PENGEMBANGAN LKPD PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN BERBASIS MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK PESERTA DIDIK KELAS IX SMP
(Tesis)
Oleh
TRY WAHYUNI 1623041017
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
PENGEMBANGAN LKPD PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK PESERTA DIDIK KELAS IX SMP
Oleh TRY WAHYUNI
Abstrak
Masalah dalam penelitian ini adalah pengembangan produk berupa bahan ajar LKPD menulis cerpen berbasis model CTL dan kelayakan bahan ajar LKPD menulis cerpen berbasis model CTL untuk peserta didik kelas IX SMP. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk menghasilkan produk bahan ajar LKPD menulis cerpen berbasis model CTLuntuk peserta didik Kelas IX SMP, serta mendeskripsikan kelayakan bahan ajar LKPD Menulis Cerpen berbasis Model CTL untuk peserta didik Kelas IX SMP yang dikembangkan berdasarkan ahli media, ahli materi, ahli praktisi, guru dan peserta didik.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R & D). Penelitian ini dilaksanakan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran angket pada tiga sekolah di Kota Bandar Lampung yang meliputi SMPN 2 Bandar Lampung, SMPN 19 Bandar Lampung, dan SMPN 22 Bandar Lampung pada tahun 2018/2019. Validasi rancangan produk dilakukan oleh ahli/pakar yang relavan dan penilaian teman sejawat, kemudian diujicobakan kepada peserta didik SMP tersebut.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengembangan LKPD menulis cerpen berbasis model CTL pada penelitian ini layak digunakan dalam pembelajaran menulis cerpendi SMP. Uji coba produk pada kelas kecil dilakukan sebagai bentuk evaluasi awal sebelum diujicobakan di kelas besar dengan perolehan nilai sebesar 83,62 kategori layak diujicobakan. Uji kelas besar dilakukan sebagai bentuk evaluasi rancangan produk LKPD dengan perolehan nilai sebesar 85,38 dengan kategori layak. Uji kelayakan LKPD oleh ahli, praktisi, dan guru Bahasa Indonesia pada kelas IX di tiga SMPN yang berada Kota Bandar Lampung didapat nilai rata-rata dengan kategori layak. Berdasarkan angket uji kelayakan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa LKPD menulis cerpen berbasis model CTL layak digunakan sebagai bahan ajar untuk peserta didik kelas IX SMP/Mts semester ganjil.
THE DEVELOPMENT OF LKPD SHORT STORIES WRITING BASED ON CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
FOR IX GRADE STUDENTS By
TRY WAHYUNI Abstract
The problem in this study is the development of products in the form of teaching materials LKPD short stories writing based on the CTL model and the feasibility of teaching materials LKPD short stories writing based on CTL models for the IX grade students of junior high school. The purpose of this study is to produce teaching material products that is LKPD short stories based on CTL models for the IX grade students of junior high school, and describe the feasibility of
teaching LKPD short stories writing based on CTL models for junior high school students developed based on media experts, material experts, practitioners experts, teachers and students.
This research study uses and development methods or Research and Development (R & D). This research was conducted through observation, interviews, and questionnaires at three schools in Bandar Lampung which included Bandar Lampung Junior High School 2, Bandar Lampung Middle School 19, and Bandar Lampung 22 and Middle School in the academic year of 2018/2019. Validation of product design is carried out by experts who are voluntary and peer
assessments, then tested to those junior high school students.
The results showed that the development of LKPD short stories writing based on the CTL model in this study is worthy of being used in composing short stories for junior high school level. Product trials in small classes were conducted as a form of initial evaluation before being tested in large classes with a score of 83.62 worthy of being tested. The large class test was carried out as an evaluation of the design of LKPD products with the acquisition of 85.38 with a feasible category. The feasibility test of the LKPD by experts, practitioners, and Indonesia language teachers in the IX grade of three junior high schools located in Bandar Lampung obtained an average value with a decent category. Based on the feasibility test questionnaire that has been done, it can be concluded that the LKPD short stories writing based on the CTL model is worthy of being used as teaching material for the IX grade students of junior high school.
PENGEMBANGAN LKPD PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN BERBASIS MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
UNTUK PESERTA DIDIK KELAS IX SMP
Oleh TRY WAHYUNI
Tesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN
pada
Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Paduan Rajawali, Tulang Bawang pada 09 September 1993. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan dari Bapak Hartono Arifin dan Ibu Sapunah (Alm).
Penulis pertama kali menempuh pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) Satya Darma selama dua tahun, masuk pada 1997 dan selesai 1999. Penulis menempuh Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 1 Paduan Rajawali Tulang Bawang masuk pada 1999 dan selesai pada 2005. Penulis menyelesaikan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) di MTs Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta masuk pada 2005 dan selesai pada 2008. Selanjutnya jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung, diselesaikan pada 2011.
MOTO
Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar
(Al-Quran Surat Al Baqarah: 153)
Kata-kata yang baik dan memberikan maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan cercaan
(Al-Quran Surat Al Baqarah: 263)
Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan (AL-Quran Surat Arahman: 13)
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan apa yang ada pada diri mereka sendiri
PERSEMBAHAN
Alhamdullillahi Rabbil Alamin, dengan penuh kasih sayang dan cinta, kupersembahkan karya ini kepada orang-orang yang kusayangi.
1. Ibu Sapunah (Alm) dan Bapak Hartono Arifin tersayang yang selalu mendoakan tiada henti agar aku selalu diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah Subhanahu Wataala dalam belajar dan motivasi terbesarku untuk meraih cita-cita;
2. Mbak Ulvi Mariyah, kakak Fathul huda, adikku Amin Fajri (Alm), mbah Jumanis, kalianlah motivasi dan penyemangat hidupku;
3. Keluarga besarku yang ikut serta memberikan doa dan dukungan terbaik; 4. Seluruh sahabatku yang telah memberikan doa dan dukungan;
5. Dosen-dosen tercinta yang telah bersedia memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat; dan
SANWACANA
Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur penulis haturkan kepada Allah Subhanahu Wataala . karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi kita yaitu Muhammad Shalallahualaihi Wasallam. Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar magister pendidikan di Universitas Lampung. Dalam penulisan tesis ini penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih setulus-tulusnya kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P. selaku Rektor Universitas Lampung; 2. Prof. Drs. Mustofa, MA., Ph.D. selaku Direktur Pascasarjana Universitas
Lampung.
3. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
6. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum. selaku pembimbing I yang dengan begitu sabar telah membimbing, membantu, dan mengarahkan penulis selama proses penyusunan tesis ini.
7. Dr. Munaris, M.Pd. selaku pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan dengan penuh kesabaran serta memberikan saran yang sangat bermanfaat bagi penulis.
8. Dr. Farida Ariyani , M.Pd. sebagai pembahas I yang telah memberikan nasihat, arahan, saran, kesabaran dan motivasi kepada penulis.
