• No results found

A Study on Latex Drying Characteristics with Difference of Thickness Using Greenhouse Effect Dryer

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Share "A Study on Latex Drying Characteristics with Difference of Thickness Using Greenhouse Effect Dryer"

Copied!
8
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

MEMPELAJARI KARAKTERISTIK PENGERINGAN LATEKS DENGAN

PERBEDAAN KETEBALAN MENGGUNAKAN ALAT PENGERING EFEK

RUMAH KACA ( ERK)

A STUDY ON LATEX DRYI NG CHARACTERI STI CS WI TH DI FFERENCE OF

THI CKNESS USI NG GREENHOUSE EFFECT DRYER

Zulfikar Akbar

1

, Tamrin

2

, Cicih Sugianti

3

1Mahasiswa Teknik Per tanian, Fakultas Pertanian, Univer sitas Lampung 2,3Staf Pengajar Jur usan Teknik Per tanian, Fakultas Per tanian, Univer sitas Lampung

komunikasi penulis

,

email : zulfikar _akbar [email protected]

Naskah i ni d it er i ma pada 15 Desember 2014; revi si pada 11 Febr uar i 2015; di setujui untuk di publ ikasikan pada 5 Maret 2015

ABSTRACT

Latex just been tapped has a high level of moistur e content . To be useful for pr oduction, latex should be dr ied to r educe w ater content . Latex dr ying by r ubber far mer s is commonly t o do conducted in opened ar eas for 14 days w it h a ver y thick size of latex. Ther efor e, w e should be solutions to make latex dr ying faster. This r esear ch, latex dr ying w as tr eatment by using greenhouse effect dr yer w ith differ ence of thickness. The aims of this r esear ch w as to find out char acter istics of latex dr ying using dimension of gr eenhouse effect dr yer is 150 x 70 x 120 cm. Latex w as coagulated on container s, w ith dimension of container s is 40 x 10 x 15 cm. Latex w as for med w ith an equipment w hich inter vals of 2, 1.5, and 1 cm and then slab w as dr ied. Result of this r esear ch, latex w as dr ied w ith gr eenhouse for 9 hour / day for 6 days along. Temperatur es of gr eenhouse effect dr yer r anged fr om 30 to 500C w ith r elative humidit y of appr oximately 47%. The tr eatment w ith t hickness of 2, 1,5 and 1 cm has final moistur e content r espectively w er e 9.53%, 8.96%, and 5.87%bb, and dr ying acceler ation dur ing dr ying pr ocess w er e 0.3773%, 0.4119%, and 0.4445% w / w / day.

Keywords : Dr ying Acceler ation, Gr enhouse Dr yer, Latex, Moistur e Content, Thickness

ABST RAK

Lateks yang bar u disadap memiliki kadar air yang t inggi. Untuk dapat dimanfaatkan lateks per lu diker ingkan untuk mengurangi kadar air nya. Penger ingan lateks yang dilakukan petani karet umumnya dilakukan di area ter buka selama 14 har i dengan ukuran lateks masih sangat tebal. Oleh karena itu per lu adanya solusi untuk penger ingan lateks agar lat eks lebih cepat ker ing. Per lakuan pada penelit i an ini lat eks diker ingkan dengan menggunakan alat pengering ERK dengan perbedaan ketebalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter istik pengeringan lateks dengan dimensi alat pengering yang digunakan yaitu 150 x 70 x 120 cm. Untuk menggumpalkan lateks digunakan bak penggumpal berukuran 40 x 10 x 15 cm. Lateks dicetak dengan alat yang mempunyai jarak antar sekat 2, 1,5 dan 1 cm dan selanjutnya slab diker ingkan. Hasil penelit ian ini yaitu lateks diker ingan denga ERK selama 9 jam/ hari selama 6 hari bertur ut–turut. Suhu pengeringan yang didapat dengan menggunakan ERK ber kisar antara 30-50°C dengan RH sekitar 47%. Per lakuan dengan ketebalan 2, 1,5 dan 1 cm memiliki kadar air akhir sebesar 9,53%; 8,46% dan 5,87% bb dan laju penger ingan sebesar 0,3773%, 0,4119% dan 0,4445% w/ w hari.

