(Skripsi)
Oleh
ARDIKA KUNTADI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN INSTRUKSI BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI SMK NEGERI 1 RAWA JITU SELATAN
TAHUN AJARAN 2015/2016 Oleh :
Ardika Kuntadi
Mutu pembelajaran tidak terlepas dari minat belajar siswanya, sehingga faktor siswa yang diperlukan dalam memajukan pembelajaran dalam usaha meningkatkan mutu pembelajaran adalah mina belajarnya, oleh sebab itu dalam keseluruhan pembelajaran di sekolah salah satunya dapat dilihat dari minat belajarnya. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan minat belajar adalah metode pembelajaran instruksi berbasi masalah.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah penerapan metode instruksi berbasis masalah dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI di SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan?”. Tujuan penelitian ini adalah “ untuk mengetahui penerapan metode instruksi berbasis masalah dalam meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI di SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan. Penelitian menggunakan desain penelitian One shoot case study. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling.
Teknik analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan lembar observer pada proses pembelajaran menggunakan metode instruksi berbasis masalah adalah 19 siswa dengan hasil tinggi. Sedangkan data angket yaitu 19 anak yang mendapat skor tinggi di berikan treatmen metode instruksi berbasis masalah. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran instruksi berbasis masalah dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan.
Oleh
ARDIKA KUNTADI Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
“Harapan Adalah Tiang Penyangga Dunia”
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Hargomulyo Kecamatan Rawa Jitu Selatan Kabupaten Tulang Bawang pada tanggal 23 Mei 1993, anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Suprapto dengan Ibu saliyem.
Dengan rasa syukur dan kerendahan hati, Sebagai ungkapan terima kasih kupersembahkan lembaran-lembaran sederhana ini untuk orang-orang terkasihku :
Ibuku Saliyem, S.Pd, perempuan luar biasa yang ada dihidupku yang telah mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang serta tiada henti-hentinya berdo’a untuk keberhasilan serta kesuksesan anak-anaknya. Semoga
butir-butir air mata dan tetesan keringatmu terwujud sebagai kebahagian dan keberhasilanku.
Bapakku Suprapto, terima kasih telah menjadi bapak terbaik untuk anak-anaknya, semoga butir-butir air mata dan tetesan keringatmu terwujud sebagai kebahagian dan keberhasilanku.
Isteriku Eka Rahmawati dan anakku Mikaela Assyfa terimakasih telah menjadi orang yang selalu memberi dukungan dan harapan kepadaku.
Adikku tercinta Widiyana Sugi Mulyani dan Arianta Tyas Ilhami yang tak lelah mendoakanku.
Para pendidikku
SANWACANA
Assalamualaikum Wr.Wb.
Dengan segala bentuk kerendahan hati, penantian panjang dan perjuangan demi sebuah harapan dan tanggung jawab untuk mengemban amanah dari orang-orang yang selalu merindukan keberhasilanku, maka tidak ada kata yang pantas yang patut penulis ucapkan kecuali ucapan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah karya tulis ini, yang berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan Tahun Ajaran 2015/2016” penulis selesaikan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, motivasi, bimbingan, dan saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada:
1. Bapak Dr. Muhammad Fuad, M.Hum, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
6. Bapak Drs. Syaiful M, M.Si. Selaku pembimbing II dan Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung terimakasih atas dukungan, masukan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Drs. Tontowi Amsia, M.Si. Selaku pembimbing akademik (PA) dan pembimbing I terimakasih atas segala saran, dukungan, dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.
8. Ibu Dr. Risma Margaretha Sinaga, M.Hum. Selaku pembahas/penguji skripsi terimakasih atas dukungan, masukan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
10. Bapak M. Darwanto, S.Pd, selaku kepala SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan yang telah memberikan izin peneliti untuk melakukan penelitan.
11. Bapak Eko Zuardi Santoso, S.Pd selaku guru bidang studi sejarah SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan yang memberi bantuan dan saran dalam melaksanakan penelitian.
12. Teman sekaligus keluarga Kerang (Iban Kurniawan, Ody Iqbal, Andi Novrianto, Faris Jawir, Sukmew, Kadafi Abdul Rohim, Edi Kurniawan, Sudiro Harsuno, Deni Satria, Bahtiar Afwan, Land Roma N. S, Andi Wahyudi, Dwi Santoso, Rendy Ucew, Hayatun Maya, Dinda), Tri Putra (Enggal Dona Martyn, Aryan Sugara, Agus Mastrianto, M. Nur Rohim, I Wayan Chandra, Ridho Wilian, Okta Dharma Yudha) dan Keluarga Kantin Emak (Yohanes Susilo, Bambang Susilo, Rahmat Agung Nugroho, Martin Reza C. Ari Aulia R. Dani Lapeba, Meliyan Rinja Mustika, Rofik Hidayat, Taufik Indra, Taufik Siswoyo). Teman-teman seperjuangan angkatan 2010 yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih untuk kekeluargaan dan kebersamaan selama ini.
13. Semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi.
Semoga amal ibadah dan ketulusan hati kalian semua mendapat imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Bandar Lampung, Agustus 2017 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... i
DAFTAR GAMBAR... iii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
DAFTAR TABEL ... v
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan, Kegunaan, dan Ruang Lingkup Penelitian ... 4
1.3.1. Tujuan Penelitian ... 4
1.3.2. Kegunaan Penelitian ... 4
1.3.3. Ruang Lingkup Penelitian ... 5
II. TINJAUAN TEORITIS, KERANGKA PIKIR, PARADIGMA 2.1. Tinjauan Teoritis ... 7
2.1.1. Konsep Metode Pembelajaran ... 7
2.1.2. Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah ... 8
2.1.3. Konsep Minat Belajar... 12
2.1.4. Konsep Pembelajaran Sejarah ... 14
2.2. Kerangka Pikir... 15
2.3. Paradigma ... 17
III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian... 18
3.2. Desain Penelitin... 18
3.3. Populasi Dan Sampel... 19
3.3.1. Populasi ... 19
3.3.2. Sampel ... 20
3.4. Variabel dan Definisi Operasional ... 21
3.4.1. Variabel Penelitian ... 21
3.4.2. Definisi Operasional... 22
3.5. Instrumen Penelitian ... 22
3.5.1. Lembar Observer... 23
3.5.2. Angket ... 24
3.6. Teknik Pengumpulan Data ... 25
ii
3.6.2. Dokumentasi ... 25
3.6.3. Teknik Observasi ... 26
3.6.4. Teknik Kepustakaan... 26
3.7. Langkah-langkah Penelitian ... 26
3.8. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 27
3.8.1. Uji Validitas ... 27
3.8.2. Uji Realibitas ... 28
3.9. Teknis Analisis Data ... 29
3.9.1. Pengkategorian Metode Instruksi Berbasis Masalah dan Minat Siswa ... 29
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Hasil Penelitian ... 31
4.1.1. Sejarah Singkat SMK Negeri 1 Rawa Jitu Seatan... 31
4.2. Pengujian Prasyarat Instrumen ... 33
4.2.1. Uji Validitas ... 33
4.2.2. Uji Reliabilitas... 34
4.3. Deskripsi Hasil Penelitian... 35
4.3.1. Pelaksanaan Pembelajaran ... 35
4.3.1.1. Pertemuan Pertama ... 35
4.3.1.2. Pertemuan Kedua ... 37
4.3.1.3. Pertemuan Ketiga ... 39
4.4. Analisis Data Hasil Penelitian ... 42
4.4.1. Data Hasil Pengamatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah ... 42
4.4.1.1. Mengitung Mean Hipotetik... 42
4.4.1.2. Menghitung Deviasi Standar Hipotetik ... 42
4.4.1.3. Menentukan Kategori Skor ... 42
4.4.2. Pengkategorian Angket Minat Siswa Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah... 51
4.4.2.1. Menghitung Mean Hipotetik... 51
4.4.2.2. Menghitung deviasi standar hipotetik... 52
4.4.2.3. Menentukan kategori skor ... 52
4.4.3. Perolehan Data Angket... 53
4.4.4. Rekapitulasi Perolehan Data Angket Minat Belajar ... 60
4.5. Pembahasan... 61
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan... 65
5.2. Saran ... 66 DAFTAR PUSTAKA
Daftar Gambar
Halaman Gambar 4.1. Diagram Pengamatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbais
Masalah Tahap 1 ... 44 Gambar 4.2. Diagram Pengamatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbais
Masalah Tahap 2 ... 46 Gambar 4.3. Diagram Pengamatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbais
iv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Lampiran 1. Angket Penelitian Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah di SMK Negeri 1 Rawajitu Selatan
Lampiran 2. Lembar Hasil Uji Validitas Angket Lampiran 3. Lembar Hasil Uji Realiabilitas Angket
Lampiran 4. Lembar Rencana Judul Kaji Tindakan/Skripsi Makalah Lampiran 5. Lembar Pengesahan Susunan Komisi Pembimbing Lampiran 6. Lembar Penelitian Pendahuluan
Lampiran 7. Lembar Izin Penelitian
Lampiran 8. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian di SMK Negeri 1 Rawajitu Selatan
Daftar Tabel
Halaman Tabel 1.1. Rekapitulasi Hasil Observasi (Pendahuluan) Angket Minat Belajar
Siswa Pada Pelajaran Sejarah Kelas XI (APK 1) SMK Negeri 1 Rawa
Jitu Selatan ... 2
Tabel 2.1. Indikator Kegiatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah . 10 Tabel 3.1. Jumlah Populasi Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan Pada Tahun Ajaran 2015/2016... 20
Tabel 3.2. Jumlah Anggota Sampel Penelitian kelas XI APK 1 Tahun Ajaran 2015/2016... 21
Tabel 3.3. Lembar Observasi Minat Belajar Siswa... 23
Tabel 3.4. Pedoman Penskoran Metode Instruksi Berbasis Masalah... 24
Tabel 3.5. Kisi-kisi instrumen... 24
Tabel 3.6. Kriteria Kategori Minat Belajar Siswa... 30
Tabel 4.1. Daftar Bidang Keahlian, Program Studi Keahlian dan Paket Keahlian. 32 Tabel 4.2. Hasil Analisis Uji Validitas Angket... 33
Tabel 4.3. Nama-Nama Anggota Kelompok Kelas XI APK 1 (Tahap 1)... 36
Tabel 4.4. Nama-Nama Anggota Kelompok Kelas XI APK 1 (Tahap 2)... 38
Tabel 4.5. Nama-Nama Anggota Kelompok Kelas XI APK 1 (Tahap 3)... 40
Tabel 4.6. Pedoman Pembagian Kategori Pada Pengamatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah ... 43
Tabel 4.7. Tabel Hasil Pengamatan Pertemuan Pertama ... 43
Tabel 4.8. Tabel Hasil Pengamatan Pertemuan Kedua ... 45
Tabel 4.9. Tabel Hasil Pengamatan Pertemuan Ketiga... 46
Tabel 4.10. Pedoman Pembagian Kategori Data Pengamatan Metode Instruksi Berbasis Masalah ... 49
Tabel 4.11. Skor Akhir Hasil Pengamatan Metode Pemebelajaran Instruksi Berbasis Masalah ... 50
Tabel 4.12. Pedoman Pembagian Kategori Minat Belajar Siswa Pada Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah... 53
Tabel 4.13. Data Angket Tahap 1 ... 53
Tabel 4.14. Kategori Minat Siswa Tahap 1... 55
Tabel 4.15. Data Angket Tahap 2 ... 56
Tabel 4.16. Kategori Minat Siswa Tahap 2... 58
Tabel 4.17. Data Angket Tahap 3 ... 58
Tabel 4.18. Kategori Minat Siswa Tahap 3... 60
Tabel 4.19. Rekapitulasi Perolehan Data Angket Minat Belajar ... 60
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
“Pengajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang.”(Depdiknas, 2003 dalam Isjoni, 2007:72).
Berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan dikelas XI rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran sejarah dapat diindikasi melalui angket minat belajar siswa yang diberikan kepada siswa setelah pembelajaran sejarah. Adapun angket minat yang digunakan tersebut merujuk pada indikator minat yaitu :
a. Rasa senang, b. Aktifitas belajar, c. Kesadaran belajar, dan d. Perhatian.
Berdasarkan hasil observasi awal tersebut menggunakan angket diketahui bahwa 2 siswa menunjukan minat tinggi, 11 siswa menunjukan minat sedang dan 7 siswa menunjukan minat rendah. Maka presentase rata-rata minat siswa kelas XI dalam mengikuti pelajaran sejarah yaitu 63,15% dari kriteria minat belajar yang baik yaitu sebanyak 75% siswa. Berikut adalah tabel rekapitulasi data hasil observasi pendahuluan minat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran sejarah kelas XI di SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan yang dilakukan oleh peneliti.
Tabel 1.1 Rekapitulasi Hasil Observasi (Pendahuluan) Angket Minat Belajar Siswa Pada Pelajaran Sejarah Kelas XI (APK 1) SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan.
No Jumlah Siswa Persentase (%) Kategori
1. 0 0 Sangat Tinggi
2. 2 7,89 Tinggi
3. 11 55,26 Sedang
4. 7 36,48 Rendah
[image:19.595.135.517.573.710.2]3
Berdasarkan permasalahan diatas, solusi yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan membangkitkan minat belajar siswa melalui penerapan variasi metode pembelajaran. Hal ini seperti apa yang diungkapkan oleh Sardiman bahwa “Penggunaan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar oleh guru
akan mampu mendorong peserta didik lebih aktif, bersemangat dan menambah minat belajar pada diri peserta didik “ (Sardiman, 2007: 95).
Dari uraian tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang sesuai dan diharapkan dapat meningkatkan minat serta mempengaruhi hasil belajar, salah satunya yaitu dengan metode pembelajaran instruksi berbasis masalah. Savin dan Baden (dalam Whitcombe, 2013:41) “menyatakan bahwa metode pembelajaran instruksi berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah atau pemicu untuk merangsang siswa belajar”. Metode ini melibatkan siswa bekerja kooperatif dalam kelompok. Karakteristik utamanya adalah siswa fokus pada analisis masalah. Lebih lanjut Ward dan Stepien (dalam Ngalimun, 2014:89) “menyatakan bahwa metode pembelajaran instruksi berbasis masalah merupakan salah satu metode pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa”. Dengan demikian metode ini dapat menjadikan siswa lebih aktif dari fisik dan mentalnya selama proses pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis akan melakukan penelitian yang judul “Penerapan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan Tahun Ajaran 2015/2016”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah : “Apakah penerapan metode instruksi berbasis masalah dapat meningkatkan
minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan Tahun Ajaran 2015/2016 ?”
1.3. Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, dan Ruang Lingkup Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian
Tujuan merupakan arah dari suatu kegiatan agar tercapai hasil seperti yang diharapkan. Maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui : “ dapat atau tidak penerapan metode instruksi berbasis masalah meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan”.
1.3.2. Kegunaan Penelitian
5
Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang metode pembelajaran instruksi berbasis masalah dalam pembelajaran sejarah kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan.
Kegunaan Praktis
1. Bagi peneliti, dapat menjadi sarana bagi pengembangan diri, menambah pengalaman, dan pengetahuan peneliti terkait dengan penelitian menggunakan metode pembelajaran instruksi berbasis masalah serta sebagai refrensi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis.
2. Bagi guru, dapat menjadi metode pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sejarah.
3. Bagi siswa, dapat meningkatkan pemahaman materi pelajaran sejarah.
1.3.3. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
Subjek Penelitian : Siswa kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan Kecamatan Rawa Jitu Selatan
Objek Penelitian : Penerapan metode pembelajaran intruksi berbasis masalah untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah.
Tempat Penelitian : SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan.
Waktu Penelitian : Semester genap Tahun Ajaran 2015/2016.