9. Dr. Sumarti, M.Hum. sebagai pembahas II yang telah memberikan kritik, nasihat, arahan, saran, kesabaran dan motivasi kepada penulis.
10. Dr. Siti Samhati, M.Pd. sebagai pembimbing akademik yang senantiasa memberikan dukungan, memberikan pengarahan, nasihat dan saran-saran. 11. Dr. Riswandi, M.Pd. selaku validator untuk bahan ajar dari unsur media
pembelajaran yang telah membantu penulis selama penelitian.
12. Dr. Meilisa, M.Pd. selaku validator untuk bahan ajar dari unsur praktisi pembelajaran yang telah membantu penulis selama penelitian
13. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat.
16. Teman-teman Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2016 terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang telah teman-teman berikan.
17. Keluarga besar SDN 2 Kupang Teba, Teluk BetungUtara terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang dukunganyang telah teman-teman berikan.
18. Keluarga besar SMPN 4 Bandarlampung terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang dukunganyang telah teman-teman berikan.
19. Teman-teman Keluarga besar Putri Hijab Management Lampung terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang telah teman-teman berikan. 20. Teman-teman Duta Bahasa Provinsi Lampung terima kasih atas persahabatan,
doa serta kebersamaan yang telah teman-teman berikan.
21. Semua Pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu penulis menyelesaikan tesis ini.
Semoga Allah swt. selalu memberikan balasan yang lebih besar untuk Bapak, Ibu dan teman-teman semua. Semoga skripsi ini bermanfaat untuk kemajuan
pendidikan, khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, amin. Wassalamualaikum Wr. Wb.
Bandar Lampung, 15 Oktober 2018 Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
ABSTRAK ... ii
COVER DALAM ... iv
LEMBAR PERSETUJUAN ... v
RIWAYAT HIDUP ... vi
MOTO ... vii
PERSEMBAHAN ... viii
SANWACANA ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.5 Ruang Lingkup Penelitain ... 10
1.6 Pentingnya Pengembangan ... 11
1.7 Asumsi & Keterbatasan Pengembangan ... 11
1.7.1 Asumsi ... 11
1.7.2 Keterbatasan Pengembangan ... 12
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Bahan Ajar ... 13
2.1.1 Karakteristik Bahan Ajar... 14
2.1.2 Jenis Bahan Ajar ... 16
2.2 Pengembangan Bahan Ajar ... 21
2.2.1 Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar ... 23
2.2.2 Prinsip Pengembangan Bahan Ajar ... 24
2.3 Pedoman Penyusunan Bahan Ajar ... 27
2.3.5 Evaluasi dan Revisi ... 32
2.4 Pembelajaran ... 35
2.5 Pembelajaran Kurukulum 2013 ... 36
2.6 Hakikat Menulis Sebagai Sebuah Keterampilan ... 40
2.6.1 Tujuan Menulis ... 41
2.6.2 Cerita Pendek ... 42
2.6.3 Ciri-ciri Cerita Pendek ... 43
2.6.4 Unsur Pendukung Cerpen ... 43
2.7 Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ... 47
2.8 Hakikat Model Contextual Teaching and Learning ... 48
2.8.1 Kelebihan dan Kelemahan Model CTL ... 52
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Model Pengembangan ... 54
3.2 Prosedur Penelitian... 56
3.2.1 Penelitian dan Pengumpulan Data ... 58
3.2.2 Proses Pengembaangan Produk... 59
3.2.2.1 Uji Teman Sejawat ... 60
3.2.2.2 Uji Ahli atau Pakar ... 60
3.2.2.3 Uji Lapangan dalam Kelompok Kecil... 60
3.2.2.4 Uji Lapangan dalam Kelompok Besar ... 61
3.3 Instrumen, dan Subjek Penelitian ... 61
3.4 Sumber Data ... 61
3.2.1 Instrumen ... 62
3.2.2 Subjek Penelitian ... 68
3.5 Teknik Analisis Data ... 68
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 72
4.1.1 Studi Penelitian ... 72
4.1.1.1 Potensi Pengembangan LKPD ... 73
4.1.1.2 Pengumpulan Data Pengembangan LKPD ... 80
4.1.2 Pengumpulan Produk Awal ... 81
4.1.3 Evaluasi dan Revisi ... 86
4.1.3.1 Hasil Uji Ahli ... 86
4.1.3.2 Hasil Uji Teman Sejawat/Praktisi ... 90
4.2.3 Evaluasi Penggunaan LKPD ... 108
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ... 114 5.2 Saran ... 115
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Peta Bahan Ajar ... 29
2.2 Struktur Bahan Ajar Cetak (Printed)... 30
2.3 Instrumen Evaluasi Belajar ... 33
2.4 Kompetensi Inti ... 38
2.5 Ruang Lingkup Materi Bahasa Indonesia untuk SMP ... 39
2.6 Rancangan LKPD Pembelajaran Berbasis CTL pada Materi Menulis Cerpen ... 51
3.1 Bentuk Koesioner Penilaian untuk Ahli Media ... 63
3.2 Bentuk Kuisioner Penilaian untuk Ahli Materi, Praktisi dan Guru ... 64
3.3 Bentuk Koesioner Penilaian untuk Siswa ... 66
3.5 Aturan Pemberian Skor untuk Penilaian Siswa ... 69
3.6 Kriteria Tingkat Kelayakan ... 70
4.1 Analisis Hasil Wawancara Guru Tentang Kebutuhan Bahan Ajar ... 74
4.2 Analisis Hasil Wawancara Siswa Tentang Kebutuhan Bahan Ajar ... 77
4.3 Peta Bahan Ajar Bahasa Indonesia pada Standar Kompetensi pada menulis cerpen ... 80
4.4 Hasil Evaluasi Pakar/Ahli Materi Terhadap LKPD Menulis Cerpen ... 87
4.5 Hasil Evaluasi Pakar/Ahli Media Terhadap LKPD Menulis Cerpen ... 89
4.6 Hasil Evaluasi Praktisi/Teman Sejawat Terhadap LKPD Menulis Cerpen ... 91
4.7 Kategori Skala Likert Penilaian Kelayakan Pengembangan LKPD ... 93
4.8 Hasil Uji Penggunaan LKPD pada Kelompok Kecil ... 96
4.9 Hasil Uji Penggunaan LKPD pada Kelompok Besar di SMPN 2 Bandar Lampung ... 98
4.10 Hasil Uji Penggunaan LKPD pada Kelompok Besar SMPN 19 Bandar Lampung ... 99
4.11 Hasil Uji Penggunaan LKPD pada Kelompok Besar di SMPN 22 Bandar Lampung ... 100
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Izin Penelitian
2. Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian 3. Surat Permohonan Uji Ahli
4. Surat Keterangan Hasil Uji Ahli 5. Hasil Angket Validator Ahli Materi 6. Hasil Angket Validator Ahli Media 7. Hasil Angket Praktisi/Teman Sejawat 8. Hasil Uji Coba Lapangan Kelas Kecil 9. Hasil Uji Coba Lapangan Kelas Besar
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan akan diperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam pembentuk kepribadian, baik melalui bimbingan dan pengarahan dari orang tua dan guru. Jalur Pendidikan yang bisa ditempuh disekolah adalah jalur pendidikan formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri dari
pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang didalamnya terjadi proses pembelajaran antara guru dan peserta didik. Pembelajaran adalah proses untuk seseorang belajar, sehingga terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Di dalam proses pembelajaran seseorang memiliki rasa ingin tahu dan mencari tahu tentang maksud dari apa yang diajarkan. Menurut Sutikno (2013:31)
mengorganisasikan materi pelajaran, menyampaikan materi pelajaran, dan mengelola pembelajaran.