Kata kunci : Alat Pengering ERK, Kadar Air, Ketebalan, Laju Pengeringan, Lateks.

I. PENDAHULUAN

Lateks adalah cair an yang banyak mengandung ai r dan b er w ar n a p ut i h ken tal. L at ek s d i I n don esi a k h u su sn ya lat ek s r ak yat m asi h memiliki kualitas cukup rendah. Menur ut Sannia ( 20 1 3) , m u tu lat ek s r ak yat m em p u n yai

kek ur an gan , d i an tar anya k adar ai r t i n ggi , kualitas karet kotor ser ta ketebalan yang sangat besar. Lateks beku (slab) yang dimiliki rakyat u m u m nya m em i l i k i k et ebalan 15 –40 cm . Ket ebalan slab t er sebut dapat mempengar uhi

(2)

waktu penger ingan ser ta kadar air akhir setelah di ker i ngkan. Penanganan pasca panen lateks setelah di sadap, lat eks har us melalui tahapan diantaranya proses penger ingan. Slab umumnya di ker ingkan dengan cara penjemuran di ar ea t er b uk a. Pen ger i n gan d i ar ea t er b uk a mempunyai kendala yai tu kadar ai r d i dalam bahan lam bat ber kur an g ser ta ber gan tun g ter hadap cuaca. Menur ut Utomo ( 2012), Suhu penger ingan lateks ber kisar 40–60 °C. Dengan dem i k i an j i k a hanya m en ggu n ak an p an as m atahar i , m aka ak an m em butuhkan w ak tu penger ingan yang lama (Ansar dkk., 2012) Alat p en ger i n g r u m ah k aca ( ERK) ban yak d i gun akan sebagai alt er n at i f p en ger i n gan . Penger ingan dengan menggunakan ERK yang m em an faat k an p an as m atah ar i dap at di manfaat kan suhunya kar ena suhu d i dalam ERK lebi h t i nggi dar i p ada suhu l i n gkungan sehingga proses penger ingan akan ber langsung cepat. Penger i ng ERK dapat d i jad i kan solusi penanganan pasca panen untuk menger ingkan lateks sehi ngga dapat membantu petani lateks dalam penger ingan lateks ber bentuk slab. Ukuran slab yang digunakan petani masih sangat tebal oleh karena itu pada per lakuan ketebalan, slab dicetak dengan ketebalan 2, 1,5 dan 1 cm untuk mengetahui per bedaan dar i per lakuan ter sebut. Hipot esa penel it ian ini adalah pada ket ebalan ter t entu akan d idapatkan kadar air akhir terendah dengan lama waktu penger ingan yang sama. Tujuan penelit i an ini adalah untuk menger ingkan slab pada alat ERK dan mengetahui k ar ak t er i st i k selam a p r oses p en ger i n gan meli put i, penur unan susut bobot , penyusutan

II. BAHAN DAN METODE

Penel it ian ini mel iput i tahap pembuatan alat ERK, p em b u atan b ak cetak an lat ek s, pen ggantung slab, pencetakan , pen jemur an, p engam atan dan p en gam bi lan data. Pr oses pengolahan lateks sebelum diker ingkan lateks diencerkan dengan air dan selanjutnya lateks akan d i gumpalkan. Lateks d i gumpalkan pada bak penggumpal yang telah dibuat dengan dimensi 40 x 10 x 15 cm dengan per bandi ngan antara lateks dan lar utan asam semut 1000 ml : 10 ml. Selama proses penggumpalan berlangsung, sekat p em ot on g lat ek s d i m asuk an ke dalam bak penggumpal dengan jarak ketebalan 2 cm, 1,5 cm, dan 1 cm. Setelah lateks mengalami koagulasi selama 1 har i lateks kemud ian dikeluar kan dan selan j utn ya d i k er i n gk an . Slab yan g ak an d i k er i n gk an selan j utn ya d i gulu n g dan d i gan tun gkan d i dalam ERK. Pen ger i n gan dilakukan dengan menggunakan seki tar 6 kilo-gram slab dalam 1 kali percobaan. Sketsa bak pembeku, sekat pemi sah dan slab yang t elah dicetak dapat dilihat pada Gambar 1, 2 dan 4. ketebalan, laju penger ingan dan kadar air akhir.