REFERENSI
Isjoni. 2007. Pembelajaran Sejarah Pada Satuan Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Hal : 72
Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Hal : 116 Sardiman, 2007, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Bandung: Rajawali
Pers. Hal : 95
Whitcombe, S. W. 2013. Developing Skills Of Problem-Based Learning: What About Specialist Knowledge. Cardiff University.International Journal of Continuing Education and Ufelong Learni. Diakses dari http://content.ebscohost.com/pdf29_30/pdf/2013/AXT5/01May13/88 839186.pdf?T=P&P=AN&K=88839186&S=R&D=ehh&EbscoCont ent=dGJyMNXb4kSep7A4y9fwOLCmr0yep7RSsKe4SLKWxWXS &ContentCustomer=dGJyMOzprkixrrFIuePfgeyx44Dt6fIA pada minggu 3 januari 2016 16.28 WIB.
2.1.1. Konsep Metode Pembelajaran
Metode merupakan salah satu strategi atau cara yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yang hendak dicapai, semakin tepat metode yang digunakan oleh seorang guru maka pembelajaran akan semakin baik. Metode berasal dari kata methodos dalam bahasa Yunani yang berarti cara atau jalan. Sudjana (2005: 76) berpendapat bahwa “metode merupakan perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan
8
ditentukan”. Salamun (dalam Sudrajat, 2009:7) menyatakan bahwa “metode pembelajaran ialah sebuah cara-cara yang berbeda untuk
mencapai hasil pembelajaran yang berbeda dibawah kondisi yang berbeda”. Hal itu berarti pemilihan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang ingin dicapai.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan sebuah perencanaan yang utuh dan bersistem dalam menyajikan materi pelajaran. Metode pembelajaran dilakukan secara teratur dan bertahap dengan cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan tertentu dibawah kondisi yang berbeda.
2.1.2. Metode Pembelajaran Instruksi Bebasis Masalah
Metode pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1970-an di Universitas Mc Master Fakultas Kedokteran Kanada, sebagai satu upaya menemukan solusi dalam diagnosis dengan membuat pertanyaan-pertanyaan sesuai situasi yang ada (Rusman, 2010: 242). Sejak saat itu, metode pembelajaran Instruksi berbasis masalah banyak digunakan di berbagai bidang ilmu, salah satunya Sejarah. Dalam pembelajaran ini, siswa dipandang telah memiliki bekal awal atau pengetahuan dasar untuk mengikuti proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Arends (Trianto, 2009: 42) indikator metode instruksi berbasis masalah adalah : 1) Siswa mengerjakan permasalahan autentik
Riyanto (2012: 285) menyatakan bahwa “pembelajaran instruksi berdasarkan masalah adalah suatu metode pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik memecahkan masalah”. (Rusman, 2012: 229) mendefinisikan “metode pembelajaran instruksi berbasis masalah sebagai inovasi dalam pembelajaran karena kemampuan berpikir siswa dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan”. Boud dan Feletti juga mengemukakan bahwa “metode pembelajaran instruksi berbasis masalah merupakan inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan” (Rusman, 2012: 2013). Arends (Riyanto, 2012: 287) mengidentifikasikan 6 keunggulan pembelajaran instruksi berbasis masalah, yakni:
1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut,
2) Menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi untuk memecahkan masalah,
3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki peserta didik sehingga pembelajaran lebih bermakna,
4) Menjadikan peserta didik lebih mandiri dan lebih dewasa, termotivasi, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara peserta didik, dan
5) Pengkondisian peserta didik dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi, baik dengan guru maupun teman akan memudahkan peserta didik mencapai ketuntasan belajar.
10
1) Guru menyampaikan permasalahan kepada siswa atau siswa mengajukan permasalahan yang relevan dengan topik yang akan dikaji.
2) Siswa mendiskusikan permasalahan dalam kelompok kecil.
3) Siswa atau kelompok membuat perencanaan untuk menganalisis permasalahan.
4) Masing-masing siswa melakukan penelusuran informasi atau observasi berdasarkan tugas yang telah ditetapkan dalam diskusi kelompok.
5) Siswa kembali melakukan diskusi kelompok dan berbagi informasi. 6) Kelompok menyajikan analisis permasalahan kepada teman sekelas. 7) Anggota kelompok melakukan pengkajian ulang (review) terhadap
proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan dan menilai kontribusi dari masing-masing anggota.
Langkah-langkah proses metode pembelajaran instruksi berbasis masalah menurut Amir (2010: 24) meliputi:
1. Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas. 2. Merumuskan masalah.
3. Menganalisis masalah menata gagasan dan menganalisis secara sistematis.
4. Memformulasikan tujuan pembelajaran.
5. Mencari informasi tambahan dari sumber lain (diluar diskusi kelompok).
6. Mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasi baru, dan membuat laporan untuk kelas
Zainal Aqib (2013: 16) juga mengungkapkan bahwa pembelajaran instruksi berbasis masalah telah dikembangkan sebagai sebuah metode pembelajaran dengan sintaks belajar sebagai berikut.