Salah satu sumber belajar disekolah adalah bahan ajar.Bahan ajar merupakan salah satu media yang digunakan guru dalam memberikan materi pembelajaran. Di dalam bahan ajar terdapat seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis. Bahan ajar disusun berdasarkan kurikulum, karakteristik sasaran, tuntutan pemecahan masalah belajar. Selain itu, penyediaan bahan ajar juga disesuaikan dengan tuntutan kurikulum dengan
mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan lingkungan sosial peserta didik. Bentuk bahan ajar dapat
dikelompokkan menjadi beberapa jenis, salah satunya adalah bahan ajar
cetak.Salah satu bentuk bahan cetak adalah lembar kerja peserta didik (LKPD).
LKPD adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan yang jelas kompetensi yang akan dicapai (Majid, 2013: 176).
guru disekolah jenjang SMP/MTs, oleh karena itu penulis akan meneliti dan mengembangkan LKPD pada materi pembelajaran menulis cerpen dengan berbasis model Contextual Teaching and Learning yang untuk seterusnya ditulis dan dibaca CTL. Pengembangan LKPD bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah bagaimana memproduksi sebuah bahan ajar yang dapat memudahkan pemahaman peserta didik dan meningkatkan hasil belajarnya. Oleh sebab itu, guru berperan penting dalam menyusun bahan ajar berbasis model CTL sehingga tercipta suatu kondisi yang memungkinkan peserta didik belajar dengan kondisi yang tidak membosankan dan peneliti akan menggunakan LKPD pembelajaran menulis cerpen berbasis model CTL.
Pemilihan model CTL memberikan kesempatan pada peserta didik untuk membangun pengetahuannya sendiri, dengan memberikan kesempatan peserta didik untuk berinteraksi dengan teman-temannya dalam menghasilkan produk berupa karya tulis. Model pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk lebih aktif dan lebih relavan dalam belajar. Model CTL merupakan model yang sangat tepat diterapkan pada peserta didik dalam proses pembelajaran, karena model CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik (Ali & Evi, 90:2016).
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran efektif (Nurhadi dalam Hosnan, 216:267).
Ada tujuh langkah yang digunakan dalam model pembelajaran CTL. Ketujuh langkah tersebut, yaitu (1)guru memandu peserta didik untuk mengembangkan pemikiran akan belajar lebih beramakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya (2)guru melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik (3)guru kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya (4)guru ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok) (5)guru hadirkan “model” sebagai contoh pembelajaran (6) guru melakukan refleksi di akhir pertemuan (7)guru melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Pembelajaran yang efektif dan efisien tidak terjadi dengan sendirinya dirancang oleh guru melalui pengelolaan pembelajaran dan pemanfaatan sumber daya pembelajaran dalam menciptakan suasana yang kondusif untuk mencapai tujuan. Hal ini tertuang dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakannya secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesui dengan minat, bakat, dan perkembangan fisik serta
menerapkan model, metode, dan strategi yang tepat, serta peranan guru dalam proses pembelajaran yang mampu memotivasi peserta didik sehingga dapat menghasilkan karya cerpen menjadi hal yang penting untuk ditulis dan dikelola.
Kemampuan menulis penting sekali untuk anak-anak atau orang dewasa sampai kapanpun, kemampuan menulis merupakan proses belajar yang memerlukan ketekunan berlatih, semakin rajin berlatih kemampuan menulis akan meningkat, karena itu, keterampilan menulis peserta didik perlu ditumbuh kembangkan dan dilatih, salah satunya adalah dengan mengembangkan model pembelajaran cerpen berbasis model CTL diharapkan peserta didik mampu mengikuti dan lebih
memahami materi pembelajaran menulis cerpen. Tarigan (2008:22) menyatakan aktivitas menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dengan menulis seseorang akan dapat mengekspresikan diri dan perasaannya melalui suatu karya yang disebut tulisan. Menulis sangatlah penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar untuk berfikir, dan menulis juga dapat membantu setiap orang untuk menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran.
Di sekolah, sastra menjadi salah satu materi yang diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran sastra, peserta didik mampu mengembangkan bahan bacaan dan mampu mengembangkan kemampuan berbahasa mereka (Çağrı Tuğrul Mart: Vol. 2, Issue 2, 2017). Pembelajaran sastra terdiri dari pembelajaran puisi, prosa (novel dan cerpen), dan drama. Pembelajaran menulis cerita pendek merupakan salah satu materi yang terdapat dalam silabus kurikulum 2013 pada Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016
yang berbentuk prosa merupakan hal yang sangat populer di kalangan masyarakat. Suyanto (2012:46) mengartikan cerita pendek sebagai cerita berbentuk prosa yang pendek. Pendek memiliki arti yang sangat relatif, dalam hal ini bisa diartikan habis dibaca sekali duduk.
Teks cerita pendek tertera pada silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu pada Kompetensi Inti 4 (KI 4) mencoba, mengolah, dan menyajikan dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori dan kompetensi dasar (KD) 3.6 Menelaah struktur dan aspek kebahasaan cerpen yang dibaca atau di dengar (KD) 4.6 Mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita pendek dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan. Penelitian pengembangan Lembar Kegiatan Peserta Didik menulis cerpen yang terdapat pada silabus kelas IX di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilatarbelakangi berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan prapenelitian yang telah dilakukan penulis di SMPN 2 Bandarlampung, SMPN 19 Bandarlampung, SMPN 22 Bandar lampung. Untuk mencapai tujuan
pembelajaran tersebut diperlukan kesiapan yang baik dan juga maksimal dari guru untuk membelajarkan teks cerita pendek di kelas.
unsur-unsur cerpen, pemilihan kata, serta dalam menentukan tema cerpen. Selain itu rendahnya kemampuan peserta didik yang disebabkan oleh ketidaktahuan peserta didik tentang manfaat yang akan mereka peroleh setelah menulis cerpen. Permasalahan di atas didukung hasil observasi berupa wawancara yang diperoleh peneliti saat melakukan kegiatan prapenelitian di SMPN 2 Bandarlampung. Hasil yang diperoleh peserta didik mengalami kesulitan saat menulis cerpen. Kesulitan tersebut antara lain kurangnya kemampuan mengungkapkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan dan kesulitan saat memilih kata-kata yang tepat sesuai ejaan Bahasa Indonesia dalam menulis cerpen. Adapun salah satu faktor yang
memengaruhi kesulitan menulis cerpen menurut Ibu Hernie Talman, S.Pd. selaku guru Bahasa Indonesia kelas IX adalah kurangnya bahan ajar di sekolah. Bahan ajar yang diperoleh masih terbatas pada buku pegangan guru dan buku paket saja sehingga referensi untuk materi yang diajarkan masih kurang. Selain itu bahan ajar hanya terdapat diperpustakaan sekolah dan jumlahnya masih
kurang memadai.