Penelit ian d ilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2014, ber tempat di Laborator i um Daya dan Alat Mesin Pertanian dan Laboratorium Rekayasa Bi op r oses dan Pasca Pan en Jur usan Tekn i k Per tan i an Un i ver si tas Lam p un g. Alat yan g digunakan yaitu timbangan analog, ter mometer, lu x m et er, RH m et er, oven . Bah an yan g di gunakan adalah lat eks cair. Alat penger ing yang digunakan memiliki dimensi 150 x 70 x 120 cm dengan sistem pemanas efek r umah kaca.

Gambar 1. Bak pembeku Gambar 2. Sekat pemotong / pemisah

Gambar 3. Bak dan sekat ket i ka disatukan Gambar 4. Sketsa lateks yang telah dicetak dan direkatkan dengan penggantung

(3)

Penger ingan slab di lakukan dar i pukul 08:00 – 17:00 WIB selama 6 har i dengan memanfaatkan panas sinar matahar i. Pengamatan dan anal isis yang di lakukan saat penger ingan mel iput i ; 1. Suhu dan RH

Pen gukur an suhu dan RH d i lakuk an un tuk mengetahui seberapa besar suhu dan kelembaban udara relatif di dalam dan di luar ruang pengering. Pengukur an dilakukan dengan menggunakan, ter mometer bola basah dan bola ker ing dan tabel pisi kometr i. Pengambilan data dilakukan 1 jam sekali.

2. Iradiasi Matahar i

Pengukuran iradiasi matahar i dilakukana untuk mengetahui seber ap a besar t i ngkat r ad i asi cahaya matahar i yang menyinar i alat penger ing ERK. Pengukuran d ilakukan menggunakan lux meter. Pengambilan data iradiasi d iambil 1 jam sekali.

3. Per ubahan Ber at ( Susut Bobot)

Pengukuran berat lateks beku (slab) dilakukan den gan m en ggun ak an t i m b an gan d i gi tal. Pengukur an susut bobot i ni nant i nya dapat digunakan sebagai indikat or penur unan kadar ai r p ada bahan p ada p r oses p en ger i n gan . Pengambilan data susut bobot dilakukan 3 kali sehari.

%

100

0 0

x

W

W

W

SB

t Keterangan SB : Susut bobot (%) : Ber at aw al t = 0 (kg)

: Berat pada waktu ke t = t (kg) 4. Ketebalan lateks

Pen guk ur an k et eb alan lat ek s bek u ( slab ) m en ggu n ak an j an gk a sor on g dan d i u ku r sebanyak 3x sehar i dan pengukurannya pada 3 t it i k bagian sheet lateks. Bagian yang di ukur adalah bagian atas, tengah dan bawah. Per samaan yang digunakan;

%

100

0 0

x

Tb

Tb

Tb

PK

t Keter angan :

PK = Per sentase ketebalan (%) = Ket ebalan awal t =0 (cm) = Ketebalan pada har i ke t (cm) 5. Kadar Air

Kadar ai r lat ek s d i laku k an den gan car a mengambi l sampel lat eks kemud i an sampel dit imbang dan selanjutnya dimasukkan kedalam oven dengan suhu 105°C selama 24 jam

%

100

(%)

0 0

x

W

W

W

Ka

a bb

Keter angan :

Ka bb : Kadar ai r basis basah (%)