Tabel 2.1 Indikator Kegiatan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah
Langkah Indikator Kegiatan Guru
1 Memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik
[image:28.595.161.513.593.749.2]didik untuk terlibat aktif
Langkah Indikator Kegiatan Guru
2 Mengorganisasikan peserta didik untuk penyelidikan Membantu peserta didik dalam mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar/penyelidikan untuk menyelesaikan permasalahan
3 Pelaksanaan investigasi Mendorong peserta didik untuk
memperoleh
informasi yang tepat, melaksanakan penyelidikan, dan mecari penjelasan 4 Mengembangkan dan menyajikan
hasil
Membantu peserta didik merencanakan produk yang tepat dan relevan, seperti laporan dan
sebagainya untuk keperluan
penyampaian hasil 5 Menganalisis dan mengevaluasi
proses penyelidikan
Membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses yang mereka lakukan
Sumber : ( Zainal Aqib, 2013: 16 )
12
mengembangkan dan menyajikan hasil analisis permasalahan, dan mengevalusi hasil yang diperoleh.
2.1.3. Konsep Minat Belajar
Menurut Hilgard dalam Slameto (2010: 57) “minat adalah kecenderungan untukmemberikan perhatian dan menikmati beberapa aktivitas atau kegiatan”. Menurut Slameto (2010: 180) “minat adalah suatu rasa lebih suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh”. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat itu sendiri.
Menurut Slameto (Season: 2010) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
2. Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
3. Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati.
4. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati. 5. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya dari pada yang
lainnya.
6. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
dapat meningkatkan prestasi belajar. Minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya. Membangkitkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan diri sendiri sebagai individu. Jadi, minat sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan baik.
Siswa dikatakan berminat dalam belajar jika mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari, adanya rasa suka dan senang terhadap mata pelajaran, memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan terhadap proses pembelajaran, adanya rasa keterikatan pada kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
14
a. Rasa senang, b. Aktifitas belajar, c. Kesadaran belajar, dan d. Perhatian.
2.1.4. Konsep Pembelajaran Sejarah
Pembelajaran sejarah memiliki dua konsep kata yang jika didefinisikan memiliki pengertiannya masing-masing. Pembelajaran menurut Ahmad Susanto yaitu “bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didik”. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik” (Ahmad Susanto, 2014: 19).
Berdasarkan pendapat tersebut maka pembelajaran adalah suatu proses pemberian bantuan belajar oleh guru kepada siswa dalam usaha mencapai tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai. Menurut Roeslan Sejarah ialah:
“Salah satu bidang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau, beserta segala kejadian-kejadiannya dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitian dan penyelidikan tersebut, untuk akhirnya dijadikan pembendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah program masa depan” (Roeslan dalam Hugiono dan Poerwanta, 1992: 4).
lampau dialami manusia dianalisis kritis dan ditafsirkan guna pemahaman masa kini dan bekal pengetahuan di masa depan.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat diartikan bahwa pembelajaran sejarah adalah suatu proses bantuan belajar yang diberikan guru kepada siswa dalam mempelajari ilmu sejarah agar siswa mampu memahami dan menemukan arti dari proses belajar sejarah. Tujuan dari pembelajaran sejarah sendiri menurut Depdiknas adalah “agar siswa menyadari adanya keberagaman hidup pada masing-masing-masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapai masa yang akan datang” (Depdiknas dalam Isjoni, 2007: 72).
Berdasarkan uraian beberapa diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah merupakan mata pelajaran penting karena melalui mata pelajaran sejarah menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan kehidupan manusia dengan tujuan kehidupan manusia yang lebih baik di masa kini dan masa yang akan datang.
2.2. Kerangka Pikir
16
benar-benar terlaksanakan dan minat belajar pada mata pelajaran sejarah dapat meningkat. Indikator metode instruksi berbasis masalah adalah sebagai berikut:
1. Siswa mengerjakan permasalahan autentik 2. Pengembangan inkuiri
3. Keterampilan berpikir 4. Pengembangan kemandirian
Indikator metode pembelajaran instruksi berbasis masalah merupakan faktor yang menunjang keberhasilan belajar siswa dalam pembelajaran sejarah dengan metode tersebut. Sedangkan minat belajar secara umum dapat dipandang sebagai perubahan sikap atau perilaku siswa akibat menjalani proses belajar dan perubahan siswa tersebut. Minat belajar adalah suatu rasa lebih suka dan ketertarikan pada suatu pembelajaran atau aktivitas belajar, tanpa ada yang menyuruh. Berikut adalah indikator dari minat belajar:
a. Rasa senang, b. Aktifitas belajar, c. Kesadaran belajar, dan d. Perhatian.
siswa untuk menentukan proses pembelajaran yang lebih baik dan efektif serta menjadi tolak ukur bagi seorang guru agar meningkatkan minat belajar yang diharapkan, apabila metode pembelajar difasiltasi dengan baik maka minat belajar siswa juga akan meningkat.
2.3. Paradigma
Keterangan : : Garis dampak
Penerapan Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah Dalam Pembelajaran Sejarah
Minat Belajar. Indikatornya : a. Rasa senang,
REFERENSI
Sudjana. 2005. Metode Statistika Edisi Keenam. PT Tarsito. Bandung. Hal : 76 Sangidu. 2004. Metode Penelitian Sastra, Pendekatan Teori, Metode dan Kiat.
Yogyakarta : UGM. Hal : 14
Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik dan Model Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Hal : 7
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Rajawali Pers. Jakarta. Hal : 242
Trianto. 2009. Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka. Hal : 42
Riyanto. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. SIC. Surabaya. Hal : 285 Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Depok : PT Rajagrafindo Persada.