Penelitian tentang pengembangan pernah dilakukan oleh Supriyadi yang berjudul Pengembangan Model Pembelajaran Menulis Karya Ilmiah Berpendekatan
Kontruktivisme. Dalam penelitian ini yang dikembangkan adalah model
pembelajaran dengan berbasis model pembelajaran Kontruktivisme. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut bahwa model pembelajaran kontruktivisme dapat digunakan guru sebagai alternatif model pembelajaran di sekolah untuk
Ruhena yang berjudul Model Multisensori Solusi Stimulasi Literasi Anak. Dalam penelitian ini yang dikembangkan adalah model multisensori yang diperoleh hasil dapat meningkatkan kreatifitas anak dalam mengaktifkan panca indra dalam proses pembelajaran. Penelitian selanjutnya dilakukan Dina Ramamadhanti, Irfani Basri, Abdurrahman dengan judul Pengembangan Modul Pembelajaran Menulis Cerpen Berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). Penelitian
yang dikembangkan adalah bahan ajar LKPD menulis cerpen dan hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah LKPD pelajaran Bahasa Indonesia yang digunakan dalam pembelajaran bermanfaat untuk memudahkan guru memberikan materi yang diajarkan. Selanjutnya dalam penelitian ini hasil yang akan
dikembangkan adalah model pembelajaran CTL tujuannya yaitu mengatasi dan meminimalkan masalah-masalah yang selama ini melingkupi pembelajaran menulis cerpen. Pendekatan ini nantinya akan memberikan keleluasaan dalam proses pembelajaran menulis cerpen antara guru dan peserta didik dengan berpijak pada pembelajaran nyata berdasarkan konteks yang ada. Proses pembelajaran menulis cerpen peserta didik dihadapkan pada suatu konteks yang bisa
mengembangkan keterampilan peserta didik untuk berpikir logis, kritis, kreatif, bersikap, dan bertanggung jawab pada kebiasaan dan perilaku sehari-hari melalui ativitas pembelajaran aktif. Ketiga penelitian tersebut dipandang perlu untuk dijadikan acuan bagi peneliti dalam melakukan penelitian.
Berdasarkan latar belakang masalah dan rincian atas, penulis untuk meneliti dan mengembangkan model pembelajaran menulis cerpen dengan judul sebagai berikut. “Pengembangan LKPD Pembelajaran Menulis Cerpen Berbasis
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan peneliti dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pengembangan produk berupa bahan ajar “LKPD Menulis Cerpen berbasis Model CTL untuk peserta didik Kelas IX SMP?
2. Bagaimanakah kelayakan bahan ajar “LKPD Menulis Cerpen berbasis Model CTL untuk peserta didik Kelas IXSMP?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah
1. mengembangkan produk bahan ajar “LKPD Menulis Cerpen berbasis Model CTL untuk peserta didik Kelas IX SMP,
3. mendeskripsikan kelayakan bahan ajar “LKPD Menulis Cerpen berbasis Model CTL untuk peserta didik Kelas IXSMP yang dikembangkan berdasarkan ahli media, ahli materi, ahli praktisi, guru dan peserta didik.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah tersedianya sebuah produk pengembangan yaitu bahan ajar menulis cerpen berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis model pembelajaran CTL untuk peserta didik Kelas IX SMP.
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan konsep-konsep atau teori yang berkaitan dengan pengembangan bahan ajar, khususnya
pengembangan bahan ajar menulis cerpen berbasis model CTL. 2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk pihak yang berkepentingan, di antaranya ;
a. sebagai alternatif bahan ajar cetak sebagai panduan pembelajaran menulis cerpen untuk peserta didik SMP di Kota Bandar Lampung; b. sebagai masukan untuk guru dalam usaha meningkatkan kompetensi
pedagogiknya sehingga lebih baik dalam pelaksanaan proses belajar mengajar; dan
c. sebagai masukan untuk sekolah dalam memberikan pembinaan dan pengembangan pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup sebagai berikut.
1. Subjek penelitian ini adalah peserta didik dan guru Bahasa Indonesia kelas IX SMP.
2. Fokus dalam penelitian ini adalah pengembangan LKPD pembelajaran
menulis cerita pendek berbasis model CTL untuk peserta didik kelas IX SMP. 3. Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2018.
1.6 Pentingnya Pengembangan
Pengembangan bahan ajar ini memiliki makna yang relavan baik dari segi teoritis maupun praktis. Dari segi teoritis, yakni pengembangan bahan ajar menulis cerpen berbasis model CTL, penelitian pengembangan ini penting guna dilakukan mengembangkan konsep-konsep atau teori-teori yang berkaitan dengan
pengembangan bahan ajar, khususnya pengembangan bahan ajar menulis cerpen berbasis model CTL. Dari segi praktis, pentingnya penelitian pengembangan ini bagi pendidik dan peserta didik. Bagi peserta didik penilitian pengembangan ini dapat digunakan sebagai buku pendukung dalam pembelajaran menulis cerpen sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Pentingnya penelitian ini bagi pendidik, produk pengembangan bahan ajar ini berfungsi sebagai akomodasi dalam melaksanakan pembelajaran menulis cerpen melalui pendekatan CTL. Secara praktis penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai panduan bahan ajar yang dapat membantu siapa pun dalam pembelajaran menulis cerpen. Harapan penulis, yakni produk pengembangan bahan ajar ini dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan dapat mengakomodasi proses pembelajaran khususnya pada KD mengenai cerpen untuk peserta didik Kelas IX SMP.
1.7 Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
1.7.1 Asumsi
Penelitian pengembangan ini didasarkan pada asumsi bahwa bahan ajar menulis cerpen dengan mengkombinasikan model CTL dapat mengoptimalkan
1.7.2 Keterbatasan Pengembangan
Penelitian ini hanya melingkupi pengembangan bahan ajar menulis cerpen berbasis model CTL untuk peserta didik kelas IX SMP. Proses pengembangan bahan ajar dilakukan meliputi serangkaian tahapan penelitian, yakni kegiatan pendahuluan, uji ahli/pakar, uji kelompok kecil, dan uji kelompok besar. Dari tahapan-tahapan tersebut dihasilkan bahan ajar menulis cerpen berbasis
pendekatan CTL yang layak. Adapun dalam penelitian ini memiliki keterbatasan yakni hanya menggunakan tujuh tahap yang diadaptasi dari sepuluh tahap
penelitian dan pengembangan Borg and Gall (Sugiyono, 2016: 297) yang
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Bahan Ajar
Pengembangan LKPD pembelajaran menulis teks cerpen berbasis model CTL untuk peserta didik kelas IX SMP merupakan sebuah penelitian pengembangan bahan ajar. Sebelum melakukan kegiatan pengembangan tersebut terlebih dahulu diperlukan pemahaman terhadap hakikat dari bahan ajar.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksudkan berupa bahan tertulis dan tidak tertulis (Madjid, 2013: 173).