: Berat sampel aw al sebelum di oven (g)

: Ber at sampel akhir (g) 6. Laju Penger ingan

Laju penger i ngan d i hi tung agar mengetahui kecepatan pengeringan lateks beku (slab) selama proses penger ingan lateks yang diketahui set iap j am nya. Laj u p en ger i n gan dap at d i hi tun g menggunakan persamaan.

t

M

M

hari

LP

(

b

)

)

(%

0

Keter angan :

LP : Laju penger ingan per har i (%har i) M0 : Kadar air awal pada waktu awal (%) mb : Kadar air akhir pada waktu akhir (%) t : Waktu ke t (har i)

7. Lama waktu penger i ngan

Lama waktu pengeringan dimulai pada saat awal bahan masuk hingga lateks menjadi ker ing. Pada w ak tu m alam h ar i p er h i tu n gan w ak tu penger i ngan d i abai kan dan t i dak t er masuk sebagai waktu penger ingan.

8. Analisis data

Data diolah dengan menggunakan stat ist ika dan anal isis si dik ragam rancangan acak kelompok (RAK) dengan t iga kali ulangan ser ta ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. Pengelompokan d i lakukan kar ena per bedaan percobaan dar i set i ap kadar air awal. Blok 1 kadar ai r awal slab sebesar 57 %, blok 2 sebesar 61 % dan blok 3 sebesar 62 %. Tabulasi data RAK dapat dil ihat pada Tabel 1. Ul an gan Per l ak u an K 1 K2 K 3 1 K 1 1 K2 1 K 3 1 2 K 1 2 K2 2 K 3 2 3 K 1 3 K2 3 K 3 3 Keterangan: K1 : Ketebalan lateks 2 cm K2 : Ketebalan lateks 1,5 cm K3 : Ketebalan lateks 1 cm Tabel 1. Tabulasi data RAK

(4)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Alat Pengering Lateks

Pen ger i n gan lat ek s p ada p en el i t i an i n i menggunakan alat penger i ng sist em ERK yang memanfaat kan panas m atahar i . Lat eks yang ak an d i ker i n gk an d i gan tu n g den gan alat penggantung yang telah dibuat. Alat penger ing ERK dan hasil lateks yang yang telah diker ingkan dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6.

3.2 Suhu dan Iradiasi Matahari

Penger ingan dengan menggunakan panas dar i matahar i dipengar uhi oleh intensitas radiasi dan suhu. Semakin tinggi radiasi maka suhunya akan meni ngkat. Grafik suhu dan intensitas rad iasi dapat dilihat pada Gambar 7.

Berdasar kan hasi l pengukuran, suhu puncak

yan g d i cap ai adalah 50 °C den gan suh u lingkungan 33 °C yang ter jadi pada pukul 11:00 WIB. Kenaikan suhu ter sebut disebabkan oleh t ingkat irad iasi matahar i yang t inggi sehi ngga keadaan di dalam r uang pengering suhunya akan t i nggi . Pada pukul 14:00 sampai pukul 17:00 suhu r uang penger ing mengalami penur unan seiring dengan penur unan iradiasi matahar i. Ber dasar kan hasi l p enguji an t er sebut maka per bedaan suhu di dalam r uang pengering dan di luar r u an g ( l i n gk u n gan ) ber beda secar a signifikan. Menur ut Utomo (2012), pengeringan skala industr i dibagi menjadi empat tahap, yaitu penger i ngan per tama d i lakukan dengan suhu 40–45 °C, penger ingan kedua dengan suhu 45– 50 °C, pengeringan ket iga dengan suhu 50–55 °C dan har i keempat dengan suhu 55–60 °C.

Gambar 5. Alat penger ing lat eks t ipe ERK

Gambar 6. Lateks yang telah ker ing

(5)

3.3 Kelembaban Udara ( RH)

RH d iukur dengan mengukur suhu bola basah dan bola ker ing dan dibaca menggunakan tabel psikometri. RH r uang pengering dan lingkungan diukur agar mengetahui per bedaan keduanya. Gr afi k RH r uang penger i ng dan l i ngkun gan selama 6 har i penel i t i an dapat d i l i hat p ada Gambar 8.