Hal : 229 Ibid. Hal : 213
Riyanto. Op Cit. Hal : 287
Amir. 2010. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta : Prenada Media Grup. Hal : 24
Zainal Aqib. 2013. Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual Bandung : Yrama Widya. Hal : 16
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta. Hal : 57
Ibid. Hal : 180
Ahmad Susanto. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal : 19
Hugiono, dan Poerwantana. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 4
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Penelitian adalah penerapan pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu masalah. Tujuannya adalah untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang signifikan melalui penerapan prosedur-prosedur ilmiah. Penelitian pendidikan adalah cara yang digunakan dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai proses pendidikan. Menurut Traves (Margono,2000:18) “penelitian
pendidikan merupakan suatu kegiatan yang diarahkan kepada pengembangan pengetahuan ilmiah tentang kejadian-kejadian yang perhatian pendidikan”. Tujuannya ialah menemukan prinsip-prinsip umum atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerangkan, meramalkan, dan mengendalikan kejadian-kejadian dalam lingkungan pendidikan.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. Menurut Sugiyono, metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap kondisi yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2012: 107).
3.2. Desain Penelitian
diberikan perlakuan atau Treatment terhadap siswa kemudian dilakukan pengukuran. Pada desain ini kelas yang akan diteliti adalah kelas XI-1. Menurut Sugiyono desain tipe ini digambarkan sebagai berikut:
Sumber: (Sugiyono, 2010: 111) Keterangan:
X : Perlakuan atau Treatment O : Pengukuran
Pada penelitian kali ini terdiri dari tiga tahap. Penelitian dilakukan dengan memberikan treatmen berupa metode pembelajaran instruksi berbasis masalah pada kelas XI APK 1.
3.3. Polulasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan (Margono,2000:118). Populasi menurut Mukhtar (2013:93) adalah keseluruhan orang yang menjadi sasaran penelitian. Dari keseluruhan populasi ini tentunya sangat banyak dan luas, maka dibatasi atau diambil sebagiannya saja dari populasi tersebut yang dikenal dengan nama populasi target.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Rawa jitu Selatan pada tahun pelajaran 2015/2016, seperti tampak pada tabel berikut ini.
20
Tabel 3.1 Jumlah Populasi Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan Pada Tahun Ajaran 2015/2016
No. Kelas Jumlah Siswa
Jenis Kelamin
L P
1. XI ATPH 15 11 4
2. XI AP 11 8 3
3. XI TKJ 1 26 15 11
4. XI TKJ 2 26 18 8
5. XI APK1 20 - 20
6. XI APK 2 25 - 25
7. XI MM 1 28 15 13
Jumlah 151 67 84
Sumber :Tata Usaha SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan
Dari tabel diatas, diketahui yang menjadi populasi adalah siswa kelas XI SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan tahun ajaran 2015/2016 yang terdistribusi dalam 7 kelas reguler dengan jumlah siswa sebanyak 151 orang siswa. Populasi dalam penelitian ini yang terdiri dari 67 orang siswa laki-laki dan 84 orang siswa perempuan.
3.3.2. Sampel
“Sampel adalah contoh/bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 2012: 118). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling. “Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel
dipilih adalah kelas XI APK 1 yang akan digunakan dalam penelitian dengan jumlah siswa sebanyak 20 orang siswa.
Tabel 3.2 Jumlah Anggota Sampel Penelitian kelas XI APK 1 Tahun Ajaran 2015/2016
No. Kelas
Jumlah Siswa
Jumlah
Laki-laki Perempuan
1. XI APK 1 - 20 20
Jumlah - 20 20
Sumber :Tata Usaha SMK Negeri1Rawa Jitu Selatan
3.4. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.4.1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 61). Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penelitian yakni :
1. Variabel bebas (independen) dilambangkan dengan simbol X. “Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang
22
2. Variabel terikat (dependen) dilambangkan dengan simbol Y. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas menurut Sugiyono (2013: 65). Variabel terikat minat belajar (Y).
3.4.2. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel adalah suatu cara untuk menggambarkan dan mendeskripsikan variabel sedemikian rupa sehingga variabel tersebut bersifat spesifik dan terukur. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Metode pembelajaran instruksi berbasis masalah meliputi : a. Siswa mengerjakan permasalahan autentik
b. Pengembangan inkuiri c. Keterampilan berpikir d. Pengembangan kemandirian
2) Minat belajar siswa meliputi : a. Rasa senang,
b. Aktifitas belajar, c. Kesadaran belajar, dan d. Perhatian.
3.5. Instrumen Penelitian
155). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observer dan angket. Lembar observer digunakan untuk meneliti indikator metode pembelajaran instruksi berbasis masalah dan angket untuk meneliti minat siswa terhadap pelajaran sejarah setelah diberikanya penerapan metode pembelajaran instruksi berbasis masalah.
3.5.1. Lembar Observer
[image:43.595.159.518.437.578.2]Lembar observasi digunakan untuk mengamati tentang partisipasi siswa selama mengikuti proses pembelajaran Sejarah. Hal ini dilakukan dengan mengamati indikator metode pembelajaran instruksi berbasis masalah melalui lembar observasi dengan menggunakan penilian skor maksimal lima dan skor terendah satu. Setelah data penelitian diperoleh melalui lembar observasi kemudian dilakukan analisis data.