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar (Daryanto dan Dwicahyono, 2014: 171). Guru harus memiliki atau menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan:
1. kurikulum
2. karakteristik sasaran
3. tuntutan pemecahan masalah belajar.
(student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik (Depdiknas, 2008 :12).
2.1.1 Karakteristik Bahan Ajar
Ada beragam bentuk buku, baik yang digunakan untuk sekolah maupun perguruan tinggi, contohnya buku referensi , modul ajar, buku praktikum, bahan ajar, dan buku teks pelajaran. Jenis-jenis buku tersebut tentunya digunakan untuk
mempermudah peserta didik untuk memahami materi ajar yang ada di dalamnya.
Sesuai dengan penulisan modul yang dikeluarkan oleh Direktorat Perguruan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2003, bahan ajar memiliki beberapa karakteristik, yaitu self instructional, self contained, stand alone, adaptive, dan user friendly (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013 : 2).
1. Self instructional yaitu bahan ajar dapat membuat peserta didik mampu membelajarkan diri sendiri dengan bahan ajar yang dikembangkan. Untuk memenuhi karakter self instructional, maka di dalam bahan ajar harus terdapat tujuan yang dirumuskan dengan jelas, baik tujuan akhir maupun tujuan antara. Selain itu, dengan bahan ajar akan memudahkan peserta didik belajar secara tuntas dengan memberikan materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit atau kegiatan yang lebih spesifik.
satu buku secara utuh untuk memudahkan pembaca mempelajari bahan ajar tersebut.
3. Stand alone (berdiri sendiri) yaitu bahan ajar yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain. Artinya, sebuah bahan ajar dapat digunakan sendiri tanpa bergantung dengan bahan ajar lain.
4. Adaptive yaitu bahan ajar hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Bahan ajar harus memuat materi-materi yang sekiranya dapat menambah pengetahuan pembaca terkait perkembangan zaman atau lebih khususnya perkembangan ilmu dan
teknologi.
5. User friendly yaitu setiap intruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan
pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Jadi, bahan ajar selayaknya hadir untuk memudahkan pembaca untuk mendapat informasi dengan sejelas-jelasnya (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013:2).
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar yang mampu membangun peserta didik untuk belajar mandiri dan memperoleh ketuntasan dalam proses pembelajaran sebagai berikut.
2. Memberikan kemungkinan bagi peserta didik untuk memberikan umpan balik atau mengukur penguasaannya terhadap materi yang diberikan dengan
memberikan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya.
3. Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks tugas dan lingkungan peserta didik.
4. Bahasa yang digunakan cukup sederhana karena peserta didik hanya berhadapan dengan bahan ajar ketika belajar secara mandiri (Widodo dan Jasmadi dalam Lestari, 2013 : 3).
2.1.2 Jenis Bahan Ajar
Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:
a. Bahan cetak (printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kegiatan peserta didik, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model atau maket. b. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact
diskaudio.
c. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk dan film.
d. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) interaktif (Madjid: 2013: 174).
ajar cetak tersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan, yaitu:
a. bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari;
b. biaya untuk pengadaannya relatif sedikit;
c. bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah; d. susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi
individu;
e. bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja;
f. bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa;
g. bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar; h. pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri (Madjid: 2013: 175).
Madjid (2013: 175) mengemukakan bahwa jenis bahan ajar cetak, antara lain handout, buku, lembar kegiatan peserta didik, poster, brosur, dan leaflet. Berikut
penjelasan secara lengkap. a. Handout
Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk
b. Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara misalnya hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Buku adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya.
c. Modul
Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak berisi tentang komponen dasar bahan ajar, menggambarkan KD yang akan dicapai peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik, dan dilengkapi ilustrasi.
d. Lembar Kegiatan Peserta Didik
Lembar Kegiatan Peserta Didik atau Lembar Kegiatan Peserta didik (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh
kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Keuntungan adanya lembar kegiatan bagi guru, yakni memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, sedangkan bagi peserta didik akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas
tertulis. Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD dikuasai oleh peserta didik.
e. Brosur
Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi (Kamus besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996). Dengan demikian, brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang harus dikuasai oleh peserta didik. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik karena bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka brosur didesain hanya memuat satu KD saja. Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk
f. Leaflet
Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak
dimatikan atau dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD.
g. Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus atau proses atau
grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Agar wallchart terlihat lebih menarik bagi peserta didik maupun guru, maka wallchart didesain dengan
menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam kategori alat bantu melaksanakan pembelajaran, namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar. Karena didesain sebagai bahan ajar, maka wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki kejelasan tentang KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik, diajarkan untuk berapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh wallchart tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan lingkungannya.
h. Foto atau Gambar
satu KD. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari mendengar yang diingat 20%, dan dari melihat yang diingat 30%. Foto atau gambar yang didesain secara baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Bahan ajar ini dalam menggunakannya harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan tertulis dapat berupa petunjuk cara menggunakannya dan atau bahan tes.
2.2 Pengembangan Bahan Ajar
Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum 2013, standar kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional, dalam hal ini guru dituntut untuk memunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri, untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi sebagai bahan ajar pokok ataupun suplementer. Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi tuntutan kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementer adalah bahan ajar yang dimaksudkan untuk memperkaya, menambah ataupun memperdalam isi
kurikulum.
sumber baik itu berupa pengalaman ataupun pengetahauan sendiri, ataupun penggalian informasi dari narasumber baik orang ahli ataupun teman sejawat. Demikian pula referensi dapat kita peroleh dari makalah-makalah, media masa, internet, dan lain-lain. Namun demikian, kalaupun bahan yang sesuai dengan kurikulum cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan bahan sendiri. Bagi peserta didik, seringkali bahan yang terlalu banyak membuat mereka bingung, untuk itu maka guru perlu membuat bahan ajar untuk menjadi pedoman bagi peserta didik.
Pertimbangan lain adalah karakteristik sasaran. Bahan ajar yang dikembangkan orang lain seringkali tidak cocok untuk peserta didik kita. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya, lingkungan sosial, geografis, budaya, dan lain-lain. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Selain lingkungan sosial, budaya, dan geografis,
karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan peserta didik, kemampuan awal yang telah dikuasai, minat, latar belakang keluarga dan lain-lain. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik sebagai sasaran.
disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu peserta didik menggambarkan sesuatu yang abstrak tersebut, misalnya dengan
penggunaan gambar, foto, bagan, skema, dan lain-lain. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik, sehingga menjadi lebih mudah dipahami. Bahan ajar juga perlu dilakukan pengujian dengan para ahli yang berkompeten pada bidang kajiannya, misalnya diperlukan adanya ahli media dan ahli materi dalam pengujian validitas sebuah bahan ajar. Pengujian ini berguna untuk menguji apakah sebuah bahan ajar layak digunakan dalam sebuah pembelajaran dan pemberian masukan yang sesuai terhadap bahan ajar yang akan digunakan peserta didik.