RH r uang penger ing yang didapat adalah sebesar 60,4 % dengan RH l ingkungan sebesar 67,3 %. Data ter sebut didapatkan dar i rata–rata data RH selur uh per cobaan. RH r uang penger ing pada p uk ul 1 2:00 WI B n ai k m en j ad i 55 % dar i sebelumnya 47 %. Hal ini dikarenakan ter jadi penur unan suhu sehi ngga RH menjadi nai k. Menur ut Sukmawat i dkk (2007) dalam Haw a ( 20 09) bahw a sem ak i n t i n ggi suh u, m ak a kelembaban r elat if akan semakin rendah.

3.4 Penyusutan Ketebalan

Penyusutan ketebalan d iketahui dalam bentuk p er sen tase dar i selu r uh p er laku an yan g dilakukan. Per sentase ketebalan selama 6 har i penelitian dapat dilihat pada Gambar 9.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dari t i ga p er lakuan ket ebalan lat ek s yang d i uj i , p en y usu tan k et eb alan 2 cm dan 1,5 cm mengalami penyusutan sedikit lambat. Hal ini d i k ar en ak an p ada t i t i k b agi an b aw ah penguapannya lebih lambat akibat adanya gaya gravitasi sehingga pada bagian baw ah terdapat air yang lebih banyak. Titik bagian ter sebut yang mempengar uhi rata – rata penyusutan ketebalan lat eks. Penyusutan hingga har i keenam pada ketebalan 2 cm, 1,5 cm dan 1 cm adalah 21,27; 28,74 dan 41,11%.

Gambar 8. Rerata RH r uang penger ing dan lingkungan selama 6 har i penel it ian.

(6)

3.5 Penurunan Kadar Air

Menur ut Tanjung (2007), penur unan kadar air bahan erat kaitannya dengan penur unan massa bahan, karena air yang menguap dar i bahan yang diker ingkan dapat d ilihat dar i tur unnya massa bahan. Grafik penur unan kadar air bahan dalam r uang penger ing dapat dili hat pada Gambar 10, 11, dan 12.

Ber dasar kan penel it ian yang t elah d ilakukan k adar ai r ak hi r p ada har i ke 6 dar i sem ua per lakuan adalah ketebalan 2 cm memiliki kadar air akhir sebesar 9,53 %bb. Kadar air ini berbeda signifikan dengan ketebalan 1,5 cm dan 1 cm yang kadar air akhir nya mencapai 8,46 dan 5,87 %bb dar i selur uh percobaan. Hal ini juga didukung oleh hasi l p en el i t i an An sar ( 2 012) b ahw a p er bedaan laj u p en ur un an k adar ai r chi p s m an gga d i p en gar uhi oleh k et eb alan chi p s mangga. Semakin t ebal ir isan chi ps mangga, jumlah air yang di uapkan akan semakin besar dan waktu yang dibutuhkan semakin lama.

3.6 Laju pengeringan

Menur ut Yuliana (2009) laju pengeringan dalam suatu bahan mempunyai ar t i penting karena laju menggambar kan cepatnya proses penger i ngan tersebut berlangsung. Laju penger ingan dihitung ber dasar kan penur unan kadar ai r dar i pagi hingga sore har i selama 9 jam. Pada Gambar 10 blok 1 pada per lakuan ketebalan 2 cm mengalami penur unan dar i 0,49 – 0,02% / w / w har i, pada per lakuan ketebalan 1,5 cm dar i 0,53 – 0,30% / w / w har i , dan per lakuan ketebalan 1 cm dar i 0,61 – 0,01% / w / w har i.

