian

Raco (2010: 133) menyatakan bahwa dalam metode kualitatif lebih tepat

(53)

35

berarti memberikan deskripsi, keterangan, informasi (account) yang adil (fair) dan

jujur. Harus dijamin bahwa hasil yang diperoleh dan interpretasinya adalah tepat

berdasarkan informasi yang disampaikan oleh partisipan dan bukan karangan

peneliti sendiri.

Untuk menjamin autentisitas atau akurasi dan kredibilitas hasil dan interpretasi

penelitian ini, maka digunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber

(menggunakan sumber informasi lain/partisipan penelitian sebagai pembanding

hasil dan interpretasi data penelitian yang telah dibuat oleh peneliti). Penggunaan

triangulasi sumber ini memang telah direncanakan, seperti yang telah

dicantumkan pada bagian sampel penelitian, di mana partisipan yang dijadikan

sebagai triangulasi sumber ialah dua orang Petugas Lapangan Keluarga Berencana

(54)

77

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian, maka diperolehlah

kesimpulan sebagai berikut:

1. Bahwa faktor-faktor penyebab tidak terwujudnya Norma Keluarga Kecil

(NKK) pada wanita PUS akseptor MKJP di Kelurahan Kelapa Tiga Permai,

karena terdapat kecenderungan wanita PUS ingin mempunyai anak lebih dari

dua. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pandangan terhadap nilai anak atau

value of children yang dipengaruhi nilai budaya etnis yang dipercayai oleh wanita PUS tersebut.

2. Bahwa dari ketujuh wanita PUS akseptor MKJP yang tidak mewujudkan NKK

di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, seluruhnya (100%) baru mulai

menggunakan MKJP setelah memiliki anak lebih dari dua. Wanita PUS

memilih Non-MKJP seperti pil dan suntik sebagai metode kontrasepsi yang

pertama kali digunakan dengan tujuan untuk menjarak kelahiran antar anak.

Kemudian, setelah memiliki anak lebih dari dua baru mulai menggunakan

MKJP, seperti IUD, implant, atau MOW ketika untuk menghentikan

Figure

Tabel 1. Jumlah Akseptor KB Kelurahan Kelapa Tiga Permai, KecamatanTanjung Karang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016
Tabel 2. Penelitian yang Relevan.
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian, Kajian Wanita PUS Akseptor MKJP yangTidak Mewujudkan NKK di Kelurahan Kelapa Tiga Permai, KecamatanTanjungkarang Barat, Bandar Lampung Tahun 2016

References

Related documents

The high sensitivity of simu- lation results to model parameters indicates that the O vacancy defect creation process assisted by electron trap- ping at Si-O precursors is the

As shown in the table at the end of the executive summary, three major components of the integrated accountability system will use STAAR assessment results to evaluate campuses

It is recommended that the installation of the CryoComp 5.0 for Windows and the .NET Framework, when required, be performed using the automated installer (setup.exe), unless

[r]

Eisenhower signed the National Defense Education Act into law, he verified that the United States needed more than spirituality to defeat the real and perceived threat of the

Table S1. Distribution of angiotensin‐converting enzyme 2 (ACE2) and possible consequences of its activation and inhibition.    Expression 

We present a multi-stage robust optimization model to determine optimal strategic stock levels and layout configuration of the back-up supplier for a supply chain subject to

Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran kimia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar kimia unsur dari siklus I