2.2.1 Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar Bahan ajar disusun dengan tujuan:
a. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.
b. Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping makalah-makalah teks yang terkadang sulit diperoleh.
c. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Menurut Depdiknas (2008) bahan ajar bermanfaat sebagai:
2. Pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
3. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Dengan demikian, fungsi bahan ajar sangat terkait dengan kemampuan guru dalam membuat keputusan yang terkait dengan perencanaan (planning), aktivitas-aktivitas pembelajaran dan implementasi (implementing), dan penilaian
(assessing). Hal ini tidak terlepas dari perannya sebagai media pembelajaran antara guru dan peserta didik baik dalam pembelajaran klasik, individu, maupun kelompok.
2.2.2 Prinsip Pengembangan Bahan Ajar
Pengembangan bahan ajar hendaklah memperhatikan enam prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran tersebut adalah:
a. Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak
b. Pengulangan akan memperkuat pemahaman
Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar peserta didik lebih memahami suatu konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa 5 x 2 lebih baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun
maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan peserta didik. Namun pengulangan dalam penulisan bahan belajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan.
c. Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman peserta didik
Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respon yang sekedarnya atas hasil kerja peserta didik. Padahal respon yang diberikan oleh guru terhadap peserta didik akan menjadi penguatan pada diri peserta didik. Perkataan seorang guru seperti ’ya benar’ atau ‚’ya kamu pintar’ atau,’itu benar, namun akan lebih baik kalau begini...’ akan menimbulkan kepercayaan diri pada peserta didik
bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respond negatif akan mematahkan semangat peserta didik. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik yang positif terhadap hasil kerja peserta didik.
d. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar
ataupun menceritakan sesuatu yang membuat peserta didik senang belajar, dan lain-lain.
e. Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu.
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standard kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Maka guru perlu menyusun tujuan pembelajaran dengan tepat, sesuai dengan karakteristik peserta didik, dalam bahan ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi.
f. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong peserta didik untuk terus mencapai tujuan
Ibarat menempuh perjalanan jauh, untuk mencapai kota yang dituju, sepanjang perjalanan kita akan melewati kota-kota lain. Kita akan senang apabila pemandu perjalanan kita memberitahukan setiap kota yang dilewati, sehingga kita menjadi tahu sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi kita akan berjalan. Demikian pula dalam proses pembelajaran, guru ibarat pemandu perjalanan. Pemandu perjalanan yang baik, akan memberitahukan kota tujuan akhir yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, kota-kota apa saja yang akan dilewati, dan
kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah sebagian dari prinsip belajar tuntas.
2.3 Pedoman Penyusunan Buku pelajaran 2.3.1 Analisis Kebutuhan Bahan Ajar
Untuk mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, diperlukan analisis terhadap KI-KD, analisis sumber belajar, dan penentuan jenis serta judul bahan ajar. Analisis dimaksud dijelaskan sebagai berikut:
1. Analisis KI-KD
Analisis KI-KD dilakukan untuk menentukan kompetensi-kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar. Dari hasil analisis ini akan dapat diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan dalam satu semester tertentu dan jenis bahan ajar mana yang dipilih. Berikut diberikan contoh analisis KI-KD untuk menentukan jenis bahan ajar.
Contoh: Analisis KI-KD
Mata Pembelajaran : Bahasa Indonesia
Kalas : 1X
Semester : 1
Kompetensi Dasar : 3.6 Menelaah struktur dan aspek kebahasaan cerpen yang dibaca atau didengar
4.6 Mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan.
Kompetensi
Dasar Indikator
Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Jenis B. Ajar Menelaah struktur dan aspek kebahasaan cerpen yang dibaca atau Memahami materi teks cerpen menelaah isi, struktur, dan Pengertian teks cerpen Ciri-ciri teks cerpen Struktur & Menjelaskan struktur dan aspek kebahasaan cerpen yang dibaca atau di dengar
Kompetensi
Dasar Indikator
Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Jenis B. Ajar didengar Mengungkapka n pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita pendek dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan unsur teks cerpen Menelaah kaidah teks cerpen Menulis teks cerpen berbasis CTL
unsur teks cerpen Ciri kebahasaan teks cerpen Menyusun kerangka cerpen berdasarkan pengalaman atau gagasan Menyusun cerpen berdasarkan kerangka memperhatikan struktur teks dan kebahasaan
Kebutuhan bahan ajar dapat dilihat dari analisis di atas, jenis bahan ajar dapat diturunkan dari pengalaman belajarnya. Semakin jelas pengalaman belajar diuraikan akan semakin mudah guru menentukan jenis bahan ajarnya. Jika
analisis dilakukan terhadap seluruh KI, maka akan diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan oleh guru.
2. Analisis Sumber Belajar
Sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan bahan ajar perlu dilakukan analisis. Analisis dilakukan terhadap ketersediaan, kesesuaian, dan kemudahan dalam memanfaatkannya. Caranya adalah menginventarisasi ketersediaan sumber belajar yang dikaitkan dengan kebutuhan.
3. Pemilihan dan Penentuan Bahan Ajar
2.3.2 Penyusunan Peta Bahan Ajar
Peta kebutuhan bahan ajar disusun setelah diketahui berapa banyak bahan ajar yang harus disiapkan melalui analisis kebutuhan bahan ajar. Peta Kebutuhan bahan ajar sangat diperlukan guna mengetahui jumlah bahan ajar yang harus ditulis dan sekuensi atau urutan bahan ajarnya seperti apa. Sekuensi bahan ajar ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisan. Di samping itu peta dapat digunakan untuk menentukan sifat bahan ajar, apakah dependen
[image:47.595.69.549.473.717.2](tergantung) atau independen (berdiri sendiri). Bahan ajar dependen adalah bahan ajar yang ada kaitannya antara bahan ajar yang satu dengan bahan ajar yang lain, sehingga dalam penulisannya harus saling memperhatikan satu sama lain, apalagi kalau saling mempersyaratkan. Sedangkan bahan ajar independen adalah bahan ajar yang berdiri sendiri atau dalam penyusunannya tidak harus memperhatikan atau terikat dengan bahan ajar yang lain. Contoh peta bahan ajar.
Tabel 2.1 Peta Bahan Ajar
Gambar Peta bahan Ajar
KI4 Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai,memodifikasi, dan membuat) dan ranah
abstrak(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuaidengan yangdipelajari di sekolah dan sumber lainyang sama dalam sudut pandang/ teori.
Mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerpen pendedengan memperhatikan struktur dan kebahasaan
4. Menulis teks cerpen 2. Menelaah isi, struktur & unsur cerpen
3. Menelaah kaidah teks cerpen
Kompetensi Dasar (KD)
KI 1. Pengertian dan ciri-ciri
2.3.3 Struktur Bahan Ajar
Dalam penyusunan bahan ajar terdapat perbedaan dalam strukturnya antara bahan ajar yang satu dengan bahan ajar yang lain. Guna mengetahui
[image:48.595.114.498.251.480.2]perbedaan-perbedaan dimaksud dapat dilihat pada matrik berikut ini.
Tabel 2.2 Struktur Bahan Ajar Cetak (Printed)
No. Komponen Ht Bu Ml LKPD Bro Lf Wch F/Gb Mo/M
1. Judul √ √ √ √ √ √ √ √ √
2. Petunjuk belajar
- √ √ - - - - -
3. KD/MP - √ √ √ √ √ ** ** **
4. Informasi pendukung
√ √ √ √ √ ** ** **
5. Latihan - √ √ - - - -
6. Tugas/L.kerja - √ √ - - - ** **
7. Penilaian - √ √ √ √ √ ** ** **
Ht: handout, Bu:Buku, Ml:Modul, LKPD:Lembar Kegiatan Peserta Didik, Bro:Brosur, Lf:Leaflet, Wch:Wallchart, F/Gb:Foto/ Gambar, Mo/M: Model/ Maket (Depdiknas, 2008:18)
2.3.4 Penyusunan Bahan Ajar Cetak
Sebuah LKPD biasanya akan berisi tentang sesuatu yang menjadi buah pikiran dari seorang pengarangnya. Jika seorang guru menyiapkan sebuah buku yang digunakan sebagai bahan ajar maka buah pikirannya harus diturunkan dari KD yang tertuang dalam kurikulum, sehingga buku akan memberi makna sebagai bahan ajar bagi peserta didik yang mempelajarinya.
Sebuah buku akan dimulai dari latar belakang penulisan, definisi/ pengertian dari judul yang dikemukakan, penjelasan ruang lingkup pembahasan dalam buku, hukum atau aturan-aturan yang dibahas, contoh-contoh yang diperlukan, hasil penelitian, data dan interpretasinya, berbagai argumen yang sesuai untuk disajikan.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam menulis buku sebagai berikut:
1. mempelajari kurikulum dengan cara menganalisisnya
2. menentukan judul LKPD yang akan ditulis sesuai dengan SK yang akan disediakan bukunya.
3. merancang outline buku agar isi buku lengkap mencakup seluruh aspek yang diperlukan untuk mencapai suatu kompetensi.
4. mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan, upayakan untuk menggunakan referensi terkini dan relevan dengan bahan kajiannya. 5. menulis buku dilakukan dengan memperhatikan penyajian kalimat yang
6. mengevaluasi/mengedit hasil tulisan dengan cara membaca ulang, jika ada kekurangan segera dilakukan penambahan.
7. memperbaiki tulisan
8. gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi misalnya buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian.
2.3.5 Evaluasi dan Revisi
Setelah selesai menulis bahan ajar, selanjutnya adalah evaluasi terhadap bahan ajar tersebut. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah bahan ajar telah baik ataukah masih ada hal yang perlu diperbaiki. Teknik evaluasi bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya evaluasi teman sejawat ataupun uji coba kepada peserta didik secara terbatas. Respon denpun bisa anda tentukan apakah secara bertahap mulai dari one to one, group, ataupun class.
Komponen evaluasi mencakup kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafikan.
1. Komponen kelayakan isi
Komponen kelayakan isi mencakup, antara lain: a. Kesesuaian dengan KI, KD
b. Kesesuaian dengan perkembangan anak c. Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar d. Kebenaran substansi materi pembelajaran e. Manfaat untuk penambahan wawasan
2. Komponen Kebahasaan
Komponen kebahasan antara lain mencakup a. Keterbacaan
b. Kejelasan informasi
c. Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar d. Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat)
3. Komponen Penyajian
Komponen penyajian antara lain mencakup
a. Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai b. Urutan sajian
c. Pemberian motivasi, daya tarik
d. Interaksi (pemberian stimulus dan respond) e. Kelengkapan informasi
4. Komponen Kegrafikan
Komponen kegrafikan antara lain mencakup a. Penggunaan font; jenis dan ukuran b. Lay out atau tata letak
c. Ilustrasi, gambar, foto d. Desain tampilan
Tabel 2.3 Instrumen Evaluasi Bahan Ajar
Judul Bahan Ajar : ... Mata Pelajaran : ... Penulis : ... Evaluator : ... Tanggal : ...
No Komponen 1 2 3 4 5
A. KELAYAKAN ISI 1 Kesesuaian dengan KI, KD
2 Kesesuaian dengan kebutuhan peserta didik 3 Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar 4 Kebenaran substansi materi
5 Manfaat untuk penambahan wawasan pengetahuan 6 Kesesuaian dengan nilai-nilai, moralitas, sosial
B. KEBAHASAAN 7 Keterbacaan
8 Kejelasan informasi
9 Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia 10 Penggunaan bahasa secara efektif dan efisien
C. SAJIAN 11 Kejelasan tujuan 12 Urutan penyajian 13 Pemberian motivasi
14 Interaktivitas (stimulus dan respond) 15 Kelengkapan informasi
D. KEGRAFISAN
16 Penggunaan font (jenis dan ukuran) 17 Lay out, tata letak
18 Ilustrasi, grafis, gambar, foto 19 Desain tampilan
Petunjuk pengisian
Berilah tanda check (v) pada kolom yang paling sesuai dengan penilaian Anda. 1 = sangat tidak baik/sesuai
2 = kurang sesuai 3 = cukup
4 = baik
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, selanjutnya Anda dapat melakukan revisi atau perbaikan terhadap bahan ajar yang Anda kembangkan. Setelah itu, bahan ajar siap untuk Anda manfaatkan dalam proses pembelajaran.
2.4 Pembelajaran
Pembelajaran adalah serangkaian proses yang dilakukan oleh guru agar peserta didik belajar. Dari sudut pandang peserta didik, pembelajaran merupakan proses yang berisi seperangkat aktivitas yang dilakukan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar (Abidin, 2012:3).
Hamzah (Fadlilah 2014:172) menyatakan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang berupaya membelajarkan peserta didik secara terintegrasi dengan memerhitungkan faktor lingkungan belajar, karakteristik peserta didik,
karakteristik bidang studi serta berbagai strategi pembelajaran, baik penyampaian, pengelolaan, maupun perngorganisasian pembelajaran.
Menurut Daryanto (2014:1) pembelajaran adalah proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran bermakna jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman, bersifat individual dan kontekstual, anak mengalami langsung yang dipelajarinya.
media, alat, prosedur, dan proses belajar (Tim pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2011:142).