Laj u p en ger i n gan p ada Gam b ar 14 blok 2 p er lakuan ket ebalan 2 cm dar i 0,48 – 0,11, p er lak u an ket eb alan 1 ,5 cm m en galam i p en ur un an dar i 0,49 – 0,13 dan p er lakuan ketebalan 1 cm dar i 0,51 – 0,08% / w / w har i. Laju penger ingan pada Gambar 15 blok 3 pada per lakuan ketebalan 2 cm mengalami penurunan dar i 0 ,46 – 0,0 1% / w / w h ar i , p er lak uan ketebalan 1,5 cm dar i 0,51 – 0,02% / w / w har i dan per lakuan ketebalan 1 cm dar i 0,53 – 0,01% / w/ w har i. Dengan demikian dari ketiga gambar diatas, laju pengeringan akhir pada har i ke-6 dar i set i ap blok yang di dapat adalah 0,01 – 0,13%. Rata –rata laju penger ingan dar i penelit ian ini pada set iap ketebalan adalah sebesar 0,37; 0,41; 0,44% w / w / har i. Secara teor i laju penger ingan dar i awal hingga akhir ber ger ak tur un jika suhu dan RH yang digunakan konstan. Pada saat suhu menur un maka penur unan laju penger i ngan t i dak lan gsun g m en ur un . Ji ka suhu r uan g fluktuat if maka laju penger ingan akan fluktuat if mengi kut i pola suhu penger i n gan ( Tam r i n, 2013). Pada Gambar 13 – 15 laju penger i ngan pada har i ke dua lebih t inggi dar i pada har i ke satu. Hal demikian disebabkan pada har i ke dua suhunya lebi h t inggi diband ingkan har i ke satu sehi ngga nilai kecepatan laju penger ingan lebih besar. Per ubahan ini dapat d ilihat pada Tabel 2. Pada har i ke enam laju penger ingan menur un hampir mendekat i nol. Ini dikarenakan kadar air pada saat i tu rendah dan keadaan bahan sudah mulai ker i ng.

Gambar 10. Grafik penur unan kadar air blok 1 Gambar 11. Grafik penur unan kadar air blok 2

(7)

Gambar 13. Laju penger ingan blok 1 Gambar 14. Laju penger i ngan blok 2

Gambar 15. Laju penger i ngan blok 3

H a r i k e - I r a d i a s i m a t a h a r i ( W / m ² ) S u h u ( ° C ) 1 5 0 9 , 2 3 0 , 1 2 5 2 7 , 1 3 0 , 7 3 4 6 7 , 4 3 0 , 3 4 5 2 2 , 9 3 0 , 5 5 5 0 4 , 8 3 0 , 2 6 4 9 4 , 5 3 0 , 4

Tabel 2. Rata –rata iradi asi matahar i dan suhu lingkungan

*Dilakukan selama 6 har i ber tur ut – tur ut mulai pukul 08:00 – 17:00

3.7 Lama Waktu Penger ingan

Lama waktu penger ingan untuk menger ingkan lateks yaitu 54 jam. Lama penger i ngan lateks dimulai saat lateks masuk ke alat penger ing ERK selama 6 har i. Tabel lama waktu penger ingan dapat d ilihat pada Tabel 3.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

Kesimpulan dar i penelit ian ini adalah :

1. Suhu penger ingan rata–rata lateks beku (slab) m en ggun ak an alat ERK adalah 38 ,6 5°C dengan RH sebesar 60,4 %. Puncak irad iasi rata – rata pada saat penelitian sebesar 504,3 w att/ m2.