Tabel 3.3 Lembar Observasi Minat Belajar Siswa
No Nama
Siswa
Indikator Metode Pembelajaran Instruksi Berbasis Masalah
1 2 3 4
1 2 3 4 5
Sumber : Olah data peneliti pada tahun 2016 Keterangan :
Indikator 1 : Siswa Mengerjakan Permasalahan Autentik Indikator 2 : Pengembangan Inkuiri
24
[image:44.595.165.514.162.287.2]Pedoman penskoran dalam pengamatan metode instruksi berbasis masalah ini menggunakan skala likert dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 3.4 Pedoman Penskoran Metode Instruksi Berbasis Masalah
No. Indikator Skor
1. Baik Sekali 5
2 Baik 4
3 Cukup 3
4 Kurang 2
5 Kurang Sekali 1
Sumber : Sugiyono, 2012:135
3.5.2. Angket
Angket yang digunakan berbentuk ceklist dengan skala Likert lima poin. Menurut Sugiyono “skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekolompok orang tentang fenomena sosial yang disebut sebagai variabel penelitian” (Sugiyono, 2012: 134). Dalam penelitian ini skala Likert lima poin pada setiap alternatif jawaban memiliki bobot sebagai berikut (Sugiyono, 2012: 135):
Tabel 3.5 Kisi-kisi instrumen
No Indikator Sub indikator No Item Jumlah Item
1 Perasaan senang
Berhubungan dengan perasaan senang/suka siswa terhadap mata pelajaran sejarah
1, 2, 3, 4, 5
5
2 Perhatian Berhubungan dengan perhatian dan kesungguhan siswa dalam mengikuti pelajaran sejarah
6, 7, 8, 9, 10
5
3 Aktifitas belajar
Berhubugan dengan partisipasi siswa dalam pelajaran sejarah
11, 12, 13, 14, 15
[image:44.595.162.512.557.744.2]No Indikator Sub indikator No Item Jumlah Item
4 Kesadaran belajar
Berhubungan dengan kesadaran dan usaha yang dilakukan siswa untuk belajar sejarah
16, 17, 18, 19, 20
5
Sumber: Hasil Pengolahan Data Tahun 2016
3.6.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
3.6.1. Angket
Angket dalam penelitian ini merupakan data primer, digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai minat siswa dalam belajar. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket langsung dan tertutup dengan bentuk pilihan ganda dengan jawaban yang telah tersedia dan responden tinggal memilih salah satu jawaban yang menurut responden tepat. Skala yang digunakan angket penelitian ini adalah skala Likert lima poin.
3.6.2. Dokumentasi
26
3.6.3. Teknik Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. “Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat
atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada bersama objek yang diselidiki” (Margono, 2000: 159). Observasi ini dilakukan selama penulis melakukan penelitian di SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan.
3.6.4. Teknik Kepustakaan
Teknik ini diperoleh dengan mengumpulkan data melalui bacaan buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, serta mencari teori-teori yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan agar hasilnya sesuai dengan teori-teori yang ada dari berbagai referensi.
3.7. Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi awal untuk melihat kondisi lapangan atau tempat penelitian seperti banyak kelas, jumlah siswa, dan cara guru mengajar.
2. Menentukan populasi dan sampel.
3. Menyusun dan menetapkan materi pelajaran yang akan digunakan dalam penelitian.
4. Menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 5. Menyiapkan materi dan instrumen tes penelitian.
8. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. 9. Melakukan evaluasi minat belajar dengan instrumen 10. Menganalisis data.
11. Membuat laporan.
3.8. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen 3.8.1. Uji Validitas
Validitas adalah untuk mengetahui instrumen yang digunakan dalam penelitian dapat mengukur gejala yang seharusnya diukur. Menurut Sugiyono“instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur” (Sugiyono, 2012: 171).
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan menggunakan rumus product moment yang dikemukakan oleh Pearson:
∑ (∑ )(∑ )
∑ (∑ )² ∑
² (∑ )²
(Product Moment Pearson dalam Sugiyono, 2012: 225).
Keterangan :
n : jumlah responden
X : skor variabel (jawaban responden)
28
Menurut Sugiyono (2012: 118) “kriteria pengujian jika korelasi antar butir dengan skor total adalah minimal 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid, sebaliknya jika korelasi antar butir dengan dengan skor total kurang dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan tidak valid. Jika r hitung > r tabel dengan α = 0,5 maka koefisien korelasi tersebut signifikan”.
3.8.2. Uji Reliabilitas
Realibilitas adalah tingkat ketepatan, ketelitian atau keakuratan sebuah instrumen. Jadi “realibilitas menunjukan apakah instrumen tersebut secara konsisten memberikan hasil ukuran yang sama tentang sesuatu yang diukur pada waktu yang berlainan” (Misbahuddin dan Iqbal Hasan,2013:298). Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama pula.
Rumus yang digunakan untuk tes objektif adalah menggunakan rumus Alpha sebagai berikut :
2 2 11 1-1 -n n r t i keterangan :
r11 : Reliabilitas instrumen
2i
: Skor tiap-tiap item n : Banyaknya butir soal
2
t
Kriteria uji reliabilitas dengan rumus alpha adalah apabila rhitung> rtabel, maka alat ukur tersebut reliabel dan juga sebaliknya, jika rhitung< rtabel maka alat ukur tidak reliabel.