Menurut Sutikno (2013:31) pembelajaran yaitu segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Secara implisit, di dalam pembelajaran, ada kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran lebih menekankan pada cara-cara untuk mencapai tujuan dan berkaitan dengan
bagaimana cara mengorganisasikan materi pelajaran, menyampaikan materi pelajaran, dan mengelola pembelajaran.
Berdasarkan beberapa teori tersebut, penulis lebih sependapat dengan teori dari Hamzah (Fadlilah 2014:172), karena pembelajaran yaitu suatu proses untuk membelajarkan peserta didik secara terarah dengan memperhitungkan atau melihat lingkungan belajar peserta didik, lingkungan disini yaitu keadaan sekitar proses pembelajaran baik itu kondusif atau tidaknya pembelajaran tersebut, cara-cara yang diterapkan seorang guru dalam membelajarkan peserta didiknya juga sangat penting. Kemudian proses yang ingin dicapai yaitu peserta didik dapat terarah untuk memahami materi yang yang disampaikan oleh guru bidang studi.
2.5 Pembelajaran Kurikulum 2013
pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Proses
pembelajaran langsung adalah proses pendidikan yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Pengembangan kurikulum ini perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi baik, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal
(Kemendikbud, 2013).
Tabel 2.4 Kompetensi Inti
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX
KI1 Menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya KI2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secaraefektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya KI2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya KI2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya KI3 Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. KI3 Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. KI3 Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata. KI4 Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang
dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang
dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut
pandang/teori.
Penumbuhan dan pengembangan Kompetensi Sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
[image:57.595.113.512.85.267.2]Pengembangan Kompetensi Dasar (KD) tidak dibatasi oleh rumusan Kompetensi Inti (KI) tetapi disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, kompetensi, lingkup materi, dan psikopedagogi.
Tabel 2.5 Ruang Lingkup Materi Bahasa Indonesia untuk SMP
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX
1) Deskripsi 2) Cerita Fantasi 3) Prosedur
4) Laporan Observasi 5) Puisi Rakyat 6) Cerita Rakyat 7) Surat 8) Literasi 1)Berita 2)Iklan 3)Eksposisi 4)Puisi 5)Eksplanasi 6)Ulasan 7)Persuasi 8)Drama 9)Literasi 1) Laporan 2) Pidato 3) Cerpen 4) Tanggapan 5) Diskusi
2.6 Hakikat Menulis Sebagai Sebuah Keterampilan
Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Menulis merupakan sebuah proses kreatif untuk menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Dalam tujuan misalnya memberitahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan (Dalman, 2012:3). Tidak semua hal bisa dikomunikasikan secara lisan sehingga kegiatan menulis menjadi
pentinguntuk dapat menguatkan kegiatan berkomunikasi pada setiap pengguna bahasa.
Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang disebut Catur Tunggal. Keempat keterampilan berbahasa tersebut harus dikuasai oleh
2.6.1 Tujuan Menulis
Komunikasi dapat terjadi melalui tulisan, karena tulisan bisa dikatakan sebagai media penghubung maksud dan tujuan antara si penulis dengan si pembaca. Seperti yang dikatakan oleh Hugo Hartig dalam Tarigan (2008:25) bahwa ada beberapa tujuan menulis seperti berikut ini.
1. Tujuan Penugasan (Assignment Purpose)
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak memunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri. Misalnya, peserta didik menulis rangkuman buku, sekertaris membuat laporan.
2. Tujuan Altruistik (Altruistik purpose)
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya dan ingin membuat hidup para pembaca lebih menyenangkan dengan karyanya.
3. Tujuan Persuasif (Persuasive Purpose)
Tulisan ini bertujuan untuk meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.
4. Tujuan Informasional (Informasional Purpose)
Tulisan ini bertujuan untuk memberi informasi atau keterangan atau penerangan kepada para pembaca.
5. Tujuan Pernyataan Diri (Self-Ekspressive Purpose)
6. Tujuan Kreatif (Creative Purpose)
Tujuan penulisan ini berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Namun, keinginan penulis disini lebih cenderung kepada keinginan untuk mencapai norma dan nilai estetika/ seni/ keindahan yang ideal.
7. Tujuan Pemecahan Masalah (Problem-Solving Purpose)
Dalam tulisan ini, penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Penulis menjelaskan secara detil tentang pikiran-pikiran, ide-ide dan gagasannya sendiri agar dimengerti oleh pembaca
2.6.2 Cerita Pendek
2.6.3 Ciri-Ciri Cerita Pendek
Cerita pendek memunyai ciri-ciri sebagai berikut : (1) cerita pendek singkat, padu, dan intensif, (2) unsur utama cerita pendek adalah adegan, tokoh, dan gerak (3) bahasa cerita pendek haruslah tajam, sugestif, dan menarik perhatian, (4) cerita pendek haruslah mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, (5) cerita pendek harus memunyai seorang pelaku utama, (6) cerita pendek bergantung pada situasi , (7) cerita pendek memberikan satu kebulatan efek,(8) dalam cerita pendek harus menimbukan perasaan pada pembaca, (9) cerita pendek menyajikan satu emosi (Tarigan, 2011:180).
2.6.4 Unsur Pendukung Cerita Pendek
Cerita pendek memiliki unsur-unsur pendukungnya. Salah satunya yaitu unsur instrinsik. Unsur instrinsik ( unsur yang berada di dalam karya sastra ) dan usur Ekstrinsik (Unsur yang berada di luar karya sastra). Unsur instrinsik terdiri atas tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, gaya bahsa, sudut pandang pengarang,dan amanat. Unsur unsur tersebut sebagai berikut.
1. Tema
Tema dalam sebuah karya sastra, hanyalah merupakan salah satu dari sejumlah unsur pembangun cerita yang lain, yang secara bersama membentuk sebuah kemenyeluruhan. Bahkan sebenarnya eksistensi tema itu sendiri bergantung dari berbagai unsur yang lain. Tarigan (2008:167) mengungkapkan bahwa tema adalah gagasan utama atau pikiran pokok. Tema suatu karya imajinatif
merupakan gagasan logis yang mendasari setiap esai yang baik. Tema juga
dibedakan dari motif, subjek, atau topic. Tema dipergunakan untuk member nama bagi suatu pernyataan atau pikiran mengenai suatu subjek, motif, atau topik.
2. Alur
Unsur intrinsik cerita pendek yang kedua yaitu alur. Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan karena hubungan sebab akibat (Suyanto, 2012: 50). Menurut Tarigan (2008:156) unsur-unsur yang terdapat pada alur yaitu: a. Situation (pengarang mulai melukiskan suatu keadaan atau situasi)
b. Generating circumtanse (peristiwa yang bersangkut-paut,yang berkait-kaitan mulai bergerak)
c. Rising action (keadaan mulai memuncak) d. Climax (peristiwa-peristiwa mencapai klimaks)
e. Denouement (pengarang memberikan pemecahan social dari semua peristiwa)
3. Latar