No Tebal lateks (cm)

Total Waktu (jam)

Kadar Air Akhir (% bb)

1 2,0 54 9,53

2 1,5 54 8,46

3 1,0 54 5,87

Tabel 3. Waktu penger ingan ter hadap per bedaan kadar air akhir

*Dilakukan selama 6 har i ber tur ut – tur ut dimulai pukul 08:00 s.d. 17:00

4.2 Saran

Pen ger i ngan lat ek s r akyat dap at d i lakukan dengan meggunakan metode yang diterapkan dan diker ingkan dalam efek r umah kaca agar kadar ai r lateks beku ( slab) cepat tur un dan untuk k elan j u tan p en el i t i an i n i p er lu d i lak u k an modifikasi alat ERK untuk memberikan pemanas tambahan

DAFTAR PUSTAKA

An sar, Cahyaw an , dan Saf r an i . 2 0 12 . Kar akt er i sti k Penger ingan Chi ps Mangga Menggunakan Kolektor Sur ya Kaca Ganda. 2. Per lakuan dengan per bedaan ketebalan 2, 1,5 dan 1 cm memiliki kadar ai r akhir ber tur ut – tur ut sebesar 9,53 % bb, 8,46% bb, 5,87% bb; penyusutan ket ebalan relat if ber tur ut – tur ut sebesar 21,27; 28,74; 41,11%; dan laju penger ingan ber tur ut – tur ut sebesar 0,3773; 0,4119; 0,4445% w / w / har i.

3 . Total lam a w ak tu p en ger i n gan lat ek s menggunakan ERK adalah 54 jam dengan waktu penger ingan 9 jam per har i selama 6 har i ber tur ut – tur ut.

(8)

Haw a, L. C., Su m ar d i , dan E. P. Sar i . 200 9. Pen en tu an Kar ak t er i st i k Pen ger i n gan L ap i san T i p i s I k an . Ju r n al Tek n olog i

Per tanian. Vol. 10. No. 3. (153-161).

Sannia, B., R.H. Ismono, dan B. Viant i mala. 2013. Hubungan Kual i tas Kar et Rakyat dengan Tam b ah an Pen dap atan Petan i d i Desa Pr ogram dan Non-Program. Jur nal I lmu – Ilmu Agr ibisnis ( JI IA). Vol. 1. No. 1. (36-42). Tamr i n , 2013. Tekn ik Pen ger i ngan. Fakultas Pertanian. Jur usan Teknik Per tanian. UNILA. Lampung. 247 hlm.

Tan j un g, A. 20 07 . Ran can g Ba n g u n Ala t

Penger ing Gabah Tipe Bak Segitiga. Skr ipsi.

Fakultas Per tanian. UNILA. Lampung. Utomo, T.P., U. Hasanudin, dan E. Suroso. 2012.

Agr oin dustr i Kar et I ndonesi a. Satu Nusa. Bandung.

Yul i ana, N. 2009. Vi abi li tas Inokulum Bakt er i Asam Laktat (Bal) Yang Diker ingkan Secara Kemoreaksi Dengan Kalsium Oksida ( CaO) dan Ap l i kasi nya Pada Tem poyak. Jur nal

Teknologi Industr i dan Hasil Per tanian. Vol.

14. No. 1. (24-37).

Jur nal Teknologi dan Industr i Pangan. Vol.

References

Related documents

This study seeks to address some of the aforementioned gaps in research and policy, and to explore the travel patterns, transportation needs, and mobility problems faced by diverse

In the current study, based on different mRNA and protein expression analyses (RT-qPCR, western blot, TMA of 82 primary colorectal cancer tissues, CCLE 29 and TCGA 30 datasets),

We’re offering brand-new programs at the Flower Mound Campus to coincide with the new $5 million grant Lifelong Learning received from the U.S.. Department of labor with

learning, which is cri cally important for developing eff ec ve programmes that facilitate climate change adapta on (Frankel-Reed et al., 2009). As many adapta on interven ons

Numerous other frameworks have been released in recent years [17-20], but all have limitations that make them unsuitable for the clinical setting, including, (i)

However, the pattern of patent applications and citations would be likely to reflect the technological strength in Japan, so that the data source could influence our measure

Identify requirements for in-between drawings in actual scene folder (cartoon regular), Produce in- between drawings.. in actual scene

In existing literature, little attention has been paid to the problems of how the un- certainty reflected by natural language text (e.g. verbal and linguistic uncertainty) can