Jika instrumen itu reliabel, maka dilihat kriteria penafsiran mengenai indeks r11 sebagai berikut :
Antara 0,800 sampai dengan 1,000 : sangat tinggi Antara 0,600 sampai dengan 0,799 : tinggi Antara 0,400 sampai dengan 0,599 : cukup Antara 0,200 sampai dengan 0,399 : kurang Antara 0,000 sampai dengan 0,100 : sangat rendah (Arikunto,2011: 109)
Berdasarkan kriteria di atas apabila reliabilitas berada diantara 0,599 s.d 1,000 maka kriteria instrumen tinggi dan sangat tinggi sehingga sudah layak digunakan untuk mengumpulkan data.
3.9. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian kuantitatif ini adalah teknik analisis Statistik Deskriptif. Teknik analisis data ini digunakan untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan minat belajar siswa menggunakanmetode instruksi berbasis masalah. Adapun statistik yang digunakan dala penelitian imi adalah :
3.9.1. Pengkategorian Metode Instruksi Berbasis Masalah dan Minat Siswa
3.9.1.1. Menghitung mean hipotetik μ = 12 ( + )∑
Keterangan:
30
Imax : Skor Maksimal Item Imin : Skor Minimal Item ∑k: Jumlah Item
3.9.1.2. Menghitung deviasi standar hipotetik = 16 ( + )
Keterangan :
: Deviasi standar Hipotetik : Skor Maksimal Subjek : Skor Minimal Subjek 3.9.1.3. Menentukan kategori skor
Kategori tinggi X < (µ-1. ) Kategori sedang
[image:50.595.217.512.447.526.2](µ-1. )≥ X < (µ+1. ) Kategori Rendah X≥ (µ+1. )
Tabel 3.6 Kriteria kategori minat belajar siswa.
No Pedoman Kategori
1 X≥ (µ+1. ) Tinggi
2 (µ-1. )≥ X < (µ+1. ) Sedang
3 X < (µ-1. ) Rendah
Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D. Alfabetha : Bandung. Hal : 107
Ibid. Hal : 111
Margono. Op Cit. Hal : 118
Mukhtar. 2013. Metode Penelitian Deskriftif Kualitatif. Jakarta : GP Press Group. Hal : 93
Sugiyono. Op Cit. Hal : 118
Misbahuddin, dan Hasan. 2013..Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta : Bumi aksara. Hal : 298 Suharsimi Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta, Jakarta. Hal : 251
5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan lembar observer pada proses pembelajaran menggunakan metode instruksi berbasis masalah menunjukan skor 87 dengan hasil “tinggi” indeks 80 – 100. Selanjutnya hasil dari pemberian angket minat belajar setelah di berikanya metode pembelajaran instruksi berbasis masalah diketahui bahwa kategori minat belajar rendah yaitu tidak ada kategori rendah pada perolehan data angket, selanjutnya kategori minat belajar sedang yaitu terdapat 1 anak dengan perolehan minat belajar sedang, selanjutnya pada kategori minat belajar tinggi terdapat 19 anak dengan perolehan minat belajar tinggi.
66
5.2. SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran peneliti adalah sebagai berikut:
1. Bagi guru, sebaiknya penerapan metode pembelajaran instruksi berbasis masalah ini dapat menjadi salah satu metode yang digunakan di SMK Negeri 1 Rawa Jitu Selatan, dikhususkan pada mata pelajaran sejarah. 2. Bagi siswa, penerapan metode pembelajaran instruksi berbasis
Yrama Widya
Amir. 2010. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta : Prenada Media Grup
Anwar, dan Hendra Harmi. 2011. Perencanaan Sistem Pembelajaran KTSP. Bandung: Alfabeta.
Arikunto.1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT
Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:PT. Bumi Aksara A.M. Sardiman, 2007, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Bandung: Rajawali Pers Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Hugiono, dan Poerwantana. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta : Rineka Cipta.
Isjoni. 2007. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta. Koestoro, Budi dan Basrowi. 2006. Strategi Penelitian Sosial dan Pendidikan.Surabaya :
Yayasan Kampusina.
Mardapi. 2008. Tekhnik penyusunan instrumen tes dan nontes. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Margono. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Misbahuddin, dan Hasan. 2013..Analisis Data Penelitian Dengan Statistik.Jakarta : Bumi aksara.
Mukhtar. 2013. Metode Penelitian Deskriftif Kualitatif. Jakarta : GP Press Group Ngalimun. 2014. Strategi dan Model Pembelajaran. Aswaja pressindo. Yogyakarta Riyanto. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan. SIC. Surabaya.
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Depok : PT Rajagrafindo Persada
Sangidu. 2004. Metode Penelitian Sastra, Pendekatan Teori, Metode dan Kiat. Yogyakarta: UGM.
Sudjana. 2005. Metode Statistika Edisi Keenam. PT Tarsito. Bandung.
Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik dan Model Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D. Alfabetha: Bandung Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta : Kencana
Prenada Media Group.
Trianto. 2009. Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Whitcombe, S. W. 2013. Developing Skills Of Problem-Based Learning: What About Specialist Knowledge. Cardiff University.International Journal of Continuing Education and Ufelong Learni. Diakses dari http://content.ebscohost.com/pdf29_30/pdf/2013/AXT5/01May13/88839186. pdf?T=P&P=AN&K=88839186&S=R&D=ehh&EbscoContent=dGJyMNX b4kSep7A4y9fwOLCmr0yep7RSsKe4SLKWxWXS&ContentCustomer=dGJy MOzprkixrrFIuePfgeyx44Dt6fIA pada minggu 3 januari 2016 16.28 WIB.